![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: YANRIKA ROSSIANA
|
|
|
NIM
|
: 3101412065
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas
Buku.
Judul Buku
: The Indonesian Killings
(Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966).
Editor : Robert Cribb
Penerbit : Mata Bangsa
Kota
Terbit : Yogyakarta
Tebal : XXXIX + 447 halaman.
B. Sinopsis
Buku.
BAB
1 PENDAHULUAN
Dalam bab ini dibahas mengenai
Masalah-masalah dalam Penulisan Sejarah Pembantaian Masal di Indonesia. Dimana
telah terjdi Pembantaian beberapa ratus ribu manusia sebagai akibat dari
percobaan kudeta pada tahun 1965 yang dikenal sebagai Gerakan 30 September,
merupakan salah satu pembantaian terbesar pada abad ke-20. Dalam kebanyakan
catatan disebutkan, pembantaian ini merebak dengan cepat pada suatu tempat,
kemudian berakhir begitu saja. Hal ini cukup mengejutkan karena hal yang begitu
mengerikan seperti ini sering menimbulkan instropeksi yang sangat mendalam.
Sebagai contoh, sejarah Jerman modern mencatat bahwa Jerman telah dihadapkan
pada fakta yang demikian jelas tentang tragedi “Holocaust”, penelusuran pada
asal muasal dan akibat-akibat yang ditimbulkannya, saat ini merupakan salah
satu upaya besar yang lebih penting dalam sejarah Jerman Modern. Demikian juga
dengan sejarah Kamboja yang menjadi tidak dapat diubah telah terjadi
pembantaian masal yang dilakuan Pol Pot.
Pada sebagian besar wilayah yang
terjadi di Indonesia, pembantaian dilakukan oleh para unit-unit tentara dan
kelompok siaga sipil. Dalam beberapa kasus, tentara terlibat langsung dalam
aksi pembantaian, tetapi seringali hanya sebagai penyalur senjata, memberi
sekedar pelatihan dan dorongan yang kuat ada kelompok-kelompok sipil yang
menjadi sangat penting dalam pembantaian ini. Pada tahun-tahun berikutnya mulai
berkuasanya rezim yang mengatur dan menyetujui pembantaian, mereka mengetahui
tentang kejadian itu, dapat dimengerti kalau kemudian mereka menjadi bungkam
mengenai apa yang terjadi pada tahun 1965-1966, agar mereka juga tidak menjadi
korban. Pers lokal saat itu juga dihambat, bukan hanya akses terhadap
cerita-cerita di luar kota-kota besar yang sangat dibatasi. Tetapi kualitas
jurnalisme investigasi Indonesia telah lama rusak di bawah sistem Demokrasi
Terpimpin.
Hal itu membuat ketidak jelasan
jumlah korban dalam pembantaian tersebut. Jumlah angka resmi yang pertama kali
dikeluarkan adalah 78.500 orang, data ini dikeluarkan oleh komisi pencari fakta
di bawah pimpinan Mayjen Soemarno yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno pada
akhir Desember 1965. Angka ini dianggap terlalu rendah. Satu-satunya perkiraan
jumlah korban yang didasarkan pada usaha keras untuk mendapatkan bukti, adalah
perkiraan dari hasil sebuah survei yang dipimpin oleh Kopkamtib dibantu oleh
sekitar 150 orang sarjana yang dilakukan pada tahun 1966. Laporan ini memuat
keterangan 800.000 jiwa terbunuh di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan
masing-masing 100.000 di Bali dan Sumatra. Para cendekiawan hanya dapat
memperkirakan jumlah korban berdasarkan bukti-bukti dan alasan-alasan yang
masuk akal, yaitu sekitar seperempat juta jiwa.
Tidak sepantasnya jika pembantaian
masal di Indonesia diartikan sebagai kematian masal yang “tidak disengaja”.
