![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: DITA DESIANA SAPUTRI
|
|
|
NIM
|
: 3101412060
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas
Buku.
Judul Buku :Gerakan Petani Dalam
Konteks masyarakat Sipil Indonesia (Studi Kasus Organisasi Petani Serikat Tani
Merdeka(SeTAM))
Nama
Penulis :
Desi Rahmawati
Kota
Terbit :
Yogyakarta
Tahun
Terbit :
2002
Tebal
Buku :
30 Halaman
B. Sinopsis
Buku.
Berkaitan dengan tema yang ditulis
oleh Desi yaitu mengenai tentang Gerakan rakyat dalam sebuah bentuk gerakan
petani bukan merupakan sebuah fenomena yang baru melainkan sering terjadi di
Indonesia diberbagai daerah,gerakan petani ini mulai muncul di Indonesia sejak
masa kolonial,gerakan petani pada saat itu bersifat Parsial. Parsial ini
berarti gerakan yang mengedepankan gagasan – gagasan Mesianistik,berbeda dengan
gerakan petani yang diselancarkan pada masa orde baru gerakan petani sudah
digandrungi oleh beberapa organisasi masa salah satunya partai politik.
Dalam buku ini akan membahas
tentang gerakan petani kontemporer sebagai suatu tanggapan terhadap kebijakan
kebijakan negara dan pola polanya yang berkaitan dengan penguatan masyrakat
sipil di Indonesia, selain itu juga akan membahas tentang dinamika gerakan
petani pada masa kontamporer Indonesia.Pada masa itu gerakan petani Indonesia
sudah digawangi oleh beberapa ormas dan partai politik,Serikat tani Merdeka
atau juga disingkat SeTam adalah salah satu ormas yang muncul saat pemerintahan
Soeharto berdiri.
Berkaitan dengan gerakan petani di
Indonesia hingga saat ini terdapat beberapa fase fase dimana adanya perubahan
pada pola gerakan petani. Fase yang pertama disebut dengan gerakan petani
tradisional. Gerakan ini muncul pada masa kolonial Belanda,gerakan ini muncul
akibat terjadi perbedaan status sosial yang mencolok antara raja dan
keluarganya dengan masyarakat,disisi lain kekeuasaan ekonomi dan politik
dipegang oleh penguasa kolonial seperti sistem leverensi dan kontingensi,sistem
tanam paksa yang menempatkan masyarakat petani pada lapisan terbawah yang tidak
memiliki hak untuk memperbaiki nasinbnya. Hal itu yang memicu gerakan petani
sebagaiaksi protes sosial terhadap segala ketimpangan dan konflik kepentingan.
Gerakan petani tradisional diperkuat dengan ide ide tradisional tanpa
mempertimbangnkan rasionalitas melainkan dengan keyakinan – keyakinan pada
mitos yang masih mewarnai kehidupan masyarakat pada saat itu.
Contohnya adalah pemberontakan
petani Banten yang terjadi pada tahun1888, telah membuktikan bahwa latar
belakang sosial ekonomi dan agama dari masyarakat kolonial ketika ketidakpuasan
antara aspek aspek dari praktek keagamaan dan lembaga lembaga kolonial telah
melahirkan gerakan yang dimotori oleh pada elit agama. Gerakan petani ini
akhirnya merebak ke berbagai daerah selain itu juga dikenal adanya perbanditan
sekalipun sudah dimulai ada pengorganisasian secara sederhana ini terjadi pada
sekitar akhir abas XIX.
Fase kedua gerakan petani terjadi
pada masa transisi antara zaman kemerdekaan menuju ke masa orde lama.Pada fase
ini mulai tumbuh organisasi – organisasi,perserikatan,ataupun partai politik
yang memberikan wadah bagi kepentingan petani. Kauum petani mulai memiliki
kecenderungan untuk melakukan alisansi – aliansi politik. Ormas yang muncul pada
masa itu adalah BTI dan PKI . bagi petani, PKI memberikan janji – janji untuk
memperjuangkan nasib mereka dan bagi PKI sendiri Petani menjadi bassis massa
utama disamping buruh. Massa itu digunakan untuk meraih kekuasaan karena pada
masa itu seperti sedang terjadi perlombaan kekuasaan antar partai politik atau
ormas.Namun antara petani dan partai politik ini mendapatkan keuntungan bagi
masing masing pihak.
