![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: BUDIONO
|
|
|
NIM
|
: 3101412098
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas
Buku
Judul Buku :
Penghancuran Gerakan
Perempuan, Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI.
Penulis
Buku : Siskia
E. Wieringa
Penerbit : Percetakan
Galang Press (Aanggot IKAPI)
Kota
Terbit : Yogyakarta
Tahun
Terbit : Tahun
2010
Tebal
Buku : 150x230 Mm, 542 Halaman
ISBN :978-602-8174-38-1
B.
Book
Report
Penghancuran
Gerakan Perempuan, Politik Seksual Di Indonesia Pascakejatuhan PKI
Buku ini
merupakan edisi populer berjudul Sexsual
Politics in Indonesia (200) dari tesis Saskia Eleonora Wieringa, the Politization of Gender Relations yang
diterjemahkan oleh Hursri Setiawan, Penghancuran Gearakan Permpuan di Indonesia
, Garba Budaya,1999. Buku tersebut sudah habis dipasaran, edisi populer ini
dilengkapi dengan data-data baru pasca jatuhnya rezim militer Orde Baru
Soeharto dengan berbagai kupasanya. Dalam penerjemahan kata wanitia digunakan
bagi nama-nama oraganisai yang memang mengunkan kata tersebut. Selebihnya
digunakan kata perempuan sesui semangat zaman. Perlu dicatat menyangkut G30S
buku ini tidak melulu disuguhi versi militer Orde Baru Soharto. Sebagai yang
ditunjukan buku ini dengan piawai para pembantu Soeharto menyusun dan melakukan
fitnah terhadap gearakan kiri umumnya dan permpuan Gerwani Khususnya dalam
analisis gender serta melestarikan selama rezim Orba, bahkan samapai saat ini.
Dapat ditambahkan fitnah tersebut sekaligus mempercampur adukan berbagai hal
sehingga membuat faktanya kabur.
Sejak Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan
Indonesia, terutama pada periode sekitar tahun 1965-1966 manakala Orde Lama digantikan oleh Orde
Baru Soeharto. Merka yang disiksa dan dikalahkan itu menjadi bagian dari Keluarga Komunis seperti Gerakan Wanita Indonesia
(Gerwani). Soehrto naik ke Tumpuk kekuasaan dengan mendalangi kampanye
kekerasan yang tidak ada bandinganya. Tidak hanya kekerasan yang mernggut nyawa
tetapi juga menyebarkan fitnah berupa tuduhan rekayasa tentang
terjadinya pesta pora seksual yang dikatakan dilakukan oleh para naggota
Gerwani. Rezim Orde Baru Soeharto tidak hanya di bangun di atas Timbunan mayat berjumlah kira-kira
satu juta rakyat tidak berdosa yang di bantai selama bulan-bulan terakhir 1965
dan pemulaan 1966, tetapi juga dibangun di atas penindasan kekuatan kaum
perempuan yang berhasil mereka perolehnya selam dekade sebelumnya. Dalam karya buku ini
memperlihatkan kekuatan Rezim Orba yang telah digambarkan musuh-musuh Gerwani
melalui berbagai metofora seksual.
Metafora itu menghubungkan kegiatan politik permpuan dengan perilaku
seksual abnormal dan moral jahat rendah yang mereka rekayasa. Ideologi
militerisme presiden Soeharto terbiasa membayangkan nasionalisme Indonesia
versi Orde Baru dibangun di seputar doktrinkeamanan nasional. Didalam doktrin
tersebut terdapat bentuk-bentuk khusus yang bertujuan membangun hegemoni
kejantanan dan kepermpuanan.
Samapai saat ini terakhir rezim Orde Baru berkuasa,
gaung kampanye rekayasa yang menggembar-gemborkan bahwa kekuatan perempauan
khususnya serta komunisme secara umumnya di cap memiliki perilaku seksual
rendah dan jahat. Konotasi negatif itu terlanjur merasuk kedalam seluruh
masyarakat Indonesia.
organisasi feminisme seperti
kalyanamitra dan soladaritas Permepuan yang muncul pada 1980-an terus-menerus
di tuduh sebagai membangun Gerwani
baru. sejak jatuhnya Presiden Soeharto
pada bulan Mei 1998, Indonesia berjuang mencari kesepakatan untuk
menelisik kembali sejarah yang bersimbah darah. Berangsur-angsur mereka yang masih
hidup , lolos dari pembunuuhan masal 1965-1966 menjadi lebih berani dan mualai
angkat bicara.
