![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: MUSONEF
|
|
|
NIM
|
: 3101412086
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas
Buku
Judul
buku : MENYIBAK
TABIR ORDEBARU : Memoar Politik Indonesia
1965-1998
Pengarang :
Jusuf Wanandi
Penerbit :
PT Kompas Media Nusantara
Kota
terbit : Jakarta
Tahun
terbit : 2014
Tebal :
412 halaman
B.
Tentang
Penulis
Jusuf Wanandi, lahir pada tahun
1937 berasal dari Sawahlunto, Sumatera Barat, berlatar belakang pendidikan
hokum dan terpanggil sebagai seorang aktivis. Ia salah seorang pendiri Centre
for Strategic and International Studied pada tahun 1971; dan diantara berbagai
jabatan yang disandangnya, sekarang dia adalah Direktur Utama The Jakarta Post
dan Ketua Badan Pelaksana Harian Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Prasetiya Mulya
dan anggota Dewan Pembina Yayasan Prasetiya Mulya. Ia menetar di Jakarta
beserta keluarganya. Inilah bukunya yang ketiga.
C.
Isi
Buku
Tahun 1950-an adalah era yang sarat
dengan ketegangan konflik. Ketika itu, pemerintah bukannya membangun
infrastruktur politik dan ekonomi, presiden Soekarno justru menggunakan dan
memobilisasi masa sebagai strategi kepentingan politiknya. Ia menggunakan
gelombang demonstrasi jalanan daripada mengurus pemerintahan. Demokrasi yang
relative liberal pada kala itu diganti dengan demokrasi terpimpin yang sangat
otoritarian yang berpusat pada dirinya. Ketika situasi konfrontatif itu
dihadapi dengan kemungkinan berakhirnya Soekarno, tak mengherankan terjadilah
kekacauan dahsyat pada saat ia tidak bias mengendalikan gelombang yang
dimulainya sendiri.
Jusuf Wanandi kala itu bergabung
dengan Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI) tahun 1955.
Kegiatan tersebut meningkatkan dan memperkuat ketrampilan memimpin yang sudah
ia kembangkan sejak menempuh pendidikan di Canisius. dalam kurun waktu beberapa
tahun, ia juga bergabung dengan kegiatan politik Persatuan Perhimpunan
Mahasiswa Indonesia (PPMI).
Dalam bukunya, Jusuf Wanandi
mengungkapkan bahwa Bung Karno pertama-tama adalah seorang pejuang kemerdekaan
melawan penjajahan Belanda, dan kemudian menjadi pejuang melawan semua bentuk
penjajahan. Ia berdampingan dengan tokoh nasional hebat lainnya seperti
Jawaharlal Nehru dari India, Gamal Abdul Nasser dari Mesir, dan Kwame Nkrumah
dari Ghana. Bung Karno adalah orang yang romantic, yang tidak pernah
memperhatikan ekonomi. Ia tidak sabar dengan proses pembangunan kelembagaan dan
tidak pernah menanganinya dengan serius. Kepemimpinannya dibangun berdasarkan
charisma dan mekanisme yang ia ciptakan untuk memperketat kendalinya diatas
pemerintahan.
Ketika Bung Karno mengambil alih
kekuasaan penuh pada tahun 1958, ketika menyatakan Negara berada dalam keadaan
darurat, ia juga menyatakan bahwa semua sumber kekuasaan berada dibawah dia :
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan Dewan
Pertimbangan Agung (DPA) yang beranggotakan 45 orang
Pada pagi hari, Bung Karno senang
mengadakan siding di beranda belakang Istana Merdeka, memimpin pertemuan bagai
seorang sultan hanya dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Sesi pagi
yang berlangsung dari pukul 07.30 sampai 09.30 ini bersifat informal. Kadang
kala ada Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh, Menteri Luar Negeri/Waperdam
I Soebandrio, atau Kepala Staf Angkatan Darat Jendral Ahmad Yani.
Nyoto, seorang pemimpin senior PKI,
selalu hadir. Sekali waktu pernah Bung Karno meneriaki Soeparman, Asintel
Angkatan Darat dan salah satu tangan kanan Jendral Ahmad Yani. Adik Soeparman
yang bernama Sakirman adalah anggota CC PKI.
Pemilihan umum tahun 1955
menempatkan PKI kembali pada arus utama politik sebagai satu dariempat parta
besar. Ini merupakan pencapaian yang penting, karena pada tahun 1948 partai ini
hampir dihancurkan oleh Angkatan Darat setelah dibawah pimpinan Muso berusaha
melakukan kudeta terhadap pemerintahan Soekarno-Hatta. Tahun 1952, partai ini
dilarang aktif karena melakukan protes buruh dan memogokan dalam peristiwa
Mutual Security Art (MSA). Karena itu, pada Pemilihan Umum Daerah 1957, ketika
PKI tampil sebagai pemenang pertama di Jawa Tengah dan pemenang kedua di Jawa
Timur dan Jawa Barat, Angkatan Darat dan partai politik lainnya bereaksi.
Segalanya berubah pada tahun 1961
ketika PKI mendukung Cina dalam perpecahan Sino-Soviet. PKI mempersiapkan
kadernya untuk melakukan perjuangan bersenjata, yaitu desa mengepung kota,
seperti yang direncanakan oleh Lin Biao. Tahun 1962 PKI mendirikan sekolah Ali
arqam yang melatih kadernya menjadi lebih militant dan meningkatkan infiltrasi
dalam angkatan bersenjata.
