![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: IMA FITRIASYA
|
|
|
NIM
|
: 3101412090
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas Buku
Judul : Soekarno dan Cina
Penulis : Nurani Soyomukti
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit :
Ar-Ruzz Media
Kota Terbit :
Sleman,Yogyakarta
Tahun Terbit :
Cetakan Pertama,2012
Tebal Buku :
330 hlm. ; 20 cm.
Resensator :
Ima Fitriasya
B.
Isi
Buku
SOEKARNO DAN CINA
Secara garis besar, buku ini menguak peran etnis Tionghoa dalam sejarah
perjuangan bangsa. Sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gerakan pemuda Tionghoa
aktif terlibat. Waktu itu, rumah milik Sie Kok Liong dijadikan tempat kongres
pemuda. Ada empat pemuda keturunan Tionghoa lainnya selain Sie Kok Liong, yakni
Kwee Thiam Hong, anggota Jong Sumatera. Ia aktif dalam pergerakan, sehingga
namanya cukup dikenal di kalangan pejuang. Saat Sumpah Pemuda, ia mengajak tiga
rekannya, Ong Kay Sing, Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. Kini rumah itu
menjadi Museum Sumpah Pemuda, tapi perannya kurang dihargai pemerintah.
Dalam pertempuran Surabaya, pemuda Tionghoa juga mengambil peran cukup
besar. Gam Hiann Tjong dan Auwyang Tjoe Tek tergabung di Barisan Pemberontak
Rakyat Indonesia (BPRI), di bawah pimpinan Bung Tomo. The Djoe Eng, pemain
sepak bola terkenal masa itu, tergabung di Laskar Merah dan sebagian besar
pemuda Tionghoa terlibat dalam Kebangkitan Rakyat Indonesia (KRIS).
Pada masa peralihan kekuasaan Jepang kepada Republik Indonesia, angkatan
muda Tionghoa ikut membantu. Sebagai bentuk nasionalisme Indonesia, orang
Tionghoa mendirikan partai politik, yakni Partai Tiongkok Indonesia (PTI).
Kebetulan partai ini memiliki visi sama dengan PNI yang didirikan Soekarno.
Ketika Amir Sjarifoeddin membentuk kabinetnya, Siauw Giok Tjhan menjabat
sebagai Menteri Negara yang mewakili etnis Tionghoa dan Dr. Ong Eng Die dari
PNI sebagai Wakil Menteri Keuangan. Tokoh nasionalis Tionghoa di Indonesia
berjuang tanpa pamrih, meskipun sering dibedakan. Misalnya Siauw Giok Tjhan
yang tidak mendapat fasilitas perumahan pemerintah.
Soekarno dan tokoh-tokoh nasionalis lainnya selalu menyebut pengaruh
nasionalisme Tiongkok ikut andil dalam mengusir penjajah. Bahkan Soekarno
menyatakan bahwa Pancasila yang dijadikan sebagai dasar negara dipengaruhi
pemikiran Dr. Sun Yat Sen. Hal itu terungkap dalam pidato yang kemudian dikenal
sebagai "Pidato Kelahiran Pancasila''. Pembelaan Bung Karno terhadap etnis
Tionghoa terlihat dalam kongres VIII Baperki, 14 Maret 1963.
A.
Nasionalisme
Tionghoa dalam revolusi Indonesi
Pemerintahan Nasionalis di Tiongkok
(Tionghoa:
中华民国国民政府,
Hanyu Pinyin:
Zhonghua Minguo Guomin Zhèngfǔ) adalah penguasa otoritas pemerintah Tiongkok
antara tahun 1927-1948 yang dipimpin oleh Kuomintang
(Partai Nasionalis Tiongkok), sampai Pemerintah
Republik Tiongkok yang baru diundangkan dari Konstitusi
Republik Tiongkok.
