About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Monday, 21 December 2015

STASIUN GUDANG DI SEMARANG SEBAGAI STASIUN TERTUA DI INDONESIA


PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG MASALAH
kereta api ini bukan hanya yang pertama di Semarang, tetapi juga di Indonesia. Fasilitas umum ini sudah dibangun jauh sebelum Stasiun Tawang dan Poncol berdiri. Riwayat tempat tersebut dimulai saat jalur kereta api antara Semarang dan Tanggung.
Jalur ini dioperasikan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), sebuah perusahaan swasta yang mendapat konsesi pemerintah. Kantor pusat NIS sekarang dikenal masyarakat dengan sebutan Gedung Lawang sewu.
Karena terletak di Kelurahan Kemijen, orang juga mengenalnya sebagai Stasiun Kemijen. Stasiun ini terletak di ujung jalan yang ketika itu disebut spoorland (kini Jalan Ronggowarsito), sekitar satu kilometer dari Kota Lama dan tidak jauh dari pelabuhan. Karena dikelilingi rawa-rawa, tidak heran bila stasiun ini menjadi langganan banjir seperti Stasiun Tawang sekarang.
Stasiun ini merupakan stasiun ujung atau terminus station. Dalam bahasa Belanda disebut kopstation. Fungsinya sama dengan stasiun Jakarta Kota yang masih bisa kita lihat sekarang, namun ukurannya lebih kecil. Denah bangunan stasiun ini berbentuk U.
B.       FOKUS KAJIAN
          Dalam penelitian ini, hanya membatasi pada sejarah stasiun kereta api pertama di Indonesia. Dan stasiun yang berada di pulau Jawa dan manfaat ctasiun sebagai cagar budaya dalam pembelajaran sejarah. Dengan adanya pembatasan penelitian ini akan mempermudah dalam pengumpulan data yang dinginkan sehingga prosesi penelitian akan lebih efektif dan efisien. Untuk hasil penelitian dengan pembatasan ini akan terstruktur dan tidak melebar pada hal-hal yang membingungkan.
          Fokus kajian pertama yaitu sejarah singkat Stasiun Semarang Gudang sebagai stasiun pertama di Indonesia, fungsi Stasiun Semarang Gudang, Pemberhentian Stasiun Semarang Gudang.

