|
Identitas Mahasiswa
|
||||
|
Nama
|
: N. MARISQA APRILIANI
|
||||
|
NIM
|
: 3101412100
|
||||
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
||||
|
Rombel
|
: 5B
|
||||
A.
Identitas Buku
Judul
: Penghancuran Gerakan Perempuan di
Indonesia
Judul
Asli : The Politization of Gender Relations in Indonesia Women’s
Movement and Gerwani Until the New Order State
Penulis : Saskia Eleonora Wieringa
Penerbit : Kalyanamitra dan Garba Budaya
Cetakan : Agustus 1999
Halaman : 593 hal +xxxix
B. Tentang
Penulis
Saskia Eleonora
Wieringa lahir tahun 1950 di Amsterdam, Belanda. Dr. Wieringa adalah Direktur
Aletta, Institute for Women's History sebagai professor di University of
Amsterdam, ia menjabat sebagai KEtua Gender and Women's Same-Sex Relation
Crosscultury. Beliau memiliki pengalaman panjang berkiprah sebagai aktivis
gerakan perempuan dan solidaritas negara ketiga. Pada pertengahan tahun
1970-an, belaiu mendirikan sejumlah kelompok studi perempuan dan sekaligus
menerbitkan jurnal. Sejak akhir 1970-an. beliau mulai tertarik melakukan
penelitian di Indonesia. Fokuspenelitiannya pada sejarah gerakan perempuan
Indonesia. Beliau memberikan kuliah di banyak negara, bahkan mengajar seputar
isu perempuan dan gender atau sexual studies. Lebih dari 20 judul buku dan 100
artikel sudah diterbitkannya.
C. Sinopsis Buku
Menelisik
Sejarah yang Disembunyikan
Setelah setengah
abad sejak Sukarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, yakni periode
sekitar tahun 1965-1966 saat Orde Lama Sukarno digantikan oleh Orde Baru
Suharto. Gerakan
Wanita Indonesia atau Gerwani adalah salah satu organisasi yang disiksa dan
dikalahkan oleh rezim suharto. Karena dianggap sebagai bagian dari Partai
Komunis Indonesia (PKI) dan termasuk dalam keluarga komunis. Gerakan Wanita
Indonesia (Gerwani) tidak hanya mendapat kekerasan yang merenggut nyawa tetapi
juga dianggap sebagai peyebarkan fitnah berupa tuduhan rekayasa tentang
terjadinya pesta pora seksual yang dikatakan dilakukan oleh para anggota
Gerwani.
Gerwani pada
masa Orde Baru diabstraksikan sebagai wanita yang bejat moral, musuh ideologi
negara dan agama karena menganut paham komunis. Gerwani ingin disingkirkan dari
gerakan perempuan lain dalam upaya penguasaan komunis untuk menguasai gerakan
perempuan karena mungkin gerakan ini menjadi lawan yang kuat bagi para komunis.
Gerwani yang
dikatakan sebagai pelacur senyatanya adalah ormas perempuan yang sangat keras
menyuarakan dan membela hak-hak perempuan dan anak-anak pada zamannya. Gerwani
dulunya bernama Gerwis berdiri tahun 1950 dan berganti nama pada tahun 1954,
dimana tumbuh pada masa sulit ketika Indonesia sedang membangun negara.
Perubahan Gerwis menjadi Gerwani dari sebuah kader menjadi sebuah organisasi
yang menggalang masa seluas-luasnya. Gerwani berjuang pada tiga medan
yakni :
1)
Medan
politik: menghadapi unsur-unsur “reaksioner” antara lain yang telah
mengorganisasi Peristiwa 17 Oktober 1952 untuk menuntut pembubaran parlemen
masa presiden Sukarno,
2)
Medan
perempuan atau feminisme: melawan Peraturan Pemerintahan Nomor 19 dan menyokong
perjuangan untuk undang-undang perkawinan yang demokratis yang diajukan oleh
Kongres II KWI tahun 1952,
3)
Medan
daerah: giat dalam gerakan tani melawan upaya pemerintahan mengusir petani dari
tanah garapannya. Gerwis kemudian berubah menjadi Gerwani pada tahun 1954.
