About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Saturday, 2 May 2015

PERANG PANGLIMA (SIAPA MENGKHIANATI SIAPA?)

Identitas Mahasiswa
Nama
: ABDURRAHMAN KHUBAIB
NIM
: 3101412066
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B

A.      Identitas Buku.

PERANG PANGLIMA (SIAPA MENGKHIANATI SIAPA?)
Penulis: Femi Adi Soempeno dan AA. Kunto A

B.       Sinopsis Buku.

Di dalam buku ini digambarkan betapa sengitnya pertarungan politik di tubuh Militer saat masa-masa akhir pemerintahan Soeharto dari masa awal reformasi sampai tahun 2009.Meruncing kepada kedua tokoh sentral yaitu Prabowo dan Wiranto.sampai sekarang masih terdapat berkas peristiwa penting yang terdapat sangkut pautnya dengan kedua tokoh tersebut, yaitu misteri seputar peristiwa Mei 1998 yang belum terkuak bersih. Kita masih diliputi tanda Tanya , sebenarnya apa yang terjadi di sekitar masa transisi antara Soeharto ke Habibie ketika itu?. Mengapa Prabowo sebagai Pangkostrad memberangkatkan pasukan yang disebut-sebut liar ke istana dan kediaman presiden Habibie?. Mengapa Habibie begitu panic mendengar hal tersebut dan langsung memecat Prabowo?. Mengapa pula Wiranto sebagai Panglima ABRI mesti jealous melihat polah tingkah anak buahnya yang show of force? Pula, benarkah Soeharto berada dibalik semua itu?.Buku ini juga mengupas perang dingin hingga perang sesungguhnya antara dua serdadu yang masing-masing menggenggam tongkat komando itu. Tawaran yang diberikan adalah strategi apa yang dimainkan masing-masing kubu untuk menumpas lawannya.
Sebenarnya telah sejak lama kedua tokoh itu terlibat perang dingin. Wiranto yang karirnya melejit dibandingkan teman-temannya seangkatan dan perwira tinggi lainnya itu, ternyata risih melihat karir Prabowo lebih melejit dibandingkan dirinya, bahkan bintangnya bersinar terang. Wiranto sangat dekat dengan Soeharto, dididik oleh Soeharto saat menjadi ajudan presiden.
Lantas ada apa dengan Prabowo terhadap Wiranto? Prabowo sendiri awalnya hanya bermasalah dengan Benny Moerdani, yang pernah disinyalir akan mengkudeta mertuanya. Sinyalemen itu kembali dirincingkan manakala Wiranto menjadi pucuk pimpinan angkatan bersenjata. Prabowo curiga, Wiranto adalah orang Bennny sejak menjadi ajudan presiden untuk kemudian kelak akan menikam presiden dan menduduki kursinya..terjadilah apa yang kita bisa sebut “perang panglima”. Prabowo adalah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), sedangkan Wiranto adalah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Keduanya sama-sama punya pasukan dan punya peluang untuk melakukan kudeta dan duduk di singgasana penguasa.
Pada pendahuluan buku ini mengisahkan perseturuan antara Prabowo  dan Benny moerdani beserta orang-orang terkait. Pada tahun 1978, soeharto menujuk Jenderal M. Yusufsebagai panglima ABRI menggantikan Jenderal Maraben Panggabean, rupanya ini merupakan cara soeharto untuk membayar utang dari dikeluarkannya supersemar oleh M. Yusuf sehingga soeharto masih bisa berkuasa sampai saat itu. Dengan jabatan itu, M. Yusuf leluasa untuk memperhatikan kesejahteraan prajurit untuk meningkatkan profesionalisme prajuritnya. Jasa-jasa ini yang membuat beliau popular dikalangan para prajurit.
Namun rivalnya, yaitu Ketua GI Hankam/Asintel ABRI Letjen Benny Moerdani tidak menyukai langkah tersebut, ia kemudian melaporkan kepada soeharto bahwa Jenderal M. Yusuf telah menyusun kekuatan internal untuk menjadi presiden. Puncak persaingan itu terjadi ketika kelompok Imran membajak Garuda Woyla. Benny Moerdani bertindak sendiri ketika atasannya mengikuti Commanders Call ABRI di Ambon 30 maret 1981. Lantaran soeharto sudah kadung tidak suka dengan M. Yusuf yang giat menggalang popularitas, soeharto pun mengangkat Benny Moerdani sebagai panglima ABRI pada 1983.
