JEJAK LAWANG SEWU
DALAM SEJARAH PERKERETAAPIAN DI INDONESIA PADA MASA KOLONIAL
LAPORAN PENELITIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metode
Penelitian Sejarah
JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji
Syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat
dan karuniaNyalah, makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan laporan
ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah metode penelitian sejarah, dengan
judul jejak lawang sewu dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia pada masa
kolonial. Dengan membuat tugas ini kami diharapkan mampu untuk lebih mengenal
kaitan tentang bagaimana ,sejarah berdirinya lawangsewu serta kaitannya dengan
perkeretaapian di Indonesia masa kolonial. Dalam penyelesaian makalah ini, kami
banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan
yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan
dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, sudah
sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak dan Ibu dosen
yang tidak lelah dan bosan untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada kami
setiap saat.
2.
Orang Tua dan keluarga kami tercinta yang banyak memberikan motivasi dan
dorongan serta bantuan, baik secara moral maupun spiritual.
3.
Narasumber terpecaya dalam penelitian ini yang sudah banyak membantu, serta
semua pihak yang ikut membantu dalam pencarian data dan informasi, baik secara
langsung maupun tidak langsung, cetak maupun elektronik, yang tidak dapat kami
sebutkan satu per satu. Terima kasih atas semuanya.
Kami
sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran,
penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami
mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan
makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Harapan
kami, semoga laporan penelitian
yang sederhana ini, dapat memberi kesadaran tersendiri bagi generasi muda.
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................1
DAFTAR ISI
....................................................................................................3
Daftar gambar...................................................................................................4
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah ........................................................................5
B. Rumusan
Masalah ..................................................................................6
C. Tujuan
Penelitian ....................................................................................6
D. Manfaat
Penelitian ..................................................................................6
E. Ruang
Lingkup Penelitian........................................................................7
F.
Kajian Pustaka
.........................................................................................7
G. Metode
Penelitian ....................................................................................8
H. Sistematika
Penulisan ..............................................................................11
BAB II GAMBARAN UMUM KOTA SEMARANG
A. Letak
Geografis dan Masyarakat Semarang............................................13
B. Semarang Sebagai Kawasan Bersejarah...................................................14
BAB III SEJARAH BERDIRINYA LAWANG SEWU.................................16
BAB IV PERAN LAWANG SEWU DALAM PERKERETAAPIAN
DI INDONESIA PADA MASA KOLONIAL ..................................................21
BAB IV PENUTUP
A.
Kesimpulan
.................................................................................................24
B.
Saran
..........................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................26
LAMPIRAN ..........................................................................................................27
DAFTAR
GAMBAR
Gambar 1 : foto lawang sewu tampak samping
dengan terlihat kedua menaranya
Gambar
2 : foto lawang sewu dari tugu muda
Gambar
3 : foto lorong- lorong lawang sewu
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Kota Semarang merupakan salah satu kota bekas
peninggalan zaman kolonial. Terbukti masih terdapat sejumlah bangunan kolonial
yang tersisa. Bangunan tersebut ada yang berada di daerah utara kota Semarang,
yaitu kawasan Kota Lama, ada juga yang berada di tengah-tengah kota, salah
satunya Lawang Sewu. Dimana dalam perkembangan bentuk bangunannya tidak dapat
dipisahkan dari perkembangan bentuk-bentuk bangunan Eropa pada masa lalu,
meskipun dalam penerapan gayanya tidak sesempurna di Eropa serta waktu
terbangunnya selang beberapa tahun. Nama Lawang Sewu memang tak asing lagi bagi
warga Kota Semarang. Bangunan bersejarah tersebut merupakan salah satu “
tetenger “ Kota Semarang yang sangat menonjol pada daerah Tugu Muda dan
berperan dalam membentuk citra lingkungan setempat. Dijuluki Lawang Sewu ( pintu
seribu ) karena memiliki begitu banyak pintu serta busur-busur yang mengesankan
rongga. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Juga merupakan salah
satu saksi bisu dari sejarah Kota Semarang yang masih berdiri sampai sekarang
ini.
Menurut rangkuman sejarah yang disusun oleh PT KA, semula
Lawang Sewu milik NV Nederlandsch Indische Spoorweg Mastshappij ( NIS ), yang
merupakan cikal bakal perkeretaapian di Indonesia.
Berdasarkan
latar belakang di atas, perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan judul “Jejak Lawang Sewu dalam Sejarah
Perkeretaapian di Indonesia pada Masa Kolonial”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, permasalahan
dalam penelitian ini, diantaranya yaitu:
1.
Bagaimana sejarah
berdirinya Lawang Sewu?
2.
Bagaimana peranan
Lawang Sewu dalam perkembangan perkeretaapian di Indonesia pada masa kolonial ?
C. Tujuan
Masalah
Tujuan yang hendak dicapai
dalam penelitian ini, diantaranya yaitu:
1.
Mengetahui sejarah
berdirinya Lawang Sewu
2.
Mengetahui peranan
Lawang Sewu dalam perkeretaapian di Indonesia pada masa Kolonial.
D. Manfaat Penelitian
1.
Secara
Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan wawasan
tentang bagaimana sejarah berdiri serta
kondisi Lawang Sewu pada masa Kolonial. Bagi perguruan
tinggi, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang berguna
untuk dijadikan acuan bagi sivitas akademika. Laporan penelitian ini diharapkan
menjadi bahan bahan rujukan dalam penelitian-penelitian selajutnya.
