|
Identitas Mahasiswa
|
||||
|
Nama
|
: AHMAD SYAEFUDIN
|
||||
|
NIM
|
: 3101412096
|
||||
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
||||
|
Rombel
|
: 5B
|
||||
A.
Identitas Buku
Judul buku : Dibalik Tragedi 1965
Pengarang :
Sulastomo
Penerbit :
Yayasan Pustaka Umat
Tahun :
2006
Tebal buku :
179 halaman
B.
Sinopsis Buku
Dibalik Tragedi 1965
Kontroversi terhadap “tragedi 1965”
belum selesai hingga hari ini. Dikalangan umat islam memang tidak ada keraguan
bahwa “pemberontakan” yang dilakukan oleh orang yang menamakan dirinya gerakan 30 september itu didukung PKI (Partai
Kumunis Indonesia). Karena setelah pemberontakan Madiun yang juga dilakukan
oleh komunis maka yang menjadi lawan utama komunis adalah umat islam khususnya
partai Masyumi dan organisasi-organisasi di bawahnya. Setelah partai msyumi
dibubarkan oleh bung karno maka batu sandungn bagi PKI yang dipandang
“menghalangi” tujuan politiknya adalah
HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). DN Aidit yang merupakan ketua CC PKI sangat
kecewa mengapa Bung Karno tidak membubarkan HMI. Meskipun ia telah “memaksakan”
tuntutannya kepada Bung Karno secara tidak langsung dengan menyerukan di depan
10.000 masa CGMI-organisasi mahasiswa onderbouw PKI- bahwa “kalau CGMI tidak
dapat membubarkan HMI lebih baik pakai sarung”. Sebenarnya lawan utama PKI ada
dua. Selain umat islam lawan utamanya adalah TNI/Angkatan Darat. Bahwa diakui
pada waktu itu organisasi yang paling kuat dan solid Cuma dua pula yaitu
TNI/Angkatan Darat dan PKI itu sendiri. Setelah tidak berhasil membubarkan HMI,
maka sasaran utama lainnya bagi PKI adalah TNI/Angkatan Darat. Dengan
mengangkat “ketidaksenangan” kalangan perwira “progresif revolusioner” kepada
jendral-jendralnya, PKI melakukan Penyusupan kepada TNI/Angkatan Darat.
Sebagaimana diketahui strategi PKI ada tiga, yakni gerilya petani di desa,
revolusi buruh di kota dan penetrasi atau upaya mempengaruhi TNI/Angkatan Darat
agar sejalan dengan perjuangan revolusionernya. Strategi yang ketigalah yang
kemudian muncul dalam bentuk “kudeta” yang dilakukan oelh PKI dengan label gerakan 30 september (G30S). G30S
kemudian membentuk Dewan Revolusi, yang
dipimpin oleh Letkol Untung. Dewan Revolusi mempunyai struktur dan personalia
di pusat dan daerah yang diumumkan pada siang hari tanggal 1 Oktober 1965 yang
nama-namanya asal ditempatkan saja oleh Letkol Untung sendiri. Karena peristiwa
pembunuhan jendral-jendral TNI/Angkatan Darat itu sudah masuk dini hari tangal
1 Oktober 1965 maka Bung Karnomenamakan Gerakan
Satu Oktober (Gestok). Kalangan umat islam menolak Gestok tapi setelah
jelas G30S didukung oleh PKI maka
ditambah di belakang kata G30S dengan kata PKI menjadi G30S/PKI.
Kontroversi juga mengenai keterlibatan Bung Karno banyak kalangan yang
menyatakan Bung Karno tidak terlibat. Bung Karno hanya memberi “angin” pada
strategi politik PKI. Bung Karno juga tidak terlibat pada pembunuhan
jendral-jendral TNI/Angkatan Darat. Demikian juga menjadi kontroversi dimana
posisi Pak Harto pada waktu itu? Terlibatkah Pak Harto? Sebuah kontroversi lain
menyebutkan bahwa tragedi itu bukan “pemberrontakan” G30S/PKI melainkan
persoalan internal Angkatan Darat. Dan ada juga yang menganalisa adanya
“ketrlibatan” intelijen asing di dalamnya terutama Amerika dan China? Dan
banyak lagi analisa yang satu berbeda dengan analisa yang lain. Meskipun fakta
hukumnya sama yaitu ada “pembunuhan”
jendral-jendral dan pengumuman “kudeta”
oleh Letkol Untung.
