About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Monday, 21 December 2015

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SAREKAT ISLAM SEMARANG


PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan gerakan politik yang dilakukan kaum muslimin di Indonesia dapat diidentikan dengan kelahiran Sarekat Islam . Hal ini karena Sarekat Islam merupakan perintis organisasi politik pertama di Indonesia yang berlandaskan hukum islam . Kelahiran Sarekat Islam ini merupakan awal kebangkitan umat islam di Indonesia yang bersatu , dan mereka memiliki harapan bahwa Sarekat Islam dapat memecahkan masalah yang dihadapi  rakyat Indonesia pada saat itu , selain itu perkembangan Sarekat Islam dipergunakan untuk memahami kedudukan umat islam khususnya dibidang politik dan dapat memahami sendi sendi politik melalui gerakan pembaharuan kaum muslim di Indonesia.
Pertumbuhan Sarekat Islam diawali ketika Sarekat Islam didirikan di Solo , awalnya bernama Sarekat Dagang Islam. Tujuan awal organisasi ini adalah kompetisi dagang antara golongan Cina dan golongan pribumi.Selanjutnya Sarekat Islam mengalami perkembangan ketika dipimpin oleh Cokroaminoto dan menjadi salah satu organisasi besar,namun akhirnya terpecah setelah disusupi oleh orang – orang yang terpengaruh paham Sosialis .Mereka berhasil mempengaruhi tokoh tokoh muda Sarekat islam diantaranya Semaoen , Darsono , Tan malaka , Alimin Prawirodirjo . Mereka menyebarkan ajaran Sosialis secara terang – terangan dan menentang kebijakan – kebijakan pimpinan Sarekat Islam . Ini yang menyebabkan Sarekat Islam terpecah menjadi 2 kubu yaitu :
1.      Sarekat Islam putih yang dipimpin oleh Hos Cokroaminoto, yang tetap mempertahankan ajaran agama.
2.      Sarekat Islam merah yang dipimpin Semaoen ,yang berlandaskan ajaran Sosialisme Komunisme. Didalam Sarekat Islam Semarang terdapat perubahan pergerakan yaitu gerakan kaum menengah menjadi kaum buruh dan tani.Perubahan ini juga memiliki arti penting bagi Sejarah Modern Indonesia , karena perubahan ini dilahirkan gerakan Marxis pertama di Indonesia (Gie 2005:10)
Atas dasar uraian latar belakang diatas , maka penulis tertarik untuk mengungkap tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Sarekat Islam Semarang
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan diatas maka penulis menemukan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana latar belakang lahirnya Sarekat Islam di Semarang ?
2.      Bagaimana Pertumbuhan dan Perkembangan Sarekat Islam di Semarang ?
1.3. Tujuan
1.      Mengetahui sejarah Sarekat Islam khususnya Sarekat Islam di Semarang
2.      Mengetahui perkembangan hingga masa surutnya Sarekat Islam di Semarang
1.4. Manfaat
Kegunaan atau manfaat yang diharapkan dari penulisan laporan  ini adalah sebagai berikut :
1.      Kegunaan Praktis
Bagi Masyarakat, hasil penulisan yang disertai dengan penelitian ini  diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan Informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan  Sarekat Islam di Semarang serta manfaatnya dalam pembelajaran sejarah.
Bagi Peneliti, seluruh rangkaian kegiatan dan hasil penelitian diharapkan dapat lebih memantapkan penguasaan fungsi keilmuan yang dipelajari selama mengikuti program studi pendidikan sejarah, di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.
2.      Kegunaan Akademis
Bagi perguruan tinggi, hasil penulisan diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang berguna untuk dijadikan acuan bagi sivitas akademika.Laporan penelitian ini diharapkan menjadi bahan bahan rujukan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1.KAJIAN PUSTAKA
Beberapa literature berbicara mengenai sejarah Sarekat Islam tentang Sarekat Islam Semarang salah satunya bukunya Drs. Mansur, M.A.  yang berjudul Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa  yang memuat mengenai Sarekat Islam  yang merupakan organisasi kemasyarakatan yang sebagai kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam kemudian keberlanjutannya mengenai asas-asas dalam Sarekat Islam kemudian trilogy sebagai landasan prinsip sarekat Islam selanjutnya tidak luput pula tujuan serta keberadaan Sarekat Islam. Mengingat Sarekat Islam dalam perjalannya banyak berperan bidang ekonomi namun juga dalam perjalannya Sarekat Islam menaruh perhatian lebih dalam bidang pendidikan.
Selanjutnya bukunya Nasihin yang berjudul Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945 yang banyak memuat mengenai untuk menganalisis hubungan Persatuan Sarekat Islam Indonesia dengan Sosialisme Islam yang dipilih sebagai ideologi, tentu harus melihat gejala pentingnya tentang perubahan-perubahan yang terjadi sekitar partai politik seperti ideology, organisasi, serta ciri pemimpin dan mengikuti masing-masing. Terdapat tiga faktor penting untuk menganalisis hubungan partai politik dengan ideologi yang diterapkan yaitu perkembangan politik nasional, elite, dan ideology-kultural.
Kemudian penelitian tentang Sarekat Islam Semarang  yang berjudul Sarekat Islam dan Gerakat Kiri Semarang 1917-1920 yang memuat mengenai Sarekat Islam disebut sebagai suatu gerakan “nasionalistis-demokratis-religius-economis”.Bahwasanya,gerakan Sarekat Islam berlandaskan nasionalisme ekonomi, sebagaimana yangdisampaikan oleh salah satu tokoh SI R. Umar Said Cokroaminoto.Dalam pidatonyamenyatakan bahwa SI tidak bersifat politik, tujuannya adalah menghidupkan jiwa dagang.
Literatul yang mengenai pergerakan politik yang berjudul Gelora Pergerakan Politik Semarang Kota Merah yang memuat mengenai pergerakan politik yang ada di Semarang mulai Sarekat Islam dimasa Semaun selanjutnya V.S.T.P (Verenigingvan Spoor- en Tram- wes-Personeel) kemudian PKI dan Hoodfbestuunjs ysng berkedudukan di Semarang kemudian H.J.F.M. SNEEVLIET yang bersama teman-temannya mendirikan I.S.D.V. (Indische Sosiaal Demokratische Vereniging).
Selanjutnya literature mengenai Sarekat Islam dan kejadian-kejadian sosial dalam bukunya Soe Hoek Gie yang berjudul Dibawah Lentera Merah yang banyak memuat mengenai kejadian-kejadian sosial yang terjadi dalam Sarekat Islam Semarang yang mengangkat mengenai gejolak, permasalahan dan aski-aksi yang terjadi dalam tubuh Sarekat Islam semarang misalnya aksi buruh yang berdemo, kemudian masalah masuknya Sarekat Islam dalam Volksraad yang dalam perjalannya menimbulkan banyak pro dan kontra.
1.      LANDASAN TEORI
Penelitian ini membahas mengenai pertumbuhan dan perkembangan Sarekat Islam Semarang. Dalam menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan ini dijelaskan pula mengenai bagaimana Sarekat Islam Semarang sehingga penelitian ini lebih bisa dipertanggung jawabkan dan pula tentang bagaimana Sarekat Islam Semarang dimaksud disini  tentang Sarekat Islam Semarang mencakup aksi-aksi dan perjalanan Sarekat Islam di kota Semarang.
Dalam laporan penelitian ini dibahas mengenai pertumbuhan Sarekat Islam Semarang yang didirikan oleh Raden Muhammah Joesoep bersama Raden Soedjono pada awal tahun 1913 yang merupakan cabang dari Sarekat Islam Surakarta. Yang dalam perjalanannya lebih banyak kemajuannya semasa pemimpinan Semaun karena dimasa kepemimpinannya terjadinya  radikalisasi Sarekat Islam Semarang sangat tampak pada tahun 1917-1918.
