IDENTITAS BUKU
Penulis
: Drs. Subagyo, M.Pd
Judul : Membangun Kesadaran Sejarah
Kota : Semarang
Penerbit
: Widya Karya Semarang
Tahun
terbit : 2010
Jumlah
halaman: ii-v dan 300+cover
SUBSTANSI BUKU
BAB I : PENGERTIAN SEJARAH
A.
Hakikat
Sejarah
Sejarah
adalah ilmu tentang manusia yang mengkaji manusia dalam lingkup ruang dan
waktu. Sejarah merupakan dialog antara peristiwa masa lampau dan perkembangan
kemasa depan dan sejarah juga merupakan cerita tentang perkembangan kesadaran
manusia, baik dalam aspek individual maupun kolektif.
B.
Konsep
Sejarah Dewasa ini
Konsep
sejarah dewasa ini menekankan pada hubungan dan kesatuan yang positif antara
sejarah suatu Negara dan sejarah dunia.
1. Pengertian Sejarah
Sejarah
adalah cabang ilmu yang mengkaji secara sistematis keseluruhan perkembangan
proses perubahan dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupannya
yang terjadi dimasa lampau.
2. Konsep dan Unsur-unsur Sejarah
Di dalam kajian sejarah ada tiga konsep yang
utama yaitu perubahan, waktu dan konsep kontinuitas dan diskontinuitas. Di
dalam sejarah jugaada tiga unsur penting, yakni: manusia, ruang dan waktu.
3.
Karakteristik Sejarah
Karakteristik
atau ciri sejarah sebagai ilmu adalah bersifat empiris memiliki objek, teori,
generalisasi dan metode.
C.
Masalah
Kebenaran dalam Sejarah
Kebenaran
sejarah akan selalu bersyarat dan terbuka bagi usaha –usaha perbaikan
(penulisan kembali), demikian juga dengan “kebenaran-kebenaran” di dalam semua
disiplin ilmu pengetahuan lainnya.
BAB II
: KEGUNAAN SEJARAH
A. Guna Sejarah
Sejarah
berguna untuk membantu menjadi obat pencegah bagi pemikiran-pemikiran masa
sekarang yang berorientasi sempit.
B. Sifat Sejarah
Semua cerita sejarah mempunyai
unsure subjektifitas. Apakah itu tertulis ataupun lisan, setiap bagian cerita
sejarah adalah pandangan perseorangan tentang suatu bagian dari kenyataan masa
lampau, suatu gambaran yang khusus, suatu gambaran dari seseorang.
C.
Proses
Sejarah
Sebelum
masa lalu dapat ditetapkan dengan kepastian oleh sejarawan, maka harus melalui
delapan tahapan yang terpisah yang pada masing-masing tahapan itu, beberapa
dari catatan itu telah lenyap; dan tidak ada jaminan bahwa apa yang masih
tinggal adalah yang paling penting, yang paling besar, yang paling bernilai,
yang paling mewakili yang lainnya, atau
bagian yang paling tahan lama.
D.
Sejarah
dan Perumusan Suatu Kebijakan Umum
Kita
dapat meunjukan dengan mudah bahwa pembicaraan tentang “guna dari sejarah”
bukanlah suatu pembicaraan yang kosong. Kadang-kadang sejarah telah digunakan
oleh pejabat-pejabat tinggi pemerintahan untuk menjadi petunjuk dan
pertimbangan pertimbangan dalam menentukan suatu kebijakan umum.
BAB III : SUMBER
SEJARAH
A.
Pengetahuan
sumber
Sumber
sejarah menurut bentuk dan dan sifatnya dapat dibagi menjadi tiga yaitu lisan, tulisan
dan visual.
1. Sumber
Lisan
Dalam
penulisan sejarah metode ilmiah, sumber
lisan masih tetap dipakai sebagai bahan-bahan pelengkap, bahan-bahan dari mana
ditarik kesimpulan tentang hal-hal yang telah berlalu.
2. Sumber
Tulisan
Bahan-bahan
tertulis dari masa lalu ada yang sengaja dimaksudkan untuk bahan-bahan sejarah
dan ada pula yang tidak. Sengaja untuk bahan-bahan sejarah itu adalah buku-buku
sejarah, annal, kronik, catatan peristiwa buku –buku harian, notulen, resolusi,
daftar kepegawaian dan lain-lain.
