About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Sunday, 3 May 2015

Unfinished Nation (Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan Sejarah Indonesia)

Identitas Mahasiswa
Nama
: EXSAN ALI SETYONUGROHO
NIM
: 3101412093
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B



A.    Identitas Buku
Judul Buku          : Unfinished  Nation (Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan Sejarah Indonesia)
Penulis                 : Max Lane
Jumlah Halaman  : 544 Halaman
Tahun Terbit        : 2014
Penerbit               : Penerbit Djaman Baroe
Kota                     : Yogyakarta
ISBN                   : 978-979-18055-4-4

B.     Resensi Buku
Buku ini memberikan suatu perkspektif yang berbeda mengenai penulisan sejarah, terutama sejarah dalam kaitannya dengan awal terbentuknya orde baru (demokrasi terpimpin), Orde Baru itu sendiri dan juga sejarah-sejarah minoritas mengenai aksi-aksi massa yang dilakukan dalam melakukan perlawanan terhadap Orde Baru, semisal peristiwa Malari; Aksi Sastrawan W.S. Rendra ataupun perlawanan Pramoedya Ananta Toer . Selian itu, Buku ini sesuai dengan judulnya “Negara Belum Selesai/ Unfinished Nation”, menggambarkan bahwa Negara Indonesia dalam perjalanannya belumlah selesai sebagai Negara yang memiliki stabilitas politik, ekonomi, budaya yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Max lane disini berargumen bahwa apa yang dilakukan oleh Soeharto ketika menumpas gerakan-gerakan Revolusioner yang dalamnya ada PKI (Partai Komunis Indonesia), PNI sayap kiri dan juga para pendukung Soekarno dalam pembantaian massal 1965-1966 bukan saja menumpas orang-orang kiri namun lebih jauh lagi sebagai upaya untuk menghentikan sebuah Revolusi Nasional yang sudah direncanakan oleh Soekarno setahap demi tahap terlaksana. Oleh sebab itu menurut Max Lane bahwa Indonesia sebagai bangsa, suatu formasi sosial nasional, belumlah dituntaskan saat didirikan, apakah itu pada 1945 ataupun pada 1949 apalagi dalam tahun 1965-1966  yang merupakan tahun-tahun dimulainya tindakan kontra-revolusi.
Max Lane menggambarkan kondisi awal sebagai tonggak orde baru semisal, banyak di antara orang-orang tersebut diatas yang menjadi sasaran dari Kekuatan Orde baru. Kebanyakan dari mereka adalah pemimpin-pemimpin, para aktivis, dan pendukung kelompok kiri. Mereka banyak dibunuh, mati secara mengerikan, sebagai bagian dari kampanye terror. Mereka dipenggal kepalanya, dikeluarkan isi perustnya, diseret ke belakang truk atau kalau tidak dengan kejam dibunuh. Max Lane mengidentifikasi bahwa aksi segala terror dan tindakan brutal tersebut adalah tindakan untuk mengakhiri proses revolusi nasional. Itu artinya menghentikan politik pergerakan: semua gagasan dan metode yang sudah menjadi bagian integral revolusi nasional Indonesia anatara 1909 hingga 1965. Jadi kontra Revolusi yang dilakukan oleh Soeharto dan pemimpin lainnya, menurut Max Lane bukan saja bermaksud membabat habis organisasi dan orang-orang kiri revolusioner melainkan membabat habis revolusi nasional itu sendiri.
Maka sejak saat dimuainya Orde Baru, hal-hal yang berupaya untuk meneruskan tindakan revolusioner ataupun progresif maka angkatan bersenjata akan bertindak. Hal itu bisa kita lihat dalam buku ini, bahwa dalam istilah Politik Ali Murtopo  ada yang disebut sebagai “massa mengambang” merupakan suatu gagasa orde baru mengenai masyarakat yang tidak boleh ikut-ikutan berpolitik dalam kaitannya dengan kritikan terhadap pemeirntah maupun mereka mendirikan partai. Intinya orang-orang di desa dilarang keras melakukan aktivitas partai, mereka hanya diminta oleh pemerintah untuk mendukung pemerintah melakukan pembangunan atau menyibukan dirinya dalam usaha-usaha pembangunan. Namun dalam masa pemilu masyarakat inilah yang kemudian diwajibkan untuk memilih pilihan sesuai dengan pemerintah, terutama guru atau pegawai negeri sipil. Inilah kemudian menurut Max Lane bahwa mengingatkan orang pada gagasan  tentang budak sebagai “alat yang hidup” yang terbiasa dalam masyarakat perbudakan. 