C.      RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana sejarah Stasiun Semarang Gudang di Indonesia ?
2.      Bagaimana fungsi Stasiun Semarang Gudang sebagai sarana transportasi kereta api pertama di Indoneisa ?
D.      TUJUAN PENELITIAN
1.      Mengetahui sejarah Stasiun Semarang Gudang di Indonesia.
2.      Mengetahui fungsi Stasiun Semarang Gudang sebagai sarana transportasi kereta api pertama di Indoneisa.
E.       MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.         Kegunaan Praktis
a.       Bagi Masyarakat, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan Informasi tentang Stasiun Tambak Sari atau Stasiun Gudang, serta manfaatnya dalam Pembelajaran Sejarah.
b.      Bagi Peneliti, seluruh rangkaian kegiatan dan penelitian diharapkan dapat lebih memantapkan penguasaan fungsi keilmuan yang dipelajari selama mengikuti program studi pendidikan sejarah di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.
2.         Kegunaan Akademis
Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang berguna untuk dijadikan acuan bagi sivitas akademika. Laporan penelitian ini diharapkan menjadi bahan-bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.
F.       METODE PENELITIAN
Kajian ini merupakan kajian bidang sejarah oleh karena itu dalam penelitian ini juga mengunakan cara kerja dan metode sejarah yang terdiri dari langkah-langkah:heuristik, kritik, interpretasi, dan historigrafi. Proses mengkaji dan menguji kebenaran rekaman dan peninggalan sejarah masa lampau dan menganalisi secara kritis, merupakan metode sejarah. Adapun langkah-langkah kerjanya sebagai berikut.
1.      Pencarian sumber baik sumber pustaka, maupun sumber lapangan. Dalam pencarian sumber ini sekaligus dilakukan identifikasi data, yaitu berbagai sumber baik yang tertulis dan lisan yang relevan. Kemudian dari fakta-fakta yang terkumpul dengan konsep kebenaran sesuai dengan relevansi pokok persoalan.
2.      Studi lapangan yaitu observasi untuk melakukan peninjauan ke obyek penelitian, yaitu kompleks bangunan Stasiun Semarang Gudang.
3.      Menganalisis data-data yang sudah terkumpul kemudian mencari hubungan  dan membandingkan antar fakta yang ada,  untuk ditarik kesimpulan yang efektif dengan pokok persoalan.
Data dan Sumber data,
Data yang digunakan yaitu data tertulis dan data lisan. Data tertulis digunakan untuk melngkapi data lisan yang yang diperoleh dari lapangan. Data tertulis diperoleh melalui kajian pustaka. Sedangkan data lisan diperoleh melalui wawancra kolektif Narasumber. Sumber data yang digunakan berasal dari obyek kajian dilapangan dan sumber tertulis yang berada di perpustakaan atau pusat arsip.
G.      KERANGKA ISI
Untuk mendapatkan gambaran singkat tulisan ini disusun dengan sistematika sebgai berikut:
BAB 1                    PENDAHULUAN
                               Pendahuluan berisi tentang latar belakang, fokus kajian, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, krangka isi dan kajian pustaka.
BAB 2                   GAMBARAN UMUM OBYEK KAJIAN
                               Pada bab ini akan dibahas mengenai Sejarah dan Fungsi Stasiun Semarang Gudang.
BAB 3                   LETAK DAN TEMPAT STASIUN SEMARANG GUDANG SEBAGAI STASIUN KERETA API PERTAMA DI INDONESIA
            Letak dan tempat Stasiun Semarang Gudang sebagai stasiun kereta api pertama di Indonesia meliputi pembahasan tentang tempat bangunan Stasiun Semarang Gudang sebagai alat transportasi kereta api pertama di Indonesia.
BAB 4                   PEMANFAATAN STASIUN SEMARANG GUDANG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH
                               Sedangkan fokus kajian yang kedua tentang pemanfaatan bangunan Stasiun sebagai pembelajaran sejarah. sejarah di bangunan Stasiun Semarang Gudang.
BAB 5                   SIMPULAN DAN SARAN
                               Merupakan bab terakhir yang merupakan kesimpulan dari data-data atau fakta-fakta yang di sajiakan dari bab I sampai bab IV setelah mendaapatkan interpretasi dan analisis data suatu pokok persoalan.






















