PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Semarang merupakan salah satu kota tua di Indonesia, usianya tidak kurang dari 464 tahun. Kota Semarang sebagai kota yang telah mengalami masa-masa perkembangan dari
mulai munculnya sebagai kota tradisional, kota kolonial dan kota modern
menunjukkan ciri spesifik terutama pada perkembangan permukiman kota atau
kampung kota. Melihat perkembangan sejarah kota
Semarang, tercatat bahwa Semarang memiliki banyak kampung-kampung kuno, yang merupakan embrio perkembangan kota. Kampung-kampung kuno yang ada di Semarang di antaranya kampung Pecinan, kampung Melayu, kampung Kauman, kampung Batik, kampung
Kulitan , kampung Geni dan lain sebagainya.
Dalam
penelitian ini akan memfokuskan kajian pada kampung pecinan yang ada di Semarang. Kampung etnis seperti kampung Pecinan, sebagai kampung tradisonal, yang terbentuk sebelum pemerintahan Indonesia merdeka dan masih
tetap bertahan hingga sekarang. Walaupun telah mengalami perkembangan, di berbagai bidang sosial,
ekonomi, politik dan kultur budaya. Kampung pecinan tetap menjaga eksistensinya
di tenga-tengah masyarakat. Di kampung kuno Pecinan tersebut, saat
ini tidak hanya bermukim kelompok-kelompok etnis tertentu saja, melainkan
etnis-etnis lain juga telah bermukim cukup lama, berbaur dan berinteraksi
dengan harmonis. Keberadaan kampung pecinan yang masih bertahan
sampai sekarang menjadi kajian yang menarik untuk mengetahui sejarah
perkembangan perekonomian masyarakat pecinan di semarang pada masa kolonial
tahun 1900.an samapi revolusi. Hal lain yang terkait dengan kampung kuno Pecinan tersebut, tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi saja tetapi juga
terkait dengan sosial budaya masyarakat.
Kehidupan Masyarakat Pecinan di Semarang
merupakan suatu kajian yang menarik. Masyarakat pecinan telah berkontribusi besar
terhadap pembangunan perekonomian Indonesia. Sebagai pendatang, masyarakat
Pecinan mampu bertahan di daerah rantauan. Dengan adanya pembauran dengan
masyarakat asli. Keharmonisan
ini telah membentuk budaya yang sangat unik dan beraneka ragam, yang memberi
sumbangan pada kebudayaan nasional kita.
B.
Fokus
Kajian
Dalam
penelitian ini, hanya membatasi pada sejarah kampung Pecinan di Semarang beserta kehidupan ekonomi masyarakat Pecinan. Dengan adanya pembatasan penelitian ini akan mempermudah dalam
pengumpulan data yang diinginkan sehingga proses penelitian akan lebih efektif
dan efisien. Untuk hasil penelitian dengan pembatasan ini akan terarah dan
tidak melebar pada hal-hal yang membingungkan. Pembatasan yang lebih rincinya
sebgai berikut.
Fokus
kajian pertama yaitu sejarah Kampung
pecinan, yang
meliputi awal kedatangan masyarakat Tionghua, lokasi pecinan, dan masyarakat,
kehidupan dan kosmologi.. Sedangkan fokus kajian yang
kedua tentang kehidupan ekonomi
masyarakat pecinan pada masa kolonial tahun1900.an samapai dengan revolusi.
Untuk sub babnya akan membahas tentang mata pencaharian masyarakat pecinan, perkembanagan
perdagangan di pecianan, dan pecinan sebagai pusat perekonomian.
C.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana Sejarah Kampung Pecinan
di Semarang?
2. Bagaimana perkembangan kehidupan
ekonomi masyarakat pecinan pada masa kolonial tahun samapai dengan revolusi ?
D.
Tujuan
Penelitian
1. Mengetahui
Sejarah Kampung Pecinan di Semarang
2. Mengetahui
perkembangan kehidupan
ekonomi masyarakat peciana pada masa kolonial tahun 1900.an samapai dengan
revolusi
E.
Kegunaan
Penelitian
Kegunaan atau manfaat yang diharapkan dari penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1. Kegunaan
Praktis
Bagi Masyarakat, hasil penelitian diharapkan dapat
memberikan pengetahuan dan Informasi tentang sejarah kampung Pecinan dan kehidupan ekonomi masyarakat
pecinan pada masa kolonial tahun 1900.an samapi dengan revolusi.
Bagi Peneliti, seluruh rangkaian kegiatan dan hasil
penelitian diharapkan dapat lebih memantapkan penguasaan fungsi keilmuan yang
dipelajari selama mengikuti program studi pendidikan sejarah, di Jurusan
Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri semarang.
2. Kegunaan
Akademis
Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian diharapkan dapat
menjadi dokumen akademik yang berguna untuk dijadikan acuan bagi sivitas
akademika. Laporan penelitian ini diharapkan menjadi bahan bahan rujukan dalam
penelitian-penelitian selajutnya.
F.
Kajian
Teoritis
Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini
bersal dari kajian pustaka. Kajian pustaka digunakan untuk memperoleh
bahan-bahan perbandingan mengenai masalah yang berhubungan sejarah masyarakat Tionghoa dan kehidupan masyarakat
pecinan. Berikut ini adalah tinjauan beberapa buku yang
akan bermanfaat sebagai bahan acuan untuk membangun kerangka pemikiran teoritis
dan mengembangkan wawasan berpikir dalam rangka penulisan penelitian ini. Bagian
pertama dari tinjauan pustaka ini adalah tinjauan singkat atas 3 buku yang banyak
membahas mengenai etnis Tionghoa dan masyarakat kampung
pecinan di Semarang Buku pertama yang sangat penting
dalam kaitannya dengan laporan adalah
1.
