PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pasar sering dipahami
sebagai tempat seorang dengan yang lain bertemu untuk melakukan kegiatan
ekonomi atau dengan kata lain melakukan kegiatan jual beli. Damsar (2002 : 83)
melihat pasar sebagai salah satu lembaga yang paling penting dalam institusi
ekonomi. Pasar menjadi tempat pemenuhan kebutuhan hidup, keberadaanya
memberikan kemudahan dalam menunjang aktivitas ekonomi masyarakat..
Pasar merupakan bagian
dari rangkaian sistem kegiatan jual beli barang atau jasa dalam masyarakat.
Pasar sebagai tempat interaksi, sumber informasi, dan menjadi wadah penerapan nilai-nilai yang ada
dalam masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, definisi pasar adalah penjual yang ingin menukarkan barang/jasa
dengan uang, dan pembeli yang ingin menukar uang dengan barang dan atau
jasa.
Menurut
Kasmir (2009: 156), Pasar merupakan himpunan pembeli nyata dan pembeli
potensial atas suatu produk. Pasar juga dapat diartikan sebagai suatu mekanisme
yang terjadi antar pembeli dan pembeli atau tempat pertemuan antara
kekuatan-kekuatan permintaan dan penawaran.
Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah
memiliki beberapa pasar antara lain
pasar modern dan pasar tradisional. Pasar modern di Kota Semarang keberadaanya dari waktu ke waktu semakin bertambah.
Pasar modern yang sering disebut dengan mall,
pada awalnya hanya berada di sekitar lapangan Simpang Lima, tetapi saat ini
tersebar mall, pada awalnya hanya
berada di sekitar lapangan Simpang Lama, tetapi saat ini tersebar mall di beberapa wilayah Kota Semarang.
Aktivitas pasar
tradisional ditandai dengan adanya transaksi antara penjual dan pembeli secara
langsung, dan adanya proses tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Kegiatan
dalam pasar tradisional dipengarunhi dan terikat dengan rasa percaya diantara
pedagang dengan pembeli. Pembeli dapat mengembalikan barang yang sudah dibeli
jia barang yang dimaksud tidak sesuai dengan harapan pembeli. Pengembalian
barang yang dilakukan oleh pembeli merupakan ciri pasar tradisional yang ada.
Tempat berjualan yang ada
di pasar tradisional berupa kios atau gerai, dan los terbuka. Sarana prasarana
yang digunakan oleh pedagang dalam pasar tradisional berupa terpal yang digelar
diatas tanah untuk meletakan barang dagangannya dan payung yang digunakan untuk
berlindung dari terik sinar matahari (Martono, 2010 :1-2).
Pasar tradisional sebagian
besar yang da menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari, seperti bahan makanan
berupa beras, tempe, ikan, sayur mayur, telur, daging. Pasar tradisional
terletak dekat dengan kawasan pemukiman. Letak yang dekat dengan perkampungan menjadi
ciri dalam pasar tradisional. Tempat ini didominasi oleh aktifitas dari ibu-ibu
rumah tangga untuk berdagang maupun membeli. Pasar modern dan pasar tradisional
memeiliki perbedaan dalam aktifitasnya maupun infrastrukturnya.
Pasar moden menyediakan teknologi
modern sehingga dapat menarik masyarakat untuk berbelanja di pasar modern.
Sebaliknya pasar tradisional menggunakan peralatan tradisional dengan beralas
terpal utuk menggelar barang dagangannya. Wijayanti (2009: 156) mengungkapkan eksistensi pasar tradisional saat
ini mulai terpinggirkan, segera berbenah untuk menghadapi persaingan yang
semakin berat dengan kehadiran pasar modern. Salah satu jenis pasar tradisional
adalah pasar Johar Semarang.
Pasar Johar Semarang merupakan pasar yang didirikan pada masa kolonial yang
pada tahun 1860 letaknya
bagian timur alun-alun yang
dipagari
oleh deretan pohon johar ditepi jalan dan dari sinilah nama Pasar johar itu lahir. Lokasi
pasar ini disebelah barat pasar Semarang yang disebut seagai Pasar Pedamaran,
dan berdekatan pula dengan penjara sehingga menjadi tempat menanti orang yang
menengok kerabat dan kenalan yang dipenjara. Pasar Johar menjadi semakin ramai
dan memerlukan perluasan ruang. Setelah melalui proses pengkajian, akhirnya
diadakan perluasan Pasar Johar dengan menebang pohon johar dan membangun los
baru. Sampai dengan saat pasar ini masih dimiliki oleh pertikelir (swasta).
Pada tahun 1931 itu gedung penjara tua yang terletak
didekat Pasar
Johar
dibongkar sehubungan dengan rencana pemerintah kota untuk mendirikan Pasar
Central modern. Pasar Central lantas memang didirikan dengan tujuan
mempersatukan fungsi lima pasar yang telah ada, yaitu pasar johar, pasar
pedamaran, pasar beteng, pasar jurnatan dan pasar pekojan. Adapun tapak pasar
yang akan direncanakan melihat tapak pasar pedamaran, pasar johar, ditambah
tapak rumah penjara, beberapa toko, sebagian halaman Kanjengan dan sebagian
alun-alun.
Sampai kini pun
berbagai
aktivitas dan kegiatan yang ada di Pasar Johar masih berlangsung dengan baik. Adapun aktivitas
dan kegiatan tersebut dapat
memberikan berbagai keuntungan baik dari segi ekonomi bagi para pedagang yang berjualan disana. Selain itu, berbagai
interaksi yang terjadi di Pasar
Johar secara
langsung dapat mempererat sosialisasi antara
masyarakat yang berasal dari etnis Cina maupun penduduk
pribumi.
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu diadakan
penelitian lebih lanjut dengan judul “Perkembangan
Pasar Johar dari Masa Kolonial sampai Orde Baru”.
B. Perumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1.
Bagaimana
sejarah berdirinya Pasar Johar di Semarang?
2.
Bagaimana perkembangan Pasar Johar dari Masa Kolonial
sampai Orde Baru?
3.
Apa saja pengaruh sosial dan ekonomi keberadaan Pasar Johar terhadap kehidupan masyarakat sekitar
pada masa kolonial sampai Orde Baru?
C. Tujuan
Penelitian
Sebuah penelitian akan efektif apabila sebelum
penelitian berlangsung, penelitian harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan
tersebut merupakan penunjuk arah penelitian agar tidak membias pada bidang
lain. Sehubungan dengan ini maka tujuan yang hendak dicapai oleh penulis dalam
penelitian ini adalah:
1.
Untuk mengetahui sejarah berdirinya Pasar Johar di Semarang?
2.
Untuk mengetahui perkembangan Pasar Johar dari Masa
Kolonial sampai Orde Baru?
3.
Untuk mengetahui pengaruh sosial dan ekonomi keberadaan Pasar Johar terhadap kehidupan masyarakat sekitar
pada masa kolonial sampai Orde Baru?
D. Manfaat
Penelitian
Manfaat yang diharapkan didapat dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
a.
Memberi wawasan
dan pengetahuan kepada mahasiswa dan masyarakat umum tentang sejarah Pasar Johar..
b.
Memperkaya
khasanah sejarah lokal dalam upaya melengkapi sejarah nasional.
c.
