About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Monday, 21 December 2015

DINAMIKA PERKERETAAPIAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT SEMARANG ERA KOLONIAL

ABSTRAK
Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi dalam sistem transportasi nasional yang mempunyai karakteristik pengangkutan secara massal dan keunggulan tersendiri. Perkeretaapian di Indonesia baru dimulai pada tahun 1860 an. Perusahaan kereta api ditangani oleh dua instansi yaitu oleh pihak pemerintah (seperti: S.S – Staad Spoorwegen) dan pihak swasta (seperti : NIS – Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, dan sebagainya). Semarang mempunyai peran yang strategis. Selain secara administratif Semarang merupakan ibukota Propinsi Jawa Tengah, dilihat dari sisi transportasi Semarang merupakan titik tengah jalur Pantura dari Jakarta menuju Surabaya. Semarang juga terletak pada simpul jalur penghubung utama antara jalur jalan sepanjang Pantai Utara dan jalur jalan sepanjang Pantai Selatan yaitu jalur Semarang - Yogyakarta. Keuntungan lokasi ini menjadikan Semarang terus berkembang dengan perkeretaapiannya sebagai simpul jasa dan distribusi serta pintu gerbang menuju wilayah-wilayah lainnya.
Pembangunan perkeretaapian di Semarang dimulai tanggal 17 Juni 1864 dengan pemasangan rel kereta api pertama. Proyek tersebut dilaksanakan oleh NISM (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij) dan peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Sloet Van Beele. Kemudian mulai berkembang pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Semarang dengan kota-kota sekitar untuk kepentingan komersil zaman Hindia-Belanda. Pembangunan Kereta Api yang semakin pesat di Semarang tentu akan membawa dampak terhadap masyarakat Semarang, baik dalam aspek ekonomi maupun tata ruang kota Semarang. Laporan Penelitian ini akan membahas tentang dinamika perkeretaapian dan pengaruhnya terhadap masyarakat Semarang era Kolonial.

Kata kunci: Kereta api, Pengaruh terhadap Masyarakat Semarang.


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Transportasi atau pengangkutan merupakan bagian vital dari kehidupan manusia, karena transportasi merupakan sarana dan prasarana penting yang menjamin kelancaran hidup manusia. Dari dulu sampai sekarang transportasi erat kaitannya dengan kemajuan teknologi manusia selalu membawa perubahan penting bagi kemajuan transportasinya. Bertambah majunya sarana dan prasarana transportasi, membawa kemajuan pula dalam berbagai kehidupan manusia. Sebab, bertambah majunya sarana transportasi membawa dampak penting bagi terjadinya mobilitas sosial masyarakatnya. Pada mulanya manusia masih menggunakan alat transportasi yang sangat sederhana, kesederhanaan alat transportasi ini sejalan dengan kesederhanaan kebutuhan hidupnya, dan kesederhanaan hidupnya menunjukkan pula kesederhanaan pengetahuannya. Alat transportasi seperti gerobak, pedati, dan lain-lain yang ditarik binatang, kapal layar, dan alat transportasi tradisional lainnya semakin lama tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan manusia akan alat transportasi yang didambkaannya. Dengan bertambah majunya kebutuhan dan pengetahuan manusia, maka semakin maju pula alat transportasi yang dibutuhkannya, sehingga berbagai penemuan baru dalam bidang transportasi ini. Alat transportasi yang jenis maupun jumlahnya semula hanya terdiri dari beberapa buah saja, semakin lama semakin bertambah banyak.
Pada paroh kedua abad ke-19, alat transportasi terutama transportasi darat, mengalami perubahan secara besar-besaran alat transportasi “modern” yakni kereta api. Perkeretaapian Indonesia dimulai tanggal 17 Juni 1864 dengan pemasangan rel kereta api pertama di Semarang. Proyek tersebut dilaksanakan oleh NISM (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij) dan peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Sloet Van Beele. Pemasangan lintas pertama bermotif komersial, karena hasil bumi dari daerah Surakarta dan Yogyakarta yang merupakan bahan ekspor, memerlukan angkutan cepat untuk sampai di pelabuhan Semarang.
Pembangunan perkeretaapian di Semarang dimulai pada tahun 1868 beroperasi Semarang-Tanggung sepanjang 26 km. Pada tahun 1870 selesai dipasang dan dibuka untuk umum lintas Semarang-Gundih-Surakarta. Tahun 1871-1873 dilakukan pemasangan rel Surakarta-Yogyakarta-Lempuyangan. Tanggal 10 April 1869 juga dipasang oleh NISM lintas Jakarta-Bogor selesai tahun 1873. Lintas ini kemudian diambil oleh pemerintah yang mendirikan perusahaan kereta api, yaitu SS (Staaatsspoor Wegen). Kemudian dilanjutkan pemasangan lintas Bogor-Sukabumi-Bandung-Kroya-Yogyakarta-Surabaya. Pada lintas Yogyakarta-Surakarta terdapat rel triganda (jalur dengan tiga batang rel) karena NISM menggunakan rel lebar sedang SS sendiri menggunakanh rel normal. Tahun 1903 mulai dipasang oleh NISM lintas Kedungjati-Ambarawa-Magelang-Yogyakarta. Tahun 1907 lintas Sacang-Temanggung-Parakan. Tahun 1899-1903 dipasang oleh NISM Semarang-Cepu-Surabaya. Kemudian tertarik oleh keuntungan yang diperoleh NISM menyusul berdirinya perusahaan-perusahaan kereta api swasta lainnya yang berjumlah sepuluh perusahaan SCS (Semarang Cirebon Stoomtram Maatschapij), SJS (Semarang Juwana Stomtram Maatschappij).
Perkembangan pembangunan jalur kereta api di Semarang membawa dampak terhadap masyarakat Semarang. Pengaruhnya terlihat pada aspek Sosial Ekonomi Masyarakat Semarang dan terlihat terhadap Perkembangandan pembangunan Kota Semarang. Laporan penelitian ini akan membahas dengan lugas dan lengkap mengenai dinamika perkeretaapian dan pengaruhnya terhadap masyarakat Semarang era Kolonial.




1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, beberapa permasalahan mendasar digunakan untuk meneliti dinamika perkeretaapian khususnya di Semarang Era Kolonial mengenai :
  1. Bagaimana gambaran umum transportasi di Jawa pada umumnya ?
  2. Bagaimana gambaran umum pembangunan perkertaapian di Semarang era kolonial ?
  3. Bagaimana pengaruh perekeretaapian di Semarang Era Kolonial dalam beberapa aspek :
a.       Pengaruhnya terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Semarang?
b.      Pengaruhnya terhadap Perkembangan Dan Pembangunan Kota Semarang Era Kolonial ?
1.3  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui gambaran umum sejarah transportasi di Jawa
2.      Mengetahui gambaran umum pembangunan perkeretaapian di Semarang era kolonial
3.      Mengetahui pengaruh perekeretaapian di Semarang Era Kolonial dalam beberapa aspek :
a.       Pengaruhnya terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Semarang
b.      Pengaruhnya terhadap Perkembangan Dan Pembangunan Kota Semarang Era Kolonial