BAB II
GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

A.      Sejarah Stasiun Semarang Gudang
Perkembangan kota Semarang dan perdagangan dari tahun ke tahun semakin cepat, karenanya Pemerintah Belanda pada waktu itu berupaya mengembangkan sarana transportasi. Dalam bulan Juni 1876 Gubernur Jendral Mr. Baron Sloet dan de Boele membuka hubungan kereta api pertama antara Semarang dengan Vorsrenladen. Kereta api yang pertama diberangkatkan dari stasiun kereta api pertama yang terletak di daerah Tambaksari.[1]
Pengelola transportasi kereta api ialah N.I.S singkatan dari Nederlandsch Indische Spoorwegen dan terus berkembang ditahun 1870 dapat diselesaikan hubungan sampai kota Solo dan tahun 1872 sampai Yogja. Sementara sekitar tahun 1882 dibuka hubungan kereta api dari Semarang ke sebelah timur sampai Juana oleh S.I.S (Semarang Juana Stoomtram Maatschappij) yang berpusat di Stasiun Central yang kemudian menjadi stasiun barang. Gedung stasiun ini dibuat indah sekali dengan konstruksi besi dan banyak kacanya di samping dan atapnya hingga tampak megah.[2]
Stasiun kereta api ini bukan hanya yang pertama di Semarang, tetapi juga di Indonesia. Fasilitas umum ini sudah dibangun jauh sebelum Stasiun Tawang dan Poncol berdiri. Riwayat tempat tersebut dimulai saat jalur kereta api sepanjang 25 kilometer antara Semarang dan Tanggung dibuka pada 10 Agustus 1867. Proyek tersebut merupakan bagian pertama jalur Semarang–Surakarta–Yogyakarta yang seluruhnya selesai dibangun pada 1873. Jalur ini dioperasikan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), sebuah perusahaan swasta yang mendapat konsesi pemerintah. Kantor pusat NIS sekarang dikenal masyarakat dengan sebutan Gedung Lawangsewu.
Stasiun ini diresmikan pada 16 Juni 1864, bersamaan dengan  pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api Semarang–Vorstenlanden (daerah kekuasaan Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta) oleh Gubernur Jendral Baron Sloet van de Beele. Karena terletak di Kelurahan Kemijen, orang juga mengenalnya sebagai Stasiun Kemijen. Stasiun ini terletak di ujung jalan yang ketika itu disebut spoorlan (kini Jalan Ronggowarsito), sekitar satu kilometer dari Kota Lama dan tidak jauh dari pelabuhan. Karena dikelilingi rawa-rawa, tidak heran bila stasiun ini menjadi langganan banjir seperti Stasiun Tawang sekarang.
Stasiun ini merupakan stasiun ujung atau terminus station. Dalam bahasa Belanda disebut kopstation. Fungsinya sama dengan stasiun Jakarta Kota yang masih bisa kita lihat sekarang, namun ukurannya lebih kecil. Denah bangunan stasiun ini berbentuk U.[3]
Pada 1914, NIS meresmikan penggunaan stasiun baru yang lebih modern di Tawang untuk menyambut Koloniale Tentoonstelling, sebuah Pekan Raya Internasional di Semarang yang berlangsung pada 20 Agustus hingga 22 November 1914. Agar jalur rel bisa mencapai stasiun baru itu maka sebagian Stasiun Tambaksari dibongkar. Bangunan yang tersisa, yaitu sayap utara masih dipakai hingga zaman kemerdekaan sebagai stasiun barang. Tempat ini kemudian dikenal pula sebagai Stasiun Semarang Gudang. (Tjahjono Raharjo).[4]
Dan pada akhirnya pada tahun 1914 Stasiun Semarang Gudang ditutup. Serta Pemberhentian operasional pengangkutan barang di stasiun itu otomatis mematikan jalur KA antara stasiun itu dan pelabuhan. Jalur kereta tersebut juga semakin tak terawat  dipenuhinya rerumputan liar.
Sebagian rel telah berkarat lantaran terendam rob termasuk rel yang berada di peron stasiun. Selain itu banyak besi rel yang semula merupakan bagian dari deretan sepur, akhirnya hilang dijarah. Bahkan peralatan seperti wesel elektrik, sampai sinyal elektrik juga menjadi sasaran korban vandalisme. Deretan gerbong GGW PT. Pusri juga dibiarkan terguling tanpa bogi. Kondisi menyedihkan ini memang tidak bisa dibiarkan, karena lambat tapi pasti stasiun bersejarah tersebut akan lenyap dan pihak Daop IV PT Kereta Api (Persero) akan merasa kehilangan.[5]
Upaya penyelamatan perlu dilakukan sejak dini, misalnya dengan mengupayakan fungsi stasiun tersebut sebagai stasiun untuk menunjang aktivitas bongkar muat barang, baik dari pelabuhan maupun dari truk peti kemas untuk dialihkan ke angkutan kereta api peti kemas menuju Surabaya, Solo, Yogya, Bandung, atau Jakarta. Dan selanjutnya digantikan oleh Stasiun Tawang yang diresmikan penggunaannya pada 1 Juni 1914. Stasiun ini dibangun untuk menggantikan stasiun Samarang NIS di Tambaksari yang dianggap sudah tidak memadai lagi sekaligus menyambut Koloniale Tentoonstelling, pekan raya internasional untuk memperingati 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol yang diadakan di kota Semarang.[6]
