|
Identitas Mahasiswa
|
||||
|
Nama
|
: MUADIBUSSIBYAN
|
||||
|
NIM
|
: 3101412094
|
||||
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
||||
|
Rombel
|
: 5B
|
||||
A.
Identitas
Buku
Judul buku : 1965:
Orang-orang dibalik Tragedi
Pengarang : Asvi Warman Adam
Penerbit : Galangpress
Tahun dicetak : 2009
Cetakan : Pertama
Jumlah Halaman : xvi + 274
B.
Isi Buku
Asvi Warman Adam
dalam bukunya ini mengulas tentang tokoh yang terlibat langsung atau dituding
menjadi dalang G30S serta elit yang diuntungkan oleh peristiwa tersebut. Selian
itu, buku ini juga mengulas mahasiswa Indonesia yang ketika belajar di luar
negeri terkena dampak dahsyat peristiwa itu sehingga kehilangan
kewarganegaraan. Status mereka sebagai orang Indonesia dicabut, sungguhpun
mereka tidak tahu menahu sama sekali mengenai percobaan kudeta tersebut.
Menurut
Asvi, peristiwa 1965 sebetulnya terdiri dari lima rangkaian prolog, peristiwa,
dan epilog Gerakan 30 September. Lima rangkaian prolog atau “Pancalogi”
tersebut adalah peristiwa satu malam pada tanggal 30 September 1965;
penangkapan, perburuan, pembunuhan massal yang memakan korban minimal setengah
juta jiwa pada kurun waktu Oktober-Desember 1965; pencabutan passport mahasiswa
Indonesia di luar negeri sehingga mereka menjadi orang yang terbuang atau
manusia eksil; pembuangan paksa lebih dari 10.000 orang ke Pulau Buru
(1969-1979); dan stigma serta diskriminasi terhadap jutaan keluarga korban
1965.
Penulisan
sejarah atau historiografi gerakan 30 September 1965 terdiri dari beberapa
versi. Versi pertama menyebutkan bahwa PKI merupakan pelaku dari percobaan
kudeta 1965. Versi lain menyebutkan bahwa peristiwa Gerakan 30 September
merupakan persoalan intern AD (Angkatan Darat). Setelah Soeharto jatuh, tulisan
tentang Gerakan 30 September bermunculan. Analisis yang diberikan beragam,
mulai dari kudeta merangkak Soeharto sampai dengan kudeta yang disengaja untuk gagal.
Masing-masing teori dalang Gerakan 30
September itu mengalami kelemahan. Teori PKI sebagai dalang merupakan keyakinan
Soeharto, Sudharmono, dan dan Yoga Sugomo sejak tanggal 1 Oktober. Mahmilub
(Mahkamah Militer Luar Biasa) memang menyimpulkan bahwa orang-orang yang
diadili memang terlibat dalam usaha makar, tetapi tidak satu kasus pun yang
menyebutkan bahwa PKI terlibat dalam kudeta tersebut. Analisis yang menyebutkan
bahwa itu persoalan Intern Angkatan Darat juga tidak memuaskan karena
persoalannya tidak sesederhana itu. Bukankah Sjam dan Pono juga terlibat ?.
Anggapan Soekarno sebagai dalang Gerakan
30 September juga sangat lemah karena didukung oleh dokumen-dokumen yang tidak
sahih seperti kesaksian Widjonarko yang diperiksa Kopkamtib. Demikian pula
Soeharto tidaklah terlampau genius untuk bisa merancang suatu perebutan
kekuasaan scara sistematis. Amerika Serikat tidaklah ikut campur pada Gerakan
30 September dan 1 Oktober walaupun berbagai dokumen menyebut keterlibatan
mereka sebelum dan sesudah peristiwa berdarah tersebut. Gerakan 30 September
adalah sebuah misteri pembunuhan yang pemecahannya akan membawa implikasi
sangat luas bagi sejarah nasional Indonesia. G30S adalah kejadian yang
berlangsung cepat, berskala kecil, bersifat tertutup dan masyarakat umum hampir
tidak mempunyai pengetahuam langsung mengenainya.