Setelah pecahnya Revolusi Xinhai pada tanggal 10 Oktober
1911, pemimpin revolusi Sun Yat-sen terpilih menjadi Presiden Sementara dan mendirikan Pemerintahan
Sementara Republik Tiongkok. Untuk melestarikan persatuan nasional, Sun menyerahkan kursi kepresidenan
kepada orang yang memiliki kekuatan militer (Yuan Shikai), yang mendirikan Pemerintah Beiyang. Setelah usaha gagal untuk
menjadikan dirinya sebagai Kaisar Tiongkok, Yuan meninggal tahun 1916,
meninggalkan kekosongan kekuasaan yang mengakibatkan Tiongkok dibagi menjadi
beberapa kelompok panglima perang dan pemerintah saingan. Mereka bersatu pada
tahun 1928 oleh
pemerintah berbasis di Nanjing yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek. Setelah Ekspedisi
Utara,
pemerintahan menjadi bersistem satu-partai di bawah Kuomintang, dan kemudian
pengakuan internasional sebagai pemerintah "iongkok"Sejarah Republik Tiongkok didirikan pada tahun 1912 setelah Revolusi Xinhai, menggantikan pemerintahan monarki Dinasti Qing. Otoritas pusat mengalami pasang surut dalam menanggapi warlordisme (1915-28), perang saudara Tiongkok (1927-49) dan Invasi Jepang (1937-45), dengan otoritas sentral
memiliki peranan kuat di masa Dekade
Nanjing (1927-37).
Pada masa ini Tiongkok dibawah pemerintahan Kuomintang dengan sistem partai tunggal, negara otoriter. Setelah akhir PD II, Jepang menyerahkan kontrol atas Taiwan dan pulau di sekitarnya kepada Sekutu, dan Republik Tiongkok mengelolanya.
Legitimasi transfer ini masih diperdebatkan dan aspek lain dari status politik
yang disengketakan dari Taiwan.Setelah Perang Dunia II, perang saudara antara
Kuomintang yang berkuasa dan Partai Komunis Tiongkok berlanjut, meskipun sudah ada upaya
mediasi oleh Amerika Serikat. Pemerintah Nasionalis mulai merancang Konstitusi Republik Tiongkok di bawah Majelis Nasional, namun diboikot oleh kaum
komunis. Dengan berlakunya konstitusi, Pemerintah Nasionalis dihapuskan dan
digantikan oleh Pemerintah Republik Tiongkok. Meskipun demikian, Kuomintang dikalahkan dalam
perang sipil pada tahun 1949 dan memindahkan pemerintahan konstitusionalnya ke
pulau Ta Kantor pusat Pemerintahan
Nasionalis, di Nanjing Pemerintah Nasionalis diatur di bawah aparatur negara
dua-partai di bawah
ideologi Dang Guo, dan secara efektif membuatnya
menjadi negara satu-partai.Pada bulan Februari 1928, Sidang
Paripurna Keempat ke-2 dalam Kongres Nasional Kuomintang yang diadakan di
Nanjing meluluskan Reorganisasi UU Pemerintah Nasionalis. Ditetapkan bahwa
Pemerintah Nasionalis harus diarahkan dan diatur di bawah Komite Eksekutif
Pusat Kuomintang, dengan Komite Pemerintah Nasionalis yang dipilih oleh Komite
Sentral KMT. Di bawah Pemerintah Nasionalis tujuh kementerian - Dalam Negeri,
Luar Negeri, Keuangan, Transportasi, Keadilan, Pertanian dan Pertambangan,
Perdagangan di lembaga-lembaga selain seperti Mahkamah Agung, Kontrol Yuan dan
Akademi Umum. Dengan berlakunya Undang-undang Organik Pemerintah Nasionalis
pada bulan Oktober tahun 1928, pemerintah direorganisasi menjadi lima cabang
berbeda atau Yuan, yaitu Eksekutif Yuan, Legislatif
Yuan, Yudisial Yuan, Pemeriksaan
Yuan serta Kontrol
Yuan. Ketua Pemerintah Nasional menjadi kepala negara dan komandan dari
Tentara Revolusioner Nasional. Chiang Kai-shek diangkat sebagai Ketua pertama
dari Pemerintah Nasionalis, posisinya dipertahankan sampai 1931. Dalam UU
organik juga ditetapkan bahwa Kuomintang melalui Kongres dan Komite Eksekutif
Sentral Nasional, akan menjalankan kekuasaan berdaulat selama periode politik
pengawasan, dan Dewan Politik KMT akan membimbing dan mengamati Pemerintah
Nasionalis dalam pelaksanaan urusan nasional yang penting, dan dewan memiliki
kekuasaan untuk menafsirkan atau mengubah undang-undang organik erakan Nasionalis Rakyat Cina1)
Munculnya nasionalisme di Cina disebabkan oleh hal-hal
sebagai berikut :
-
Pemerintahan Manchu dianggap kolot
dan bobrok dengan berbagai korupsi dan pemborosan.
