Sejarah Sunan Giri
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Penyebaran agama Islam merupakan suatu proses yang sangat penting
dalam sejarah Indonesia. Proses islamisasi di Indonesia telah terjadi, dan masih akan terus berlanjut
di waktu
yang akan datang. Bagaimana bentuk prosesi yang akan datang sangat bergantung
kepada para pelakunya, yang akan terlibat di dalam dan di sekitar, baik bagi
yang berkepentingan agar lebih baik atau yang sebaliknya. Perjalanan islamisasi
yang telah berlangsung selama kurang lebih dari 12 (dua belas) abad yang lalu,
akan memberikan
bahan kajian yang menarik untuk diambil hikmahnya. Demikian pula latar belakang
terbentuknya bangsa dan budaya sejak jauh
sebelum agama-agama besar masuk, tidak dapat dilepaskan begitu saja.
Tidak kalah pentingnya lingkungan makro umat manusia di seluruh permukaan bumi,
memberikan masukan positif maupun negatif yang turut menentukan warna tertentu.
Begitu juga proses islamisasi di Jawa masih akan terus berlanjut,
yang akan penentu dalam pengembangan agama Islam di Indonesia. Sejak puluhan
tahun silam telah terbukti bahwa Jawa memang merupakan jantung perkembangan
sosial, ekonomi, pendidikan dan pertahanan seluruh Nusantara. Oleh karena itu
islamisasi di Jawa akan berpengaruh besar terhadap islamisasi di seluruh Nusantara, seperti yang telah di
buktikan oleh Sunan Bonang dan Sunan Giri, yang murid-muridnya berasal dari penjuru tanah air. Hingga
sekarang pun banyak pesantren di Jawa yang, besar maupun kecil, terkenal maupun
yang masih belum lama berdiri, santri-santrinya berasal dari Sumatra, Kalimantan, Sualawesi, Nusa
Tenggara, Maluku maupun
Papua. Itulah sebabnya menjaga agar
islamisasi di Jawa agar tetap terpelihara sehingga kemurnian ajarn Islam
terjamin.
Pada awal perkembangan Islam di
sepanjang abad ke – 15 sampai separoh pertama abad ke – 16 banyak di warnai
peranan tokoh atau juru dakwah yang yang terkenal dengan sebutan Walisongo. Biografi tentang tokoh-tokoh
tersebut banyak ditulis, dan kisahnya banyak dikenal masyarakat luas. Sampai sekarang banyak
sekali buku-buku kisah Walisongo yang ditulis tidak didasarkan pada bukti yang
shohih tidak disaring dengan kerangka fikir tauhid. Untuk menngetahui dan memahami
gambaran masa lampau secara komperhensif maka masalah sumber sejarah merupakan
suatu persoalan yang sangat penting. Sumber berupa warisan visual berupa
bangunan kompleks makam dari penyebar agama Islam, khusunya kompleks-kompleks
makam para wali. Dengan belajar dari kompeks makam akan mengetahui arti yang
sesunguhnya. Arti simbolis yang terkandung dalam bentuk dan wujud bangunan
makam. Khususnya di Jawa, terjadi sinkretisme dengan Hindhu-Budha-Jawa yang
kemudian dikenal sebagai Islam kejawen atau Islam abangan. Dengan banyaknya buku-buku
tentang Wali Songo yang sangat meberikan pengetahuan secara luas dan mendalam,
dalam penelitian ini kami berusaha melihat dari sudut pandang lain yaitu
pemanfaatan makam sunan sebagai media pembelajaran sejarah. Didalam pristiwa
masa lampau yang dialami manusia kadang ditemukan relik atau
peninggalan-peninggalan masa lampau yang menyangkut kehidupan manusia seperti :
bangunan, reruntuhan, mata uang, pecahan kuali, seutas rambut, naskah, buku,
potret, prangko, sisa arkeologis, atau anthropologis.
Bentuk cerita dongeng tidak dapat
memberikan penjelasan mengenai kejadiaan yang sebenarnya tentang islamisasi di
pulau Jawa. Pada masa sekarang ini hal-hal yang mengandung irasional banyak
ditentang, dengan demikian perlu diperbanyak perspektif rasional sejarah Walisongo
sebagai usaha melanjutkan pengembangan agama Islam di Indonesia. Dengan memanfaatkan
bukti peninggalan Artefak yang berupa makam para sunan sebagai media
pembelajaran sejarah. Dalam penelitian ini akan memanfaatkan makam Sunan Giri sebagai media pembelajaran
sejarah, dengan mengunakan sumber leteratur, observasi lapangan dan wawancara
lisan.
Pemilihan makam Sunan Giri sebagai obyek
kajian, dikarenakan sejarah Sunan
Giri
memberikan bahan kajian yang menarik untuk diambil hikmahnya. Sunan Giri merupakan
salah seorang penyebar agama
Islam sekaligus meninggalkan jejak budaya, adat istiadat maupun gaya
Arsitektur. Kompleks kepurbakalaan makam
sunan Giri sebagai peninggalan sejarah abad XV – XVI, telah terjadi Percampuran
dan (alkulturasi) unsur-unsur kebudayaan dari jaman prasejarah, Hindu-Budha dan
Islam. Kompleks makam Sunan Giri, pada sekarang ini menjadi salah satu tujuan
masyarakat untuk berziarah dan terjadi aktifitas-aktivitas yang ramai dan
berujung pada Wisata Religi dan Wisata Sejarah. Dengan banyaknya aktifitas di
lingkungan makam Sunan Giri, dan pengunjung atau para peziarah makam sunan Giri,
tentunya terjadi pembelajaran sejarah secara sepontan, dan sengaja maupun tidak
sengaja yang di lakukan di lingkungan makam Sunan Giri.
B.
Fokus
Kajian
Dalam penelitian ini, hanya membatasi
pada sejarah sunan Giri sebagai tokoh penyebar agama Islam di pulau Jawa dan
manfaat makam sunan giri dalam pemebelajaran sejarah. Dengan adanya pembatasan
penelitian ini akan mempermudah dalam pengumpulan data yang dinginkan sehingga
prosesi penelitian akan lebih efektif dan efisien. Untuk hasil penelitian
dengan pembatasan ini akan teraraah dan tidak melebar pada hal-hal yang
membingungkan. Pembatasan yang lebih rincinya sebgai berikut.
Fokus kajian pertama yaitu sejarah
Sunan Giri sebagai tokoh penyebar agama Islam di pulau Jawa meliputi pembahasan
tentang sejarah singkat Sunan Giri, Sunan Giri sebagai Walisongo, cara penyebaran agama Islam oleh Sunan Giri,
dan wafatnya Sunan Giri. Sedangkan fokus
kajian
yang kedua tentang pemanfaatan makam Sunan Giri sebagai pembelajaran sejarah
dalam sub babnya dalam sub banya akan membahas tentang sejarah Makam Sunan Giri,
makna simbolis Makam Sunan Giri, dan pembelajaran sejarah di Makam Sunan Giri.
C.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
sejarah Sunan Giri sebagai tokoh penyebar agama islam di pulau Jawa?
2. Bagaimana perkembangan sejarah makam Sunan Giri?
3. Seperti apa wujud pemanfaatan makam
Sunan Giri sebagai sumber media pembelajaran sejarah?
D.
Tujuan
Penelitian
1. Mengetahui
sejarah sunan Giri sebagai tokoh penyebar agama islam di pulau Jawa.
2. Mengetahui perkembangan sejarah dari Makam Sunan Giri.
3. Mengetahui
pemanfaatan makam Sunan Giri sebagai sumber media pembelajaran sejarah.
E.
Kegunaan
Penelitian
Kegunaan
atau manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Kegunaan Praktis
Bagi
Masyarakat, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan
Informasi tentang makam Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur, serta manfaatnya
dalam Pembelajaran Sejarah.
Bagi
Peneliti, seluruh rangkaian kegiatan dan hasil penelitian diharapkan dapat
lebih memantapkan penguasaan fungsi keilmuan yang dipelajari selama mengikuti
program studi pendidikan sejarah, di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas Negeri semarang.
2.
Kegunaan Akademis
Bagi
perguruan tinggi, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dokumen akademik
yang berguna untuk dijadikan acuan bagi sivitas akademika. Laporan penelitian
ini diharapkan menjadi bahan bahan rujukan dalam penelitian-penelitian
selajutnya.
F.
Kajian
Pustaka
kajian
yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari
kajian pustaka. Kajian pustaka digunakan
untuk memperoleh bahan-bahan
perbandingan mengenai masalah yang berhubungan proses islamisasi di Jawa yang dilakukan Sunan Giri dan
tentang makam Sunan Giri yang berada di Gresik. Kajian pustaka juga bermanfaat
dalam memberikan sejumlah informasi dan teori serta pemahaman yang menyangkut
topik kajian pemanfaatan Makam Sunan Giri sebagai media pembelajaraan sejarah.
Sumber-sumber leteratur yang digunakan berasal dari jurnal ilmiah, hasil kajian
yang dipublikasikan, buku dan juga internet. Bebrapa sumber leteratur yang
digunakan antara lain :
1. Ricklafs,
M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Buku
ini merupakan karya dari M.C. Ricklafs tahun 1989 dalam bahasa Inggris yang kemudian
di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia. buku ini memberikan dasar sejarah
Indonesia sejak sekita tahun 1300 sebagai satu kesatuan unit sejarah yang bertalian
secara historis, yang didalam buku ini dinamakan sejarah indonesia modern.
Dalam bab pertam buku ini memberikan banyak informasi dalam penelitian, karena
pada bab pertama ini membahas tentang munculnya zaman modern yang di awali
dengan kedatangan Agama Islam. Petujuk tentang perkembangan agama Islam di
Indonesia pada abad ke XV hingga abad XVI, berdirinya pusat-pusat perdagangan
hingga berdirinya negara-negra Islam. Buku ini sangat mendukung dalam
penelitian.
2. Kasdi,
Aminuddin. 2005. Kepurbakalaan Sunan Giri Sosok Akulturasi Kebudayaan Indonesiaa asli,
Hindu-Budha dan Inslam Abad 15-16. Surabaya : Unesa university Press.
Buku ini adalah karya dari Aminuddin Kasdi yang secara
umum membahas tentang kepurbakalaan dari Makam Seorang wali, yaitu makam Sunan
Giri. Buku ini lebih dominan membahas pada obyek makamnya, mulai dari lokasi
makam sampai dengan arsitektur makam yang bercorak akulturasi dari seni
Hindu-Budha dan Islam. Sehingga buku ini merupaan buku yang cocok menjadi
kajian pustaka dalam penelitian yang akan dilakukan.
3. Arsyad,
Azhar. 2010. Media Pembelajaran.
Jakarta : Rajawali Prees
Buku
yang berjudul “Media pembelajaran” yang ditulis oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.
A. terdiri dari tujuh bab pembahasan. Dalam bab pertama dibahas pengertian
media. Media didefinisikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses
belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan
pembelajaran di sekolah pada khususnya.
Selanjutnya pembahasan
pada bab dua mengulas fungsi dan manfaat media pendidikan. Pada
pembahasan bab tiga dan empat mengulas pengenalan media dan pemilihan media.
Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan
menjadi empat kelompok, yaitu media hasil teknologi cetak, media hasil
teknologi audio-visual, media hasil teknologi yang berdasarkan computer, dan
media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.
