PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
kereta api ini bukan hanya yang pertama
di Semarang, tetapi juga di Indonesia. Fasilitas umum ini sudah dibangun jauh
sebelum Stasiun Tawang dan Poncol berdiri. Riwayat tempat tersebut dimulai saat
jalur kereta api antara Semarang dan Tanggung.
Jalur ini dioperasikan
Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), sebuah perusahaan swasta
yang mendapat konsesi pemerintah. Kantor pusat NIS sekarang dikenal masyarakat
dengan sebutan Gedung Lawang sewu.
Karena terletak di Kelurahan Kemijen,
orang juga mengenalnya sebagai Stasiun Kemijen. Stasiun ini terletak di ujung
jalan yang ketika itu disebut spoorland (kini Jalan Ronggowarsito), sekitar
satu kilometer dari Kota Lama dan tidak jauh dari pelabuhan. Karena dikelilingi
rawa-rawa, tidak heran bila stasiun ini menjadi langganan banjir seperti
Stasiun Tawang sekarang.
Stasiun ini merupakan stasiun ujung atau
terminus station. Dalam bahasa Belanda disebut kopstation. Fungsinya sama
dengan stasiun Jakarta Kota yang masih bisa kita lihat sekarang, namun
ukurannya lebih kecil. Denah bangunan stasiun ini berbentuk U.
B.
FOKUS
KAJIAN
Dalam penelitian ini, hanya membatasi
pada sejarah stasiun kereta api pertama di Indonesia. Dan stasiun yang berada di
pulau Jawa dan manfaat ctasiun sebagai cagar budaya dalam pembelajaran sejarah.
Dengan adanya pembatasan penelitian ini akan mempermudah dalam pengumpulan data
yang dinginkan sehingga prosesi penelitian akan lebih efektif dan efisien.
Untuk hasil penelitian dengan pembatasan ini akan terstruktur dan tidak melebar
pada hal-hal yang membingungkan.
Fokus kajian pertama yaitu sejarah
singkat Stasiun Semarang Gudang sebagai stasiun pertama di Indonesia, fungsi
Stasiun Semarang Gudang, Pemberhentian Stasiun Semarang Gudang.
C.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana
sejarah Stasiun Semarang Gudang di Indonesia ?
2. Bagaimana
fungsi Stasiun Semarang Gudang sebagai sarana transportasi kereta api pertama
di Indoneisa ?
D.
TUJUAN
PENELITIAN
1. Mengetahui
sejarah Stasiun Semarang Gudang di Indonesia.
2. Mengetahui
fungsi Stasiun Semarang Gudang sebagai sarana transportasi kereta api pertama
di Indoneisa.
E.
MANFAAT
PENELITIAN
Manfaat
yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Kegunaan Praktis
a. Bagi
Masyarakat, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan
Informasi tentang Stasiun Tambak Sari atau Stasiun Gudang, serta manfaatnya
dalam Pembelajaran Sejarah.
b. Bagi
Peneliti, seluruh rangkaian kegiatan dan penelitian diharapkan dapat lebih
memantapkan penguasaan fungsi keilmuan yang dipelajari selama mengikuti program
studi pendidikan sejarah di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas
Negeri Semarang.
2.
Kegunaan Akademis
Bagi
perguruan tinggi, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dokumen akademik
yang berguna untuk dijadikan acuan bagi sivitas akademika. Laporan penelitian
ini diharapkan menjadi bahan-bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.
F.
METODE
PENELITIAN
Kajian
ini merupakan kajian bidang sejarah oleh karena itu dalam penelitian ini juga
mengunakan cara kerja dan metode sejarah yang terdiri dari langkah-langkah:heuristik,
kritik, interpretasi, dan historigrafi. Proses mengkaji dan menguji kebenaran
rekaman dan peninggalan sejarah masa lampau dan menganalisi secara kritis,
merupakan metode sejarah. Adapun langkah-langkah kerjanya sebagai berikut.