Stasiun ini adalah yang terakhir dibangun di Semarang sampai saat ini. Proses pembangunannya berlangsung sekitar tiga tahun. Rancangan bangunan ini dibuat oleh Ir. Sloth Blauwboer yang diperkirakan adalah staff NIS. Meski hasil rancangannya terkesan megah, arahan direksi NIS di Den Haag lebih menekankan pada bangunan yang fungsional. Stasiun Tawang dirancang sebagai perhentian kereta api jurusan Solo dan Yogya melalui rel 1435 mm. Pada 1924 Tawang menjadi perhentian kereta api Surabaya melalui Brumbung, Gambringan dan Cepu denganlebar sepur 1067 mm. Untuk itu dibangun peron baru di utara peron sepur lebar. Sampai sekarang stasiun besar Tawang masih berfungsi sebagai stasiun utama Semarang untuk pemberangkatan dan kedatangan KA kelas eksekutif dan bisnis. Setiap tahun tidak kurang dari 600.000 penumpang menggunakan stasiun ini.[7]
B.       Fungsi Stasiun Semarang Gudang
Stasiun Samarang NIS didirikan karena pemerintah kolonial Belanda membutuhkan jalur dan sarana transportasi yang cepat, masal, dan efisien untuk mengangkut hasil perkebunan seperti kopi, tembakau, teh, dan gula. Juga hasil hutan seperti kayu jati. Ketika itu usaha perkebunan dan hasil bumi mulai berkembang pesat di daerah pedalaman. Sebelum ada kereta, komoditas dagang itu diangkut dengan pedati.[8] Dan setelah itu pada tahun 1974 Stasiun Semarang Gudang digunakan untuk mengangkut muatan yang pertama yaitu barang-barang pertamina seperti BBM dan yang selanjutnnya yaitu  kontainer dan semen, dan barang yang keluar dari stasiun itu yang utama adalah pupuk yang diambil dari Palembang.
Menteri pemerintah penjajah Baud tampaknya memperhatikan persoalan ini. Pertama-tama dia menyarankan untuk memakai sarana transportasi unta dan kerbau, kemudian tahun 1842 dia mengusulkan untuk mendirikan jaringan jalan kereta yang ditarik binatang. Meskipun usul-usul itu tidak dilaksanakan, tetapi hal itu menunjukan seriusnya masalah transportasi di Jawa Tengah pada awal abad 19 (Encyclopaedi Van Nederlandsch – Indie IV:66). Penguasa penjajah mencatat keberhasilan ketika pemerintah di Hague pada tahun 1860 mengirim ke Jawa seorang insinyur sipil Stieltjes. Dia ditugaskan untuk meneliti dan merencanakan jaringan kereta api. Dia mengusulkan dimulai dari Semarang ke daerah-daerah kerajaan, tetapi proyek tersebut ditunda oleh pemerintah Belanda. 3 tahun kemudian 3 perusahaan patungan mendapat ijin kontrak membangun jaringan kereta api Semarang ke daerah-daerah kerajaan. Ide-ide stieltjes tetap dipakai. Pemerintah di Batavia menjamin akan membayar bunga untuk modal yang ditanamkan. Tak lama setelah itu perusahaan memindahkan haknya kepada Nederlands Indies Railway Company (NIS). Karena adanya bantuan finansiel dari Batavia, bagian I dibuka pada tahun 1867. Sementara itu seluruh jaringan sepanjang 203 km, baru dapat dipakai pada tahun 1873. Investasi besar yang berjumlah 20 juta gulden merupakan proyek modern berskala besar yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah penjajah di Indonesia. Pembangunan tersebut mengalami sukses besar, dalam 20 tahun hutang pemerintah dapat terbayar.[9]
Kehidupan perekonomian di Pulau Jawa banyak dipengaruhi oleh depresi perekonomian dunia. Tetapi sementara itu para ahli sejarah berhasil meyakinkan pentingnya mengadakan harga-harga barang untuk bertahan seperti yang dilakukan seperti yang dilakukan negara-negara barat. Proses perkembangan perekonomian di Indonesia sejauh ini hampir tidak belajar dari perkembangan harga pasar dunia. Pada saat ada penurunan harga pasar dunia, orang-orang barat yang ahli ekonomi yang berada di Indonesia bereaksi dengan baik sesuai dengan yang disarankan dengan buku-buku  ekonomi untuk mengatasi masalah tersebut. Mereka menyarankan untuk memperbesar produksi dan meneliti cara, alat serta memperkenalkan metode-metode penurunan harga sepaya dapat mempertahankan laba minimal sumber produksinya adalah Jawa Tengah.
Meskipun demikian kita tidak boleh lupa bahwa faktor-faktor internal masyarakat juga berperan. Peningkatan produksi pangan khususnya padi tidak seimbang dengan peningkatan jumlah penduduk. Akibatnya Jawa menjadi pengimport bahan pangan.
Analisis awal terhadap bentuk transportasi Semarang ke daerah kerajaan dilakukan oleh sejarawan Indonesia Irawan. Selama sepuluh tahun pertama volume transportasi meningkat menjadi 2 kali lipat. Gula adalah produk utama yang diangkut dari pedalaman Pulau Jawa dan daerah Jawa bagian utara, sementara kopi menduduki tempat ke-2 (Irawan 1979). Keberhasilan perkereta apian dapatlah diilustrasikan dengan data-data sebagai berikut:

Volume angkutan K.A                                    Jumlah eksport total pem.
Semarang-ke daerah kerajaan p.p                   Kolonial di Indonesia dlm.
dalam Ton. Sumber Irawan 1979;                   ton. Sumber: Creutzberg
66 – 9.                                                             1975, I:35
1874                105.037                                   1874                362.380
1883                193.449                                   1883                515.244
1900                459.060                                   1900              1.325.086

Pada tahun 1883 proporsi transportasi meningkat jika dibandingkan dengan tahun 1874. Tahun 1900 jumlah eksport Indonesia meningkat pesat yang disebabkan perdagangan dengan luar negeri, dan perhubungan antar Semarang ke daerah kerajaan juga semakin meningkat.[10]
Dan setelah itu pada tahun 1974 Stasiun Semarang Gudang digunakan untuk mengangkut muatan yang pertama yaitu barang-barang pertamina seperti BBM dan yang selanjutnnya yaitu  kontainer dan semen, dan barang yang keluar dari stasiun itu yang utama adalah pupuk yang diambil dari Palembang.[11]
Kesimpulannya yang dapat diambil adalah sesuai beberapa pernyataan yang dapat dihimpun dari laporan-laporan residence Semarang. Pada tahun 1874 dikatakan bahwa produksi eksport bahan pertanian dikuasai oleh orang-orang Eropa, kecuali tembakau. Tanaman ini ditanam oleh orang-orang Jawa berdasarkan pesanan pedagang Eropa. Secara tradisi kopi merupakan tanaman pokok didaerah Semarang, tetapi menurut laporan tahun 1886, produk ini sudah tidak begitu diperlukan lagi dan hal yang sama juga dikatakan untuk tahun 1899.[12] Setahun kemudian volume 4 macam produk tanaman eksport utama menurut Steven adalah sebagai berikut:
Tanaman
Jumlah per Ton
Gula
138.692
Tembakau
8393
Kopi
4523
Kapuk
1509