Selanjutnya, Gerwani menjadi organisasi yang bekerja menggalang massa perempuan
seluas-luasnya dan melakukan advokasi di parlemen.
Strategi
perjuangannya ada dua yakni perjuangan massa melalui
pemberantasan buta huruf, memberikan kursus, mengurusi korban poligami dan
perjuangan parlemen yakni ikut memperjuangkan dan memasukan UU Perkawinan dan
keimigrasian. Bersama dengan kaum perempuan dari organisasi-organisasi lain,
Gerwani juga aktif menyelenggarakan berbagai macam kegiatan. Kampanye yang
dilakukan Gerwani menyentuh isu pemberantasan buta huruf, perubahan
Undang-Undang Perkawinan yang lebih demokratis, menuntut hukuman yang berat
untuk perkosaan dan penculikan, dan kegiatan-kegiatan sosial-ekonomi untuk kaum
tani dan buruh perempuan. Bersama dengan anggota-anggota PKI dan organisasi
massa lain, Gerwani ikut serta dalam berbagai demonstrasi, pawai atau protes.
Gerwani membantu sekretariat perempuan serikat buruh dalam perjuangan menuntut
hak-hak buruh perempuan, seperti upah yang sama, pelaksanaan Undang-Undang
Perburuhan, dan perlindungan terhadap penyerangan seksual.
Dalam hal
publikasi, Gerwani menerbitkan dua majalah, yaitu Api Kartini dan Berita
Gerwani. Api Kartini ditujukan bagi pembaca lapisan tengah yang sedang tumbuh
dan memuat tulisan-tulisan tentang masak-memasak, pengasuhan anak, mode,
kebutuhan terhadap taman kanak-kanak, kejahatan imperialisme, poligini,
pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan, dan masalah-masalah sekitar kaum
pekerja perempuan. Berita Gerwani adalah majalah internal organisasi dengan
berita-berita mengenai konferensi-konferensi dan laporan kunjungan ke
organisasi-organisasi perempuan di negara-negara sosialis. Dengan demikian, Api
Kartini terbit untuk menarik perhatian perempuan golongan tengah dan meyakinkan
mereka bahwa Gerwani juga memperhatikan masalah-masalah “tradisional”
perempuan, sedangkan Berita Gerwani bergerak lebih radikal dengan memberikan
dukungan kepada kader-kader daerah dan membantu mereka dalam menghadapi
tugas-tugasnya.
Pada waktu itu
tahun 1964 RUU perkawinan telah diajukan dan di setujui namun ketika sidang
pleno dibekukan hingga tahun 1965 saat peristiwa berdarah pecah, hingga masa
Orba di wacanakan kembali tapi apa yang terlihat justru tidak sesuai dengan apa
yang diajukan dulu yakni laki-laki sebagai kepala keluarga dan wanita
berkewajiban mengurus rumah tangga, dimana hal tersbut sungguh menyedihkan dan
sangat meminggirkan atau memojokkan posisi kaum perempuan diwilayah publik.
Pada masa Soekarno, Gerwani merupakan satu-satunya organisasi yang ikut dalam
politik nasional, yang lain hanya disekitaran kerja sosial saja.
Gerwani berhasil
menerobos pembagian kerja secara gender dengan merumuskan dua segi perjuangan
yakni feodalisme, imperialisme dan kolonialisme adalah musuh bersama dengan
lelaki dan juga perjuangan khusus bahwa perempuan menjadi korban ketidakadilan
gender dari ketiga paham tersebut. Gerwani pernah dibenci karena mereka juga
bergerak di bidang politik dan disiksa dan diburu karena diduga terlibat dengan
PKI, karena memang pada saat itu Gerwani ikut PKI karena bujukan Aidit yang
mengiming-imingi perjuangan perempuan dan kesetaraan. Dalam pemikiran Gerwani,
kemajuan perempuan Indonesia dihambat oleh kungkungan kekuasaan tuan tanah
feodal dan kekuasaan modal asing (imperialis).