1. Pencarian
sumber baik sumber pustaka, maupun sumber lapangan. Dalam pencarian sumber ini
sekaligus dilakukan identifikasi data, yaitu berbagai sumber baik yang tertulis
dan lisan yang relevan. Kemudian dari fakta-fakta yang terkumpul dengan konsep
kebenaran sesuai dengan relevansi pokok persoalan.
2. Studi lapangan yaitu observasi untuk melakukan peninjauan ke obyek penelitian, yaitu kompleks bangunan
Stasiun Semarang Gudang.
3. Menganalisis
data-data yang sudah terkumpul kemudian mencari hubungan dan membandingkan antar fakta yang ada, untuk ditarik kesimpulan yang efektif dengan
pokok persoalan.
Data dan Sumber data,
Data yang digunakan yaitu data tertulis
dan data lisan. Data tertulis digunakan untuk melngkapi data lisan yang yang diperoleh
dari lapangan. Data tertulis
diperoleh melalui kajian pustaka. Sedangkan data lisan diperoleh melalui
wawancra kolektif Narasumber. Sumber data yang digunakan
berasal dari obyek kajian dilapangan dan sumber tertulis yang berada di
perpustakaan atau pusat arsip.
G.
KERANGKA
ISI
Untuk mendapatkan gambaran singkat
tulisan ini disusun dengan sistematika sebgai berikut:
BAB
1 PENDAHULUAN
Pendahuluan
berisi tentang latar belakang, fokus kajian, rumusan masalah, tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, krangka isi dan kajian
pustaka.
BAB
2
GAMBARAN UMUM OBYEK
KAJIAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai Sejarah
dan Fungsi Stasiun Semarang Gudang.
BAB
3 LETAK DAN TEMPAT STASIUN
SEMARANG GUDANG SEBAGAI STASIUN KERETA API PERTAMA DI INDONESIA
Letak
dan tempat Stasiun Semarang Gudang sebagai stasiun kereta api pertama di
Indonesia meliputi
pembahasan tentang tempat bangunan Stasiun Semarang Gudang sebagai alat
transportasi kereta api pertama di Indonesia.
BAB
4
PEMANFAATAN STASIUN SEMARANG
GUDANG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH
Sedangkan
fokus kajian yang kedua tentang pemanfaatan bangunan Stasiun sebagai pembelajaran
sejarah. sejarah di bangunan Stasiun Semarang Gudang.
BAB
5 SIMPULAN DAN SARAN
Merupakan
bab terakhir yang merupakan kesimpulan dari data-data atau fakta-fakta yang di
sajiakan dari bab I sampai bab IV
setelah mendaapatkan interpretasi dan analisis data suatu pokok persoalan.
BAB II
GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
A.
Sejarah
Stasiun Semarang Gudang
Perkembangan
kota Semarang dan perdagangan dari tahun ke tahun semakin cepat, karenanya
Pemerintah Belanda pada waktu itu berupaya mengembangkan sarana transportasi.
Dalam bulan Juni 1876 Gubernur Jendral Mr. Baron Sloet dan de Boele membuka hubungan
kereta api pertama antara Semarang dengan Vorsrenladen. Kereta api yang pertama
diberangkatkan dari stasiun kereta api pertama yang terletak di daerah
Tambaksari.[1]
Pengelola
transportasi kereta api ialah N.I.S singkatan dari Nederlandsch Indische Spoorwegen
dan terus berkembang ditahun 1870 dapat diselesaikan hubungan sampai kota Solo
dan tahun 1872 sampai Yogja. Sementara sekitar tahun 1882 dibuka hubungan
kereta api dari Semarang ke sebelah timur sampai Juana oleh S.I.S (Semarang
Juana Stoomtram Maatschappij) yang berpusat di Stasiun Central yang kemudian
menjadi stasiun barang. Gedung stasiun ini dibuat indah sekali dengan
konstruksi besi dan banyak kacanya di samping dan atapnya hingga tampak megah.[2]
Stasiun
kereta api ini bukan hanya yang pertama di Semarang, tetapi juga di Indonesia.