Selanjutnya mengenai perkembangan Sarekat Islam Semarang yang semasa Semaun banyak bertentangan dengan pendapat dari HOS.Tjokroaminoto yang merupakan pemimpin CSI (Central Sarekat Islam) misalnya ketidak setujuan Semaun dengan bergabungnya Sarekat Islam dalam Volksraad yang dimana menurut HOS. Tjokroaminoto dengan masuknya Sarekat Islam dalam Volkstraad  merupakan sebuah usaha besar dalam mengangkat bumiputera agar tidak diperlakukan oleh  Pemerintah Hindia Belanda secara wenang-wenang sehingga Semaun sebagai pemimpin Sarekat Islam Semarang memutuskan melakukan perjuangannya sendiri. Semaun menggandeng para buruh untuk melakukan berbagai aksi pemogokan diberbagai daerah secara radikal.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Kajian ini merupakan kajian bidang sejarah oleh karena itu dalam penelitian ini juga mengunakan cara kerja dan metode historis yang terdiri dari langkah-langkah : heuristik, kritik, interpretasi, dan historigrafi. Dengan menggunakan metode sejarah diusahakan merekontruksi peristiwa-peristiwa masa lampau kemudian menyampakan hasil rekontruksi yang sesuai hingga dapat dipertanggung jawabkan akan kebenaran isinya dan sesuai dengan jejak-jejak masa lampau. Adapun langkah-langkah kerjanya sebagai berikut.
a.       Heuristik
Heuristic merupakan mengimpun bahan-bahan (data-data) atau sumber yang dimana bahan atau sumber diperoleh dengan studi pustaka baik sumber yang berupa sumber primer seperti yang diperoleh dari arsip dan koran-koran maupun sumber sekunder berupa buku-buku. Dalam pencarian sumber ini sekaligus dilakukan inventarisasi dan identifikasi data/fakta yaitu berbagai sumber baik yang tertulis, lisan dan visual yang relevan. Kemudian dari fakta-fakta yang terkumpul di usut dengan konsep kebenaran sesuai dengan relevansi pokok persoalan. Adapun langkah-langkah heuristic yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1)      Menentukan jenis data yang diperlukan guna mendukung tema yang telah ditentukan sebelumnya meliputi :
a)      Dokumentasi adalah alat pengukur data yang berupa foto-foto dan gambar-gambar yang diperoleh dari bangunan Sarekat Islam Semarang
b)      Sumber lisan adalah alat pengukur data yang berupa informasi dari para informan yang merawat gedung Sarekat Islam Semarang
c)      Artefak adalah alat penguku data yang berupa benda peninggalan masa lampau ini bisa dilihat dari bangunan Sarekat Islam Semarang di kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Semarang Jawa Tengah
2)      Menentukan tempat penelitian
3)      Sumber-sumber sejarah yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a)      Sumber primer
Sumber primer merupakan sumber asli karena kesaksiannya tidak bersumber dari sumber lain tetapi dari tangan pertama dimana diuraikan pelaku lansung atau saksi langsung dalam peristiwa tersebu.  Sumber primer diperoleh dari Arsip Suara Merdeka yang letaknya di jalan Merak 11A Semarang dan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang letaknya dijalan Setiabudi 201C, Serondol, Semarang
b)      Sumber sekunder
Sumber sekunder adalah kesaksian siapa pun yang  bukan merupakan saksi pandangan meta dari pelaku yang tidak ada dalam peristiwa yang dikisahkan dimana diuraikan bukan dari pelaku atau saksi. Dalam hal ini penulis menggunakan buku-buku yaitu Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa karya Mansur, Di bawah Lentera Merah karya Soe Hoek Gie, Sarekat Islam Semarang 1913-1920 karya Endang Muryanti, Sarekat Islam mencari Indeologi 1924-1945 karya Nasihin, Sejarah Indonesia Modern karya Ricklefs dan buku Semarang karya Soekirno yang buku ini di peroleh dari pengurus gedung Sarekat Islam setelah berkunjung ke gedung Sarekat Islam Semarang. Buku selebihnya diperoleh dari pustaka.
b.      Kritik sumber
Kritik sumber merupakan menyeleksi data-data yang telah terkumpul melalui kritik intern dan ekstern dimana data yang telah diperoleh dipilah kembali sesuai dengan yang dianggap pendukung dalam penelitian ini. Sumber-sumber yang ditemukan tidak langsung diambil apa adanya atau diterima mentah tetapi juga melalui kritik sumber yang telah ditentukan yang merupakan alat analisis dalam ilmu sejarah. Dalam membuktikan sumber terdapat dua cara yang bisa digunakan yaitu (1) kritik intern atau kredisbilitas sumber dengan cara penilaian internsik terhadap sumber dan membandingkan kesaksian dengan berbagai sumber yang bertujuan untuk  mencari kebenaran isinya, dan (2) kritik ekstern atau uji otetitas sumber dimana penilaian sumber dari aspek fisik dari sumber untuk menguji keaslian sumber.
Dalam penelitian ini penulis lebih menekankan pada kritik intern yang dilakukan berupa penilaian interinsik terhadap sumber dan membandingkan kesaksian dari berbagai sumber hal ini dilakukan agar kesaksian lebih bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Cara yang dilakukan dalam kritik intern berupa membandingkan sumber-sumber yang telah diperoleh baik dari arsip, koran, dan dari buku-buku. Sebenarnya dilakukan pula wawancara kepada informan yang bernama Harto yang merupakan pengurus gedung Sarekat Islam Semarang namun dikarenakan beliau hanya sebagai pengurus bukan sebagai saksi maupun pendapat sehingga hasil wawancara tidak mendukung penelitian.
c.       Interpretasi
Interpretasi merupakan menganalisis data-data yang sudah terkumpul kemudian mengusut hubungan  dan membandingkan antar fakta yang ada,  untuk ditarik kesimpulan yang relevan sesuai pokok persoalan.  menafsirkan fakta-fakta untuk mewujudkan rangkaian yang sesuai satu sama lain. Proses interpretasi yang bisa dilkukan adalah sebagai berikut (1) seleksi fakta-fakta yang menunjang atau relevan dengan penelitian yang dilakukann (2) periodisasi dimana periodisasi yang dimaksud adalah penyusunan fakta yang sesuai dengan urutan waktu terjadinya.
Dimana stelah kritik sumber yang dilakukan dan menemukan sumber-sumber yang tidak relevan dan sumber yang relevan maka maka sumber yang relevan tersebut akan memasuki tahap interpretasi atau secara singkat disebut penafsiran atau akan ditafsirkan sesuai dengan tema atau topic yang telah ditentukan sebelumnya.
d.      Historiografi
Setelah melewati beberapa tahap yang telah diungkap diatas maka sampailah pada tahap penulisan sejarah sesuai dengan sumber-sumber yang telah ditemukan dan dianalisi dimana Historiografi, menyajikan cerita yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dimana historiografi atau penulisan sejarah merupakan tahap akhir dari metode sejarah hasil penafsiran atau interpretasi atas fakta-fakta  sejarah yang telah dilakukan kemudian dituliskan menjadi suatu kisah yang selaras.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Pembahasan
4.1.1. Latar belakang lahirnya Sarekat Islam di Semarang
A.    Sarekat Islam
Syarikat Islam (SI) adalah organisasi lanjutan kemasyarakatan sebagai kelanjutan dari  Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi SDI merupakan organisasi yang pertama kali lahir di Indonesia, pada awalnya Organisasi yang dibentuk oleh Haji Samanhudi ini adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang masuknya pedagang asing untuk menguasai komplar ekonomi rakyat pada masa itu. Selanjutnya pada tahun 1912 berkat keadaan politik dan sosial pada masa tersebut HOS Tjokroaminoto menggagas SDI untuk mengubah nama dan bermetamorfosis menjadi organisasi pergerakan yang hingga sekarang disebut SYARIKAT ISLAM, Hos Tjokroaminoto mengubah yuridiksi SDI lebih luas yang dulunya hanya mencakupi permasalahan ekonomi dan sosial. kearah politik dan Agama untuk menyumbangkan semangat perjuangan islam dalam semangat juang rakyat terhadap kolonialisme dan imperialisme pada masa tersebut. (Mansur. M.A , 2004 : 2)
Pada waktu itu Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober 1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. Pada saat itu, pedagang-pedagang keturunan Tionghoa tersebut telah lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi dari pada penduduk Hindia Belanda lainnya. Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Hindia-Belanda tersebut kemudian menimbulkan perubahan sosial karena timbulnya kesadaran di antara kaum pribumi yang biasa disebut sebagai Inlanders. SDI merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan pada agama Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya. Di bawah pimpinan H. Samanhudi, perkumpulan ini berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan yang berpengaruh. R.M. Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Pada tahun 1910, Tirtoadisuryo mendirikan lagi organisasi semacam itu di Buitenzorg. Demikian pula, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa tahun 1912. Tjokroaminoto masuk SI bersama Hasan Ali Surati, seorang keturunan India, yang kelak kemudian memegang keuangan surat kabar SI, Oetusan Hindia. Tjokroaminoto kemudian dipilih menjadi pemimpin, dan mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan SDI menjadi SI bukan saja perubahan dalam nama saja tapi juga dalam orientasi dari bidang ekonomi ke bidang  politik. (Mansur M.A ,2004 : 7) .         
