|
Identitas Mahasiswa
|
||||
|
Nama
|
: MUHAMMAD KHOIRUL AMRI
|
||||
|
NIM
|
: 3101412099
|
||||
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
||||
|
Rombel
|
: 5B
|
||||
A.
Identitas
Buku
Judul
Buku : Membongkar Supersemar Dari CIA
Hingga Kudeta Merangkak Melawan Bung Karno
Penulis : Baskara T. Wardaya, SJ
Kota
Terbit : Yogyakarta
Penerbit : Galang Press
Tahun
Terbit : 2009
Tebal
Buku : 358 Halaman
B.
Identitas
Penulis
Baskara
T Wardaya, SJ lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara tahun 1986
dan belajar di Marquette University, Milwauke, Wiskonsin AS dari tahun
1993-2001. Dari Universitas tersebut ia memperoleh gelar Master (1995) dan
Doktor (2001), keduanya di bidang Sejarah. Kini ia mengajar dan bertugas
sebagai direktur Pasca-Sarjana di Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta.
Selain mengajar Pasca-Sarjana di Universitas Gadjah Mada dan menjadi konsultan
untuk Jesuit Refugee Service (JRS) Asia-Pasifik di Bangkok, ia juga bekerja
sebagai Direktur PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) USD. Tahun 2004-2005
ia menerima Beasiswa Fulbright untuk program post-doctoral guna melakukan penelitian sejarah di AS.
Sedangkan
karya-karya tulisannya antara lain sebagai berikut :
a. Indonesia
dan Masalah-masalah Pembangunan (Jakarta: 1986)
b. Riset
Partisipatoris, Riset Pembebasan (Jakarta: 1990)
c. Spiritualitas
Pembebasan (Yogyakarta: 1995)
d. Mencari
Demokrasi (Jakarta: 1999)
e. Menuju
Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah (Jakarta:2001)
f. Marx
Muda: Marxisme Berwajah Manusiawi (Yogyakarta: 2003)
g. Pembebasan
Manusia (Yogyakarta: 2004)
h. Bung
Karno Menggugat (Yogyakarta: 2006)
i. Soeharto
Sehat (Yogyakarta: 2006)
j. Chicago
Chicago: Cinta, Politik dan Kekuasaan di Negeri Paman Sam (Yogyakarta:2006)
k. Cold
War Shadow: United States Policy Toward Indonesia 1953-1963 (Yogyakarta: 2007)
l. Sejarah
yang Memihak (Yogyakarta: 2008)
m. Indonesia
Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 (Yogyakarta: 2008)
n. Mencari
Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno (Yogyakarta: 2008)
C.
Sinopsis Buku
Sejarah
menurut EH. Carr adalah suatu interaksi
berkesinambungan antara sejarawan dengan fakta masa lampau yang dimilikinya.
Dengan demikian sejarah merupakan semacam proses dialog terus menerus antara
sejarawan atau peminat sejarah yang hidup pada masa kini dengan peristiwa atau
pelaku-pelaku peristiwa di masa lampau. Memahami sejarah dengan cara demikian
kiranya akan membantu kita untuk lebih bersemangat lagi dalam meneliti dan
mengkaji masa lalu kita, entah sebagai indiidu atau sebagai bagian dari bangsa
secara keseluruhan. Bertolak dari gagasan tersebut kita menjadi tertarik untuk
mengadakan dialog senacam itu dengan berbagai peristiwa penting dari masa yang
telah lewat, termasuk diantaranya peristiwa lahirnya Surat Perintah 11 Maret
1966 atau yang lebih dikenal dengan Supersemar. Supersemar menjadi penting
karena kelahirannya telah menjadi tanda arus balik berbagai kebijakan dalam
negeri maupun luar negeri. Supersemar , misalnya menandai sebagai bentuk
merosotnya kekuasaan kepemimpinan Sukarno dan makin naiknya pamor seorang
jenderal yang bernama Jend. Suharto yang kemudian menjadi presiden Indonesia.