Fasilitas umum ini sudah dibangun jauh sebelum Stasiun Tawang dan Poncol
berdiri. Riwayat tempat tersebut dimulai saat jalur kereta api sepanjang 25
kilometer antara Semarang dan Tanggung dibuka pada 10 Agustus 1867. Proyek
tersebut merupakan bagian pertama jalur Semarang–Surakarta–Yogyakarta yang
seluruhnya selesai dibangun pada 1873. Jalur ini dioperasikan
Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), sebuah perusahaan swasta
yang mendapat konsesi pemerintah. Kantor pusat NIS sekarang dikenal masyarakat
dengan sebutan Gedung Lawangsewu.
Stasiun
ini diresmikan pada 16 Juni 1864, bersamaan dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta
api Semarang–Vorstenlanden (daerah kekuasaan Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta)
oleh Gubernur Jendral Baron Sloet van de Beele. Karena terletak di Kelurahan
Kemijen, orang juga mengenalnya sebagai Stasiun Kemijen. Stasiun ini terletak
di ujung jalan yang ketika itu disebut spoorlan (kini Jalan Ronggowarsito),
sekitar satu kilometer dari Kota Lama dan tidak jauh dari pelabuhan. Karena
dikelilingi rawa-rawa, tidak heran bila stasiun ini menjadi langganan banjir
seperti Stasiun Tawang sekarang.
Stasiun
ini merupakan stasiun ujung atau terminus station. Dalam bahasa Belanda disebut
kopstation. Fungsinya sama dengan stasiun Jakarta Kota yang masih bisa kita
lihat sekarang, namun ukurannya lebih kecil. Denah bangunan stasiun ini
berbentuk U.[3]
Pada
1914, NIS meresmikan penggunaan stasiun baru yang lebih modern di Tawang untuk menyambut
Koloniale Tentoonstelling, sebuah Pekan Raya Internasional di Semarang yang
berlangsung pada 20 Agustus hingga 22 November 1914. Agar jalur rel bisa
mencapai stasiun baru itu maka sebagian Stasiun Tambaksari dibongkar. Bangunan
yang tersisa, yaitu sayap utara masih dipakai hingga zaman kemerdekaan sebagai
stasiun barang. Tempat ini kemudian dikenal pula sebagai Stasiun Semarang
Gudang. (Tjahjono Raharjo).[4]
Dan
pada akhirnya pada tahun 1914 Stasiun Semarang Gudang ditutup. Serta
Pemberhentian operasional pengangkutan barang di stasiun itu otomatis mematikan
jalur KA antara stasiun itu dan pelabuhan. Jalur kereta tersebut juga semakin
tak terawat dipenuhinya rerumputan liar.
Sebagian
rel telah berkarat lantaran terendam rob termasuk rel yang berada di peron
stasiun. Selain itu banyak besi rel yang semula merupakan bagian dari deretan
sepur, akhirnya hilang dijarah. Bahkan peralatan seperti wesel elektrik, sampai
sinyal elektrik juga menjadi sasaran korban vandalisme. Deretan gerbong GGW PT.