Jaringan kereta api Semarang – Juwana (300km) dan Semarang – Cirebon (275km) membuat kota perdagangan Semarang semakin makmur. Celakanya data untuk melecak perkembangan transportasi di kawasan ini hilang. Satu-satunya data yang ada hanya sampai tahun 1900. Pada tahun tersebut sebanyak 180.141 ton barang dari Semarang ke Juwana p.p dan 222.713 ton dari Semarang ke Cirebon (Encyclopaedie van Indie IV: 83). Sementara itu jaringan kereta api dari Semarang ke daerah kerajaan hanya mengangkut 52% jumlah seluruh barang. Ternyata jumlah barang yang diangkut dari daerah selatan lebih kecil dari yang diperkirakan. Situasi jaringan perkereta apian di sekitar Semarang ternyata kurang memuaskan. 3 perusahaan beroperasi di sini mengerjakan 4 macam yang berbeda. Akibatnya banyak pekerjaan bongkar muat barang kembali, sehingga banyak waktu yang terbuang percuma yang mengakibatkan tingginya biaya tambahan. Di Semarang saja perusahaan perkereta apian harus mengelola 3 jaringan kereta api yang berbeda di kawasan dekat pelabuhan, dan hal ini menimbulkan persoalan tersendiri (Oegema 1982:29). [13]

BAB III
LETAK DAN TEMPAT STASIUN SEMARANG GUDANG SEBAGAI STASIUN KERETA API PERTAMA DI INDONESIA

Stasiun pertama di Semarang (termasuk pertama di Indonesia) adalah stasiun Samarang NIS yang terletak di Tambaksari, kelurahan Kemijen, Semarang Timur, Jawa Tengah. Stasiun ini mulai dipakai sejak beroperasinya jalur Semarang Tanggung pada tahun 1867. Stasiun ini merupakan stasiun ujung (kopstasion) berbentuk U. Salah satu sayap sebagai gudang barang sedangkan sayap lain untuk penumpang. Awalnya adalah membangun jalur rel Semarang–Vorstenlanden (wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur). Pembangunan ini dilaksanakan oleh Nederlandsch–Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS). Sejak tahun 1867, meskipun didera kesulitan keuangan dan teknis, dimulailah pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Semarang–Tanggung sepanjang 27 km. Peresmiannya baru dilakukan pada 10 agustus 1867. Lima tahun kemudian lintasan Semarang–Surakarta–Yogyakarta bisa dikerjakan dengan susah payah, termasuk lintasan cabang Kedung Jati–Ambarawa untuk kepentingan militer.[14]
Adanya keuntungan yang mampu diraih dari bisnis kereta api ini mendorong munculnya perusahaan kereta api di Jawa diantaranya Semarang–Joana Stoomtram Maatschaappij (SJS) dan Semarang–Ceribon Stoomtram Maatschappij (SCS).
Stasiun ini punya dua bagian bangunan, satu sayap adalah gudang barang, sedang sayap yang lain stasiun penumpang. Sedang Halte Kemijen yang selama ini disangka sebagai stasiun pertama, justru lebih kecil mirip dengan rumah sinyal daripada stasiun. Meski sama-sama untuk menurunkan penumpang, namun hanya ada satu jalur kereta. Itu berbeda dengan Samarang NIS yang punya tiga jalur. Sekarang bangunan stasiun sudah berganti menjadi pemukiman padat penduduk dan jalan bernama Spoorland RT 01 dan Spoorland RT 02. Sisa-sisa peninggalan yang jumlahnya sudah tidak banyak, dulunya adalah bagian belakang stasiun yang berfungsi sebagai peron untuk menunggu kereta api datang.
Sejak menempati pemukiman yang dulunya adalah asrama spoorland pada 1962, wilayah tersebut sudah menjadi pemukiman. Yang tersisa saat itu adalah bagian bangunan Samarang NIS Stasiun Gudang atau disebut depo lokomotif. Pada tahun 70-an, masih banyak langsiran barang ke pelabuhan. Dulu ramai, sampai ada 12 jalur kereta.
Peta-peta kuno dari Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT/Royal Tropical Institute), Amsterdam, Belanda, berkisah banyak tentang perkembangan kompleks Stasiun Samarang di pinggir Pelabuhan Tanjung Emas sekarang. Peta tahun 1867, ketika Stasiun Samarang diresmikan, menunjukkan jalur rel sederahana yang menghubungkan stasiun penumpang, stasiun kanal, stasiun barang, dan balai yasa. Jalur rel ke timur menghubungkan Stasiun Samarang ke Tanggung.[15]
Peta tahun 1898 menunjukan, perkembangan jalur rel dari stasiun kanal dilanjutkan hingga ujung kanal utama pelabuhan. Ini disebabkan kanal penghubung tak ada lagi sehingga jalur rel dilanjutkan sampai pelabuhan utama. Berdasarkan peta 1917, jalur rel kereta utama NIS tak lagi terhenti di Stasiun Samarang, tetapi berlanjut hingga Stasiun Tawang. Pada peta kuno KIT setelah 1925, gambar Stasiun Samarang ada yang dihilangkan dan ada yang dimunculkan lagi. Pada masa pendudukan Jepang 1942-1945, perbedaan jalur rel dihapuskan. Sebagian besar jalur rel selebar 1.435 milimeter diciutkan jadi 1.067 milimeter. Itu termasuk jalur rel utama yang pertama kali menghubungkan Semarang-Surakarta-Yogyakarta milik NIS.[16]
Stasiun Samarang adalah sepenggal kisah sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia. Posisinya sebagai stasiun kereta api pertama tak kalah penting dengan dinamika perubahannya. Itu semua jejak sejarah yang amat sangat berharga, yang kini masih terabaikan.
Samarang NIS mulai hilang sejak sebagian stasiun dirobohkan untuk memasang rel menuju ke Stasiun Tawang pada 1914, dengan hanya menyisakan gudang barang. Sekarang stasiun Samarang NIS dikenal sebagai stasiun Semarang Gudang.


