Tahun 1964 PKI mengusulkan
dibangunnya angkatan kelima yang mereka namakan Tentara Rakyat yang berada
diluar Angkatan Bersenjata. Menurut konsep ini, Tentara Rakyat juga terdiri
atas perwakilan politik. Jendral Ahmad Yani menolak gagasan ini, karena ia tau
tujuan utama konsep itu untuk mengimbangi peran dominan Angkatan Darat dalam
urusan Politik dan Keamanan.
Angkatan darat menjadi satu-satunya
kekuatan yang dapat melawan PKI. Kekuatan-kekuatan kanan yang ada mulai
bergabung dibawah paying Angkatan Darat; Kelompok seperti Sekretariat bersama
Golkar, yang mengumpulkan lebih dari 290 organisasi pemuda, mahasiswa,
perempuan, buruh, intelektual, guru, dan ulama.
Tahun 1963, Jusuf Wanandi dan
rekannya yang berada dipusat Dokumentasi Kantor Waligereja Indonesia (KWI)
menarik kesimpulan bahwa PKI akan mengambil alih kekuasaan. Gerakan Massa PKI
menjadi mekanisme untuk mengimplementasikan gagasannya. Sementara orientasi
Soekarno semakin berkiblat pada Komunisme dan PKI, ia juga mengandalkan
dukungan mereka dibalik layar karena soekarno tidak pernah sepenuhnya percaya
pada Angkatan Darat, ia membutuhkan PKI untuk mengimbangi kekuatan tentara.
Ketika Badan Intelijen Pusat
Amerika Serikat (CIA) memberikan bantuan kepada pemberontak di Sumatera (PRRI)
dan Sulawesi (permesta) untuk menentang pemerintahan Soekarno (1968), Bung
Karno lebih terdorong untuk merangkul dunia Komunis. Pada tahun 1961, ketika
PKI merapatkan diri dengan Cina setelah Comintern pecah, Bung Karno juga
merapat pada Beijing. Pilihannya semakin sempit secara dramatis hanya dalam
kurun waktu satu decade.
Itulah sebabnya Bung Karno seolah
ingin memutar waktu kembali. Ia menegur Cina dan Uni Soviet karena perpecahan
kedua Negara itu, padahal perjuangan antara Oldefos dan Nefos mengandalkan
kedua Negara tersebut. “Kita tidak boleh pecah” kata Bung Karno dengan keras.
Kemudian ia mengirim Aidit yang pada waktu itu menjabat sebagai Wakil Ketua MPR
dan berada dalam rombongan Presiden ke Moskwa dan Beijing untuk merujukkan
mereka kembali. Persatuan-persatuan Negara Nefos sangat penting dalam
memperjuangkan melawan Oldefos, demikian pesan Soekarno untuk disampaikan Aidit
kepada mereka.
Tentu saja Aidit tidak bias menolak
keinginan Pemimpin Besar Revolusi dan mungkin juga ia mempunyai alasan
tersendiri mengapa ia bersedia mengikuti perintah Bung Karno. Rencana PKI untuk
membentuk angkatan kelima yang terdiri dari tentara rakyat dihambat oleh
Jendral Ahmad Yani yang pro Amerika dan konservatif. Namun jendral Ahmad Yani
juga disenangi oleh Bung Karno. Karena itu, ia dapat menghambat partai komunis
itu. Namun pada kenyataanya Jendral Ahmad Yani merupakan jendral pertama yang
dihabisi oleh PKI.
Tindakan selanjutnya adalah
menghubungi Militer, berarti Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Kodam Jaya)
dibawah Umar Wirahadikusumah dan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat
(Kostrad) dibawah Soeharto. Ketika itu Jusuf Wanandi dan Harry Tjan belum
memiliki kontak dengan Soeharto. Kontrak pertama terjadi ketika Harry Tjan dan
Subchan menemui Soeharto di Mabes Kostrad pada 4 Oktober. Dari sanalah mereka
menjalin hubungan yang erat, yang bertahan hingga dua decade. Pada tanggal 1
Oktober sebelumnya sekitar pukul dua dan tiga dini hari ada sebuah tembakan
yang menuju ke rumah Nasution.
Banyak tafsiran yang muncul
mengenai kegagalan kudeta Gerakan 30 September itu. Ada yang mengatakan tidak
mungkin PKI pelakunya karena memang bukan PKI yang memimpin. Namun, cukup bukti
bahwa pimpinan PKI mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi seperti yang ditulis
oleh Anggota Komite Sentral Anwar Sanusi di dalam Harian Bintang Timur edisi 30
September 1965 yang berbunyi “Negara sedang dalam keadaan hamil tua dan sesuatu
yang penting akan segera terjadi”. Jangan lupa bahwa sebelum kejadian itu sudah
banyak ketegangan antara PKI dan kelompok nonkomunis, terlebih lagi dengan
Angkatan Darat dan golongan Islam. Seorang Letnan Angkatan Darat dibunuh di
Pematang Siantar, Sumatera Utara, oleh aksi sepihak PKI.