Pusri juga dibiarkan terguling tanpa bogi. Kondisi menyedihkan ini memang tidak
bisa dibiarkan, karena lambat tapi pasti stasiun bersejarah tersebut akan
lenyap dan pihak Daop IV PT Kereta Api (Persero) akan merasa kehilangan.[5]
Upaya
penyelamatan perlu dilakukan sejak dini, misalnya dengan mengupayakan fungsi
stasiun tersebut sebagai stasiun untuk menunjang aktivitas bongkar muat barang,
baik dari pelabuhan maupun dari truk peti kemas untuk dialihkan ke angkutan
kereta api peti kemas menuju Surabaya, Solo, Yogya, Bandung, atau Jakarta. Dan
selanjutnya digantikan oleh Stasiun Tawang yang diresmikan penggunaannya pada 1
Juni 1914. Stasiun ini dibangun untuk menggantikan stasiun Samarang NIS di
Tambaksari yang dianggap sudah tidak memadai lagi sekaligus menyambut Koloniale
Tentoonstelling, pekan raya internasional untuk memperingati 100 tahun
kemerdekaan Belanda dari Spanyol yang diadakan di kota Semarang.[6]
Stasiun
ini adalah yang terakhir dibangun di Semarang sampai saat ini. Proses
pembangunannya berlangsung sekitar tiga tahun. Rancangan bangunan ini dibuat
oleh Ir. Sloth Blauwboer yang diperkirakan adalah staff NIS. Meski hasil
rancangannya terkesan megah, arahan direksi NIS di Den Haag lebih menekankan
pada bangunan yang fungsional. Stasiun Tawang dirancang sebagai perhentian
kereta api jurusan Solo dan Yogya melalui rel 1435 mm. Pada 1924 Tawang menjadi
perhentian kereta api Surabaya melalui Brumbung, Gambringan dan Cepu
denganlebar sepur 1067 mm. Untuk itu dibangun peron baru di utara peron sepur
lebar. Sampai sekarang stasiun besar Tawang masih berfungsi sebagai stasiun
utama Semarang untuk pemberangkatan dan kedatangan KA kelas eksekutif dan
bisnis. Setiap tahun tidak kurang dari 600.000 penumpang menggunakan stasiun
ini.[7]
B.
Fungsi
Stasiun Semarang Gudang
Stasiun
Samarang NIS didirikan karena pemerintah kolonial Belanda membutuhkan jalur dan
sarana transportasi yang cepat, masal, dan efisien untuk mengangkut hasil
perkebunan seperti kopi, tembakau, teh, dan gula. Juga hasil hutan seperti kayu
jati. Ketika itu usaha perkebunan dan hasil bumi mulai berkembang pesat di
daerah pedalaman. Sebelum ada kereta, komoditas dagang itu diangkut dengan
pedati.[8]
Dan setelah itu pada tahun 1974 Stasiun Semarang Gudang digunakan untuk
mengangkut muatan yang pertama yaitu barang-barang pertamina seperti BBM dan
yang selanjutnnya yaitu kontainer dan
semen, dan barang yang keluar dari stasiun itu yang utama adalah pupuk yang
diambil dari Palembang.
Menteri
pemerintah penjajah Baud tampaknya memperhatikan persoalan ini. Pertama-tama
dia menyarankan untuk memakai sarana transportasi unta dan kerbau, kemudian
tahun 1842 dia mengusulkan untuk mendirikan jaringan jalan kereta yang ditarik
binatang. Meskipun usul-usul itu tidak dilaksanakan, tetapi hal itu menunjukan
seriusnya masalah transportasi di Jawa Tengah pada awal abad 19 (Encyclopaedi
Van Nederlandsch – Indie IV:66). Penguasa penjajah mencatat keberhasilan ketika
pemerintah di Hague pada tahun 1860 mengirim ke Jawa seorang insinyur sipil
Stieltjes. Dia ditugaskan untuk meneliti dan merencanakan jaringan kereta api.
Dia mengusulkan dimulai dari Semarang ke daerah-daerah kerajaan, tetapi proyek
tersebut ditunda oleh pemerintah Belanda. 3 tahun kemudian 3 perusahaan
patungan mendapat ijin kontrak membangun jaringan kereta api Semarang ke
daerah-daerah kerajaan. Ide-ide stieltjes tetap dipakai. Pemerintah di Batavia
menjamin akan membayar bunga untuk modal yang ditanamkan. Tak lama setelah itu
perusahaan memindahkan haknya kepada Nederlands Indies Railway Company (NIS).
Karena adanya bantuan finansiel dari Batavia, bagian I dibuka pada tahun 1867.
Sementara itu seluruh jaringan sepanjang 203 km, baru dapat dipakai pada tahun
1873. Investasi besar yang berjumlah 20 juta gulden merupakan proyek modern
berskala besar yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah penjajah di
Indonesia. Pembangunan tersebut mengalami sukses besar, dalam 20 tahun hutang
pemerintah dapat terbayar.[9]
Kehidupan
perekonomian di Pulau Jawa banyak dipengaruhi oleh depresi perekonomian dunia.