2.
Secara
Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat
menambah dan melengkapi kajian pengetahuan ilmu sejarah terutama sejarah mengenai
Lawang Sewu yang ada di kota Semarang.Bagi Masyaraka t, hasil penelitian
diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan Informasi tentang lawang sewu,
serta manfaatnya dalam Pembelajaran Sejarah. Bagi Peneliti, seluruh rangkaian
kegiatan dan hasil penelitian diharapkan dapat lebih memantapkan penguasaan
fungsi keilmuan yang dipelajari selama mengikuti program studi pendidikan
sejarah, di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri semarang.
E.
Ruang
Lingkup Penelitian
Agar dalam penelitian ini terfokus
pada tema yang telah ditentukan maka dalam penelitian ini perlu adanya
pembatasan ruang lingkup kajian yang meliputi unsur wilayah (spatial) dan unsur pembabakan waktu (temporal). Ruang lingkup menentukan konsep utama dari permasalahan,
sehingga masalah-masalah dalam penelitian ini dapat dimengerti dengan mudah dan
baik. Ruang lingkup penelitian sangatlah penting dalam mendekatkan pada pokok
permasalahan yang akan dibahas, sehingga tidak terjadi kerancauna ataupun
kesimpang siuran dalam mengintepretasikan hasil penelitian.
Spatial scope
yang dimaksud adalah
Lawang Sewu yang terletak di jalan Pemuda kota
Semarang. Penelitian ini dilakukan di kawasan Lawang Sewu.
Temporal scope
adalah batasan yang didasarkan pada suatu periode tertentu. Dalam penelitian
ini penulis mengambil lingkup temporal yaitu
mulai dari berdirinya
Lawang Sewu yaitu pada tahun 1904 sampai pada masa
kemerdekaan Indonesia.
F.
Kajian
Pustaka
Penelitian
ini menggunakan bahan-bahan
referensi yang menunjang yaitu referensi tertulis dalam bentuk buku yang
berkaitan dengan topik penelitian. Buku
pertama dengan judul Semarang Tempo
Doeloe Semarang Masa Kini Dalam Rekaman Kamera (1979), ditulis oleh Amien
Budiaman. Buku tersebut menggambarkan tentang kota Semarang berserta gambar –
gambarnya pada masa dahulu serta didalamya juga menjelaskan mengenai sejarah
dari beberapa bangunan – bangunan bersejarah yang berada di kota Semarang.
Buku yang kedua dengan judul Semarang Tempo Dulu Teori
Desain Kawasan Bersejarah (2007) di tulis oleh Wijanarka. Buku tersebut
menceritakan tentang desain kawasan bersejarah di kota Semarang. Selain itu
juga berisi mengenai ide-ide desain pemecahan kawasan bersejarah yang
diperuntukkan bagi kota Semarang.
G.
Metode
Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode
penelitian sejarah (historical methode).
Metode
penelitian sejarah adalah metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dengan kata lain,
metode penelitian sejarah adalah instrumen untuk merekonstruksi peristiwa
sejarah (history as past actuality) menjadi sejarah sebagai kisah (history
as written).
Metode
sejarah digunakan sebagai metode penelitian, pada prinsipnya bertujuan untuk menjawab
enam pertanyaan (5W+1H) yang merupakan elemen dasar penulisan sejarah, yaitu what
(apa), when (kapan), where (dimana), who (siapa), why
(mengapa), dan how (bagaimana). Pertanyaan pertanyaan itu konkretnya adalah:
Apa (peristiwa apa) yang terjadi? Kapan terjadinya? Di mana terjadinya? Siapa
yang terlibat dalam peristiwa itu? Mengapa peristiwa itu terjadi? Bagaimana
proses terjadinya peristiwa itu?
Dalam
proses penulisan sejarah sebagai kisah, pertanyaan-pertanyaan dasar itu
dikembangkan sesuai dengan permasalahan yang perlu diungkap dan dibahas.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus menjadi sasaran penelitian
sejarah, karena penulisan sejarah dituntut untuk menghasilkan eksplanasi
(kejelasan) mengenai signifikansi (arti penting) dan makna peristiwa. Adapun
langkah-langkah dalam metode sejarah ini meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi,
dan historiografi (penulisan).
1. Tahap Heuristik
Heuristik
adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil-tidaknya
pencarian sumber, pada dasarnya tergantung dari wawasan peneliti mengenai
sumber yang diperlukan dan keterampilan teknis penelusuran sumber. Berdasarkan
bentuk penyajiannya, sumber-sumber sejarah terdiri atas arsip, dokumen, buku,
majalah/jurnal, surat kabar, dan lain-lain.
Berdasarkan
sifatnya, sumber sejarah terdiri atas: sumber primer dan sumber sekunder.
Sumber primer adalah sumber yang waktu pembuatannya tidak jauh dari waktu
peristiwa terjadi. Sumber sekunder adalah sumber yang waktu pembuatannya jauh
dari waktu terjadinya peristiwa. Peneliti harus mengetahui benar, mana sumber
primer dan mana sumber sekunder.
Dalam
pengumpulan data ini dilakukan beberapa tehnik pengumpulan data, yaitu
observasi, dan
studi pustaka.
a.