Dapat digunakan
sebagai referensi bagi peneliti–peneliti lainnya yang meneliti tentang latar
belakang sejarah terbentuknya Pasar Johar serta pengaruh kehidupan ekonomi dan sosial
terhadap masyarakat sekitar.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penyusunan proposal penelitian ini perlu adanya
pembatasan wilayah penelitian yang disebut scope spatial dan lingkup
waktu yang disebut scope temporal. Scope spatial berkaitan dengan
daerah atau tempat yang dijadikan obyek penelitian. Tempat yang dijadikan obyek
penelitian adalah Pasar Johar dan
sekitarnya. Kawasan
perdagangan Johar adalah area pusat jual-beli di kota Semarang yang terkenal
dengan kelengkapan komoditinya dan menjadi salah satu pusat destinasi belanja
masyarakat Semarang. Kawasan ini terletak pada pusat Kota Semarang, kecamatan
Semarang Tengah, kelurahan Kauman. Terletak pada bagian Wilayah Kota I Kota
Semarang, kawasan perdagangan Johar
memiliki dominansi aktivitas komersial/ perdagangan dengan beberapa guna lahan
permukiman.
Sedangkan untuk scope temporal atau waktu berkaitan
dengan pembatasan waktu yang dibuat. Waktu yang dijadikan penelitian adalah masa kolonial sampai masa
kemerdekaan. Adapun
tematikal tentang “Pasar Johar
dari Masa Kolonial Sampai Orde Baru”, penulis ingin mengetahui sejarah berdirinya Pasar Johar,
perkembangan pasar Johar dari masa kolonial sampai masa kemerdekaan, dan pengaruh sosial dan ekonomi keberadaan Pasar Johar
terhadap kehidupan masyarakat sekitar pada masa kolonial sampai masa
kemerdekaan.
F. Kajian Pustaka
Dalam penelitian
ini penulis menggunakan buku yang berkaitan dengan tema di atas. Buku tersebut
adalah “Kota Semarang Dalam Kenangan” karangan Jongkie Tio menjelaskan mengenai alun-alun Semarang berada diujung timurlaut
JL. Bojong (sekarang JL. Pemuda) dekat Hotel
du Pavillon sekarang
(Hotel
Dibyapuri) dan sudah ada sejak akhir abad ke -16 dan awal abad ke-17 yang waktu itu keadaan sekitarnya belum
teratur, kecuali ada bangunan pendopo. Baru abad ke 18-19 dikala bangsa Eropa
mulai masuk, maka daerah alun-alun perlahan tapi pasti mengalami perubahan,
antara lain dibangun sebuah Masjid besar dekat Jl. Kauman. Juga dibangun
pendopo besar yang disebut “Kanjengan” sebagai pusat pemerintahan.
Sementara itu disekitar alun-alun Semarang terutama
di pertengahan dan akhir abad ke-19 pembangunan berjalan terus. Gedung baru
berdiri megah antara lain Gedung Kantor Pos, Kantor Telepon, Hotel Du Pavillon
dan sekitar tahun 1930 sebuah gedung besar didirikan yaitu gedung DE JA VASCHE
BANK. Disitu dibangun juga gedung besar bertingkat dua yang
indah, menggantikan pasar pedamaran yang telah tak sesuai lagi, pasar tersebut
dikenal sebagai pasar Djohar dan dibangun oleh Ir. Karsten, seperti halnya
gedung Bank Indonesia dan gedung
pekerjaan umum dibelakangnya sempit akibat kemajuan pembangunan pesat.
Buku yang
dieditori oleh Victor S. Winatayuda menjelaskan beberapa pasar
tertua di Semarang antara lain tercatat nama pasar Pandamaran, yang terletak di
daerah Pecinan, dekat jembatan Jurnatan (Jl. H. Agus Salim) yang penduduknya
banyak menjual damar, palawija. Makin lama daerah itu makain padat dan tak
teratur, pada akhirnya para pedagang dan pembeli mulai masuk daerah sekitarnya,
hingga disekitar alun-alun yang waktu itu masih banyak ditumbuhi pohon-pohon
rindang yang dikenal dengan nama poho Djohar, ini terjadi di tahun 1865 pada
saat itu pemerintahan Belanda dalam menertibkan para pedagang dibikinlah
Loods-loods (yaitu los), dimana mereka menempati ruangan-ruangan atau
petak-petak yang dibangun memanjang, pada tahun 1920 pasar itu diperluas lagi
dengan bangunan permannen bertingkat dua, yang dikerjakan oleh Ir. Thomas
Kartsen, selesai pada tahun 1939. Yang unik dari bangunan tersebut ialah
atapnya terbentuk seperti payung. Pasar tersebut dikenal sebagai pasar Djohar.
Dalam buku karangan Jongkie Tio juga menerangkan beberapa
pasar kecil di Semarang terutama di daerah pecinan dikenal dengan nama pasar
Gg. Baru. Juga dikenal dengan nama pasar DARGO yang merupakan sentra beras
terbesar di Semarang , sementara pusat barang bekas adalah pasar Klitikan.
Pusat lainya berada di sepanjang Jl. Citarum,
Jl. Progo kali banjir Kanal-kokrosono. Untuk jenis Vulpen, arloji, kaca
mata banyak tedapat di kantor pos dan Bank sekitar Jl. H. Agus Salim untuk
barang-barnang upacara seperti kendil, gerabah dan lainnya biasanya orang pergi
ke Bugangan, sebuah gang terletak Jl. Dargo-Jl. Dr. Cipto.
Buku kedua yaitu berjudul “Sejarah Kota Semarang 1950-1979” karangan Drs. Hartono Kasmadi, M.
Sc. dan Drs. Wiyono, MA. Dalam buku ini ada satu bab yang membahas mengenai
peranan ekonomi Kota Semarang, baik dari sector perdagangan maupun sektor
perindutrian yang merupakan sektoral dominan di Kota Semarang. Buku karangan
Drs. Hartono Kasmadi, M. Sc. dan Drs. Wiyono, MA. Ini dijelaskan beberapa pasar yang sudah tua yang
mempengaruhi perekonomian masyarakat Semarang, diantaranya yaitu Pasar Johar.
Pasar Johar ini menjual aneka macam dagangan baik eceran maupun yang grosiran,
Buku ketiga
yang berjudul “Riwayat Semarang”
karangan Liem Thian Joe menjelaskan
bahwa Pasar Johar pada awalnya merupakan gedung penjara
yang letaknya tidak terlalu jauh dari alun – alun sebelah timur. Gedung tersebut selalu ramai didatangi
pembesuk, karena jumlahnya yang terlalu banyak ,pengunjung yang datang harus
digilir. Banyaknya pembesuk tersebut dimanfaatkan oleh para pedagang untuk
menjajakan makanan.kian hari jumlah pedagang yang datang semakin banyak dari
semula hanya makanan , baraang yang dijajakan semakin bervariasi , seperti
pakaian , perabot rumah tangga dan lainnya. Akhirnya tempat itu menjadi sebuah
pasar dan orang menyebutnya dengan Pasar Johar. Dari waktu ke waktu jumlah pedagang
terus meningkat.
G. Metode
Penelitian
Dalam penelitian ini, Penulis menggunakan metode historis.