Dalam bab lima dijelaskan
tentang penggunaan media yang berbasis manusia, media berbasis cetakan, media
berbasis visual, media berbasis audio-visual, dan media berbasis computer.
Dalam bab enam diterangkan tentang pengembangan berbagai macam media. Selanjutnya
pada bab terakhir mengulas evaluasi media pembelajaran. Evaluasi merupakan
bagian intregal dari suatu proses intruksional. Idealnya, keefektivan pelaksanaan
proses intruksional diukur dari dua aspek, yaitu bukti-bukti empiris mengenai
hasil belajar siswa yang dihasilkan oleh system intruksional dan bukti-bukti
yang menunjukkan berapa banyak kontribusi media atau intruksional.
Keseluruhan bab dalam
buku ini sangat memberi sumbangan dalam penelitian ini karena yanag di bahas
dalam buku ini berkaitan media pemebelajaran.
G.
Metode
Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari observasi lapangan, wawancara,
dan dokumentasi. Observasi lapangan dilakukan di Kompleks Makam Sunan Giri pada
tanggal 22 Mei 2014 untuk mengetahui kondisi peninggalan
kepurbakaalaan Makam Sunan Giri,
keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial yang terjadi.
Pristiwa masa lampau yang dialami manusia kadang ditemukan relik atau
peninggalan-peninggalan masa lampau yang menyangkut kehidupan manusia seperti :
bangunan, reruntuhan, mata uang, pecahan kuali, seutas rambut, naskah, buku,
potret, prangko, sisa arkeologis, atau anthropologis. Dengan
memanfaatkan bukti peninggalan Artefak yang berupa makam Sunan Giri sebagai media pembelajaran
sejarah, dengan mengunakan observasi lapangan, wawancara lisan dan didukung
dengan dokumentasi.
Ada 6 (enam) macam metodelogi penelitian
yang mengunakan pendekatan Kualitatif yaitu Etnografi,
Studi kasus, Grounded theory,
Interaktif, partisipatories, dan penelitian tindakan kelas. Namum dalam penelitian
ini yang digunakan adalah adalah studi kasus (case Study) yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk mempelajari
secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi
lingkungan
suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat. Dari situ dapat diketahui sumber data
yang digunakan adalah kata-kata dan tindakan serta pengamatan sebagai sumber utama,
sedangkan sumber data tertulis, foto, catatan tertulis adalah sumber
tambahan.
Teknik pengumpulan data penelitian ini
adalah wawancara observasi dan dokumentasi. Sebab
bagi peneliti kualitatif fenomena dapat dimengerti maknanya secara baik apabila
dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan observasi pada
latar dimana fenomena tersebut berlangsung, dan di samping itu untuk melengkapi
data diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis oleh subyek).
1. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan staf pengelola
makam Sunan Giri Ahmad Sobirin pengunjung makam Sunan Giri pedagang
di kompleks makam Sunan Giri, serta narasumber yang memiliki kompetensi
dalam hal media. Dalam penelitian ini mengunakan teknik wawancara mendalam yang
artinya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang
berhubungan dengan fokus permasalahan. Sehingga data-data yang dibutuhkan dalam
penelitian ini dapat terkumpul secara maksimal.
2. Observasi Langsung
Observasi langsung adalah cara pengambilan
data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk
keperluan tersebut. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah
direncanakan secara sistematik. Teknik Observasi, dalam penelitian kualitatif,
observasi diklarifikasikan menurut tiga cara. Pertama, pengamat dapat bertindak
sebagai partisipan atau non partisipan. Kedua, observasi dapat dilakukan secara
terus terang atau penyamaran. Ketiga, observasi menyangkut latar penelitian dan
dalam penelitian ini digunakan teknik observasi yang pertama di mana pengamat
bertidak sebgai partisipan.
3. Dokumentasi
Sedangkan
dokumentasi yang dilakukan pada saat observasi yang berupa foto,
video dan rekaman. Dokumen merupakan sumber tambahan untuk melengkapi sumber
data lisan dan pengamatan.
Setelah semua data terkumpul, maka
langkah berikutnya adalah pengolahan data dan analisis data. Data yang
diperoleh dari lapangan diolah sehingga diperoleh keterangan-keterangan yang
berguna, selanjutnya dianalisis. Analisis data menggunakan model deskriptif
kualitatif yaitu upaya yang berlanjut, berulang dan terus menerus untuk
menjelaskan gambaran tentang Pemanfaatan Makam Sunan Giri sebagai media
pembelajaran sejarah. Adapun langkah-langkah kerjanya
sebagai berikut.
1. Penjelajahan,
pencarian dan pembacaan sumber baik sumber pustaka, maupun sumber lapangan.
Sumber–sumber ini diperoleh dari observasi lapangan, wawancara, dan
dokumentasi. Dalam pencarian sumber ini sekaligus dilakukan
inventarisasi dan identifikasi data/fakta yaitu berbagai sumber baik yang
tertulis, lisan dan visual yang relevan. Kemudian dari fakta-fakta yang
terkumpul di usut dengan konsep kebenaran sesui dengan relevansi pokok
persoalan pemanfaatan makam sunan Giri sebagai media pemebelajaran sejarah.
2. Studi lapangan yaitu observasi untuk melakukan cross cek ke obyek penelitian, yaitu melihat
fenomena yang terjadi di kompleks
makam Sunan Giri.
3. Menganalisis
data-data yang sudah terkumpul kemudian mengusut hubungan dan membandingkan antar fakta yang ada, untuk ditarik kesimpulan yang relevan sesui
pokok persoalan yaitu Pemanfaatan makam Sunan Giri sebagai media pembelajaran
sejarah.
4. Bagian
akhir, peneliti menuliskan hasil temuanya dalam bentuk laporan penelitian yang
berupa diskriptif kualitatif.
H.
Kerangka
Isi
Untuk mendapatkan gambaran singkat
tulisan ini disusun dengan sistematika sebgai berikut:
BAB
1 PENDAHULUAN
Pendahuluan
berisi tentang latar belakang, fokus kajian, rumusan masalah, tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, krangka isi dan kajian
pustaka.
BAB
2
GAMBARAN UMUM OBYEK
KAJIAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai Sunan Giri dan
makam Sunan Giri yang menjadi obyek kajian dalam penelitian ini,, obyek
tersebut meliputi sejarah sunan giri dan makam Sunan Giri secara umum, kompleks
luar dari makam, kompleks cungkup, dan kompleks masjid.
BAB
3 SEJARAH SUNAN GIRI SEBAGAI
TOKOH PENYEBAR AGAMA ISLAM DI PULAU JAWA
sejarah
sunan Giri sebagai tokoh penyebar agama islam di pulau jawa meliputi pembahasan tentang sejarah
singkat Sunan Giri, sunan giri sebagai
Wali songo, cara penyebaran agama islam,
dan wafatnya Sunan
Giri.
BAB
4
PEMANFAATAN MAKAM SUNAN GIRI
SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH
Sedangkan
fokus kajian yang kedua tentang pemanfaatan makam sunan Giri sebagai
pembelajaran sejarah dalam sub babnya akan membahas tentang sejarah Makam Sunan
Giri, makna simbolis Makam Sunan Giri, dan pembelajaran sejarah di Makam Sunan
Giri.
BAB
5 SIMPULAN DAN SARAN
Merupakan
bab terakhir yang merupakan kesimpulan dari data-data atau fakta-fakta yang di
sajiakan dari bab I samapai bab IV
setelah mendaapatkan interpretasi dan analisis data suatu pokok persoalan.
BAB II
GAMBARAN UMUM OBYEK KAJIAN
A.
Silsilah
Sunan Giri
Sebagai
tempat penyebaran agama Islam
di pesisir Jawa Timur. Gresik sudah memperlihatkan eksistensinya sejak
lama dalam bidang perniagaan,
yaitu
sejak abad ke-13 dan ke 14. Menurut pengarang Portugis yang bernama Pigafetta, Gresik pada abad 16 sudah tekenal karena di sana terdapat makam Maulana Malik
Ibrahim yang hingga kini ramai diziarahi orang-orang. Selain terdapat makam
Maulana Malik Ibrahim,
terdapat pula makam Sunan Giri.
Beliau adalah salah seorang dari Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke 15
dan ke 16.[1]
Kalau
berbicara mengenai Sunan Giri, dia adalah salah satu dari Wali Songo yang mempunyai nama asli Raden
Paku. Ia dilahirkan di Blambangan, Jawa Timur. Nama lainnya adalah Joko Samudro, Prabu Satmata
dan Sultan Abdul Faqih, Ia juga mempunyai julukan Ainul Yaqin. Ia pendiri
Pesantren di Bukit Giri yang hingga abad ke-17 dikunjungi banyak santri dari berbagai pelosok Nusantara.
Ayah Sunan Giri yaitu Syekh Maulana Ishak, merupakan seorang ulama dari
tanah Arab yang telah lama bermukim di Pasai Aceh, dan ibunya bernama Dewi
Sekardadu yang merupakan anak dari Prabu Menak Sembuyu, penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa
akhir Majapahit. Sunan Giri belajar agama Islam pada Sunan Ampel, kemudian melanjutkannya ke Pasai
bersama Sunan Bonang untuk belajar agama kepada Syekh Maulana Ishak yang
merupakan ayah dari Sunan Giri. Sampai akhirnya kembali lagi ke Jawa untuk
membangun pesantren dan menyebarkan agama Islam di Jawa.[2]
Pesantren
Giri merupakan pusat ajaran Taukhid dan Fiqih yang mengajarkan Al-Quran dan Sunnah
Rosul. Sunan Giri tidak mau berkompromi
dengan adat istiadat yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Oleh karena itu Sunan Giri dianggap pemimpin kaum “Putihan” yang merupakan aliran yang didukung
oleh Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Namun Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan
Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga dakwah
hendaknya juga
menggunakan pendekatan kebudayaan,
misalnya
dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria,
Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini memuncak pada saat
peresmian Masjid Demak. Sunan Kalijaga dan yang lainnya ingin meramaikan
peresmian itu dengan wayang. Tapi menurut Sunan Giri menonton wayang tetap
haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia. Akhirnya Sunan Kalijaga
mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah menjadi tipis dan
tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber berubah menjadi wayang
kulit.
Sunan
Giri diangkat menjadi ketua
para wali setelah Sunan Ampel wafat yang merupakan ketua sebelumnya. Atas usulan Sunan Kalijaga, Sunan
Giri diberi gelar Prabu Satmata.
Gelar
itu diriwayatkan
jatuh pada 9 Maret 1487-1506 M, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi
Kabupaten Gresik. Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan
ketatanegaraan di
kalangan Wali Sembilan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman
tata cara di keraton. Sunan Giri wafat pada tahun 1428 saka atau 1506 Masehi
dan dimakamkan di atas bukit di dalam cungkup berarsitek sangat unik. Makam
Sunan Giri terletak di Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas berjarak
sekitar 4 Km dari pusat Kota Gresik.[3]
B.
Kompleks
Makam Sunan Giri
Kompleks
Makam
Sunan Giri merupakan suatu pemakaman
yang luas dan hampir memenuhi daerah perbukitan. Bagian selatan dibatasi belakang
pasar desa Giri. Batas bagian Timur dimulai dari pintu masuk yang ada di muka pasar
(sekarang parkir)
terus ke utara, kemudian membujur ke barat sampai pada kompleks Sunan Prapen.