Ada yang mengatakan bahwa
Soehartolah yang merencanakan kudeta dan dengan satu pukulan ia menggeser PKI
dan pimpinan Angkatan Darat yang selama ini tidak menganggapnya penting. Mereka
mengatakan bahwa untung berada dibawah Soeharto di Kodam Diponegoro. Kemudian
juga di dalam kampanye Trikora di Irian Barat. Juga ada fakta bahwa Kolonel
Abdul Latief, seorang perwira Kodam Jaya, dan dari Gerakan G-30-S, menemui
Soeharto di Rumah Sakit Angkatan Darat ketika ia sedang mengunjungi Tommy yang
sakit. Ada satu pertanyaan lagi mengapa Soeharto yang sama-sama senior tidak
masuk dalam daftar para Jendral yang dibunuh PKI ?.
Ada lagi versi yang mengatakan
bahwa ini adalah urusan internal Angkatan Darat. Ada juga yang mengatakan bahwa
gerakan ini direncanakan atau paling tidak direstui Bung Karno, yang ditengah
pelaksanaannya menjadi ragu dan memutuskan tidak lagi mendukung gerakan ini
sepenuhnya. Mereka mengatakan bahwa teori ini dapat menjelaskan mengapa bung
karno batal bergabung dengan Aidit, yang telah meninggalkan Jakarta pada pukul
tiga siang ke Yogyakarta, dan memutuskan mengikuti saran Leimena untuk pergi ke
Bogor. Keraguan Soekarno dapat disebabkan oleh beberapa factor: selamatnya
Jendral Nasution dari usaha pembunuhan. Penolakan Soeharto untuk bergabung di
Halim yang kemudian juga mempengaruhi perwira lain untuk tidak kesana, dan juga
pembunuhan atas sahabatnya, yaitu Jendral Ahmad Yani. Semua ini adalah
spekulasi, tetapi yang pasti Soekarno bimbang di Halim. Ia baru berangkat ke
Bogor pada pukul tujuh malam.
Dugaan keterlibatan Soeharto
merupakan yang paling menarik dari semua teori mengenai kudeta 30 September
1965. Mungkin bukti paling kuat untuk membebaskan Soeharto dari segala tuduhan
tidak banyak diketahui umum. Ia telah mengajukan surat pengunduran diri dari
Angkatan Darat beberapa bulan setelah ia tidak diangkat menjadi Kepala Staf
Komando Tertinggi (KOTI) yang baru dibentuk untuk melawan Malaysia.
Siapa Soeharto? Pertanyaan inilah
yang antara lain dijawab oleh Jusuf Wanandi.
Dari posisinya yang amat dekat
kepada Soeharto dan lingkungannya di sekitar Kostrad dan kemudian kantor
kepresidenan, Wanandi menjelaskan siapa Soeharto. Pengamatan dan interaksi
Wanandi dengan Soeharto, membawanya pada kesimpulan, Pangkostrad itu bukan
Jenderal yang fobia komunis. Dan PKI jelas tahu dia bukan bagian dari
lingkungan Panglima Angkatan Darat, Letnan TNI Jenderal Achmad Yani. Di mata
PKI, bahkan di mata Presiden Soekarno, Yani dan kelompokmya di Markas Besar
Angkatan Darat (MBAD) adalah orang-orang “keras kepala” yang anti
Komunis dan anti Nasakom. Bukti dari sikap PKI itu adalah terjadinya dua kali
kunjungan Kolonel Latif kepada Soeharto di rumah kediaman Pangkostrad dan di
Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) beberapa jam sebelum operasi Gestapu
dilancarkan.
Apa yang dipercakapkan Latif dan
Soeharto pada kedua pertemuan tersebut diungkapkan sendiri oleh keduanya. Di
kediaman Soeharto, menurut cerita sang Pangkostrad, Latif melaporkan adanya
Dewan Jenderal yang akan menyingkirkan Soekarno, sang Presiden. Pada pertemuan
di RSPAD, karena keterbatasan waktu, tidak banyak yang mereka bicarakan. Meski
ada dugaan Latif melaporkan operasi akan segera dimulai “mengambil” para
Jenderal yang sebelumnya secara publik sudah dikampanyekan Soekarno sebagai
“tidak loyal” kepada Pemimpin Besar Revolusi.
Menurut rencananya, para Jenderal
yang dituduh sebagai anggota Dewan Jenderal tersebut akan diambil untuk
dihadapkan kepada Presiden Soekarno. Di depan Soekarno para Jenderal dari MBAD
akan didaulat disingkiran dari MBAD dan posisi mereka
diberikan kepada Jenderal yang mudah diatur oleh Soekarno. Latif berharap
(menurut pengakuannya pada Mahkamah Militer yang mengadilinya di Bandung)
Jenderal Soeharto yang akan naik menggantikan Pangad Jenderal Yani.
Kita tidak mempunyai informasi
apakah harapan Kolonel Latif tersebut disampaikan kepada Soeharto pada
pertemuan di RSPAD malam itu. Yang kita semua ketahui kemudian, pada pagi
esoknya para Jenderal terbunuh, Soeharto mengamuk, orang-orang PKI kemudian
banyak yang terbunuh di samping sejumlah besar dipenjarakan. Termasuk
Latif. Siapa yang harus bertanggungjawab terhadap pembunuhan massal di
banyak tempat itu?
Menurut Wanandi, baik Soeharto
maupun Soekarno, sampai batas tertentu, harus iku bertanggungjawab. Tapi
Soekarno pertama-tama yang harus bertanggungjawab. Waktu itu dia masih
Presiden. Soeharto, menurut Wanandi, seharusnya berusaha meyakinkan Soekarno
meredakan ketegangan dan histeri massa yang menyebabkan pembunuhan massal itu.
