![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: TRI MAHENI
|
|
|
NIM
|
: 3101412061
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas
Buku.
Judul :
SOEHARTO & BARISAN JENDRAL ORBA:
rezim militer Indonesia 1974-1983
Penulis :
Devid Jenkins
Penerbit :
Komunitas Bamboo
Tanggal terbit :
mei- 2010
Halaman :
381
B. Sinopsis
Buku.
Buku ini bengitu rinci mengupas
sepak terjang dan kepiawaian Soeharto sebagai dalang jendral-jendralnya yang
sangat setia dan mendominasi kelompok elite orde baru. Dikisahkan bagaimana
Soeharto memainkan mereka dalam perang melawan jendral barisan sakit hati
menentang kekuasaan orde baru. Termasuk perang terhadap kelompok Islam politis
yang dianngap Soeharto sebagai musuh bersama.
David Jenkins yang tulisannya pada
tahun 1986 menggemparkan karena membuka borok Soeharto dan bisnis keluarganya. Berbagai data yang akurat ia peroleh
berkat kepiawainya sebagai sarjana dan wartawan. Hasil uraian sejarah yang
secara gambling menggambarkan kekuasaan rezim militer yang penuh intrik,
rekayasa dan tipu daya.
PARA
JENDRAL AD DAN POLITIK KERATON
Soeharto yang lemah lembut, sering
sering seperti seorang paman yang baik, perilakunta menyembunyikan kecerdikan
dan kelicikan. Keramahan pribadinnya selalu ditunjukan kepada para tamu,
menyamar dengan kuat-kuat dan anehnya begitu dingin serta kaku-akan model
masyarakat yang hendak dibangunya.
Soeharto menghabiskan tahun-tahun sejak
1965 untuk memperluas dan mempertahankan kekuasaannya. Ia mendominasi kabinet
jajaran birokrasi negara, serta mendominasi ABRI dan menguasai sepenuhnya
Menteri pertahanan dan keamanan serta Panglima Kopkamtib yang berkuasas dalam
pemulihan keamanan dan ketertiban. Soeharto merupakan tokoh sentral di Golkar,
suatu organisasi politik yang didukung oleh militer AD dengan cara melumpuhkan
dua partai “oposisi”. Soeharto juga mendominasi seluruh bagian badan yudisial
yang melemah dengan memdudukan kolega lamanya di posisi kunci. Hal ini dalam
kenyataannya terjadi pada Soeharto sebagaimana halnya pada Soekarno. Secara
resmi Soeharto mempengaruhi masyarakat seperti tanpa batas.
Gaya kepemimpinan Soeharto pada
tahun-tahun awal Orde Baru dengan pasti meningkatkan kepercayaan bahwa ia
mengikuti dasar pendekatan patrimonial. Kekuasaan besar yang diberikan kepada
orang seperti Letkol ( kemudian Letjen) Ali Murtopo, rekan lamanya yang
cenderung melakukan operasi di luar struktur “legal-rasional” pemerintah.
Masa-masa sesudah percobaan kudeta merupakan situasi penuh ketidakpastian di
Indonesia, demikian dengan keadaan dikalangan militer. Keadaan itu memaksa
pemimpin baru mencari orang-orangnya untuk bekerjasama, mencari sekutu yang
dapat diandalkan daripada mencari orang lain sebagai “orang luar”.
Suatu pendekatan alternatif yang
mungkin lebih tepat untuk menjelaskan kasus di Indonesia dengan istilah “
pretorian”. Suatu bangsa menurut Nordlinger- dimana para opsir militer menjadi
“ aktor utama yang lebih berkuasa disebabkan oleh kekuatan nyata atau ancaman
kekerasan. Sifat “ pretorian” memberikan berbagai gambaran diri mereka sebagai
para perwira bertanggungjawab kepada konstitusi dan bangsa. Alsannya adalah
pihak militer punya tanggungjawab khusus yaitu “ suatu tugas mendesak melampaui
kewajiban mereka kepada otoritas yang ada”.