Situs tersebut memanjang dari Timur ke Barat kurang lebih 600 meter [4]. Secara umum kompleks Makam Sunan Giri terbagi menjadi
tiga Area, yaitu area pelataran/luar, area cungkup dan area masjid.
1. Area
pelataran/area gapura
Ketika menuju
makam dari Sunan Giri,
maka kita disambut dengan gapura yang bercorak candi bentar, dimana seni dari
bangunan gapura tersebut merupakan perpaduan seni Hindu-Budha yang berkembang pada saat itu dengan Islam yang
dibawakan oleh para wali. Pada gapura tersebut terdapat dua patung kepala naga
yang memiliki simbolis berupa tanggal dari wafatnya Sunan Giri. (lihat gambar 1
dan gambar
3 halaman 38 dan 40 ). Pemakaian simbol naga juga karena naga dianggap
merupakan binatang suci.
Selain
itu naga juga mempunyai makna yang mendalam pada kehidupan kerokhanian pada
masa sebelum Islam, tapi kemudian tradisi penggunaannya diteruskan masyarakat
setelah mengalami Islamisasi.
Pada pelataran
ini, terdapat juga puluhan makam yang merupakan makam
para bupati dan masyarakat terdahulu yang pernah memimpin dan bertempat tinggal
disekitar Gresik,
tetapi
kondisi makamnya banyak yang rusak dan tidak terawat.[5]
2. Area
cungkup/joglo,
Bangunan
induk dari kelompok makam utama adalah makam Sunan Giri. Makam itu terletak
dalam suatu bangunan yang dinamakan cungkup atau Joglo. Lokasi cungkup berada
ditengah-tengah kompeks makam utama, posisinya di paling atas dan lebih tinggi
dari pelataran dan gapura. Secara
umum cungkup makam Sunan Giri terdiri atas tiga bagian, yaitu fundamen, tubuh, dan atap cungkup. Isi cungkup makam Sunan Giri adalah makam Sunan Giri, Dewi Murtasiah dan Dewi
Ragil (lihat gambar 7
dan gambar 8 halaman 43 dan 44 ). Cungkup
kecil yang merupakan makam dari Sunan Sedomargi berada di sebelah barat Cungkup Sunan Giri dan di sebelah
baratnya lagi terdapat
sebuah bangsal berbentuk cungkup memanjang. Isi bangsal ini adalah makam Sunan
Dalem, Sunan Tengah, Pangeran Kidul, dan Sunan Kulon.
Pada saat ini, area
utama makam Sunan Giri juga sudah ditutup dengan tratak atau pendopo. Hal ini dilakukan untuk membuat nyaman para peziarah
dan untuk menjaga kompleks makam agar tidak cepat rusak terkena pelapukan dari
hujan dan panas. (lihat
gambar 5 halaman 41)
3.
Area Masjid,
Area
ini masih berada di area cungkup Makam
Sunan Giri, kurang lebih hanya 30 meter dari Cungkup Makam Sunan Giri. Lokasi makam ini
memang jauh dari Giri Kedaton.
Hal
ini terjadi karena pada saat akan didirikan masjid di sekitar Giri Kedaton, lokasinya
tidak cukup karena sempitnya area di Giri Kedaton. Oeh karena itu, Sunan Giri
berinisiatif untuk mendirikan masjid di Bukit Giri yang sekarang menjadi
kompleks utama dari makam Sunan Giri. Letak masjid ini pula yang akhirnya
membuat makam Sunan Giri dipindahkan dari kompleks Giri Kedaton ke kompleks
Masjid, dengan alasan agar makam tersebut dekat dengan masjid yang didirikan
oleh Sunan Giri dan dekat juga dengan para muridnya serta karena kegiatan keagamaan
pada saat itu memang lebih berpusat dikompleks Masjid, tidak dikompleks Giri
Kedhaton.[6]
BAB
III
SEJARAH SUNAN GIRI SEBAGAI TOKOH
PENYEBAR AGAMA ISLAM DI PULAU
JAWA
A. Silsilah
Sunan Giri Dan Peranannya Dalam Walisongo
Sunan
Giri adalah seorang dalam Walisongo serta pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang
berada di Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri lahir di Blambangan tahun 1442 M. Sunan Giri juga merupakan salah
satu wali yang memiliki peran penting atas berdirinya kota Gresik dan pemerintahan
Gresik pada zaman Wali Songo dengan menyebarkan agama islam
dan mendirikan pondok pesantren yang berpengaruh besar di Jawa. Sunan Giri
memiliki nama lain, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden
'Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Sunan Giri adalah
pejuang dan penyebar agama Islam
di Pulau Jawa. Dia
berperan penting pada masa
awal pemerintahan
Kerajaan
Islam Demak dan konon
dia juga
masih keturunan Nabi Muhammad SAW.
Silsilah
para wali dapat dikatakan
kurang jelas atau masih banyak sumber yang berbeda. Beberapa babad menceritakan
pendapat yang berbeda mengenai silsilah Sunan Giri. Seperti Babad Gresik, Babad Tanah Tawi, dan lain-lain. Menurut
hasil penelitian Panitia Penelitian dan Pemugaran Sunan Giri yang bekerja sama
dengan Lembaga Research Islam Malang dari 27 April 1973 sampai 23 September
1973 mengenai silsilah Sunan Giri,
silsilah Sunan Giri dari pihak ayah adalah sebagai berikut.[7] Raden Paku Muhammad Ainul Yakin
putra Ishak, Ibrahim Al Ghozi, (Ibrahim Asmoro) bin Jamaluddin Husein, bin
Ahmad, bin Abdullah, bin Abdul Malik, bin Alawi, bin Muhammad, bin Shohibul
Mirbad, bin Ali Kholid Qosam, bin Alawi, bin Muhammad, bin Abdullah, bin Ahmad
Al Muhajir, bin Isa, bin Muhammad Al Faqih, bin Ali al Aridh, bin Ja’far As
shadiq, bin muhammad al Baqir, bin Ali Zainal Abidin, bin Ali bin Abi Thalib
suami Fatimah binti Rasulullah Saw. Adapun dari pihak Ibu Sunan Giri putra dari
Dewi Sekardadu bin Minak Sembuyu, bin
Menak Pragola, bin Bambang Tumenggung, bin Wacana, bin Ratu Surya
Winata, bin Mundiwangi. Menurut pigeaud, Menak Pragola adalah Dadali Putih,
keturunan Wirabhumi yang terbunuh dalam perang Pra-Regreg (1401-1406). Jadi
Sunan Giri memiliki hubungan genealogi dengan raja Majapahit yang terbesar, yaitu Hayam Wuruk atau
Rajasanagara (1350-1389).[8]
Tabel 1. Biodata Sunan Giri:
|
Nama
|
Sunan Giri
|
|
Tahun lahir dan wafat
|
1443 M - 1506 M
|
|
Tempat pemakaman
|
Desa Giri, kecamatan
kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur
|
|
Ayah
|
Maulana Ishaq
|
|
Ibu
|
Dewi Sekardadu
|
|
Istri
|
Dewi Wardah
Dewi Murthosiah
|
|
Anak
|
Susuhunan Tegalwangi
Nyai Ageng SeloLuhur
Pangeran Sedo Timur
Susuhunan Kidul Ardi Pandan
Nyai Ageng Kukusan Klangonan
Sunan Dalem Wetan
Nyai Ageng Sawo
Susuhunan Kselin
Pangiran Pasir Batang
Susuhunan Werutu
Putrid Ragil
|
|
Gelar dan nama lain
|
Jaka Samudra
Raden Paku
Prabu satmata
Muhammad Ainul Yakin
|
Kelahiran Sunan Giri dianggap membawa
kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Oleh karena itu, Dewi Sekardadu dipaksa
ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya. Akan tetapi, alasan yang sesungguhnya mengapa Sunan Giri
kecil dibuang adalah ketidaksukaan Prabu Menak Sembuyu terhadap cucunya yang merupakan
anak dari Syekh Maulana Ishaq yang merupakan mubaligh Islam.[9]
Sunan Giri kecil atau Joko
Samudro diasuh oleh Nyai Gede Pinatih. Saat sudah cukup dewasa, Joko Samudra
dibawa ibunya ke Ampel
Denta
(kini di Surabaya) untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama
setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid
kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim
(Sunan Bonang) untuk mendalami agama
Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah
Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama Raden Paku
mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang. Akhirnya, ayah dan anak itu pun
bertemu. Setelah belajar selama tujuh tahun
di Pasai
kepada Syekh
Maulana
Ishaq,
mereka kembali ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam dan mengamalkan ilmu
yang telah dipelajarinya dari Sunan Ampel dan Syekh Maulana Ishaq.
Menurut
literature of java
(1967-1980) disebutkan bahwa pada
tahun 1485 M Sunan Giri membangun kedhaton di puncak bukit. Sunan Giri juga termasuk orang pertama diantara
ulama yang membangun tempat khalwat dan makam diatas bukit. Tempat keramat
diatas bukit merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan keagamaan sejak
sebelum zaman Islam di Jawa Timur.[10] H.J. De Graaf juga menjelaskan bahwa sesudah pulang
dari pengembaraannya ke negeri Pasai, Raden Paku memperkenalkan diri kepada
dunia dengan mendirikan pesantren di atas bukit di kota Gresik. Sunan Giri
menjadi orang pertama yang paling terkenal diantara sunan-sunan lainnya yang
mendirikan pesantren di daerah giri (pegunungan). H.J.
De Graff juga mengatakan
bahwa
di atas gunung di Gresik tersebut seharusnya saat ini terdapat sebuah istana
karena sejak lama rakyat setempat membicarakan keberadaan Giri Kedaton atau
Kerajaan Giri.
Murid-murid
Sunan Giri berdatangan dari segala penjuru Nusantara, seperti Maluku, Madura,
Lombok, Makassar, Hitu dan Ternate.[11] Murid-murid Giri Kedaton ini tidak
hanya kalangan rakyat kecil, namun juga para pangeran dan bangsawan. Kerajaan
Majapahit yang sudah rapuh merasa khawatir melihat perkembangan Giri Kedaton.
Para pangeran yang telah menamatkan pendidikan mereka, sekembalinya ke negeri masing-masing
mengobarkan semangat baru untuk lepas dari kekuasaan Majapahit. Daerah
kekuasaan Majapahit memang semakin berkurang sejak meletusnya Perang Paregreg
tahun 1401–1406 M.
Berbeda dengan keterangan di atas, Babad
Tanah
Jawa menjelaskan
bahwa
murid-murid Sunan Giri itu justru bertebaran hampir di seluruh penjuru benua
besar, seperti Eropa (Rum), Arab, Mesir, Cina dan wilayah lain di dunia. Semua
itu adalah penggambaran nama besar Sunan Giri sebagai ulama penting yang sangat
dihormati orang pada jamannya. Di samping pesantrennya yang besar, Sunan Giri
juga membangun masjid sebagi pusat ibadah dan pembentukan iman umatnya. Beliau juga membangun asrama yang
luas untuk
para santri yang datang dari jauh. Jasa Sunan Giri yang terbesar tentu saja
perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa bahkan sampai ke
Nusantara, baik dilakukan Sunan Giri sendiri saat masih muda sambil berdagang
maupun melalui murid-muridnya yang ditugaskan ke luar pulau. Sunan Giri
memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Jawa
maupun di luar Jawa. Sebagai bukti adalah adanya kebiasaan apabila seorang
putra mahkota hendak dinobatkan menjadi raja haruslah mendapat pengesahan dari
Sunan Giri.[12]
Beberapa
tahun kemudian, Sunan Giri menikah. Pernikahannya tidak seperti yang dilakukan oleh orang kebanyakan. Pernikahan Raden Paku atau Sunan Giri tergolong unik karena beliau
menikahi dua wanita sekaligus dalam waktu satu
hari.
