PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pertumbuhan gerakan politik yang
dilakukan kaum muslimin di Indonesia dapat diidentikan dengan kelahiran Sarekat
Islam . Hal ini karena Sarekat Islam merupakan perintis organisasi politik
pertama di Indonesia yang berlandaskan hukum islam . Kelahiran Sarekat Islam
ini merupakan awal kebangkitan umat islam di Indonesia yang bersatu , dan
mereka memiliki harapan bahwa Sarekat Islam dapat memecahkan masalah yang
dihadapi rakyat Indonesia pada saat itu
, selain itu perkembangan Sarekat Islam dipergunakan untuk memahami kedudukan
umat islam khususnya dibidang politik dan dapat memahami sendi sendi politik
melalui gerakan pembaharuan kaum muslim di Indonesia.
Pertumbuhan Sarekat Islam diawali
ketika Sarekat Islam didirikan di Solo , awalnya bernama Sarekat Dagang Islam. Tujuan awal organisasi
ini adalah kompetisi dagang antara golongan Cina dan golongan
pribumi.Selanjutnya Sarekat Islam mengalami perkembangan ketika dipimpin oleh
Cokroaminoto dan menjadi salah satu organisasi besar,namun akhirnya terpecah
setelah disusupi oleh orang – orang yang terpengaruh paham Sosialis .Mereka
berhasil mempengaruhi tokoh tokoh muda Sarekat islam diantaranya Semaoen ,
Darsono , Tan malaka , Alimin Prawirodirjo . Mereka menyebarkan ajaran Sosialis
secara terang – terangan dan menentang kebijakan – kebijakan pimpinan Sarekat
Islam . Ini yang menyebabkan Sarekat Islam terpecah menjadi 2 kubu yaitu :
1. Sarekat
Islam putih yang dipimpin oleh Hos Cokroaminoto, yang tetap mempertahankan
ajaran agama.
2. Sarekat
Islam merah yang dipimpin Semaoen ,yang berlandaskan ajaran Sosialisme
Komunisme. Didalam Sarekat Islam Semarang terdapat perubahan pergerakan yaitu
gerakan kaum menengah menjadi kaum buruh dan tani.Perubahan ini juga memiliki
arti penting bagi Sejarah Modern Indonesia , karena perubahan ini dilahirkan
gerakan Marxis pertama di Indonesia (Gie
2005:10)
Atas dasar uraian latar belakang diatas , maka
penulis tertarik untuk mengungkap tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Sarekat
Islam Semarang
1.2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
dipaparkan diatas maka penulis menemukan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
latar belakang lahirnya Sarekat Islam di Semarang ?
2. Bagaimana
Pertumbuhan dan Perkembangan Sarekat Islam di Semarang ?
1.3.
Tujuan
1. Mengetahui
sejarah Sarekat Islam khususnya Sarekat Islam di Semarang
2. Mengetahui
perkembangan hingga masa surutnya Sarekat Islam di Semarang
1.4. Manfaat
Kegunaan atau manfaat yang diharapkan dari penulisan
laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Kegunaan
Praktis
Bagi Masyarakat, hasil penulisan
yang disertai dengan penelitian ini
diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan Informasi tentang pertumbuhan
dan perkembangan Sarekat Islam di Semarang
serta manfaatnya dalam pembelajaran sejarah.
Bagi Peneliti, seluruh rangkaian
kegiatan dan hasil penelitian diharapkan dapat lebih memantapkan penguasaan
fungsi keilmuan yang dipelajari selama mengikuti program studi pendidikan
sejarah, di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.
2.
Kegunaan Akademis
Bagi perguruan tinggi, hasil penulisan diharapkan
dapat menjadi dokumen akademik yang berguna untuk dijadikan acuan bagi sivitas
akademika.Laporan penelitian ini diharapkan menjadi bahan bahan rujukan dalam
penelitian-penelitian selanjutnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN
LANDASAN TEORI
2.1.KAJIAN
PUSTAKA
Beberapa literature berbicara mengenai sejarah
Sarekat Islam tentang Sarekat Islam Semarang salah satunya bukunya Drs. Mansur,
M.A. yang berjudul Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa yang memuat mengenai Sarekat Islam yang merupakan organisasi kemasyarakatan yang
sebagai kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam kemudian keberlanjutannya mengenai
asas-asas dalam Sarekat Islam kemudian trilogy sebagai landasan prinsip sarekat
Islam selanjutnya tidak luput pula tujuan serta keberadaan Sarekat Islam.
Mengingat Sarekat Islam dalam perjalannya banyak berperan bidang ekonomi namun
juga dalam perjalannya Sarekat Islam menaruh perhatian lebih dalam bidang
pendidikan.
Selanjutnya bukunya Nasihin yang berjudul Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945
yang banyak memuat mengenai untuk menganalisis hubungan Persatuan Sarekat Islam
Indonesia dengan Sosialisme Islam yang dipilih sebagai ideologi, tentu harus
melihat gejala pentingnya tentang perubahan-perubahan yang terjadi sekitar
partai politik seperti ideology, organisasi, serta ciri pemimpin dan mengikuti
masing-masing. Terdapat tiga faktor penting untuk menganalisis hubungan partai
politik dengan ideologi yang diterapkan yaitu perkembangan politik nasional,
elite, dan ideology-kultural.
Kemudian penelitian tentang Sarekat Islam
Semarang yang berjudul Sarekat Islam dan
Gerakat Kiri Semarang 1917-1920 yang memuat mengenai Sarekat Islam disebut sebagai suatu gerakan
“nasionalistis-demokratis-religius-economis”.Bahwasanya,gerakan Sarekat Islam
berlandaskan nasionalisme ekonomi, sebagaimana yangdisampaikan oleh salah satu
tokoh SI R. Umar Said Cokroaminoto.Dalam pidatonyamenyatakan bahwa SI tidak
bersifat politik, tujuannya adalah menghidupkan jiwa dagang.
Literatul
yang mengenai pergerakan politik yang berjudul Gelora Pergerakan Politik Semarang Kota Merah yang memuat mengenai
pergerakan politik yang ada di Semarang mulai Sarekat Islam dimasa Semaun
selanjutnya V.S.T.P (Verenigingvan Spoor- en Tram- wes-Personeel) kemudian PKI
dan Hoodfbestuunjs ysng berkedudukan di Semarang kemudian H.J.F.M. SNEEVLIET
yang bersama teman-temannya mendirikan I.S.D.V. (Indische Sosiaal Demokratische
Vereniging).
Selanjutnya literature mengenai Sarekat Islam dan
kejadian-kejadian sosial dalam bukunya Soe Hoek Gie yang berjudul Dibawah Lentera Merah yang banyak memuat
mengenai kejadian-kejadian sosial yang terjadi dalam Sarekat Islam Semarang
yang mengangkat mengenai gejolak, permasalahan dan aski-aksi yang terjadi dalam
tubuh Sarekat Islam semarang misalnya aksi buruh yang berdemo, kemudian masalah
masuknya Sarekat Islam dalam Volksraad yang dalam perjalannya menimbulkan
banyak pro dan kontra.
1. LANDASAN
TEORI
Penelitian ini membahas mengenai pertumbuhan dan
perkembangan Sarekat Islam Semarang. Dalam menjelaskan tentang pertumbuhan dan
perkembangan ini dijelaskan pula mengenai bagaimana Sarekat Islam Semarang
sehingga penelitian ini lebih bisa dipertanggung jawabkan dan pula tentang
bagaimana Sarekat Islam Semarang dimaksud disini tentang Sarekat Islam Semarang mencakup
aksi-aksi dan perjalanan Sarekat Islam di kota Semarang.
Dalam laporan penelitian ini dibahas mengenai
pertumbuhan Sarekat Islam Semarang yang didirikan oleh Raden Muhammah Joesoep
bersama Raden Soedjono pada awal tahun 1913 yang merupakan cabang dari Sarekat
Islam Surakarta. Yang dalam perjalanannya lebih banyak kemajuannya semasa
pemimpinan Semaun karena dimasa kepemimpinannya terjadinya radikalisasi Sarekat Islam Semarang sangat
tampak pada tahun 1917-1918.
