About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Monday, 21 December 2015

Kehidupan Ekonomi Masyarakat Pecinan di Semarang Dari Masa Kolonial Sampai Masa Revormasi


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
            Semarang merupakan salah satu kota tua di Indonesia, usianya tidak kurang dari 464 tahun. Kota Semarang sebagai kota yang telah mengalami masa-masa perkembangan dari mulai munculnya sebagai kota tradisional, kota kolonial dan kota modern menunjukkan ciri spesifik terutama pada perkembangan permukiman kota atau kampung kota. Melihat perkembangan sejarah kota Semarang, tercatat bahwa Semarang memiliki banyak kampung-kampung kuno, yang merupakan embrio perkembangan kota. Kampung-kampung kuno yang ada di Semarang di antaranya kampung Pecinan, kampung Melayu, kampung Kauman, kampung Batik, kampung Kulitan , kampung Geni dan lain sebagainya.     
   Dalam penelitian ini akan memfokuskan kajian pada kampung pecinan yang ada di Semarang. Kampung etnis seperti kampung Pecinan, sebagai kampung tradisonal, yang terbentuk sebelum pemerintahan Indonesia merdeka dan masih tetap bertahan hingga sekarang.  Walaupun telah mengalami perkembangan, di berbagai bidang sosial, ekonomi, politik dan kultur budaya. Kampung pecinan tetap menjaga eksistensinya di tenga-tengah masyarakat. Di kampung  kuno Pecinan tersebut, saat ini tidak hanya bermukim kelompok-kelompok etnis tertentu saja, melainkan etnis-etnis lain juga telah bermukim cukup lama, berbaur dan berinteraksi dengan harmonis. Keberadaan kampung pecinan yang masih bertahan sampai sekarang menjadi kajian yang menarik untuk mengetahui sejarah perkembangan perekonomian masyarakat pecinan di semarang pada masa kolonial tahun 1900.an samapi revolusi. Hal lain yang terkait dengan kampung kuno Pecinan tersebut, tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi saja tetapi juga terkait dengan sosial budaya masyarakat.
 Kehidupan Masyarakat Pecinan di Semarang merupakan suatu kajian yang menarik. Masyarakat pecinan telah berkontribusi besar terhadap pembangunan perekonomian Indonesia. Sebagai pendatang, masyarakat Pecinan mampu bertahan di daerah rantauan. Dengan adanya pembauran dengan masyarakat asli. Keharmonisan ini telah membentuk budaya yang sangat unik dan beraneka ragam, yang memberi sumbangan pada kebudayaan nasional kita.


B.     Fokus Kajian
          Dalam penelitian ini, hanya membatasi pada sejarah kampung Pecinan di Semarang beserta kehidupan ekonomi masyarakat Pecinan. Dengan adanya pembatasan penelitian ini akan mempermudah dalam pengumpulan data yang diinginkan sehingga proses penelitian akan lebih efektif dan efisien. Untuk hasil penelitian dengan pembatasan ini akan terarah dan tidak melebar pada hal-hal yang membingungkan. Pembatasan yang lebih rincinya sebgai berikut.
          Fokus kajian pertama yaitu sejarah Kampung pecinan, yang meliputi awal kedatangan masyarakat Tionghua, lokasi pecinan, dan masyarakat, kehidupan dan kosmologi.. Sedangkan fokus kajian yang kedua tentang kehidupan ekonomi masyarakat pecinan pada masa kolonial tahun1900.an samapai dengan revolusi. Untuk sub babnya akan membahas tentang mata pencaharian masyarakat pecinan, perkembanagan perdagangan di pecianan, dan pecinan sebagai pusat perekonomian.

C.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah Kampung Pecinan di Semarang?
2.      Bagaimana perkembangan kehidupan ekonomi masyarakat pecinan pada masa kolonial tahun samapai dengan revolusi ?

D.      Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui Sejarah Kampung Pecinan di Semarang
2.      Mengetahui perkembangan kehidupan ekonomi masyarakat peciana pada masa kolonial tahun 1900.an samapai dengan revolusi

E.     Kegunaan Penelitian
Kegunaan atau manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Kegunaan Praktis
Bagi Masyarakat, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan Informasi tentang sejarah kampung Pecinan dan kehidupan ekonomi masyarakat pecinan pada masa kolonial tahun 1900.an samapi dengan revolusi.
Bagi Peneliti, seluruh rangkaian kegiatan dan hasil penelitian diharapkan dapat lebih memantapkan penguasaan fungsi keilmuan yang dipelajari selama mengikuti program studi pendidikan sejarah, di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri semarang.
2.      Kegunaan Akademis
Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang berguna untuk dijadikan acuan bagi sivitas akademika. Laporan penelitian ini diharapkan menjadi bahan bahan rujukan dalam penelitian-penelitian selajutnya.

F.     Kajian Teoritis
Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini bersal dari kajian pustaka. Kajian pustaka digunakan untuk memperoleh bahan-bahan perbandingan mengenai masalah yang berhubungan sejarah masyarakat Tionghoa dan kehidupan masyarakat pecinan. Berikut ini adalah tinjauan beberapa buku yang akan bermanfaat sebagai bahan acuan untuk membangun kerangka pemikiran teoritis dan mengembangkan wawasan berpikir dalam rangka penulisan penelitian ini. Bagian pertama dari tinjauan pustaka ini adalah tinjauan singkat atas 3 buku yang banyak membahas mengenai etnis Tionghoa dan masyarakat kampung pecinan di Semarang Buku pertama yang sangat penting dalam kaitannya dengan laporan adalah
1.         Referensi Buku “ Arsitektur Tradisional Tionghua dan perkembangan Kota”
Buku ini mengisahkan tentang sejarah kota Semarang dari sudut masyarakat Tionghoa. Selain itu juga mengulas tentang  Arsitektur Tionghoa dan perkembangan kota di Pulau Jawa pada umumnya secara mendalam.  Buku ini ditulis tahun 2010.
Dalam buku ini penulis mendapatkan informasi mengenai betapa kuatnya budaya Cina di kota Semarang pada masa lalu. Penulis mendapatkan data mengenai kapan datangnya orang Tionghoa pertama di kota Semarang, dan apa saja kegiatan, kejadian, pergerakan, perubahan, dan perkembangannya pada masa itu. Dalam buku ini juga terdapat kisah-kisah mengenai terbentuknya jalan-jalan dan gang-gang di Pecinan semarang.

