About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Sunday, 3 May 2015

Hari-hari Terakhir Soekarno

 



Identitas Mahasiswa
Nama
: AMIN NUROHIM
NIM
: 3101412097
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B



A.    Identitas Buku
Judul                      : Hari-hari Terakhir Soekarno
Penulis                   : Peter Kasenda
Penyunting            : Agus Saryadi
Desain sampul       : Hartanto "Kebo" Utomo
Desain isi               : Sarifudin
Tahun terbit           : 2012
Penerbit                 : Komunitas Bambu
Kota Terbit            : Jakarta
Halaman                : xiv + 274 halaman

B.     BOOK REPORT
Buku ini menceritakan waktu-waktu terakhir Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi, Panglima tertinggi Tentara Nasional Indonesia, dan sebutan-sebutan lainnya yang menunjukkan Soekarno sebagai orang nomor satu di Republik ini. Banyak catatan-catatan kaki yang membantu pembaca memahami situasi tersebut serta memberikan bacaan lain sebagai referensi.
Di bawah Demokrasi Terpemimpin (1959-1965), Soekarno memanfaatkan massa PKI untuk mempopulerkan agendanya sejak tahun 1920-an yaitu Nasakom, Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Nasakom baru berupa ide pada tahun 1926, dan baru terimplementasi pada tahun 1960-an seiring dengan berjalannya Demokrasi Terpimpin. Sebenarnya Komunisme yang dimaksudkan Soekarno bukanlah Komunis seperti di Cina atau Uni Sovyet tetapi Marxisme. Sejak muda, Soekarno banyak sekali membaca karangan-karangan Karl Marx.
Situasi politik pada detik-detik menjelang G30S sebenarnya sudah memanas. Di antara partai politik lainnya, PKI sudah tidak disukai. Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit) dalam kongres PKI di Jakarta satu hari sebelum Gerakan 30 September 1965 bahkan menyerukan agar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) agar dibubarkan. Dalam pidatonya, DN Aidit mengatakan bahwa "kalau tidak dapat membubarkan HMI, lebih baik pakai sarung." Suatu kalimat yang terdengar terlalu berani di depan pemimpin negeri dan terkesan tidak etis secara politis.

PKI tampaknya terlalu percaya diri dengan dukungan Sukarno di kancah politik Indonesia. Di berbagai daerah, isu-isu akan pecahnya peristiwa politik besar mulai terindikasi. Sulastomo dalam bukunya, Hari-hari yang panjang transisi Orde Lama ke Orde Baru: sebuah memoar, mengatakan bahwa di berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Utara pecah  aksi-aksi sepihak yang dimotori oleh PKI. Aksi tersebut antara lain perebutan hak atas tanah terutama tanah wakaf yang dimiliki pesantren yang ujungnya muncul konflik dengan kalangan umat Islam. Selain itu, PKI menuduh kontrarevolusi, kapitalis birokrat, setan desa, dan antek nekolim pada lawan-lawan politiknya.
Terjadinya peristiwa penculikan dan pembunuhan para Jenderal Angkatan Darat pada malam 1 Oktober 1965 tidak henti-hentinya menarik untuk dibahas. Bila ditelusuri lebih jauh, ini merupakan puncak perseteruan antara PKI dan Angkatan Darat. Kedua kelompok besar kekuatan politik ini sebelumnya pernah melakukan pemberontakan. Tahun 1948 di Madiun merupakan pemberontakan oleh PKI dan tahun 1958, merupakan pemberontakan PRRI/Permesta yang dikomando oleh tentara Angkatan Darat. Di tataran elit politik, hanya Sukarno yang bisa mengimbangi perseteruan ini. Namun, masing-masing kelompok sepertinya tinggal menunggu tabuhan genderang untuk melakukan perang secara terbuka. Dan kudeta itupun terjadi di malam 1 Oktober 1965.
