![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: ABDURRAHMAN KHUBAIB
|
|
|
NIM
|
: 3101412066
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas
Buku.
PERANG PANGLIMA (SIAPA MENGKHIANATI
SIAPA?)
Penulis:
Femi Adi Soempeno dan AA. Kunto A
B. Sinopsis
Buku.
Di dalam buku ini digambarkan
betapa sengitnya pertarungan politik di tubuh Militer saat masa-masa akhir
pemerintahan Soeharto dari masa awal reformasi sampai tahun 2009.Meruncing
kepada kedua tokoh sentral yaitu Prabowo dan Wiranto.sampai sekarang masih terdapat
berkas peristiwa penting yang terdapat sangkut pautnya dengan kedua tokoh
tersebut, yaitu misteri seputar peristiwa Mei 1998 yang belum terkuak bersih.
Kita masih diliputi tanda Tanya , sebenarnya apa yang terjadi di sekitar masa
transisi antara Soeharto ke Habibie ketika itu?. Mengapa Prabowo sebagai
Pangkostrad memberangkatkan pasukan yang disebut-sebut liar ke istana dan
kediaman presiden Habibie?. Mengapa Habibie begitu panic mendengar hal tersebut
dan langsung memecat Prabowo?. Mengapa pula Wiranto sebagai Panglima ABRI mesti
jealous melihat polah tingkah anak
buahnya yang show of force? Pula,
benarkah Soeharto berada dibalik semua itu?.Buku ini juga mengupas perang
dingin hingga perang sesungguhnya antara dua serdadu yang masing-masing
menggenggam tongkat komando itu. Tawaran yang diberikan adalah strategi apa
yang dimainkan masing-masing kubu untuk menumpas lawannya.
Sebenarnya telah sejak lama kedua
tokoh itu terlibat perang dingin. Wiranto yang karirnya melejit dibandingkan
teman-temannya seangkatan dan perwira tinggi lainnya itu, ternyata risih
melihat karir Prabowo lebih melejit dibandingkan dirinya, bahkan bintangnya
bersinar terang. Wiranto sangat dekat dengan Soeharto, dididik oleh Soeharto
saat menjadi ajudan presiden.
Lantas ada apa dengan Prabowo
terhadap Wiranto? Prabowo sendiri awalnya hanya bermasalah dengan Benny
Moerdani, yang pernah disinyalir akan mengkudeta mertuanya. Sinyalemen itu
kembali dirincingkan manakala Wiranto menjadi pucuk pimpinan angkatan
bersenjata. Prabowo curiga, Wiranto adalah orang Bennny sejak menjadi ajudan
presiden untuk kemudian kelak akan menikam presiden dan menduduki
kursinya..terjadilah apa yang kita bisa sebut “perang panglima”. Prabowo adalah
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), sedangkan
Wiranto adalah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Keduanya
sama-sama punya pasukan dan punya peluang untuk melakukan kudeta dan duduk di
singgasana penguasa.
Pada pendahuluan buku ini
mengisahkan perseturuan antara Prabowo
dan Benny moerdani beserta orang-orang terkait. Pada tahun 1978,
soeharto menujuk Jenderal M. Yusufsebagai panglima ABRI menggantikan Jenderal
Maraben Panggabean, rupanya ini merupakan cara soeharto untuk membayar utang
dari dikeluarkannya supersemar oleh M. Yusuf sehingga soeharto masih bisa
berkuasa sampai saat itu. Dengan jabatan itu, M. Yusuf leluasa untuk
memperhatikan kesejahteraan prajurit untuk meningkatkan profesionalisme
prajuritnya. Jasa-jasa ini yang membuat beliau popular dikalangan para prajurit.
Namun rivalnya, yaitu Ketua GI
Hankam/Asintel ABRI Letjen Benny Moerdani tidak menyukai langkah tersebut, ia
kemudian melaporkan kepada soeharto bahwa Jenderal M. Yusuf telah menyusun
kekuatan internal untuk menjadi presiden. Puncak persaingan itu terjadi ketika
kelompok Imran membajak Garuda Woyla. Benny Moerdani bertindak sendiri ketika
atasannya mengikuti Commanders Call ABRI di Ambon 30 maret 1981. Lantaran
soeharto sudah kadung tidak suka dengan M. Yusuf yang giat menggalang
popularitas, soeharto pun mengangkat Benny Moerdani sebagai panglima ABRI pada
1983.