Karena pada umumnya kematian masal disebabkan oleh bencana kelaparan dan wabah
penyakit. Disini bahkan tidak terlihat adanya tanda-tanda bahwa para pembantai
merasa memiliki beban moral atas pembantaian yang meraka lakukan, walaupun
mereka yang melakukan pembantaian biasanya berhadapan langsung dengan korban,
sering kali mereka memenggal kepala korban dengan sebilah pedang besar, bukan
dengan satuan regu tembak atau kamar gas seperti yang terjadi di tempat lain.
Mereka telah melakukan tindakan yang sangat tidak manusiawi, tetapi tetap dapat
mempertahankan rasa kemanusiaannya. Betapapun brutal dan luasnya penyebaran
suatu pembantaian masal, tetap merupakan suatu tindakan yang secara pasti
berjalan mundur kemasa lalu; ada semacam batasan undang-undang sejarah di balik
sesuatu yang tampaknya memberikan sedikit kesan untuk mencari kesalahan para
pelaku pembantaian.
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur,
sebagai ladang pembantaian utama. Di Jawa Tengah pembantaian terbesar terjadi
di wilayah Solo-Klaten, di Pati ke arah utara dan Banyumas, meluas sampai
bagian barat provinsi hampir seluruh pembantaian di bawah komando Sarwo Edhie.
Di Jawa Timur terjadi di daerah Kediri, Porbolinggo/Pasuruan, Situbondo dan
Banyuwangi. Pembantaian yang terjadi bukanlah suatu pembalasan atas “peristiwa”
khusus G30S, melainkan dalam kondisi waktu itu, “pengungkapan rahasia” adalah
suatu hal yang paling cocok untuk membuat PKI secara umum tampak sebagai partai
yang mempunyai kekuatan biadab, dimana pihak-pihak yang dapat menghancurkannya
berarti telah memberikan pelayanan kepada negara.
BAB 2
GESTAPU DAN KEKUASAAN
NEGARA DI INDONESIA
Pada Bab 2 ini penulis memaparkan
mengenai proses politik yang sesungguhnya menggantikan Orde “Lama” Demokrasi
Terpimpin dengan orde yang “Baru” telah dilaksanakan secara efektif dalam waktu
enam bulan sejak pecahnya peristiwa Gestapu pada tanggal 30 September/1 Oktober
1965. Komando militer yang dipimpin oleh Soeharto ini tidak hanya menghancurkan
usaha “kudeta” itu, tetapi juga melakukan pengambilan kekuasaan politik. Pada
paro kedua bulan Oktober 1965, kelompok-kelompok pemuda anti komunis, di Jawa
Tengah dan Jawa Timur, yang kebanyakan berasal dari organisasi-organisasi Islam
dan Kristen, mulai melakukan pembantaian terhadap orang-orang yang diduga
menjadi simpatisan PKI. Antara Desember 1965 hingga Maret 1966 cara penanganan
dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh negara bergeser dari
pembantaian-pembantaian yang didukung militer di tingkat lokal ke arah
penangapan dan penahanan yang lebih tersentralisasi terhadap sisa-sisa orde
lama, yang dilakukan melalui aparat-aparat Kopkamtib. Pada saat yang sama,
peralihan kekuasaan negara pun selesai. Pada bulan Maret 1966, Presiden
Soekarno terpaksa menandatangani surat yang sekarang terkenal dengan Surat
Perintah Sebelas Maret atau Super Semar. Surat ini mengakui bahwa kontrol
efektif terhadap kekuasaan negara berada di tangan Soeharto dan komando
militernya. Sehari kemudian, Soeharto mengeluarkan sebuah dekrit atas nama
Presiden yang menyatakan bahwa PKI adalah ilegal, dan memerintahkan
dibubarannya partai itu dan seluruh organisasi-organisasi yang berfasilitasi di
bawahnya.