Setelah tumbangnya orde lama dan
bergantinya kekuasaan orde baru, perjuangan petani dalam gerakannya ini mulai
mengalami kemunduran, hal ini karenaditerapkannya kebijakan massa mengambang
dan korporatisme negara.Kekuatan petani hanya diberi satu wadah yaitu HKTI
(Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) didalamnya adanya permainan kepentingan
kepentingan politik.
Dalam kekuasaan Soeharto ini,petani
memperjuangkan nasibnya sudah mengalami perkembangan yaitu melalui terbentuknya
organisasi petani,dengan demikian kondisi ini melahirkan gerakan petani pada
fase ke tiga,ini yang ditandai dengan perubahan besar pada pola gerakan petani
setalah masuknya ide ide pemberdayaan masyarakat dan demokratisasi yang diusung
oleh LSM. metode pemberdayaan masyarakat tidak sebatas menyuarakan kepentingan
mereka kepada masayakat atau pemerintahan melainkan mengupayakan terciptanya organisasi
dai rakyat oleh rakyat dan untuk kepentingam rakyat.Cara ini dipakai setelah
melihat kegagalan metode lama dalam advokasi masyarakat berkasus.
Pada bab selanjutnya ini akan
membahas mengenai Gerakan Petani Kontamporer sebagai respon terhadap kebijakan
negara.
Dalam konteks Indonesia,stuktur
argaria yang rapuh ini dapat dilihat dari dampak penerapan kebijakan politik
ekonomi yang diwujudkan dalam pertumbuhan ekonomi yang cepat. Secara politis
metode ini dipilih oleh pemerintahan orde baru .Metode ini dengan mengadopsi
skema 5 tahap dari Rostoow yaitu : masyarakat tadisional, prakondisi lepas
landas, lepas landas,bergerak untuk kedewasaan , dan zaman komsumsi massal yang
tinggi , pemerintahan juga menerapkan tiga prasyarak dicapainya tahap pembangunan
lepas landas yaitu : meningkatnya investasi disektor produktif dari pendapatan
nasional, tumbuhnya satu atau lebih sektor industri manufaktur yang penting
dengan tingkat pertumbuhan tinggi , menculnya lembaga lembaga politik dan
sosial secara cepat yang bisa memanfaatkan berbagai dorongan gerak ekspansi
dari sektor ekonomi modern.
Pertanian model ini lebih
menekankan pada industrilisasi yang berorientasi ekspor melalui pengembangan
industri pertanian revolusi hijau antara lain dituangkan dalam beberapa program
seperti bimbingan massa, Intenvikasi massal yang dilakukan kerangkan
komando,industrilisasi kehutanan model hutan tanaman Industri,serta pembangunan
prasarana pendukung pertanian seperti waduk dan bendungan.
Ada tingkatan proses perkembangan
Kapitalisme di Indonesia. Pertama proses eksploitasi dalam proses ini
dibutuhkan dua faktor yaitu produksi bahan pangan yang melimpah dan cadangan
tenaga kerja yang murah. Kedua hal hal diatas harus ditunjang dengan faktor
lain yang juga menentukan industri yang murah bagi kepentingan Kapitalisme.
Gerakan petani pada masa orde baru
muncul sebagai respon dari kebijakan yang sebelumnya mengubah keadaan lebih
baik namun malah terjadinya perubahan dalam stuktur masyarakat tanpa sebab.
Struktur agraria yang rapuh ini telah melahirkan beberapa konflik antara rakyat
dengan negara. Konflik pertanahan masa orde baru memiliki beberapa corak antara
lain :
1. Konflik
karena penetapan fungsi tanah dan kandungan hasil bumi serta beragam tanaman
dan hasilnya sebagai sumber yang dieksploitasi secara massif.
2. Konflik
akibat program swasembada beras yang berakibat pada penguasaan tanah di satu
tangan
3. Konflik
tanah di areal perkebunan karena pengalihan penerbitan HGU maupun karena
program program
4. Konflik
karena penggusuran untuk industri industri pariwisata, real estante,dsb
5. Konflik
akibat penggusuran dan pengambilan tanah rakyat untuk pembangunan sarana sarana
atas nama kepentingan umum
6. Konflik
akibat pencabutan hak atas rakyat atas tanah karena pembangunan atas nama
pembangunan mengatasnamakan kelestarian lingkungan.
Adapun bentuk penindasan karena kasus tanah antara
lain : intimidasi,teror,kekerasan,pematokan,pembongkaran,penangkapan,pemindahan
massal,pem=nggunaan kekerasan di ranah hukum. Fakta – fakta diatas ditambah
dengan iklim sosial politik yang sedang kondusif sekitar tahun 1998 – 1999
kemudian menjadi alasan utama berdirinya organisasi organisasi petanidi luar
HKTI seperti : Federasi Serikat Petani Indonesia, Serikat Tani Internasional,
Kelompok Kerja nasional Petani Mandiri.
