Sejarah Genteng Sokka Kebumen.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kabupaten daerah
tingkat II Kebumen terletak antara 70 – 80 LS dan 1090
– 1100 BT merupakan salah satu wilayah yang besar dan luas di
provinsi daerah tingkat I. Secara administratif kabupaten daerah tingkat II
Kebumen dibagi menjadi 6 wilayah pembantu bupati, 22 wilayah kecamatan dan 460
desa atau kelurahan.
Daerah ini sebelah
barat berbatasan dengan kabupaten daerah tingkat II Cilacacap, timur Dati II
Purworejo, utara kabupaten Dati II Wonosobo, serta sebelah selatan dibatasi
oleh samudera Indonesia. Luas wilayah Kabupaten Dati II Kebumen adalah
128.111,50 Ha/1.281,115 km2. Yang terdiri dari daerah pegunungan
disebelah utara, daerah dataran dibagian tengah dan pantai disebelah selatan.
Kedawung adalah desa di kecamatan Pejagoan, Kebumen, Jawa
Tengah, Indonesia. Desa penghasil genteng Sokka yang terkenal
di seluruh negeri Indonesia, tanah liat yang berkualitas tinggi menjadikan desa
tersebut penghasil genteng tersohor. Pada industri genteng, tanah dijadikan
bahan baku utama dalam kegiatan produksinya. Industri genteng merupakan salah
satu industri yang bergerak dalam sektor ekonomi informal di desa Kedawung.
Kebumen sebagaimana kabupaten dari desa Kedawung merupakan salah satu kabupaten
di Jawa Tengah yang banyak terdapat sentral industri genteng. Letak geografis
Kebumen yang dialiri Sungai Luk Ulo menjadikan daerah ini kaya akan tanah liat
yang cocok sekali untuk bahan baku pembuatan genteng. Ada beberapa kecamatan di
Kebumen yang merupakan sentral industri genteng, baik industri genteng yang
sudah memakai bantuan mesin dalam proses produksinya maupun industri genteng
yang manual. Sampai saat ini, industri genteng menyebar terdiri dari beberapa
wilayah kecamatan, diantaranya Kecamatan Sruweng, Kecamatan Adimulyo, Kecamatan
Pejagoan, dan Kecamatan Kutowinangun.
Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen. Sebagian besar
masyarakatnya bermata pencaharian di sektor kerajinan genteng bermerek “Sokka”.
Desa yang sekelilingnya terdapat banyak lahan pertanian dan langsung berbatasan
dengan daerah aliran sungai Luk Ulo memang cocok sekali untuk mendirikan usaha
pembuatan genteng. Adanya lahan pertanian dan daerah di sepanjang aliran sungai
yang ada telah menyediakan tanah liat sebagai bahan baku utama untuk pembuatan
genteng. Keberlangsungan industri genteng di desa ini sangat tergantung pada
lahan atau tanah yang ada. Industri genteng ini telah mampu menggerakkan roda
perekonomian setempat sehingga dapat menekan angka pengangguran di daerah
tersebut. Dari yang semula hanya bekerja sebagai petani maka setelah adanya
pabrik genteng mereka beralih profesi menjadi buruh pabrik genteng walaupun
mereka juga tidak meninggalkan pekerjaan mereka sebagai petani[1].
Pabrik genteng Sokka ini telah menekan angka cukup signifikan di dalam
masyarakat Kedawung, apalagi pabrik genteng ini juga memperkerjakan kaum
perempuan dalam mengolah tanah liat menjadi genteng sehingga dapat menambah
pemasukan keuangan dalam keluarga[2].
Sehingga keluarga-keluarga masyarakat Desa Kedawung mengalami peningkatan taraf
kehidupan yang diukur dari tingginya tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat
Kedawung. Pendidikan masyarakat juga mengalami peningkatan serta status mereka
dalam masyarakat juga mengalami kenaikan.
Alasan mengapa peneliti mengangkat tema ini untuk dijadikan sebagai
rujukan benda atau bangunan cagar budaya adalah bahwa bangunan ini telah
memiliki syarat untuk dijadikan bangunan cagar budaya yakni usia bangunan telah
lebih dari 50 tahun. Selain itu perlu diketahui bahwa pengaruh Pabrik Genteng
Sokka ini sangat kompleks terhadap masyarakat sekitar. Kemudian pengangkatan
tema ini juga diperuntukan untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Konservasi
Kesejarahn. Dimana Konsevasi Kesejarahan merupakan upaya
untuk merawat, menjaga dan menjadikan sebuah benda atau bangunan cagar budaya
agar dapat hidup, terawat dan memberi manfaat untuk penduduk atau masyarakat disekitar benda
tersebut berada. Upaya ini dilakukan mengingat banyak masyarakat yang tidak
mengetahui atau memahami tentang nilai sejarah dan nilai ekonomi yang dikandung
sebuah Benda atau Bangunan Cagar Budaya. Dengan Konservasi Kesejarahan
diharapkan mampu merawat dan menjaga setiap Benda Cagar Budaya dan
memanfaatkanya untuk kajian teoritis bagi pengembangan keilmuan maupun kajian
praktis untuk meningkatkan kehidupan ekonomi disekitar benda tersebut berada.
Cagar Budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting, artinya bagi
pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga
perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan
Kepentingan Nasional (Undang-undang nomor 11 Tahun 2010 tentang Benda Cagar
Budaya. Bertolak dari penjelasan
diatas maka telah dilakukan penelitian dengan judul “ PENGARUH PABRIK GENTENG
SOKKA TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA KEDAWUNG DARI TAHUN
1948-1980”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam
penelitian ini adalah :
1.
Bagaimana sejarah
Pabrik Genteng Sokka?
2.
Bagaimana peranan
Pabrik Genteng Sokka dalam mempengaruhi
kehidupan sosial ekonomi masyarakat
Desa Kedawung?
3.
Apakah Pabrik Genteng
Sokka dapat di klarifikasikan sebagai Benda Cagar
Budaya?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka dapat dirumuskan tujuan dari penelitian ini antara
lain :
1.
Untuk menjelaskan
sejarah berdirinya Pabrik Genting Sokka dan perkembangannya seiring dengan
perkembangan zaman.
2.
Untuk menjelaskan peranan
Pabrik Genteng Sokka dalam kehidupan sosial-ekonomi khususnya masyarakat Desa
Kedawung.
3.
Untuk menjelaskan
Pabrik Genteng Sokka dapat dijadikan Benda Cagar Budaya, serta menanamkan nilai
sikap peduli mengenai pentingnya bangunnya bersejarah Pabrik Genteng Sokka.
D.
Manfaat
Penelitian
1. Manfaat
Teoritis
Dapat
mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan pada era pasca kemerdekaan di Indonesia khususnya di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan Kabupaten
Kebumen hingga Orde Baru dengan melihat sejarah
yang terjadi didalam Pabrik Genteng
Sokka dan pengaruh
dalam kehidupan masyarakat disekitar Pabrik Genteng Sokka,
sehingga dapat
merekonstruksi sejarah sekitar pabrik genteng
Sokka yang sifatnya humanis dan egalitan yang
berhubungan dengan masa kejayaan
Pabrik Genteng Sokka.
2. Manfaat
Praktis
a. Bagi
Peneliti
Mengembangkan
pengetahuan tentang bangunan dan benda bersejarah hingga mampu merawatnya dan
menjadikanya sebagai benda atau bangunan Cagar
Budaya yang dilindungi
oleh undang-undang.
b. Bagi
Pembaca
Dapat
meningkatkan pengetahuan tentang peristiwa yang telah terjadi
di Bangunan Pabrik Genteng Sokka tersebut sehingga
menumbuhkan semangat Nasionalisme
dan dapat memnghargai bangunan
tersebut dan dapat memanfaatkanya seobtimal mungkin.
c. Bagi
Masyarakat
Dapat
menumbuhkan sikap konservatif terhadap bangunan atau Benda Cagar Budaya di lingkungan
mereka sehingga mereka dapat merawat dan memenfaatkanya sehingga kawasan
tersebut dapat menjadi desa wisata sejarah.
d. Bagi
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen
Dapat
menjadi acuan data atau referensi yang tepat untuk menetapkan Pabrik Genteng Sokka
ini menjadi Bangunan
Cagar Budaya.
E.
Metode
Penelitian
1. Wawancara
Wawancara
adalah metode pengumpulan
informasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lisan kepada narasumber yaitu
orang yang mengetahui atau ahli
dalam bidang tertentu. Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara kepada :
a) Bapak Abu Achmar yang menjadi
narasumber pertama, beliau sebagai
generasi penerus pabrik ke-4.
b) Bapak Rafi Ananda sebagai narasumber kedua merupakan
Budayawan Kebumen.
c) Bapak Karyono sebagai narasumber ketiga dalam penelitian, beliau memahami sejarah pabrik sokka dan beliau merupakan mantan kadus
wilayah III Desa Kedawung.
d) Bapak Darus sebagai narasumber keempat dalam penelitian, beliau mantan kepala Desa Muktisari dan beliau merupakan seorang
pemilik usaha genteng Sokka kategori
pemilik Pabrik Genteng saat ini.
e) Bapak Mugi, Ibu Noor Maryam dan Ibu Khotimah sebagai masyarakat
sekitar Pabrik Sokka.
f) Ibu Saminah dan Ibu Sukohati sebagai pekerja atau buruh
pabrik Sokka
g) Bapak Sugiman sebagai anak dari mador dan pekerja malam
di Pabrik Genteng Sokka.
h) Bapak Bani sebagai Pemilik Genteng UD. Margo Harjo (MH).
2. Studi
Pustaka
Studi
pustaka adalah kegiatan mengumpulkan sumber dari literature atau buku-buku yang
relevan dengan peristiwa. Dalam penelitian
ini kami melakukan studi kepustakaan untuk melengkapi
keterangan yang diberikan bapak Soenardjo
Abu Ngamar (Keturunan Abu Ngamar). Kami melakukan studi
pustaka dengan membaca buku-buku yang relevan, surat kabar, kumpulan skripsi dan kliping dari koleksi bapak
Soenardjo.
