![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: DEDI ARLIYANTO WIBOWO
|
|
|
NIM
|
: 3101412091
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas Buku
Judul : Golkar Sejarah yang Hilang Arus Pemikiran
& Dinamika
Judul Asli : Golkar of Indonesia: An
Alternative to the Party System
Penulis : David Reeve
Penerjemah : Gatot Triwira
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan :
Pertama, Juli 2013
Tebal : xxviii+420 hlm;
15.5 x 24 cm
B.
Isi Buku
Tulisan ini merupakan resume bedah
buku, Golkar : Sejarah yang hilang. Prof. David Reeve. Beliau adalah dosen dari
University of South Wales, beliau juga yang menulis buku Golkar : Sejarah yang
hilang.
Buku ini mengurai
sejarah panjang Golkar. Sejarawan David Reeve menelusuri masa-masa paling awal
Golkar yang jarang dibahas. Pada gagasan integralistik kolektivis buah
pemikiran Soepomo, Sukarno dan Ki Hadjar Dewantara pada periode 1940-an 1950-an
dicari sumber ilham dan pembentuk organisasi-organisasi golongan karya. Tapi,
kemunculan Golkar masih harus menunggu sampai sistem partai didiskreditkan pada
pertengahan 1950-an. Disinilah Golkar naik ke panggung politik bersama gagasan
Sukarno mengubur partai-partai. Sukarno mendorong menggantikan partai-partai
dengan Golkar yang saat itu disebut golongan fungsionil dan pada 1959
di-Sansekertakan menjadi Golongan Karya serta diambil alih Angkatan Darat.
Tapi, sejak 1959 itu pula gagasan Golkar digunakan Angkatan Darat dan para
sekutunya sebagai senjata anti-PKI juga anti-Sukarno.
Pasca momen Pemilu paling sukses di Indonesia, yakni Pemilu 1955, banyak
sekali embrio-embrio alternatif yang lahir dari luar garis lingkaran politik
partai pada saat itu. Kelahiran ini didasari atas fakta yang terjadi bahwa
ternyata demokrasi liberal ala Barat yang memunculkan banyak partai dan
golongan, hanya menimbulkan kebisingan politik tiada guna. Sehingga hampir satu
dekade demokrasi liberal pada saat itu, Parlemen tidak dapat memproduksi sebuah
dasar Negara yang tetap, yang pada akhirnya membuka pintu akan adanya demokrasi
terpimpin di tahun 1959 dan visi menuju kembali pada UUD 1945 sesuai dengan
kesepakatan materiil yang terdahulu.
Hingga awal tahun 1957, opini publik bahwa
reorganisasi politik di Indonesia dan pemikiran bahwa demokrasi parlementer
merupakan suatu kegagalan dan tidak sesuai dengan kondisi Indonesia diterima
secara luas[5]. Opini ini berkembang karena dari
berbagai macam partai yang ada pada saat itu, justru mengakibatkan kebuntuan
akan penyelesaian problem-problem kebijakan publik –termasuk perumusan dasar
Negara yang tetap-. Lebih parahnya lagi, ditambah dengan kegelisahan politik
yang ada pada saat itu, yang banyak dari masyarakat membayangkan akan adanya
anarkisme, disintegrasi teritorial, intervensi asing, pengambilalihan
kekuasaan, dll.
Sehingga menjadi wajar sekali, dibalik paranoia
seperti ini gagasan kolektifisme-kekeluargaan semakin mencitrakan dirinya
sebagai juru selamat. Gagasan bahwa “masyarakat seharusnya terpadu secara
organik” semakin diamini, karena hanya melalui kacamata inilah, masyarakat bisa
dipersatukan lagi akibar dikotak-kotakan oleh ideologi berbagai partai politik
pada kala itu.
Selanjutnya, demi menjernihkan struktur politik yang
kolektif, Sukarno membentuk Dewan Nasional yang berasal dari berbagai golongan.