Mestinya Benny berhati-hati
terhadap Prabowo saat menjabat sebagai staf khusus dirinya pada periode
1982-1985 karena Prabowo mengetahui langkah-langkah yang disusunnya. Tetapi
Benny mengetahui perbuatan Prabowo yang menikung dirinya. Ia pun mencopot
prabowo dan melemparkannya sebagai kepala staf kodim (Kasdim) yang notabene
merupakan jabatan buangan bagi anggota kopassus. Mulai saat itu Prabowo mulai
berhati-hati dengan langkah yang diambil Benny dengan menggalang kekuatan dari
sesame perwira menengah seperti Mayor Kivlan Zen dll.
Pada tahun 1889 Prabowo melalui
Kivlan Zen mengusulkan agar Wiranto diangkat menjadi ajudan presiden walaupun
sebenarnya Kivlan sendiri tak menyukainya, Benny yang mengetahui polah tingkah
prabowo mulai geram dan mulai mengkader penggantinya seperti Letjen Sahala
Rajagukguk dll termasuk luhut yang dulu pernah dekat dengan Prabowo sebelum
akhirnya dikhianati, dan akhirnya perang dingin pun tak terelakkan antara Prabowo
dengan Luhut untuk mobilitas vertical.
Pada saat SU MPR 1988 benny belum
menyerah dan membuat berbagai isu, salah satunya isu suksesi yang didukung oleh
petisi 50 untuk menjatuhkan soeharto. Ia menggalang kekuatan dari para mantan
jenderal dan menteri, Namun pada akhirnya sampai juga ke telinga Soeharto.
Dalam bab pertama buku ini yang
bertemakan ‘menakar kekuatan mr Whiskey’ yaitu sapaan akrab bagi Wiranto di
kalangan internal militer, baik prabowo maupun wiranto sama-sama memiliki bergainning power-nya sendiri. Mencul
dua klik yang sangat kental yaitu kelompok Wiranto yang ingin reformasi atau
perubahan secara pelan-pelan, dan kelompok Prabowo yang juga berbicara ingin
melaksanakan perubahan, tetapi dibalik itu Prabowo tetap bertekad melindungi
kepentingan besar keluarga Cendana. Kedua kelompok ini aktif sekali mencari
dukungan sipil untuk memperkuat posisi mereka dalam pertarungan kekuasaan
internal Angkatan Darat ini.
Wiranto menggunakan Kivlan Zen
sebagai kambing hitamnya, ia mendepaknya kemudian merangkul kembali saat
mendekati SI MPR 10 November 1998. Kivlan diminta untuk mengerahkan massa yang
pro SI walaupun sebenarnya ia masih menyimpan dendam dengan Wiranto. Akan
tetapi akhirnya ia pun setuju atas permintaan Wiranto tersebut dan mengerahkan
massa untuk menandingi massa yang kontra akan digelarnya SI. Belakangan massa
suruhan Kivlan itu disebut pasukan pengamanan swakarsa (Pam Swakarsa) yang
bertujuan mengamankan jalannya SI. Akan tetapi akibat kejadian itu, Kivlan
geram dengan mantan komandannya tersebut lantaran Wiranto dianggap masih
mempunyai utang akibat pengerahan massa pada saat itu yang ongkosnya mencapai
sekitar 7 milliar. Ada yang mendukung pernyataan Kivlan tesebut misalnya Fadli
zon dll serta adapula yang yang menganggap pernyataannya itu sebagai omongan
tak masuk akal seperti yang dilontarkan Mahfud MD.
Bila pernyataan Dibyo Widodo benar
bahwa kunci peristiwa Mei 1998 adalah Wiranto, Habibie dan Prabowo, maka
ketiganya pantas untuk meletakkan sejarah pada tempat yang semestinya. Meskipun
dalam spectrum kekuatan otoriter, sejarah umumnya ditulis untuk menjadikan
sejarah sebagai pembenaran sejarah, namun ketiganya tetap harus bertanggung
jawab atas sepenggal sejarah Indonesia ini. Genderang perang dimulai oleh
Wiranto melalui bukunya yang berjudul Bersaksi
di Tengah Badai yang diluncurkan menjelang pemilu 2004. Di dalam buku
tersebut Wiranto merasa disudutkan akan terlibat rivalitas dengan menantu
mantan presiden Soeharto itu. Selang 3 bulan kemudian buku Habibie muncul
sebagai salah satu pembenaran juga atas peristiwa itu. Namun, gendering yang
ditabuh wiranto ini tak segemuruh cerita yang didengungkannya. Pasalnya, usai
buku ini muncul di pasaran, Fadli zon dan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen
(purn) Kivlan Zen membuat buku yang berisi bantahan atas buku Wiranto. Judul
buku Kivlan adalah Konflik dan Integrasi
di tubuh TNI AD, sedangkan buku Fadli Politik
Huru-Hara mei 1998 yang sama-sama diterbitkan oleh Institute for Policy
Studies.