Ideologi Gerwani
sebagai Ibu Militan : Feminisme, Sosialisme dan Nasionalisme
Pada tanggal 4
Juni 1950, enam wakil organisasi perempuan berkumpul di Semarang dan
menghasilkan sebuah keputusan untuk membuat satu organisasi perempuan yang
dinamakan Gerwis (Gerakan Wanita Sedar). Enam organisasi yang mendirikan Gerwis
adalah: Rukun Putri Indonesia (Rupindo) dari Semarang, Persatuan Wanita Sedar
dari Surabaya, Isteri Sedar dari Bandung, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo)
dari Kediri, Wanita Madura, dan Perjuangan Putri Republik Indonesia dari
Pasuruhan. Para pendiri Gerwis berasal dari kalangan sosial yang berbeda tetapi
semuanya terjun dalam gerakan nasional, bahkan, banyak diantaranya yang menjadi
anggota pasukan bersenjata. Dalam pembentukan organisasi tersebut, disepakati
ketua pertama Gerwis adalah Tris Metty yang pernah menjadi anggota Laskar
Wanita Jawa Tengah.
Walaupun Gerwis
di dalam konstitusinya menyatakan diri sebagai organisasi non-politik dan tidak
berafiliasi dengan partai politik manapun, kenyataannya PKI memiliki pengaruh
yang sangat kuat dalam proses pembentukan hingga arah politik Gerwis kedepan.
Konres pertama
Gerwis dilakukan pada Desember 1951. Dalam masa ini, Gerwis berada dalam
kondisi yang sulit. Para utusan Gerwis dari daerah-daerah banyak yang masih
berada dipenjara. Ketika itu, parlemen yang dipimpin Masyumi adalah
pemerintahan yang reaksioner dan para utusan Gerwis tersebut adalam korban dari
politik yang reaksioner ini. Untuk itu, Aidit, sebagai pemimpin PKI kala itu,
menginstruksikan Gerwis untuk menghentikan sementara kritik terhadap pemerintah
dan lebih memfokuskan pada gerakan bawah tanah.
Dalam kongres
kedua pada 1954, setelah mendapat tekanan dari PKI untuk menjadi organisasi
massa dibawahnya (Gerwis pada awalnya dibentuk sebagai organisasi kader),
Gerwis mengubah nama menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) dan memilih Umi
Sarjono –yang juga merupakan anggota PKI sebagai ketuanya. Organisasi
berkembang pesat diantara masa kongres pertama dan kedua. Di Surabaya, Gerwis
memiliki 40 cabang dengan 6000 anggota dan pada tahun 1954, anggotanya
telah meliputi 80.000 orang. Dalam masa ini pula, Gerwani aktif dalam tiga
front perjuangan sekaligus. Pertama, dalam lapangan politik, mereka
menghadapi elemen reaksioner, yaitu elemen yang menggerakkan peristiwa 17
Oktober 1952. Kedua dalam tataran feminisme, mereka menentang PP Nomor 19
yang mengatur masalah perkawinan tetapi dinilai diskriminatif dan untuk itu
Gerwani mendukung disahkannya undang-undang perkawinan yang lebih demokratis.
Dan ketiga, Gerwani berusaha sebisa mungkin untuk menghindari konfrontasi
dengan Sukarno. Selain itu, di tingkat lokal, Gerwani ikut serta dalam kampanye
BTI (Barisan Tani Indonesia) melawan tindakan pemerintah yang berusaha mengusir
kaum tani dari bekas perkebunan yang telah mereka duduki.
Perubahan
Gerwani dari organisasi kader menjadi organisasi massa ini salah satunya
dilakukan dengan cara menawarkan kepada kaum perempuan untuk menjadi pemimpin
tanpa memandang latar-belakang sosial. Perwari (Persatuan Wanita Republik
Indonesia) misalnya, para pemimpinnya hanya berasal dari keluarga pamong praja,
atau memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Strategi ini berhasil merekrut
banyak kader, karena perempuan yang bergabung menilai Gerwani sebagai
satu-satunya pihak yang sudi membantu memecahkan persoalan mereka sehari-hari.