3. Sumber
Visual
Termasuk
golongan ini ialah semua sumber masa lalu yang berbentuk dan berupa
barang-barang
B. Pencarian Informasi
(Penelusuran Sumber) Perpustakaan
Anda akan belajar bagaimana menggunakan
sumber informasi perpustakaan. Bagian
ini bertujuan untuk membantu anda mendapatkan semacam panduan agar anda dapat
bertindak sebagai seorang pemula yang berpendidikan. Tiga hal pokok yang harus
mulai anda ketahui, yaitu:
1.
Bagaimana Perpustakaan
Perguruan Tinggi anda diatur, dan bagaimana buku-bukunya digolong-golongkan
2.
Bagaimana mulai
melakukan pencarian informasi yang anda perlukan.
3.
Kepada siapa anda bisa
meminta pertolongan jika anda menemui jalan buntu.
C. Pengaturan Perpustakaan
Anda harus menemukan system klasifikasi apa
yang digunakan perpustakaan di tempat anda dan berusaha untuk memahami
bagian-bagian pokok system itu. Dua system klasifikasi yang terpenting adalah
system decimal dan system perpustakaan kongres
1.
Bagian Referensi
Buku
petunjuk, buku index dan bibliografi biasanya ditemukan dalam ruangan referensi
di dalam perpustakaan. Diperlukan beratus-ratus halaman hanya lebih lengkap.
Dengan munculnya penggunaan jasa index dan data yang sudah menggunakan
computer.
2.
Human dan Humanities
Index
Buku-buku
index dan referensi selalu mempunyai kata pengantar yang menerangkan cara
penggunaannya. System ini patut dikuasai, sebab buku-buku index ini adalah sumber
yang tak ternilai harganya untuk mencari topic-topik yang tak terhitung
jumlahnya.
BAB IV
: AZAS-AZAS METODE SEJARAH
Azas-azas
metode sejarah merupakan serangkaian langkah yang harus ditempuh agar
memperoleh derajat keilmuan sebagaimana berlaku pada ilmu lain.
A. Metode Sejarah
Proses untuk mengkaji dan menguji
kebenaran rekaman dan peninggalan masa lampau dan menganalisa secara
kritis disebut metode sejarah. Istilah
metode dalam sejarah tidak hanya mengenai pelajaran analisis kritis saja,
melainkan juga meliputi usaha sintesa dari data sehingga menjadi penyajian dan
kisah sejarah yang dapat dipercaya. Cara kerja sejarawan bertumpu pada empat
kegiatan pokok, yaitu: heuristic, kritik, interpretasi dan penyajian.
B.
Heuristic
( mencari sumber-sumber)
Jejak-jejak dari sejarah sebagai
peristiwa merupakan sumber-sumber bagi sejarah sebagai kisah dan disebut
heuristic dari kata Yunani Heuriskein
yakni menemukan.
C.
Kritik
atau Analisis (Menilai Sumber)
Kritik terhadap sumber dibagi menjadi
dua yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern bertugas menjawab
pertanyaan “apakah sumber itu memang sumber yang kita kehendaki, apakah asli
atau turunan, apakah utuh atau telah diubah-ubah. Kritik intern mulai bekerja
setelah kritik ekstern selesai menentukan bahwa dokumen yang dihadapi memang
dokumen yang kita cari. Kritik intern harus membuktikan bahwa kesaksian yang
diberikan oleh sesuatu sumber itu memang dapat dipercaya.
D.
Interpretasi
atau Sintesis (Menafsirkan Keterangan Sumber-sumber)
Proses menafsirkan fakta-fakta sejarah
serta proses penyusunannya menjadi suatu kisah sejarah yang integral menyangkut
proses seleksi sejarah. Sudah barang tentu tidak semua fakta dapat dimasukkan. Kita harus memilih
yang relevan. Pemilihan itu tergantung kepada anggapan-anggapan peneliti. Hal
ini ada hubungannya dengan subjektifitas sejarah.
E.
Historiografi
(Penulisan Sejarah)
Dengan
ini kita telah sampai pada klimaks penelitian yang dilakukan dan sampai kepada
bagian terakhir dari metode penelitian sejarah. Hasil penafsiran atas
fakta-fakta sejarah itu kita tuliskan menjadi suatu kisah yang selaras dengan
menggunakan bahasa baik dan benar.
F.
Penyelidikan
Subjek
Seorang
sejarawan berusaha mencari suatu subjek yang menarik minatnya. Subjek itu perlu
diselidiki. Menyelidiki subjek sejarah memerlukan empat pertanyaan,yaitu: “Di
mana ? ; Siapa ?; Bilamana ?; dan Apa ?”