Referensi
Buku “ Arsitektur Tradisional Tionghua
dan perkembangan Kota”
Buku
ini mengisahkan tentang sejarah kota Semarang dari sudut masyarakat Tionghoa. Selain
itu juga mengulas tentang Arsitektur
Tionghoa dan perkembangan kota di Pulau Jawa pada umumnya secara mendalam. Buku ini ditulis tahun 2010.
Dalam
buku ini penulis mendapatkan informasi mengenai betapa kuatnya budaya Cina di
kota Semarang pada masa lalu. Penulis mendapatkan data mengenai kapan datangnya
orang Tionghoa pertama di kota Semarang, dan apa saja kegiatan, kejadian,
pergerakan, perubahan, dan perkembangannya pada masa itu. Dalam buku ini juga
terdapat kisah-kisah mengenai terbentuknya jalan-jalan dan gang-gang di Pecinan
semarang.
2.
Referensi
Buku “Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa”
Berbeda
dengan buku Riwayat Semarang, Buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa menceritakan
kisahnya dengan lebih ringan, namun tetap berisi. Buku ini terdiri dari
tulisan-tulisan Onghokham mengenai Tionghoa Peranakan di Jawa.
Buku
ini menceritakan tentang awal mula penduduk Tionghoa masuk ke Jawa, hubungannya
dengan pemerintahan kolonial dan penyatuannya dengan masyrakat Bumiputera.
Dalam buku ini terdapat banyak fakta-fakta mengenai sejarah, kebiasaan, dan
sifat masyrakat Tionghoa di tanah Jawa.
3.
Referensi Buku “Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina”
Satu
lagi buku karya Onghokham mengenai etnis Tionghoa di Indonesia. Buku ini lebih
banyak menyorot ke sisi sejarah dan politik pada masa itu.
Penulis
tidak banyak mengambil data dan informasi dalam buku ini, tetapi terdapat
beberapa bagian yang cukup menjelaskan awal mula kedatangan masyarakat Cina di
Indonesia.
G.
Metode
Penelitian
Metodologi penelitian yang dipergunakan dalam rencana
penelitian ini adalah metode sejarah, yang pada garis besarnya terdiri dari 4
langkah secara berurutan,
yaitu sebagai berikut :
a. Heuristik,
yaitu kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah.
Sumber-sumber itu terdiri dari sumber primer yang berupa dokumen atau
arsip yang bisa ditemukan di lembaga arsip daerah (srondol), arsip di Gedung
Pandanaran dan sumber-sumber sekunder yang berupa buku-buku penunjang, majalah,
koran terbitan berkala dan sebagainya. Khusus mengenai sumber arsip yang
terutama adalah arsip tentang pelabuhan, dimana yang kami temukan adalah arsip
pada masa colonial Belanda. Sementara sumber sekunder yang berguna sebagai
sumber pendukung atau pelengkap bisa diperoleh dari berbagai perpustakaan di
Semarang dan internet.
b. Kritik
sumber, yaitu kegiatan yang bertujuan untuk menyelidiki dan menguji apakah
sumber-sumber sejarah yang ditemukan itu bisa dipercaya (kredibel) baik dalam
bentuk maupun isinya. Dengan demikian tahap ini merupakan kegiatan untuk
mencari informasi-informasi yang bisa dipercaya dari sumber-sumber sejarah,
yang dalam Ilmu Sejarah disebut dengan istilah fakta sejarah.
c. Interpretasi, adalah kegitatan menetapkan
makna dan saling hubungan antara fakta-fakta sejarah yang telah diperoleh
melalui kritik sumber. Dalam hal ini dari banyak fakta sejarah yang telah
diperoleh harus dirangkaikan atau dihubung-hubungkan satu sama lain sehingga menjadi
satu kesatuan yang harmonis, menurut rangkaian yang kronologis dan hubungan
sebab akibat. Interpretasi yang kami lakukan yaitu berdasarkan hasil temuan
dari arsip, buku penunjang serta hasil wawancara yang kemudian semuanya
dihubungkan untuk mencapai suatu makna sejarah dari beberapa sumber tersebut.
d. Historiografi
atau rekonstruksi sejarah, yaitu kegiatan melakukan sintesa sejarah, atau
menyajikan hasil penelitian dalam bentuk kisah sejarah, atau dalam hal ini
adalah laporan penelitian mengenai hasil observasi
H.
KERANGKA
ISI
Untuk mendapatkan gambaran singkat
tulisan ini disusun dengan sistematika sebgai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan
berisi tentang latar belakang, fokus kajian, rumusan masalah, tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, krangka isi dan kajian
pustaka.
BAB II SEJARAH KAMPUNG PECINAN
Sejarah
kampung Pecinan Semarang, yang dibahas pada bab ini
meliputi kedatangan orang Tionghoa,
lokasi pecinan dan masyarakat, kehidupan dan kosmologi
BAB III KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT
PECINAN PADA MASA KOLONIAL SAMAPAI DENGAN REVOLUSI
Sedangkan pada bab ini akan dibahas mengenai mata pencaharian masyarakat pecinan, dan
perkembanagan perdagangan di pecianan,
BAB IV SIMPULAN
Merupakan bab terakhir yang merupakan kesimpulan dari
data-data atau fakta-fakta yang di sajiakan dari bab I samapai bab III setelah mendapatkan
interpretasi dan analisis data suatu pokok persoalan.
BAB
II
SEJARAH
KAMPUNG PECINAN DI SEMARANG
A.