Selain itu, Gerwani juga dinilai sebagai organisasi alternatif di luar
organisasi perempuan yang sudah ada dan menawarkan solusi konkret atas
permasalahan yang terjadi sehari hari.
Kemudian, dalam
resolusi Kongres ke III, Gerwani menunjukkan arah politik yang semakin condong
kepada urusan poilitik nasional dari yang semula banyak berjuang dalam lapangan
permasalahan perempuan, utamanya tentang demokrasi terpimpin. Pergeseran
orientasi ini semakin terlihat ketika Gerwani fokus pada isu kenaikan harga
pangan dan sandang ketimbang urusan-urusan feminis seperti masalah perkawinan.
Dengan perubahan orientasi ini, maka Gerwani harus melakukan berbagai
penyesuaian yang dirumuskan dalam tiga hal. Pertama, Gerwani ingin
memimpin gerakan yang lebih luas. Kedua, Gerwani menghendaki membangun
gerakan massa, dalam hal ini Gerwani mengikuti garis PKI dalam emansipasi
perempuan yang merumuskan bahwa sosialisme harus dicapai lebih dulu sebelum
bicara masalah spesifik tentang urusan perempuan. Ketiga, Gerwani
menghendaki perempuan ikut ambil bagian dalam politik nasional, misalnya
terlihat dari keterlibatan Gerwani dalam urusan perang memperebutkan Irian
Barat dan menyerukan agar gerakan perempuan bersatu.
Gerwani dalam
buku ini diceritakan adalah mendapat inspirasi tentang pemikiran sosialis dan
marxisme karena organisasi ini bertalian erat dengan PKI. Dalam hubungannya
terhadap marxisme, Gerwani bergulat dengan sejumlah problem teoritis. Dalam
marxisme, perjuangan perempuan harus ditempatkan sebagai bagian dari perjuangan
kelas. Ketika komunisme ditegakkan, maka perempuan sebagai subordinasi keluarga
akan lenyap dan ‘keluarga proletar bahagia’ akan menggantikannya.
Dalam
hubungannya dengan feminisme, nasionalisme Gerakan Wanita Indonesia juga
ditandai dengan kontradiksi penolakan akan pembedaan seksual disatu pihak,
dipihak lain hal itu bersifat universal. Disatu sisi, perbedaan gender membuat
dikotomisasi secara politik, ekonomi, dan sosial, namun pada saat yang sama
pembangunan keduanya dipandang sebagai sesuatu yang penting dalam cita-cita
nasional. Misalnya, Sukarno yang seorang nasionalis-sosialis mendorong
perempuan untuk mejadi ‘roda kedua’ kereta perang menuju kemerdekaan. Tetapi
disisi lain, pasca kolonialisme, para pemimpin laki-laki berupaya untuk
menguasai dan mengontrol kegiatan perempuan. Hal ini kemudian dilawan oleh
Gerwani yakni dengan aksi mendekonstruksi model putri Jawa Kartini. Bagi
mereka, Kartini adalah simbol bagaimana perempuan melawan dan memberontak untuk
mendapatkan hak yang sama seperti laki-laki.
Setelah tahun 1959, Gerwani
menyatakan kesetiaannya terhadap sosialisme. Para pemimpin Gerwani pun mulai
membaca karya-karya para penulis sosialis seperti Clara Zetkin dan Engels.
Selain itu, Api Kartini (terbitan Gerwani), juga terus-menerus
mempublikasikan tentang ‘berkah sosialisme’ dengan mengutip kata-kata Sukarno.
Dalam sejarah yang relatif singkat, Gerwani telah melakukan upaya pembentukan
identitas dirinya sendiri. Ketiga alur tersebut yang kemudian mewarnai
perjalanan sejarah Gerwani, meskipun hubungan diantara ketiganya sangat
dinamis.