Menurut Gottschlak (1975: 32) Metode historis adalah proses menguji dan
menganalisa secara historis rekaman peninggalan masa lampau. Metode historis,
menurut Wiyono (1900: 2) juga dapat diartikan sebagai suatu kumpulan yang
sistematis dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang dimaksudkan untuk
membantu dengan secara efektif dalam pengumpulan bahan-bahan sumber dari
sejarah, dalam menilai atau mengkaji sumber-sumber itu secara kritis dan
menyajikan suatu hasil sintesis dari hasil-hasil yang dicapai. Dengan
menggunakan metode sejarah, diusahakan merekonstruksi peristiwa-peristiwa masa
lampau kemudian menyampaikan rekonstruksi sesuai dengan jejak-jejak masa
lampau. Rekonstruksi dalam sejarah harus disusun secara sistematis dan obyektif
dengan mengumpulkan, menilai, memverifikasi dan mensintesiskan bukti-bukti
untuk menetapkan fakta dan mencapai kesimpulan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
a.
Heuristik
Notosusanto (1971: 18) menjelaskan bahwa heuristik adalah
proses atau usaha untuk mendapatkan dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang
ada hubungannya dengan permasalahan yang akan diteliti berupa jejak-jejak masa
lampau, dapat berupa kejadian, benda peninggalan masa lampau dan bahasa
tulisan. Adapun langkah-langkah heuristik yang akan dilakukan adalah sebagai
berikut :
1) Menentukan jenis data yang diperlukan, meliputi :
a) Dokumentasi
adalah alat-alat pengumpulan data yang berupa foto-foto dan gambar-gambar.
b) Sumber
lisan adalah alat pengumpulan data yang berupa informasi dari para informan.
c) Artefak
adalah alat pengumpulan data yang berupa benda peninggalan masa lampau.
2) Menentukan tempat penelitian.
3) Sumber sejarah yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a) Sumber
Primer
Menurut Gottschlak (1975: 36) sumber primer yaitu sumber yang
ditulis oleh saksi hidup yang mengalami atau mengambil bagian dalam suatu
kejadian atau yang hidup sezaman dengan kejadian itu. Sumber primer merupakan
sumber asli, karena kesaksiannya tidak bersumber dari sumber lain, tetapi dari
tangan pertama.
Sumber primer diperoleh dari arsip suara merdeka. Sumber primer yang
diperoleh tidak diterima mentah (diambil apa adanya) tetapi juga melalui
prosedur kritik sumber yang telah ditentukan yang merupakan alat analisis dalam
ilmu sejarah.
b) Sumber
Sekunder
Sumber sekunder adalah kesaksian dari siapa pun yang bukan
merupakan saksi pandangan mata dari seseorang yang tidak hadir pada peristiwa
yang dikisahkannya. Dalam hal ini penulis mempergunakan buku, surat kabar,
majalah, dan arsip yang terkait dengan permasalahan yang diteliti.
Dalam usaha untuk mencari dan mengumpulkan data yang
dibutuhkan maka penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sebagai
berikut :
a) Metode
Dokumenter
Metode ini merupakan proses pembuktian yang didasarkan atas
jenis sumber apapun bersifat lisan, tulisan dan gambaran atau arkeologis
(Gottschlak, 1975: 36). Dalam melakukan metode dokumenter peneliti harus
hati-hati agar tidak terjebak oleh adanya dokumen itu sendiri. Dalam metodologi
sejarah telah dibekali dalam melakukan kritik sumber, maka studi tentang
dokumen harus melakukan kritik intern maupun kritik ekstern agar dokumen itu
benar-benar dokumen yang dibutuhkan dan mempunyai nilai validitas dan kredibilitas
yang handal.
b) Metode
Studi Kepustakaan
Nawawi (1990: 133) mengungkapkan
bahwa studi pustaka adalah cara pengumpulan data melalui buku-buku yang relevan
dengan permasalahan yang diteliti, melalui peninggalan tertulis berupa
arsip-arsip dan termasuk juga bahan tentang pendapat, teori, dalil dan
sebagainya yang berhubungan dengan masalah yang diselidiki.
b. Kritik
Sumber
Kritik sumber sejarah adalah upaya untuk mendapatkan
otentisitas dan kredibilitas sumber (Pranoto, 2010: 35). Adapun caranya, yaitu
dengan melakukan dua kritik. Yang dimaksud dengan kritik adalah kerja
intelektual dan rasional yang mengikuti metodologi sejarah guna mendapatkan
objektivitas suatu kejadian.
Kritik sumber, menurut Wiyono (1990: 2) merupakan tahap
penilaian atau pengujian terhadap bahan-bahan sumber yang telah penulis peroleh
dari sudut pandang kebenarannya. Kritik atau analisa merupakan cara untuk
menilai sumber atau bahan yang memberikan informasi dapat dipercaya atau tidak,
apakah dokumen atau bahan itu dapat dipertanggungjawabkan keasliannya atau
keautentikannya atau tidak.
Ada dua langkah yang harus ditempuh untuk membuktikan
validitas sumber, yaitu (1) Mengadakan kritik intern yang bertujuan untuk
mencari kebenaran isinya, dan (2) Mengadakan kritik ekstern yang bertujuan
untuk membuktikan keaslian dan kebenaran suatu sumber.
Kritik intern dilakukan terhadap informasi atau sumber itu
sendiri, sedangkan kritik ekstern dilakukan terhadap data dengan menganalisa
kebenaran sumber atau hubungan dengan persoalan apakah sumber itu asli atau
tidak. Dalam penelitian ini lebih banyak ditekankan pada kritik intern. Hal ini
dilakukan karena ingin memperoleh jawaban dengan nilai pembuktian dari isi atau
sumber tersebut. Apakah relevan dengan penelitian yang dimaksud atau tidak.
Cara melakukan kritik intern di sini ialah dengan cara membandingkan dari data
yang diperoleh di lapangan dari hasil wawancara dengan sumber tertulis. Selain
itu, dalam melakukan kritik sumber melalui wawancara dilakukan pengecekan
silang antar sumber. Sebagai pendukung perlu juga diketahui situasi, baik di
dalam memberikan keterangan, bagaimana kemampuan serta daya ingat dan juga
bagaimana tingkah laku informan dalam keseharian.
Dalam menentukan kriteria asli maupun tidaknya sumber
tersebut di lapangan adalah diperoleh dari seorang informan yang lainnya
mengenai suatu peristiwa yang sama. Sebab kadangkala informasi yang diberikan
oleh informan yang satu dengan informan yang lainnya tidak sama. Dalam hal ini
perlu dicari terlebih dahulu persamaan persepsi dan informasi. Selanjutnya
dibandingkan dengan sumber tertulis yang ada.
Dalam
hal ini, kritik sumber dilakukan kepada :
1) Pemilihan
informan yang memberikan keterangan mengenai sejarah berdirinya Pasar Johar, perkembangan dan pengaruh sosial dan
ekonomi masyarakat sekitar pada masa kolonial sampai Orde Baru. Keadaan
informan juga perlu diperhatikan dan dipertimbangkan.