Ketika Soeharto meraih kekuasaan
pada pertengahan 1960an ia benar-benar menyandarkan diri kepada sekelompok
kecil dari AD. Pada Agustus 1966 ia membentuk Staf Pribadi (SPRI) yang terdiri
dari enam orang perwira tinggi AD serta dua tim sipil, para spesialis bidang
ekonomi. Pada 1968 SPRI beranggotakan 12 orang. Mereka secara luas dipandang
sebagai “ pemerintah bayangan” yang mempunyai kekuasaan lebih besar dibanding
kabinet, utamanya dalam penyusunan kebijakan. Para anggota SPRI bertanggung
jawab terhadap soal-soal keuangan,politik, intelijen dalam dan luar negeri,
kesejahteraan sosial, masalah-masalah pemilu, juga dengan masalah umum dan
masalah khusus.
SPRI dibubarkan pada juni 1968
karena adanya protes mahasiswa dan media, para anggota inti masih mempunyai
peran yang besar. Alamsjah yang diangkat sebagai sekretais pada Febuari 1968,
emelakukan pengawasan terhadap staf resmi presiden. Yoga Sugama yang
bertanggung jawab terhadap urusan intelijen dalam negeri diangkat sebagai wakil
ketua Bakin, kemudian menjadi ketua Bakin pada tahun yang sama.
Sementara itu Mayjen (kemudian Letjen) Surjo
Wirjohadiputro, perwira SPRI bidang keuangan, Sudjono Humardhani (ekonomi) dan
Ali Murtopo (intelijen luar negeri) diangkat menjadi Asisten Pribadi (ASPRI)
Soeharto. Opsus di bawah Ali Murtopo terus menjalankan “operasi khusus” atas
nama presiden meskipun terdapat oposisi dari sejumlah perwira senior (terutama
dari Jendral Sumitro).
Terlepas dari kesetiaan dan hubungan
panjang mereka hal yang paling mencengangkan tentang kelompok inti tersebut. pertama, presiden punya posisi lebih
berpengaruh terhadap para perwira dengan latar belakang intelijen dan urusan
keamanan. Tiga orang dimana Soeharto bergantung yaitu Ali Murtopo, Benny
Murdani dan Yoga Sugama semua dari bidang intelijen sedangkan Sudomo mempunyai
kekuasaan luar biasa di bidang keamanan. Ciri Kedua yang tidak lazim ialah “ menggandakan” fungsi-fungsi kepada
sejumlah sosok yang paling dipercaya dilingkaran dalam Soeharto. Ciri ketiga,orang-orang yang sangat
terpercaya dari “kelompok inti lingkaran dalam” cenderung tetap berada
diposisinya jauh melampaui kebiasaan masa tugas selama dua tahun.
Ciri keempat,
ialah posisi unik yang “disandang” Murdani, tiga pilar utama pemerintah
Soehaarto: Hankam, Kopkamtib dan Bakin, ketiganya dipimpin oleh mereka yang
setia kepada Soeharto. Ciri kelima,
dua dari empat anggota inti tersebut tergolong orang jawa abangan dari Jawa
Tengah tempat asal Soeharto, sementara dua lainnya Sudomo dan Mardani adalah
Jawa Kristen. Ciri keenam, secara
umum kelompok inti tersebut punya pandangan yang sama dengan sejumlah perwira
militer senior lainnya dalam hal bisnis.
Mereka percaya agar operasi mereka berhasil di
luar sistem ekonomi legal-rasional, perlu adanya kerjasama yang saling
menguntungkan dengan para cukong (pemilik dana yang umumnya orang Cina) serta
modal asing. Jalur ini dipelihara meskipun tidak begitu meningkatkan kekayaan
para perwira senoir tersebut.
Hal lain yan menarik ialah kelompok
inti disekitar Soeharto tersebut masing-masing anggotanya bersifat “pragmatis”.
Ini bukan sekedar tuntutan fungsi yang diterapkan untuk tugas tertentu. Secara
umum perwira militer Indonesia, terutama mereka yang ada dalam dinas intelijen,
rentang terhadap perpecahan diantara mereka yang dikelompokkan sebagai
“pragmatis” dan mereka yang mungkin dapat digambarkan sebagai “prinsipil”.