Wanita yang dinikahinya
adalah Dewi Murtasiyah yang merupakan putri dari
Sunan Ampel, dan Dewi Wardah yang merupakan putri Sunan Bungul. Sunan Bungul
adalah bangsawan Majapahit
yang masuk Islam
dan menetap di Surabaya.
Sunan Ampel merasa tertarik dengan kepribadian dan kecerdasan muridnya yang
luar biasa bernama Raden
Paku. Oleh karena itu, beliau hendak menjodoh putrinya dengan Raden Paku .
Kebetulan pula Raden
Paku
dan Dewi
Murtasiyah
telah saling jatuh cinta.[13]
Sunan
Giri atau Raden Paku memerintah Kerajaan
Giri kurang lebih 20 tahun. Sewaktu memerintah Giri Kedaton beliau bergelar
Prabu Satmata. Pengaruh
Sunan Giri
sangatlah besar terhadap kerajaan Islam di Jawa maupun di luar Jawa. Sebagi buktinya adalah adanya
kebiasaan bahwa apabila seorang hendak dinobatkan menjadi raja haruslah mendapat
pengesahan dari Sunan Giri. Giri
Kedaton atau Kerajaan Giri berjaya
selama 200 tahun. Sesudah Sunan Giri meninggal dunia, pemegang
kepemimpinan digantikan oleh anak keturunannya, yaitu:
1. Sunan
Dalem
2. Sunan
Sedomargi
3. Sunan
Giri Prapen
4. Sunan
Kawis Guwa
5. Panembahan
Ageng Giri
6. Panembahan
Mas Witana Sideng Rana
7. Pangeran
Singonegoro (bukan keturunan Sunan Giri)
8. Pengeran
Singosari
Pengganti Sunan Giri yaitu Pangeran
Singosari berjuang gigih mempertahankan diri dari serbuan Sunan Amangkurat II
yang dibantu oleh VOC dan Kapten Jonker.
Sesudah
pangeran Singosari wafat pada tahun 1679, habislah kekuasaan Giri Kedhaton. Meski demikian kharisma Sunan
Giri sebagai ulama besar wali terkemuka tetap abadi sepanjang masa.[14]
Sejarah
kehidupan Wali Songo
termasuk sejarah Sunan Giri sebagian besar masih diliputi
kegelapan.
Bahan
atau sumber sejarahnya yang bersifat
primer
tidak didapatkan. H. Abu Bakar dalam Sedjarah
Al-Qur’an menyatakan bahwa para ahli sejarah
di Indonesia yang ternama,
seperti
Hoesein Djajadiningrat, Snouck Hurgronye, dan D.A Rinkes, dalam penelitiannya masih sering terbentur oleh berita-berita tarikh, legenda, dan dongeng yang kadang-kadang
bertentangan antara satu sama lain.[15]
Kumpulan wali di Pulau Jawa disebut sebagai
organisasi dakwah karena
didalamnya
terdapat pemimpin, anggota, dan program yang hendak dijalankan. Ketiga hal tersebut
sudah cukup sebagai syarat menyebut para wali pada masa Walisongo menjadi
organisasi dakwah. Setelah Sunan Ampel wafat, Sunan Giri diminta untuk
menggantikannya. Sunan Kalijaga
Mengusulkan bahwa ketua baru wali tersebut diberi gelar Prabu Satmata.
Dalam
berdakwah, Sunan Giri masuk dalam jalur politik dan budaya. Namun ia terkenal sangat hati-hati dalam
menyebarkan agama Islam.
Ia membedakan secara tegas antara syariah dan bid’ah. Ia ingin mengajarkan Islam secara murni kepada
masyarakat, yaitu tanpa dicampuri oleh budaya lokal orang-orang Jawa yang
cenderung mengarah kepada kemusyrikan. Sehingga Islam terkesan kuat ditangannya.[16]
B.
Cara
Sunan Giri Dalam Menyebarkan Agama Islam
Sunan
Giri memulai aktivitas dakwahnya di daerah Giri dan
sekitarnya dengan mendirikan pesantren yang santrinya banyak berasal dari
golongan masyarakat ekonomi lemah. Ia mengirim juru dakwah terdidik ke berbagai
daerah di luar Pulau Jawa, yaitu Madura, Bawean, Kangean, Ternate dan Tidore.
Kegiatan-kegiatan ini menjadikan pesantren yang dipimpinnya menjadi terkenal di
seluruh nusantara.
Dakwah
Sunan Giri dijalankan
dengan
mendatangi
masyarakat.
Lewat kegiatan-kegiatan kehidupan sehari-sehari itu, disalurkannya ajaran-ajaran Islam,
sehingga suasana lingkungan lambat laun dan dengan cara-cara yang halus serta
tidak terasa hingga akhirnya bersedia menerima ajaran-ajaran Islam berdasarkn
kesadaran dan kemauan sendiri, sebagai suatu hal yang wajar, serta diliputi
oleh suasana menyenangkan. Penyiaran Islam seperti itu dalam dunia Islam dikenal dengan nama
tabligh.
Berikut ini adalah jasa-jasa Sunan Giri terhadap penyebaran Islam di Indonesia:
1.
Dalam
Bidang Pendidikan
Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Giri bergerak dalam bidang
pendidikan yaitu dengan mendirikan pesantren-pesantren yang didalamnya diajarkan ilmu agama dan ketauhidan.
Dalam
pesantren para santri biasanya memperoleh pelajaran sebagai berikut :
a. Pengetahuan
tnetang
Bahasa Arab, seagai alat untuk mempelajari Islam.
b. Pengetahuan
tauhid, untuk mempertebal keyakinan yang sangat diperlukan bagi keteguhan iman
terutama bagi para mubaligh.
c. Ilmu
Fiqh sebagai pedoman syariat hukum
untuk menjalankan darma bakti dalam kehidupan masyarakat dan agama.
d. Pengetahuan
umum tentang Al-Qur’an, hadist, tarikh nabi serta mubaligh-mubaligh Islam
seperti telah dirintis oleh Khaulafa’ur
Rasyidin.
2.
Dalam
Bidang Politik
Peranan
Sunan Giri dalam politik pemerintahan sebagai berikut :
a. Memberikan
legitimasi kepada para penguasa di Demak, Pajang dan Mataram. Dalam Babad, legitimasi
itu dikenal dengan sebutan riwayat Sunan Giri. Lebih dari itu pengaruh Sunan
Giri terasa sampai jauh di luar Jawa yaitu : Lombok, Makasar, Hitu (Ambon), dan
Ternate. Kerapkali seorang raja seakan-akan baru sah sebagai raja apabila yang
bersangkutan telah di berkahi dan di akui oleh Sunan Giri.
b. Meskipun
tidak ataupun belum ditemukan sumber-sumber yang credible (sahih), akan tetapi menurut anggapan masyarakat, Sunan Giri ikut
menentukan garis-garis politik pemerintahan. Pada waktu itu Demak terjadi
perang saudara antara Adiwijaya dan Arya Penangsang (1546), Sunan
Giri bersama-sama dengan Sunan Kudus berusaha agar pusat pemerintahan Islam
tetap berada di daerah pantai (Demak).
c. Dinasti
Giri memiliki akar politik, sosial, budaya dan ekonominya yang kuat. Hal ini
terbukti “dinasti” Giri khususnya dalam “hegemoni” kerohanian di Jawa mampu
bertahan tidak kurang dari 200 tahun (1477-1680).[17]
Dalam
hal ekonomi, berdasarkan sumber-sumber arkeologis, toponimik dan berita asing,
tidak diragukan lagi bahwa Gresik dibawah Supremasi Giri dari abad XV-XVII
mencapai puncak perkembangannya sebagai kota dagang. Toponimi yang tersisa
seperti Kampung
Kemasan (tempat saudagar Palembang – kiemas), dan Pakelingan (Tempat para saudagar
tukang kayu).[18]
Pola itu menunjukan bentuk pemukiman yang serupa di Malaka pada kurun waktu
itu. Hasil ekskavasi di Giri pada tahun 1973 juga menemukan situs-situs, seperti : kedaton (kraton),
alun-alun, jraganan, kajen, punggawan,
dalem wetan, kajen, dan
triman telah memberikan petunjuk bahwa Giri pada abad tersebut menjadi pusat
keagamaan, ekonomi, dan politik.[19]
Pada waktu
Trunajaya mengadakan perlawanan terhadap Amangkurat I dan VOC, Giri yang dipimpin oleh keturunan
Raden Paku dengan segala kemampuan dan kekuatan membantu perjuangan Trunajaya,
dengan alasan Bahwa :
a. Giri
ingin meleyapkan sikap
kejam
dan tidak adil dari Amangkurat I
b. Tidak
menyetujui adanya kerjasama antara Amangkurat I dan VOC (Belanda)
c. Trunajaya
masih mempunyai hubungan keturunan (darah) dengan Sunan Giri.
Dalam
menentukan hukum agama, Sunan Giri sangat berhati-hati. Beliau pernah menjadi
hakim dalam perkara pengadilan Syekh Siti Jenar, seorang wali yang dianggap
murtad karena menyebarkan faham Pantheisme dan meremehkan syariat Islam yang
disebarkan para wali lainnya.
3.
Dalam
Bidang Kebudayaan dan Kesenian
Menciptakan lagu ilir-ilir dalam penyebaran agama Islam
dan menciptakan permainan anak-anak seperti cublek-cublek
suweng, jelungan,
jor,
bendi gerit, gula ganti dan
sebagainya. Media seni juga dimanfaatkannya untuk menyebarkan agama, misalnya melalui tembang
macapat dan kidung. Gending-gending yang diduga sebagai ciptaan Sunan Giri
misalnya Amsaradana dan Pucung. Lagu-lagu
itu selain mudah di pahami juga mudah di mainkan oleh anak-anak dan remaja juga
sangat di gemari rakyat karena berisi ajaran yang bertingkat tinggi.[20]
Sunan
Giri juga berjasa besar dalam bidang kesenian karena beliau yang
pertama kali menciptakan Asmaradana dan
Pucung serta
menciptakan tembang-
tembang dolanan anak-anak yang bernafas Islam seperti Jelungan, Jamuran, Gendi Ferit, Jor, Gula Ganti, Cublak-cublak Suweng,
Ilir-ilir dan sebagainya. Ia juga
dipandang sebagai orang yang sangat berpengaruh terhadap jalannya roda
Kesultanan Demak Bintoro (Kesultanan Demak). Hal ini dikareenakan setiap kali
muncul masalah penting yang harus diputuskan, wali yang lain selalu menantikan keputusan dan
pertimbangannya.