BAB
II
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
SEJARAH PABRIK GENTENG SOKKA
1.
Sejarah Awal Pabrik Genteng Sokka
Genteng Sokka merupakan
salah satu industri yang ada di Kabupaten Kebumen. Nama Genteng Sokka merupakan
sebuah trade mark untuk genteng
berkualitas baik yang diproduksi di daerah Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa
Tengah. Asal mula nama genteng dari Kebumen menggunakan merek Sokka berasal
dari kata “Sokka” yang merupakan nama daerah yang terdapat Pabrik Tebu yang
merupakan peninggalan Penjajah Hindia Belanda yang ada dipertigaan Pejagoan dan
Kedawung. Bekas Pabrik Tebu tersebut kemudian didirikan Industri Genteng dan
menjadi pusat Industri Genteng.
Pabrik Genteng Sokka
didirikan pertama kali tahun 1920 di desa Sokka (sekarang Kedawung), menurut
data yang berhasil diperoleh, genteng press
pertama di Kebumen adalah hasil pembelajaran Belanda kepada masyarakat yang
secara resmi dikelola oleh pemerintah Kolonial yang tujuannya untuk memenuhi
kebutuhan atap bangunan stasiun – stasiun dan bangunan Belanda lainnya dengan
mendatangkan mesin press dari Jerman.
Awal pemerintah kolonial Belanda melakukan penelitian untuk memetakan
daerah-daerah yang tanahnya bagus untuk dijadikan atap bangunan. Kebumen
merupakan salah satu dari sejumlah daerah yang memiliki potensi untuk dijadikan
sentra genteng. Letak geografis Kebumen yang dialiri sungai Luk Ulo menjadikan
daerah ini kaya akan tanah liat yang cocok sekali untuk bahan baku pembuatan
genteng.
Dilihat dari kajian
Edafologi atau ilmu kesuburan tanah, daerah Desa Kedawung memiliki jenis tanah
pasir yang gembur, bercampur humus dan terlindung sinar matahari langsung. Dengan
suhu optimum berkisar antara 23-250C [3].
Atas dasar pertimbangan keadaan tanah tersebut pemerintah Belanda mendirikan
sebuah Pabrik Genteng di Kebumen persisnya di Kecamatan Pejagoan. Namun saat
ini bekas pabrik tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi karena sudah didirikan
bangunan baru yakni SMP Negeri 1 Pejagoan. Pabrik yang didirikan oleh Belanda
itulah yang pertama kali berdiri di Kebumen. Namun pabrik tersebut musnah pada
masa perang kemerdekaan karena dihancurkan oleh para pejuang.
Genteng-genteng
tersebut untuk memenuhi pembangunan infrastruktur termasuk untuk dijadikan atap
pabrik gula. Bahkan di Kebumen juga terdapat dua pabrik gula, yakni di Prembun
yang bekasnya jadi Pos Polisi Prembun dan di Kebumen yang saat ini menjadi
RSUD. Pengenalan genteng sebagai atap juga dilakukan oleh tim kesehatan
Belanda. Misi kesehatan dilakukan karena saat itu terjadi wabah pes[4].
Saat itu, banyak tenaga kerja pribumi yang tidak bisa maksimal karena terserang
penyakit tersebut. Sebab utamanya adalah atap rumah menggunakan rumbia sebagai
atap rumahnya, tentu banyak mengundang hewan untuk berserang di tempat itu
seperti ular, serangga dan tikus. Maka akibatnya banyak warga yang terserang
penyakit pes. Belanda tidak tinggal
diam karena apabila warga terkena penyakit maka Belanda akan di rugikan karena
tidak bisa mempekerjakan warga sekitar. Maka Belanda mengirimkan tim kesehatan
untuk memberantas penyakit pess
tersebut yang penyebab utamanya adalah tikus[5].
Hingga saat itu pemerintah Hindia Belanda mulai berfikir dan melihat masyarakat
Desa Kedawung telah dapat membuat alat-alat rumah tangga dengan menggunakan
tanah maka didirikanlah pabrik genteng, mengingat daerah ini termasuk suatu
daerah yang mempunyai tanah yang baik.
2.
Perkembangan Pabrik Genteng Sokka
Setelah Pemerintah
Hindia Belanda mendirikan pabrik genteng di Desa Sokka (sekarang Kedawung),
orang pribumi pertama kali yang membuat kerajinan genteng di Kebumen ialah H.
Ahmad. Proses pembuatan genteng pada saat itu masih belum menggunakan mesin.
Produksi genteng H. Ahmad masih dilakukan secara manual. Disinilah cikal bakal
industri genteng di Kebumen.
Baru setelah beberapa
tahun berjalan, munculah genteng – genteng press
yang dikelola oleh swasta/pribumi yang pada saat itu terkenal beberapa merek
antara lain AB Sokka pada sekitar akhir tahun 1920. Hal ini dibuktikan dengan
genteng press yang bermerk
“TICHELWERKHEN KEBOEMEN” dan “V.I.T” yang merupakan produksi resmi pemerintah
Kolonial. Sedangkan merk “W&SON Sokka” dan “Brezole Sokka” merupakan produk
awal genteng press swasta atau
pribumi. H. Abu Ngamar salah satu anak H Ahmad (sebagai generasi penerus) yang
mengenal orang Belanda mendirikan sebuah pabrik genteng di Sokka, sekitar 200
meter dari Stasiun Sokka di Pejagoan. Atas bantuan guru Sekolah Teknik
Belanda, didatangkanlah mesin pabrik pembuat genteng dari Jerman. Karena
berkualitas baik, produknya banyak digunakan untuk atap sejumlah pabrik gula di
Jawa. Merk genteng yang legendaris itu adalah AB Sokka.
Sampai saat ini di
lokasi pabrik yang berlokasi di Dusun Sokka, yang sekarang Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan masih dapat
ditemui lima buah cerobong pembakaran genteng yang kuno yang berdiri kokoh.
Namun cerobong tersebut sudah tak lagi pakai. Pabrik genteng tersebut sekarang
disewakan kepada para bekas mandor dipabrik AB Sokka[6].
Pada masa kejayaan pengurusan dibawah pengawasan Bapak H. Abu Ngamar, pabrik
ini berhasil mendistribusikan genteng Sokka keseluruh Jawa bahkan Sumatra dan
Bali[7].
Penggunaan mesin sudah digunakan pada masa ini mesin-mesin didatangkan langsung
dari Jerman. Sehingga mampu memenuhi pesanan yang datang, banyak orang yang
mengenal genteng Sokka karena kwalitasnya yang sangat bagus, bayangkan
pembakaran genteng memakan waktu kurang lebih satu Minggu untuk mendapatkan
hasil yang baik dan api tidak mengenai genteng secara langsung namun asapnya
saja yang digunakan dalam pembakaran pembakaran itu dipertahankan pada jaman
produksi Bapak Abu Ngamar. Itulah sebabnya banyak orang mengenal genteng AB
Sokka sebagai genteng kwalitas terbaik.
Tetapi
sekarang untuk mengefisienkan waktu dan biaya pembakanran disingkat menjadi
tiga hari menggunakan tobong[8]
kreasi baru yang beda dengan tobong pada masa pembikinan jaman pertama dan
tobong pembakaran petama milik pabrik genteng Sokka sekarang tidak pernah
digunakan lagi.
Di kawasan itu pula
masih tampak deretan ruang penyimpanan genteng, termasuk dari bekas-bekas rel troli
dari dalam pabrik yang tersambung menuju Stasiun Sokka. Sekitar tahun 1940
sebagian bangunan pabrik AB Sokka hancur akibat perang. Meski cerobongnya tidak
ikut roboh, namun selama satu dasa warsa AB Sokka terguncang akibat revolusi
fisik. Usaha itu bangkit kembali setelah masa kemerdekaan. Setelah Abu Ngamar
meninggal, pengelolaan pabrik genteng dilanjutkan oleh H Ahmad Nasir. Sekitar
tahun 1950 usaha pabrik sudah dibantu oleh Perbankan yang saat itu bernama Bank
Industri Negara (BIN) kemudian beralih nama menjadi Bapindo dan saat ini
dimerger menjadi Bank Mandiri. Dalam pengiriman genteng, AB Sokka memanfaatkan
Stasiun Sokka. Untuk itulah dari dalam pabrik dibuat troli kecil hingga
bersambung dengan Stasiun Sokka.
Dalam pembakaran
genteng Sokka menggunakan bahan bakar kayu, jika diganti batu bara suhunya
terlalu panas maka genteng akan pecah, jika sudah pecah alternatif lain untuk
menutup ongkos produksi maka genteng akan digiling untuk grafer (lintasan lari) Stadion untuk fungsi peresapan dan lintasan lari.
Pada tahun 1990an distribusi genteng Sokka meliputi Jawa Tengah dan sekitarnya,
serta pada tahun 1995 sempat dikontrak pengusaha dari Jakarta dan sebagian besar
proyeknya menggunakan genteng dari Sokka.
Pabrik Genteng AB Sokka
terus mengalami peningkatan baik dari segi produksi maupun daerah distribusi
genteng Sokka yang terus meluas. Namun Puncak kejayaan genteng AB Sokka adalah
tahun 1980-2000 dimana genteng produksi AB Sokka wajib dipakai pada setiap
bangunan proyek pemerintahan Soeharto dimana pemerintah merekomendasikan
genteng Sokka untuk digunakan sebagai atap di gedung pemerintah. Misalnya pembangunan Akabri Magelang yang
saat ini bernama Akademi Militer (Akmil) atapnya menggunakan genteng Sokka. Termasuk
juga pusat perkantor di kawasan Kabayoran Baru Jakarta juga menggunakan genteng
dari Kebumen. Bahkan asrama Tentara di Solo memakai genteng AB Sokka, karena
dinilai kualitasnya yang sangat baik dan juga pemerintahan masa Orde Baru
sedang mengadakan proyek pembangunan secara besar-besaran genteng yang dipakai
mewajibkan penggunaan genteng dari Sokka.
