![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: EXSAN ALI SETYONUGROHO
|
|
|
NIM
|
: 3101412093
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas
Buku
Judul Buku : Unfinished Nation (Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan
Sejarah Indonesia)
Penulis : Max Lane
Jumlah
Halaman : 544 Halaman
Tahun
Terbit : 2014
Penerbit : Penerbit Djaman Baroe
Kota
: Yogyakarta
ISBN : 978-979-18055-4-4
B. Resensi Buku
Buku
ini memberikan suatu perkspektif yang berbeda mengenai penulisan sejarah,
terutama sejarah dalam kaitannya dengan awal terbentuknya orde baru (demokrasi
terpimpin), Orde Baru itu sendiri dan juga sejarah-sejarah minoritas mengenai
aksi-aksi massa yang dilakukan dalam melakukan perlawanan terhadap Orde Baru,
semisal peristiwa Malari; Aksi Sastrawan W.S. Rendra ataupun perlawanan
Pramoedya Ananta Toer . Selian itu, Buku ini sesuai dengan judulnya “Negara
Belum Selesai/ Unfinished Nation”, menggambarkan bahwa Negara Indonesia dalam
perjalanannya belumlah selesai sebagai Negara yang memiliki stabilitas politik,
ekonomi, budaya yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Max lane disini
berargumen bahwa apa yang dilakukan oleh Soeharto ketika menumpas gerakan-gerakan
Revolusioner yang dalamnya ada PKI (Partai Komunis Indonesia), PNI sayap kiri
dan juga para pendukung Soekarno dalam pembantaian massal 1965-1966 bukan saja
menumpas orang-orang kiri namun lebih jauh lagi sebagai upaya untuk
menghentikan sebuah Revolusi Nasional yang sudah direncanakan oleh Soekarno
setahap demi tahap terlaksana. Oleh sebab itu menurut Max Lane bahwa Indonesia
sebagai bangsa, suatu formasi sosial nasional, belumlah dituntaskan saat
didirikan, apakah itu pada 1945 ataupun pada 1949 apalagi dalam tahun
1965-1966 yang merupakan tahun-tahun
dimulainya tindakan kontra-revolusi.
Max
Lane menggambarkan kondisi awal sebagai tonggak orde baru semisal, banyak di
antara orang-orang tersebut diatas yang menjadi sasaran dari Kekuatan Orde baru.
Kebanyakan dari mereka adalah pemimpin-pemimpin, para aktivis, dan pendukung
kelompok kiri. Mereka banyak dibunuh, mati secara mengerikan, sebagai bagian
dari kampanye terror. Mereka dipenggal kepalanya, dikeluarkan isi perustnya,
diseret ke belakang truk atau kalau tidak dengan kejam dibunuh. Max Lane
mengidentifikasi bahwa aksi segala terror dan tindakan brutal tersebut adalah
tindakan untuk mengakhiri proses revolusi nasional. Itu artinya menghentikan
politik pergerakan: semua gagasan dan metode yang sudah menjadi bagian integral
revolusi nasional Indonesia anatara 1909 hingga 1965. Jadi kontra Revolusi yang
dilakukan oleh Soeharto dan pemimpin lainnya, menurut Max Lane bukan saja
bermaksud membabat habis organisasi dan orang-orang kiri revolusioner melainkan
membabat habis revolusi nasional itu sendiri.
