About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Sunday, 3 May 2015

Penghancuran Gerakan Perempuan, Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI.

Identitas Mahasiswa
Nama
: BUDIONO
NIM
: 3101412098
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B
A.    Identitas Buku
Judul Buku          :            Penghancuran Gerakan Perempuan, Politik Seksual di  Indonesia Pascakejatuhan PKI.
Penulis Buku       : Siskia E. Wieringa
Penerbit               : Percetakan Galang Press (Aanggot IKAPI)
Kota Terbit          : Yogyakarta
Tahun Terbit        : Tahun 2010
Tebal Buku          : 150x230 Mm, 542 Halaman
ISBN                   :978-602-8174-38-1


B.     Book Report
Penghancuran Gerakan Perempuan, Politik Seksual Di Indonesia Pascakejatuhan PKI
   Buku ini merupakan edisi populer berjudul Sexsual Politics in Indonesia (200) dari tesis Saskia Eleonora Wieringa, the Politization of Gender Relations yang diterjemahkan oleh Hursri Setiawan, Penghancuran Gearakan Permpuan di Indonesia , Garba Budaya,1999. Buku tersebut sudah habis dipasaran, edisi populer ini dilengkapi dengan data-data baru pasca jatuhnya rezim militer Orde Baru Soeharto dengan berbagai kupasanya. Dalam penerjemahan kata wanitia digunakan bagi nama-nama oraganisai yang memang mengunkan kata tersebut. Selebihnya digunakan kata perempuan sesui semangat zaman. Perlu dicatat menyangkut G30S buku ini tidak melulu disuguhi versi militer Orde Baru Soharto. Sebagai yang ditunjukan buku ini dengan piawai para pembantu Soeharto menyusun dan melakukan fitnah terhadap gearakan kiri umumnya dan permpuan Gerwani Khususnya dalam analisis gender serta melestarikan selama rezim Orba, bahkan samapai saat ini. Dapat ditambahkan fitnah tersebut sekaligus mempercampur adukan berbagai hal sehingga membuat faktanya kabur.
Sejak Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, terutama pada periode sekitar tahun 1965-1966 manakala Orde Lama digantikan oleh Orde Baru Soeharto. Merka yang disiksa dan dikalahkan itu menjadi bagian dari Keluarga Komunis seperti Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Soehrto naik ke Tumpuk kekuasaan dengan mendalangi kampanye kekerasan yang tidak ada bandinganya. Tidak hanya kekerasan yang mernggut nyawa tetapi juga menyebarkan fitnah berupa tuduhan rekayasa tentang terjadinya pesta pora seksual yang dikatakan dilakukan oleh para naggota Gerwani. Rezim Orde Baru Soeharto tidak hanya di bangun di atas Timbunan mayat berjumlah kira-kira satu juta rakyat tidak berdosa yang di bantai selama bulan-bulan terakhir 1965 dan pemulaan 1966, tetapi juga dibangun di atas penindasan kekuatan kaum perempuan yang berhasil mereka perolehnya selam dekade  sebelumnya. Dalam karya buku ini memperlihatkan kekuatan Rezim Orba yang telah digambarkan musuh-musuh Gerwani melalui berbagai metofora seksual.  Metafora itu menghubungkan kegiatan politik permpuan dengan perilaku seksual abnormal dan moral jahat rendah yang mereka rekayasa. Ideologi militerisme presiden Soeharto terbiasa membayangkan nasionalisme Indonesia versi Orde Baru dibangun di seputar doktrinkeamanan nasional. Didalam doktrin tersebut terdapat bentuk-bentuk khusus yang bertujuan membangun hegemoni kejantanan dan kepermpuanan.
Samapai saat ini terakhir rezim Orde Baru berkuasa, gaung kampanye rekayasa yang menggembar-gemborkan bahwa kekuatan perempauan khususnya serta komunisme secara umumnya di cap memiliki perilaku seksual rendah dan jahat. Konotasi negatif itu terlanjur merasuk kedalam seluruh masyarakat Indonesia. organisasi feminisme seperti kalyanamitra dan soladaritas Permepuan yang muncul pada 1980-an terus-menerus di tuduh sebagai membangun Gerwani baru. sejak jatuhnya Presiden Soeharto  pada bulan Mei 1998, Indonesia berjuang mencari kesepakatan untuk menelisik kembali sejarah yang bersimbah darah. Berangsur-angsur mereka yang masih hidup , lolos dari pembunuuhan masal 1965-1966 menjadi lebih berani dan mualai angkat bicara.