Menurut ceritanya sendiri, beberapa
kali Soeharto meminta PKI dibubarkan, tapi Soekarno berkeras dan selalu
berusaha meminta massa tenang sembari menunggu komando Pemimpin Besar Revolusi.
Histeria yang nyaris merata, ketakutan kepada PKI yang sudah dipersepsikan
sanggup dan telah melakukan pembunuhan keji dan sadis, hanya menyebabkan seruan
dan himbauan Soekarno ikut tertiup angin menjauh dari masyarakat yang
“histeris”. Pembunuhan berlanjut hingga yang harus dibunuh nyaris sudah habis.
Menurut Wanandi, yang memicu terjadinya pembantaian adalah karena tidak adanya
otoritas yang berwibawa mencegah dan menghentikannya. Di Jawa Tengah dan Jawa
Timur pembantaian merupakan kelanjutan berdarah dari ketegangan yang sudah
berlangsung lama, antara lain sebagai akibat aksi sepihak PKI dan Barisan Tani
Indonesia (BTI). Tidak disebutkan Wanandi trauma Peristiwa Madiun 1948 yang
sebenarnya juga menjadi salah satu akar pembantaian tersebut. Seperti diketahui
Gestapu terjadi hanya 17 tahun setelah Pristiwa Madiun.
Masih tentang siapa Soeharto, Jusuf
Wanandi mengungkapkan pengalamannya mendampingi pemimpin tertinggi
Indonesia yang baru itu. Ternyata acuan sejarahnya terbatas pada
sejarah kerajaan Jawa . Berbeda dengan Soekarno sebelumnya, dunia gagasan
Soeharto berputar dan hanya berakar pada budaya Jawa, termasuk gagasan
kekuasaan Jawa yang diketahuinya kebanyakan dari pengalaman dan cerita
wayang. Soekarno sejak muda membaca luas tentang berbagai gagasan politik,
ideologi dan sejarah dunia. Bagi seorang Soeharto yang memulai karir militernya
sebagai pada tentara Hindia Belanda (Knil), wacana dan sejarah gagasan
yang setiap hari menjadi “suguhan” Soekarno lewat sejumlah pidatonya yang
bagaikan tidak kunjung habis itu, adalah barang asing.
Kelompok
politik cum intelektual yang paling siap pada awal sejarah Orde Baru
adalah kelompok yang kemudian berumah dalam CSIS. Para Jenderal yang mendadak
berkuasa itu memerlukan sejumlah gagasan bagi mengelola negara. Hanya
CSIS waktu itu yang siap. Pada CSIS itulah bertemu kepentingan politik kelompok
Katolik tertentu, kekuatan politik sekuler, peranakan Tionghoa tertentu, Ali
Murtopo, Sujono Humardani dan Soeharto sebagai konsumen berbagai gagasan dari
lembaga tersebut.
Buku ini menjelaskan secara
gamblang peran besar CSIS waktu itu, dan peran pribadi Jusuf Wanandi
serta Harry Tjan Silalahi. Itu terjadi pada periode Soeharto masih “perawan”
dalam dunia politik. Yang sejak awal dipunyai mantan Pangkostrad itu terutama
hanya instink politik yang hebat dan kemampuan taktis yang prima serta
ramalan seorang guru tentang hari depan Soeharto sebagai orang yang akan punya
peran penting dan kuasa besar. Sebagai seorang yang pada dasarnya cerdas,
Soeharto cepat belajar. Menurut cerita banyak orang, kalau pada
tahun-tahun pertama masa berkuasnya dia mencatat ketika para teknokrat
menjelaskan kebijakan yang harus diputuskan, sekian tahun kemudian para
Professor – dikenal sebagai Berkely Mafia —yang mencatat jika Soeharto
menguraikan pikiran dan rencananya. Kalau pada awal masa berkuasanya Soeharto
mendengarkan secara saksama taklimat yang diberikan Jusuf Wanandi dan
Harry Tjan Silalahi, di kemudian hari CSIS dan para pendukungnya (Ali Murtopo
dan L.B. Moerdani) dicampakkan begitu saja oleh Bapak Presiden. Soeharto merasa
sudah tahu semua. Pengalaman hidupnya sejak masa kecil mendidik dirinya tidak
mudah tergantung pada siapa saja. Juga tidak kepada ABRI, yang merupakan
modal kekuasaan utamanya pada awal kekuasaannya. Maka tidak sulit
dimengerti jika CSIS juga dicampakkan akhirnya.
Belajar dari pengalaman tragis
Sukarno yang berkuasa tanpa dukungan solid satu partai (dan karena itu terpaksa
bergantung pada PKI untuk “mengimbangi” Angkatan Darat), Soeharto memerlukan
partai yang akan ditugaskannya menduduki kursi-kursi di parlemen untuk
melegitimasi kekuasaan otoriternya. Karena itu dia menolak gagasan Wanandi dan
teman-temannya yang merencanakan membuat partai yang betul-betul akan
menjalankan peran sebagai penyalur aspirasi masyarakat, sekaligus pendukung
pemerintah. Soeharto memilih Sekretariat bersama (Sekber) Golkar, merombaknya
untuk kemudian mengontrolnya dengan menempatkan para Jenderal yang gampang
dikendalikannya.