Kedatangan
Orang Tionghoa
Orang-orang Tionghoa telah berlayar dari Tiongkok Sealatan ke Pulau
Jawa Jauh sebelum orang Eropa berlayar ke timur, sebelum kedatangan orang
Portugis di kepulauan Nusantara pada tahun 1511. Menurut N.J. Krom, awal abad
ke-14 telah ada permukiman orang Tionghoa di Pulau Jawa yang membentuk koloni
kecil di pinggir pantai. Mereka mendarat pertama kali di sekitar pantai Timur
laut Jawa Tengah yang sekaligus menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara. Letaknya
diperkirakan di daerah Lasem sekarang. Kedatangan ke Pulau Jawa sebagai
pedagang yang membawa porselin dan sutra
untuk di tukar dengan beraas dan hasil pertanian yang lain (Pratiwo, 2010:9)
Masyarakat Tionghoa
di Indonesia pernah terbagi dalam tiga golongan besar: totok, peranakan, dan
hollands spreken. Berikut ini merupakan pembagian Golongan Masyarakt Tionghoa:
1. Tionghoa yang tergolong totok adalah mereka
yang baru satu turunan di Indonesia (orang tuanya masih lahir di Tiongkok) atau
dia sendiri masih lahir di sana lalu ketika masih bayi diajak xia nan yang,
atau istilah totok juga disebutkan kepada mereka yang saat ini masih memegang
teguh adat istiadat leluhurnya. Sama seperti suku lainnya di Indonesia misalnya
yang masih memegang teguh urutan upacara pernikahan, persalinan ataupun
lainnya.
2. Tionghoa
yang hollands spreken adalah yang dimana pun lahirnya- menggunakan bahasa Belanda,
mengenakan jas dan dasi, kalau makan pakai sendok dan garpu, dan ketika Imlek
tidak mau menghias rumah dengan pernik-pernik yang biasa dipergunakan oleh
peranakan maupun totok karena dianggap kuno atau tidak sesuai atau tidak logis
akibat tidak memahami sama sekali arti dibalik asal usul tersebut.
3. Sedangkan
yang disebut Tionghoa yang peranakan adalah yang sudah beberapa keturunan lahir
di tanah yang kini bernama Indonesia, kebanyakan tidak lagi menggunakan bahasa
suku (Hokkian, Hakka atau lainnya) ataupun Bahasa Mandarin sebagai bahasa ibu
yang dipercakapkan dirumah. (Irfan Utamin, http://asalusulbudayationghoa.
blogspot.com, 2012)
Orang-orang Tionghoa yang berada di
Semarang merupakan pindahan dari Batavia karena mereka memberontak dari Belanda
yang bertindak semena-mena terhadap orang-orang Tionghoa. Pertama-tama orang
Tinghoa tinggal di Batam ( Banten, Jawa Barat ), kemudian perlahan-lahan mereka
menyebar ke daerah Jawa Tengah. Menurut buku-buku catatan yang terdapat di
Batavia, ternyata orang Tionghoa yang tinggal di Semarang lebih belakangan,
lebih dulu mereka tinggal di Tanjung, Jepara, Buyaran, dan di tempat-tempat
lainnya. Dari situ akhirny mereka menyebar ke daerah Semarang untuk mencari
tempat-tempat baru yng lebih luas.
Awal terbentuknya kawasan Pecinan Semarang ini dikarenakan
pemberontakan orang Tionghoa di Batavia di ditahun 1740 kepada kompeni Belanda,
namun berhasil digagalkan, kemudian Belanda memindahkan orang Tionghoa yang
dulunya tinggal di daerah Gedong Batu ke kawasan sekarang ini. Tujuannya agar
Belanda mudah mengawasi pergerakan dari orang-orang Tionghoa karena berdekatan
dengan Tangsi Militer milik Belanda (Tangsi Militer ini dulu terletak di Jl.
KH.Agus Salim atau Jurnatan) pada jaman dahulu.
Bangsa cina merupakan bangsa
perantau yang didominasi oleh kaum pedagang. Kondisi sosiologis di Cina sebagai
sebuah negeri yang sempat dijuluki Tirai Bambu karena penerapan sistem komunis
totaliternya. Merupakan tipologi masyarakat yang cenderung berkelana dan
berjuang hidup dengan cara berdagang dan bisnis, warga Cina Peranakan pada
tahun 1930 setidaknya nampak jelas bahwa peranan mereka lebih banyak di bidang
perdagangan. Sebelumnya, telah muncul klasifikasi warga Cina
keturunan/peranakan (yang lahir di Indonesia) dan warga Cina totok atau asli.
Keduanya memang sangat berperan dalam bidang perdagangan di Indonesia, pada
tahun 1930-an. Terutama warga Cina Asli yang menurut analisa, pada pasca
kemerdekaan, yang lebih mendominasi arus perdagangan di Indonesia. Peranan kuat
atas perekonomian di Indonesia yang dilakukan oleh orang-orang Eropa dan warga
Cina memang cukup banyak dicatat dalam sejarah. Semacam terdapat pembagian
peran kala itu pasca pra-kemerdekaan; Eropa yang berperan sebagai eksportir dan
importir, warga pribumi sendiri berperan sebagai petani nelayan, pedagang
eceran, dll, sedangkan peran warga Cina peranakan berada di posisi
tengah-tengah sebagai pedagang perantara atau distributor besar.
Kedatangan orang-orang Tionghoa
yang pertama di kota Semarang, ujud penampilannya tak seperti sekarang, yang
pria dibelakang kepalanyan memakai KINCIR, sementara kaum wanitanya memiliki
laki-laki kecil, karena sejak kecil laki-laki itu telah dibungkus dengan erat,
Tiongkok kala itu dikuasai oleh bangsa MNCHU, sedangkan dulunya dikuasai dengan
HAN dimana prianya memakai KONDE diatas kepalanya. Dahulu diceritakan
orang-orang Tionghoa datang naik kapal-kapal layar besar yang disebut perahu
JONK atau Wakang Tjoen yang mendarat di daerah Mangkang.
