About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Monday, 21 December 2015

Sejarah Genteng Sokka Kebumen (Jawa Tengah)

Sejarah Genteng Sokka Kebumen.
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kabupaten daerah tingkat II Kebumen terletak antara 70 – 80 LS dan 1090 – 1100 BT merupakan salah satu wilayah yang besar dan luas di provinsi daerah tingkat I. Secara administratif kabupaten daerah tingkat II Kebumen dibagi menjadi 6 wilayah pembantu bupati, 22 wilayah kecamatan dan 460 desa atau kelurahan.
Daerah ini sebelah barat berbatasan dengan kabupaten daerah tingkat II Cilacacap, timur Dati II Purworejo, utara kabupaten Dati II Wonosobo, serta sebelah selatan dibatasi oleh samudera Indonesia. Luas wilayah Kabupaten Dati II Kebumen adalah 128.111,50 Ha/1.281,115 km2. Yang terdiri dari daerah pegunungan disebelah utara, daerah dataran dibagian tengah dan pantai disebelah selatan.
Kedawung adalah desa di kecamatan Pejagoan, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Desa penghasil genteng Sokka yang terkenal di seluruh negeri Indonesia, tanah liat yang berkualitas tinggi menjadikan desa tersebut penghasil genteng tersohor. Pada industri genteng, tanah dijadikan bahan baku utama dalam kegiatan produksinya. Industri genteng merupakan salah satu industri yang bergerak dalam sektor ekonomi informal di desa Kedawung. Kebumen sebagaimana kabupaten dari desa Kedawung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang banyak terdapat sentral industri genteng. Letak geografis Kebumen yang dialiri Sungai Luk Ulo menjadikan daerah ini kaya akan tanah liat yang cocok sekali untuk bahan baku pembuatan genteng. Ada beberapa kecamatan di Kebumen yang merupakan sentral industri genteng, baik industri genteng yang sudah memakai bantuan mesin dalam proses produksinya maupun industri genteng yang manual. Sampai saat ini, industri genteng menyebar terdiri dari beberapa wilayah kecamatan, diantaranya Kecamatan Sruweng, Kecamatan Adimulyo, Kecamatan Pejagoan, dan Kecamatan Kutowinangun.
Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian di sektor kerajinan genteng bermerek “Sokka”. Desa yang sekelilingnya terdapat banyak lahan pertanian dan langsung berbatasan dengan daerah aliran sungai Luk Ulo memang cocok sekali untuk mendirikan usaha pembuatan genteng. Adanya lahan pertanian dan daerah di sepanjang aliran sungai yang ada telah menyediakan tanah liat sebagai bahan baku utama untuk pembuatan genteng. Keberlangsungan industri genteng di desa ini sangat tergantung pada lahan atau tanah yang ada. Industri genteng ini telah mampu menggerakkan roda perekonomian setempat sehingga dapat menekan angka pengangguran di daerah tersebut. Dari yang semula hanya bekerja sebagai petani maka setelah adanya pabrik genteng mereka beralih profesi menjadi buruh pabrik genteng walaupun mereka juga tidak meninggalkan pekerjaan mereka sebagai petani[1]. Pabrik genteng Sokka ini telah menekan angka cukup signifikan di dalam masyarakat Kedawung, apalagi pabrik genteng ini juga memperkerjakan kaum perempuan dalam mengolah tanah liat menjadi genteng sehingga dapat menambah pemasukan keuangan dalam keluarga[2]. Sehingga keluarga-keluarga masyarakat Desa Kedawung mengalami peningkatan taraf kehidupan yang diukur dari tingginya tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat Kedawung. Pendidikan masyarakat juga mengalami peningkatan serta status mereka dalam masyarakat juga mengalami kenaikan.
Alasan mengapa peneliti mengangkat tema ini untuk dijadikan sebagai rujukan benda atau bangunan cagar budaya adalah bahwa bangunan ini telah memiliki syarat untuk dijadikan bangunan cagar budaya yakni usia bangunan telah lebih dari 50 tahun. Selain itu perlu diketahui bahwa pengaruh Pabrik Genteng Sokka ini sangat kompleks terhadap masyarakat sekitar. Kemudian pengangkatan tema ini juga diperuntukan untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Konservasi Kesejarahn. Dimana Konsevasi Kesejarahan merupakan upaya untuk merawat, menjaga dan menjadikan sebuah benda atau bangunan cagar budaya agar dapat hidup, terawat dan memberi manfaat untuk  penduduk atau masyarakat disekitar benda tersebut berada. Upaya ini dilakukan mengingat banyak masyarakat yang tidak mengetahui atau memahami tentang nilai sejarah dan nilai ekonomi yang dikandung sebuah Benda atau Bangunan Cagar Budaya. Dengan Konservasi Kesejarahan diharapkan mampu merawat dan menjaga setiap Benda Cagar Budaya dan memanfaatkanya untuk kajian teoritis bagi pengembangan keilmuan maupun kajian praktis untuk meningkatkan kehidupan ekonomi disekitar benda tersebut berada. Cagar Budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting, artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan Kepentingan Nasional (Undang-undang nomor 11 Tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya. Bertolak dari penjelasan diatas maka telah dilakukan penelitian dengan judul “ PENGARUH PABRIK GENTENG SOKKA TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA KEDAWUNG DARI TAHUN 1948-1980”.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1.    Bagaimana sejarah Pabrik Genteng Sokka?
2.    Bagaimana peranan Pabrik Genteng Sokka dalam mempengaruhi  kehidupan sosial ekonomi masyarakat Desa Kedawung?
3.    Apakah Pabrik Genteng Sokka dapat di klarifikasikan sebagai Benda Cagar Budaya?

C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat dirumuskan tujuan dari penelitian ini antara lain :
1.    Untuk menjelaskan sejarah berdirinya Pabrik Genting Sokka dan perkembangannya seiring dengan perkembangan zaman.
2.    Untuk menjelaskan peranan Pabrik Genteng Sokka dalam kehidupan sosial-ekonomi khususnya masyarakat Desa Kedawung.
3.    Untuk menjelaskan Pabrik Genteng Sokka dapat dijadikan Benda Cagar Budaya, serta menanamkan nilai sikap peduli mengenai pentingnya bangunnya bersejarah Pabrik Genteng Sokka.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Dapat mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan pada era pasca kemerdekaan di Indonesia khususnya di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen hingga Orde Baru dengan melihat sejarah yang terjadi didalam Pabrik Genteng Sokka dan pengaruh dalam kehidupan masyarakat disekitar Pabrik Genteng Sokka, sehingga dapat merekonstruksi sejarah sekitar pabrik genteng Sokka yang sifatnya humanis dan egalitan yang berhubungan dengan masa kejayaan Pabrik Genteng Sokka.





2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Peneliti
Mengembangkan pengetahuan tentang bangunan dan benda bersejarah hingga mampu merawatnya dan menjadikanya sebagai benda atau bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh undang-undang.
b.      Bagi Pembaca
Dapat meningkatkan pengetahuan tentang peristiwa yang telah  terjadi di Bangunan Pabrik Genteng Sokka tersebut sehingga menumbuhkan semangat Nasionalisme dan dapat memnghargai bangunan tersebut dan dapat memanfaatkanya seobtimal mungkin.
c.       Bagi Masyarakat
Dapat menumbuhkan sikap konservatif terhadap bangunan atau Benda Cagar Budaya di lingkungan mereka sehingga mereka dapat merawat dan memenfaatkanya sehingga kawasan tersebut dapat menjadi desa wisata sejarah.
d.      Bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen
Dapat menjadi acuan data atau referensi yang tepat untuk menetapkan Pabrik Genteng Sokka ini menjadi Bangunan Cagar Budaya.

E.     Metode Penelitian
1.      Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan informasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lisan kepada narasumber yaitu orang yang mengetahui atau ahli dalam bidang tertentu. Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara kepada :
a)      Bapak Abu Achmar yang menjadi narasumber pertama, beliau sebagai generasi penerus pabrik ke-4.
b)      Bapak Rafi Ananda sebagai narasumber kedua merupakan Budayawan Kebumen.
c)      Bapak Karyono sebagai narasumber ketiga dalam penelitian, beliau memahami sejarah pabrik sokka dan beliau merupakan mantan kadus wilayah III Desa Kedawung.
d)     Bapak Darus sebagai narasumber keempat dalam penelitian, beliau mantan kepala Desa Muktisari dan beliau merupakan seorang pemilik usaha genteng  Sokka kategori pemilik Pabrik Genteng  saat ini.
e)      Bapak Mugi, Ibu Noor Maryam dan Ibu Khotimah sebagai masyarakat sekitar Pabrik Sokka.
f)       Ibu Saminah dan Ibu Sukohati sebagai pekerja atau buruh pabrik Sokka
g)      Bapak Sugiman sebagai anak dari mador dan pekerja malam di Pabrik Genteng Sokka.
h)      Bapak Bani sebagai Pemilik Genteng UD. Margo Harjo (MH).

2.      Studi Pustaka
Studi pustaka adalah kegiatan mengumpulkan sumber dari literature atau buku-buku yang relevan dengan peristiwa. Dalam penelitian ini kami melakukan studi kepustakaan untuk melengkapi keterangan yang diberikan bapak Soenardjo Abu Ngamar (Keturunan Abu Ngamar). Kami melakukan studi pustaka dengan membaca buku-buku yang relevan, surat kabar, kumpulan skripsi dan kliping dari koleksi bapak Soenardjo.

















