About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Sunday, 3 May 2015

Soekarno, Tentara, PKI (Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965)

Identitas Mahasiswa
Nama
: RIWAN SUTANDI
NIM
: 3101412084
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B



A.      Identitas Buku
Judul                    : Soekarno, Tentara, PKI (Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965)
Penulis                 : Salim Said
Penerbit               : Yayasan Obor Indonesia (Jl. Plaju No. 10 Jakarta 10230)
Edisi pertama       : september 2006
Edisi kedua          : Januari 2007

Tebal Buku          : Xiv + 396 hlm.; 16x24 cm.
ISBN                   : 979-461-613-3.

B.      Sinopsis Buku
Soekarno, Tentara, PKI (Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965)

Buku mengenai “Pelurusan Sejarah tahun 1965” sudah banyak terbit, dengan berbagai kesimpulan yang diusungnya. Buku ini lain lagi ceritanya; menampakan kesaksian catatan harian Rosihan Anwar “in the mood of diaries at the crucial moment” yang ditulis dengan objektif dan tekun selama 5 tahun (1961-1965), yang menggambarkan prolog permainan segitiga kekuasaan yang semu antara Sukarno – Tentara dan PKI sebelum negeri ini terhempas ke dalam Prahara Besar. Bagi generasi muda bangsa yang waktu itu bau lahir dan generasi sesudahnya yang tidak tahu banyak tentang sejarah dan “aroma semangat zaman waktu itu”, buku ini dipersembahkan.
Buku ini merupakan kesaksian catatan harian Rosihan Anwar “In The Mood of Diaries at the Crucial Moment” yang ditulis dengan objektif dan tekun selama 5 tahun (1961-1965), yang menggambarkan prolog permainan segitiga kekuasaan yang seru antara Sukarno – Tentara dan PKI sebelum negeri ini terhempas ke dalam Prahara Besar. Kontak-kontak pribadi dan catatan percakapan empat mata tentang soal-soal politik dengan tokoh-tokoh masa itu seperti : Bung Hatta, Bung Sjahrir, Soedjatmiko, Aidit, Subandrio, MT Haryono dan sebagainya, membuat buku ini sukar dicari padanannya dengan buku sejarah manapun.

Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945 maka sejak saat itulah berdiri sebuah negara baru yang merdeka dan berdaulat. Sebuah negara yang belum memiliki bentuk jelas sehingga menjadi sorotan dua pihak negara yang berhaluan berbeda. Pihak timur dengan paham komunis-sosialis serta pihak barat dengan kapitalis-liberalis berusaha masuk ke Indonesia melalui para tokoh pejuang dalam organisasi-organisasi politik.

GESTAPU ( Gerakan 30 September ) menjadi awal perubahan bentuk negara hingga bertahan 32 tahun. Tentang GESTAPU ini ada yang menyebutnya dengan G 30 S atau juga dengan GESTOK ( Gerakan Satu Oktober ). Cerita tentang peristiwa tersebut pun masih simpang siur tergantung dari pihak mana yang bercerita. Ada yang menceritakan bahwa dalang semua ini adalah CIA karena ia mungkin anti Amerika dengan paham kapitalisnya, ada pula yang menceritakan bahwa orang yang paling bertanggungjawab terhadap semua itu adalah Soeharto, mungkin saja karena Soeharto ia anggap sebagai musuh politiknya. Ada pula yang menyatakan bahwa GESTAPU adalah seluruhnya "masalah intern Angkatan Darat" yang sedang gelisah, sedang PKI hanya memainkan peran tambahan saja, mengambil keuntungan dari perkembangan tersebut.

Hari ini adalah tanggal 30 September, tanggal yang sama pada saat GESTAPU terjadi. Saya sengaja mengunjungi perpustakaan sekolah mencari buku-buku yang mengupas tentang PKI ini. Ada dua buku yang menarik tangan saya mengambilnya dari rak buku. Buku berjudul Sukarno, Tentara, PKI - Segitiga kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961 - 1965 karangan H Rosihan Anwar dan buku berjudul Kudeta 1 Oktober 1965 - Sebuah studi tentang konspirasi karangan Victor M Fic. Keduanya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia.

Kedua buku ini menampilkan sisi yang berbeda namun ada kesamaan diantara keduanya. Persamaan kedua buku tersebut adalah menceritakan tentang keterlibatan dan suasana politik antara Sukarno, TNI dan PKI. Sukarno sebagai pemimpin besar revolusi dan Panglima Tertinggi ABRI, TNI yang terpecah menjadi dua kubu pro-kontra dengan visi Sukarno, dan PKI sebagai partai besar yang berkuasa dan mendapatkan tempat khusus dalam pemerintahan dan kedekatan dengan Sukarno.