Mereka iu disana berlabuh untuk
berdagang ataupun untuk membawa penumpang-penumpang yang akan menetap di daerah
itu dan karenanya penduduk menyebut daerah itu Wakang kemudian menjadi Mangkang
hingga sampa sekarang ini. Dalam pada waktu itu diketahui bahwa didekat daerah
itu menjadi salah satu kecamatan baru daam pemekaran ota Semarang saat ini.
Dalam hal perdagangan dan pertumbuhannya dibanding dengan pendatang-pendatang
lain, orang-orang Tionghoa yang terpesat. Karenanya penguasa Belanda waktu itu
mengangkat seorang ketua atau kepala Tionghoa untuk menangani hal-hal yang
berkaitan dengan perdagangn atau lain-lain hal yang ada hubungannya dengan
penguasa Belanda. Ketua orang-orang Tionghoa oleh penguasa Belanda diberi
pangkat-pangkat militer secara tituler, misalny ada : Luitenant der Chinesen,
Kapten ataupun Mayoor Dan Kapitan der Chinesen yang terkenal di tahun 1672
adalah ; Tn Kwee Kiauw, seorang saudagar terkenal waktu itu.
B.
LOKASI
PECINAN
Wilayah di Semarang yang dihuni
oleh etnis cina dan dinamakan pecinan. Kawasan pecinan ini terletak di tengah
kota, di selatan pasar tradisional (pasar Johar) yang dibatasi oleh sungai
Semarang. Etnis cina ini mulai mendiami wilayah ini sejak abad ke -17 dan
pemukiman ini mulai stabil sejak akhir abad ke – 18. Wilayah ini ditempati oleh
etnis cina karena pecinan merupakan satu-satunya tempat dimna orang-orang
cina diijinkan tinggal ketika pemerintah
belanda menerapkan Wiykestelsel
(undang—undang larangan pemukiman) pada tahun 1841, akibatnya kawasan pecinan
menjadi suatu wilayah yang sangat padat, yang sampai saat ini orang akan sulit menemukan
sepetak tanah kosong karena seluruhnya telah didirikan perumahan, ruko dan
kuil. Hal iniah yang menjadi karakteristik dari kawasan pecinan ini (Dewi
Ernawati, 1004:25).
Awal terbentuknya kawasan Pecinan ini dikarenakan
pemberontakan orang Tionghoa di daerah batavia pada tahun 1740 kepada kompeni
Belanda, namun berhasil digagalkan di tahun 1743. Ketakutan Belanda terhadap
kaum Tionghoa inilah yang kemudian membuat Belanda memindahkan orang Tionghoa
di Semarang yang dulunya tinggal di daerah Gedong Batu ke kawasan sekarang ini.
Tujuannya agar Belanda mudah mengawasi pergerakan dari orang – orang Tionghoa
karena berdekatan dengan Tangsi Militer milik Belanda yang terletak di Jl.
KH.Agus Salim atau Jurnatan (sekarang menjadi Miramar Restaurant).
Batas Wilayah Kawasan Pecinan.
> Batas Utara : Jl. Gang Lombok (Klenteng Tay Kak Sie)
> Batas Timur : Kali Semarang
> Batas Selatan : Kali Semarang, Jl. Sebandaran I
> Batas Barat : Jl. Beteng
Aksesibilitas Kawasan Pecinan.
Untuk dapat mencapai kawasan Pecinan ini setidaknya ada 4 jalan utama yang
langsung membawa langsung di kawasan
Pecinan Semarang, yaitu :
1.
dari jalan KH.
Agus Salim (Jurnatan) masuk ke jalan Pekojan akan tembus ke jalan Gang Pinggir.
2.
dari jalan
Jagalan ke jalan Ki Mangunsarkoro tembus ke jalan Gang Pinggir.
3.
dari jalan
Gajahmada ke jalan Kranggan lalu masuk lewat jalan Beteng.
4.
dari jalan
Gajahmada ke jalan Wotgandul lalu lewat jalan Wotgandul Timur.
Kawasan Pecinan Semarang terkenal sebagai Kawasan Pecinan dengan 1001
Klenteng, karena di kawasan ini terdapat 9 Klenteng yang masing – masing
memiliki keunikannya sendiri.
b) Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa, 1756 | Jl. Gang
Pinggir No.105-107 (menghadap jl. Sebandaran)
d) Kelenteng Kong Tik Soe, bagian dari
Klenteng Tay Kak Sie. | Jl. Gang Lombok
e) Kelenteng Hoo Hok Bio, 1779 | Jl. Gang
Cilik No. 7
f)
Kelenteng Tong Pek Bio, 1782 | Jl. Gang Pinggir No.70
g) Kelenteng Wie Hwie Kiong, 1814 | Jl.
Sebandaran I No.26
h) Kelenteng Ling Hok Bio, 1866 | Jl.
Gang Pinggir No.110 (menghadap jl. Gang Besen)
i)
Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong, 1881 | Jl. Sebandaran I No.32
Kawasan Pecinan Semarang memiliki beberapa aktifitas masyarakat yang
dapat dikatakan semua masyarakat kota Semarang mengetahuinya, seperti :
1. Pasar tradisional Gang Baru, dinamakan sesuai nama jalan itu
sendiri dan terletak diantara jalan Wotgandul dan jalan Gang Warung,
2. Waroeng Semawis, aktifitas wisata kuliner di semarang, dimana
aneka jajanan makanan dan minuman dijajakan sepanjang jalan Gang Warung.
