![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: PRITA WULANDARI
|
|
|
NIM
|
: 3101412059
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas
Buku.
Judul : GOLKAR Sejarah yang Hilang Akar Pemikiran dan
Dinamika
Penulis : David Reeve
Penerbit : Komunitas Bambu, Juli 2013
Ketebalan : xxviii + 420 hlm
B.
Sinopsis Buku.
Melalui buku “GOLKAR Sejarah yang
Hilang Akar Pemikiran dan Dinamika” karya David Reeve ini
menyajikan data yang sarat dengan referensi secara akademik. Dalam buku
ini,David Reeve mengungkap sejarah Golkar yang sampai saat ini kebenaraannya
diamini.
Gagasan integralistik-kolektivis
yang merupakan buah pemikiran dari kolaborasi tiga tokoh, Soekarno, Soepomo dan
Ki Hadjar Dewantara menjadi titik awal munculnya Golkar. Sejak tahun
1940, gagasan itu telah diajukan, namun pada saat itu masih bernama
golongan fungsionil yang kemudian disangsekertakan menjadi golongan karya pada
tahun 1959, sampai pada akhirnya kita kenal dengan singkatan Golkar.
Golongan fungsional dihadirkan
dengan tujuan “mengubur partai-partai” yang ada. Suatu partai dengan
menggunakan konsep golongan fungsional merupakan sebuah konsep yang mewakili
golongan-golongan yang memiliki ‘fungsi’ dalam masyarakat, didalam
keseluruhan kolektivitas dengan menggunakan asas kekeluargaan.
Dari pemikiran itulah, tidak
terlalu jauh untuk untuk membayangkan bahwa kehidupan politik akan diatur
sebagai negara satu partai dan perwakilan melalui golongan yang “fungsional”
dalam masyarakat dan bukan melalui partai politik yang bersaing, yang
mencerminkan pertentangan ideologi. Kondisi pada dekade 1930-an cenderung tidak
mendukung diskusi tertulis tentang bentuk pemerintahan negara masa
depan, tetapi terdapat indikasi bahwa Soekarno memiliki pemikiran seperti
itu pada dekade 1930-1940-an.
Pada dekade 1950-an gagasan
pembentukan Golongan Karya diorientasikan untuk menyediakan perwakilan yang
lebih efektif bagi golongan-golongan yang ada di tengah masyarakat, sehingga
bisa merepresentasikan keterwakilan kolektif sebagai bentuk ''demokrasi'' khas
Indonesia, seperti kerap didengungkan oleh Bung Karno, Prof Soepomo, dan Ki
Hajar Dewantara, sesuai dengan jiwa Indonesia.
Seperti yang tertulis dalam
Wikipedia bahasa Indonesia dan Situs Resmi Partai Golkar, disebutkan “Pada
tahun 1964 untuk menghadapi kekuatan PKI (dan Bung Karno), golongan militer,
khususnya perwira Angkatan Darat (seperti Letkol Suhardiman dari SOKSI)
menghimpun berpuluh-puluh organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, dan
nelayan dalam Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).” Partai
Golkar seakan-akan digagas dandibesarkan
oleh Angkatan Darat atau lebih tepatnya Soeharto menjadi sosok yang berpengaruh
atas hadirnya Golkar.
Djuanda dan Roeslan AbduLgani pada
akhir dekade 1950-an berpendapat bahwa parlemen yang terdiri atas
perwakilan-perwakilan golongan karya akan lebih kompeten untuk melaksanakan
perencanaan sistematis, mengingat perwakilan semacam ini memiliki pemahaman
yang sebenarnya terhadap kepentingan golongan-golongan mereka. Menurut
keduanya, dalam konteks demokrasi khas Indonesia, konsep penggabungan,
kerukunan, keseluruhan, dan totalitas harus ditekankan karena mewakili seluruh
kepentingan golongan yang ada di masyarakat, memiliki hubungan spiritual dengan
rakyat yang diwakilinya
Golongan karya yang digagas oleh
Bung Karno, Prof Soetomo, dan Ki Hajar Dewantara berbeda dengan golongan karya
yang dikonsepsikan oleh Angkatan Darat dan [apalagi] PARTAI Golkar sekarang. Sejak 1957 hingga 1959
Presiden Sukarno mekakukan koordinasi intens dengan Angkatan Darat untuk
mengatasi pemberontakan-pemberontakan daerah dan mengubah sistem perpolitikan.