Situasi perang dingin, perebutan
pengarh negara adikuasa antara Amerika Serikat dan sekutunya dengan Blok
Komunis, Uni Soviet dan Republik Rakyat China (RRC), sudah tentu ikut bermain
di Indonesia. Namun sejauh apa mereka bermain, sangat sulit diketahui meskipun
pelaksanaannya dipastikan dilakukan dengan bantuan kekuatan dalam negeri. Apa
yang dikatakan sebagai dokumen Gilchrist, yang mengatakan adanya komitmen
(upaya perebutan kekuasaan?), yang dibantu oleh “our local army friend”, juga tidak pernah jelas siapa yang
memprodusir dokumen itu. Benarkah dokumen itu produk intelijen Inggris dan
Amerika? Atau intelijen Cekoslovakia dan Rusia? Apa tujuannya demikian juga isu
“Dewan Jenderal“ yang hendak melakukan kudeta, meskipun kedua isu itu telah
menjadi isu sentral yang dianggap melatarbelakangi Gerakan 30 September. Demikian juga sakitnya Bung
Karno, yang dikabarkan pingsan pada tanggal 4 Agustus 1965, yang kemudian
mempercepat terjadinya kudeta itu. Bukankah ada dokter asing (China) yang ikut
mengobati Bung Karno? Kudeta Pak Harto? Bukankah tragedi itu berakhir dengan
naiknya Pak Harto menjadi Presiden RI, meskipun secara bertahap? Teori lain
mengatakan, bahwa tragedi itu justru merupakan upaya Bung Karno untuk menyingkirkan
pimpinan teras Angkatan Darat, yang sering dikesankan tidak sejalan dengan
kebijakan Pemimpin Besar Revolusi. Bukankah komandan operasi Gerakan 30
September, Letkol Untung dan pelaksana Operasi Gerakan 30 September sebagian
besar adalah pasukan Cakrabirawa, Pasukan Pengawal Pribadi Presiden, sehingga
bisa saja diperintahkan untuk melakukan tujuan itu? Sudah tentu, skenario
apapun yang berjalan, semuanya ditutupi dengan langkah-langkah lain yang
tersamar.
Karena itu tidak mudah untuk
menyimpulkan peristiwa itu. Selain mungkin keterbatasan fakta yang diperlukan
untuk mendukung sebuah teori, politisasi peristiwa itu juga bukan merupakan
kemustahilan. Darimana cara orang memandang peristiwa itu, akan berdampak pada
kesimpulan yang diambil. Sebab, peristiwa itu memang terkait banyak kepentingan
yang saling berlawanan, baik kepentingan politik dalam negeri maupun luar
negeri. Demikian juga perkembangan zaman, dimana telah terjadi perubahan nila
dalam kurun waktu selama ini, sehingga menilai apa yang terjadi di waktu itu
dengan norma yang berjalan sekarang , sudah tentu akan terjadi bias. Selain itu
juga, ada kecenderungan bahwa masyarakat selalu berpihak kepada yang lemah,
yang menjadi korban, yang dipojokkan, sehingga sekarang cenderung membela para
korban Gerakan 30 September, khususnya para bekas tahanan politik PKI.
Dengan demikian, sebagai sebuah
peristiwa politik yang beesar, lebih dari fakta yang tersurat, apa yang
tersirat, apa yang tersamar, sebenarnya justru sangat penting di dalam memahami
peristiwa itu. Bukankah politik itu tidak pernah hitam atau putih? Dibalik
warna yang kelabu, siapa yang dominan memberi warna itu? Karena itu apa yang
tersirat itulah yang justru dapat menjawab apa yang sebenarnya terjadi.
Kesimpulan dari peristiwa itu, degan demikian harus ditentukan dari apa yang
tersurat dan apa yang tersirat.