Maka
sejak saat dimuainya Orde Baru, hal-hal yang berupaya untuk meneruskan tindakan
revolusioner ataupun progresif maka angkatan bersenjata akan bertindak. Hal itu
bisa kita lihat dalam buku ini, bahwa dalam istilah Politik Ali Murtopo ada yang disebut sebagai “massa mengambang”
merupakan suatu gagasa orde baru mengenai masyarakat yang tidak boleh
ikut-ikutan berpolitik dalam kaitannya dengan kritikan terhadap pemeirntah
maupun mereka mendirikan partai. Intinya orang-orang di desa dilarang keras
melakukan aktivitas partai, mereka hanya diminta oleh pemerintah untuk
mendukung pemerintah melakukan pembangunan atau menyibukan dirinya dalam
usaha-usaha pembangunan. Namun dalam masa pemilu masyarakat inilah yang
kemudian diwajibkan untuk memilih pilihan sesuai dengan pemerintah, terutama
guru atau pegawai negeri sipil. Inilah kemudian menurut Max Lane bahwa
mengingatkan orang pada gagasan tentang
budak sebagai “alat yang hidup” yang terbiasa dalam masyarakat perbudakan.
Buku
ini banyak menyadarkan kita akan usaha sistematis orde baru dalam melakukan
upaya dalam penghapusan sejarah, dan jatidiri bangsa. Sejarah yang di bentuk
adalah tunggal, serta budaya yang digembar-gemborkan adalah budaya sebelum
kolonial masuk, sedangkan budaya-budaya seperti semangat kemaritiman, budaya
agitasi, aksi massa, pemogokan dan lain sebagainya tidak mungkin dilakukan
kajian mendalam.
Selain
itu, salah satu bab yang menarik dari buku ini adalah mengenai gerakan
mahasiswa, yang dituangkan oleh Max Lane dalam bab 3 berjudul “Mahasiswa”.
Dalam bab ini dipaparkan secara rinci mengenai gerakan-gerakan mahasiwa yang
mulai mengkritik pemerintahan Orde Baru. Ataupun sebelumnya pembentukan
organisasi ekstra kampus KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang di
sponspori oleh pemerintah orde baru untuk mnyebarkan paham-paham
kontra-Revolusi. Mereka banyak mendapatkan dana dari pemerintah guna
menyebarkan paham anti Sukarnoisme maupun komunisme atau hal yang berbau kiri
dan pemberontakan. Mereka banyak melakukan seminar-seminar di kampus, terutama
di kampus UI. Inilah salah satu kampanye Orde baru untuk melancarkan
legitimasinya bunutk diterima oleh kalangan intelektual. Namun seiring
berkembangnya waktu di kampus UI-lah muncul gerakan-gerakan yang sudah muak
terhadap Orde Baru. Muncul gerakan-gerakan yang didasari kegelisahan dan
idealisme mahasiwa dan pemuda.
Diawali
dengan aktivitas Arief Budiman di Jakarta sekitar awal 1970-an yang melancarkan
serangan demi serangangan terhadap kebijakan Orde Baru yang tidak sewajarnya
sebagai pemerintah. Ini bermula ketika pemerintah menyetujui adanya pembangunan
proyek pembangunan TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Yang membuat para
mahasiswa meradang yakni proyek ini diusulkan oleh istri presiden sendiri,
yakni Tien Soeharto dengan Sponsor utama bernama Yayasan Harapan Kita yang juga
diketuai oleh Itri Presiden Soeharto tersebut. Pembangunan TMII akan
menghabiskan biaya kira-kira 10,5 hingga 20 Milyar Rupiah. Proyek ini banyak
dipahami oleh kalangan mahasiswa dan para intekektual sebagai pemborosan
anggaran namun ini mendapatkan dukungan penuh oleh pemerintah. Situasi inilah
yang kemudian memunculkan gerakan-gerakan mahasiwa mulai dari tulisan-tulisan,
karya sastra, maupun gerakan langsung turun kejalan ataupun bertemu dengan
presiden seperti apa yang dilakukan oleh Arief Budiman.
