About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Saturday, 2 May 2015

Misteri Supersemar, Dimanakah Supersemar Berada?

Identitas Mahasiswa
Nama
: ILONA MARVELIANI IKA PUTRI
NIM
: 3101412067
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B

A.      Identitas Buku.

Judul buku           : Misteri Supersemar, Dimanakah Supersemar Berada?
Nama penulis       : A. Yusrianto Elga
Penerbit                : Palapa
Cetakan                : Pertama, 2013
Tebal buku           : 150 halaman
Harga                   : Rp 28.000,00
ISBN                    : 978 – 602 – 255 – 045 – 7 
UKURAN           : 200 X 140 mm

B.       Sinopsis Buku.

Tonggak Orde Baru dimulai ketika Surat Perintah  Sebelas Maret (Supersemar) ditandatangani oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor. Supersemar berisi perintah yang menginstruksikan  Soeharto selaku Pangkopkamtib “mengambil  segala tindakan yang dianggap perlu”, karena memang situasi keamanan bertambah kacau saat itu. Dalam perjalananya, “ Surat sakti” tersebut dijadikan legitimasi oleh Soeharto, sehingga memicu kontroversi tentang batas-batas kewenangannya. Seperti, Soeharto tidak melapor kepada presiden terkait situasi-situasi yang terjadi, membubarkan PKI, serta menangkap sejumlah menteri. Apakah tindakan tersebut “melanggar” Supersemar?  Benarkah Supersemar itu hanya “Surat instruksi biasa”, bukan surat peenyerahan kekuasaan” oleh Soekarno kepada Soeharto? Benarkah denga Supersemar tersebut, Soeharto telah melakukan “kudeta merangkak” untuk merebut kekuasaan dari tangan Soekarno?
Sejak rezim Orde Baru tumbang tahun 1998, kontroversi Supersemar terus membludak. Dan yang paing menyita perhatian adalah soal keberadaan Supersemar itu sendiri. Supersemar yang asli, konon, masih tersimpan rapi. Dimanakah itu? Mengapa disembunyikan? Dan untuk kepentingan politis apa hal itu dilakukan? Buku ini berusaha menguak” wajah misterius” Supersemar, dengan meruntut catatan-catatan kelam sejarahnya. Pertanyaan dasarnya adalah “Apakah Supersemar telah disalahgunakan dan di manakah ia berada kini?
Dimanakah supersemar yang asli berada? Benarkah Presiden Soekarno pada kala itu benar – benar menyerahkan kekuasaan kepada Mayor Jendral Soeharto? Benarkah supersemar dijadikan alat oleh Soeharto untuk memperoleh kedudukan tertinggi di negara ini? Dan Siapa sajakah aktor yang berperan dalam menggulingkan Orde Lama? Pertanyaan – pertanyaan tersebut masih  belum bisa dijawab sampai sekarang karena keberadaan dan keabsahan supersemar masih menjadi misteri. Surat Perintah Sebelas Maret atau populer dengan sebutan Supersemar masih menjadi kontroversi. Saat Indonesia mulai memasuki era revormasi dan kebebasan berpendapat tidak lagi dikekang, maka sejarah yang selama 32 tahun seolah dibengkokkan oleh rezim Orde Baru dapat dikaji ulang dan diluruskan kembali.

ISI BUKU
Kehadiran buku bergenre sejarah - politik ini seakan menyegarkan kembali ingatan kita akan peristiwa naiknya Soeharto sebagai presiden yang kemudian memimpin Indonesia dalam jangka waktu yang cukup lama. Dalam buku ini, digambarkan banyak pihak yang menilai bahwa Supersemar lebih mirip dengan instruksi atau mandat Presiden  dengan tujuan untuk mengamankan keadaan negara yang saat itu kacau, bukan surat penyerahan kekuasaan. Oleh sebab itu, setelah selesai melaksakan tugas tersebut seharusnya Soeharto mengembalikan wewenang kepada Presiden semula. Prosesi menjabatnya Soeharto sebagai presiden dinilai janggal, dimulai dari citra kepahlawanan Soeharto memimpin militer dalam meredam upaya kudeta pada 1 Oktober 1965 sampai pada penyerahan Supersemar yang digunakan sebagai legitimasi oleh Soeharto untuk menumpas PKI dan memasuki babak kepemimpinan otoriter. Kecurigaan Soekarno akan siasat Soeharto ini sudah bermula pada  kejadian Gestapu yang membuat Jendral Ahmad Yani, kepercayaan Soekarno menjadi korban. Aneh jika Soeharto tidak mengetahui insiden pada 30 September tersebut, karena kejadian G30S/PKI tidak mungkin dapat dipecahkan dalam waktu semalam, sehingga upaya kudeta pada tanggal 1 Oktober bisa diketahui dan diredam oleh Soeharto. Pemahaman Soekarno akan peristiwa yang tengah terjadi dimana posisinya semakin tertekan dituliskan dalam sebuah surat untuk istrinya (hal 23).
          Buku ini memaparkan pemikiran yang propokatif dan dapat diterima nalar. Analisis masalah dilakukan berdasarkan fakta dan kesaksian yang berbeda dan tidak terpaku hanya pada satu sumber. Seperti kesaksian Wilardjito (1998), pengawal Soekarno yang mengatakan bahwa awalnya Soekarno didatangi oleh empat Jenderal di Istana Bogor bukan hanya tiga Jenderal, seperti apa yang dikatakan dalam sejarah selama ini. Bahkan M. Jusuf serta Panggabean mencabut pistol agar Soekarno mau menandatangi diktum militer tersebut, bukan diktum kepresidenan. Inilah yang menjadi perdebatan, apakah Surat Perintah tersebut murni atas inisiatif Soekarno sendiri tanpa tekanan seperti yang digambarkan oleh sejarah Orde Baru, atau surat tersebut memang sudah disusun terlebih dahulu oleh kubu Soeharto lalu memaksa Soekarno untuk menandatanganinya? Setelah penandatangan Supersemar itu Wilardjito pun ditangkap oleh satu pleton pasukan tentara dan dipenjara di Jakarta. Hal inilah yang menambah keganjilan prosesi penandatanganan Surat Perintah tersebut. Pertanyaannya, apakah Supersemar yang dijadikan legitimasi selama ini oleh Soeharto merupakan Surat Perintah yang asli?