Observasi
Observasi adalah suatu cara
pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek
dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis
tentang hal-hal tertentu yang diamati. Observasi dalam penelitian ini dilakukan
dengan melihat langsung lingkungan Lawang
Sewu dan sekitarnya. Selain melihat langsung lingkungan dalam Lawang Sewu,
dilakukan pula pengamatan – pengamatan
tentang apa saja yang ada di dalam Lawang Sewu, seperti bentuk bangunan.
b.
Studi Pustaka
Susilo
Rahardjo & Gudnanto (2011: 250) studi kasus adalah suatu metode untuk
memahami individu yang dilakukan secara integrative dan komprehensif agar
diperoleh pemahaman yang mendalam tentang individu tersebut beserta masalah
yang dihadapinya dengan tujuan masalahnya dapat terselesaikan dan memperoleh
perkembangan diri yang baik. Pendapat serupa di sampaikan oleh Bimo Walgito
(2010: 92) studi kasus merupakan suatu metode untuk menyelidiki atau
mempelajari suatu kejadian mengenai perseorangan (riwayat hidup).
Literatur-literatur
tersebut diperoleh dari perpustakaan-perpustakaan, diantaranya perpustakaan jurusan
sejarah Unnes, perpustakaan wilayah provinsi Jawa Tengah, dan perpustakaan
daerah Semarang. Melalui studi pustaka ini didapatkan buku-buku yang menunjang
dalam penulisan penelitian ini yang ada kaitannya dengan tema yang dibahas.
2. Kritik
Sumber
Kritik
sumber sejarah adalah upaya untuk mendapatkan otentisitas dan kredibilitas
sumber. Adapun caranya, yaitu dengan melakukan kritik. Kritik adalah kerja
intelektual dan rasional yang mengikuti metodologi sejarah guna mendapat
objektivitas suatu kejadian. Kritik sumber terbagi menjadi dua yaitu, kritik
dalam (internal critic), dan kritik
luar (eksternal critic).
a.
Kritik Dalam (internal critic)
Kritik
Internal adalah kritik yang mengacu pada kredibilitas sumber, artinya apakah
isi dokumen ini terpercaya, tidak dimanipulasi, mengandung bias, dikecohkan,
dan lain-lain. Kritik internal ditujukan untuk memahami teks. Pemahaman isi
teks diperlukan latar belakang pikiran dan budaya penulisnya. Mengapa demikian
karena apa yang tersurat sangat berbeda dengan yang tersirat diperlukan
pemahaman dari dalam (from within).
b.
Kritik Luar (eksternal critic)
Kritik Eksternal adalah usaha mendapatkan otentisitas sumber dengan
melakukan penelitian fisik terhadap suatu sumber. Kritik eksternal mengarah
pada pengujian terhadap aspek luar dari sumber. Otentisitas mengacu pada materi
sumber yang sezaman. Jenis-jenis fisik dari materi sumber, katakan dokumen atau
arsip adalah kertas dengan jenis, ukuran, bahan, kualitas, dan lain-lain.
Dokumen ditulis dengan tangan atau diketik, ataukah ketik komputer. Demikian pula
jenis tintanya apakah kualitas bagus, atau jenis isi ulang.
Akan diragukan jika dikatakan dokumen pada masa Penjajahan Jepang digunakan
kertas kualitas bagus, sebab pada waktu itu ada dalam kondisi perang dan
semuanya serba mengalami penurunan kualitas. Jadi, kritik eksternal adalah
kritik fisik yang sesuai dengan anak zaman.
3. Interpretasi
Setelah
fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang diteliti cukup memadai,
kemudian dilakukan interpretasi, yaitu penafsiran akan makna fakta dan hubungan
antara satu fakta dengan fakta lain. Penafsiran atas fakta harus dilandasi oleh
sikap obyektif. Kalaupun dalam hal tertentu bersikap subyektif, tapi harus subyektif
rasional, jangan subyektif emosional. Rekonstruksi peristiwa sejarah harus
menghasilkan sejarah yang benar atau mendekati kebenaran. Dalam menginterpretasikan fakta, peneliti dapat
membentuk gambaran awal atau membentuk kerangka dalam bentuk karagan sejarah
ilmiah. Fakta-fakta sejarah yang berhubungan dengan kemunculan Lawang Sewu pada
tahun 1904 diinterpretasikan sehingga menghasilkan fakta yang relevan dan dapat
dipercaya.
4. Historiografi
Berbagai
fakta yang lepas satu sama lain itu harus kita rangkaikan dan kita
hubung-hubungkan hingga menjadi kesatuan
yang harmonis dan masuk akal. Peristiwa-peristiwa yang satu harus kita masukkan
didalam keseluruhan. Konteks peristiwa-peristiwa lain yang melingkupinya
(Wasino, 2007: 74).
Historiografi
adalah bagian terakhir dari tahapan metode sejarah. Apabila penelitian sudah
membangun ide-ide tentang hubungan satu fakta atau data dengan fakta atau data
yang lain melalui kegiatan interpretasi, maka langkah dari penelitian
selanjutnya adalah penulisan. Bentuk dari tulisan ini ditulis secara kronologis
disesuaikan dengan topik yaitu mengenai
kemunculan Lawang Sewu pada tahun 1904.
Sehingga akan mudah untuk dimengerti dan mempermudah pembaca untuk memahaminya.
H.
