![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: RIWAN SUTANDI
|
|
|
NIM
|
: 3101412084
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku
Judul : Soekarno,
Tentara, PKI (Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965)
Penulis
: Salim Said
Penerbit
: Yayasan Obor Indonesia
(Jl. Plaju No. 10 Jakarta 10230)
Edisi
pertama : september 2006
Edisi
kedua : Januari 2007
Tebal Buku : Xiv + 396 hlm.; 16x24
cm.
ISBN : 979-461-613-3.
B.
Sinopsis Buku
Soekarno, Tentara, PKI
(Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965)
Buku mengenai “Pelurusan Sejarah tahun 1965” sudah
banyak terbit, dengan berbagai kesimpulan yang diusungnya. Buku ini lain lagi
ceritanya; menampakan kesaksian catatan harian Rosihan Anwar “in the mood of
diaries at the crucial moment” yang ditulis dengan objektif dan tekun selama 5
tahun (1961-1965), yang menggambarkan prolog permainan segitiga kekuasaan yang
semu antara Sukarno – Tentara dan PKI sebelum negeri ini terhempas ke dalam
Prahara Besar. Bagi generasi muda bangsa yang waktu itu bau lahir dan generasi
sesudahnya yang tidak tahu banyak tentang sejarah dan “aroma semangat zaman
waktu itu”, buku ini dipersembahkan.
Buku
ini merupakan kesaksian catatan harian Rosihan Anwar “In The Mood of Diaries at
the Crucial Moment” yang ditulis dengan objektif dan tekun selama 5 tahun
(1961-1965), yang menggambarkan prolog permainan segitiga kekuasaan yang seru
antara Sukarno – Tentara dan PKI sebelum negeri ini terhempas ke dalam Prahara
Besar. Kontak-kontak pribadi dan catatan percakapan empat mata tentang
soal-soal politik dengan tokoh-tokoh masa itu seperti : Bung Hatta, Bung
Sjahrir, Soedjatmiko, Aidit, Subandrio, MT Haryono dan sebagainya, membuat buku
ini sukar dicari padanannya dengan buku sejarah manapun.
Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945 maka
sejak saat itulah berdiri sebuah negara baru yang merdeka dan berdaulat. Sebuah
negara yang belum memiliki bentuk jelas sehingga menjadi sorotan dua pihak
negara yang berhaluan berbeda. Pihak timur dengan paham komunis-sosialis serta
pihak barat dengan kapitalis-liberalis berusaha masuk ke Indonesia melalui para
tokoh pejuang dalam organisasi-organisasi politik.
GESTAPU ( Gerakan 30 September ) menjadi awal perubahan bentuk negara
hingga bertahan 32 tahun. Tentang GESTAPU ini ada yang menyebutnya dengan G 30
S atau juga dengan GESTOK ( Gerakan Satu Oktober ). Cerita tentang peristiwa
tersebut pun masih simpang siur tergantung dari pihak mana yang bercerita. Ada
yang menceritakan bahwa dalang semua ini adalah CIA karena ia mungkin anti
Amerika dengan paham kapitalisnya, ada pula yang menceritakan bahwa orang yang
paling bertanggungjawab terhadap semua itu adalah Soeharto, mungkin saja karena
Soeharto ia anggap sebagai musuh politiknya. Ada pula yang menyatakan bahwa
GESTAPU adalah seluruhnya "masalah intern Angkatan Darat" yang sedang
gelisah, sedang PKI hanya memainkan peran tambahan saja, mengambil keuntungan
dari perkembangan tersebut.
Hari ini adalah tanggal 30 September, tanggal yang sama pada saat GESTAPU
terjadi. Saya sengaja mengunjungi perpustakaan sekolah mencari buku-buku yang
mengupas tentang PKI ini. Ada dua buku yang menarik tangan saya mengambilnya
dari rak buku. Buku berjudul Sukarno, Tentara, PKI - Segitiga kekuasaan sebelum
Prahara Politik 1961 - 1965 karangan H Rosihan Anwar dan buku berjudul Kudeta 1
Oktober 1965 - Sebuah studi tentang konspirasi karangan Victor M Fic. Keduanya
diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia.
