About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Sunday, 3 May 2015

Membongkar Supersemar Dari CIA Hingga Kudeta Merangkak Melawan Bung Karno

 



Identitas Mahasiswa
Nama
: MUHAMMAD KHOIRUL AMRI
NIM
: 3101412099
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B



A.    Identitas Buku
Judul Buku          : Membongkar Supersemar Dari CIA Hingga Kudeta Merangkak Melawan Bung Karno
Penulis                 : Baskara T. Wardaya, SJ
Kota Terbit          : Yogyakarta
Penerbit               : Galang Press
Tahun Terbit        : 2009
Tebal Buku          : 358 Halaman

B.     Identitas Penulis
Baskara T Wardaya, SJ lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara tahun 1986 dan belajar di Marquette University, Milwauke, Wiskonsin AS dari tahun 1993-2001. Dari Universitas tersebut ia memperoleh gelar Master (1995) dan Doktor (2001), keduanya di bidang Sejarah. Kini ia mengajar dan bertugas sebagai direktur Pasca-Sarjana di Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Selain mengajar Pasca-Sarjana di Universitas Gadjah Mada dan menjadi konsultan untuk Jesuit Refugee Service (JRS) Asia-Pasifik di Bangkok, ia juga bekerja sebagai Direktur PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) USD. Tahun 2004-2005 ia menerima Beasiswa Fulbright untuk program post-doctoral guna melakukan penelitian sejarah di AS.
Sedangkan karya-karya tulisannya antara lain sebagai berikut :
a.    Indonesia dan Masalah-masalah Pembangunan (Jakarta: 1986)
b.    Riset Partisipatoris, Riset Pembebasan (Jakarta: 1990)
c.    Spiritualitas Pembebasan (Yogyakarta: 1995)
d.   Mencari Demokrasi (Jakarta: 1999)
e.    Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah (Jakarta:2001)
f.     Marx Muda: Marxisme Berwajah Manusiawi (Yogyakarta: 2003)
g.    Pembebasan Manusia (Yogyakarta: 2004)
h.    Bung Karno Menggugat (Yogyakarta: 2006)
i.      Soeharto Sehat (Yogyakarta: 2006)
j.      Chicago Chicago: Cinta, Politik dan Kekuasaan di Negeri Paman Sam (Yogyakarta:2006)
k.    Cold War Shadow: United States Policy Toward Indonesia 1953-1963 (Yogyakarta: 2007)
l.      Sejarah yang Memihak (Yogyakarta: 2008)
m.  Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 (Yogyakarta: 2008)
n.    Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno (Yogyakarta: 2008)