Kaum feminisme
harus memulihakan legitimasi kata feminisme dalam konteks Indonesia. Serangan yang dilakukan
ketua Kowani federasi
konservatif pada
mei 1999 menyebutkan bahwa organisasi feminisme harus hati-hati agar tidak
dihubungkan dengan Gerwani yang seperti kita ketahui bersama bukan saja
organisasi pelacuran tetapi juga melakukan lesbianisme tentunya menimbulakan
keheranan.
Presiden Abdur Rahaman Wahid atau Gus Dur berusaha
mengembalikan militer dalam tugas-tugas pertahanan serta menciptaan susasana
agar hak-hak asasi manusia di hhormati. Meski demikian masih saja muncul
perlawanan keras menentang politik Gus Dur yang menjujung pluralisme, bukan
saja kelompok militer konservatif, tetapi juga dari kelompok masyarakat yang
masih berada dalam cengkaraman bangunan Ideologi rezim Orde Baru dengan komunisto-phobia. Dalam periode ketika
Indonesia sedang mencari identitas baru
berdasarkan demokrasi dan penghormatan hak asasi manusia, buku ini menyuguhkan
adanya hambatan besar untuk diangkat
dalam farum diskusi. Sejarah Gerwani diputar balik oleh pihak Militer
guna untuk menodai PKI dengan konotasi buruk kejahatan seksual yang belum
pernah di kajia sebelumnya. Menemukan kembali elemen-elemen kritis dari gerakan
perempuan Indonesa yang luas. Serta Presiden Soeharto membuka alternatif lain
terhadap peristiwa 1965-1966 yang belum disimak.
Alam rentetan kejadian yang di jelaskan penulis
Kudeta 1 Oktober 1965 merupakan kejadian penting yang akhirnya mengantarkan
Soehato kekuasaan.Soeharto dengan grup kecil pendukungnya mengunakan kesempatan
yang tersaji dengan sendirinya tanpa membuat perencanaan jauh sebelumnya.
Kecerdikan Soeharto memanipulasi pendapat-pendapat umum dengan
kebohongan-kebohongan dengan
mengkacaukan masyarakat. Dampak peneindasan pemerintah tidak hanya terbats para
korban atau keluarga. Kampanye Soeharto sesudah Kudeta bukan hanya membasmi
komunisme di Indonesia samapai
akar-akarnya, namun sekaligus juga membangkitkan kebencian massa terhadap
politik Sukarno, dengan begitu presiden Sukarno harus turun. Kampanye ini juga
dimaksudkan untuk menciptakan suasana
mental tertentu bagi pemebenaran Ideiologi Orde Baru yang di Usung
Soeharto. Campur ideologi terdiri dari seruan stabilitas nasional dibawah kekuasaan militer yang memerlukan suatu politik seksual dengan
kaum perempuan dalam subordinasi. Selanjutnya menyerahkan perkembangan pada
dominasi elit laki-laki para manajer dan petinggi militer untuk menjarah
kekayaan negri. Baru pada tahun 1998 geakan kaum perempuan dan mahasiswa cukup
tangguh melawan Kleptokrasi dan membawa kejatuhan presiden Soeharto.
Dalam suatu hal fenomena ini merupakan refleksi
Indonesia yang dikaitkan dengan penyebaran fantasi laki-laki akan ketakutan dan
nafsu birahi seputar bayangan tentang vegina dentata. Hal ini pernah terjadi
pada permulaan abad ke 20 dalam dunia barat. Pusat fantasi tentang tema
degenerasi sosial, sebgai akibat menurunya kejantanan yang di sebabkan oleh
kaum permpuan yang memangsa kaum laki-laki yang tidak berdosa. Kajian terhadap
negara Orde Baru mengabaikan elemen-elemen kiasan seksual sebagai
dasarkonfigurasi politik Indonesia saat ini. mebewa implikasi luas dengan
melibatkan proses indoktrinasi terus-menerus terhadap seluruh bangsa. Rakyat
dicuci otaknya mempercayai versi penguasa tentang masa lampau kolektif dan
mencegah mereka mempertanyakan politik negara Orde Baru.
Terdapat penolokan terhadap pentingnya analisi
gender dan politik seksual guna memahami sejarah Indonesia, bahkan berkenaan
dengan kajian terhadap jatuhnya Soeharto.
Bukan saja masalah Gerwani yang telah diabaikan, tetapi pearan vital
yang di mainkan oleh organisasi-organisasi perempuan dalam menjatuhkan soeharto
juga diingkari. Kaum perempuan lebih dulu manju kedepan sebelum para Mahasiswa.
demontrasi peertama mereka terhadap Soeharto dilakukan pada 23 Februari 1998
ketika mereka menuntut penyediaan bahan pangan yang mampu di beli. Sesudah itu
organisasi-organisasi perempuan seperti Suara Ibu Peduli (SIP) berada didepan
dalam koalisi anti-Soeharto.