-
Kekalahan Cina dalam Perang Cina-Jepang I.
-
Lenyapnya kepercayaan rakyat Cina terhadap dinasti Manchu.
-
Munculnya kaum intelektual Cina.
Gerakan nasionalisme di Cina dipimpin oleh Dr. Sun Yat
Sen. Adapun dasar perjuangan yang dikemukakan Dr. Sun Yat Sen adalah San Min
Chu I, yang terdiri sebagai berikut :
-
Republik Cina adalah suatu negara nasional Cina.
-
Pemerintahan Cina disusun atas dasar demokrasi atau kedaulatan berada di
tangan rakyat.
-
Pemerintah Cina mengutamakan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya.
Dr. Sun Yat Sen berhasil menggulingkan pemerintahan
dinasti Manchu dan menjadikan negeri Cina kembali menjadi negara merdeka.
1.
Pergerakan
Nasionalisme Mesir
Kebangkitan nasionalisme Mesir ditandai dengan
pemberontakan Arabi Pasha tahun 1881 - 1882. Pada awalnya gerakan ini anti
asing (Inggris, Prancis, dan Turki), namun akhirnya menjadi gerakan untuk
menuntut perubahan sistem pemerintahan. Sebab-sebab munculnya nasionalisme
Mesir adalah sebagai berikut :
§
Adanya
gerakan Wahabi, semula merupakan gerakan agama yang kemudian membentuk pemerintahan.
§
Adanya
pengaruh revolusi Prancis.
§
Munculnya
kaum intelektual yang berpaham modern.
§
Adanya
gerakan pan-Arab yang menganjurkan persatuan semua bangsa Arab untuk mencapai
kemerdekaan bangsanya.
Bung Karno dan komunis.
Ini adalah topik klasik. Terlebih, penggulingan Bung Karno melalui Tap MPR
XXX/1967 diartikan sebagai keterlibatan Bung Karno, langsung atau tidak
langsung terhadap tragedi G-30-S. Singkat kata, hingga akhir hayatnya,
ada upaya nyata untuk melekatkan stigma komunis kepada Sang Proklamator. Semua
upaya tadi, bahkan menabrak logika ketatanegaraan, menafikan fakta-fakta yang
ada.
Nah, salah satu hal
yang sering dikaitkan sebagai “bukti” Sukarno –setidaknya– pro komunis adalah
penciptaan istilah Poros Jakarta – Peking. Tanpa mengkaji latar belakangnya,
tanpa menelisik asal-usul, tanpa menganalisa pertimbangan ke depan, spontan
saja poros Jakarta – Peking diterjemahkan sebagai upaya menggelindingkan bangsa
ini lebih pro terhadap komunis.Belum lagi pertemuan yang intensif antara Bung
Karno dan Perdana Menteri RRC, Chou Enlai. Pertemuan di Beijing (dulu bernama
Peking), Jakarta, Bali, di Beograd dan di dalam kesempatan lain di luar negeri,
lebih-lebih memperlihatkan betapa “mesra” hubungan Bung Karno dan Chou Enlai.
