![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: ETY SAPUTRI
|
|
|
NIM
|
: 3101412064
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku.
Judul
Buku : Prahara Reformasi Mei 1998 Jejak-Jejak
Kesaksian
Penulis :
Nugroho Trisnu Brata
Penerbit :
Titian Masa Pustaka
Kota
Terbit :
Semarang
Cetakan :
I (pertama), 2006
Jumlah
hlm :
169 hlm.
Jumlah
bab :
5 bab
Ukuran
buku :
20 × 15 cm
B.
Sinopsis Buku.
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Jejak-jejak
Kesaksian
Pagi itu adalah hari yang
dinanti-nanti oleh segenap aktivitas pergerakan mahasiswa yang menginginkan
terjadinya reformasi di indonesia. Melalui berbagai pertemuan, para mahasiswa
dan para alumni mahasiswa UGM, memutuskan untuk mengadakan aksi massa akbar di
halaman Gedung Graha Saba Pramana UGM dalam rangka memperingati Hari
kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 sekaligus mununtut presiden Soeharto turun
dari kekuasaan, karena selama berkuasa di anggap telah bertindak anti
demokrasi, dan melakukan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Rencananya setelah
aksi massa akbar di UGM itu maka para peserta akan berarak menuju kraton
Yogyakarta dan di pimpin oleh Sri sultan Hamengkubuono X
Tujuan dari penulisan buku ini
adalah untuk mengetahui konteks gerakan massa pisowanan ageng dalam wacana
politik kebudayaan jawa. Konteks yang mendasari perilaku gerakan massa
mewujutkan reformasi yang berhubungan dengan kekuasaan negara adalah tema yang
perlu saya ungkapkan dalam tulisan ini. Bagi saya tema tentang kekuasaan adalah
objek studi yang mempesona dan tak akan pernah basi untuk di perbincangkan.
Buku ini memfokuskan kajiannya pada
gerakan massa 20 Mei 1998 dan beberapa peristiwa yang terjadi di Yogyakarta
pada rentang waktu bergulirnya wacana reformsi dan gerakan menuntut pelaksanaan
reformasi di Indonesia peristiwa-peristiwa ini terjadi pada bulan februari,
Maret, April, dan Mei 1998. Berbagai peristiwa yang berhubungan dengan gerakan
massa yang di pelopori oleh mahasiswa yogyakarta untuk menuntut pelaksanaan 6
agenda reformasi telah menambah catatan sejarah perjuaangan rakyat Yogyakarta
dalam mensikapi kebradaan negara indonesia. Analisa mengenai gerakan massa
mewujutkan reformasi di Yogyakata pernah di lakukan oleh beberapa orang.
Tulisan kritik Ertanto (dalam Laksono, et al, 2000) mengkaji gerakan reformasi
di Yogyakarta. Pembakaran patung presiden Soeharto dan bentrokan yang terjadi
di jalan Gejayan menjadi fokus kajiannya. Dalam pandangan Ertanto, pembakaran
patung presiden Soeharto menjadi pemicu bagi gerakan massa mewujudkan reformasi
yang diwarnai oleh aksi brutal dan para pelaku gerakan.
2.
Pendekatan
sebagai Jendela Analisis
Apabila seorang peneliti ingin
mengetahui tentang fenomena sosial budaya dengan titik tekannya pada peristiwa
politik, maka intiya akan berupa pendekatan politik sebagai proses, dengan
medan dan arenanya, sebagai penunjang serta sarannya. Kalau si Peneliti ingin
mengetahui tipe organisasi politik yang terdapat di dalam masyarakat yang
bersangkutan, maka yang berguna adalah pendekatan struktural- fungsional.
Dewan, Raja, Pejabat dan relasi-relasi akan mendapat perhatiaan sepenuhnya. Kalau peneliti ingin
melihat pertumbuhan dan perubahan struktur, maka kedua pendekatan yaitu
prosesual dan struktural-fungsional harus di kombinaasikan, selain itu pendekatan ini juga memerlukan
perspektif sejarah (Edmund Leach;1970, van Velsen;1971, dan
H.J.M.Cleassen;1987). Walaupun tidak sepenuhnya mengikuti pendapat para pelaku
tersebut, karena buku ini mengkaji peristiwa gerakan massa 20 mei 1998 di
Kraton Yogyakarta maka kerja analisis ini adalah seara prosesual melihat
peristiwa, dengan medan dan arenanya,
dengan penunjang serta sarananya.