Oleh pimpinannya yang baru Haji Oemar Said Tjokroaminoto, nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik. Tujuan pergerakan SI dikatakan singkat okeh HOS Tjokroaminoto dalam memberikan kata pengantar ada program Asas dan sekaligus Program Tandhim SI, bahwa SI akan menjalankan Islam dengan seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya supaya mendapatkan islam sejati Jika ditinjau dari anggaran dasarnya, dapat disimpulkan tujuan SI adalah sebagai berikut:
1)      Mengutamakan social ekonomi.
2)      Mempersatukan perdagangan-perdagangan batik
3)      Mempertinggi derajat bumi putera
4)      Memajukan agama dan sekolahsekolah islam (Mansur, M.A , 2004 : 45-46)
Tujuan pada saat permulaan, bentuknya sangat sederhana kemudian lebih dipertegas ketika SI disesuaikan dengan Akte Notaris  pada tanggal 10 September  1912 Drs. Susanto Tirtoprojo, SH. Di dalam Akte Notaris itu ditetapkan tujuan dari perkumpulan SI adalah :
1)      Memajukan perdagangn.
2)      Memberikan pertolongan kepada anggota-anggota yang mengalami kesukaran,jadi semacam koperasi, bantu membantu.
3)      Memajukan kepentingan rohani dan jasmani dari penduduk asli. Disini ternyata bahwa tujuan tidak hanya  terbatas kepada anggota saja, tetapi perkumpulan meluas kepada masyarakat ialah kepentingan penduduk asli
4)      Memajukan  kehidupan agamaIslam. (Mansur, M.A. 2004 : 46-47)
SI tidak membatasi keanggotaannya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Tujuan SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Pada waktu SI mengajukan diri sebagai Badan Hukum, awalnya Gubernur Jendral Idenburg menolak. Badan Hukum hanya diberikan pada SI lokal. Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, tapi dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda.
Seiring dengan perubahan waktu, akhirnya SI pusat diberi pengakuan sebagai Badan Hukum pada bulan Maret tahun 1916. Setelah pemerintah memperbolehkan berdirinya partai politik, SI berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad tahun 1917, yaitu HOS Tjokroaminoto; sedangkan Abdoel Moeis yang juga tergabung dalam CSI menjadi anggota volksraad atas namanya sendiri berdasarkan ketokohan, dan bukan mewakili Central SI sebagaimana halnya HOS Tjokroaminoto yang menjadi tokoh terdepan dalam Centraal Sarekat Islam. Tapi Tjokroaminoto tidak bertahan lama di lembaga yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda itu dan ia keluar dari Volksraad (Semacam Dewan Rakyat), karena volksraad dipandangnya sebagai "Boneka Belanda" yang hanya mementingkan urusan penjajahan di Hindia ini dan tetap mengabaikan hak-hak kaum pribumi. HOS Tjokroaminoto ketika itu telah menyuarakan agar bangsa Hindia (Indonesia) diberi hak untuk mengatur urusan dirinya sendiri, yang hal ini ditolak oleh pihak Belanda
B.     Terbentuknya Sarekat Islam di Semarang
Persentuhan SI dengan faham komunis kurang lebih terjadi ketika seorang anggota SI cabang Surabaya, yaitu Semaoen pindah ke Semarang pada tahun 1915 dan kemudian aktif di dalam Serikat Buruh Kereta Api dan Term (VSTP). Sneevliet, seorang Belanda penganut mistik yang berideologi marxisme, rupanya juga aktif disana. Dan juga sebagaimana diketahui, Sneevliet adalah pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), suatu partai yang beraliran “kiri” di Surabaya pada tahun 1914. Perjumpaannya dengan Sneevliet ini kemudian membawa Semaoen masuk ke dalam ISDV.
Pada tahun 1916, Semaoen pindah ke Semarang untuk menjadi propagandis VSTP.Disemarang, Semaoen bergabung dengan SI Semarang, yang pada saat itu dipimpin Mohammad Joesoef.Pada Mei 1917 kepemimpinan SI Semarang berpindah kepada Semaoen, Pergantian ini bermula dari isu yang digulirkan Semaoen agar SI Semarang bergabung dengan Komite Kebebasan Pers, yang dibentuk Sneevliet.Joesoef menetang usul itu, tapi karena Semaoen didukung oleh mayoritas anggota, terpilihnya Semaoen menunjukkan kemenangan kelompok sosialis radikal.
Dibawah Semaoen, SI Semarang berkembang pesat. Anggotanya bahkan mencapai 20.000 orang.Gerakannya difokuskan dengan aktif mengorganisir buruh dan nelayan. Bersama temannya di SI Semarang, Alimin dan Darsono, Semaoen juga mempelopori aksi mogok buruh di kota itu. Setelah memimpin SI Semarang yang kerap disebut SI merah, Semaoen kerap berselisih dengan sang guru, HOS Tjokroaminoto yang notabene merupakan pemimpin Sarekat Islam. Semaoen mencibir gerakan kooperatif HOS Tjokroaminoto sebagai antek Belanda karena masuk menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat Bentukan Belanda).SI cabang Semarang mengambil garis anti kapitalis yang kuat.Cabang ini menentang keanggotaan SI di dalam Volksraad dan menyerang kepemimpinan CSI (Central Sarekat Islam).Garis revolusioner yang dibawa oleh Semaoen berkembang menjadi mata rantai yang tak terhentikan. Sebagai contoh lain, di Jawa Barat, suatu cabang revolusioner rahasia yang diberi nama “Afdeeling B” (Seksi B) didirikan oleh Sasrokardono dari CSI pada tahun 1917. Bahkan pada awal tahun 1919 terjadi kekacauan-kekacauan di Surakarta yang dipimpin oleh seorang Haji yang bernama Misbach yang khotbahnya berisi doktrin mengenai bahwa Islam dan komunisme adalah hal yang sama. Hal ini kemudian menjadikan dirinya dikenal sebagai Haji Merah.
Sarekat Islam Semarang didirikan oleh Raden Muhammah Joesoep bersama Raden Soedjono pada awal tahun 1913 yang merupakan cabang dari Sarekat Islam Surakarta. Sarekat Islam Semarang mengalami perpecahan yang disebabkan oleh:
 (a) Pembentukan Volksraad dan Indie Weerbaar yang menimbulkan pro dan kontra antar anggota Sarekat Islam,(b) Paham Sosialisme-Revolusioner yang di bawa oleh H.J.F.M. Sneevliet yang disebarkan melalui ISDV dan VSTP dengan melakukan infiltrasi ke dalam tubuh Sarekat Islam.
Semaoen sebagai ketua Sarekat Islam Semarang sekaligus sebagai propaganda gerakan sosialis-revolusioner mulai melancarkan gerakan-gerakan yang menentang pemerintah.Semaoen mengorganisir kaum buruh dan tani dengan membentuk setral-sentral Sarekat Sekerja. Semaoen terkenal satu-satunya pemimpin pergerakan komunisme di Indonesia
Sejak tahun 1915 ketika Ia berumur 19 tahun, bersama-sama dengan kawan-kawanja ia Darsono. Tan Malaka, Alimin Prawirodirdjo telah mulai menggerakan dan meluaskan pengaruh Komunis di kalangan  perkumpulan SI sehingga di dalam perkumpulan SI terdapat dua aliram jang benar ialah SI merah jang beraksi menentang kapitalisme. Berdasarkan pertentangan kl;as-klas lapisan masjarakat tidak menghendaki dan menentang dudukanja SI dalam Volkstraad dan jang lain menentang  adat-adat karena adanja hak-hak istimewa dari golongan-golongan, menentang penduduk Tionghoa dalam perdagangan dan bersifat kooperatif. Semaun juga berkejimpunh dalam pergerakan buruh. (Soekirno, 1956 : 42).