Kaum feminisme harus memulihakan legitimasi kata feminisme dalam konteks Indonesia. Serangan yang dilakukan ketua Kowani federasi konservatif  pada mei 1999 menyebutkan bahwa organisasi feminisme harus hati-hati agar tidak dihubungkan dengan Gerwani yang seperti kita ketahui bersama bukan saja organisasi pelacuran tetapi juga melakukan lesbianisme tentunya menimbulakan keheranan.
Presiden Abdur Rahaman Wahid atau Gus Dur berusaha mengembalikan militer dalam tugas-tugas pertahanan serta menciptaan susasana agar hak-hak asasi manusia di hhormati. Meski demikian masih saja muncul perlawanan keras menentang politik Gus Dur yang menjujung pluralisme, bukan saja kelompok militer konservatif, tetapi juga dari kelompok masyarakat yang masih berada dalam cengkaraman bangunan Ideologi rezim Orde Baru dengan komunisto-phobia. Dalam periode ketika Indonesia  sedang mencari identitas baru berdasarkan demokrasi dan penghormatan hak asasi manusia, buku ini menyuguhkan adanya hambatan besar untuk diangkat  dalam farum diskusi. Sejarah Gerwani diputar balik oleh pihak Militer guna untuk menodai PKI dengan konotasi buruk kejahatan seksual yang belum pernah di kajia sebelumnya. Menemukan kembali elemen-elemen kritis dari gerakan perempuan Indonesa yang luas. Serta Presiden Soeharto membuka alternatif lain terhadap peristiwa 1965-1966 yang belum disimak.
Alam rentetan kejadian yang di jelaskan penulis Kudeta 1 Oktober 1965 merupakan kejadian penting yang akhirnya mengantarkan Soehato kekuasaan.Soeharto dengan grup kecil pendukungnya mengunakan kesempatan yang tersaji dengan sendirinya tanpa membuat perencanaan jauh sebelumnya. Kecerdikan Soeharto memanipulasi pendapat-pendapat umum dengan kebohongan-kebohongan  dengan mengkacaukan masyarakat. Dampak peneindasan pemerintah tidak hanya terbats para korban atau keluarga. Kampanye Soeharto sesudah Kudeta bukan hanya membasmi komunisme di Indonesia  samapai akar-akarnya, namun sekaligus juga membangkitkan kebencian massa terhadap politik Sukarno, dengan begitu presiden Sukarno harus turun. Kampanye ini juga dimaksudkan untuk menciptakan suasana  mental tertentu bagi pemebenaran Ideiologi Orde Baru yang di Usung Soeharto. Campur ideologi terdiri dari seruan stabilitas nasional dibawah  kekuasaan militer  yang memerlukan suatu politik seksual dengan kaum perempuan dalam subordinasi. Selanjutnya menyerahkan perkembangan pada dominasi elit laki-laki para manajer dan petinggi militer untuk menjarah kekayaan negri. Baru pada tahun 1998 geakan kaum perempuan dan mahasiswa cukup tangguh melawan Kleptokrasi dan membawa kejatuhan presiden Soeharto.
Dalam suatu hal fenomena ini merupakan refleksi Indonesia yang dikaitkan dengan penyebaran fantasi laki-laki akan ketakutan dan nafsu birahi seputar bayangan tentang vegina dentata. Hal ini pernah terjadi pada permulaan abad ke 20 dalam dunia barat. Pusat fantasi tentang tema degenerasi sosial, sebgai akibat menurunya kejantanan yang di sebabkan oleh kaum permpuan yang memangsa kaum laki-laki yang tidak berdosa. Kajian terhadap negara Orde Baru mengabaikan elemen-elemen kiasan seksual sebagai dasarkonfigurasi politik Indonesia saat ini. mebewa implikasi luas dengan melibatkan proses indoktrinasi terus-menerus terhadap seluruh bangsa. Rakyat dicuci otaknya mempercayai versi penguasa tentang masa lampau kolektif dan mencegah mereka mempertanyakan politik negara Orde Baru.
Terdapat penolokan terhadap pentingnya analisi gender dan politik seksual guna memahami sejarah Indonesia, bahkan berkenaan dengan kajian terhadap jatuhnya Soeharto.  Bukan saja masalah Gerwani yang telah diabaikan, tetapi pearan vital yang di mainkan oleh organisasi-organisasi perempuan dalam menjatuhkan soeharto juga diingkari. Kaum perempuan lebih dulu manju kedepan sebelum para Mahasiswa. demontrasi peertama mereka terhadap Soeharto dilakukan pada 23 Februari 1998 ketika mereka menuntut penyediaan bahan pangan yang mampu di beli. Sesudah itu organisasi-organisasi perempuan seperti Suara Ibu Peduli (SIP) berada didepan dalam koalisi anti-Soeharto.
