![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: IRNAWATI
|
|
|
NIM
|
: 3101412088
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas
Buku
Judul : Serangan Umum 1 Maret
1949 Dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Penulis : Batara R Hutagalung
Penerbit : LKIS
Tahun
terbit : 2010
Kategori : Sejarah
Indonesia
B.
Sinopsis Buku
Serangan Umum 1 Maret 1949
Dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Serangan
Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan
pada tanggal 1
Maret 1949
terhadap kota Yogyakarta
secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi
militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk
pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Divisi
III, Kol. Bambang
Sugeng, untuk membuktikan kepada dunia
internasional bahwa TNI - berarti juga Republik Indonesia - masih ada dan cukup
kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam
perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama
untuk mematahkan moral pasukan
Belanda
serta membuktikan pada dunia internasional
bahwa Tentara Nasional Indonesia
(TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto
pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III
turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.
Kurang lebih satu bulan setelah Agresi Militer Belanda II
yang dilancarkan pada bulan Desember
1948,
TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap tentara
Belanda yang dimulai dengan memutuskan telepon,
merusak jalan kereta
api, menyerang konvoi
Belanda, serta tindakan sabotase lainnya.
Belanda terpaksa memperbanyak
pos-pos disepanjang jalan-jalan besar yang menghubungkan kota-kota yang telah
diduduki. Hal ini berarti kekuatan pasukan Belanda tersebar pada pos-pos kecil
diseluruh daerah republik
yang kini merupakan medan gerilya.
Dalam keadaaan pasukan Belanda yang sudah terpencar-pencar, mulailah TNI
melakukan serangan terhadap Belanda.
Sekitar awal Februari
1948
di perbatasan Jawa Timur, Letkol. dr. Wiliater
Hutagalung - yang sejak September
1948
diangkat menjadi Perwira Teritorial dan ditugaskan untuk membentuk jaringan
pesiapan gerilya di wilayah Divisi II dan III - bertemu dengan Panglima Besar Sudirman
guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB
dan penolakan Belanda
terhadap resolusi tersebut dan melancarkan propaganda yang menyatakan bahwa
Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Melalui Radio
Rimba Raya, Panglima Besar Sudirman
juga telah mendengar berita tersebut. Panglima Besar Sudirman
menginstruksikan untuk memikirkan langkah-langkah yang harus diambil guna
memutarbalikkan propaganda Belanda.
Hutagalung yang membentuk jaringan
di wilayah Divisi II dan III, dapat selalu berhubungan dengan Panglima Besar Sudirman,
dan menjadi penghubung antara Panglima Besar Sudirman
dengan Panglima Divisi II, Kolonel Gatot
Subroto dan Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng.
Selain itu, sebagai dokter spesialis paru, setiap ada kesempatan, ia juga ikut
merawat Panglima Besar Sudirman
yang saat itu menderita penyakit paru-paru. Setelah turun gunung pada bulan
September dan Oktober 1949, Hutagalung dan keluarganya tinggal di Paviliun
rumah Panglima Besar Sudirman
di (dahulu) Jl. Widoro No. 10, Yogyakarta.
Pemikiran yang dikembangkan oleh Hutagalung
adalah, perlunya meyakinkan dunia internasional terutama Amerika Serikat dan
Inggris, bahwa Negara Republik Indonesia masih kuat, ada pemerintahan
(Pemerintah Darurat Republik Indonesia – PDRI),
ada organisasi TNI
dan ada tentaranya. Untuk membuktikan hal ini, maka untuk menembus isolasi,
harus diadakan serangan spektakuler, yang tidak bisa disembunyikan oleh
Belanda, dan harus diketahui oleh UNCI
(United Nations Commission for Indonesia) dan wartawan-wartawan asing untuk
disebarluaskan ke seluruh dunia. Untuk menyampaikan kepada UNCI dan para
wartawan asing bahwa Negara Republik Indonesia masih ada, diperlukan
pemuda-pemuda berseragam Tentara Nasional Indonesia, yang dapat berbahasa Inggris,
Belanda,
atau Perancis.