STRUKTUR
ANGKATAN DARAT, SANG PENGUASA
Sejak awal para pemimpin Orede Baru
menyampaikan komitmen mereka memegang teguh Pancasila, termasuk prnsip-prinsip
kedaulatan rakyat. Mereka juga berkomitmen menjaga UUD 1945 beserta segala hal
yang berkaitan dengan DPR yang dipilih melalui pemilihan umum yang bebas dan
rahasia. Sebagaimana diamati Donalf Hindley, baik Soeharto maupun para Jenderal
di sekelilingnya tidak ingin “membagi kekuasaan sesungguhnya dengan
partai-partai politik, apalagi memindahkan kekuasaan kepada mereka”.
Partai-partai politik dipandang sebagai mesin pendukung kemerosotan,
dikendalikan oleh kaum oportunis yang bekerja memenuhi kepentingan-kepentingan
sempit lapisan kecil. Bahkan secara mendasar, bagi kelompok para pembantu
penting Soeharto, kedua partai politik yang masih hidup yaitu partai tradisonal
Nahdhatul Ulama ( NU) serta Partai Nasional Indonesia (PNI) yang pro-Soekarno.
Pada akhir 1960-an Soeharto
menerapkan pendekatan lebih merangkul partai-partai dari pada mendekati
kelompok yang disebut “ Jenderal Orde Baru radikal”. Menurut seorang kolega
militer, Soeharto berpendapat bahwa NU dan PNI tidak mengartikan pancasila
sebagaimana mestinya. Menurut kelompok penguasa, Soeharto percaya PNI pun
menghendaki “ pancasila plus”. Tuntutan mereka berupa pancasila ditambah dengan
mahaenisme atau pancasila plus kerakyatan.
Dari penjelasan tersebut tidak banyak hal yang bersifat persuasif.
Ketakutan terhadap kekuatan islam politis begitu dalam dibenak pemikiran para
Jenderal Orde Baru sebagai titik sentral guna memahami politik Indonesia
mutakhir.
Pada akhir 1960-an sekutu militer
Soeharto mulai mengubah sekber Golkar menjadi kelompok politik yang sepenuhnya
dengan cara manipulasi, intervensi serta penyumbatan, sejumlah pembantu
Soeharto dapat membatasi kekuatan semua partai politik utama. Guna mencapai
kemenangan yang diperlukan Golkar maka para pembantu Soeharto menggunakan
cara-cara intimidasi dan paksaan. Dengan begitu Golkar memenangkan pemilihan
umum mayoritas dengan perolehan sebesar 62%.
Pada pertengahan 1970-an harapan
awal Golkar mulai menghilang. Sejumlah sosok independen penting yang berada di
organisasiini menarik diri. Golkar memenangkan pemilihan umum bagi para
petinggi AD, sekedar menjadi alat tanpa peran berarti dalam proses parlementer.
Kini ketika pemilihan umum 1977 mendekat, nampak sekali pemerintah berkeinginan
membawa Golkar sebagai “pengesah terorganisasi dari kekuasaan militer”.
Menjelang berlangsungnya pemilihan
umum 1977, pemerintah menjadi deskriminatif dengan melarang PDI berkampanye di
jalan-jalan. Yang lebih serius ialah kelompok politik Islam maju sebagai
oposisi utama di masyarakat, sebagai kesalahan besar taktik pemerintah yang
memaksa fusi berbagai kelompok islam berbeda ke dalam satu wadah. Pada
pertengahan tahun 1970-an muncul kekecewaan publik terhadap Golkar. Kini partai
tersebut dipandang hanya sebagai cangkang berongga. Seperti yang dikatakan
Jusuf Wanandi, seorang perancang strategi kelompok Ali Murtopo yang mengakuinya
pada 1977.
Peran pemerintah terhadap
Golkar terlalu kuat. Wanandi mengeluh
bahwa Golkar harus berada dibawah bayang-bayang kekuasaan. Partai-partai
politik telah diberikan “sejumlah kebebasan tertentu” untuk tumbuh, tetapi
Golkar hanya sebagai latar belakang. Sekalipun demikian terdapat tempat yang
sesungguhnya bagi kepentingan resmi Golkar, sehingga Golkar bukanlah sekedar
cangkang berongga. Kini pada pertengahan 1970-an pemerintah harus menerima
penegasan sendiri akan kenyataan bahwa Golkar mungkin tidak akan bisa
menghadapi sebagaimana yang diharapkan-suatu kompetisi yang relatif bebas
dengan PPP.