Bagi Gerwani, musuh ideologis
adalah diskriminasi terhadap perempuan yakni bersumber pada feodalisme misalnya
pada bidang tradisi, nilai, dan norma warisan keterbelakangan budaya
kerajaan-kerajaan pribumi dan kolonialisme Belanda seperti poligami, kawin
paksa, perdagangan perempuan untuk dijadikan gundik dan pekerja seks, sedangkan
imperialisme dan kolonialisme misalnya pada bidang ekonomi meliputi modal
monopoli asing yang menghisap kaum tani dan buruh, serta di bidang politik
yaitu penjajahan atas Irian Barat, di bidang budaya : berkuasanya produk
film-film Hollywood.
Fitnah
Gerwani : Lubang Buaya
Dimulai pada 1
Oktober 1965, politik Indonesia berubah 180 derajat. Diawali dari
suatu putsch sejumlah kolonel kiri yang diklaim sebagai upaya
melindungi Presiden Sukarno dari kudeta Dewan Jendral. Dimulailah Suharto
membuat suatu upaya sistematis untuk menghancurkan gerakan kiri, dan gerakan
rakyat secara umum. Gerwani, sebagai bagian dari gerakan rakyat, pun menjadi
target sasaran. Salah satu bagian terpenting dari penghancuran Gerwani,
yang secara struktural tidak berada di bawah PKI, adalah propaganda fitnah yang
dialamatkan kepada mereka terkait dengan perisiwa Lubang Buaya yang menjadi
tempat pembantaian para Jendral.
Orde Baru
terhadap perilaku Gerwani di Lubang Buaya, merupakan unsur ideologis
terpenting, karena perempuan komunis ini –dalam versi mereka- menjadi tangan
utama penyiksaan dan pembunuhan para jendral. Pihak Angkatan Darat (AD), yang
bersusah payah mengonstruksi peristiwa Lubang Buaya, secara masif menyiarkan
hasil ‘investigasi’ palsu mereka ke televisi, koran, dan radio.
Fitnah terhadap Gerwani ini secara masif
dipropagandakan oleh AD melalui berbagai koran yang terbit. Pemberitaan bahwa
Gerwani lah pelaku pembunuhan para Jendral baru diberitakan sepuluh hari
setelah hari kejadian. Berita pertama pasca 1 Oktober yang menyebutkan
keterlibatan anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat pada peristiwa Lubang Buaya terdapat
dalam editorial koran AB (Angkatan Bersendjata) tanggal 11 Oktober. Sebuah
kejanggalan mengingat pada tanggal 2 Oktober, Suharto telah mendeklarasi bahwa
kondisi telah aman terkendali.
Berita dalam
koran AB ini kemudian menjadi sumber utama yang dikutip koran-koran lainnya.
Dalam koran Apitanggal 12 Oktober 1965 misalnya, dijelaskan, ‘para
sukarelawati Gerwani telah mempermainkan para jendral dengan menarik peran
mereka sendiri. Dihari yang sama, koran Berita Yudha Minggu melaporkan
tubuh para jendral yang dimutilasi. Sementara itu, koran umum Duta
Masjarakat (DM) menyebutkan, ‘Gerwani menari-nari di depan korbannya’.
Selain itu, untuk meneguhkan propaganda terhadap Gerwani yang dianggap bermoral
bejat, Angatan Darat mengajak wartawan untuk mengunjungi penjara para Gerwani.
Meskipun
diketahui kemudian bahwa segala tuduhan terhadap Gerwani di Lubang Buaya adalah
kebohongan, dan perempuan-perempuan yang menjadi saksi untuk memperkuat
peristiwa Lubang Buaya kenyataannya tidak berada di Lubang Buaya pada hari
kejadian, tetap saja propaganda AD telah menjadi keyakinan umum dan menjadi
justifikasi atas pembantaian yang terjadi kemudian. Analisis gender dalam
politik akan sangat membantu menerangkan apa yang terjadi. Dalam menghancurkan
sebuah gerakan, dapat dimulai dengan menghancurkan citra terhadap kaum
perempuannya dahulu. Hal ini amat efektif, terutama dalam masyarakat yang
legalis-normatif agama seperti di Indonesia. Hal yang paling sensitif bagi
masyarakat yang legalis-normatif agama ialah permasalahan moralitas, terutama
moralitas yang dikaitkan dengan seksualitas perempuan. Apabila suatu hal
dikaitkan dengan moralitas dan seksualitas, para moralis dapat bergidik dan
saat itulah keberhasilan untuk menyengat dan menyentuh sentimen massa mudah
dicapai.