Dalam kongres tahun 1917, secara resmi Sarekat Islam Semarang menyatakan bahwa asas partai pecah menjadi 2, yaitu
a.       Asas Sosialis-revolusioner dibawah Semaoen
b.      Asas perjuangan berdasarkan agama Islam dibawah Cokroaminoto.
Keanggotaan Sarekat Islam Semarang mengalami peningkatan yaitu tahun 1913 (12.216), tahun 1915 (21.832), tahun 1916 (23.000), tahun 1917 (26.900), tahun 1918 ( 29.641) dan tahun 1919 berjumlah 34.000 orang anggota. Akibat perpecahan Sarekat Islam Semarang mengalami peningkatan jumlah anggota, mendirikan Sekolah Sarekat Islam Semarang dan Central Sarekat Islam mengadakan disiplin partai yang melarang adanya keanggotaan ganda. Harapan bagi penelitian ini adalah diadakan penelitian lebih lanjut dengan kajian yang lebih mendalam dengan sumber yang lebih lengkap.
Bukti adanya SI di Semarang dengan adanya Gedung Rakyat Indonesia yaitu gedung yang dibuat pada tahun 1920. Dibuat oleh Sdr. Semaun dan kawan-kawanya, balai dapat dari pengumpulan dari rakyat 1 sen 2 sen dan ada pula bagi yang tidak punya uang berupa barang misalya bata dan sebagainya. Jika siang untuk sekolah, malam pada waktu lowong dibuat rapat umum.Pada waktu yang dapat dipergunakan gedung hanyalah SI.Lama-kelamaan pecahnya SI timbullah SarekatRakyat yang menjadi onderbouwnja PKI diantara pemimpin penganjur yang telah mempergunakan gedung itu adalah Tan Malaka.Antara tahun 1926 dan 1927 bersamaan waktu penangkapan dan pembuangan ke Digul gedung itu ditutup. Tahun 1930 dibuka lagi oleh panitia jang terdiri dari PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), Partindo, PNI ( Partai Nasional ) dan lain-lain, selanjutnya untuk rapat-rapat. Pada waktu Jepang masuk, tidak untuk apa-apa hanya untuk dijaga-jaga. Ketika berkembang 1930-1938 pernah didatangi diantaranya : Bung Karno, Bung Hatta, Sjarir, Sartono, A.K. Gani, Amir Syarifuddin, Muhamad Yamin, Woerjaningrat, Dr. Soetomo dan lain-lain. Diwaktu proklamasi kemerdekaan kita gedung itu tidak dipakai. Pada waktu pertempuran lima hari di Semarang dipergunakan Pos Palang Merah. Setelah itu dikuasai Bapri diketuai oleh Mr. Ichsan. Sdr. Ichsan kepedalaman kemudian diserahkan kepada PAGRI ( Panitia Gedung Rakyat Indonesia) yang diketuai oleh sdr. Mohamad, Soekamsi, Soedarso. Serta para saudara-saudara ke Semarang lagi, diminta berkas PAGRI yang dahulu sampai sekarang.  (Soekirno, 1956 : 47).
4.1.2. Pertumbuhan dan Perkembangan Sarekat Islam di Semarang
A.    Pertumbuhan Sarekat Islam di Semarang
Sarekat Islam merupakan organisasi politik pertama diIndonesia yang berlandaskan hukum islam. Awalnya merupakan perkumpulan para pedagang-pedagang islam yang tujuannya adalah melindungi hak-hak pedagang golongan pribumi muslim dan monopoli perdagangan yang dilakukan oleh pedagang – pedagang Cina. Selain itu perlawanan yang dilakukan tidak semata mata ditujukan kepada pedagang-pedagang Cina melainkan perlawanan terhadap semua penindasan dan kesombongan rasial, seperti perlawanan terhadap Kerstening Politiek (Politik Pengkristenan) dari kaum Zending , perlawanan terhadap kekecewaan dan penindasan dari pihak Ambtenar-ambtenar bumiputera dan Eropa (Depdikbud1977/1978:581) . Organisasi ini dipelopori oleh KH.Samanhudi dan bermarkas di Solo didirikan pada tahun 1911 .Pada mulanya organisasi ini bernama Sarekat Dagang Islam , sebelum organisasi ini mengarah pada lingkup politik,maka mengarah dulu dalam bidang ekonomi yang berdasarkan pada hukum islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya .
Pada tanggal 10 September 1912 Haji Said Cokroaminoto mengadakan reorganisai  Sarekat Dagang Islam dengan mengubah namanya menjadi Sarekat Islam dengan menghapus kata “Dagang”. Alasan perubahan nama itu adalah agar gerakannya tidak hanya ditujukan pada golongan pedagang saja tapi diperluas lagi yakni meliputi seluruh kegiatan dalam masyarakat dan meliputi seluruh golongan dalam masyarakat (Materu 1985:5). Selain itu Sarekat Islam juga bergerak dibidang politik .walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik , tapi dalam kegiatannya Sarekat Islam menaruh perhatian besar terhadap unsur – unsur politik dan menentang ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan pemerintah colonial. Artinya Sarekat Islam memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintahan Belanda.
(dikutip dari situs. http://:www.teguh.999.blogspot.com/2012/04/sarekatislam.htm)
Sarekat Islam secara resmi berdiri pada tanggal 10 September 1912 (Hanifah 1978:20).Sarekat Islam mendapat sambutan positif dari masyarakat Indonesia, karena Sarekat Islam dapat menerima anggota dari semua golongan, berbeda dengan budi oetomo yang membatasi anggotanya bagi priyayi Jawa dan Madura. Sejak saat itu mulailah Sarekat Islam dimasuki oleh aliran Revolusioner Sosialis.Sebab Sarekat Islam tidak membatasi keanggotaannya, jadi semua orang dapat memasukinya.Akibatnya Sarekat Islam mulai terpecah setelah disusupi oleh  orang- orang yang telah terpengaruh paham Sosialis, karena perbedaan ideology. Paham sosialis yang tersusun dikalangan anggota ini disebarkan oleh Sneev Let, seorang Sosialis Belanda yang datang ke Indonesia pada tahun 1913.Beberapa tokoh-tokoh muda Sarekat Islam terpengaruh paham Sosialis dan berhasil direkut Sneevlet itu diantaranya : Semaoen , Tan Malaka , Darsono , Alimin .
Pada akhirnya perpecahan dalam Sarekat Islam tidak dapat dihindari lagi, ketika Semaoen dan Darsono keluar dari Organisasi . Sarekat Islam pecah menjadi 2 kubu yaitu : Sarekat Islam yang berhaluan kanan yang bersifat moderat dan tetap mempertahankan ajaran agamanya dipimpin oleh KH.Cokroaminoto yang berpusat di Yogyakarta, sedangkan Sarekat Islam merah yang berhaluan kiri bersifat radikal dipimpin oleh Semaoen dan teman temannya yang berhaluan sosialis-radikal (Indomarxist_Net2004:2-31). Pada tanggal 6 Mei 1917 Semaoen diangkat menjadi ketua pengurus Sarekat Islam Semarang.Perubahan Pengurus ini merupakan wujud pertama gerakan radikal Sarekat Islam Semarang (Gie 2005:9)

B.     Perkembangan Sarekat Islam di Semarang
Sarekat Islam Semarang merupakan cabang dari Sarekat Islam Surakarta yang berasaskan ajaran agama Islam. Sarekat islam ini didalamnya terdapat anggota yang terpengaruh paham sosialis-revolusioner, hal ini yang menyebabkan Sarekat Islam Semarang dalam pergerakannya menjadi radikal. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sarekat Islam Semarang didirikan oleh Raden Muhammah Joesoep bersama Raden Soedjono (Muryanti, Endang, 2006).