1.4  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari hasil Penelitian ini adalah :
1.      Memperoleh informasi dan gambaran mengenai dinamika perkeretaapian serta pengaruhnya terhadap masyarakat Semarang era kolonial
2.      Bagi civitas akademika, dapat digunakan sebagai bahan kajian dan refernsi untuk kegiatan penelitian sejenisnya.
3.      Bagi penulis sendiri diharapkan dapat menambah pengetahuan dan informasi tentang dinamika perekertaapian di Semarang era kolonial
1.5  Sumber dan Metode Penelitian
Di dalam kegiatan penelitian sejarah, sumber sejarah senantiasa merupakan faktor yang sangat vital. Kalau berpangkal dari pandangan Gilbert J. Garraghan di dalam penelitian sejarah akan senantiasa menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah segala sesuatu yang ”direkam” oleh individu yang hadir pada waktu kejadian berlangsung. Lebih jelas lagi Louis Gottschalk menerangkan bahwa sumber primer adalah kesaksian langsung dari seseorang dengan mata kepala sendiri atau saksi dengan panca indera atau dengan alat mekanis. Dalam kenyataannya sumber primer ini ada yang tertulis ada yang tidak tertulis. Terkait dengan masalah dalam penelitian ini maka beberapa sumber yang digunakan penulis adalah dokumen-dokumen atau arsip, foto dan video, Museum Kereta Api Ambarawa, dan kantor DAOP IV Semarang.
Sementara itu sumber sekunder adalah kesaksian dari siapapun yang bukan merupakan saksi pandangan mata, yakni dari seseorang yang tidak hadir (tidak terlibat) pada peristiwa yang dikisahkan. Sumber sekunder ini dapat berwujud karya cetak yang telah dipublikasikan, termasuk yang di internet. Dalam penelitian ini adalah karya cetak atau publikasi yang terkait dengan pembangunan perkeretaapain di Semarang era kolonial.
Penelitian ini merupakan penelitian sejarah. Sejarah adalah sebuah manifestasi dari prinsip keilmuan transdisiplin yang berangkat dari struktur keilmuan sejarah. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengikuti prosedur penelitian sejarah. Sejarah terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta dan kebenaran sejarah, sehingga diperlukan fakta-fakta yang otentik dan kredibel. Fakta yang otentik dan kredibel untuk melahirkan kebenaran sejarah, akan senantiasa terletak pada kesedian dan kemampuan para sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas dan kritis, sehingga mampu mengungkap sejarah secara objektif. Dengan demikian penelitian sejarah yang dalam hal ini penelitian mengenai pembangunan perkeretaapian di Semarang era kolonial sejarah dalam konteks kesejarahan, merupakan proses penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikan pemecahannya melalui perspektif historis
Secara umum langkah-langkah penelitian sejarah itu adalah sebagai berikut :
1.5.1   Heuristik,
Merupakan kegiatan mengumpulkan sumber sejarah atau jejak-jejak masa lampau. Dalam Penelitian ini penulis dalam pengumpulan data dengan menggunakan tiga metode yaitu studi kepustakaan, metode grafis dan wawancara. Studi kepustakaan dilakukan dengan mengumpulkan data awal sebagai bahan penyusunan materi wawancara dengan informan kunci dan bahan penyusunan materi awal observasi. Temuan awal studi kepustakaan dikonsolidasikan dengan menggunakan metode grafis yaitu dengan mengunjingi web-web atau journal resmi serta dengan video yang merekam mengenai pembangunan perkeretaapian di Semarang zaman kolonial. Wawancara dilakukan ke informan kunci sebagai pemangku kepentingan perkeretaapian di Indonesia. Wawancara ini bertujuan mengumpulkan data primer maupun data sekunder. Adapun informan kunci meliputi :
1)      Humas DAOP IV Semarang, diwawancarai mengenai masalah dinamika perkeretaapian di Semarang era kolonial
2)      Humas Museum Kereta Api Ambarawa, diwawancarai mengenai masalah jenis kereta yang pernah digunakan pada era kolonial


1.5.2    Kritik sumber
Adalah menyeleksi dan menilai sumber-sumber sejarah yang ditemukan baik kritik eksteren yang terkait dengan keaslian, keutuhan dan keotentikan sumber maupun kritik interen yang menyangkut isi sumber itu dapat dipercaya (validitas isi). Setelah melakukan langkah heuristik (pengumpulan sumber) baik pengumpulan sumber tertulis maupun sumber lisan, peneliti kemudian melakukan tahapan selanjutnya yaitu kritik sumber. Data dan informasi yang telah peneliti peroleh diselidiki kesesuaian, keterkaitan dan keobjektifannya secara eksternal maupun internal. Terdapat lima pertanyaan yang harus digunakan untuk mendapatkan kejelasan keamanan sumber-sumber tersebut, yaitu :
a)      siapa yang mengatakan itu ?
b)      apakah dengan satu atau cara lain kesaksian itu diubah ?
c)      apa sebenarnya yang dimaksud oleh orang itu dengan kesaksiannya ?
d)     apakah orang memberikan kesaksian itu seorang saksimata (witness) yang kompeten, apakah ia mengetahui fakta itu ?
e)      apakah saksi itu menyatakan yang sebernarnya (truth) dan memberikan kepada kita fakta yang diketahui itu ?
(Lucey, 1996:46 dalam Helius Sjamsudin)
Kririk sumber sangat penting dilakukan karena menyangkut verifikasi sumber. Penguji tersebut mengenai kebenaran dan ketepatan sumber-sumber yang akan digunakan. Dengan demikian dapat membedakan apa yang benar, apa yang tidak benar, apa yang mungkin dan apa yang meragukan. Kritik sumber bagi sejarawan dalam rangka mencari kebenaran (Sjamsudin, 1996:118). Kritik sumber terbagi dalam dua bagian yaitu :
a)      Kritik eksternal
Ialah cara melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek luar dari sumber sejarah. Pada tahap ini peneliti melakukan penilaian terhadap sumber tertulis yang menjadi acuan dalam penelitian ini dengan berusaha semaksimal mungkin. Seluruh sumber berupa data yang diklasifikasikan sesuai dengan tujuan penelitian, hingga pada akhirnya diperoleh fakta yang sesuai mengenai pembangunan perkeretaapian di Semarang era kolonial. Pelaksanaan kritik eksternal terhadap sumber tertulis bertujuan untuk melakukan penelitian asal-usul sumber terutama yang berbentuk dokumen dan arsip. Peneliti melakukan pemilihan arsip-arsip yang berkaitan dengan pembangunan perkeretaapian di Semarang era kolonial, selain itu juga terhadap buku referensi. Peneliti melakukan pemilihan buku-buku yang dianggap relevan dengan permasalahan yang dikaji yaitu dnegan cara melakukan verifikasi dan pengklasifikasian buku dan arsip, salah satunya dengan melihat tahun terbit. Unuk arsip semakin arsip tersebut berangka tahun tua dan sedangkan untuk buku referensi semakin kekinian tahun terbitnya maka semakin bagus kualitas yang didapat dalam arsip maupun buku tersebut, serta untuk mengetahui bahwa arsip tersebut memang dikeluarkan oleh instansi terkait.
Peneliti melakukan kritik eksternal terhadap sumber lisan yang dilakukan peneliti dengan cara mengidentifikasi narasumber. Untuk sumber lisan kritik dilakuakn dengan memperhatikan beberapa hal seperti faktor usia, kondisi fisik dan perilaku dalam arti apakah narasumber mengatakan yang sebenarnya, karena akan sangat menentukan informasi yang akan diberikan. Narasumber yang peneliti kunjungi rata-rata memiliki usia yang tidak terlalu muda tetapi juga tidak terlalu tua, sehingga daya ingatnya masih cukup baik. Narasumber merupakan Humas perkertaapian DAOP IV serta bagian Humas Museum Kereta api Ambarawa.
b)      Kritik Internal
Berbeda dengan kritik eksternal, kritik internal merupakan kebalikan dari kritik eksternal yang lebih menekankan aspek dalam. Aspek yang lebih ditekankan dalam kritik internal adalah isi dari sumber sejarah yang telah diperoleh. Setelah fakta kesaksian ditegakkan melalui kritik eksternal, tiba giliran sejarawan untuk mengadakan evaluasi terhadap kesaksian itu. Ia harus memutuskan apakah kesaksian itu dapat diandalkan atau tidak. Keputusan ini didasarkan atas dua penyelidikan, yaitu harus memahami arti sebenarnya dari penyidikan serta kredibilitas saksi harus ditegakkan (Sjamsudin, 1996:111).
Kritik internal yang dilakukan penulis terhadap sumber tertulis dilakukan dengan membandingkan antara sumber-sumber yang telah terkumpul dan menentukan sumber yang relevan dan akurat dengan permasalahan yang dikaji. Sedangkan kritik internal terhadap sumber lisan yaitu dengan cara mengidentifikasi narasumber yaitu dengan memilih narasumber yaitu dengan memilih narasumber yang layak untuk diwawancarai. Kemudian penulis mengadakan kaji banding terhadap data lisan dari beberapa narasumber tersebut.
1.5.3   Interpretasi
Setelah sumber berupa fakta-fakta yang diperoleh melalui tahap kritik, kemudian diolah kembali dengan cara pemberian makna atau penafsiran. Hal ini dilakukan agar fakta-fakta tersebut tidak berdiri sendiri melainkan satu rangkaian rekonstruksi peristiwa sesuai dengan pokok-pokok permasalahan dalam penelitian. Dalam metode penelitian sejarah, tahapan ini disebut dengan tahap interpretasi. proses interprestasi atau pemberian makna dilakukan oleh penulis sesuai dengan kajian utama yang diangkat yaitu mengenai perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Dalam laporan penelitian ini interpretasi belandaskan teori tentang perubahan masyarakat yang diungkapkan oleh Astrid S Susanto (1983:157), maka penulis melihat bahwa perkembangan perkertaapian di Semarang dalam kehidupan masyarakat Semarang akan menimbulkan suatu pengaruh, baik dalam kehidupan Sosial-ekonomi maupun dalam perkembangan serta pembangunan Semarang era kolonial. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh narasumber bahwa dengan adanya pembangunan perkertaapian di Semarang membawa dampak dalam aspek sosial-ekonomi maupun dalam aspek pembangunan dan perkembangan Semarang. Sebagai contoh pengaruh kereta api dalam aspek sosial-ekonomi adalah memudahkan mobilitas atau perpindahan terutama berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi barang-barang dan jasa yang mempunyai nilai bagi masyarakat Semarang.
1.5.4   Historiografi (Penulisan Laporan Penelitian)
Langkah terakhir yang ditempuh peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini yaitu penulisan laporan penelitian atau historiografi. Langkah ini merupakan langkah terakhir dari keseluruhan prosedur penelitian yang merupakan kegiatan intelektual dan cara utama memahami sejarah. Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan terakhir sebagai hasil dari ketiga tahapan sebelumnya yang telah dilalui oleh peneliti. Dalam tahap ini peneliti harus mencurahkan seluruh daya pikirannya dalam penggunaan kutipan-kutipan maupun catatan, dan yang terpenting adalah pikiran kritis dan analisa penulis (Sjamsudin, 1996:153).
Hal itu dikarenakan peneliti dituntut untuk dapat menghasilkan sebuah analisis dari hasil penelitiannya yang diwujudkan dalam suatu tulisan sejarah yang utuh dengan judul “Dinamika Perkertaapian dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Semarang Era Kolonial”.
Laporan hasil penelitian ini disusun dalam bentuk penulisan dengan jelas dalam gaya bahasa yang sederhana, ilmiah dan menggunakan tata bahasa penulisan yang baik dan benar. Laporan hasil penelitian ini disusun sebagai tugas akhir dan pengganti ujian akhir semester Mata Kuliah Metode Penulisan Sejarah. Bab satu merupakan pendahuluan yaitu berupa penjelasan mengenai latar belakan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian disertai sistematika penulisan. Bab dua mengenai tinjauan pustaka yang membahas tentang gambaran umum