Rosihan Anwar dapat dikatakan sebagai pengamat politik pada saat itu. Pengamatan selama tahun 1961 hingga 1965 ia catat sehingga menjadi sebuah analisa yang mengerucutkan ramalan tentang prahara besar yang secara fundamental mengubah perpolitikan Indonesia. Rosihan Anwar tidak hanya mencatat dari apa yang ia amati melalui media cetak atau radio tetapi juga melaui jaringan perkawanan yang meliputi orang-orang yang terlibat langsung dengan konfrontasi tersebut. Rosihan adalah seorang Sjahririan ( pengikut Sutan Sjahrir ) yang mendirikan Partai Sosialis Indonesia ( PSI ) dan dibubarkan oleh Sukarno di tahun 1960. Biarpun partai tersebut bubar, Rosihan Anwar tetap memelihara kontak dengan tentara yakni Brigadir Jenderal TNI M.T Harjono sementara rekannya Soejatmoko terus berhubungan dengan Dr. Subandrio, Menteri Luar Negeri dan orang kepercayaan Sukarno. 
Melalui kontak itulah Rosihan Anwar dapat mengetahui informasi misalnya pengakuan Sukarno dan keluhannya tentang kinerja kabinet yang dipimpin sehingga terbersit keinginan mengangkat Brihjen Ahmad Jusuf menjadi pimpinan kabinet tetapi ternyata ditolak oleh Jenderal A Yani.

Memoir-memoirnya ini pada akhirnya dibenarkan juga oleh orang-orang yang terlibat dalam peristiwa selama kurun waktu tersebut, misalnya Nasution yang membenarkan soal perbedaan sikap terhadap Sukarno dalam pimpinan PKI hingga keterangan yang dibenarkan oleh orang-orang PKI yang telah dilepaskan dari kamp Pulau Buru, pada pledoi Sudisman di depan Mahkamah Militer Luar Biasa maupun dalam buku Rex Mortimer tentang PKI di masa Demokrasi Terpimpin ( Salim Said, Hal xiv )

Buku kedua yang ditulis oleh Victor M Fic mengulas berdasarkan pada temuan dokumen-dokumen yang membuka dan menggambarkan konspirasi yang tengah terjadi antara Sukarno, D.N Aidit dan beberapa tokoh TNI. Beberapa dokumen tersebut diantaranya adalah :
·       Surat Aidit kepada Presiden Sukarno tanggal 6 Oktober 1965
·       Instruksi tetap Central Comite Partai Komunis Indonesia kepada seluruh CDB PKI se-Indonesia
·       Otokritik Supardjo yang mengungkapkan pendapatnya tentang gagalnya G-30-S dari sudut pandang militer
·       The Gilchrist Document
·       Pengumuman 30 September lewat RRI Djakarta
·       Dekrit No.1 tentang pembentukan dewan revolusi Indonesia ( 1 Oktober 1965 )
·       CIA Asset In Indonesia
·       dan banyak dokumen lainnya.
Berdasarkan dokumen tersebut, Victor menyampaikan tentang keterlibatan Sukarno dengan peristiwa Dewan Jenderal hingga perubahan sikap Sukarno terhadap PKI sehingga rencana pengambil alihan kekuasaan oleh D.N Aidit gagal serta campur tangan Mao Zhe Dong  dalam serangkaian ide-ide perebutan kekuasaan tersebut.

A.H Nasution sebagai salah satu tokoh yang menjadi target pembunuhan malam itu ternyata lolos. Kelolosan Nasution ini menjadi kecelakaan awal bagi Aidit dalam menjalankan rencananya serta sederetan kecelakaan lainnya yang tidak sesuai dengan skenario yang disusun. Keterlibatan Soeharto pun diungkap di sini sedikit. Kala itu Latief yang memiliki personil 7000 dalam rencana aksi G-3--S sedangkan pasukan reguler di Jakarta berjumlah 60.000 tentu bukan lawan yang seimbang manakala aksi ini terjadi. Latif lantas menemui Soeharto yang sedang menunggui Tomy di rumah sakit saat itu. Latif menemui Soeharto dan menyampaikan maksud untuk mengajak Soeharto sebagai PANGKOSTRAD dalam aksi G-30-S. Latif menjelaskan bahwa perwira progresif akan melancarkan pembasmian terhadap anggota Dewan Jenderal dalam beberapa jam sebagai perintah dari panglima tertinggi. Soeharto menjawab bahwa masalah Dewan Jenderal itu masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Soeharto jelas menahan diri dan Latif memahaminya bahwa Soeharto tidak ikut ambil bagian tetapi juga tidak menentangnya karena hal itu merupakan perintah presiden, panglima tertinggi.