Buku ini banyak menyadarkan kita akan usaha sistematis orde baru dalam melakukan upaya dalam penghapusan sejarah, dan jatidiri bangsa. Sejarah yang di bentuk adalah tunggal, serta budaya yang digembar-gemborkan adalah budaya sebelum kolonial masuk, sedangkan budaya-budaya seperti semangat kemaritiman, budaya agitasi, aksi massa, pemogokan dan lain sebagainya tidak mungkin dilakukan kajian mendalam.
Selain itu, salah satu bab yang menarik dari buku ini adalah mengenai gerakan mahasiswa, yang dituangkan oleh Max Lane dalam bab 3 berjudul “Mahasiswa”. Dalam bab ini dipaparkan secara rinci mengenai gerakan-gerakan mahasiwa yang mulai mengkritik pemerintahan Orde Baru. Ataupun sebelumnya pembentukan organisasi ekstra kampus KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang di sponspori oleh pemerintah orde baru untuk mnyebarkan paham-paham kontra-Revolusi. Mereka banyak mendapatkan dana dari pemerintah guna menyebarkan paham anti Sukarnoisme maupun komunisme atau hal yang berbau kiri dan pemberontakan. Mereka banyak melakukan seminar-seminar di kampus, terutama di kampus UI. Inilah salah satu kampanye Orde baru untuk melancarkan legitimasinya bunutk diterima oleh kalangan intelektual. Namun seiring berkembangnya waktu di kampus UI-lah muncul gerakan-gerakan yang sudah muak terhadap Orde Baru. Muncul gerakan-gerakan yang didasari kegelisahan dan idealisme mahasiwa dan pemuda.
Diawali dengan aktivitas Arief Budiman di Jakarta sekitar awal 1970-an yang melancarkan serangan demi serangangan terhadap kebijakan Orde Baru yang tidak sewajarnya sebagai pemerintah. Ini bermula ketika pemerintah menyetujui adanya pembangunan proyek pembangunan TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Yang membuat para mahasiswa meradang yakni proyek ini diusulkan oleh istri presiden sendiri, yakni Tien Soeharto dengan Sponsor utama bernama Yayasan Harapan Kita yang juga diketuai oleh Itri Presiden Soeharto tersebut. Pembangunan TMII akan menghabiskan biaya kira-kira 10,5 hingga 20 Milyar Rupiah. Proyek ini banyak dipahami oleh kalangan mahasiswa dan para intekektual sebagai pemborosan anggaran namun ini mendapatkan dukungan penuh oleh pemerintah. Situasi inilah yang kemudian memunculkan gerakan-gerakan mahasiwa mulai dari tulisan-tulisan, karya sastra, maupun gerakan langsung turun kejalan ataupun bertemu dengan presiden seperti apa yang dilakukan oleh Arief Budiman.
Arief Budiman dan kawan-kawanya membentuk kelompok-kelompok mahasiswa progreisf dengan sebutan “Gerakan Penghematan” dan “Kelompok Mahasiswa Menggugat” dan juga adanya keterlibatan aktif  Dewan Mahasiswa (Dema). Mereka kemudian banyak melakukan gerakan-gerakan intelektual untuk mengkritisi kondisi yang ada di pemerintahan termasuk mengenai pembangunan TMII. Seprti contoh yang dilakukan oleh Dema UI, mereka aktif mengoorganisasi pertemuan-pertemuan terbuka mengenai permasalahan tersebut. Semisal pada 12 Januari seluruh Dema di Jakarta dan Persatuan Senat Mahasiswa mengeluarkan pernyataan menuntut Dewan Perwakilan Rakyat memperjuangkan aspirasi rakyat sehubungan dengan proyek TMII.
Mereka banyak bergabung dengan kelompok-kelompok non-mahasiwa dalam metode protes yang mereka lakukan. Seperti menyelenggarakan diskusi panel di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia. Salah satu kelompok yang menarik dengan berbagai analisisnya yang tajam adalah kelompok gerakan yang tergabung dalam Koran Sendi, yang sempat mengeluarkan pernyataan yang paling kontroversial terkait dengan pembangunan TMII. Seperti apa yang dilakukan oleh Sendi mengeluarkan sebuah tajuk rencana penuh tentang proyek TMII. Mereka memberinya judul “Mukaddimah” judul itu mengingatkan semua orang kepada pembukaan UUD 1945, yang merupakan dokumen yang dianggap suci di seluruh Indonesia. Akan tetapi isi dari Mukaddimah Sendi malah memplesetkan UUD 1945 dengan kritikan yang cerdas, tajam, dan membuat meradang pemerintah yang sebenarnya merupakan parodi itu, seperti ini:
MUKADDIMAH
BAHWA SESUNGGUHNYA HASIL KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGELINTIR ORANG DAN OLEH SEBAB ITU, MAKA PENINDASAN DAN KE-SEWANG-WENANGAN LAYAK TERJADI, KARENA SESUAI DENGAN KEDIKTATORAN DAN MILITERISME.