Tetapi sementara itu para ahli sejarah berhasil meyakinkan pentingnya
mengadakan harga-harga barang untuk bertahan seperti yang dilakukan seperti
yang dilakukan negara-negara barat. Proses perkembangan perekonomian di
Indonesia sejauh ini hampir tidak belajar dari perkembangan harga pasar dunia.
Pada saat ada penurunan harga pasar dunia, orang-orang barat yang ahli ekonomi
yang berada di Indonesia bereaksi dengan baik sesuai dengan yang disarankan
dengan buku-buku ekonomi untuk mengatasi
masalah tersebut. Mereka menyarankan untuk memperbesar produksi dan meneliti
cara, alat serta memperkenalkan metode-metode penurunan harga sepaya dapat
mempertahankan laba minimal sumber produksinya adalah Jawa Tengah.
Meskipun
demikian kita tidak boleh lupa bahwa faktor-faktor internal masyarakat juga
berperan. Peningkatan produksi pangan khususnya padi tidak seimbang dengan
peningkatan jumlah penduduk. Akibatnya Jawa menjadi pengimport bahan pangan.
Analisis
awal terhadap bentuk transportasi Semarang ke daerah kerajaan dilakukan oleh
sejarawan Indonesia Irawan. Selama sepuluh tahun pertama volume transportasi
meningkat menjadi 2 kali lipat. Gula adalah produk utama yang diangkut dari
pedalaman Pulau Jawa dan daerah Jawa bagian utara, sementara kopi menduduki
tempat ke-2 (Irawan 1979). Keberhasilan perkereta apian dapatlah diilustrasikan
dengan data-data sebagai berikut:
Volume angkutan K.A Jumlah
eksport total pem.
Semarang-ke daerah kerajaan p.p Kolonial
di Indonesia dlm.
dalam Ton. Sumber Irawan 1979; ton.
Sumber: Creutzberg
1874 105.037 1874 362.380
1883 193.449 1883 515.244
1900 459.060 1900
1.325.086
Pada
tahun 1883 proporsi transportasi meningkat jika dibandingkan dengan tahun 1874.
Tahun 1900 jumlah eksport Indonesia meningkat pesat yang disebabkan perdagangan
dengan luar negeri, dan perhubungan antar Semarang ke daerah kerajaan juga
semakin meningkat.[10]
Dan
setelah itu pada tahun 1974 Stasiun Semarang Gudang digunakan untuk mengangkut
muatan yang pertama yaitu barang-barang pertamina seperti BBM dan yang
selanjutnnya yaitu kontainer dan semen,
dan barang yang keluar dari stasiun itu yang utama adalah pupuk yang diambil
dari Palembang.[11]
Kesimpulannya
yang dapat diambil adalah sesuai beberapa pernyataan yang dapat dihimpun dari
laporan-laporan residence Semarang. Pada tahun 1874 dikatakan bahwa produksi
eksport bahan pertanian dikuasai oleh orang-orang Eropa, kecuali tembakau.
Tanaman ini ditanam oleh orang-orang Jawa berdasarkan pesanan pedagang Eropa.