G.
Membatasi
dan Memperluas Ruang Lingkup
Ruang
lingkup merupakan sasaran subjek yang akan dijadikan pusat perhatian penyelidikan sejarawan. Suatu subjek dapat
dibatasi ruang lingkupnya, jika bahan-bahannya terlalu banyak dapat dikurangi
agar dipergunakan secara pantas dan layak.
BAB V : HUBUNGAN
SEJARAH DENGAN ILMU-ILMU LAIN
A.
Geografi
Kajian
geografi dapat menjadi latar bagi sejarah dalam memahami kehidupan manusia
dimasa lampau. Relasi manusia dengan alam sekitar sesuai zamannya memberikan
kekuatan bagi generasi berikutnya untuk berusaha memanfaatkan alam secara baik.
B.
Ekonomi
Belajar
dari aktivitas ekonomi yang berlaku pada masa tertentu secara kolektif
memberikan sumbangan berharga untuk mengetahui tingkat perekonomian yang
berlaku pada masanya dan mengambil hikmah dari setiap perubahan yang terjadi.
C. Sosiologi
Dari
kajian sosiologi, sejarah memperoleh latar gambar kehidupan masyarakat dalam
kelompoknya. Kemungkinan yang pernah terjadi atas interaksi-interaksi yang
pernah berlaku. Sudah barang tentu harus dipahami bahwa perkembangan masyarakat
telah berproses dari yang sederhana menuju yang kompleksitas.
D. Antropologi
Para
sarjana di Inggris dan negeri-negeri commenwealth berpendapat bahwa antropologi
dan cabang-cabangnya memiliki kaitan yang banyak dengan sejarah.
E. Psikologi social
Dalam
gejala gerakan social, pendekatan social sangatlah relevan karena pada
hakikatnya gejala itu adalah manifestasi konkret dari kelakuan kolektif rakyat.
Konsep-konsep psikologi social dapat mempertajam analisis sehingga dapat menghasilkan
michrohistory sampai pada tingkat kelakuan individual dan kolektif dalam komunitas
kecil.
F. Ilmu Politik
Sejarah
identik dengan politik, sejauh keduanya menunjukan proses yang mencakup
keterlibatan para actor dalam interaksinya serta peranannya dalam usaha
memperoleh “apa, kapan, dan bagaimana”
G. Kegunaan Sejarah untuk
Ilmu-ilmu Sosial
-
Sebagai kritik terhadap
generalisasi ilmu-ilmu social
-
Permasalahan sejarah
dapat menjadi permasalahan ilmu social
-
Pendekatan sejarah yang
bersifat diakronis menambah dimensi baru pada ilmu-ilmu social yang kronis.
BAB VI
: ILMU-ILMU BANTU SEJARAH
A. Ilmu Purbakala
(Archaelogi)
Ilmu
purbakala bertugas dalam lapangan warisan visual, maka ia merupakan ilmu bantu
dalam sumber sejarah yang bersifat visual.
B. Ilmu Piagam
(Diplomatik)
Ilmu
piagam memungkinkan kita untuk membaca, mengartikan, dan menguji kesejatian piagam
masa lalu guna digunakan bagi bahan sejarah. Terutama ia membantu sejarah
Negara dan sejarah hukum.
C. Filologi
Pendapat-pendapat
filologi tentang isi naskah warisan masa lalu merupakan bahan-bahan
sejarah berharga, diatas nama sejarawan
menyusun ceritanya tentang masa lalu tersebut.
D. Ilmu Tulisan Kuno (Paleografi)
Paleografi
ialah ilmu yang memungkinkan kita membaca tulisan kuno dengan betul. Tulisan
berfungsi untuk mengatasi ruang dan waktu. Hitungan waktu sangat penting bagi
sejarah.
E. Ilmu Hitungan Waktu
(Chronologie)
Ilmu
hitungan waktu mempunyai tujuan mendapatkan bahan-bahan tentang waktu kejadian
sejarah.
F. Ilmu Mata Uang
(Numesmatik)
Mata
uang biasanya memuat tanggal dengan seksama. Apabila terdapat mata uang
diantara benda-benda purbakala, tanggal mata uang memberikan pula tanggal dari a
G. Ilmu Keturunan
(Geneologie)
Pengetahuan
tentang hubungan family dari raja-raja atau tokoh-tokoh sejarah dapat
memberikan arti peristiwa penting masa lalu yang digerakkan oleh hubungan
keturunan.