BAB II
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    SEJARAH PABRIK GENTENG SOKKA

1.      Sejarah Awal Pabrik Genteng Sokka
Genteng Sokka merupakan salah satu industri yang ada di Kabupaten Kebumen. Nama Genteng Sokka merupakan sebuah trade mark untuk genteng berkualitas baik yang diproduksi di daerah Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Asal mula nama genteng dari Kebumen menggunakan merek Sokka berasal dari kata “Sokka” yang merupakan nama daerah yang terdapat Pabrik Tebu yang merupakan peninggalan Penjajah Hindia Belanda yang ada dipertigaan Pejagoan dan Kedawung. Bekas Pabrik Tebu tersebut kemudian didirikan Industri Genteng dan menjadi pusat Industri Genteng.
Pabrik Genteng Sokka didirikan pertama kali tahun 1920 di desa Sokka (sekarang Kedawung), menurut data yang berhasil diperoleh, genteng press pertama di Kebumen adalah hasil pembelajaran Belanda kepada masyarakat yang secara resmi dikelola oleh pemerintah Kolonial yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan atap bangunan stasiun – stasiun dan bangunan Belanda lainnya dengan mendatangkan mesin press dari Jerman. Awal pemerintah kolonial Belanda melakukan penelitian untuk memetakan daerah-daerah yang tanahnya bagus untuk dijadikan atap bangunan. Kebumen merupakan salah satu dari sejumlah daerah yang memiliki potensi untuk dijadikan sentra genteng. Letak geografis Kebumen yang dialiri sungai Luk Ulo menjadikan daerah ini kaya akan tanah liat yang cocok sekali untuk bahan baku pembuatan genteng.
Dilihat dari kajian Edafologi atau ilmu kesuburan tanah, daerah Desa Kedawung memiliki jenis tanah pasir yang gembur, bercampur humus dan terlindung sinar matahari langsung. Dengan suhu optimum berkisar antara 23-250C [3]. Atas dasar pertimbangan keadaan tanah tersebut pemerintah Belanda mendirikan sebuah Pabrik Genteng di Kebumen persisnya di Kecamatan Pejagoan. Namun saat ini bekas pabrik tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi karena sudah didirikan bangunan baru yakni SMP Negeri 1 Pejagoan. Pabrik yang didirikan oleh Belanda itulah yang pertama kali berdiri di Kebumen. Namun pabrik tersebut musnah pada masa perang kemerdekaan karena dihancurkan oleh para pejuang.
Genteng-genteng tersebut untuk memenuhi pembangunan infrastruktur termasuk untuk dijadikan atap pabrik gula. Bahkan di Kebumen juga terdapat dua pabrik gula, yakni di Prembun yang bekasnya jadi Pos Polisi Prembun dan di Kebumen yang saat ini menjadi RSUD. Pengenalan genteng sebagai atap juga dilakukan oleh tim kesehatan Belanda. Misi kesehatan dilakukan karena saat itu terjadi wabah pes[4]. Saat itu, banyak tenaga kerja pribumi yang tidak bisa maksimal karena terserang penyakit tersebut. Sebab utamanya adalah atap rumah menggunakan rumbia sebagai atap rumahnya, tentu banyak mengundang hewan untuk berserang di tempat itu seperti ular, serangga dan tikus. Maka akibatnya banyak warga yang terserang penyakit pes. Belanda tidak tinggal diam karena apabila warga terkena penyakit maka Belanda akan di rugikan karena tidak bisa mempekerjakan warga sekitar. Maka Belanda mengirimkan tim kesehatan untuk memberantas penyakit pess tersebut yang penyebab utamanya adalah tikus[5]. Hingga saat itu pemerintah Hindia Belanda mulai berfikir dan melihat masyarakat Desa Kedawung telah dapat membuat alat-alat rumah tangga dengan menggunakan tanah maka didirikanlah pabrik genteng, mengingat daerah ini termasuk suatu daerah yang mempunyai tanah yang baik.

2.      Perkembangan Pabrik Genteng Sokka
Setelah Pemerintah Hindia Belanda mendirikan pabrik genteng di Desa Sokka (sekarang Kedawung), orang pribumi pertama kali yang membuat kerajinan genteng di Kebumen ialah H. Ahmad. Proses pembuatan genteng pada saat itu masih belum menggunakan mesin. Produksi genteng H. Ahmad masih dilakukan secara manual. Disinilah cikal bakal industri genteng di Kebumen.
Baru setelah beberapa tahun berjalan, munculah genteng – genteng press yang dikelola oleh swasta/pribumi yang pada saat itu terkenal beberapa merek antara lain AB Sokka pada sekitar akhir tahun 1920. Hal ini dibuktikan dengan genteng press yang bermerk “TICHELWERKHEN KEBOEMEN” dan “V.I.T” yang merupakan produksi resmi pemerintah Kolonial. Sedangkan merk “W&SON Sokka” dan “Brezole Sokka” merupakan produk awal genteng press swasta atau pribumi. H. Abu Ngamar salah satu anak H Ahmad (sebagai generasi penerus) yang mengenal orang Belanda mendirikan sebuah pabrik genteng di Sokka, sekitar 200 meter dari Stasiun Sokka di Pejagoan. Atas bantuan guru Sekolah Teknik Belanda, didatangkanlah mesin pabrik pembuat genteng dari Jerman. Karena berkualitas baik, produknya banyak digunakan untuk atap sejumlah pabrik gula di Jawa. Merk genteng yang legendaris itu adalah AB Sokka.
Sampai saat ini di lokasi pabrik yang berlokasi di Dusun Sokka, yang sekarang  Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan masih dapat ditemui lima buah cerobong pembakaran genteng yang kuno yang berdiri kokoh. Namun cerobong tersebut sudah tak lagi pakai. Pabrik genteng tersebut sekarang disewakan kepada para bekas mandor dipabrik AB Sokka[6]. Pada masa kejayaan pengurusan dibawah pengawasan Bapak H. Abu Ngamar, pabrik ini berhasil mendistribusikan genteng Sokka keseluruh Jawa bahkan Sumatra dan Bali[7]. Penggunaan mesin sudah digunakan pada masa ini mesin-mesin didatangkan langsung dari Jerman. Sehingga mampu memenuhi pesanan yang datang, banyak orang yang mengenal genteng Sokka karena kwalitasnya yang sangat bagus, bayangkan pembakaran genteng memakan waktu kurang lebih satu Minggu untuk mendapatkan hasil yang baik dan api tidak mengenai genteng secara langsung namun asapnya saja yang digunakan dalam pembakaran pembakaran itu dipertahankan pada jaman produksi Bapak Abu Ngamar. Itulah sebabnya banyak orang mengenal genteng AB Sokka sebagai genteng kwalitas terbaik.
            Tetapi sekarang untuk mengefisienkan waktu dan biaya pembakanran disingkat menjadi tiga hari menggunakan tobong[8] kreasi baru yang beda dengan tobong pada masa pembikinan jaman pertama dan tobong pembakaran petama milik pabrik genteng Sokka sekarang tidak pernah digunakan lagi.
Di kawasan itu pula masih tampak deretan ruang penyimpanan genteng, termasuk dari bekas-bekas rel troli dari dalam pabrik yang tersambung menuju Stasiun Sokka. Sekitar tahun 1940 sebagian bangunan pabrik AB Sokka hancur akibat perang. Meski cerobongnya tidak ikut roboh, namun selama satu dasa warsa AB Sokka terguncang akibat revolusi fisik. Usaha itu bangkit kembali setelah masa kemerdekaan. Setelah Abu Ngamar meninggal, pengelolaan pabrik genteng dilanjutkan oleh H Ahmad Nasir. Sekitar tahun 1950 usaha pabrik sudah dibantu oleh Perbankan yang saat itu bernama Bank Industri Negara (BIN) kemudian beralih nama menjadi Bapindo dan saat ini dimerger menjadi Bank Mandiri. Dalam pengiriman genteng, AB Sokka memanfaatkan Stasiun Sokka. Untuk itulah dari dalam pabrik dibuat troli kecil hingga bersambung dengan Stasiun Sokka.
Dalam pembakaran genteng Sokka menggunakan bahan bakar kayu, jika diganti batu bara suhunya terlalu panas maka genteng akan pecah, jika sudah pecah alternatif lain untuk menutup ongkos produksi maka genteng akan digiling untuk grafer (lintasan lari) Stadion untuk fungsi peresapan dan lintasan lari. Pada tahun 1990an distribusi genteng Sokka meliputi Jawa Tengah dan sekitarnya, serta pada tahun 1995 sempat dikontrak pengusaha dari Jakarta dan sebagian besar proyeknya menggunakan genteng dari Sokka.
Pabrik Genteng AB Sokka terus mengalami peningkatan baik dari segi produksi maupun daerah distribusi genteng Sokka yang terus meluas. Namun Puncak kejayaan genteng AB Sokka adalah tahun 1980-2000 dimana genteng produksi AB Sokka wajib dipakai pada setiap bangunan proyek pemerintahan Soeharto dimana pemerintah merekomendasikan genteng Sokka untuk digunakan sebagai atap di gedung pemerintah.  Misalnya pembangunan Akabri Magelang yang saat ini bernama Akademi Militer (Akmil) atapnya menggunakan genteng Sokka. Termasuk juga pusat perkantor di kawasan Kabayoran Baru Jakarta juga menggunakan genteng dari Kebumen. Bahkan asrama Tentara di Solo memakai genteng AB Sokka, karena dinilai kualitasnya yang sangat baik dan juga pemerintahan masa Orde Baru sedang mengadakan proyek pembangunan secara besar-besaran genteng yang dipakai mewajibkan penggunaan genteng dari Sokka.
Besarnya pengaruh AB Sokka pada masa itu disinyalir adanya hubungan antara pemilik AB Sokka yakni Abu Ngamar dengan pemerintahan melihat masa kejayaan AB Sokka, menjamurlah industri genteng di Kabupaten Kebumen terutama di Desa Kedawung yang rata-rata menggunakan nama Sokka. Pada awalnya yang mendirikan pabrik masih keluarga Abu Ngamar.
            Dengan menjamurnya pabrik-pabrik di Desa Kedawung dan turut berkembangnya pabrik-pabrik genteng di kota lain tetapi seiring dengan berjalannya waktu,  kualitas genteng AB Sokka saat ini kalah dengan genteng-genteng produksi pabrik dari kota lain contohnya kalah saing dengan pabrik genteng Jatiwangi,  padahal dulunya orang Jatiwangi belajar membuat genteng di Kebumen tetapi saat ini karena genteng buatan Kebumen kurang berinovasi sehingga kalah saing dengan produk genteng Jatiwangi. Saat ini pabrik genteng di Sokka dalam posisi terhimpit, jika pabrik ditutup itu tidak mungkin dikarena banyak orang menggantungkan pekerjaannya pada pabrik Sokka.
            Kemudian pada saat ini Pabrik Genteng AB Sokka hanya disewakan kepada pemilik modal yang mau menyewa pabrik tersebut. Sekarang pabrik genteng Sokka hanya dijadinkan industri sampingan dan keluarga, walaupun kepemilikanya masih dari keturunan dari Bapak Abu Ngamar yaitu Bapak Abu Achmar, tetapi sekarang yang menyewa pabrik tersebut bernama Bapak Osim selaku Mandor dari Pabrik AB Sokka saat ini.