2) Data
atau sumber tertulis yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini, adapun
cara melakukan kritik dalam penelitian ini adalah membandingkan data yang
berhasil dikumpulkan dan dihimpun.
c. Interpretasi
Interpretasi adalah menentukan makna saling berhubungan
diantara fakta-fakta yang diperoleh. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh suatu
rangkaian peristiwa yang bermakna. Interpretasi merupakan cara untuk menentukan
maksud saling berhubungan dalam fakta-fakta yang diperoleh setelah terkumpul
sejumlah informasi mengenai peristiwa sejarah yang sedang diteliti. Suatu
peristiwa sejarah agar dapat menjadi kisah sejarah yang baik maka perlu
diinterpretasikan (disintesiskan). Berbagai fakta yang lepas satu sama lain itu
harus dirangkaikan dan dihubung-hubungkan sehingga menjadi suatu kesatuan yang
bermakna.
Menurut Widja (1989: 25) interpretasi adalah usaha untuk
mewujudkan rangkaian bermakna dari fakta-fakta sejarah. Fakta-fakta yang telah
diwujudkan perlu dihubung-hubungkan dan dikait-kaitkan satu sama lain
sedemikian rupa sehingga antara fakta satu dengan fakta lainnya kelihatan
sebagai suatu rangkaian yang masuk akal, dalam arti menunjukkan kecocokan satu
sama lainnya.
Pada umumnya proses interpretasi meliputi hal-hal sebagai
berikut: (1) Seleksi fakta yang memilih fakta-fakta yang relevan dengan
kepentingan penelitian tersebut. (2) Periodisasi yaitu penyusunan fakta sesuai
dengan urutan waktu terjadinya.
d. Historiografi
Berbagai fakta yang lepas satu sama lain itu harus kita
rangkaikan dan kita hubung-hubungkan hingga
menjadi kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Peristiwa-peristiwa yang
satu harus kita masukkan didalam keseluruhan. Konteks peristiwa-peristiwa lain
yang melingkupinya (Wasino, 2007: 74).
Historiografi merupakan cara penulisan, pemaparan, atau
pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan (Abdurahman, 1999: 67).
Layaknya laporan penelitian ilmiah, penulisan hasil penelitian sejarah itu
hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian,
sejak dari awal (fase perencanaan) sampai dengan akhirnya (penarikan
kesimpulan).
Historiografi atau penulisan sejarah merupakan tahap akhir
dari metode sejarah. Hasil penafsiran atau interpretasi atas fakta-fakta
sejarah yang telah dilakukan kemudian dituliskan menjadi suatu kisah yang
selaras.
H. Sistematika Penulisan
Dalam penelitian
yang berjudul “
Perkembangan Pasar Johar dari Masa Kolonial sampai Orde Baru” ini, penulis menggunakan sistematika sebagai
berikut:
Bab
I, merupakan bab pendahuluan dalam
penulisan penelitian ini. Bab pendahuluan ini mencakup: Latar Belakang Masalah,
Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Ruang Lingkup
Penelitian, Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.
Bab
II, berisi penjelasan mengenai gambaran umum yang berisi kondisi Pasar Johar Semarang.
Bab
III, memuat penjabaran mengenai sejarah
berdirinya Pasar Johar.
Bab
IV, bab ini berisi
mengenai perkembangan Pasar Johar dari Masa Kolonial sampai Orde Baru.
Bab V, berisi tentang pengaruh
Pasar Johar Semarang
terhadap kehidupan sosial dan ekonomi
masyarakat sekitar.
Bab
VI,
bab ini merupakan bab terakhir yang akan mengungkapkan simpulan dan penelitian
yang telah dilaksanakan dan merupakan jawaban atas pertanyaan dari permasalahan
yang dikemukakan dalam penelitian serta saran penulisan penelitian ini.
BAB II
GAMBARAN UMUM PASAR JOHAR SEMARANG
A.
Letak Geografis dan Kondisi Masyarakat Semarang
Kota
Semarang adalah ibukota
Provinsi
Jawa
Tengah, Indonesia,
sekaligus kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta,
Surabaya,
Bandung,
dan Medan.
Sebagai salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang
mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2 juta jiwa. Bahkan, Area
Metropolitan Kedungsapur (Kendal,
Demak,
Ungaran Kabupaten Semarang,
Kota Salatiga,
dan Purwodadi Grobogan)
dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat ke
4, setelah Jabodetabek (Jakarta),
Bandung
Raya dan Gerbangkertosusilo (Surabaya).
Dalam
beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya
beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Sayangnya, pesatnya
jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin
parah. Kota Semarang dipimpin oleh wali
kota
Hendrar Prihadi, S.E, M.M. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta,
atau 312 km sebelah barat Surabaya,
atau 624 km sebalah barat daya Banjarmasin (via udara). Semarang berbatasan
dengan Laut
Jawa
di utara, Kabupaten Demak
di timur, Kabupaten Semarang
di selatan, dan Kabupaten Kendal
di barat. Luas Kota 373.67 km2.
Seiring
dengan perkembangan Kota, Kota Semarang berkembang menjadi kota yang
memfokuskan pada perdagangan dan jasa. Berdasarkan lokasinya, kawasan
perdagangan dan jasa di Kota Semarang terletak menyebar dan pada umumnya berada
di sepanjang jalan-jalan utama. Kawasan perdagangan modern, terutama terdapat
di Kawasan Simpanglima yang merupakan urat nadi perekonomian Kota Semarang. Di
kawasan tersebut terdapat setidaknya tiga pusat perbelanjaan, yaitu Matahari,
Living Plaza (ex-Ramayana) dan Mall Ciputra, serta PKL-PKL yang berada di
sepanjang trotoar. Selain itu, kawasan perdagangan jasa juga terdapat di
sepanjang Jl. Pandanaran dengan adanya kawasan pusat oleh-oleh khas Semarang
dan pertokoan lainnya serta di sepanjang Jl. Gajahmada. Kawasan perdagangan
jasa juga dapat dijumpai di Jl. Pemuda dengan adanya DP mall, Paragon City dan
Sri Ratu serta kawasan perkantoran. Kawasan perdagangan terdapat di sepanjang
Jl. MT Haryono dengan adanya Java Supermall, Sri Ratu, ruko dan pertokoan.
Adapun kawasan jasa dan perkantoran juga dapat dijumpai di sepanjang Jl.
Pahlawan dengan adanya kantor-kantor dan bank-bank. Belum lagi adanya
pasar-pasar tradisional seperti Pasar Johar di kawasan Kota Lama juga semakin
menambah aktivitas perdagangan di Kota Semarang.
B. Pasar
Johar Semarang
Pasar Johar merupakan salah satu pasar yang sudah lama di Semarang (Kotamadya
Semarang). Pasar Johar merupakan pasar tradisional terbesar yang dimiliki Kota Semarang. Pasar
yang merupakan warisan budaya
peninggalan Belanda ini
terletak di kawasan
perdagangan di pusat
Kota Semarang, tepatnya di kawasan alun-alun lama Kota Semarang. Selain
berdekatan dengan pusat Kota Semarang, pasar
ini juga berdekatan
dengan kawasan kota
lama (old city) yang berkembang
menjadi wisata sejarah di Kota semarang (Pungkasari 2007: 1).
Pasar Johar terletak di Jalan H. Agus Salim,
wilayah Kota Lama Semarang.