Selanjutnya mengenai perkembangan Sarekat Islam
Semarang yang semasa Semaun banyak bertentangan dengan pendapat dari
HOS.Tjokroaminoto yang merupakan pemimpin CSI (Central Sarekat Islam) misalnya
ketidak setujuan Semaun dengan bergabungnya Sarekat Islam dalam Volksraad yang
dimana menurut HOS. Tjokroaminoto dengan masuknya Sarekat Islam dalam
Volkstraad merupakan sebuah usaha besar
dalam mengangkat bumiputera agar tidak diperlakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda secara wenang-wenang
sehingga Semaun sebagai pemimpin Sarekat Islam Semarang memutuskan melakukan
perjuangannya sendiri. Semaun menggandeng para buruh untuk melakukan berbagai
aksi pemogokan diberbagai daerah secara radikal.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Kajian ini merupakan kajian bidang sejarah oleh karena itu dalam
penelitian ini juga mengunakan cara kerja dan metode historis yang terdiri dari
langkah-langkah : heuristik, kritik, interpretasi, dan historigrafi. Dengan
menggunakan metode sejarah diusahakan merekontruksi peristiwa-peristiwa masa
lampau kemudian menyampakan hasil rekontruksi yang sesuai hingga dapat
dipertanggung jawabkan akan kebenaran isinya dan sesuai dengan jejak-jejak masa
lampau. Adapun langkah-langkah kerjanya sebagai berikut.
a. Heuristik
Heuristic merupakan mengimpun
bahan-bahan (data-data) atau sumber yang dimana bahan atau sumber diperoleh
dengan studi pustaka baik sumber yang berupa sumber primer seperti yang
diperoleh dari arsip dan koran-koran maupun sumber sekunder berupa buku-buku.
Dalam pencarian sumber ini sekaligus dilakukan inventarisasi dan identifikasi
data/fakta yaitu berbagai sumber baik yang tertulis, lisan dan visual yang
relevan. Kemudian dari fakta-fakta yang terkumpul di usut dengan konsep
kebenaran sesuai dengan relevansi pokok persoalan. Adapun langkah-langkah
heuristic yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Menentukan
jenis data yang diperlukan guna mendukung tema yang telah ditentukan sebelumnya
meliputi :
a) Dokumentasi
adalah alat pengukur data yang berupa foto-foto dan gambar-gambar yang
diperoleh dari bangunan Sarekat Islam Semarang
b) Sumber
lisan adalah alat pengukur data yang berupa informasi dari para informan yang
merawat gedung Sarekat Islam Semarang
c) Artefak
adalah alat penguku data yang berupa benda peninggalan masa lampau ini bisa
dilihat dari bangunan Sarekat Islam Semarang di kampung Gendong, Kelurahan
Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Semarang Jawa Tengah
2) Menentukan
tempat penelitian
3) Sumber-sumber
sejarah yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a) Sumber
primer
Sumber primer merupakan
sumber asli karena kesaksiannya tidak bersumber dari sumber lain tetapi dari
tangan pertama dimana diuraikan pelaku lansung atau saksi langsung dalam
peristiwa tersebu. Sumber primer
diperoleh dari Arsip Suara Merdeka yang letaknya di jalan Merak 11A Semarang
dan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang letaknya dijalan
Setiabudi 201C, Serondol, Semarang
b) Sumber
sekunder
Sumber sekunder adalah
kesaksian siapa pun yang bukan merupakan
saksi pandangan meta dari pelaku yang tidak ada dalam peristiwa yang dikisahkan
dimana diuraikan bukan dari pelaku atau saksi. Dalam hal ini penulis
menggunakan buku-buku yaitu Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa karya
Mansur, Di bawah Lentera Merah karya Soe Hoek Gie, Sarekat Islam Semarang
1913-1920 karya Endang Muryanti, Sarekat Islam mencari Indeologi 1924-1945
karya Nasihin, Sejarah Indonesia Modern karya Ricklefs dan buku Semarang karya
Soekirno yang buku ini di peroleh dari pengurus gedung Sarekat Islam setelah
berkunjung ke gedung Sarekat Islam Semarang. Buku selebihnya diperoleh dari
pustaka.
b. Kritik
sumber
Kritik
sumber merupakan menyeleksi data-data yang telah terkumpul melalui kritik
intern dan ekstern dimana data yang telah diperoleh dipilah kembali sesuai
dengan yang dianggap pendukung dalam penelitian ini. Sumber-sumber yang
ditemukan tidak langsung diambil apa adanya atau diterima mentah tetapi juga
melalui kritik sumber yang telah ditentukan yang merupakan alat analisis dalam
ilmu sejarah. Dalam membuktikan sumber terdapat dua cara yang bisa digunakan
yaitu (1) kritik intern atau kredisbilitas sumber dengan cara penilaian
internsik terhadap sumber dan membandingkan kesaksian dengan berbagai sumber
yang bertujuan untuk mencari kebenaran
isinya, dan (2) kritik ekstern atau uji otetitas sumber dimana penilaian sumber
dari aspek fisik dari sumber untuk menguji keaslian sumber.
Dalam
penelitian ini penulis lebih menekankan pada kritik intern yang dilakukan
berupa penilaian interinsik terhadap sumber dan membandingkan kesaksian dari
berbagai sumber hal ini dilakukan agar kesaksian lebih bisa dipertanggung
jawabkan kebenarannya.
Cara
yang dilakukan dalam kritik intern berupa membandingkan sumber-sumber yang
telah diperoleh baik dari arsip, koran, dan dari buku-buku. Sebenarnya
dilakukan pula wawancara kepada informan yang bernama Harto yang merupakan
pengurus gedung Sarekat Islam Semarang namun dikarenakan beliau hanya sebagai
pengurus bukan sebagai saksi maupun pendapat sehingga hasil wawancara tidak
mendukung penelitian.
c. Interpretasi
Interpretasi
merupakan menganalisis data-data yang sudah terkumpul kemudian mengusut
hubungan dan membandingkan antar fakta
yang ada, untuk ditarik kesimpulan yang
relevan sesuai pokok persoalan. menafsirkan fakta-fakta
untuk mewujudkan rangkaian yang sesuai satu sama lain. Proses interpretasi yang
bisa dilkukan adalah sebagai berikut (1) seleksi fakta-fakta yang menunjang
atau relevan dengan penelitian yang dilakukann (2) periodisasi dimana
periodisasi yang dimaksud adalah penyusunan fakta yang sesuai dengan urutan
waktu terjadinya.
Dimana
stelah kritik sumber yang dilakukan dan menemukan sumber-sumber yang tidak
relevan dan sumber yang relevan maka maka sumber yang relevan tersebut akan
memasuki tahap interpretasi atau secara singkat disebut penafsiran atau akan
ditafsirkan sesuai dengan tema atau topic yang telah ditentukan sebelumnya.
d. Historiografi
Setelah
melewati beberapa tahap yang telah diungkap diatas maka sampailah pada tahap
penulisan sejarah sesuai dengan sumber-sumber yang telah ditemukan dan
dianalisi dimana Historiografi, menyajikan cerita yang dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya. Dimana historiografi atau penulisan sejarah merupakan
tahap akhir dari metode sejarah hasil penafsiran atau interpretasi atas
fakta-fakta sejarah yang telah dilakukan
kemudian dituliskan menjadi suatu kisah yang selaras.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Pembahasan
4.1.1. Latar belakang lahirnya Sarekat Islam di Semarang
A.
Sarekat Islam
Syarikat
Islam (SI) adalah organisasi lanjutan kemasyarakatan sebagai kelanjutan
dari Sarekat Dagang Islam (SDI)
didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi SDI merupakan
organisasi yang pertama kali lahir di Indonesia, pada awalnya Organisasi yang
dibentuk oleh Haji Samanhudi ini adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam
yang menentang masuknya pedagang asing untuk menguasai komplar ekonomi rakyat
pada masa itu. Selanjutnya pada tahun 1912 berkat keadaan politik dan sosial
pada masa tersebut HOS Tjokroaminoto menggagas SDI untuk mengubah nama dan
bermetamorfosis menjadi organisasi pergerakan yang hingga sekarang disebut
SYARIKAT ISLAM, Hos Tjokroaminoto mengubah yuridiksi SDI lebih luas yang
dulunya hanya mencakupi permasalahan ekonomi dan sosial. kearah politik dan
Agama untuk menyumbangkan semangat perjuangan islam dalam semangat juang rakyat
terhadap kolonialisme dan imperialisme pada masa tersebut. (Mansur. M.A , 2004
: 2)
Pada waktu
itu Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada awalnya merupakan perkumpulan
pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis oleh Haji Samanhudi di
Surakarta pada 16 Oktober 1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para
pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan
pedagang-pedagang besar Tionghoa. Pada saat itu, pedagang-pedagang keturunan
Tionghoa tersebut telah lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang
lebih tinggi dari pada penduduk Hindia Belanda lainnya. Kebijakan yang sengaja
diciptakan oleh pemerintah Hindia-Belanda tersebut kemudian menimbulkan
perubahan sosial karena timbulnya kesadaran di antara kaum pribumi yang biasa
disebut sebagai Inlanders. SDI merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan
pada agama Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya. Di bawah
pimpinan H. Samanhudi, perkumpulan ini berkembang pesat hingga menjadi
perkumpulan yang berpengaruh. R.M. Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan
Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Pada tahun 1910, Tirtoadisuryo mendirikan
lagi organisasi semacam itu di Buitenzorg. Demikian pula, di Surabaya H.O.S.
Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa tahun 1912. Tjokroaminoto masuk SI
bersama Hasan Ali Surati, seorang keturunan India, yang kelak kemudian memegang
keuangan surat kabar SI, Oetusan Hindia. Tjokroaminoto kemudian dipilih menjadi
pemimpin, dan mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan SDI
menjadi SI bukan saja perubahan dalam nama saja tapi juga dalam orientasi dari
bidang ekonomi ke bidang politik.
(Mansur M.A ,2004 : 7) .
Oleh
pimpinannya yang baru Haji Oemar Said Tjokroaminoto, nama SDI diubah menjadi
Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak
dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik. Tujuan
pergerakan SI dikatakan singkat okeh HOS Tjokroaminoto dalam memberikan kata
pengantar ada program Asas dan sekaligus Program Tandhim SI, bahwa SI akan
menjalankan Islam dengan seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya supaya mendapatkan
islam sejati Jika ditinjau dari anggaran dasarnya, dapat disimpulkan tujuan SI
adalah sebagai berikut:
1)
Mengutamakan social ekonomi.
2)
Mempersatukan perdagangan-perdagangan batik
3)
Mempertinggi derajat bumi putera
4)
Memajukan agama dan sekolahsekolah islam (Mansur, M.A , 2004 : 45-46)
Tujuan pada
saat permulaan, bentuknya sangat sederhana kemudian lebih dipertegas ketika SI
disesuaikan dengan Akte Notaris pada
tanggal 10 September 1912 Drs. Susanto
Tirtoprojo, SH. Di dalam Akte Notaris itu ditetapkan tujuan dari perkumpulan SI
adalah :
1)
Memajukan perdagangn.
2)
Memberikan pertolongan kepada anggota-anggota yang
mengalami kesukaran,jadi semacam koperasi, bantu membantu.
3)
Memajukan kepentingan rohani dan jasmani dari penduduk
asli. Disini ternyata bahwa tujuan tidak hanya
terbatas kepada anggota saja, tetapi perkumpulan meluas kepada
masyarakat ialah kepentingan penduduk asli
4)
Memajukan kehidupan
agamaIslam. (Mansur, M.A. 2004 : 46-47)
SI tidak
membatasi keanggotaannya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Tujuan SI
adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara
muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat. Keanggotaan SI terbuka untuk
semua lapisan masyarakat muslim. Pada waktu SI mengajukan diri sebagai Badan
Hukum, awalnya Gubernur Jendral Idenburg menolak. Badan Hukum hanya diberikan
pada SI lokal. Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur
politik, tapi dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur
politik dan menentang ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan oleh
pemerintah kolonial. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga
menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda.
Seiring
dengan perubahan waktu, akhirnya SI pusat diberi pengakuan sebagai Badan Hukum
pada bulan Maret tahun 1916. Setelah pemerintah memperbolehkan berdirinya
partai politik, SI berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke
Volksraad tahun 1917, yaitu HOS Tjokroaminoto; sedangkan Abdoel Moeis yang juga
tergabung dalam CSI menjadi anggota volksraad atas namanya sendiri berdasarkan
ketokohan, dan bukan mewakili Central SI sebagaimana halnya HOS Tjokroaminoto
yang menjadi tokoh terdepan dalam Centraal Sarekat Islam. Tapi Tjokroaminoto
tidak bertahan lama di lembaga yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda itu dan ia
keluar dari Volksraad (Semacam Dewan Rakyat), karena volksraad dipandangnya
sebagai "Boneka Belanda" yang hanya mementingkan urusan penjajahan di
Hindia ini dan tetap mengabaikan hak-hak kaum pribumi. HOS Tjokroaminoto ketika
itu telah menyuarakan agar bangsa Hindia (Indonesia) diberi hak untuk mengatur
urusan dirinya sendiri, yang hal ini ditolak oleh pihak Belanda
B.
Terbentuknya Sarekat Islam di
Semarang
Persentuhan
SI dengan faham komunis kurang lebih terjadi ketika seorang anggota SI cabang
Surabaya, yaitu Semaoen pindah ke Semarang pada tahun 1915 dan kemudian aktif
di dalam Serikat Buruh Kereta Api dan Term (VSTP). Sneevliet, seorang Belanda
penganut mistik yang berideologi marxisme, rupanya juga aktif disana. Dan juga
sebagaimana diketahui, Sneevliet adalah pendiri Indische Sociaal-Democratische
Vereeniging (ISDV), suatu partai yang beraliran “kiri” di Surabaya pada tahun
1914. Perjumpaannya dengan Sneevliet ini kemudian membawa Semaoen masuk ke
dalam ISDV.
Pada
tahun 1916, Semaoen pindah ke Semarang untuk menjadi propagandis
VSTP.Disemarang, Semaoen bergabung dengan SI Semarang, yang pada saat itu
dipimpin Mohammad Joesoef.Pada Mei 1917 kepemimpinan SI Semarang berpindah
kepada Semaoen, Pergantian ini bermula dari isu yang digulirkan Semaoen agar SI
Semarang bergabung dengan Komite Kebebasan Pers, yang dibentuk
Sneevliet.Joesoef menetang usul itu, tapi karena Semaoen didukung oleh mayoritas
anggota, terpilihnya Semaoen menunjukkan kemenangan kelompok sosialis radikal.
Dibawah
Semaoen, SI Semarang berkembang pesat. Anggotanya bahkan mencapai 20.000
orang.Gerakannya difokuskan dengan aktif mengorganisir buruh dan nelayan.
Bersama temannya di SI Semarang, Alimin dan Darsono, Semaoen juga mempelopori
aksi mogok buruh di kota itu. Setelah memimpin SI Semarang yang kerap disebut
SI merah, Semaoen kerap berselisih dengan sang guru, HOS Tjokroaminoto yang
notabene merupakan pemimpin Sarekat Islam. Semaoen mencibir gerakan kooperatif
HOS Tjokroaminoto sebagai antek Belanda karena masuk menjadi anggota Volksraad
(Dewan Rakyat Bentukan Belanda).SI cabang Semarang mengambil garis anti
kapitalis yang kuat.Cabang ini menentang keanggotaan SI di dalam Volksraad dan
menyerang kepemimpinan CSI (Central Sarekat Islam).Garis revolusioner yang
dibawa oleh Semaoen berkembang menjadi mata rantai yang tak terhentikan.
Sebagai contoh lain, di Jawa Barat, suatu cabang revolusioner rahasia yang
diberi nama “Afdeeling B” (Seksi B) didirikan oleh Sasrokardono dari CSI pada
tahun 1917. Bahkan pada awal tahun 1919 terjadi kekacauan-kekacauan di
Surakarta yang dipimpin oleh seorang Haji yang bernama Misbach yang khotbahnya
berisi doktrin mengenai bahwa Islam dan komunisme adalah hal yang sama. Hal ini
kemudian menjadikan dirinya dikenal sebagai Haji Merah.
Sarekat
Islam Semarang didirikan oleh Raden Muhammah Joesoep bersama Raden Soedjono
pada awal tahun 1913 yang merupakan cabang dari Sarekat Islam Surakarta.
Sarekat Islam Semarang mengalami perpecahan yang disebabkan oleh:
(a) Pembentukan Volksraad dan Indie Weerbaar
yang menimbulkan pro dan kontra antar anggota Sarekat Islam,(b) Paham
Sosialisme-Revolusioner yang di bawa oleh H.J.F.M. Sneevliet yang disebarkan
melalui ISDV dan VSTP dengan melakukan infiltrasi ke dalam tubuh Sarekat Islam.