Melalui media budaya seperti
yang dipaparkan Sunan Giri,
mereka
mendekati khalayak melalui sarana yang ada, tanpa mengurangi kegemaran dan apa
saja yang disukai rakyat melalui saluran-salura baru yang sesuai dengan
ajaran-ajaran Islam. Demikianlah kiranya Sunan Giri dalam menyampaikan ajaran
Islam kepada masyarakat juga dengan bermacam-macam
cara antara lain dengan
memberikan tauladan langsung kepada rakyat mengenai amal ibadah, dan tuntunan
akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. Hal tersebut dilakukan secara orang perorang, secara
rahasia, maupun dengan pengajian umum yang dihadiri oleh orang banyak dari
berbagai
lapisan masyarakat.
C. Akhir
Usia Sunan Giri
Pemerintahan
Prabu Satmata atau Sunan Giri semakin lama semakin
kokoh, demikian pula Pondok
Pesantern
Giri
Kedhaton
semakin berkembang
pesat. Pondok
Pesanteren
Giri Kedhaton
tidak hanya menampung santri-santri yang berasal dari Gresik dan sekitarnya saja,
melainkan juga menampung santri yang datang dari Maluku. Santri dari Maluku
yakni orang-orang Hitu,
banyak berguru kepada Sunan Giri.[21]
Hal ini mengundang kecemburuan politik Raja Majapahit dan oleh karena Raja Majapahit beberapa kali menyerang Giri Kedhaton. Namun penyerangan ini gagal.
Tidak diketahui dengan pasti bagaimana
gejolak yang terjadi akibat penyerangan Kerajaan Majapahit. Pada akhirnya
tepat pada malam Jum’at
tanggal 24 Rabiul Awwal tahun 913 Hijriyah/ 1428 Saka/ 1506 Masehi, Prabu Satmata atau Sunan Giri wafat dalam usia genap 63 tahun. Tahun wafatnya Sunan Giri diketahui dari
pendapat
tentang keberadaan naga. Penyebab
wafatnya Sunan Giri belum diketahui dengan pasti karena belum ada sumber yang
mengatakan penyebab wafatnya beliau, tetapi diperkirakan beliau meninggal
karena sakit di usia tua.[22] Arti
dari kedua naga dalam candi bentar
maupun pada pintu masuk cungkup
makam adalah
candra
sengkala tahun wafatnya Sunan
Giri
(1428 saka/1506
M). Hal ini dikarenakan belum adanya sumber-sumber yang lain yang bisa
dipertanggungjawabkan kebenarannya.[23]
Sunan Giri wafat
meninggalkan berbagai benda dan peninggalan-peninggalan lain yang masih ada sampai saat ini.
Peninggalan-peninggalanya diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Keris
Kalamunyeng/ Suro Angun-angun
2. Sajadah
(alas sholat)
3. Tangga
Bambu di Masjid Gumeno Manyar
4. Beduk
di Masjid Jami’ Gresik
5. Sumur
Gumeling (1404 saka/ 1482 M)
6. Telaga
Pati, di bangun tahun 1406 saka / 1484 M
7. Cungkup
Makam Sunan Giri dibangun tahun1520 saka / 1598 M.
8. Petilasan
Kerajaan dan Masjid Giri Kedaton dan lain-lain[24]
BAB
IV
PEMANFAATAN MAKAM SUNAN GIRI
SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH
A. Kompleks
Makam
Sunan Giri
Berbagai peninggalan-peninggalan sejarah
yang ada di Indonesia mempunyai arsitektur yang beraneka ragam. Hal tersebut memperlihatkan akan kekayaan kebudayaan yang berkembang di
Indonesia. Terjadinya akulturasi kebudayaan antara kebudayaan Indonesia dan asing
memberikan kesan keunikan pada arsitektur bangunan yang ada di Indonesia,
seperti halnya Makam Sunan Giri. Makam Sunan Giri yang terletak dibukit Giri
mempunyai
makna-makna simbolis yang berasal dari bentuk dari akulturasi unsur-unsur
kebudayaan Hindu, Budha,
dan Islam. Pemilihan tempat di atas gunung merupakan sebagai proses yang
sejalan atau bahkan dapat dikatakan kelanjutan dari kepercayaan rakyat yang
semenjak prasejarah menganggap gunung merupakan tempat keramat karena merupakan tempat tinggal
arwah-arwah nenek moyang. Hanya saja pemanfaatan kompleks makam Sunan Giri diwarnai dengan corak dan suasana Islam. Tempat semayamnya atau makam
dibuat berundak-undak, selain ini juga dalam makam terdapat banyak relief
unsur-unsur gunung suci, teratai
dan garuda sebagai kelanjutan tradisi periode sebelum Islam.
Sistem susunan bangunan pada
kompleks Sunan Giri, bila dilihat dari arah selatan ternyata kompleks Sunan
Giri terdiri dari tujuh tingkatan dengan makam Sunan Giri terletak pada lokasi
tertinggi dan juga pada posisi paling belakang. Dari arah lain dari timur ke
barat tampaklah bahwa susunan kompleks Sunan Giri terdiri dari tiga halaman.
Halaman pertama terletak paling timur meliputi antara makam Sunan Giri dan
masjid, dan halaman ketiga yaitu halaman yang paling belakang merupakan halaman
paling penting yaitu situs makam Sunan Giri. Melihat hal tersebut dapat
diartikan jika susunan bangunan di Giri sebagai bangunan untuk keperluan
keagamaan Islam yang juga melanjutkan tradisi dari jaman sebelumnya. Pada
kompleks Giri, bangunan makam Sunan Giri
sebagai bangunan terpenting diletakan pada lokasi paling tinggi dan juga
ditempatkan pada halaman paling belakang. Hal ini biasanya disebut kompleks
panataran.
Kompleks makam Sunan Giri
berada di Desa Giri yang terdiri atas 3 kampung yaitu Sidomukti, Giri Gajah,
dan Giri Kedaton. Ketiga kampung tersebut berada di daerah pegunungan.[25] (lihat gambar 9: halaman
45) Sunan Giri dimakamkan di Desa Giri tidak dimakamkan di Giri Kedaton ataupun
di Desa Kedaton karena waktu itu wilyahnya sempit ataupun tempatnya sempit maka
dibuatlah masjid di Desa Giri. Terlebih lagi tanah kompleks makam Sunan Giri
ini dulunya milik Belanda yang berupa perkebunan. Oleh karena Sunan Giri wafat
di Desa Giri maka dimakamkan di area ini, selain itu pula area ini dekat dengan
masjid yang dibangun Sunan Giri.[26]
Bangunan–bangunan makam
utama terletak pada tingkatan yang tertinggi dari pemakaman Giri. Kelompok
makam utama Giri meliputi sebidang tanah luas kira-kira 80x75 meter yang dikelilingi
tembok. Bangunan induk dari kelompok makam utama adalah makam Sunan Giri yang
terletak dalam suatu bangunan yang disebut cungkup dengan tiga bagian yaitu
fundamen, tubuh, dan atap. Fundamen cungkup setinggi kira-kira setengah meter
dihiasi dengan ragam hias sulur-sulur daun melingkar. Tubuh cungkup ditutupi
oleh dinding kayu diukir dengan relief tumbuh-tumbuhan, motif-motif teratai,
gunung-gunung dan bunga. Atap cungkup makam Sunan Giri berbentuk atap tumpang
dengan bersusun tiga terbuat dari kayu, atap terbawah tampak sangat masif
berbeda dengan atap yang menupang diatasnya terlihat lebih meninggi, sedangkan
atap teratas berbentuk limas lebih tajam menjulangnya keempat hubungannya
bertemu pada titik diatas puncak yang kemudian ditutp oleh penutup yang biasa
disebut mustoko. Lokasi cungkup Sunan
Giri berada ditengah-tengah kompleks makam utama. Dalam cungkup tersebut
terdapat makam Sunan Giri, Dewi Murtsiah, dan Dewi Ragil. Disebelah barat
kuncup Sunan Giri terdapat cungkup kecil makam Sunan Sedomargi. Disebelah
baratnya terdapat bangsal berbentuk cungkup memanjang yang didalamnya terdapat
makam : Sunan Dalem, Sunan Tengah, Pangeran Kidul, Sunan Kulon. Uraian seni
bangunan makam dititikberatkan pada bangunan-bangunan makam Sunan Giri.
Jirat makam Sunan Giri
terbuat dari batu putih, sisi sebelah selatan tersusun dari pelipit bawah
sebagai dasar jirat, didasarnya terdapat bidang segi empat yang agak tinggi
sebagai tubuh jirat yang ditutpi dengan pelipit yang lebih besar dari pada
pelipit bawah, dan pita-pita kecil yang semakin keatas semakin kecil sebagai
landasan tempat batu nisan. Tinggi jirat dan nisan lebih kurang 1,10 meter.
Pada bagian selatan kompleks makam utama terdapat halaman belakang yang
diatasnya dberi tumpukan-tumpukan batu karang yang menggambarkan sifat gunung
ditaruhlah batu karang asli diatas pagar bagian selatan yaitu kiri kanan kori agung.[27]
Bangunan-bangunan yang
terdapat dalam kompleks Giri berbentuk gapura, cungkup dan masjid. Bangunan
gapuranya berbentuk candi bentar. Mengenai cungkup makam Sunan Giri bentuk
dasar bangunannya sama dengan relief bangunan suci dari rangkaian ceritera sudamala pada candi Tigawangi dengan
atap kuncup berbentuk limas merupakan perpaduan antara payung (cattra) dan pola dasar candi. Masjid
dengan atap tumpang dipindahkan dari Giri Kedaton ke situs atau kompleks makam
pada tahun 1544 kemudian pada tahun 1857 mengalami pemugaran dan perluasan oleh
Bupati Gresik Adipati Sastrawinata.[28]
Kompleks Giri dikelola
dengan dana dari para peziarah atau dana infak dari para peziaran, tetapi
Pemerintah Daerah juga turut andil dalam merawat kompleks makam Sunan Giri dan
beberapa kali memberikan bantuan. Pada saat belum ada perbaikan, didepan pintu
gerbang kompleks makam sunan Giri banyak pedagang yang berjualan dan banyak
pengemis yang meminta-minta, maka Pemerintah Daerah membuat 3 tingkatan atau
gapura menuju gapura makam sunan Giri ditandai dengan adanya gambar atau patung
dua ekor naga pada gapura candi bentar, dimana 2 gapura sebelumnya dibangun
oleh pemerintah daerah dengan tujuan untuk menertibkan pedagang kaki lima. Pemerintah
Daerah juga memberi bantuan pula dengan membangun atap di area makam atau
disekitar makam Sunan Giri untuk memberi kenyamanan untuk para peziarah.[29] Kenyamanan sangat
diperlukan karena makam para Wali Songo tidak pernah sepi pengunjung begitu
pula dengan makam Sunan Giri baik masyarakat sekitar maupun masyarakat yang
berasal dari luar kota.
Area makam Sunan Giri
menurut catatan cagar budaya Trowulon, Mojokerto luasnya 18.000 meter lebih, tetapi sekarang
hanya 12.000 meter. Hal ini bisa terjadi diperkirakan karena tanah disamping
area makam menjadi hak pribadi.[30] Hal ini tentu sangat
disayangkan mengingat di area makam itu dimakamkan seorang tokoh penyebar agama
Islam yang memiliki pengaruh pada masanya, belum lagi jika melihat bangunan makam yang
kaya akan akulturasi bisa tergambar bagaimana cara penyebaran agama Islam pada
saat itu. Pembangunan kompleks Giri
diperkirakan pada masa terakhir jaman Hindu (Majapahit) dan permulaan zaman
Islam di Jawa.