2.         Referensi Buku “Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa”
Berbeda dengan buku Riwayat Semarang, Buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa menceritakan kisahnya dengan lebih ringan, namun tetap berisi. Buku ini terdiri dari tulisan-tulisan Onghokham mengenai Tionghoa Peranakan di Jawa.
Buku ini menceritakan tentang awal mula penduduk Tionghoa masuk ke Jawa, hubungannya dengan pemerintahan kolonial dan penyatuannya dengan masyrakat Bumiputera. Dalam buku ini terdapat banyak fakta-fakta mengenai sejarah, kebiasaan, dan sifat masyrakat Tionghoa di tanah Jawa.

3.          Referensi Buku “Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina”
Satu lagi buku karya Onghokham mengenai etnis Tionghoa di Indonesia. Buku ini lebih banyak menyorot ke sisi sejarah dan politik pada masa itu.
Penulis tidak banyak mengambil data dan informasi dalam buku ini, tetapi terdapat beberapa bagian yang cukup menjelaskan awal mula kedatangan masyarakat Cina di Indonesia.

G.      Metode Penelitian
Metodologi penelitian yang dipergunakan dalam rencana penelitian ini adalah metode sejarah, yang pada garis besarnya terdiri dari 4 langkah secara berurutan,
yaitu sebagai berikut :
a.       Heuristik, yaitu kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber-sumber  sejarah.  Sumber-sumber itu terdiri dari sumber primer yang berupa dokumen atau arsip yang bisa ditemukan di lembaga arsip daerah (srondol), arsip di Gedung Pandanaran dan sumber-sumber sekunder yang berupa buku-buku penunjang, majalah, koran terbitan berkala dan sebagainya. Khusus mengenai sumber arsip yang terutama adalah arsip tentang pelabuhan, dimana yang kami temukan adalah arsip pada masa colonial Belanda. Sementara sumber sekunder yang berguna sebagai sumber pendukung atau pelengkap bisa diperoleh dari berbagai perpustakaan di Semarang dan internet.
b.      Kritik sumber, yaitu kegiatan yang bertujuan untuk menyelidiki dan menguji apakah sumber-sumber sejarah yang ditemukan itu bisa dipercaya (kredibel) baik dalam bentuk maupun isinya. Dengan demikian tahap ini merupakan kegiatan untuk mencari informasi-informasi yang bisa dipercaya dari sumber-sumber sejarah, yang dalam Ilmu Sejarah disebut dengan istilah fakta sejarah.
c.        Interpretasi, adalah kegitatan menetapkan makna dan saling hubungan antara fakta-fakta sejarah yang telah diperoleh melalui kritik sumber. Dalam hal ini dari banyak fakta sejarah yang telah diperoleh harus dirangkaikan atau dihubung-hubungkan satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang harmonis, menurut rangkaian yang kronologis dan hubungan sebab akibat. Interpretasi yang kami lakukan yaitu berdasarkan hasil temuan dari arsip, buku penunjang serta hasil wawancara yang kemudian semuanya dihubungkan untuk mencapai suatu makna sejarah dari beberapa sumber tersebut.
d.      Historiografi atau rekonstruksi sejarah, yaitu kegiatan melakukan sintesa sejarah, atau menyajikan hasil penelitian dalam bentuk kisah sejarah, atau dalam hal ini adalah laporan penelitian mengenai hasil observasi


H.    KERANGKA ISI
Untuk mendapatkan gambaran singkat tulisan ini disusun dengan sistematika sebgai berikut:
BAB I                    PENDAHULUAN
                               Pendahuluan berisi tentang latar belakang, fokus kajian, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, krangka isi dan kajian pustaka.      
BAB II                  SEJARAH KAMPUNG PECINAN
Sejarah kampung Pecinan Semarang, yang dibahas pada bab ini meliputi kedatangan orang Tionghoa, lokasi pecinan dan masyarakat, kehidupan dan kosmologi
BAB III                 KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT PECINAN PADA MASA KOLONIAL SAMAPAI DENGAN REVOLUSI
Sedangkan pada bab ini akan dibahas mengenai mata pencaharian masyarakat pecinan, dan perkembanagan perdagangan di pecianan,
BAB IV                 SIMPULAN
Merupakan bab terakhir yang merupakan kesimpulan dari data-data atau fakta-fakta yang di sajiakan dari bab I samapai bab III setelah mendapatkan interpretasi dan analisis data suatu pokok persoalan.






