SISTEMATIKA
PENELITIAN
Dalam
penelitian yang berjudul “Jejak Lawang
Sewu dalam Sejarah Perkeretaapian Indonesia pada Masa Kolonial”
ini, penulis menggunakan sistematika
sebagai berikut:
Bab
I, merupakan bab pendahuluan dalam penulisan penelitian ini. Bab pendahuluan
ini mencakup: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian,
Manfaat Penelitian, Ruang Lingkup Penelitian, Kajian Pustaka, Metode
Penelitian, Sistematika Penulisan.
Bab
II, berisi penjelasan
mengenai gambaran umum yang berisi kondisi
Semarang
Bab
III, memuat penjabaran mengenai sejarah
berdirinya Lawang Sewu
Bab
IV, berisi tentang peranan Lawang Sewu
dalam perkeretaapian pada masa kolonial
Bab
V, bab ini merupakan bab terakhir yang akan mengungkapkan simpulan dan penelitian
yang telah dilaksanakan dan merupakan jawaban atas pertanyaan dari permasalahan yang
dikemukakan dalam penelitian serta saran penulisan penelitian ini.
BAB
II
GAMBARAN
UMUM KOTA SEMARANG
A.
Letak Geografis dan Masyarakat Semarang
Kota
Semarang adalah ibukota
Provinsi
Jawa Tengah,
Indonesia, sekaligus kota metropolitan terbesar
kelima di Indonesia setelah Jakarta,
Surabaya,
Bandung,
dan Medan. Sebagai salah satu kota
paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang
hampir mencapai 2 juta jiwa. Bahkan, Area Metropolitan Kedungsapur (Kendal,
Demak,
Ungaran Kabupaten Semarang,
Kota Salatiga,
dan Purwodadi Grobogan)
dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat ke
4, setelah Jabodetabek (Jakarta),
Bandung
Raya dan Gerbangkertosusilo (Surabaya)[1].
Batas wilayah administratif Kota Semarang sebelah barat
adalah Kabupaten Kendal, sebelah timur dengan Kabupaten Demak, sebelah selatan
dengan Kabupaten Semarang dan sebelah utara dibatasi oleh Laut Jawa dengan
panjang garis pantai mencapai 13,6 kilometer. Letak dan kondisi geografis, Kota
Semarang memiliki posisi astronomi di antara garis 6050’ – 7o10’ Lintang
Selatan dan garis 109035’ – 110050’ Bujur Timur[2].
Didalam proses perkembangannya, Kota Semarang sangat
dipengaruhi oleh keadaan alamnya yang membentuk suatu kota yang mempunyai ciri
khas, yaitu Kota Pegunungan dan Kota Pantai. Di daerah pegunungan mempunyai
ketinggian 90 - 359 meter di atas permukaan laut sedangkan di daerah dataran
rendah mempunyai ketinggian 0,75 - 3,5 meter di atas permukaan laut[3].
Kota Semarang memiliki posisi geostrategis karena berada
pada jalur lalu lintas ekonomi pulau Jawa, dan merupakan koridor pembangunan
Jawa Tengah yang terdiri dari empat simpul pintu gerbang yakni koridor pantai
Utara; koridor Selatan ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang,
Surakarta yang dikenal dengan koridor Merapi-Merbabu, koridor Timur ke arah
Kabupaten Demak/ Grobogan; dan Barat menuju Kabupaten Kendal. Dalam
perkembangan dan pertumbuhan Jawa Tengah, Semarang sangat berperan terutama
dengan adanya pelabuhan, jaringan transport darat (jalur kereta api dan jalan)
serta transport udara yang merupakan potensi bagi simpul transportasi Regional
Jawa Tengah dan Kota Transit Regional Jawa Tengah. Posisi lain yang tak kalah
pentingnya adalah kekuatan hubungan dengan luar Jawa, secara langsung sebagai
pusat wilayah nasional bagian tengah[4].
B.
Semarang Sebagai Kawasan Kota Bersejarah
Semarang merupakan salah satu kota di Indonesia yang
telah melalui sejumlah tahapan pembangunan. Di usianya yang ke 454 tahun (pada
tahun 2001), Semarang telah memiliki sejumlah kawasan bersejarah. Sama halnya
dengan kota – kota di Indonesia pada umumnya, kawasan bersejarah di Semarang
kini telah terjadi penurunan tingkat kualitas lingkungan. Oleh karenanya,
desain awal mula kawasan – kawasan bersejarah di Semarang tersebut kini telah
dan sedang mengalami pemudaran[5].
Sebagai kawasan bersejarah, desain kawasan bersejarah
tersebut perlu untuk dipelihara dan kemudian dikembangkan sesuai dengan desain
awal mula kawasan yang bersangkutan. Oleh karenanya diperlukan suatu dasar
untuk mendesain ulang kawasan tersebut bila kawasan – kawasan bersejarah
tersebut akan dilestarikan dan dikembangkan. Dengan latar belakang tersebut
maka diperlukan suatu dasar desain untuk melestarikan dan mengembangkan kawasan
bersejarah[6].
Kota Semarang dianggap telah mewakili kawasan – kawasan
bersejarah di perkotaan. Hal ini didasari karena di kota Semarang terdapat
sejumlah kawasan bersejarah yang awalnya merupakan kawasan rancangan dan
kawasan yang berkembang secara sepontan ( kawasan tradisional). Kawasan –
kawasan bersejarah yang terdapat di kota Semarang diantaranya adalah Kampung
Kauman, Litlle Netherland, Pecinan, Kampung Melayu, Permukiman Sewa Melaten,
Kawasan Tugu Muda, dan Kawasan Candi Baru.
