About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Sunday, 3 May 2015

Golkar Sejarah yang Hilang Arus Pemikiran & Dinamika

Identitas Mahasiswa
Nama
: DEDI ARLIYANTO WIBOWO
NIM
: 3101412091
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B



A.    Identitas Buku
Judul                           : Golkar Sejarah yang Hilang Arus Pemikiran & Dinamika
Judul Asli                   : Golkar of Indonesia: An Alternative to the Party System
Penulis                       : David Reeve
Penerjemah             : Gatot Triwira
Penerbit                    : Komunitas Bambu
Cetakan                     : Pertama, Juli 2013
Tebal                              : xxviii+420 hlm; 15.5 x 24 cm

B.     Isi Buku
Tulisan ini merupakan resume bedah buku, Golkar : Sejarah yang hilang. Prof. David Reeve. Beliau adalah dosen dari University of South Wales, beliau juga yang menulis buku Golkar : Sejarah yang hilang.
Buku ini mengurai sejarah panjang Golkar. Sejarawan David Reeve menelusuri masa-masa paling awal Golkar yang jarang dibahas. Pada gagasan integralistik kolektivis buah pemikiran Soepomo, Sukarno dan Ki Hadjar Dewantara pada periode 1940-an 1950-an dicari sumber ilham dan pembentuk organisasi-organisasi golongan karya. Tapi, kemunculan Golkar masih harus menunggu sampai sistem partai didiskreditkan pada pertengahan 1950-an. Disinilah Golkar naik ke panggung politik bersama gagasan Sukarno mengubur partai-partai. Sukarno mendorong menggantikan partai-partai dengan Golkar yang saat itu disebut golongan fungsionil dan pada 1959 di-Sansekertakan menjadi Golongan Karya serta diambil alih Angkatan Darat. Tapi, sejak 1959 itu pula gagasan Golkar digunakan Angkatan Darat dan para sekutunya sebagai senjata anti-PKI juga anti-Sukarno.

Pasca momen Pemilu paling sukses di Indonesia, yakni Pemilu 1955, banyak sekali embrio-embrio alternatif yang lahir dari luar garis lingkaran politik partai pada saat itu. Kelahiran ini didasari atas fakta yang terjadi bahwa ternyata demokrasi liberal ala Barat yang memunculkan banyak partai dan golongan, hanya menimbulkan kebisingan politik tiada guna. Sehingga hampir satu dekade demokrasi liberal pada saat itu, Parlemen tidak dapat memproduksi sebuah dasar Negara yang tetap, yang pada akhirnya membuka pintu akan adanya demokrasi terpimpin di tahun 1959 dan visi menuju kembali pada UUD 1945 sesuai dengan kesepakatan materiil yang terdahulu.
Hingga awal tahun 1957, opini publik bahwa reorganisasi politik di Indonesia dan pemikiran bahwa demokrasi parlementer merupakan suatu kegagalan dan tidak sesuai dengan kondisi Indonesia diterima secara luas[5]. Opini ini berkembang karena dari berbagai macam partai yang ada pada saat itu, justru mengakibatkan kebuntuan akan penyelesaian problem-problem kebijakan publik –termasuk perumusan dasar Negara yang tetap-. Lebih parahnya lagi, ditambah dengan kegelisahan politik yang ada pada saat itu, yang banyak dari masyarakat membayangkan akan adanya anarkisme, disintegrasi teritorial, intervensi asing, pengambilalihan kekuasaan, dll.

Sehingga menjadi wajar sekali, dibalik paranoia seperti ini gagasan kolektifisme-kekeluargaan semakin mencitrakan dirinya sebagai juru selamat. Gagasan bahwa “masyarakat seharusnya terpadu secara organik” semakin diamini, karena hanya melalui kacamata inilah, masyarakat bisa dipersatukan lagi akibar dikotak-kotakan oleh ideologi berbagai partai politik pada kala itu.