Mestinya Benny berhati-hati terhadap Prabowo saat menjabat sebagai staf khusus dirinya pada periode 1982-1985 karena Prabowo mengetahui langkah-langkah yang disusunnya. Tetapi Benny mengetahui perbuatan Prabowo yang menikung dirinya. Ia pun mencopot prabowo dan melemparkannya sebagai kepala staf kodim (Kasdim) yang notabene merupakan jabatan buangan bagi anggota kopassus. Mulai saat itu Prabowo mulai berhati-hati dengan langkah yang diambil Benny dengan menggalang kekuatan dari sesame perwira menengah seperti Mayor Kivlan Zen dll.
Pada tahun 1889 Prabowo melalui Kivlan Zen mengusulkan agar Wiranto diangkat menjadi ajudan presiden walaupun sebenarnya Kivlan sendiri tak menyukainya, Benny yang mengetahui polah tingkah prabowo mulai geram dan mulai mengkader penggantinya seperti Letjen Sahala Rajagukguk dll termasuk luhut yang dulu pernah dekat dengan Prabowo sebelum akhirnya dikhianati, dan akhirnya perang dingin pun tak terelakkan antara Prabowo dengan Luhut untuk mobilitas vertical.
Pada saat SU MPR 1988 benny belum menyerah dan membuat berbagai isu, salah satunya isu suksesi yang didukung oleh petisi 50 untuk menjatuhkan soeharto. Ia menggalang kekuatan dari para mantan jenderal dan menteri, Namun pada akhirnya sampai juga ke telinga Soeharto.
Dalam bab pertama buku ini yang bertemakan ‘menakar kekuatan mr Whiskey’ yaitu sapaan akrab bagi Wiranto di kalangan internal militer, baik prabowo maupun wiranto sama-sama memiliki bergainning power-nya sendiri. Mencul dua klik yang sangat kental yaitu kelompok Wiranto yang ingin reformasi atau perubahan secara pelan-pelan, dan kelompok Prabowo yang juga berbicara ingin melaksanakan perubahan, tetapi dibalik itu Prabowo tetap bertekad melindungi kepentingan besar keluarga Cendana. Kedua kelompok ini aktif sekali mencari dukungan sipil untuk memperkuat posisi mereka dalam pertarungan kekuasaan internal Angkatan Darat ini.
Wiranto menggunakan Kivlan Zen sebagai kambing hitamnya, ia mendepaknya kemudian merangkul kembali saat mendekati SI MPR 10 November 1998. Kivlan diminta untuk mengerahkan massa yang pro SI walaupun sebenarnya ia masih menyimpan dendam dengan Wiranto. Akan tetapi akhirnya ia pun setuju atas permintaan Wiranto tersebut dan mengerahkan massa untuk menandingi massa yang kontra akan digelarnya SI. Belakangan massa suruhan Kivlan itu disebut pasukan pengamanan swakarsa (Pam Swakarsa) yang bertujuan mengamankan jalannya SI. Akan tetapi akibat kejadian itu, Kivlan geram dengan mantan komandannya tersebut lantaran Wiranto dianggap masih mempunyai utang akibat pengerahan massa pada saat itu yang ongkosnya mencapai sekitar 7 milliar. Ada yang mendukung pernyataan Kivlan tesebut misalnya Fadli zon dll serta adapula yang yang menganggap pernyataannya itu sebagai omongan tak masuk akal seperti yang dilontarkan Mahfud MD.
Bila pernyataan Dibyo Widodo benar bahwa kunci peristiwa Mei 1998 adalah Wiranto, Habibie dan Prabowo, maka ketiganya pantas untuk meletakkan sejarah pada tempat yang semestinya. Meskipun dalam spectrum kekuatan otoriter, sejarah umumnya ditulis untuk menjadikan sejarah sebagai pembenaran sejarah, namun ketiganya tetap harus bertanggung jawab atas sepenggal sejarah Indonesia ini. Genderang perang dimulai oleh Wiranto melalui bukunya yang berjudul Bersaksi di Tengah Badai yang diluncurkan menjelang pemilu 2004. Di dalam buku tersebut Wiranto merasa disudutkan akan terlibat rivalitas dengan menantu mantan presiden Soeharto itu. Selang 3 bulan kemudian buku Habibie muncul sebagai salah satu pembenaran juga atas peristiwa itu. Namun, gendering yang ditabuh wiranto ini tak segemuruh cerita yang didengungkannya. Pasalnya, usai buku ini muncul di pasaran, Fadli zon dan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (purn) Kivlan Zen membuat buku yang berisi bantahan atas buku Wiranto. Judul buku Kivlan adalah Konflik dan Integrasi di tubuh TNI AD, sedangkan buku Fadli Politik Huru-Hara mei 1998 yang sama-sama diterbitkan oleh Institute for Policy Studies.