Kampung Kauman merupakan kampung santri di pusat kota
Semarang. Meskipun telah terjadi perubahan fungsi kawasan pada kampung Kauman,
kegiatan yang bernafaskan Islami masih tetap terpelihara. Kampung Kauman juga
merupakan salah satu cikal bakal pertumbuhan kota Semarang. Nama Kauman dan
nama kampung – kampung kecilnya berasal dari identitas masyarakat maupun
kampungnya. Mushola Kanjengan hingga kini masih terpelihara. Tradisi Dugderan
yang merupakan potensi pariwisata khas Semarang berawal dari Kauman, dan embrio
perkembangan arsitektur khas Semarangan bermula di Kauman. Dengan demikian
secara garis besar dapata disimpulkan bahwa Kauman merupakan cikal bakal budaya
khas Semarangan.
Pecinan merupakan kawasan hunian sekaligus kawasan
perdaganagan sehingga terjadi kelangsungan hidup selama 24 jam. Selain itu
pecinan memiliki bangunan – bangunan rumah tinggal berarsitektur Cina. Terdapat
pula pasar tradisional dengan citra pasar tradisional Cina. Dan juga memiliki
sosial kemasyarakatan yang berlatar belakang Cina.
Kampung Melayu adalah perkampungan yang dihuni oleh
beragam etnis seperti Cina, Banjar, dan Arab. Dengan keberagaman etnis
tersebut, perkampungan ini dinamakan Kampung Melayu.
Little Netherland merupakan kawasan yang dihuni oleh
orang – orang Belanda. Merupakan kawasan yang figurasi ruangnya membentuk colage. Kawasan ini berupa Gereja
Blenduk yang letaknya berada di tengah – tengah kawasan yang tingginya paling
tinggi diantara bangunan – bangunan sekitarnya.
Permukiman Sewa Melaten dirancang untuk memenuhi
kebutuhan di masa yang akan datang. Dengan memberikan kebebasan peluang bagi
penghuninya untuk mengembangkan rumah tinggalnya ke arah belakang. Identitas
permukiman Sewa Melaten terletak pada strukturnya dan kamar mandi / WC. Sifat
kemultetnisnya merupakan identitas permukiman.
Kawasan Candi Baru merupakan kawasan yang belum selesai
dirancang meskipun strukturnya telah dibangun. Hal ini disebabkan karena adanya
pergantian pemerintahan dari Belanda ke Jepang pada waktu kawasan tersebut
sedang dibangun. Akibatnya kawasan Candi Baru belum menampakkan rancangannya
secara maksimal. Oleh karenanya, prioritas utama kawasan tersebut adalah desain
pengembangan kawasan[7].
BAB III
SEJARAH
BERDIRINYA LAWANG SEWU
Sejarah gedung Lawang Sewu
tidak terlepas dari sejarah perkeretaapian di indonesia karena bangunan ini didirikan
sebagai kantor pusat Nederlandsch
Indische Spoorwe Maatschappij (NIS).
Indonesia adalah negara kedua di asia, setelah india, yang mempunyai jaringan
kereta api. Kemudian
cina dan jepang baru menyusul. Setelah tanam paksa (1830-1850), hasil pertanian
di jawa tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan sendiri tapi juga untuk
pasar internasional. Karena itu diperlukan sarana transportasi untuk mengangkut
hasil pertanian dari pedalaman ke kota- kota pelabuhan. Waktu itu jalan raya
pos (grote postweg anyer naar panurukan) dirasa sudah tidak memadai lagi
sehingga muncul gagasan untuk membangun jalan kereta api baru pada tahun 1862.
Pemerintahan Hindia
Belanda menyetujui
rencana pembangunan jalan kereta api[8].
Awalnya administrasi perkantoran
pusat Nederlandsch Indische Spoorwe Maatschappij (NIS)
diselenggarakan di stasiun Semarang.
Pertumbuhan jaringan yang pesat itu dengan sendirinya diikuti aktifitas yang
juga menjadi semakin sibuk, demikian pula dengan jumlah personil teknis maupun
administratif, sehingga kantor pengelolaan di stasiun Semarang NIS tidak lagi memadai.
Sebagai jalan keluar sementara NIS menyewa
beberapa bangunan milik perorangan. Tetapi karena dirasa tidak efisien dan
lokasi kantor di stasiun semarang NIS
berada di kawasan rawa- rawa yang kurang sehat akhirnya diputuskan untuk
membangun kantor lokasi baru. Pilihan jatuh pada lahan yang berada di pinggir
kota berdekatan dengan kediaman residen Semarang.
Lahan ini terletak di ujung Bodjongweg
Semarang (sekarang
dinamakan Jalan
Pemuda), lokasinya disudut
pertemuan Bodjongweg
dan Samarang naar kendahweg
(jalannya menuju kendal)
Pada peralihan abad
ke-20 NIS membangun stasiun stasiun baru yang besar. Pada tahun 1914 stasiun
Tambaksari digantikan oleh Stasiun Tawang. Sebelumnya pada tahun 1908 selesai
dibangun pula kantor pusat NIS yang baru, bangunan itu berada di ujung jalan
Bodjong, di Wilhelmina Plein berseberangan dengan kediaman gubernur.
Kantor pusat NIS
yang baru itu adalah bangunan besar 2 lantai berbentuk “L” yang dirancang oleh
J.F Klinkhamer dan Ouendag dalam gaya Renaissance Revival (Sudrajat,1991).