DAN PERJUANGAN SEMENTARA PENGUASA DAN ISTERINYA SAMPAI KEPADA SAAT YANG BERBAHAGIA SEBAB MUMPUNG HIDUP DAPAT MENGERUK KEKAYAAN SEBANYAK-BANYAKNYA.
ATAS BERKAT RAKHMAT SETAN DAN DENGAN DIDORONGKAN OLEH KEINGINAN UNTUK DIPATUHI, MAKA PENGUASA RAKYAT INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEUASAANNYA.
KEMUDIAN DARIPADA ITU UNTUK MEMBENTUK SUATU PENGUASA YANG KUAT, YANG MEEMRINTAH SEGENAP BANGSA INDONESIA DAN SELURUH KEKAYAAN INDONESIA, DAN UNTUK MENEGAKKAN GENGSI-GENGSI PRIBADI, IKUT MEMELARATKAN BANGSA, MAKA DISUSUNLAH KETETAPAN INDONESIA MINI YANG TERBENTUK DALAM SEBUAH YAYASAN “HARAPAN KITA” …SEKIAN[1]
Kemudian hal ini banyak yang menginspirasi dari kalangan  mahaiswa maupun para inteketual-intelektual yang berada dalam kampus maupun luar kampus. Banyak juga intelektual yang ikut mengkritik tentang adanya pembangunan TMII terkusus para intelektual berasal dari UI, seperti Dr. Alfian, Drs. Dorodjatun Kuntjorojakti, Mrs. T.O. Ichromi SH, MA, Murdjono Reksodipuro SH, MS, dan Drs. Juwono Sudarsono MA yang kesemuanya dari mereka aktif mengkritik pembangunan TMII. Pernyataan intelektual tersebut terutama merupakan pernyataan solidaritas terhadap mahasiswa dan pemuda.
Max Lane kembali menggambarkan sejarah-sejarah Orde Baru yang tak sering dijumpai oleh kebanyakan orang di buku-buku sekolah. Ia berhasil menggambarkan sejarah mengapa muncul Golongan Putih pertama kali oleh Arief Budiman. Katika tahunj 1971 akan diselenggarakan pemilu, Arief Budiman seorang intelektual muda pada saat itu merasa gelisah mengenai politik yang digunakan oleh pemerintah, makala pihak pemerintah memanfaatkan masa mengambang tersebut untuk wajib memilih partai pemerintah (Golkar) dan banyak yang menuai ancaman ketika ada salahs eorang yang menolak hal tersebut. Maka tak senang dalam urusan internal partai politik, dan menantang penggunaan kekerasan di pedesaan untuk mendapatkan dukungan bagi pemerintah, maka kelompok-kelompok mahasiswa bersatu menganjurkan pencoblosan diluar pemilu resmi, pembirian suara informal. Kelompok ini, yang dipimpin oleh Arief Budiman dinamakan Golongan Putih (Golput). Nama tersebut menurut Arief Budiman, mengacu pada rekomendasi kelompok tersebut untuk mencoblos bagian kosong (putih) kertas suara pemilu, tak bisa tidak, bagaimanapun juga, memebrikan kesan pada orang bahwa tekanan moralistic tersirat dalam namanya. Putih disebandingkan dengan lawannya, yakni hitam, kotor. Kelompok ini banyak aktif di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Namun demikian dengan selesainya pemilu pada bulan Juni, yang dimenangkan oleh partai pemerintah, lagi-lagi dengan cepat membawa aktivitas-aktivitas golput tamat. Namun dalam hal ini Golongan Putih (golput) sampai sekarang masih tumbuh subur pada saat musim pemilu tiba. Ini dikarenakan banyak masyarakat tak lagi percaya terhadap perubahan yang dibawa oleh pemerintahan yang baru hasil dari pemilu. Terdapat perbedaan yang mendasar terkait motif Golput saat Arief Budiman dkk mengkampanyekan dan Golput pada masa sekarang. Di masa sekarang oleh lebih memilih bekerja mencari uang daripada membuang-buang waktunya ke TPS untuk mencoblos. Maka jika banyak orang berfikir demikian-terutama daerah masa mengambang- maka politik uang untuk memobilisasi para pemilih adalah sebuah hal yang sering diagendakan oleh para calon, ujntuk memenangkannya.