Kompleks makam Sunan Giri
adalah salah satu sisa peninggalan kuna dari jaman permulaan jaman Islam di
Jawa. Makam Sunan Giri tidak membawa unsur-unsur baru yang artinya ansir budaya
dari negeri-negeri Islam diluar Indonesia. Dalam menerima dan mengembangkan
budaya Islam hanya mengubah unsur-unsur budaya dari jaman sebelum Islam,
diantaranya seni bangunan, relief dan strukturnya baik unsur bangunan
prasejarah maupun unsur seni budaya dari jaman Hindu-Budha sesuai dengan
kepentingan Islam.
B.
Makna
Simbolis Makam Sunan Giri
Berbagai peninggalan sejarah yang
ada di Indonesia yang mempunyai arsitektur yang beraneka ragam dan ini memperlihatkan kekayaan kebudayaan yang berkembang di
Indonesia. Terjadinya akulturasi kebudayaan antara kebudayaan Indonesia dan kebudayaan asing
memberikan kesan keunikan pada arsitektur bangunan yang ada di Indonesia,
seperti halnya Makam Sunan Giri. Dapat diketahui bahwa kecenderungan
perkembangan kebudayaan tidak begitu beda dari kebudayaan sebelumnya.[31]
Makam Sunan Giri yang terletak dibukit Giri mempunyai makna-makna simbolis yang berasal
dari bentuk akulturasi unsur-unsur kebudayaan Hindu-Budha dan Islam itu.
Pemilihan tempat di atas gunung merupakan sebagai proses yang sejalan atau
bahkan dapat dikatakan kelanjutan dari kepercayaan rakyat yang semenjak
prasejarah menganggap gunung merupakan tempat kramat, yaitu tempat tinggal arwah-arwah nenek
moyang. Hanya saja pemanfaatan kompleks Giri diwarnai dengan corak dan suasana Islam. Temapat
semayamnya atau makam dibuat berundak-undak, selain ini juga dalam makam juga
terdapat banyak relief unsur-unsur gunung suci, teratai, dan ular naga sebagai kelanjutan
tradisi periode sebelum Islam. [32] Untuk pembahsan lebih jauh tentang seni
bangunan yang ada di makam Sunan Giri
adalah sebagai berikut:
1. Seni
bangunan gapura
2. Seni
bangunan Makam.
1.
Gapura
Gapura
menuju Makam Sunan Giri berbentuk candi bentar. Apabila dibandingkan dengan kompleks Sunan Drajad,
gapura candi bentar di kompleks makam Sunan Giri seharusnya berada di tingkat 5.
Keadaan gapura bentar ini sudah sangat rusak. Pada dasarnya bangunan ini dapat
dikatakan mempunyai bentuk atau pola yang sama dengan candi bentar Waringin
Lawang. Waringin
Lawang
merupakan tipe-tipe Candi
Jawa Timur yang di belah dua, dan
biasanya bersayap. Pada bagian kiri-kanannnya masih terlihat bekas-bekas kaitan
tembok sebagai
petunjuk
bahwa candi bentar pada dahulunya mempunyai
sayap.
Pada bagian depanya terdapat dua pilar sepanjang kira-kira 4,5 meter, sisi bagian bawah pilar ini
agak melengkung ke dalam. Jika candi bentar dibuat dari batu putih, maka pilar pada gapura ini terbuat dari dibuat
dari batu bata. Melalui jalan tengah yang membelah
candi bentar yang mempunyai panjang kurang lebih 30 meter sampailah ke candi bentar gapura yang
besar pada tingkat ke 6 dari susunan di
kompleks Sunan Giri. Bahan
bangunan candi bentar di tingkat ke 6 juga dari bahan batu kapur.[33]
Ditinjau dari ketinggian candi bentar yang diperkirakan sekitar 6 meter, maka
candi bentar kecil diperkirakan sekitar 2 meter. Candi bentar kecil merupakan
pintu masuk ke pemakaman tingkat yang paling tinggi, yaitu tingkat ke-7. Adapun
lokasi tingkatan ke-7 kira-kira lebih tinggi dari tingkatan pada dataran di
belakang candi bentar besar. Di belakang
candi bentar kecil terdapat pintu masuk ke makam yang bentuknya candi yang
bentuknya tembus tetapi beratap. Pada bangunan Hindu bagunan ini disebut paduraksa, sedangkan dalam bangunan-bangunan Islam dikenal
dengan Kori Agung.
Hal yang menarik
perhatian di kompleks Makam
Sunan
Giri
terdapat gapura jaman purba,
yaitu kori agung (beratap dan berpintu) dan candi bentar (tanpa atab tanpa
pintu).[34]
Jarak antar candi bentar kecil dengan dengan kori agung sekitar 3 meter.[35]
Dilihat dari fungsinya, maka kori agung merupakan pintu masuk ke kompleks
bangunan yang di anggap sakral sebagai bangunan utama sedang gapura candi bentar
sebagai pintu masuk dari keseluruhan suatu kompleks. Kompleks bangunan makam
Sunan Giri dikelilingi tembok sebagai dinding penyekat di sebelah kanan kiri Kori Agung.
Tingginya
kira-kira 1 meter, dibuat agak lebih tinggi dari tembok yang mengelilingi
kompleks makam utama.
Pada gapura candi bentar yang besar, mempunyai ragam hias
yang masih tersisa adalah 2 ekor naga yang di sangga oleh 2 pilar di muka
masing-masing belahan candinya. Kedua kepala naga bersikap tegak lurus
menghadap ke muka, mulutnya menganga, gigi-gigi pada rahang atas masih jelas
kelihatan. Pada bagian luar rahang atasnya terdpat garis-garis yang berpusat
pada keningnya. Di atas kepala terdapat semacam hiasan, mungkin bagian bawah dari mahkota yang terpotong.
Adanya mahkota dengan bekas potongan sebagai lubang tempat kaitan, pada puncaknya. Jarak antara
kepala naga dengan candi bentar 3,5
meter. Bila candi bentar dan naganya dibuat dari batu kapur maka pilarnya
beragam hias tumpal dari bahan batu merah. Gapura pada candi bentar pada
kompleks Sunan Giri sudah sangat rusak. (lihat gambar 1, 2, dan 4:
halaman 38, 39 dan 40)) Sehubungan dengan itu tidak dapat
dijelaskan bagaimana bentuk dan wujud ukiran yang menghias candi Bentar. Berdasarkan polanya gapura
bentar Sunan Giri bentuknya sama dengan Candi bentar Waringin Lawang atau
bentuk yang sama dengan bentuk relief dari sebuah candi yang berasal dari
Trowulan yang sekarang disimpan di musium Jakarta.
Gapura candi Bentar
bentuknya seperti pintu yang dibelah menjadi dua sama persis besarnya. Gapura
candi Bentar adalah warisan dari tradisi Hindu yang masih digunakan pada masa Islam. Biasanya digunakan pada kompleks
masjid, dan kompleks istana, contohnya kompleks Masjid Kudus dan kompleks Istana Kaibon di Banten. Pada hierarki pola halaman
kompleks masjid atau istana, gapura candi Bentar ditempatkan paling depan atau
sebagai pintu masuk menuju halaman pertama yang bersifat profan. Kekunoan
berupa candi bentar terdapat di Trowulan dinamakan gapura Waringin Lawang. Gapura tersebut diperkirakan
merupakan pintu gerbang Istana
Majapahit berasal dari abad XII.[36] Tradisi penggunaan bangunan candi Bentar pada jaman Islam tetap berlanjut di berbagai
tempat antara lain: Kompleks Sedang
Duwur, Kompleks Sunan Drajad, Bayad dan
kompleks masjid
serta makam
Kuthagedhe. Candi Bentar
pada jaman sebelum dan sesudah Islam
mempunyai makna yang sama yaitu sebagai gambaran atau replika Gunung Mahameru. [37]
2.
Makam
Makam-makam
yang dianggap keramat
biasanya dibangunkan rumah tersendiri dan ditempatkan paling tinggi. Makam Sunan Giri terletak pada tingkatan tertinggi dari kompleks makam dan berada didalam
bangunan yang disebut “cungkup” atau
Joglo. Cungkup
Makam
Sunan
Giri
terdiri atas tiga bagian,
yaitu
fundamen,
tubuh,
dan atap cungkup. Fundamen kaki cungkup setinggi kira-kira 0,5 meter dihiasi
dengan ragam hias sulur-sulur dedaunan
melingkar. Tubuh cungkup ditutupi oleh dinding-dinding kayu yang diukiri dengan
relief- tumbuh-tumbuhan, motif-motif teratai, gunung-gunung, dan bunga. Dinding cungkup terdiri
dari dinding bagian luar dan dinding bagian dalam. Dinding dalam menutupi
bangunan (jirat makam) di luar dinding luar merupakan tempat orang melakukan ziarah kubur dan berdo’a.
Atap cungkup makam Sunan Giri berbentuk atap tumpang dengan
bersusun tiga dan terbuat
dari sirap (kayu). Atap yang terbawah
tampak sangat masif, berbeda dengan
atap yang menumpang di atasnya terlihat lebih tinggi sedang atap teratas
berbentuk limas (Piramid) lebih tajam menjulangnya. Keempat bubunganya bertemu
di pada titik di atas puncak yang kemudian ditutupi yang di sebut mustoko. Pada keempat bumbungan terdapat
ukiran-ukiran ikal-ikal yang lengkunganya menojol keluar sehingga memberi kesan
seperti air berombak. Pada mustoko
yang berbentuk bulat, keempat
bumbungan
di akhiri dengan ragam hias daun bergerigi tiga menempel pada mustoko, sedang pada bagian bawahnya di
akhiri dengan ukiran-ukiran yang kemudian membentuk lengkungan keluar.[38]
Bangunan cungkup atau joglo tampaknya juga telah menjadi
salah satu tipe bagunan suci yang lazim dipakai masyarakat seperti atap Candi Jago dan Candi Bayalango di Tulungagung.
Relief yang melukiskan bentuk bangunan suci berbentuk cungkup seperti cungkup Makam Sunan Giri. Cungkup Makam Sunan Giri juga memiliki tipe
yang sama dengan bangunan-bangunan masjid kuna. Cungkup makam mempunyai
struktur atau susunan yang sama dengan bentuk tubuh candi, terdiri dari soubasement (kaki), tubuh candi, dan atap. Dilihat
dari bentuk pundament cungkup yang masif
merupakan kelanjutan kaki candi, sedangkan tubuh cungkup terdiri dari papan
dengan relief tumbuh-tumbuhan, gunung dan hewan merupakan gambaran tubuh candi sebagai
tempat kediaman dewa. Candi atau cungkup juga di hiasi oleh relief-relief tumbuh-tumbuhan,
hewan, manusia dan
sebagainya. Atap cungkup yang terdiri dari beberapa tingkat,
dipuncak dimahkotai oleh ragam hias yang khusus, menunjukan periode sebelum Islam yang
sampai sekarang masih ada. Hal ini bisa dilihat dari relief bangunan Candi Jawa Timur terdapat lukisan
bangunan rumah yang atapnya berbentuk limas atau joglo. Misalnya, di Panataran pada relief yang mengabarkan taman Raja Rahwana. Selain itu juga
terdapat pada relief candi Tegalwangi
yaitu dalam salah satu cerita Sudamala.[39]
Jirat makam Sunan Giri dibuat dari batu putih sisa sebelah
selatan bentuknya tersusun dari pelipit bawah sebagai dasar jirat, di
atasnyaterdapat bidang persegi empat agak tinggi sebagai tubuh jirat. Pada bagian atas tubuh jirat
ditutup dengan pelipit yang lebih besar dari pada plipit bawah, dan pita-pita
kecil yang makin ke atas makin kecil sebagai landasan tempat batu nisan. Nisan
makam Sunan Giri bila dilihat dari arah selatan terlihat seperti sebatang
persegi empat, namun bagian atas berbentuk lonjong, sedang sisi bagian atasnya
dibuat seperti kurawal menghadap
ke bawah. Bagian bawah dihiasi dengan ragam hias antevik. Tinggi jirat dan nisan kurang lebih 1,10 meter.