Buku ini menyajikan sejarah yang selama Orde Baru disembunyikan dalam tiga tingkatan. Pertama memaparkan feminisme Indonesia dengan uraian tentang libih banyak momen radikal dan penuh keberanian yang di kenal daripada yang telah disajikan oleh para penulis samapai saat ini. kedua penyajian sejarah yang selama ini dilarang  yakni sejjarah Gerwani. Para anggota organisasi ini telah dibunuh , dipenjarakan atau harus diam membisu, dokumen-dokumennya di Indonesia telah dihancurkan. Beruntungnya sejumlah perpustakaan di Belanda dan AS menyimpan dokumen-dokumen sebagai sumber yang dapat digunakan merekonstruksi sejarah Gerwani. Ketiga dengan mempelajari peristiwa 1965-1966 berdasarkan ulasan gender masa itu dapat menyikap sejumlah aspek lahirnya Orde Baru yang selama ini di gelapkan oleh pihak militer atau di abaikan oleh para penulis sejarah indoneis modern. Kini genrasi baru kaum feminisme indonesia dengan aktif menyusun ulang relasi gender Indonesia,dengan demikian terbukalah perhatian lebih luas terhadap sejarah Gerwani.
Dalam bab 2 buku ini menggambarkan secara ringkas adanya tiga alur tempat gerakan perempuan indonesia dibangun: feminisme, sosialisme, dan nasionalisme.  Pada bab berikutnya yaitu bab 3 membahas tentang sejarah organiasi  perempuan indonesia samapi kemerdekaan. Dua bab selanjutnya membahas perkembangan politik negara Orde Lama dan gerakan perempuan pada masa itu. Yang pertama dari tiga bab tentang gerwani membahas sejarah umum serta sejumlah masalah organisasi.  Dua bab selanjutnya berturut-turut tentang politik dan ideologi gerwani. Pertanyaan yang mendaptkan sorotan dalam dua bab ini adalah adakah  bukti tuduhan yang di timpakan pada Gerwani pasca tragedi Oktober 1965? Apakah bukti itu dapat ditemukan dalam ideologi dan praktek Organisasi ? kesimpulan penulis mengenai masalah seksual, Gerwani dapat di pandang sebagai organisasi agak konservatif hal ini sesui sikap organisasi permpauan sosialis masa itu.
Berbagai tradisi intelektual mendapat serangan karena prasangka seksual mereka. Sedangkan kaitanya dengan marxisme, konsep-konsep feminisme dirumuskan kembal. Tidak di pungkiri  banyak lubang dalam marxisme yang ditambal. Para sejarawan dan antropolog  feminisme menemukan dunia perempuan baru yang menajubkan dimna kegiatan politik perempuan serta gerakan mereka mendapatkan perhatian lebih besar. Pembahasan yang disajikan dalam bab 8 tentang kudeta Oktober 1965 serta kampanye yang mengikutinya di pandang sebagai pemulaan kudeta perlahan-lahan. Disitu ditunjukan sebuah embahasan gender ketika sebagian besar periode sejarah modern indonesia telah melukiskan dimensi krusial yang begitu jauh, mengenai gerakan perempuan. Analisisi mengenai politik seksual yang mendasari penumbangan Presiden Sukarno serta lahirnya Orde baru akan membantu mereka yang membantu bertahan hidup pada pristiwa 1965-1966 serta generasi menjadi korban penghancuran moral dan idiologi masyarakat Orde baru menyepakati versi meliter.