3. Sumber dan Jalannya
Penelitian
Sebagaimana di kemukakan pleh James
P. Spradley (1997;3), bahwa enografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu
kebudayaan. Tujuan utama aktifitas ini adalah memahami pandangan hidup dari
sudut pandang “penduduk asli” atau pelaku terhadap dunianya. Tidak hanya
mempelajari masyarakat, lebih dari itu Etnografi berarti belajar dari
masyarakat/ lebih lanjut spreadly mengatakan (1997;12) bahwa etnografi
merupakan bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian. Teori
etnografi, dan berbagai macam deskripsi kebudayaan. Di dalam menganalisis data hasil penelitian maka saya
melakukan logika berfikir postruktualisme dalam
varian intertekstualitas seperti telah saya paparkan di muka. Posisi
saya sebagai bagian dari pesertagerakan massa mewujutkan reformasi tahun 1998
dan posisi saya sebagai etnis jawa, secara “subjektif” akan melakukan refleksi
atas memori pengetahuan yang ada di kepala saya terhadap data hasil penelitian
tersebut.
BAB II
TRANSFORMASI WACANA
MENJADI GERAKAN
Pada Bab ini saya akan
mengelaborasi wacana reformasi tahun 1998 yang dilanjutkan konsep gerakan massa
secara umum dan gerakan massa mewujutkan reformasi. Hal ini perlu dilakukan
agar detail kajian bisa di mengerti secara mendalam. Pada bab II ini terdapat
dua kata kunci yang perlu di definisikan agar terdapat persamaan persepsi,
yaitu kata “reformasi” dan kata gerakan.
1.
Wacana
Reformasi
Wacana
reformasi dan fenomena kekuasaan nasional di indonesia sampai beberaoa tahun
ini masi menjadi tema yang menarik. Setiap orang begitu akrabnya dengan istilah
reformasi, ada yang paham betul tentang makna reformasi akan tetapi ada juga
yang hanya secara latah ikut-ikutan berbicara tentang reformasi dengan tanpa
memahami makna reformasi itu sendiri. Wacana suksesi kepemimpinan itu kemudian
bergeser menjadi salah satu bagian wacana reformasi atau wacana total., di mana
suksesi kepemimpinan nasional hanya menjadi salah satu bagian dari wacana
reformasi. Wacana penuntut pelaksanaan reformasi di indonesia kemudian bergeser
menjadi aksi, yaitu munculnya gerakan massa menuntut pelaksanaan reformasi.
Walaupun gerakan massa menuntut pelaksanaan reformasi berkembang luas, akan
tetapi SU MPR aret 1998 kembali memiih Soeharto sebagai presiden. Pengangkatan
kembali Soeharto ini rupanya menjadi pasokan amunisi bagi gerakan massa
menuntut pelaksanaan reformasi, sehingga gerakan massa lebih meluas lagi.
Kabinet presidensiil yang di bentuk seiring pengangkatan Soeharto sebagai
presiden di mana oleh masyarakat dianggap penuh dengan aroma nepotisme, karena Siti Hardiyah Rukmana (anak
Soeharto) dan Moehammad Bob Hassan (kroni bisnis Soeharto) termasuk menteri di
dalam kabinet itu.
