![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: FITRIA SUSILOWATI
|
|
|
NIM
|
: 3101412085
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas
Buku
Judul
Buku : Gerakan Pemuda
Sulawesi Tengah (GPST) di Poso 1957-1963 Perjuangan Anti
Permesta dan Pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah
Penulis : Haliandi Sadi
Penerbit : Ombak
Cetakan
ke : Pertama
Kota
Penerbit : Yogyakarta
Tahun
Terbit : 2007
Jumlah Halaman : 379 halaman
Jumlah
BAB : 6
(enam)
B.
Isi Buku
Pada tahun 1950-an Kabupaten Poso
yang sekaang 2007 (tahun terbit buku ini sudah dimekarkan menjadi tiga
Kabupaten yaitu Kabupaten Morowali, Kabupaten Tojo Una-Una, dan Kabupaten Poso
Induk merupakan Kabupaten terluas dan berpenduduk terbanyak di Provinsi
Sulawesi Tengah. Secara geografis Kabupaten Poso memiliki wilayah yang luas dan
memiliki batas-batas administrasi yang jelas, yakni berbatasan dengan
kabupaten-kabupaten di dekatnya seperti Kabupaten Parii Moutong, Kabupaten
Donggala, Kabupaten Tojo Una-Una dan Provinsi Sulawesi Selatan.
Luas wilayah Kabupaten Poso secara
keseluruhan berjumlah 2.9992.888 ha, atau 29.928,88 km2,4 sebagian
besar merupakan daerah pegunungan dan perbukitan berlereng terjal serta berada
diketinggian 500 meter dari permukaan laut. Secara demografis Kabupaten Poso
memiliki penduduk yang sangat plural dan memiliki perkembangan penduduk yang
dapat dikatakan tinggi. Penduduk atau etnis yang mendiami kabupaten Poso yaitu
etnis Pamona, etnis Mori, etnis Bungku, etnis Pekurehua, etnis Taa dan etnis
Bajo.
Wilayah munculnya Gerakan Pemuda
Sulawesi Tengah (GPST) untuk menuntut terbentuknya Sulawesi tengah dan militer
induk sendiri dimulai dari dua tempat yakniKota Poso dan wilayah Tentena. Kota
Poso menjadi pusat pemerintahan sejak Hindia Belanda berada di Sulwesi Tengah
dan Tentena menjadi pusat perkembangan pendidikan di Sulawesi Tengah. Pertanian
merupakan sektor yang sangat penting bagi kehidupan Masyarakat Kebupaten Poso
dengan tanaman yang ditanam yaitu padi, jagung,kedelai, dan umbi-umbian.
Kabupaten Poso mempunyai peradaban dan kebudayaan yang khas dari orang-orang
Baree, Pamona, Pekurehua, dan Wana.
·
Situasi
Plotik Sulawesi Tengah dan Poso 1950-an
Undang-undang nomor 33 tahun 1952
menjadi momentum yang penting terbentuknya Kabupaten Donggala dan Poso di
wilayah Sulawesi Tengah yang didalamnya menciptakan tokoh-tokoh politik yang
berusaha membentuk Provinsi Sulawesi Tengah yang baru dari provinsi induk
Provinsi Sulawesi Utara Tengah. Tahun 1951 dikeluarkan Peraturan Pemerintah
nomor 56 untuk membagi dua daerah Sulawesi Tengah menjadi dua wilayah otonom
setingkat kabupaten yaitu Kabpaten Poso dengan ibukota Poso dan Kabupaten
Donggala dengan ibukota Palu. Semangat dari dua kabupaten otonom di Sulawesi
tengah yakni Kabupaten Poso dan Kabupaten Donggala tersebut menjadi semacam
spirit masyarakat Sulawesi Tengah untuk memperjuangkan Provinsi Sulawesi Tengah
dari Sulawesi Utara.