Kerstin Beise mencoba menguraikan
keterlibatan Soekarno dalam Gerakan 30 September melalui skripsinya di
Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2002. Karyanya ini bukan merupakan
rekonstruksi tentang peristiwa Gerakan 30 September, tetapi perbandingan
tulisan mengenai versi keterlibatan Soekarno. Berdasarkan perbandingan yang
dilakukan melalui 22 sumber berupa buku, makalah, laporan yang ditelitinya, dia
menyebutkan tidak ada sumber yang menganggap Soekarno adalah seorang komunis.
Bahkan tidak ada yang menyebutkan Soekarno sebagai dalang dalam peristiwa
Gerakan 30 September kecuali Dake dan Hughes. Kesimpulan Dake yang menyebutkan
bahwa Soekarno sebagai dalang dalam peristiwa Gerakan 30 September dibuat
berdasarkan laporan ajudan Bung Karno, Widjonarko. Widjonarko sendiri mengakui
bahwa ia dalam interogasi tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan sesuatu
peristiwa kecuali harus menjawab ya atau tidak, sesuai keinginan interogator.
Selain Antonie C.A. Dake, Lambert
Giebels dan Vitor Miroslav Fic juga menyebutkan bahwa Soekarno adalah dalang
dalam peristiwa Gerakan 30 September dan bertanggung jawab atas segala dampak
kudeta berdarah itu termasuk tewasnya enam orang jendral dan pembunuhan massal
yang terjadi sesudahnya. Banyak reaksi yang keluar karena terbitnya buku
Antonie C.A. Dake. Soekmawati Soekarnoputri langsung protes, dan kemudian
Megawati menegaskan bahwa apa yang dikatakan Dake merupakan pembunuhan
karakter. Di daerah seperti Medan dan Yogyakarta muncul protes terhadap
terbitnya buku Antonie Dake. Burhan Aziz dan A Supardi Adiwijaya juga protes
melalui tulisannya dalam harian Rakyat
Merdeka. Asvi Warman Adam dalam bukunya ini mengkritik buku Antonie Dake
dan meyimpulkan bahwa Presiden Soekarno dalam buku karya Dake dijadikan kambing
hitam dari semua persoalan tahun 1965.
Novel karya Noorca M. Massardi
“September” merupakan karya fiksi, tetapi membaca novel ini serasa membaca buku
sejarah. Novel ini berisi tiga bagian,yaitu petualangan, pembantaian, dan
penentuan, yang dalam sejarah merupakan tahapan krusial dalam pengalihan
kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Soeharto. Secara ringan, pembaca buku ini
diberi semacam kuis oleh pengarang dengan menyodorkan nama-nama tokoh yang
betul-betul ada dalam sejarah dan memplesetkannya. Hal itu dapat dicontohkannya
dengan Tasnio Hanu (A.H. Nasution) dan Mahya Nida (Ahmad Yani).
A.H. Nasution sebagai konseptor orde
baru telah merancang strategi sejak lama bagaimana tindakan yang harus diambil
militer untuk memperoleh kekuasaan. Nasution yang berpikir tidak mampu
menentang Soekarno, mengubah strategi dengan mengikuti arus dan berpidato
tentang revolusi belum selesai. Tanggal 28 Oktober 1955 Nasution kembali
menjabat KSAD dan tanggal ini menandai warna baru perjuangan politik militer.
Nasution melihat bahwa peran militer dalam perpolitikan nasional harus memiliki
dasar hukum yang kuat dan ia melihat bahwa itu terdapat dalam konstitusi yaitu
dengan diakuinya golongan fungsional. Militer termasuk dalam golongan fungsional
tersebut dalam Undang-undang Dasar 1945. Oleh sebab itu, Nasution paling gigih
mengusahakan agar dapat dilakukan pemberlakuan konstitusi tersebut yang
akhirnya memang diputuskan dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Nasution juga melakukan serangkaian tindakan
strategis lainnya seperti merumuskan konsep politik tentara yang disebutnya
sebagai Konsep Jalan Tengah. Tentara tidak melakukan kudeta junta militer dan
kemudian memerintah seperti di Amerika Serikat tetapi juga tidak seperti di
Eropa Barat, tentara tinggal di barak sebagai alat kekuasaan pemerintah sipil.