Arief Budiman dan kawan-kawanya
membentuk kelompok-kelompok mahasiswa progreisf dengan sebutan “Gerakan
Penghematan” dan “Kelompok Mahasiswa Menggugat” dan juga adanya keterlibatan
aktif Dewan Mahasiswa (Dema). Mereka
kemudian banyak melakukan gerakan-gerakan intelektual untuk mengkritisi kondisi
yang ada di pemerintahan termasuk mengenai pembangunan TMII. Seprti contoh yang
dilakukan oleh Dema UI, mereka aktif mengoorganisasi pertemuan-pertemuan
terbuka mengenai permasalahan tersebut. Semisal pada 12 Januari seluruh Dema di
Jakarta dan Persatuan Senat Mahasiswa mengeluarkan pernyataan menuntut Dewan
Perwakilan Rakyat memperjuangkan aspirasi rakyat sehubungan dengan proyek TMII.
Mereka banyak bergabung dengan
kelompok-kelompok non-mahasiwa dalam metode protes yang mereka lakukan. Seperti
menyelenggarakan diskusi panel di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia.
Salah satu kelompok yang menarik dengan berbagai analisisnya yang tajam adalah
kelompok gerakan yang tergabung dalam Koran Sendi,
yang sempat mengeluarkan pernyataan yang paling kontroversial terkait
dengan pembangunan TMII. Seperti apa yang dilakukan oleh Sendi mengeluarkan sebuah tajuk rencana penuh tentang proyek TMII.
Mereka memberinya judul “Mukaddimah” judul itu mengingatkan semua orang kepada
pembukaan UUD 1945, yang merupakan dokumen yang dianggap suci di seluruh
Indonesia. Akan tetapi isi dari Mukaddimah Sendi
malah memplesetkan UUD 1945 dengan kritikan yang cerdas, tajam, dan membuat
meradang pemerintah yang sebenarnya merupakan parodi itu, seperti ini:
MUKADDIMAH
BAHWA
SESUNGGUHNYA HASIL KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGELINTIR ORANG DAN OLEH SEBAB
ITU, MAKA PENINDASAN DAN KE-SEWANG-WENANGAN LAYAK TERJADI, KARENA SESUAI DENGAN
KEDIKTATORAN DAN MILITERISME.
DAN PERJUANGAN
SEMENTARA PENGUASA DAN ISTERINYA SAMPAI KEPADA SAAT YANG BERBAHAGIA SEBAB
MUMPUNG HIDUP DAPAT MENGERUK KEKAYAAN SEBANYAK-BANYAKNYA.
ATAS BERKAT
RAKHMAT SETAN DAN DENGAN DIDORONGKAN OLEH KEINGINAN UNTUK DIPATUHI, MAKA
PENGUASA RAKYAT INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEUASAANNYA.
KEMUDIAN
DARIPADA ITU UNTUK MEMBENTUK SUATU PENGUASA YANG KUAT, YANG MEEMRINTAH SEGENAP
BANGSA INDONESIA DAN SELURUH KEKAYAAN INDONESIA, DAN UNTUK MENEGAKKAN
GENGSI-GENGSI PRIBADI, IKUT MEMELARATKAN BANGSA, MAKA DISUSUNLAH KETETAPAN
INDONESIA MINI YANG TERBENTUK DALAM SEBUAH YAYASAN “HARAPAN KITA” …SEKIAN[1]
Kemudian hal ini banyak yang
menginspirasi dari kalangan mahaiswa
maupun para inteketual-intelektual yang berada dalam kampus maupun luar kampus.
Banyak juga intelektual yang ikut mengkritik tentang adanya pembangunan TMII
terkusus para intelektual berasal dari UI, seperti Dr. Alfian, Drs. Dorodjatun
Kuntjorojakti, Mrs. T.O. Ichromi SH, MA, Murdjono Reksodipuro SH, MS, dan Drs.
Juwono Sudarsono MA yang kesemuanya dari mereka aktif mengkritik pembangunan
TMII. Pernyataan intelektual tersebut terutama merupakan pernyataan solidaritas
terhadap mahasiswa dan pemuda.