Secara tradisi kopi merupakan tanaman pokok didaerah Semarang, tetapi menurut
laporan tahun 1886, produk ini sudah tidak begitu diperlukan lagi dan hal yang
sama juga dikatakan untuk tahun 1899.[12]
Setahun kemudian volume 4 macam produk tanaman eksport utama menurut Steven
adalah sebagai berikut:
|
Tanaman
|
Jumlah
per Ton
|
|
Gula
|
138.692
|
|
Tembakau
|
8393
|
|
Kopi
|
4523
|
|
Kapuk
|
1509
|
Jaringan
kereta api Semarang – Juwana (300km) dan Semarang – Cirebon (275km) membuat
kota perdagangan Semarang semakin makmur. Celakanya data untuk melecak
perkembangan transportasi di kawasan ini hilang. Satu-satunya data yang ada
hanya sampai tahun 1900. Pada tahun tersebut sebanyak 180.141 ton barang dari
Semarang ke Juwana p.p dan 222.713 ton dari Semarang ke Cirebon (Encyclopaedie
van Indie IV: 83). Sementara itu jaringan kereta api dari Semarang ke daerah
kerajaan hanya mengangkut 52% jumlah seluruh barang. Ternyata jumlah barang
yang diangkut dari daerah selatan lebih kecil dari yang diperkirakan. Situasi
jaringan perkereta apian di sekitar Semarang ternyata kurang memuaskan. 3
perusahaan beroperasi di sini mengerjakan 4 macam yang berbeda. Akibatnya
banyak pekerjaan bongkar muat barang kembali, sehingga banyak waktu yang
terbuang percuma yang mengakibatkan tingginya biaya tambahan. Di Semarang saja
perusahaan perkereta apian harus mengelola 3 jaringan kereta api yang berbeda
di kawasan dekat pelabuhan, dan hal ini menimbulkan persoalan tersendiri
(Oegema 1982:29). [13]
BAB
III
LETAK
DAN TEMPAT STASIUN SEMARANG GUDANG SEBAGAI STASIUN KERETA API PERTAMA DI
INDONESIA
Stasiun pertama di Semarang
(termasuk pertama di Indonesia) adalah stasiun Samarang NIS yang terletak di
Tambaksari, kelurahan Kemijen, Semarang Timur, Jawa Tengah. Stasiun ini mulai dipakai sejak beroperasinya jalur
Semarang Tanggung pada tahun 1867. Stasiun ini merupakan stasiun ujung
(kopstasion) berbentuk U. Salah satu sayap sebagai gudang barang sedangkan
sayap lain untuk penumpang. Awalnya adalah membangun jalur rel
Semarang–Vorstenlanden (wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, daerah
perkebunan yang subur). Pembangunan ini dilaksanakan oleh Nederlandsch–Indisch
Spoorwegmaatschappij (NIS). Sejak tahun 1867, meskipun didera kesulitan
keuangan dan teknis, dimulailah pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan
Semarang–Tanggung sepanjang 27 km. Peresmiannya baru dilakukan pada 10 agustus
1867. Lima tahun kemudian lintasan Semarang–Surakarta–Yogyakarta bisa
dikerjakan dengan susah payah, termasuk lintasan cabang Kedung Jati–Ambarawa
untuk kepentingan militer.[14]
Adanya
keuntungan yang mampu diraih dari bisnis kereta api ini mendorong munculnya
perusahaan kereta api di Jawa diantaranya Semarang–Joana Stoomtram Maatschaappij
(SJS) dan Semarang–Ceribon Stoomtram Maatschappij (SCS).
Stasiun
ini punya dua bagian bangunan, satu sayap adalah gudang barang, sedang sayap
yang lain stasiun penumpang. Sedang Halte Kemijen yang selama ini disangka
sebagai stasiun pertama, justru lebih kecil mirip dengan rumah sinyal daripada
stasiun. Meski sama-sama untuk menurunkan penumpang, namun hanya ada satu jalur
kereta. Itu berbeda dengan Samarang NIS yang punya tiga jalur. Sekarang
bangunan stasiun sudah berganti menjadi pemukiman padat penduduk dan jalan
bernama Spoorland RT 01 dan Spoorland RT 02. Sisa-sisa peninggalan yang
jumlahnya sudah tidak banyak, dulunya adalah bagian belakang stasiun yang
berfungsi sebagai peron untuk menunggu kereta api datang.
Sejak
menempati pemukiman yang dulunya adalah asrama spoorland pada 1962, wilayah
tersebut sudah menjadi pemukiman. Yang tersisa saat itu adalah bagian bangunan
Samarang NIS Stasiun Gudang atau disebut depo lokomotif. Pada tahun 70-an,
masih banyak langsiran barang ke pelabuhan. Dulu ramai, sampai ada 12 jalur
kereta.
Peta-peta
kuno dari Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT/Royal Tropical Institute),
Amsterdam, Belanda, berkisah banyak tentang perkembangan kompleks Stasiun
Samarang di pinggir Pelabuhan Tanjung Emas sekarang. Peta tahun 1867, ketika
Stasiun Samarang diresmikan, menunjukkan jalur rel sederahana yang
menghubungkan stasiun penumpang, stasiun kanal, stasiun barang, dan balai yasa.