B.     PERANAN PABRIK GENTENG SOKKA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KEDAWUNG

1.      Kehidupan Masyarakat Kedawung Sebelum dan Sesudah  Adanya Pabrik Genteng Sokka
Masyarakat Desa Kedawung dan sekitarnya sebelum adanya Pabrik Genteng Sokka pada umumnya menggantungkan pekerjaannya dengan bertani, mereka pada umumnya berladang dan bercocok tanam, menanam padi di sawah, tanaman palawija, dsb. Masyarakat sekitar ketika itu  selain bertani, bercocok tanam dan  berladang juga sudah mulai membuat kerajinan tangan dari tanah liat yaitu beruba gerabah dan alat-alat rumah tangga lainnya, karena memang tanah di daerah tersebut tergolong tanah yang baik maka masyarakat memanfaatkannya dengan membuat gerabah dan alat-alat rumah tangga dari tanah liat. Seiring berjalannya waktu ketika Pemerintah melarang atap rumah dengan menggunakan rumbia karena adanya penyakit Pess maka masyarakat mulai berfikir untuk membuat genteng, dan mulai muncul pembuatan-pembuatan genting dan pabrik genteng di sekitar masyarakat[9].
Adanya pabrik genteng berguna sekali karena membantu perekonomian dan menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan mengurangi tingkat pengangguran. Perekrutan tenaga kerja atau karyawan pabrik genteng tidak hanya dari warga sekitar atau tetangga dekat tapi sampai luar kecamatan. Dalam usaha pabrik genteng setiap rumah mempunyai merek sendiri, terkadang juga gabungan dari saudara-saudara. Nama genteng semuanya ditulisannya Sokka meskipun pembutan genteng tidak di  Desa Kedawung ( wilayah Sokka)[10].
Seiring berjalannya waktu dalam pembuatan genteng mulai dibentuk dengan menggunakan mesin. Dengan berdirinya Pabrik Genteng AB Sokka maka banyak diperlukan tenaga kerja dan banyak menyerap tenaga kerja untuk diperkerjakan di pabrik genteng, dari itu mulai bergeserlah pekerjaan masyarakat sekitar yang dulunya bertani dan membuat alat-alat rumah tangga dengan tanah liat berganti dengan membuat genteng, menjadi pekerja di Pabrik Genting Sokka, dan pada mulanya masyrakat bekerja di Pabrik Genteng AB Sokka yang merupakan pabrik genteng  pertama yang berdiri di Kebumen[11].
Begitu banyak orang yang bergantung pada pabrik genteng ini. Walaupun sekarang sudah banyak modernisasi di bidang permesinan, tetapi dulu juga sudah menggunakan alat canggih buatan Jerman yang dalam sehari bisa memproduksi kurang lebih 2000-3000 genteng per harinya namun sekarang dikerjakan manual yang hanya bisa memproses 1000 per harinya.  Pada zaman berjayanya Pabrik Genting Sokka ini banyak menyerap tenaga kerja sehingga banyak masyarakat yang diperkerjakan, akan tetapi para para pekerja tidak tahu pasti kemana barang produksi genting tersebut dikirim atau di distribusikan ke daerah-daerah, berdasarkan hasil wawancara dengan orang yang pada zaman pendudukan jepang menjadi pekerja di pabrik genteng khususnya Pabrik AB Sokka pada umumnya masyarakat yang menjadi pekerja hanya bertugas mempoduksi mengolah tanah menjadi genteng di daerah sekitar Kecamatan Pejagoan tersebut khususnya di Desa Kedawung yang dulu berdiri pabrik sokka karena konon tanah di daerah tersebut mempunyai potensi yang sanagat baik untuk membuatan genting sehingga mampu menghasilkan produksi genteng yang baik juga seperti yang kita ketahui bagaimana kualitas genteng Sokka.
Pada masa lampau pabrik genteng yang ada pada saat itu masih bisa diterapkan manajemen perusahaan ketika masa keemasannya. Namun, sekarang tidak bisa diterapkan manajemen perusahan dengan karyawan yang memiliki ikatan resmi dan kebanyakan masih menggunakan home industri atau manajemen keluarga. Dan rata- rata pabrik genteng yang sekarang itu hanya sebagai pekerjaan sampingan. Arti sampingan disini bahwa tidak ada aturan yang mengikat karyawan harus bekerja penuh atau tidak. Namun begitu banyak orang yang bergantung pada pabrik genteng ini. Meskipun dulu kesulitan di bidang alat angkut jika dibandingkan dengan sekarang yang sudah lebih banyak alat angkutnya tidak ada syarat apapun untuk menjadi karyawan di pabrik genteng dengan sistem upah borongan dan harian. Dimana borongan tugasnya yang membongkar genteng dari tobong dengan ongkos tiap satu tobong itu berkisar hingga 400.000 yang dikerjakan 4-5 orang. Sedangkan yang upah harian itu untuk proses penjemuran 50.000 per orang[12].
Saat pemerintahan Jepang tenaga kerjanya mencapai 800 orang dan untuk pengggilingan atau mesin presnya mencapai 23 mesin, untuk pembakaran mengunakan 6 prosting. Sebelum bekerja para pekerja pabrik genteng AB jaman Jepang harus melakukan Taiso (olah raga) 10-15 menit.  Setelah melakukan Taiso baru diperbolehkan untuk bekerja, maksudnya agar pekerja sehat.  Para pekerja hanya mengenakan kain goni sebagai pakaian yang digunakan dalam bekerja. Meskipun dikuasai oleh Jepang sistem tenaga kerja juga mendapatkan gaji/ bayaran. Namun pembayaran sangat sedikit, sehigga untuk memenuhi kebutuhan masih kurang, dan tingkat kesejahteraan para pekerja pabrik genting tergolong masih rendah[13].
Seiring berjalannya waktu dengan berdirinya Pabrik Genteng AB Sokka yang merupakan pabrik yeng pertama berdiri menimbulkan inisiatif masyarakat sekitar untuk mendirikan usaha pabrik genteng dengan dalih memanfaatkan potensi tanah yang baik untuk menunjang kebutuhan perekonomian. Dan dewasa ini dapat dilihat di Kecamatan Pejagoan banyak home industri yang memproduksi genteng, bisa dikatakan di daerah tersebut hampir setiap rumah merupakan home industri membuat pabrik dan tentu saja sampai sekarang juga masih banyak masyarakat yang bekerja sebagai pekerja membuat genteng baik sebagai pekerjaan sampingan ataupun benar-benar bergantung sebagai pekerja di pabrik genteng.
Sistem pembayaran atau pengupahan tenaga kerja pabrik yaitu dengan sistem borongan dan pengupahan harian, dimana borongan tugasnya yaitu membongkar genteng dari tobong dengan ongkos tiap satu tobong itu berkisar hingga 400.000 yang dikerjakan 4-5 orang, dan sistem pembagian untuk per orangan yang membongkar tobong tersebut tergantung para pekerja sendiri yang membagi tanpa adanya campur tangan pemilik pabrik.  Sedangkan upah harian itu untuk proses penjemuran pada umumnya upah berkisar Rp.50.000/orang. Akan tetapi pada saat ini kesejahteraan masyarakat yang bekerja sebagai pekerja pabrik genteng masih tergolong rendah mengingat semakin tingginya tingkat kebutuhan hidup dan harga-harga kebutuhan.
Masyarakat sekitar selain bekerja sebagai pekerja pabrik banyak juga masyarakat yang bermatapencaharian sebagai pedagang, baik berdagang di pasar maupun di daerah sekitar. Selain itu masyarakat juga banyak yang lebih memilih bekerja merantau ke kota seperti Jakarta, menurut mereka merantau dirasa lebih baik bila dibandingan dikampung halaman bekerja sebagai pekerja membuat genteng atau masyarakat biasa menyebutnya dengan buruh pabrik genteng. Beberapa pemilik pabrik genteng sokka di sekitar kecamatan Pejagoan bahwa untuk sekarang mencari tenaga kerja yang dijadikan pekerja di pabrik genteng cukup sulit dan banyak yang bekerja hanya sesuai kebutuhan ataupun sekedar mengisi kekosongan waktu menunggu panggilan kerja dari kota ataupun yang lain, seperti contoh ada pekerja yang terkadang berangkat kerja dan terkadang tidak, mereka lebih leluasa ataupun longgar karena memang tidak ada ikatan yang pasti dari pabrik dan tidak ada persyaratan khusus ataupun tes untuk menjadi pekerja di pabrik genteng dalam artian asalkan ada kemauan siapa saja bisa masuk bekerja di pabrik genteng. Masyarakat yang belum tahu bagaimana cara kerja di pabrik genteng pada umumnya mampu bekerja hanya karena sering melihat proses pembuatan yang akhirnya dengan sendirinya mampu bekerja dan mahir dalam proses pembuatan genteng tersebut[14].