Sebelum Gestapu, sisi yang
mendominasi sejarah nasionalisme Indonesia dan pemerintahan negara nasional
Indonesia adalah bagaimana mendefinisikan identitas nasional Indonesia. Karena
gangguan-gangguan politik terjadi di dalam pemerintahan Indonesia antara tahun
1945 dan 1965, kontradiksi-kontradiksi antara kebutuhan akan kekuasaan negara
dan pencarian identitas nasional meningkat. Legitimasi Orde Baru dibangun di
atas peranannya sebagai pemulihan ketertiban. Skala pembantaian-pembantaian
telah digunakan untuk menimbulan citra Orde Lama dalam benak masyarakat sebagai
periode chaos dan kekacauan. Dalam ikonografi ideologi dan politik Orde Baru
yang dominan, pembantaian-pembantaian itu merupakan akibat buruk Orde Lama,
sebuah indikator masa lalu yang tidak menyenangkan. Pelaksanaan kekuasaan
negara dalam masa baru Indonesia tidak menunjukkan brutalitas sadis kebanyakan
rezim-rezim Amerika Latin dan Afrika. Meskipun demikian, kontrol dan manipulasi
dengan menggunaan aksi kekerasan sengaja telah menjadi sebuah sisi yang
senantiasa ada.
BAB 3
PENGARUH-PENGARUH LOKAL
DAN NASIONAL DALAM AKSI KEKERASAN TAHUN 1965
Dalam bab 3 ini penulis sedikit
menggambarkan mengenai pengaruh-pengaruh lokal dan nasional dalam aksi
kekerasan tahun 1965. Mengingat jauhnya jarak dan waktu dan konsolidasi yang
dilakukan oleh Orde Baru, sedikit sekali kemungkinan bagi kita untuk
mengembangkan pengetahuan tentang dinamika sosiologis dari aksi kekerasan yang
terjadi di tingkat grass roots. Riset di Jawa menitik beratkan pada daerah
Kediri. Meskipun masih terlalu banyak berada dalam kegelapan tentang
masalah-masalah ini di banyak daerah, terdapat cukup banyak bahan dari
bagian-bagian lain Jawa dan bagian-bagian lain Indonesia yang menunjukkan bahwa
Kediri tidaklah “khas” dalam artian bahwa daerah ini bisa menjadi sumber dari
sebuah model yang komprehensif tentang aksi kekerasan tahun 1965. Pola-pola
regional ini bukanlah proses-proses yang sepenuhnya terpisah dan otonom, tetapi
merupakan proses-proses tidak mudah diasimilasi dalam analisis ke dalam sebuah
pola nasional yang seragam. Pergolakan tahun 1965 dapat dipandang sebagai
sesuatu yang menandai sebuah tahap kritis dalam integrasi internal negara
Indonesia modern, dan yang kurang pasti, dalam integrasi bangsa Indonesia.
Kediri merupakan benteng
orang-orang islam Nahdatul Ulama (NU) sekaligus basis Partai Komunis Indonesia
(PKI). Sejak saat pendiriannya masing-masing, khususnya selama tahun 1960-an
kedua partai ini dan para pendukungnya sudah saling bermusuhan. Pertimbangan
yang semacam itu yang menegaskan kecenderungan-kecenderungan dan politik
nasional yang lebih luas, nampaknya dapat memberi cukup alasan untuk memahami
jatuhnya pertumpahan darah yang terjadi di bagian Jawa Timur. Sejarah daerah
memberikan pertimbangan-pertimbangan yang paling penting. Akibat-akibat
historis ini dapat dikenali dalam hal organisasi sosial dan pola-pola konflik
komunal yang mengambil bentuk-bentuk khusus pernyataan politik dan budaya.
Pada tahun 1960-an, selama masa
Demokrasi Terpimpin PKI khususnya menghimpun sejumlah pengikut yang sangat
besar, dan terutama ditentang oleh tentara, sementara presiden berusaha
mengimbangi persaingan-persaingan politik dalam sebuah lingkungan yang
ekspansif. Tahun 1963, PKI mengawali sebuah kebijakan mobilisasi kelas.