Kawasan Pecinan
Semarang ini berdekatan
dengan Kawasan Kota
Lama Semarang (Little Netherlands),
Komplek Jurnatan (pusat perdagangan di kota Semarang), Pasar Tradisional Johar
(salah satu bangunan yang memiliki desain arsitektur terbaik dijamannya karya
Herman Thomas Karsten).
C.
MASYARAKAT,
KEHIDUPAN DAN KOSMOLOGI
1.
MASYARAKAT
Awal abad ke-19, populasi orang
Tionghoa di Timur laut jawa tengah tidak melebihi 4.819 jiwa yang tersebar di
delapan kabupate. Jumlah ini sama dengan 0,98% dari penduduk keseluruhan. Di
pertengahan abad ke-20 barulah datang orang-orang Tionghoa dari berbagai
wilayah di Tiongkok Selatan seperti Kwantung, Kwangsi dll. Migrasi orang-orang
Tionghoa yang terjadi pada dasawarsa Sedangkan kelompok peranakan orang
Tionghoa yang telah beberapa generasi tinggal di Jawa. Bahahsa ibu mereka
bahasa Melayu dan Jawa, serta tidak dapat berbahasa Tionghoa lagi. Mereka tumbuh
dalam budaya yang bercampur antara Tionghoa dan Jawa sehingga orientasi leluhur
mereka tidak sekuat yang totok.
1.
KEHIDUPAN RELIGIUS MASYARAKAT PECINAN
Agama tradisional orang Tionghoa
bersifat sinkretis yang diturunkan dari tiga ajaran: konfusius, taoisme, dan
budhisme. Yang sangat menonjol dari kegiatan religius mereka adalah penyembahan
arwah leluhur yang sebenarnya sangat tua menjadi kepercayaan mereka dan
kemudian diperkuat oleh ajaran konfusius yang patriakhal. Agama yang sinkretis
ini lebih dikenal sebagai kebudayaan Tionghoa.
2.
KOSMOLOGI
Dalam kosmologi Tiongkok, dunia ini
merupakan bujur sangkar yang terbagi menjadi empat bagian dengan putra surga
yakni sang kaisar di tengahnya. Empat bagian dunia ini diasosiasikan dengan
simbol binatang, warna, zat, dan musim. Pusat yang mana putra surga
diasosiasikan dengan tanah. Bagian selatan di asosiasikan dengan musim panas,
api, dan burung merak merah. Selatan juga merupakan arah orientasi sang kaisar
tatkala duduk di singgasana.
BAB III
KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT PECINAN
PADA MASA KOLONIAL SAMAPAI DENGAN REVOLUSI
A.
Mata
Pencaharian Masyarakat Pecinan
Pada awalnya pasar
di pantai utara Jawa tengah merupakan jantung perdagangan antara petani dari
pedalaman dengan pedagang asing, terutama dari Tiongkok Selatan. Perdagangan
yang dilakukan orang Tionghoa atau perdagangan dari Tiongkok semakin banyak
saja, terutama kertas kain, sutera dan barang tanah (mangkuk dan piring).
Tempat perdagangan seperti ini muncul di pinggir sungai dimana terdapat jalan
ke pemukiman terdekatnya. Di Semarang tempat seperti ini adalah pasar Pedamaran
di tepi barat Sungai Semarang. Sebelum tahun 1741, disebelah timur pasar adalah
Pecinan dan di sebelahnya adalah istana bupati.
Tatkala populasi orang Cina bertambah dan tinggal permanen kawasan ini,
menyebabkan munculnya orang-orang perantara yang membeli hasil bumi dari
pedalaman dan menjualnya di pasar. Lama kelamaan tidak hanya petani danpedagang
tionghoa yang berdagang ke pasar, tetapi juga pedagang peribumi dari kaum
pedagang yang berdagang ke pasar (Pratiwo, 2010:59-60). Dari sini dapat di
ketahui betapa pentingnya keberadaan Sungai Semarang. Keberadaan Sungai
Semarang selain sebagai jalur lalu lintas perdagangan juga sebagai mobilisasi
masyarakat pada zaman itu. Keterbukaan masyarakat Tionghoa berkaitan dengan
pemanfaatan pasar, sebagai tempat ketemunya penjual dan pembeli di kawasan
pecinan tidak hanya di lakukan orang Tionghoa saja, melainkan juga melibatkan
masyarakat peribumi.
Dalam lembaran
sejarah 1999, kawasan Pecinan ini terletak di tengah-tengah kota, di selatan
pasar tradisional (pasar Johar) yang dibatasi oleh sungai Semarang. Orang
Tionghoa atau etnis Cina ini mulai mendiami wilayah ini sejak abad ke -17 dan
pemukiman ini mulai stabil sejak akhir abad ke – 18. Wilayah ini ditempati oleh etnis cina karena pecinan merupakan
satu-satunya tempat dimana orang-orang cina
diijinkan tinggal ketika pemerintah belanda menerapkan Wiykestelsel (undang—undang larangan
pemukiman) pada tahun 1841, akibatnya kawasan pecinan menjadi suatu wilayah
yang sangat padat, yang sampai saat ini orang akan sulit menemukan sepetak
tanah kosong. Karena seluruhnya telah didirikan perumahan, ruko dan kuil. Hal
iniah yang menjadi karakteristik khas dari kawasan pecinan ini. (dewi ernawati,
2004:25) judul perkembangan etnis cina muslim di kawasan pecinan semarang tahun
1966-1998
Dengan adanya
Sungai Semrang yang mengalir di tengah-tengah kota memunyai peranan penting
sebagai sarana perdaganga waktu jaman kolonial Belanda. Namun dalam
perkembanagan selanjutnya sungai Semrang tidak lagi menjadi jalur perdagangan.