Meski tidak terlalu terlihat, sejak
awal dan secara berangsur, Soeharto mempersiapkan Golkar tergantung padanya
sembari secara perlahan menghindarkannya dari ketergantungan kepada ABRI. Hal
ini dengan bagus digambarkan oleh Wanandi. Ujung dari kebijakan Soeharto ini
adalah konflik Presiden dengan ABRI yang merasa makin dijauhkan dari kekuasaan.
Konflik antara Soeharto dengan ABRI mulai terbuka pada masa kepanglimaan
L.B. Moerdani.
Soeharto lawan
Nasution
Menurut Wanandi, ketegangan antara
kedua pembesar tentara itu bersumber pada sikap Nasution yang “tidak
pernah memaafkan Soeharto mengambil jabatan Presiden.” Dengan kata lain,
Wanandi berkesimpulan Nasution berambisi menjadi pangganti Sukarno dan
gagal karena Soeharto. Kesimpulan ini terutama bersumber pada pengamatan
Wanandi terhadap sidang MPRS 1968. MPRS waktu itu dipimpin Jenderal Nasution
sebagai Ketua. Draf GBHN susunan Badan Pekerja MPRS yang dikontrol Nasution bersama
dengan apa yang disebut Wanandi sebagai “golongan kanan,” berusaha mengganjal
Soeharto dengan cara mempersulit hari depan kepresidenannya. Wanandi dan
kelompoknya berhasil menggagalkan rencana Nasution tersebut.
Topik draf dari Badan Pekerja MPRS
tersebut sampai kini secara terbuka belum pernah secara obyektif
dibicarakan. Bahkan dokumen-dokumen draf Badan Pekerja itu kononnya sudah
hampir tidak bisa lagi ditemukan. Sekarang sulit secara obyektif menilai apakah
Nasution masa itu memang menjalankan kebijakan yang akan berakhir pada
terbukanya kesempatan bagi dirinya menjadi Presiden.
Yang diketahui dari cerita buku ini
sejak awal keributan Gestapu, Nasution tidak pernah menunjukkan minat menjadi
Presiden menggantikan Sukarno. Nasution malah mendorong dan mendukung Soeharto
menghadapi Sukarno dan akhirnya menggantikan Presiden pertama R.I. tersebut.
Nasution tahu bahwa dia bukan orang Jawa dan waktu itu hanya orang Jawa yang
bisa menghadapi Sukarno. Seandainya Nasution berambisi menggantikan Sukarno,
dia tidak akan menolak tawaran Pangkostrad Soeharto agar Nasution, perwira
paling senior dalam ABRI waktu itu, memimpin “perlawanan” terhadap Gestapu dan
kemudian Sukarno.
Selain watak Nasution yang terkenal
peragu, Sukarno memang mengarahkan serangannya kepada Nasution yang
dipandangnya “otak” kekuatan anti Komunis di dalam Angkatan Darat. Jadi kalau
Nasution yang tampil kedepan, dan bukan Soeharto, perjuangan melawan Sukarno
akan menjadi lebih sulit.
Sebagai seorang militer senior,
Nasution juga berpendapat, jangan sampai terjadi pergantian komandan pada
saat operasi sedang berjalan. Ketika Nasution muncul di Kostrad dalam keadaan
pincang dan kaki terkilir pada satu Oktober petang, Soeharto sudah memimpin
operasi. Kebijakan pertama Nasution, bantu Soeharto dan tolak
keputusan Sukarno mendudukkan Mayjen TNI Pranoto Rekso Samudro sebagai pejabat
sementara Panglima Angkatan Darat.
Ketegangan awal
Soekarno-Nasution muncul ketika kedua Jenderal berbeda dalam cara menyelesaikan
Gestapu. Nasution berkehendak Sukarno diadili, sementara Soeharto ingin urusan
dengan Sukarno diselesaikan dengan jalan politik dan diplomasi. Di kemudian
hari, ketika Soeharto sudah menjadi Presiden, ketegangan di antara mereka
bersumber pada tafsiran atas konsep keterlibatan politik militer. Tafsiran
Nasution sangat legalistik, sementara Soeharto lebih politis dan opportunistik.
Mengembalikan Papua
ketika Indonesia
berunding dengan Belanda mengenai pengembalian kedaulatan dalam KMB di Den Haag
tahun 1949, keputusan mengenai nasib Irian Barat di tunda dan disepakati akan
dibahas tahun berikutnya. Ada dua partai di Belanda, KVP dan
Christelijk-Historische Unie (CHU), yang menekankan pemerintahnya untuk
mempertahankan kedaulatan Belanda untuk kepentingan dakwah kristen di kalangan
penduduk Irian Barat.
Perundingan
mengenai status irian barat akan dilaksanakan dalam 12 bulan berikutnya setelah
pengambilan kedaulatan dari Hindia Belanda kepada Indonesia, dan harus selesai
pada akhir 1950. Namun Belanda tidak pernah ikhlas dalam perundingan tersebut,
setelah 12 bulan tidak pernah ada kesepakatan.
Pada 19 Desember 1961 Soekarno
mencanangkan Tri Komando Rakyat atau Trikora, mengerahkan seluruh kekuatan
Negara untuk merebut kembali Irian Barat dengan cara apapun. Trikora
dipercayakan kepada Soeharto yang kala itu menjabat sebagai panglima kostrad.