Wacana dan Ideolagi pembangunan yang menjadi
dasar kekuasaan pemerintah orde baru, ternyata digunakan untuk legitimasi
segala keputusan potlitik yang dijalankannya. Dengan mengatasnamakan
pembangunan maka seakan-akan pemerintah bisa melakukan apa saja terhadap
masyarakat; membangun prekonomian konglomerasi, merampas tanah masyarakat,
mengekang kebebasan menjalanjalankan agam secara benar, mengebiri hak-hak
secara politik warga negara, dan sebagainya. Bahkan tidak jarang orang yang
tidak sepaham dengan pembangunan ala pemerintah Orde Baru kemudian di cap
sebagai pihak yang anti pemerintah atau anti pancasila. Dengan alasan itu maka
penindasan terhadap masyarakat oleh pemerintah pun sering terjadi seperti;
pembreidelan majalah Tempo, Editor, dan tabloid Detik, penyerbuaan kantor DPD
PDI tanggal 27 Juli 1996, dan penangkapan serta penculikan terhadap para aktifitas mahasiswa.
Pendapat Abdullah itu juga mengesampingkan sepak terjang ABRI yang
sering bertindak brutal dan anarkis dalam menghadapi demonstrasi mahasiswa yang
turun di jalan. Pemukulan, tendangan, semprot gas air mata, tembahakn dengan
peluru karet atau peluru tajam yang di arahkan kepada mahasiswa adalah berita
yang rutin menghiasi media massa pada Maret-Mei 1998.
2.
Gerakan
Massa Mewujudkan Reformasi
Pemahaman tentang gerakan massa
bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, secara sederhana gerakan massa bisa
berarti adanya sejumblah massa yang bergerak secara bersama-sama, dari suatu
tempat akumulasi massa. Ke dua, adalah pemahaman gerakan massa secara akademis
dan penjelasan itu adlah sebagai berikut. Geralan aatau movement di dalam kamus
The Oxford English Dictionary di jelaskan sebagai berikut.
Definisi gerakan massa, gerakan
politik, dan gerakan sosial misalnya, memiliki kemiripan definisi. Pada
definisi gerakan petani terlihat bahwa Koentjaraningrat melakukan penyempitan
makna, karena gerakan petani sebenarnya tidak semata-mata hanya pada masalah
tanah (agraria) tetapi bisa juga menyangkut harga hasil panen, distribusi
pupuk, sistem sewa, dan sebagainya.
Gerakan massa sebagai semua proses
menuju perubahan, dalam dataran teknis memiliki 4 aspek, yaitu; 1) tahap
pembangun kesadaran para anggota, 2) tahap merumuskan tujuan berisi visi dan
misi gerakan, 3) tahap membangun solidaritas anggota, dan 4) menggespresikan
tujuan. Gerakan massa mewujudkan reformasi yang terjadi pada 20 Mei 1998 di
Jogja sebenarnya adalah aspek yang ke-4 dari gerakan massa yaitu tahap
mobilitas massa untuk melakukan demonstrai dan menggespresikan tujuan yaitu
menuntut presiden soeharto mundur sebagai titik awal reformasi total di
Indonesia.
Isi turunkan Soeharto adalah titik
temu antara pemahaman makna reformasi oleh masyarakat luas dengan pemahaman
makna reformasi oleh mahasiswa sebagai motor gerakan massa mewujudkan
reformasi. Setelah Soeharto turun, maka masing-masing elemen gerakan memiliki
agenda reformasi sendiri-sendiri. Berbagai gerakan massa dan masyarakat untuk
melawan soeharto. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Hoffer (1993)
bahwa untuk membangkitkan persatuan gerakan massa maka harus ada”setan besar”
sebagai musush bersama. Dalam hak ini Soeharto di jadikan sebagai musuh bersama
oleh gerakan massa.
Usaha untuk menjatuhkan Soeharto
bukan hanya oleh gerakan massa mewujutkan reformasi tahun 1998, akan tetapi
usaha itu sudah di lakukan oleh gerakan mahasiswa sebelumnya. Hanya saja
Soeharto baru bisa jatuh pada tahun 1998 yang bersamaan dengan momentum
bergulirnya gerakan massa mewujutkan reformasi. Dalam gerakan massa
mewujutkanreformasi tahun1998 yang dimotori oleh kalangan mahasiswa, mereka
yang memiliki kesadaran tinggi akan perubahan biasanya adlah bagian dari proses
kesadaran panjang oleh generasi sebelumnya.