Tugasnya adalah membentuk sistem pemilu yang baru lagi, yang tidak hanya
bertumpu pada sistem partai, karena gambaran pada saat itu Sistem Partai sudah
menjadi cerminan sistem liberal yang busuk.
Membicarakan partai politik dengan lambang pohon
bringin atau biasa dikenal dengan Golkar, pandangan kita tidak akan lepas
dari rezim Orde Baru. Dimana Soeharto melalui Golkar sebagai kendaraan
politiknya mampu menyematkan dirinya menjadi Presiden
terlama di Indonesia dengan rentan waktu 32 tahun.
Melalui buku “GOLKAR Sejarah yang Hilang Akar Pemikiran dan Dinamika” karya
David Reeve inimenyajikan data yang sarat dengan referensi secara
akademik, buku ini bisa dipertanggungjawabkan. Dalam buku ini,David Reeve
mengungkap sejarah Golkar yang sampai saat ini kebenaraannya diamini.
Gagasan integralistik-kolektivis yang merupakan buah pemikiran dari
kolaborasi tiga tokoh, Soekarno, Soepomo dan Ki Hadjar Dewantara menjadi titik
awal munculnya Golkar. Sejak tahun 1940, gagasan itu telah diajukan, namun
pada saat itu masih bernama golongan fungsionil yang kemudian disangsekertakan
menjadi golongan karya pada tahun 1959, sampai pada akhirnya kita kenal
dengan singkatan Golkar.
Golongan fungsional dihadirkan dengan tujuan “mengubur partai-partai” yang
ada. Suatu partai dengan menggunakan konsep golongan fungsional merupakan
sebuah konsep yang mewakili golongan-golongan yang memiliki ‘fungsi’ dalam
masyarakat, didalam keseluruhan kolektivitas dengan menggunakan asas
kekeluargaan.
Dari pemikiran itulah, tidak terlalu jauh untuk untuk membayangkan bahwa
kehidupan politik akan diatur sebagai negara satu partai dan perwakilan melalui
golongan yang “fungsional” dalam masyarakat dan bukan melalui partai politik
yang bersaing, yang mencerminkan pertentangan ideologi. Kondisi pada dekade
1930-an cenderung tidak mendukung diskusi tertulis tentang bentuk pemerintahan
negara masa depan, tetapi terdapat indikasi bahwa Soekarno memiliki
pemikiran seperti itu pada dekade 1930-1940-an.
Dalam hal ini, gagasan Soekarno mengenai Golkar terlupakan, tak lain
karena Angkatan Darat merebut gagasan itu dan membentuk
organisasi-organisasi yang mengikuti garis golongan fungsionil dengan
mendahului Soekarno. Ini terjadi ketika Presiden Soekarno dan Angkatan Darat
melakukan hubungan kerjasama untuk mengatasi pemberontakan-pemberontakan daerah
dan mengubah sistem perpolitikan. Alhasil, ketika demokrasi terpimpin resmi
dimulai pada akhir 1959, Angkatan Darat telah lebih dulu membentuk berbagai
organisasi Golkar. Upaya pemerintah untuk membentuk sebuah golongan pemuda
pada awal 1960 merupakan kegagalan Angkatan Darat yang telahdiambil
alih oleh gagasan Golkar.
Berawal dari sinilah gagasan “mengubur partai-partai” menjadi rival politik
sebuah partai tunggal, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI).
Bahkan, partai yang lahir dari gagasan Soekarno ini menjadi anti-Soekarno.
Soekarnopun tidak bisa berbuat banyak dengan Golkar yang digagasnya, Soekarno
memilih kembali kepada partai-partai untuk melindungi dirinya sendiri melawan
Angkatan Darat. Meminjam istilahnya Max Lane, ‘Malapetaka Anti-Kemanusian’ atau
yang biasa kita kenal dengan G-30S merupakan bukti kongkrit perubahan besar
gagasan Golkar sebagai perwakilan menjadi senjata anti-PKI.