Panglima Besar Sudirman
menyetujui gagasan tersebut dan menginstruksikan Hutagalung agar
mengkoordinasikan pelaksanaan gagasan tersebut dengan Panglima Divisi II dan
III.
Letkol. dr. Hutagalung masih
tinggal beberapa hari guna membantu merawat Panglima Besar Sudirman,
sebelum kembali ke markasnya di Gunung
Sumbing. Sesuai tugas yang diberikan oleh
Panglima Besar Sudirman,
dalam rapat Pimpinan Tertinggi Militer dan Sipil di wilayah Gubernur Militer
III, yang dilaksanakan pada tanggal 18
Februari 1949
di markas yang terletak di lereng Gunung Sumbing. Selain Gubernur
Militer/Panglima Divisi III Kol. Bambang
Sugeng dan Letkol Wiliater Hutagalung,
juga hadir Komandan Wehrkreis II, Letkol. Sarbini
Martodiharjo, dan pucuk pimpinan
pemerintahan sipil, yaitu Gubernur Sipil, Mr. K.R.M.T.
Wongsonegoro, Residen Banyumas
R. Budiono,
Residen Kedu
Salamun,
Bupati Banjarnegara
R.
A. Sumitro Kolopaking, dan Bupati Sangidi.
Setelah
dilakukan pembahasan yang mendalam, grand
design yang diajukan oleh Hutagalung
disetujui, dan khusus mengenai "serangan spektakuler" terhadap satu
kota besar, Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng
bersikukuh, bahwa yang harus diserang secara spektakuler adalah Yogyakarta.
Selain
itu sejak dikeluarkan Perintah Siasat
tertanggal 1 Januari
1949
dari Panglima Divisi III/Gubernur Militer III, untuk selalu mengadakan serangan
terhadap tentara Belanda,
telah dilancarkan beberapa serangan umum di wilayah Divisi III/GM III. Seluruh
Divisi III dapat dikatakan telah terlatih
dalam menyerang pertahanan tentara Belanda.
Selain
itu, sejak dimulainya perang gerilya, pimpinan pemerintah sipil dari mulai
Gubernur Wongsonegoro
serta para Residen dan Bupati, selalu diikutsertakan dalam rapat dan
pengambilan keputusan yang penting dan kerjasama selama ini sangat baik. Oleh
karena itu, dapat dipastikan dukungan terutama untuk logistik dari seluruh
rakyat.
Selanjutnya
dibahas, pihak-pihak mana serta siapa saja yang perlu dilibatkan. Untuk skenario
seperti disebut di atas, akan dicari beberapa pemuda berbadan tinggi dan tegap,
yang lancar berbahasa Belanda,
Inggris
atau Prancis
dan akan dilengkapi dengan seragam perwira TNI dari mulai sepatu sampai topi.
Mereka sudah harus siap di dalam kota, dan pada waktu penyerangan telah
dimulai, mereka harus masuk ke Hotel Merdeka guna menunjukkan diri kepada anggota-anggota UNCI
serta wartawan-wartawan asing yang berada di hotel tersebut. Kolonel Wiyono,
Pejabat Kepala Bagian PEPOLIT Kementerian Pertahanan yang juga berada di Gunung Sumbing
akan ditugaskan mencari pemuda-pemuda yang sesuai dengan kriteria yang telah
ditentukan, terutama yang fasih berbahasa Belanda
dan Inggris.
Hal
penting yang kedua adalah, dunia internasional harus mengetahui adanya Serangan
Tentara Nasional Indonesia
terhadap tentara Belanda,
terutama terhadap Yogyakarta,
Ibukota Republik.