Sebagai peristiwa politik besar,
peristiwa itu tentunya merupakan puncak dari sebuah pergulatan politik,
pergulatan politik itu, sudah tentu selalu terkait dengan kekuasaan, suatu hal
yang sebenarnya sangat wajar. Dan jalan ke kekuasaan, pasti bukan sebuah proses
yang tiba-tiba muncul. Ada pergulatan Taktik, strategi diantara berbagai pihak
yang terkait dengan kekuasaan. Dan lebih dari itu juga ada pergulatan ideologi,
cita-cita, atau program, bagaimana sebaiknya menyelenggarakan negara. Dan apa
yang terjadi di tahun 1965, sesungguhnya sangat terkait dengan seluruh
perjalanan bangsa ini, sejak tahun 1945, bahkan sebelum itu.
Tokoh-tokoh yang menjadi kunci dari
peristiwa itu, adalah tokoh-tokoh yang sejak Indonesia merdeka 1945 telah ikut
berjuang dan memikirkan kehidupan bangsa ini, dan memang telah saling mengenal.
Pak Harto yang di saat peristiwa tragedi 1965 itu terjadi adalah Panglima
Koestrad dan menjadi tokoh yang menggagalkan Gerakan 30 September, telah
mengenali Syam Kamaruzaman yang kemudian dikenal sebagai Biro Khusus PKI.
Keduanya adalah termasuk anak-anak muda yang ikut berkumpul di Pathuk, Jogya,
pada sebuah forum/kursus politik bagi anak-anak muda di awal kemerdekaan. Pak
Harto mengenal Syam sebagai anak buahnya seorang tokoh, yang dikenal sebagai
seorang tokoh partai sosialis. Ketika itu, Sutan Syahrir menjadi Perdana
Menteri Indonesia (14 November 1945-12 Maret 1946).
Namun setelah itu, Pak Harto tidak
pernah bertemu lagi, apalagi berhubungan dengan Syam, sampai akhirnya diketahui
Syam sebagai tokoh Biro Khusus PKI. Syam memang anggota Partai Sosialis, tetapi
bakan PSI-nya Syhrir. Partai sosialis di awal kemerdekaan memang dipimpin oleh
Syahrir dan Amir Syarifudin. Namun, menjelang pemberontakan PKI di tahun 1948,
Amir Syarifudin bergabung dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang ternyata
dipengaruhi PKI dan kemudian menjadi salah satu tokoh dalam pemberontakan itu.
Semula, Syahrir dan Amir Syarifudin , memang berada pada satu kelompok bersama
Soekarno/Hatta, di dalam menyikapi kebijakan yang harus dilakukan oleh
pemerintah di awal kemerdekaan, yang lebih menekankan perlunya jalan
perundingan dengan Inggris dan Amerika Serikat, yang dalam hal ini ditentang oleh Tan Malaka. Ketika Syahrir menjadi
Perdana Menteri, Amir Syarifudin adalah Menteri Penerangan dan Keamanan
Nasional. Namun, setelah Muso, yang kemudian dikenal sebagai tokoh PKI pulang
dari Uni Soviet (11 Agustus 1948), Amir Syarifudin bergabung dengan FDR (Front
Demokrasi Rakyat) yang dibentuk oleh Muso. Partai Sosialis Pecah, lahirlah
Partai Sosialis Indonesia (PSI) di bawah Sutan Syahrir (1948). Klarifikasi ini
diperlukan, untuk menjelaskan, apakah benar Syam Kamaruzaman adalah seorang
tokoh PSI dan bahkan intel ganda (double
agent) untuk PKI dan militer TNI/Angkatan Darat/Pak Harto. Ternyata tidak
ada yang mengetahui, apakah Syam Kamaruzaman juga merupakan anggota intelijen
TNI/Angkatan Darat. Tetapi untuk dapat dipercayai oleh PKI, tidak mustahil Syam
mengesankan memiliki informasi tentang kegiatan kelompok militer dan
menyampaikan informasi tentang TNI/Angkatan Darat itu kepada DN Aidit, agar
memperoleh kepercayaan dari DN Aidit.