Jalur rel ke timur menghubungkan Stasiun Samarang ke Tanggung.[15]
Peta
tahun 1898 menunjukan, perkembangan jalur rel dari stasiun kanal dilanjutkan
hingga ujung kanal utama pelabuhan. Ini disebabkan kanal penghubung tak ada
lagi sehingga jalur rel dilanjutkan sampai pelabuhan utama. Berdasarkan peta
1917, jalur rel kereta utama NIS tak lagi terhenti di Stasiun Samarang, tetapi
berlanjut hingga Stasiun Tawang. Pada peta kuno KIT setelah 1925, gambar
Stasiun Samarang ada yang dihilangkan dan ada yang dimunculkan lagi. Pada masa
pendudukan Jepang 1942-1945, perbedaan jalur rel dihapuskan. Sebagian besar
jalur rel selebar 1.435 milimeter diciutkan jadi 1.067 milimeter. Itu termasuk
jalur rel utama yang pertama kali menghubungkan Semarang-Surakarta-Yogyakarta
milik NIS.[16]
Stasiun
Samarang adalah sepenggal kisah sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia.
Posisinya sebagai stasiun kereta api pertama tak kalah penting dengan dinamika
perubahannya. Itu semua jejak sejarah yang amat sangat berharga, yang kini
masih terabaikan.
Samarang
NIS mulai hilang sejak sebagian stasiun dirobohkan untuk memasang rel menuju ke
Stasiun Tawang pada 1914, dengan hanya menyisakan gudang barang. Sekarang
stasiun Samarang NIS dikenal sebagai stasiun Semarang Gudang.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari pembahasan bab 2, 3 dan
4 dapat kita simpulkan bahwa Stasiun Semarang Gudang merupakan stasiun pertama dan
tertua di Indonesia serta
berperan penting terhadap proses perkembangan trasportasi khususnya di Pulau Jawa.
Pengaruh
Stasiun Semarang Gudang ini berperan penting untuk berjalannya kehidupan
masyarakat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini stasiun
tersebut menjadi pusat kereta api yang khusus mengangkut barang pada saat itu
dan menjadi stasiun pertama yang ada di Indonesia.
Akan
tetapi keadaan yang menyedihkan sekali melihat kondisi bangunan pada saat ini
yang dikelilingi oleh banjir atau rob. Dan tidak ada pengembangan dari
pemerintah pada sampai saat ini. Hal ini membuat para kalangan penikmat cagar
budaya yang sangat sedih melihat kondisi ini.
Dengan
demikian kita sebagai mahasiswa yang aktif, mari kita mengembangkan, menjaga,
dan melestarikan Stasiun Semarang Gudang menjadi aset yang memadahi untuk
wisata. Walaupun tidak aktif sebagai stasiun pada umumnya, akan tetapi stasiun
semarang gudang dapat menjadi tempat pembelajaran sejarah yang bersih dan
terjaga kenyamanannya.
B.
Saran –saran
Selama
menjalankan penelitian, penulis
memperoleh pengalaman .penulis mencoba memberikan saran –saran bagi golongan
atau organisasi manapun yang terkait dan kepada rekan-rekan sebagai
berikut:
1.
Meberikan
tempat yang layak untuk wawancara apabila sejarawan atau dari pihaka manapun
untuk mencari informasi.
2.
Pemerintah
daerah diharapkan bisa mengelola dan mengatur para bangunan-bangun yang ilegal
sehingga selain membuat jalan sempit juga membuat sulit bagi peneliti yang
ingin meneliti disekitar situs yang ditempati.
3.
Pengetahuan
narasumber mengenai sejarah dan bisa ditingkatkan lagi dengan memperbanyak
sumber leteratur yang lebih ilmiah
4.
untuk
kelompok 4 jaga terus kekompakannya, ini merupakan pengalaman yang luar biasa.