Besarnya pengaruh AB
Sokka pada masa itu disinyalir adanya hubungan antara pemilik AB Sokka yakni
Abu Ngamar dengan pemerintahan melihat masa kejayaan AB Sokka, menjamurlah
industri genteng di Kabupaten Kebumen terutama di Desa Kedawung yang rata-rata
menggunakan nama Sokka. Pada awalnya yang mendirikan pabrik masih keluarga Abu
Ngamar.
Dengan
menjamurnya pabrik-pabrik di Desa Kedawung dan turut berkembangnya
pabrik-pabrik genteng di kota lain tetapi seiring dengan berjalannya
waktu, kualitas genteng AB Sokka saat
ini kalah dengan genteng-genteng produksi pabrik dari kota lain contohnya kalah
saing dengan pabrik genteng Jatiwangi,
padahal dulunya orang Jatiwangi belajar membuat genteng di Kebumen
tetapi saat ini karena genteng buatan Kebumen kurang berinovasi sehingga kalah
saing dengan produk genteng Jatiwangi. Saat ini pabrik genteng di Sokka dalam
posisi terhimpit, jika pabrik ditutup itu tidak mungkin dikarena banyak orang
menggantungkan pekerjaannya pada pabrik Sokka.
Kemudian
pada saat ini Pabrik Genteng AB Sokka hanya disewakan kepada pemilik modal yang
mau menyewa pabrik tersebut. Sekarang pabrik genteng Sokka hanya dijadinkan
industri sampingan dan keluarga, walaupun kepemilikanya masih dari keturunan
dari Bapak Abu Ngamar yaitu Bapak Abu Achmar, tetapi sekarang yang menyewa
pabrik tersebut bernama Bapak Osim selaku Mandor dari Pabrik AB Sokka saat ini.
B.
PERANAN
PABRIK GENTENG SOKKA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KEDAWUNG
1.
Kehidupan Masyarakat Kedawung Sebelum dan
Sesudah Adanya
Pabrik Genteng Sokka
Masyarakat Desa
Kedawung dan sekitarnya sebelum adanya Pabrik Genteng Sokka pada umumnya
menggantungkan pekerjaannya dengan bertani, mereka pada umumnya berladang dan
bercocok tanam, menanam padi di sawah, tanaman palawija, dsb. Masyarakat
sekitar ketika itu selain bertani,
bercocok tanam dan berladang juga sudah
mulai membuat kerajinan tangan dari tanah liat yaitu beruba gerabah dan
alat-alat rumah tangga lainnya, karena memang tanah di daerah tersebut
tergolong tanah yang baik maka masyarakat memanfaatkannya dengan membuat
gerabah dan alat-alat rumah tangga dari tanah liat. Seiring berjalannya waktu
ketika Pemerintah melarang atap rumah dengan menggunakan rumbia karena adanya
penyakit Pess maka masyarakat mulai
berfikir untuk membuat genteng, dan mulai muncul pembuatan-pembuatan genting
dan pabrik genteng di sekitar masyarakat[9].
Adanya pabrik genteng
berguna sekali karena membantu perekonomian dan menambah lapangan pekerjaan
bagi masyarakat sekitar dan mengurangi tingkat pengangguran. Perekrutan tenaga
kerja atau karyawan pabrik genteng tidak hanya dari warga sekitar atau tetangga
dekat tapi sampai luar kecamatan. Dalam usaha pabrik genteng setiap rumah
mempunyai merek sendiri, terkadang juga gabungan dari saudara-saudara. Nama
genteng semuanya ditulisannya Sokka meskipun pembutan genteng tidak di Desa Kedawung ( wilayah Sokka)[10].
Seiring berjalannya
waktu dalam pembuatan genteng mulai dibentuk dengan menggunakan mesin. Dengan
berdirinya Pabrik Genteng AB Sokka maka banyak diperlukan tenaga kerja dan
banyak menyerap tenaga kerja untuk diperkerjakan di pabrik genteng, dari itu
mulai bergeserlah pekerjaan masyarakat sekitar yang dulunya bertani dan membuat
alat-alat rumah tangga dengan tanah liat berganti dengan membuat genteng,
menjadi pekerja di Pabrik Genting Sokka, dan pada mulanya masyrakat bekerja di
Pabrik Genteng AB Sokka yang merupakan pabrik genteng pertama yang berdiri di Kebumen[11].
Begitu banyak orang
yang bergantung pada pabrik genteng ini. Walaupun sekarang sudah banyak
modernisasi di bidang permesinan, tetapi dulu juga sudah menggunakan alat
canggih buatan Jerman yang dalam sehari bisa memproduksi kurang lebih 2000-3000
genteng per harinya namun sekarang dikerjakan manual yang hanya bisa memproses
1000 per harinya. Pada zaman berjayanya
Pabrik Genting Sokka ini banyak menyerap tenaga kerja sehingga banyak
masyarakat yang diperkerjakan, akan tetapi para para pekerja tidak tahu pasti
kemana barang produksi genting tersebut dikirim atau di distribusikan ke
daerah-daerah, berdasarkan hasil wawancara dengan orang yang pada zaman
pendudukan jepang menjadi pekerja di pabrik genteng khususnya Pabrik AB Sokka
pada umumnya masyarakat yang menjadi pekerja hanya bertugas mempoduksi mengolah
tanah menjadi genteng di daerah sekitar Kecamatan Pejagoan tersebut khususnya
di Desa Kedawung yang dulu berdiri pabrik sokka karena konon tanah di daerah
tersebut mempunyai potensi yang sanagat baik untuk membuatan genting sehingga
mampu menghasilkan produksi genteng yang baik juga seperti yang kita ketahui
bagaimana kualitas genteng Sokka.
Pada masa lampau pabrik
genteng yang ada pada saat itu masih bisa diterapkan manajemen perusahaan
ketika masa keemasannya. Namun, sekarang tidak bisa diterapkan manajemen
perusahan dengan karyawan yang memiliki ikatan resmi dan kebanyakan masih
menggunakan home industri atau
manajemen keluarga. Dan rata- rata pabrik genteng yang sekarang itu hanya
sebagai pekerjaan sampingan. Arti sampingan disini bahwa tidak ada aturan yang
mengikat karyawan harus bekerja penuh atau tidak. Namun begitu banyak orang
yang bergantung pada pabrik genteng ini. Meskipun dulu kesulitan di bidang alat
angkut jika dibandingkan dengan sekarang yang sudah lebih banyak alat angkutnya
tidak ada syarat apapun untuk menjadi karyawan di pabrik genteng dengan sistem
upah borongan dan harian. Dimana borongan tugasnya yang membongkar genteng dari
tobong dengan ongkos tiap satu tobong itu berkisar hingga 400.000 yang
dikerjakan 4-5 orang. Sedangkan yang upah harian itu untuk proses penjemuran
50.000 per orang[12].
Saat pemerintahan
Jepang tenaga kerjanya mencapai 800 orang dan untuk pengggilingan atau mesin
presnya mencapai 23 mesin, untuk pembakaran mengunakan 6 prosting. Sebelum
bekerja para pekerja pabrik genteng AB jaman Jepang harus melakukan Taiso (olah raga) 10-15 menit. Setelah melakukan Taiso baru diperbolehkan
untuk bekerja, maksudnya agar pekerja sehat.
Para pekerja hanya mengenakan kain goni sebagai pakaian yang digunakan
dalam bekerja. Meskipun dikuasai oleh Jepang sistem tenaga kerja juga
mendapatkan gaji/ bayaran. Namun pembayaran sangat sedikit, sehigga untuk
memenuhi kebutuhan masih kurang, dan tingkat kesejahteraan para pekerja pabrik
genting tergolong masih rendah[13].
Seiring berjalannya
waktu dengan berdirinya Pabrik Genteng AB Sokka yang merupakan pabrik yeng pertama
berdiri menimbulkan inisiatif masyarakat sekitar untuk mendirikan usaha pabrik
genteng dengan dalih memanfaatkan potensi tanah yang baik untuk menunjang
kebutuhan perekonomian. Dan dewasa ini dapat dilihat di Kecamatan Pejagoan
banyak home industri yang memproduksi
genteng, bisa dikatakan di daerah tersebut hampir setiap rumah merupakan home industri membuat pabrik dan tentu
saja sampai sekarang juga masih banyak masyarakat yang bekerja sebagai pekerja
membuat genteng baik sebagai pekerjaan sampingan ataupun benar-benar bergantung
sebagai pekerja di pabrik genteng.
Sistem pembayaran atau
pengupahan tenaga kerja pabrik yaitu dengan sistem borongan dan pengupahan
harian, dimana borongan tugasnya yaitu membongkar genteng dari tobong dengan
ongkos tiap satu tobong itu berkisar hingga 400.000 yang dikerjakan 4-5 orang,
dan sistem pembagian untuk per orangan yang membongkar tobong tersebut
tergantung para pekerja sendiri yang membagi tanpa adanya campur tangan pemilik
pabrik. Sedangkan upah harian itu untuk
proses penjemuran pada umumnya upah berkisar Rp.50.000/orang. Akan tetapi pada
saat ini kesejahteraan masyarakat yang bekerja sebagai pekerja pabrik genteng
masih tergolong rendah mengingat semakin tingginya tingkat kebutuhan hidup dan
harga-harga kebutuhan.