Diluar catatan buruknya di militer,
Wiranto juga meninggalkan bau harum di tubuh militer. Bau harum itu berasal
dari keputusannya sebagai panglima TNI untuk mereformasi angkatan bersenjata
itu :
1. TNI
keluar dari politik praktis
2. TNI
menghapus dwifungsi
3. TNI
bersikap netral dalam pemilu 1999
Maka, reformasi internal TNI itu
telah mengembalikan militer ke fungsi pokoknya sebagai alat pertahanan Negara.
Ya mengembalikan, sebab sejatinya cita-cita republic ketika didirikan pun tlah
tegas menggariskan. Iming-iming kekuasaan sesaat dan sesatlah yang telah mendorong
pasukan doreng hijau ini kearah politik praktis.
Berkait dengan reformasi TNI,
Wiranto juga tercatat sebagai peletak dasar tonggak kembalinya POLRI ke
kandungan ibu masyarakat sipil penjaga keamanan. Semula selama orde baru POLRI
ibarat bisul tapi berlian. Tidak dihilangkan mengganggu, dihilangkan saying.
Dan pada kenyataannya lebih banyak mengganggu. Lama kelamaan POLRI kehilangan
jatidiri sebagai pelindung masyarakat karena cenderung menjadi preman
berseragam.
Wiranto cukup cekatan merespon
tuntutan rakyat agar POLRI segera dilepaskan dari tubuh militer. Dengan
hati-hati namun pasti ia memulai langkah-langkah pelepasan itu, hingga akhirnya
pada 1 april 1999 polri resmi diceraikan dengan TNI.
Harapan besar tentu berada di
pundak polri. Dengan kemandiriannya polri diharapkan sungguh-sungguh menjadi
aparat sipil yang melindungi warga negaranya. Pendekatan yang dilakukan pun
persuasive-dialogis bukan represif sembari menodongkan popor.
Sekarang kita menjadi kebingungan
tatkala kondisi keamanan nasional mendapat ancaman serius dan kompleks .dalam
situasi semacam ini bantuan dari TNI masih dapat diberikan asalkan ada
kelegawaan dari polisi, dan kepercayaan dari masyarakat serta adanya paying
hukum yang jelas agar tidak menimbulkan keraguan bagi prajurit di lapangan.
Masuk ke bab selanjutnya mengupas The Golden Boy bernama Prabowo Subianto,
bila anda berjumpa dengannya saat ini dalam sekedip mata, anda akan melupakan
sosok lelak yang dulu lekat dengan seragam hijau gelap doreng khas tentara
dengan baret merah darahnya. Padahal dengan seragam itu ia pernah memiliki
legalitas untuk menghabisi presiden dan menteri pertahanan Timor Leste pada
tahun 1979. Lebih dari itu, bahkan anda juga bakal ‘tertipu’ dengan senyumnya
saat ini yang kian rileks lantaran ia tak lagi menjabat sebagai Panglima
Kostrad. Dulunya jabatan ini membuatnya dituding sebagai dalang (mastermind)
dari serangkaian penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti,
penyulut kekacauan di tanah air sebelum dan sesudah Mei 1998, hingga menerabas
ke isu seputar klik dan intrik dikalangan elit ABRI.
Prabowo memang mozaik yang menarik,
terutama karena kontroversi yang ditorehkana di sepanjang hidupnya. Taruh kata,
sejak lahir pun ia sudah mengundang kontroversi dirinya sendiri sebagai anak
Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo .bertali-temali dengan nama besar
ayahnya, Prabowo juga tak bisa dilepaskan dari kakeknya yaitu Margono
Djojohadikusumo, pengikut Boedi Oetomo dan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI)
1946. Sementara itu saudara-saudara nya yang lain adalah Biantiningsih
Djiwandono, Maryani Le Maistre, dan Hasyim Djojohadikusumo.