Mengenai Letkol. Untung, anggota
pasukan pengawal presiden (Cakrabirawa), yang menjadi tokoh Gerakan 30
September dan Ketua Presidium Dewan Revolusi, Pak Harto telah mengenali sebagai
anak buahnya di kesatuan yang dipimpinnya di Solo. Setelah itu, juga menjadi
anak buahnya, ketika Pak Harto menjadi Panglima Mandala, yang bertugas untuk membebaskan
Irian Barat. Dan untuk itu ia memperoleh penghargaan dari Bung Karno. Meskipun
demikian, selama Letkol. Untung menjadi Komandan Batalion I Cakrabirawa, jarang
bertemu dengan Bung Karno. Letkol. Untung hanya bertemu Bung Karno dua kali,
yaitu ketika masuk Pasukan Pengawal Pribadi Presiden Cakrabirawa, dan kedua di
saat lebaran. Pak Harto, dengan demikian, telah lebih mengenal Letkol. Untung
dibanding Bung Karno. Pak Harto bahkan telah Mencatat Letkol. Untung sebagai
perwira yang memiliki pandangan politik ke kiri-kirian.
Catatan Pak Harto ini setidaknya
mengesankan bahwa Pak Harto sangat memperhatikan perkembangan kekautan
Komunisme di Indonesia, termasuk di lingkungan Angkatan Darat. Hal ini juga
ditunjukkan ketika Pak Harto masih menjadi Pangdam IV Diponegoro di Semarang.
Dimana Pak Harto pernah menyampaikan kekhawatirannya terhadap PKI langsung
kepada Bung Karno. Bung Karno juga dengan demikian telah lama mengenal Pak
Harto sebagai prajurit TNI yang anti-komunis dan juga menengarainya sebagai pribadi
yang memiliki watak keras kepala.
Adapun mengenai Bung Karno kita
semua telah mengenalnya, jauh sebelum kemerdekaan. Di tahun 1948, ketika
menghadapi pemberontakan PKI, sebagai Presiden RI, Bung Karno berseru kepada
Rakyatnya: pilih Soekarno-Hatta atau PKI-Muso. Tetapi ketika PKI muncul sebagai
partai keempat terbesar dalam pemilihan umum tahun 1955, setelah PNI, Masyumi,
dan NU, Bung Karno harus mengakui realita kekuatan politik yang ad, dalam
pemilihan umum yang pertama itu, PNI memperoleh 57 kursi, Masyumi 57 kursi, NU
45 kursi dan PKI 39 Kursi. Wajar apabila kemudian Bung Karno menujuk Ketua Umum
PNI, Ali Sastroamijoyo menjadi formatur kabinet. Terbentuklah sebuah kabinet
dengan Ali Sastroamijoyo sebagai Perdana Menteri dan Mr. Roem (Masyumi) dan KH
Idham Chalid (NU) sebagai Wakil Perdana Menteri.
Menjelang Peristiwa 30 September
1965, berbagai isu telah berkembang di masyarakat, yang mengindikasikan akan
terjadinya peristiwa politik yang besar. Aksi-aksi sepihak terjadi dimana-mana.
Jawa Tengah, Jawa Timur dan juga Sumatra Utara. Aksi-aksi sepihak itu berupa
perebutan hak atas tanah yang dinilai terlalu besar dan dimiliki oleh
perorangan. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, perebutan hak atas tanah-tanah wakaf
yang dimiliki oleh pesantren-pesantren telah menimbulkan konflik terbuka dengan
kalangan umat islam. Demikian juga ofensif revolusioner yang dilancarkan PKI
semakin gencar, berupa demo-demo dan pernyataan yang ditujukan pada lawan-lawan
politiknya. Dari tuduhan kontra-revolusi, kapitalis birokrat, setan desa,
sampai “antel-nekolim”, dan lain sebagainya. PKI menggambarkan keadaan politik
tanah air sebagai “hamil tua”. Hal ini, antara lain dipertegas secara terbuka
oleh tokoh PKI Anwar Sanusi di Jambi, beberapa hari sebelum Gerakan 30
September dilancarkan. Di surat kabar “Bintang Timur” para seniman Lekra
(Lembaga Kebudayaan Rakyat) juga telah ikut mengindikasikan akan adanya
peristiwa besar. Selain itu, dalam lembaran “Lentara” Surat Kabar Bintang Timur
juga dimuat sebuah naskah berjudul “Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total”, yang
ditulis oleh Pramudya Ananta Toer (9 Mei 1965).
Kedua tulisan itu merupakan isyarat
bahwa sebuah peristiwa besar akan terjadi. Tahun1965 merupakan tahun pembabatan
secara total, sampai ke akar-akarya terhadap lawan PKI. Sudah tentu selain
menimbulkan prtanyaan, mengapa mereka sudah tahu juga sangat menggelisahkan
dunia seniman dan cendekiawan.