NAIK
KE PUNCAK KETEGANGAN ANTAR MILITER
Pada 1972 presiden Soeharto
memberikan tugas kepada Letjen M.R. Kartakusuma, sekretaris Jenderal Dewan
Pertahanan Keamanan Nasional (Hankanmas), agar mengumpulkan bahan-bahan untuk
GBHN yang harus disampaikan kepda MPR pada 1978. Tidak lama sebelum terjadinya
kerusuhan anti-Jepang dan anti-pemerintah pada peristiwa malari januari1974. Di
Jombang pusatnya penganut islama taat, anggota tim Kartasuma dikepung oleh
sekelompok mahasiswa yang marah, menunjukkan anti Golkar dan antimiliter.
Keadaan yang sama juga terjadi di Malang sehari sebelum pecahnya peristiwa
Malari. Menurut Ruslah Abdulgani di mana-mana muncul “perlawanan terhadap
kekuasaan, kediktatoran birokrasi dan manipulasi dalam banyak hal.
Dengan latar belakang masalah yang
terjadi, banyak pensiunan Jenderal yang percaya bahwa kelompok elite penguasa
memutuskan untuk menciptakan suatu “kondisi khusus”. Maka masalah yang timbul
ialah adanya ancaman keamanan yang dituduhkan kepada Komando Jihad. Anggota
ABRI merupakan warga negara yang percaya dan mendukung Pancasila, patriot yang
mempertahankan ideologi negara, pejuan yang membela kejujuran,kebenaran dan
keadilan. Disamping dwifungsi terdapat sembilan prinsip yang harus dijunjung
dalam pelaksanaan dwifungsi ABRI. Dalam memperkenalkan prisip pertama dari
sembilan prinsip dikatakan karena ABRI sebagai instrumen Hankam merupakan alat
kekuasaan pemerintah, posisinya setara dengan pemerintah yaitu diatas seluruh
kelompok dalam masyarakat.
SERUAN
PEMURNIAN: FOSKO DAN LKB
Dengan pengakuan resmi dan sambutan
simpatik dari Kasad, maka Fosko pun tumbuh mekar. Pada 21 juli 1978. Widodo
mengirimkan surat sepanjang dua halaman kepada Menteri Hankam Mohamad Jusuf
yang baru saja dilantik. Ia melaporkan tentang pembentukan Forum Studi dan
Komunikasi TNI serta perkembangannya saat itu. Dalam surat tersebut Widodo
menyatakan bahwa setelah diangkat sebagai Kasad, bukan saja ia bertanggung
jawab terhadap militer secara “organik”, tapi juga menjabat sebagai Ketua
Yayasan Kartika Eka Paksi (YKEP). Tugasnya ialah menyusun rekomendasi kepada
Kasad tentang “pemeliharaan ideologi kejuangan tentara”.
Seperti diketahui bahwa anggota
FOSKO hanya terbatas pada pensiunan perwira senior AD dan melakukan kegiatan
hanya pada masalah yang menyangkut TNI dalam hubungannya dengan masyarakat.
Sekalipun demikian apa yang merekan prihatinkan ternyata memiliki dampak. Maka
berdirilah organisasi serupa tetapi lebih berbasis lebih luas, yaitu Yayasan
Lembaga Kesadaran Berkontitusi (YLKB). Yayasan ini didirikan atas inisiatif
Nasution, dengan keanggotaan mencakup seluruh elemen bangsa.
Dibangun pada seputar poros
Hatta-Sultan-Nasution, LKB akan menjadi badan yang cukup berpengaruh dengan
disatukannya dua orang mantan wakil presiden pertama dan seorang jenderal
terkemuka. Didirikan pada 1 Juni 1978, tepat enam bulan setelah Fosko
didirikan, LKB mempertahankan hubungan dekat dengan kelompok pensiunan perwira
senior. Dan untuk menjaga reputasi serta tujuan-tujuan yang telah diumumkan,
LKB berulang kali menekankan tema kesadaran konstitusi
AD
MENGUSULKAN, ISTANA MEMUTUSKAN
Setelah pelantikannya sebagai
kepala AD pada Januari 1978, Widodo meminta sebuah salinan makalah Seskoad.