Bersamaan dengan itu terjadi pula arus balik perpolitikan Indonesia dari sipil
ke militer, dari berorientasi kiri kehaluan kanan, dari arah kerakyatan menjadi
berkiblat ke elit politik, dari anti- nekolim menjadi pro-modal asing. Setiap
tahun, khususnya bulan maret, orang-orang selalu bicara dengan yang namanya
Supersemar. Pada tanggal 11 maret 1966 di istana Bogor, Bung Karno sebagai
presiden sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Pemimpin Bessar
Revolusi dan Mandataris MPRS menandatangani sebuah surat perintah harian yang
menugaskan Letnan Jendral Suharto untuk mengambil segala tindakan yang dianggap
perlu dengan maksud terjaminya keamanan dan kestabilan serta kenyamanan jalanya
pemerintahan dan jalanya Revolusi. Tidak lama setelah ditandatangani oleh Bung
Karno dan kemudin diterima oleh Suharto, iklim politik Indonesia berubah
menjadi drastis. Kurang dari dua empat jam setelah ditandatangani surat
tersebut, suharto langsung membubarkan sebuah partai politi di Indonesia yakni
Partai Komunis Indonesia (PKI). Selanjutnya mengatur keanggotaan partai,
menangkap belasan menteri, menyingkirkan oran-orang yang pro dengan Bung Karno,
untuk akhinya nanti bahkan mendongkel sang penandatangan surat itu sendiri
yakni Sukarno sebagai presiden Indonesia. Kesadaran akan tragisnya sisi itu
akan semakin dalam jika kita mengingat lahirnya Supersemar yang di dahului
dengan peristiws banjir darah, sekitar setengah juta rakyat Indonesia yang
tewas di tangan sesama warga Indonesia. Dalam pembantaian masal yang
berlangsung antara pekan ketiga bulan oktober hingga bulan desember 1965 dan
setelahnya, berbagai kekuatan sipil dan militer saling menopang untuk
mengahabisi hidup sekian banyak orang tanpa adanya proses pengadilan.
Sebenarnya garis besar dari apa yang berlangsung pada hari jumat 11 maret 1966
itu telah secara umum diketahui. Pagi itu, istana Merdeka Bung Karno memimpin
sidang Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan. Ketika Bung Karno sedang berbicara,
Brigadir Jendral M. Sabur, Komandan Resimen Cakrabirawa masuk ruang sidang
ingin mrmberitahu Brigjend, Amir Machmud yang juga hadir pada saat itu, bahwa
diluar sedang ada sejumlah pasukan tak dikenal dan ini menimbulkan
kekhawatiran. Berhubung Brigjend. Sabur tidak berhasil meminta Brigjend. Amir
machmud untuk keluar, ia lalu menyampaikan nota kepada Bung Karno
memberitahukan tentang pasukan tak dikenal tersebut. Bung Karno kelihatan
menjadi gugup sehingga kemudian menyerahkan pimpinan sidang ke Waperdam II
Leimena, sedang ia sendiri bersama dokter Subandrio bergegas meningggalkan
Istana. Keduanya segera naik helikopter menuju istana Bogor.
Tak lama setelah mendengar berita
tentang apa yang terjadi di istanan itu, Suharto satu-satunya menteri yang
tidak hadir dalam sidang kabinet tersebut dengan alasan “sakit” mengutus tiga
orang yakni, Brigjend. M.Yusuf, Brigjend. Basuki Rachmat dan Brigjend. Amri
Machmud untuk menyusul Bung Karno ke Bogor. Pertemuan antara ketiga Jendral
tersebut berakhir dengan ditandatanganinya surat perinta harian, yakni Surat
Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), dengan segala kelanjutan dan konsekuensi
politis yang telah kita sebut di atas tadi. Dilihat dari demikian, kronologi
lahirnya Supersemar menjadi tampak jelas dan gagasanya menjadi mudah diikuti.
Namun demikian, kalau dicermati secara lebih jauh, ternyata ada sejumlah
pertanyaan yang masuh perlu dicari jawabanya sehingga kita semua dapat mengerti
dan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada surat perintah 11 maret tersebut.
Dalam sidang umum MPRS, tepatnya pada tanggal 5 juli 1966 dikeluarkanlah
ketetapan MPRS No. XV/MPRS/1966 yang berisi antara lain:
a).
Penetapan tidak perlunya wakil presiden.
b). Apabila presiden berhalangan,
pemegang SP 11 Maret 1966 memegang jabatan sebagai Presiden.
Sebagaimana telah ditunjukan oleh Dr.
Asvi Warman Adam. Ketetapan itu dengan jelas melanggar UUD 1945. Karena didalam
UUD 1945 di tetapkannya adanya jabatan wakil presiden, dan waktu itu UUD 1945
belum di amandemen. Dengan demikian sebenarnya TAP tersebut adalah
inkonstitusional. Namun tampaknya hal itu dibutuhkan, supaya kalu presiden
Sukarno berhalangan, bukan seorang wakil presiden yang menggantikannya
melainkan pemegang supersemar yang tidak lain adalah Suharto sendiri. Tap MPRS
semacam itu tentu tidak akan sulit di dapat, mengingat bahwa komposisi
keanggotaan MPRS sudah diatur sedemikian rupa sehingga menguntungkan si
pemegang Supersemar.