Bangunan seluas 15.003,50 meter persegi, selesai didirikan pada
tahun 1939 oleh Arsitek Belanda Ir Thomas Karsten, Pembangunannya
dilaksanakan dengan bertahap, intinya adalah menyatukan lima pasar di
sana menjadi satu labirin. Pasar yang bersatu yaitu Pasar Johar, Pasar Pedamaran,
Pasar Benteng, Pasar Jurnatan, dan Pasar Pekojan. Lahan yang diambil
termasuk bekas rumah penjara, beberapa toko yang menyelip di antara kawasan,
sebagian halaman Kanjengan, dan sebagian alun-alun. Pada
perkembangan ide pembangunan bentuk pasar Johar memunculkan konstruksi
cendawan. Dari sinilah Pasar Johor makin tersohor.
BAB III
SEJARAH BERDIRINYA PASAR JOHAR
A. Sejarah Singkat Mengenai Pasar Johar
Asal-usul Pasar Ketika Stads
Gemeente van Semarang
(Pemerintah Kotapraja di
bawah pemerintahan kolonial Belanda) menugasi Ir Thomas Karsten membangun
pasar permanen pada1937-1939, di sana
sudah ada potensi perpasaran dengan puluhan pedagang. Pedagang muncul karena
setiap pagi hingga
siang hari banyak
orang berkerumun. Mereka
adalah warga kota
yang akan membesuk anggota
keluarga yang ditahan di sebuah penjara di kawasan tersebut, apalagi alun-alun dan Pekojan saat
itu merupakan kawasan
paling ramai. Selanjutnya
Thomas Karsten membangun
tempat permanen yang
dapat mewadahi kegiatan
perpasaran yang melibatkan
ratusan pedagang. Pasar
itu diberi nama
Pasar Central karena
disiapkan sebagai pasar
utama bagi Kota
Semarang. Rencana pembangunan pasar
gede tersebut dipublikasikan lewat
harian de Javasche
Courant dan LocaleTechnick sejak
1933. Karena itu,
pasar yang semula
tumbuh secara alami
tersebut berhasil
disinkronkan dengan rencana
tata ruang kota
sekaligus menyerap aspirasi
yang berkembang di masyarakat (Pungkasari, 2007:1-2).
Pada tahun 1860 ketika Pasar Johar masih merupakan
bagian dari alon-alon di bagian tepi
sebelah timur, berbatasan dengan jalan, tumbuh pohon-pohon johar (mahoni) Di bawah pohon-pohon inilah biasanya sanak keluarga
dari orang-orang yang keluarganya di pejara bersama-sama menanti, sampai tiba
saatnya mereka diperkenankan menjenguk keluarganya.
Lantaran letak tempat itu dekat dengan pasar
Semarang (pasar Pedamaran), maka selain orang-orang yang hendak menjenguk
keluarganya yang dibui, juga setiap pagi banyak orang dusun yang berjualan
barang hasil bumi,seperti jagung, buah-buahan, pisang, puhung dan lain-lain.
Lurah pasar pun membiarkan mereka berada disana, karena waktu itu keadaan jalan
disana belum ramai selain itu juga bisa menambah penghasilan lurah pasar dengan
uang cukai atau sapon.
Sapon atau cukai yang dipungut pada waktu itu tidak
cuma berupa uang seperti sekarang, karena seseorang yang berjualan apa saja,
ketika mereka tidak bisa membayar dengan uang, ia bisa membayar dengan sedikit
barang yang dijual. Perlahan-lahan tempat ini semakin ramai hingga terdapat
beberapa bakul atau pedagang yang setiap pagi membuka dasaran-dasaran atau
bango-bango (bango-bango) atau tempat-tempat dasaran yang bisa dipindahkan
dengan alingan atau atap kepang atau bagor untuk menahan panasnya maahari.
Sampai tahun 1865, bagian dari alon-alon ini telah menjadi sebuah pasar. Pada pagi hari terdapat
banyak orang yang berjualan berbagai macam barang keperluan di tempat itu,
tetapi pohon-pohon johar yang terdapat di pinggir jalan tetap belum
dihilangkan, maka tempat itu oleh masyarakat dinamakan Pasar Johar.
Seiring berjalanya waktu pasar Johar menjadi semakin
ramai karena kondisi pasar Semarang yang menjadi terlalu kecil dan semakn
sempit serta menjadikan tidak mencukupi masyarakat yang ingin berdagang disana,
selain itu di belakang pasar Pedamaran telah banyak berdiri rumah penduduk
pribumi yang menjadikan pasar semakin
sempit. Oleh karena itu tidak mengherankan,
dengan semakin luas dan mekarnya kota Semarang, pasar Pemaran menjadi tidak
layak lagi, maka dengan cepat Pasar Johar berperan penting saat itu. (Lebar da
panjang Pedamaran kira-kira 20 x 50 m persegi). Pada tahun 1890 pasar Johar
sudah bisa menyaingi pasar Pedamaran.
Ketika diadakan pemerikasaan jumlah yang memiliki
tempat berjualan (bango) tetap di
pasar Johar itu. Ternyata di tahun 1898 telah terdapat 240 pedagang yang
memiliki bango, sebagian besar mereka
dari orang Tionghoa, yang berjualan mangkuk dan piring, kain-kain, barang klontong, barang besi dan lain-lain.
Untuk kepentingan para pedagang yang memerlukan
petak lebih baik dan juga untuk kebersihan tempat itu, supaya tidak kacau,
akhirnya pembesar kota mengambil keputusan untuk membangun beberapa loods (asal kata los, barak-barak) di bagian ini pohon-pohon johar yang terdapat di
situ langsung ditebangi. Biaya pembangunan Loods
ini memerlukan uang sebesar f 1.800. Tetapi biaya ini bisa ditutup dengan
memungut iuaran dari para pedagang tetapi biaya ini bisa ditutup dengan
menetapkan setiap orang membayar f 65. Sementara pembagian tempat, agar tidak
menjadi rebutan karena yang satu mau mendapat lebih baik dari yang lain,
sesudah loods itu rampung, lalu
tempat-itu di undi. Setiap pedagang diminta mengambil satu nomor untuk
dicocokan untuk nomor urut loods itu.
Sesudah dibangun loods
baru, pemandangan di pasar Johar menjadi lebih baik, lebih bersih dan para
pedagangnya tidak perlu takut akan kehujanan ketika hujan deras turun, karena
cukup terlindung. Kembali
ke zaman pachter candu, kita ingin
menambahkan di sini, bahwa pachter-pachter
itu juga menjadi “leverancier” barang-barang keperluan sehari-hari dari Resident ; untuk keperluan tersebut
sengaja mereka menyediakan seorang special
(khusus), setiap pagi orang itu datang membawa barang belanjaan, seperti
telur, ayam, daging sapi, daging babi, sayuran, buah-buahan, dan beberapa hari
sekali ia membawa barang extra sepeti
beras, ham dan lain-lain bahan makanan halus dan mahal. Semua ini dimasukan ke rekening pachter. Jika pachter begitu open (telaten), mau menyusahkan diri serta mau menanggung biaya
yang tidak sedikit, itu berarti ia bermaksud memperoleh sedikit “muka” dari pembesar tinggi.