Kedua buku tersebut sangat cocok jika dikomprehensifkan dengan kisah Soeharto dan Sukarno pada saat peristiwa tersebut terjadi. Sekali lagi, kedua buku tersebut adalah intrepretasi dari sudut pandang seorang Rosihan Anwar dan Victor M Fic. Entah kapan pada suatu saat nanti beberapa bukti kebenaran peristiwa tersebut akan terungkap meskipun alasan Presiden Sukarno berbalik arah melawan Aidit dan alasan mendasar dan pembicaraan yang lengkap antara Suharto dengan Latif dibawa oleh beliau di liang lahat. Yang jelas, peristiwa 1 Oktober benar-benar membawa arah perubahan politik Indonesia hingga 32 tahun lamanya dan hingga kini sejak pasca reformasi bergulir.



Buku ini terdiri dari 5 bagian dengan rincian sebagai berikut :
1.    1961 Tahun menyerahnya pimpinan PRRI-Permesta
2.    1962 Tahun Perjuangan Pembebasan Irian Barat
3.    1963 Tahun Konfrontasi dengan Malaysia
4.    1964 Tahun Memanasnya suhu politik
5.    1965 Tahun meletusnya Gerakan 30 September

1.         1961 Tahun Menyerahnya pimpinan PRRI-Permesta (halaman 1)
Di buku ini dalam bagian pertama menjelaskan tentang penyakit MANIPOL USDEK yang diceritakan oleh Rosihan Anwar, selanjutnya dijelaskan juga tentang PKI yang mau masuk Kabinet pada tanggal 3 Februari 1961, setelah itu di jelaskan juga PKI akan Ikut Garis peking pada tanggal 29 maret 1961 pada tanggal 29 Maret 1961. Karena buku ini berbentuk sebuah catatan seseorang maka banyak peristiwa yang diceritakan.
Pemberontakan di Sumatra dapat dengan mudah ditumpas oleh pemerintah. Mereka tidak melakukan perlawanan yang berarti. Pasukan banyak yang melarikan diri, bersebunyi dan menyerah. Para tentara kebanyakan dari para pelajar dan mahasiswa yang belum berpengalaman dalam perang. Tawaran Soekarno dan Nasution tentang pemberian amnesti, abolisi dan rehabilitasi diterima oleh mereka .
Terjadinya PRRI/Permesta membawa luka luar dalam bagi masyarakat di dalamnya. Di Minang, korban yang jatuh dari pihak PRRI kurang lebih berjumlah 22.174 jiwa, 4.360 luka-luka, 8.072 ditahan. Dari pihak APRI pusat jumlah yang meninggal adalah 10.150 jiwa, terdiri dari 2.499 tentara, 956 anggota OPR, 274 Polisi, dan 5.592 orang sipil . Pembangunan fisik yang selama ini dibangun menjadi hancur. Masyarakat Minang menjadi rendah diri, muno, lalu cigin ke rantau. Perubahan kebijakan oleh Pemerintah Pusat terhadap daerah. Dekrit presiden 5 juli 1959 yang menetapkan kembalinya pemerintahan sesuai dengan UUD 1945. Dengan berhasil ditumpasnya PRRI/Permesta maka PKI justru berkembang sebagai kekuatan yang semakin kuat di tubuh TNI AD dan semakin berpengaruh terhadap Soekarno dalam kaitannya dengan perpolitikan Indonesia yaitu diakuinya Nasakom [nasionalisme, sosialisme, dan agama.
Dampak selanjutnya adalah menimbulkan kesadaran di kalangan pimpinan negara bahwa wilayah NKRI terdiri dari kepulauan yang luas dan beraneka ragam masalah di setiap daerah. Sembohya Binneka tunggal Ika harus dihayati makna dan hakekatnya. Hak otonomi yang luas memang perlu diberika kepada setiap daerah agar setia ebijakan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masing-masing daerah .
Peristiwa gerakan separatis tersebut menyebabkan jatuhnya kabinet Ali II pada tanggal 14 Maret 1957 yang ditandai dengan penyerahan mandat dari Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo kepada Presiden. Kabinet tersebut digantikan oleh kabinet Djuanda yang secara resmi di bentuk pada tanggal 9 April 1957
Terjadinya suatu peristiwa tidak lepas dari hal-hal yang telah terjadi sebelumnya, seperti yang telah diketahui bahwa dalam disiplin ilmu sejarah berlaku hukum kausalitas atau sebab-akibat. Peristiwa pemberontakan PRRI/Permesta yang terjadi juga tidak lepas dari berbagai factor yang menyebabkannya. Factor politis dan ekonomis sangat berperan sebagai penyebab dari pemberontakan ini. Posisi militer sebagai opsan pemerintah berusaha mengambil alih kekuasaan sipil setelah melihat berbagai kekurangan dalam berbagai kebijakannya.
Kondisi yang dianggap ”sentralistik” oleh daerah menyebabkan hubungan antara pusat dan daerah menjadi kurang harmonis. Hal tersebut dikarenakan perbedaan pendapat antara daerah dengan pusat. Daerah menganggap bahwa kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan daerah. Sedangkan pemerintah pusat menganggap bahwa daerah kurang mampu dalam melaksanakan tugasnya. Gerakan PRRI/Permesta merupakan gejolak daerah yang berusaha melakukan koreksi terhadap kondisi bangsa yang morat-marit.
Gerakan tersebut membawa dampak positif maupun negatif bagi bangsa Indonesia. Kerugian materi maupun psikologis diderita masyarakat, tetapi disisi lain gerakan tersebut menyadarkan para pemimpin bangsa akan pentingnya otonomi daerah serta keharusan untuk menghayati hakekat Binneka Tunggal Ika.
2.         1962 Tahun Perjuangan Pembebasan Irian Barat (halaman 89)
Dalam bagian ini Rosihan Anwar menjelaskan atau menceritakan banyak hal dimulai dari bagaimana cara pembebasan irian barat baik melalui diplomasi maupun konfrontasi. Selanjutnya Suharto menjadi penglima Mandala pada tanggal 10 Januari 1962, dan sampai pada penangkapan terhadap syahrir yang dianggap soekarno sebagai teroris.(halaman 104)
Setelah itu bung Hatta mengirimkan surat kepada Ir. Soekarno yang mengatakan bahwa syahriri tidak mungkin menjadi teroris dan meminta Ir. Soekarno berkenan untuk membebaskan syahrir. Di bagian inilah kediktatoran ir soekarno mulai merajalela.
Kembali lagi pada tahun perjuangan pembebasan Irian barat banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun tersebut. Namun untuk secara jelasnya silahkan di baca buku ini.
3.         1963 Tahun Konfrontasi dengan Malaysia (halaman 213)
Di dalam bagian ini Rosihan Anwar menjelaskan bahwa PKI menuntut pembentukan Kabinet Nasakom pada tanggal 19 Januari 1963, hal ini dikarenakan situasi di dalam negeri yang semakin tidak menentu karena harga-harga semuanya naik. Selain itu ada lagi peristiwa tentang menggayang mereka yang tidak suka Nasakom atau anti Nasakom pada tanggal 18 februari 1963.