Bahkan ada yang membaca sebagai “hubungan spesial” Indonesia- Cina.Apa gerangan
yang mengakibatkan Bung Karno begitu dekat dengan Presiden Mao Zedong dan/atau
PM Chou Enlai? Kedekatan ini khususnya sejak tahun 1960-an. Sebeb, periode
sebelum dekat dengan Cina, dunia pun mengetahui kalau Bung Karno dekat dengan
Kruschev, atau bisa dibaca sebagai Indonesia dekat dengan Uni Soviet.Jika kita
telisik sejarah, kedekatan Bung Karno dengan Mao maupun Chou tak lain karena
“proyek” NEFO (New Emergong Forces). Cina sangat mendukung Indonesia (baca=Bung
Karno) memimpin gerakan NEFO. Bahkan waktu itu, Bung Karno sudah merancang
konferensi NEFO (CONEFO) di Jakarta. Jika ini terwujud, lebih separuh belahan
bumi, akan berhimpun.Tak bisa dipungkiri, gerakan itu sangat tidak disukai
Amerika Serikat (dan sekutunya), bahkan juga tidak disukai oleh Uni Soviet.
Amerika dan sekutu kapitalisnya sangat keberatan negara-negara baru ini lepas
dari cengkeraman mereka. Sebaliknya, Uni Soviet yang menempatkan diri sebagai
pusat komunisme internasional (komintern) sangat tidak senang posisi itu
kemudian seperti diambil-alih oleh Cina.
Bung Karno dan Etnis
Tionghoa
Menurut Kwee Kek Beng, Bung Karno pada tahuan 1920-an pernah
berkunjung ke kantor Harian Sin Po dengan maksud meminta bantuan untuk sebuah
majalah yang akan diterbitkannya. Mengapa Bung Karno mengunjungi kantor Harian
Sin Po ? Karena Sin Po sebagai harian yang dikelola para jurnalis peranakan
Tionghoa mempunyai hubungan yang sangat baik dengan para pemimpin
pergerakan Kemerdekaan karena sering memuat tulisan-tulisan para pemimpin
pergerakan tersebut. Sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, harian Sin Po
lah yang memelopori penggunaan nama Indonesia menggantikan Hindia Belanda atau
Hindia Olanda. Demikian juga mingguan Sin Po lah yang pertama memuat teks lagu
Indonesia Raya. (Lihat Kwee Kek Beng “Dua puluh lima Tahun Sebagai Wartawan”,
Malang The Paragon Press, 1948. Hal . 21). Hal ini juga membantah stigma yang
selama ini sering dilekatkan kepada etnis Tionghoa bahwa etnis Tionghoa tidak
ada sumbangannya dalam perjuangan mencapai kemerdekaan.
Setelah proklamasi kemerdekaan dukungan internasional mulai
mengalir antara lain dari pemerintah Repoeblik Tiongkok yang karena pentingnya,
pada tanggal 27 September 1945 Presiden Soekarno secara khusus menyampaikan
“Amanat Presiden Kepada Rakyat Indonesia” yang isinya secara utuh dikutip oleh
mingguan Bok Tok tanggal 15 Desember 1945 sbb :Kita semoea telah mengetahoei,
bahwa menoeroet kabar radio, Pemerintah Repoeblik Tiongkok telah mengakoei hak
Kemerdekaan Indonesia. Pengakoean ini adalah satoe hal yang penting sekali
boeat Negara kita di mata doenia. Pengakoean ini seolah-olah mengoesoelkan dan
mendorong Negara lain di atas doenia ini mengakoei Negara kita poela sebagai
negara jang berhak doedoek bersama-sama dengan Negara-negara lain di atas
Doenia, atas dasar “doedoek sama rendah, tegak sama
tinggi”.Saudara-saudara sekalian, inilah jang kita maksoedkan. Djasanja
Pemerintah Tiongkok dalam hal ini tidaklah boleh kita loepakan dan memang joega
akan tertjatat dalam sejarah perdjoeangan kita.Berhoeboeng dengan pentingnja
perhoeboengan jang baik dan rapat antara Repoeblik Indonesia dan Repoeblik
Tiongkok, jang di dalam beberapa hal memang banjak mempoenjai persamaan, maka
diandjoerkan soepaja seloeroeh Rakjat Indonesia akan beramah-tamah dengan
bangsa Tionghoa, baik di kota maoepoen di desa-desa.Sekali-kali djanganlah
mengadakan perboeatan jang bisa meroesakkan perhoeboengan jang baik antara
Negara kita dengan negara bangsa Tionghoa. Demikian poela kami mengandjoerkan
kepada pendoedoek Tionghoa di Indonesia soepaja meneroeskan perhoeboengan jang
baik dengan bangsa Indonesia itoe.Inilah amanat kami jang haroes didjalankan
dengan seichlas-ichlasnja(Lihat “Etnis Tionghoa di awal Kemerdekaan Indonesia,
sorotan Bok Tok, Pers Melayu-Tionghoa Desember 1945-September 1946”.