Diluar catatan buruknya di militer, Wiranto juga meninggalkan bau harum di tubuh militer. Bau harum itu berasal dari keputusannya sebagai panglima TNI untuk mereformasi angkatan bersenjata itu :
1.    TNI keluar dari politik praktis
2.    TNI menghapus dwifungsi
3.    TNI bersikap netral dalam pemilu 1999
Maka, reformasi internal TNI itu telah mengembalikan militer ke fungsi pokoknya sebagai alat pertahanan Negara. Ya mengembalikan, sebab sejatinya cita-cita republic ketika didirikan pun tlah tegas menggariskan. Iming-iming kekuasaan sesaat dan sesatlah yang telah mendorong pasukan doreng hijau ini kearah politik praktis.
Berkait dengan reformasi TNI, Wiranto juga tercatat sebagai peletak dasar tonggak kembalinya POLRI ke kandungan ibu masyarakat sipil penjaga keamanan. Semula selama orde baru POLRI ibarat bisul tapi berlian. Tidak dihilangkan mengganggu, dihilangkan saying. Dan pada kenyataannya lebih banyak mengganggu. Lama kelamaan POLRI kehilangan jatidiri sebagai pelindung masyarakat karena cenderung menjadi preman berseragam.
Wiranto cukup cekatan merespon tuntutan rakyat agar POLRI segera dilepaskan dari tubuh militer. Dengan hati-hati namun pasti ia memulai langkah-langkah pelepasan itu, hingga akhirnya pada 1 april 1999 polri resmi diceraikan dengan TNI.
Harapan besar tentu berada di pundak polri. Dengan kemandiriannya polri diharapkan sungguh-sungguh menjadi aparat sipil yang melindungi warga negaranya. Pendekatan yang dilakukan pun persuasive-dialogis bukan represif sembari menodongkan popor.
Sekarang kita menjadi kebingungan tatkala kondisi keamanan nasional mendapat ancaman serius dan kompleks .dalam situasi semacam ini bantuan dari TNI masih dapat diberikan asalkan ada kelegawaan dari polisi, dan kepercayaan dari masyarakat serta adanya paying hukum yang jelas agar tidak menimbulkan keraguan bagi prajurit di lapangan.
Masuk ke bab selanjutnya mengupas The Golden Boy bernama Prabowo Subianto, bila anda berjumpa dengannya saat ini dalam sekedip mata, anda akan melupakan sosok lelak yang dulu lekat dengan seragam hijau gelap doreng khas tentara dengan baret merah darahnya. Padahal dengan seragam itu ia pernah memiliki legalitas untuk menghabisi presiden dan menteri pertahanan Timor Leste pada tahun 1979. Lebih dari itu, bahkan anda juga bakal ‘tertipu’ dengan senyumnya saat ini yang kian rileks lantaran ia tak lagi menjabat sebagai Panglima Kostrad. Dulunya jabatan ini membuatnya dituding sebagai dalang (mastermind) dari serangkaian penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, penyulut kekacauan di tanah air sebelum dan sesudah Mei 1998, hingga menerabas ke isu seputar klik dan intrik dikalangan elit ABRI.
Prabowo memang mozaik yang menarik, terutama karena kontroversi yang ditorehkana di sepanjang hidupnya. Taruh kata, sejak lahir pun ia sudah mengundang kontroversi dirinya sendiri sebagai anak Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo .bertali-temali dengan nama besar ayahnya, Prabowo juga tak bisa dilepaskan dari kakeknya yaitu Margono Djojohadikusumo, pengikut Boedi Oetomo dan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) 1946. Sementara itu saudara-saudara nya yang lain adalah Biantiningsih Djiwandono, Maryani Le Maistre, dan Hasyim Djojohadikusumo.