Pada tahun 1908 di Semarang berdiri V.S.T.P. (Vereniging van Spoor-en Tramweg-Personeel), sebuah organisasi yang beranggotakan pegawai dari semua angkutan darat kereta api dan trem.Semenjak kedatangan H.J.F.M. Sneevliet pada tahun 1913 yang menjadikan organisasi ini berhaluam sosialisme kiri, V.S.T.P. berada dibawah pengaruhnya dan kemudian Semaun menjadi muridnya (Soekirno,1956: hal 41). Pada tahun 1914 H.J.F.M. Sneevliet mendirikan Indische Social-Democtarische Vereniging (ISDV : Perserikatan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Partai ini dengan cepat menjadi partai komunis pertama di Asia yang berada di luar negeri Uni Soviet. Anggotanya hampir seluruhnya orang Belanda, tetapi organisasi ini ingin memperoleh pengakuan di kalangan rakyat Indonesia,  namun organisasi ini tidak menarik rakyat. Oleh karena itu, perhatian ISDV mulai beralih kepada Sarekat Islam , karena Sarekat Islam adalah satu-satunya organisasi yang memiliki jumlah pengikut yang besar di kalangan rakyat Indonesia. (Ricklefs, M.C,1989:hal 261). Pengaruh kiri di dalam Sarekat Islam semakin bertambah besar ketika ISDV berusaha memperoleh suara rakyat sebagai landasan.
Pada tahun 1914 seorang pemuda Jawa anak dari seorang buruh kereta api yang bernama Semaun menjadi anggota SI yang bercabang di Surabaya. Pada tahun 1916 dia pindah ke Semarang, dimana Sneevliet aktif dalam Serikat Buruh Kereta Api dan Trem dan Semaun juga bergabung dengan ISDV.(Ricklefs, M.C,1989:262).
Gagasan utama yang menjadi dasar ideologi Sosialisme adalah ajaran Karl Marx.Gagasan dasar Marxisme yang di bawa oleh para propagandis Sosialis ada dua hal. Pertama : Teori sosial Marxis melihat bahwa susunan masyarakat pada zaman mana pun secara fundamental ditentukan oleh metode metode produksi dan distribusi kekayaan. Kedua : Filsafat Sejarah, Dalam filsafat sejarah Marxis melihat bahwa perubahan masyarakat pada dasarnya bukan ditentukan oleh konflik gagasan seperti yang telah dirumuskan oleh Hegel. Akan tetapi, perubahan masyarakat ditentukan oleh konflik ekonomi, yaitu antara kepentingan ekonomi kelas yang memerintah dengan kelas yang diperintah.Gagasan serta ide dasar Marxis yang demikian menarik perhatian para aktivis Sarekat Islam,diantaranya : Semaoen, Darsono, Tan Malaka, serta berbagai anggota lainnya. Ide serta gagasan Marxis secara tepat menyebar dan menjadi diskusi menarik bagi kaum pergerakan SI (Nasikin, 2012: hal 82-83).
Tahun 1916 menjadi titik tolak pertama yang menandai munculnya gerakan radikalisasi di Semarang.(Nasihin, 2012:84). pada tahun 1917 jumlah anggota SI Semarang berkembang pesat mencapai 20.000 orang. Di bawah pengaruh Semaun SI Semarang mengambil garis anti kapitalis yang kuat, ternyata SI Semarang menentang gagasan untuk duduk rekat Islam dalam Voolsraad dan dengan sengit menyerang kepemimpinan Central Sarekat Islam (CSI).(Ricklefs, M.C,1989:262).
Menurut Semaun, perjuangan SI Semarang melalui Volksraad justru menunjukkan kalau Tjokroaminoto sebagai hoofdbestuur SI Semarang tidak anti terhadap bentuk-bentuk Kapitalisme Belanda.SI Cabang Semarang pada dasarnya mengajak SI cabang Yogyakarta untuk bersikap revolusioner dalam menghadapi sikap Belanda yang kapitalistik dan represif (Nasihin, 2012 :84-85).
Kerasnya penolakan Semaun terhadap berbagai arah pergerakan SI yang dianggap tidak nyata dalam memperjuangkan bumiputera,tidak tampak ketika kongres CSI menyetujui adanya dukungan SI terhadap indie weerbaar. Semaun menegaskan bahwa, “Kami tidak suka keluarkan darah untuk keperluan orang lain, apalagi keperluan “zondig kapitalisme”(kapitalisme yang berdosa). Maksud dari ucapan Semaun adalah bahwa Indie Weerbaar hanyalah sebuah upaya untuk memperkuat pertahanan Hindia Belanda dari kekuatan Jepang yang semakin bergerak ke Selatan. Ucapan Semaun tentu beralasan, bahwa pertahanan untuk Hindia yang digerakan oleh pemerintah Hindia Belanda, pada dasarnya lebih menguntungkan orang-orang Belanda dan hanya sedikit bagi bumiputera.  (Nasihin, 2012: hal 85).
Pada tanggal 6 Mei 1917, Presiden Sarekat Islam Semarang yang lama, Moehammad Joesoef menyerahkan kedudukannya kepada Presiden yang baru, yaitu Semaoen. Pada hari itu diumumkan komposisi yang baru, yang terdiri dari :
Presiden                      : Semaoen
Wakil presiden            : Noorsalam
Sekretaris                    : Kadarisman
Komisaris                    : Soepardi
Aloei
 Jahja Aldjoefri
H. Boesro
Amathadi
Mertodidjojo
Kasrin
Dari susunan pengurus baru ini, enam orang merupakan wajah baru.Mereka adalah Semaoen, Noorsalam, Soepardi, Aloei, H. Boesro, Amathadi, Mertodidjojo, dan Kasrin.
Peristiwa pergantian pengurus ini mencerminkan adanya perubahan dalam masyarakat pendukung SI di Semarang. Pada mulanya SI Semarang dipimpin oleh kalangan kaum menengah dan pegawai negeri,sekarang mereka  mulai keluar dari Sarekat Islam, termasuk Soedjono.
Kini setelah dibawah pimpinan Semaoen, anggota SI berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang.Dari gerakan kum menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. (Gie,1999: 5-6).
Sebelum dipimpin oleh Semaoen, SI Semarang dikenal sebagai organisasi yang lembek dan yang menyatakan INSULINDE. Perlahan-lahan Semaoen mempengaruhi para pemimpin SI Semarang. Dan lama kelamaan ia berhasil membawa gerakan Si Semarang bergeser ke arah sosialis revolusioner. Pada tanggal 19 November 1917 dinyatakan sebagai puncak usahanya merevolusionerkan SI Semarang,dalam SI Semarang  memiliki media untuk mereka bergerak yakni Sinar Hindia (kemudian berganti nama menjadi Sinar Djawa). Perubahan perubahan redaksi diadakan dengan memasukan tenaga-tenaga muda yang militan.Sebagai pemimpin redaksi yang dipimpin oleh Semaoen dengan dibantu oleh Moh.Joesoef (berita berita Indonesia dan Semarang), Kadarisman (telegram), Notowidjojo (ekonomi), Aloei (rapat-rapat dan reserve), Alimin (berita kesewenang-wenangan dan luar negeri). Semaoen sendiri menjadi redaktur politik dan Alimin dimasukkan ke dalam redaksi. Mereka masing masing bertanggung jawab sendiri-sendiri di muka pengadilan dan semua tidak dibayar. Dalam kata pengantarnya mereka menyatakan bahwa haluan Sinar Djawa akan lebih radikal dan terhadap pemerintah mereka akan menilainya secara jujur, sedangkan terhadap kaum kapitalis dan kamu priyayi yang memeras akan mereka musuhi (Gie, 1999 :17).
Keadaan buruk terjadi pada tahun 1917-1918 tidak disangkal oleh dunia Pergerakan Indonesia, baik yang berhaluan “keras” maupun “lembek”. Keadaan sosial yang buruk merupakan tantangan bagi setiap pemikir sosial Indonesia. (Gie,1999 : hal 18). Akibat keadaan sosial yang buruk membuat para buruh menjadi resah akibat semakin menurunnya nilai nominal upah buruh tersebut. Akhirnya berdampak meningkatnya berbagai tuntutan buruh untuk segera meningkatkan kembali upah kerja untuk mencapai kesejateraan hidup. (Nasihin,2012:86).