Kemudian pada bab selanjutnya akan membahas mengenai
Organisasi Petani Serikat Merdeka (SeTAM)
Gerakan petani pasca masa orde baru
telah mengambil strategi dan pola yang terorganisir. ini merupakan gerakan
petani pada Fase ketiga. Munculnya Organisasi SeTAM yang lahir dalam sebuah
kongres petani di Kedung Ombo Jawa Tengah pada tanggal 29 Agustus 1999.
Lahirnya organisasi ini tidak terlepas dari dampak kebijakan ekonomi politik
masa orde baru yang diwujudkan dalam pertumbuhan ekonomi yang cepat.SeTam memiliki
13 cabang di babarapa kabupaten diantaranya yaitu : Sleman, Bantul, Kulonprogo,
Gunungkidul, Cilacap, Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Klaten, Magelang, dan
Boyolali.
Dalam konsepnya SeTAM memiliki
struktur yang cukup rapi dengan mekanisme kritik dan penanggungjawab ke tingkat
basis pendukung sebagaimana tertera
dalam anggaran dasarnya ini memiliki perlengkapan organisasi seperti :
kongres, Majelis pertimbangan, organisasi dan pengurus pusat disamping rapat
rapat kerja dan musyawarah cabang. Pada prinsipnya divisi divisi ini dibentuk
untuk memudahkan kerja kerja organisasi cabang dalam struktur organisasi SeTAM
juga berfungsi sebagai koordinator yang mengorganisir basis massa SeTAM secara
langsung. Dalam kinerjanya pengurus pokok tidak dibantu oleh divisi advokasi
melainkan dibantu oleh ranting – ranting di tingkat kecamatan yang kemudian
membawahi OTL OTL di tingkat desa. Oleh karena itu pengurus cabang diberi
leluasa untuk membuat jaringan kerja organisasi di tingkat lokal untuk
memperlancar program program advokasinya.
Dalam pembagian kerja untuk
mempermudah koordinasi antar cabang ada dua pola yang dianut. Yang pertama
adalah pembagian kerja secara struktural dan yang kedua adalah pembagian kerja
berdasarkan tanggung jawab yang diberikan beberapa orang pengurus pusat untuk
mengkordinasikan beberapa cabang yang letaknya berdekatan dengan tempat tinggal
pengurus.
SeTAM ini memiliki visi misi untuk
menumbuhkan rasa kebersamaan para petani untuk mengatasi permasalahan
permasalahan secara mandiri,tanpa tergantung pada pihak manapun \,untuk
memperkuat memperkuat posisi tawar petani dalam menentukan kebijakan yang
menguntungkan petani dan yang ketiga untuk meningkatkan kesejahteraan
petani.Visi dan misi ini kemudian dituangkan dalam program kerja.
Program Kerja SeTAM antara lain :
1.
Pendidikan kritisuntuk
kesadaran kolektif petani bersatu untuk mengatasi persoalan distribusi dan
pengadaan saprodi (sarana produksi produksi petani)
2.
Pelatihan pra panen dan pasca
panen
3.
Pelatihan atau pendidikan
manajemen distribusi
4.
Perumusan badan usaha /
koperasi versi petani untuk peningkatan basis perekonomian petani
Padaprinsipnya SeTAM membawa dua macam gerakan yaitu
gerakan ekonomi yang ditunjukan untuk penggalangan solidaritas antar anggota sebagai logistik gerakan disamping
untuk meningkatkan kesejahteraan nasib petani dan gerakan reklaming. Gerakan
reklaming diartikan sebagai sebuah tindakan perlawananyang dilakukan oleh
rakyat tertindas untuk memperoleh kembali hak haknya seperti tanah, air, dan
sumber daya alam serta alat alat produksi lainnya secara adil demi terciptanya
kemakmuran rakyat semesta.
Beberapa yang dijadikan alasan pembenaran Reklaming
adalah :
1.
Alasan moralitas yaitu adanya
penindasan sistematik yang dilakukan oleh penguasa dimana apabila rakyat
berhasil mendapatkan kembali hak haknya atas tanah dan sumber daya alam lainnya
2.
Alasan ketidakadilan struktur
yang menindas merupakan konsekuensi logis dari kebijakan kebijakan ekonomi
politik negara.
3.