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 GAMBARAN UMUM PERKERETAAPIAN DI JAWA
Sudah berabad lamanya transpotarsi barang atau orang dilakukan di Indonesia. Dari berbagai sumber yang ditemukan membuktikan bahwa bangsa Indonesia sudah mempergunakan berbagai jenis alat angkut, baik barang maupun orang. Transportasi dari satu tempat ke tempat lainnya dapat berjalan dengan lancar, karena adanya sarana dan prasarana transportasi. Sarana transportasi yang biasa dilakukan di Indonesia, khususnya Jawa ialah transportasi sungai. Menurut Scrieke, sungai-sungai pada waktu itu merupakan urat nadi transporstia barang maupun orang. Sarana angkutan sungai biasanya menggunakan perahu, yang sampai sekarang transportasi ini masih juga berlangsung. Di Jawa, sungai-sungai yang baik untuk pelayaran antara lain Bengawan Solo, Kali Juwana, Kali Bodri, Kali Ciliwung, Kali Cisadane, Kali Citanduy. Kali Citanduy yang menghubungkan Kalipucang di Jawa Tengah bagian selatan, sampai sekarang masih dilakukan, bahkan menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara (Pikiran Rakyat 2 Juli 1990:4).
Selain transportasi sungai, transportasi juga dilakukan melalui darat. Transportasi darat ini masih sukar dilakukan, karena pada waktu itu jalan-jalan umumnya belum memadai. Pada mulanya pengangkutan barang biasa dipikul, tetapi lambat laun mulai ditinggalkan karena dianggap kurang memadai. Meningkatnya jumlah kebutuhan manusia, mengakibatkan semakin meningkatnya jumlah barang yang harus dibawa. Akibat lebih lanjut dari mengkatnya jumlah arus barang, mengakibatkan diperlukannya alat angkut yang mampu membawa barang dalam jumlah yang lebih besar. Maka untuk memenuhi jumlah kebutuhan tersebut, muncullah alat baru yang ditarik kerbau atau sapi (Surhtaono dan Sugijanto Padmo, 1983: 19). Jalan-jalan kemudian dibuat, sekalipun masih sederhana. Alat transportasi yang ditarik hewan ini di berbagai daerah memiliki sebutan yang berbeda. Ada yang disebut gerobak atau cikar yang ditarik kerbau atau sapi, yang biasanya dipergunakan untuk mengangkut barang dan sampai sekarang juga masih banyak dilakukan diberbagai daerah.
Alat angkut penumpang yang ditarik hewan, biasanya kuda disebut delman, andong, sado, dokar, kereta dan sebagainya. Keadaan transportasi di Jawa ini mengalami perubahan yang mendasar, setelah Daendels yang pada waktu itu menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1808-1811) memerintahkan pembuatan jalan raya yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa bagian utara dari Anyer di ujung barat pulau Jawa sampai Banyuwangi di sebelah timur pulau Jawa. Jalan ini kemudian dikenal dengan nama jalan raya pos (Grote Postweg). Jalan raya ini terutama untuk memperlancar angkutan militer guna mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Akan tetapi kemudian juga sangat penting untuk keperluan angkutan barang maupun orang, sehingga mobilitas sosial penduduk pulau Jawa semakin meningkat.
Di sepanjang jalan raya itu ditempatkan dinas kereta kuda. Antara Jakarta dengan Surabaya didirikan 12 pesanggrahan, tempat para pejabat dan pengikutnya beristirahat. Selain itu juga dibuat 126 buah stasiun untuk kereta kuda, dan 51 stasiun untuk kuda (Polak, 1962:14-15). Semua bangunan itu dikerjakan oleh rakyat yang bekerja sebagai tenaga rodi. Kereta-kereta kudanya disediakan oleh para bupati, dan kepada personalnya diberikan bayaran dari sawah-sawah rakyat. Di samping mempunyai arti milteir, sosial dan ekonomi, jalan ini juga mempunyai arti politik, yakni memperlancar roda pemerintahan. Sebab pertumbuhan komunikasi mampu meningkatkan proses integrasi antara pemerintah pusat dengan daerah. Pada masa Raffles, dari jalan itu dibangun jalan-jalan simpang ke pedalaman. Pembuatan jalan-jalan ini berlangsung terus sejalan dengan pertumbuhan perkebunan besar di daerah pedalaman.
Di Kabupaten Kendal Karsidenan Semarang, bahkan pemilik pabrki gula menyerahkan binatang penariknya kepada beberapa orang penduduk setempat dengan sistem angsuran. Dengan cara ini, maka kemudian banyak penduduk yang memiliki usaha angkutan yang ditarik oleh tenaga hewan (Susatyo, 1989: 166-171). Pembuatan jalan yang semula dikerjakan oleh tenaga kerja wajib, dennga semakin berkembangnya perkebunan besar ini, lambat laun diganti dengan tenaga kerja upah. Sampai akhir abad ke-19 jaringan jalan di Jawa mencapai panjang kurang lebih 20.000 kilometer. Selain itu, terdapat 250 buah jembatan kecil, dan kurang lebih 10.000 buah jembatan besi (Sutarma, 1988, hlm. 14) yang sangat penting artinya bagi kehidipan sosial ekonomi masyarakat.
Lalu-lintas angkutan barang dan penumpang di Jawa pada zaman Hindia-Belanda semakin meningkat akibat diterapkannya Sistem Tanam Paksa. Banyak pabrik dan perkebunan besar tumbuh di daerah-daerah pedalaman Jawa. Semakin bertambahnya jumlah pabrik dan perkebunan besar ini, sudah barang tentu semakin meningkatkan jumlah produksinya, dan hal inilah salah satu faktor penting yang mendorong perlunya angkutan yang memadai. Gula sebagai salah satu komoditi ekspor utama pada waktu itu, sangat memerlukan pengangkutan yang lebih cepat dan aman. Padahal sarana dan prasarana angkutan pada waktu itu masih dirasakan kurang memenuhi kebutuhan. Di daerah-daerah perkebunan tebu, pada umumnya sarana dan prasarana transportasinya sangat buruk. Jalan-jalan terdiri dari jalan tanah yang diperkeras dengan batu, sehingga apabila musim hujan jalannya becek dan berlumpur. Selain saranan transportasi tebu, saranan transportasi kopi pun belum memadai. Pengangkutan kopi dari Priangan ke pelabuhan Jakarta, atau dari Kedu, Surakarta, dan Yogyakarta ke pelabuhan Semarang, sering terlambat. Kapal-kapal yang akan mengangkut kopi untuk diekspor, sering menunggu lama dipelabuhan. Sebaliknya, kopi-kopi di gudang penampungan di daerah pedalaman maupun di gudang-gudang pelabuhan mutunya turun, karena harus menunggu lama sehingga sering berjamur (Susatyo, 1989: 166).
 Pada tahun 1840 keadaan transportasi di Semarang sempat mengkhawatirkan, karena banyak sapi dan kerbau yang mati akibat menarik beban melebihi kemampuannya dan terlalu jauhnya jarak yang harus ditempuh. Sebagai konsekuensinya, harga sapi naik dengan drastis, juga dengan semakin naiknya biaya transportasi. Pada tahun 1833 ongkos angkut satu pikul kopi dari Kedu ke Semarang hanya F 3,3. Banyaknya sapi dan kerbau yang mati serta naiknya ongkos transporatsi tersebut, jelas hanya berpengaruh terhadap kelancaran pengangkutan pada waktu itu (Sutarma, 1988:18). Menghadapi kenyataan ini, pemerintah Hindia-Belanda tidak tinggal diam. Ia meminta bantuan kepada menteri urusan penjajahan untuk mengatasi masalah transportasi ini. Atas permintaan itu, menteri urusan jajahan, J.C. Baud mendatangkan 40 ekor unta dari Teneriffe (sebuah kota di pinggir Afrika Barat) dan sejumlah keledai ke Jawa. Binatang-binatang tersebut dimaksudkan sebagai penarik kereta. Selain mendatangkan unta dan keledai, Baud juga mendatangkan 20 buah roda-roda bergerigi ke Semarang, lengkap dengan rel-relnya (Sutarma, 1988: 19).
Usaha Baud ini banyak mengalami kegagalan, karena unta dan keledai yang didatangkannya semuanya mati, karena selain tidak cocok dengan iklim Indoensia, juga beban yang diangkutnya melebihi kemampuannya. Menghadapi kenyataan ini, akhirnya Baud memutuskan untuk membuat jalan kereta api yang ditarik kerbau, sapi atau kuda. Akan tetapi usahanya ini pun mengalami kegagalan, karena banyak sapi, kerbau atau kuda yang mati. Sementara itu barang-barang yang harus diangkut dari gudang-gudang di pedalaman semakin menumpuk, karena tidak cepat diangkut.
Sehubungan dengan kesulitan angkutan barang ini, maka pada tanggal 15 Agstus 1840, Kolonel Jhr. Van der Wijk mengajukan memo kepada pemerintah Hindia-Belanda, untuk membangun jaringan jalan kereta api. Dengan memasang jalur kereta api sepa njang pulau Jawa akan sangat menguntungkan baik dari segi ekonomi maupun segi militer. Jalur kereta api yang diusulkannya ini, akan membentang dari Surabaya melalui Surakarta, Yogyakarta, dan Bandung, terus ke Jakarta. Sebagai seorang militer, Wijk memandang perlu pembangunan kereta api untuk pertahanan. Ia mengajukan rencana ini sehubungan dengan masih banyaknya pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia, khususnya diSemarang. Kemungkinan lain ialah adanya trauma dari perang Diponegoro yang sempat merepotkan militer dan membobolkan keuangan Belanda. Usul Wijk ini mendapat dukungan dari J. Trom sebagai insinyur kepala bagian pengairan dan pembangunan yang menyarankan gara dibuatnya jalan kereta api dair Surabaya ke Cilacap (Sutarma, 1988:21). Sehubungan dengan adanya usul Wijk, maka dikeluarkanlah Koninklijk Besluit (Surat Keputusan Raja) tertanggal, 28 Mei 1842 No.270 yang menyatakan akan dibuatnya jalan kereta api dari besi, dari Semarang ke Kedu dan Yogyakart-Saurakarta untuk pengembangan transportasi (Reitsma, 1828: 7 dan Jellema, 1928: 10).
Pemasangan rel diusahakan agar dapat dilalui dari dua jurusan. Keputusan ini ternyata hanya surat penetapan belaka, sebab tidak pernah dilaksanakan. Hal ini patut disayangkan, mengingat beberapa perusahaan swasta ada yang sanggup untuk mengerjakan dan mengusahakan pembuatan jalan kereta api di Jawa (Sutarma, 1988:21). Pada tahun 1846, Gubernur Jenderal Rochussen mengusulkan kepada pemerintah di negeri Belanda, agar menolak semua permohonan swasta yang bermaksud membangun jaringan jalan kereta api di Jawa. Ia bahkan meminta disediakan uang sebanyak F 2,5 juta untuk pemasangan rel kereta api dari Jakarta ke Bogor. Bertentangan dengan usul ini, pada tahun 1851 Gubernur Jenderal A. J. Dujmaer van Twist meminta pembuatan jalur kereta api kepada pihak swasta. Permintaan Twist disetujui dengan suara bulat oleh parlemen Belanda. Pada tahun 1852 keluarlah Koninklijk Besluit tertanggal 31 Oktober 1852 H22 (Ind. Stblt. 1853 No. 4) yang mengatakan bahwa dipermudah bagi pengusaha-pengusaha swasta Belanda untuk mendapatkan konsesi atau izin membuat jalan kereta api di Jawa (Sutarma, 1988: 22). Akan tetapi kenyataannya keputusan raja ini belum menjamin dilaksanakannya pembangunan jalur kereta api di Jawa dalam waktu yang singkat.
Sekalipun usaha untuk membangunan jaringan jalan kereta api pernah mengalami kegagalan, tetapi mengingat makin mendesaknya kebutuhan akan alat transportasi yang semakin baik, maka pada tahun 1864 dimulailah pembangunan jalan kereta api di Jawa. Pembangunan jalan kereta api ini sangat penting artinya bagi perkembangan transportasi di Indonesia, khususnya di Semarang. Jaringan jalan kereta api ini berhasil dibangun berkat kegigihan kalangan swasta Belanda yang memiliki perkebunan ataupun pabrik pengolahannya untuk memenuhi kepentingan usahanya. Dengan semakin meningkatnya sarana dan prasarana transportasi di Indonesia, khususnya Jawa maka semakin banyak pula kalangan swasta Belanda yang menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini sudah barang tentu semakin meningkatkan jumlah komoditi ekspor dan frekuensi transporatsi di dalam negeri, maupun transportasi dari dan ke luar negeri. Keberhasilan agribisnis di Hindia-Belanda semakin merangsang pemilik modal untuk memperoleh konsesi guna membangun dan mengekploitasi jaringan jalan kereta api, khususnya di Jawa.
2.2  PEMBANGUNAN PERKERTAAPIAN DI SEMARANG ERA KOLONIAL