Konsep jalan tengah inilah yang kemudian menjadi inti dari Dwifungsi ABRI.
Nasution telah berhasil merumuskan legitimasi historis peran militer dan
berhasil merumuskan serta mewujudkan konsep yang merupakan legitimasi
konstiusional tentara dalam politik nasional. Pemikiran Nasution memperlihatkan
bahwa konsep Orde Baru telah diletakkan oleh Nasution sejak tahun 1950-an. Jadi
embrio Orde Baru telah ada sebelum tahun 1965.
Selain Soeharto yang dituduh melakukan
kudeta merangkak, MPRS juga dituduh demikian. Tahap-tahap kudeta merangkak MPRS
adalah sebagai berikut. Pertama adalah Super Semar yang dikeluarkan 11 Maret
1966 dikukuhkan menjadi TAP IX/MPRS/1966 tanggal 21 Juni 1966. Kedua, tanggal 5
Juli 1966 dikeluarkan Ketetapan MPRS no XV/MPRS/1966 yang berisi antara lain
(a) penetapan tidak perlunya jabatan Wakil Presiden (b) Apabila Presiden
berhalangan, Pemegang SP 11 Maret 1966 memegang jabatan Presiden. Ketiga,
tanggal 10 Januari 1967 Presiden Soekarno menyerahkan Pidato Pelengkap
Nawaksara kepada Pimpinan MPRS. Pimpinan MPRS mengeluarkan Keputusan Pimpinan
MPRS no 13/B/1967 tentang Penolakan Pidato Nawaksara.
Kudeta merangkak MPRS selanjutnya adalah
pada tanggal 20 Februari, Presiden Soekarno/Mandataris MPRS mengeluarkan
Pengumuman tentang Penyerahan Kekuasaan kepada Pengemban TAP MPRS no
IX/MPRS/1966. Penyerahan kekuasaan semacam ini tidak ada dasarnya dalam UUD
1945. Kelima, tanggal 12 Maret 1967 MPRS mengeluarkan ketetapan MPRS no
XXXIII/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintah Negara dari Presiden
Soekarno. Keenam, bersamaan dengan pencabutan kekuasaan Presiden Soekarano,
Jendral Soeharto selaku pemegang Supersemar diangkat sebagai pejabat Presiden.
Ketujuh, tanggal 28 Februari 1968 muncul pernyataan DPRGR no
12/DPRGR/III/1966-1967 yang mendesak
Pengemban TAP MPRS no IX/MPRS/1966 untuk melakukan penyegaran
keanggotaan MPRS dan mendesak agar Jenderal Soeharto diangkat sebagai Presiden
Republik Indonesia.
Tahap terakhir dari kudeta merangkak MPRS
adalah tanggal 27 Maret 1968 dingkat sebagai Presiden sampai terpilihnya
Presiden hasil pemilu. Setelah mengangkat Soeharto menjadi Presiden, kekuatan
MPRS dimatikan secara perlahan-lahan. Lembaga ini dijadikan sebagai lembaga yang hanya bersidang sekali lima
tahun. Kegiatan Badan Pekerja MPRS diboikot oleh fraksi Golkar dan ABRI. Kudeta
merangkak MPRS merupakan kisah tragis dan ironis tentang ketatanegaraan di
Indonesia.