Alasan Normatif dimana negara
dinilai telah gagal dalam mengemban amanat rakyat yang tertuang dalam pasal
33ayat 3 UUD 1945 selain itu juga kegagalan MPR / DPR dalam menjembatani
kepentingan rakyat
4.
Alasan hubungan sejarah dan
nilai nilai lokal yang melekat pada obyek reklaming yang seringkali dinafikan
demi kepentingan penguasa
5.
Alasan kewajiban negara dalam
pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.
Pada dasarnya konsep ini merupakan hasil penggodogan
dari fenomene fenomena dan analisis sosial dari struktur ketidakadilan yang
telah menimbulkan gejolak ditingkat masyarakat,yang dipadukan dengan metode
advokasi LSM untuk menciptakan cara yang efektif guna memperjuangkan hak hak
masyarakat korban kebijakan negara dengan cara demokratis .
ada tahapan dalam reklaming dibagi menjadi 3 tahapan
yaitu :
1.
Tahapan pra reklaming yang
pada dasarnya merupakan tahapan persiapan , pengumpulan data, penguatan
organisasi, penyadaran akan nilai nilai demokrati sampai dengan pembentukan tim
negoisasi
2.
pelaksanann dimana proses
proses negoisasi dimulai dilakukan dengan semua pihak terkait. Pada tahap ini
mulai dilakukan berbagai macam aksi yang bertujuan untuk menunjukan atau
memberikan batas pada objek sengketa.
3.
Melakukan upaya untuk mempertahankan
apa yang telah dicapai dengan cara penataan dan pengelolaan objek reklaming
termasuk mengupayakan pengakuan hukum.
Studi kasus tentang SeTAM di Cilacap ini bisa
dijadikan contoh bagaimana potert gerakan petani Kontemporer ini. Kemunculan
gerakan petani di Cilacap ini diawali dengan adanya kasus pertanahan antara
negara dan masyarakat akibat penyerobotan tanah rakyat secara besar besaran
sekita tahun 1965 – 1967 oleh rezim orde baru. Tanah tanah yang dibuka
masyarakat di daerah pengunungan Cilacap Utara dengan cara membuka hutan telah
mendapatkan legiminati dari negara denga diberikannya kartu kuning sebagai
tanda hak garap sebelum diberikan pada hak milik.
Atas dasar itu muncul usaha
masyarakat untuk mempertanyakan status tanah mereka melalui jalur jalur formal
mulai dirintis sejak tahun 1984ketika kelompok Tani Korban Ciseru Cipari dari
desa Mulyadadi,Cipari mulai mengirimkan surat ke pemerintah desa hingga
kabupaten. Di beberapa desa banyak upaya yang dilakukan mulai dari yang
diajukan oleh kepala desa ke pemerintah diatasnya hingga lobi – lobi pribadi
samapi ke Cendana. Namun usaha ini tidak berhasil ketika aksi tuntutan
masyarakat melalui jalur formal denga negoisasi yang dibarengi dengan aksi
pemberian batas sengketa direspon secara represif oleh negara dan perkebunan..
Pada perkembangannya aliansi OTL
yang mulai terbangun dengan menempatkan Kelompok Tani Korban Ciseru Cipari
sebagai pionirnya ini membutuhkan suatu wadah organisasi. Pada bulan April 2001
melalui pendidikna kritis dan resolusi konflik terbentuklah SeTAM Cilacap yang
saat ini telah mengembangkan sayapnya dibeberapa kecamatan didaerah cilacap
utara seperti : Cipari, Wanareja, Mejenang, dan Gadrungmangu. Dengan melakukan
pengorganisasian dan menjalin kerjasama dengan beberapa organisasi ini
menjadikan penyelesaian konflik pertanahan sebagai pintu masuk bagi penguatan
masyarakat sipil. SeTAM Cilacap pada saat itu mengusahakan pelepasan 355, 16
Hektar tanah rakyat yang dikuasai oleh PT.Rumpun Sari Antan denga Jalur jalur
negoisasi.
Berdasarkan hasil negoisasi dengan
pihak diantaranya DPRD, perkebunan, dan pemerintah kabupaten pada bulan April
2002 pihak BPN memang bermaksud untuk melepaskan tanah tanah karena berupa
genangan periodik,perkampungan,dan area tegalan.
Hasil dari sepak terjang selama ini
dalam waktu yang singkat antara 1999 – 2002, SeTAM Cilacap yang memiliki basis
anatar kurang lebih 5000 orang petani telah berhasil menarik perhatian partai
politik dan politisi lokal yang ingin memperrebutkan massanya untuk dukungan –
dukungan politik dalam pilkada dan pemilu tahun 2004 dengan cara pendekatan
pendekatan kepada pengurus maupun anggota SeTAM.