Ketika seorang pembesar negeri (ambtenaar) akan pindah ke tempat lain atau pulang ke negaranya,
orang selalu melihat bagaimana pachter, atau
bekas pachter atau orang yang ingin
mendapat kedudukan sebagai pachter dan
hartwan-hartawan lain, main borong barang-barang dari pembesar negeri itu
dengan harga luar biasa tingginya. Malahan, jika ambtenaar itu terkenal sebagai seorang yang manis dalam pergaulan,
orang menjadi kagum bagaimana mereka dengan sangat royal mengeluarkan uang untuk mendapatkan barang-barang yang
sebenarnya bagi mereka tidak ada harganya. Kadang-kadang untuk semacam barang
yang orang bisa memperolehnya hanya dengan harga beberapa rupiah, di dalam
lelang mereka berani membayarnya sampai dua ratus, tiga ratus rupiah atau
lebih.
Sementara pada pembesar yang baru datang, pachter pun tidak lupa memperkenalkan
diri dengan menyumbang barang-barang keperluan yang bagus dan mahal ; ada juga
yang menghadiahkan kereta bagus, berikut sepasang kuda Australia lengkap dengan
pakaian kudanya. Terlebih pula jika akan tahun baru Olanda, pachter niscaya akan sibuk mengatur barang-barang sumbangan
untuk pembesar negeri itu. Barang halus dan jarang ada, semua ia pesan, khusus
menyenangkan para pembesar itu. Pantas jika dikatakan, pada zaman itu merupakan
zaman orang-orang telah koan-thay (memberikan
penghormatan) luar biasa kepada pembesar-pembesar tingkat atas.
Pada zaman yang telah lalu, memang gampang terjadi
perkara-perkara yang untuk zaman sekarang pasti dianggap seperti sebuah
dongeng, karena hampir tidak bisa dipercaya kebenarannya, tetapi toch bener-bener telah terjadi.
Begitulah ketika tahun 1877 tatkala Tuan BeSoe le masih menjadi pachter gadai. Ia merombak tempat
tinggalnya yang sekalian dipakai untuk rumah gadai (penggadaian) lalu ia
buatlah bangunan zonder (tanpa)
wuwungan, yaitu di atasnya rata, untuk keperluan menjemur barang-barang gadaian
supaya gampang ditilik (diawasi) dan tidak gampang hilang seperti kalau dijemur
di tanah. Tatkala rumah itu sudah jadi, penduduk memberi nama rumah itu gedong papak (gedung ini yang sekarang dipakai oleh N.V Java Ien Bu Kongsi atau Jawa
Tengah). Tetapi beberapa bulan kemudian mendadak beberapa pembesar negeri
mmerintahkan agar merombak rumah itu, tidak boleh dibangun papak (zonder wuwungan), karena dianggap meniru
gedung negeri atau kantor besar (residentiekntoor).
Selain rumah itu harus dibetulkan dan harus dipasangi wuwungan lagi, Tuan
Be Soe Ie juga dikenai bute (denda)
beberapa puluh rupiah sebagai pelanggaran telah meniru gedung negeri.
Pada tahun 1876 Tuan Hoo Jam Loo yang mendapat
banyak keuntungan dari pach madat,
membangun gedung indah model Olanda di perceel
Gergaji dengan sebuah taman bunga yang bagus sekali, hingga mendapat pujian
dari penduduk Semarang ; di situ dibuat empang-empangan untuk memelihara
berbagai ikan, gunung-gunungan karang serta paseban di tengah-tengahnya. Untuk
keperluan kebun bunga ini Tuan Hoo Jam Loo sengaja mendatangkan tukang bangsa
Tionghoa yang pandai dari lain tempat, kabarnya dari Tiongkok. Dialah orang
Tionghoa pertama yang tinggal di Gergaji.
Sampai
tahun 1879 rumah-rumah sekolah Olanda (Belanda)
masih tertutup rapat bagi anak-anak Tionghoa untuk bisa belajar disana, tidak
peduli ia anak orang kaya dan ternama, karena tatkala Luitenant Liem Liong Hin mengajukan permintaan untuk memasukkan
anaknya ke sekolah itu, permintaan Tuan Liem Tjoe Tjiang waktu itu telah
ditolak.
Akhirnya Tuan Liem Liong Hin mengundang seorang
nyonya Olanda untuk memberikan
pelajaran bahasa Belanda di rumahnya setiap hari, untuk itu ia harus membayar
mahal sekali. Di rumahnya sendiri (sekarang rumah itu memakai jeruji besi di
Gang pinggir, di muka Restaurant Kit
Wan Kie) Tuan Liem Tjoe Tjiang belajar bahasa Belanda bersama saudara
perempuannya yang lebih tua, nona Liem Yang Nio. Disamping itu. Tuan Liem Tjoe
Tjiang juga mendapat pelajaran bahasa Tionghoa, karena pada zaman itu,
bagaimana pun juga orang Tionghoa ingin agar anak-anaknya mempelajari huruf dan
bahasa bangsanya sendiri. Dengan demikian keluarga Liem Liong Hin adalah orang
Tionghoa pertama di Semarang yang mengizinkan anaknya belajar bahasa Belanda.
Beberapa tahun kemudian nona Liem Yang Nio menikah dengan Tuan Tan Thwan Soen
dari Bangkalan (Madura), putra salah satu officier
Tionghoa disana (Joe,
2004: 176-184).
BAB IV
PERKEMBANGAN PASAR JOHAR DARI MASA KOLONIAL SAMPAI ORDE BARU
Perkembangan
perkotaan selalu diiringi dengan pertumbuhan sosial budaya, ekonomi, dan penduduk. Perkembangan Pasar Johar yang sangat pesat menjadikan
penataan kawasan
menjadi sangat kompleks. Penataan kawasan pasar
Johar direncanakan memiliki ruang-ruang untuk berkegiatan bersama
yang berupa jalur sirkulasi maupun tempat parkir. Akan tetapi perkembangan
perdagangan yang pesat dan anggapan sebagai lokasi perdagangan yang strategis
menimbulkan banyaknya pedagang yang bermunculan. Pertumbuhan pedagang
informal tidak diimbangi dengan luasan kawasan Pasar Johar. Hal ini
mengakibatkan pedagang informal
melakukan klaim ruang terhadap ruang publik. Klaim merupakan usaha peningkatan kontrol terhadap
ruang publik untuk memenuhi kebutuhan yang merupakan permasalahan antara perilaku dan teritori manusia,
perkembangan
Pasar Johar dimulai pada tahun 1860. Awalnya pasar
ini hanya sebuah
lahan kosong yang
ditumbuhi pohon johar
karena
lokasinya yang
berdekatan dengan Pasar Pedamaran
dan penjara Semarang.
Seiring berjalannya waktu, lahan kosong ini semakin ramai dikunjungi
oleh orang. Untuk itulah pemerintahan
Pada saat itu, pemerintah Belanda berhasil
mengembangkan konsep kawasan bisnis yang direalisasikan dengan sangat baik.
Konsep tersebut menyatukan lima pasar yang berada di sekitar kawasan tersebut
yakni Pasar Johar,Pasar
Pedamaran, Pasar Benteng,
Pasar Jurnatan dan
Pasar Pekojan Belanda pada
saat itu berinisiatif membuka lahan perdagangan disana. Lima tahun sejak
dibuka,
240
buah dasaran (los)
mulai muncul disana.