Menurut Sudrajat pembangunan kantor pusat NIS di Semarang adalah tipikal 2
dasawarsa awal abad 20 ketika diperkenalkan politik etis, ketika itu “… Muncul
kebutuhan yang cukup besar untuk mendirikan bangunan bangunan publik dan
perumahan, akibat perluasan daerah jajahan, desentralisasi administrasi
kolonial dan pertumbuhan usaha swasta”[9].
Penduduk Semarang
memberinya nama “Lawang Sewu” (pintu seribu), mengacu pada pintu pintunya yang
sangat banyak, yan gmerupakan usaha para arsiteknya untuk membangun gedung
kantor modern yang sesuai dengan iklim tropis Semarang. Semua bahan bangunan
didatangkan dari Eropa kecuali batu bata, batu alam dan kayu jati.
Pada akhir tahun 1863 nederlandisch
indische spoorweg maagschappij telah menguasai lahan 18.232 meter persegi yang
berlokasi di bundaran tugu muda semarang yang dahulu disebut wilhelmina plain,
persimpangan bodjongweg (sekarang jalan pemuda)[10].
Kemudian seorang arsitek bernama
ir.p.de rieu ditugaskan untuk membangun rumah, penjaga dan gedung percetakan di
lokasi lahan tersebut. Bersama dengan itu sang arsitek juga diminati untuk
membuat desain gedung utama yang diperuntukkan sebagai kantor nederlandsch
indische spoorweg maatschappij.
Ada beberapa cetak biru bangunan
itu, antara lain a387 ned. ind:spoorweg maatschappij yang dibuat febuari 1902,
a338e idem lengtedoorsnede bualn september 1902 dan a541 nism semarang
voorgevel langgevlenel yang dibuat tahun 1903. Ketiga cetak biru tersebut di buat di amsterdam tetapi sayang
rencana pembangunan terhambat sampai dengan akhir tahun 1903. Pemerintah
belanda kemudian menunjuk prof.jackob k. Klinkhamer delft dan b. j ouendag
dibantu c.g. citroen untuk membangun gedung utama nis dengan mengacu pada
arsitektur campuran gaya tropis dan eropa.
Pelaksanaan pembangunan gedung
utama nis dimulai pada 27 febuari 1904 dan selesai juli 1907. Proses ini tentu
memakan waktu dan biaya dikarenakan sebagian besar bahan bangunan diimport dari
eropa dan merupakan pesanan khusus.
Beberapa tahun kemudian kebutuhan
ruang bangunan ini dirasa tidak memadai lagi sehingga diputuskan untuk
diperluas dengan membangun sayap baru di sisi timur laut. Gedung tamabahan ini
dibangun sekitar tahun 1916 dan selesai tahun 1918. Rancangan bangunan tambahan
berukuran 23 meter x 77 meter ini nampak sekilas tampak mirip dengan bangunan
sebelumnya, tetapi dari segi konstruksi ada perbedaan besar. Bangunan baru
menggunakan konstruksi beton bertulang.
Sehingga dinding batu bata tidak
memikul beban. Berbeda dengan bangunan pertama yang menggunakan sistem
bearingwall (struktur dinding memikul). Selain karena kemajuan teknologi,
tujuan penggunaan beton bertulang, agar sebanyak mungkin dapat menggunakan
bahan bangunan lokal. Pihak nis belajar dari pengalaman pembangunan terdahulu yang
kerap terjadi kesuliatan karena bahan bangunan harus diimpor.
Sistem tanam paksa (culture
stelsel) yang diterapkan oleh gubernur jendral Johanes Van de Bosch pada tahun 1830 di Hindia Belanda telah
berpengaruh kepada perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Pada saat itu
melimpahnya hasil perkebunan seperti kopi, karet, kina, kakao, kapas, pala,
lada dan sebagainya menuntut adanya sarana transportasi modern yang lebih
efisien dan cepat yaitu kereta api. Gagasan jaringan pembangunan kereta api
diusulkan oleh jhr. Van der Wijk.
Pada 16 agustus 1840 karena menurut dia pembangunan kerata api di Eropa memcahkan masalah
transportasi dan memberikan keuntungan di bidang pertahanan. Usulan itu tidak
dapat segera terwujud, sementara perdebatan terus berlangsung tentang siapa
yang akan membangun rel.
Pada 1862 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan
konsensi kepada Nederlandshce
Insche Spoorweg Maatschappij atau NISM untuk membangun jalur
kereta api dari semarang, surakarta, jogaja, yang termasuk daerah vorstenlanden
yang kaya karena produksi tebu, kopi, tembakau, jati kayu, dan lain-lain. Pada
jumat 17 juni 1864 gubernur jendral hindia belanda mr. L. A. J. Baron sloet van
den Beele melakukan
pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen di Semarang. Tiga jalur
pertama kemudian berhasil dibangun oleh NISM
sepanjang 26 km denagan lebar spoor 1435 mm. Pada 10 agustus 1867 jalur kereta
api pertama dari Semarang
ke Tanggung di Grobogan resmi di buka.