Selanjutnya, demi menjernihkan struktur politik yang kolektif, Sukarno membentuk Dewan Nasional yang berasal dari berbagai golongan. Tugasnya adalah membentuk sistem pemilu yang baru lagi, yang tidak hanya bertumpu pada sistem partai, karena gambaran pada saat itu Sistem Partai sudah menjadi cerminan sistem liberal yang busuk.

Membicarakan partai politik dengan lambang pohon bringin atau biasa dikenal dengan Golkar, pandangan kita tidak akan lepas dari rezim Orde Baru. Dimana Soeharto melalui Golkar sebagai kendaraan politiknya mampu menyematkan dirinya menjadi Presiden terlama di Indonesia dengan rentan waktu 32 tahun.

Melalui buku “GOLKAR Sejarah yang Hilang Akar Pemikiran dan Dinamika” karya David Reeve inimenyajikan data yang sarat dengan referensi secara akademik, buku ini bisa dipertanggungjawabkan. Dalam buku ini,David Reeve mengungkap sejarah Golkar yang sampai saat ini kebenaraannya diamini.

Gagasan integralistik-kolektivis yang merupakan buah pemikiran dari kolaborasi tiga tokoh, Soekarno, Soepomo dan Ki Hadjar Dewantara menjadi titik awal munculnya Golkar. Sejak tahun 1940, gagasan itu telah diajukan, namun pada saat itu masih bernama golongan fungsionil yang kemudian disangsekertakan menjadi golongan karya pada tahun 1959, sampai pada akhirnya kita kenal dengan singkatan Golkar.

Golongan fungsional dihadirkan dengan tujuan “mengubur partai-partai” yang ada. Suatu partai dengan menggunakan konsep golongan fungsional merupakan sebuah konsep yang mewakili golongan-golongan yang memiliki ‘fungsi’ dalam masyarakat, didalam keseluruhan kolektivitas dengan menggunakan asas kekeluargaan.

Dari pemikiran itulah, tidak terlalu jauh untuk untuk membayangkan bahwa kehidupan politik akan diatur sebagai negara satu partai dan perwakilan melalui golongan yang “fungsional” dalam masyarakat dan bukan melalui partai politik yang bersaing, yang mencerminkan pertentangan ideologi. Kondisi pada dekade 1930-an cenderung tidak mendukung diskusi tertulis tentang bentuk pemerintahan negara masa depan, tetapi terdapat indikasi bahwa Soekarno memiliki pemikiran seperti itu pada dekade 1930-1940-an.
    
Dalam hal ini, gagasan Soekarno mengenai Golkar terlupakan, tak lain karena Angkatan Darat merebut gagasan itu dan membentuk organisasi-organisasi yang mengikuti garis golongan fungsionil dengan mendahului Soekarno. Ini terjadi ketika Presiden Soekarno dan Angkatan Darat melakukan hubungan kerjasama untuk mengatasi pemberontakan-pemberontakan daerah dan mengubah sistem perpolitikan. Alhasil, ketika demokrasi terpimpin resmi dimulai pada akhir 1959, Angkatan Darat telah lebih dulu membentuk berbagai organisasi Golkar. Upaya pemerintah untuk membentuk sebuah golongan pemuda pada awal 1960 merupakan kegagalan Angkatan Darat yang telahdiambil alih oleh gagasan Golkar.
Berawal dari sinilah gagasan “mengubur partai-partai” menjadi rival politik sebuah partai tunggal, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan, partai yang lahir dari gagasan Soekarno ini menjadi anti-Soekarno. Soekarnopun tidak bisa berbuat banyak dengan Golkar yang digagasnya, Soekarno memilih kembali kepada partai-partai untuk melindungi dirinya sendiri melawan Angkatan Darat. Meminjam istilahnya Max Lane, ‘Malapetaka Anti-Kemanusian’ atau yang biasa kita kenal dengan G-30S merupakan bukti kongkrit perubahan besar gagasan Golkar sebagai perwakilan menjadi senjata anti-PKI.