Buku ini menyajikan sejarah yang selama Orde Baru
disembunyikan dalam tiga tingkatan. Pertama memaparkan feminisme Indonesia
dengan uraian tentang libih banyak momen radikal dan penuh keberanian yang di
kenal daripada yang telah disajikan oleh para penulis samapai saat ini. kedua
penyajian sejarah yang selama ini dilarang
yakni sejjarah Gerwani. Para anggota organisasi ini telah dibunuh ,
dipenjarakan atau harus diam membisu, dokumen-dokumennya di Indonesia telah
dihancurkan. Beruntungnya sejumlah perpustakaan di Belanda dan AS menyimpan
dokumen-dokumen sebagai sumber yang dapat digunakan merekonstruksi sejarah
Gerwani. Ketiga dengan mempelajari peristiwa 1965-1966 berdasarkan ulasan
gender masa itu dapat menyikap sejumlah aspek lahirnya Orde Baru yang selama
ini di gelapkan oleh pihak militer atau di abaikan oleh para penulis sejarah
indoneis modern. Kini genrasi baru kaum feminisme indonesia dengan aktif
menyusun ulang relasi gender Indonesia,dengan demikian terbukalah perhatian
lebih luas terhadap sejarah Gerwani.
Dalam bab 2 buku ini menggambarkan secara ringkas
adanya tiga alur tempat gerakan perempuan indonesia dibangun: feminisme,
sosialisme, dan nasionalisme. Pada bab
berikutnya yaitu bab 3 membahas tentang sejarah organiasi perempuan indonesia samapi kemerdekaan. Dua
bab selanjutnya membahas perkembangan politik negara Orde Lama dan gerakan
perempuan pada masa itu. Yang pertama dari tiga bab tentang gerwani membahas
sejarah umum serta sejumlah masalah organisasi.
Dua bab selanjutnya berturut-turut tentang politik dan ideologi gerwani.
Pertanyaan yang mendaptkan sorotan dalam dua bab ini adalah adakah bukti tuduhan yang di timpakan pada Gerwani
pasca tragedi Oktober 1965? Apakah bukti itu dapat ditemukan dalam ideologi dan
praktek Organisasi ? kesimpulan penulis mengenai masalah seksual, Gerwani dapat
di pandang sebagai organisasi agak konservatif hal ini sesui sikap organisasi
permpauan sosialis masa itu.
Berbagai tradisi intelektual mendapat serangan
karena prasangka seksual mereka. Sedangkan kaitanya dengan marxisme,
konsep-konsep feminisme dirumuskan kembal. Tidak di pungkiri banyak lubang dalam marxisme yang ditambal.
Para sejarawan dan antropolog feminisme
menemukan dunia perempuan baru yang menajubkan dimna kegiatan politik perempuan
serta gerakan mereka mendapatkan perhatian lebih besar. Pembahasan yang
disajikan dalam bab 8 tentang kudeta Oktober 1965 serta kampanye yang
mengikutinya di pandang sebagai pemulaan kudeta perlahan-lahan. Disitu
ditunjukan sebuah embahasan gender ketika sebagian besar periode sejarah modern
indonesia telah melukiskan dimensi krusial yang begitu jauh, mengenai gerakan
perempuan. Analisisi mengenai politik seksual yang mendasari penumbangan
Presiden Sukarno serta lahirnya Orde baru akan membantu mereka yang membantu
bertahan hidup pada pristiwa 1965-1966 serta generasi menjadi korban
penghancuran moral dan idiologi masyarakat Orde baru menyepakati versi meliter.
Cara indonesia dalam merebut kekuasan negara secara
fundamental mengubah hubungan politik antara perempuan dan laki-laki. Kaum
perempuan kini harus mempertahankan kepentingan mereka bersaing dengan para
politisi laki-laki Indoenesia dan bukannya menghadapi penguasa kolonial.