Manusia memiliki suatu kebutuhan dasar untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, baik perpindahan yang bersifat sementara dan berjarak dekat, maupun perpindahan yang berifat tetap dan memiliki jarak yang jauh, misalnya pindah ke suatu tempat untuk menetap di sana. Transportasi merupakan media perpindahan manusia dan milik mereka (barang) dari suatu tempat ke tempat lain (Tim Telaga Bakti Nusantara, 1997: 1). Oleh karena itulah, kemudian transportasi mempunyai peran yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Pembangunan jaringan transportasi suatu daerah sangat berpengaruh pada keadaan perekonomian daerah yang bersangkutan. Tujuan kegiatan ekonomi adalah memenuhi kebutuhan manusia dengan menciptakan suatu manfaat. Transportasi adalah salah satu jenis kegiatan yang terkait pada peningkatan kebutuhan hidup manusia dengan mengubah letak geografis manusia atau barang. Berdasarkan pada pendapat Soenjoto seperti yang dikutip oleh Sri Retna Astuti, jalur kereta api menghubungkan kota satu dengan kota lainnya di daerah perkebunan, serta menghubungkan pabrik-pabrik dengan pelabuhan sehingga kota menjadi ramai.
Kereta api adalah alat transportasi berupa kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di rel. Kereta api merupakan alat transportasi massal yang umumnya terdiri dari lokomotif dan rangkaian kereta atau gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan lainnya). Rangkaian kereta atau gerbong tersebut berukuran relatif luas sehingga dapat memuat manusia (penumpang) maupun barang dalam jumlah yang besar. Karena sifatnya sebagai angkutan massal efektif, beberapa negara berusaha memanfaatkannya secara maksimal sebagai alat transportasi utama pada angkutan darat, baik di dalam kota, antarkota, maupun antarnegara. Sejak kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia, Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam bidang transportasi terutama perkeretaapian. Hal tersebut bermula ketika dikeluarkannya Undang-Undang Agraria atau Undang-Undang Gula (Suiker Wet). Dalam Undang-Undang Gula ditetapkan, bahwa tebu tidak tidak boleh diangkut ke luar Indonesia tetapi harus diproses di dalam negeri. Pabrik gula milik pemerintah akan dihapus secara bertahap dan diambil alih oleh pihak swasta. Pihak swasta juga diberi kesempatan yang luas untuk mendirikan pabrik gula baru . Untuk menunjang sarana akomodasi pengangkutan hasil perkebunan tersebut kemudian dibuat rel-rel pengangkut tanaman tebu pada pabrik gula (lori). Pada intinya untuk mempermudah dalam pengangkutan barang.
Jalur kereta api dipergunakan oleh para pengusaha perkebunan dan pedagang untuk mempermudah pengangkutan barang. Perluasan jaringan kereta api sampai sampai ke pelosok daerah telah merangsang pertumbuhan pusat kegiatan ekonomi di daerah-daerah dekat jalur kereta api. Tempat-tempat yang terisolir dan jauh dari kota dapat dicapai. Kota-kota kecil mulai dilalui jalur kereta api menjadi ramai. Kepadatan ruas jalan semakin bertambah seiring dengan perluasan perkebunan tebu dan pertambahan penduduk. Tumbuhnya perusahaan perkebunan dan perdagangan serta kelancaran transportasi menarik bagi penduduk desa untuk mencari pekerjaan ke kota.
Jaringan kereta api di Jawa dibangun antara tahun 1870an sampai tahun 1920an. Sebenarnya gagasan pembangunan jalan kereta api di Jawa sudah muncul sejak tahun 1840, tapi gagasan tersebut baru menjadi kenyataan pada tahun 1864. Menurut Siti Khoirun Nikmah dan Valentina Sri Wijiyati (2008: 4), Sejarah kereta api di Indonesia awalnya dibangun pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J. Baron Sloet van den Beele tahun 1864, di Desa Kemijen, Semarang. Lahirnya kereta api sekaligus juga menandai awal industrialisasi di Indonesia yang melahirkan kelas buruh perkebunan dan buruh pabrik, beriringan dengan masa awal perkembangan industri modern di Eropa. Ketika mengalami kebangkrutan ekonomi akibat perang Diponegoro (1825 – 1830), Belanda menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) dengan mewajibkan penduduk pribumi menanam tanaman untuk pasar Eropa (tebu, kopi, nila, kapas, tembakau), disertai dengan pendirian pabrik gula. Saat itulah, kereta api dibangun dengan fungsi utama sebagai alat angkut (lori) tebu dan hasil perkebunan lainnya sampai tiga tahun pertama.
Pelaksanaan pembangunan jaringan jalan kereta api ini baru dapat dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 1864, yang diawali dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jenderal Sloet van der Beele di Semarang. Mengingat sarana dan prasarana yang untuk pembuatan jalur jalan ini masih sangat sederhana, ditambah lagi dengan keadaan medan yang cukup berat, maka pembangunannya berjalan lambat. Pembangunan jaringan jalan kereta api pertama di Indonesia dibangun tahun 1867 di Semarang dengan rute Semarang-Tanggung yang berjarak 26 km oleh NISM, N.V. (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) dengan lebar jalur 1.435 mm (lebar jalur SS-Staatsspoorwegen adalah 1.067 mm atau yang sekarang dipakai), atas permintaan Raja Willem I untuk keperluan militer di Semarang maupun hasil bumi ke Gudang Semarang.
 Setelah Pembangunan jalur kereta api tersebut terealisasi pada 10 agustus 1867 yang menghubungkan jalur Semarang-Tanggung. Selanjutnya jalur-jalur kereta api di Indonesia berkembang terutama di Jawa. Hampir seluruh daerah jajahan Belanda di Jawa dihubungkan dengan jalur kereta api. Keuntungan besar yang diperoleh NISM dari pengoperasian kereta api dan pembangunan stasiun membuat para pengusaha swasta berminat menanamkan modal mereka dalam jasa angkutan kereta api. Salah satu perusahaan kereta api dan trem yang mendapat konsesi untuk memasang jalan rel dan mengeksploitasi kereta api dan trem sebagai alat angkutan di Indonesia saat itu adalah Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Konsesi tersebut diperoleh pada tahun 1881 dengan Gouvernement Besluit tanggal 18 Maret 1881 no.5. SJS membangun stasiun dan jalan rel kereta api Semarang-Lasem (1883-1900), Lasem-Jatirogo (1914-1919), Demak-Blora (1884-1894), Rembang-Cepu (1901-1903), Purwodadi-Gundih (1884), Wirosari-Kradenan (1898), dan Kudus-Pecangakan (1887-1895) yang melalui daerah-daerah penghasil gula, kapuk, kayu jati, tras, dan bahan bangunan lainnya.
Semarang merupakan kota di Jawa yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari seluruh Indonesia dan merupakan salah satu kota penghasil kopi di Jawa Tengah. Stasiun pertama di Semarang (yang berarti juga pertama di Indonesia) adalah stasiun Semarang NIS yang terletak di Tambaksari, kelurahan Kemijen. Stasiun ini mulai dipakai bersamaan dengan beroperasinya kereta api Semarang - Tanggung pada 1867. Stasiun Samarang NIS adalah stasiun ujung (terminus, kopstation) berbentuk U. Kompleks Stasiun Samarang NIS terdiri dari lima bangunan penting yaitu :
1)      Stasiun penumpang (Personenstation) berupa stasiun ujung yang berbentuk U.
2)      Stasiun barang (Goederenstation) berada disebelah barat stasiun penumpang dan jalurnya melintasi Spoorlaan.
3)      Stasiun kanal (vaart van het Station) berada disebelah barat laut Stasiun penumpang. Di sisi utara stasiun ini terdapat kanal yang berhubungan dengan kanal utama pelabuhan disisi barat.
4)      Balai Yasa (Werkplaatsen) berada disebelah selatan stasiun penumpang, berukuran paling besar dan berbentuk E.
5)      Kepala stasiun (Station Chef) berupa bangunan kecil dekat Spoorlan, sebelah barat
Setelah NV Nederlandch Indische Spoorweg Mij (NISM) membangun jalan kereta api antara desa Kemijen di Semarang dengan Tanggung. Pihak swasta berinisiatif untuk membangun jalan kereta sesuai bisnisnya. Hal ini terbukti dengan hadirnya 11 perusahaan kereta api milik swasta di Jawa dan 1 di Sumatera. Perusahaan-perusahaan kereta api swasata pada masa penajajahan antara lain :
1)      NV. Nederlandsch Indische Spoorweg Mij.
2)      NV. Semarang Cheribon Spoorweg Mij.
3)      NV. Joana Stoomtram Mij.
4)      NV. Serajoe Dal Stoomtram Mij.
5)      NV. Oost Java Stoomtram Mij.
6)      NV. Kediri Stoomtram Mij.
7)      NV. Modjokerto Stoomtram Mij.
8)      NV. Malang Stoomtram Mij.
9)      NV. Paasuruan Stoomtram Mij.
10)  NV. Probolonggo Stoomtram Mij.
11)  NV. Madoera Stoomtram Mij.
12)  NV. Deli Spoorweg Mij.
Di karesidenan Semarang, lalu lintas kereta api dan trem seluruhnya ditangani oleh perusahaan kereta api Hindia-Belanda atau Nederlandch Indische Spoorwegmaatschpij (NIS) sebagai induk, beserta caba-ncgabangnya Semarang-Cheribon Stootram-maatschpij (SCS), dan Semarang Joana Stootram-maatschpij (SJS). Perusahaan-perusahaan tersebut semuanya berada di Semarang, sedangkan jalur kereta api yang diselenggarakannya ialah :
1)      SCS, yang menghubungkan Semarang dengan Cirebon dengan cabang-cabangnya ke Kendal. Melalui jalan kereta api ini, Semarang-Batavia (Jakarta) dapat dicapai dalam jangka waktu sekitar 8 jam.
2)      NIS, yang menghubungkan Semarang dengan Surabaya, melalui Gundi dan Cepu. Jarak Semarang- Surabaya ini dapat ditempuh sekitar 7 jam.
3)      NIS, yang menghubungkan Semarang dengan Surakarta dan Yogyakarta, melalui Kedungjati.
4)      NIS, Semaran-Kgedungjati- Amabarawa-Magelang-Yogyakarta.
5)      SJS, Semarang-Demak-Kudus-Pati- Rembang (Memori Residen Semarang, 1977: XLIX).
SJS mengusahakan pembuatan jalan kereta api term atau Stoomtram yang berkecepatan di bawah 37 mil per jam, sedangkan pembuatan jalannya dimulai tahun 1881 dan selesai tahun 1882. Tahun-tahun tersebut juga merupakan perluasan pembuatan jalur-jalur jalan kereta api, misalnya pembuatan trayek ke Mayong tahun 1887, trayek Demak Blora tahun 1894. Pada tahun 8189, NIS mendirikan angkutan tram di dalam kota, dan pusat dari NIS ialah stasiun Tawang, dan dimaksudkan sebagai stasiun pusat dari semua kereta api dari dan ke Semarang.Stasiun Tawang kode (SMT) diresmikan penggunaannya tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Tanggung. Pembangunan stasiun ini diprakarsai oleh NISM. Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Stasiun ini dibangun untuk menggantikan Stasiun Samarang NIS di Tambaksari yang dianggap sudah tidak memadai lagi sekaligus menyambut Koloniale Tentoonstelling, Pekan Raya Internasional untuk memperingati 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol yang diadakan di Kota Semarang. Stasiun ini merupakan yang terakhir dibangun di Semarang sampai Saat ini. Proses pembangunannya berlangsung sekitar 3 tahun. Rancangan bangunan ini dibuat oleh Ir Sloth Blawboer yang diperkirakan adalah staf NIS. Meski hasil rancangannya terkesan megah, arahan dari direksi NIS di Den Haag lebih menekankan pada bangunan yang fungsional. Stasiun NIS lainnya ialah stasiun Poncol, sedangkan kantor pusat SJS terletak di jalan MH. Thamrin sekarang (Kasmadi dan Wiyono, 1985: 60-61). Pada tanggal 6 Agustus 1914, SCS resmi menggunakan stasiun baru di kawasan poncol. Mengingat letaknya di pinggir barat kota Semarang, stasiun ini disebut Semarang-West.
 Pemberian konsesi kepada SJS segera diikuti oleh pemberian konsesi kepada perusahaan-perusahaan trem dan kereta api lainnya, seperti :
1)      Batasche Ooster Spoorwegmaatschapij (BOS) yang pada tahun 1884 membangun jalan trem dari Jakarta ke Bekasi melalui Pasar Senen dan Jatinegara; Javashe Spoorwegmaatschapij (JSm) yang pada tahun 1886 membangun jalan kereta api Tegal- Balapulang
2)       Poerwadadi-Goendih Sotomtramgmaatschapij (PGSM) yang muncul pada tahun 1893 setelah konsesinya dibeli oleh SJS pada tahun 1892.
3)      Oost-Java Stoomtram-maatschapij (OJS) yang membangun jalur ajanl tram sepanjang 13 kilometer dalam kota Surabaya dan 42 kilometer untuk jalur Mojokerto-Ngoro-Dinoyo
4)      Nederlandsch-Indische Tramrwegmaatschapij (NITM) yang membangun jalur jalan tram dalam kota Jakarta sepanjang 13 kilometer
5)      Pasoeroean Stoomtram Maatschapij (PS SM) dan Solosche Tramweg Maatschap ij (SOTM) yang membangun jalur ja lan tram untuk kota Solo (Surakarta) dan sekitarnya (Susilowati, 1984: 28).
6)      Bataviashe Stoomtram Maatschapij (BETM) mendapat konsesi pada tahun 1893
7)      Probolinggo Stoomtram Maatschapij (PBSM) mendapat konsesi tahun 1894
8)      Mojokerto Stoomtram Maatschapij (BDSM) mendapat konsesi tahun 1896
9)      Madoera Stoomtram Maatschapij mendapat konsesi tahun 1896
10)  Malang Stoomtram Maatschapij (MS) mendapat konsesi tahun 1901