Hal.7Ketika perang kemerdekaan terjadi ekses di mana terjadi penjarahan,
pembakaran dan pembunuhan etnis Tionghoa di berbagai tempat di Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara. (Lihat Memorandum Chung Hua Tsung Hui.
“Outlining Acts Of Violence And Inhumanity Perpetrated By Indonesian Bands On
Innocent Chinese Before And After The Dutch Police Action Was Enforced On July
21, 1947” dan Twang Peck Yang “The Chinese Business Elite in Indonesia
and the Transition to Independence 1940-1950 ”, Kuala Lumpur, Oxford University
Press, 1998.)
Hal ini sebagai akibat dibentuknya pasukan eks kriminal yang dimaksudkan
untuk melawan pasukan Belanda. Sebagai contoh di Jawa Timur para narapidana
kriminal dari penjara Kalisosok sengaja dibebaskan untuk direkrut dan
dipersenjatai guna melawan pasukan Nica. Namun dalam prakteknya kesatuan
pasukan yang bernaung di bawah Pasukan Hizbullah pimpinan Moestopo ini
meneruskan perbuatan kriminal (antara lain mencuri, merampok dan membunuh)
mereka dengan menjadikan orang Tionghoa sebagai sasaran baru. Sedangkan di
Sumatera Utara hal yang sama juga terjadi dengan Pasukan Cap Kampak pimpinan
Amat Moyan yang tunduk kepada Markas pengawal Pesindo. (Lihat: Biro Sejarah
Prima, Medan Area Mengisi Proklamasi, Badan Musyawarah Pejuang republik
Indonesia Medan Area, Medan, 1976.)
Demikian juga sikap Bung Tomo, Pemimpin Besar B.P.R.I. (Barisan
Pemberontak Rakjat Indonesia) yang melalui radio melakukan pidato yang
berkobar-kobar untuk membakar semangat para pemuda di Surabaya dan sekitarnya.
Namun sayangnya pidato-pidato Bung Tomo tersebut tidak bebas dari sikap
rasisnya yang anti Tionghoa. Thema-thema anti Tionghoa dalam pidatonya sudah
tentu menumbuhkan sentimen anti Tionghoa di kalangan masyarakat Jawa
Timur.Untuk menanggulanginya, Go Gien Tjwan sebagai juru bicara Angkatan Muda
Tionghoa (AMT) mengucapkan pidato yang menekankan bahwa musuh rakyat Indonesia
bukan etnis Tionghoa melainkan Belanda. Ia juga menyatakan bahwa etnis Tionghoa
juga menjadi korban penjajahan Belanda dan tidak menginginkan kembalinya
penjajahan Belanda. Selanjutnya Siauw Giok Tjhan bersama kawan-kawannya pergi
menemui Bung Tomo agar mengubah sikapnya terhadap etnis Tionghoa, namun Bung
Tomo tidak bisa diyakinkan dan tetap berpendapat bahwa sebagian besar
etnis Tionghoa pro Belanda.Pada akhir bulan Oktober 1945, Siauw Giok Tjhan
memimpin delegasi pemuda Tionghoa untuk bertemu dengan Bung Tomo dan
tokoh-tokoh Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Soemarsono dan Soedisman di
Nangka Jajar, sebuah kota kecil yang terletak antara Surabaya dan Malang. Di
dalam pertemuan tersebut berhasil disepakati bahwa pemuda-pemuda Tionghoa akan
bergabung dengan BPRI dan Pesindo. (Lihat Siauw Giok Tjhan,Perjuangan seorang
Patriot membangun Nasion Indonesia dan Masyarakat Bhineka Tunggal Ika. Hal.