2.      Pengaruh Pabrik Genteng Sokka Dalam Kegiatan Ekonomi Msayarakat Kedawung
Kabupaten Kebumen merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup di bidang industri genteng  hal tersebut dikarenakan Letak Geografis Kebumen yang dialiri sungai Luk Ulo yang dimana menyebabkan tanah di sekitarnya banyak mengandung tanah liat yang merupakan bahan baku pembuatan genteng. Sampai saat ini, industri genteng menyebar terdiri dari beberapa wilayah kecamatan, diantaranya Kecamatan Sruweng, Kecamatan Adimulyo, Kecamatan Pejagoan, dan Kecamatan Kutowinangun sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian di sektor kerajinan genteng bermerek “Sokka”. [15] Terlebih lagi Pabrik Genteng Sokka berdekatan dengan Stasiun Sokka yang sekarang masih difungsikan sebagai penjaga palang pintu rel Kereta Api dimana pada jaman Demokasi Perlementer, Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru dalam hal pendistribusiannya menggunakan Kereta Api yang dikirim ke Stasiun di kota-kota besar sesuai dengan pesanan.
Industri genteng merupakan salah satu industri yang bergerak dalam sektor ekonomi informal. Menurut Feige, mendefinisikan bahwa sektor informal meliputi tindakan-tindakan aktor ekonomi yang gagal untuk mentaati aturan-aturan kelembagaan yang telah mapan atau terabaikan dari perlindungan mereka. Munculnya sektor informal di negara-negara sedang berkembang merupakan akibat dari ketidakmampuan sektor formal untuk menampung antrian panjang pencari kerja[16]. Sektor ekonomi informal dicirikan dengan:
1.      mudah memasukinya dalam arti keahlian, modal, dan organisasi;
2.      perusahaan milik keluarga;
3.      beroperasi pada skala kecil;
4.      intensif tenaga kerja dalam produksi dan menggunakan teknologi sederhana;
5.      pasar yang tidak diatur dan kompetitif

Masyarakat Desa Kedawung sebagian besar mata pencahariannya terlibat dalam kegiatan industri genteng baik sebagai pemilik maupun buruh industri genteng. Mengenai pendapatan pengusaha genteng dan buruh genteng tergantung pada pesanan dari pembeli. Meskipun pendapatan tergantung dari usaha genteng, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari segi harga, Genteng Sokka mengalamai kenaikan, harga genteng disesuaikan dengan ongkos produksi, harga distribusi dan gaji pekerja dan lain sebagainya, jika sekarang per 1000 genteng harganya 1.600.000 sampai 1.800.000 dengan harga-harga yang demikian maka cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup terlebih jika biasanya pemesan dari Pabrik Sokka adalah pemerintah misalnya guna membangun asrama dan sekolah.
Dengan adanya usaha genteng bisa membantu masyarakat dalam peningkatan pendapatan dari buruh tani menjadi tenaga kerja di penambangan pasir, peningkatan kesejahteraan bagi pemilik tanah, pengurangan angka pengangguran, peningkatan pemasukan bagi desa, membantu perekonomian dan menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan mengurangi tingkat pengangguran. Perekrutan tenaga kerja atau karyawan pabrik genteng tidak hanya dari warga sekitar atau tetangga dekat tapi sampai luar kecamatan[17]. Tentu dalam segi ekonomi masyarakat banyak menggantungkan hidupnya di industri genteng terbukti hingga kini banyak orang yang masih bekerja di dalam industri genteng mengenai bagaimana kehidupan ekonomi masyarakat saat ini pasti mengalami pasang surut sesuai dengan kondisi negara pada saat itu.
 Ada pula dampak negatif dari aspek sosial ekonomi yang dirasakan pada masyarakat penambang yaitu kurangnya keamanan saat bekerja sehingga sering menyebabkan kecelakaan seperti retak atau patah tulang maupun luka-luka ringan pada kaki, tangan, mata atau gangguan pernafasan. Dampak negatif bagi masyarakat bukan penambang adalah hilangnya mata pencaharian utama sebagi petani pada masyarakat yang menjual tanahnya, waktu yang dibutuhkan petani menuju ke lahan pertanian menjadi lebih lama dan sulit dengan terputusnya jalan dan penuh dengan lubang-lubang bekas galian[18]. Dalam usaha genteng ini tentunya mendapatkan sisi positif dan negatif  misalnya jika tanah yang digunakan untuk bahan baku pembuatan genteng menjadi berlubang-lubang namun jika masyarakat bisa memanfaatkan kembali bekas galiannya untuk usaha ekonomi lain misalnya tanah dengan lubang besar menganga bisa digunakan untuk usaha pemancingan dimana usaha tersebut bisa menambah pendapatan.
Pada Masa Perlementer atau Demokrasi Liberal pemerintah mencanangkan program yang diproritaskan untuk membantu usaha milik pribadi dimana sesuai dengan pendapat Sumitro atau gagasan Sumitro yang tertuang dalam program Kabinet Natsir bahwa para pengusaha Indonesia pada umumnya bermodal lemah diberi kesemapatan untuk turu tserta berpartisipasi membangun ekonomi nasional[19].  Krisis moneter melanda karena Indonesaia mengalami defisit anggaran belanja tahun 1952 ditambah sisa defisit anggaran tahun sebelumnya. Pada krisis moneter tahun ini Industri Genteng Sokka tidak mengalami imbas yang terlalu terasa hal tersebut dikarenakan  industri genteng merupakan usaha yang bergerak disektor ekonomi informal yang telah dijelaskan diawal tidak terikat pada lembaga dan pasarannya tidak diatur secara terperinci hingga adanya krisis moneter tahun itu tidak memiliki dampak yang berarti untuk Masyarakat Kedawung khususnya yang memiliki usaha dibidang Genteng Sokka dan juga program-program yang dicanangkan cukup mendukung usaha pribumi.
Pada Masa Demokrasi Terpimpin pemerintah mengadakan pengeluaran uang rupiah baru yang nialinya ditetapkan sebesar 1000 kali uang rupiah lama dimana nilai tukar antara uang rupiah lama dengan uang rupiah baru, bergerak antara 1:10 jadi hanya dinilai oleh umum lebih kurang 10 kali lebih tinggi daripada uang rupiah lama bukan 1000 kali[20]. Pada masa ini pula industri Genteng Sokka tetap mengalami perkembangan yang cukup stabil, begitu pula dengan usaha genteng Sokka yang ada di Desa Kedawung yang mengalami perkembangan cukup signifikan.
Pada Masa Orde Baru dalam usaha penyelamatan ekonomi Nasional mengharuskan pemerintah memprioritaskan stabilitas dan rehabilitas ekonomi. Stabilitas yang dimaksud adalah pengendalian inflasi agar harga-harga terutama bahan pokok tidak melonjak tajam, sedangkan rehabilitas meliputi rehabilitas fisik prasarana, alat-alat produksi yang banyak hancur dan rehabilitas ekspor[21]. Dalam hal rehabilitas tentunya memiliki pengaruh terhadap industri genteng ataupun Pabrik Genteng Sokka dimana Pemerintah dalam rehabilitas prasarana banyak memesan ataupun menggunakan Genteng Sokka. Hal ini tentunya merupakan keuntungan tersendiri bagi pengusaha genteng dapat meningkatkan pendapatan. Pada Masa ini Genteng Sokka mengalami kejayaan dimana banyak diminati dan di pesan hingga keluar Jawa dan Bali[22].
Genteng Sokka dalam masa ini mengalami perkembangan cukup pesat terlihat dari banyak masyarat yang turut membuka usaha genteng melihat industry genteng masa ini cukup menjanjikan, hal ini tentunya memiliki pengaruh ekonomi yang cukup signifikan dimana terlihat dari pendapatan perkapita daerah Kebumen mengalami peningkatan dan juga dengan banyaknya usaha genteng Sokka membuka lapangan pekerjaan, dimana dalam berkerja di dalam pabrik genteng tidak membutuhkan persyaratan yang sulit hanya bermodalkan semangat dan ketelitian tentu akan bisa berkerja di pabrik genteng Sokka.
Dengan adanya pesanan genteng Sokka dari pemerintah tentu dalam jumlah yang besar membuat usaha genteng Sokka mengalami peningkatan dalam jumlah produksi ini juga memiliki pengaruh positif bagi perekonomian masyarakat sekitar pabrik Sokka dimana banyak warga yang memiliki usaha di dalam industry genteng baik dalam kepemilikan, pekerja, pengepul genteng dan lain sebagainya. Biasanya pemerintah menggunakan genteng Sokka untuk membangun sekolah, madrasah, kantor pemerintahan  dan lain sebagainya sehingga tidak heran jika banyak dijumpai genteng Sokka di instansi milik pemerintah.
Sudah dijelaskan diatas jika Pabrik Genteng Sokka bersebelahan dengan Stasiun Sokka dan dalam pendistribusian genteng Sokka menggunakan Kereta Api di Stasiun Sokka. Untuk pengaruh stasiun ini dalam masyarakat sekitar sangat berpengaruh di bidang ekonomi, masyarakat sangat terbantu karena stasiun tersebut merupakan tempat untuk menaik-turunkan barang, baik makanan maupun bahan mentah. Selain itu juga banyak ekonomi masyarakat sekitar yang terangkat karena penghasilan dari kuli menaik-turunkan genteng ke gerbong kereta dan banyak masyarakat sekitar yang berjualan di sekitar stasiun[23]. Hal ini juga memilki pengaruh untuk kehidupan masyarakat sekitar pabrik Sokka meskipun tidak berkerja di pabrik genteng maupun bukan pemilik usaha genteng tetapi banyak masyarakat yang mencari penghasilan lain disekitar Stasiun Sokka seperti yang telah dijelaskan diatas.