Perempuan dimata laki-lak menjadi pesaing di takuti karena mereka mampu
memimpin rakyat umum sepertihalnya mampu memimpin rumah tangga. Perjuangan bagi
undang-undang perkawinan membawa kepentingan gender yang semasa perang di
tentang dan ditekan sekarang mulai terbuka. Selama perjuangan antikolonialisme
kaumperempuan juga menjadi pelaku yang vokal di arena politik sekaligus menjadi
ibu dan istri yang baik (bagi rakay dan bangsa). Dalam kenyataan dua tugas
tersebut menyatu karena permpuan perlu memainkan peranya dalam kancah politik
agar dapat menjadi pelaku. Ketika musuh bersama sudah enyah, kaum laki-laki
menyatakan wilayah politik sebagai miliknya dan wilayah sosial sebagai wiilayah
perempuan. Perbedaan di kalangan gerakan perempuan sendiri menjadi meningkat
setelah terciptanya kemerdekaan. Gerakann perempuan masa Orede Lama menjadi
lebih berbeda-beda, secara internal pun menjadi beragam. Senyap perempuan dalam
partai-partai politik yang dipimpin kaum laki-laki muncul utamnya pada masa
sekitar pemilihan umum1955 banyak orgaisasi permpuan (kecuali perwari yang selalu menjauh dari
partai politik) lebih kerjasama dengan partai politik daripada dengan sesama
organisasi perempuan lainya.
Kembalinya PKI secra mengenaskan setelah pristiwa
madiun berkat upaya aejumlah nasionalis muda disekitar Aidit yang telah
mengambil alih kepemimpinan pada 1951. Mereka menjadikan partai menjadi lemah
terpecah dan organisasi yang kurang semanagat menjadi paratai dinamis yang
tumbuh dengan cepat dengan gerakan kuat. Meskipun pemberotakan PRRI/Permesta
tidak sampai membahasyakan kekuasaan pemerintahan pusat dan prsiden, hal itu
memberi akibat politik penting. Kekuatan komando militer pusat jauh lebih
mapan. Masyumi yang mendukung kaum pemberontak menjadi rusak dan turun
martabatnya dimikian halnya PSI yang salah seorang pemimpinya bergabung dengan
PRRI. Di pihal lain PKI mendaptkan kesempatan untuk membuktiakan cap anti-nasionali yang diwariskan Madiun adalah
tidak benar-benar dan memnetapkan diri sebagai kampiun integritas nasional.
Manifesto politik (manipol) pidato presiden
Soekarnopada hari kemerdekaan 1959,
dijadikan dasar ideologi demokrasi
terpimpin. Tuntutan rakyat harus di penuhi secara menyeluruh dengan cara revolusioner, dengan bahasa lebih
sederhana pemerintah memberi prioritas pada pangan dan sandang bagi rakayat,
keamanan dalam negeri dan di lanjutkan melawan imperalisme dan dalam jangka
panjang membangun masyarakat adil dan makmur. Guna melaksanakan program ini
sukarno mengajak rakyat membangun sepenuhnya sistem liberalisme dan
menggantikanya dengan demokrasi Terpimpin dan ekonomo Terpimpin, mencoba aparat lama yang efisien dan retoll badan eksekutif dan legislatif,
alat-alat kekuasaan, produksi distribusi, dan organisasi-oraganisasi di
masyarakat. Konfigurasi politik tahun-tahun orde lama diwarnai dengan oeleh
kampanye anti imperalisme dalam hubungan dengan irian barat dan malaisia serta
meningkatkan ketegangan antar AD dan PKI serta golongan Islam dan PKI. Sukarno
merumuskan dua akronim Trikora dan Dwikora. Tri komando rakayat kampanye yang
ditunjukan dalam perebutan Irian barat dengan meninggalkan pembentukan negara
boneka Belanda di situ, mengibarkan bendera sang merah putih serta
mempersiapkan mobilisasi umum. Dwi komando rakyat dalam rangka kronforntasi
terhadap malaysia untuk menghancurkab serta mengatasi masalah ekonomi. Kedua
selogan ini menyeruak begitu hebatnya.
Meningkatnya pengaruh Gerwani dapat dilihat dengan
jelas pada kongres KWI 1961 ketika itu Presiden Soekarno menasehati KWI yang
menjadi ndara putri dan lamban. KWI harus berkerja sama dalam upaya membangun
masyarakat adil dan makmur. Kongres menyetujui berlakunya setruktur baru dengan
mengantikan sekretariat dengan dewan eksekutif, mengantikan sistem konsensus
dengan mayoritas sederhana. Dengan demikian kelompok oraganisasi perempuan
Islam tak mampu mengahalangi desakan KWI bagi monogami. KWI kian ke kiri
mengikuti politik Sukarno.