Selain banyak kiprah dari aktivis muda Arief Budiman pada saat 1971-1972 ketika mengkritik pelaksanaan pemilu dan pembangunan TMII yang memboroskan anggaran, maka masa selanjutnya merupakan masa yang dimana banyak konflik yang semakin meruncing antara para mahaiswa dengan pemerintah maupun militer sebagai alat kekuasaan dan legitimasi Orde baru saat itu. Dalam masa ini muncul tokoh yang terkenal dengan peristiwa Malapetaka 15 januari (malari) 1974, Hariman Siregar mahasiswa Kedokteran Universitas Indonesia. Hariman Siregar merupakan anggota dari Grup Diskusi Universitas Indonesia (GDUI). Bekal sering melakukan kajian wacana dan diskusi inilah yang kemudian membuat Hariman Siregar dan kawan-kawannya sering terasah otaknya dan secara tak langsung idealismenya mulai terbentuk. Kelompok Diskusi-diskusi semacam ini banyak ditemu di kampus-kampus Jakarta bukan hanya UI saja,namun juga Universitas Trisakti. Sehingga ketika mereka mendengar isu hangat yang menerpa Indonesia mereka kemudian mengkajinya dengan landasan intelektual. Maka munculah suatu sikap terkait isu tersebut.
Sebagai contoh saat membanjirnya modal luar negeri dalam jumlah yang signifikan memaksa rbuan perusahaan-perusahaan kecil Indonesia bangkrut, terutama bisnis tektil. Koran-koran Indonesia yang dimiliki oleh pengusaha asli Indonesia, seperti Nusantara, Indonesia raya, Abadi, Pedoman,dan lainnya meulai melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Kemudian tak kalah dengan Koran-koran Indonesia, Grup Diskusi Universitas Indonesia (GDUI) memainkan peran yang penting dalam mengembangkan kebijakan gerakan protes. Kelompok tersebut yang sudah terbentuk sejak awal dan beraktivitas menyelenggarakan seminar untuk para akademikus utamanya menjadi begitu aktif dalam mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah. Salah satu sumber rujukan mereka yang aktif dalam kegiatan diskusi mengenai ketergantungan Indonesia terhadap modal asing adalah melalui liputan mingguan Tempo, yang dikelola oleh salah satu intelektual angkatan ’66 yang lebih muda dan terkemuda, Goenawan Mohammad. Pada 15 September, Tempo menerbitkan laporan berjudul : “Jepang Datang, Melihat dan Menerkam”
Maka dari itu, selama diskusi yang dilakukan oleh GDUI, subjek ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap negeri-negeri asing dibahas secara kritis. Mereka kemudian mengundang para aktivis Sendi dari Yogyakarta, seperti, Aini Chalid, Ashadi Siregar, dan aktivis Jogya lainnya, Fauzi Rizal mereka diundang ke Jakarta untuk merumuskan suatu gerakan baru terkait modal asing yang semakin lama semakin menggerogoti Indonesia. Mereka berkumpul di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Indonesia, mengenai Proses Mematangkan Suatu Gerakan Baru. Dalam bulan Oktober, di Bandung dan Jakarta mahasiswa memprotes dengan tema yang sama, dan kritik terhadap strategi pembangunan secara keseluruhan mulai muncul. Setelah marah akibat gangguan polisi terhadap mahasiswa yang berambut panjang, sekelompok mahaiswa ITB protes ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kemudian poster-poster ditempel di dinding DPRD bertuliskan: “Modal Asing Melayani Rakyat, atau Rakyat Melayani Modal Asing?”; GNP Naik, Pakaian Rakyat Compang-camping”; “Sejuta Barel Dipompa, Seribu Bisnis Kecil Bangkrut”. Di Jakarta, selain GDUI, Dema UI juga terlibat. Yang juga ketuanya Hariman Siregar juga anggota GDUI muncul mengkritik pemerintah. Kampanye Dema UI kemudian mengeluarkan apa yang dinamakan petisi 24 Oktober. Kemudian pada saat pardana menteri Jepang akan mengunjungi Indonesia banyak sekali gerakan protes yang di lakukan di Jakarta untuk menyambut kedatangan tersebut. Kemudian munculah apa yang dinamakan Malapetaka 15 Januari (malaria) yang banyak terjadi huru-hara di Jakarta. Banyak pertokoan yang di bakar, ini melambangkan bentuk kapitalisme asing yang mulai menguasasi Indonesia. Namun peristiwa ini banyak menulai kontroversi apakah mahaiswa yang melakukan atau tidak dalam huru-hara tersbeut.