Hasil
dari sidang MPRS yang di puja-puja itu kebanyakan seperti yang sudah
diperkirakan, walaupun Sukarno sekali lagi masih bisa menghndari
perangkap-perangkap dari sekelompok orang yang ingin menyingkirkannya dari kekuasaan. Kedutaan besar kita memandang
keputusan-keputusan yang diambil oleh MPRS sebagai langkah penting dalam perjuangan
panjang untuk melakukan de-Sukarnoisasi, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa
meskipun sudah tidak ada lagi kesempatan untuk manuver politik lagi, Sukarno
masih akan tetap menggunakan sisa-sisa kekuatan politiknya. Ditekankan kembali
dalam dokumen CIA 23 JULI 1966 ini bahwa sejak terjadinya peristiwa 1 Oktober
1965 militer bermaksud untuk secara bertahap untuk membatasi kekuasaan dan
pengaruh Sukarno. Di mata Amerika apa yang terjadi pada tanggal 11 maret 1966
yakni ditandatanganinya surat 11 maret merupakan puncak dari upaya itu. Dikatakan
pula bahwa pada waktu itu, Sukarno dengan setengah hati dan dibawah tekanan
militer, memberikan suatu kekuasaan seperti eksekutif kepada Suharto. Kekuasaan
itulah yang kemudian dipakai oleh Suharto untuk mengabil banyak keputusan dan
tindakan dengan atas nama presiden dan atas nama kepentingan nasional.
Selanjutnya melalui sidang MPRS tanggal 21 juni 1966 ia berhasil mengusahakan
supaya supersemar disahkan oleh lembaga tinggi negara sehingga tidak dapat
diubah lagi bahkan oleh pemberinya. Ironisnya Amerika melihat bahwa kelompok
militer yang kelak akan menggantikan kekuasaan Bung Karno ini juga tampaknya
akan mempraktekan sistem “demokrasi terpimpin” mirip Bung Karno dulu walupun
mungkin orientasinya berbeda. Maksut utama dari dokumen ini adalah memberikan
gambaran sungkat mengenai berbagai kelompok atau kekuatan politik yang ada di
Indonesia waktu itu. Menarik bahwa dalam penjelasan mengenai terbentuknya
kelompok sosialis pancasila, dokumen ini menekankan adanya kaitan antara
kelompok tersebut dengan Tap MPRS no XXV/1966.
Ada dua hal yang mendominasi perhatian
Washington berkaitan dengan Indonesia pada awal agustus 1966. Yang pertama
adalah masalah bagaimana membantu pemulihan ekonomi Indonesia dan yang kedua
menyangkut masalah sejauh mana keberhasilan upaya de-Sukarnoisasi. Terhadap ang
pertama jawaban Amerika adalah bahwa pemulihan ekonomi tersebut akan bisa
terjadi kalau terjalin kerjasama multilateral negara-negara blok barat untuk
membantu Indonesia. Dalam hal ini tampaknya Amerika masih ingin mengambil
posisi yang tidak terlalu mencolok. Terhadap masalah kedua dkatakan bahwa
kemungkinan bangkitnya kembali Sukarnoisme memang masih ada , namun kemungkinan
tersebut amat kecil. Menurut Menlu AS Dean Rusk, kalu sampai Sukarnoisme
bangkit kembali akan ada banyak kalangan militer yang terkena imbasnya atau
bahkan terancam hidupnya. Oleh karena itu menurut militer akan memastikan bahwa
Sukarnoisme tidak akan pernah bangkit lagi. Pada paro kedua bulan Agustus itu
perhatian Amerika terhadap indonesia bergeser ke arah masalah hubungan
Indonesia- Malaysia, menyusul diakhirinya dengan konfrontasi antara kedua
negara sevara resmi pada tanggal 11 agustus 1966. Semboyan “Ganyang Malaysia”
yang dulu amat populer pada masa konfrontasi kini akan segera berlalu. Pada satu
sisi Amerika senang bahwa konfrontasi telah berakhir. Bagi Amerika berakhirnya
konfrontasi berarti tanda yang jelas bagi suksesnya Supersemar dan makin
minimnnya pengaruh Sukarno beserta pendukung kirinya. Namun demikian, pada sisi
lain Amerika juga sadar bahwa dengan berakhirnya konfrontasi akan ada
masalah-masalah lain yang akan timbul, dari masalah merosotnya pengaruh Inggris
terhadap wilayah bekas jajahannya di Asia Tenggara hingga masalah akan terus
tingginya ambisi Indonesia untuk mendominasi wilayah-wilayah sekitarnya.
Amerika membutuhkan sikap tertentu guna mengantisipasi kemungkinan munculnya
masalah-masalah baru tersebut. Pada tanggal 4 agustus 1966 di Washington
berlangsung rapat National Security Council (NSC) guna membahas perkembangan
terakhir di indonesia. Rapat tersebut dihadiri oleh presiden Johnson, Menlu
Dean Rusk, serta sejumlah pejabat lain di sekitar dari lingkungan gedung putih.