Saat menjadi Kasad, Soeharto tanggal 16
Februari 1966 mengeluarkan perintah agar Pranoto Reksosamudro ditangkap dengan
tuduhan terlibat G30S. Mulai 7 Maret 1966 Pranoto Reksosamudro mendapatkan
status tahanan rumah dan sejak 4 Maret 1969 ia ditahan di Inrehab Nirbaya
Jakarta. Tahun 1970 ia diskorsing dati TNI AD dan tidak mendapat gaji. Ia baru
dibebaskan dari tahanan tanggal 16 Februari 1981. Setelah bebas ia kehilangan
pekerjaan dan kemerdekaannya. Pranoto
merupakan salah satu dari empat nama selain Mursyid, Soeharto, dan Basuki
Rachmat yang diajukan kepada Presiden Soekarno untuk mengisi kekosongan dalam
pimpinan TNI AD. Pranoto dipilih oleh Soekarno menjadi pimpinan TNI AD karena
ia satu-satunya orang yang dapat bergaul dengan golongan kanan dan kiri. Selain
itu, ia adalah figur yang pendiam, tidak ambisius, dengan penampilan sebagai
prajurit biasa, tanpa musuh berat pada saat itu, merupakan nasionalis Jawa yang
sangat kuat dan melengkapi kepribadiannya dengan pemikiran mistik Jawa.
Menurut Soebandrio, Soeharto terlibat dalam peristiwa G30S/1965.
Hal ini dikaitkan melalui dua kategori (bekas) anak buahnya di Kodam
Diponegoro. Pertama, Letkol Untung dan Latief yang akan menghadapkan Dewan
Jenderal kepada Presiden Soekarno. Kedua, Yoga Sugomo dan Ali Murtopo, yang
dulunya berjasa untuk menjadikan Soeharto sebagai Panglima Kodam Diponegoro.
Yoga Sugomo ditarik ke Jakarta untuk menjadi Kapala Intel Kostrad pada bulan
Januari 1965 ketika sednag bertugas sebagai atase militer di Yugoslavia.
Mengenai tanggal 11 Maret, Subandrio
juga mengungkapkan keganjilan tingkah Soeharto yang tidak hadir dalam rapat
kabinet hari itu. Padahal sore harinya ia memimpin rapat di Kostrad. Subandrio
menyimpulkan peristiwa dari tanggal 1 Oktober 1965 sampai 11 Maret 1966 sebagai
kudeta merangkak yang dilakukan melalui empat tahap. Pertama. menyingkirkan saingannya
di Angkatan Darat seperti Yani dll. Kedua, membubarkan PKI yang merupakan rival
terberat tentara sampai saat itu. Ketiga, melemahkan pendukung Bung Karno
dengan menangkap 15 Menteri yang Sukarnois, termasuk Subandrio. Dan yang
terakhir adalah mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno.
Dalam pembelaannya, Subandrio disebutkan
pernah berjasa mengurus rampasan perang dari Jepang sebanyak 420 Juta Dollar
AS. Ia juga berperan dalam penetapan peraturan tentang dwikenegaraan RI-RRC.
Namun semua itu tidak dipertimbangkan oleh Majelis Hakim dan dia dijatuhi
hukuman mati. Hukuman itu kemudian diperingan dan pada 16 Agustus 1995 ia
dibebaskan. Terlepas dari berbagai hal yang masih kabut, yang jelas Subandrio
adalaha tokoh penting dalam sejarah Indonesia. ia bukanlah “Durno” seperti
dilontarkan oleh klik Soeharto pasca G30S/1965.
Maulwi Saelan lahir di Makassar 8
Agustus 1926 pernah. Ia pernah menjadi penjaga gawang PSSI dalam Olompiade XVI
di Melbourne, Australia. Setelah Indonesia merdeka, Maulwi Saelan ikut
membebaskan Manai Sophian. Manai Sophian adalah ketua Pusat Pemuda Nasional
Indonesia yang menolak pendirian Sekolah Belanda dengan mendirikan SMP
Nasional. Tahun 1958, Maulwi Saelan menjadi wakil komandan batalyon VII/CPM
Makassar. Ia bertanggung jawab atas pengamanan Presiden Soekarno yang datang ke
Sulawesi Selatan dari Manado. Pada saat pembentukan resimen Tjakrabirawa,
Maulwi Saelan dipanggil untuk menjadi Kepala Staf (kemudian menjadi wakil
komandan).