Kudeta itu menunjukkan bahwa terjadi kekhawatiran akan keberadaan Dewan Jenderal yang mengancam kabinet revolusi-nya Soekarno. Mungkin Letkol Untung menganggap inisiatif penculikan para Jenderal Angkatan Darat adalah prestasi luar biasa. Namun, justru keadaan itu tidak menguntungkan Soekarno. Ia dituduh berperan dalam usaha penculikan tersebut. Kondisi makin runyam ditambah bahwa Soekarno tidak menganggap penting peristiwa 1 Oktober 1965 itu. Ia mengatakan bahwa hal itu biasa dalam revolusi. Inilah yang membuat citra Sukarno di depan rakyat Indonesia sangat merosot ditambah lagi dengan bibit-bibit kebencian kepada PKI di berbagai daerah. Di minggu-minggu awal Oktober setelah peristiwa penculikan Jenderal itu, Sukarno menyadari bahwa dampak yang terjadi di daerah luar biasa. Gantian TNI yang ingin 'membalas' kekalahan politik akibat peristiwa tersebut dengan 'membasmi' pengikut PKI hingga ke daerah-daerah. Mereka mengeksploitasi kesemaptan yang tersedia oleh percobaan kudeta itu untuk melenyapkan kepemimpinan PKI, baik di Jakarta maupun di tingkat-tingkat propinsi dan kabupaten.
Menurut Malcolm Caldwell dan Ernst Utrecht, Sukarno menolak usulan-usulan untuk melarang PKI dengan jutaan petani di dalamnya karena tidak ada hubungannya dengan peristiwa G30S. Menurut Onghokkam, ketika terjadi kudeta 30 September, Pemimpin Besar Revolusi itu sudah sadar bahwa ia telah tamat riwayat politiknya.
Tan Swie Ling dalam bukunya, G30S 1965, Perang Dingin dan Kehancuran Nasionalisme menyatakan kesalahan-kesalahan PKI sebagai penyebab kehancuran revolusi Indonesia adalah pertama, PKI tidak berhasil merumuskan teori revolusi Indonesia dengan baik. PKI cenderung mengibarkan panji-panji kelas buruh alih-alih bangsa Indonesia dalam mendukung revolusi. PKI terkesan bersemangat mencari nama, "inilah jasa kelasku, kelas buruh, pelopor revolusi!". Kedua, terkait dengan penolakan kapitalisme, itu bukanlah semata-mata monopoli pendirian PKI, tetapi sudah tergambar sangat kuat dalam pemikiran-pemikiran pendiri bangsa Indonesia. Hal itu terlihat dalam pidato-pidato dan sidang-sidang BPUPKI pada tahun 1945.Ketiga, PKI tidak mengkritisi teori yang yang diterima dari negara asal komunis itu sendiri, melainkan beranggapan tidak perlu ada penyesuaian apapun dalam penerapannya di Indonesia. Padahal, revolusinya rakyat Tiongkok sudah melalui tahap pengalaman praktik, pimpinan PKI gagal mengerti bahwa keberhasilan revolusi di Tiongkok sepenuhnya sangat tergantung pada apakah kelas buruh telah mempunyai kemampuan untuk berani menanggung risiko akibat mengikuti pimpinan kelas buruh maupun mempunyai kemampuan di atas kelompok-kelompok lain.Keempat, PKI tidak memahami makna ganas, buas, dan kejamnya perjuangan kelas (buruh/petani) tersebut dari pengalaman pemberontakan tani 1926 dan Madiun 1948 yang berakibat massa menjadi korban. Karena itu tidak boleh disikapi secara sembarangan dan gampangan.
Selanjutnya Tan Swie Ling menambahkan bahwa PKI gagal mengetahui secara tepat mengenai seberapa besar kekuatan dirinya sendiri dan seberapa besar kekuatan musuhnya. Musuh revolusi yang dianggap adalah kapitalisme dan imperialisme, namun tidak dapat didefinisikan dengan jelas kongkritnya seperti apa, cara kerjanya seperti apa dan seberapa hebat kekuatannya. Hal inilah yang berakibat tidak tercapainya perjuangan revolusi serta memakan korban hingga jutaan jiwa.