Gagasan golkar yang dilakukan oleh
Soekarno terlupakan, tak lain karena Angkatan Darat merebut gagasan itu dan
membentuk organisasi-organisasi yang mengikuti
garis golongan fungsionil dengan mendahului Soekarno. Ini terjadi ketika
Presiden Soekarno dan Angkatan Darat melakukan hubungan kerjasama untuk
mengatasi pemberontakan-pemberontakan daerah dan mengubah sistem perpolitikan.
Alhasil, ketika demokrasi terpimpin resmi dimulai pada akhir 1959, Angkatan
Darat telah lebih dulu membentuk berbagai organisasi Golkar. Upaya pemerintah untuk
membentuk sebuah golongan pemuda pada awal 1960 merupakan kegagalan Angkatan
Darat yang telah diambil alih oleh gagasan Golkar.
Pada tahun 1959, ketika Demokrasi
Terpimpin dimulai secara resmi, Angkatan Darat lebih dulu membentuk berbagai
organisasi Golongan Karya, sedangkan Presiden Sukarno belum membentuk satu pun.
Tahun 1960 pemerintah membentuk golongan pemuda, tapi gagal.
Sukarno dan Nasution mengembangkan
gagasan tentang golongan fungsional itu, menindaklanjuti keinginan untuk
membubarkan partai-partai. Pemikiran ini mengarah pada perubahan dari orientasi
partai menjadi orientasi golongan fungsional.
Di titik itu, antara Bung Karno dan
angkatan darat memiliki kesamaan kepentingan. Tetapi, ketika Nasution dengan
Angkatan Daratnya mengembangkan organisasi-organisasi jenis kekaryaan hanya
untuk melawan komunisme, Bung Karno langsung mengingatkan tentang konsep
Nasakom.
Golkar dicetuskan oleh Soekarno,
bukan oleh angkatan darat seperti yang terdapat pada situs website Golkar. Pada
awal berdirinya tahun 1964 oleh unsur-unsur orang darat melawan PKI. Golkar
berdiri bukan sebagai sebuah partai melainkan sebagai golongan karya. Ide awal
golkar yaitu sebagai system perwakilan (alternative) dan dasar perwakilan
lembaga-lembaga representative. Tetapi ternyata ide-ide golkar tersebut
dicetuskan oleh Soekarno bukan angkatan darat yang selama ini dikenal. Hal yang
menyebabkan Soekarno tidak dikenal sebagai pencetus berdirinya golkar adalah
karena karya-karya bung karno tidak pernah dibahas.
Golkar adalah kepanjangan dari
Golongan karya. Dipertengahan tahun 50-an, partai politik seperti sekarang
tidak berfungsi dengan baik. Oleh arena itu, ide-ide Soekarno langsung diambil
alih oleh AD yang dipimpin oleh Nasution. Ide-ide tentang Golkar diambil alih
karena Soekarno tidak mempunyai kekuatan untuk membuat organisasi, sedangkan
Angkatan darat memiliki kuasa atas hal tersebut.
Pada tahun 1957 adalah masa awal
berdirinya organisasi Golkar, pada waktu itu ostem multi partai mulai
berkembang di Indonesia. Golkar sebagai sebuah alternative merupakan sebuah
organisasi yang terdiri dari golongan-golongan fungsional. Golkar juga memiliki
tujuan untuk merebut ormas atau organisasi masyarakat. Tahun 1957 pula Soekarno
membentuk Dewan nasional.
Golkar beralih menjadi sebuah
partai politik ketika Bung Karno yang bertindak sebagai konseptor dan Nasution yang
berfungsi sebagai penggerak, bersama dengan angkata darat, mengubah golkar
sebagai sebuah partai politik untuk melawan PKI. Hal ini bertentangan dengan
konsep awal Golkar yang menolak konsep partai dan PKI yang menuntut perbedaan
kelas. Golkar memiliki konsep untuk menumbuhkan persatuan dan kerjasama.
Akhirnya, Golkar yang anti partai runtuh menjadi sebuah partai. Ide golkar yang
awalnya menghancurkan partai-partai yang ada, justru sekarang menjadi sebuah
partai. Ironis sekali.
Pada masa Orde baru dilakukan
De-soekarno-isasi yaitu sebuah kejadian diamana AD tidak mau mengakui konsep
Soekarno. Sehingga konsep-konsep Soekarno tidak ernah dibahas lagi.
Ketika itu ada dua golongan dalam
memandang sebuah partai politik yaitu anti partai dan pro partai. Tokoh-tokoh
anti partai yaitu Ki Hajar Dewantara, Soepomo, Soekarno, yang notabene adalah
orang Jawa. Mereka masih memegang teguh adat mereka yaitu Kawula Warga yang
artinya kekeluargaan datang dari keluarga. Lalu, tokok-tokoh pro partai adalah
Sutan Syahrir, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin yang notabene berasal dari
Minang. Sehingga, secara tidak langsung kebudayaan masih melekat dan
memyebabkan perbedaan cara pandang terhadap sebuah partai politik.