4.         1964 Tahun memanasnya suhu politik (halaman 261)
Dijelaskan adanya peristiwa Aksi-Aksi sepihak kaum petani pada tanggal 3 januari 1964, selain itu uga ada peristiwa perusahaan-perusahaan inggris diambil alih pada tanggal 20 januari 1964, hal ini dikarenakan inggris membantu malaysia padahal pada saat itu Indonesia sedang ganyang dengan malaysia, sehingga pemuda-pemuda mengambil alih perusahaan inggris yang ada di indonesia, sebagai bentuk kemarahan. Dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa penting yang dicatat oleh Rosihan anar di dalam bukunya ini seperti perundingan tingkat menlu di bangkok pada tanggal 10 februari 1964.

5.         Tahun meletusnya gerakan 30 september (halaman 313)
Di tahun ini dijelaskan berbagai peristiwa diantaranya yaitu:
Ø   Indonesia Akan keluar dari PBB (1 Januari 1965)
Ø   Kawan seperjuangan terpaksa kita tinggalkan (2 Januari 1965)
Ø   Partai Murba Dilarang Untuk Sementara (11 Januari 1965)
Ø   Aidit Usulkan persenjatahialah buruh dan tani (15 Januari 1965)
Ø   Dokumen PKI (19 Januari 1965)
Ø   Peristiwa 10 mei” di bandung berakhir (10 mei 1965)
Ø   Dan masih banyak lagi.
Kesimpulan:
Dari semua resensi yang saya buat tentang buku ini, kesimpulan dalam buku ini ada di bagian awalannya yang menjelaskan tentang buku ini. Kalau bagian-bagian buku ini hanya mengambil ringkasan dari yang ada dalam buku.
Kekurangan:
Menurut saya pribadi kekurangan buku ini tidak ada, setelah saya baca.
Kelebihan:
1.         Cover buku cukup menarik, karena sesuai dengan isi dari dalam buku ini  yaitu tentang  soekarno, tentara dan PKI.
2.         Setelah saya membaca buku ini, buku ini sangat menarik dan bagus bagi saya. Mengapa? buku ini menjelaskan berdasarkan catatan diary seseorang yang memang hidup pada zaman itu dan melakoni sejarah ini. Selain itu bagian-bagian dalam setiap kejadian sangat dirinci dalam bagian-bagian tertentu sehingga orang yang membaca dapat mengetahui dengan dengan data yang rinci juga. Sangat bagus untuk mahasiswa menjadi Refrensi mengenai tentang pelurusan sejarah.


No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...