Kedua buku ini menampilkan sisi yang berbeda namun ada kesamaan diantara
keduanya. Persamaan kedua buku tersebut adalah menceritakan tentang
keterlibatan dan suasana politik antara Sukarno, TNI dan PKI. Sukarno sebagai
pemimpin besar revolusi dan Panglima Tertinggi ABRI, TNI yang terpecah menjadi
dua kubu pro-kontra dengan visi Sukarno, dan PKI sebagai partai besar yang
berkuasa dan mendapatkan tempat khusus dalam pemerintahan dan kedekatan dengan
Sukarno.
Rosihan Anwar dapat dikatakan sebagai pengamat politik pada saat itu.
Pengamatan selama tahun 1961 hingga 1965 ia catat sehingga menjadi sebuah
analisa yang mengerucutkan ramalan tentang prahara besar yang secara
fundamental mengubah perpolitikan Indonesia. Rosihan Anwar tidak hanya mencatat
dari apa yang ia amati melalui media cetak atau radio tetapi juga melaui
jaringan perkawanan yang meliputi orang-orang yang terlibat langsung dengan
konfrontasi tersebut. Rosihan adalah seorang Sjahririan ( pengikut Sutan
Sjahrir ) yang mendirikan Partai Sosialis Indonesia ( PSI ) dan dibubarkan oleh
Sukarno di tahun 1960. Biarpun partai tersebut bubar, Rosihan Anwar tetap
memelihara kontak dengan tentara yakni Brigadir Jenderal TNI M.T Harjono
sementara rekannya Soejatmoko terus berhubungan dengan Dr. Subandrio, Menteri
Luar Negeri dan orang kepercayaan Sukarno.
Melalui kontak itulah Rosihan Anwar dapat mengetahui informasi misalnya
pengakuan Sukarno dan keluhannya tentang kinerja kabinet yang dipimpin sehingga
terbersit keinginan mengangkat Brihjen Ahmad Jusuf menjadi pimpinan kabinet
tetapi ternyata ditolak oleh Jenderal A Yani.
Memoir-memoirnya ini pada akhirnya dibenarkan juga oleh orang-orang yang
terlibat dalam peristiwa selama kurun waktu tersebut, misalnya Nasution yang
membenarkan soal perbedaan sikap terhadap Sukarno dalam pimpinan PKI hingga
keterangan yang dibenarkan oleh orang-orang PKI yang telah dilepaskan dari kamp
Pulau Buru, pada pledoi Sudisman di depan Mahkamah Militer Luar Biasa maupun
dalam buku Rex Mortimer tentang PKI di masa Demokrasi Terpimpin ( Salim Said,
Hal xiv )
Buku kedua yang ditulis oleh Victor M Fic mengulas berdasarkan pada temuan
dokumen-dokumen yang membuka dan menggambarkan konspirasi yang tengah terjadi
antara Sukarno, D.N Aidit dan beberapa tokoh TNI. Beberapa dokumen tersebut
diantaranya adalah :
·
Surat Aidit kepada Presiden Sukarno tanggal 6 Oktober 1965
·
Instruksi tetap Central Comite Partai Komunis Indonesia kepada seluruh CDB
PKI se-Indonesia
·
Otokritik Supardjo yang mengungkapkan pendapatnya tentang gagalnya G-30-S
dari sudut pandang militer
·
The Gilchrist Document
·
Pengumuman 30 September lewat RRI Djakarta
·
Dekrit No.1 tentang pembentukan dewan revolusi Indonesia ( 1 Oktober 1965 )
·
CIA Asset In Indonesia
·
dan banyak dokumen lainnya.