Dalam menyebarluaskan berita ini ke dunia internasional maka dibantu oleh Kol. T.B. Simatupang
yang bermarkas di Pedukuhan Banaran,
desa Banjarsari, untuk menghubungi
pemancar radio Angkatan Udara RI (AURI)
di Playen,
dekat Wonosari,
agar setelah serangan dilancarkan berita mengenai penyerangan besar-besaran
oleh TNI atas Yogyakarta
segera disiarkan.
Dalam
kapasitasnya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, TB Simatupang lebih
kompeten menyampaikan hal ini kepada pihak AURI daripada perwira Angkatan
Darat. Diperkirakan apabila Belanda
melihat bahwa Yogyakarta
diserang secara besar-besaran, dipastikan mereka akan mendatangkan bantuan dari
kota-kota lain di Jawa Tengah, dimana terdapat pasukan Belanda
yang kuat seperti Magelang,
Semarang
dan Solo.
Jarak tempuh (waktu itu) Magelang
- Yogya
hanya sekitar 3 - 4 jam saja; Solo
- Yogya,
sekitar 4 - 5 jam, dan Semarang
- Yogya,
sekitar 6 - 7 jam. Magelang
dan Semarang
(bagian Barat) berada di wilayah kewenangan Divisi III GM III, namun Solo,
di bawah wewenang Panglima Divisi II/GM II Kolonel Gatot Subroto.
Oleh karena itu, serangan di wilayah Divisi II dan III harus dikoordinasikan
dengan baik sehingga dapat dilakukan operasi militer bersama dalam kurun waktu
yang ditentukan, sehingga bantuan Belanda
dari Solo
dapat dihambat, atau paling tidak dapat diperlambat.
Pimpinan
pemerintahan sipil, Gubernur Wongsonegoro,
Residen Budiono,
Residen Salamun,
Bupati Sangidi
dan Bupati Sumitro Kolopaking
ditugaskan untuk mengkoordinasi persiapan dan pasokan perbekalan di wilayah
masing-masing. Pada waktu bergerilya, para pejuang sering harus selalu pindah
tempat, sehingga sangat tergantung dari bantuan rakyat dalam penyediaan
perbekalan. Selama perang gerilya, bahkan Camat, Lurah serta Kepala Desa sangat
berperan dalam menyiapkan dan memasok perbekalan (makanan dan minuman) bagi
para gerilyawan. Ini semua telah diatur dan ditetapkan oleh pemerintah militer
setempat.
Untuk
pertolongan dan perawatan medis, diserahkan kepada PMI.
Peran PMI
sendiri juga telah dipersiapkan sejak menyusun konsep Perintah Siasat Panglima
Besar. Dalam konsep Pertahanan Rakyat
Total - sebagai pelengkap Perintah
Siasat No. 1 - yang dikeluarkan oleh Staf Operatif (Stop) tanggal 3 Juni
1948,
butir 8 menyebutkan: Kesehatan terutama tergantung kepada Kesehatan Rakyat dan
P.M.I. karena itu evakuasi para dokter dan rumah obat
mesti menjadi perhatian.
Walaupun
dengan risiko besar, Sutarjo Kartohadikusumo,
Ketua DPA
yang juga adalah Ketua PMI
(Palang Merah Indonesia), mengatur pengiriman obat-obatan bagi gerilyawan di
front. Beberapa dokter dan staf PMI kemudian banyak yang ditangkap oleh Belanda
dan ada juga yang mati tertembak sewaktu bertugas. Setelah rapat selesai,
Komandan Wehrkreise II dan para
pejabat sipil pulang ke tempat masing-masing guna mempersiapkan segala sesuatu,
sesuai dengan tugas masing-masing. Kurir segera dikirim untuk menyampaikan
keputusan rapat di Gunung Sumbing
pada 18 Februari 1949
kepada Panglima Besar Sudirman
dan Komandan Divisi II/Gubernur Militer II Kolonel Gatot Subroto.