Masyarakat sekitar
selain bekerja sebagai pekerja pabrik banyak juga masyarakat yang
bermatapencaharian sebagai pedagang, baik berdagang di pasar maupun di daerah
sekitar. Selain itu masyarakat juga banyak yang lebih memilih bekerja merantau
ke kota seperti Jakarta, menurut mereka merantau dirasa lebih baik bila
dibandingan dikampung halaman bekerja sebagai pekerja membuat genteng atau
masyarakat biasa menyebutnya dengan buruh pabrik genteng. Beberapa pemilik
pabrik genteng sokka di sekitar kecamatan Pejagoan bahwa untuk sekarang mencari
tenaga kerja yang dijadikan pekerja di pabrik genteng cukup sulit dan banyak
yang bekerja hanya sesuai kebutuhan ataupun sekedar mengisi kekosongan waktu
menunggu panggilan kerja dari kota ataupun yang lain, seperti contoh ada
pekerja yang terkadang berangkat kerja dan terkadang tidak, mereka lebih
leluasa ataupun longgar karena memang tidak ada ikatan yang pasti dari pabrik
dan tidak ada persyaratan khusus ataupun tes untuk menjadi pekerja di pabrik
genteng dalam artian asalkan ada kemauan siapa saja bisa masuk bekerja di
pabrik genteng. Masyarakat yang belum tahu bagaimana cara kerja di pabrik
genteng pada umumnya mampu bekerja hanya karena sering melihat proses pembuatan
yang akhirnya dengan sendirinya mampu bekerja dan mahir dalam proses pembuatan
genteng tersebut[14].
2.
Pengaruh Pabrik Genteng Sokka Dalam Kegiatan Ekonomi Msayarakat Kedawung
Kabupaten Kebumen merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah
yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup di bidang industri
genteng hal tersebut dikarenakan Letak Geografis Kebumen yang dialiri sungai Luk Ulo yang
dimana menyebabkan tanah di sekitarnya banyak mengandung
tanah liat yang merupakan bahan baku pembuatan genteng. Sampai
saat ini, industri genteng menyebar terdiri dari beberapa wilayah kecamatan,
diantaranya Kecamatan Sruweng, Kecamatan Adimulyo, Kecamatan Pejagoan, dan Kecamatan
Kutowinangun sebagian
besar masyarakatnya bermata pencaharian
di sektor kerajinan genteng bermerek “Sokka”. [15] Terlebih lagi Pabrik Genteng Sokka berdekatan dengan Stasiun Sokka
yang sekarang masih difungsikan sebagai penjaga palang pintu rel Kereta Api dimana pada jaman Demokasi Perlementer, Demokrasi
Terpimpin dan Orde Baru dalam hal pendistribusiannya menggunakan Kereta Api yang dikirim ke Stasiun di kota-kota besar sesuai
dengan pesanan.
Industri genteng
merupakan salah satu industri yang bergerak dalam sektor ekonomi informal.
Menurut Feige, mendefinisikan bahwa sektor informal meliputi tindakan-tindakan
aktor ekonomi yang gagal untuk mentaati aturan-aturan kelembagaan yang telah
mapan atau terabaikan dari perlindungan mereka. Munculnya sektor informal di
negara-negara sedang berkembang merupakan akibat dari ketidakmampuan sektor
formal untuk menampung antrian panjang pencari kerja[16].
Sektor ekonomi informal dicirikan dengan:
1. mudah
memasukinya dalam arti keahlian, modal, dan organisasi;
2. perusahaan
milik keluarga;
3. beroperasi
pada skala kecil;
4. intensif
tenaga kerja dalam produksi dan menggunakan teknologi sederhana;
5. pasar
yang tidak diatur dan kompetitif
Masyarakat Desa Kedawung sebagian besar mata pencahariannya
terlibat dalam kegiatan industri genteng baik sebagai pemilik maupun buruh
industri genteng. Mengenai pendapatan pengusaha genteng dan buruh genteng
tergantung pada pesanan dari pembeli. Meskipun pendapatan tergantung dari usaha
genteng, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari segi harga, Genteng Sokka mengalamai kenaikan, harga genteng disesuaikan dengan ongkos produksi,
harga distribusi dan gaji pekerja dan lain sebagainya, jika sekarang per 1000
genteng harganya 1.600.000 sampai 1.800.000 dengan harga-harga yang demikian
maka cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup terlebih jika biasanya pemesan dari Pabrik Sokka adalah pemerintah misalnya guna membangun
asrama dan sekolah.
Dengan adanya usaha genteng bisa membantu masyarakat dalam peningkatan
pendapatan dari buruh tani menjadi tenaga kerja di penambangan pasir,
peningkatan kesejahteraan bagi pemilik tanah, pengurangan angka pengangguran,
peningkatan pemasukan bagi desa, membantu perekonomian dan menambah lapangan
pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan mengurangi tingkat pengangguran.
Perekrutan tenaga kerja atau karyawan pabrik genteng tidak hanya dari warga
sekitar atau tetangga dekat tapi sampai luar kecamatan[17]. Tentu dalam segi ekonomi masyarakat banyak
menggantungkan hidupnya di industri genteng terbukti hingga kini banyak orang
yang masih bekerja di dalam industri genteng mengenai bagaimana kehidupan
ekonomi masyarakat saat ini pasti mengalami pasang surut sesuai dengan kondisi
negara pada saat itu.
Ada
pula
dampak negatif dari aspek sosial ekonomi yang dirasakan pada masyarakat
penambang yaitu kurangnya keamanan saat bekerja sehingga sering menyebabkan
kecelakaan seperti retak atau patah
tulang maupun luka-luka ringan pada kaki, tangan, mata atau gangguan
pernafasan. Dampak negatif bagi masyarakat bukan penambang adalah hilangnya
mata pencaharian utama sebagi petani pada masyarakat yang menjual tanahnya,
waktu yang dibutuhkan petani menuju ke lahan pertanian menjadi lebih lama dan
sulit dengan terputusnya jalan dan penuh dengan lubang-lubang bekas galian[18]. Dalam usaha genteng ini tentunya mendapatkan sisi
positif dan negatif misalnya jika
tanah yang digunakan untuk bahan baku pembuatan genteng menjadi
berlubang-lubang namun jika masyarakat bisa memanfaatkan kembali bekas
galiannya untuk usaha ekonomi lain misalnya tanah dengan lubang besar menganga
bisa digunakan untuk usaha pemancingan dimana usaha tersebut bisa menambah
pendapatan.
Pada Masa Perlementer atau Demokrasi Liberal pemerintah mencanangkan
program yang diproritaskan untuk membantu usaha milik pribadi dimana sesuai dengan pendapat Sumitro atau gagasan Sumitro yang
tertuang dalam program Kabinet Natsir bahwa para pengusaha Indonesia pada
umumnya bermodal lemah diberi kesemapatan untuk turu
tserta berpartisipasi
membangun ekonomi nasional[19]. Krisis moneter
melanda karena Indonesaia mengalami defisit anggaran belanja tahun 1952
ditambah sisa defisit anggaran tahun sebelumnya. Pada krisis moneter tahun ini Industri Genteng Sokka tidak mengalami imbas yang terlalu terasa
hal tersebut dikarenakan industri genteng merupakan usaha yang bergerak disektor
ekonomi informal yang telah dijelaskan diawal tidak terikat pada lembaga dan
pasarannya tidak diatur secara terperinci hingga adanya krisis moneter tahun
itu tidak memiliki dampak yang berarti untuk Masyarakat Kedawung khususnya yang memiliki usaha dibidang Genteng Sokka dan juga program-program yang dicanangkan
cukup mendukung usaha pribumi.
Pada Masa Demokrasi Terpimpin pemerintah mengadakan pengeluaran uang
rupiah baru yang nialinya ditetapkan sebesar 1000 kali uang rupiah lama dimana
nilai tukar antara uang rupiah lama dengan uang rupiah baru, bergerak antara
1:10 jadi hanya dinilai oleh umum lebih kurang 10 kali lebih tinggi daripada
uang rupiah lama bukan 1000 kali[20]. Pada masa ini pula industri Genteng Sokka tetap mengalami perkembangan yang cukup
stabil, begitu pula dengan usaha genteng Sokka yang ada di
Desa Kedawung yang
mengalami perkembangan cukup signifikan.
Pada Masa Orde Baru dalam usaha penyelamatan ekonomi Nasional mengharuskan pemerintah memprioritaskan stabilitas dan rehabilitas ekonomi.
Stabilitas yang dimaksud adalah pengendalian inflasi agar harga-harga terutama bahan
pokok tidak melonjak tajam, sedangkan rehabilitas meliputi rehabilitas fisik
prasarana, alat-alat produksi yang banyak hancur dan rehabilitas ekspor[21]. Dalam hal rehabilitas tentunya memiliki pengaruh
terhadap industri genteng ataupun Pabrik Genteng Sokka dimana Pemerintah dalam rehabilitas prasarana banyak memesan
ataupun menggunakan Genteng Sokka. Hal ini tentunya merupakan keuntungan tersendiri bagi
pengusaha genteng dapat meningkatkan pendapatan. Pada Masa ini Genteng Sokka
mengalami kejayaan dimana banyak diminati dan di pesan hingga keluar Jawa dan
Bali[22].
Genteng Sokka dalam masa ini mengalami perkembangan cukup pesat terlihat
dari banyak masyarat yang turut membuka usaha genteng melihat industry genteng
masa ini cukup menjanjikan, hal ini tentunya memiliki pengaruh ekonomi yang cukup
signifikan dimana terlihat dari pendapatan perkapita daerah Kebumen mengalami
peningkatan dan juga dengan banyaknya usaha genteng Sokka membuka lapangan
pekerjaan,
dimana dalam berkerja di dalam pabrik genteng tidak membutuhkan persyaratan
yang sulit hanya bermodalkan semangat dan ketelitian tentu akan bisa berkerja
di pabrik genteng Sokka.
Dengan adanya pesanan genteng Sokka dari pemerintah tentu dalam jumlah
yang besar membuat usaha genteng Sokka mengalami peningkatan dalam jumlah
produksi ini juga memiliki pengaruh positif bagi perekonomian masyarakat
sekitar pabrik Sokka dimana banyak warga yang memiliki usaha di dalam industry genteng baik dalam
kepemilikan, pekerja, pengepul genteng dan lain sebagainya. Biasanya pemerintah
menggunakan genteng Sokka untuk membangun sekolah, madrasah, kantor
pemerintahan dan lain sebagainya sehingga
tidak heran jika banyak dijumpai genteng Sokka di instansi milik pemerintah.