Pada era rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto dengan segala peraturan yang dibuatnya, Golkar menjadi kendaran politik Soeharto untuk melanggengkan kekuasaan bersama Angkatan Darat lainnya. Pada akhirnya, tahun 1998 pasca runtuhnya rezim otoriter Orde Baru ternyata Golkar masih menjadi kekuatan besar dalam kancah perpolitakan Indonesia. Seperti yang disampaikan David Reeve, tahun 1998-sekarang, Golkar diubah menjadi sebuah partai pengusaha dan sebuah patronase. Sudah tidak diragukan lagi peralihan ini menjadi bukti bahwa gagasan Golkar yang lahir dari buah pemikiran Soekarno, Soepomo, dan Ki Hajar Dewantara kini benar-benar telah lenyap.

Karena komposisi dalam DN juga ada Nasution (yang merepresantisikan Angkatan Darat), maka Angkatan Bersenjata memiliki hak untuk berperan dan mengambil keputusan hukum tingkat tertinggi dan mendapat perwakilan di kursi legislatif. Pada 1958, AD semakin menjadi-jadi berupaya untuk mencari rasionalisasi untuk mempertahankan sebagaian atau seluruh hak mereka untuk campur tangan di bidang pemerintahan sipil.

Pada November tahun 1958 terlahirlah golongan fungsional, yang diharapkan dapat mempersatukan berbagai elemen masyarakat. Ia terdiri dari Angkatan Buruh/Pegawai, Angkatan Tani, Angkatan Pengusaha Nasional, Angkatan Bersenjata, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Veteran-Organisasi Keamanan Desa, Organisasi Pertahanan Rakyat-, Angkatan Jasa, Angkatan Proklamasi, hingga Angkatan Tokoh Agama.

Tujuan dibentuknya golongan fungsional ini tentunya untuk mengklasifikasikan tiap-tiap individu yang terdaftar dalam organisasi ini, sehingga ia mencermikan dari pelbagai elemen yang ada di Indonesia. Melalui prinsip kekeluargaan ini –yang memiliki agenda perubahan dari orientasi kepartaian menuju orientasi fungsional-, Nasution juga berupaya untuk melawan PKI dengan membatalkan legitimasi ideologi berbasis kelas milik PKI. Dengan adanya golongan fungsional ini, semakin membuka lebar juga masuknya peran militer ke dalam kancah dunia politik-pemerintahan.

Hingga awal tahun 1960-an, Sukarno dan AD sebenarnya banyak memiliki kesamaan gagasan dan kepentingan. AD ingin melarang PKI sepenuhnya, juga tetap menjaga gagasan larangan keberadaan partai politik. Namun sayangnya, semenjak akhir dekade 1950-an Sukarno pun tidak mampu berbuat apa-apa untuk golongan-golongan jenis fungsionil, yang sehingga Sukarno pada akhirnya membutuhkan orang-orang partai untuk membadani dirinya dari serangan AD.

Sejak 1960-1965, AD banyak membuat organisasi-organisasi golongan fungsional, sebut saja SOKSI, MKGR, Kosgoro, dll. Persaingan organisasi-organisasi ciptaaan AD dengan organisasi ciptaan PKI semacam SOBSI semakin jelas kentara, dan gagasan karyawan yang dikembangkan dalam SOKSI adalah tantangan besar bagi buruh. Puncaknya adalah penyatuan golongan-golongan fungsionil AD ini ke dalam Sekber Golkar yang terbentuk di tahun 1964.
Sekber Golkar ini pada akhirnya dijadikan alat legitimasi pengkambinghitaman partai pasca tragedi 1965. Melalui langkah politik restukturisasi Sekber Golkar, golongan-golongan militer memasuki pos pos penting di dalam organisasi. Restrukturisasi ini berisfat jangka pendek, yakni untuk memenangkan Pemilu 1971 dan meresrukturasi sistem perpolitikan Indonesia. Kunci-kunci gagasan ini terwujud dengan:
1.        Masuknya para tokoh militer ke dalam institusi politik dan birokrasi sipil melalui penempatan para perwira melalui pengkaryaan.
2.        Kampanye melawan partai politik dengan langkah penghalusan berupa penyederhanaan partai, yang tercapai pada tahun 1973.
3.        Fusi ormas partai menjadi wadah tunggal. 1973-1978.
4.        Menarik semua barisan organisasi profesi ke dalam barisan Golkar.
5.        Promosi agresif terhadap perusahaan melalui kampanye sosialisasi konsep karyawan