Kampanye-kampanye utamanya dilakukan pada tahun 1964, tetapi di akhir tahun
para tuan tanah telah menggerakkan perlawanannya melalui PNI dan NU dan membalas
kampanye PKI. Semua ketegangan ini diperkuat dengan perkembangan-perkembangan
politik yang terjadi pada tahun1965. Pengaruh kuat semua perkembangan ini, dan
bentuk serta derajat aksi kekerasan yang mengakhirinya ketika krisis terjadi
sama sekali tidak seragam. Banyak sekali kampanye menentang tuan-tuan tanah
santri, dengan seringkali melibatkan sengketa-sengketa kompleks atas
syarat-syarat penggadaian atau aturan distribusi tanah. Tujuan-tujuan di pihak
PKI sendiri, adalah tujuan-tujuan kelas, berkaitan dengan tanah dan
syarat-syarat perjanjian-perjanjian panen bersama. Demologi yang berkembang di
kedua belah pihak pada waktu itu pun kemudian menemukan komplotannya yang kejam
dan mengerikan selama aksi sepihak dan tindakan balas dendam yang menyusul aksi
itu.
Aksi-aksi kejam tersebut
semata-mata tidak hanya terjadi di Jawa saja, namun di seluruh Indonesia
aksi-aksi yang sepaham juga berjalan. Aksi kekerasan yang menghancurkan
masyarakat Indonesia pada tahun itu lebih dari sekedar klimaks dari tahun-tahun
pergolakan internal di dalam masyarakat Indonesia. Aksi kekerasan itu merupakan sebuah pilihan
politik yang dengan sengaja diambil oleh para komandan militer yang menguasai
mungin satu-satunya instrumen kebijakan negara yang bisa diandalkan.
BAB 4
MENCIPTAKAN SEJARAH:
KESUSASTRAAN INDONESIA KONTEMPORER DAN PERISTIWA-PERISTIWA 1965
Bab 4 penulis lebih jauh memaparkan
mengenai adanya penciptaan sejarah kesusasteraan indonesia kontemporer dan
peristiwa- peristiwa 1965. Karena, Hampir sepanjang tahun 1970-an, sastra
kreatif di Indonesia nyaris sama sekali tidak menyerukan makna
peristiwa-peristiwa tahun 1965 dan akibatnya bagi kehidupan perorangan,
masyarakat dan bangsa. Pada tahun 1979 sejarah mulai muncul kepermukaan, pada
mulanya bukan pada aliaran sastra “tinggi”, tetapi dalam perkembangan jenis
hiburan yang biasa dikenal dengan sastra pop. Penulis-penulis ”popular” pada
tahun 1970-an adalah kebanyakan generasi yang lebih muda, yang pada tahun 1965
masih kanak-kanak dan karenanya hanya mendapatkan pengaruh tidak langsung dari
peristiwa itu. Menjelang tahun 1980-an, perhatian terhadap observasi sejarah
dan sosial secara umum mulai ditransfer ke wilayah sastra “tinggi”. Dimulai
dengan munculnya kembali penulis-penulis dari golongan kiri yang dipenjara karena
afiliasi politik mereka setelah kudeta tahun 1965.
Semangat pertengahan 1980-an bukan
hanya suatu penghargaan, pribadi tokoh kebudayaan terikat oleh pertukaran
pandangan pada catatan sejarah, usaha
yang dilakukan secara resmi untuk menguatkan pandangan secara ortodoks tentang
kudeta 1965. Pada tahun 1984 pemerintah telah mensponsori produksi dan
distribusi sebuah film khusus yang bergaya “dokumenter sejarah” yang berjudul
Penghianatan G30S/PKI, skenario ditulis oleh Arifin C. Sastra sejarah semasa itu
kebanyakan dibuat dalam bentuk tulisan-tulisan novel, salah satunya adalah
novel Anak Tanah Air. Novel Anak tanah air karya Ajip adalah sebuah novel
penting karena kontribusinya terhadap kecenderungan sastra Indonesia tahun
1980-an untuk mulai merekam dan merefleksikan pengalaman pembancanya sebagai
pelaku dalam proses sosial dan perubahan sejarah. Pada tahun 1986, Penghianatan
G30S/PKI memasuki dunia sastra Indonesia, dalam bentuk novel yang diadaptasi
dari film yang berjudul sama, ditulis oleh Arswendo Atmowiloto.