Jumlah itu terbilang
cukup besar pada
masa itu. Tahun 1920, pemerintahan Belanda kembali
mengembangkan dan membangun los-los baru sampai
Pada akhirnya
tahun 1931 pemerintah
Belanda membongkar penjara
tua dan membangun pasar central yang
luas dan modern.Setelah melalui proses pengkajian, akhirnya diadakan perluasan
pasar johar dengan menebang pohon johar dan membangun los baru. Sampai dengan
saat tersebut pasar ini masih dimiliki partikelir.
Pada tahun 1933 dibuatlah usulan rancangan pertama oleh ir. Herman Thomas
karsten,
usulan desain pasar yang bentuk dasarnya cendawan. Sejak itu bangunan Pasar
Johar yang megah menjadi
pasar tradisional terbesar di
Kota Semarang. bentuk dasarnya menyerupai pasar jatingaleh,
tetapi dengan ukuran lebih besar. Seiring perkembangan zaman, laju pertumbuhan kawasan itu
semakin tidak jelas, terutama setelah Belanda menyerahkan otoritas
penguasaan wilayah kepada Indonesia.
Kurangnya pengendalian perkembangan mengakibatkan
Pasar Johar memiliki kondisi yang kurang
nyaman bagi masyarakat beraktivitas di sana. Meskipun demikian Pasar Johar
tetap ramai dengan aktivitas jual beli karena barang yang dijual di sana
merupakan barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat serta memiliki harga yang dapat
dijangkau oleh masyarakat umum. Seiring
berkembangnya waktu, Pasar Johar yang mulanya merupakan pasar sebagai
fasilitas. pendukung perkotaan pada umumnya dan pusat perdagangan pada
khususnya, menjadi salah satu asset wisata Kota Semarang. Hal ini tidak
berlebihan bila dikaitkan, bahwa Pasar Johar merupakan icon Kota Semarang,
termasuk sebagai aset budaya yang dapat dikembangkan sebagai aset pariwisata
(Wijayanti, 2005 dalam Eksistensi Pasar Johar).
Pada tahun 1956 pasar johar sebelah selatan dibangun
dengan biaya sekitar 8 juta , proyek pembangunan dilaksanakan pada tanggsl 14
agustus 1956 dan diperkirakan selesai tahun 1958 (Suara Merdeka,02 Desember
1956) . kemudian pada tahun 1969 dibangun lagi sampai ke pasar ya’ik R.W
Sugiarto menerangkan bahwa pasar johar terutama pada bagian depannya akan
segera dipermak, sehingga tampak sesuai dengan johar shopping centre yang
terletak di depan dan berseberangan jalan dengan Pasar Johar (Suara Merdeka,02
November 1969). “Pasar Johar dan
Yaik rata-rata menghasilkan 1,8 juta
perbulan jumlah yang
cukup banyak pada saat itu. hal
itulah yang membuat polemik antara
pihak swasta atau
investor dan pemerintah itu sendiri. sehingga muncullah proyek
seperti pembangunan kios-kios pasar yaik
dan tempat parkir yang diresmikan pada
tahun 1972” (Suara Merdeka, 14 Juli
1969).
Pada tahun 1971
upgrading tahap ke 2 pasar johar menghabiskan biaya 23,5 juta digunakan untuk
membangun kios – kios baru (Suara Merdeka,02 Februari 1971). Pengelolaan pemerintahan Indonesia
terhadap Pasar Johar yang kurang baik pada tahun 1978 karena tidak ada
peraturan dan perencanaan yang esifik membahas mengenai arah perkembangan pasar
tersebut. Peningkatan ktivitas pasar
yang kurang diantisipasi
pemerintah tersebut memang menunjukkan adanya perkembangan aktivitas
ekonomi, namun di
sisi lain hal
ini justru mengurangi kenyamanan
masyarakat setempat. Hal inilah yang nampaknya mulai membuat kondisi pasar kian
semrawut. Pada tahun
1985 kondisi pasar
kian dipenuhi dengan
pedagang-pedagang baru yang memenuhi teras pasar. Pasar johar sempat
mengalami kebakaran pada tahun 1972 api yang berawal dari tumpukan sampah di
atas los,namun berhasil diatasi dengan singkat oleh para pedagang (Suara Merdeka,
1972)
BAB V
PENGARUH SOSIAL DAN EKONOMI KEBERADAAN PASAR JOHAR TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT
PADA MASA KOLONIAL SAMPAI ORDE BARU
Pasar Johar merupakan
pasar tradisional terbesar yang dimiliki Kota Semarang. Pasar Johar yang
mencapai puncak kejayaan pada 1970-an itu ternyata tumbuh dari pasar krempyeng
di sisi timur alun-alun. Pasar Johar berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat
Desa Sumeneban, yang pada umumnya bermata pencaharian sebagai buruh kasar di
pasar johar, penduduk dari desa sumeneban awalnya memang dihuni oleh penduduk
asli dari desa sumeneban sendiri. Namun, daya tarik dari pasar johar membuat
para penduduk luar daerah bermigrasi ke desa sumeneban, struktur ruang kota
dapat dilihat dari tiga materi, yaitu
jaringan jalan, perubahan penggunaan
lahan, dan aktivitas masyarakat.
Perubahan yang
jelas terlihat dari perkembangan Kampung Sumeneban adalah
munculnya pengaruh eksistensi Pasar
Johar dari aktivitas perekonomian, perdagangan dan jasa yang menjadi generator bagi pendatang yang kemudian bermukim
dan menetap di Kampung Sumeneban. Besarnya
interaksi baik di luar
maupun di dalam yang ada di Pasar Johar berpengaruh
besar terhadap aktivitas sekitarnya. Selain perubahan pada lingkungan
permukiman, Pasar Johar juga berpengaruh terhadap arus pergerakan dan
selanjutnya akan mempengaruhi perubahan penggunaan ruang permukiman Kampung
Sumeneban.
Pasar johar merupakan salah satu
ikon dari Kota Semarang , Pasar Johar sering menjadi tujuan wisata orang luar
daerah untuk berbelanja, harga barang yang dijual belikan di pasar johar
membuat para wisatawan ingin untuk berwisata belanja, kualitas dari barang yang
dijual belikan di pasar johar pun mampu bersaing dengan pasar modern.
Fenomena yang telah terlihat saat
ini, bahwa Pasar Johar menjadi salah satu tujuan wisata domestik maupun
regional (Suara Merdeka, 8 Juni 2002). Pasar yang memiliki luas lahan
±33.213,25 m² dengan luas tempat dasaran produktif dasaran ±27.467,03 m² dapat
menampung hingga kurang lebih hampir 15.000 pengunjung (asumsi penyusun).
Bahkan dari tahun ke tahun jumlah pedagang semakin meningkat, dari ± 5225
pedagang pada tahun 2004 menjadi ±5243 pada tahun 2005. Hal ini mengindikasikan
bahwa Pasar Johar semakin berkembang dari tahun ke tahun karena adanya
permintaan pasar. Bahkan ada anggapan bahwa ”belum ke Semarang jika tidak ke
Johar” (Dinas Pengelola Pasar Johar, 2006 menjadi suatu daya tarik untuk
berkunjung ke Pasar Johar.