Melalui kunci-kunci disini, kita bisa melihat jangkauan kedepan Golkar pada saat itu dalam era pemerintahan Orde Baru, seperti konsep pembangunan (repelita), dominasi aktivitas perpolitikan, golongan alternatif bagi berbagai macam ideologi, penekanan keharmonisan-stabilisasi (melalui represi bila perlu), dominasi negara terhadap individu, kewajiban bukan hak, teori karyawan dalam perusahaan, dan fusi ormas partai kedalam wadah tunggal (asas tunggal pancasila).
Kondisi Indonesia yang mulai mengambil posisi dalam kancah perpolitikan internasional (dalam hal ini mengambil posisi politik konfrontasi), semakin membuat arah tujuan Indonesia semakin jelas. Agitasi sosial dibangun sedemikian rupa, demi meneguhkan sikap politik Indonesia saat itu. Hal yang paling utama dalam agitasi ini bisa dilihat dengan perumusan manifesto politik indonesia, Garis-garis besar revolusi, ide-ide kompromisasi tiga ideologi dominan, dan yang lainnya.
Uniknya, dalam kondisi ini terlahirlah embrio alternatif yang berusaha untuk merevitalisasi gagasan kekeluargaan, atau bisa disebut juga sebagai kolektivisme. Hal ini diilhami dari gagasan yang berkembang pada awal abad 20 oleh beberapa kalangan intelektual Jawa yang dekat dengan tradisi teosofi, sebut saja Dewantoro, Supomo, Sukarno, dll. Dalam tradisi teosofi pada saat itu, masyarakat dipandang sebagai sebuah organisme, yang dapat berevolusi dan mempertahankan sifat-sifat dasar sambil beradaptasi dengan tuntutan masa yang baru.