Dalam hubungannya dalam jatuhnya
Orde Baru melaluli gerakan reformasi yang memuncak pada 20 Mei 1998, seperti
yang diungkapkan oleh Edward Aspinal dkk (2000; 118-119), bahwa selama beberapa
bulan perasaan penuh ketakutan menyelimuti publik Indonesia. Secara luas di
percayai bahwa rintangan yang menyebabkan terjadinya ketegangan ekonomi dan
politik hanya akan terpecahkan lewat sebuah kekerasan yang luar biasa dahsyat.
Bahkan untuk sebagian orang hal itu sudah menjadi suatu yang pasti sehingga
tinggal dilihat apakah kekerasan itu akan mengambil bentuk dalam pembrontakan
militer atau dalam bentuk transisi yang kacau balau dan berdarah menuju tatanan
politik yang baru.
Setelah Soeharto digantikan oleh
presiden Habibbie dan secara berturut-turut kemudian digantikan oleh presiden
Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati, maka di sini kita telah melihat
cita-cita masyarakat Indonesia yang mengkristal dalam 6 agenda reformasi belum
berwujud secara tuntas. Kesejahteraan, Kemakmuran, dan keadilan belum bisa di
nikmati oleh masyarakat Indonesia secara merata.
BAB III.
PRAKONDISI
SEBELUM TERJADI PERISTIWA PISOWANAN AGENG
Beberapa peristiwa yang terjadi
secara prosesual akan saya lihat satu persatu, karena studi saya ini
memfokuskan pada “peristiwa” yaitu periatiwa gerakan massa pisowanan ageng pada 20 Mei di Kraton Yogyakarta. Pada bab I di
muka, seperti yang dikemukakan oleh para ahli (Leanch; 1970, vav Velsen; 1971,
dan Claessen; 1987), apabila studi sosial budaya ingin mengkaji fenomena
politik dengan stressing pada pristiwa politik, maka peneliti harus melihat
beberapa peristiwa politik sebagai suatu proses. Tentang prakondis bagi
peristiwa gerakan massa pisowanan
ageng itu, IF-2 mengatakan;
1.
Munculnya
Isu People Power
Diskusi tanggal 5 Februari 1998 yang diadakan
oleh PPSK (Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan) Sebuah LSM yang dipimpin
oleh Dr. Amien Rais dan Dr. Chairil Anwar-menjadi sumber Isu akan adanya
rencana People Power untuk
menggulingkan pemerintah Orde Baru.
Bagi
IF-1, gerakan massa mewujudkan reformasi tidak berawal dari diskusi di Hotel
Radison yang mewujudkan isu people power,
akan tetapi akan diawali sejak tahun 1994 ketika Amien Rais memunculkan
wacana suksesi kepemimpinan nasional. Wacana itu makin meluas pada tahun 1996
dan 1997, dimana wacana suksesi itu kemudian bergeser menjadi wacana reformasi.
Ketika isu tersebut berkembang di kampus-kampus perguruan tinggi maka kemudian
diikuti oleh aksi-aksi turun ke jalan oleh mahasiswa. Kemudian pada tahun
1997-1998 masyarakat sudah sangat akrab dengan wacana reformasi dan gerakan
massa mewujutkan reformasi.
Ide
memunculkan people power di indonesia
sempat mengemuka dan menjadi tema serta alternatif pilihan berbagai aktifitas
dari gerakan reformasi di indonesia. Gagasan People Power selain dimunculkan oleh Panigorodalam diskusi di Hotel
Radison, juga dimunculkan oleh KPRP lewat panggung demokrasi yang di laksanakan
beberapa hari di ujung utara bulevard
kampus UGM (suara pembaruan, 25 April 1998). Akan tetapi gegeran pertemuan
Radison itu kemudian meredup dan tidak banyak di perbincangkan. Justru
perhatian Masyarakat bertuju pada SU MPR Bulan Maret1998, sambil menanti dengan
harap-harap cemas terhadap hasil sidang umur MPR itu. Maka Mahasiswa secara
sporaditas dan tidak terkodinasi secara luas menuntut adanya reformasi di
Indonesia.
1.