Pada era rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto dengan segala peraturan
yang dibuatnya, Golkar menjadi kendaran politik Soeharto untuk melanggengkan
kekuasaan bersama Angkatan Darat lainnya. Pada akhirnya, tahun 1998 pasca
runtuhnya rezim otoriter Orde Baru ternyata Golkar masih menjadi kekuatan besar
dalam kancah perpolitakan Indonesia. Seperti yang disampaikan David Reeve, tahun
1998-sekarang, Golkar diubah menjadi sebuah partai pengusaha dan
sebuah patronase. Sudah tidak diragukan lagi peralihan ini menjadi bukti
bahwa gagasan Golkar yang lahir dari buah pemikiran Soekarno, Soepomo, dan Ki
Hajar Dewantara kini benar-benar telah lenyap.
Karena komposisi dalam DN juga ada Nasution (yang
merepresantisikan Angkatan Darat), maka Angkatan Bersenjata memiliki hak untuk
berperan dan mengambil keputusan hukum tingkat tertinggi dan mendapat
perwakilan di kursi legislatif. Pada 1958, AD semakin menjadi-jadi berupaya
untuk mencari rasionalisasi untuk mempertahankan sebagaian atau seluruh hak
mereka untuk campur tangan di bidang pemerintahan sipil.
Pada November tahun 1958 terlahirlah golongan
fungsional, yang diharapkan dapat mempersatukan berbagai elemen masyarakat. Ia
terdiri dari Angkatan Buruh/Pegawai, Angkatan Tani, Angkatan Pengusaha
Nasional, Angkatan Bersenjata, Angkatan Darat, Angkatan Udara,
Veteran-Organisasi Keamanan Desa, Organisasi Pertahanan Rakyat-, Angkatan Jasa,
Angkatan Proklamasi, hingga Angkatan Tokoh Agama.
Tujuan dibentuknya golongan fungsional ini tentunya
untuk mengklasifikasikan tiap-tiap individu yang terdaftar dalam organisasi
ini, sehingga ia mencermikan dari pelbagai elemen yang ada di Indonesia. Melalui
prinsip kekeluargaan ini –yang memiliki agenda perubahan dari orientasi
kepartaian menuju orientasi fungsional-, Nasution juga berupaya untuk melawan
PKI dengan membatalkan legitimasi ideologi berbasis kelas milik PKI. Dengan
adanya golongan fungsional ini, semakin membuka lebar juga masuknya peran
militer ke dalam kancah dunia politik-pemerintahan.
Hingga awal tahun 1960-an, Sukarno dan AD sebenarnya
banyak memiliki kesamaan gagasan dan kepentingan. AD ingin melarang PKI
sepenuhnya, juga tetap menjaga gagasan larangan keberadaan partai politik.
Namun sayangnya, semenjak akhir dekade 1950-an Sukarno pun tidak mampu berbuat
apa-apa untuk golongan-golongan jenis fungsionil, yang sehingga Sukarno pada
akhirnya membutuhkan orang-orang partai untuk membadani dirinya dari serangan
AD.
Sejak 1960-1965, AD banyak membuat organisasi-organisasi golongan
fungsional, sebut saja SOKSI, MKGR, Kosgoro, dll. Persaingan
organisasi-organisasi ciptaaan AD dengan organisasi ciptaan PKI semacam SOBSI
semakin jelas kentara, dan gagasan karyawan yang dikembangkan dalam SOKSI
adalah tantangan besar bagi buruh. Puncaknya adalah penyatuan golongan-golongan
fungsionil AD ini ke dalam Sekber Golkar yang terbentuk di tahun 1964.
Sekber Golkar ini pada akhirnya dijadikan alat legitimasi
pengkambinghitaman partai pasca tragedi 1965. Melalui langkah politik
restukturisasi Sekber Golkar, golongan-golongan militer memasuki pos pos
penting di dalam organisasi. Restrukturisasi ini berisfat jangka pendek, yakni
untuk memenangkan Pemilu 1971 dan meresrukturasi
sistem perpolitikan Indonesia. Kunci-kunci gagasan ini terwujud dengan:
1.