Pada tahun 1901 untuk seluruh Indonesia terdapat 18 perusahaan kereta api pemerintah. Ini merupakan suatu perkembangan yang sangat pesat sehingga pembangunan perkeretaapian di Semarang yang semula mendapat banyak hambatan, sekarang dapat berjalan dengan lancar. Mereka berhasil menghantar kereta api sebagai salah satu alat transportasi yang dapat menjangkau banyak tempat dan kota. Serta yang terpenting, menjadi tulang punggung perekonomian yang mengandalkan ekspor hasil perkebunan waktu itu (Sutarma,1988: 29).





BAB III
PENGARUH PEMBANGUNAN TRANSPORTASI KERETA API BAGI MASYARAKAT SEMARANG
3.1    PENGARUH DALAM BIDANG SOSIAL
Pembangunan perkeretaapian oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda selain bertujuan untuk memenuhi keperluan kaum kolonial, juga dimaksudkan untuk memajukan pertumbuhan perekonomian penduduk di Negara jajahan yaitu Indonesia. Semenjak dioperasikannya jaringan kereta api abad ke-19, alat angkut ini menjadi pilihan utama penduduk. Hal ini dimungkinkan karena pendapatan pribumi di Semarang yang lebih baik, biaya perjalanan dengan menggunakan transportasi kereta api lebih murah dan lebih cepat dibanding menggunakan alat transportasi lain yang sudah ada. Di sepanjang rel, khalayak ramai menjadi terbiasa menjadikannya sebagai sarana angkutan sehari-hari. Anak-anak sekolah,pegawai pemerintah dan swasta menjadikan kereta api jarak dekat sebagai alat transportasi pulang pergi setiap harinya. Selanjutnya di berbagai stasiun kecil yang terpencil letaknya, dikenal adanya hari-hari pasar yang tertentu waktunya. Pada hari-hari pasar ini para pedagang kecil berbondong-bondong mendatangi stasiun-stasiun terpencil, dengan barang dagangan yang didatangkan dari kota-kota. Biasanya para pedagang pria membawa barang-barang pikulan, sedangkan para pedagang wanita dengan barang-barang gendongannya maupun dipikul di atas kepala.
 Kalangan pribumi Semarang banyak mendapat kesempatan atau peluang kerja dengan beroperasinya kereta api. Perusahaan kereta api milik pemerintah Staats Spoorwegen (SS) tercatat orang yang bekerja sebanyak 30.100 pegawai. Dari jumlah tersebut sebanyak 100 orang insinyur golongan atas, dan 2.500 orang golongan menengah terdiri dari bangsa Belanda, sisanya sebanyak 27.500 orang pegawai berasal dari kalangan pribumi yang menjadi tenaga inti untuk mengoperasikan kereta api (Tim Telaga Bakti Nusantara,1997: 84-85).