Berdasarkan dokumen tersebut, Victor menyampaikan tentang keterlibatan
Sukarno dengan peristiwa Dewan Jenderal hingga perubahan sikap Sukarno terhadap
PKI sehingga rencana pengambil alihan kekuasaan oleh D.N Aidit gagal serta
campur tangan Mao Zhe Dong dalam serangkaian ide-ide perebutan kekuasaan
tersebut.
A.H Nasution sebagai salah satu tokoh yang menjadi target pembunuhan malam
itu ternyata lolos. Kelolosan Nasution ini menjadi kecelakaan awal bagi Aidit
dalam menjalankan rencananya serta sederetan kecelakaan lainnya yang tidak
sesuai dengan skenario yang disusun. Keterlibatan Soeharto pun diungkap di sini
sedikit. Kala itu Latief yang memiliki personil 7000 dalam rencana aksi G-3--S
sedangkan pasukan reguler di Jakarta berjumlah 60.000 tentu bukan lawan yang
seimbang manakala aksi ini terjadi. Latif lantas menemui Soeharto yang sedang
menunggui Tomy di rumah sakit saat itu. Latif menemui Soeharto dan menyampaikan
maksud untuk mengajak Soeharto sebagai PANGKOSTRAD dalam aksi G-30-S. Latif
menjelaskan bahwa perwira progresif akan melancarkan pembasmian terhadap
anggota Dewan Jenderal dalam beberapa jam sebagai perintah dari panglima
tertinggi. Soeharto menjawab bahwa masalah Dewan Jenderal itu masih memerlukan
penyelidikan lebih lanjut. Soeharto jelas menahan diri dan Latif memahaminya
bahwa Soeharto tidak ikut ambil bagian tetapi juga tidak menentangnya karena
hal itu merupakan perintah presiden, panglima tertinggi.
Kedua buku tersebut sangat cocok jika dikomprehensifkan dengan kisah
Soeharto dan Sukarno pada saat peristiwa tersebut terjadi. Sekali lagi, kedua
buku tersebut adalah intrepretasi dari sudut pandang seorang Rosihan Anwar dan
Victor M Fic. Entah kapan pada suatu saat nanti beberapa bukti kebenaran
peristiwa tersebut akan terungkap meskipun alasan Presiden Sukarno berbalik
arah melawan Aidit dan alasan mendasar dan pembicaraan yang lengkap antara
Suharto dengan Latif dibawa oleh beliau di liang lahat. Yang jelas, peristiwa 1
Oktober benar-benar membawa arah perubahan politik Indonesia hingga 32 tahun
lamanya dan hingga kini sejak pasca reformasi bergulir.
Buku ini terdiri
dari 5 bagian dengan rincian sebagai berikut :
1. 1961 Tahun
menyerahnya pimpinan PRRI-Permesta
2. 1962 Tahun
Perjuangan Pembebasan Irian Barat
3. 1963 Tahun
Konfrontasi dengan Malaysia
4. 1964 Tahun
Memanasnya suhu politik
5. 1965 Tahun
meletusnya Gerakan 30 September
1.
1961
Tahun Menyerahnya pimpinan PRRI-Permesta (halaman 1)
Di buku ini dalam bagian pertama
menjelaskan tentang penyakit MANIPOL USDEK yang diceritakan oleh Rosihan Anwar,
selanjutnya dijelaskan juga tentang PKI yang mau masuk Kabinet pada tanggal 3
Februari 1961, setelah itu di jelaskan juga PKI akan Ikut Garis peking pada
tanggal 29 maret 1961 pada tanggal 29 Maret 1961. Karena buku ini berbentuk
sebuah catatan seseorang maka banyak peristiwa yang diceritakan.
Pemberontakan di Sumatra dapat
dengan mudah ditumpas oleh pemerintah. Mereka tidak melakukan perlawanan yang
berarti. Pasukan banyak yang melarikan diri, bersebunyi dan menyerah. Para
tentara kebanyakan dari para pelajar dan mahasiswa yang belum berpengalaman
dalam perang. Tawaran Soekarno dan Nasution tentang pemberian amnesti, abolisi
dan rehabilitasi diterima oleh mereka .