Masuknya para tokoh militer ke dalam institusi politik
dan birokrasi sipil melalui penempatan para perwira melalui pengkaryaan.
2.
Kampanye melawan partai politik dengan langkah
penghalusan berupa penyederhanaan partai, yang tercapai pada tahun 1973.
3.
Fusi ormas partai menjadi wadah tunggal. 1973-1978.
4.
Menarik semua barisan organisasi profesi ke dalam
barisan Golkar.
5.
Promosi agresif terhadap perusahaan melalui kampanye
sosialisasi konsep karyawan
Melalui kunci-kunci disini, kita bisa melihat jangkauan kedepan Golkar pada
saat itu dalam era pemerintahan Orde Baru, seperti konsep pembangunan
(repelita), dominasi aktivitas perpolitikan, golongan alternatif bagi berbagai
macam ideologi, penekanan keharmonisan-stabilisasi (melalui represi bila
perlu), dominasi negara terhadap individu, kewajiban bukan hak, teori karyawan
dalam perusahaan, dan fusi ormas partai kedalam wadah tunggal (asas tunggal
pancasila).
Kondisi Indonesia yang mulai mengambil posisi dalam kancah perpolitikan
internasional (dalam hal ini mengambil posisi politik konfrontasi), semakin
membuat arah tujuan Indonesia semakin jelas. Agitasi sosial dibangun sedemikian
rupa, demi meneguhkan sikap politik Indonesia saat itu. Hal yang paling utama
dalam agitasi ini bisa dilihat dengan perumusan manifesto politik indonesia,
Garis-garis besar revolusi, ide-ide kompromisasi tiga ideologi dominan, dan
yang lainnya.
Uniknya, dalam kondisi ini terlahirlah embrio alternatif
yang berusaha untuk merevitalisasi gagasan kekeluargaan, atau bisa disebut juga
sebagai kolektivisme. Hal ini diilhami dari gagasan yang berkembang pada awal
abad 20 oleh beberapa kalangan intelektual Jawa yang dekat dengan tradisi
teosofi, sebut saja Dewantoro, Supomo, Sukarno, dll. Dalam tradisi teosofi pada
saat itu, masyarakat dipandang sebagai sebuah organisme, yang dapat berevolusi
dan mempertahankan sifat-sifat dasar sambil beradaptasi dengan tuntutan masa
yang baru.
Melalui kacamata bahwa masyarakat adalah organisme yang hidup, maka yang
diperlukan adalah strategi untuk mempertahankan kesatuan rasa bangsa Indonesia.
Sehingga, kepentingan nasional dijadikan yang utama dalam hal ini. Sumbangsih
pemikiran seperti ini juga banyak diilhami dari ide-ide ekonomi sosialis, yang
menekankan adanya kepemilikan atas komoditas secara bersama.
Sukarno jatuh, Suharto memanfaatkan
Golkar dalam pemilu. Para aktivis, intelektual, dan pendukung Orde Baru
diperintahkan mengambil alih Sekber Golkar dan direstrukturisasi. Kepemimpinan
lama dipinggirkan digantikan kepemimpinan Orde Baru. Golkar diambil alih
kembali demi tujuan politik jangka pendek yang berbeda, yaitu memenangkan
pemilu bagi Orde Baru dan merestrukturisasi perpolitikan Indonesia. Golkar
memainkan peran ini sampai 1998. Saat itu, Soeharto jatuh tapi Golkar tak
tersapu. Malahan muncul jadi salahsatu kekuatan politik utama dalam pemilu
Indonesia 1999, 2004 dan 2009. Era baru Golkar yang jauh dari gagasan asli,
yaitu memenangkan gagasan partai, mengalahkan gagasan anti-partai. Tokoh-tokoh
militer pun pergi dan sekelompok pengusaha mengambil alih kepemimpinan.