Melalui kacamata bahwa masyarakat adalah organisme yang hidup, maka yang diperlukan adalah strategi untuk mempertahankan kesatuan rasa bangsa Indonesia. Sehingga, kepentingan nasional dijadikan yang utama dalam hal ini. Sumbangsih pemikiran seperti ini juga banyak diilhami dari ide-ide ekonomi sosialis, yang menekankan adanya kepemilikan atas komoditas secara bersama.
Sukarno jatuh, Suharto memanfaatkan Golkar dalam pemilu. Para aktivis, intelektual, dan pendukung Orde Baru diperintahkan mengambil alih Sekber Golkar dan direstrukturisasi. Kepemimpinan lama dipinggirkan digantikan kepemimpinan Orde Baru. Golkar diambil alih kembali demi tujuan politik jangka pendek yang berbeda, yaitu memenangkan pemilu bagi Orde Baru dan merestrukturisasi perpolitikan Indonesia. Golkar memainkan peran ini sampai 1998. Saat itu, Soeharto jatuh tapi Golkar tak tersapu. Malahan muncul jadi salahsatu kekuatan politik utama dalam pemilu Indonesia 1999, 2004 dan 2009. Era baru Golkar yang jauh dari gagasan asli, yaitu memenangkan gagasan partai, mengalahkan gagasan anti-partai. Tokoh-tokoh militer pun pergi dan sekelompok pengusaha mengambil alih kepemimpinan.
Sebuah karya ilmiah yang kaya dan ditulis dengan sikap akademik yang jernih juga kritis. Buku yang dengan cepat dapat mengantarkan mengenal dan memahami Golkar, bahkan sejarahnya yang masih gelap atau malah dilupakan (kalau tidak bisa disebut gelapkan) juga diingkari.
Dalam buku yang ditulis oleh David Reeve, beliau menjelaskan apa yang menjadi intisari dari buku yang ditulisnya. Pertama kali David Reeve bercerita kapan ia datang ke Indonesia, ia dating ke Indonesia sekitar 44 tahun lalu pada saat hari sumpah pemuda. Setelah itu ia bercerita mengenai sejarah berdirinya Golkar. Menurutnya, Golkar dicetuskan oleh Soekarno, bukan oleh angkatan darat seperti yang terdapat pada situs website Golkar. Pada awal berdirinya tahun 1964 oleh unsur-unsur orang darat melawan PKI. Golkar berdiri bukan sebagai sebuah partai melainkan sebagai golongan karya. Ide awal golkar yaitu sebagai system perwakilan (alternative) dan dasar perwakilan lembaga-lembaga representative. Tetapi ternyata ide-ide golkar tersebut dicetuskan oleh Soekarno bukan angkatan darat yang selama ini dikenal. Hal yang menyebabkan Soekarno tidak dikelan sebagai pencetus berdirinya golkar adalah karena karya-karya bung karno tidak pernah dibahas.

Golkar adalah kepanjangan dari Golongan karya. Dipertengahan tahun 50-an, partai politik seperti sekarang tidak berfungsi dengan baik. Oleh arena itu, ide-ide Soekarno langsung diambil alih oleh AD yang dipimpin oleh Nasution. Ide-ide tentang Golkar diambil alih karena Soekarno tidak mempunyai kekuatan untuk membuat organisasi, sedangkan Angkatan darat memiliki kuasa atas hal tersebut.
Pada tahun 1957 adalah masa awal berdirinya organisasi Golkar, pada waktu itu ostem multi partai mulai berkembang di Indonesia. Golkar sebagai sebuah alternative merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari golongan-golongan fungsional. Golkar juga memiliki tujuan untuk merebut ormas atau organisasi masyarakat. Tahun 1957 pula Soekarno membentuk Dewan nasional.
Golkar beralih menjadi sebuah partai politik ketika Bung Karno yang bertindak sebagai konseptor dan Nasution yang berfungsi sebagai penggerak, bersama dengan angkata darat, mengubah golkar sebagai sebuah partai politik untuk melawan PKI. Hal ini bertentangan dengan konsep awal Golkar yang menolak konsep partai dan PKI yang menuntut perbedaan kelas. Golkar memiliki konsep untuk menumbuhkan persatuan dan kerjasama. Akhirnya, Golkar yang anti partai runtuh menjadi sebuah partai. Ide golkar yang awalnya menghancurkan partai-partai yang ada, justru sekarang menjadi sebuah partai. Ironis sekali.
 Pada masa Orde baru dilakukan De-soekarno-isasi yaitu sebuah kejadian diamana AD tidak mau mengakui konsep Soekarno. Sehingga konsep-konsep Soekarno tidak ernah dibahas lagi.