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
Dari pembahasan bab 2, 3 dan 4 dapat kita simpulkan bahwa Stasiun Semarang Gudang merupakan stasiun pertama dan tertua di Indonesia serta berperan penting terhadap proses perkembangan trasportasi khususnya di Pulau Jawa.
Pengaruh Stasiun Semarang Gudang ini berperan penting untuk berjalannya kehidupan masyarakat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini stasiun tersebut menjadi pusat kereta api yang khusus mengangkut barang pada saat itu dan menjadi stasiun pertama yang ada di Indonesia.
Akan tetapi keadaan yang menyedihkan sekali melihat kondisi bangunan pada saat ini yang dikelilingi oleh banjir atau rob. Dan tidak ada pengembangan dari pemerintah pada sampai saat ini. Hal ini membuat para kalangan penikmat cagar budaya yang sangat sedih melihat kondisi ini.
Dengan demikian kita sebagai mahasiswa yang aktif, mari kita mengembangkan, menjaga, dan melestarikan Stasiun Semarang Gudang menjadi aset yang memadahi untuk wisata. Walaupun tidak aktif sebagai stasiun pada umumnya, akan tetapi stasiun semarang gudang dapat menjadi tempat pembelajaran sejarah yang bersih dan terjaga kenyamanannya.
B. Saran –saran
Selama menjalankan penelitian, penulis memperoleh pengalaman .penulis mencoba memberikan saran –saran bagi golongan atau organisasi manapun yang terkait dan kepada rekan-rekan sebagai berikut:
1.      Meberikan tempat yang layak untuk wawancara apabila sejarawan atau dari pihaka manapun untuk mencari informasi.
2.      Pemerintah daerah diharapkan bisa mengelola dan mengatur para bangunan-bangun yang ilegal sehingga selain membuat jalan sempit juga membuat sulit bagi peneliti yang ingin meneliti disekitar situs yang ditempati.
3.      Pengetahuan narasumber mengenai sejarah dan bisa ditingkatkan lagi dengan memperbanyak sumber leteratur yang lebih ilmiah
4.      untuk kelompok 4 jaga terus kekompakannya, ini merupakan pengalaman yang luar biasa.


