Aksi
Bakar Patung Soeharto di UGM
Pembakaran
patung itu adalah perlawanan simbolik terhadap penguasa, bukan perlawanan
bersenjata karena mahasiswa tidak memiliki senjata dan titak didukung oleh
militer. Selain itu, secara geografis jogya itu jauh dari jakarta, bisa
dikatakan diluar “ring kekuasaan” . karena ada rasionalitas seperti itu
sehingga di sini (yogyakarta) mahasiswanya berani kreatif untuk secara spontan
membakar patungnya Soeharto. Ibaratnya Soeharto itu adalah dewa, orang takut
untuk membakar miniatur dia. Seolah-olah miniatur dan gambarnya Soeharto itu
memiliki aura untuk jangan sampai dilecehkan. Hal itu sebagai simbol bahwa
Soeharo tidak seperti dalam benak orang bahwa dia iru menakutkan, memiliki
kharisma besar, harus di perlakukan dengan hati-hati dan penuh hormat. Pembakaran
patung itu ibaratnya mau meruntuhkan mitos tentang Soeharto. Peristiwa itu
dampaknya sangat luas di jakarta dan membuat orang terheran-heran setengah
tidak percaya.
C. Insiden 3 April di Bunderan UGM
Bentrokan
3 April di Bunderan UGM itu berarti munculnya kesadaran akan rasa percaya diri di kalangan masyarakat
sipil dan mahasiswa bahwa mereka mampu melakukan perlawanan terhadap Soeharto.
Wacana itu terus meluas, padahal perlawanan langsung itu bisa dikatakan sebagai
idiom baru, yang sebelumnya dilakukan oleh segelintir aktifis. Saat itu gerakan
mahasiswa seperti mendapat angin, kalau dudlu demonstrasi itu bukan gaya hidup
mahasiswa atau buka trend bagi mahasiswa, kemudian tiba-tiba mahasiswa secara
masif seperti terkena demam demonstrasi.
Insiden 3 April 1998 di Bunderan
UGM menunjukan bahwa aspirasi masyarakat yang dimotori oleh mahasiswa masih
membentuk dinding karang keras yang berupa sikap anarki dari aparat keamanan.
Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa semakin sering terjadi bentrokan keras
antara demonstrasi gerakan massa mewujudkan reformasi melawan aparat keamanan
akan menjadi kebih bagus, karena bisa menjadi preseden buruk bagi pemerintah
yang terpresentadikan oleh aparat keamanan.
2.
Gejayan
Kelabu, Korban Jiwa Jatuh
Di daersh Gejayan terdapat 3
perguruan tinggiyang saling berdekatan yaitu Universitas Atmajaya, Universitas
Dharma, dan IKIP Negri Yogyakarta. Pada salah satu babak kekerasan yang secara
keseluruhan berlangsung dua hari peristiwa di daerah Gejayan ini menelan korban
jiwa yaitu Mozez Gatotkaca. Inilah korban jiwa yang mewarnai peristiwa
kebrutalan gerakan massa mewujutkan reformasi ketika harus berhadapan dengan
kebrutalan aparat keamanan di yogyakarta. Pada saat terjadi bentrokan antara
aparat keamanan melawan peserta demonstrasi oleh mahasiswa di kampus-kampus
daerah Gejayan itu, kemudian Mahasiswa yang didukung oleh masyarakat merusak
benda-benda yang ada di sekitar jalan Gejayan. Jalan Gejayan yang membujur arah
utara selatan itu kemudian di blokir dengan pecahan pot bunga, batu-batu, dan
besi.
3.
Terbunuhnya
Mahasiswa Universitas Trisakti
Terbunuhnya mahasiswa Universitas
Trisakti Jakarta pada 12 Mei 1998 seakan akan menjadi pasokan amunisi bagi
gerakan massa untuk mewujudkan reformasi, sehingga setelah tragedi tewasnya
mahasiswa Universitas Trisakti segera menggobarkan gerakan massa di penjuru
Indonesia. Informasi tentang tewasnya mahasiswa di jakarta itu bisa kita baca
pada harian Bernas Edisi 13 Mei 1998
Korban jiwa 6 Mahasiswa dalam suatu
demonstrasi untuk mewujutkan reformasi ini seperti halnya korban jiwa pada
tahun 1966 ketika seorang mahasiswa UI bernama Arif Rhaman Hakim tewa dalam
suatu demonstrasi menumbangkan regim Soekarno, maka korban jiwa itu kemudian
dijadikan tema utama untuk menyudutkan penguasa yang akan di jatuhkan.