Pasar Johar merupakan pasar
tradisional yang potensial sebagai salah satu objek wisata belanja yang dapat
bersaing dengan objek-objek wisata lain di Kota Semarang (Suara Merdeka, 31 oktober
2005). Pasar Johar menawarkan berbagai macam produk yang potensial yang
harganya relative bersaing dengan pasar modern maupun ritel-ritel yang ada di
Kota Semarang. Hal ini juga yang menyebabkan
munculnya kecenderungan Pasar Johar menjadi aktivitas wisata belanja. Keadaan
ini terlihat pada makin seringnya para pengunjung yang berdatangan yang
memiliki motivasi tidak hanya untuk berbelanja saja, akan tetapi juga
menghabiskan waktu untuk berekreasi memilih-milih produk yang ditawarkan untuk
kesenangan mereka.
Potensi pemasaran Pasar Johar
mencakup hingga luar wilayah Kota Semarang, karena pasar ini memiliki skala
pelayanan hingga tingkat regional Jawa tengah, bahkan menjadi trade mark Kota
Semarang. Pasar ini melayani hampir pada semua wilayah yang berdekatan dengan
Kota Semarang seperti Kendal, Kudus, Demak, Pati, Purwodadi, dan daerah lainnya.
pendapatan pasar yang diperoleh cukup besar dan mengalami peningkatan dari
tahun ke tahunnya.
Pasar yang dikelola resmi oleh
Pemerintah Kota Semarang ini memiliki visi kedepannya yaitu keterwujudan Pasar
Johar sebagai kawasan wisata belanja yang dapat mendorong pertumbuhan dan
perkembangan sektor perekonomian rakyat dan seni budaya (Eddy Harijanto,SH.MM dalam
Suara Merdeka 13 Mei 2004). Dengan visi tersebut memperkuat kedudukan Pasar
Johar sebagai salah satu aset wisata di Kota Semarang khususnya objek wisata
belanja.
.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejarah Pasar Johar
Semarang dimulai
lebih dari seabad yang lalu. Pada tahun 1860 terdapat pasar yang menempati
bagian timur alun-alun ini dipagari oleh deretan pohon johar ditepi jalan. Dari
sinilah nama Pasar johar itu lahir. Lokasi pasar ini disebelah barat pasar
Semarang yang disebut seagai Pasar Pedamaran, dan berdekatan pula dengan
penjara sehingga menjadi tempat menanti orang yang menengok kerabat dan kenalan
yang dipenjara. Pasar Johar menjadi semakin ramai dan memerlukan perluasan
ruang. Setelah melalui proses pengkajian, akhirnya diadakan perluasan
Pasar Johar dengan menebang pohon johar dan membangun los
baru. Sampai dengan saat pasar ini masih dimiliki oleh pertikelir (swasta).
Pada tahun 1931 itu gedung penjara tua yang terletak didekat pasar johar
dibongkar sehubungan dengan rencana pemerintah kota untuk mendirikan Pasar
Central modern. Pasar Central lantas memang didirikan dengan tujuan
mempersatukan fungsi lima pasar yang telah ada, yaitu pasar johar, pasar
pedamaran, pasar beteng, pasar jurnatan dan pasar pekojan. Adapun tapak pasar
yang akan direncanakan melihat tapak pasar pedamaran, pasar johar, ditambah
tapak rumah penjara, beberapa toko, sebagian halaman Kanjengan dan sebagian
alun-alun.
Pasar Johar sampai saat ini masih
bisa dilihat aktivitas dan kegiatan berlangsung dengan baik. Adapun aktivitas
dan kegiatan tersebut dapat
memberikan berbagai keuntungan baik dari segi ekonomi bagi para pedagang yang berjualan disana. Selain itu, berbagai
interaksi yang terjadi di Pasar
Johar secara
langsung dapat mempererat sosialisasi antara
masyarakat yang berasal dari etnis Cina
maupun penduduk pribumi yang berdagang di Pasar Johar Semarang.
B.
Saran
Setelah kami melakukan penelitian tentang Pasar Johar ini tentunya banyak
pengetahuan lebih yang kami peroleh. Pada kesempatan ini pula kami memberikan
sedikit saran kepada pihak Pasar
Johar
dengan harapan agar pasar ini menjadi lebih baik lagi di masa depan.
Ø Pihak
yang bertanggung jawab agar lebih menjaga kebersihan pasar johar agar nyaman
bagi para penjual dan pembeli.
Ø Perlu
adanya penataan ulang jarak antara satu kios dengan kios lain agar suasana
lebih nyaman dan para pengunjung pun betah untuk berbelanja.
Ø Perlu
penataaan ulang untuk lahan parker agar tidak mengganggu arus lalu lintas di
sekitar Pasar
Johar.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman,
Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Ciputat: PT Logos Wacana Ilmu.
Damsar. 2002. Sosiologi
Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Pratama.
Gootschalk,
L. 1975. Mengerti Sejarah. Terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta:
Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.
Joe, Liem Thian. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta : Hasta Wahana.
Kasmadi, Hartono dan Wiyono. 1985. Sejarah Kota Semarang 1950- 1979.
Jakarta : Departemen Pendidikan Sejarah dan Nilai Tradisional.
Kasmir. 2009. Kewirausahaan.
Jakarta: Rajawali Pers.
Martono, Danang Dwi. 2010. “Keberadaan dan Fungsi
Pasar Klithikan Kokrosono Kelurahan Bulu Lor Kecamatan Semarang Utara Kota
Semarang”. Skripsi. Jurusan Sosiologi
dan Antropologi Sarjana Universitas Negeri Semarang.
Nawawi, Hadari. 1990. Metode Penelitian Bidang Sosial.
Yogjakarta: Gajah Mada University Press.
Notosusanto,
Nugroho. 1971. Norma-Norma Dasar Penelitian dan Penulisan Sejarah. Jakarta:
Departemen Pertahanan Keamanan Pusat Sejarah ABRI.
Pranoto,
Suhartono W. 2010. Teori dan Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Pungkasari, Martina. 2007. “”Kecenderungan Pasar Johar
sebagai Obyek Wisata Belanja di Kota Semarang”. Tugas Akhir. Semarang : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Universitas Negeri Semarang.
Suara
Merdeka 8 Juni 2002.
Suara
Merdeka, 14 Juli 1969
Suara
Merdeka, 1972
Suara
Merdeka, 31 Oktober 2005
Suara Merdeka,02
Desember 1956
Suara
Merdeka,02 Februari 1971
Suara Merdeka,02
November 1969
Tio, Jongkie. 2001. Semarang dalam Kenangan. Semarang: Lambang Kota Madya Daerah
Tingkat II.
Wasino.
2007. Dari Riset Hingga Tulisan Sejarah. Semarang: UNNES Press.
Widja,
I Gde. 1989. Sejarah Lokal Suatu Perspektif dalam Pengajaran Sejarah.
Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Perguruan Tinggi.
Wijayanti, Agus Putri. 2009. “ Eksistensi Pasar-Pasar
Tradisional di Kota Semarang Tahun 1873-1914. Dalam FIS Forum Ilmu Sosial. Vol. 36 No. 2. Hal. 155-170.
Wiyono.
1990. Metode Penulisan Sejarah. Semarang: FPIPS Jurusan Sejarah IKIP
Semarang.
|


(Sumber : KITLV)

Pasar Johar pada Masa Jepang





(Suara Merdeka, 12 Februari 1969)

(Suara Merdeka, 12 Februari 1969)

(Suara Merdeka, 25 Februari 1971)

(Suara Merdeka, 1972)

No comments:
Post a Comment