Sebuah karya ilmiah yang kaya dan
ditulis dengan sikap akademik yang jernih juga kritis. Buku yang dengan cepat
dapat mengantarkan mengenal dan memahami Golkar, bahkan sejarahnya yang masih
gelap atau malah dilupakan (kalau tidak bisa disebut gelapkan) juga diingkari.
Dalam buku yang ditulis oleh David
Reeve, beliau menjelaskan apa yang menjadi intisari dari buku yang ditulisnya.
Pertama kali David Reeve bercerita kapan ia datang ke Indonesia, ia dating ke
Indonesia sekitar 44 tahun lalu pada saat hari sumpah pemuda. Setelah itu ia
bercerita mengenai sejarah berdirinya Golkar. Menurutnya, Golkar dicetuskan
oleh Soekarno, bukan oleh angkatan darat seperti yang terdapat pada situs
website Golkar. Pada awal berdirinya tahun 1964 oleh unsur-unsur orang darat
melawan PKI. Golkar berdiri bukan sebagai sebuah partai melainkan sebagai
golongan karya. Ide awal golkar yaitu sebagai system perwakilan (alternative)
dan dasar perwakilan lembaga-lembaga representative. Tetapi ternyata ide-ide
golkar tersebut dicetuskan oleh Soekarno bukan angkatan darat yang selama ini
dikenal. Hal yang menyebabkan Soekarno tidak dikelan sebagai pencetus
berdirinya golkar adalah karena karya-karya bung karno tidak pernah dibahas.
Golkar adalah kepanjangan dari
Golongan karya. Dipertengahan tahun 50-an, partai politik seperti sekarang
tidak berfungsi dengan baik. Oleh arena itu, ide-ide Soekarno langsung diambil
alih oleh AD yang dipimpin oleh Nasution. Ide-ide tentang Golkar diambil alih
karena Soekarno tidak mempunyai kekuatan untuk membuat organisasi, sedangkan
Angkatan darat memiliki kuasa atas hal tersebut.
Pada tahun 1957 adalah masa awal
berdirinya organisasi Golkar, pada waktu itu ostem multi partai mulai
berkembang di Indonesia. Golkar sebagai sebuah alternative merupakan sebuah
organisasi yang terdiri dari golongan-golongan fungsional. Golkar juga memiliki
tujuan untuk merebut ormas atau organisasi masyarakat. Tahun 1957 pula Soekarno
membentuk Dewan nasional.
Golkar beralih menjadi sebuah
partai politik ketika Bung Karno yang bertindak sebagai konseptor dan Nasution
yang berfungsi sebagai penggerak, bersama dengan angkata darat, mengubah golkar
sebagai sebuah partai politik untuk melawan PKI. Hal ini bertentangan dengan
konsep awal Golkar yang menolak konsep partai dan PKI yang menuntut perbedaan
kelas. Golkar memiliki konsep untuk menumbuhkan persatuan dan kerjasama.
Akhirnya, Golkar yang anti partai runtuh menjadi sebuah partai. Ide golkar yang
awalnya menghancurkan partai-partai yang ada, justru sekarang menjadi sebuah
partai. Ironis sekali.
Pada masa Orde baru dilakukan
De-soekarno-isasi yaitu sebuah kejadian diamana AD tidak mau mengakui konsep
Soekarno. Sehingga konsep-konsep Soekarno tidak ernah dibahas lagi.
Ketika itu ada dua golongan dalam
memandang sebuah partai politik yaitu anti partai dan pro partai. Tokoh-tokoh
anti partai yaitu Ki Hajar Dewantara, Soepomo, Soekarno, yang notabene adalah
orang Jawa. Mereka masih memegang teguh adat mereka yaitu Kawula Warga yang
artinya kekeluargaan datang dari keluarga. Lalu, tokok-tokoh pro partai adalah
Sutan Syahrir, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin yang notabene berasal dari
Minang. Sehingga, secara tidak langsung kebudayaan masih melekat dan
memyebabkan perbedaan cara pandang terhadap sebuah partai politik. Kesimpulan
yang diberikan David Reeve ada 5 point :
1. Golkar
sejarahnya lebih panjang daripada yang terdapat di website golkar
2. Meskipun
golkar memberikan peran penting bagi AD, yang patut diapresiasi adalah Bung
Karno sebagai pencetus.