Makam orang-orang Islam ditandai dengan nisan dari batu
atau kayu.
Selain
sebagai tanda untuk keperluan ziarah kubur, juga dimaksudkan sebagai pelestarian sejarah bagi
keturunannya. Tradisi membangun cungkup untuk makam para wali penyebar agama
Islam pertama Islam
di Jawa
kecuali pada makam Sunan Ampel, boleh jadi selain keperluan peziarah, membaca zikir, tahlil, dan
do’a juga untuk maksud pelestarian sejarah tersebut. Cukup makam dengan bentuk
kuna memang memberi kesan tersendiri.[40]
Samapai saat ini makam Sunan Giri ramai dikujungi peziarah. Para peziarah tergabung dalam rombongan
“Zarah Walisongo”.
Makna relif-relief yang
ada di makam Sunan Giri
a.
Relief
Ular Naga
Selain gapura candi bentar, pada pintu masuk cungkup Makam Sunan Giri juga terdapat ragam hias ular
naga. Dalam kepercayaan di nusantara
baik kepercayaan dari zaman prasejarah maupun Hindu-Budha, ular naga selain dianggap
sebagai hewan suci, juga mempunyai makna yang memiliki pengaruh sangat besar
terhadap kehidupan kerohanian pada zaman Hindu Budha. Komplek Makam Sunan Giri merupakan situs sakral
sebelum Islam,
tetapi
tradisi pengunaannya diteruskan masyrakat setelah Islamisasi. Makna-maknanya disesuikan dengan
ajaran Islam seperti tentang tasyawuf kesucian dan keabadian (baqa), dan kehidupan dunia yang
fana dari zaman sebelum Islam sejiwa dengan ajaran Islam.
Berdasarkan klasifikasi dari zaman sebelum Islam, ular
memwakili atau menjadi lambang dunia
bawah. Pada zaman prasejarah ular dianggap sebagai salah satu simbol dari Dewi Kesuburan. Ular sebagai lambang
kesuburan dihubungkan dengan air, kekuatan hidup dari Dewi Kesuburan dan pelindung utama segala
kekayaan yang tersimpan
dalam tanah dan air. Selain itu juga ada pendapat bahwa kedua naga dalam candi
bentar maupun pada pintu masuk cungkup makam merupakan candra sengkala tahun
wafatnya Sunan
Giri
(1428saka/1506
M).[41]
b.
Relief
Gunung-gunung
Pada
Daun pintu Makam
Sunan
Giri terdapat
gambar empat
buah gunung seperti bentuk Gunung
Pananggungan dengan puncak tertinggi di tengah, dan ada puncak lagi di sebelahnya.
Lukisan ini diperkaya dengan ukiran-ukiran tumbuh-tumbuhan. Selain itu pada
pelipit pintu dihiasi degan dengan relief berpola ragam hias meander.
Pada gawang di bawah pintu masuk juga terdapat relief gunung-gunung
berjajar tinggi. Makna dari gambar atau relief-relif gunung merupakan sebagai
proses yang sejalan atau bahkan dapat dikatakan kelanjutan dari kepercayaan
rakyat yang semenjak prasejarah menganggap gunung merupakan tempat kramat, yaitu tempat tinggal arwah-arwah nenek
moyang. Relief gunung-gunung dengan tumbuh-tumbuhan memperlihatkan terdapat
pemujaan gunung. Kepercayaan ini bagi masyarakat Indonesia masih bertahan sampai
sekarang seperti pemujaan Gunung
Agung di Bali, dan Gunung
Tengger di Jawa Timur.[42]
Pada zaman prasejarah gunung juga di anggap sebagai tempat semayamnya arwah
leluhur. Sedangkan dalam metologi Hindu, gunung diyakini sebagai kediaman
dewa.
c.
Relief
Bunga Teratai
Ragam hias
teratai yang banyak digunakan dalam mengisi bidang-bidang dinding-dinding Makam Suanan Giri pada jaman Hindu
juga digunakan sebagai asana-asana patung perwujudan ataupun patung-patung dewa
baik dari batu maupun
prunggu.[43]
Pada zaman Majapahit,
teratai juga keluar dari jambangan digunakan dalam lambang dinasti. Sedangkan pada zaman Singosari
teratai keluar di bonggol digunakan sebagai lambangnya. Menurut Bernet Kempers, bunga teratai adalah mewakili
unsur air dalam semesta. Makna simbolik teratai sebagai kembangkitan kembali,
kehidupan, dan keabadian sesudah kematian sejalan dengan ajaran atau pandangan Islam mengenai hari akhir.
d.
Relief
Hewan dan Tumbuh-tumbuhan
Selain bunga teratai dan ular naga pada kompleks Makam Sunan Giri terdapat berbagai
relief hewan
dan tumbuhan. Pada gebyok
(bahasa Indonesia: dinding) terdapat relief dengan hewan atau
binatang buas, mulutnya menganga, mata melotot yang disamarkan oleh ikal daun,
dan di atasnya terdapat dua ekor burung terbang. Lukisan binatang buas tadi
lari dengan menghadap ke samping,
berdampingan dengan seekor bangau sedang mematuk ikan. Selain itu juga terdapat
dua ekor kijang dan pepohonan kelihatan dua burung yang hinggap di pohon burung satu dengan mulut
terbuka yang diperkirakan sedang berkicau. [44]
Pada bagian makam juga terdapat kepala
kala dengan sulurnya ke bawah.
Relief ini mengambarkan pintu masuk ke gua (bangunan suci) dan di tengahnya ada tanaman yang tumbuh,
selain itu juga terdapat binatang yang terjepit sebatang pohon. Serta terdapat
relief seekor burung di atas seekor gajah (dicat merah). Gajah putih yang sedang
mempermainkan batang kayu, di atasnya terdapat burung yang hinggap di
bunga-bunga.
Arti
dari relief binatang dan tumbuhan itu sampai sekarang belum di mengerti. Namun
ada kemungkinan relief binatang dan
tumbuhan mengandung ajaran
Sunan Giri. Motif-motif ragam hias diantaranya
relief
binatang merupakan cerita hewan (fabel).
Relief
binatang dalam Makam
Sunan Giri merupakan
cerita binatang yang mengandung makna pendidikan tentang budi pekerti.
C.
Pemanfatan
Makam Sunan Giri Dalam Media Pembelajaran
Dalam
kegiatan proses belajar mengajar
akan
terasa membosankan dan monoton apabila hanya dilakukan dengan metode ceramah
yang di dalam kelas saja. Oleh
karena
itu guru dituntut tidak hanya mengaplikasikan sumber belajar yang ada di
sekolah, tetapi juga mempelajari berbagai
sumber yang ada di lingkungan sekitar.
Sumber
belajar yang ada di luar sekolah salah satunya adalah situs sejarah.
Masalah yang
sering ditemui pada siswa adalah
kurangnya antusiasme dalam menerima pelajaran di kelas dan kurangnya pemahaman
siswa pada pelajaran sejarah, karena
mereka hanya disajikan cerita cerita tentang sejarah tanpa mengetahui bukti
bukti sejarah itu secara nyata. Hal yang bisa digunakan untuk menanggulangi
masalah tersebut adalah
guru dituntut untuk memiliki inisiatif melakukan pembelajaran sejarah di luar
sekolah dengan memanfaatkan situs sejarah salah satunya adalah makam Sunan Giri yang berada di bukit Giri, Gresik, Jawa Timur sebagai media belajar
sejarah. Pemanfaatan situs sejarah Makam Sunan Giri ini merupakan cara
baru dalam pembelajaran sejarah yang dilakukan di luar sekolah. Melalui pemanfaatkan situs
sejarah Makam
Sunan Giri yang berada di Gresik,
maka
guru dapat mengajarkan arti dari pembelajaran sejarah yang lebih nyata karena menggunakan cerita sejarah
serta bukti-bukti
peristiwa sejarah yang terdapat di Makam
Sunan Giri tersebut. Selain
itu pembelajaran disana lebih akan bermakna dan bermanfaat, sebab siswa akan lebih dapat
menangkap secara konkrit memahami
dengan caranya sendiri
dan
tentang cerita sejarah yang terdapat di Makam Sunan Giri dan mengamati
sumber-sumber
sejarah secara langsung.
Siswa
juga lebih bisa menyerap materi yang disajikan guru dengan baik.
Makam Sunan Giri memiliki indikator
potensi untuk menjadi salah satu media pembelajaran sejarah. Hal ini karena kegiatan penelitian yang dilakukan oleh
mahasiswa dapat memunculkan suatu ide baru karena pada kegiatan ini bisa
dirangsang untuk menggunakan kemampuan dalam berpikir secara kritis. Sehingga ada beberapa manfaat
terkait pemanfaatan Makam
Sunan Giri sebagai media pembelajaran
sejarah, diantaranya yaitu :
1. Kemampuan mengenal persamaan dan
perbedaan pada objek yang diamati.
Kemampuan
ini dapat diambil
apabila siswa dibawa ke makam Sunan Giri maka ia akan memberi perbedaan–perbedaan
dan persamaan – persamaan antara dua hal melalui penelitian yang dilakukannya.
2. Kemampuan
mengidentifikasi dan mengelompokan objek yang diamati pada kelompok seharusnya. Misalnya ketika dibawa ke Makam Sunan Giri maka siswa akan
ditunjukan benda–benda yang dikelompok – kelompokan dalam suatu tempat
tertentu.
3. Kemampuan
menyampaikan deskripsi secara lisan dan tulisan berkenaan dengan objek yang diamati. Siswa mampu menyampaikan gambaran
apa yang dia lihat dan diamati sehingga siswa tidak hanya mendapat informasi
dari buku atau cerita cerita dari guru,
akan tetapi juga dapat membuktikan kebenarannya melalui situs dan benda–benda
sejarah yang diamati.
4. Kemampuan
membuat kesimpulan dari informasi yang diperoleh di Makam Sunan Giri dalam sebuah
laporan layaknya seorang peneliti yang harus mengumumkan hasil penelitiannya
pada masyarakat luas.