Maulwi Saelan membantah pernyataan dalam
buku Dake bahwa ia sudah datang pada 29 September 1965 untuk mempersiapkan
tempat istirahat Bung Karno di sana. Pada tanggal 3 Oktober, Maulwi Saelan
diperintah Presiden Soekarno ke Lubang Buaya untuk mengetahui keberadaan para
perwira tinggi. Maulwi Saelan mengungkapkan bahwa yang menembak Arif Rahman
Hakim tanggal 24 Februari 1966 bukanlah prajurit Tjakrabirawa di depan istana
melainkan anggota patrol Garnisun di Lapangan Banteng. Kejatuhan Bung Karno
diikuti oleh penangkapan orang-orang yang berpihak kepadanya. Pada awal Orde
Baru, Maulwi Saelan sempat ditahan beberapa tahun sebelum ia berkiprah di dunia
pendidikan. Setelah mengawal gawang kesebelasan Indonesia, mengawal kemerdekaan
Indonesia, mengawal presiden pertama, maka di hari tuanya Maulwi Saelan berkonsentrasi
mengawal pendidikan generasi muda.
Abdul Latief merupakan mantan komandan
infantri Kodam V Jaya yang dibebaskan tanggal 25 Maret 1999 karena perkara
G30S. Setelah bebas, ia mengemukakan bahwa Soeharto tidak berada di garis depan dalam Serangan Umum 1 Maret
1949 dan mencurigai bahwa Soeharto terlibat dalam kudeta berdarah tahun 1965.
Pada SU 1 Maret, Abdul Latief dan pasukannya mengundurkan ke pangkalan mereka
di Kuncen, Yogyakarta. Ketika sampai di Kuncen, Seoharto sedang santai
menyantap soto babat. Tanpa basa-basi menawari makan soto, Soeharto langsung
memerintahkan anak buahnya manggempur Belanda.
Tanggal 29 September Abdul Latief
berkunjung ke rumah Soeharto dengan keluarganya. Soeharto mengatakan bahwa
sehari sebelumnya Soebagio yang merupakan bekas anak buahnya dari
Yogyakarta memberikan tentang adanya
info Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap Soekarno. Pertanyaan
Abdul Latief terhadap Soeharto adalah mengenai radiogram no RdgT239/9/1965
tertanggal 21 September dari Panglima Kostrad Mayjen Soeharto yang memanggil
Batalyon 454 Para/Diponegoro, Batalyon 530 Para/Brawijaya, Batalyon 328
Para/Siliwangi, Kesatuan (Tank/Panser) Kostrad dari Bandung (Batalyon Kaveleri
2) dan Kesatuan Arteleri dari Cimahi untuk datang ke Jakarta tanggal 28
September 1965 dengan perlengkapan tempur siaga satu. Pada intinya Abdul Latief
hendak mengatakan bahwa Soeharto terlibat dalam G30S.
Omar Dani merupakan Men/Pangau ketika
terjadi peristiwa G30S. pada tanggal 1 Oktober 1965, Omar Dani dengan spontan menulis
surat perintah harian setelah mendengar siaran berita RRI pukul 07.00 tentang
G30S. Ia meminta kertas dan pulpen untuk menyusun konsep. Setelah
dikoordinasikan dengan Panglima Koops Komodor Udara Leo Wattimena, pernyataan
tersebut langsung dikirim ke Departemen Angkatan Udara untuk dikonsultasikan
kepada DMPO Komodor Udara I Dewanto. Setelah pukul 08.15 Omar Dani mendapat
telpon dari Letkol Suparto bahwa Presiden Soekarno dalam perjalana PAU Halim.
Kembali Omar Dani teringat kosep yang baru dibuatnya. Ia berusaha menarik
kembali konsep surat itu supaya bisa disesuaikan dengan pendapat Bung Karno
mengenai G30S. Namun ternyata surat itu telah terlanjur dikirim ke Depau.
Perintah harian itu yang menjadi persoalan besar di mata kelompok Soeharto.