3.      Pengaruh Pabrik Genteng Sokka Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Kedawung
Pabrik Genteng AB Sokka yang berdiri sejak zaman Kolonial, telah merubah wajah masyarakat sekitar khususnya dalam bidang sosial. Sejak pertama kali dibangun, pabrik AB ini telah merubah atap-atap rumah warga yang dulunya dari daun rumbia beralih menggunakan genteng. Dahulu di daerah sekitar sini tengah menyebar wabah penyakit Pess. Atas saran pemerintah Kolonial yang memerintahkan agar atap warga diganti menggunakan genteng, akhirnya pemerintah Kolonial memilih daerah Kedawung sebagai tempat pembuatan genteng berdasarkan penelitian yang mereka lakukan. Menurut penelitian, daerah Kedawung dipilih karena memiliki tekstur tanah yang bagus untuk dijadikan kerajinan gerabah, khususnya genteng. Jadi disini bisa dibilang sebagai peralihan penggunaan atap dari daun menjadi genteng, hal ini meurpakan perubahan yang sangat besar dan maju[24].
Saat pemerintahan Jepang tenaga kerjanya mencapai 800 orang dan untuk pengggilingan atau mesin presnya mencapai 23 mesin, untuk pembakaran mengunakan 6 prosting. Sebelum bekerja para pekerja pabrik genteng AB jeman jepang harus melakukan Taiso (olah raga) 10-15 menit.  Setelah melakukan Taiso baru diperbolehkan untuk bekerja, maksutnya agar pekerja sehat. Dari keterangan diatas, bisa dikatakan saat zaman Jepang, mayoritas masyarakat sekitar bekerja sebagai karyawan pabrik[25].
Pabrik genteng AB Sokka ini juga sangat berpengaruh sekali salah satunya adalah menjadi lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Dahulu pekerjaan masyarakat sekitar sini rata-rata adalah sebagai karyawan pabrik, tidak hanya itu para karyawan yang bekerja disini juga banyak yang berasal dari luar kecamatan. Sebelum menjadi karyawan pabrik, mereka dulunya mayoritas bekerja sebagai petani dan pengrajin gerabah[26]. Adanya pabrik genteng AB Sokka ini berhasil menekan tingkat pengangguran bagi masyarakat sekitar khususnya Desa Kedawung. Bahkan produksi genteng sudah berhasil merambah sampai keluar Kebumen, seperti ke Purworejo, Magelang, Solo, dan Banjarnegara. Hal ini tentu mengangkat citra Kebumen sebagai daerah penghasil genteng dengan kualitas genteng yang baik di mata masyarakat[27].
Adanya pabrik genteng AB Sokka ini juga sangat berpengaruh terhadap keberadaan Stasiun Sokka yang tepat berada disebelah utaranya. Tak dapat dipungkiri bahwa keberadaannya tidak bisa dipisahkan dengan aktifitas stasiun pada zamannya. Pada sekitar tahun 65-an, banyak masyarakat yang bekerja sebagai kuli untuk menaik-turunkan genteng ke gerbong kereta, seperti yang sempat dilakukan oleh Bapak Karyono. Beliau bahkan sudah melakukannya sejak masih sekolah di bangku dasar. Jadi zaman dulu banyak kuli yang mengangkut genteng dari desa-desa menggunakan gerobak menuju ke stasiun, disitu mereka mulai menaikkan genteng-genteng tersebut ke gerbong kereta untuk diangkut. Selain itu juga banyak masyarakat sekitar yang berjualan warungan disekitar stasiun. Dahulu Ibu dari Bapak Karyono juga berjualan warungan disekitar stasiun, dan beliau selalu membantu Ibunya berjualan sehabis selesai bekerja sebagai kuli[28].
Perkembangannya, pabrik AB Sokka ini juga mempengaruhi didirikannya pabrik-pabrik genteng di daerah Kedawung. Hal ini tentu juga sangat berpengaruh bagi warga sakitar khususnya semakin bertambahnya lapangan pekerjaan sebagai karyawan pabrik karena munculnya pabrik-pabrik baru yang berkembang di Kedawung. Seperti yang disalah satu milik pabrik warga bernama Bapak Bani dengan pabriknya yang bernama UD Margo Harjo (MH), dulu sebelum adanya mesin hidrolik saat mesin pabriknya masih menggunakan manual, disini terdapat 60 tenaga pekerja. Jadi bisa dikatakan adanya pabrik genteng-genteng yang berkembang sekarang ini sangat membantu sekali terutama buat mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Bayangkan saja, satu pabrik genteng yang masih menggunakan alat manual saja sudah menampung sejumlah 60 karyawan. Bagaimana jika di Kedawung terdapat 10 pabrik genteng? Atau bahkan 20 pabrik genteng, tentu hal ini dapat menekan angka pengangguran di daerah Kedawung dan sekitarnya[29].
Seiring berkembangnya zaman, pabrik genteng milik Pak Bani juga mulai terpengaruh modernisasi, untuk saat ini jumlah tenaga kerja di pabrik miliknya hanya sejumlah 4 karyawan saja, ini disebabkan karena modernisasi mesin genteng yang dulunya manual menjadi hidrolik. Tapi keberadaan pabrik-pabrik genteng yang sekarang bermunculan karena pengaruh pabrik genteng AB Sokka ini memang tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaannya sangat berpengaruh sekali terhadap masyarakat sekitar terutama dalam menambah lapangan pekerjaan bagi mereka yang masih menganggur mapun yang beluum memiliki pekerjaan tetap[30].
Perlu dicermati juga bahwa seiring banyaknya pabrik genteng yang berkembang di daerah Kedawung, maka semakin banyak pula tanah yang digali atau diambil untuk membuat genteng. Jangan sampai nantinya pengerukan tanah yang berlebihan ini akan memunculkan masalah sosial baru seperti tanahnya yang menjadi tidak subur jika jika tanah tersebut diambil dari sawah. Atau bencana tanah longsor jika tanah digali terus menerus di pinggiran kali. Seperti yang dikatakan Ibu Khotimah bahwa akibat banyaknya penggalian dipinggir kali, ada satu rumah yang terkena longsor. Bahkan dulu sempat ada TNI yang menegur agar masyarakat jangan menggali tanah dipinggiran kali secara berlebihan, karena itu bisa mnyebabkan tanah longsor. Namun hal ini justru ditanggapi serius oleh para pemilik pabrik bahwa jika seperti itu maka pabrik genteng bisa tutup karena bahan bakku utamanya berasal dari situ. Jika salah satu ada yang tutup, maka para pemilik pabrik genteng bahkan akan menutup pabrik mereka semua[31].
Hal ini jelas akan menjadi masalah sosial yang sangat serius, terutama bagi para pekerja pabrik yang terancam kehilangan pekerjaan mereka. Bayangkan jika yang tadinya bekerja menjadi menganggur kembali, padahal jumlah pekerja disetiap pabrik rata-rata memiliki banyak pekerja. Selain itu masalah lain yang timbul dari adanya cekungan-cekungan bekas galian di pekarangan rumah. Cekungan bekas galian tersebut tentu jika musim hujan akan tergenang air, dan akan menjadi sarang nyamuk[32]. Jangan sampai Kedawung yang terkenal dengan produk gentengnya suatu hari nanti justru akan mendapat kecaman dari masyarakat yang merasa dirugikan dengan adanya penggalian-penggalian tadi terutama bagi masyarakat daerah bantaran kali.
Disini juga sangat perlu untuk instansi atau dinas-dinas terkait untuk memberi penyuluhan kepada masyarakat khususnya Kedawung, agar dalam penggalian tanah mereka tidak secara berlebihan tetapi tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan merawatnya. Terutama di daerah pinggiran kali yang sangat berpotensi longsor jika musim hujan. Jika disini kesadaran masyarakat dan kerjasama antar instansi terkait sudah dapat dilaksanakan maka maka masalah-masalah sosial bahkan masalah lingkungan bisa kita atasi bersama dan bisa menjadi daerah industri yang bisa dijadikan study banding untung daerah industri lain karena keselarasannya.