Berbagai pendapat yang tertuang di makalah itu memiliki banyak persamaan dengan
pemikirannya. Dalam waktu singkat ia membentuk sebuah komite yang diketuai oleh
wakilnya, Letjen Poniman untuk mengadakan diskusi masalah tersebut secara
mendalam dengan semua kelompok AD. Namun sebenarnya komite itu diberi tugas
segera merumuskan dengan jelas doktrin dwifungsi ABRI.
Pada dekade pertama Orde Baru,
peran ABRI sebagai kekuatan sosial sangat menonjol, demikian menurut makalah
itu. Hal tersebut wajar karena merupakan masa peralihan dari kehidupan
“totaliter” Orde Lama menuju kehidupan demokratis dengan cita-cita berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945. Di masa depan ABRI melihat dirinya sebagasi kekuatan
pertahanan dan keamanan. ABRI mengabdikan diri untuk menjaga wilayah RI dan
seluruh isinya dalam kerangka pertahanan semesta. Dengan demikian keamanan
nasional secara otomatis meningkatkan kemakmuran rakyat.
Hal ini tidak berarti fungsi sosial
ABRI dihapus atau diabaikan. Sebab tugas membangun wilayah yang menjadi
tanggungjawab ABRI dalam kapasitasnya sebagai kekuatan sosial dilaksanakan
melalui institusi lambang kedaulatan rakyat dan melalui badan-badan legislatif,
baik ditingkat nasional maupun daerah.
KEDUA
SISI YANG MENGHIMPIT
Katika pembangunan gedung
perkantoran presiden hampir ramping pada akhir 1960-an, tempat itu kemudian
disebut sebagai gedung “KISS” yang menjelaskan tentang fungsi pokok yang harus
dilakukan disana yakni koordinasi, intergrasi, stabilisasi dan sinkronisasi.
Dengan sisnis orang memplesetkan akronim ini menjadi “Ke Istana
Sendiri-Sendir”, berkaitan dengan kebiasaan presiden Soeharto memanggil para
pembantu dekatnya sendiri-sendiri lalu mempertantangkan mereka satu sama lain.
Sekalipun Soeharto menikmati menikmati kekuasaan besar dengan kedudukannya
sebagai presiden dan panglima tertinggi ABRI tanpa mmenyebutkan posisinya yang
berpengaruh besar di semua angkatan bersenjata ia menerapkan gaya kekuasaan bersifat
kebapakan.
Pada akhir Agustus 1979, Menhamkan
berbicara dalam suatu “pertemuan informal” dengan para pejabat sipil dan ABRI
di Sulawesi Selatan. Ia mngatakan bahwa peran yang diharapkan dari ABRI adalah
menjadi dinamisator kesadaran poilitik rakyat namun bukan berarti ABRI harus
campur tangan dalam urusan internal partai-partai poltik. Jika pemimpin Hankam
hendak menyakinkan rakyat bahwa ABRI
berdiri diatas semua golongan, bahwa ABRI bukan hanya milik satu golongan, maka
mau tidak mau “ambisi politik” harus dibatasi.
Agaknya jelas bahwa Soeharto paham
betul akan perlunya menjembatani jurang antara ABRI dengan rakyat. Ia pun
memberikan restunya atas upaya Jenderal Jusuf untuk menghadirkan wajah baru
ABRI. Namun presiden Soeharto cukup realitis untuk tahu bahwa selain
menguntungkan, pendekatan semacam itu juga mengandung bahaya. Menurut pandangan
Soeharto, ABRI dan Golkar tidak dapat dibagi-bagi jika Jenderal Jusuf berjalan
terlalu jauh membawa bola “ABRI diatas semua golongan” hal itu akan membahayakan
posisi Golkar dalam pemilihan umum 1982 mendatang.
BADAI
BERTIUP DARI PEKANBARU
Jika Sudomo mengakui pertemuan 17
Oktober 1979 yang menyatakan ABRI sebagai bagian dari keluarga besar Golkar,
maka selanjutnya tergantung bagaimana Soeharto menafsirkan hal itu dalam pidato
resminya. Presiden melakukannya pada Maret 1980. Berbicara tanpa teks dihadapan
rapat pimpinan ABRI di kota minyak Pekanbaru 27 Maret 1980, presiden menyrang
lawan-lawan politiknya dan menyampaikan sejumlah pemikiran kontrovesional
tantang peran ABRI di masyarakat.