Halini di karenakan keramaian yang melalui sungai Semarang, mengakibatkan
timbulnya pusat-pusat perniagaan dan kantor-kantor perdagangan selain sebagai
pemukiman orang-orang Cina. Pembatasaan orang orang cina terhadap tempat
tinggal yang telah di atur dalam sistem Wiykestelsel
(undang—undang larangan pemukiman) berakhir pada tahun 1919 karena sejak
bulan April 1919 tidak ada lagi paksaan bagi orang-orang cina untuk berdiam di
derah Pecinan. Jadi sejak itu
orang-orang cina bebas meninggalakan kampung pecinan dan suku bangsa lain di perbolehkan untuk
tinggal di pecinan. Namun meski Wiykestelsel
sudah berakhir namun masyarakat cina atau Tionghoa masih sebagaian besar
tetap bertahan di kampung pecinan untuk melanjutakan kehidupanya.
Di kota Semarang
perekonomian kota memang tidak lepas dari kawasan Pecinan. Kawasan Pecinan itu
mengkontribusikan perputaran uang sampai
milyaran rupiah dalam setiap hariya.
Lingkungan pecinan ini mempunayai ciri khas yaitu letaknya yang agak
menepi, serba tertutup dan produktif. Kawasan ini mempunyai jam kehidupan yang
efektif yang dimulai dari pukul 05.00 WIB dan berakhir pada pukul 18.00
WIB. Dan rumah-rumah yang besar-besar
berlantai lebih dari satu selalu tertutup rapat. Pada malam hari tidak ada kehidupan malam
disana, keculi para penghuninya yang keluar kawasan untuk mencari hiburan
misalnya ke night club atau karaoke.
(dewi ernawati, 2004:26)
Setelah saluran
sungai dipindahkan ke timur daan Pecinan dipindahkan ke tepi barat sungai
pada 1741, selain pasar Pandamaran
muncul pula toko-toko di pecinan. Di akhir abad ke-18 selain pasar Padamaran
juga berpunculan pasar-pasar yaitu di Gang Benteng, di utara Jalan Pekojan dan
di Jalan Ambengan. Pasar-pasar tiban ini dimana orang berbelaja sayuran,
daging, buah-buhan, dan hasil bumi yang lain, yang menempati di depan toko,
dekat dengan persimpangan jalan. Karena inilah kampung pecinan menjadi di
kelilingi tempat berdagang. Tidak mengherankan bila kampung pecinan di jadikan
pusat perekonomian.
Kawasan Pecinan
Semarang ini menjadi denyut nadi perekonomian di Semarang. Sekitar tahun
1970.an daerah Gang Baru, Karagan dan Pekojan merupakan gedung-gedung grosir
berbagai macam kebutuhan, kemuian pada tahun 1980.an samapai tetap tidak
berubah, masih sebagai tempat perputaran unag. Mata pencaharian warga di
kawasan pecinan menitik beratkan pada bidang usaha kebutuhan kota. Karena
sebagian besar perekonomian kota
Semarang dikuasai oleh warga etnis cina. Perusahan-perusahan besar atau kecil
yang didirikan oleh etnis cina memberi kontribusi yang besar terhadap perbendaharaan kota Semarang.
Kontribusi dari perusahan-perusahan etnis cina yang besar maupun yang kecil
digunakan untuk menambah pendanaan pembangunan kota Semarang (Dewi Ernawati,
1004:25).
Organisasi
pedagangan orang Cina di Indonesia berdasarkan sistem kekrabatan (sitem
famili). Sebagian besar dari usaha orang Cina adalah kecil dan hanya cukup di
urus oleh satu keluarga tanpa membutuhkan pekerja yang diambil dari luar
kecuali usahanya itu sudah besar. Usaha tersebut bisa terdiri dari sebuah
kantor dagang, atau toko atau sebuah gudang dan biasanya tempat tinggal
kepalanya adalah gudang itu. Apabila usahanya menjadi besar ereka dapat membuka
cabang di daerah lain dalam usaha yang sama dan di pegang oleh saudara atau
krabat lainya. Selain sistem famili ini orang Cina terkenal dengan sifat
keuletan dalam beusaha mencapai sesuatu yang di inginkan. Sifat yang rajin ulet
hemat dan lainya dalam berdagang orang Cina di Semarang, sebagian besar dari
kelompok Hokkian di Cina, mereka menemukan wilayah tanah airnya di selatan
Cina, kebanyakan di Utara Kwantang dan Barat Daya Fukian. Kelompok Hokkian
mempunyai bahasa yang berbeda dengan kelompok Cina lainya. Kelompok Hokkian ini
merupakan kelompok Cina terbanyak di antara kelompok cina lainya, dan mereka
banyak di temukan di Jalan Pekojan atau di perempatan-perempatan di kampung
Pecinan.
Dari uraian di atas
dapat diketahui mata pencaaharian masyarakat cina di kampung Pecinan sebagian
besar adalah pedagang sesui dengan sifat orang cina yaitu suka berdagang
seperti di negerinya sana. Selain itu
pemerintah Belanda tidak memberikan kesempatan pada etnis Cina di bidang lain
kecuali berdagang. Berdagang dan berusaha memang merupakan suatu mata
pencaharian yang sangat penting bagi orang-orang Cina di Indonesia atau
khususnya di Pecinan Semarang.
B.