Ketika itu ada dua golongan dalam memandang sebuah partai politik yaitu anti partai dan pro partai. Tokoh-tokoh anti partai yaitu Ki Hajar Dewantara, Soepomo, Soekarno, yang notabene adalah orang Jawa. Mereka masih memegang teguh adat mereka yaitu Kawula Warga yang artinya kekeluargaan datang dari keluarga. Lalu, tokok-tokoh pro partai adalah Sutan Syahrir, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin yang notabene berasal dari Minang. Sehingga, secara tidak langsung kebudayaan masih melekat dan memyebabkan perbedaan cara pandang terhadap sebuah partai politik. Kesimpulan yang diberikan David Reeve ada 5 point :
1.      Golkar sejarahnya lebih panjang daripada yang terdapat di website golkar
2.      Meskipun golkar memberikan peran penting bagi AD, yang patut diapresiasi adalah Bung Karno sebagai pencetus.
3.      Ide golkar sebagai system perwakilan alternative tidak pernah berjalan.
4.      Ada tradisi anti partai dan pro partai yang cukup kuat dan panjang.
5.      Apakah dalam yang dikatakan pembusukan partai golkar selama ini, Golkar bias hidup lagi menjalankan fungsinya sebagai alternative ?
Ia memberikan apresiasi bahwa golkar adalah hasil kumpulan gagasan dan organisasi dan sekarang politik gagasan menjadi marjinal dan organisasi dominan. Ia juga memberikan tiga point penting dalam apresiasi nya. Point pertama adalah politik gagasan. Point yang kedua adalah politik organisasi dan point yang terakhir ia menerangkan golkar pada masa kini. Menurutnya, Golkar merupakan satu-satunya partai yang bersistem pelembagaan terbaik tetapi sampai sekarang kadernya belum pernah menduduki jabatan sebagai presiden di tiga kali pemilu terakhir.
Buku yang ditulis oleh David Revee ini memberikan ilmu tentang kekeluargaan dan memberikan penjelasan bahwa golkar bukan hanya partai politik. Tetapi David Revee terlalu memberi gambaran ide dan kurang memperhatikan aspek lain, begitu Dr. Najib menanggapi buku Golkar: Sejarah yang hilang. Ia juga menjelaskan tiga jalur penting didalam golkar, jalur tersebut disingkat menjadi ABG. ‘A’ adalah kepanjangan dari ABRI yang merupakan unsure terpenting dalam masuknya golkar menjadi sebuah organisasi yang besar. ‘B’ adalah kepanjangan dari Birokrasi atau struktur pemerintah. Birokrasi ini membuat golkar digdaya pada masa orde baru, Karena banyak anggota ABRI yang masuk ke birokrasi. ‘G’ adalah kepanjangan dari Golkar itu sendiri. Golkar setelah reformasi berubah menjadi sebuah partai politik. Pada kasusnya, pemilu pertama yang diadakan golkar menjadi bunglon, sebenarnya golkar merupakan sebuah partai politik tetapi belum mau mengakui. Pada prakteknya golkar berbuat untuk warga , agar tetap menguatkan sebagai anti partai yang hanya menguntungkan golongannya sendiri.

Kesimpulannya, karya David Reeve ini menjadi buku penting untuk dibaca. Di mana, pada era rezim Orde Baru terjadi pembungkaman sejarah. Lebih tepatnya sengaja dibungkam untuk melanggengkan kekuasaan. Yang terakhir, selain ucapan rasa terimakasih kepada David Reeve, karena kita bisa mengetahui tentang sejarah yang selama ini digelapkan, sekaligus karya ilmiah David Reeve ini menjadi otokritik kepada kita sebagai bangsa Indonesia. Dalam artian, sejarah bangsa ini sebagian besar ditulis oleh orang luar negeri, pun sejarah seperti Golkar ternyata harus kita dapat dari David Reeve, orang Australia. ide awal golkar sebagai system perwakilan alternative yang dicetuskan oleh bung Karno ditolak dan diambil alih oleh AD. Hal itu karena bung Karno lemah, bukan lemah idenya, melainkan lemah kekuasaan. Bung Karno sebagai presiden tidak mempunyai kekuasaan, karena tidak memiliki (berbasis) partai politik. Pada masa itu, AD atau Angkatan Daratlah yang memiliki. Akan tetapi AD memiliki pemikiran bahwa sangat penting untuk bias melawan PKI, sehingga pada akhirnya golkar menjadi sebuah partai politik yang berorientasi mendapatkan kekuasaan.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...