4.      Pengaruh Pabrik Genteng Sokka Terhadap Stasiun Sokka
Kereta api digunakan sebagai alat transportasi yang sangat penting dalam distribusi Genteng Sokka, karena hanya kereta api yang pada saat itu mampu mengangkut hasil produksi genteng berton-ton dan dengan cakupan jarak yang jauh terutama keseluruh pulau Jawa, kemudian dari kereta api lalu didistribusikan kedaerah-daerah untuk membangun stasiun maupun pabrik-pabrik milih Belanda.
Hubungan Pabrik Genteng Sokka dengan Stasiun Sokka saling berkorelasi. Sebelum berbicara mengenai keterkaitan antara keduannya maka akan dijelaskan lebih dahulu mengenai rute Stasiun Sokka dari dulu hingga sekarang sehingga digunakan untuk mengangkut Genteng Sokka. Jalur rel Stasiun Sokka merupakan rute utama di jalur selatan. Jalur tersebut meliputi Jawa Barat-Kebumen-Cilacap-Surabaya. Untuk rute ke Jawa Barat itu sendiri khususnya ke Tasik dan Bandung. Sedangkan untuk rute di daerah sekitar Kebumen itu sendiri rute tersebut menghubungkan Kutoarjo-Kroya dan Kutoarjo-Cilacap. Stasiun Sokka juga berhubungan dengan stasiun di Purwokerto dan Stasiun Kebumen. Di Stasiun Kebumen yang dekat dengan Pabrik Nabatirasa, Stasiun ini khusus untuk mengangkut minyak kelapa[33].
Jalur di Stasiun Sokka ini merupakan Jalur Tunggal yang hanya bisa dilalui satu kereta, jadi dahulu ketika ada kereta lain yang mau lewat di jalur tersebut, sedangkan dari arah lain ada kereta yang mau lewat juga, maka salah satu kereta akan dialihkan untuk berhenti di depan satsiun tersebut untuk menghindari kecelakaan, karena di depan stasiun tersebut terdapat tiga rel di bagian paling selatan, tengah dan sebelah utara. Untuk kedua rel yang berada di sebelah tengah dan utara, masih asli sampai sekarang. Sedangkan yang paling selatan sudah pernah diganti pada sekitar tahun 1980-1985-an atas bantuan dari Australia. Rel tersebut diganti karena rel itu merupakan satu-satunya rel yang maasih aktif sampai sekarang.
Pengaruh Pabrik Sokka sendiri terhadap Stasiun Sokka ialah dalam hal pengankutan genteng keberbagai daerah Pada masa ini fungsi utama Stasiun adalah untuk menaik-turunkan barang, terutama genteng dan kayu. Namun Stasiun ini juga berfungsi untuk menaik-turunkan penumpang.  Pada sekitar tahun 1965-an di Stasiun ini pernah sebagai tempat penukaran kayu Glugu (Kelapa) dan Pohong (Ketela) dari Jawa Barat dengan Genteng Sokka. Selain itu juga pernah terjadi penukaran Glugur (Diluar negeri sebagai makanan kuda) dari Cilacap dengan Genteng Sokka untuk memenuhi kebutuhan makanan masyarakat sekitar[34].
Dalam hal pendistrisbusian genteng sokka sendiri saat ini tidak hanya digunakan disekitar kebumen tetapi juga sudah sampai daerah daerah lain yang juga sudah mengenal genteng sokka itu sendiri. Industri genteng yang terkenal adalah genteng Sokka yang terletak di wilayah Kecamatan Pejagoan yang sudah eksis sejak zaman Belanda. Pada abad ke-19, Orang Belanda memakai genteng Sokka untuk atap semua stasiun kereta api di Pulau Jawa karena genteng Sokka terkenal kualitasnya. Genteng Sokka dikenal kuat, berbahan tanah liat yang spesifik. Kekayaan tanah liat berkualitas tinggi dari daerah Kebumen memberi peluang yang sangat besar bagi keberadaan industri genteng karena menyuplai bahan baku pembuatan genteng. Pemasaran produk kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen sudah sampai ke luar kota dan luar propinsi seperti Kota Tasikmalaya, Kota Ciamis, Banjarsari, Kota Surakarta, Kota Semarang, Kediri, dan sebagian wilayah Yogyakarta. Pengankutan menggunakan Kereta Api dirasa cukup efektif saat itu karena belum banyak kendaraan seperti Truk dan Pick up seperti sekarang[35].
Tranportasi pengiriman Genteng Sokka itu sendiri zaman dulu memang menggunakan Kereta Api seperti diketahui bahwa letak Pabrik Sokka pertama kali di dekat Stasiun Sokka, jadi bisa dibilang saat itu penggunaan Kereta Api sebagai alat pengangkut sangat maksimal sekali. Selain itu juga Stasiun Sokka adalah merupakan salah satu Stasiun tertua di Indonesia. Kereta api selain menunjang transportasi juga karena jarak yang jauh bisa ditempuh dengan sangat singkat dan bisa membawa dengan jumlah yang besar. Kerata api berkembang disekitar Sokka pada tragedi G30S atau sebelum tahun 70 an. Artiannya adalah pada masa sebelum itu banyak Pengusaha Sokka masih menggunakan media Kereta Api sebagai alat untuk pendistribusian Genteng Sokka keberbagai daerah. Tetapi seiring pesatnya kendaraan darat yang lebih mudah dan praktis seperti Truk, maka para Konsumen pun memilik Truk karena dirasa bisa sampai ditujuan langsung atau bisa dibilang sampai depan rumah dan berbeda dengan kereta api[36].
Fungsi stasiun sekarang hanya sebagai pengatur palang pintu dan pengatur jalan saja karena jalur tersebut merupakan jalur tunggal, jadi jika ada kereta yang akan lewat di jalur tersebut harus lapor dulu ke penjaga (operator) di stasiun tersebut. Untuk fungsi gudang di stasiun, sampai sekarang fungsinya masih sama. Dalam gudang tersebut berisi alat-alat atau onderdil kereta api. Untuk timbangan kereta disamping rel, sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Dahul sebelum kereta akan berangkat mengangkut barang, gerbongnya di timbang terlebih dahulu. Berat dari gerbong itu sendiri sebelum diberi muatan adalah 6 ton, sedangkan saat diberi muatan maksimal hanya boleh 10 ton saja. Dan yang menakjubkan dari timbangan manuaal itu dalah saat menimbang hanya dilakukan oleh satu orang saja yang memutar timbangan manual tersebut[37].
Kesuksesan yang diraih oleh para pengusaha sokka ternyata tidak diimbangi dengan kesuksesan lingkungannya. Semakin banyak berdirinnhya Pabrik disekitar Kedawung menyebabkan banyak cerita yang negatif, seperti kita ketahui bahwa bahan utam dari pembuatan genteng sokka adalah tanah. Tanah tanah disekitar Sokka sendiri sudah mulai habis digunakan untuk membuat genteng, penggunaan tanah oleh para penggusaha di Sokka juga menuai kritikan dari berbagai warga sekitar Sokka karena mereka pada umumnya melakukkan pengalian liar di Sungai. Dan pengalian liar itu telah banyak merugikan warga sekitarnya dengan longsornya rumah warga kesungai. Tetapi tidak jarang warga yang menjual tanah sawahnya untuk dijadikan Genteng, dan hal ini juga menjadi masalah karena jika tanah sawah diambil maka jika ditanami Padi menyebabkan tidak subur dan hidup. Dan pengalian yang dilakukkan di sekitar pekarangan menyebabkan cekungan yang dalam dan berbahaya untuk kesehatan karena bisa menjadi sarang nyamuk. Pengalian tanah sempat mendapat perlawanan masyarakat disekitar sungai karena mereka khawatir jika rumah meraka akan longsor dan masuk kedalam jurang. Maka dari itu kesuksesan suatu harus diimbangi dengan kesuksesan yang akan datang juga[38].

5.      Nilai Historis, Sosial, Ekonomi dan Pendidikan Bagi Masyarakat
a.      Nilai Historis
Pabrik genteng sokka beridiri sekitar tahun 1920 memliki nilai sejarah yang cukup tinggi, karena pabrik ini menjadi salah satu komoditi utama sebagai atap dari semua gedung-gedung penting seperti gedung pemerintahan, gedung kantor pos dan lain- lain pada masa kolonial. Sehingga produksi genteng sokka ini didistribusikan sampai ke daerah Priangan Jawa Barat, Semarang Jawa Tengah dan kota-kota lain di pulau jawa. Pada jaman kedatangan Jepang, peran dari genteng sokka ini tidak banyak berubah yakni sebagai bahan bangunan. Namun perkembangan pada masa jepang mengalami penurunan produksi dikarenakan kurang perhatiannya perintahan pada masa jepang terhadap perkembangan pabrik genteng sokka itu sendiri. Pada zaman kemerdekaan peran dari pabrik sokka terhadap masyarakat semakin  menurun dikarenakan banyak bangunan yang sudah sedikit lagi menggunakan genteng sokka ini.
b.      Nilai Sosial
Nilai Sosial yang dapat kita ambil dari adanya Pabrik Genteng Sokka ini adalah majunya alat-alat rumah rumah tangga masyarakat Kedawung khususnya pada bagian atap rumah mereka yaitu yang dulunya dari daun rumbia beralih menggunakan genteng. Selain itu adanya Pabrik Genteng Sokka juga berhasil menekan angka pengangguran di Desa Kedawung dengan banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai karyawan pabrik ataupun kuli yang mengangkut genteng dari gerobak ke gerbong kereta.
Pabrik Genteng Sokka juga mempengaruhi munculnya dan berkembangnya home industri pabrik-pabrik genteng khususnya di Kecamatan Pejagoan. Namun seiring berkembangnya zaman, penggalian tanah yang dilakukan terus-menerus oleh pabrik genteng juga membuat masalah baru, yaitu mengurangi kesuburan tanah sawah dan juga menyebabkan tanah longsor bagi penggalian di pinggir kali.
  