Semaoen sebagai ketua Sarekat Islam Semarang
sekaligus sebagai propaganda gerakan sosialis-revolusioner mulai melancarkan
gerakan-gerakan yang menentang pemerintah.Semaoen mengorganisir kaum buruh dan
tani dengan membentuk setral-sentral Sarekat Sekerja. Semaoen terkenal
satu-satunya pemimpin pergerakan komunisme di Indonesia
Sejak tahun 1915 ketika Ia berumur 19 tahun,
bersama-sama dengan kawan-kawanja ia Darsono. Tan Malaka, Alimin Prawirodirdjo
telah mulai menggerakan dan meluaskan pengaruh Komunis di kalangan perkumpulan SI sehingga di dalam perkumpulan
SI terdapat dua aliram jang benar ialah SI merah jang beraksi menentang
kapitalisme. Berdasarkan pertentangan kl;as-klas lapisan masjarakat tidak
menghendaki dan menentang dudukanja SI dalam Volkstraad dan jang lain
menentang adat-adat karena adanja
hak-hak istimewa dari golongan-golongan, menentang penduduk Tionghoa dalam
perdagangan dan bersifat kooperatif. Semaun juga berkejimpunh dalam pergerakan
buruh. (Soekirno, 1956 : 42).
Dalam kongres tahun 1917, secara resmi Sarekat Islam
Semarang menyatakan bahwa asas partai pecah menjadi 2, yaitu
a.
Asas
Sosialis-revolusioner dibawah Semaoen
b.
Asas perjuangan
berdasarkan agama Islam dibawah Cokroaminoto.
Keanggotaan Sarekat Islam Semarang mengalami
peningkatan yaitu tahun 1913 (12.216), tahun 1915 (21.832), tahun 1916
(23.000), tahun 1917 (26.900), tahun 1918 ( 29.641) dan tahun 1919 berjumlah 34.000
orang anggota. Akibat perpecahan Sarekat Islam Semarang mengalami peningkatan
jumlah anggota, mendirikan Sekolah Sarekat Islam Semarang dan Central Sarekat
Islam mengadakan disiplin partai yang melarang adanya keanggotaan ganda.
Harapan bagi penelitian ini adalah diadakan penelitian lebih lanjut dengan
kajian yang lebih mendalam dengan sumber yang lebih lengkap.
Bukti adanya SI di Semarang dengan adanya Gedung
Rakyat Indonesia yaitu gedung yang dibuat pada
tahun 1920. Dibuat oleh
Sdr. Semaun dan kawan-kawanya,
balai dapat dari pengumpulan dari rakyat
1 sen 2 sen dan ada pula bagi yang tidak punya
uang berupa barang misalya
bata dan sebagainya.
Jika siang untuk sekolah, malam pada waktu lowong dibuat rapat umum.Pada waktu yang dapat dipergunakan gedung
hanyalah SI.Lama-kelamaan pecahnya SI timbullah SarekatRakyat
yang menjadi onderbouwnja PKI
diantara pemimpin penganjur yang
telah mempergunakan gedung itu adalah Tan Malaka.Antara tahun 1926 dan 1927
bersamaan waktu penangkapan dan pembuangan ke Digul gedung itu ditutup. Tahun
1930 dibuka lagi oleh panitia jang terdiri dari PBI (Persatuan Bangsa
Indonesia), Partindo, PNI ( Partai Nasional ) dan lain-lain, selanjutnya untuk
rapat-rapat. Pada waktu Jepang
masuk, tidak untuk apa-apa hanya
untuk dijaga-jaga. Ketika berkembang 1930-1938 pernah didatangi diantaranya : Bung Karno, Bung
Hatta, Sjarir, Sartono, A.K. Gani, Amir Syarifuddin,
Muhamad Yamin, Woerjaningrat, Dr. Soetomo dan lain-lain. Diwaktu proklamasi
kemerdekaan kita gedung itu tidak dipakai. Pada waktu pertempuran lima hari di
Semarang dipergunakan Pos Palang Merah. Setelah itu dikuasai Bapri diketuai
oleh Mr. Ichsan. Sdr. Ichsan kepedalaman kemudian diserahkan kepada PAGRI ( Panitia
Gedung Rakyat Indonesia) yang
diketuai oleh sdr. Mohamad, Soekamsi, Soedarso. Serta para saudara-saudara ke
Semarang lagi, diminta berkas PAGRI yang
dahulu sampai sekarang. (Soekirno, 1956
: 47).
4.1.2.
Pertumbuhan dan Perkembangan Sarekat Islam di Semarang
A.
Pertumbuhan
Sarekat Islam di Semarang
Sarekat Islam merupakan organisasi
politik pertama diIndonesia yang berlandaskan hukum islam. Awalnya merupakan
perkumpulan para pedagang-pedagang islam yang tujuannya adalah melindungi hak-hak pedagang golongan
pribumi muslim dan monopoli perdagangan yang dilakukan oleh pedagang – pedagang
Cina. Selain itu perlawanan
yang dilakukan tidak semata mata ditujukan kepada pedagang-pedagang Cina melainkan
perlawanan terhadap semua penindasan dan kesombongan rasial, seperti perlawanan
terhadap Kerstening Politiek (Politik Pengkristenan) dari kaum Zending ,
perlawanan terhadap kekecewaan dan penindasan dari pihak Ambtenar-ambtenar bumiputera dan
Eropa (Depdikbud1977/1978:581) . Organisasi
ini dipelopori oleh KH.Samanhudi dan bermarkas di Solo didirikan pada tahun 1911
.Pada mulanya organisasi ini bernama Sarekat Dagang Islam , sebelum organisasi
ini mengarah pada lingkup politik,maka mengarah dulu dalam bidang ekonomi yang
berdasarkan pada hukum islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya
.
Pada tanggal 10 September 1912 Haji
Said Cokroaminoto mengadakan reorganisai Sarekat Dagang Islam dengan mengubah namanya
menjadi Sarekat Islam dengan menghapus kata “Dagang”. Alasan perubahan nama
itu adalah agar gerakannya tidak hanya ditujukan pada golongan pedagang saja
tapi diperluas lagi yakni meliputi seluruh kegiatan dalam masyarakat dan
meliputi seluruh golongan dalam masyarakat (Materu 1985:5). Selain itu Sarekat
Islam juga bergerak dibidang politik .walaupun dalam anggaran dasarnya tidak
terlihat adanya unsur politik , tapi dalam kegiatannya Sarekat Islam menaruh
perhatian besar terhadap unsur – unsur politik dan menentang ketidakadilan
serta penindasan yang dilakukan pemerintah colonial. Artinya Sarekat Islam
memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran
pemerintahan Belanda.
(dikutip dari situs. http://:www.teguh.999.blogspot.com/2012/04/sarekatislam.htm)
Sarekat Islam secara resmi berdiri pada
tanggal 10 September 1912 (Hanifah 1978:20).Sarekat
Islam mendapat sambutan positif dari masyarakat Indonesia, karena Sarekat Islam
dapat menerima anggota dari semua golongan, berbeda
dengan budi oetomo yang membatasi anggotanya bagi priyayi Jawa dan Madura. Sejak saat itu mulailah
Sarekat Islam dimasuki oleh aliran Revolusioner Sosialis.Sebab Sarekat Islam tidak
membatasi keanggotaannya, jadi
semua orang dapat memasukinya.Akibatnya
Sarekat Islam mulai terpecah setelah disusupi oleh orang- orang
yang telah terpengaruh paham Sosialis, karena
perbedaan ideology. Paham
sosialis yang tersusun dikalangan anggota ini disebarkan oleh Sneev Let, seorang Sosialis
Belanda yang datang ke Indonesia pada tahun 1913.Beberapa tokoh-tokoh muda Sarekat
Islam terpengaruh paham Sosialis dan berhasil direkut Sneevlet itu diantaranya :
Semaoen , Tan Malaka , Darsono , Alimin .
Pada akhirnya perpecahan dalam
Sarekat Islam tidak dapat dihindari lagi, ketika
Semaoen dan Darsono keluar dari Organisasi . Sarekat Islam pecah menjadi 2 kubu
yaitu : Sarekat Islam yang berhaluan kanan yang bersifat moderat dan tetap
mempertahankan ajaran agamanya dipimpin oleh KH.Cokroaminoto yang berpusat di
Yogyakarta, sedangkan
Sarekat Islam merah yang berhaluan kiri bersifat radikal dipimpin oleh Semaoen
dan teman temannya yang berhaluan sosialis-radikal
(Indomarxist_Net2004:2-31). Pada
tanggal 6 Mei 1917 Semaoen diangkat menjadi ketua pengurus Sarekat Islam
Semarang.Perubahan Pengurus ini
merupakan wujud pertama gerakan radikal Sarekat Islam Semarang (Gie 2005:9)
B.