Perkembangan
Perdagangan di Pecinan Semarang
Perdagangan di kawasana Pecinan pada masa kolonial
mengalami perkemabangan sangat pesat. Hal ini dikarenakan letaknya yang
strategis di tengah-tengah kota, yang
dilalui aliran sungai Semarang yang menjadi lalulintas pedagangan. Perkembangan
ekonomi di kawasan pecinan mengalami perkembanagan lebih pesat di bandingkan
dengan kawasan lain di Semarang. Hal ini dapat di ketahui dari kemunculan
pedagang-pedagang besar, antara lain Khouw Ping yang memiliki sejumlah gudang
besar di pinggir sungai.
Pesatnya perdagangan yang terjadi di Pecinan membuat
banyak prahu serta kapal pedagang yang meraapat di pinggir sungai. Ada yang
membawa penumpang, ada pula yang merapat untuk menurunkan dan menaikan barang
dagangan. Perdagangan yang dilakukan orang Tionghoa atau perdagangan dari
Tiongkok semakin banyak saja, terutama kertas kain, sutera dan barang tanah
(mangkuk dan piring). Tatkala populasi orang Cina bertambah dan tinggal
permanen kawasan ini, menyebabkan munculnya orang-orang perantara yang membeli
hasil bumi dari pedalaman dan menjualnya di pasar. Lama kelamaan tidak hanya
petani danpedagang tionghoa yang berdagang ke pasar, tetapi juga pedagang
peribumi dari kaum pedagang yang berdagang ke pasar (Pratiwo, 2010:59-60). Dari
sini dapat di ketahui betapa pentingnya keberadaan Sungai Semarang. Keberadaan
Sungai Semarang selain sebagai jalur lalu lintas perdagangan juga sebagai
mobilisasi masyarakat pada zaman itu. Keterbukaan masyarakat Tionghoa berkaitan
dengan pemanfaatan pasar, sebagai tempat ketemunya penjual dan pembeli di
kawasan pecinan tidak hanya di lakukan orang Tionghoa saja, melainkan juga
melibatkan masyarakat peribumi.
Berkisah kemajuan tentang kemajuan perdagangan di daerah pecinan,
haruslah di akui bahwa keberadaan Sungai
Semarang sangatlah pentingkarena sebagai penghubung antara pelabuhan dengan
pedalaman Kota Semarang.
Di daerah-daerah yang ditinggalkan orang-orang Tioghoa,
kemudian tempat itu didirikan loji-loji oleh pendatang-pendatang dari India dan
Perancis ialah sekitar daerah Petolongan dan Bustaman. Setelah kemelut selesai
kota Semarang menglami kemjuan pesat. Sebagai kota pelabuhan, ternyata tetap
merupakan kota yang teramai. Bilamn dahulu kapal-kapal berlabuh didaerah
Mangkang, kini beralih didaerah Ngeboom, yangsekarng dikenal dengan nama BOOM
LAMA. Berhubung daerah itu makin lama makin ramai disamping benyaknya
pendatang-pendatang baru dari berbagai daerah yang mendarat disitu, maka daerah
tersebut dikenal dengan nama DARAT atau INDARAT. Hingga kini nama itu masih
dapat dikenal, kaum pendatang itu kemudian menetap disekitar daerah itu, secara
berkelompok sehingga antara lain dikenal kampoeng Melayu (hingga kini masih
disebut demikian).
Sejalan dengan kemajuan perdagangan di kota Semarang,
maka orang-orang Tionghoapun ramai mengembangkan kebiasaanya yaitu Berjudi, dan
ini terkonsentrasi di Pecinan Gg. Pinggir Ujung , GgTjilik sebagai dampaknya
disekitar daerah itu kemudian berdiri pula tempat-tempat gadai dimana para
penjudi bisa cepat memperoleh uang. Oleh penguasa Belanda kemudi ditarik pajak
judi. Pad saat itu orang telah menganl jenis uang keping yaitu uang logam
bunder dengan logam persegi ditengahnya bisa disebut uang Gobok, bisanya kalau
membawa disunduk atau direnteng kemudian diikat dipunggung, dan uang itu juga
biasa disebut uang TANGTJI.
Selain itu dikenal juga Uang REAL dan ditahun 1724
penguasa Belanda mengedarkan uang yang dikenal sebagai HOLANDSCHE DUITEN
sementara uang gobok tetap berlaku hingga tahun 1855, kemudian diperkenalkan
uang CENT, yang juga berbentuk keping tapi dengan lubang di tengah berbentuk
bunder. Dikalangan umum biasanya menyebut uang UANG ialah DUWIT yng berasal
dari kata Belanda DUIT. Hingga kini uang GOBOK masih dpt dilihat di Pulau BALI
sebab dipergunakan untuk upacara-upacra, tetapi sudah banyak dipalu.
Berkisah tentang kemajuan perdagangan di daerah Pecinan,
haruslh diakui bahwa keberadaan kali Semarang sangat penting sebab merupakan
penghubung antara pelabuhan dan pedalaman kota Semarang. Sementara itu di
Pecinan terkenal seorang pedagang bernama KHUW PING yang memiliki daerah di
tepi kali Semarang. Dimana gudang-gudang besar telah dibangun untuk menyimpan
barabg-barang dagangannya, dan daerah itu terkenal hingga sekarang dengan nama
KALIKOPING.