C.    Sinopsis Buku
Sejarah menurut EH. Carr adalah suatu interaksi berkesinambungan antara sejarawan dengan fakta masa lampau yang dimilikinya. Dengan demikian sejarah merupakan semacam proses dialog terus menerus antara sejarawan atau peminat sejarah yang hidup pada masa kini dengan peristiwa atau pelaku-pelaku peristiwa di masa lampau. Memahami sejarah dengan cara demikian kiranya akan membantu kita untuk lebih bersemangat lagi dalam meneliti dan mengkaji masa lalu kita, entah sebagai indiidu atau sebagai bagian dari bangsa secara keseluruhan. Bertolak dari gagasan tersebut kita menjadi tertarik untuk mengadakan dialog senacam itu dengan berbagai peristiwa penting dari masa yang telah lewat, termasuk diantaranya peristiwa lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966 atau yang lebih dikenal dengan Supersemar. Supersemar menjadi penting karena kelahirannya telah menjadi tanda arus balik berbagai kebijakan dalam negeri maupun luar negeri. Supersemar , misalnya menandai sebagai bentuk merosotnya kekuasaan kepemimpinan Sukarno dan makin naiknya pamor seorang jenderal yang bernama Jend. Suharto yang kemudian menjadi presiden Indonesia. Bersamaan dengan itu terjadi pula arus balik perpolitikan Indonesia dari sipil ke militer, dari berorientasi kiri kehaluan kanan, dari arah kerakyatan menjadi berkiblat ke elit politik, dari anti- nekolim menjadi pro-modal asing. Setiap tahun, khususnya bulan maret, orang-orang selalu bicara dengan yang namanya Supersemar. Pada tanggal 11 maret 1966 di istana Bogor, Bung Karno sebagai presiden sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Pemimpin Bessar Revolusi dan Mandataris MPRS menandatangani sebuah surat perintah harian yang menugaskan Letnan Jendral Suharto untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dengan maksud terjaminya keamanan dan kestabilan serta kenyamanan jalanya pemerintahan dan jalanya Revolusi. Tidak lama setelah ditandatangani oleh Bung Karno dan kemudin diterima oleh Suharto, iklim politik Indonesia berubah menjadi drastis. Kurang dari dua empat jam setelah ditandatangani surat tersebut, suharto langsung membubarkan sebuah partai politi di Indonesia yakni Partai Komunis Indonesia (PKI). Selanjutnya mengatur keanggotaan partai, menangkap belasan menteri, menyingkirkan oran-orang yang pro dengan Bung Karno, untuk akhinya nanti bahkan mendongkel sang penandatangan surat itu sendiri yakni Sukarno sebagai presiden Indonesia. Kesadaran akan tragisnya sisi itu akan semakin dalam jika kita mengingat lahirnya Supersemar yang di dahului dengan peristiws banjir darah, sekitar setengah juta rakyat Indonesia yang tewas di tangan sesama warga Indonesia. Dalam pembantaian masal yang berlangsung antara pekan ketiga bulan oktober hingga bulan desember 1965 dan setelahnya, berbagai kekuatan sipil dan militer saling menopang untuk mengahabisi hidup sekian banyak orang tanpa adanya proses pengadilan. Sebenarnya garis besar dari apa yang berlangsung pada hari jumat 11 maret 1966 itu telah secara umum diketahui. Pagi itu, istana Merdeka Bung Karno memimpin sidang Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan. Ketika Bung Karno sedang berbicara, Brigadir Jendral M. Sabur, Komandan Resimen Cakrabirawa masuk ruang sidang ingin mrmberitahu Brigjend, Amir Machmud yang juga hadir pada saat itu, bahwa diluar sedang ada sejumlah pasukan tak dikenal dan ini menimbulkan kekhawatiran. Berhubung Brigjend. Sabur tidak berhasil meminta Brigjend. Amir machmud untuk keluar, ia lalu menyampaikan nota kepada Bung Karno memberitahukan tentang pasukan tak dikenal tersebut. Bung Karno kelihatan menjadi gugup sehingga kemudian menyerahkan pimpinan sidang ke Waperdam II Leimena, sedang ia sendiri bersama dokter Subandrio bergegas meningggalkan Istana. Keduanya segera naik helikopter menuju istana Bogor.
Tak lama setelah mendengar berita tentang apa yang terjadi di istanan itu, Suharto satu-satunya menteri yang tidak hadir dalam sidang kabinet tersebut dengan alasan “sakit” mengutus tiga orang yakni, Brigjend. M.Yusuf, Brigjend. Basuki Rachmat dan Brigjend. Amri Machmud untuk menyusul Bung Karno ke Bogor. Pertemuan antara ketiga Jendral tersebut berakhir dengan ditandatanganinya surat perinta harian, yakni Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), dengan segala kelanjutan dan konsekuensi politis yang telah kita sebut di atas tadi. Dilihat dari demikian, kronologi lahirnya Supersemar menjadi tampak jelas dan gagasanya menjadi mudah diikuti. Namun demikian, kalau dicermati secara lebih jauh, ternyata ada sejumlah pertanyaan yang masuh perlu dicari jawabanya sehingga kita semua dapat mengerti dan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada surat perintah 11 maret tersebut. Dalam sidang umum MPRS, tepatnya pada tanggal 5 juli 1966 dikeluarkanlah ketetapan MPRS No. XV/MPRS/1966 yang berisi antara lain:
a).  Penetapan tidak perlunya wakil presiden.
b). Apabila presiden berhalangan, pemegang SP 11 Maret 1966 memegang jabatan sebagai  Presiden.
Sebagaimana telah ditunjukan oleh Dr. Asvi Warman Adam. Ketetapan itu dengan jelas melanggar UUD 1945. Karena didalam UUD 1945 di tetapkannya adanya jabatan wakil presiden, dan waktu itu UUD 1945 belum di amandemen. Dengan demikian sebenarnya TAP tersebut adalah inkonstitusional. Namun tampaknya hal itu dibutuhkan, supaya kalu presiden Sukarno berhalangan, bukan seorang wakil presiden yang menggantikannya melainkan pemegang supersemar yang tidak lain adalah Suharto sendiri. Tap MPRS semacam itu tentu tidak akan sulit di dapat, mengingat bahwa komposisi keanggotaan MPRS sudah diatur sedemikian rupa sehingga menguntungkan si pemegang Supersemar.
   Hasil dari sidang MPRS yang di puja-puja itu kebanyakan seperti yang sudah diperkirakan, walaupun Sukarno sekali lagi masih bisa menghndari perangkap-perangkap dari sekelompok orang yang ingin menyingkirkannya  dari kekuasaan. Kedutaan besar kita memandang keputusan-keputusan yang diambil oleh MPRS sebagai langkah penting dalam perjuangan panjang untuk melakukan de-Sukarnoisasi, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa meskipun sudah tidak ada lagi kesempatan untuk manuver politik lagi, Sukarno masih akan tetap menggunakan sisa-sisa kekuatan politiknya. Ditekankan kembali dalam dokumen CIA 23 JULI 1966 ini bahwa sejak terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965 militer bermaksud untuk secara bertahap untuk membatasi kekuasaan dan pengaruh Sukarno. Di mata Amerika apa yang terjadi pada tanggal 11 maret 1966 yakni ditandatanganinya surat 11 maret merupakan puncak dari upaya itu. Dikatakan pula bahwa pada waktu itu, Sukarno dengan setengah hati dan dibawah tekanan militer, memberikan suatu kekuasaan seperti eksekutif kepada Suharto. Kekuasaan itulah yang kemudian dipakai oleh Suharto untuk mengabil banyak keputusan dan tindakan dengan atas nama presiden dan atas nama kepentingan nasional. Selanjutnya melalui sidang MPRS tanggal 21 juni 1966 ia berhasil mengusahakan supaya supersemar disahkan oleh lembaga tinggi negara sehingga tidak dapat diubah lagi bahkan oleh pemberinya. Ironisnya Amerika melihat bahwa kelompok militer yang kelak akan menggantikan kekuasaan Bung Karno ini juga tampaknya akan mempraktekan sistem “demokrasi terpimpin” mirip Bung Karno dulu walupun mungkin orientasinya berbeda. Maksut utama dari dokumen ini adalah memberikan gambaran sungkat mengenai berbagai kelompok atau kekuatan politik yang ada di Indonesia waktu itu. Menarik bahwa dalam penjelasan mengenai terbentuknya kelompok sosialis pancasila, dokumen ini menekankan adanya kaitan antara kelompok tersebut dengan Tap MPRS no XXV/1966.
 Ada dua hal yang mendominasi perhatian Washington berkaitan dengan Indonesia pada awal agustus 1966. Yang pertama adalah masalah bagaimana membantu pemulihan ekonomi Indonesia dan yang kedua menyangkut masalah sejauh mana keberhasilan upaya de-Sukarnoisasi. Terhadap ang pertama jawaban Amerika adalah bahwa pemulihan ekonomi tersebut akan bisa terjadi kalau terjalin kerjasama multilateral negara-negara blok barat untuk membantu Indonesia. Dalam hal ini tampaknya Amerika masih ingin mengambil posisi yang tidak terlalu mencolok. Terhadap masalah kedua dkatakan bahwa kemungkinan bangkitnya kembali Sukarnoisme memang masih ada , namun kemungkinan tersebut amat kecil. Menurut Menlu AS Dean Rusk, kalu sampai Sukarnoisme bangkit kembali akan ada banyak kalangan militer yang terkena imbasnya atau bahkan terancam hidupnya. Oleh karena itu menurut militer akan memastikan bahwa Sukarnoisme tidak akan pernah bangkit lagi. Pada paro kedua bulan Agustus itu perhatian Amerika terhadap indonesia bergeser ke arah masalah hubungan Indonesia- Malaysia, menyusul diakhirinya dengan konfrontasi antara kedua negara sevara resmi pada tanggal 11 agustus 1966. Semboyan “Ganyang Malaysia” yang dulu amat populer pada masa konfrontasi kini akan segera berlalu. Pada satu sisi Amerika senang bahwa konfrontasi telah berakhir. Bagi Amerika berakhirnya konfrontasi berarti tanda yang jelas bagi suksesnya Supersemar dan makin minimnnya pengaruh Sukarno beserta pendukung kirinya. Namun demikian, pada sisi lain Amerika juga sadar bahwa dengan