Cara indonesia dalam merebut kekuasan negara secara fundamental mengubah hubungan politik antara perempuan dan laki-laki. Kaum perempuan kini harus mempertahankan kepentingan mereka bersaing dengan para politisi laki-laki Indoenesia dan bukannya menghadapi penguasa kolonial. Perempuan dimata laki-lak menjadi pesaing di takuti karena mereka mampu memimpin rakyat umum sepertihalnya mampu memimpin rumah tangga. Perjuangan bagi undang-undang perkawinan membawa kepentingan gender yang semasa perang di tentang dan ditekan sekarang mulai terbuka. Selama perjuangan antikolonialisme kaumperempuan juga menjadi pelaku yang vokal di arena politik sekaligus menjadi ibu dan istri yang baik (bagi rakay dan bangsa). Dalam kenyataan dua tugas tersebut menyatu karena permpuan perlu memainkan peranya dalam kancah politik agar dapat menjadi pelaku. Ketika musuh bersama sudah enyah, kaum laki-laki menyatakan wilayah politik sebagai miliknya dan wilayah sosial sebagai wiilayah perempuan. Perbedaan di kalangan gerakan perempuan sendiri menjadi meningkat setelah terciptanya kemerdekaan. Gerakann perempuan masa Orede Lama menjadi lebih berbeda-beda, secara internal pun menjadi beragam. Senyap perempuan dalam partai-partai politik yang dipimpin kaum laki-laki muncul utamnya pada masa sekitar pemilihan umum1955 banyak orgaisasi permpuan  (kecuali perwari yang selalu menjauh dari partai politik) lebih kerjasama dengan partai politik daripada dengan sesama organisasi perempuan lainya.
Kembalinya PKI secra mengenaskan setelah pristiwa madiun berkat upaya aejumlah nasionalis muda disekitar Aidit yang telah mengambil alih kepemimpinan pada 1951. Mereka menjadikan partai menjadi lemah terpecah dan organisasi yang kurang semanagat menjadi paratai dinamis yang tumbuh dengan cepat dengan gerakan kuat. Meskipun pemberotakan PRRI/Permesta tidak sampai membahasyakan kekuasaan pemerintahan pusat dan prsiden, hal itu memberi akibat politik penting. Kekuatan komando militer pusat jauh lebih mapan. Masyumi yang mendukung kaum pemberontak menjadi rusak dan turun martabatnya dimikian halnya PSI yang salah seorang pemimpinya bergabung dengan PRRI. Di pihal lain PKI mendaptkan kesempatan untuk membuktiakan cap  anti-nasionali yang diwariskan Madiun adalah tidak benar-benar dan memnetapkan diri sebagai kampiun integritas nasional.
Manifesto politik (manipol) pidato presiden Soekarnopada hari kemerdekaan  1959, dijadikan dasar ideologi demokrasi  terpimpin. Tuntutan rakyat harus di penuhi secara menyeluruh  dengan cara revolusioner, dengan bahasa lebih sederhana pemerintah memberi prioritas pada pangan dan sandang bagi rakayat, keamanan dalam negeri dan di lanjutkan melawan imperalisme dan dalam jangka panjang membangun masyarakat adil dan makmur. Guna melaksanakan program ini sukarno mengajak rakyat membangun sepenuhnya sistem liberalisme dan menggantikanya dengan demokrasi Terpimpin dan ekonomo Terpimpin, mencoba aparat  lama yang efisien  dan retoll badan eksekutif dan legislatif, alat-alat kekuasaan, produksi distribusi, dan organisasi-oraganisasi di masyarakat. Konfigurasi politik tahun-tahun orde lama diwarnai dengan oeleh kampanye anti imperalisme dalam hubungan dengan irian barat dan malaisia serta meningkatkan ketegangan antar AD dan PKI serta golongan Islam dan PKI. Sukarno merumuskan dua akronim Trikora dan Dwikora. Tri komando rakayat kampanye yang ditunjukan dalam perebutan Irian barat dengan meninggalkan pembentukan negara boneka Belanda di situ, mengibarkan bendera sang merah putih serta mempersiapkan mobilisasi umum. Dwi komando rakyat dalam rangka kronforntasi terhadap malaysia untuk menghancurkab serta mengatasi masalah ekonomi. Kedua selogan ini menyeruak begitu hebatnya.
Meningkatnya pengaruh Gerwani dapat dilihat dengan jelas pada kongres KWI 1961 ketika itu Presiden Soekarno menasehati KWI yang menjadi ndara putri dan lamban. KWI harus berkerja sama dalam upaya membangun masyarakat adil dan makmur. Kongres menyetujui berlakunya setruktur baru dengan mengantikan sekretariat dengan dewan eksekutif, mengantikan sistem konsensus dengan mayoritas sederhana. Dengan demikian kelompok oraganisasi perempuan Islam tak mampu mengahalangi desakan KWI bagi monogami. KWI kian ke kiri mengikuti politik Sukarno.