Komando Trikora segera disusul
dengan pembentukan komando Militel Mandala pada awal 1962 yang juga dipimpin
Soeharto dan berpusat di Makasar. Soeharto memulai persiapan untuk menyerbu
Irian Barat, melibatkan lebih dari 250 kapal dan 100.000 tentara dan
sukarelawan sipil.
Timor Timor :
Penjelasan Tentang Peran Jusuf Wanandi
Jusuf
Wanandi dan kolega dituduh sebagai otak penyerbuan ke Timor Timor dan
menyaksikan penghancuran daerah itu oleh ABRI dengan penuh senang hati. Jusuf,
Harry Tjan, Benny, Moerdane, Ali Moertopo, dan CSIS digambarkan sebagai
kelompok yang merencanakan ini semua. Mungkin ada benarnya, tetapi itu semua
adalah sebagian kecil dari cerita semuanya.
Timor-timor
kala itu ditangani oleh tiga kelompok yang masing-masing mempunyai strategi
yang berbeda. Kelompok CSIS, yang tidak melibatkan Benny Moerdani pada tahap
dini, kalah suara. Kami berharap untuk membentuk Timor-Timor seperti Papua.
Tahun 1969 terjadi pelaksanaan proses integrasi dengan damai melalui Pepera di
Papua. Namun, yang terjadi kemudian Timor Timor menjadi kancah pertempuran kan
konflik, dan kami tidak terlibat.
Sumber dari kesalahpahaman ini
berasal dari kumpulan surat kawat yang ditulis olehkedutaaan besar Australia di
Indonesia sejak awal tahun 1070an. Kumpulan surat kawat itu menyiratkan
gambaran seperti yang di persepsikan oleh masyarakat. Preseden Soeharto yang
merupakan seorang pemimpin dengan tipe yang tidak pernah percaya sepenuhnya
kepada orang-orang disekitarnya. Ia mencari keseimbangan diantara pengaruh para
asisten dan penasehat dekatnya. Sikap ini berlaku juga ketika Soeharto
menghadapi masalah Timor Timor. Masukan masukan CSIS berupa analisis dan
informasi yang mereka peroleh dari sumber-sumber luar negeri termasuk
pembicaraan mereka dengan para diplomat-diplomat dan kajiannya mengenai
penelitian politik di Portugal, terutama yang menyangkut kebijakan di Timor
Timor. CSIS tidaak pernah melakukan gerakan operasi karena memamng tidak
dirancang untuk kegiatan lapangan. Mereka yang berfikir bahwa CSIS juga
melakukan kegiatan operasional adalah prasangka yang salah.
Peran CSIS hanyalah memberikan
saran. Adalah Harry Tjan yang membawa CSIS terlibat untuk memberikan masukan
mengenai Timor-Timor, baik kepada badan intelijen Negara melalui Ali Moertopo,
yang ketika itu menjabat sebagai Deputi Kepala Bakin, atau kadang-kadang
melalui laporan tertulis yang disampaikan langsung kepada presiden Soeharto.
Peran itu adalah yang sesuai Soeharto sepakati ketika CSIS didirikan di tahun
1971.
Usaha pertama CSIS dalam memberikan
pemikiran kepada presiden Soeharto adalah laporan mengenai lawatan Tim
McLennan, pejabat Departemen Luar Negeri Australia, yang telah membawa tim
pencari fakta ke Timor Timor setelah meletusnya Carnation Revolution di
Portugal pada April 1974 ketika militer Portugal mengambil alih kekuasaan dari
dictator berhaluan kanan.
Saat itu pemerintah Australia
menemukan sebuah peluang dan melihat pengaruh CSIS terhadap Presiden Soeharto.
Duta besar Australia untuk Indonesia Bob Furlonger menemui Harry Tjan dan
menyarankan jika ia ingin mengetahui kebijakan Timor-Timor Perdana Menteri
Australia Gough Whitlam, sebaiknya Harry bertemu dengan Peter Welenski. Ia
adalah sekretaris dari Whitlam yang selama ini dianggap sebagai “Henry
Kissinger” dari Australia. Pembicaraan Harry dengan Peter Welenski itu
merupakan pelajaran yang sangat berharga. Welenski menjelaskan pemikirannya
mengenai Timor-Timor bahwa secara logika Timor-Timor seyogyanya menjadi bagian
dari Indonesia. Dengan demikian tidak ada kekosongan yang bisa diisi oleh
kekuatan lain, yang belum tentu bersahabat. Harus dipahami ini adalah
kekhawatiran yang riil pada era Perang Dingin menjelang kemenangan Vietnam
Utara atas Vietnam Selatan. Sementara Uni Soviet dianggap sebagai ancaman yang
paling serius, Indonesia merasa setelah berhasil menangkal ancaman China dengan
menghancurkan Partai Komunis Indonesia, ada kemungkinan Indonesia harus
berhadapan kembali dengan China di Timor-Timor.
CSIS waktu itu dianggap sebagai
bagian dari operasi Komodo yang diluncurkan Ali Moertopo setelah april 1974,
meski sejumlah kegiatan dalam memonitor erkembangan Timor-Timor adalah sudah
dimulai jauh sebelumnya. Kerjasama kami dengan para pejabat intelijen tidak
pernah terjadi secara langsung. Komunikasi CSIS dan intelijen selalu
dikomunikasikan melalui Ali Moertopo meski sesungguhnya kami mengenal mereka
dan kadang-kadang bertemu mereka dalam berbagai pertemuan.