Perkembangan
Sarekat Islam di Semarang
Sarekat
Islam Semarang merupakan cabang
dari Sarekat Islam Surakarta yang
berasaskan ajaran agama Islam. Sarekat islam ini didalamnya terdapat
anggota yang terpengaruh paham sosialis-revolusioner, hal ini yang
menyebabkan Sarekat
Islam Semarang dalam pergerakannya menjadi radikal. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sarekat Islam Semarang
didirikan oleh Raden Muhammah Joesoep
bersama Raden Soedjono (Muryanti,
Endang, 2006).
Pada
tahun 1908 di Semarang berdiri V.S.T.P. (Vereniging van Spoor-en
Tramweg-Personeel), sebuah organisasi yang beranggotakan pegawai dari semua angkutan darat
kereta api dan trem.Semenjak kedatangan H.J.F.M. Sneevliet pada tahun 1913 yang menjadikan organisasi
ini berhaluam
sosialisme kiri, V.S.T.P. berada dibawah pengaruhnya dan kemudian Semaun menjadi muridnya (Soekirno,1956: hal 41). Pada tahun 1914 H.J.F.M. Sneevliet mendirikan
Indische Social-Democtarische Vereniging (ISDV : Perserikatan Sosial Demokrat
Hindia Belanda). Partai ini dengan cepat menjadi partai komunis pertama di Asia
yang berada di luar negeri Uni Soviet. Anggotanya hampir seluruhnya orang
Belanda, tetapi organisasi ini ingin memperoleh pengakuan di kalangan rakyat Indonesia, namun organisasi ini tidak menarik rakyat. Oleh karena itu, perhatian ISDV mulai beralih kepada
Sarekat Islam , karena Sarekat Islam adalah satu-satunya organisasi yang
memiliki jumlah pengikut yang besar di kalangan rakyat Indonesia. (Ricklefs,
M.C,1989:hal 261). Pengaruh kiri di dalam Sarekat Islam semakin bertambah besar
ketika ISDV berusaha memperoleh suara rakyat sebagai landasan.
Pada
tahun 1914 seorang pemuda Jawa anak dari seorang buruh kereta api yang bernama Semaun
menjadi anggota SI yang bercabang di Surabaya. Pada tahun 1916 dia pindah ke Semarang, dimana
Sneevliet aktif dalam Serikat Buruh Kereta Api dan Trem dan Semaun juga bergabung dengan ISDV.(Ricklefs, M.C,1989:262).
Gagasan
utama yang menjadi dasar ideologi Sosialisme adalah ajaran Karl Marx.Gagasan
dasar Marxisme yang di bawa oleh para propagandis Sosialis ada dua hal. Pertama : Teori sosial Marxis
melihat bahwa susunan masyarakat pada zaman mana pun secara fundamental
ditentukan oleh metode metode produksi dan distribusi kekayaan. Kedua : Filsafat Sejarah, Dalam filsafat sejarah Marxis melihat bahwa perubahan
masyarakat pada dasarnya bukan ditentukan oleh konflik gagasan seperti yang
telah dirumuskan oleh Hegel. Akan tetapi, perubahan masyarakat ditentukan
oleh konflik ekonomi, yaitu antara kepentingan ekonomi kelas yang memerintah dengan
kelas yang diperintah.Gagasan serta ide dasar Marxis yang demikian menarik
perhatian para
aktivis Sarekat Islam,diantaranya : Semaoen, Darsono, Tan Malaka, serta
berbagai anggota lainnya. Ide serta gagasan Marxis secara tepat menyebar dan
menjadi diskusi menarik bagi kaum pergerakan SI (Nasikin, 2012: hal 82-83).
Tahun 1916 menjadi titik tolak pertama yang menandai munculnya gerakan radikalisasi di Semarang.(Nasihin,
2012:84). pada tahun 1917 jumlah anggota SI Semarang berkembang
pesat mencapai 20.000 orang. Di bawah pengaruh Semaun SI Semarang mengambil garis anti kapitalis yang
kuat, ternyata SI
Semarang
menentang gagasan untuk duduk rekat Islam dalam Voolsraad dan dengan sengit menyerang kepemimpinan Central Sarekat
Islam (CSI).(Ricklefs, M.C,1989:262).
Menurut
Semaun, perjuangan SI Semarang melalui Volksraad justru menunjukkan kalau Tjokroaminoto sebagai hoofdbestuur SI Semarang tidak anti terhadap bentuk-bentuk
Kapitalisme Belanda.SI Cabang Semarang pada dasarnya mengajak SI cabang
Yogyakarta untuk
bersikap revolusioner dalam menghadapi sikap Belanda yang kapitalistik dan
represif (Nasihin, 2012 :84-85).
Kerasnya
penolakan Semaun
terhadap berbagai arah pergerakan SI yang dianggap tidak nyata dalam memperjuangkan
bumiputera,tidak
tampak ketika kongres CSI menyetujui adanya dukungan SI terhadap indie weerbaar. Semaun menegaskan bahwa, “Kami tidak suka keluarkan darah untuk
keperluan orang lain, apalagi keperluan “zondig kapitalisme”(kapitalisme yang berdosa). Maksud dari ucapan Semaun adalah bahwa Indie Weerbaar hanyalah sebuah upaya untuk memperkuat pertahanan
Hindia Belanda dari kekuatan Jepang yang semakin bergerak ke Selatan. Ucapan Semaun tentu beralasan, bahwa pertahanan
untuk Hindia yang digerakan oleh pemerintah Hindia Belanda, pada dasarnya lebih menguntungkan
orang-orang Belanda dan hanya sedikit bagi bumiputera. (Nasihin, 2012: hal 85).
Pada
tanggal 6 Mei 1917, Presiden Sarekat Islam Semarang yang lama, Moehammad
Joesoef menyerahkan kedudukannya kepada Presiden yang baru, yaitu Semaoen. Pada hari itu diumumkan
komposisi yang baru, yang terdiri dari :
Presiden : Semaoen
Wakil
presiden : Noorsalam
Sekretaris : Kadarisman
Komisaris : Soepardi
Aloei
Jahja Aldjoefri
H. Boesro
Amathadi
Mertodidjojo
Kasrin
Dari
susunan pengurus baru ini, enam orang merupakan wajah baru.Mereka adalah
Semaoen, Noorsalam, Soepardi, Aloei, H. Boesro, Amathadi, Mertodidjojo, dan
Kasrin.
Peristiwa
pergantian pengurus ini mencerminkan adanya perubahan dalam masyarakat
pendukung SI di Semarang. Pada mulanya SI Semarang dipimpin oleh kalangan kaum menengah
dan pegawai negeri,sekarang mereka mulai keluar dari Sarekat Islam, termasuk
Soedjono.
Kini
setelah dibawah pimpinan Semaoen, anggota SI berasal dari kalangan kaum buruh
dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan
gerakan Sarekat Islam Semarang.Dari gerakan kum menengah menjadi gerakan kaum
buruh dan tani. (Gie,1999: 5-6).
Sebelum
dipimpin oleh Semaoen, SI Semarang dikenal sebagai organisasi yang lembek dan
yang menyatakan INSULINDE. Perlahan-lahan Semaoen mempengaruhi para pemimpin SI
Semarang. Dan lama kelamaan ia berhasil membawa gerakan Si Semarang bergeser ke arah sosialis
revolusioner. Pada tanggal 19
November 1917 dinyatakan sebagai
puncak usahanya merevolusionerkan SI Semarang,dalam SI Semarang memiliki media untuk mereka bergerak yakni Sinar Hindia (kemudian berganti nama menjadi Sinar Djawa). Perubahan perubahan redaksi diadakan dengan memasukan
tenaga-tenaga muda yang militan.Sebagai pemimpin redaksi yang dipimpin oleh Semaoen dengan dibantu oleh Moh.Joesoef
(berita berita Indonesia dan Semarang), Kadarisman (telegram), Notowidjojo
(ekonomi), Aloei (rapat-rapat dan reserve), Alimin (berita kesewenang-wenangan
dan luar negeri). Semaoen sendiri menjadi redaktur politik dan Alimin dimasukkan ke dalam redaksi.
Mereka masing masing bertanggung jawab sendiri-sendiri di muka pengadilan dan
semua tidak dibayar. Dalam kata pengantarnya mereka menyatakan bahwa haluan Sinar Djawa akan lebih radikal dan
terhadap pemerintah mereka akan menilainya secara jujur, sedangkan terhadap
kaum kapitalis dan kamu priyayi yang memeras akan mereka musuhi (Gie, 1999 :17).