Max Lane kembali menggambarkan
sejarah-sejarah Orde Baru yang tak sering dijumpai oleh kebanyakan orang di
buku-buku sekolah. Ia berhasil menggambarkan sejarah mengapa muncul Golongan
Putih pertama kali oleh Arief Budiman. Katika tahunj 1971 akan diselenggarakan
pemilu, Arief Budiman seorang intelektual muda pada saat itu merasa gelisah
mengenai politik yang digunakan oleh pemerintah, makala pihak pemerintah
memanfaatkan masa mengambang tersebut untuk wajib memilih partai pemerintah
(Golkar) dan banyak yang menuai ancaman ketika ada salahs eorang yang menolak
hal tersebut. Maka tak senang dalam urusan internal partai politik, dan
menantang penggunaan kekerasan di pedesaan untuk mendapatkan dukungan bagi
pemerintah, maka kelompok-kelompok mahasiswa bersatu menganjurkan pencoblosan
diluar pemilu resmi, pembirian suara informal. Kelompok ini, yang dipimpin oleh
Arief Budiman dinamakan Golongan Putih (Golput). Nama tersebut menurut Arief
Budiman, mengacu pada rekomendasi kelompok tersebut untuk mencoblos bagian
kosong (putih) kertas suara pemilu, tak bisa tidak, bagaimanapun juga,
memebrikan kesan pada orang bahwa tekanan moralistic tersirat dalam namanya.
Putih disebandingkan dengan lawannya, yakni hitam, kotor. Kelompok ini banyak
aktif di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Namun demikian dengan selesainya
pemilu pada bulan Juni, yang dimenangkan oleh partai pemerintah, lagi-lagi
dengan cepat membawa aktivitas-aktivitas golput tamat. Namun dalam hal ini
Golongan Putih (golput) sampai sekarang masih tumbuh subur pada saat musim
pemilu tiba. Ini dikarenakan banyak masyarakat tak lagi percaya terhadap
perubahan yang dibawa oleh pemerintahan yang baru hasil dari pemilu. Terdapat
perbedaan yang mendasar terkait motif Golput saat Arief Budiman dkk
mengkampanyekan dan Golput pada masa sekarang. Di masa sekarang oleh lebih
memilih bekerja mencari uang daripada membuang-buang waktunya ke TPS untuk
mencoblos. Maka jika banyak orang berfikir demikian-terutama daerah masa
mengambang- maka politik uang untuk memobilisasi para pemilih adalah sebuah hal
yang sering diagendakan oleh para calon, ujntuk memenangkannya.
Selain banyak kiprah dari aktivis
muda Arief Budiman pada saat 1971-1972 ketika mengkritik pelaksanaan pemilu dan
pembangunan TMII yang memboroskan anggaran, maka masa selanjutnya merupakan
masa yang dimana banyak konflik yang semakin meruncing antara para mahaiswa
dengan pemerintah maupun militer sebagai alat kekuasaan dan legitimasi Orde
baru saat itu. Dalam masa ini muncul tokoh yang terkenal dengan peristiwa
Malapetaka 15 januari (malari) 1974, Hariman Siregar mahasiswa Kedokteran
Universitas Indonesia. Hariman Siregar merupakan anggota dari Grup Diskusi
Universitas Indonesia (GDUI). Bekal sering melakukan kajian wacana dan diskusi
inilah yang kemudian membuat Hariman Siregar dan kawan-kawannya sering terasah
otaknya dan secara tak langsung idealismenya mulai terbentuk. Kelompok
Diskusi-diskusi semacam ini banyak ditemu di kampus-kampus Jakarta bukan hanya
UI saja,namun juga Universitas Trisakti. Sehingga ketika mereka mendengar isu
hangat yang menerpa Indonesia mereka kemudian mengkajinya dengan landasan
intelektual. Maka munculah suatu sikap terkait isu tersebut.