Tiga minggu setelah pidatonya di
Pekanbaru, dalam sambutan tanpa teks pada ulang tahun ke-28 Kopassandha di
Cijantung, Soeharto sekali lagi melakukan serangan.
Kali ini sasarannya ialah “mahasiswa dan ibu rumah tangga” yang menyebarkan
desas desus bahwa istrinya ibu Tien Soeharto menerima komisi serta dapat
menentukan siapa yang akan memenangkan tender pemerintah. Selain itu beredar
rumor bahwa dirinya mengambil seorang artis terkenal sebagai simpanan. Menurut
Soeharto desas-desus itu bertujuan untuk menjatuhkan kedudukannya. Tetapi
mereka yang menyebarkan desas-desus itu lupa bahwa jika dirinya tersingkir,
maka yang lain akan muncul masyarakat
dan prajurit ABRI akan selalu mencegah rencana tersebut. terlebih lagi jika
orang-orang tersebut hendak menggati ideologi negara Pancasila dan mengubah UUD
1945.
Pidato Soeharto di Pekanbaru dengan
jelas menempatkan Jenderal Jusuf pada posisi menyakitkan. Lebih dari setahun
lamanya Menhamkam Jusuf selalu menekankan ABRI berada diatas semua golongan.
Setelah dilemahkan oleh perjanjian rahasia Sudomo dengan Golkar, janji-janji
Jusuf kini menghadapi hantaman telak dari presiden.
KEKECEWAAN
DAN BALASAN SETIMPAL
Letjen Mohamad Jasmin telah
membuktikan bahwa dirinya sebagai seorang Jenderal pensiunan paling tajam.
Seperti halnya para pensiunan Jenderal lainnya yang tidakannya seringkali
berbeda dibandingkan ketika masih menjadi militer aktif, tapi pandangannya
tentang nilai-nilai kebebasan berpendapat sangat berlawanan dibandingkan ketika
dirinya masih bertugas. Nampaknya jelas bahwa penindasan politik bukanlah
perhatian utama Jasin pada akhir 1960-an. Keraguan Jasin yang pertama terhadap
Soeharto dipicu oleh tiga “ pengalaman titik tolak” pada awal 1970-an.
Jelas sekali pemerintah Soeharto
siap melangkah sejauh apapun untuk memastikan para “musuhnya” membayar
kelancangan mereka mengkritik pidato presiden di Pekanbaru. Bank-bank
pemerintah serta kantor imigrasi memiliki daftar petisi 50 yang dapat mengikuti
tender pemerintah, memperoleh kredit bank atau pun pergi keluar negeri.
Pemerintah juga mengambil langkah untuk memastikan para akademisi yang mengajar
mengundurkan diri, melarang orang seperti Nasution memberikan ceramah di masjid
maupun melulis di media massa. Pemerintah juga melarang para pemimpin
menghadiri berbagai upacara peringatan di Istana.
MAKALAH
HANKAM
Yang nyata terlihat diawal 1980
ialah bahwa kritik terhadap sistem yang sedang berlaku bukan hanya datang dari
para pensiunan perwira (yang membuat mereka terlihat sebagai orang-orang yang
tidak puas). Jelas bahwa dua orang terkuat dalam sistem komando militer
Menhankam/Kasad dan Kepala Staf AD terlibat dalam pemikiran mengenai
pelaksanaan dwifungsi ABRI. Sejumlah pejabat militer senior juga punya
perhatian yang sama. Tetapi dalam perkiraan terakhir dukungan itu sangat kecil.
Betapa luar biasa langakah-langkah yang dilakukan presiden untuk mengendalikan
sistem sehingga ia mampu membungkam suara-suara tersebut dengan pidato
Pekanbaru pada 27 Maret 1979.
Makalah Hankam meliputi
sangkalan-sangkalan terhadap pokok-pokok dwifungsi yang terdapat dalam makalah
Widodo serta pembuktian terhadap pentingnya keterlibatan ABRI secara luas dan
berkelnjutan dalam kegiatan nonmiliter . makalah ini disusun atas perintah
kelompok pragmatis di Hankam, bahkan mungin oleh presiden sendiri.