85-86.)
Selanjutnya ketika terjadi pertempuran Surabaya, Wartawan “Merah Putih”
yang terbit di Jakarta menyatakan di Surakarta mengenai kunjungannya ke medan
pertempuran Surabaya antara lain, seorang pemimpin Tionghoa telah berpidato di
depan corong Radio Surabaya tentang kekejaman yang dilakukan tentara Inggris
terhadap rakyat Surabaya. Pidato tersebut ditujukan kepada pemerintah
Chungking dan sebagai jawabnya radio Chungking telah menganjurkan kepada para
pemuda Tionghoa untuk bertempur di samping rakyat Indonesia melawan keganasan
tentara Inggris (Lihat Pramoedya ananta Toer dkk. “Kronik Revolusi
Indonesia” Jilid I. Hal. 157-158.
Akibat pemboman pasukan Inggris, lebih dari seribu orang Tionghoa telah
menjadi korban luka-luka dan meninggal dunia. Akibatnya orang
Tionghoa mengorganisasikan diri ke dalam pasukan bela diri di bawah bendera
Tiongkok. Mereka merebut senjata untuk melawan pasukan Inggris dan berangkat ke
front pertempuran (Lihat “The Chinese Business Elite In Indonesia And The
Transition To Independence 1940-1950”. ) Hal. 156.
Sehubungan dengan pertempuran Surabaya, pada tanggal 12 November 1945,
Bung Karno berpidato antara lain :“Ratusan orang Tionghoa dan Arab yang tidak
bersalah dan suka damai, yang datang di negeri ini untuk berdagang, mati
terbunuh dan luka-luka berat. Kurban di pihak Indonesia lebih besar lagi. Saya
protes keras terhadap pemakaian senjata modern, yang ditujukan kepada penduduk
kota yang tidak sanggup mempertahankan diri untuk melawan.(Lihat Pramoedya
Ananta Toer “ Hoa Kiao di Indonesia.” Hal. 155.)
Pada resepsi pembukaan Kongres Nasional ke- 8 Baperki di Istana Olahraga
Bung Karno (sekarang Istora Senayan), pada tanggal 14 Maret 1963 Presdien
Soekarno mengucapkan pidato yang isinya antara lain :”……. Tujuan dari revolusi
Indonesia adalah nation building, bukan di dalam arti yang sempit, sekedar
membentuk satu nation Indonesia. Tidak lebih dari itu pula, nation Indonesia
yang bahagia, yang hidup di dalam satu masyarakat adil dan makmur tanpa
exploitation de l’homme par l’homme. Nation building dalam arti yang
seluas-luasnya……… Dan saya tidak mau mengenal minoritas di Indonesia. Di
Indonesia kita hanya mengenal suku-suku. Saya tidak akan berkata, suku itu
adalah minoritas, suku itu adalah minoritas, suku Dayak adalah minoritas, suku
Irian Barat adalah minoritas, suku yang di Sumatera Selatan itu - suku Kubu-
adalah minoritas, suku Tionghoa adalah minoritas, tidak ! Tidak ada minoritas,
hanya ada suku-suku, sebab manakala ada minoritas, ada mayoritas. Dan biasanya
kalau ada mayoritas, dia lantas exploitation de la minorite par la majorite,
exploitatie dari minoriteit majoriteit… “Dalam soal asimilasi dan ganti nama
Presiden Soekarno dalam pidato Pembukaan Kongres Nasional k-8 Baperki
menyatakan sebagai berikut :
“…….Ada pendirian-pendirian saya pribadi, ada, itu pribadi, saudara-saudara.