Keberhasilan
skenario ini ada kaitannya pula dengan kebencian sebagian massa pada Gerwani
karena gerakan yang dilakukannya. Sebagaimana dijelaskan di awal, Gerwani yang
merupakan organisasi perempuan yang konsisten melakukan kampanye anti-poligami,
anti-perkawinan dini, anti-perdagangan perempuan, dan anti-penjualan
keperawanan, adalah musuh laten bagi para tuan tanah dan para pamong praja yang
seringkali melakukan praktek demikian. Selain itu, Land Reform yang
juga diperjuangkan oleh Gerwani membuat mereka harus berhadap-hadapan dengan
para kiai tuan tanah. Masih menurut Ruth, sepertinya hal ini lah yang terbaca
oleh sang penggagas skenario fitnah terhadap Gerwani. Skenario ini akan mudah
dilakukan karena sudah banyak orang yang tidak suka dengan Gerwani. Kebencian
ini dikuatkan lagi dengan sterotip yang melekat pada anggota PKI, yaitu ateis.
Dengan status Gerwani yang secara organis dekat dengan PKI, para anggota
Gerwani memperoleh dua stereotip sensitif: pelacur dan ateis. Oleh karena itu,
massa yang terprovokasi menganggap bahwa darah Gerwani, dan para komunis lain,
halal untuk ditumpahkan. Dan sebagaimana kita ketahui pula, pembantaian
terbesar kedua setelah Perang Dunia terjadi, dan di atas mayat para korban lah
orde baru berdiri dan bertahan selama 32 tahun.
D. Kekurangan
dan Kelebihan Buku
Buku yang
berjudul Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia merupakan disertasi
akademis Saskia E. Wieringa, untuk proyek penelitian di Indonesia mengenai
“Gerakan dan Organisasi Kaum Perempuan dalam Perspektif Sejarah”, yang
berlangsung Desember 1982 sampai Desember 1985. Buku ini layak dibaca oleh para
aktivis, mahasiswa, dan para peneliti karena dapat mengungkap fakta sejarah
tentang penghancuran gerakan perempuan di Indonesia yang dilakukan rezim Orde
Baru.
Melalui buku
ini, pembaca mendapat pencerahan tentang organisasi Gerwani (Gerakan Wanita
Indonesia) yang sebenarnya turut membangun sejarah gerakan perempuan Indonesia,
namun dicap sebagai perempuan bejat, tidak bermoral, dan organisasi komunis
pendukung PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam peristiwa Oktober 1965 oleh
rezim Orde Baru. Dalam perspektif penelitian Saskia, Gerwani ditempatkan
sebagai korban peristiwa politik Oktober 1965. Penguasa rezim Orde Baru
menggunakan simbol seksualitas perempuan (Gerwani) untuk menghancurkan gerakan
PKI yang dianggap sebagai gerakan makar untuk merebut kekuasaaan rezim Orde
Baru.
Awal membuka
buku ini, disuguhkan beberapa foto-foto bentuk relief mengenai sosok Gerwani
yang digambarkan sebagai kelompok perempuan jahat, penyiksa, pembunuh
juga sebagai sundal. Buku hasil penelitian Wieringa ini adalah jawaban atas
keheranannya pada organisasi perempuan yang kental dengan dominasi laki-laki,
dimana pada Orde Baru, generasi-generasi yang ada mengetahui Gerwani sudah
terbingkai dengan baik kisah buruknya, tanpa mereka tahu itu benar atau salah.