BAB II
SEJARAH KAMPUNG PECINAN DI SEMARANG
A.    Kedatangan Orang Tionghoa
            Orang-orang Tionghoa telah berlayar dari Tiongkok Sealatan ke Pulau Jawa Jauh sebelum orang Eropa berlayar ke timur, sebelum kedatangan orang Portugis di kepulauan Nusantara pada tahun 1511. Menurut N.J. Krom, awal abad ke-14 telah ada permukiman orang Tionghoa di Pulau Jawa yang membentuk koloni kecil di pinggir pantai. Mereka mendarat pertama kali di sekitar pantai Timur laut Jawa Tengah yang sekaligus menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara. Letaknya diperkirakan di daerah Lasem sekarang. Kedatangan ke Pulau Jawa sebagai pedagang yang membawa porselin dan sutra  untuk di tukar dengan beraas dan hasil pertanian  yang lain (Pratiwo, 2010:9)
            Masyarakat Tionghoa di Indonesia pernah terbagi dalam tiga golongan besar: totok, peranakan, dan hollands spreken. Berikut ini merupakan pembagian Golongan Masyarakt Tionghoa:
1.       Tionghoa yang tergolong totok adalah mereka yang baru satu turunan di Indonesia (orang tuanya masih lahir di Tiongkok) atau dia sendiri masih lahir di sana lalu ketika masih bayi diajak xia nan yang, atau istilah totok juga disebutkan kepada mereka yang saat ini masih memegang teguh adat istiadat leluhurnya. Sama seperti suku lainnya di Indonesia misalnya yang masih memegang teguh urutan upacara pernikahan, persalinan ataupun lainnya.
2.      Tionghoa yang hollands spreken adalah yang dimana pun lahirnya- menggunakan bahasa Belanda, mengenakan jas dan dasi, kalau makan pakai sendok dan garpu, dan ketika Imlek tidak mau menghias rumah dengan pernik-pernik yang biasa dipergunakan oleh peranakan maupun totok karena dianggap kuno atau tidak sesuai atau tidak logis akibat tidak memahami sama sekali arti dibalik asal usul tersebut.
3.      Sedangkan yang disebut Tionghoa yang peranakan adalah yang sudah beberapa keturunan lahir di tanah yang kini bernama Indonesia, kebanyakan tidak lagi menggunakan bahasa suku (Hokkian, Hakka atau lainnya) ataupun Bahasa Mandarin sebagai bahasa ibu yang dipercakapkan dirumah. (Irfan Utamin, http://asalusulbudayationghoa. blogspot.com, 2012)
Orang-orang Tionghoa yang berada di Semarang merupakan pindahan dari Batavia karena mereka memberontak dari Belanda yang bertindak semena-mena terhadap orang-orang Tionghoa. Pertama-tama orang Tinghoa tinggal di Batam ( Banten, Jawa Barat ), kemudian perlahan-lahan mereka menyebar ke daerah Jawa Tengah. Menurut buku-buku catatan yang terdapat di Batavia, ternyata orang Tionghoa yang tinggal di Semarang lebih belakangan, lebih dulu mereka tinggal di Tanjung, Jepara, Buyaran, dan di tempat-tempat lainnya. Dari situ akhirny mereka menyebar ke daerah Semarang untuk mencari tempat-tempat baru yng lebih luas.
Awal terbentuknya kawasan Pecinan Semarang ini dikarenakan pemberontakan orang Tionghoa di Batavia di ditahun 1740 kepada kompeni Belanda, namun berhasil digagalkan, kemudian Belanda memindahkan orang Tionghoa yang dulunya tinggal di daerah Gedong Batu ke kawasan sekarang ini. Tujuannya agar Belanda mudah mengawasi pergerakan dari orang-orang Tionghoa karena berdekatan dengan Tangsi Militer milik Belanda (Tangsi Militer ini dulu terletak di Jl. KH.Agus Salim atau Jurnatan) pada jaman dahulu.
Bangsa cina merupakan bangsa perantau yang didominasi oleh kaum pedagang. Kondisi sosiologis di Cina sebagai sebuah negeri yang sempat dijuluki Tirai Bambu karena penerapan sistem komunis totaliternya. Merupakan tipologi masyarakat yang cenderung berkelana dan berjuang hidup dengan cara berdagang dan bisnis, warga Cina Peranakan pada tahun 1930 setidaknya nampak jelas bahwa peranan mereka lebih banyak di bidang perdagangan. Sebelumnya, telah muncul klasifikasi warga Cina keturunan/peranakan (yang lahir di Indonesia) dan warga Cina totok atau asli. Keduanya memang sangat berperan dalam bidang perdagangan di Indonesia, pada tahun 1930-an. Terutama warga Cina Asli yang menurut analisa, pada pasca kemerdekaan, yang lebih mendominasi arus perdagangan di Indonesia. Peranan kuat atas perekonomian di Indonesia yang dilakukan oleh orang-orang Eropa dan warga Cina memang cukup banyak dicatat dalam sejarah. Semacam terdapat pembagian peran kala itu pasca pra-kemerdekaan; Eropa yang berperan sebagai eksportir dan importir, warga pribumi sendiri berperan sebagai petani nelayan, pedagang eceran, dll, sedangkan peran warga Cina peranakan berada di posisi tengah-tengah sebagai pedagang perantara atau distributor besar.
Kedatangan orang-orang Tionghoa yang pertama di kota Semarang, ujud penampilannya tak seperti sekarang, yang pria dibelakang kepalanyan memakai KINCIR, sementara kaum wanitanya memiliki laki-laki kecil, karena sejak kecil laki-laki itu telah dibungkus dengan erat, Tiongkok kala itu dikuasai oleh bangsa MNCHU, sedangkan dulunya dikuasai dengan HAN dimana prianya memakai KONDE diatas kepalanya. Dahulu diceritakan orang-orang Tionghoa datang naik kapal-kapal layar besar yang disebut perahu JONK atau Wakang Tjoen yang mendarat di daerah Mangkang.
Mereka iu disana berlabuh untuk berdagang ataupun untuk membawa penumpang-penumpang yang akan menetap di daerah itu dan karenanya penduduk menyebut daerah itu Wakang kemudian menjadi Mangkang hingga sampa sekarang ini. Dalam pada waktu itu diketahui bahwa didekat daerah itu menjadi salah satu kecamatan baru daam pemekaran ota Semarang saat ini. Dalam hal perdagangan dan pertumbuhannya dibanding dengan pendatang-pendatang lain, orang-orang Tionghoa yang terpesat. Karenanya penguasa Belanda waktu itu mengangkat seorang ketua atau kepala Tionghoa untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan perdagangn atau lain-lain hal yang ada hubungannya dengan penguasa Belanda. Ketua orang-orang Tionghoa oleh penguasa Belanda diberi pangkat-pangkat militer secara tituler, misalny ada : Luitenant der Chinesen, Kapten ataupun Mayoor Dan Kapitan der Chinesen yang terkenal di tahun 1672 adalah ; Tn Kwee Kiauw, seorang saudagar terkenal waktu itu.