3. Ide
golkar sebagai system perwakilan alternative tidak pernah berjalan.
4. Ada
tradisi anti partai dan pro partai yang cukup kuat dan panjang.
5. Apakah
dalam yang dikatakan pembusukan partai golkar selama ini, Golkar bias hidup
lagi menjalankan fungsinya sebagai alternative ?
Ia memberikan apresiasi bahwa
golkar adalah hasil kumpulan gagasan dan organisasi dan sekarang politik
gagasan menjadi marjinal dan organisasi dominan. Ia juga memberikan tiga point
penting dalam apresiasi nya. Point pertama adalah politik gagasan. Point yang
kedua adalah politik organisasi dan point yang terakhir ia menerangkan golkar
pada masa kini. Menurutnya, Golkar merupakan satu-satunya partai yang bersistem
pelembagaan terbaik tetapi sampai sekarang kadernya belum pernah menduduki
jabatan sebagai presiden di tiga kali pemilu terakhir.
Buku yang ditulis oleh David Revee ini
memberikan ilmu tentang kekeluargaan dan memberikan penjelasan bahwa golkar
bukan hanya partai politik. Tetapi David Revee terlalu memberi gambaran ide dan
kurang memperhatikan aspek lain, begitu Dr. Najib menanggapi buku Golkar:
Sejarah yang hilang. Ia juga menjelaskan tiga jalur penting didalam golkar,
jalur tersebut disingkat menjadi ABG. ‘A’ adalah kepanjangan dari ABRI yang
merupakan unsure terpenting dalam masuknya golkar menjadi sebuah organisasi
yang besar. ‘B’ adalah kepanjangan dari Birokrasi atau struktur pemerintah.
Birokrasi ini membuat golkar digdaya pada masa orde baru, Karena banyak anggota
ABRI yang masuk ke birokrasi. ‘G’ adalah kepanjangan dari Golkar itu sendiri.
Golkar setelah reformasi berubah menjadi sebuah partai politik. Pada kasusnya,
pemilu pertama yang diadakan golkar menjadi bunglon, sebenarnya golkar
merupakan sebuah partai politik tetapi belum mau mengakui. Pada prakteknya
golkar berbuat untuk warga , agar tetap menguatkan sebagai anti partai yang
hanya menguntungkan golongannya sendiri.
Kesimpulannya, karya David Reeve ini
menjadi buku penting untuk dibaca. Di mana, pada era rezim Orde Baru
terjadi pembungkaman sejarah. Lebih tepatnya sengaja dibungkam untuk
melanggengkan kekuasaan. Yang terakhir, selain ucapan
rasa terimakasih kepada David Reeve, karena kita bisa mengetahui tentang
sejarah yang selama ini digelapkan, sekaligus karya ilmiah David Reeve ini
menjadi otokritik kepada kita sebagai bangsa Indonesia. Dalam artian, sejarah
bangsa ini sebagian besar ditulis oleh orang luar negeri, pun sejarah seperti
Golkar ternyata harus kita dapat dari David Reeve, orang Australia. ide
awal golkar sebagai system perwakilan alternative yang dicetuskan oleh bung
Karno ditolak dan diambil alih oleh AD. Hal itu karena bung Karno lemah, bukan
lemah idenya, melainkan lemah kekuasaan. Bung Karno sebagai presiden tidak
mempunyai kekuasaan, karena tidak memiliki (berbasis) partai politik. Pada masa
itu, AD atau Angkatan Daratlah yang memiliki. Akan tetapi AD memiliki pemikiran
bahwa sangat penting untuk bias melawan PKI, sehingga pada akhirnya golkar
menjadi sebuah partai politik yang berorientasi mendapatkan kekuasaan.


No comments:
Post a Comment