Pembuuhan mahasiswa oleh aparat keamanan menjadi simbol kebengisan penguasa
yang tidak mau mendengarkan aspirasi mahasiswa yang menuntut di wujudkanya
reformasi di indonesia. Hari-hari berikutnya setelah tewasnya 6 mahasiswa Universitas
Trisakti itu kemudian kota Jakarta di awali oleh amuk massa. Korbanjiwa
tersebut juga menjadi santapan pro perubahan yang berarti pro reformasi dengan
mengekspose secara luas.
4.
Amok
Massa di Jakartadsn di Surakarta
Jakarta sebagai Ibukota Negaradan tempat
tewasnya6 Mahasiswa saat melangsungkan demonstrasi, kemudian berubahmenjadi
kota yang mencengkam. Sebagaimana berita pada harian kedaulatan Rakyat edisi
kamis 14 Mei 1998;
Amok massa dalam hal ini adalah
perilaku massa yang secara membabi buta merusak, membakar, menjarah, dan
membunuh yang dilakukan secara kolektif oleh sejumlah massa. Massa melakukan
amok karena didalam dirinya terdapat tekanan-tekanan jiwa baik yang berasal dari luar (other) maupun dari dalam
(self) yang kemudian melakukan pelepasan tekanan jiwa tadi secara membabi buta
merusak, menjarah, dan membunuh.
BAB IV
REMAKING TRADISI UNTUK
MENDOBRAK STAGNASI REFORMASI
Gerakan massa mewujudkan reformasi
pada tahun 1998 seperti yang telah saya paparkan pada bab III, yang sarat
dengan peristiwa kekerasan dan anarki ternyata tidak segera mampu melengsenrkan
presiden Soeharto. Yang terjadi saat itu adalah stagnasi (kemandhegan, kebuntuan) reformasi. Pada bagian ini
apabila tradisi dilihat sebagai perwujutan/ekspresi kebudayaan, maka tradisi
kraton jawa telah di remaking (dibentuk kembali, dibuat lagi, dilahirkan
kembali, direproduksi) sebagai model gerakan massa untuk mendobrak stagmasi
reformasi pada tahun 1998. Tradisi (latin=tradere) yang berarti mewariskan atau
menurunkan, adlah tradisi pisowanan ageng
yang terdapat di kraton Yogyakarta, dimana tradisi pisowanan ageng bisa di-remaking menjadi model gerakan massa
mewujudkan reformasi
Di dalam peristiwa gerakan massa
pada 20 Mei 1998, pisowanan ageng
adalah sebuah istilah yang antara lain bis kita baca dalam surat kabar
Kedaulatan Rakyat edisi 20 Mei 1998 di halaman 1 di bawah judul berita, dalam “Pisowanan Ageng” di pagelaran; Sultan
Paku Alam Baca “Maklumat 20 Mei”
1.
Tradisi
pisowanan Ageng Kraton Yogyakarta
Mengenai tradisi pisowanan ageng di kraton Yogyakarta,
kata pisowanan adalah sinonim dengan
kata pasowanan, sawon, seba dan caos yang terjemahan bahasa indonesianya
adalah “datang menghadap” atau audiensi, yaitu datang menghadap kepada raja
untuk memberikan tanda bukti kesetiaan. Sedangkan ageng berarti agung atau
besar. Menurut Budiawan (April 1998;134) tradisi seba dan pasowanan dianggap
sebagai sesuatu yang penting. Seba adalah hadir di istana pada hari-hari
audiensi tradisional, hari senin dan kamis. Seba bisa untuk menunjukan bahwa
pejabat atau abdi dalem kerajaan
bersedia untuk setiap saat melayani raja.
2.