Didepan umum mungkin para pemimpin
menyetujui saran-saran yang tertuang di makalah hankam, tetapi masalahnya
Indonesia menghadapi paradox yang muncul dalam musyawarah golkar II pada 1978.
Ketika pembicaraan tentang pengurangan keterlibatan militer di sector sipil
meningkat, cengkeraman militer terhadap sejumlah institusi Negara meningkat
lebih kuat.
PANDANGAN
JENDRAL NASUTION
Dari semua pensiunan jenderal yang
berseteru dengan pemerintah pada akhir 1970-an dan awal 1980-an tak ada yang
paling menonjol melebihi jendral Nasution. Ia merupakan tokoh dominan di AD
sejak awal revolusi, reputasinya bukan saja dibidang taktik dan strategi
militer tetapi juga sebagai aktor politik yang cerdas, meski kadang meragukan.
Nasution lebih tua tiga tahun dari
Soeharto dan para tokoh kunci lainya yang seangkatan. Tapi karirnya matang
terlebih dahulu ketimbang yang lain. Ia telah berpangkat mayor jendral ketika
Soeharto baru seorang kapten. Sebagai seorang yang berasal dari luar pulau jawa
dan tantama akademi militer kerajaan belanda di bandung, Nasution tidak banyak
berhubungan dengan para perwira peta didikan jepang. Kepatuhanya terhadap islam
berbeda dengan perilaku pesimis orang jawa abangan umumnya.
Kegagalan dalam menerapkan
konstitusi secara murni dan konsekuen berkaitan erat dengan apa yang dipandang
Nasution sebagai penyalahgunaan dwifungsi oleh kelompok Soeharto. Menurut
Nasution dibawah kekuasaan Soeharto sistem wilayah dipolitisasi dan tunduk pada
kebutuhan kelompok yang berkuasa. Berdasarkan doktrin, ABRI berada diatas semua
golongan. Menurut Nasution pada saat yang sama kekuasaan darurat yang diperoleh
pimpinan AD sebagai akibat lahirnya Kopkamtib pada 2 Oktober 1965, bukan saja
memperluas kekuasaan para pimpinan militer. Kekuasaan itu juga semakin ke bawah
dan keluar hingga para laksus ( pelaksana khusus Kopkamtib) di seluruh propinsi.
Wewenang-wewenang Kopkamtib dan
seluruh aparatnya didaeraha adalah melakukan seleksi para kandidat dalam
pemilihan umum, menyelenggarakan Operasi Penertiban (Opstib) setelah tahun
1977, mengecek harga-harga kebutuhan pokok dan memberikan izin pertemuan
keagamaan. Kekuasaan ini diperluas lagi dengan dibentuknya Muspida di setiap
propinsi. Muspida terdiri dari panglima setempat, kepala polisi, ketua kejaksaan
dan sebagainya. Lembaga ini diketuai oleh panglima daerah dalam kapasitasnya
sebagai Laksuda ( Pelaksana Khusus daerah, mewakili Kopkamtib ).
Menurut Nasution dengan adanya
Supersemar dwifungsi ABRI jauh lebih diperluas. Sebagaimana kita ketahui dengan
kekuasaan yang dipegangnya berdasarkan Supersemar Soeharto dua kali melakukan
perombakan besar-besaran terhadap DPR (GR) dan MPRS pada tahun 1966 dan 1968.
Akibat kekuasaan darurat tersebut, pemerintah telah meniadakan sejumlah hak
dasar rakyat. Nasution pada akhirnya
semakin mendekati mahasiswa dan golongan kelas menengah di Jakarta dan Bandung.
Nasution memusatkan perhatiannya pada pengamatan hukum dan prosedur, sesuatu
yang sangat lekat di golongan ini.
Kelebihan Buku
Gaya penulisan yang kritis diselingi dengan
tanggapan-tanggapanya. Sehingga sangat menarik minat pembaca kembali informasi
lebih dalam apa yang telah terjadi pada saat itu. Dengan penulisan yang lumayan
berimbang membuat para pembaca menjadi lebih mendepat pengetahuan mengenai peristiwa
tersebut.


No comments:
Post a Comment