Daftar
Pustaka
Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Jawa Tengah Musium Jawa Tengah
Muspriyanto,
Edi, dkk. “Semarang Tempo Doeloe:Meretas
Masa”, Semarang: Terang Publishing
Tio,
Jongkie. “Kota Semarang dalam kenangan”.
Peter.(1986).”The Indonesian City Studies In Urban Development
And Palnning”.
Sumber Wawancara
:
Sadiman.
tanggal 25
Juni 2014
Sumber Internet :
Nugroho. “Menyelamatkan Semarang Gudang”.
http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2010/01/27/96712. Pada
tanggal 27 Januari 2010
Peter.(1986).”The Indonesian City Studies In Urban Development And
Palnning”.
Winarto, “Menelusuri Jejak Stasiun Kereta Api Pertama di Indonesia”.
http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/02/menelusuri-jejak-stasiun-kereta-api-pertama-di-indonesia.
Pada tanggal Jumat, 28 Februari 2014
Wordpress, “Jalur Kereta
Api Pertama di Indonesia & Stasiun di Semarang”,
http://seputarsemarang.com/jalur-kereta-api-pertama-di-indonesia-stasiun-di-semarang/.
Nugroho. “Menyelamatkan Semarang Gudang”.
http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2010/01/27/96712. Pada
tanggal 27 Januari
2010
Hurahura, “Semarang NIS stasiun tertua di Indonesia”.
http://hurahura.wordpress.com/2012/12/22/semarang-nis-stasiun-tertua-ada-di-indonesia/.
Pada tanggal 22 desember 2012.
Lampiran
[1] Tio, Jongkie.
“Kota Semarang dalam kenangan”. Halaman 32
[2] Ibid
[3] Muspriyanto,
Edi, dkk. “Semarang Tempo Doeloe:Meretas
Masa”, Semarang: Terang Publishing halaman 53-54.
[4] Ibid.
[5] Nugroho. “Menyelamatkan Semarang Gudang”.
http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2010/01/27/96712. Pada
tanggal 27 Januari 2010
[6] Nugroho. “Menyelamatkan Semarang Gudang”. http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2010/01/27/96712.
Pada tanggal 27 Januari 2010
[7] Ibid.
[8] Hurahura, “Semarang NIS stasiun tertua di Indonesia”.
http://hurahura.wordpress.com/2012/12/22/semarang-nis-stasiun-tertua-ada-di-indonesia/. Pada tanggal 22 desember 2012.
[9] Peter.(1986).”The Indonesian City Studies In Urban
Development And Palnning”. Halaman 5-8
[10] Ibid. Halaman 7
[12] Peter.(1986).”The Indonesian City Studies In Urban
Development And Palnning”. Halaman 13
[13] Ibid. Halaman 8
[14] Wordpress, “Jalur Kereta Api Pertama di Indonesia &
Stasiun di Semarang”, http://seputarsemarang.com/jalur-kereta-api-pertama-di-indonesia-stasiun-di-semarang/.
[15] Winarto, “Menelusuri Jejak Stasiun Kereta Api Pertama
di Indonesia”. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/02/menelusuri-jejak-stasiun-kereta-api-pertama-di-indonesia. Pada tanggal
Jumat, 28 Februari 2014

TRADING ONLINE TERPERCAYA
ReplyDeleteIni dia, Broker Trading yang Transaksi Aman dan Proses Cepat
HASHTAG OPTION merupakan platform trading Binary Option berbasis di Indonesia.
Kami menawarkan produk-produk Cryptocurrency & Forex.
yuk gabung yukkk visit link nya www.hashtagoption.com
Minimal DP Rp. 50.000,- dapat BONUS Depo awal 10%** T&C
- Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
- Sistem Edukasi Professional
- Trading di peralatan apa pun
- Ada banyak alat analisis
- Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
- Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
Ada BONUS REFERRAL juga lohhh...
Bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover....
Kami juga menyediakan AKUN DEMO untuk Trader HASHTAG OPTION yang ingin berlatih, sampai kamu benar-benar bisa menuju AKUN REAL