Dalam hal ini, gagasan
Soekarno mengenai Golkar terlupakan, tak lain karena Angkatan Darat merebut
gagasan itu dan membentuk organisasi-organisasi yang mengikuti garis
golongan fungsionil dengan mendahului Soekarno. Ini terjadi ketika Presiden
Soekarno dan Angkatan Darat melakukan hubungan kerjasama untuk mengatasi pemberontakan-pemberontakan
daerah dan mengubah sistem perpolitikan. Alhasil, ketika demokrasi terpimpin
resmi dimulai pada akhir 1959, Angkatan Darat telah lebih dulu membentuk
berbagai organisasi Golkar. Upaya pemerintah untuk membentuk sebuah golongan
pemuda pada awal 1960 merupakan kegagalan Angkatan
Darat yang telah diambil alih oleh gagasan Golkar.
Golongan karya seperti yang diidekan Bung Karno, Sutomo, dan Ki Hajar Dewantoro
kurang sosialisasi di tengah percaturan politik para komprador, para penjiplak
sistem demokrasi liberal. Upaya renovasi perlu kerja keras untuk menanamkan
pemahaman bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki sistem ketatanegaraan yang
khas, sistem yang terbangun dari nilai-nilai kearifan lokal Nusantara.
Itulah sebabnya, dalam sistem mula
NKRI disebutkan bahwa MPR adalah lembaga tertinggi negara, yang keanggotaannya
terdiri atas (1) anggota DPR, (2) utusan daerah, dan (3) perwakilan dari
golongan-golongan. Kompromi yang ditawarkan oleh Bung Karno terhadap
partai-partai adalah pembentukan satu partai negara (tidak lebih). Tetapi, hal
itu mendapat perlawanan dari partai-partai kala itu, termasuk oleh Tan Malaka
dan Djuanda.
Berawal dari sinilah gagasan
“mengubur partai-partai” menjadi rival politik sebuah partai tunggal, yaitu
Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan, partai yang lahir dari gagasan
Soekarno ini menjadi anti-Soekarno. Soekarno pun tidak bisa berbuat banyak
dengan Golkar yang digagasnya, Soekarno memilih kembali kepada partai-partai
untuk melindungi dirinya sendiri melawan Angkatan Darat. Meminjam istilahnya
Max Lane, ‘Malapetaka Anti-Kemanusian’ atau yang biasa kita kenal dengan
G-30S/PKI merupakan bukti kongkrit perubahan besar gagasan Golkar sebagai
perwakilan menjadi senjata anti-PKI.
Penjelasan tumbuhnya Golkar sebagai
kekuatan politik pada periode 1962-1965 menjadi latar pencarian asal muasal
pemikiran politik di Indonesia. Intinya bagaimana proses pencarian untuk
mengelola negara Indonesia yang ideal itu dimulai. Setingnya debat hebat yang
berlangsung selama krisis Demokrasi Parlementer periode 1956-1959 mengenai
keinginan pencarian kembali kepribadian nasional berdasarkan visi kelompok
fungsional dan partai-partai politik.
Detail pengungkapan dinamika itu
mampu menangkap imajinasi publik pembaca mengenai cikal bakal Golkar.
Didasarkan perdebatan pemikiran politik dari 4 tokoh Indonesia, penulis
memperlihatkan alasan-alasan mengapa Golkar lahir sebagai bentuk alternatif
dari sistem politik Indonesia yang mampu membedakan dengan sistem politik gaya
Barat yang lebih dilandasi oleh semangat individualisme. Adalah menarik
dibuat pembahasan pemikiran tokoh-tokoh politik utama yang berbeda dan
berseberangan, namun cukup kohesif, seperti Ki Hadjar Dewantara dan Supomo
serta nasionalis Sukarno dan Hatta. Dua yang pertama dikenal dengan pemikiran
kolektivisme dan nilai-nilai kekeluargaannya. Sedangkan dua yang terakhir
menawarkan konsep negara dan
mengenai prinsip-prinsip koperasi. Dari sinilah awal mula suatu sistem
alternatif dimulai.