Sudah dijelaskan diatas jika Pabrik Genteng Sokka bersebelahan dengan
Stasiun Sokka dan dalam pendistribusian genteng Sokka menggunakan Kereta Api di Stasiun Sokka. Untuk pengaruh
stasiun ini dalam masyarakat sekitar sangat berpengaruh di bidang ekonomi,
masyarakat sangat terbantu karena stasiun tersebut merupakan tempat untuk
menaik-turunkan barang, baik makanan maupun bahan mentah. Selain itu juga
banyak ekonomi masyarakat sekitar yang terangkat karena penghasilan dari kuli
menaik-turunkan genteng ke gerbong kereta dan banyak masyarakat sekitar yang
berjualan di sekitar stasiun[23]. Hal ini juga memilki pengaruh untuk kehidupan
masyarakat sekitar pabrik Sokka meskipun tidak berkerja di pabrik genteng
maupun bukan pemilik usaha genteng tetapi banyak masyarakat yang mencari penghasilan lain
disekitar Stasiun Sokka seperti yang telah dijelaskan diatas.
3.
Pengaruh Pabrik Genteng Sokka Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Kedawung
Pabrik Genteng AB Sokka
yang berdiri sejak zaman Kolonial, telah merubah wajah masyarakat sekitar
khususnya dalam bidang sosial. Sejak pertama kali dibangun, pabrik AB ini telah
merubah atap-atap rumah warga yang dulunya dari daun rumbia beralih menggunakan
genteng. Dahulu di daerah sekitar sini tengah menyebar wabah penyakit Pess. Atas saran pemerintah Kolonial
yang memerintahkan agar atap warga diganti menggunakan genteng, akhirnya
pemerintah Kolonial memilih daerah Kedawung sebagai tempat pembuatan genteng
berdasarkan penelitian yang mereka lakukan. Menurut penelitian, daerah Kedawung
dipilih karena memiliki tekstur tanah yang bagus untuk dijadikan kerajinan
gerabah, khususnya genteng. Jadi disini bisa dibilang sebagai peralihan
penggunaan atap dari daun menjadi genteng, hal ini meurpakan perubahan yang
sangat besar dan maju[24].
Saat pemerintahan
Jepang tenaga kerjanya mencapai 800 orang dan untuk pengggilingan atau mesin
presnya mencapai 23 mesin, untuk pembakaran mengunakan 6 prosting. Sebelum
bekerja para pekerja pabrik genteng AB jeman jepang harus melakukan Taiso (olah raga) 10-15 menit. Setelah melakukan Taiso baru diperbolehkan
untuk bekerja, maksutnya agar pekerja sehat. Dari keterangan diatas, bisa
dikatakan saat zaman Jepang, mayoritas masyarakat sekitar bekerja sebagai
karyawan pabrik[25].
Pabrik genteng AB Sokka
ini juga sangat berpengaruh sekali salah satunya adalah menjadi lapangan
pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Dahulu pekerjaan masyarakat sekitar sini
rata-rata adalah sebagai karyawan pabrik, tidak hanya itu para karyawan yang
bekerja disini juga banyak yang berasal dari luar kecamatan. Sebelum menjadi
karyawan pabrik, mereka dulunya mayoritas bekerja sebagai petani dan pengrajin
gerabah[26].
Adanya pabrik genteng AB Sokka ini berhasil menekan tingkat pengangguran bagi
masyarakat sekitar khususnya Desa Kedawung. Bahkan produksi genteng sudah
berhasil merambah sampai keluar Kebumen, seperti ke Purworejo, Magelang, Solo,
dan Banjarnegara. Hal ini tentu mengangkat citra Kebumen sebagai daerah penghasil
genteng dengan kualitas genteng yang baik di mata masyarakat[27].
Adanya pabrik genteng
AB Sokka ini juga sangat berpengaruh terhadap keberadaan Stasiun Sokka yang
tepat berada disebelah utaranya. Tak dapat dipungkiri bahwa keberadaannya tidak
bisa dipisahkan dengan aktifitas stasiun pada zamannya. Pada sekitar tahun
65-an, banyak masyarakat yang bekerja sebagai kuli untuk menaik-turunkan
genteng ke gerbong kereta, seperti yang sempat dilakukan oleh Bapak Karyono.
Beliau bahkan sudah melakukannya sejak masih sekolah di bangku dasar. Jadi
zaman dulu banyak kuli yang mengangkut genteng dari desa-desa menggunakan
gerobak menuju ke stasiun, disitu mereka mulai menaikkan genteng-genteng
tersebut ke gerbong kereta untuk diangkut. Selain itu juga banyak masyarakat sekitar
yang berjualan warungan disekitar stasiun. Dahulu Ibu dari Bapak Karyono juga
berjualan warungan disekitar stasiun, dan beliau selalu membantu Ibunya
berjualan sehabis selesai bekerja sebagai kuli[28].
Perkembangannya, pabrik
AB Sokka ini juga mempengaruhi didirikannya pabrik-pabrik genteng di daerah
Kedawung. Hal ini tentu juga sangat berpengaruh bagi warga sakitar khususnya
semakin bertambahnya lapangan pekerjaan sebagai karyawan pabrik karena
munculnya pabrik-pabrik baru yang berkembang di Kedawung. Seperti yang disalah
satu milik pabrik warga bernama Bapak Bani dengan pabriknya yang bernama UD
Margo Harjo (MH), dulu sebelum adanya mesin hidrolik saat mesin pabriknya masih
menggunakan manual, disini terdapat 60 tenaga pekerja. Jadi bisa dikatakan adanya
pabrik genteng-genteng yang berkembang sekarang ini sangat membantu sekali
terutama buat mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Bayangkan saja, satu
pabrik genteng yang masih menggunakan alat manual saja sudah menampung sejumlah
60 karyawan. Bagaimana jika di Kedawung terdapat 10 pabrik genteng? Atau bahkan
20 pabrik genteng, tentu hal ini dapat menekan angka pengangguran di daerah
Kedawung dan sekitarnya[29].
Seiring berkembangnya
zaman, pabrik genteng milik Pak Bani juga mulai terpengaruh modernisasi, untuk
saat ini jumlah tenaga kerja di pabrik miliknya hanya sejumlah 4 karyawan saja,
ini disebabkan karena modernisasi mesin genteng yang dulunya manual menjadi
hidrolik. Tapi keberadaan pabrik-pabrik genteng yang sekarang bermunculan karena
pengaruh pabrik genteng AB Sokka ini memang tidak dapat dipungkiri bahwa
keberadaannya sangat berpengaruh sekali terhadap masyarakat sekitar terutama
dalam menambah lapangan pekerjaan bagi mereka yang masih menganggur mapun yang
beluum memiliki pekerjaan tetap[30].
Perlu dicermati juga
bahwa seiring banyaknya pabrik genteng yang berkembang di daerah Kedawung, maka
semakin banyak pula tanah yang digali atau diambil untuk membuat genteng.
Jangan sampai nantinya pengerukan tanah yang berlebihan ini akan memunculkan
masalah sosial baru seperti tanahnya yang menjadi tidak subur jika jika tanah
tersebut diambil dari sawah. Atau bencana tanah longsor jika tanah digali terus
menerus di pinggiran kali. Seperti yang dikatakan Ibu Khotimah bahwa akibat
banyaknya penggalian dipinggir kali, ada satu rumah yang terkena longsor.
Bahkan dulu sempat ada TNI yang menegur agar masyarakat jangan menggali tanah
dipinggiran kali secara berlebihan, karena itu bisa mnyebabkan tanah longsor.
Namun hal ini justru ditanggapi serius oleh para pemilik pabrik bahwa jika
seperti itu maka pabrik genteng bisa tutup karena bahan bakku utamanya berasal
dari situ. Jika salah satu ada yang tutup, maka para pemilik pabrik genteng
bahkan akan menutup pabrik mereka semua[31].
Hal ini jelas akan
menjadi masalah sosial yang sangat serius, terutama bagi para pekerja pabrik
yang terancam kehilangan pekerjaan mereka. Bayangkan jika yang tadinya bekerja
menjadi menganggur kembali, padahal jumlah pekerja disetiap pabrik rata-rata
memiliki banyak pekerja. Selain itu masalah lain yang timbul dari adanya
cekungan-cekungan bekas galian di pekarangan rumah. Cekungan bekas galian
tersebut tentu jika musim hujan akan tergenang air, dan akan menjadi sarang
nyamuk[32].
Jangan sampai Kedawung yang terkenal dengan produk gentengnya suatu hari nanti
justru akan mendapat kecaman dari masyarakat yang merasa dirugikan dengan
adanya penggalian-penggalian tadi terutama bagi masyarakat daerah bantaran
kali.
Disini juga sangat
perlu untuk instansi atau dinas-dinas terkait untuk memberi penyuluhan kepada
masyarakat khususnya Kedawung, agar dalam penggalian tanah mereka tidak secara
berlebihan tetapi tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan merawatnya.
Terutama di daerah pinggiran kali yang sangat berpotensi longsor jika musim
hujan. Jika disini kesadaran masyarakat dan kerjasama antar instansi terkait
sudah dapat dilaksanakan maka maka masalah-masalah sosial bahkan masalah
lingkungan bisa kita atasi bersama dan bisa menjadi daerah industri yang bisa
dijadikan study banding untung daerah industri lain karena keselarasannya.
4.
Pengaruh Pabrik Genteng Sokka Terhadap Stasiun Sokka
Kereta api digunakan
sebagai alat transportasi yang sangat penting dalam distribusi Genteng Sokka,
karena hanya kereta api yang pada saat itu mampu mengangkut hasil produksi
genteng berton-ton dan dengan cakupan jarak yang jauh terutama keseluruh pulau
Jawa, kemudian dari kereta api lalu didistribusikan kedaerah-daerah untuk
membangun stasiun maupun pabrik-pabrik milih Belanda.