Namun indikasi yang paling jelas
terjadi hanya beberapa hari sebelum G30S. Brigjen Sugandhi melaporkan
percakapan dengan Sudisman dan DN Aidit, keduanya tokoh PKI (27 September
1965), bahwa PKI akan melancarkan “kudeta”, meskipun tidak memperoleh respon
yang memadai dari Bung Karno. Kepada Brigjen Sugandhi , DN Aidit memang menolak
istilah “kudeta” dan mengatakan langkahnya itu adalah untuk membersihkan “Dewan
Jenderal” (yang akan melakukan kudeta) yang dalam hal ini juga dibantah oleh
Sugandhi, oleh karena Dewan Jenderal itu dikatakannya sebagai tidak ada. Bung
Karno bahkan menganggap Sugandhi telah dihinggapi penyakit komunistopobia, sebuah sebutan yang sangat populer di waktu itu
baagi orang-orang yang mewaspadai bahayanya kaum komunis.
Di
kalangan pimpinan Angkatan Darat, meskipun laporan-laporan serupa juga sempat
disampaikan pada pimpinan Angkatan Darat, ternyata juga tidak mendorong langkah
untuk mewaspadai peristiwa seperti itu. Pengamanan terhadap pimpinan Angkatan
Darat juga berjalan seperti biasa. Mengesankan, tidak ada hal-ha yang harus
dikhawatirkan. Hal ini terbukti (kemudian) dengan keberhasilan Gerakan 30
September untuk menculik para jendral pimpinan AngkatanDarat dalam waktu yang
sangat singkat. Isu Dewan Jenderal yang sudah beredar sejak Mei 1965, dianggap
seolah-olah sudah selesai dengan telah dijelaskannya masalah isu Dewan Jenderal
kepada Bung Karno oleh Jenderal Ahmad Yani. Demikian juga Dokumen Gilchrist,
yang mengindikasikan kemungkinan perebutan kekuasaan dengan dibantu oleh “our local army friends”. Di kalangan
Angkatan Darat, ada keyakinan yang kuat, bahwa selama Bung Karno masih memimpin
bangsa ini, PKI tidak akan dapat merebut kekuasaan negara.
Demikian juga bagi Mayjen Soeharto,
Panglima Koestrad di waktu itu, ketika Kol. Latief menemui Pak Harto di RS
Gatot Subroto tanggal 30 September malam, Pak Harto tidak menganggap serius
laporan Kol. Latief. Ketika itu Kol. Latief melaporkan akan terjadinya kudeta
Dewan Jenderal, yang dibantah oleh Pak Harto, karena Dewan Jenderal seperti
dimaksudkan Kol. Latief itu tidak ada. Meskipun Kol. Latief mencoba meyakinkan,
Pak Harto tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang serius.
Meskipun semua itu sebenarnya
merupakan sebuah indikasi akan terjadinya sebuah peristiwa politik yang besar,
ternyata banyak juga yang tidak menyadari bahwa hal itu akan terjadi dalam
waktu dekat.
Berita tentang sakitnya Bung Karno
juga menjadi pemicu gerakan tersebut, kemudian timbul kekhawatiran berbagai
pihak, termasuk negara adikuasa, Blok Barat dan Blok Timur di dalam
memperebutkan masa depan Indonesia yang dianggap strategis. Wajar kalau hal itu
mengundang peran negara asing, termasuk badan-badan intelijen asing untuk
mencampuri perkembangan politik di Indonesia.
PKI berhasil mengeluarkan HMI dari
PPMI (Perserikatan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia) pada tanggal 21
oktober 1964, CGMI/PKI hendak memaksakan tuntutan pembubaran HMI, mungkin tidak
banyak yang menduga, bahwa forum terbuka seperti itu hanya akan digunakan untuk
memaksakan tuntutan CGMI/PKI untuk membubarkan HMI kepada Bung Karno. Ketika
memberikan sambutan DN Aidit menuntut pembubaran HMI, yang dianggapnya
“anti-manipol, kontra-revolusi”, tidak progresif revolusioner, onderbouw Masyumi dan lain sebagainya.