c.       Nilai Ekonomi
Dari segi ekonomi, adanya Pabrik Genteng Sokka ini sangat membantu masyarakat sekitar khususnya bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Bekerja sebagai karyawan pabrik merupakan mata pencaharian utama bagi beberapa masyarakat Kedawung maupun dari luar kecamatan.
Hal lain dari adanya pabrik ini adalah banyaknya masyarakat sekitar yang berjualan (warung) disekitar Stasiun Sokka. Kebanyakan pembelinya adalah para kuli yang menaik-turunkan genteng ke gerbong kereta. Kondisi seperti ini tentu saja sangat membantu perekonomian masyarakat sekitar terbukti dengan banyaknya warung-warung yang ada disekitarnya.

d.      Nilai Pendidikan
Dalam segi pendidikan, adanya Pabrik Genteng Sokka dapat dijadikan pembelajaran bagi para akdemisi maupun masyarakat dalam adanya suatu bangunan bersejarah yang telah ada sejak zaman Belanda yang ada disekitar tempat tinggal mereka. Selain itu Pabrik Genteng Sokka juga dapat dijadikan sebagai pembelajaran misalnya bagaimana genteng yang diproduksi oleh Pabrik Genteng Sokka baik dari segi model, merk genteng Sokka itu sendiri, serta dapat membedakan genteng yang berkualitas baik yang berasal dari Kedawung. Tentu hal itu berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan zaman.
Selain itu Pabrik Genteng Sokka dalam segi pendidikan  dapat dijadikan suatu media pembelajaran yakunjng dimana suatu lembaga pendidikan dapat datang berkunjung ke Parik Genteng Sokka jika dapat menunjang pembelajaran.





BAB III
PABRIK SOKKA SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA
A.    Pengertian Cagar Budaya
Cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya perlindungan, pengembangan, danpemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran.
Benda cagar budaya tidak hanya penting bagi disiplin ilmu arkeologi, tetapi terdapat berbagai disiplin yang dapat melakukan analisis terhadapnya. Antropologi misalnya dapat melihat kaitan antara benda cagar budaya dengan kebudayaan sekarang. Benda Cagar Budaya adalah benda alam atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
B.     Ketentuan Benda Cagar Budaya dalam UU No 11 Tahun 2010
1.      Pasal 1 dalam Bab I tentang ketentuan umum
·         Cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan bersifat benda cagar budaya, Bangunan Cagar Budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya didarat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.
·         Benda cagar budaya adalah benda alam atau benda bauatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
·         Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatanmanusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.
·         Kepemilikan adalah hak terkuat dan terpenuh terhadap cagar budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan kewajiban untuk melestarikannya.
·         Penguasaan adalah pemberian wewenang dari pemilik kepada pemerintah, pemerintah daerah, atau setiap orang untuk mengelola cagar budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan kewajiban untuk melestarikannya.
·         Dikuasai oleh negara adalah kewenangan tertinggi yang dimiliki oleh Negara dalam menyelenggarakan peraturan perbuatan hokum berkenaan dengan pelestarian cagar budaya.
·         Pendaftaran adalah upaya pencatatan benda, bangunan, struktur, lokasi, dan atau satuan ruang geografis untuk diusulkan sebgai cagar budaya kepada pemerintah kabupaten/ kota atau perwakilan Indonesia di luar negeri dan selanjutnya dimasukkan dalam register nasional cagar budaya.
·         Regiter nasional cagar budaya adalah daftar resmi kekayaan budaya bangsa berupa cagar budaya yang berada di dalam dan di luar negeri.
C.    Karakteristik Benda Cagar Budaya
1.      Pasal 5 dalam Bab III tentang kriteria Benda atau Bangunan Cagar Budaya.
Benda bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai benda cagar buadaya, bangunan cagar budaya, atau strukutur cagar budaya apabila memenuhi kriteria :
a.       Berusia minimal 50 tahun atau lebih.
Pabrik Genteng Sokka berdiri sejak 1920 sejak zaman Belanda yang dimana salah satu syarat benda dapat dijadikan Benda Cagar Budaya jika sudah berusia minimal 50 tahun  dalam hal ini Pabrik Genteng Sokka sudah berusia lebih dari 50 tahun.
b.      Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan.
Dalam pasal ini benda dapat dikatakan sebagai Benda Cagar Budaya jika memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahan, pendidikan, agama maupun kebudayaan seperti yang telah dijelas di atas.
c.       Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Disebutkan jika suatu benda atau bangunan dapat dijadikan benda atau bangunan jika memiliki  penguatan  kepribadian bangsa dalam hal ini Pabrik Genteng Sokka dapat mewakili bagaimana industri genteng yang dikelola oleh pribumi yang sudah ada  sejak Belanda ada di Indonesia dan Pabrik Genteng Sokka dapat bertahan selama perang kemerdekaan hingga saat ini masih bertahan hingga saat ini.
2.      Pasal 7
Bangunan cagar budaya dapat :
a.       Berunsur  banyak
Pabrik Genteng Sokka merupakan bangunan-bangunan pembuatan genteng yang ada di Desa Kedawung yang luas wilayahnya hampir 2 hektar yang terdiri dari bangunan cerobong, bangunan kantor administrasi genteng Sokka, bangunan untuk menjemur genteng.
b.      Berdiri bebas dengan formasi alam



D.    Penguasaan Benda Cagar Budaya
1.      Pasal 12 dalam Bab IV tentang pemilikan dan penguasaan
a.       Setiap orang dapat memiliki dan atau menguasai Benda cagra budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya dan atau situs cagar budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang ini.
b.      Setiap orang dapat memiliki dan atau menguasai cagar budaya apabila jumlah benda dan jenis benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya dan aau situs cagar budaya tersebut telah memenuhi kebutuan negara.
c.       Kepemilikan sebagai mana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat diperoleh melalui pewarisan, hibah, tukar-menukar, hadiah, pembelian dan atau putusan atau penetapn pengdilan, kecuali yang dikuasi oleh Negara.
d.      Pemilik benda cagar budaya bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya , dan atau situs cagar budaya yang tidak ada ahli warisnya atau tidak menyerahkannya kepada orang lain berdasarkan wasiat, hibah , atau hadiah setelah pemilikny meninggal, kepemilikannya diambil alih oleh negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
E.     Alasan Layaknya Pabrik Sokka Sebagai Benda Cagar Budaya
Genteng sokka merupakan ciri khas dari daerah kebumen, dimana kualitas dari genteng tersebut sudah terkenal sejak zaman dahulu. Di daerah ini pula pabrik genteng pertama berdiri, yaitu pabrik genteng AB Sokka, sebuah pabrik yang berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Lebih tepatnya pada awal abad 20. Gedung yang berdiri sejak masa kolonial Belanda itu terletak di dukuh Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, atau beberapa meter saja dari Stasiun Sokka, sebuah stasiun yang pada zaman dahulu juga ikut berperan penting dalam pendistribusian genteng dari pabrik sokka ke luar kota, bahkan luar Jawa Tengah.
Secara historis, nilai bangunan Pabrik Sokka tersebut sungguh tidak tergantikan. Hal itu dimungkinkan sebab bangunan ini merupakan sebuah bukti kejayaan Kota Kebumen pada masa lalu dalam bidang social dan ekonomi. Seperti dikatakan oleh pak karyono (tokoh masyarakat setempat), dari segi social banyak masyarakatnya yang awalnya bekerja sebagai buruh tani akhirnya bekerja di pabrik, tidak semua orang bisa bekerja di pabrik genteng tersebut, sehingga status bekerja di pabrik jauh lebih baik daripada bekerja sebagai buruh tani, tidak hanya itu saja tetapi dari sisi ekonomi pabrik sokka juga sangat mempengaruhi perekonomian di sekitar pabrik, dan mengubah wilayah sokka sebagai wilayah perindustrian genteng yang termashur. Bangunan yang dibuat pada zaman kolonial Belanda tersebut juga masih terlihat kokoh, bahkan sebagian bangunannya masih ada yang digunakan untuk pembuatan genteng Sokka. Sedangkan sisanya banyak yang sudah lumayan kumuh karena tidak terawatt dan ada pula yang sengaja dihancurkan karena sudah tidak dibutuhkan. Sementara secara estetis, bangunan Pabrik tersebut tergolong unik sebab dibangun dengan memadukan arsitektur Eropa dan tropis, yaitu gaya bangunan sentuhan Belanda dan Indonesia. Cerobong asap pada bagian atas tungku pembakaran genteng mengadopsi dari gaya arsitektur eropa dengan cerobong yang menjulang tinggi ke atas, sebuah arsitektur yang sangat langka kita jumpai pada pabrik – pabrik genteng di zaman sekarang. Jika dibiarkan, ada kemungkinan kalau pabrik sokka yang kaya akan sejarah ini bisa tergusur oleh modernisasi yang terjadi di daerah tersebut.
Sebagai sebuah pabrik genteng bersejarah dan berusia hampir satu abad, bangunan Pabrik Genteng Sokka tersebut mempunyai semua persyaratan untuk masuk ke dalam Daftar Bangunan Bersejarah yang dilindungi di kabupaten Kebumen. Atau secara yuridisnya, bangunan ini memang layak untuk tetap berdiri sebab memenuhi semua hal yang disyaratkan dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2010 bab III pasal 5 tentang cagar budaya. Tidak hanya itu, apabila gaya yang dimiliki oleh benda itu ternyata khas dan langka serta bernilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, maka benda itu juga dikategorikan sebagai Benda Cagar Budaya yang wajib dilindungi.
F.     Harapan Penelitian
Berdasarkan peraturan Undang-Undang dalam uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pabrik Genteng Sokka dapat dijadikan sebagai Benda Cagar Budaya dikarenakan sudah memenuhi syarat dan karakteristik dalam peraturan pemerintah yang tercantum dalam Undang-Undang No.11 Tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya.
Pabrik Genteng Sokka memiliki peran penting dalam ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu sejarah sehingga gedung ini perlu dilindungi, dijaga, dan dilestarikan. Selain itu Pabrik Genteng Sokka dapat direkomendasikan sebagai salah satu bagian dari sejarah lokal daerah Kebumen yang bisa digunakan sebagai pengembangan bahan ajar dalam dunia pendidikan khususnya untuk sekolah-sekolah yang berada dekat dengan benda cagar budaya tersebut.
Dengan menjadikannya sebagai cagar budaya, maka pemerintah daerah bisa membuatnya sebagai monumen bagi Kota Kebumen tentang warisan sejarah maupun untuk kepentingan pendidikan. Langkah selanjutnya adalah meningkatkan edukasi masyarakat agar warga Kota Kebumen mempunyai kesadaran serta mengerti arti penting pelestarian warisan sejarah tersebut karena gedung bersejarah seperti Pabrik Sokka sangatlah mempunyai nilai sejarah yang tinggi, Hal tersebut senada dengan kutipan dari bapak Taviv Kurniadi Mustafa. Dia mengatakan, pada dasarnya setiap bangunan itu merupakan warisan dari para arsitek dulu. Selain itu, keberadaan bangunan tua juga memberikan sumbangan yang besar terhadap kebudayaan kota tempat bangunan tersebut berdiri. Atas dasar tersebut, maka setiap arsitek yang profesional harus selalu memperhatikan kondisi bangunan yang akan mereka rancang.
Pabrik Genteng Sokka sangatlah layak apabila akan dijadikan sebagai benda cagar budaya, apalagi jika digabungkan dengan Stasiun Sokka yang pendiriannya hampir bersamaan dengan berdirinya pabrik genteng sokka. Ada alur sejarah yang tak bisa dipisahkan apabila bicara tentang pabrik genteng sokka dan stasiun sokka yang sudah beroprasi sejak zaman colonial Belanda. Sudah saatnya bagi pemerintah kebumen untuk mengesahkan Pabrik Sokka sebagai benda cagar budaya, potensi sebagai tempat wisata pendidikan juga sangat besar seperti halnya Benteng Van Der Vijk yang ada di Gombong Kebumen. Tapi dalam hal ini hak milik dan aktivitas didalam pabrik genteng Sokka tetap menjadi hak milik dari Abu Ngamar sebagai pemilik sah dari pabrik tersebut. Dengan demikian harapan penelitian adalah bahwa Pabrik Genteng Sokka dapat di jadikan sebagai beda cagar budaya yang dilindungi oleh pemerinth kota Kebumen.