B.            LOKASI PECINAN
Wilayah di Semarang yang dihuni oleh etnis cina dan dinamakan pecinan. Kawasan pecinan ini terletak di tengah kota, di selatan pasar tradisional (pasar Johar) yang dibatasi oleh sungai Semarang. Etnis cina ini mulai mendiami wilayah ini sejak abad ke -17 dan pemukiman ini mulai stabil sejak akhir abad ke – 18. Wilayah ini ditempati oleh etnis cina karena pecinan merupakan satu-satunya tempat dimna orang-orang cina  diijinkan tinggal ketika pemerintah belanda menerapkan Wiykestelsel (undang—undang larangan pemukiman) pada tahun 1841, akibatnya kawasan pecinan menjadi suatu wilayah yang sangat padat, yang sampai saat ini orang akan sulit menemukan sepetak tanah kosong karena seluruhnya telah didirikan perumahan, ruko dan kuil. Hal iniah yang menjadi karakteristik dari kawasan pecinan ini (Dewi Ernawati, 1004:25).
Awal terbentuknya kawasan Pecinan ini dikarenakan pemberontakan orang Tionghoa di daerah batavia pada tahun 1740 kepada kompeni Belanda, namun berhasil digagalkan di tahun 1743. Ketakutan Belanda terhadap kaum Tionghoa inilah yang kemudian membuat Belanda memindahkan orang Tionghoa di Semarang yang dulunya tinggal di daerah Gedong Batu ke kawasan sekarang ini. Tujuannya agar Belanda mudah mengawasi pergerakan dari orang – orang Tionghoa karena berdekatan dengan Tangsi Militer milik Belanda yang terletak di Jl. KH.Agus Salim atau Jurnatan (sekarang menjadi Miramar Restaurant).
Batas Wilayah Kawasan Pecinan.
> Batas Utara : Jl. Gang Lombok (Klenteng Tay Kak Sie)
> Batas Timur : Kali Semarang
> Batas Selatan : Kali Semarang, Jl. Sebandaran I
> Batas Barat : Jl. Beteng
Aksesibilitas Kawasan Pecinan.
Untuk dapat mencapai kawasan Pecinan ini setidaknya ada 4 jalan utama yang langsung membawa langsung di kawasan Pecinan Semarang, yaitu :
1.      dari jalan KH. Agus Salim (Jurnatan) masuk ke jalan Pekojan akan tembus ke jalan Gang Pinggir.
2.      dari jalan Jagalan ke jalan Ki Mangunsarkoro tembus ke jalan Gang Pinggir.
3.      dari jalan Gajahmada ke jalan Kranggan lalu masuk lewat jalan Beteng.
4.      dari jalan Gajahmada ke jalan Wotgandul lalu lewat jalan Wotgandul Timur.
Kawasan Pecinan Semarang terkenal sebagai Kawasan Pecinan dengan 1001 Klenteng, karena di kawasan ini terdapat 9 Klenteng yang masing – masing memiliki keunikannya sendiri.
a)       Kelenteng Siu Hok Bio, 1753 | Jl. Wotgandul Timur No.38
b)       Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa, 1756 | Jl. Gang Pinggir No.105-107 (menghadap jl. Sebandaran)
c)       Kelenteng Tay Kak Sie, 1771 | Jl. Gang Lombok No.62
d)       Kelenteng Kong Tik Soe, bagian dari Klenteng Tay Kak Sie. | Jl. Gang Lombok
e)       Kelenteng Hoo Hok Bio, 1779 | Jl. Gang Cilik No. 7
f)        Kelenteng Tong Pek Bio, 1782 | Jl. Gang Pinggir No.70
g)       Kelenteng Wie Hwie Kiong, 1814 | Jl. Sebandaran I No.26
h)       Kelenteng Ling Hok Bio, 1866 | Jl. Gang Pinggir No.110 (menghadap jl. Gang Besen)
i)         Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong, 1881 | Jl. Sebandaran I No.32
Kawasan Pecinan Semarang memiliki beberapa aktifitas masyarakat yang dapat dikatakan semua masyarakat kota Semarang mengetahuinya, seperti :
1.       Pasar tradisional Gang Baru, dinamakan sesuai nama jalan itu sendiri dan terletak diantara jalan Wotgandul dan jalan Gang Warung,
2.       Waroeng Semawis, aktifitas wisata kuliner di semarang, dimana aneka jajanan makanan dan minuman dijajakan sepanjang jalan Gang Warung.
3.       Pasar Imlek Semawis, kegiatan event ini masuk dalam agenda tahunan wisata kota Semarang
Kawasan Pecinan Semarang ini berdekatan dengan Kawasan Kota Lama Semarang (Little Netherlands), Komplek Jurnatan (pusat perdagangan di kota Semarang), Pasar Tradisional Johar (salah satu bangunan yang memiliki desain arsitektur terbaik dijamannya karya Herman Thomas Karsten).
C.      MASYARAKAT, KEHIDUPAN DAN KOSMOLOGI
1.                  MASYARAKAT
Awal abad ke-19, populasi orang Tionghoa di Timur laut jawa tengah tidak melebihi 4.819 jiwa yang tersebar di delapan kabupate. Jumlah ini sama dengan 0,98% dari penduduk keseluruhan. Di pertengahan abad ke-20 barulah datang orang-orang Tionghoa dari berbagai wilayah di Tiongkok Selatan seperti Kwantung, Kwangsi dll. Migrasi orang-orang Tionghoa yang terjadi pada dasawarsa Sedangkan kelompok peranakan orang Tionghoa yang telah beberapa generasi tinggal di Jawa. Bahahsa ibu mereka bahasa Melayu dan Jawa, serta tidak dapat berbahasa Tionghoa lagi. Mereka tumbuh dalam budaya yang bercampur antara Tionghoa dan Jawa sehingga orientasi leluhur mereka tidak sekuat yang totok.
1.                  KEHIDUPAN RELIGIUS MASYARAKAT PECINAN
Agama tradisional orang Tionghoa bersifat sinkretis yang diturunkan dari tiga ajaran: konfusius, taoisme, dan budhisme. Yang sangat menonjol dari kegiatan religius mereka adalah penyembahan arwah leluhur yang sebenarnya sangat tua menjadi kepercayaan mereka dan kemudian diperkuat oleh ajaran konfusius yang patriakhal. Agama yang sinkretis ini lebih dikenal sebagai kebudayaan Tionghoa.
2.                  KOSMOLOGI
Dalam kosmologi Tiongkok, dunia ini merupakan bujur sangkar yang terbagi menjadi empat bagian dengan putra surga yakni sang kaisar di tengahnya. Empat bagian dunia ini diasosiasikan dengan simbol binatang, warna, zat, dan musim. Pusat yang mana putra surga diasosiasikan dengan tanah. Bagian selatan di asosiasikan dengan musim panas, api, dan burung merak merah. Selatan juga merupakan arah orientasi sang kaisar tatkala duduk di singgasana.