Gerwani pada masa Orde Baru diabstraksikan sebagai wanita yang bejat moral,
musuh ideologi negara dan agama karena menganut paham komunis. Gerwani ingin
disingkirkan dari gerakan perempuan lain dalam upaya penguasaan komunis untuk
menguasai gerakan perempuan karena mungkin gerakan ini menjadi lawan yang kuat
bagi para komunis.
Dalam buku ini
dipaparkan pula penjelasan mengenai wawancara Wieringa dengan beberapa anggota
Gerwani yang masih tersisa saat itu. Diceritakan bagaimana bahagianya mereka
ketika masuk menjadi anggota dan seketika saat peristiwa tahun 1965 berubah
drastis, mereka menjadi buron yang difitnah, dan jika dari mereka tertangkap,
mereka harus rela memberikan tubuhnya pada pria-pria hidung belang untuk
memuaskan nafsu mereka di dalam penjara, bahkan mereka disetrum, dipukuli,
disiksa, disulut dengan rokok dan sebagainya. Ketika mereka dibebaskan dari
dalam penjara, mereka harus berusaha mempertahankan hidupnya kembali dari awal
dengan daya upaya yang ada. tidak berhenti disitu pula kesengsaraan mereka,
walaupun telah dibebaskan, mereka tetap menjadi tahanan rumah, dimana setiap
ingin bepergian ke luar kota harus tetap meminta banyak cap yang membuktikan
bahwa mereka seorang tahanan rumah dan harus melapor setiap waktu. Para anggota
Gerwani juga menjelaskan bahwa kesedihan mereka bertambah ketika anak-anak
mereka saat di sekolah diajarkan dan diceritakan hal-hal yang busuk mengenai
Gerwani. Sampai-sampai mereka harus mengalami rasa tertekan saat ditanya oleh
anak-anak mereka setibanya anak-anak mereka dari sekolah mengenai Gerwani dan
pelacur.
Selain
mengungkap bahwa sesungguhnya Gerwani adalah organisasi massa perempuan yang
aktif dan militan, Saskia dalam buku ini juga berhasil menggali fakta sejarah
gerakan perempuan. Gerwani merupakan kelanjutan perjuangan enam organisasi
perempuan yang ada masa perjuangan kemerdekaan menuju revolusi nasional
demokrasi, yakni Istri Sedar (Bandung), Rukun Putri Indonesia (Rupindo,
Semarang), Persatuan Wanita Sedar (Surabaya), Gerakan Wanita Indonesia
(Gerwindo, Kediri), Wanita Madura (Madura), dan Perjuangan Putri Republik
Indonesia (Pasuruan). Pada masa revolusi nasional, para aktivis yang mendirikan
Gerwani adalah pejuang gerakan bawah tanah yang terlibat dalam satuan-satuan
gerilya melawan Jepang dan Belanda, sedangkan masa pemerintah Soekarno, Gerwani
satu-satunya organisasi perempuan yang merambah ke pentas politik nasional.
Dibuku ini pula
ditemukan beberapa perkumpulan perempuan istri-istri setelah Jepang Menyerah
yakni Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri dan PIA Ardhya
Garini serta menjelaskan dimana hubungan organisasi perempuan renggang manakala
Soekarno melakukan poligami.
Meskipun buku
ini telah dikelompokan berdasrkan bab namun penempatan urutan waktu atau
kronologis tidak secara runtut. Yang tentunya hal ini akan memudahkan jika
suatu saat ingin membaca kembali tulisan-tulisan yang diperlukan dalam buku
ini. Selain itu, penggunaan kalimat terlalu fulgar seperti “mereka menari-nari
bertelanjang bulat di depan para korban yang dibantai”. Sehingga untuk kalangan
pembaca dibawah umur (-18 tahun) akan merasa risih.
Terlepas dari
hal di atas buku ini saya rasa layak dibaca oleh mereka (aktivis, mahasiswa,
dan para peneliti serta masyarakat umum) yang ingin mengenal lebih dalam
Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).


No comments:
Post a Comment