Departemen luar negeri dan NSC sebagaimana bisa dilihat dari catatan rapat
tersebut oleh W.J Jorden di bawah ini, pembicaraan berkisar pada masalah
pentingnya memberikan bantuan ekonomi kepada Indonesia untuk bisa bangkit
kembali, dan pada bagaimana bantuan tersebut harus disampaikan. Para peserta
rapat menekankan perlunya memberika bantuan melalui kerja sama multilateral,
artinya bekerjasama dengan negara lain dalam upaya membantu mengumpulkan dam
menyalurkan nbantuan ke Indonesia. Dalam rapat itu Presiden Johnson sempat
bertanya mengenai seberapa besar kemungkinan Bung Karno dan kawan-kawan bangkit
dan berkuasa kembali. Menlu Rusk mengatakan bahwa kalau sampai Bung Karno
bangkit lagi banyak orang kalangan militer yang akan terancan hidupnya. Oleh
karena itu menurutnya militer akan berusaha mati-matian ntuk mencegah
bangkitnya kembali Sukarnoisme. Dalam memorandum untuk direktur CIA tertanggal
6 september 1966 di bawah ini dilaporkan bahwa militer Indonesia mengadakan
rapat. Meskipun dijadwalkan untuk selesai siang, rapat itu molor hingga pukul
02.00 dinihari. Hal ini menunjukan betapa seriusnya rapat tersebut. Dalam rapat
tersebut dibicaraka perlu tidaknya Jendral Suharto menyampaikan ancaman
terselubung terhadap Bung Karno, jika Bung Karno terus menerus melakukan
tindakan yang bertentangan dengan kehendak rakyat. Sebagaimana bisa dilihat
begitu sensitifnya dokumen ini sehingga banyak bagian yang belum di
deklarasikan alias masih di rahasiakan.
Setelah tadi berusaha untuk saedapat
mungkin membongkar dan menyimak kembali supersemar dengan melihat konteks dan
dampaknya, kini kita akan mengulas mengenai apasaja peristiwa yang terjadi
disekitar waktu tersebut. Misalnya pada bulan Oktober 1966 mantan Menlu.
Subandrio dijatuhi hukuman mati (meskipun nantinya hukuman ini diubah menjadi
hukuman seumur hidup). Namun demikian ini merupakan pukulan yang sangat telak
bagi Sukarno, karena Subandrio merupakan orang kepercayaannya Sukarno.
Supersemar menjadi senjata ampuh bagi Suharto untuk menggulingkan Sukarno dalam
tampuk kekuasaan presiden. Dan pada akhirnya Suharto menamai masa kekuasaannya
dengan orde baru yang secara langsung telah mendiskreditkan kekuasaan Sukarno
sebagai masa orde lama. Dalam masa orde baru inilah Suharto mengalami puncak
karir dan dimana peran militerisasi menjadi sangat dominan dalam kancah
perpolitikan di Indonesia. Peran dominan ini diperankan oleh angkatan darat
sebagai kekuatan baru yang memegang peranan penting di Indonesia.
D.
Kelebihan
dan Kekurangan Buku
Kelebihan dari buku ini adalah bahwa
buku ini menjelaskan isi materi secara runtut dan kronologis mengenai isi
materi. Buku ini sangat jelas dalam menyampaikan materi, menggunakan bahasa
yang mudah dimengerti serta gaya bahasa yang luwes yang menjadikan para pembaca
akan mudah dalam memahami isi materi yang disampaikan. Buku ini juga didukung
dengan adanya foto-foto bukti perjanjian sehingga keabsahan dokumen dapat
dipertanggungjawabkan.
Namun dari adanya kelebihan buku seperti
yang sudah saya jelaskan di atas, buku ini juga tidak luput dari adanya
kekurangan. Kekurangan dari buku ini adalah terdapat beberapa alur cerita yang
tidak padu sehingga pembaca harus membaca dua kali agar dapat memahami apa yang
dimaksud dalam alur cerita tersebut.
E.
Kritik
dan Saran
Setelah membaca buku ini kritik yang
saya berikan kepada buku ini adalah bahwa dibuat catatan kakinya sehingga akan
lebih memperjelas bagi para pembaca. Kemudian perbanyak halaman yang
menjelaskan mengenai sumber-sumber otentik baik perjanjian maupun foto dokumen
rapat-rapat penting
Saran yang saya sampaikan adalah
perbanyak buku ini sehingga bisa menjadi referensi bacaan kalangan umum karena
buku ini sangat bagus dalam mejelaskan sejarah supersemar dan perubahan
konstelasi politik yang terjadi pada saat itu.


No comments:
Post a Comment