Terjadinya PRRI/Permesta membawa
luka luar dalam bagi masyarakat di dalamnya. Di Minang, korban yang jatuh dari
pihak PRRI kurang lebih berjumlah 22.174 jiwa, 4.360 luka-luka, 8.072 ditahan.
Dari pihak APRI pusat jumlah yang meninggal adalah 10.150 jiwa, terdiri dari
2.499 tentara, 956 anggota OPR, 274 Polisi, dan 5.592 orang sipil . Pembangunan
fisik yang selama ini dibangun menjadi hancur. Masyarakat Minang menjadi rendah
diri, muno, lalu cigin ke rantau. Perubahan kebijakan oleh Pemerintah Pusat
terhadap daerah. Dekrit presiden 5 juli 1959 yang menetapkan kembalinya
pemerintahan sesuai dengan UUD 1945. Dengan berhasil ditumpasnya PRRI/Permesta
maka PKI justru berkembang sebagai kekuatan yang semakin kuat di tubuh TNI AD
dan semakin berpengaruh terhadap Soekarno dalam kaitannya dengan perpolitikan
Indonesia yaitu diakuinya Nasakom [nasionalisme, sosialisme, dan agama.
Dampak selanjutnya adalah
menimbulkan kesadaran di kalangan pimpinan negara bahwa wilayah NKRI terdiri
dari kepulauan yang luas dan beraneka ragam masalah di setiap daerah. Sembohya
Binneka tunggal Ika harus dihayati makna dan hakekatnya. Hak otonomi yang luas
memang perlu diberika kepada setiap daerah agar setia ebijakan sesuai dengan
kebutuhan dan kepentingan masing-masing daerah .
Peristiwa gerakan separatis
tersebut menyebabkan jatuhnya kabinet Ali II pada tanggal 14 Maret 1957 yang
ditandai dengan penyerahan mandat dari Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo
kepada Presiden. Kabinet tersebut digantikan oleh kabinet Djuanda yang secara
resmi di bentuk pada tanggal 9 April 1957
Terjadinya suatu peristiwa tidak
lepas dari hal-hal yang telah terjadi sebelumnya, seperti yang telah diketahui
bahwa dalam disiplin ilmu sejarah berlaku hukum kausalitas atau sebab-akibat.
Peristiwa pemberontakan PRRI/Permesta yang terjadi juga tidak lepas dari
berbagai factor yang menyebabkannya. Factor politis dan ekonomis sangat
berperan sebagai penyebab dari pemberontakan ini. Posisi militer sebagai opsan
pemerintah berusaha mengambil alih kekuasaan sipil setelah melihat berbagai
kekurangan dalam berbagai kebijakannya.
Kondisi yang dianggap
”sentralistik” oleh daerah menyebabkan hubungan antara pusat dan daerah menjadi
kurang harmonis. Hal tersebut dikarenakan perbedaan pendapat antara daerah
dengan pusat. Daerah menganggap bahwa kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan
daerah. Sedangkan pemerintah pusat menganggap bahwa daerah kurang mampu dalam
melaksanakan tugasnya. Gerakan PRRI/Permesta merupakan gejolak daerah yang
berusaha melakukan koreksi terhadap kondisi bangsa yang morat-marit.
Gerakan tersebut membawa dampak
positif maupun negatif bagi bangsa Indonesia. Kerugian materi maupun psikologis
diderita masyarakat, tetapi disisi lain gerakan tersebut menyadarkan para
pemimpin bangsa akan pentingnya otonomi daerah serta keharusan untuk menghayati
hakekat Binneka Tunggal Ika.
2.