Daftar Pustaka
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Jawa Tengah Musium Jawa Tengah
Muspriyanto, Edi, dkk. “Semarang Tempo Doeloe:Meretas Masa”, Semarang: Terang Publishing
Tio, Jongkie. “Kota Semarang dalam kenangan”.
Peter.(1986).”The Indonesian City Studies In Urban Development And Palnning”.

Sumber Wawancara :
Sadiman. tanggal 25 Juni 2014
Sumber Internet :
Nugroho. “Menyelamatkan Semarang Gudang”. http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2010/01/27/96712. Pada tanggal  27 Januari 2010
Peter.(1986).”The Indonesian City Studies In Urban Development And Palnning”.
Winarto, “Menelusuri Jejak Stasiun Kereta Api Pertama di Indonesia”. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/02/menelusuri-jejak-stasiun-kereta-api-pertama-di-indonesia. Pada tanggal Jumat, 28 Februari 2014
Wordpress, “Jalur Kereta
Api Pertama di Indonesia & Stasiun di Semarang”, http://seputarsemarang.com/jalur-kereta-api-pertama-di-indonesia-stasiun-di-semarang/.
Nugroho. “Menyelamatkan Semarang Gudang”. http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2010/01/27/96712. Pada tanggal  27 Januari
2010
Hurahura, “Semarang NIS stasiun tertua di Indonesia”. http://hurahura.wordpress.com/2012/12/22/semarang-nis-stasiun-tertua-ada-di-indonesia/. Pada tanggal 22 desember 2012.


















Lampiran




[1] Tio, Jongkie. “Kota Semarang dalam kenangan”. Halaman 32
[2] Ibid
[3] Muspriyanto, Edi, dkk. “Semarang Tempo Doeloe:Meretas Masa”, Semarang: Terang Publishing halaman 53-54.
[4] Ibid.
[5] Nugroho. “Menyelamatkan Semarang Gudang”. http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2010/01/27/96712. Pada tanggal  27 Januari 2010
[6] Nugroho. “Menyelamatkan Semarang Gudang”. http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2010/01/27/96712. Pada tanggal  27 Januari 2010
[7] Ibid.
[8] Hurahura, “Semarang NIS stasiun tertua di Indonesia”. http://hurahura.wordpress.com/2012/12/22/semarang-nis-stasiun-tertua-ada-di-indonesia/. Pada tanggal 22 desember 2012.
[9] Peter.(1986).”The Indonesian City Studies In Urban Development And Palnning”. Halaman 5-8
[10] Ibid. Halaman 7
[11] Wawancara, Sadiman. Pada tanggal 25 Juni 2014
[12] Peter.(1986).”The Indonesian City Studies In Urban Development And Palnning”. Halaman 13
[13] Ibid. Halaman 8
[14] Wordpress, “Jalur Kereta Api Pertama di Indonesia & Stasiun di Semarang”, http://seputarsemarang.com/jalur-kereta-api-pertama-di-indonesia-stasiun-di-semarang/.
[15] Winarto, “Menelusuri Jejak Stasiun Kereta Api Pertama di Indonesia”. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/02/menelusuri-jejak-stasiun-kereta-api-pertama-di-indonesia. Pada tanggal Jumat, 28 Februari 2014
[16] Ibid.

1 comment:

  1. TRADING ONLINE TERPERCAYA
    Ini dia, Broker Trading yang Transaksi Aman dan Proses Cepat
    HASHTAG OPTION merupakan platform trading Binary Option berbasis di Indonesia.
    Kami menawarkan produk-produk Cryptocurrency & Forex.

    yuk gabung yukkk visit link nya www.hashtagoption.com
    Minimal DP Rp. 50.000,- dapat BONUS Depo awal 10%** T&C
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT

    Ada BONUS REFERRAL juga lohhh...
    Bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover....

    Kami juga menyediakan AKUN DEMO untuk Trader HASHTAG OPTION yang ingin berlatih, sampai kamu benar-benar bisa menuju AKUN REAL

    ReplyDelete

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...