H. Silsilah atau Kwartierstaat
Silsilah
memberikan kita ikhtisar nenek moyang dari seseorang. Keturunan memainkan
peranan penting dalam kehidupan social.
I. Kombinasi Randji dan
Silsilah
Kombinasi
randji dan silsilah memperlihatkan pertalian darah antara seseorang dengan
angkatan-angkatan sebelum dan sesudahnya. Demikian juga dengan ilmu keturunan
yang memberikan bahan-bahan tentang tokoh sejarah. Dengan mengetahui hubungan tokoh
sejarah dari suatu peristiwa dengan tokoh peristiwa lain.
J. Ilmu Materai dan
Lambang
Pengetahuan
tentang ini memungkinkan seseorang untuk memperbaiki secara kasar, sebuah
setelah perbatasan untuk penanggalan sebuah dokumen masa pertengahan, yang
dinyatakan tak bertanggal, tapi
dilengkapi dengan materai independen.
K. Epigrafi
Epigrafi
adalah ilmu tentang prasasti yang berguna
untuk mengedit teks dalam prasasti dan mengumpulkan prasasti dalam
kumpulan dengan dasar bahasa, Negara atau periode.
L. Demografi
Letak
pentingnya studi ini dalam sejarah adalah bila hendak mengakaji sejarah migrasi
penduduk dan perkembangan social masyarakat.
M. Etnografi
Etnisitas
adalah suatu penggolongan dasar dari suatu organisasi social yang
keanggotaannya didasarkan pada kesamaan asal, sejarah, budaya agama, atau
bahasa.
N. Ilmu Hukum
Konsepsi
tantang hokum dalam kerangka sejarah dan budaya bersifat spesifik.
O.
Geografi
Persentuhan
antara geografi dan sejarah melahirkan studi geografi sejarah. Terminology ini biasa dipakai berkenaan dengan
sejarah eksplorasi dan penemuan, pembuktian peta dunia dan perubahan
batas-batas politik dan administrasi.
BAB VII : MASALAH
KAUSAL dan GERAK SEJARAH
A.
Kausalitas
dalam Sejarah
1.
Multikausalitas
Berbicara
tentang multikausalitas, sebenarnya relevansinya lebih erat terhadap gejala,
situasi, permasalahan terhadap objek manapun yang kompleks.
2.
Kausalitas
dan Perubahan Sosial
Gejala
sejarah hendaknya melihat hubungan kausalnya dengan gejala sejarah yang lain.
Konsep perubahan social dalam sejarah jauh lebih kompleks dari pada
historisitas perkembangan masyarakat yang lazimnya menunnjukan variasi yang
lebih banyak.
3.
Penafsiran
yang Beraneka Ragam
Gottschalk
(1975) memberikan penjelasan tentang penafsiran yang beraneka ragam dengan
mengibaratkan sejarawan dengan musikus. Komposisi music lebih cermat daripada
kata-kata yang dituliskan atau diucapkan.
4.
Masalah
Sebab, Motif dan Pengaruh
Sejarawan
cenderung berbicara tentang sebab langsung dan sebab tak langsung. Para
sejarawan harus berhati-hati terhadap validitas motif. Pengertian pengaruh
bersifat abstrak dan kadang menghasilkan kekeliruan atau setidaknya terdapat ketidak sepakatan diantara
sejarawan.
B.
Gerak
Sejarah
Masalah
pokok gerak sejarah harus dipandang sebagai masalah khusus mengenai manusia.
Tujuan gerak sejarah menurut paham indeterminisme adalah mewujudkan masyarakat tanpa
pertentangan kelas.
C.
Manusia
dan Sejarah
Manusia
dan sejarah adalah dwitunggal, manusia adalah subjek dan objek sejarah. Apabila
manusia dipisahkan dari sejarah maka manusia itu bukan manusia lagi, akan
tetapi sebagai makhluk biasa, seperti binatang.
1.
Gerak
Sejarah Menurut Hukum Fatum
Nasib
adalah kekuatan tunggal yang menentukan gerak sejarah, dalam hal ini manusia
hanya menjalani saja.
2.
Paham
Santo Agustinus
Santo
Agustinus menghimpun suatu teori sejarah berdasarkan kehendak tuhan. Gerak
sejarah bersumber dan bermuara pada kodrat illahi.
3.
Pendapat
Ibnu Khaldun Tentang Sejarah
Gerak
sejarah ditentukan oleh tuhan dan sejarah ilmu yang berdasarkan kenyataan.