Saya ulangi lagi, pribadi, mengenai soal asimilasi misalnya yang tadi Cak Siauw
berkata, mbok ya jangan diutik-utik soal asimilasi. Ya, saya tidak mau
ngutik-ngutik sebab Cak Siauw, wah itu bisa juga cuma menyimpangkan perhatian
saja. Ya, Bung Siauw, saya tidak akan mengutak-utik. Tetapi perasaan pribadi
saya, saya ini tidak kenal, saudara-saudara akan perbedaan darah itu, tidak.
Nama pun, nama saya sendiri itu, Soekarno, apa itu nama Indonesia asli ?
Tidak ! Itu asalnya Sanskrit saudara-saudara, Soekarna. Nah itu Abdulgani,
Arab, Ya, Cak Roeslan namanya asal Arab, Abdulgani. Nama saya asal Sanskrit,
Soekarna. Pak Ali itu campuran, Alinya Arab, Sastraamidjaja itu Sanskrit,
campuran dia itu.
Nah karena itu, saudara-saudara pun – ini perasaan saya persoonlijk,
persoonlijk, pribadi- what is in a name ? Walau saudara misalnya mau
menjadi orang Indonesia, tidak perlu ganti nama. Mau tetap nama Thiam Nio,
boleh, boleh saja. Saya sendiri juga nama Sanskrit, saudara-saudara, Cak
Roeslan namanya nama Arab, Pak Ali namanya campuran, Arab dan Sanskrit.
Buat apa saya mesti menuntut, orang peranakan Tionghoa yang mau
menjadi anggota negara Republik Indonesia, mau menjadi orang Indonesia, mau
ubah namanya, ini sudah bagus kok…Thiam Nio kok mesti dijadikan Sulastri atau
Sukartini. Yah, tidak ?
Tidak ! Itu urusan prive. Agama pun prive, saya tidak campur-campur.Yang
saya minta yaitu, supaya benar-benar kita menjadi orang Indonesia, benar-benar
kita menjadi warganegara Republik Indonesia……..”
(Lihat “Sumbangsih Siauw Giok Tjhan & Baperki, Dalam Sejarah
Indonesia, Hasta Mitra, Mei 2000, sebuah kompilasi, Editor : Siauw Tiong Djin
dan Oey Hay Djoen, Hal. 29.)Ketika terjadi Peristiwa Rasialis 10 Mei 1963,
Presiden Soekarno baru pada tanggal 19 Mei 1963 mengeluarkan suatu pernyataan
bahwa yang bertanggung jawab atas peristiwa rasialis ini adalah kaum kontra
revolusioner termasuk sisa-sisa pemberontak PRRI/Permesta dan partai-partai
terlarang Masjumi dan PSI. Tujuan dari aksi kekerasan ini adalah untuk
mencemarkan nama baik Indonesia dan dirinya sebagai presiden di dunia
internasional.Namun sampai saat ini yang masih menjadi pertanyaan adalah
sikapnya ketika ia menanda-tangani PP-10, yang bukan saja merusak hubungan baik
dengan RRT tetapi merusak jalur distribusi di pedesaan. Ratusan ribu etnis
Tionghoa terpaksa mengungsi dari pedalaman, memenuhi ibukota kabupaten
dan provinsi. Sebagian lainnya terlunta-lutta di Hongkong, Macao dsbnya karena
mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan di pedesaan Tiongkok. Mereka
pada umumnya telah turun temurun hidup di pedesaan Indonesia dan telah hidup
membaur dengan penduduk setempat dan tidak dapat berbicara dalam bahasa
Tionghoa lagi.
Kelebihan
Buku:
1.Adanya
pendidikkan karakter bagi pembaca
2. Buku mudh
didapatkan
3.Penggunaan
kertas dan ketikan yang baik dan jelas


No comments:
Post a Comment