3.2    PENGARUH DALAM BIDANG EKONOMI
Tampilnya transportasi kereta api jelas sangat menguntungkan bagi penduduk Semaran. Penduduk Semarang yang sudah semakin padat dan jumlah lapangan kerja yang semakin sempit, dapat ditampung dalam berbagai jasa penunjang perkeretaapiaan. Hal ini berarti membantu pengurangan pengangguran yang ada, dan pengurangan pengangguran juga berarti pengurangan jumlah angka kejahatan yang ada. Ini berarti pula bahwa keamanan dan kenyamanan hidup masyarakatnya sudah semakin terjamin. Mengingat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat di Karesidenan Semarang saja bertambah pesat, dari 2,5% pada tahun 1837 menjadi 8,3% pada tahun 1845 maka pertambahan penduduk yang tidak terkendali ini dapat menjadi bumerang bagi peningkatan sosial ekonomi yang sedang terjadi berkat adanya arsana dan prasaran transportasi kereta api. Pertambahan penduduk yang pesat ini, juga merupakan ancaman yang potensial bagi terjadinya berbagai jenis tindak kejahatan yang tentunya harus dihindarkan. Untuk mengetahui dengan lebih jelas pertumbuhan penduduk di Karesidenan Semarang, dapat dilihat dari Tabel di bawah ini.
Tabel I : Angka Tahunan Pertumbuhan Penduduk dan Penyebarannya se-Karesidenan Semarang dari Tahun 1837-1845, dalam Kabupaten atau Kawedan

Kabupaten atau Kawedan
% Angka Pertumbuhan Tahunan dalam Tahun 1837-1845
% Jumlah Penduduk se-Karesidenan dalam Tahun  1837
% Jumlah Penduduk se-Karesidenan dalam Tahun 1845
Demak
8,3
25,2
30,6
Semarang
7,5
17,8
20,6
Grobogan
4,2
14,5
13,1
Kendal
4,0
19,5
17,4
Salatiga
2,5
23,0
18,3
Jumlah
26,5
100,0
100,0
Sumber: Djoko Suryo, Social and Economic Life in Rural Semarang Under Colonial Rule in the Later 19th Century, Thesis Submitted for the Degree of Doctor of Philosophy at Monash Univbersity, December 1982, hlm. 3.