Denagan pertimbangan tingkat
kesulitan yang dihadapi nism dalam membangun jalan rel kereta api, pemerintah
mendirikan perusahaan kereta api staatsspoorwegen (ss) jalur kereta api yang
dibangun oleh ss adalah jalur keretaapi antara pasuruan hingga surabaya
sepanjang 115 km yang diresmikan pada 16 mei 1878. Setelah NISM dan ss mampu
meraih keuntungan, bermunculan puluhan perusahaan kereta api swasta dalam skala
besar dan kecil. Umunnya mereka membangun jalan rel trem dengan biaya
konstruksi yang lebih murah jalamn rel trem biasanya dibanggun di sisi jalan raya
dan karena konstruksinya yang ringan, kecepatan kereta atau trem tidak bisa
lebih dari 35 km perjam
Tidak mengherankan, kalau
pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 sampai 1900 tumbuh dengan pesat.
Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun1870 menjadi 110 km, tahun 1880 mencapai 406.
Tahun1890 menjadi 1427 km dan pada tahun 1900 menjadi 3338 km. Jalan rel kereta
api tidak hanya dibangun di jawa tetrapi juga di madura, sumatara, sulawesi.
Sampai dengan 1939, panjang jalan kereta api di indonesia mencapai 6811 km.
Tetapi pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5910 km, kurang lebih 901
km raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan jepang dan
diangkut ke burma untuk pembangunan jalan kereta api disana[11].
Pada saat yang
bersamaan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) berusaha mengambil alih kereta api,
pertempuran pecah antara pemuda dan tentara Jepang, belasan pemuda terbunuh di
gedung ini, 5 diantara mereka dimakamkan di halaman (tetapi pada tahun 1975
jenazah mereka dipindah ke Taman Makam Pahlawan). Di depan Lawang Sewu berdiri
monumen untuk memperingati mereka yang gugur diPertempuran Lima Hari.
Pada masa setelah proklamasi kemerdekaan indonesia pada 17
agustus 1945 kereta api yang tergabung dalam angkatan moeda kereta api atau
AMKA mengambil alih kekuasaan perkereta apian dari jepang. Peristiwa bersejarah
itu terjadi pada tanggal 28 september 1945 pembacaan pernyataan sikap oleh
ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai 28 september
1945 kekuasaan perkerataapian berada ditangan bangsa indonesia orang jepang
tidak diperbolehkan campur tangan lagi di perkereta apian indonesia inilah yang
melandasi ditetapkannya 28 september 1945 sebagai hari kereta api di indonesia.
Sesaat setelah
kemerdekaan Lawang Sewu digunakan Kantor Perusahaan Kereta Api, kemudian
militer mengambil alih gedung ini, tetapi sekarang telah kembali ke tangan PT
KAI
BAB IV
PERAN LAWANG
SEWU DALAM PERKERETAAPIAN DI INDONESIA PADA MASA KOLONIAL
Lawang
Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang
merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg
Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada
tahun 1907.
Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat
setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan
tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada
tidak sampai seribu.
Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering
menganggapnya sebagai pintu (lawang).
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai
sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau
sekarang PT Kereta Api
Indonesia. Selain itu
pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah
(Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.
Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu
ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini
menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda
Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka
dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali
Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102
bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. Saat ini
bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang
dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api
Persero[12].
Perkembangan kereta api dimulai di Semarang. Jalur
pertama yang dilayani saat itu adalah Semarang-Yogyakarta. Pembangunan jalur
itu dimulai 17 Juni 1864, ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur
Jendral Hindia Belanda Sloet Van Den Beele. Tiga tahun kemudian, yaitu 19 Juli
1868 kereta api yang mengangkut penumpang umum sudah menjalani jalur sejauh 25
km dari Semarang ke Tanggung. Dengan beroperasinya jalur tersebut, NIS
membutuhkan kantor untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan administratif. Lokasi
yang dipilih kemudian adalah di ujung jalan Bojong ( kini jalan Pemuda ).
Lokasi itu merupakan perempatan Jalan Pandanaran, Jalan Dr Soetomo dan Jalan
Siliwangi ( kini jalan Soegijapranata ). Saat itu arsitek yang mendapat
kepercayaan untuk membuat desain adalah Ir P de Rieau. Ada beberapa cetak biru
bangunan itu, antara lain A 387 Ned. Ind. Spooweg Maatschappij yang dibuat
Februari 1902, A 388 E Idem Lengtedoorsnede bulan September 1902, dan A 541
NISM Semarang Voorgevel Langevlenel yang dibuat tahun 1903. Ketiga cetak biru
tersebut dibuat di Amsterdam. Namun sampai Sloet Van de Beele meninggal,
pembangunan gedung itu belum dimulai. Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof
Jacob K Klinkhamer di Delft dan Bj Oudang untuk membangun Gedung NIS yang
mengacu arsitektur gaya Belanda. Lokasi yang dipilih adalah lahan seluas 18.232
m² di ujung Jalan Bojong berdekatan dengan Jalan Pandanaran dan Jalan Dr
Soetomo. Tampaknya posisi itu kemudian mengilhami dua arsitektur dari Belanda
tersebut untuk membuat gedung bersayap, terdiri atas gedung induk , sayap kiri,
dan sayap kanan. Lawang sewu resmi digunakan pada tanggal 1 Juli 1907. Gedung Lawang
sewu pada zaman penjajahan Belanda resminya merupakan gedung kantor utama
perusahaan kereta api De Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappiij, yang
lebih dikenal dengan nama singkatan NIS. Perkembangan
kota Semarang dan perdagangan dari tahun ke tahun semakin cepat, oleh sebab itu
pemerintah Belanda waktu itu berupaya
pula mengembangkan sarana
transportasi. Dalam bulan juni 1876 Gubernur Jenderal Mr. Baron Sloet dan de
Boele membuka hubungan kereta api pertama antara Semarang dengan Vorstendelen.