BAB 5
AKSI KEKERASAN DI
PEDESAAN KLATEN DAN BANYUWANGI
Bab berikutnya lebih jauh membahas
mengenai aksi kekerasan di pedesaan klaten dan banyuwangi. Dimana, Beberapa
pembantaian terbesar di tahun 1968-1966 terjadi di daerah Klaten, Jawa Tengah,
yang terletak di kaki Gunung Merapi antara Solo dan Yogyakarta. Awalnya terjadi
ketegangan antara BTI (Barisan Tani Indonesia) yang merupakan organisasi
bawahan PKI. BTI menjalankan aksi untuk menuntut tanah kembali bagi petani para
pemilik tanah dan penumpasan atas apa yang telah digambarkan sebagai “tujuh
setan desa”. Aksi- aksi sepihak mulai muncul di beberapa daerah. Salah satunyya
dilancarkannya aksi besar-besaran PKI terjadi di daerah Prambanan. Beberapa
bulan sebelum September 1965 ada pertemuan cabang-cabang PKI di Klaten, yang
diorganisasikan oleh Cabang Klaten yang dihadiri oleh wakil-wakil dari dua
puluh tiga cabang lainnya. Salah satu yang dibahas dalam pertemuan tersebut
adalah menghapuskan apa yang disebut oleh orang-orang dengan “Tujuh Setan Desa”.
Yang termasuk dalam golongan tersebut adalah: 1. Para tuan tanah, 2. Lintah
darat, 3. Penebas, 4. Tengkulak (perantara), 5. Penjahat desa, 6. Pedagang
jahat dan 7. Kapitalis-kapitalis birokrat. Ada rencana untuk membunuh beberapa
dari orang semacam ini. Dengan memanfaatkan konfrontasi dengan Malaysia sebagai
alasan, PKI memberikan latihan-latihan militer bagi semua anggota Pemuda
Rakyat. Bagian lain dari keseluruhan strategi PKI adalah latihan untuk
mengambil kekuasaan dan kendali ekonomi.
PKI terus menerus berusaha untuk
menginfiltrasi atau mempengaruhi lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi
pemerintah. Di Prambanan PKI berhasil mempengaruhi Butepra, bebarapa pejabat
kecamatan dan sejumlah perwira polisi. Komite-komite perang PKI yang ada di setiap
desa telah membuat persiapan yang ekstensif, termasuk menggunakan lubang-lubang
yang akan mereka gunakan untuk mengubur korban.
Mobilisasi kekuatan-kekuatan PKI menjelang 30 September 1965 sangat
dirasakan oleh rakyat. Selain pleton-pleton khusus yang dibentuk dari Pemuda
Rakyat, PKI juga memerintahkan seluruh penduduk desa untuk melakukan tugas jaga
dan bekerja untuk kepentingan-kepentingan partai. PKI menggunakan penjahat yang
ditakuti oleh mayarakat untuk membunuh beberapa orang non komunis di Prambanan.
Dalam rangka untuk membalas
kegiatan komunis yang makin meningkat itu, kelompok Nasionalis, Muslim dan
Kristen mengorganisasi pemudanya kedalam kekuatan-kekuatan tempur.
Barisan-barisan pemuda di bentuk dengan tujuan utama adalah 1. Membantu
pemerintah bilamana diperlukan, 2. Membantu penduduk desa dalam mempertahankan
keamanan desa mereka, 3. Memberikan latihan militer kepada pemuda desa.