Hubungan Pabrik Genteng
Sokka dengan Stasiun Sokka saling berkorelasi. Sebelum berbicara mengenai
keterkaitan antara keduannya maka akan dijelaskan lebih dahulu mengenai rute
Stasiun Sokka dari dulu hingga sekarang sehingga digunakan untuk mengangkut
Genteng Sokka. Jalur rel Stasiun Sokka merupakan rute utama di jalur selatan.
Jalur tersebut meliputi Jawa Barat-Kebumen-Cilacap-Surabaya. Untuk rute ke Jawa
Barat itu sendiri khususnya ke Tasik dan Bandung. Sedangkan untuk rute di
daerah sekitar Kebumen itu sendiri rute tersebut menghubungkan Kutoarjo-Kroya
dan Kutoarjo-Cilacap. Stasiun Sokka juga berhubungan dengan stasiun di
Purwokerto dan Stasiun Kebumen. Di Stasiun Kebumen yang dekat dengan Pabrik
Nabatirasa, Stasiun ini khusus untuk mengangkut minyak kelapa[33].
Jalur di Stasiun Sokka
ini merupakan Jalur Tunggal yang hanya bisa dilalui satu kereta, jadi dahulu
ketika ada kereta lain yang mau lewat di jalur tersebut, sedangkan dari arah
lain ada kereta yang mau lewat juga, maka salah satu kereta akan dialihkan
untuk berhenti di depan satsiun tersebut untuk menghindari kecelakaan, karena
di depan stasiun tersebut terdapat tiga rel di bagian paling selatan, tengah
dan sebelah utara. Untuk kedua rel yang berada di sebelah tengah dan utara,
masih asli sampai sekarang. Sedangkan yang paling selatan sudah pernah diganti
pada sekitar tahun 1980-1985-an atas bantuan dari Australia. Rel tersebut
diganti karena rel itu merupakan satu-satunya rel yang maasih aktif sampai
sekarang.
Pengaruh Pabrik Sokka
sendiri terhadap Stasiun Sokka ialah dalam hal pengankutan genteng keberbagai
daerah Pada masa ini fungsi utama Stasiun adalah untuk menaik-turunkan barang,
terutama genteng dan kayu. Namun Stasiun ini juga berfungsi untuk
menaik-turunkan penumpang. Pada sekitar
tahun 1965-an di Stasiun ini pernah sebagai tempat penukaran kayu Glugu (Kelapa) dan Pohong (Ketela) dari Jawa Barat dengan Genteng Sokka. Selain itu
juga pernah terjadi penukaran Glugur (Diluar negeri sebagai makanan kuda) dari
Cilacap dengan Genteng Sokka untuk memenuhi kebutuhan makanan masyarakat
sekitar[34].
Dalam hal pendistrisbusian genteng sokka sendiri
saat ini tidak hanya digunakan disekitar kebumen tetapi juga sudah sampai
daerah daerah lain yang juga sudah mengenal genteng sokka itu sendiri. Industri
genteng yang terkenal adalah genteng Sokka yang terletak di wilayah Kecamatan
Pejagoan yang sudah eksis sejak zaman Belanda. Pada abad ke-19, Orang Belanda
memakai genteng Sokka untuk atap semua stasiun kereta api di Pulau Jawa karena
genteng Sokka terkenal kualitasnya. Genteng Sokka dikenal kuat, berbahan tanah
liat yang spesifik. Kekayaan tanah liat berkualitas tinggi dari daerah Kebumen
memberi peluang yang sangat besar bagi keberadaan industri genteng karena
menyuplai bahan baku pembuatan genteng. Pemasaran produk kerajinan genteng di
Kabupaten Kebumen sudah sampai ke luar kota dan luar propinsi seperti Kota
Tasikmalaya, Kota Ciamis, Banjarsari, Kota Surakarta, Kota Semarang, Kediri,
dan sebagian wilayah Yogyakarta. Pengankutan menggunakan Kereta Api dirasa
cukup efektif saat itu karena belum banyak kendaraan seperti Truk dan Pick up
seperti sekarang[35].
Tranportasi pengiriman
Genteng Sokka itu sendiri zaman dulu memang menggunakan Kereta Api seperti
diketahui bahwa letak Pabrik Sokka pertama kali di dekat Stasiun Sokka, jadi
bisa dibilang saat itu penggunaan Kereta Api sebagai alat pengangkut sangat
maksimal sekali. Selain itu juga Stasiun Sokka adalah merupakan salah satu
Stasiun tertua di Indonesia. Kereta api selain menunjang transportasi juga
karena jarak yang jauh bisa ditempuh dengan sangat singkat dan bisa membawa
dengan jumlah yang besar. Kerata api berkembang disekitar Sokka pada tragedi
G30S atau sebelum tahun 70 an. Artiannya adalah pada masa sebelum itu banyak
Pengusaha Sokka masih menggunakan media Kereta Api sebagai alat untuk
pendistribusian Genteng Sokka keberbagai daerah. Tetapi seiring pesatnya
kendaraan darat yang lebih mudah dan praktis seperti Truk, maka para Konsumen
pun memilik Truk karena dirasa bisa sampai ditujuan langsung atau bisa dibilang
sampai depan rumah dan berbeda dengan kereta api[36].
Fungsi stasiun sekarang
hanya sebagai pengatur palang pintu dan pengatur jalan saja karena jalur
tersebut merupakan jalur tunggal, jadi jika ada kereta yang akan lewat di jalur
tersebut harus lapor dulu ke penjaga (operator) di stasiun tersebut. Untuk
fungsi gudang di stasiun, sampai sekarang fungsinya masih sama. Dalam gudang
tersebut berisi alat-alat atau onderdil kereta api. Untuk timbangan kereta
disamping rel, sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Dahul sebelum kereta akan
berangkat mengangkut barang, gerbongnya di timbang terlebih dahulu. Berat dari
gerbong itu sendiri sebelum diberi muatan adalah 6 ton, sedangkan saat diberi
muatan maksimal hanya boleh 10 ton saja. Dan yang menakjubkan dari timbangan
manuaal itu dalah saat menimbang hanya dilakukan oleh satu orang saja yang memutar
timbangan manual tersebut[37].
Kesuksesan yang diraih
oleh para pengusaha sokka ternyata tidak diimbangi dengan kesuksesan
lingkungannya. Semakin banyak berdirinnhya Pabrik disekitar Kedawung
menyebabkan banyak cerita yang negatif, seperti kita ketahui bahwa bahan utam
dari pembuatan genteng sokka adalah tanah. Tanah tanah disekitar Sokka sendiri
sudah mulai habis digunakan untuk membuat genteng, penggunaan tanah oleh para
penggusaha di Sokka juga menuai kritikan dari berbagai warga sekitar Sokka
karena mereka pada umumnya melakukkan pengalian liar di Sungai. Dan pengalian
liar itu telah banyak merugikan warga sekitarnya dengan longsornya rumah warga
kesungai. Tetapi tidak jarang warga yang menjual tanah sawahnya untuk dijadikan
Genteng, dan hal ini juga menjadi masalah karena jika tanah sawah diambil maka
jika ditanami Padi menyebabkan tidak subur dan hidup. Dan pengalian yang
dilakukkan di sekitar pekarangan menyebabkan cekungan yang dalam dan berbahaya
untuk kesehatan karena bisa menjadi sarang nyamuk. Pengalian tanah sempat
mendapat perlawanan masyarakat disekitar sungai karena mereka khawatir jika
rumah meraka akan longsor dan masuk kedalam jurang. Maka dari itu kesuksesan
suatu harus diimbangi dengan kesuksesan yang akan datang juga[38].
5.
Nilai Historis, Sosial, Ekonomi dan Pendidikan Bagi
Masyarakat
a.
Nilai Historis
Pabrik genteng sokka beridiri sekitar
tahun 1920 memliki nilai sejarah yang cukup tinggi, karena pabrik ini menjadi
salah satu komoditi utama sebagai atap dari semua gedung-gedung penting seperti
gedung pemerintahan, gedung kantor pos dan lain- lain pada masa kolonial.
Sehingga produksi genteng sokka ini didistribusikan sampai ke daerah Priangan
Jawa Barat, Semarang Jawa Tengah dan kota-kota lain di pulau jawa. Pada jaman
kedatangan Jepang, peran dari genteng sokka ini tidak banyak berubah yakni
sebagai bahan bangunan. Namun perkembangan pada masa jepang mengalami penurunan
produksi dikarenakan kurang perhatiannya perintahan pada masa jepang terhadap
perkembangan pabrik genteng sokka itu sendiri. Pada zaman kemerdekaan peran
dari pabrik sokka terhadap masyarakat semakin
menurun dikarenakan banyak bangunan yang sudah sedikit lagi menggunakan
genteng sokka ini.
b.
Nilai Sosial
Nilai Sosial yang dapat kita ambil dari adanya Pabrik
Genteng Sokka ini adalah majunya alat-alat rumah rumah tangga masyarakat
Kedawung khususnya pada bagian atap rumah mereka yaitu yang dulunya dari daun
rumbia beralih menggunakan genteng. Selain itu adanya Pabrik Genteng Sokka juga
berhasil menekan angka pengangguran di Desa Kedawung dengan banyaknya
masyarakat yang bekerja sebagai karyawan pabrik ataupun kuli yang mengangkut
genteng dari gerobak ke gerbong kereta.
Pabrik Genteng Sokka juga mempengaruhi munculnya dan
berkembangnya home industri pabrik-pabrik genteng khususnya di Kecamatan
Pejagoan. Namun seiring berkembangnya zaman, penggalian tanah yang dilakukan
terus-menerus oleh pabrik genteng juga membuat masalah baru, yaitu mengurangi
kesuburan tanah sawah dan juga menyebabkan tanah longsor bagi penggalian di
pinggir kali.
c.