Perintah harian Omar Dani dinilai oleh
Soekarno sebagai tindakan tergesa-gesa, sedangkan oleh kelompok Soeharto
dianggap sebagai bukti ketrlibatan Omar Dani dalam mendukung G30S. Omar Dani
mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Soekarno, tetapi ditolak.
Sebagai jalan keluarnya, tanggal 14 Oktober 1965 Bung Karno menugaskan
Men/Pangau melakukan perlawatan ke negara-negara Eropa dan Asia dalam rangka
menjajaki kerjasama luar negeri dengan AURI. Tanggal 20 April 1966 Omar Dani
sekeluarga kembali ke Indonesia dan mendarat di Semplak, Bogor dan langsung
ditempatkan di bungalow AURI di Cibogo dengan status “tidak boleh keluar dari
sana”. Tanggal 23 Oktober 1966 Omar Dani dipindahkan ke rumah tahanan Nirbaya.
Omar Dani kemudian dijatuhi hukuman mati pada 25 Desember 1966. Tahun 1980
hukumannya diubah menjadi seumur hidup. Akhirnya tanggal 16 Agustus 1995
dibebaskan.
Letnan Kolonel Heru Atmojo menjabat
Asisten Direktur Produksi Intelijen DEPAU saat terjadi peristiwa G30S. Ia
mengikuti perkembangan peristiwa sebelum, pada, dan setelah terjadi peristiwa
tersebut. Kesaksian Heru mengungkapkan bahwa pemimpin G30S bukan Letkol Untung.
Heru langsung tidak menaruh respek terhadap Sjam ketika bertemu tangaal 1
Oktober 1965 karena sikapnya yang arogan. Menurut John Roosa, Sjam Kamaruzaman
bukanlah agen ganda melainkan pembantu setia Aidit sejak bertahun-tahun
terutama dalam urusan militer. Pelaksana Biro Chusus PKI yang baru ditangkap
tahun 1968 ini, dieksekusi tahun 1986.
Menurut Sudisman yang merupakan CC PKI,
beberapa pimpinan PKI telah tahu rencana G30S. Namun Sudisman membantah PKI
sebagai partai terlibat. Sudisman juga mengungkapkan bahwa G30S tidak dapat
disebut sebagai kudeta untuk merebut kekuasaan dari Soekarno, malah tujuannya
adalah untuk menyelamatkan Presiden RI.
Basuki Rachmat, Jusuf, dan Amir Machmud
adalah tiga jendral yang menemui Soekarno di Bogor. Pertemuan tersebut
menghasilkan Supersemar. Mereka adalah orang-orang yang dipercaya Soekarno,
tetapi ketika pemimpin berganti, kepercayaan mereka juga beralih ke Soeharto.
Seorang mahasiswa yang terkena imbas
dari adanya G30S adalah Waloejo Sedjati. Ia meninggalkan Jakarta menuju
Pyongyang, Ibukota Republik Demokrasi Rakyat Korea pada 11 November 1960.
Tragedy 1965 menyebabkan ia terhalang pulang selama puluhan tahun. Waloejo
tinggal 10 tahun di Korea utara, 12 tahun di Uni Soviet, dan 24 tahun di
Perancis. Masih banyak mahasiswa yang bernasib sama seperti Waloejo Sedjati
yang terkena imbas peristiwa G30S.
Surat kabar dari Angakatan Bersenjata
dan Berita Yudha menciptakan opini yang menyudutkan PKI dan ormasnya. Serangan
yang paling telak tentu berkaitan dengan moralitas. Makadisebarkan isu bahwa di
Lubang Buaya para jenderal itu disilet kemaluannya sebelum ditembak. Penyiletan
itu ternyata fitnah belaka. Diantara beberapa dalang Gerakan 30 September yang
melahirkan tragedi nasional 1965, semuanya telah rontok, kecuali Amerika
Serikat. Amerika Serikat masih menentukan hajat hidup orang banyak dalam
penguasaan sumber daya alam dan kebijakan. Inilah sebetulnya bahaya laten G30S
yang masih tersisa dan perlu diwaspadai.


No comments:
Post a Comment