Kegiatan PKI semain menjadi-jadi, pada tanggal 23 Oktober 1965 di beberapa desa
dekat jalan utama menjadi sasaran utama bagi komunis seperti Randu sari, Joho,
Bajran, Pereng dan Geneng.
BAB 6
PENUMPASAN G30S/PKI DI
JAWA TENGAH
Pada bab ini penulis
mendeskripsikan mengenai penumpasan G30S/PKI di Jawa Tengah. Kebanyakan laporan
dari barat tentang kudeta 1965 lebih menekankan bahwa kudeta ini berpusat di
Jakarta. Bagaimanapun Jakarta merupakan kunci utama menuju kesuksesan, di sana
terdapat tokoh-tokoh politik terkemuka, korban dan pemenang, pusat administrasi
dan komuikasi, dan simbol penting ibu kota. Peristiwa kup tanggal 1 Oktober
1965 di Jakarta, menjalar dengan cepat ke daerah Kodam VII/Diponegoro.
Berdasarkan perhitungan pemilu dan data-data lainnya jumlah anggota PKI di
wilayah ini merupakan jumlah terbesar. Panglima Kodam VII/ Diponegoro Brigjen
TNI Soeryosumpeno saat itu berada di Magelang sedang brifing bersama Garnizun
dan Dan-Dan kesatuan setempat menyusun rencana penyelesaian penumpasan Gerakan
30 September. Rencana tersebut meliputi:
·
Pemulihan kembali garis
komando antara Kodam dan seluruh kesatuan-kesatuan di bawahnya.
·
Konsolidasi slagorde
Kodam VII:
·
Konsolidasi fisik,
·
Konsolidasi mental dan
ideologi,
·
Konsolidasi personel.
·
Pemulihan keamanan dan
ketertiban di seluruh wilayah Kodam VII/Diponegoro Jawa Tengah.
Setelah diadakannya brifing dari Dan RPKAD dan Pangdam
VII/Diponegoro, maka diaturlah rencana gerakan dan penempatan pasukan. Dalam
gerakannya pada malm hari tanggal 18 Oktober telah berhasil menahan dan
menangkap kira-kira 800 oknum yang dicurigai tersangkut G30S/PKI beserta
berbagai dokumen dan bermacam-macam senjata sebagai barang bukti. Gerakan
selanjutnya ialah mengadakan show of force keliling kota yang disambut hangat
oleh rakyat. Terjadi pula penghancuran-penghancuran dan perusakan gedung-gedung
PKI dan ormas-ormasnya serta tuntutan pembubaran PKI dan ormas-ormasnya. Daerah
Surakarta, Klaten, Boyolali, Karanganyar dan Sragen merupakan daerah yang
terbanyak kegiatan pengikut G30S/PKI. Kolonel Yasir Hadibroto Komandan Brigade
IV Kodam VII / Diponegoro dengan pasukannya berhasil menangkap DN Aidit di desa
Sambeng, Solo. Aidit kemudian diproses verbal, yang kemudian akhirnya dilakukan
eksekusinya (tembak mati) di Boyolali. Setelah itu gerakan-gerakan di
Purworejo, Magelang, dan DIY berhasil menangkap pengikut-pengikut dan sisa-sisa
PKI yang lainnya.
BAB
7
DATA TAMBAHAN TENTANG
KEKEAJAMAN KONTRAREVOLUSIONER DI INDONESIA KHUSUSNYA DI JAWA TIMUR
Pada bab selanjutnya penulis lebih
menekankan pembahasan mengenai adanya Data Tambahan tentang Kekeajaman
Kontrarevolusioner di Indonesia Khususnya di Jawa Timur. Dokumen laporan salah
seorang dari Indonesia menyebutkan tentang pembantaian-pembantaian yang terjadi
di Jawa Timur pada tahun 1965-1966, dengan rentang waktu dimulai sejak Desember
1965 hingga Januari 1966. Asal-usul dokumen ini sendiri tidak jelas. Daerah
pembantaian yang tercatat antara lain Kabupaten Malang: Lawang, Singosari,
Tumpang; Kabupaten Jember; Kabupaten Blitar: Ngegok, Garum; Kabupaten Kediri:
Kecamatan Gurah, Kecamatan Pare, Kecamatan Keras; dan Kabupaten Banyuwangi.