Perjuangan masyarakat Sulawesi
Tengah dalam membentuk Provinsi Sulawesi Tengah dilakukan secara bersama-sama
dengan prisip masing-masing yang diperlihatkan dalam konsepsi yang diajukan masing-masing yaitu konsepsi
Manoppo, Toraja Raya, Makassar, Zakaria Imban, Tobing, Ngitung, Tomini,
Mahasiswa Sulteng. Salah satu pengakuan tokoh pembentukan terbentuknya Provinsi
Sulawesi Tengah telah dimuat dalam kesimpulan sarasehan mengenai sejarah dan
pembangunan. Gerakan Pemuda dari Sulawesi Selatan dan Jakarta sedikit banyak
meliki hubungan dengan GPST sebagai
suatau kelompok pejuang di Kabupaten Poso.
Situasi politik tahun 1950-an menunjukan karakteriktik suatu
perpolitikan yang dinamik. Hal ini dapat dilihat dalam gerakan-gerakan politik
di kepartaian mauapun DPRD Sementara Kabupaten Poso. Partai Syarikat Islam
Indonesia (PSII) dan Masyumi Cabang Luwuk
giat dalam upaya promosi dalam
pemilihan umum dan menegakan negara Islam. kegiatan-kegiatan pemuda yang membentuk
onder bow partai merupakan ciri khaspartai politik di Poso. Terbentuknya
Provinsi Sulawesi Tengah terjadi setelah keluarnya Perpu sebagai Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang yakni Perpu nomor 2 tahun 1964 tentang
pemebntukan Provinsi Sulawesi Tengah dengan ibu kota Palu.
Pada tanggal 2 Maret 1957 di
Makassar diploklamirkan Persemesta oleh Panglima TT-VII/Wirabuana dan kemudian
memilih basisnya di Sulawesi Utara, yang dimana waktu itu terjadi Komandan
KDM-SUT waktu itu dipegang oleh Letkol. Inf. D.J. Somba mendukung
gagasan-gagasan pemerintah otonom mutlak dan luas dari Sumual sebagai cikal
bakal lahirnya Pesemesta. Tanggal 17 Januari 1957 Komandan KDM-SUM Letkol Inf.
D.J.Somba mengumumkan bahwa Sulawesi Utara memutuskan hubungan dengan pusat dan
penyokong berdirinya permesta/PRRI. Persemesta yang muncul dengan ide otonomi
di Sulawesi Selatan kemudian bertahan di Sulawesi Utara termasuk juga terdapat kekuasaan di Sulawesi
Tengah termasuk Kabupaten Poso.
Keadaan politik nasional yang
memanas waktu itu ditandai dengan Proklamasi Pemerintah Revolusioner Republik
Indonesia (PRRI) di Padang pada tanggal 15 Februari 1958 sebagai bentuk
penolakan terhadap pemerintah Kabinet Juanda. Situasi Permesta di Sulawesi
Selatan walaupun dalam posisi terpecah memutuskan untuk mengambil posisi netral
anatar Pemerintah Kabinet Juanda dan PRRI. Penumpasan Gerakan Permesta di
Indonesia Timur dilancarkan beberapa operasi gabungan oleh pemerintah Jakarta
dengan nama Operasi Merdeka (Operasi gabungan angkatan darat, laut dan udara)
dibawah pimpinan Letkol Rukminto Hendradiningrat.
Sesungguhnya hubungan antara
Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) di Kabupaten Poso tidak lepas dari
gerakan-gerakan pemuda-pemuda dari Makassar yaitu adanya ekspedisi dari
Makassar ke wilayah Poso untuk menggabungkan diri. Dengan kedatangan
rombongan-rombongan dari Makassar secara teratur dan bergelombang, semangat dan
daya juang pemuda GPST nampaknya semakin membara. Rombongan tersebut terdiri
atas mahasiswa dan pelajar-pelajar yang masih duudk dibangku sekolah sedangkan
yang lainnya merupaka pegawai-pegawai sipil dan tentara. Daerah defakto pemuda
semakin luas sedangkan massa masyarakat telah dikuasai oleh pemuda GPST yang
sebut Permesta sebagai pemberontak dan terpaksa Permesta tinggal menguasai
tempat pos saja.