berakhirnya konfrontasi akan ada masalah-masalah lain yang akan timbul, dari masalah merosotnya pengaruh Inggris terhadap wilayah bekas jajahannya di Asia Tenggara hingga masalah akan terus tingginya ambisi Indonesia untuk mendominasi wilayah-wilayah sekitarnya. Amerika membutuhkan sikap tertentu guna mengantisipasi kemungkinan munculnya masalah-masalah baru tersebut. Pada tanggal 4 agustus 1966 di Washington berlangsung rapat National Security Council (NSC) guna membahas perkembangan terakhir di indonesia. Rapat tersebut dihadiri oleh presiden Johnson, Menlu Dean Rusk, serta sejumlah pejabat lain di sekitar dari lingkungan gedung putih. Departemen luar negeri dan NSC sebagaimana bisa dilihat dari catatan rapat tersebut oleh W.J Jorden di bawah ini, pembicaraan berkisar pada masalah pentingnya memberikan bantuan ekonomi kepada Indonesia untuk bisa bangkit kembali, dan pada bagaimana bantuan tersebut harus disampaikan. Para peserta rapat menekankan perlunya memberika bantuan melalui kerja sama multilateral, artinya bekerjasama dengan negara lain dalam upaya membantu mengumpulkan dam menyalurkan nbantuan ke Indonesia. Dalam rapat itu Presiden Johnson sempat bertanya mengenai seberapa besar kemungkinan Bung Karno dan kawan-kawan bangkit dan berkuasa kembali. Menlu Rusk mengatakan bahwa kalau sampai Bung Karno bangkit lagi banyak orang kalangan militer yang akan terancan hidupnya. Oleh karena itu menurutnya militer akan berusaha mati-matian ntuk mencegah bangkitnya kembali Sukarnoisme. Dalam memorandum untuk direktur CIA tertanggal 6 september 1966 di bawah ini dilaporkan bahwa militer Indonesia mengadakan rapat. Meskipun dijadwalkan untuk selesai siang, rapat itu molor hingga pukul 02.00 dinihari. Hal ini menunjukan betapa seriusnya rapat tersebut. Dalam rapat tersebut dibicaraka perlu tidaknya Jendral Suharto menyampaikan ancaman terselubung terhadap Bung Karno, jika Bung Karno terus menerus melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehendak rakyat. Sebagaimana bisa dilihat begitu sensitifnya dokumen ini sehingga banyak bagian yang belum di deklarasikan alias masih di rahasiakan.  
Setelah tadi berusaha untuk saedapat mungkin membongkar dan menyimak kembali supersemar dengan melihat konteks dan dampaknya, kini kita akan mengulas mengenai apasaja peristiwa yang terjadi disekitar waktu tersebut. Misalnya pada bulan Oktober 1966 mantan Menlu. Subandrio dijatuhi hukuman mati (meskipun nantinya hukuman ini diubah menjadi hukuman seumur hidup). Namun demikian ini merupakan pukulan yang sangat telak bagi Sukarno, karena Subandrio merupakan orang kepercayaannya Sukarno. Supersemar menjadi senjata ampuh bagi Suharto untuk menggulingkan Sukarno dalam tampuk kekuasaan presiden. Dan pada akhirnya Suharto menamai masa kekuasaannya dengan orde baru yang secara langsung telah mendiskreditkan kekuasaan Sukarno sebagai masa orde lama. Dalam masa orde baru inilah Suharto mengalami puncak karir dan dimana peran militerisasi menjadi sangat dominan dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Peran dominan ini diperankan oleh angkatan darat sebagai kekuatan baru yang memegang peranan penting di Indonesia.
D.    Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan dari buku ini adalah bahwa buku ini menjelaskan isi materi secara runtut dan kronologis mengenai isi materi. Buku ini sangat jelas dalam menyampaikan materi, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti serta gaya bahasa yang luwes yang menjadikan para pembaca akan mudah dalam memahami isi materi yang disampaikan. Buku ini juga didukung dengan adanya foto-foto bukti perjanjian sehingga keabsahan dokumen dapat dipertanggungjawabkan.  
Namun dari adanya kelebihan buku seperti yang sudah saya jelaskan di atas, buku ini juga tidak luput dari adanya kekurangan. Kekurangan dari buku ini adalah terdapat beberapa alur cerita yang tidak padu sehingga pembaca harus membaca dua kali agar dapat memahami apa yang dimaksud dalam alur cerita tersebut.

E.     Kritik dan Saran
Setelah membaca buku ini kritik yang saya berikan kepada buku ini adalah bahwa dibuat catatan kakinya sehingga akan lebih memperjelas bagi para pembaca. Kemudian perbanyak halaman yang menjelaskan mengenai sumber-sumber otentik baik perjanjian maupun foto dokumen rapat-rapat penting

Saran yang saya sampaikan adalah perbanyak buku ini sehingga bisa menjadi referensi bacaan kalangan umum karena buku ini sangat bagus dalam mejelaskan sejarah supersemar dan perubahan konstelasi politik yang terjadi pada saat itu. 

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...