4.
Gerak
Sejarah atas Dasar Paham Masa Renassaince
Gerak
sejarah harus dicari dalam diri manusia sendiri dan manusia diharuskan maju.
5. Gerak Sejarah Menurut Teori Oswald Spengler
Gerak
sejarah ditentukan oleh hokum fatum dan gerak sejarah manusia mengalami
perjalanan.
6. Teori Toynbee tentang Sejarah
Kebudayaan
adalah wujud dari kehidupan suatu golongan masyarakat yang meliputi kultur dan
civilization.
7.
Teori
Pitirim Sorokin
Gerak
kebudayaan berupa perkembangan naik turun, pasang surut, timbul tenggelam.
BAB VIII : OBJEKTIVITAS
DAN SUBJEKTIVITAS SEJARAH
A.
Objektivitas
Sejarah
Sejarah
sebagai ilmu dituntut objektif. Ilmu tanpa objektivitas tidak mempunyai nilai
dan akan berhenti sebagai ilmu. Sejarawan berusaha objektif tetapi tetap saja
akan timbul subjektivitas.
B.
Masalah
Subjektivitas
Dalam
karya sejarah subjektivitas zaman disebut Zeitgeist. Subjektivitas cultural maupun
subjektivitas waktu paling sulit diatasi. Subjektivitas masa kini. Setiap
penulisan sejarah dilakukan oleh sejarawan yang menghayati hidup pada suatu
masa tertentu yang bagiatnya senantiasa merupakan masa kini.
C. Subjektivitas dan
Objektivitas : Nilai-nilai dalam Pengkajian Sejarah
Penulisan
sejarah diresapi oleh sifat yang subjektif oleh nilai-nilai. Penulisan sejarah yang
objektif sedapat mungkin diusahakan, tetapi jarang terlaksana. Kenyataan ini
mempunyai konsekuensi-konsekuensi penting bagi sifat diskusi-diskusi seputar
objektivitas dan subjektivitas dalam penulisan sejarah.
D. Alasan yang Mendukung
Subjektivisme
Alasan-alasan
yang mendukung subjektivisme dalam sejarah adalah alasan induksi, relativisme,
bahasa, idealistis dan alasan marxis.
E. Alasanyang Mendukung
Objektivisme
Alasan
yang maendukung objektivisme dalam sejarah adalah alasan seleksi,
antiskeptisisme dan antirelativisme, sebab manusia, propaganda dan alasan
analogi.
F. Jalan Tengah
Dalam tengah ini terdapat pendapat Walsh dan Danto
serta alasan bahasa sehari-hari.
BAB IX: BABAKAN WAKTU SEJARAH
A. Arti Babakan Waktu
Babakan
waktu atau pembagian waktu dalam sejarah adalah waktu sejarah dibagi, dihimpun
dan disusun dalam beberapa babak.
B. Tujuan Babakan Waktu
Tujuan
babakan waktu adalah memudahkan pengertian, melakukan penyederhanaan, memenuhi
persyaratan sistematika ilmu dan klasifikasi dalam ilmu sejarah.
C. Criteria Babakan Waktu
Babakan
waktu memberi bentuk dan corak cerita sejarah. Dalam babakan waktu itu harus
mempunyai criteria atas dasar motif-motif atau pengaruh tertentu.
D.
Babakan
Waktu Sejarah Indonesia
Sejarah
Indonesia melalui beberapa zaman dibagi atas tiga bagian waktu yaitu zaman pre hestoria, proto historia (mula
sejarah) dan yang ketiga adalah historia.
E.
Konsep
Waktu dan Ruang dalam Sejarah
Dalam
sejarah ada tiga konsep mengenai waktu yaitu : berdasarkan ruang, berdasarkan
matematika,dan berdasarkan asosiasi. Disamping ketiga konsep waktu tersebut,
masih ada ekspresi waktu yang tidak menentu (indefinity time). Konsep waktu
yang tidak menentu itu ternyata memiliki
pertumbuhannya pada siswa.
F.
Mengajarkan
Konsep Waktu, Relasi Waktu dan Tempat
Dalam
mengajarkan kronologi perlu dikembangkan pengertian secara jelas. Pengertian
abad dan generasi perlu diterangkan melalui banyak contoh secara praktis.
BAB X : MAMBANGUN KESADARAN SEJARAH
A. Kesadaran Sejarah
Kesadaran
sejarah ialah cara bagaimana pikiran sejarawan bekerja bilamana menganalisa
masa lampau.