Kereta api yang terletak di Tambaksari. Perkembangan kereta api ini hingga
tahun 1870 yang di tandai denga selesainya hubungan sampai kota Solo dan Yogya
pada tahun 1872. Sementara dibuka hubungan kereta api Semarang ke sebelah timur
sampai Juana oleh SIS (Semarang Juana Stoomtram Maatschappij) yang berpusat di
stasiun barang. Gedung stasiun tersebut dibuat indah sekali dengan konstruksi
besidan banyak kaca di samping dan atapnya hingga tampak megah. Gedung stasiun
tersebut terletak di jalan Djurnatan sekarang jalan H. Agus Salim. Fungsi
stasiun itu kemudian berubah menjadi terminal bus antar kota yang akhirnya
dibongkar dan lenyap sudah salah satu moment perkereta apian di Semarang.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ditinjau
dari letak geografis Dalam perkembangan
dan pertumbuhan Jawa Tengah, Semarang sangat berperan terutama dengan
adanya pelabuhan, jaringan transport darat (jalur kereta api dan jalan) serta transport
udara yang merupakan potensi bagi simpul transportasi Regional Jawa Tengah dan
Kota Transit Regional Jawa Tengah. Posisi lain yang tak kalah pentingnya adalah
kekuatan hubungan dengan luar Jawa, secara langsung sebagai pusat wilayah
nasional bagian tengah.
Kota Semarang dianggap telah mewakili kawasan – kawasan
bersejarah di perkotaan. Hal ini didasari karena di kota Semarang terdapat
sejumlah kawasan bersejarah yang awalnya merupakan kawasan rancangan dan
kawasan yang berkembang secara sepontan ( kawasan tradisional). Kawasan –
kawasan bersejarah yang terdapat di kota Semarang diantaranya adalah Kampung
Kauman, Litlle Netherland, Pecinan, Kampung Melayu, Permukiman Sewa Melaten,
Kawasan Tugu Muda, dan Kawasan Candi Baru.
Salah satu ikon kota semarang yang kami angkat dalam
penelitian ini adalah lawang sewu. Sejarah gedung Lawang Sewu
tidak terlepas dari sejarah perkeretaapian di indonesia karena bangunan ini
didirikan sebagai kantor pusat Nederlandsch
Indische Spoorwe Maatschappij (NIS). Dibangunnya NIS atas dasar kebutuhan angkutan darat
yang memadai untuk mengangkut hasil bumi yang melimpah.
Awalnya administrasi perkantoran pusat Nederlandsch
Indische Spoorwe Maatschappij (NIS)
diselenggarakan di stasiun Semarang.
Pertumbuhan jaringan yang pesat itu dengan sendirinya diikuti aktifitas yang
juga menjadi semakin sibuk, demikian pula dengan jumlah personil teknis maupun
administratif, sehingga kantor pengelolaan di stasiun Semarang NIS tidak lagi memadai.akhirnya dibangunlah gedung yang saat ini kita sebut
lawang sewu.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan saran
sebagai masukan
1.
Pemberdayaan lawang
sewu sebagai objek kajian bersejarah haruslah lebih diperhatikan karena sesuai
dengan pengalaman kami dalam melakukan penelitian harusnya di lawang sewu
terdapat sumber- sumber primer dimana ketika seorang melakukan penelitian maka
akan terbantu dengan adanya sumber primer seperti dokumen- dokumen penting NIS
atau data administrasi NIS pada jaman penjajahan belanda.
2.
Selain itu,
keutuhan benda cagar budaya pun harus kita jaga dan kita lestarikan tidak hanya
naskah kuno tetapi juga bangunan. Karena bangunan lawang sewu adalah saksi
nyata dari perkembangan perkeretaapian di indonesia.
3.
Sumbangan-
sumbangan akademik tentang penelitian- penelitian lawang sewu haruslah ditambah
agar pengetahuan orang tentang lawang sewu tidak hanya dari segi mistis nya
saja tapi dari segi sejarah yang juga menarik untuk diungkap.
DAFTAR PUSTAKA
Malik, Abdul
(2004) ASPEK TROPIS PADA BANGUNAN KOLONIAL
LAWANG SEWU SEMARANG. Jurnal
Budiman, Amien. 1979. Semarang
Tempo Doeloe Semarang Masa Kini Dalam Rekaman Kamera. Semarang: Penerbit
Tanjung Sari.
Wasino. 2007. Dari Riset Hingga Tulisan Sejarah.
Semarang: UNNES Press.
Wijanarka. 2007. Semarang Tempo
Dulu Teori Desain Kawasan Bersejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Buku terbitan PT kereta api
indonesia
http://seputarsemarang.com/lawang-sewu-pemuda-1272/
(diunduh pada 21 juni 2014 pukul 19.45)
http://semarang.yogyes.com/id/see-and-do/architectural-sight/lawang-sewu/
(diunduh pada 21 juni 2014 pukul 19.45)
Lampiran 1:
[9] Unduhan http://semarang.yogyes.com/id/see-and-do/architectural-sight/lawang-sewu/
(diunduh pada 21 juni 2014 pukul 19.45)

No comments:
Post a Comment