Operasi Komodo diluncurkan ketika
CSIS, Bakin, dan Opsus beranjak dari sekedar mengumpulkan laporan intelijen
hingga akhirnya ikut membangun hubungan dengan partai politik di Timor Timor.
Operasi Komodo diarahkan untuk membantu opini public di Timor Timor agar rakyat
disana lebih mengenal Indonesia.
Yang sebenarnya terjadi, Jusuf
Wanandi dan kolega di CSIS tidak langsung terlibat didalam Operasi Komod,
setidaknya tidak di lapangan. Komodo adalah operasi lapangan yang dijalankan
dari Kupang, Ibu Kota Timor Barat, untuk mengumpulkan data intelijen dan
melakukan propaganda di kalangan rakyat Timor Timor. Tugas Harry Tjan dan
Jususf Wanandi menangani aspek Internasional. Harry menangani Australia dan
Jusuf Wanandi menangani Portugal, dan dalam batas-batas tertentu Jusuf juga
menangani Amerika Serikat.
Sampai bulan September 1974, dapat
dikatakan bahwa semua kegiatan ini berlangsung tanpa banyak pemberitaan.
Presiden Soeharto bahkan tidak banyak menaruh minat. Harry Tjan menjadi
pendukung gagasan penyatuan Timor Timor kedalam wilayah Indonesia, sebuah
pandangan yang tidak banyak didukung oleh pemerintah Indonesia. Pertemuan
antara Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Australia Gough Whitlam di
Wonosobo, Jawa Tengah mengubah semua. Menjelang pertemuan tersebut, Harry Tjan
dan Jusuf memberikan briefing tertulis kepada Soeharto mengenai situasi di Timor
Timor. Pada pertemuan tersebut PM Australia itu mengingatkan kepada Soeharto
mengenai Carnation Revolution di Portugal dan implikasinya terhadap bekas
jajahannya termasuk Timor Timor itu sendiri. Implikasinya sangat jelas,
Indonesia harus menangkal intervensi China atau Vietnam untuik menjadikan Timor
Timor sebagai basis komunis di wilayah Indonesia yang bertetangga dengan
Australia pula.
Setelah mendapat usulan tersebut,
Presiden Soeharto mulai memperhatikan Timor-Timor dan menugasi Ali Moertopo
untuk mengadakan pembicaraan dengan Pemerintah Portugal. Ini adalah awal dari
peran utama yang dimainkan Ali Moertopo dalam upaya memenangkan Timor Timor,
sebelum akhirnya ia disingkirkan karena berbagai peristiwa yang berlangsung
begitu cepat.
Benny Moerdiani
Menurut Wanandi yang amat dekat
dengan Moerdani, perwira komando itu (pangkat terakhir di RPKAD, mayor,
Komandan Bataliyon) pada dasarnya lebih seorang tentara dari
pada politisi. Pada hal pengangkatan dan pekerjaannya sebagai pejabat intel
sangat sarat politik. Tugas Moerdani bukan hanya menjaga keamanan pisik
Soeharto dan keluarganya, tapi terutama kekuasaan dan kontrol Bapak Presiden
atas negara.
Seperti Soemitro sebelumnya,
Moerdani juga kemudian mengembangkan visi politiknya di dalam dan di
sekitar kekuasaan Soeharto. Berada di sekitar Soeharto selama bertahun-tahun,
Benny tiba pada kesimpulan, perkembangan pengelolaan negara dan politik yang
dilakukan Soeharto sudah mencapai tingkat membahayakan negara. Gagasan
Moerdani, kekuasaan harus dikembalikan kepada ABRI yang pada awal Orde Baru
menaikkan Soeharto. Jalan pikiran Moerdani yang demikian tidak berbeda jauh
dengan pendapat Soemitro sebelumnya. Seperti Soemitro, Moerdani juga
disingkirkan Soeharto. Dengan kata lain, Moerdani juga mengulangi nasib tragis
seniornya.
Benny cerdas, membaca banyak,
berani dan punya pengalaman tempur yang nyaris tak tertandingkan di kalangan
TNI. Tapi kelemahannya sama dengan Soemitro, tidak canggih berpolitik.
Moerdani tentara yang mumpuni dan memulai karirnya di Jakarta -- setelah
ditarik dari Korea Selatan -- sebagai loyalis tulen Soeharto. Tapi di kemudian
hari, dia menderita disillusi kepada sang Presiden yang bertahun-tahun
diabdinya sepenuh hati. Seloyal apapun Moerdani, yang lebih penting bagi
Soeharto adalah kekuasaannya. Kepada Wanandi, Ali Murtopo pernah
mengungkapkan, Soeharto tidak pernah percaya seratus persen kepada siapa pun.
Bapak Presiden itu juga , menurut Murtopo yang mengenalnya sejak lama di
Semarang, enggan bergantung kepada hanya satu kelompok. Maka ketika gagasan dan
gerak-gerik Benny sudah terlihat sebagai ancaman di mata Soeharto, dengan
mudah Bapak Presiden mencampakkan sang loyalis, menggantikannya dengan kekuatan
lain. Inilah cerita di balik apa yang umum dikenal kemudian sebagai “de-benny-sasi.”