 Semaoen mengkoordinir berbagai serikat buruh dan mengawalnya untuk menyuarakan tuntutan aspirasin. Pemogokan adalah jalan yang dipilih untuk menekan para pemilik pabrik untuk segera meningkatkan upah kesejahteraan buruh tersebut. Pemogokan ini dipelopori oleh SI Semarang dan dipimpin oleh Semaoen dan kawan kawan, mencapai sukses besar, seperti halnya Batavia, Surabaya, Bandung, dan berbagai daerah lainnya.Berhasilnya berbagai pemogokan yang dikawal oleh SI Semarang dan dipimpin oleh Semaoen, akhirnya serikat pekerja diberbagai daerah tersebut mempercayakan kepemimpinan perserikatan buruh pada SI Semarang.
Sneevliet bersama kaum ISDVnya berhasil mempengaruhi angkatan muda dari SI di Semarang (Semaoen, Darsono, dan lain lain), Jakarta (Alimin dan Muso), Solo (H.Misbach) maupun di kota kota lainnya. (Ricklefs,1989 : hal 263).Dari Sneevliet-lah mereka belajar menggunakan analisis Marxistis untuk memahami realitas sosial yang dialami. Mereka berpendapat bahwa sebab dari kesengsaraan rakyat Indonesia adalah akibat dari struktur kemasyarakatan yang ada, yaitu struktur masyarakat tanah jajahan yang diperas oleh kaum kapitalis.(Gie, 1999:29). 
Pada awal tahun 1918 hasil pemilihan anggota Voolksraad diumumkan. Abdul Muis dan CSI dan seorang Minangkabau lainnya yang menjadi anggota Insulinde, Abdul Rivai berhasil terpilih, tetapi orang orang Indonesia lainnya yang terpilih menjadi anggota sebagian besar adalah bupati atau pejabat-pejabat lainnya. Dari 39 orang anggotanya, 19 orang dipilih oleh dewan lokal (10 Indonesia, 9 Eropa dan Timur Asing), 19 diangkat (5 Indonesia, 14 Eropa dan Timur Asing) (Gie,1999 : 22).  Gubernur Jendral van Limburg Stirum tidak puas dengan hasil ini, dia menggunakan hak penunjukannya untuk mengangkat antara lain, Tjipto Mangunkusomo (yang sudah kembali dari pengasingan) dari Insulinde dan Tjokroaminoto dari SI dengan harapan dapat melibatkan lebih banyak kekuatan radikal dalam membawa mereka pada pendekatan yang lebih bersifat kerja sama. Orang orang Eropa yang berhasil terpilih sebagai anggota lebih progresif daripada sebagian besar anggota yang berkebangsaan Indonesia. ISDV mulai merasa cemas bahwa Volksraad mungkin akan terbukti berhasil, sehingga dengan demikian menjauhkan orang-orang Indonesia yang progresif dari aliran kiri yang ekstrem. (Ricklefs, 1989: 263).
Semaoen  mengaharapkan kepada anggota anggota Volksraad itu supaya mereka memberikan kritikan kepada pemerintah, dan juga mengharapkan agar dihapusnya III RR, 47 RR dan pasal 155 dan 156. Kata terakhir Semaoen menyatakan supaya para wakil rakyat yang sesungguhnya tidak perlu membuang waktu.“Wakil rakyat tidak suka jadi wayang dalam tonil Volksraad.”(Gie, 1999 : 24).
Pimpinan Sarekat Islam Semarang selalu menekankan betapa pentingnya persatuan antara buruh dan tentara (istilah mereka, buruh berseragam), karena persatuan yang demikian  ditakuti kaum imperalis. Antara kaum buruh dan tentara pada hakikatnya tidak ada perbedaan, karena keduannya adalah rakyat miskin yang diperas oleh kaum kapitalis. Dengan persatuan yang kuat, kaum kapitalis dapat dihadapi dan dapat dipaksa untuk menerima tuntutan-tuntutan kaum buruh.
Ketika perdebatan antara berbagai pihak dalam Sarekat Islam yang mendukung atau menolak Volksraad dan indie werbaar terus berlangsung, Tjokroaminoto sebagai hoofdbeestuur di SI berinisiatif mengakhiri perdebatan tersebut.Perdebatan diselesaikan secara resmi dalam kongres CSI ke 3 tahun 1918 di Surabaya. Berbagai pihak akhirnya menyepakati bahwa perdebatan tersebut dibatasi dalam kelembagaan organisasi.
Dalam kongres tersebut Tjokroaminoto dan Moeis tetap dipercaya sebagai pimpinan serta wakil dalam menjalankan roda organisasi SI. Keputusan dalam kongres tersebut adalah :
Mendukung berbagai pemogokan buruh yang teratur untuk memperbaiki nasib, mencari keadilan, dan melawan perbuatan sewenang wenang...[dan] akan memajukan ikhtiar kaum buruh buat memperbaiki nasib, mencari keadilan, dan melawan perbuatan sewenang-wenang itu... untuk menegakkan keadilan dan untuk menghapuskan tindakan-tindakan suka hati.
Pada tahun 1918 kesepakatan dikeluarkan dalam kongres CSI, berbagai anggota SI Semarang akhirnya saling menunjukkan keseriusannya dalam mengawal buruh sebagai poros gerakan SI Semarang untuk memperjuangkan bumiputera.
Keputusan kongres ke-3 dipertegas dalam kongres ke-4.Keputusan tersebut didefinisikan secara jelas, ketika keputusan ini menjadi dasar atau landasan menuju Indonesia merdeka.Dengan demikian,kongres akhirnya menghasilkan sebuah keputusan, ketika Indonesia merdeka federasi buruh akan berperan sebgai kamar pertama sedangkan federasi partai-partai politik yang meliputi semu anggota dalam Radicale Concentratie berperan sebagai kamar kedua. Selain itu dalam kongres ini juga disepakati dilakukannya restruksisasi dan pembaharuan Perkumpulan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) sebagai federasi berbagai organ buruh di Indonesia. Pembaharuan struktur PPKB sebagai sebuah kekuatan eksternal SI adalah untuk mengikat para buruh yang saat itu mencapai 72.000 orang. Ketua dipegang oleh Semaoen wakilnya Suryopranoto dan Sekretaris H. Agus Salim.
Pada tahun 1919 Suryopranoto sebagai wakil PPKB yang terpilih sebagai wakil CSI mendampingi Tjokroaminoto sebagai pimpinannya.,ia mengusulkan agar Jogjakarta dijadikan sebagai pusat kedudukan gerakan PPKB, kemudia Usulan yang dimunculkan oleh Suryopranoto menuai kritik tajam dari Semaoen.Semaoen melihat usulan tersebut sebagai sebuah gelagat untuk menarik kantong kantong pergerakan buruh dibawah kendali Tjokroaminoto.Jika pusat kedudukan gerakan PPKB di pindah ke Jogjakarta maka diperkirakan Pergerakan buruh yng selama ini menjadi elemen dasar pergerakan SI Semarang dan ISDV akan hancur dan lemah. Untuk menghindari berbagai hal terkait dengan kecurigaan tersebut, maka Semaoen yang juga sebagai ketua PPKB justru menarik kedudukan PPKB ke Semarang dengan dalih bahwa ketua memiliki wewenang untuk menentukan kedudukan pusat dari pergerakan tersebut berada. Melalui PPKB Semaoen bersama buruh kembali melakukan berbagai aksi pemogokan dengan tujuan yang sama,seperti yang dilakukan sebelumnnya yaitu menuntut upah yang layak bagi buruh. (Nasihin, 2012: hal 87-90).