Seluruh media informasi dikuasai tentara. Media yang digunakan sebagai corong informasi hanya "Berita Yudha". Sukarno mengundang wartawan dan perwira militer di istana Bogor yang intinya meminta agar wartawan tak hanya menuliskan keadaan yang sebenarnya dan selalu ingat kepada peranan mereka dalam membangun bangsa. Namun permintaan Sang Orator ulung  itu hanya berdengung di telinga-telinga tuli. Situasi ekonomi semakin parah dengan inflasi yang tinggi dan Sukarno mengeluarkan Keppres No.27 Desember 1965 dimana diberlakukan pemberlakuan mata uang baru dengan perbandingan nilai Rp1 sama dengan Rp1.000. Gelombang demonstrasi dan unjuk rasa terus-menerus mengerogoti popularitas Sukarno. Puncaknya di 11 Januari 1966, mahasiswa menyerukan Tritura, dimana salah satunya adalah meminta pemerintah membubarkan PKI.
Demonstrasi (yang didukung tentara) mahasiswa semakin meningkat. Meski ada larangan dari Brigjen Amir Machmud, pimpinan AD yang radikal memberi lampu hijau pada mahasiswa untuk berdemonstrasi. Pada 23 Februari 1966, Ketika mahasiswa sedang berdemonstrasi di depan Kedubes Amerika, di Gambir, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menerobos gedung Setneg, memecahkan kaca gedung dan melemparkan mebel ke jalan. Esoknya ketika Sukarno hendak melantik kabinetnya, pawai dari mahasiswa UI mendekat ke istana. Situasi ricuh, mahasiswa berhasil menembus ke istana-atau dibiarkan pasukan AD yang diantara Tjakrabirawa dan mahasiswa, dan sebuah tembakan  dilepaskan dari  pasukan Tjakrawibawa yang menewaskan Arif Rahman Hakim, mahasiswa kedokteran UI. Sebuah fakta (baru) muncul dari Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa bahwa ARH ditembak oleh pasukan POM DAM V di lapangan banteng.
Bibit kudeta terhadap Sukarno telah diperlihatkan dari awal oleh Suharto. Sejak peristiwa 1 Oktober 1965, Suharto tidak membolehkan Pangdam Jaya, Mayjen Umar Wirahadikusumah untuk menghadap Sukarno dengan alasan semua instruksi Angkatan Darat harus disampaikan melalui Suharto sebagai Pangkostrad. Selanjutnya Suharto memerintahkan kepada Kemal Idris yang meneruskan perintah itu kepada Kolonel Sarwo Edhie untuk menurunkan 'pasukan tidak dikenal' ke Istana Merdeka pada Maret 1966. Hal itu membuat Sukarno panik dan pergi ke Istana Bogor dengan helikopter. Tiga Jenderal yang menyusul ke Bogor "untuk memberi penjelasan" kepada Sukarno terkait hal tersebut. Namun agenda utamanya adalah menyampaikan pesan dari Suharto kepada Sukarno bahwa apabila diberi kepercayaan, maka ia (Suharto) bisa mengatasi keadaan. Entahkah desakan tiga jenderal yang begitu kuat, ataukah karena Sukarno tidak punya teman diskusi yang memadai, atau Sukarno tidak punya (atau tidak diberikan) waktu yang cukup untuk menimbang-nimbang, terbitlah Surat yang ditandatangani Sukarno sendiri. Inti surat itu adalah memerintahkan kepada Suharto untuk mengambil langkah untuk memulihkan stabilitas.  Proses penerbitan surat itu sendiri mempunyai banyak versi, serta tidak adanya pertemuan secara tatap muka antara yang memberi perintah dan yang diberi perintah. Akibat situasi di atas, surat perintah itu dimaknai berbeda oleh penerima perintah. Suharto memaknai stabilitas keamanan dapat dipenuhi dengan memberantas habis PKI hingga ke akar-akarnya, termasuk Sukarno sendiri menjadi 'korban' surat itu. Inilah bibit kudeta yang telah matang berbuah.