BAB III
KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT PECINAN PADA MASA KOLONIAL SAMAPAI DENGAN REVOLUSI
A.           Mata Pencaharian Masyarakat Pecinan
            Pada awalnya pasar di pantai utara Jawa tengah merupakan jantung perdagangan antara petani dari pedalaman dengan pedagang asing, terutama dari Tiongkok Selatan. Perdagangan yang dilakukan orang Tionghoa atau perdagangan dari Tiongkok semakin banyak saja, terutama kertas kain, sutera dan barang tanah (mangkuk dan piring). Tempat perdagangan seperti ini muncul di pinggir sungai dimana terdapat jalan ke pemukiman terdekatnya. Di Semarang tempat seperti ini adalah pasar Pedamaran di tepi barat Sungai Semarang. Sebelum tahun 1741, disebelah timur pasar adalah Pecinan dan di sebelahnya adalah istana bupati.  Tatkala populasi orang Cina bertambah dan tinggal permanen kawasan ini, menyebabkan munculnya orang-orang perantara yang membeli hasil bumi dari pedalaman dan menjualnya di pasar. Lama kelamaan tidak hanya petani danpedagang tionghoa yang berdagang ke pasar, tetapi juga pedagang peribumi dari kaum pedagang yang berdagang ke pasar (Pratiwo, 2010:59-60). Dari sini dapat di ketahui betapa pentingnya keberadaan Sungai Semarang. Keberadaan Sungai Semarang selain sebagai jalur lalu lintas perdagangan juga sebagai mobilisasi masyarakat pada zaman itu. Keterbukaan masyarakat Tionghoa berkaitan dengan pemanfaatan pasar, sebagai tempat ketemunya penjual dan pembeli di kawasan pecinan tidak hanya di lakukan orang Tionghoa saja, melainkan juga melibatkan masyarakat peribumi.
            Dalam lembaran sejarah 1999, kawasan Pecinan ini terletak di tengah-tengah kota, di selatan pasar tradisional (pasar Johar) yang dibatasi oleh sungai Semarang. Orang Tionghoa atau etnis Cina ini mulai mendiami wilayah ini sejak abad ke -17 dan pemukiman ini mulai stabil sejak akhir abad ke – 18. Wilayah ini ditempati  oleh etnis cina karena pecinan merupakan satu-satunya tempat dimana orang-orang cina  diijinkan tinggal ketika pemerintah belanda menerapkan Wiykestelsel (undang—undang larangan pemukiman) pada tahun 1841, akibatnya kawasan pecinan menjadi suatu wilayah yang sangat padat, yang sampai saat ini orang akan sulit menemukan sepetak tanah kosong. Karena seluruhnya telah didirikan perumahan, ruko dan kuil. Hal iniah yang menjadi karakteristik khas dari kawasan pecinan ini. (dewi ernawati, 2004:25) judul perkembangan etnis cina muslim di kawasan pecinan semarang tahun 1966-1998
            Dengan adanya Sungai Semrang yang mengalir di tengah-tengah kota memunyai peranan penting sebagai sarana perdaganga waktu jaman kolonial Belanda. Namun dalam perkembanagan selanjutnya sungai Semrang tidak lagi menjadi jalur perdagangan. Halini di karenakan keramaian yang melalui sungai Semarang, mengakibatkan timbulnya pusat-pusat perniagaan dan kantor-kantor perdagangan selain sebagai pemukiman orang-orang Cina. Pembatasaan orang orang cina terhadap tempat tinggal yang telah di atur dalam sistem Wiykestelsel (undang—undang larangan pemukiman) berakhir pada tahun 1919 karena sejak bulan April 1919 tidak ada lagi paksaan bagi orang-orang cina untuk berdiam di derah Pecinan.  Jadi sejak itu orang-orang cina bebas meninggalakan kampung pecinan  dan suku bangsa lain di perbolehkan untuk tinggal di pecinan. Namun meski Wiykestelsel sudah berakhir namun masyarakat cina atau Tionghoa masih sebagaian besar tetap bertahan di kampung pecinan untuk melanjutakan kehidupanya.
            Di kota Semarang perekonomian kota memang tidak lepas dari kawasan Pecinan. Kawasan Pecinan itu mengkontribusikan perputaran uang  sampai milyaran rupiah dalam setiap hariya.  Lingkungan pecinan ini mempunayai ciri khas yaitu letaknya yang agak menepi, serba tertutup dan produktif. Kawasan ini mempunyai jam kehidupan yang efektif yang dimulai dari pukul 05.00 WIB dan berakhir pada pukul 18.00 WIB.  Dan rumah-rumah yang besar-besar berlantai lebih dari satu selalu tertutup rapat.  Pada malam hari tidak ada kehidupan malam disana, keculi para penghuninya yang keluar kawasan untuk mencari hiburan misalnya ke night club atau karaoke. (dewi ernawati, 2004:26)
            Setelah saluran sungai dipindahkan ke timur daan Pecinan dipindahkan ke tepi barat sungai pada  1741, selain pasar Pandamaran muncul pula toko-toko di pecinan. Di akhir abad ke-18 selain pasar Padamaran juga berpunculan pasar-pasar yaitu di Gang Benteng, di utara Jalan Pekojan dan di Jalan Ambengan. Pasar-pasar tiban ini dimana orang berbelaja sayuran, daging, buah-buhan, dan hasil bumi yang lain, yang menempati di depan toko, dekat dengan persimpangan jalan. Karena inilah kampung pecinan menjadi di kelilingi tempat berdagang. Tidak mengherankan bila kampung pecinan di jadikan pusat perekonomian.
            Kawasan Pecinan Semarang ini menjadi denyut nadi perekonomian di Semarang. Sekitar tahun 1970.an daerah Gang Baru, Karagan dan Pekojan merupakan gedung-gedung grosir berbagai macam kebutuhan, kemuian pada tahun 1980.an samapai tetap tidak berubah, masih sebagai tempat perputaran unag. Mata pencaharian warga di kawasan pecinan menitik beratkan pada bidang usaha kebutuhan kota. Karena sebagian besar  perekonomian kota Semarang dikuasai oleh warga etnis cina. Perusahan-perusahan besar atau kecil yang didirikan oleh etnis cina memberi kontribusi  yang besar terhadap perbendaharaan kota Semarang. Kontribusi dari perusahan-perusahan etnis cina yang besar maupun yang kecil digunakan untuk menambah pendanaan pembangunan kota Semarang (Dewi Ernawati, 1004:25).
            Organisasi pedagangan orang Cina di Indonesia berdasarkan sistem kekrabatan (sitem famili). Sebagian besar dari usaha orang Cina adalah kecil dan hanya cukup di urus oleh satu keluarga tanpa membutuhkan pekerja yang diambil dari luar kecuali usahanya itu sudah besar. Usaha tersebut bisa terdiri dari sebuah kantor dagang, atau toko atau sebuah gudang dan biasanya tempat tinggal kepalanya adalah gudang itu. Apabila usahanya menjadi besar ereka dapat membuka cabang di daerah lain dalam usaha yang sama dan di pegang oleh saudara atau krabat lainya. Selain sistem famili ini orang Cina terkenal dengan sifat keuletan dalam beusaha mencapai sesuatu yang di inginkan. Sifat yang rajin ulet hemat dan lainya dalam berdagang orang Cina di Semarang, sebagian besar dari kelompok Hokkian di Cina, mereka menemukan wilayah tanah airnya di selatan Cina, kebanyakan di Utara Kwantang dan Barat Daya Fukian. Kelompok Hokkian mempunyai bahasa yang berbeda dengan kelompok Cina lainya. Kelompok Hokkian ini merupakan kelompok Cina terbanyak di antara kelompok cina lainya, dan mereka banyak di temukan di Jalan Pekojan atau di perempatan-perempatan di kampung Pecinan.
            Dari uraian di atas dapat diketahui mata pencaaharian masyarakat cina di kampung Pecinan sebagian besar adalah pedagang sesui dengan sifat orang cina yaitu suka berdagang seperti di negerinya sana.  Selain itu pemerintah Belanda tidak memberikan kesempatan pada etnis Cina di bidang lain kecuali berdagang. Berdagang dan berusaha memang merupakan suatu mata pencaharian yang sangat penting bagi orang-orang Cina di Indonesia atau khususnya di Pecinan Semarang.