Nilai Ekonomi
Dari segi ekonomi, adanya Pabrik Genteng Sokka ini sangat
membantu masyarakat sekitar khususnya bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan
tetap. Bekerja sebagai karyawan pabrik merupakan mata pencaharian utama bagi
beberapa masyarakat Kedawung maupun dari luar kecamatan.
Hal lain dari adanya pabrik ini adalah banyaknya
masyarakat sekitar yang berjualan (warung) disekitar Stasiun Sokka. Kebanyakan
pembelinya adalah para kuli yang menaik-turunkan genteng ke gerbong kereta. Kondisi
seperti ini tentu saja sangat membantu perekonomian masyarakat sekitar terbukti
dengan banyaknya warung-warung yang ada disekitarnya.
d.
Nilai Pendidikan
Dalam segi pendidikan, adanya Pabrik Genteng Sokka dapat
dijadikan pembelajaran bagi para akdemisi maupun masyarakat dalam adanya suatu bangunan
bersejarah yang telah ada sejak zaman Belanda yang ada disekitar tempat tinggal
mereka. Selain itu Pabrik Genteng Sokka juga dapat dijadikan sebagai
pembelajaran misalnya bagaimana genteng yang diproduksi oleh Pabrik Genteng
Sokka baik dari segi model, merk genteng Sokka itu sendiri, serta dapat
membedakan genteng yang berkualitas baik yang berasal dari Kedawung. Tentu hal
itu berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan zaman.
Selain itu Pabrik Genteng Sokka dalam segi
pendidikan dapat dijadikan suatu media
pembelajaran yakunjng dimana suatu lembaga pendidikan dapat datang berkunjung
ke Parik Genteng Sokka jika dapat menunjang pembelajaran.
BAB
III
PABRIK
SOKKA SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA
A.
Pengertian Cagar Budaya
Cagar budaya merupakan
kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia
yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan,
dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga
perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya perlindungan,
pengembangan, danpemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk
sebesar-besarnya kemakmuran.
Benda
cagar budaya tidak hanya penting bagi disiplin ilmu arkeologi,
tetapi terdapat berbagai disiplin yang dapat melakukan analisis terhadapnya. Antropologi
misalnya dapat melihat kaitan antara benda cagar budaya dengan kebudayaan
sekarang. Benda Cagar Budaya
adalah benda alam atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak
bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau
sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah
perkembangan manusia.
B. Ketentuan Benda Cagar
Budaya dalam UU No 11 Tahun 2010
1.
Pasal 1 dalam Bab I tentang
ketentuan umum
·
Cagar budaya adalah warisan
budaya yang bersifat kebendaan bersifat benda cagar budaya, Bangunan Cagar
Budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya
didarat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki
nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,dan atau
kebudayaan melalui proses penetapan.
·
Benda cagar budaya adalah benda
alam atau benda bauatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa
kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki
hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
·
Bangunan Cagar Budaya adalah
susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatanmanusia untuk
memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.
·
Kepemilikan adalah hak terkuat
dan terpenuh terhadap cagar budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan
kewajiban untuk melestarikannya.
·
Penguasaan adalah pemberian
wewenang dari pemilik kepada pemerintah, pemerintah daerah, atau setiap orang
untuk mengelola cagar budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan
kewajiban untuk melestarikannya.
·
Dikuasai oleh negara adalah kewenangan
tertinggi yang dimiliki oleh Negara dalam menyelenggarakan peraturan perbuatan
hokum berkenaan dengan pelestarian cagar budaya.
·
Pendaftaran adalah upaya
pencatatan benda, bangunan, struktur, lokasi, dan atau satuan ruang geografis
untuk diusulkan sebgai cagar budaya kepada pemerintah kabupaten/ kota atau
perwakilan Indonesia di luar negeri dan selanjutnya dimasukkan dalam register
nasional cagar budaya.
·
Regiter nasional cagar budaya
adalah daftar resmi kekayaan budaya bangsa berupa cagar budaya yang berada di
dalam dan di luar negeri.
C. Karakteristik Benda Cagar Budaya
1.
Pasal 5 dalam Bab III tentang
kriteria Benda atau Bangunan Cagar Budaya.
Benda bangunan atau
struktur dapat diusulkan sebagai benda cagar buadaya, bangunan cagar budaya,
atau strukutur cagar budaya apabila memenuhi kriteria :
a.
Berusia minimal 50 tahun atau
lebih.
Pabrik Genteng Sokka berdiri sejak 1920 sejak
zaman Belanda yang dimana salah satu syarat benda dapat dijadikan Benda Cagar Budaya
jika sudah berusia minimal 50 tahun
dalam hal ini Pabrik Genteng Sokka sudah berusia lebih dari 50 tahun.
b.
Memiliki arti khusus bagi
sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan.
Dalam pasal ini benda dapat dikatakan sebagai Benda
Cagar Budaya jika memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahan,
pendidikan, agama maupun kebudayaan seperti yang telah dijelas di atas.
c.
Memiliki nilai budaya bagi
penguatan kepribadian
bangsa.
Disebutkan jika suatu benda atau bangunan dapat
dijadikan benda atau bangunan jika memiliki
penguatan kepribadian bangsa
dalam hal ini Pabrik Genteng Sokka dapat mewakili bagaimana industri genteng
yang dikelola oleh pribumi yang sudah ada
sejak Belanda ada di Indonesia dan Pabrik Genteng Sokka dapat bertahan
selama perang kemerdekaan hingga saat ini masih bertahan hingga saat ini.
2.
Pasal 7
Bangunan
cagar budaya dapat :
a.
Berunsur banyak
Pabrik Genteng Sokka merupakan bangunan-bangunan
pembuatan genteng yang ada di Desa Kedawung yang luas wilayahnya hampir 2
hektar yang terdiri dari bangunan cerobong, bangunan kantor administrasi
genteng Sokka, bangunan untuk menjemur genteng.
b.
Berdiri bebas dengan formasi
alam
D. Penguasaan Benda Cagar
Budaya
1.
Pasal 12 dalam Bab IV tentang
pemilikan dan penguasaan
a.
Setiap orang dapat memiliki dan
atau menguasai Benda cagra budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya
dan atau situs cagar budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial sepanjang
tidak bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang ini.
b.
Setiap orang dapat memiliki dan
atau menguasai cagar budaya apabila jumlah benda dan jenis benda cagar budaya,
bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya dan aau situs cagar budaya
tersebut telah memenuhi kebutuan negara.
c.
Kepemilikan sebagai mana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat diperoleh melalui pewarisan, hibah,
tukar-menukar, hadiah, pembelian dan atau putusan atau penetapn pengdilan,
kecuali yang dikuasi oleh Negara.
d.
Pemilik benda cagar budaya
bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya , dan atau situs cagar budaya yang
tidak ada ahli warisnya atau tidak menyerahkannya kepada orang lain berdasarkan
wasiat, hibah , atau hadiah setelah pemilikny meninggal, kepemilikannya diambil
alih oleh negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
E.
Alasan Layaknya Pabrik Sokka Sebagai Benda Cagar
Budaya
Genteng sokka merupakan
ciri khas dari daerah kebumen, dimana kualitas dari genteng tersebut sudah
terkenal sejak zaman dahulu. Di daerah ini pula pabrik genteng pertama berdiri,
yaitu pabrik genteng AB Sokka, sebuah pabrik yang berdiri sejak zaman kolonial
Belanda. Lebih tepatnya pada awal abad 20. Gedung yang berdiri sejak masa
kolonial Belanda itu terletak di dukuh Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten
Kebumen, atau beberapa meter saja dari Stasiun Sokka, sebuah stasiun yang pada
zaman dahulu juga ikut berperan penting dalam pendistribusian genteng dari
pabrik sokka ke luar kota, bahkan luar Jawa Tengah.
Secara historis, nilai bangunan Pabrik Sokka
tersebut sungguh tidak tergantikan. Hal itu dimungkinkan sebab bangunan ini
merupakan sebuah bukti kejayaan Kota Kebumen pada masa lalu dalam bidang social
dan ekonomi. Seperti dikatakan oleh pak karyono (tokoh masyarakat setempat),
dari segi social banyak masyarakatnya yang awalnya bekerja sebagai buruh tani
akhirnya bekerja di pabrik, tidak semua orang bisa bekerja di pabrik genteng
tersebut, sehingga status bekerja di pabrik jauh lebih baik daripada bekerja
sebagai buruh tani, tidak hanya itu saja tetapi dari sisi ekonomi pabrik sokka
juga sangat mempengaruhi perekonomian di sekitar pabrik, dan mengubah wilayah sokka
sebagai wilayah perindustrian genteng yang termashur. Bangunan yang dibuat pada
zaman kolonial
Belanda tersebut juga masih terlihat kokoh, bahkan sebagian bangunannya masih
ada yang digunakan untuk pembuatan genteng Sokka. Sedangkan sisanya banyak yang
sudah lumayan kumuh karena tidak terawatt dan ada pula yang sengaja dihancurkan
karena sudah tidak dibutuhkan. Sementara secara estetis, bangunan Pabrik
tersebut tergolong unik sebab dibangun dengan memadukan arsitektur Eropa dan tropis, yaitu gaya
bangunan sentuhan Belanda dan Indonesia. Cerobong asap pada bagian atas tungku
pembakaran genteng mengadopsi dari gaya arsitektur eropa dengan cerobong yang
menjulang tinggi ke atas, sebuah arsitektur yang sangat langka kita jumpai pada
pabrik – pabrik genteng di zaman sekarang. Jika dibiarkan, ada kemungkinan
kalau pabrik sokka yang kaya akan sejarah ini bisa tergusur oleh modernisasi
yang terjadi di daerah tersebut.