·
Organisasi
GPST di Poso
Pemuda-pemuda yang melarikan diri
ke hutan pada tanggal 5 Desember 1957 menamakan diri mereka dengan sebutan
Gerapan Pemuda Sulawesi Tengah . organisasi ini meiliki dua symbol yaitu merah
dan putih yang menyatukan semua anggotanya dan symbol itu sangat penting dan
berarti sebagai lambing staf dan lambing pasukan tempur. Lambing staf GPST
merupakan merah putih persegi lima dan lambing pasukan GPST adalah merah putik
segi empat. Mereka yang aktif dalam GPST merupakan organisasi oelh kelompok
menengah di Poso. Ketua GPST Asa Bungkundapu merupakan seorang pegawai kantor
pajak di Kabupaten Poso dan ada tentara seperti Mosialo Tonigi, juga ada
pendeta Mogente Awusi.
Pada awal-awal pembentukan GPST di
wilayah Poso ditopang oleh beberapa orang pemuda dari Tentena dan kota Poso.
Kelompok Poso yang melarikan diri kehutan
berjumlah 326 orang dan kurang lebih beberapa orang pemuda yang berasal
dari Tentena utnuk kemudian bertemu di
Ompo. Penerimaan atau pengumpulan anggota yang dilakukan pada tanggal 5
Desember 1957 di desa-desa sekitar Poso, Tentena, Kelei, Taripa, Ompo, dan
Luwuk Banggai. Organisasi GPST sebagai sebuah kelompok bersenjata di Kabupaten
Poso tahun 1957-1960-an memilki kekuatan divisi sebanyak 10 divisi. Semua
divisi dikendalikan oleh pimpinan yang dipegang oleh Asa Bungkundapu dengan
komandan pasukan dipegang oleh Herman Parimo. Pada pertemuan anggota GPST di
Ompo mulai membagi wilayah menjadi 10 wilayah.
·
Gerakan
langkah GPST di Poso
Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah
(GPST) di Kabupaten Poso memilki latar belakang yang unik yaitu dimulai akan
kerinduan dua hal yaitu terbentuknya Provinsi Sulawesi Tengah yang otonom dan terbentuknya militer induk
secara otonom. Tingkah laku anggota Permesta dibawah pimpinan pimpinan Mayor
Palar di Poso dan sekitarnya dan selalu bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat sekitar.
Kesewenang-wenangan itu terlihat dari perampasan atau perebutan terhadap
potensi ekonomi terutama akomodasi atau
pangan bagi kesatuan-kesatuan Permesta di wilayah Kabupaten Poso. GPST dibentuk
oleh masyarakat Poso yang terpelajar dan menyentuh semua lapisan masyarakat
baik kelas atas, menengah dan bawah serta tersebar dari Poso, Tentena, Mori,
Tojo, Ampana, Luwuk, Kolonodale, dan Bungku.
GPST selain melawan Permesta juga
melawan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang beroperasi di
wilayah Kabupaten Poso pada tahun 1957-an. Pasukan GPST yang ada di Tentena
pernah melawan DI/TII yang muncul di kampung Bancea Danau Poso dan wilayah
Bungku. Sejak tahun 1952 DI/TII yang lebih populer dengan sebutan Gorrila dipimpin oleh Hasanudin Lakalo
beserta 70 orang anak buahnya untuk pertama kali memasuki wilayah Distrik
Bungku. Pada tahun 1954 Andi Dahlan, Komandan Gorilla bersama anak buahnya berjumlah lebih 175 orang bersenjata
lengkap memsuki Kampung Ululere. Mereka meneruskan perjalanan sampai di Kampung
Tudua lalu kembali ke Ungsongi. Pasukan Gorilla
stelah kontak senjata dengan pasukan perintis di Unsongi mereka mundur ke
Baho’eaSiumbatu dan Bahodopi. Mendengar pasukan Gorilla yang menduduki Baho’ea Siumbatu telah diserang oleh Mobrig,
Gorilla yang menduduki Bahodopi
berupaya melarikan diri lari ke Sangi-Sangi di daerah Pegunungan Bahodopi.