SI Semarang telah melebur dalam berbagai serikat sekerja, kembali menjadi ujung tombak buruh dalam melakukan pemogokan, SI memaksa Pemerintah Hindia Belanda mengkaji ulang standar upah pekerja melalui peraturan upah minimum yang telah diterapkan sebelumnya. Seperti halnya pemogokan yang dilakukan oleh buruh percetakan “Van Drop” dan buruh pekerja lainnya pad atahun 1920 di Semarang. Pemogokan yang dilakukan oleh para buruh yang mencapai ±1000  orang tersebut bertujuan untuk meningkatkan gaji para pegawai dan karyawan. Akan tetapi, pemogokan tersebut gagal dan berakhir dengan pemecatan ribuan kerja. (Nasihin, 2012: hal 87-91)
a.      Aksi aksi Sarekat Islam Semarang Mei 1917-Oktober 1918
Kongres Nasional Sarekat Islam ke-2 di Jakarta yang diselenggarakan dari tanggal 20 hingga 27 Oktober 1917. Kongres itu dihadiri para utusan Sarekat Islam dari seluruh Indonesia. Disinilah Semaeon dan kawan kawannya mencoba mempengaruhi para peserta kongres dengan konsepsi-konsepsinya tentang masalah perbaikan sosial, namun Abdoel Muis dengan tegas menolaknya. Mereka berbeda dalam hal Indie Weerbaar dan soal soal Nasionalisme.Kongres ternyata mendukung adanya milisi bumiputra (Indie Weerbaar). Semaoen mencoba untuk mencabut mosi tersebut.Tetapi tidak berhasil.Namun akhirnya dicapai suatu kompromi.Mosi yang mendukung pemecatan Semaeon atau Sarekat Islam Semarang dan mosi Semaoen dkk yang menolak Indie Weerbaar keduanya dicabut.
Dalam hal kapitalisme mereka juga berbeda pendapat mengenai “kapitalisme bumiputra”. Sidang kongres CSI ke-2 akhirnya mengambil jalan tengah.Yaitu, menentang kapitalisme yang jahat.Istilah kapitalisme jahat ini mengandung pengertian bahwa ada kapitalisme yang baik.Namun demikian, dari anggaran dasar yang disusun Kongres jelas terlihat adanya pengaruh sosialisme.Kongres CSI ke-2 itu selanjutnya membahas hubungan antara agama, kekuasaan, kapitalisme dan kesimpulan yang dirumuskan.
Pengaruh SI Semarang atas program kerja yang dihasilkan kongres ini tampak jelas. Mereka memperjuangkan nasionalisasi perusahan-perusahaan besar. Setelah kongres selesai, Sarekat Islam Semarang mulai mengadakan aksi-aksi untuk memperjuangkan cita-citanya. Pada Desember tahun itu juga SI Semarang mengadakan rapat anggota dan menyerang ketidakberesan di tanah tanah partikulir. Atas nama Sarekat Islam, Semaoen dan Kadarisman memproklamasikan pemogokan dan menuntut 3 hal.Pertama, pengurangan jam kerja dari 8,5 jam menjadi 8 jam. Kedua, selama mogok, gaji dibayar penuh dan ketiga, setiap yang dipecat, diberi uang pesangon 3 bulan gaji.Dalam proklamasi pemogokan itu, mahalnya biaya hidup juga digugat. Pemogokan itu ternyata merupakan senjata yang ampuh.Dalam waktu 5 hari saja, majikan menerima tuntutan SI Semarang dan pemogokan pun dihentikan.
Usaha ke dalam tubuh SI Semarang, usaha untuk aktif menentang Pemerintah /Kapitalis, seperti Indie Weerbaar dan Voolksraad serta lainnya juga tetap diaktifkan.Dalam setiap resolusi dan tulisan tulisan. Maka dari itu penebaran ide ide sosialistis dilakukan SI Semarang dengan giat. Abdul Muis yang dianggap sebagai lawan dari Central Sarekat Islam (waktu itu ia wakil presiden), dimaki maki, baik oleh ISDV maupun oleh SI Semarang, sebagai “Boedak Setan Oeang”. Sarekat Islam Semarang atas nama 20.000 anggotanya meminta agar Abdul Muis dipecat sebagai wakil presiden CSI.
Semakin lama SI Semarang kembali radikal.Yang kurang radikal satu persatu mulai meninggalkan SI mulai 28 Februari Moh.Joesoef yang pertama tama keluar dari Sinar Djawa.Disusul kemudian oleh Aloie dan Martowidjojo dari kalangan pimpinan SI Semarang.Kedua orang tersebut digantikan oleh Darsono dan Mas Marco.Darsono diangkat menjadi Komisaris dan Mas Marco sebagai pejabat Presiden SI Semarang, bila Semaun berada di luar Semarang atau dalam perjalanan.
Pertentangan Abdul Muis dan Semaun berulang kembali, kongres berlangsung tegang, Abdul Muis yang sejak kongres ke-2 diserang kelompok Semarang, kini berusaha menjatuhkan Semaun. Pertentangan ini berkisar kepada beberapa soal pokok, yaitu : Agama Grup Abdul Muis agar agama Islam diperkembangkan . sedang kelompok Semaun sudah puas apabila agama Islam tidak dibelakangkan dari agama lain di Indonesia. Dalam mengemukakan masalah masalah, terlihat bahwa Muis lebih mementingkan hal hal umum sedangkan Semaun lebih mementingkan hal hal rakyat.Pertentangan ini begitu hebat sehingga di bicarakan dalam rapat tertutup pimpinan. Semaun mengancam akan melepaskan diri dari Sarekat Islam, bila tuntutan tuntutannya tidak diterima. Dalam hal ini Tjoktoaminoto banyak memberi konsesi kepada Semarang. Semaun di jadikan Komisaris SI untuk Jawa Tengah, sedangkan Darsono diangkat sebagai propagandis resmi Sarekat Islam.
Kongres ke-2 CSI ini akhirnya dapat berjalan baik, karena kepemimpinan  Tjokroaminoto yang tanpa kehadirannya, maka pertentangan Muis dan Semaun tak terhindarkan dan tak terpecahkan. Di antara keputusan yang diambil Kongres, saah satu yang sangat penting bagi SI Semarang ialah tekad untuk menentang kapitalisme dengan mengorganisasi kaum buruh di kota kota. Karena dari sinilah tumbuh akar perjuangan mati matian sosialis revolusioner dimulai sampai pada tahun 1926.
b.      Tokoh tokoh SI Semarang
Selama triwulan pertama dan bulan bulan berikutnya Sarekat Islam Semarang mendapatkan dua orang tenaga yang cakap. Yang pertama adalah Darsono, seorang pemuda. Di pengadilan dia bertemu dengan Semaeon yang segera mengajaknya aktif dalam Serekat Islam Semarang. Proses kejiwaannya yang mendorong ia mencari suatu sistem yang baru, membawa Darsono ke jalan Sosialisme. Semaeon menempatkan Darsono ke redaksi Sinar Djawa. Orang kedua yang ditemukan adalah Marco Kartodikromo, Ia pernah memimpin redaksi Swantatomo di Solo ketika Sarekat Islam dipimpin oleh Tirtoadhisurjo pada 1913. Ia juga pernah menjadi sekretaris I Sarekat Islam. Dalam tahun 1914, mas Marco mendirikan Inlands journalisten Bond di Solo dan ia sendiri menjadi ketuanya. Namun kemudian dia dipenjara karena memuat tulisan seseorang.Setelah keluar dari penajra dia pergi ke Belanda dan disini dia dekat dan dipengaruhi oleh tokoh tokoh nasionalisme kiri seperti Suwardi Suryadiningrat.Selama perjalanannya ke Indonesia dia menulis “samarata samarasa”. Sebuah tulisan yang sangat tajam bagi Belanda.Dan dia dilemparkan lagi ke penjara. Setelah keluar dari penajra pada 21 Februari 1918 ia ditawari kerja di Sinar Djawa dimana ia bekerja bersama Semaun dan kawan kawannya.
c.       Perpecahan dalam Sarekat Islam Semarang
Sarekat Islam Semarang mengalami perpecahan yang disebabkan oleh: (a) Pembentukan Volksraad dan Indie Weerbaar(Pertahanan Hindia) yang dibahas dalam konstituante menyebabkanmunculnya reaksi keras bagi kalangan kiri untuk menentangnya, termasuk Semaoen dan SI Semarang yang menimbulkan pro dan kontra antar anggota Sarekat Islam, (b) Paham Sosialisme-Revolusioner yang di bawa oleh H.J.F.M. Sneevliet yang disebarkan melalui ISDV dan VSTP dengan melakukan infiltrasi ke dalam tubuh Sarekat Islam. Semaoen sebagai ketua Sarekat Islam Semarang sekaligus sebagai propaganda gerakan sosialis-revolusioner mulai melancarkan gerakan-gerakan yang menentang pemerintah.Semaoen mengorganisir kaum buruh dan tani dengan membentuk setral-sentral Sarekat Sekerja. Dalam kongres tahun 1917, secara resmi Sarekat Islam Semarang menyatakan bahwa asas partai pecah menjadi 2, yaitu (a) asas Sosialis-revolusioner dibawah Semaoen dan (b) Asas perjuangan berdasarkan agama Islam dibawah Cokroaminoto.