B.           Perkembangan Perdagangan di Pecinan Semarang
Perdagangan di kawasana Pecinan pada masa kolonial mengalami perkemabangan sangat pesat. Hal ini dikarenakan letaknya yang strategis  di tengah-tengah kota, yang dilalui aliran sungai Semarang yang menjadi lalulintas pedagangan. Perkembangan ekonomi di kawasan pecinan mengalami perkembanagan lebih pesat di bandingkan dengan kawasan lain di Semarang. Hal ini dapat di ketahui dari kemunculan pedagang-pedagang besar, antara lain Khouw Ping yang memiliki sejumlah gudang besar di pinggir sungai.
            Pesatnya  perdagangan yang terjadi di Pecinan membuat banyak prahu serta kapal pedagang yang meraapat di pinggir sungai. Ada yang membawa penumpang, ada pula yang merapat untuk menurunkan dan menaikan barang dagangan. Perdagangan yang dilakukan orang Tionghoa atau perdagangan dari Tiongkok semakin banyak saja, terutama kertas kain, sutera dan barang tanah (mangkuk dan piring). Tatkala populasi orang Cina bertambah dan tinggal permanen kawasan ini, menyebabkan munculnya orang-orang perantara yang membeli hasil bumi dari pedalaman dan menjualnya di pasar. Lama kelamaan tidak hanya petani danpedagang tionghoa yang berdagang ke pasar, tetapi juga pedagang peribumi dari kaum pedagang yang berdagang ke pasar (Pratiwo, 2010:59-60). Dari sini dapat di ketahui betapa pentingnya keberadaan Sungai Semarang. Keberadaan Sungai Semarang selain sebagai jalur lalu lintas perdagangan juga sebagai mobilisasi masyarakat pada zaman itu. Keterbukaan masyarakat Tionghoa berkaitan dengan pemanfaatan pasar, sebagai tempat ketemunya penjual dan pembeli di kawasan pecinan tidak hanya di lakukan orang Tionghoa saja, melainkan juga melibatkan masyarakat peribumi.
Berkisah kemajuan tentang kemajuan perdagangan di daerah pecinan, haruslah di akui bahwa keberadaan  Sungai Semarang sangatlah pentingkarena sebagai penghubung antara pelabuhan dengan pedalaman Kota Semarang.
Di daerah-daerah yang ditinggalkan orang-orang Tioghoa, kemudian tempat itu didirikan loji-loji oleh pendatang-pendatang dari India dan Perancis ialah sekitar daerah Petolongan dan Bustaman. Setelah kemelut selesai kota Semarang menglami kemjuan pesat. Sebagai kota pelabuhan, ternyata tetap merupakan kota yang teramai. Bilamn dahulu kapal-kapal berlabuh didaerah Mangkang, kini beralih didaerah Ngeboom, yangsekarng dikenal dengan nama BOOM LAMA. Berhubung daerah itu makin lama makin ramai disamping benyaknya pendatang-pendatang baru dari berbagai daerah yang mendarat disitu, maka daerah tersebut dikenal dengan nama DARAT atau INDARAT. Hingga kini nama itu masih dapat dikenal, kaum pendatang itu kemudian menetap disekitar daerah itu, secara berkelompok sehingga antara lain dikenal kampoeng Melayu (hingga kini masih disebut demikian).
Sejalan dengan kemajuan perdagangan di kota Semarang, maka orang-orang Tionghoapun ramai mengembangkan kebiasaanya yaitu Berjudi, dan ini terkonsentrasi di Pecinan Gg. Pinggir Ujung , GgTjilik sebagai dampaknya disekitar daerah itu kemudian berdiri pula tempat-tempat gadai dimana para penjudi bisa cepat memperoleh uang. Oleh penguasa Belanda kemudi ditarik pajak judi. Pad saat itu orang telah menganl jenis uang keping yaitu uang logam bunder dengan logam persegi ditengahnya bisa disebut uang Gobok, bisanya kalau membawa disunduk atau direnteng kemudian diikat dipunggung, dan uang itu juga biasa disebut uang TANGTJI.
Selain itu dikenal juga Uang REAL dan ditahun 1724 penguasa Belanda mengedarkan uang yang dikenal sebagai HOLANDSCHE DUITEN sementara uang gobok tetap berlaku hingga tahun 1855, kemudian diperkenalkan uang CENT, yang juga berbentuk keping tapi dengan lubang di tengah berbentuk bunder. Dikalangan umum biasanya menyebut uang UANG ialah DUWIT yng berasal dari kata Belanda DUIT. Hingga kini uang GOBOK masih dpt dilihat di Pulau BALI sebab dipergunakan untuk upacara-upacra, tetapi sudah banyak dipalu.
Berkisah tentang kemajuan perdagangan di daerah Pecinan, haruslh diakui bahwa keberadaan kali Semarang sangat penting sebab merupakan penghubung antara pelabuhan dan pedalaman kota Semarang. Sementara itu di Pecinan terkenal seorang pedagang bernama KHUW PING yang memiliki daerah di tepi kali Semarang. Dimana gudang-gudang besar telah dibangun untuk menyimpan barabg-barang dagangannya, dan daerah itu terkenal hingga sekarang dengan nama KALIKOPING.