Di
Antara Tradisi dan Stagnasi Reformasi
Pisowanan ageng memiliki dua
pengertian, bahwa pisowanan ageng adalah ritual di Kraton Yogyakarta yang
selalu dilaksanakan setiap delapan tahun (satu windu). Yaitu pada tiap tahun
kedua Dal. Kedua , bahwa pisowanan ageng yang terjadi pada 20 Mei 1998 adalah remaking tradisi sebagai
model gerakan massa untuk mendobrak stagnasi reformasi.
3.
Rapat
Akbar di Halaman Graha Sabha Pramana
Gerakan
massa terjadi du UGM pada hari tanggal 20 Mei 1998, dimana mahasiswa beraliansi
dengan dosen, guru besar UGM, karyawan dan rector guna memprotes penguasa
Indonesia yaitu Presiden Soeharto agar segera turun dari kursi Presiden.
4.
Pasca
Gerakan Masa Pisowanan Ageng
Gerakan
massa mewujudkan reformasi khususnya gerakan massa pisowanan ageng di
Yogyakaerta pada 20 Mei 1998 bisa juga dilihat sebagai salah satu bentuk
pemberontakan terhadap penguasa Republik Indonesia, yaitu pemberontakan secara
damai.
BAB V
RENUNGAN AKHIR
Buku
ini menfokuskan pada kajian pada massa gerakan massa mewujudkan reformasi pada
20 Mei 1998 yang terjadi di Yogyakarta. Di Pagelaran Kraton Yogyakarta pada jam
13.00 WIB di hadapan sekitar sejuta massa, dengan berdiri di panging, Sri Sultan
Hmengkubuwana X menyampaikan pidato untuk menyindir dan menghujat penguasa di
Jakarta dan membacakan “maklumat” berisi 4 point. Point-point itu berisi ajakan
kepada rakyat Yogyakarta khususnya pada rakyat-rakyat Indonesia pada umumnya,
serta kepada ABRI untuk berdos sesuai agamanya masing-masing demi keselamatan
negara Indonesia, serta ajakan untuk mendukung gerakan reformasi dan mencegah
tindakan anarki.
ANALISIS PERBANDINGAN
Kelebihan :
Ø Buku
ini sangat banyak terdapat uraian yang sangat lengkap sehingga bisa di jadikan
referensi
Ø Bahasanya
ada yang mudah di pahami
Ø Penggunaan
kata-katanya lebih menjelas
Ø Buku
ini dibahas secara mendetail dan efektif
Ø Dapat
dijadikan sebagai buku referensi pengetahuan
Ø Di
bahas mulai dari pemahaman hingga isi yang
rinci
Kelemahan :
Ø Ada
beberapa kata yang belum dapat di tafsirkan
Ø Terlalu
banyak menggunakan kata yang menjadikannya kalimat yang tumpang tindih kata
Ø Buku
ini kurang menarik bentuk penulisannya sehingga untuk orang yang belum terbiasa
menjadi kurang paham
Ø Buku
ini juga kurang tajam dalam penulisannya , sehingga pembaca awam masi kurang
paham akan maksud dari buku tersebut.
Ø Buku
ini sangat membuat pembaca bingung karena dalam buku ini terdapat penyusunan
kata yang kurang dapat dipahami pembaca.
Ø Kelemahan
dalam buku ini kurangnya memberikan pemahaman bagi pembaca khususnya para
pemula sehingga pesan yang diutarakan oleh pengarang tidak tersampaikan pada
pembaca
Simpulan
Buku ini layak di baca karena dalam buku
ini menceritakan adanya peristiwa-peristiwa pada saat reformasi 1998. Buku ini
memberikan inspirasi kepada para pembaca agar tidak terjerumus dalam hal yang
sama. Dalam buku ini memberikan suatu himbauan kepada pembacanya untuk lebih
tegas terhadap kejadihan agar tidak menimbulkan kerusuhan –kerusuhan yang ada
di Indonesia agar Indonesia menjadi lebih baik.Dalam buku ini juga dibahas akan
hal yang positif dan negative jadi buku ini mampu dan layak untuk menjadi buku
yang dibaca sebagai referensi pengetahuan sejarah.


No comments:
Post a Comment