Tanjung Priok
dan Try Sutrisno dan L.B. Moerdani.
Dalam kasus Tanjung Priok yang
mengakibatkan banyak korban, sebagai Panglima Kodam Jakarta, Try Sutrisno,
menurut Wanandi, adalah yang bersalah dan seharusnya bertanggung jawab. Tapi
Moerdani melindungi Try karena demikianlah kehendak Soeharto. Perintah kepada
Moerdani, karir Try jangan rusak oleh kasus Tanjung Priok. Soeharto
mempersiapkan Try Sutrisno menjadi Pangab. Moerdani sendiri juga mengharapkan
Try Sutrisno menjadi peminpin ABRI karena, menurut Wanandi, Benny punya
rencana mengendalikan Try dari belakang.
D.
Kelebihan
dan Kelemahan Buku
Kelebihan dari Buku MENYIBAK TABIR
ORDEBARU : Memoar Politik Indonesia 1965-1998 yang ditulis oleh Jusuf ini
terdiri dari tujuh bab. Bab I berisi tentang Gestapu, bab II berisi tentang
Supersemar, bab III berisi tentang Orde Baru, bab IV berisi tentang menjangkau dunia dan geleri foto, bab V
berisi tentang Intervensi, bab VI berisi tentang Pesona Non Grata, dan bab VII
berisi tentang Kejatuhan Soeharto. Dalam buku ini menjadi menarik karena
penulisnya, Jusuf Wanandi, terlibat langsung dalam bagian-bagian penting
politik dan perpolitikan masa itu. Ini adalah sebuah memoar politik
penulis yang juga sejarah politik Indonesia sekitar setengah abad
terakhir.
Ini juga sebuah buku tentang CSIS
(Centre for Strategic and International Studies), riwayatnya, perannya
yang amat penting pengaruhnya dalam mendukung dan bahkan sering kali malah
menentukan arah kekuasaan Soeharto pada awal dan bagian terpenting masa berkuasanya.
Juga tentang ketegangan CSIS dengan kelompok kritis terhadap Orde Baru. CSIS
adalah lembaga think tank pertama di Indonesia dalam sejarah intelektual serta
sejarah politik negeri ini. Tapi dari penuturan Jusuf Wanandi, CSIS juga
sebuah lembaga yang berperan sebagai lembaga lobby politik yang untuk
waktu cukup lama berfungsi amat efektif.
Buku ini juga mengungkap
sejarah politik Soeharto yang dengan instink politik dan ketrampilan yang
canggih bukan saja bisa menyingkarkan Presiden pertama Republik Indonesia
dengan cara yang amat canggih, tapi juga bisa berkuasa selama 32 tahun dan
dengan saksama menyingkiran semua musuh-musuh politiknya. Patut dicatat,
Soeharto adalah manusia terlama yang berkuasa di atas bumi
Indonesia sejak wilayah ini diciptakan. Buku ini menjadi sangat penting. Salah
satu yang membuat buku ini menjadi amat penting adalah terungkapnya sejumlah
hal, yang sebelum diterbitkannya buku ini masih menjadi pertanyaan-pertanyaan
para peneliti yang belum terungkapkan. Jadi buku ini merupakan salah satu
buktin sejarah dengan sudut pandang Jusuf Wanandi sebagai penulis sekaligus
orang yang terlibat langsung dalam bagian-bagian penting politik dan
perpolitikan masa itu
Sedang Kelemahan dari buku ini
adalah belum di uraikannya secara gambling menyangkut CSIS. Pertanyaan yang
awal adalah siapa yang paling berkepentingan memanfaatkan CSIS? Ali Mutopo yang
punya ambisi kekuasaan dan memerlukan tanki pemikir? Kelompok-kelompok
cendekiawan Katolik yang lebih memilih hijau tentara karena takut pada hijau
Islam? Kelompok pebisnis Tionghoa perantauan yang memerlukan perlindungan
kekuasaan? Seharusnya beberapa hal atau pertanyaan tersebut lebih diuraikan
secara mendalam, sehingga pembaca ataupun peneliti yang menggali buku ini
menjadi lebih tau tentang hal-hal yang dipertanyakan diatas.
E.
Kesimpulan
Penting untuk diketahui, Jenderal
Soemitro menyebut Ali Murtopo (sebagai pemimpin Opsus) sebagai tokoh yang
mendirikan CSIS untuk kepentingan operasi politiknya. Menyangkut kepercayaan
Wanandi,”Nasution tidak pernah memaafklan Soeharto karena mengambil jabatan
Presiden,” perlu penelitian terhadap proses sidang MPRS 1968 serta
dokumen-dokumen Badan Pekerja MPRS yang kabarnya sekarang sudah sulit
ditemukan. Penelitian tersebut jangan sampai dipisahkan dari perkembangan
hubungan Soeharto-Nasution sejak satu Oktober sore di Kostrad hingga naiknya
mantan Pangkostrad itu menjadi Presiden kedua R.I.
Rapat para Jenderal pada tahun 1978
yang menunjukkan sikap kritis kepada kebijakan Soeharto. Momentum ini membuka
kesempatan kepada Menteri Perindustrian, Jenderal Muhammad Jusuf,
mempertontonkan kesetiaan dan pembelaannya kepada Presiden Soeharto.
Beberapa waktu kemudian Jusuf menjadi Panglima ABRI


No comments:
Post a Comment