Sebagai contoh saat membanjirnya
modal luar negeri dalam jumlah yang signifikan memaksa rbuan
perusahaan-perusahaan kecil Indonesia bangkrut, terutama bisnis tektil. Koran-koran
Indonesia yang dimiliki oleh pengusaha asli Indonesia, seperti Nusantara, Indonesia raya, Abadi, Pedoman,dan
lainnya meulai melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap kebijakan ekonomi
pemerintah. Kemudian tak kalah dengan Koran-koran Indonesia, Grup Diskusi
Universitas Indonesia (GDUI) memainkan peran yang penting dalam mengembangkan
kebijakan gerakan protes. Kelompok tersebut yang sudah terbentuk sejak awal dan
beraktivitas menyelenggarakan seminar untuk para akademikus utamanya menjadi
begitu aktif dalam mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah. Salah satu sumber
rujukan mereka yang aktif dalam kegiatan diskusi mengenai ketergantungan
Indonesia terhadap modal asing adalah melalui liputan mingguan Tempo, yang dikelola oleh salah satu
intelektual angkatan ’66 yang lebih muda dan terkemuda, Goenawan Mohammad. Pada
15 September, Tempo menerbitkan
laporan berjudul : “Jepang Datang, Melihat dan Menerkam”
Maka dari itu, selama diskusi yang
dilakukan oleh GDUI, subjek ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap
negeri-negeri asing dibahas secara kritis. Mereka kemudian mengundang para
aktivis Sendi dari Yogyakarta,
seperti, Aini Chalid, Ashadi Siregar, dan aktivis Jogya lainnya, Fauzi Rizal
mereka diundang ke Jakarta untuk merumuskan suatu gerakan baru terkait modal
asing yang semakin lama semakin menggerogoti Indonesia. Mereka berkumpul di
Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Indonesia, mengenai Proses Mematangkan Suatu Gerakan Baru. Dalam bulan Oktober, di
Bandung dan Jakarta mahasiswa memprotes dengan tema yang sama, dan kritik
terhadap strategi pembangunan secara keseluruhan mulai muncul. Setelah marah
akibat gangguan polisi terhadap mahasiswa yang berambut panjang, sekelompok
mahaiswa ITB protes ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kemudian
poster-poster ditempel di dinding DPRD bertuliskan: “Modal Asing Melayani
Rakyat, atau Rakyat Melayani Modal Asing?”; GNP Naik, Pakaian Rakyat
Compang-camping”; “Sejuta Barel Dipompa, Seribu Bisnis Kecil Bangkrut”. Di
Jakarta, selain GDUI, Dema UI juga terlibat. Yang juga ketuanya Hariman Siregar
juga anggota GDUI muncul mengkritik pemerintah. Kampanye Dema UI kemudian
mengeluarkan apa yang dinamakan petisi 24 Oktober. Kemudian pada saat pardana
menteri Jepang akan mengunjungi Indonesia banyak sekali gerakan protes yang di
lakukan di Jakarta untuk menyambut kedatangan tersebut. Kemudian munculah apa
yang dinamakan Malapetaka 15 Januari (malaria) yang banyak terjadi huru-hara di
Jakarta. Banyak pertokoan yang di bakar, ini melambangkan bentuk kapitalisme
asing yang mulai menguasasi Indonesia. Namun peristiwa ini banyak menulai
kontroversi apakah mahaiswa yang melakukan atau tidak dalam huru-hara tersbeut.
Banyak sekali gerakan-gerakan
mahasiwa yang mulai merebak di kota-kota besar. Max Lane memberikan contoh atau
berfokus sering ke Jakarta khususnya mahaiswa UI dan grup-grup diskusi internal
kampus. Namun Max Lane tidak memebrikan sebuah contoh mengenai gerakan-gerakan
mahaiswa ektra kampus semisal HMI (Himpunan Mahaiswa Islam), GMNI (Gerakan
Mahasiwa Nasionalis Indonesia), maupun PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia). Yang diwaktu adanya berbagai gerakan tersebut organisasi itu sudah
ada. Mungkin hanya GMNI yang menderita “sakit parah” akibat gerakan
kontra-Revolusi yang dilakukan oleh Orde Baru dan kelompok mahaiswa afiliasinya
terhadap GMNI yang merupakan organisasi
sukarnois. Nasipnya sama namun lebih baik daripada CGMI (Consentrasi
Gerakan Mahasiswa) yang merupakan organisasi underbow PKI.