Sekalipun meningkatnya jumlah penduduk seperti diterangkan di atas terjadi Karesidenan Semarang, namun hal ini tidak berarti hanya akan berdampak negatif di wilayah yang bersangkutan, terlebih lagi dengan semakin meningkatnya sarana dan prasarana transportasinya yang ada bukan suatu hal yang mustahil apabila akan berpengaruh juga terhadap kehidupan masyarakat Semarang. Dengan adanya sarana dan prasarana perhubungan ini, maka mobilitas ekonomi masyarakatnya pun semakin tinggi. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan di Semarang, akan membawa pengaruh ke daerah lain di Sekitar Semarang.
Terbukanya kesempatan kerja bgai penduduk Semarang dalam pembangunan jalur jalan kerata api, selain memberikan kesempatan kerja baru sekaligus juga sekaligus juga memberikan pengetahuan baru dalam teknologi pembuatan jalur jalan kereta api. Mereka dipekerjakan untuk tugas-tugas pembangunan. Khususnya untuk pengerjaan tanah seperti: menimbun, menggali, dan mengangkut tanah untuk fondasi. Para pekerja hanya menggunakan peralatan lokal yang memang sudah biasa mereka pergunakan sebelumnya dalam berbagai tugas sehari-harinya, seperti: cangkul, keranjang, kapak, palu dan lain-lain. Mereka tidak memerlukan keahlian khusus, termasuk tukang kayu, tukang batu, dan pandai besi (Bordes, 1870: 14).
Masing-masing perusahaan kereta api mempunyai peraturan-peraturan kepegawaian sendiri, pada dasarnya dalam bidang penggunaan tenaga kerja ditempuh garis kebijakan yang sama. Tenaga -tenaga pribumi hanya merupakan tenaga pelaksana dan pembantu pelaksana. Tenaga dan pengawas (supervisi) dan pimpinan didatangkan dari luar, terutama negeri Belanda. Garis kebijakan dalam bidang kepegawaian untuk tenaga pribumi di Semarang didasarkan pada adanya penyediaan untuk tenaga pribumi didasarkan pada adanya penyediaan tenaga kerja yang cukup ketangkasannya untuk tugas pelaksana dan membantu pelaksana, dengan upah dan penggajian yang rendah. Pendidikan dan latihan tenaga kerja disesuaikan dengan kebijakan tersebut, bahkan tenaga kerja yang berlimpah menyebabkan tidak driasakan terlalu perlu untuk mengadalan suatu sistem pendidikan yang menjamin kelangsungan pengisisan jabatan (PNKA,1970: 15).


Pembangunan jalan kereta api memerlukan biaya besar untuk menggaji maupun untuk pembelian berbagai perlengkapan dan alat-alatnya. Pembayaran upah kerja dilakukan dengan melalui dua sistem, yaitu sistem upah harian dan upah borongan(Bordes, 1870: 58). Upah pekerja pada pembangunan jalan kereta api lebih besar bila dibandingkan dengan upah kerja di pabrik gula, perkebunan, atau kerja pada tuan tanah. Untuk jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut ini.
Tabel  II : Jenis Pekerjaan
Jenis Pekerjaan
Jalan Kereta Api
Industri Gula
1864
1869
1864
1869
Pimpinan tukang kayu
F 0.80 – F 1.00
F 1.50
0
0
Pimpinan tukang besi
F 0.50
F 0.80 – F 1.00
0
0
Tukang batu
F 0.60
F 0.80
0
0
Tukang besi
F 0.50
F 0.40
0
0
Tukang kayu
F 0.30
F 0.50

0
Buruh
F 0.40


F 0.30 – F 0.40
Sumber : Djoko Suryo, Social and Economic Life in Rval Semarang under
Colonial Rule in the Liter 19th.

Catatatan: pekerjaan buruh di jalan kereta api dan di pabrik gula adalah sama. Upahnya berbeda kemungkinan disebabkan karena pekerjaan di pabrik gula-gula menetap di satu tempat, sedangkan pada pengerjaan jalan kereta api berpindah sepanjang jalan.






Selain membawa manfaat bagi para pekerjanya, kehadiran stasiun-stasiun kereta api juga membawa manfaat tersendiri. Di sekitar staiun-stasiun tumbuh berbagai kegiatan sektor infomal, penduduk dapat memanfaatkan peluang ini dengan mendirikan bufet, rumah makan, warung nasi, kios bacaan, penginapan, penitipan barang, dan sebagainya. Manfaatnya semakin besar setelah terjalinnya hubu ngan secara langsung dengan kota-kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, seperti Semarang, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya. Selain pedagang yang menetap tadi, mulai tumbuh pula ”pedagang asongan” yang menjajakan dagangannya hilir-mudik di dalam kereta api. Tumbuhnya perdagangan ini ternyata kemudian menimbulkan berbagai masalah, yakni terganggunya para penumpang, sehingga pemerintah perlu mengaturnya (Soenjoto, 1969: 19-20).
Tidak dapat dipungkiri, bahwa kehadiran stasiun-stasiun kereta api di Semarang ini juga membawa dampak negatif bagi masyarakat Semarang. Sebab dengan tumbuhnya stasiun sebagai pusat kegiatan dan keramaian, telah tumbuh pula kegiatan-kegiatan lain yang cenderung merugikan, seperti pencatutan-pencatutan karcis, tukang copet, juga para wanita tunasusila yang membuka prakteknya di tempattempat penginapan yang ada disekitar stasiun. Kehidupan semacam ini terutama terjadi di sekitar dan di lokasi stasiun dikota-kota besar di Semarang.












3.3 PENGARUH TERHADAP PERKEMBANGAN DAN PEMBANGUNAN KOTA SEMARANG

Tumbuhnya transportasi kereta api di Semarang ini telah mengakibatkan menjadi  kota-kota persinggahan, terutama yang memiliki stasiun-stasiun besar tumbuh semakin cepat. Hal ini dimungkinkan karena dengan adanya transportasi ini perdagangan semakin pesat, sehingga tumbuh pula pasar-pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Tumbuhnya kehidupan masyarakat Semarang baik yang berada di desa maupunkota ini, sebanding dengan kontribusi pertumbuhan desa dan kota. Setiap kali kota berkembang, di situ muncul berbagai kegiatan ekonomi, seperti warung-warung, pasar, kantor-kantor, dan lain-lain, sehingga menambah keramaian dan pemekaran kota Semarang. Sebab dengan tumbuhnya pusat keramaian dan pusat kegiatan di Semarang ini, sudah barang tentu akan menarik pendatang dari daerah lain untuk mengadu untuk atau mencari pekerjaan barudi Semarang, terlebih lagi lapangan kerja pada waktu itu sangat sulit diperoleh.
Tumbuhnya berbagai kegiatan baru di dalam kota ataupun di desa-desa yang ada di Semarang juga semakin mengkatkan arus lalu lintas yang ada. Mobilitas soial maupun mobilitas barang di Semarang juga semakin menigkat, dan peningkatan mobilitas ini tentunya memerlukan sarana angkutan yang lebih banyak dan lebih baik. Paling tidak frekuensi transportasi juga meningkat lebih banyak, bila dibandingkan dengan sebelumnya. Bertambahnya jumlah penduduk yang datang ke pusat-pusat kota, terutama yang datang dari luar kota, telah mengakibatkan bertambah banyaknya dan bertambah luasnya kebutuhan akan tanah sebagai tempat tinggal atau sebagai tempat usaha di Semarang. Hal ini mengakibatkan perlunya perluasan kota Semarang, sehingga diperlukan pemekaran kota yang sesuai dengan kebutuhan yang ada. Akibat lain dari bertambah ramainya kota-kota, selain menarik pendatang baru (urban) terutama mereka yang tidak memiliki tanah, sehingga desa-desa di Semarang menjadi kurang lagi mendapat perhatian penduduknya.
Sebagai akibat dari semakin ramainya kota Semarang dan semakin meningkatnya frekuensi transportasi di kota-kota besar sekitar Semarang, muncul berbagai jenis angkutan penumpang maupun barang. Oleh karena itu di kota-kota besar muncul angkutan gerobak, sado, bendi, sedangkan angkutan baru yang perlu segera diadakan yakni munculnya angkutan trem yang menghubungkan transportasi di dalam kota. Sehingga di Semarang muncul trem-trem sebagai sarana angkuta dalam kotanya. Pengaruh kereta api di Semarang sebenarnya timbul dari stasiun-stasiun yang disinggahinya guna menurunkan barang maupun penumpang, sekaligus juga untuk mengangkut penumpang atau barang dari tempat yang disinggahinya. Setiap barang taau penumpang yang diturunkan atau diangkut ini, sesungguhnya merupakan faktor penting dari timbulnya perubahan dan kemajuan kota Semarang. Semakin besar stasiun yang ada di Semarag, maka semakin besar pula kemampuan daya ubahnya terhadap perkembangan kota Semaran. Daya ubah yang berpusat di stasiun-stasiun ini kemudian terpencar ke berbagai pelosok kota Semarang, bahkan sampai ke berbagai desa atau daerah pinggiran Semarang. Semarang merupakan pusat pemerintahan, pusat perdagangan, bahkan juga sebagai pusat kebduayaan dan politik. Sehingga mengakibatkan semakin besarnya jumlah penduduk yang terus mengalir ke Semarang, dan inilah salah satu timbulnya urabanisasi.
Berbagai sektor kehidupan baik yang formal maupun yang informal dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat di Semarang. Hal ini disebabkan karena berbagai setkor kehidupan tadi memerlukan sarana dan prasarana penunjang lainnya, baik sarana kesehatan, keamanan, hiburan, pendidikan, perdagangan, komunikasi perhubungan dan lain-lain. Yang tak kalah pentingnya adalah tumbuhnya biro-biro perjalanan yang memperkenalkan berbagai objek wisata di Semarang, dengan berbagai fasilitasnya. Juga diterbitkannya buku-buku atau majalah kepariwisataan, seperti halnya Tourism in The Netherlans Indies.