Dukungan Gerwani bagi PKI dan Sukarno disuburkan
oleh pengertian umum tentang kemajuan masyarakat sosialis yang telah dicapai
dalam hak-hak perempuan. Di Harian Rakyat
dan Api Kartini terdapat nota
optimisme :jika indonesia mencapai masyarakat sosialis sesunguhnya maka akan
ada undang-undang perkawinan demokratis, perempuan tak lagi akan didiskriminasi
dalam pekerjaan, tempat-tempat peneitipan anak akan dicukupi.berbagai delegasi
Gerwani ke kongres sosialis Internasioanal pulang kisah-kisah positif. Para
wakil gerwani di WIDF di berlin Timur, tidak memperdengarkan suara Kritis
apapun, padahal mereka mengenal lebih dekat sisitem sosialis di banding dengan
para pengunjung dari indonesia yang diantar melihat-lihat pabrik, rumah sakit
dan komune percontohan.
Menelisik tentang wacana Gerwani tentang moralitas
dan feminisme, konsep tentang naik dan buruk yang menagalai proses perubahan
serta pendapat mereka tentang seksualitas, kewanitaan dan keluarga bahagia.
Perspektif Gerwani tentang feminsime selalu memadukan unsur-unsur esensial dan
kontruktifis tetapi sumbangan relatif mereka selalu berubah-ubah. Sekalipun
Gerwani selalu menerima kodratnya sebgai perempuan secara alamiah, disisi lain
Gerwani mnyimpang dari dari pandangan tradisioanal keperempuan Indonesia sehingga membingungkan
golongan masyarakat Konservatif. Nilai-nilai Gerwani yang paling menarik bagi
keanggotanya adalah kemerdekaan, kerja
keras dan pengabdian kepada perjuangan. Gerwni menghendaki kaum perempuan harus
berdiri di atas kaki sendiri, memilih bekerjakeras daripada bersanatai
berselimut kemakmuaran tetapi
terkungkung.
Sejarah gerakan perempuan indonesia dalam beberapa
bagian mengungapkan suatu proses pembentukan ulang relasi gender . peneliti
buku ini tidak menerapkan konsep gender dalam konteks sebagaimna yang banyak
dilakuakan orang lain. misalnya penulis tidak mwmusatkan pada perubahan
pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Buku ini lebih mengarah pada
penelisikan terhadap perubahan rumusan tentang gender misalnya penjelasan tentang kodrati alam
perempuan dan bagamina hal tersebut tertanam melalui prose berbobot sosial,
budaya, dan politik. suatu kali perubahan ini hampir tidak terlihat , di waktu
lain proses perumusan ulang gender
berlangsung dengan kekerasan dan
dapat disertakan serangkaian manipulasi yang dilakukan secara sadar.
Kelebihan Buku
Buku ini
merupakan edisi populer berjudul Sexsual
Politics in Indonesia (200) dari tesis Saskia Eleonora Wieringa, the Politization of Gender Relations yang
diterjemahkan oleh Hursri Setiawan, Penghancuran Gearakan Permpuan di Indonesia
, Garba Budaya,1999. Buku tersebut sudah habis dipasaran, edisi populer ini
dilengkapi dengan data-data baru pasca jatuhnya rezim militer Orde Baru
Soeharto dengan berbagai kupasanya. Memberikan suatu pemahaman tentang banyak
perubahan sosial, budaya dan politik, yang di bingakai dalam seutu gerakan
perempuan atau feminsime. peneliti buku ini tidak menerapkan konsep gender
dalam konteks sebagaimna yang banyak dilakuakan orang lain. misalnya penulis
tidak memusatkan pada perubahan
pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan.
Dengan
uraian yang panjang banyak informasi yang disamapaikan penulis tetang sejarah
yang di sembunyikan atau fakta sejarah yang hilang.dikemas dengan bahasa yang baik, sangat menarik dan bagi
yang membaca tidak merasa boasan.
Kelemahan Buku
Dalam buku ini, sedikit membingungkan karena tidak berdasrkan
kronologi pemabahas dalam buka tidak berdasarkan runtutan waktu. Pada
bagian tertentu membahs masa Orde Baru di bagian itu juga membahas masa
kolonial. Dari penjelasan isi buku ini menjelaskan dengan detail sehingga
kurang fakus pada pembahasan.
Selain itu, tidak adanya
sumber gambar atau dokumen yang dicantumkan dalam buku. Sehingga, jika penulis
mencantumkan gambar mengenai dokumen atau peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
masa itu dapat membuat pembaca akan lebih mengetahui dan memahami peristiwa
tersebut. Dengan sumber wawancara penulis kurang begitu menjelaskan narasumeber
yang di ambildatanya. Di balik kekurangan ada
kelebihan.


No comments:
Post a Comment