Kontroversi pertama yang
ditorehkannya yaitu dalam karir militernya yang sangat cepat, ia berhasil
menjadi Panglima Kopassus pada usia yang relative masih muda yaitu 44 tahun,
walaupun juga dipermudah oleh karena dia merupakan menantu Soeharto dan anak
dari Begawan ekonomi Soemitro. Terlepas dari itu prestasinya juga luar biasa
salah satunya mengenai operasi Timor-Timor dan di Irian Jaya. Selanjutnya
kontroversi mengenai Tim Mawar yang dibentuk dan di komandoinya, tim itu
sendiri dibentuk oleh Mayor Inf. Bambang Kristiono pada juli 1997 yang
bertujuan untuk memburu dan menangkapi aktivis radikal yang dikhawatirkan akan
mengganggu jalannya SU MPR 1998. Selanutnya masalah lengsernya Pangkostrad
Jhonny Lumintang, karena disinyalir karena desakan kubu ‘ABRI HIJAU’ yakni
jenderal-jenderal yang menggunakan politik aliran islam pimpinan Prabowo,
karena lumintang adalah jenderal Kristen. Setelah sekian banyak isu yang
membombardir dirinya, Prabowo akhirnya dicopot dari jabatannya sebagai
Pangkostrad oleh Wiranto.
Dijungkalkan dari Pangkostrad,
dikabarkan kudeta oleh Habibie, dituduh mendalangi kerusuhan Mei 1998, dan
dituding sebagai pengkhianat keluarga cendana. Setelah tudingan yang
bertubi-tubi tersebut Soemitro menasehatinya, “pada hari-hari yang gelap,
jangan pernah berharap pada orang yang pernah kamu tolong. Tapi akan slalu
datang bantuan dari siapa saja.” Eh … benar! Ada telefon dari Amman. Pangeran
Abdullah (Raja Jordania) menelpon. Dia bilang, “what can I do? You’re my
friend.” Gayung bersambut, telepon dari pangeran Abdullah ini kemudian menjadi
tiket emas bagi Prabowo untuk terbang ke Jordania.
Benar, garis naasib mempertemukan
mereka kembali. Mereka berkenalan saat menempuh pendidikan infanteri di Amerika
Serikat, yang kemudian disambung saat menjalani latihan anti terror di Jerman
Barat. Hubungan dekat itu juga terus berlangsung ketika mereka kembali ke
negeri masing-masing dan memegang pos komandan pasukan khusus.
Pangeran Abdullah merupakan satu
dari tiga nama yang paling dijagokan mewarisi takhta kerajaan Hasyimiyah itu.
Sosoknya makin disorot pers setelah kesehatan raja Hussein menurun drastic
akibat kanker kelenjar getah bening. Abdullah adalah anak pertama dari istri
kedua Raja Hussein, Antonitte Gardner alias Ratu Muna. Kans Abdullah sedikit
terganjal karena alas an sepele : ia lahir dari Rahim perempuan berkebangsaan
Inggris yang kemudian masuk islam. Dari empat istrinya, Raja Hussein mempunyai
11 anak, raja yang paling lama memerintah kawasan timur tengah itu juga
mengadopsi seorang putri.
Selama di Jordania, Prabowo
dianggap istimewa dan diberi gelar status kewarganegaraan. Karena situasi
Indonesia yang sangat memojokkannya ia tetap memilih tinggal di Jordan dalam
waktu yang lama, beberapa kali surat panggilan dilayangkan kepadanya untuk
mengklarifikasi masalah seputar Mei 1998, akan tetapi ia tak juga memenuhi
panggilan itu dan tetap berada di Jordan Negeri yang menampungnya saat
bangsanya sendiri mengucilkannya. Walaupun sempat beberapa kali prabowo keluar
dari Jordan seperti misalnya saat pergi ke Malaysia, ia pun tak menyempatkan
untuk sekedar mampir ke Indonesia. Pasalnya kondisi saat itu masih tak
memungkinkan baginya. Setelah akhir masa Wiranto dan Habibie, muncul sosok Gus
Dur. Beliau adalah orang yang dianggap Prabowo tepat untuk membelanya saat
kembali ke Indonesia karena ia sangat percaya diri bahwa Gus Dur sayang
kepadanya.
Pada bab tiga yang berjudul siapa
mengkhianati siapa? Prabowo merasa
dikhianati oleh mertuanya sedangkan menurut keluarga cendana justru Prabowolah
yang mengkhianati mereka. Soeharto cenderung percaya Wiranto, bahkan menjelang
kejatuhannya. Karena orang-orang yang dikenalnya sudah meninggalkannya seperti
ketua DPR waktu itu Harmoko dan beberapa menteri. Dosa-dosa prabowo semakin
dilegitimasi dengan dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk
menginvestigasi kerusuhan mei 1998.