BAB 8 – BAB 10
Pada BAB ini berisi tentang kisah
pengalaman pahit yang di alami dan diceritakan oleh korban dan saksi secara langsung seperti Bu
Yeti dan Marni. Maskun Iskandar dan Jopie Lasut selaku wartawan melaporkan
hasil studi kasus mereka tentang pembantaian PKI di daerah Purwodadi.
BAB 11 BALI
Pada bab ini penulis menggambarakan
bagaimana brutal dan sadisnya pembantaian PKI di Bali. Komandan RPKAD, Sarwo
Edhi, yang pasukannya tiba pada akhir Desember 1965, dilaporkan pernah berkata,
“Di Jawa kami harus menghasut penduduk untuk membantai orang-orang komunis. Di
Bali kami harus menahan mereka, untuk memastikan bahwa mereka tidak bertindak
terlalu jauh.” (hal.411). Situasi di Bali dalam catatan Soe Hok Gie memang agak
terlamabat menerima komando untuk melakukan pembantaian. Elite-elite politik di
Bali lama mengamati pertarungan yang terjadi di Jakarta dan menunggu siapa yang
keluar sebagai pemenang. Banyak para keluarga di Bali yang kehilangan anggota
keluarganya dalam Tragedi 1965 melakukan ritual ini untuk menutup rapat tragedi
menyedihkan tersebut.
Kelebihan :
Sisi menarik dari buku ini adalah
disertakannya essai Soe Hok Gie tentang riuh dan brutalnya pembantaian PKI di
Bali sehingga memiliki gambaran yang lebih gamblang tentang apa yang dituliskan
dan disajikan oleh penulis. Kisah pengalaman dari seorang istri tahanan politik
bernama Yeti dan Marni. Yeti dan Marni adalah seorang perempuan yang selamat
dari kamp-kamp. Beban mereka adalah lolos dari kematian dengan segala
pertanyaan tentang apa salahnya dan makna yang mengikutinya, dan tahun-tahun
panjang yang menakutkan dalam kerja keras. (hal.386). Berbagai kisah para
korban inilah yang menjadi daya tarik dan nilai lebih dari buku ini. Cerita
pembantaian di Bali menjadi bagian akhir dan kurang begitu lengkap dalam buku
ini. Cerita Bali ditulis oleh Robert Cribb, Soe Hok Gie serta tambahan laporan
dari Pusat Studi Pedesaan Universitas Gajah Mada yang dicatat dari pemberitaan
harian Suara Indonesia yang terbit di Denpasar. Juga ada dokumen dari Dinas
Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Bali.
Kekurangan
:
Dalam buku Pembantaian PKI di Jawa
dan Bali 1965-1966 ini merupakan buku terjemahan dari sebuah buku yang berjudul The Indonesia Killings of 1965-1966
Studies from Java and Bali Centre of Southeast Asian Studies Monash University,
1990 sehingga sedikit banyak masih terdapat bahasa asing yang susah dicerna dan
di pahami oleh orang awam . Dalam penyajiannya buku ini masih sangat kental
terasa unsur subjektif dari sisi penulis maupun sumber lisan. Buku ini tidak
cocok diperuntukkan bagi semua umur karena sisi penceritaannya cenderung secara
murni dari sisi kekejaman dan kekejian perlakuan seseorang kepada orang lain
diceritakan secara terang dan gamblang.harus ada pengawasan dan bimbingan dari
orang yang lebih mengerti agara dalam membaca dan mempergunakan buku ini lebih
dapat terawasi.


No comments:
Post a Comment