B. Unsur-unsur Kesadaran
Sejarah
-
Kepekaan terhadap
bagaimana waktu dan tempat lain berbeda dengan waktu dan tempat kita sendiri.
-
Kesadaran akan
kesinambungan dasar di dalam kejadian-kejadian sejarah manusia sepanjang masa.
-
Kemampuan untuk
mencatat dan menjelaskan perubahan-perubahan yang berarti.
-
Kepekaan terhadap sebab musabab yang beraneka
macam.
-
Kesadaran bahwa semua
sejarah tertulis adalah suatu rekonstruksi yang tidak sempurna dalam
mencerminkan masa lampau.
C. Tahap-tahap Kesadaran
Sejarah
-
Tahap I : Sejarah
Sebagai Fakta
-
Tahap II : Sejarah
sebagai Rangkain Sebab-Akibat
-
Tahap III : Sejarah sebagai Kompleksitas
-
Tahap IV : Sejarah
sebagai Penafsiran
D.
Fungsi
Sejarah dan Kesadaran Sejarah dalam
Pembangunan Bangsa
1.
Kesadaran Sejarah
Bangsa Indonesia
2.
Kesadaran Sejarah
Masyarakat Tradisional
3.
Kesadaran Sejarah dan
Kebangkitan Nasional
4.
Kesadaran Sejarah dan
Identitas Nasional
5.
Kesadaran Sejarah dan
Kepribadian Nasional
E.
Fungsi
Pengajaran Sejarah dalam Pembangunan Bangsa
Fungsinya
adalah untuk :
1.
Solidaritas, Kebanggaan
Nasional dan Aspirasi Masa Depan
2.
Kesadaran Sejarah,
Sikap Mawas Diri, dan Menarik Pelajaran dari Pengalaman
3.
Diperlukan Kesadaran
Sejarah.
ANALISIS dan PEMBANDING
Menurut saya buku ini memiliki
materi yang lengkap. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bab yang tercantum di
dalamnya. Penyampaian materi dan bahasa yang digunakan oleh penulis terlalu tinggi
dan berputar-putar serta tidak dijelaskan secara langsung sehingga sulit
dipahami oleh pembaca dikalangan mahasiswa seperti saya. Hal itu dapat
dibuktikan pada bab 3 yang membicarakan kegunaan sejarah. Pada sub bab “Guna Sejarah”
tidak dijelaskan guna dari sejarah, tetapi diterangkan pada sub bab lain pada bab ini.
Menurut saya ini merupakan salah satu kelemahan dari buku ini yang membuat buku
ini sulit dipahami.
Buku ini jika dibandingkan
dengan buku lain tentu akan sangat
menarik, misalnya dengan buku karangan D.R. Kuntowijoyo yang berjudul
“Pengantar Ilmu Sejarah”. Buku ini penjelasannya membingungkan dan bahasa yang
digunakan dalam penyampain materi juga sulit dipahami. Berbeda dengan buku
karangan Kuntowijoyo yang dalam penyampaiannya cukup mudah diterima. Penjelasan
dalam buku karangan Kuntowijoyo juga mudah dipahami karena dijelaskan secara
langsung dan tidak berputar-putar.
KESIMPULAN
Dari
hasil penilaian saya, buku ini sebenarnya sangat cocok untuk dijadikan sebagai
panduan belajar mahasiswa. Selain itu, buku ini juga sangat bagus dibaca oleh
masyarakat sebagai bahan umtuk membangun kesadaran sejarah dalam masyarakat.
Akan tetapi cara penyampaian materi dan bahasa yang digunakan dalam penyampaian
materi masih sulit dipahami. Hal tersebut tentu akan sangat mengurangi minat
membaca dan mengurangi nilai positif yang terdapat dalam buku ini. Masalah ini
tentunya harus segera diatasi supaya buku ini bisa digunakan oleh para
mahasiswa ataupun masyarakat secara luas.
Langkah yang bisa diambil untuk
mengatasi hal itu mungkin dengan memperbaiki bahasa dan cara penyampaian.
Bahasa yang digunakan mungkin bisa bahasa sehari-hari tanpa meninggalkah kaidah
yang ada. Cara penyampaian mungkin bisa diperjelas dan tidak berputar-putar
ataupun terlalu panjang lebar. Hal yang terpemting adalah mudah dipahami oleh
pembaca.

No comments:
Post a Comment