Sebagaimana
telah digariskan dalam pedoman pengiriman berita dan pemberian perintah,
perintah yang sangat penting dan rahasia, harus disampaikan langsung oleh
atasan kepada komandan pasukan yang bersangkutan. Maka rencana penyerangan atas
Yogyakarta yang ada di wilayah Wehrkreise I
di bawah pimpinan Letkol. Suharto,
akan disampaikan langsung oleh Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng.
Kurir segera dikirim kepada Komandan Wehrkreise III/Brigade 10, Letkol. Suharto,
untuk memberitahu kedatangan Panglima Divisi III serta mempersiapkan pertemuan.
Diputuskan untuk segera berangkat sore itu juga guna menyampaikan grand design kepada pihak-pihak yang
terkait. Ikut dalam rombongan Panglima Divisi selain Letkol. dr. Hutagalung,
antara lain juga dr. Kusen
(dokter pribadi Bambang Sugeng),
Bambang Surono
(adik Bambang Sugeng),
seorang mantri kesehatan, seorang sopir dari dr. Kusen,
Letnan Amron Tanjung
(ajudan Letkol Hutagalung) dan beberapa anggota staf Gubernur Militer (GM)
serta pengawal.
Pertama-tama
rombongan singgah di tempat Kol. Wiyono
dari PEPOLIT, yang bermarkas tidak jauh dari markas Panglima Divisi, dan
memberikan tugas untuk mencari pemuda berbadan tinggi dan tegap serta fasih
berbahasa Belanda,
Inggris
atau Prancis
yang akan diberi pakaian perwira TNI. Menjelang sore hari, Panglima Divisi
beserta rombongan tiba di Pedukuhan Banaran
mengunjungi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kol. Simatupang. Selain anggota
rombongan Bambang Sugeng,
dalam pertemuan tersebut hadir juga Mr. M. Ali Budiarjo,
yang kemudian menjadi ipar Simatupang.
Simatupang
pada saat itu dimohonkan untuk mengkoordinasi pemberitaan ke luar negeri melaui
pemancar radio AURI di Playen
dan di Wiladek,
yang ditangani oleh Koordinator Pemerintah Pusat.Setelah Simatupang menyetujui
rencana grand design tersebut, Panglima Divisi segera mengeluarkan instruksi
rahasia yang ditujukan kepada Komandan Wehrkreise I
Kolonel Bachrun,
yang akan disampaikan sendiri oleh Kol. Sarbini.
Brigade
IX di bawah komando Letkol Achmad Yani,
diperintahkan melakukan penghadangan terhadap bantuan Belanda dari Magelang
ke Yogyakarta. Tanggal 19 Februari 1949.
Panglima Divisi dan rombongan meneruskan perjalanan, yang selalu dilakukan pada
malam hari dan beristirahat pada siang hari, untuk menghindari patroli Belanda.
Penunjuk jalan juga selalu berganti di setiap desa. Dari Banaran rombongan
menuju wilayah Wehrkreise III
melalui pegunungan Menoreh
untuk menyampaikan perintah kepada Komandan Wehrkreis III
Letkol. Suharto.
Bambang Sugeng
beserta rombongan mampir di Pengasih,
tempat kediaman mertua Bambang Sugeng
dan masih sempat berenang di telaga yang ada di dekat Pengasih
(Keterangan dari Bambang Purnomo,
adik kandung alm. Bambang Sugeng,
yang kini tinggal di Temanggung).
Pertemuan dengan Letkol. Suharto
berlangsung di Brosot,
dekat Wates.
Semula pertemuan akan dilakukan di dalam satu gedung sekolah, namun karena
kuatir telah dibocorkan, maka pertemuan dilakukan di dalam sebuah gubug di
tengah sawah. Hadir dalam pertemuan tersebut lima orang, yaitu Panglima Divisi
III/Gubernur Militer III Kol. Bambang Sugeng,
Perwira Teritorial Letkol. dr. Wiliater Hutagalung
beserta ajudan Letnan Amron Tanjung,
Komandan Wehrkreise III/Brigade X
Letkol. Suharto
beserta ajudan. Kepada Suharto
diberikan perintah untuk mengadakan penyerangan antara tanggal 25 Februari dan 1 Maret
1949.