Selain perlawanan yang dilakukan
oleh Mahasiswa, Orde Baru juga menghadapi perlawanan dengan karya sastra dan
seni. Inilah yang kemudian ditunjukan oleh Sastrawan Besar Indonesia W.S.
Rendra melalui pentas drama dan pembacaan puisinya. Rendra tercatat beberapa
kali melakukan pentas seni di Jakarta dengan tema-tema perlawanan. Aksi
tersebut salah-satunya adalah pembacaan puisi dihadapan massa teater terbuka di
pusat kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dihadapan massa di Jakarta yang
bersorak-sorai setiap sajaknya menyerang pemerintah. Salah satu sajak Rendra
dalam buku ini yang di paparkan adalah “Sajak Orang Kepanasan”. Dalam pagelaran
seni ini Dinamakan Suku Naga.
Sebelumnya Rendra juga sempat melakukan pentas menentang kesewenang-wenangan
pemerintah di Stadion Istora dengan pentas drama berjudul Mastadon dan Bung Kondor.
Tercatat bayak gerakan-gerakan
dalam masa Orde Baru yang pertama dimotori oleh Mahaiswa ataupun para pemuda.
Sehingga banyak dari kebijakan pemerintah Orde Baru untuk melakukan serangan
kembali kepada para mahaiswa. Disini terkenal dengan kebijakan Normalisasi
Kehidupan Kampus (NKK) yang sesuai dengan konsep Ali Murtopo: “masa
mengambang”. Konsep itu kini juga ditetapkan di arena kehidupan kampus. Tugas
mahasiswa hanyalah belajar, dan akhirnya menjadi “masa mengambang” yang sekadar
“menyibukan dirinya dalam usaha-usaha pembangunan”. Banyak kemudian
pemimpin-pemimpin mahasiwa diadili dan dihukum 1-4 tahun penjara.
Namun gerakan mahasiswa tak berhnti
sampai disitu, banyak diantaranya bangkit dengan cara yang relatif sama dengan
apa yang dilakukan di tahun 1970-an. Mahasiwa ini kemudian membuat suatu
gerakan-gerakan protes dari tahun 1990-an sampai akhirnya bisa membuat gerakan
yang bersejarah bagi Indonesia yakni reformasi yang bisa menurunkan Presiden
yang dianggap rakus jabatan dan otoriter tersebut.
Banyak hal-hal menarik dari Buku
Max Lane ini, pembahasan mengenai gerakan mahasiswa merupakan secuil dari buku
setebal 544 halaman ini. Masih banyak pembahasan-pembahasan yang menarik
diantaranya: penghapusan ingatan sejarah masa Orde Baru; Rencana dan Strategi
Orde Baru; Aksi Politik Pasca Soeharto; Ekonomi Politik Aksi; Aksi Bangsa
Revolusi dan masih banyak lagi pembahasan yang menarik disekitar Orde Baru dan
setelahnya. Maka buku ini memberikan sebuah sumbangan untuk bangsa Indonesai
dalam memahami sejarhnya terutama disekitar orde baru yang masih sulit
ditemukan dibuku-buku. Namun satu catatan dalam buku ini yakni, fokus
perhatiannya hanya di Jawa dan terutama di Jakarta, belum memberikan
contoh-contoh peristiwa di masa Orde Baru berbagai daerah. Namun keberadaan Buku
ini perlu diapresiasikan. Memang benar apa yang dikatakan Soekarno-sesuai motif
penulisan buku ini- Bahwa, “Revolusi kita Belum Selesai”. Selamat Menbaca.
[1] “Mukaddimah”, Sendi,Minggu, 1 Januari, 1972, hal.2.
Ejaan telah disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan (EYD)


No comments:
Post a Comment