Mengapa Masyumi/GPII telah dibubarkan, HMI dibubarkan? “kalau tidak dapat
membubarkan HMI”, kata DN Aidit “lebih baik pakai sarung”, seru DN Aidit di
depan lebih dari 10.000 masa CGMI itu. Yel-yel “bubarkan HMI” kemudian bergema
di gedung olahraga itu. Rapat ummum itu, agaknya hendak dijadikan forum untuk
mengubur HMI, yang telah dimulai sejak 1962, ketika Prof. Utrecht membekukan
HMI Komisariat Fakultas Hukum di Universitas Jember, kemudian mengeluarkan HMI
dari PPMI (Perseriakatan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indoneesia/Federasi
Organisasi Mahasiswa Ekstra Universitair) pada tanggal 21 Oktober 1964.
Syarifudin Harahap menyatakan di
RRI sebagai berikut:
“Pada hari kamis tanggal 30
September 1965 di ibukota Republik Indonesia, Jakarta. Telah terjadi gerakan
militer dalam Angkatan Darat dengan dibantu oleh pasukan-pasukan dari angkatan
lainnya. Gerakan 30 September yang dikepalai oleh Letkol. Untung, komandan
batalion I resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal pribadi Bung Karno ini,
ditujukan kepada jendral-jendral anggota apa yang menamakan dirinya “Dewan
Jendral” sejumlah jenderal telah ditangkap dan alat komunikasi yang
penting-penting serta objek-objek vital lainnya sudah berada dalam kekuasaan
Gerakan 30 September”.
Banyak pandangan, bahwa suasana
politik di awal 1965, memang sudah sangat kondusif bagi PKI kejalan kekuasaan
di Indonesia. Seandainya tidak terjadi peristiwa Gerakan 30 September, PKI
mungkin akan dapat mewujudkan jalan ke kekuasaan dengan jalan damai. Hamper
semua isu politik sudah sejalan dengan garis perjuangan PKI. Namun sebegitu
jauh peran PKI dalam penyelenggaraan Negara sebenarnya masih sangat terbatas.
Bung Karno meskipun sejak tahun 1965
telah melontarkan gagasan “Kabinet-Kaki Empat”, namun sebegitu jauh PKI baru
menduduki portofolio yang tidak strategis atau penting. Bung Karno masih belum
member ruang kepada PKI untuk menduduki posisi yang strategis dalam Kabinet.
Dari aspek ini, jalan kekerasan, mungkin salah satu alternatif yang menjadi
pertimbangan bagi PKI. Hanya mungkin karena terlalu pagi, jalan kekerasan itu
berdampak fatal. Sebab ABRI, khususnya TNI/Angkatan Darat tidak hanya merupakan
kekuatan yang masih belum dapat dikuasainya, bahkan menjadi lawan politiknya.
Gerakan 30 September tidak hanya telah menggagalkana sebuah impian yang selama
bertahun-tahun ingin diwujudkan, tetapi juga telah menghancurkan Partai Komunis
terbesar ketiga di dunia, hanya dalam waktu sekejap.
Pada tahun 1948 usai Indonesia menghadapi
peemberontakan PKI 1948, Belanda melancarkan penyerbuan ke Indonesia, yang
dikenal sebagai perang kemerdekaan kedua. Tidak jelas mengapa beberapa tokoh
PKI antara lain: DN Aidit, Alimin dan Tang Ling Djie dapat lepas dari
pertanggungjawaban peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948 dan keluar dari
penjara Wirogunan. DN Aidit lah yang kemudian membangun kembali PKI di awl
tahun 1950-an. Dan ketika pemilihan umum berlangsung untuk pertama kalinya
(1955) PKI berhasil keluar sebagai pemenang ke-empat pemilihan umum yang
pertama itu. Dalam pemilihan umum pertama itu, PKI menampilkan strategi jitu,
yaitu memperkenalkan tanda gambar “palu arit” sebagai tanda gambar bagi PKI dan
orang-orang tidak berpartai. PKI memperoleh suara 6.176.914 atau 16% . tetapi suara
yang diperoleh PKI ini untuk pulau Jawa melampaui suara yang diperoleh oleh
Masyumi, yang keluar sebagai pemenang kedua setelah PNI.