Selang beberaa waktu Gorilla kembali muncul di Bansala Desa
Bahomotefe, ketika sedanng mmepersiapkan pesta perkawinan anatra Boubou dan
Mahafia. Ketika Sau Dati sudah berada
pada posisinya aman, tepatnya di ujung Kampung Bahomete ia melepaskana
tembakan upaya untuk menyelamatkan Masyarakat dari ancaman maut dan perlakuan
amat kejam dari anggota pasukan Gorilla.
Mendengar letusan senjata tersebut pasukan Gorilla yang saat itu menguasai kampung Bahomefe
mundur mengambil posisi aman.
Kekuatan Permesta di Kabupaten Poso
terlihat dalam peta GPST sebagai saran untuk penyerangan di Kabupaten Poso.
Formasi kkeuatan Permesta terlihat dalam 11 titik kekuatan yakni Poso, Uekuli,
Pendolo, Bada, Besoa, Tentena, Pamona, Pebato, Ampana, dan Kolonodale. Namun
sesungguhnya Permesta memiliki pos-pos tertentu dalam tempat-tempat yang
dianggap strategis. Pada mulanya pemuda-pemuda di Kabupaten Poso muncul
kekecewaan akan kehidupan stabilitas sosio-politik ditandai kesimpulan akan
kerinduan untuk membangun daerah ini maka mulai melakukan kontak-kontak antara
pemuda di Kota Poso dengan pemuda-pemuda yang ada di Tentena.
Gerakan pemuda yang melarikan diri
ke hutan mulai dicurigai oleh Permesta. Pemuda-pemuda dari Tentena berangkat
pada tanggal 4 desember 1957 dan berkumpul di rumah Muko Kaluti yang berjumlah
skeitar 40 orang. Pada tanggal 6 Desember 1957 rombongan dari Poso sudah tembus
hingga do daerah Ompo yang dilakukan oleh kelompok pemuda termasuk Tonigi.
Mereka berkesimpulan dalam perkumpulan dan diputuskan bahwa gerakan ini bernama
gerakan Pemuda Sulawesi Tengah. Permesta melakukan serangan terhadap GPST
menyampaikan bahwa “ yang tidak keluar huta akan diintimidasi melalui keluarga.
Kalau tidak keluar keluarga akan dibunuh”. Pada waktu keadaan Tentena tegang
antar Permesta dengan pemuda-pemuda dan terdapat 20 orang tokoh yang dianggap
pimpinan yang mendukung GPST pada bulan Januari, Februari dan Maret 1958
diculik oleh Permesta. Menurut ukuran Jakarta PRRI dan Permesta adalah
pemberntak sehingga utusan GPST diterima dengan baik oelh orang0orang di Markas
Besar Angkatan Darat.
Pembentukan Sulawesi tengah pada
tahun 1964 mendapatkan dukungan yang luas dari masyarakat Sulawesi tengah yang
tersebar di empat kebupaten induk Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Poso,
Kapubaten Donggala, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Buol Tolitoli. Dukungan
GPST terhadap terbentuknya Provinsi Sulawesi Tengah dapat dilihat dari dua
tujuan pokok perjuangan yakni terbentuknya Provinsi Sulawesi Tengah secara otonom dan terbentuknya resimen induk
di Sulawesi Tengah secara mandiri. GPST di Napu dan Bada, perang antara GPST
dengan Permesta pada tahun 1958, perintis menduduki wilayah Napu satu peleton
Komandan Sersan Mayor Wolang, kemudian satu kompi Sersan Sumilat. Tanggal 8
Desember 1957 aktiftitas GPST di Bada banyak pemuda melakukan gerilya di daerah
Tonusu, wilayah Salukaia, dan daerah sekitarnya.