Kepastian tanggal baru dapat ditentukan kemudian, setelah koordinasi serta
kesiapan semua pihak terkait, antara lain dengan Kol. Wiyono
dari Pepolit Kementerian Pertahanan.
Setelah
semua persiapan matang, baru kemudian diputuskan (keputusan diambil tanggal 24
atau 25 Februari), bahwa serangan tersebut akan dilancarkan tanggal 1 Maret
1949,
pukul 06.00 pagi. Instruksi segera diteruskan ke semua pihak yang terkait.
Puncak
serangan dilakukan dengan serangan umum terhadap kota Yogyakarta
(ibu kota negara) pada tanggal 1 Maret
1949,
dibawah pimpinan Letnan Kolonel Suharto,
Komandan Brigade 10
daerah Wehrkreise III,
setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX,
Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta.
Instruksi
Rahasia tertanggal 18 Februari 1949, cocok dengan catatan harian Simatupang
tertanggal 18 Februari 1949 yang dimuat dalam buku Laporan dari Banaran,
di mana tertera: Kolonel Bambang
Sugeng, yang sedang mengunjungi daerah Yogyakarta
(dia adalah Gubernur Militer daerah Yogyakarta
- Kedu
- Banyumas
- Pekalongan
- sebagian dari Semarang)
datang dan bermalam di Banaran.
Juga apabila mencocokkannya dengan tulisan Budiarjo
terbukti, bahwa Simatupang
banyak terlibat dalam persiapan serangan tersebut. Hal ini dapat dilihat, bahwa
Simatupang
telah mempersiapkan teks dalam bahasa Inggris
tanggal 28 Februari, sehari sebelum serangan terjadi dan meminta teks tersebut
disiarkan oleh pemancar AURI
Playen,
setelah serangan dilaksanakan tanggal 1 Maret 1949. Juga dari catatan Simatupang
dapat dilihat, bahwa di Wiladek
mereka juga telah "dipersiapkan" untuk menyiarkan berita mengenai
serangan atas Yogyakarta.
Tidak tertutup kemungkinan, bahwa Simatupang
juga memberikan teks yang akan dibacakan seperti halnya di Playen,
karena dalam catatan hariannya, Simatupang
sendiri tidak menyebutkan nama Budiarjo
ketika dia menyampaikan teks yang akan dibacakan di Playen.
Di sini terlihat jelas, bahwa "Serangan Spektakuler" tersebut adalah
suatu skenario -rekayasa- untuk konsumsi dunia internasional.Catatan harian
tersebut, yang tertulis dalam buku Laporan dari Banaran,
sekaligus juga menunjukkan keterlibatan besar dari Simatupang,
yang dalam hirarki militer beberapa tingkat di atas Suharto. Buku Laporan dari
Banaran diterbitkan pertama kali tahun 1960, ketika Suharto
belum menjadi Presiden, dan episode perjuangan tersebut belum diekspos menjadi
mercu suar, dan sejarah tidak ditulis untuk kepentingan penguasa.
Perencanaan
serangan tersebut sangat dirahasiakan, sehingga selain pucuk pimpinan tertinggi
militer dan sipil, pada waktu itu hampir tidak ada anggota staf di jajaran
bawah, yang mengetahui mengenai rencana tersebut, bahkan staf Gubernur Militer
sekalipun. Seorang pelaku sejarah menyampaikan, bahwa dia sebagai anggota staf
GM III yang berada di lereng gunung
Sumbing, baru mengetahui mengenai serangan
tersebut setelah serangan dilancarkan. Begitu juga dengan para pelaksana di
lapangan, tidak mengetahui mengenai perencanaan serta Grand Design serangan
umum, sebagaimana diungkapkan oleh seorang pelaku di lapangan, Kol. (Purn.) A. Latief
(waktu itu komandan kompi, berpangkat Kapten).