Kontroversi pertama yang ditorehkannya yaitu dalam karir militernya yang sangat cepat, ia berhasil menjadi Panglima Kopassus pada usia yang relative masih muda yaitu 44 tahun, walaupun juga dipermudah oleh karena dia merupakan menantu Soeharto dan anak dari Begawan ekonomi Soemitro. Terlepas dari itu prestasinya juga luar biasa salah satunya mengenai operasi Timor-Timor dan di Irian Jaya. Selanjutnya kontroversi mengenai Tim Mawar yang dibentuk dan di komandoinya, tim itu sendiri dibentuk oleh Mayor Inf. Bambang Kristiono pada juli 1997 yang bertujuan untuk memburu dan menangkapi aktivis radikal yang dikhawatirkan akan mengganggu jalannya SU MPR 1998. Selanutnya masalah lengsernya Pangkostrad Jhonny Lumintang, karena disinyalir karena desakan kubu ‘ABRI HIJAU’ yakni jenderal-jenderal yang menggunakan politik aliran islam pimpinan Prabowo, karena lumintang adalah jenderal Kristen. Setelah sekian banyak isu yang membombardir dirinya, Prabowo akhirnya dicopot dari jabatannya sebagai Pangkostrad oleh Wiranto.


Dijungkalkan dari Pangkostrad, dikabarkan kudeta oleh Habibie, dituduh mendalangi kerusuhan Mei 1998, dan dituding sebagai pengkhianat keluarga cendana. Setelah tudingan yang bertubi-tubi tersebut Soemitro menasehatinya, “pada hari-hari yang gelap, jangan pernah berharap pada orang yang pernah kamu tolong. Tapi akan slalu datang bantuan dari siapa saja.” Eh … benar! Ada telefon dari Amman. Pangeran Abdullah (Raja Jordania) menelpon. Dia bilang, “what can I do? You’re my friend.” Gayung bersambut, telepon dari pangeran Abdullah ini kemudian menjadi tiket emas bagi Prabowo untuk terbang ke Jordania.
Benar, garis naasib mempertemukan mereka kembali. Mereka berkenalan saat menempuh pendidikan infanteri di Amerika Serikat, yang kemudian disambung saat menjalani latihan anti terror di Jerman Barat. Hubungan dekat itu juga terus berlangsung ketika mereka kembali ke negeri masing-masing dan memegang pos komandan pasukan khusus.
Pangeran Abdullah merupakan satu dari tiga nama yang paling dijagokan mewarisi takhta kerajaan Hasyimiyah itu. Sosoknya makin disorot pers setelah kesehatan raja Hussein menurun drastic akibat kanker kelenjar getah bening. Abdullah adalah anak pertama dari istri kedua Raja Hussein, Antonitte Gardner alias Ratu Muna. Kans Abdullah sedikit terganjal karena alas an sepele : ia lahir dari Rahim perempuan berkebangsaan Inggris yang kemudian masuk islam. Dari empat istrinya, Raja Hussein mempunyai 11 anak, raja yang paling lama memerintah kawasan timur tengah itu juga mengadopsi seorang putri.
Selama di Jordania, Prabowo dianggap istimewa dan diberi gelar status kewarganegaraan. Karena situasi Indonesia yang sangat memojokkannya ia tetap memilih tinggal di Jordan dalam waktu yang lama, beberapa kali surat panggilan dilayangkan kepadanya untuk mengklarifikasi masalah seputar Mei 1998, akan tetapi ia tak juga memenuhi panggilan itu dan tetap berada di Jordan Negeri yang menampungnya saat bangsanya sendiri mengucilkannya. Walaupun sempat beberapa kali prabowo keluar dari Jordan seperti misalnya saat pergi ke Malaysia, ia pun tak menyempatkan untuk sekedar mampir ke Indonesia. Pasalnya kondisi saat itu masih tak memungkinkan baginya. Setelah akhir masa Wiranto dan Habibie, muncul sosok Gus Dur. Beliau adalah orang yang dianggap Prabowo tepat untuk membelanya saat kembali ke Indonesia karena ia sangat percaya diri bahwa Gus Dur sayang kepadanya.
Pada bab tiga yang berjudul siapa mengkhianati siapa?  Prabowo merasa dikhianati oleh mertuanya sedangkan menurut keluarga cendana justru Prabowolah yang mengkhianati mereka. Soeharto cenderung percaya Wiranto, bahkan menjelang kejatuhannya. Karena orang-orang yang dikenalnya sudah meninggalkannya seperti ketua DPR waktu itu Harmoko dan beberapa menteri. Dosa-dosa prabowo semakin dilegitimasi dengan dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menginvestigasi kerusuhan mei 1998.