Pada tahun 1958 Luwuk Banggai. Masih
termasuk dalam wilayah Kabupaten Poso dan setelah berjuang dengan segala
upayanya untuk menuntut Daerah Otonom Tingkat II. Keadaan yang tidak menentu
tersebut membuat anggota GPST secara diam-diam menyusun strategi dengan
mempengaruhi para petani yang biasanya berjualan dipasar agar mengehentikan
kegiatan menjual sayur mayor dan ikan di dalam kota dengan tujuan untuk
melemahkan kekuatan Permesta. Pada tanggal 7 Mei 1958 penguasa militer Permesta
di luwuk mengeluarkan surat edaran berupa ultimatum antara lain isinya agar
pasukan bersenjata GPST menyerah 3X24 jam dengan batas waktu terakhir 10 Mei
1958 jika tidak akan dilaksanakan operasi tumpas. Penguasa perang Persemesta
dalam kota mengumumkan agar rakyat bersiap-siap membuat parit-parit
perlindungan dan jam malam diperketat.rombongan GPST tidak membawa senjata
apa-apa meninggalkan Desa Kayutanyo menuju Luwuk untuk menjemput senjata sesuai
perjanjian rahasia yang telah disepakati. Berita tentang perundingan damai di
Maahas antara GPST dan Persemsta mengalami jalan buntu.
Pada tanggal 2 Juli 1958 dini hari
semua anggota pasukan GPST sektor X Luwuk Banggai pimpinan komandan operasi J.
Timbulen meninggalkan Maahas menuju Bumi Mutiara. Barisan GPST siaga berjalan
terus dan membersihkan kota sebelum memasuki asrama yang ditinggalkan pasukan
Permesta konsentrasi sebentar di halaman
menunggu petugas dalam meneliti karena biasanya tempat yang ditinggalkan
dipasang peledak. Menjelang akhir Juli 1958 kompi Bn. 602 mmebentuk pasukan
operasi gabungan untuk mengejar pasukan permesta yang menurut laporan yang
masuk, bahwa pasukan Permesta sedang berada di Kecamatan Bunta. Pimpinan
operasi mengeluarkan pengumuman kepada masyarakat yang mendiami Desa Tuntung
dan sekitar agar segera mengungsi dan sementara rakyat dalam pengungsian
persediaan pangan mulai menipis. Pasukan operasi gabungan memblokade Desa
Tuntung dan sekitarnya untuk mempersempit ruang gerak Permesta juga
mengantisipasi bantuan pangan yang masuk selanjutnya pimpinan pasukan operasi
gabungan mengirim berita ke Luwuk minta bantuan tambahan personil mengingat
persenjataan Permesta yang cukup canggih bantuan Amerika.
Menjelang akhir Oktober 1958,
stabilitas khususnya wilayah Luwuk Banggai sudah mulai normal kembali, roda
perokonomian sudah mulai berjalan, pemerintah Luwuk Bangga mempersiapkan diri
menyongsong realisasi otonom daerah tingkat II. Sementara pasukan GPST
bersenjata bertugas di daerah tersebut di atas terjadi kontak senjata beberapa
kali dengan DI/TII. Pada wal tahun 1960 pasukan regu Kasim Umpel kembali ke
induk pasukannya di Luwuk Banggai dengan selamat. Ada surat perintah dari
komandan untuk pendaftaran secara keseluruhan yakni pendaftaran anggota GPST
yang dipedesaan yang dikoordinir oleh para komandan sub-sub sektor. Setelah
keluarnya surat perintah tersebut langsung dilaksanakan pendaftaran dan
akhirnya didapatkan data otentik berjumlah 2.768 orang anggota, dari jumlah 255
dalam tampungan di tambah 2.768 sama dengan jumlah keseluruhan 3.023 orang.
Daftar tersebut dibuat dalam empat rangkap : Rangkap I dikirim untuk Jakarta,
Rangkap II dikirim untuk Kodam XIIIMerdeka Manado, Rangkap III untuk Kodim
Luwuk Banggai, dan Rangkap IV untuk Arsip.
Antara pemerintah dan phak kesatuan
GPST sudah ada titik temu sehingga pada saat pelaksanaan tidak mengalami kendala
apapun, karena pada awalnya anatar pimpinan dan anggota GPST itu sendiri sudah
mengadakan tanya jawab dari hati ke hati
siapa yang ingin jadi tentara TNI AD atau polisi dan yang ingin kembali ke
masyarakat untuk berwiraswasta.
Penyelesaian anggota GPST banyak yang ingin kembali kebangku sekolah, karena
pada saat itu banyak yang masih pelajar. Demikian peraturan pemerintah tentang
penyelesaian eks anggota GPST Luwuk Banggai sehingga tidak terjadi kesenjangan
sosial .