Banyak sekali gerakan-gerakan mahasiwa yang mulai merebak di kota-kota besar. Max Lane memberikan contoh atau berfokus sering ke Jakarta khususnya mahaiswa UI dan grup-grup diskusi internal kampus. Namun Max Lane tidak memebrikan sebuah contoh mengenai gerakan-gerakan mahaiswa ektra kampus semisal HMI (Himpunan Mahaiswa Islam), GMNI (Gerakan Mahasiwa Nasionalis Indonesia), maupun PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Yang diwaktu adanya berbagai gerakan tersebut organisasi itu sudah ada. Mungkin hanya GMNI yang menderita “sakit parah” akibat gerakan kontra-Revolusi yang dilakukan oleh Orde Baru dan kelompok mahaiswa afiliasinya terhadap GMNI yang merupakan organisasi  sukarnois. Nasipnya sama namun lebih baik daripada CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa) yang merupakan organisasi underbow PKI.
Selain perlawanan yang dilakukan oleh Mahasiswa, Orde Baru juga menghadapi perlawanan dengan karya sastra dan seni. Inilah yang kemudian ditunjukan oleh Sastrawan Besar Indonesia W.S. Rendra melalui pentas drama dan pembacaan puisinya. Rendra tercatat beberapa kali melakukan pentas seni di Jakarta dengan tema-tema perlawanan. Aksi tersebut salah-satunya adalah pembacaan puisi dihadapan massa teater terbuka di pusat kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dihadapan massa di Jakarta yang bersorak-sorai setiap sajaknya menyerang pemerintah. Salah satu sajak Rendra dalam buku ini yang di paparkan adalah “Sajak Orang Kepanasan”. Dalam pagelaran seni ini Dinamakan Suku Naga. Sebelumnya Rendra juga sempat melakukan pentas menentang kesewenang-wenangan pemerintah di Stadion Istora dengan pentas drama berjudul Mastadon dan Bung Kondor.
Tercatat bayak gerakan-gerakan dalam masa Orde Baru yang pertama dimotori oleh Mahaiswa ataupun para pemuda. Sehingga banyak dari kebijakan pemerintah Orde Baru untuk melakukan serangan kembali kepada para mahaiswa. Disini terkenal dengan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang sesuai dengan konsep Ali Murtopo: “masa mengambang”. Konsep itu kini juga ditetapkan di arena kehidupan kampus. Tugas mahasiswa hanyalah belajar, dan akhirnya menjadi “masa mengambang” yang sekadar “menyibukan dirinya dalam usaha-usaha pembangunan”. Banyak kemudian pemimpin-pemimpin mahasiwa diadili dan dihukum 1-4 tahun penjara.
Namun gerakan mahasiswa tak berhnti sampai disitu, banyak diantaranya bangkit dengan cara yang relatif sama dengan apa yang dilakukan di tahun 1970-an. Mahasiwa ini kemudian membuat suatu gerakan-gerakan protes dari tahun 1990-an sampai akhirnya bisa membuat gerakan yang bersejarah bagi Indonesia yakni reformasi yang bisa menurunkan Presiden yang dianggap rakus jabatan dan otoriter tersebut.
Banyak hal-hal menarik dari Buku Max Lane ini, pembahasan mengenai gerakan mahasiswa merupakan secuil dari buku setebal 544 halaman ini. Masih banyak pembahasan-pembahasan yang menarik diantaranya: penghapusan ingatan sejarah masa Orde Baru; Rencana dan Strategi Orde Baru; Aksi Politik Pasca Soeharto; Ekonomi Politik Aksi; Aksi Bangsa Revolusi dan masih banyak lagi pembahasan yang menarik disekitar Orde Baru dan setelahnya. Maka buku ini memberikan sebuah sumbangan untuk bangsa Indonesai dalam memahami sejarhnya terutama disekitar orde baru yang masih sulit ditemukan dibuku-buku. Namun satu catatan dalam buku ini yakni, fokus perhatiannya hanya di Jawa dan terutama di Jakarta, belum memberikan contoh-contoh peristiwa di masa Orde Baru berbagai daerah. Namun keberadaan Buku ini perlu diapresiasikan. Memang benar apa yang dikatakan Soekarno-sesuai motif penulisan buku ini- Bahwa, “Revolusi kita Belum Selesai”. Selamat Menbaca.



[1] “Mukaddimah”, Sendi,Minggu, 1 Januari, 1972, hal.2. Ejaan telah disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan (EYD)

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...