Keberadaan
Makam
Sunan Giri sebagai sarana dan sumber pembelajaran sejarah dapat mampu menjawab
berbagai pertanyaan yang muncul dalam proses pembelajaran dalam kaitannya
dengan Sejarah
Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Jawa. Di Makam Sunan Giri terdapat
banyak sekali arsitektur Makam yang mendapat sentuhan dari zaman Hindu-Budha
yang berakulturasi dengan Islam pada saat itu, sehingga akan sangat menarik
untuk di kaji dan dijadikan sebagai media dalam pembelajaran sejarah. Program
pembelajaran di kelas biasanya cenderung membosankan karena karena cara
pengajaran yang dilakukan sangat monoton, oleh karena itu dibutuhkan sebuah
media agar proses pembelajaran dikelas lebih berwarna.
Untuk
mengkaji makam sebagai media pembelajaran maka langkah yang tepat adalah dengan
berkunjung langsung ke Makam serta mendokumentasikan kepurbakalaan yang ada di
makam Sunan Giri dan selanjutnya dibuat sebuah film documenter (CD), catalog,
poster atau bahkan komik mengenai obyek kajian dari Makam Sunan Giri yang
kemudian bisa menjadi sebuah media pembelajaran sejarah yang efektif dan tidak
monoton lagi, sehingga proses belajar mengajar tidak akan membosankan dan lebih
berwarna. Yang kemudian
bisa di presentasikan bersama dan bisa menjadi media belajar bagi para siswa
yang ingin mempelajari makam dari Sunan Giri tetapi tidak sempat untuk terjun
ke lapangan untuk melakukan observasi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari pembahasan bab 2, 3 dan
4 dapat kita simpulkan bahwa Sunan Giri merupakan salah satu tokoh Walisongo
yang sangat disegani dan berperan penting terhadap proses Islamisasi di
Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.
Pengaruh
Sunan Giri
sangatlah besar terhadap kerajaan Islam di Jawa maupun di luar Jawa. Sesudah Sunan Giri meninggal
dunia,
pemegang kepemimpinan
digantikan oleh keturunannya. Sunan Giri meninggal dunia tepat pada malam Jum’at tanggal 24 Rabiul Awwal tahun 913 Hijriyah/ 1428 Saka/ 1506 Masehi dalam usia genap 63 tahun. Tahun wafatnya Sunan Giri diketahui dari
pendapat
tentang keberadaan naga. Penyebab
wafatnya Sunan Giri belum diketahui dengan pasti karena belum ada sumber yang
mengatakan penyebab wafatnya beliau, tetapi diperkirakan beliau meninggal
karena sakit di usia tua.
Secara
umum kompleks Makam
Sunan Giri terbagi menjadi tiga Area, yaitu area pelataran/luar, area cungkup
dan area masjid. Kompleks
makam Sunan Giri berada di Desa Giri yang terdiri atas 3 kampung yaitu
Sidomukti, Giri Gajah, dan Giri Kedaton. Ketiga kampung tersebut berada di
daerah pegunungan. Sunan Giri dimakamkan di Desa Giri, tidak dimakamkan di Giri
Kedaton ataupun di Desa Kedaton karena waktu itu wilyahnya sempit ataupun
tempatnya sempit maka dibuatlah masjid di Desa Giri. Area makam Sunan Giri
menurut catatan cagar budaya Trowulon, Mojokerto luasnya 18.000 meter lebih, tetapi sekarang
hanya 12.000 meter. Hal ini bisa terjadi diperkirakan karena tanah disamping
area makam menjadi hak pribadi.
Makam
Sunan Giri yang terletak dibukit Giri mempunyai makna-makna simbolis yang berasal
dari bentuk akulturasi unsur-unsur kebudayaan Hindu-Budha dan Islam. Pemilihan
tempat di atas gunung merupakan sebagai proses yang sejalan atau bahkan dapat
dikatakan kelanjutan dari kepercayaan rakyat yang semenjak prasejarah
menganggap gunung merupakan tempat kramat, yaitu tempat tinggal arwah-arwah nenek
moyang.
Makam Sunan Giri memiliki indikator
potensi untuk menjadi salah satu media pembelajaran sejarah. Hal ini dikarenakan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh
mahasiswa dapat memunculkan suatu ide baru. Selain itu pembuatan sebuah dokumentasi seperti video,
catalog, poster atau komik sejarah juga memberikan warna baru dalam proses
pembelajaran yang akan mempermudah proses pembelajaran karena proses dari
pembelajaran tidak monoton.
Dengan
adanya media pembelajaran seperti ini, maka proses pembelajaran bisa dilakukan
tanpa mengamati langsung ke lapangan, tetapi bisa hanya dengan menggunakan
video atau dokumentasi lain yang pastinya akan mempermudah proses belajar
mengajar serta tidak membosankan.
B.
Saran –saran
Selama
menjalankan KKL/KPS penulis memperoleh pengalaman .penulis mencoba memberikan
saran –saran bagi Instansi yang terkait dan kepada rekan-rekan sebagai berikut:
1.
Penyusunan laporan ini sangatlah
jauh dari kata sempurna, oleh karena itu untuk kedepannya diharapkan bagi
mahasiswa yang berkunjung ke Makam Sunan Giri bisa jauh lebih baik dalam
penyusunan laporannya.
2.
Untuk teman-teman semester bawah
hendaknya lebih mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan KKL/KPS
agar bisa lebih maksimal dalam pemanfaatan sumber dan penyusunan laporan .
3.
untuk
rombel 4B jaga terus kekompakannya, KPS ini merupakan KPS terakhir tapi perjuangan masih panjang. Salam PRADA.
Daftar Pustaka
Arif
, Masykuri. 2013. Sejarah Lengkap Walisongo Jogjakarta: DIPTA
Arsyad,
Azhar. 2010. Media Pembelajaran.
Jakarta : Rajawali Prees
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov.
Jawa Tengah Musium Jawa Tengah Ronggowasito.
2007.
Peninggalan Masa Islam abad XV-XVII, Semarang: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Prov. Jawa Tengah
Kasdi
, Aminuddin.
2005.
Kepurbakalaan Sunan Giri. Surabaya: Unesa Univerity Press
Saraswati, Ufi. 1998. Jurnal Paramita: .Akulturasi Dalam Kebudayaan Indonesia Klasik. Jurusan Sejarah FPIPS
IKIP Semarang. No. 3 Th. VIII September 1998
Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan
Indonesia.
Yogyakarta : Kanisius
Sunyoto, Agus. 2012. Atlas Walisongo. Depok: Pustaka IIMAN, Trans pustaka, dan ITN PBNU
Tim
peneliti dan penyusun.
1998. Sejarah Sunan Darajat. Sejarah
Sunan Darajat : Dalam Jaringan Masuknya Islam Di Nusantara.:
Surabaya: PT.
Bina Ilmu
Yayasan
Sunan Giri. 2007.
Sejarah Sunan Giri dan
Pemerintahan Gresik selayang pandaang. Gresik:
Yayasan
Suanan Giri
Zainuddin , Oemar. 2010. Kota Gresik 1896-1916. Jakarta: Ruas
Gunawan,”Kisah
Sunan Giri”, http://ceritaislami.net/cerita-kisah-sunan-giri-menikah-dengan-dua-wanita-dalam-satu-hari/
, pada tanggal 16 Feburari 2013
Sumber Wawancara
:
Akhmad Sobirin. tanggal 21 Mei 2014
Sumber Internet :
Denata,
Decoco. 2013. kisah-kisah
walisongo”, http://decocoz.blogspot.com/2013/05/kisah-wali-songo-sunan-giri.html. Pada tanggal 31 Mei 2013
Viva/IM, 2012. SEJARAH
DAN ASAL USUL SUNAN GIRI, ULAMA PENDIRI KERAJAAN ISLAM GIRI KEDATON,
http://www.indonesiamedia.com/2012/05/13/sejarah-dan-asal-usul-sunan-giri-ulama-pendiri-kerajaan-islam-giri-kedaton/, pada tanggal 13 Mei 2012.
Daftar Informan
1. Sobirin :
wakil ketua pengelola Yayasan Makam Sunan Giri
2. Sekelompok
pedagang di kompleks Makam Sunan Giri
3. Joko Sunarto:
guru MA Darussalam (pengunjung), beliau setiap tahunnya selalu membawa para
muridnya yang hendak ujian nasional berziarah sekaligus studi sejarah ke makam
para wali.
[1]
Oemar Zainuddin. Kota Gresik
1896-1916. Jakarta: Ruas. 2010. Halaman 8
[2]
2014
Agus Sunyoto. 2012. “Atlas Walisongo”. Depok: Pustaka IIMAN,
Trans pustaka, dan Itn pbnu. Hal 180
[4]
Aminuddin Kasdi,.” Kepurbakalaan Sunan Giri” (Unesa Univerity
Press : Surabaya, 2005) halaman 94
[8]Ibid, hal 26.
[11]Viva/IM,
“SEJARAH DAN ASAL USUL SUNAN GIRI, ULAMA
PENDIRI KERAJAAN ISLAM GIRI KEDATON”, http://www.indonesiamedia.com/2012/05/13/sejarah-dan-asal-usul-sunan-giri-ulama-pendiri-kerajaan-islam-giri-kedaton/, pada tanggal 13 Mei 2012.
[13]Gunawan,”Kisah Sunan Giri”,
http://ceritaislami.net/cerita-kisah-sunan-giri-menikah-dengan-dua-wanita-dalam-satu-hari/
, pada tanggal 16 Feburari 2013
[14]Denata,
Decoco. “kisah-kisah walisongo”, http://decocoz.blogspot.com/2013/05/kisah-wali-songo-sunan-giri.html. Pada tanggal 31 Mei 2013.
[17]
Aminuddin Kasdi,. Ibid. hal. 36
[20]
Aminuddin Kasdi,. Ibid. hal. 43
[21]
Tim peneliti dan penyusun Sejarah Sunan
Darajat. Sejarah Sunan Darajat : Dalam Jaringan Masuknya Islam Di Nusantara.
PT. Bina Ilmu : Surabaya, 1998. Hal 65
[22]
Wawancara, Akhmad Sobirin tanggal 21 mei 2014
[23]Aminuddin Kasdi, ibid, hal. 116
[24]
Yayasan Sunan Giri. Sejarah Sunan Giri
dan Pemerintahan Gresik selayang pandaang. Gresik, 2007. Hal 18
[25] Aminuddin Kasdi,, ibid, hal.91
[26]
,Wawancara, Akhmad Sobirin. tanggal 21 Mei 2014
[29]
,wawancara, Akhmad Sobirin. tanggal 21 Mei 2014
[30] , ibid,.
[31]
Ufi Saraswati,. Jurnal Paramita. Akulturasi Dalam Kebudayaan Indonesia Klasik.
Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Semarang. No. 3 Th. VIII September 1998. Hal 33
[33]
Aminuddin Kasdi,, ibid, hal. 95
[34]
Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan
Indonesia. Kanisius : yogyakarta, 1973. Hal 80.
[35]
Aminuddin Kasdi,, ibid, hal. 96
[36]
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Jawa Tengah Musium Jawa Tengah
Ronggowasito. Peninggalan Masa Islam abad
XV-XVII, semarang, 2007. Hal 58
[40]
Tim peneliti dan penyusun Sejarah Sunan
Darajat. Sejarah Sunan Darajat : Dalam Jaringan Masuknya Islam Di Nusantara.
PT. Bina Ilmu : Surabaya, 1998. Hal 250
[41]
Aminuddin Kasdi,, ibid, hal. 116
[43]
ibid, hal. 120
[44]
ibid,op.cit hal. 118

No comments:
Post a Comment