Dukungan Gerwani bagi PKI dan Sukarno disuburkan oleh pengertian umum tentang kemajuan masyarakat sosialis yang telah dicapai dalam hak-hak perempuan. Di Harian Rakyat dan Api Kartini terdapat nota optimisme :jika indonesia mencapai masyarakat sosialis sesunguhnya maka akan ada undang-undang perkawinan demokratis, perempuan tak lagi akan didiskriminasi dalam pekerjaan, tempat-tempat peneitipan anak akan dicukupi.berbagai delegasi Gerwani ke kongres sosialis Internasioanal pulang kisah-kisah positif. Para wakil gerwani di WIDF di berlin Timur, tidak memperdengarkan suara Kritis apapun, padahal mereka mengenal lebih dekat sisitem sosialis di banding dengan para pengunjung dari indonesia yang diantar melihat-lihat pabrik, rumah sakit dan komune percontohan.
Menelisik tentang wacana Gerwani tentang moralitas dan feminisme, konsep tentang naik dan buruk yang menagalai proses perubahan serta pendapat mereka tentang seksualitas, kewanitaan dan keluarga bahagia. Perspektif Gerwani tentang feminsime selalu memadukan unsur-unsur esensial dan kontruktifis tetapi sumbangan relatif mereka selalu berubah-ubah. Sekalipun Gerwani selalu menerima kodratnya sebgai perempuan secara alamiah, disisi lain Gerwani mnyimpang dari dari pandangan tradisioanal  keperempuan Indonesia sehingga membingungkan golongan masyarakat Konservatif. Nilai-nilai Gerwani yang paling menarik bagi keanggotanya adalah  kemerdekaan, kerja keras dan pengabdian kepada perjuangan. Gerwni menghendaki kaum perempuan harus berdiri di atas kaki sendiri, memilih bekerjakeras daripada bersanatai berselimut kemakmuaran  tetapi terkungkung.
Sejarah gerakan perempuan indonesia dalam beberapa bagian mengungapkan suatu proses pembentukan ulang relasi gender . peneliti buku ini tidak menerapkan konsep gender dalam konteks sebagaimna yang banyak dilakuakan orang lain. misalnya penulis tidak mwmusatkan pada perubahan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Buku ini lebih mengarah pada penelisikan terhadap perubahan rumusan tentang gender  misalnya penjelasan tentang kodrati alam perempuan dan bagamina hal tersebut tertanam melalui prose berbobot sosial, budaya, dan politik. suatu kali perubahan ini hampir tidak terlihat , di waktu lain proses perumusan ulang gender  berlangsung dengan kekerasan  dan dapat disertakan serangkaian manipulasi yang dilakukan secara sadar.

Kelebihan Buku
Buku ini merupakan edisi populer berjudul Sexsual Politics in Indonesia (200) dari tesis Saskia Eleonora Wieringa, the Politization of Gender Relations yang diterjemahkan oleh Hursri Setiawan, Penghancuran Gearakan Permpuan di Indonesia , Garba Budaya,1999. Buku tersebut sudah habis dipasaran, edisi populer ini dilengkapi dengan data-data baru pasca jatuhnya rezim militer Orde Baru Soeharto dengan berbagai kupasanya. Memberikan suatu pemahaman tentang banyak perubahan sosial, budaya dan politik, yang di bingakai dalam seutu gerakan perempuan atau feminsime. peneliti buku ini tidak menerapkan konsep gender dalam konteks sebagaimna yang banyak dilakuakan orang lain. misalnya penulis tidak memusatkan pada perubahan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan.
Dengan uraian yang panjang banyak informasi yang disamapaikan penulis tetang sejarah yang di sembunyikan atau fakta sejarah yang hilang.dikemas dengan bahasa yang baik, sangat menarik dan bagi yang membaca tidak merasa boasan.
Kelemahan Buku
Dalam buku ini, sedikit  membingungkan karena tidak berdasrkan kronologi pemabahas dalam buka tidak berdasarkan runtutan waktu. Pada bagian tertentu membahs masa Orde Baru di bagian itu juga membahas masa kolonial. Dari penjelasan isi buku ini menjelaskan dengan detail sehingga kurang fakus pada pembahasan.
Selain itu, tidak adanya sumber gambar atau dokumen yang dicantumkan dalam buku. Sehingga, jika penulis mencantumkan gambar mengenai dokumen atau peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu dapat membuat pembaca akan lebih mengetahui dan memahami peristiwa tersebut. Dengan sumber wawancara penulis kurang begitu menjelaskan narasumeber yang di ambildatanya. Di balik kekurangan ada kelebihan.


No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...