Jadi
sangat jelas, bahwa setiap komandan hanya mengetahui sebatas tugas yang
diberikan kepadanya dan mempunyai wewenang hanya atas pasukannya. Pernyataan Suharto,
seperti disampaikan dalam otobiografinya, selain tidak logis dan tampak hanya
mengarang cerita belaka, dapat dibantah berdasarkan bukti yang ada.
Kelebihan buku
Buku
ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya, ditulis dengan gaya bahasa
sederhana sehingga mudah dipahami. Pemaparan fakta sejarahnya didukung oleh
sumber lisan dan tulisan yang memadai. Uraiannya telah membuktikan bahwa
peristiwa sejarah terjadi karena serangkaian sebab dan akibat. Perlu dibaca
oleh para guru sejarah untuk tambahan wawasan dalam menjelaskan peristiwa demi
peristiwa kepada siswa agar sebagai generasi muda, mereka benar-benar belajar
dari sejarah bangsanya yang didasarkan pada kebenaran-kebenaran, dan bukan
kepada pembenaran." (Dra. Ratna Hapsari, M.Si., Guru Sejarah, Ketua Umum
Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Dahsyat dan mengharukan, buku ini mampu
menggugah kesadaran kolektif kita dan bahkan memompa spirit nasionalisme kita
untuk selalu sadar jangan sampai sudah 'merdeka', tetapi tidak berdaya dan
terpasung oleh mental inlander yang selalu minder dengan segelintir
bangsa-bangsa asing yang masih bermental penjajah dan serakah. Salut dan bangga
atas prestasi penulis yang mampu merekam dan memberi makna atas jejak rekam
perjalanan bangsa Indonesia menggapai cita-cita Proklamasi 17.8.1945.
Kekurangan buku
mengandung sangat banyak kontroversi. Di satu sisi, buku tersebut
dilengkapi dengan berbagai dokumen otentik yang sangat penting, namun di sisi
lain, kesimpulan yang diambil hanya mengarah kepada yang telah digariskan oleh
penguasa waktu itu, yaitu: Pemrakarsa dan Komandan Operasi Serangan Umum adalah
Suharto. Banyak dokumen dilampirkan dalam buku tersebut, termasuk yang
dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/Gubernur Militer III
Kolonel Bambang Sugeng, yaitu Perintah Siasat tertanggal 1
Januari 1949, dan yang terpenting adalah Instruksi Rahasia tertanggal 18
Februari 1949, di mana jelas tertera Instruksi kepada Komandan Daerah III
Letkol Suharto
dan Komandan Daerah I Letkol. M. Bachrun. Di samping kedua
surat tersebut, Perintah Siasat yang dikeluarkan tanggal 15 Maret 1949
menunjukkan, bahwa Bambang Sugeng tetap memegang kendali operasi dan selalu
melibatkan seluruh potensi yang ada di bawah komandonya. Selain itu, juga
terdapat kalimat yang memberi gambaran, bahwa serangan terhadap Yogyakarta
tersebut adalah bagian dari operasi Gubernur Militer III,
yang juga melibatkan pasukan di bawah komando Gubernur Militer II.
Koordinasi pada tingkat Gubernur Militer, jelas tidak mungkin dilakukan oleh
seorang komandan Brigade: Serangan yang akan dilaksanakan oleh Wehrkreis III sesungguhnya
merupakan operasi sentral dari seluruh operasi yang dilaksanakan oleh GM III
Kolonel Bambang Sugeng. Pasukan tetangga yang pada saat itu
sedang melaksanakan operasi untuk mengimbangi serangan Wehrkreis III ialah pasukan
GM II yang melaksanakan operasi di daerah Surakarta dan
Wehrkreis II Divisi III yang melaksanakan
operasi di daerah Kedu/Magelang.


No comments:
Post a Comment