BAB IV
PENUTUP
A.    Simpulan
            Benda atau bangunan cagar budaya merupakan aset negara yang perlu di lestarikan keberadaannya. Pabrik Genteng Sokka merupakan pabrik genteng peninggalan zaman kolonial Hindia Belanda yang ada dipertigaan Pejagoan dan Kedawung. Pabrik ini didirikan tahun 1920-an dan memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat kedawung. Dengan adanya Pabrik Genteng Sokka dapat membantu perekonominan serta menciptakan lapangan pekerjaan baru di Desa Kedawung. Sehingga berdampak pula pada aspek sosial masyarakatnya yang mayoritas berkerja di Industri Genteng baik sebagai pemilik pabrik maupun karyawan.
            Letak Pabrik Genteng Sokka berdekatan dengan Stasiun Sokka. Stasiun Sokka ini memiliki hubungan yang saling menguntungkan dengan Pabrik genteng sokka. Dimana produksi genteng dari pabrik diangkut dengan kereta api untuk didistribusikan ke para pemesan melalui Stasiun Sokka. Hal ini berpengaruh terhadap aktivitas stasiun sokka. Namun, Stasiun Sokka ini mulai berhenti beroperasi  semenjak terjadinya modernisasi di bidang transportasi tepatnya di tahun 1980 an. Karena sejak saat itu intensitas pendistribusian genteng-genteng Sokka berkurang karena tidak lagi menggunakan kereta api melainkan menggunakan truk.

B.     Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas peneliti merekomendasikan saran-saran sebagai berikut:
a.       Pemerintah/ lembaga
         Dengan adanya penelitian ini diharapkan pihak-pihak yang berwenang mampu menjadikan Pabrik Genteng Sokka sebagai Bangunan Cagar Budaya dan mengajak masyarakat untuk melestarikan bangunan sejarah demi menjaga kekayaan bangsa.
b.      Pelajar/Mahasiswa
         Sebagai generasi penerus bangsa mampu membantu pemerintah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat akan pentingnya melestarikan benda/bangunan bersejarah termasuk Pabrik Genteng Sokka.
c.       Masyarakat
         Ikut Serta membantu pemerintah dalam menjaga dan melestarikan bangunan bersejarah.

DAFTAR PUSTAKA

Wibowo,Supriyanto.2013. Bentuk Kegiatan Ekonomi  Masyarakat Dalam Pemanfaatan Blumbang Di dukuh Penambangan Desa Kedawung Kabupaten Kebumen. Skripsi Universitas Negeri Semarang.
Yuliana, A. E.2013. Strategi Pengembangan Industri Kecil Kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I prof. Dr. Rusdarti, M.Si. II Shanty Oktavilia, S.E., M.Si.
Notosusanto, Nugroho dan marwati Djoened Poesponegoro.2008. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.
Wawancara dengan Bapak Abu Achmar sebagai generasi penerus pabrik ke-4 pada 5 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak Rafi Ananda sebagai Budayawan Kebumen pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak Karyono sebagai mantan Kadus wilayah 3 Desa Kedawung pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak Darus sebagai mantan Kepala Desa Muktisari dan pemilik usaha genteng  Sokka pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak Mugi sebagai masyarakat Desa Kedawung pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Ibu Noor Maryam sebagai masyarakat Desa Muktisari pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Ibu Khotimah sebagai masyarakat Desa Muktisari pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Ibu Saminah dan Ibu Sukohati sebagai pekerja di pabrik genteng milik Bapak Darus pada 6 Desember.
Wawancara dengan Bapak Sugiman sebagai anak dari mandor dan pekerja malam di pabrik Genteng Sokka pada 5 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak Bani pemilik pabrik genteng UD. Margo Harjo (MH) pada 6 Desember 2014.






[1] Wawancara Bapak Karyono, sebagai mantan Kadus III , 6 Desember 2014
[2] Wawancara Bapak Darus, sebagai pemilik Pabrik Genteng di Desa Muktisari, 6 Desember 2014
[3] Gandahusda S,Ilahude HHD, Pribadi W.Paeasitologi Kedokteran edisi revisi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 200: 7-34
[4] Pes adalah penyakit infeksi pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis ditularkan oleh tikus melalui perantara kutu.
[5]  Dilaporkan oleh wartawan Supriyanto melalui Suara Merdeka (edisi 10 Mei 2010)
[6]  Wawancara dengan Bapak Bani sebagai pemilik UD. Margo Harjo (MH), 6 Desember 2014
[7]  Wawancara dengan Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5 Desember 2014
[8]  Tobong adalah tempat pembakaran atau disebut juga tungku pembakaran genteng
[9] Wawancara dengan Bapak Karyono pada tanggal 5 desember 2014
[10] Bapak Karyono. ibid
[11] Wawancara dengan Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5 Desember 2014
[12] Wawancara Bapak Ojim sebagai Mandor Pabrik Genteng Sokka)
[13] Wawancara Bapak Sugiman (Anak mandor dan Penjaga malam Pabrik AB Sokka jaman Jepang
[14] Wawancara Bapak Wawancara Bapak Ojim ( Mandor Pabrik Genteng Sokka)
[15] Supriyanto Wibowo, 2013, Bentuk Kegiatan Ekonomi Masyarakat dalam memanfaatkan Blumbang Di Dukuh Penambangan di Desa Kedawung: Universitas Negeri Semarang hlm 4
[16]  Supriyanto WIbowo, ibid hlm 2
[17] Wawancara Noor Maryam
[18] Supriyanto Wibowo, ibid hlm 14
[19] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nogroho Notosusanto, 1974, Sejarah Nasional Indonesia VI,: Balai Pustaka. Hlm 332
[20] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nogroho Notosusanto. Ibid. , hlm 431
[21] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nogroho Notosusanto. Ibid. , hlm 565
[22] Wawancara dengan Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5 Desember 2014
[23] Wawancara Bapak Karyono sebagai mantan Kadus III, 5 Desember 2014
[24] Wawancara dengan Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5 Desember 2014
[25] Ibid
[26] Ibid
[27] Wawancara Ibu Noor Maryam 6 Desember 2014
[28] Wawancara Bapak Karyono sebagai mantan Kadus III, 5 Desember 2014
[29] Wawancara Bapak Bani pemilik pabrik genteng Margo Harjo (MH), 6 Desember 2014
[30] Ibid
[31] Wawancara Ibu Khotimah, 6 Desember 2014
[32] Ibid
[33] Wawancara Bapak Karyono sebagai mantan Kadus III, 5 Desember 2014
[34] Ibid
[35] Kurniawan, Arif. 2011. “Penurunan Industri Kerajinan Genteng di Kecamatan
Pejagoan Kabupaten Kebumen”. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia.
[36] Wawancara dengan Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5 Desember 2014
[37] Wawancara Bapak Karyono sebagai mantan Kadus III, 5 Desember 2014
[38] Wawancara dengan ibu khotimah pada 6 desember 2014

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...