Kendati demikian adalah sangat
menarik, meskipun Bung Karno mengesankan mengajak PKI untuk masuk dalam
kebinet, hal itu tidak pernah dilakukannya termasuk ketika seluruh kekuatan
sudah berada di tangannya, pasca Dekrit Presiden 1959 dan menjelang G30S,
disaat Bung Karno sangat membutuhkan dukungan PKI sekalipun. Bung Karno hanya
menempatkan tokoh-tokoh PKI dalam portofolio “Menteri Negara”.
Pada awal 1964, Indonesia keluar
dari PBB sikap Indonesia itu disebabkan oleh karena PBB telah menerima Malaysia
sebagai anggota Dewan Keamanan PBB. Karena itu Bung Karno mengatakan bahhwa
Malaysia adalah proyek Nekolim (Inggris dan sekutunya). Suatu hal yang tidak
mustahil, untuk membendung teori domino, gerakan komunisme ke selatan.
Bung Karno kemudian juga
merencanakan untuk menggalang “The New Emerging Forces”, dengan markas dengan
markas besarnya di Jakarta. Gedung DPR/MPR yang berdiri sekarang, sebenarnya
dirancang untuk menandingi markas besar PBB di New York.
Dengan kebijakan politik seperti
itu, Bung Karno sudah tentu memerlukan dukungan kekuatan dalam negeri dan juga
luar negeri, , termasuk negara-negara yang sedang berkembang. PKI sebagai
kekuatan Komunisme Internasional, sudah tentu memiliki akses keduanya. Memiliki
jaringan dan kekuatan politik yang riil di dalam negeri, serta mempunyai
pengaruh di luar, melalui kerjasama kaum Komunis Internasional.
Ada beberapa teori tentang
peristiwa G30S:
Pertama, adalah bahwa G30S
merupakan persoalan intern Angkatan Darat, sebagaimana dikemukakan oleh apa
yang kemudian dikenal sebagai “Cornel Paper”. Selain oleh kenyataan, bahwa G30S
itu dilakukan dan dipimpin oleh kalangan Angkatan Darat, dalam pengumuman Dewan
Revolusi dan Dekrit I juga tersirat rasa ketidaksenangan kalangan perwira
progresif revolusioner terhadap para jendral yang dianggap sebagai merugikan
nama baik Angkatan Darat, dengan lebih suka berfoya-foya dan lain sebagainya. Demikian
juga adanya kenyataan, bahwa di lingkungan TNI/Angkatan Darat juga terjadi
friksi-friksi internal, juga sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat, telah
menengarai siapa yang cenderung ke kiri, atau ke kanan, semuanya semakin
dipertontonkan dalam panggung politik nasional.
Kedua, adalah kudeta Soeharto
terhadap Soekarno, bahwa semua rangkaian peristiwa itu adalah sebuah kudeta Pak
Harto terhadap Bung Karno. Teori ini berdasar realita, bahwa akhir dari semua
peristiwa itu adalah jatuhnya Bung Karno dan munculnya Pak Harto sebagai
Presiden kedua Republik Indonesia. Teori ini banyak dipercayai sebagai teori
yang benar. Oleh kalangan yang dekat dengan Bung Karno dan juga oleh kalangan
eks-tahanan politik G30S. Teori ini percaya bahwa Pak Harto sudah tahu atau
sudah diberitahu oleh Kol. Latief, salah satu penggerak G30S, hanya beberapa
jam sebelum G30S berlangsung, namun membiarkan peristiwa itu terus berlanjut.
Ketiga, G30S adalah rekayasa
Soekarno, bahwa Gerakan 30 September merupakan rekayasa Bung Karno untuk
menyingkirkan pimpinan TNI/Angkatan Darat (Ahmad Yani dkk.) dengan menggunakan
Letkol. Untung, Komandan Batalion I resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal
pribadi Presiden. Digambarkan, apa yang dilakukan Letkol. Untung adalah
perintah Bung Karno.
Teori ini dilandasi oleh asumsi,
bahwa TNI/Angkatan Darat belum sepenuhnya mendukung kebijakan Bung Karno,
misalnya baik dalam kontroversi dengan Malaysia, maupun dengan berbagai isu
politik yang dilontarkan Bung Karno, misalnya Nasakomisasi di segala bidang, pembentukan
Angakatan Kelima dan lain sebagainya.


No comments:
Post a Comment