Pada era rezim Orde
Baru yang dipimpin Soeharto dengan segala peraturan yang dibuatnya, Golkar
menjadi kendaran politik Soeharto untuk melanggengkan kekuasaan bersama
Angkatan Darat lainnya yang mampu menyematkan dirinya menjadi Presiden
terlama di Indonesia
dengan rentan waktu 32 tahun. Pada akhirnya, tahun
1998 pasca runtuhnya rezim otoriter Orde Baru ternyata Golkar masih menjadi
kekuatan besar dalam kancah perpolitakan Indonesia. Seperti yang disampaikan
David Reeve, tahun
1998-sekarang, Golkar diubah
menjadi sebuah partai pengusaha dan sebuah patronase. Sudah tidak
diragukan lagi peralihan ini menjadi bukti bahwa gagasan Golkar yang lahir dari
buah pemikiran Soekarno, Soepomo, dan Ki Hajar Dewantara kini benar-benar telah
lenyap.
Bila kita menarik mundur sampai tahun 1920-an, penulis memang menyadari
bahwa pembentukan Golkar merupakan bagian dari pemikiran-pemikiran Soekarno
yang pembentukannya bertujuan membendung kekuatan PKI. Namun Golkar kemudian
berubah sejak dijadikan alat untuk memobilitas penduduk selama periode
1966-1971 oleh rezim Orde Baru. Dengan menempatkan kembali ideologi
tersebut dalam konteks politik, terminologi dan perdebatan yang menyertainya,
dapat dimengerti mengapa Golkar selanjutnya pada periode 1971-1983 kemudian
lebih menjadi mesin politik namun gagal memahami intisari pemikiran untuk dapat
mengambil hati orang Indonesia. Golkar diketahui berubah menjadi kekuatan
represif dan otoritarian karena kekuatannya terlalu dimanipulasi terutama sejak
pertengahan 1970.
Saat itulah, cita-cita awal Golkar semakin jauh dari harapan semula yang
diharapkan sebagai alternatif untuk merefleksikan masyarakat
Indonesia. Kini, pewaris Golkar tampaknya malah semakin jauh lagi
membawa masa depan Golkar dari cita-cita sebagai ideologi pilihan sistem paling
pas dalam sistem politik Indonesia.
Kelebihan buku
Buku
ini menjelaskan secara jelas mengenai bahwa golkar adalah hasil kumpulan
gagasan dan organisasi dan sekarang politik gagasan menjadi marjinal dan
organisasi dominan. Golkar merupakan
satu-satunya partai yang bersistem pelembagaan terbaik tetapi sampai sekarang
kadernya belum pernah menduduki jabatan sebagai presiden di tiga kali pemilu
terakhir. Selain itu buku ini juga
memberikan ilmu tentang kekeluargaan dan memberikan penjelasan bahwa
golkar bukan hanya partai politik. Dengan demikian, karya David Reeve
ini menjadi buku penting untuk dibaca. Di mana, pada era rezim Orde Baru terjadi
pembungkaman sejarah. Lebih
tepatnya sengaja dibungkam untuk melanggengkan kekuasaan. Yang
terakhir, selain ucapan rasa terimakasih kepada David Reeve,
karena kita bisa mengetahui tentang sejarah yang selama ini digelapkan,
sekaligus karya ilmiah David Reeve ini menjadi otokritik kepada kita sebagai
bangsa Indonesia. Dalam artian, sejarah bangsa ini
sebagian besar ditulis oleh orang luar negeri, pun sejarah seperti Golkar
ternyata harus kita dapat dari David Reeve, orang
Australia.
Selain
itu Seperti diakui
penulisnya, buku ini bukan melulu memberikan penjelasan otoritatif dan
komprehensif atas sejarah organisasi Golkar, namun pada hakekatnya ulasan
sejarah pendokumentasian pemikiran-pemikiran politik Indonesia yang ditarik
sejauh mungkin ke belakang. Penggunaan karya ini sebagai karya rujukan utama
studi-studi kultur politik Indonesia selama ini menunjukan pengakuan nilai buku
ini sebagai karya klasik untuk nmemahami perkembangan pemikiran politik asli
dan khas Indonesia yang mulanya sulit diselami oleh pengamat dan sarjana Barat.
Penerbitan terjemahannya bagi pembaca Indonesia jelas akan berkontribusi
melengkapi deskripsi kritis buku-buku sejenis mengenai penyelewengan politik
rezim Orde Baru di bawah Soeharto.
Kekurangan Buku
Kekurangan
dari buku ini kurang begitu mudah untuk dipahami, karena terlalu formal.
Apalagi jika awam yang membacanya. Tentu akan merasa kesulitan untuk memahami
isi dari buku tersebut.


No comments:
Post a Comment