·
Akhir
Sebuah Gerakan
Kata kunci bagi cita-cita GPST di
Kabupaten Poso adalah otonomi yang diperjuangkan memang baru kelihatan enam
tahun kemudian namun langkah kongkrit bagi terwujudnya otonomi Provinsi
Sulawesi Tengah Sudah dilakukan diberbagai dimensi. Secar politik telah memperjuangkan
daerah ini menjadi provinsi yang otonom baik di Kota Jakarta, Kota Makassar,
Kota Manado, Kota Palu dan termasuk Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) di
Kabupaten Poso. Kilo 22 dari Poso ke Tentena merupakan tikungan jalan yang
mengesankan dan memilki cerita yang menyedihkan dan mengharukan serta
menegaskan sebuah cita-cita yang tinggi bagi bangsanya. Pembunuhan terhadap
anggota GPST dan termasuk ketuanya di kilometer 22 ini pimpinan GPST dan
sepuluh orang dibantai oleh tentara Brawijaya sebagai bukti sejarah perjuangan
pemuda-pemuda kabupaten Poso.
Aktifitas GPDT sepanjang tahun 1958
dilakukan diberbagai tempat yang setiap tempat memakan korban jiwa salah
satunya yaitu pada saat wilayah Pendolo direbut oleh pasukan musuh dalam hal
ini musuh yaitu Permesta maka pasukan partisan GPST pada tanggal 5 Mei berusaha
mempertahankan daerah tersebut maka
anggota GPST yang gugur dalam pertempuran di Pendolo sebanyak 11 orang yang
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Poso.
KEKURANGAN DAN
KELEBIHAN
Dari buku yang berjudul “Gerakan
Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) di Poso
1957-1963 Perjuangan Anti Permesta dan Pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah ”
yang ditulis oleh Haliandi Sadi. Memiliki kelebihan
sebagai berikut :
1.
Buku ini memiliki isi
dan uraian-uraian yang sangat lengkap dan dapat dijadikan referensi
2.
Dalam buku ini
menggambarkan perjuangan pemuda-pemuda Poso yang menamai drii mereka Gerakan
Pemuda Sulawesi Tengah dalam melancarkan perlawanan terhadap Permesta.
3.
Dalam menjelakan
peristiwa dengan kronologis yang jelas sehingga dapat dengan mempermudah
pembaca dalam mengerti akan buku tersebut.
4.
Dalam menyampaikan
suatu informasi bahasa yang digunakan sangat sederhana sehingga masyarakat awan
dalam membaca buku ini mengerti akan informasi yang disampaikan.
Kekurangan
Dari buku yang berjudul “Gerakan
Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) di Poso
1957-1963 Perjuangan Anti Permesta dan Pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah ”
yang ditulis oleh Haliandi Sadi. Memiliki kekurangan sebagai berikut :
1.
Dalam mengunkapkan
suatu permasalahan terlalu meluas sehingga permasalahan yang diangkat tidak
focus.
2.
Terlalu banyak
menggunakan kata yang menjadikan kalimat tumpang tindih kata.
SIMPULAN
Berdasarkan uraian mengenai Gerakan
Pemuda Sulawesi Tengah di Poso dapat ditarik kesimpulan bahwa cita-cita GPST di Kabupaten Poso adalah
otonomi dimana dukungan GPST terhadap terbentuknya Provinsi Sulawesi Tengah
dapat dilihat dari dua tujuan pokok perjuangan GPST yaitu terbentuknya Provinsi
Sulawesi Tengah secara otonom dan
terbentuknya resimen induk di Sulawesi Tengah secara mandiri.
Anggota partisan bersenjata GPST
yang merupakan suatu peristiwa yang menharukan karena tidak diduga dan tidak
mengharapkan pihak pemerintah pusat dapat memberikan sesuatu yang sangat berharga sebagai tanda keiikut sertaan
para pemuda dan pemudi Luwuk Banggai dalam mempertahankan Negara Keatuan
Republik Indonesia.


No comments:
Post a Comment