BAB IV
PENUTUP
A.    SIMPULAN
          Orang-orang Tionghoa telah berlayar dari Tiongkok Sealatan ke Pulau Jawa Jauh sebelum orang Eropa berlayar ke timur, sebelum kedatangan orang Portugis di kepulauan Nusantara pada tahun 1511. Kedatangan ke Pulau Jawa sebagai pedagang yang membawa porselin dan sutra  untuk di tukar dengan beraas dan hasil pertanian Orang-orang Tionghoa yang berada di Semarang merupakan pindahan dari Batavia karena mereka memberontak dari Belanda yang bertindak semena-mena terhadap orang-orang Tionghoa. Pertama-tama orang Tinghoa tinggal di Batam ( Banten, Jawa Barat ), kemudian perlahan-lahan mereka menyebar ke daerah Jawa Tengah. Awal terbentuknya kawasan Pecinan Semarang ini dikarenakan pemberontakan orang Tionghoa di Batavia di ditahun 1740 kepada kompeni Belanda, namun berhasil digagalkan, kemudian Belanda memindahkan orang Tionghoa yang dulunya tinggal di daerah Gedong Batu ke kawasan sekarang ini. Tujuannya agar Belanda mudah mengawasi pergerakan dari orang-orang Tionghoa karena berdekatan dengan Tangsi Militer milik Belanda (Tangsi Militer ini dulu terletak di Jl. KH.Agus Salim atau Jurnatan) pada jaman dahulu.
          Wilayah di Semarang yang dihuni oleh etnis cina dan dinamakan pecinan. Kawasan pecinan ini terletak di tengah kota, di selatan pasar tradisional (pasar Johar) yang dibatasi oleh sungai Semarang. Etnis cina ini mulai mendiami wilayah ini sejak abad ke -17 dan pemukiman ini mulai stabil sejak akhir abad ke – 18. Wilayah ini ditempati oleh etnis cina karena pecinan merupakan satu-satunya tempat dimna orang-orang cina  diijinkan tinggal ketika pemerintah belanda menerapkan Wiykestelsel (undang—undang larangan pemukiman) pada tahun 1841, akibatnya kawasan pecinan menjadi suatu wilayah yang sangat padat.
          Awal abad ke-19, populasi orang Tionghoa di Timur laut jawa tengah tidak melebihi 4.819 jiwa yang tersebar di delapan kabupate. Jumlah ini sama dengan 0,98% dari penduduk keseluruhan. Agama tradisional orang Tionghoa bersifat sinkretis yang diturunkan dari tiga ajaran: konfusius, taoisme, dan budhisme. Yang sangat menonjol dari kegiatan religius mereka adalah penyembahan arwah leluhur yang sebenarnya sangat tua menjadi kepercayaan mereka dan kemudian diperkuat oleh ajaran konfusius yang patriakhal. Agama yang sinkretis ini lebih dikenal sebagai kebudayaan Tionghoa.
          Pada awalnya pasar di pantai utara Jawa tengah merupakan jantung perdagangan antara petani dari pedalaman dengan pedagang asing, terutama dari Tiongkok Selatan. Perdagangan yang dilakukan orang Tionghoa atau perdagangan dari Tiongkok semakin banyak saja, terutama kertas kain, sutera dan barang tanah (mangkuk dan piring). Tempat perdagangan seperti ini muncul di pinggir sungai dimana terdapat jalan ke pemukiman terdekatnya.
          Dari uraian di atas dapat diketahui mata pencaaharian masyarakat cina di kampung Pecinan sebagian besar adalah pedagang sesui dengan sifat orang cina yaitu suka berdagang seperti di negerinya sana.  Selain itu pemerintah Belanda tidak memberikan kesempatan pada etnis Cina di bidang lain kecuali berdagang. Berdagang dan berusaha memang merupakan suatu mata pencaharian yang sangat penting bagi orang-orang Cina di Indonesia atau khususnya di Pecinan Semarang. Perdagangan di kawasana Pecinan pada masa kolonial mengalami perkemabangan sangat pesat. Hal ini dikarenakan letaknya yang strategis  di tengah-tengah kota, yang dilalui aliran sungai Semarang yang menjadi lalulintas pedagangan. Perkembangan ekonomi di kawasan pecinan mengalami perkembanagan lebih pesat di bandingkan dengan kawasan lain di Semarang. Hal ini dapat di ketahui dari kemunculan pedagang-pedagang besar, antara lain Khouw Ping yang memiliki sejumlah gudang besar di pinggir sungai.
          Berkisah tentang kemajuan perdagangan di daerah Pecinan, haruslh diakui bahwa keberadaan kali Semarang sangat penting sebab merupakan penghubung antara pelabuhan dan pedalaman kota Semarang. Sementara itu di Pecinan terkenal seorang pedagang bernama KHUW PING yang memiliki daerah di tepi kali Semarang. Dimana gudang-gudang besar telah dibangun untuk menyimpan barabg-barang dagangannya, dan daerah itu terkenal hingga sekarang dengan nama KALIKOPING.