Pada Bab ini akan dijelaskan SeTAM dalam konteks
Masyarakat Sipil
Hal yang membedakan antara pola dan
strategi gerakan petani kontemporer dengan gerakan gerakan petani yang muncul
sekarang ini telah mengubah dirinya untuk menjadi bagian dari Trend penguatan
masyarakat sipil setelah selama lebih dari tiga dasawarsa hagemoni negara
berhasil dalam mematikan iklim demokrasi dan kebebasan berpartisipasi di
tingkat masyarakat.
Eisenstadt mendefinisikan Civil Society ini sebuah bentuk hubungan
negara dengan sejumlah kelompok sosial seperti keluarga,kalangan
bisnis,asosiasi masyarakat, dan gerakan gerakan sosial yang ada dalam negara
tapi sifatnya independen terhadap negara.Ia juga mensyaratkan empat hal yang
menjadi komponen utamanya yaitu :otonomi, akses masyarakat terhadap lembaga
negara,arena publik yang otonom, dan arena publik tersebut bersifat terbuka
bagi semua lapisan masyarakat.
Di Indonesia pada awalnya kehadiran
konsep ini diwakili oleh organisasi organisasi sosial seperti organisasi
keagamaan dan lembaga lembaga swadaya masyarakat. Kemudian terjadi penggeseran
metode pemberdayaan masyarakat. dengan mengamati prinsip prinsip[ yang dianut
oleh SeTAM dan dinamikanya dalam usaha mempertinggi posisi tawarnya, maka ada
beberapa hal yang patut diperhatikan berkaitan dengan konteks penguatan
masyarakat sipil Indonesia Indonesia yang didasarkan pada beberapa prasyarat.
Dalam
hal tingkat otonomi masyrakat. Dalam masyrakat sipil segala bentuk kegiatan
yang dilakukan masyarakat harus bersumber dari masyarakat sendiri tanpa campur
tangan negara. Berdirinya SeTAm bukan atas inisiatif negara namun datang dari
kelompok masyarakat petani yang dipertemukan dalam diskusi dengan LSM sebagai
fasilitatornya. Dalam perkembangannya SeTAM mulai merancang sebuah bangunan
ekonomi untuk melepaskan ketergantungan dengan LSM yang selama ini membantu
pembentukan dan perkembangan namun dalam jangka panjang bertujuan untuk semakin
memperkokoh organisasi secara ekonomi
maupun politis. Akses masyarakat terhadap lembaga negara bisa dilihat
dari dua indikator yaitu partisipasi politik dan komitmen pemerintah untuk
menerima aspirasi masyarakat.
SeTAM Cilacap memiliki akses terhadap
lembaga negara bahkan kepada para
politisi lokal . Namun hal ini tidak terlepas dari sejarah kriminalisasi pada
tahun 1999 yane menerima OTL Ketan Banci karena disana aktivis aktivis petani
kemudian menjadi bagian penting SeTAM Cilacap memiliki saluran interaksi yang
bisa dimanfaatkan demi kepentingan organisasi. SeTAM Cilacap mulai menunjuka
keberhasilannya dalam membuat terobosan terobosan politik ditingkat lokal. Hal
ini tampak dilibatkan SeTAM dalam banyak moment lokal,hingga kemampuananya dalam
mempengaruhi proses pembuatan kebijakan untuk melepaskan beberapa tanah
perkebunan untuk petani menunjukan potensi organisasi untuk menjadi sebuah
kelompok kepentingan petani.
Dengan melihat lagkah langkah yang
dilakukan SeTAM maka dapat dikatakan bahwa gerakan ini dimaksudkan untuk
mengupayakan sebuah posisi tawar masyarakat petani dengan negara sebagai
pembuat keputusan.
·
Kelebihan
Dan Kekurangan Buku
Ø Kelebihan
-
Buku menggunakan penulisan dengan bahasa yang kata
katanya tidak terlalu tinggi sehingga
mudah dimengerti dan memahami
-
Terdapat pengantar dari sumber buku-buku lainnya
sehingga dapat menguatkan kebenaran peristiwa Gerakan Petani Dalam Konteks
masyarakat Sipil Indonesia.
Kekurangan
-
Cara penulisan yang digunakan penulis kurang sistematis
karena kurang terdapat ilustrasi gambar dalam memaparkan peristiwa yang
terkait.
-
Terdapat bahasa yang kurang dimengerti oleh pembaca


No comments:
Post a Comment