BAB IV
PENUTUP


4.1  KESIMPULAN DAN  SARAN

Dibangunnya sarana dan prasarana perkeretaapian di Semarang ternyata telah mampu membangkitkan dan meningkatkan berbagai sektor kehidupan masyarakat. Di Semarang kereta api pernah menjadi ”primadona” angkutan darat, yang dapat menghubungkanberbagai pelosok daerah dengan lebih aman dan nyaman, bila dibandingkan dengan sarana angkutan darat lainnya yang ada pada waktu itu. Kemamanan dan kenyaman yang dapat diperoleh, ditambah lagi dengan kecepatan dan ketepatan perjalanan dengan mempergunakan kereta api, telah mampu menggerakan perkeretaapian di Semarang dapat tumbuh kembang dengan pesat.
Dalam penelitian ini kami sebagai penulis menemukan masalah tentang perkeretaapian di Semarang justru kalah bersaing dengan jenis angkutan lainnya. Padahal angkutan kereta api adalah angkutan darat yang paling nyaman dan paling aman, bila dibandingkan jenis angkutan apapun yang ada sekarang ini. Adanya rencana PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) untuk meningkatkan pelayanan angkutan, baik angkutan barang maupun penumpang, nampaknya padat dijadikan sebagai indikator bahwa pihak PJKA sebagai pengelola perkeretaapian di Indonesia. Di kantor DAOP IV Semarang menyadari akan pentingnya peningkatan mutu pelayanan sebagai salah satu hal yang sangat penting guna membangkitkan harga masyarakat Semarang untuk mempergunakan jasaangkutan kereta api sebagai alat angkutannya. Namun nampaknya PJKA ini belum dapat mencapai sasaran seperti yang diharapkan, mengingat kesadaran dari aparaturnya belum memadai dan belum siap untuk maksud-maksud tersebut diatas. (Wawancara: Humas DAOP IV Semarang).




Dari masalah diatas, dapat kami simpulkan hambatan yang terjadi ternyata justru disebabkan oleh kelemahan apaturnya, ketidaksiapan mengikuti dan menerima kemajuan modernisasi masih jelas terlihat dariseringnya terjadi keterlambatan pemberangkatan maupun kedatangan kereta. Nampaknya budaya santai dengan ”jam karetnya” masih terus berlangusng sampi sekarang. Sebagai suatu bukti belum sadar waktu dan juga belum sadar pelayanan. Kekurangan semacam ini masih ditambah lagi dengan adanya kenyataan bahwa banyak dari pegawai PJKA, khususnya yang menangani masalah perkarcisan yang menyalah-gunakan jabatannya untuk mencari keuntungandengan mempersulit pemakai jasa dalam memperoleh karcis, yang padahal karcistersebut masih banyak.
Dari penelitian di lapangan penulis menemukan adanya upaya untuk mempersulit pemakai jasa ini, disebabkan karena para penjual karcis memanfaatkan kseulitan ini untuk mencari tambahan penghasilah denganmenjualnya dengan harga lebih mahal dari harga karcis yang seharusnya, atau menjualnya kepada para calo karcis untuk memperoleh keuntungan. Dari beberapa kali mempergunakan jasaang kutan kereta api sekarang ini, Nampak pemakaian rel kereta api untuk dua jurusan, merupakan salah satu penghambat lancarnya perjalanan yang seharusnya dapat dinikmati oleh para penumpang. Untuk itu langkah baiknya apabila pihak PJKA membuat jalur baru kereta api, sehingga kereta api tidak harus berhenti ”hanya” untuk menunggu kereta apiyang datang dari arah yang berlawanan lewat terlebih dahulu.
 Dari sudut pandang penulis, apabila PJKA mampu meningkatkan kenyamanan dan keamanan pemakai jasakereta api, paling tidak sepetri pada waktumasih dikelola oleh para pengusaha-pengusaha Belanda, kemungkinan besar PJKA yangselama ini selalu terus merugi, akan mampubangkit kembali dan merupakan badan usahamilik negara yang dapat menghsilkaankeuntungan. Suatu hal yang ironis, kalau perkeretaapian di Indonesia sekarang ini bukannya mengalami kemajuan, tetapi justru mengalami kemunduran. Dalam masalah ketertiban dan kenyamanan ternyata justru kalah bila dibandingkan dengan yang dapat diperoleh pada masa penjajahan Belanda. Belum lagi masalah ketepatan waktu, yang nampaknya tidak pernah terujudkan sekali pun sudah diadakan pembenahan.
Menurut penulis,  masih banyak pembenahan yang masih harus dilakukan oleh pihak PJKA untuk dapat memenuhi harapan para pemakai jasanya. Pihak PJKA harus lebih banyak lagi mengadakan introspeksi bagaimana sebaiknya menghilangkan berbagai hambatan yang justru banyak dilakukan oleh para aparatnya, sehingga  pelayanan yang harus dinikmati oleh pemakai jasa dapat diperoleh dengan sebaik-baiknya. Kalau di banyak negara kereta api merupakan sarana angkutan darat yang banyak diminati oleh masyarakat, mengapa diIndonesia justru dihindari. Kalau sekarang masih banyak terlihat meluapnya penumpang, jangan dijadikan ukuran ukuran bahwa keretaapi memang merupakan sarana angkutan yangmemang sesuai dengan apa yangdidambakannya. Meluapkan penumpang tidak mustahil disebabkan karena tidak adanya, atau masih kurangnya sarana angkutan lain yang dapat menampung kebutuhan mereka. Hal inidapat mengakibatkan bahwa, apabila ternyata nanti ada sarana angkutan darat yang lebih nyaman dan lebih aman dibanding dengan jasa angkutan kereta api akan terdesak sepertihalnya yang sudah terjadi di jalur Semarang-Yogyakarta-Surakarta.












DAFTAR PUSTAKA
Antara Cilacap Kaliputang. Pikiran Rakyat. 2 Juli 1990.Hal. 4.
Bordes. J.P. 1869-1870. Geschenis Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij Gravenhage: Gedroedes Van Cleef
Lucey dalam Helius Sjamsuddin. 1996. Metodologi Sejarah. Jakarta: Depdikbud.
Nikmah, Siti Khoirun dan Valentina Sri Wijiyanti. 2008. My Dear Train, My Poor Train: Railway Efficiency Project. Jakarta: Infid
PNKA. 1970. Sekilas  Lintas 25 Tahun Perkeretaapian Indonesia. Bandung: Balai Grafika
Polak, J.A.B.F. Major. 1962. Serba-Serbi Masa Deandels (1808-1811). Dalam: Majalah Penelitian Sejarah. No. 1 Tahun ke 3. Jakarta: Jajasan Lembaga Ilmiah Indonesia untuk Penyelidikan Sejarah.
Reitsma. S.A. 1928. Korte Geschidenis der Nederlandsch Indische Spoor En Trawegen. Weltevreden:G. Kool and Co
Siswanto, Bedjo.
Suhartono dan Sugijarto Padmo. 1983. Jalan Trem di Kota Jakarta 1915-1942: Suatu Analogi untuk Perluasan Ekologi dan Aspek-Aspek Sosial-Ekonominya. Yogyakarta: Fakultas SastraUniversitas Gadjah Mada.
Susanto, S. Astid. 1983. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Cetakan Keempat. T.tp: Binacipta.
Suyatso, Rahmat. 1989. Industri Gula di Kabupaten Kendal Pada Masa Sistem Tanam Paksa. Thesis Program Studi Sejarah Fakultas Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada
Sutarma, Oma. 1988. Studi Tentang Pembagunan dan Perkembangan Kota 1866-1900. Yogyakarta: Skipsi Sarjana Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjajaran
Tim Telaga Bakti Nusantara (1997). Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 1. Bandung: Angkasa
















Daftar Lampiran
Foto Dokumenter
Description: G:\sumber primer\DSCN1511.JPG





Gambar 1 tampak depan Museum Kereta Api
 Ambarawa

Description: G:\sumber primer\DSCN1487.JPG
Gambar 2 tampak samping, contoh lokomotif yang ada
di Museum Kereta Api Ambarawa



No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...