Keadaan
buruk terjadi pada tahun 1917-1918 tidak disangkal oleh dunia Pergerakan
Indonesia, baik
yang berhaluan “keras” maupun “lembek”. Keadaan sosial yang buruk merupakan
tantangan bagi setiap pemikir sosial Indonesia. (Gie,1999 : hal 18). Akibat
keadaan sosial yang buruk membuat para buruh menjadi resah akibat semakin
menurunnya nilai nominal upah buruh tersebut. Akhirnya berdampak meningkatnya berbagai tuntutan buruh
untuk segera meningkatkan kembali upah kerja untuk mencapai kesejateraan hidup.
(Nasihin,2012:86).
Semaoen mengkoordinir berbagai serikat buruh
dan mengawalnya untuk menyuarakan tuntutan aspirasin. Pemogokan adalah jalan yang dipilih
untuk menekan para pemilik pabrik untuk segera meningkatkan upah
kesejahteraan buruh tersebut. Pemogokan ini dipelopori oleh SI Semarang dan
dipimpin oleh Semaoen dan kawan kawan, mencapai sukses besar, seperti halnya
Batavia, Surabaya, Bandung, dan berbagai daerah lainnya.Berhasilnya berbagai
pemogokan yang dikawal oleh SI Semarang dan dipimpin oleh Semaoen, akhirnya
serikat pekerja diberbagai daerah tersebut mempercayakan kepemimpinan
perserikatan buruh pada SI Semarang.
Sneevliet
bersama kaum ISDVnya berhasil mempengaruhi angkatan muda dari SI di Semarang
(Semaoen, Darsono, dan lain lain), Jakarta (Alimin dan Muso), Solo (H.Misbach)
maupun di kota kota lainnya. (Ricklefs,1989 : hal 263).Dari Sneevliet-lah
mereka belajar menggunakan analisis Marxistis untuk memahami realitas sosial
yang dialami. Mereka berpendapat bahwa sebab dari kesengsaraan rakyat Indonesia
adalah akibat dari struktur kemasyarakatan yang ada, yaitu struktur masyarakat
tanah jajahan yang diperas oleh kaum kapitalis.(Gie, 1999:29).
Pada
awal tahun 1918 hasil pemilihan anggota Voolksraad
diumumkan. Abdul Muis dan CSI dan seorang Minangkabau lainnya yang menjadi
anggota Insulinde, Abdul Rivai berhasil terpilih, tetapi orang orang Indonesia
lainnya yang terpilih menjadi anggota sebagian besar adalah bupati atau
pejabat-pejabat lainnya. Dari 39 orang anggotanya, 19 orang dipilih oleh dewan
lokal (10 Indonesia, 9 Eropa dan Timur Asing), 19 diangkat (5 Indonesia, 14
Eropa dan Timur Asing) (Gie,1999 : 22).
Gubernur Jendral van Limburg Stirum tidak puas dengan hasil ini, dia menggunakan hak penunjukannya untuk
mengangkat antara lain, Tjipto Mangunkusomo (yang sudah kembali dari
pengasingan) dari Insulinde dan Tjokroaminoto dari SI dengan harapan dapat
melibatkan lebih banyak kekuatan radikal dalam membawa mereka pada pendekatan
yang lebih bersifat kerja sama. Orang orang Eropa yang berhasil terpilih
sebagai anggota lebih progresif daripada sebagian besar anggota yang
berkebangsaan Indonesia. ISDV mulai merasa cemas bahwa Volksraad mungkin akan terbukti berhasil, sehingga dengan demikian
menjauhkan orang-orang Indonesia yang progresif dari aliran kiri yang ekstrem.
(Ricklefs, 1989: 263).
Semaoen
mengaharapkan kepada anggota anggota Volksraad itu supaya mereka memberikan
kritikan kepada pemerintah, dan juga mengharapkan agar dihapusnya III RR, 47 RR dan pasal 155
dan 156. Kata terakhir Semaoen menyatakan supaya para wakil rakyat yang
sesungguhnya tidak perlu membuang waktu.“Wakil rakyat tidak suka jadi wayang
dalam tonil Volksraad.”(Gie, 1999 :
24).
Pimpinan
Sarekat Islam Semarang selalu menekankan betapa pentingnya persatuan antara
buruh dan tentara (istilah mereka, buruh berseragam), karena persatuan yang demikian ditakuti kaum imperalis. Antara kaum buruh dan tentara pada
hakikatnya tidak ada perbedaan, karena keduannya adalah rakyat miskin yang diperas oleh kaum kapitalis. Dengan persatuan yang kuat, kaum
kapitalis dapat dihadapi dan dapat dipaksa untuk menerima tuntutan-tuntutan kaum buruh.
Ketika
perdebatan antara berbagai pihak dalam Sarekat Islam yang mendukung atau menolak Volksraad dan indie werbaar terus berlangsung, Tjokroaminoto sebagai hoofdbeestuur di SI berinisiatif
mengakhiri perdebatan tersebut.Perdebatan diselesaikan secara resmi dalam
kongres CSI ke 3 tahun 1918 di Surabaya. Berbagai pihak akhirnya menyepakati
bahwa perdebatan tersebut dibatasi dalam kelembagaan organisasi.
Dalam
kongres tersebut Tjokroaminoto dan Moeis tetap dipercaya sebagai pimpinan serta
wakil dalam menjalankan roda organisasi SI. Keputusan dalam kongres tersebut
adalah :
Mendukung
berbagai pemogokan buruh yang teratur untuk memperbaiki nasib, mencari
keadilan, dan melawan perbuatan sewenang wenang...[dan] akan memajukan ikhtiar
kaum buruh buat memperbaiki nasib, mencari keadilan, dan melawan perbuatan
sewenang-wenang itu... untuk menegakkan keadilan dan untuk menghapuskan
tindakan-tindakan suka hati.
Pada tahun 1918 kesepakatan dikeluarkan dalam
kongres CSI, berbagai anggota SI Semarang akhirnya saling menunjukkan
keseriusannya dalam mengawal buruh sebagai poros gerakan SI Semarang untuk memperjuangkan bumiputera.
Keputusan kongres ke-3 dipertegas
dalam kongres ke-4.Keputusan tersebut didefinisikan secara jelas, ketika
keputusan ini menjadi dasar atau landasan menuju Indonesia merdeka.Dengan
demikian,kongres akhirnya menghasilkan sebuah keputusan, ketika Indonesia merdeka federasi
buruh akan berperan sebgai kamar pertama sedangkan federasi partai-partai
politik yang meliputi semu anggota dalam Radicale
Concentratie berperan sebagai kamar kedua. Selain itu dalam kongres ini
juga disepakati dilakukannya restruksisasi dan pembaharuan Perkumpulan
Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) sebagai federasi berbagai organ buruh di
Indonesia. Pembaharuan struktur PPKB sebagai sebuah kekuatan eksternal
SI adalah untuk mengikat para buruh yang saat itu mencapai 72.000 orang. Ketua dipegang oleh Semaoen wakilnya
Suryopranoto dan Sekretaris H. Agus Salim.
Pada tahun 1919 Suryopranoto sebagai
wakil PPKB yang terpilih sebagai wakil CSI mendampingi Tjokroaminoto sebagai
pimpinannya.,ia mengusulkan
agar Jogjakarta dijadikan sebagai pusat kedudukan gerakan PPKB, kemudia Usulan yang dimunculkan oleh Suryopranoto menuai
kritik tajam dari Semaoen.Semaoen melihat usulan tersebut sebagai sebuah gelagat untuk menarik kantong
kantong pergerakan buruh dibawah kendali Tjokroaminoto.Jika pusat kedudukan
gerakan PPKB di pindah ke Jogjakarta maka diperkirakan Pergerakan buruh yng
selama ini menjadi elemen dasar pergerakan SI Semarang dan ISDV akan hancur dan
lemah. Untuk menghindari berbagai hal terkait dengan kecurigaan tersebut, maka
Semaoen yang juga sebagai ketua PPKB justru menarik kedudukan PPKB ke Semarang
dengan dalih bahwa ketua memiliki wewenang untuk menentukan kedudukan pusat
dari pergerakan tersebut berada. Melalui PPKB Semaoen bersama buruh kembali melakukan
berbagai aksi pemogokan dengan tujuan yang sama,seperti yang dilakukan
sebelumnnya yaitu menuntut upah yang layak bagi buruh. (Nasihin, 2012: hal
87-90).