Sebagai sebuah pabrik genteng bersejarah
dan berusia hampir satu abad, bangunan Pabrik Genteng Sokka tersebut mempunyai
semua persyaratan untuk masuk ke dalam Daftar Bangunan Bersejarah yang
dilindungi di kabupaten Kebumen. Atau secara yuridisnya, bangunan ini memang
layak untuk tetap berdiri sebab memenuhi semua hal yang disyaratkan dalam
Undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2010 bab III pasal 5 tentang
cagar budaya. Tidak hanya itu, apabila gaya yang dimiliki oleh benda itu
ternyata khas dan langka serta bernilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan
dan kebudayaan, maka benda itu juga dikategorikan sebagai Benda Cagar Budaya
yang wajib dilindungi.
F. Harapan Penelitian
Berdasarkan peraturan
Undang-Undang dalam uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pabrik Genteng Sokka dapat
dijadikan sebagai Benda Cagar Budaya dikarenakan sudah memenuhi syarat dan
karakteristik dalam peraturan pemerintah yang tercantum dalam Undang-Undang
No.11 Tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya.
Pabrik Genteng Sokka memiliki peran penting dalam ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang
ilmu sejarah sehingga gedung ini perlu dilindungi, dijaga, dan dilestarikan. Selain itu Pabrik Genteng Sokka dapat
direkomendasikan sebagai salah satu bagian dari sejarah lokal daerah Kebumen yang bisa
digunakan sebagai pengembangan bahan ajar dalam dunia pendidikan khususnya
untuk sekolah-sekolah yang berada dekat dengan benda cagar budaya tersebut.
Dengan menjadikannya sebagai cagar budaya,
maka pemerintah daerah bisa membuatnya sebagai monumen bagi Kota Kebumen
tentang warisan sejarah maupun untuk kepentingan pendidikan. Langkah
selanjutnya adalah meningkatkan edukasi masyarakat agar warga Kota Kebumen
mempunyai kesadaran serta mengerti arti penting pelestarian warisan sejarah
tersebut karena gedung bersejarah seperti Pabrik Sokka sangatlah mempunyai
nilai sejarah yang tinggi, Hal tersebut senada dengan kutipan dari bapak Taviv
Kurniadi Mustafa. Dia mengatakan, pada dasarnya setiap bangunan itu merupakan
warisan dari para arsitek dulu. Selain itu, keberadaan bangunan tua juga
memberikan sumbangan yang besar terhadap kebudayaan kota tempat bangunan
tersebut berdiri. Atas dasar tersebut, maka setiap arsitek yang profesional
harus selalu memperhatikan kondisi bangunan yang akan mereka rancang.
Pabrik Genteng Sokka sangatlah layak apabila
akan dijadikan sebagai benda cagar budaya, apalagi jika digabungkan dengan
Stasiun Sokka yang pendiriannya hampir bersamaan dengan berdirinya pabrik
genteng sokka. Ada alur sejarah yang tak bisa dipisahkan apabila bicara tentang
pabrik genteng sokka dan stasiun sokka yang sudah beroprasi sejak zaman
colonial Belanda. Sudah saatnya bagi pemerintah kebumen untuk mengesahkan
Pabrik Sokka sebagai benda cagar budaya, potensi sebagai tempat wisata
pendidikan juga sangat besar seperti halnya Benteng Van Der Vijk yang ada di Gombong Kebumen. Tapi dalam hal ini hak milik dan
aktivitas didalam pabrik genteng Sokka tetap menjadi hak milik dari Abu Ngamar
sebagai pemilik sah dari pabrik tersebut. Dengan demikian harapan
penelitian adalah bahwa Pabrik
Genteng Sokka dapat di jadikan sebagai beda cagar
budaya yang dilindungi oleh pemerinth kota Kebumen.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Benda atau bangunan cagar budaya merupakan aset negara
yang perlu di lestarikan keberadaannya. Pabrik Genteng Sokka merupakan pabrik
genteng peninggalan
zaman kolonial Hindia Belanda yang ada dipertigaan Pejagoan dan Kedawung. Pabrik
ini didirikan tahun 1920-an dan memiliki pengaruh terhadap kehidupan
sosial-ekonomi masyarakat kedawung. Dengan adanya Pabrik Genteng Sokka dapat
membantu perekonominan serta menciptakan lapangan pekerjaan baru di Desa
Kedawung. Sehingga berdampak pula pada aspek sosial masyarakatnya yang
mayoritas berkerja di Industri Genteng baik sebagai pemilik pabrik maupun
karyawan.
Letak Pabrik Genteng Sokka berdekatan dengan Stasiun
Sokka. Stasiun Sokka ini memiliki hubungan yang saling menguntungkan dengan
Pabrik genteng sokka. Dimana produksi genteng dari pabrik diangkut dengan
kereta api untuk didistribusikan ke para pemesan melalui Stasiun Sokka. Hal ini
berpengaruh terhadap aktivitas stasiun sokka. Namun, Stasiun Sokka ini mulai
berhenti beroperasi semenjak terjadinya
modernisasi di bidang transportasi tepatnya di tahun 1980 an. Karena sejak saat
itu intensitas pendistribusian genteng-genteng Sokka berkurang karena tidak
lagi menggunakan kereta api melainkan menggunakan truk.
B.
Saran
Berdasarkan
kesimpulan diatas peneliti merekomendasikan saran-saran sebagai berikut:
a. Pemerintah/
lembaga
Dengan
adanya penelitian ini diharapkan pihak-pihak yang berwenang mampu menjadikan Pabrik Genteng Sokka sebagai
Bangunan Cagar Budaya dan mengajak
masyarakat untuk melestarikan bangunan sejarah demi menjaga kekayaan bangsa.
b. Pelajar/Mahasiswa
Sebagai
generasi penerus bangsa mampu membantu pemerintah untuk mensosialisasikan
kepada masyarakat akan pentingnya melestarikan benda/bangunan bersejarah
termasuk Pabrik Genteng Sokka.
c. Masyarakat
Ikut
Serta membantu pemerintah dalam menjaga dan melestarikan bangunan bersejarah.
DAFTAR PUSTAKA
Wibowo,Supriyanto.2013. Bentuk Kegiatan Ekonomi Masyarakat Dalam Pemanfaatan Blumbang Di dukuh Penambangan Desa Kedawung Kabupaten Kebumen. Skripsi
Universitas Negeri Semarang.
Yuliana, A. E.2013. Strategi Pengembangan Industri Kecil Kerajinan genteng di Kabupaten
Kebumen. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi.
Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I prof. Dr. Rusdarti, M.Si. II Shanty
Oktavilia, S.E., M.Si.
Notosusanto, Nugroho dan marwati Djoened Poesponegoro.2008. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta:
Balai Pustaka.
Wawancara dengan Bapak
Abu Achmar sebagai generasi penerus pabrik ke-4 pada 5 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak
Rafi Ananda sebagai Budayawan Kebumen pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak
Karyono sebagai mantan Kadus wilayah 3 Desa Kedawung pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak
Darus sebagai mantan Kepala Desa Muktisari dan pemilik usaha
genteng Sokka pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak Mugi sebagai masyarakat Desa
Kedawung pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Ibu Noor Maryam sebagai masyarakat Desa
Muktisari pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Ibu Khotimah sebagai masyarakat Desa
Muktisari pada 6 Desember 2014.
Wawancara dengan Ibu Saminah dan Ibu Sukohati sebagai
pekerja di pabrik genteng milik Bapak Darus pada 6 Desember.
Wawancara dengan Bapak Sugiman sebagai anak dari mandor
dan pekerja malam di pabrik Genteng Sokka pada 5 Desember 2014.
Wawancara dengan Bapak Bani pemilik pabrik genteng UD.
Margo Harjo (MH) pada 6 Desember 2014.
[2] Wawancara Bapak
Darus, sebagai pemilik Pabrik Genteng di Desa Muktisari, 6 Desember 2014
[3] Gandahusda
S,Ilahude HHD, Pribadi W.Paeasitologi Kedokteran edisi revisi. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 200: 7-34
[4] Pes adalah penyakit infeksi pada
manusia dan hewan yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis ditularkan oleh tikus melalui perantara kutu.
[5]
Dilaporkan oleh wartawan Supriyanto melalui Suara Merdeka (edisi 10 Mei
2010)
[6] Wawancara dengan Bapak Bani sebagai pemilik
UD. Margo Harjo (MH), 6 Desember 2014
[7] Wawancara dengan Bapak Abu Ackhmar sebagai
generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5 Desember 2014
[8] Tobong adalah tempat pembakaran atau disebut
juga tungku pembakaran genteng
[9]
Wawancara dengan Bapak Karyono pada tanggal 5 desember 2014
[10]
Bapak Karyono. ibid
[11]
Wawancara dengan
Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5
Desember 2014
[12]
Wawancara Bapak Ojim sebagai Mandor Pabrik Genteng Sokka)
[14] Wawancara Bapak
Wawancara Bapak Ojim ( Mandor Pabrik Genteng Sokka)
[15] Supriyanto Wibowo, 2013, Bentuk Kegiatan Ekonomi Masyarakat dalam memanfaatkan Blumbang
Di Dukuh Penambangan di Desa Kedawung: Universitas Negeri Semarang hlm 4
[19]
Marwati Djoened
Poesponegoro dan Nogroho Notosusanto, 1974, Sejarah
Nasional Indonesia VI,: Balai Pustaka. Hlm 332
[22] Wawancara dengan
Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5
Desember 2014
[24] Wawancara dengan
Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5
Desember 2014
[25] Ibid
[28] Wawancara Bapak
Karyono sebagai mantan Kadus III, 5 Desember 2014
[30] Ibid
[31] Wawancara Ibu
Khotimah, 6 Desember 2014
[34] Ibid
[35] Kurniawan, Arif.
2011. “Penurunan Industri Kerajinan Genteng di Kecamatan
Pejagoan Kabupaten Kebumen”.
Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia.
[36] Wawancara dengan
Bapak Abu Ackhmar sebagai generasi penerus ke-4 Pabrik Genteng Sokka, 5
Desember 2014
[38] Wawancara dengan
ibu khotimah pada 6 desember 2014

No comments:
Post a Comment