1962
Tahun Perjuangan Pembebasan Irian Barat (halaman 89)
Dalam bagian ini Rosihan Anwar
menjelaskan atau menceritakan banyak hal dimulai dari bagaimana cara pembebasan
irian barat baik melalui diplomasi maupun konfrontasi. Selanjutnya Suharto
menjadi penglima Mandala pada tanggal 10 Januari 1962, dan sampai pada
penangkapan terhadap syahrir yang dianggap soekarno sebagai teroris.(halaman
104)
Setelah itu bung Hatta mengirimkan
surat kepada Ir. Soekarno yang mengatakan bahwa syahriri tidak mungkin menjadi
teroris dan meminta Ir. Soekarno berkenan untuk membebaskan syahrir. Di bagian
inilah kediktatoran ir soekarno mulai merajalela.
Kembali lagi pada tahun perjuangan
pembebasan Irian barat banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
tahun tersebut. Namun untuk secara jelasnya silahkan di baca buku ini.
3.
1963
Tahun Konfrontasi dengan Malaysia (halaman 213)
Di dalam bagian ini Rosihan Anwar
menjelaskan bahwa PKI menuntut pembentukan Kabinet Nasakom pada tanggal 19
Januari 1963, hal ini dikarenakan situasi di dalam negeri yang semakin tidak
menentu karena harga-harga semuanya naik. Selain itu ada lagi peristiwa tentang
menggayang mereka yang tidak suka Nasakom atau anti Nasakom pada tanggal 18
februari 1963.
4.
1964
Tahun memanasnya suhu politik (halaman 261)
Dijelaskan adanya peristiwa
Aksi-Aksi sepihak kaum petani pada tanggal 3 januari 1964, selain itu uga ada
peristiwa perusahaan-perusahaan inggris diambil alih pada tanggal 20 januari
1964, hal ini dikarenakan inggris membantu malaysia padahal pada saat itu
Indonesia sedang ganyang dengan malaysia, sehingga pemuda-pemuda mengambil alih
perusahaan inggris yang ada di indonesia, sebagai bentuk kemarahan. Dan masih
banyak lagi peristiwa-peristiwa penting yang dicatat oleh Rosihan anar di dalam
bukunya ini seperti perundingan tingkat menlu di bangkok pada tanggal 10
februari 1964.
5.
Tahun
meletusnya gerakan 30 september (halaman 313)
Di tahun ini dijelaskan berbagai peristiwa
diantaranya yaitu:
Ø
Indonesia Akan keluar
dari PBB (1 Januari 1965)
Ø
Kawan seperjuangan
terpaksa kita tinggalkan (2 Januari 1965)
Ø
Partai Murba Dilarang
Untuk Sementara (11 Januari 1965)
Ø
Aidit Usulkan
persenjatahialah buruh dan tani (15 Januari 1965)
Ø
Dokumen PKI (19 Januari
1965)
Ø
Peristiwa 10 mei” di
bandung berakhir (10 mei 1965)
Ø
Dan masih banyak lagi.
Kesimpulan:
Dari semua resensi yang saya buat
tentang buku ini, kesimpulan dalam buku ini ada di bagian awalannya yang
menjelaskan tentang buku ini. Kalau bagian-bagian buku ini hanya mengambil
ringkasan dari yang ada dalam buku.
Kekurangan:
Menurut saya pribadi kekurangan
buku ini tidak ada, setelah saya baca.
Kelebihan:
1.
Cover buku cukup menarik,
karena sesuai dengan isi dari dalam buku ini
yaitu tentang soekarno, tentara
dan PKI.
2.
Setelah saya membaca buku
ini, buku ini sangat menarik dan bagus bagi saya. Mengapa? buku ini menjelaskan
berdasarkan catatan diary seseorang yang memang hidup pada zaman itu dan
melakoni sejarah ini. Selain itu bagian-bagian dalam setiap kejadian sangat
dirinci dalam bagian-bagian tertentu sehingga orang yang membaca dapat mengetahui
dengan dengan data yang rinci juga. Sangat bagus untuk mahasiswa menjadi
Refrensi mengenai tentang pelurusan sejarah.


No comments:
Post a Comment