SI Semarang telah melebur dalam berbagai serikat
sekerja, kembali menjadi ujung tombak buruh dalam melakukan pemogokan, SI
memaksa Pemerintah Hindia Belanda mengkaji ulang standar upah pekerja melalui
peraturan upah minimum yang telah diterapkan sebelumnya. Seperti halnya
pemogokan yang dilakukan oleh buruh percetakan “Van Drop” dan buruh pekerja lainnya
pad atahun 1920 di Semarang. Pemogokan yang dilakukan oleh para buruh yang
mencapai ±1000 orang tersebut bertujuan
untuk meningkatkan gaji para pegawai dan karyawan. Akan tetapi, pemogokan
tersebut gagal dan berakhir dengan pemecatan ribuan kerja. (Nasihin, 2012: hal
87-91)
a.
Aksi aksi Sarekat Islam Semarang Mei
1917-Oktober 1918
Kongres
Nasional Sarekat Islam ke-2 di Jakarta yang diselenggarakan dari tanggal 20
hingga 27 Oktober 1917. Kongres itu dihadiri para utusan
Sarekat Islam dari seluruh Indonesia. Disinilah Semaeon dan kawan kawannya
mencoba mempengaruhi para peserta kongres dengan konsepsi-konsepsinya tentang
masalah perbaikan sosial, namun Abdoel Muis dengan tegas menolaknya. Mereka berbeda dalam hal Indie
Weerbaar dan soal soal Nasionalisme.Kongres ternyata mendukung adanya milisi
bumiputra (Indie Weerbaar). Semaoen mencoba untuk mencabut mosi
tersebut.Tetapi tidak berhasil.Namun akhirnya dicapai suatu kompromi.Mosi yang
mendukung pemecatan Semaeon atau Sarekat Islam Semarang dan mosi Semaoen dkk
yang menolak Indie Weerbaar keduanya dicabut.
Dalam hal kapitalisme mereka juga berbeda pendapat mengenai
“kapitalisme bumiputra”. Sidang kongres CSI ke-2 akhirnya mengambil jalan
tengah.Yaitu, menentang kapitalisme yang jahat.Istilah kapitalisme jahat ini
mengandung pengertian bahwa ada kapitalisme yang baik.Namun demikian, dari
anggaran dasar yang disusun Kongres jelas terlihat adanya pengaruh
sosialisme.Kongres CSI ke-2 itu selanjutnya membahas hubungan antara agama,
kekuasaan, kapitalisme dan kesimpulan yang dirumuskan.
Pengaruh SI Semarang atas program kerja yang
dihasilkan kongres ini tampak jelas. Mereka memperjuangkan nasionalisasi
perusahan-perusahaan besar. Setelah kongres selesai, Sarekat
Islam Semarang mulai mengadakan aksi-aksi untuk memperjuangkan cita-citanya. Pada Desember tahun itu juga SI Semarang
mengadakan rapat anggota dan menyerang ketidakberesan di tanah tanah partikulir.
Atas nama Sarekat Islam, Semaoen dan Kadarisman
memproklamasikan pemogokan dan menuntut 3 hal.Pertama, pengurangan jam kerja dari 8,5 jam menjadi 8 jam. Kedua, selama mogok, gaji dibayar penuh
dan ketiga, setiap yang dipecat,
diberi uang pesangon 3 bulan gaji.Dalam proklamasi pemogokan itu, mahalnya
biaya hidup juga digugat. Pemogokan itu ternyata merupakan
senjata yang ampuh.Dalam waktu 5 hari saja, majikan menerima tuntutan SI
Semarang dan pemogokan pun dihentikan.
Usaha ke
dalam tubuh SI Semarang, usaha untuk aktif menentang Pemerintah /Kapitalis,
seperti Indie Weerbaar dan Voolksraad serta lainnya juga tetap diaktifkan.Dalam
setiap resolusi dan tulisan tulisan. Maka dari itu penebaran ide ide
sosialistis dilakukan SI Semarang dengan giat. Abdul Muis yang dianggap sebagai
lawan dari Central Sarekat Islam (waktu itu ia wakil presiden), dimaki maki,
baik oleh ISDV maupun oleh SI Semarang, sebagai “Boedak Setan Oeang”. Sarekat
Islam Semarang atas nama 20.000 anggotanya meminta agar Abdul Muis dipecat
sebagai wakil presiden CSI.
Semakin
lama SI Semarang kembali radikal.Yang kurang radikal satu persatu mulai
meninggalkan SI mulai 28 Februari Moh.Joesoef yang pertama tama keluar dari Sinar Djawa.Disusul kemudian oleh Aloie
dan Martowidjojo dari kalangan pimpinan SI Semarang.Kedua orang tersebut
digantikan oleh Darsono dan Mas Marco.Darsono diangkat menjadi Komisaris dan
Mas Marco sebagai pejabat Presiden SI Semarang, bila Semaun berada di luar
Semarang atau dalam perjalanan.
Pertentangan Abdul Muis dan Semaun berulang
kembali, kongres berlangsung tegang, Abdul Muis yang sejak kongres ke-2
diserang kelompok Semarang, kini berusaha menjatuhkan Semaun. Pertentangan ini
berkisar kepada beberapa soal pokok, yaitu : Agama Grup Abdul Muis agar agama
Islam diperkembangkan . sedang kelompok Semaun sudah puas apabila agama Islam
tidak dibelakangkan dari agama lain di Indonesia. Dalam mengemukakan masalah
masalah, terlihat bahwa Muis lebih mementingkan hal hal umum sedangkan Semaun
lebih mementingkan hal hal rakyat.Pertentangan ini begitu hebat sehingga di
bicarakan dalam rapat tertutup pimpinan. Semaun mengancam akan melepaskan diri
dari Sarekat Islam, bila tuntutan tuntutannya tidak diterima. Dalam hal ini
Tjoktoaminoto banyak memberi konsesi kepada Semarang. Semaun di jadikan Komisaris SI untuk
Jawa Tengah, sedangkan Darsono diangkat sebagai propagandis resmi Sarekat
Islam.
Kongres
ke-2 CSI ini akhirnya dapat berjalan baik, karena kepemimpinan Tjokroaminoto yang tanpa kehadirannya, maka
pertentangan Muis dan Semaun tak terhindarkan dan tak terpecahkan. Di antara
keputusan yang diambil Kongres, saah satu yang sangat penting bagi SI Semarang
ialah tekad untuk menentang kapitalisme dengan mengorganisasi kaum buruh di
kota kota. Karena dari sinilah tumbuh akar perjuangan mati matian sosialis
revolusioner dimulai sampai pada tahun 1926.
b.
Tokoh tokoh SI Semarang
Selama triwulan pertama dan bulan bulan
berikutnya Sarekat Islam Semarang mendapatkan dua orang tenaga yang cakap. Yang pertama adalah Darsono, seorang
pemuda. Di pengadilan dia bertemu dengan Semaeon yang segera mengajaknya aktif
dalam Serekat Islam Semarang. Proses kejiwaannya yang mendorong ia
mencari suatu sistem yang baru, membawa Darsono ke jalan Sosialisme. Semaeon menempatkan Darsono ke
redaksi Sinar Djawa. Orang kedua yang
ditemukan adalah Marco Kartodikromo, Ia pernah memimpin redaksi Swantatomo di Solo ketika Sarekat Islam dipimpin oleh Tirtoadhisurjo pada 1913. Ia juga pernah menjadi
sekretaris I Sarekat Islam. Dalam tahun 1914, mas Marco mendirikan Inlands
journalisten Bond di Solo dan ia sendiri menjadi ketuanya. Namun kemudian dia dipenjara karena
memuat tulisan seseorang.Setelah keluar dari penajra dia pergi ke Belanda dan
disini dia dekat dan dipengaruhi oleh tokoh tokoh nasionalisme kiri seperti
Suwardi Suryadiningrat.Selama perjalanannya ke Indonesia dia menulis “samarata
samarasa”. Sebuah tulisan yang sangat tajam bagi Belanda.Dan dia
dilemparkan lagi ke penjara. Setelah keluar dari penajra pada 21 Februari 1918
ia ditawari kerja di Sinar Djawa dimana
ia bekerja bersama Semaun dan kawan kawannya.
c.
Perpecahan
dalam Sarekat Islam Semarang
Sarekat Islam Semarang mengalami perpecahan yang
disebabkan oleh: (a) Pembentukan Volksraad dan Indie Weerbaar(Pertahanan Hindia) yang dibahas dalam konstituante menyebabkanmunculnya
reaksi keras bagi kalangan kiri untuk menentangnya, termasuk Semaoen dan SI Semarang
yang menimbulkan pro dan kontra antar anggota
Sarekat Islam, (b) Paham Sosialisme-Revolusioner yang di bawa oleh H.J.F.M.