Puncak dari peristiwa G30S adalah ketika Soekarno turun dari jabatannya satu setengah tahun pasca G30S. Hal itu bermula ketika pidato pertanggungjawaban Presiden yang berjudul Nawaksara ditolak oleh DPR-GR bentukan Soekarno yang saat itu banyak diisi oleh orang-orang orde baru di bawah pimpinan Suharto. Ketika ketukan palu oleh ketua MPRS Jenderal AH Nasution yang jatuh pada Minggu, 12 Maret 1967 pukul 13.30 menetapkan TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967, posisi soekarno sebagai presiden Republik Indonesia benar-benar lengser, Seorang Tokoh yang digadang-gadang akan menjadi Presiden seumur hidup harus menyerahkan kekuasaannya kepada Soeharto. Salah satu isi TAP MPRS itu mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Presiden menggantikan Soekarno yang waktu itu sedang berada di Istana Bogor. Disini posisi Soekarno sebenarnya sangat dirugikan, pertama yaitu penyalahgunaan Supersemar oleh Soeharto yang kemudian memaksa Soekarno untuk turun tahta. Kedua adalah ketetapan MPRS No.XXXIII/MPRS/1967 seperti yang sudah dijelaskan di atas. Sejak saat itulah Soeharto telah berhasil menjadi orang nomor 1 di Indonesia. Ia dengan segala kekuasaannya mulai memperlakukan Soekarno tidak selayaknya memperlakukan sosok yang telah mengorbankan separuh hidupnya untuk negeri ini.
Setelah Soekarno tidak menjadi Presiden lagi, bukan kebebasan yang didapat, melainkan pengekangan dari Presiden penggantinya (Soeharto), pemerintahan Soeharto mengeluarkan dua surat keputusan yang mempersulit akses Soekarno ke Jakarta, pada intinya surat tersebut berisi bahwa beliau tidak boleh masuk ke wilayah Jakarta, kota yang dulu turut dibangunnya. Beliau hanya boleh berada di Jawa Barat. Sejak saat itu, beliau tak pernah lagi pergi dari Bogor. Dua surat keputusan tersebut adalah dari Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) VI/Siliwangi Mayor Jenderal H.R. Dharsono dan Mayor Jenderal Amir Machmud, Panglima Kodam V/Jakarta selaku Penguasa Pelaksana daerah Jakarta Raya dan sekitarnya.
Tak lama setelah kepindahannya ke Istana Bogor, beliau sakit-sakitan, komplikasi. Setelah dikeluarkannya dua surat keputusan di atas, tidak hanya akses bepergian saja yang dikurangi, tetapi akses memperoleh layanan kesehatan juga minim, pengobatan beliau yang seharusnya mendapat perawatan dari rumah sakit di Jakarta yang fasilitasnya lebih memadai dibanding yang ada di Bogor waktu itu. Perizinan untuk bisa keluar dari Bogor sangat dipersulit, walaupun kondisinya mendesak. Pemerintahan yang dipimpin oleh Soeharto tidak mempedulikan hal itu. Dokter yang menanganinya sampai masa kritisnya pun bukan seorang dokter spesialis seperti yang dibutuhkannya, melainkan dokter hewan, dr. Soerojo. Suster yang merawatnya pun tak jelas dari rumah sakit mana asalnya. Dr. Soerojo pun tinggal di Jakarta, sehingga ketika tiba-tiba kondisi beliau memburuk, buru-buru Hartini meneleponnya agar segera datang memeriksanya. Sungguh ironis memang, sosok pahlawan bangsa yang dahuunya sangat di agung-agungkan harus tumbang dengan cara yang seperti itu, merasa terkucilkan dalam kesendirian, tak ada lagi yang mengaung-agungkannya.