Dalam buku ini ada beberapa versi
mengenai pendapat Habibie, Prabowo dan Wiranto mengenai kejadian pengerahan
pasukan pada tanggal 22 mei, ketiga tokoh itu menuturkan cerita berdasarkan
versinya.
Meskipun ketiganya sudah luruh dari
jabatannya masing-masing, nyatanya segitiga perseteruan Habibie, Prabowo dan
Wiranto tak kunjung tumpul. Silang sengketa mengenai sejarah yang benar dan tak
benar serta lurus dan tak lurus ini datang dari B.J Habibie. Ia menelurkan
bukunya berjudul Detik Detik Yang
Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi pada September 2006.
Buku yang terdiri dari 4 bab dengan 549 halaman itu menguak banyak informasi
yang selama ini belum diketahui oleh masyarakat, dan kemudian menjadi polemic
di kalangan akademisi, politisi dan bahkan masyarakat awam.
Persisnya buku itu mengupas proses
pencopotan Prabowo dari kursi Pangkostrad. Dalam buku itu habibie menuturkan,
pada hari kedua memerintah ia mendengar adanya gerakan pasukan Kostrad diluar
koordinasi panglima ABRI Wiranto. Akhirnya ia meminta Wiranto segera mencopot
jabatan Prabowo. Habibie juga menggambarkan bagaimana menantu soeharto ini
kemudian datang ke kantor presiden, mempertanyakan kebijakan ini.
Habibie juga menggambarkan situasi
saat menyusun cabinet pada 22 mei 1998, ia sempat menerima surat dari Jenderal
Besar A.H Nasution. Dalam surat yang dibawa dua perwira militer itu, Nasution
menyarankan dia agar mengangkat Jenderal Soebagyo HS menjadi Panglima ABRI dan
Letjen Prabowo Subiantoro sebagai KSAD. Tapi Habibie tak mengabulkan keinginan
ini dan mempertahankan Jenderal Wiranto sebagai Panglima ABRI.
Saat bab selanjutnya menjelaskan
mengenai Perang pasca senjata, setelah tak lagi menenteng senjata mereka bisa
juga sigap bergerak tanpa banyak terdeteksi para pesaing dan lawan. Prabowo
muncul sebagai pebisnis dengan pelan-pelan sedangkan Wiranto menyusup dibawah
permukaan publisitas menggalang dukungan politik. Prabowo tak gamblang
menunggangi bisnisnya untuk disetir kembali ke arena politik, sementara Wiranto
secara terang-terangan berambisi untuk kembali kepada tujuan semula yaitu NKRI
1.
Dan pada bab terakhir, perseteruan
Wiranto dan Prabowo sudah berpuncak pada Mei 1998. Sudah satu decade, namun
perseteruan mereka oleh banyak kalangan slalu menarik untuk diikuti. Prabowo
pada tahun 2004 dicalonkan menjadi Ketum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani
Indonesia). Beliau sangat aktif dalam organisasi yang mengurusi seluk beluk
tentang petani dan kehidupannya tersebut. Sedangkan Wiranto, setelah Golkar tak
berhasil mengantarnya menjadi presiden RI pada 2004, wiranto memutuskan untuk
hengkang dari partai beringin yang sudah diakrabinya sejak masih aktif di
militer. Akhir tahun 2006, ia mendirikan partai baru, Hanura namanya. Meski ia
menampik tudingan bahwa partai baru tersebut merupakan kendaraan politiknya
menuju kursi presiden 2009.
Nah, pada bagian akhir buku ini
menjelaskan mengenai Rabaan dini tentang perang panglima pada panggung pemilu
2009.
Pada hajatan tahun 2009, para
pensiunan panglima sudah menyiapkan pelurunya untuk berlaga di medan tersebut.
Menurut MT. Arifin, Wiranto punya kans karena adanya kekuatan yang digalang
lewat Hanura, menurutnya dengan system seperti ini partai bisa berkoalisi
dengan siapapun. Tinggal nanti bergainning
nya seperti apa.
Sementara Prabowo! Sulit untuk
menebak langkahnya ditahun 2009. Tapi menurutnya Prabowo bisa muncul dengan
menggunakan partai lain dan jaringan lain. Dengan kata lain, Prabowo bisa
muncul dibelakang calon yang menjadi lawan Wiranto.
Nah, senjata wiranto yang berupa Hanura sudah
dikokang. Jangan-jangan Prabowo hanya mematung sambil menabrakkan telapak
tangan pada jidatnya…


No comments:
Post a Comment