BAB
IV
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Orang-orang Tionghoa telah berlayar dari Tiongkok Sealatan ke Pulau
Jawa Jauh sebelum orang Eropa berlayar ke timur, sebelum kedatangan orang
Portugis di kepulauan Nusantara pada tahun 1511. Kedatangan ke Pulau Jawa
sebagai pedagang yang membawa porselin dan sutra untuk di tukar dengan beraas dan hasil
pertanian Orang-orang Tionghoa yang berada di Semarang merupakan pindahan dari
Batavia karena mereka memberontak dari Belanda yang bertindak semena-mena
terhadap orang-orang Tionghoa. Pertama-tama orang Tinghoa tinggal di Batam (
Banten, Jawa Barat ), kemudian perlahan-lahan mereka menyebar ke daerah Jawa
Tengah. Awal
terbentuknya kawasan Pecinan Semarang ini dikarenakan pemberontakan orang
Tionghoa di Batavia di ditahun 1740 kepada kompeni Belanda, namun berhasil
digagalkan, kemudian Belanda memindahkan orang Tionghoa yang dulunya tinggal di
daerah Gedong Batu ke kawasan sekarang ini. Tujuannya agar Belanda mudah
mengawasi pergerakan dari orang-orang Tionghoa karena berdekatan dengan Tangsi Militer
milik Belanda (Tangsi Militer ini dulu terletak di Jl. KH.Agus Salim atau
Jurnatan) pada jaman dahulu.
Wilayah di Semarang yang dihuni oleh etnis cina dan dinamakan
pecinan. Kawasan pecinan ini terletak di tengah kota, di selatan pasar
tradisional (pasar Johar) yang dibatasi oleh sungai Semarang. Etnis cina ini
mulai mendiami wilayah ini sejak abad ke -17 dan pemukiman ini mulai stabil
sejak akhir abad ke – 18. Wilayah ini ditempati oleh etnis cina karena pecinan
merupakan satu-satunya tempat dimna orang-orang cina diijinkan tinggal ketika pemerintah belanda
menerapkan Wiykestelsel
(undang—undang larangan pemukiman) pada tahun 1841, akibatnya kawasan pecinan
menjadi suatu wilayah yang sangat padat.
Awal abad ke-19, populasi orang Tionghoa di Timur laut jawa tengah
tidak melebihi 4.819 jiwa yang tersebar di delapan kabupate. Jumlah ini sama
dengan 0,98% dari penduduk keseluruhan. Agama tradisional orang Tionghoa
bersifat sinkretis yang diturunkan dari tiga ajaran: konfusius, taoisme, dan
budhisme. Yang sangat menonjol dari kegiatan religius mereka adalah penyembahan
arwah leluhur yang sebenarnya sangat tua menjadi kepercayaan mereka dan
kemudian diperkuat oleh ajaran konfusius yang patriakhal. Agama yang sinkretis
ini lebih dikenal sebagai kebudayaan Tionghoa.
Pada awalnya pasar di pantai utara Jawa tengah merupakan jantung
perdagangan antara petani dari pedalaman dengan pedagang asing, terutama dari
Tiongkok Selatan. Perdagangan yang dilakukan orang Tionghoa atau perdagangan
dari Tiongkok semakin banyak saja, terutama kertas kain, sutera dan barang
tanah (mangkuk dan piring). Tempat perdagangan seperti ini muncul di pinggir
sungai dimana terdapat jalan ke pemukiman terdekatnya.
Dari uraian di atas dapat diketahui mata pencaaharian masyarakat
cina di kampung Pecinan sebagian besar adalah pedagang sesui dengan sifat orang
cina yaitu suka berdagang seperti di negerinya sana. Selain itu pemerintah Belanda tidak
memberikan kesempatan pada etnis Cina di bidang lain kecuali berdagang.
Berdagang dan berusaha memang merupakan suatu mata pencaharian yang sangat
penting bagi orang-orang Cina di Indonesia atau khususnya di Pecinan Semarang. Perdagangan
di kawasana Pecinan pada masa kolonial mengalami perkemabangan sangat pesat.
Hal ini dikarenakan letaknya yang strategis
di tengah-tengah kota, yang dilalui aliran sungai Semarang yang menjadi
lalulintas pedagangan. Perkembangan ekonomi di kawasan pecinan mengalami
perkembanagan lebih pesat di bandingkan dengan kawasan lain di Semarang. Hal
ini dapat di ketahui dari kemunculan pedagang-pedagang besar, antara lain Khouw
Ping yang memiliki sejumlah gudang besar di pinggir sungai.
Berkisah tentang kemajuan perdagangan di daerah Pecinan, haruslh
diakui bahwa keberadaan kali Semarang sangat penting sebab merupakan penghubung
antara pelabuhan dan pedalaman kota Semarang. Sementara itu di Pecinan terkenal
seorang pedagang bernama KHUW PING yang memiliki daerah di tepi kali Semarang.
Dimana gudang-gudang besar telah dibangun untuk menyimpan barabg-barang
dagangannya, dan daerah itu terkenal hingga sekarang dengan nama KALIKOPING.
DAFTAR PUSTAKA
Tio, Jongkie. Kota Semarang Dalam Kenangan. Semarang:
Daerah Tingkat II Semarang.
Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan
Perkembangan Kota. Yogyakarta: Ombak.
Thian Joe, Liem. 2004. Riwayat Semarang. Jakarta: Hasta Wahana
Jakarta.
Muhammad, Djawahir. Semarang Sepanjang Jalan Kenangan. Semarang,
Kerjasama Pemda Kadio Semarang-DKJT-Aktor Studio
Ernawati,D ewi. 1004. Perkembangan Etnis Cina Muslim Di Kawasan
Pecinan Semarang Tahun 1999
Sumber Internet:
Irfan Utamin,
http://asalusulbudayationghoa. blogspot.com, 2012)
LAMPIRAN

Gambar gapura masuk ke kampung pecinan di Semarang
( dokumentasi sendiri )

Gambar kali Semarang yang merupakan cikal bakal masuknya
orang Tionghoa

Gambar saat wawancara dengan salah satu warga
kampung pecinan

Gambar klenteng terbesar yang ada di kampung
Pecinan
( dokumentasi sendiri )

No comments:
Post a Comment