Tindakan pemerintah menanggapi dunia pergerakan dirasakan  kian lam kian meningkat misalnya Sneevliet diusir dari Indonesia pada akhir 1917, sedangkan Darsono di penjara di Surabaya pad bualn September 1918 karena alsan persdelict. Walaupun demiakian perjuangan melawan harga bahan makanan yang melonjak tajam tak pernah berhenti berlanjut dengan hebatnya.
Di Volksraad Dr. Cipto Mangunkusumo menyuarakan pengurangan area tebu dan perbaikan nasib rakyat namun Volksraad menolak ide tersebut dengan alasan perbandingan suara 10 melawan 20. Hal ini menimbulkan reaksi kekecewaan. Penolakan Volksraad membenarkan pernyataan Semaun bahwa tidak ada gunanya percaya niat baik pemerintah.Penolakan itu berarti memperkuat kedudukan Semaun dalam sarekat Islam.Pada bulan September 1918 bertempat di Surabaya Sejak saat itu, pergerakan SI semakin radikal dan antipemerintah, Sarekat Islam mengadakan sidang yang dihadiri pengurus Central dan para Komisaris daerah yang merupakan siding CSI ketiga yang bertujuan untuk membicarakan situasi politik yang semakin memburuk, harga-harga yang kian melonjak naik. Dalam sidang ini diputuskan untuk membuat sebuah badan yang menyokong tokoh-tokoh pergerakan rakyat yang menjadi korban tindakan-tindakan pemerintah.Badan ini bernama Kas Wakaf Pergerakan Kemerdekaan Sarekat Islam yang diketuai oleh Tjokrosoedarso. Persoalan indie weerbaar mencuat kembali dalam siding ini jika dalam sidang sebelumnya Semaun kalah  karena kalah suara minoritas namun pada sidang kali ini menang. Pergerakan situasi kekiri merupakan kemenangan Sarekat Islam Semarang sehingga menyebabkan perjuangan semakin berat dengan banyaknya penindasan terhadap pergerakan Sarekat Islam Semarang.Di kongres itu dicetuskan ajakan kepada sarekat-sarekat buruh untuk memperkuat diri dengan medirikan sebuah Volkbond.





















BAB V
PENUTUP
5.1. Simpulan
Sarekat Dagang  islam dibentuk oleh H.Samanhudi di solo awalnya untuk menyatukan para pedangang islam di solo yang dimonopoli oleh pedagang etnis thionghoa. Pada 10 September 1912 Haji Said Cokroaminoto mengadakan reorganisasi Sarekat Dagang Islam dengan mengubah namanya menjadi Sarekat Islam dengan menghapus kata “Dagang”. Alasan perubahan nama itu adalah agar gerakannya tidak hanya ditujukan pada golongan pedagang saja tapi diperluas lagi untuk seluruh masyarakat. Perkembangan SI yang pesat memunculkan cabang-cabang di berbagai daerah. Salah satunya  di Semarang.
Sarekat Islam Semarang didirikan oleh Raden Saleh Muhammad Joesoep .Sarekat Islam di Semarang sempat menyulut perkelahian antara orang Cina dengan anggota Sarekat Islam Semarang , penyebab perkelahian adalah kebencian penjual tahu dan nasi orang Cina terhadap angota anggota Sarekat Islam. Pada tanggal 6 Mei 1917 kepemimpinan SI di Semarang beralih dari M. Joesof ke Semaoen,dan dimulainya kegiatan radikal semenjak kepemimpinannya.Sarekat Islam diSemarang disusupi oleh orang – orang yang telah terpengaruh paham Sosialis , karena perbedaan ideologi .
Paham sosialis yang tersusun dikalangan anggota ini disebarkan oleh Sneevlet. Perpecahan dalam Sarekat Islam tidak dapat dihindari lagi ,Sarekat Islam pecah menjadi 2 kubu yaitu : Sarekat Islam yang berhaluan kanan tetap mempertahankan ajaran agamanya dipimpin oleh KH.Cokroaminoto, sedangkan Sarekat Islam merah yang berhaluan kiri bersifat radikal dipimpin oleh Semaoen.Pergerakan SISemarang pada tahun 1917-1920 bercorak sosialis, sampai akhirnya menyatakan bagian dari Perserikatan Komunis Hindia yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia. Masuknya pengaruh kiri dalam Sarekat Islam Semarang memberikan bukti bahwa adapersamaan-persamaan visi yang dimiliki oleh Islam dan sosialis revoluioner/ komunis mepada konteks saat itu.





5.2. Saran
Saran yang diberikan berdasarkan simpulan dan hasil penelitian  tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Pertumbuhan dan perkembangan Sarekat Islam Semarang mengalami berbagai kejadian dalam perjalannya sehingga menimbulkan beberapa pengaruh dalam hal ini peneliti mengangkat kembali mengenai Sarekat Islam Semarang dengan bukti gedung rakyat yang dulu nya digunakan oleh Sarekat Islam untuk perkumpulan yang sampai saat ini bangunannya masih ada melalui bangunan itu peneliti menguak kembali bagaimana perjalanan Sarekat Islam Semarang pada masa silam
2.      Penelitian mengenai pertumbuhan dan perkembangan Sarekat Islam Semarang masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu diharapkan masukan dan penelitian lain yang lebih guna melanjutkan dan melengkapi penelitian ini sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih maksimal dan dapat dipertanggung jawabkan.

















DAFTAR PUSTAKA
 Gie, Soe Hok. 1999. Di Bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
M.A. Mansur, 2004 . Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muryanti, Endang.SarekatIslamSemarangTahun1913-1920.JurusanSejarah. Fakultas Ilmu Sosial.Universitas Negeri Semarang.Skripsi
Nasihin, 2012. Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ricklefs, M.C. 1989. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Soekirno, 1956. SEMARANG . Semarang




Lampiran-Lampiran
A.    Lampiran dari Koran (Harian Kompas)
1.      Judul Semarang dizaman Semaun oleh mochtar wartawan kita
“Mengenang sejarah perjuangan semarang dizaman Semaun begitu tebalnya semangat kebangsaan yang telah ditanamkan ditiap-tiap dada oleh Sarekat Islam.bagi orang Semarang sukar memisahkan nama Semaun dari segala peristwa-peristiwa yang terjadi di Semarang antara tahun 1912-1926. Sangat besar pengaruh Semaun pada masa itu sehingga ia mendapat simpatik san dukungan kuat dari masyarakat”.
2.      Judul Gedong no 1144 oleh Agus Sujudi
“ gedung rakyat yang dibangun dengan iuran 25 sen Semarang punya dua gedung rakyat begitulah usaha Semaun mendirikan gedung pertemuan “
3.      Judul pertemuan kembali oleh Tien
“ gedung Rakyat dikampung ngGendong semarang, sejarah perjuangan rakyat Semarang umunya Sarekat Islam dengan berdirinya gedung ini”.
4.      Judul Rebutan Rezeki “Akan Hilang Sendiri” oleh wartawan kita
“Semaun mengatakan belum dapat menarik kesimpulan  dari keadaan Indonesia pada saat ini karena belum banyak kesempatan. Ribuan rakyat Semarang berkumpul menanti datangnya smeaun setelah 33 tahun lamanya.Sambutnya di stasiun Tawang Semarang kemarin siang itu sedemikian berjejalnya sehingga banyak orang jatuh pingsan”.
5.      Judul Dr. Semaun Meninggal Dunia
”Dr. Semaun salah seorang pejuang kemerdekaan meninggal dunia”
B.     Lampiran Arsip
C.     Foto Gedung Rakyat yang di bangun Semaun  untuk Gedung Pertemuan













No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...