Sneevliet yang disebarkan melalui ISDV dan VSTP dengan melakukan
infiltrasi ke dalam tubuh Sarekat Islam. Semaoen sebagai ketua Sarekat Islam
Semarang sekaligus sebagai propaganda gerakan sosialis-revolusioner mulai
melancarkan gerakan-gerakan yang menentang pemerintah.Semaoen mengorganisir
kaum buruh dan tani dengan membentuk setral-sentral Sarekat Sekerja. Dalam
kongres tahun 1917, secara resmi Sarekat Islam Semarang menyatakan bahwa asas
partai pecah menjadi 2, yaitu (a) asas Sosialis-revolusioner dibawah Semaoen
dan (b) Asas perjuangan berdasarkan agama Islam dibawah Cokroaminoto.
Tindakan pemerintah menanggapi dunia pergerakan
dirasakan kian lam kian meningkat
misalnya Sneevliet diusir dari Indonesia pada akhir 1917, sedangkan Darsono di
penjara di Surabaya pad bualn September 1918 karena alsan persdelict. Walaupun
demiakian perjuangan melawan harga bahan makanan yang melonjak tajam tak pernah
berhenti berlanjut dengan hebatnya.
Di Volksraad Dr. Cipto Mangunkusumo menyuarakan
pengurangan area tebu dan perbaikan nasib rakyat namun Volksraad menolak ide
tersebut dengan alasan perbandingan suara 10 melawan 20. Hal ini menimbulkan
reaksi kekecewaan. Penolakan Volksraad membenarkan pernyataan Semaun bahwa
tidak ada gunanya percaya niat baik pemerintah.Penolakan itu berarti memperkuat
kedudukan Semaun dalam sarekat Islam.Pada bulan September 1918 bertempat di
Surabaya Sejak saat itu, pergerakan SI semakin
radikal dan antipemerintah, Sarekat Islam
mengadakan sidang yang dihadiri pengurus Central dan para Komisaris daerah yang
merupakan siding CSI ketiga yang bertujuan untuk membicarakan situasi politik
yang semakin memburuk, harga-harga yang kian melonjak naik. Dalam sidang ini
diputuskan untuk membuat sebuah badan yang menyokong tokoh-tokoh pergerakan
rakyat yang menjadi korban tindakan-tindakan pemerintah.Badan ini bernama Kas
Wakaf Pergerakan Kemerdekaan Sarekat Islam yang diketuai oleh Tjokrosoedarso.
Persoalan indie weerbaar mencuat kembali dalam siding ini jika dalam sidang
sebelumnya Semaun kalah karena kalah
suara minoritas namun pada sidang kali ini menang. Pergerakan situasi kekiri
merupakan kemenangan Sarekat Islam Semarang sehingga menyebabkan perjuangan
semakin berat dengan banyaknya penindasan terhadap pergerakan Sarekat Islam
Semarang.Di kongres itu dicetuskan ajakan kepada sarekat-sarekat buruh untuk
memperkuat diri dengan medirikan sebuah Volkbond.
BAB V
PENUTUP
5.1. Simpulan
Sarekat
Dagang islam dibentuk oleh H.Samanhudi
di solo awalnya untuk menyatukan para pedangang islam di solo yang dimonopoli oleh
pedagang etnis thionghoa. Pada 10
September 1912 Haji Said Cokroaminoto mengadakan reorganisasi Sarekat Dagang
Islam dengan mengubah namanya menjadi Sarekat Islam dengan menghapus kata
“Dagang”. Alasan perubahan nama
itu adalah agar gerakannya tidak hanya ditujukan pada golongan pedagang saja
tapi diperluas lagi untuk seluruh masyarakat. Perkembangan SI yang pesat memunculkan cabang-cabang di berbagai
daerah. Salah satunya di Semarang.
Sarekat Islam Semarang didirikan oleh Raden Saleh Muhammad Joesoep .Sarekat Islam di Semarang sempat menyulut
perkelahian antara orang Cina dengan anggota Sarekat Islam Semarang , penyebab
perkelahian adalah kebencian penjual tahu dan nasi orang Cina terhadap angota
anggota Sarekat Islam. Pada
tanggal 6 Mei 1917 kepemimpinan SI di Semarang beralih dari M. Joesof ke
Semaoen,dan dimulainya kegiatan radikal semenjak kepemimpinannya.Sarekat Islam diSemarang
disusupi oleh orang – orang yang telah terpengaruh
paham Sosialis , karena perbedaan ideologi .
Paham
sosialis yang tersusun dikalangan anggota ini disebarkan oleh Sneevlet. Perpecahan dalam
Sarekat Islam tidak dapat dihindari lagi ,Sarekat Islam pecah menjadi 2 kubu
yaitu : Sarekat Islam yang berhaluan kanan tetap mempertahankan ajaran agamanya
dipimpin oleh KH.Cokroaminoto, sedangkan Sarekat Islam merah yang berhaluan
kiri bersifat radikal dipimpin oleh Semaoen.Pergerakan SISemarang pada tahun 1917-1920
bercorak sosialis, sampai akhirnya menyatakan bagian dari Perserikatan Komunis
Hindia yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia. Masuknya pengaruh
kiri dalam Sarekat Islam Semarang memberikan bukti bahwa adapersamaan-persamaan
visi yang dimiliki oleh Islam dan sosialis revoluioner/ komunis mepada konteks
saat itu.
5.2. Saran
Saran
yang diberikan berdasarkan simpulan dan hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pertumbuhan
dan perkembangan Sarekat Islam Semarang mengalami berbagai kejadian dalam
perjalannya sehingga menimbulkan beberapa pengaruh dalam hal ini peneliti
mengangkat kembali mengenai Sarekat Islam Semarang dengan bukti gedung rakyat
yang dulu nya digunakan oleh Sarekat Islam untuk perkumpulan yang sampai saat
ini bangunannya masih ada melalui bangunan itu peneliti menguak kembali
bagaimana perjalanan Sarekat Islam Semarang pada masa silam
2. Penelitian
mengenai pertumbuhan dan perkembangan Sarekat Islam Semarang masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu diharapkan
masukan dan penelitian lain yang lebih guna melanjutkan dan melengkapi
penelitian ini sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih maksimal dan
dapat dipertanggung jawabkan.
DAFTAR PUSTAKA
Gie, Soe Hok. 1999. Di Bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
M.A.
Mansur, 2004 . Sejarah Sarekat Islam dan
Pendidikan Bangsa.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muryanti,
Endang.SarekatIslamSemarangTahun1913-1920.JurusanSejarah. Fakultas Ilmu Sosial.Universitas Negeri Semarang.Skripsi
Nasihin, 2012. Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Ricklefs, M.C.
1989. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press
Soekirno, 1956. SEMARANG
. Semarang
Lampiran-Lampiran
A.
Lampiran
dari Koran (Harian Kompas)
1. Judul
Semarang dizaman Semaun oleh mochtar wartawan kita
“Mengenang
sejarah perjuangan semarang dizaman Semaun begitu tebalnya semangat kebangsaan
yang telah ditanamkan ditiap-tiap dada oleh Sarekat Islam.bagi orang Semarang
sukar memisahkan nama Semaun dari segala peristwa-peristiwa yang terjadi di
Semarang antara tahun 1912-1926. Sangat besar pengaruh Semaun pada masa itu
sehingga ia mendapat simpatik san dukungan kuat dari masyarakat”.
2. Judul
Gedong no 1144 oleh Agus Sujudi
“
gedung rakyat yang dibangun dengan iuran 25 sen Semarang punya dua gedung
rakyat begitulah usaha Semaun mendirikan gedung pertemuan “
3. Judul
pertemuan kembali oleh Tien
“
gedung Rakyat dikampung ngGendong semarang, sejarah perjuangan rakyat Semarang
umunya Sarekat Islam dengan berdirinya gedung ini”.
4. Judul
Rebutan Rezeki “Akan Hilang Sendiri” oleh wartawan kita
“Semaun
mengatakan belum dapat menarik kesimpulan
dari keadaan Indonesia pada saat ini karena belum banyak kesempatan.
Ribuan rakyat Semarang berkumpul menanti datangnya smeaun setelah 33 tahun
lamanya.Sambutnya di stasiun Tawang Semarang kemarin siang itu sedemikian
berjejalnya sehingga banyak orang jatuh pingsan”.
5. Judul
Dr. Semaun Meninggal Dunia
”Dr.
Semaun salah seorang pejuang kemerdekaan meninggal dunia”
B. Lampiran
Arsip
C. Foto
Gedung Rakyat yang di bangun Semaun
untuk Gedung Pertemuan

No comments:
Post a Comment