Inilah pentas bangsa Indonesia yang ditulis kembali untuk mengingat serta memaknai peristiwa kelam Indonesia. Sukarno yang dulu digambarkan gagah, tak takut dengan penjara manapun, akhirnya takluk di rumahnya sendiri. Penjara Sukamiskin, di Flores, Bengkulu telah dilaluinya dengan berhasil, namun ia tidak berhasil menaklukkan kesendirian, kesepian, kesedihan, dan ketidakadilan. Pada dasarnya yang ia butuhkan adalah teman bicara, namun hal itu sangatlah mahal. Dari yang tadi dielu-elukan dan selalu melambaikan tangan ke kumpulan orang, menjadi orang yang rapuh, tergolek lemah, kesepian. Catatan medis menunjukkan bahwa Sukarno fisiknya tidak stabil. Tensinya tinggi, jalan sempoyongan, gangguan pencernaan, dan berbagai gangguan fisik lainnya.   
Kondisi beliau yang semakin parah membuat tim dokter memutuskan untuk membawa beliau ke rumah sakit RSPAD. Awalnya beliau menolak. Namun setelah dibujuk akhirnya beliau nurut juga. Ketika dirawat di sana, Mohammad Hatta lah satu-satunya sahabat lamanya yang datang menjenguk. Hari Minggu tanggal 21 Juni 1970 tepat jam 07.07 sang Putra Fajar menghembuskan nafas yang terakhir. Banyak sekali ucapan bela sungkawa yang datang, baik dari dalam maupun luar negeri. Betapa banyak orang yang kehilangan sosok beliau. Inggit Garnasih, sosok wanita yang menemani beliau dari masa perjuangan kemerdekaan selama 20 tahun juga datang melayat. Namun, lain dengan Fatmawati. Hanya karangan bunga yang ia kirimkan. Ia tetap menunggu jasad Bapak Soekarno di rumahnya, jalan Sriwijaya. Berharap akan dimakamkan di sana. Mengenai pemakaman beliau yang seharusnya menjadi urusan keluarga, diikutcampuri oleh pemerintah Suharto. Suharto beralasan jika masalah pemakaman diserahkan kepada keluarga besar almarhum akan menimbulkan konflik, karena terdapat perbedaan keinginan di masing-masing keluarga besarnya. Akhirnya diputuskan bahwa beliau akan dimakamkan di Blitar, dekat dengan makan ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai dengan alasan bahwa beliau sangat mencintai ibunya. Di batu nisannya bertuliskan “Di sini beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, sesuai dengan yang dimintanya dalam otobiografinya.
Setelah Orde Baru berhasil dengan Sejarah satu sumbernya. Sudah sepatutnya kita memperkaya khasanah wawasan kita dengan mencari dan membaca serta mengkritisi masa lalu sebagai pelajaran yang berharga di masa depan. Kadangkala pertanyaan-pertanyaan misteri mengenai peristiwa lalu tak perlu dijawab, agar kita tetap bergairah mencari tahu dan siapa tahu tertarik menulis ulang sejarah bangsa ini, setelah sedemikian lama pelajaran sejarah (Indonesia) didominasi oleh negara.

Untuk kelebihan dan kekurangan buku ini, sebenarnya buku ini sudah lumayan bagus, penulisan dalam buku ini sudah objektif, susunan kalimatnya juga mudah dipahami oleh pembaca, banyak catatan kakinya jg. Buku ini juga menjelaskan suasana pada saat soekarno sudah tidak menjadi presiden lagi, bahkan sampai pada saat beliau sakitpun dijelaskan secara rinci, sehingga kita bisa merasakan apa yang dirasakan bung Karno pada saat hari-hari akhirnya. Kelemahan yang terdapat dalam buku ini adalah terdapat istilah dan makna-makna yang sebenarnya masih awam sehingga terkadang harus berulang kali membacanya, atau mungkin itu hanya awam bagi saya. Hehe

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...