DAFTAR PUSTAKA
Tio, Jongkie. Kota Semarang Dalam Kenangan. Semarang: Daerah Tingkat II Semarang.
Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta: Ombak.
Thian Joe, Liem. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta: Hasta Wahana Jakarta.
Muhammad, Djawahir.   Semarang Sepanjang Jalan Kenangan. Semarang, Kerjasama Pemda Kadio Semarang-DKJT-Aktor Studio
Ernawati,D ewi. 1004. Perkembangan Etnis Cina Muslim Di Kawasan Pecinan Semarang Tahun 1999
Sumber Internet:
Irfan Utamin, http://asalusulbudayationghoa. blogspot.com, 2012)






















LAMPIRAN

Description: https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRo45ke9P2wTJvFm8y7W1Kj27TfvjOWOpaoBZlN4TJim7p6uT5BzA
Gambar gapura masuk ke kampung pecinan di Semarang
( dokumentasi sendiri )

Description: I:\DCIM\101MSDCF\DSC07592.JPG
Gambar kali Semarang yang merupakan cikal bakal masuknya orang Tionghoa
Description: I:\DCIM\101MSDCF\DSC07596.JPG
Gambar saat wawancara dengan salah satu warga kampung pecinan

Description: I:\DCIM\101MSDCF\DSC07603.JPG
Gambar klenteng terbesar yang ada di kampung Pecinan

( dokumentasi sendiri )

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...