Dalam buku ini ada beberapa versi mengenai pendapat Habibie, Prabowo dan Wiranto mengenai kejadian pengerahan pasukan pada tanggal 22 mei, ketiga tokoh itu menuturkan cerita berdasarkan versinya.
Meskipun ketiganya sudah luruh dari jabatannya masing-masing, nyatanya segitiga perseteruan Habibie, Prabowo dan Wiranto tak kunjung tumpul. Silang sengketa mengenai sejarah yang benar dan tak benar serta lurus dan tak lurus ini datang dari B.J Habibie. Ia menelurkan bukunya berjudul Detik Detik Yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi pada September 2006. Buku yang terdiri dari 4 bab dengan 549 halaman itu menguak banyak informasi yang selama ini belum diketahui oleh masyarakat, dan kemudian menjadi polemic di kalangan akademisi, politisi dan bahkan masyarakat awam.
Persisnya buku itu mengupas proses pencopotan Prabowo dari kursi Pangkostrad. Dalam buku itu habibie menuturkan, pada hari kedua memerintah ia mendengar adanya gerakan pasukan Kostrad diluar koordinasi panglima ABRI Wiranto. Akhirnya ia meminta Wiranto segera mencopot jabatan Prabowo. Habibie juga menggambarkan bagaimana menantu soeharto ini kemudian datang ke kantor presiden, mempertanyakan kebijakan ini.
Habibie juga menggambarkan situasi saat menyusun cabinet pada 22 mei 1998, ia sempat menerima surat dari Jenderal Besar A.H Nasution. Dalam surat yang dibawa dua perwira militer itu, Nasution menyarankan dia agar mengangkat Jenderal Soebagyo HS menjadi Panglima ABRI dan Letjen Prabowo Subiantoro sebagai KSAD. Tapi Habibie tak mengabulkan keinginan ini dan mempertahankan Jenderal Wiranto sebagai Panglima ABRI.
Saat bab selanjutnya menjelaskan mengenai Perang pasca senjata, setelah tak lagi menenteng senjata mereka bisa juga sigap bergerak tanpa banyak terdeteksi para pesaing dan lawan. Prabowo muncul sebagai pebisnis dengan pelan-pelan sedangkan Wiranto menyusup dibawah permukaan publisitas menggalang dukungan politik. Prabowo tak gamblang menunggangi bisnisnya untuk disetir kembali ke arena politik, sementara Wiranto secara terang-terangan berambisi untuk kembali kepada tujuan semula yaitu NKRI 1.
Dan pada bab terakhir, perseteruan Wiranto dan Prabowo sudah berpuncak pada Mei 1998. Sudah satu decade, namun perseteruan mereka oleh banyak kalangan slalu menarik untuk diikuti. Prabowo pada tahun 2004 dicalonkan menjadi Ketum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia). Beliau sangat aktif dalam organisasi yang mengurusi seluk beluk tentang petani dan kehidupannya tersebut. Sedangkan Wiranto, setelah Golkar tak berhasil mengantarnya menjadi presiden RI pada 2004, wiranto memutuskan untuk hengkang dari partai beringin yang sudah diakrabinya sejak masih aktif di militer. Akhir tahun 2006, ia mendirikan partai baru, Hanura namanya. Meski ia menampik tudingan bahwa partai baru tersebut merupakan kendaraan politiknya menuju kursi presiden 2009.
Nah, pada bagian akhir buku ini menjelaskan mengenai Rabaan dini tentang perang panglima pada panggung pemilu 2009.
Pada hajatan tahun 2009, para pensiunan panglima sudah menyiapkan pelurunya untuk berlaga di medan tersebut. Menurut MT. Arifin, Wiranto punya kans karena adanya kekuatan yang digalang lewat Hanura, menurutnya dengan system seperti ini partai bisa berkoalisi dengan siapapun. Tinggal nanti bergainning nya seperti apa.
Sementara Prabowo! Sulit untuk menebak langkahnya ditahun 2009. Tapi menurutnya Prabowo bisa muncul dengan menggunakan partai lain dan jaringan lain. Dengan kata lain, Prabowo bisa muncul dibelakang calon yang menjadi lawan Wiranto.
Nah, senjata wiranto yang berupa Hanura sudah dikokang. Jangan-jangan Prabowo hanya mematung sambil menabrakkan telapak tangan pada jidatnya…

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...