          Pada Sidang Kabinet 11Maret terjadi demo besar - besaran. Massa mendesak untuk masuk ke halaman istana. Hal inilah yang membuat berbagai pihak berpikir bahwa Soeharto adalah tokoh di balik layar yang berhasil menyatukan kekuatan mahasiswa dan pasukan tentara untuk melakukan demontrasi, sebab pada saat itu Soeharto tidak menghadiri sidang dengan alasan sakit, padahal menurut kesaksian Dr. Soebandrio, intelijennya melihat Soeharto memimpin rapat di Makostrad pada sore hari. Dalam buku Misteri Supersemar ini, hal tersebut dianalisis oleh para sejarahwan sebagai salah satu trik Soeharto untuk semakin menekan posisi Presiden Soekarno saat itu, ditambah dengan isu komunisme dan pembrontakan – pembrontakan yang tengah terjadi.

          Setelah penandatangan Supersemar, langkah awal yang diambil oleh Soeharto adalah pembubaran PKI, partai yang sangat dia benci. Sejak awal Soeharto sering mengungkapkan ide dan pemikirannya mengenai pembubaran PKI, namun Soekarno tidak setuju, seperti yang kita ketahui bahwa Soekarno terkenal dengan ideologi NASAKOM – nya.  Terbukti dengan diutusnya Leimana untuk menemui Soeharto dan meminta penjelasan mengenai keputusannya terhadap pembubaran PKI. Namun, seolah – olah setelah penandatanganan Supersemar itu, Soeharto menganggap kekuasaan ada ditangannya sepenuhnya, bahkan ia mengatakan kepada Leimana bahwa sekarang dialah (Soeharto) yang berkuasa (hal 96).
Dalam Buku ini, kita bisa menemukian naskah Supersemar yang sejak lama menjadi kontroversi  (hal 31 -32) yang berisi demikian:

   Kepada  : Letnan Djenderal Soeharto, Menteri Panglima Angkatan Darat
   Untuk     : Atas nama Presiden/ Panglima Teringgi/ Pemimpin Besar Revolusi:

1.         Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan, serta kestabilan djalannja pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/ Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/ Mendataris M.P.R.S demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanaan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi.
2.         Mengadakan kordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima – Panglima angkatan – angkatan lain denngan sebaik – baiknja.

3.         Supaja melaporkan segala sesuatu jang bersangkut – paut dalam tugas dan tanggung – djawabnja seperti tersebut di atas.

4.         Selesai.

Djakarta, 11 Maret 1966
PRESIDEN/PANGLIMA BESAR ROVOLUSI/ MENDATARIS M.P.R.S
SOEKARNO

Dengan surat kontroversial tersebut Soeharto melakukan tindakan – tindakan di luar kewenangannya tanpa melaporkan kepada Soekarno, seperti pembubaran PKI, penangkapan sejumlah menteri, dan tidak mematuhi Surat Perintah 13 Maret yang berisi koreksi terhadap tindakan – tindakan yang diambil Soeharto dengan mengatasnamakan Supersemar.  Buku ini secara gamblang memaparkan kegeniusan Soeharto dalam menyusun skenario untuk merebut tahta tertinggi yang dapat dilihat dari klaim – klaim yang dilakukannya melalui pidato. Seperti pidato pada 5 Mei 1966 yang mana beliau mengatakan bahwa angkatan bersenjata adalah pembela dan pelindung Indonesia. Selain itu, melalui pidatonya ia juga menunjukkan rasa hormatnya kepada Soekarno dan rasa percaya Soekarno kepadanya. Oleh sebab itu, Soeharto berhasil menarik simpati rakyat Indonesia dan kemudian pencitraan heroiknya telah membuat Soeharto menjadi The Living Legend.
Dalam buku ini terdapat strategi – strategi yang digunakan Soeharto untuk memperoleh kekuasaan antara lain, memanfaatkan kebencian rakyat terhadap PKI,  mempermaikan perwira dalam artian yang tidak memihak Soeharto dianggap sebagai musuh, melancarkan provokasi, dan menyingkirkan pesaingnya seperti Jendral A.H. Nasution yang kala itu merupakan kandidat pengganti Soekarno. Soeharto juga pandai membaca situasi, seperti ketidakhadirannya dalam Sidang Kabinet Maret 1966 untuk menghindari demo dan yang mencurigakan adalah posisinya yang saat itu sebagai Pangkostrad luput dari  daftar sasaran  G30S/PKI. Selain itu, Soeharto juga mampu mengalihkan perhatian rakyat atas substansi Supersemar terhadap isu – isu lain.
Buku ini, simple dan tidak membutuhkan waktu banyak untuk memahami tiap kalimatnya. Saat membaca buku ini kita seolah sedang menyaksikan kejadian saat itu ditambah dengan kronologi dan percakapan yang juga dicantumkan sebagai data. Seperti kata – kata presiden Soekarno saat menandatangani Supersemar, “Ya sudah kalau memang saya harus menyerahkan kepada Harto. Tapi, kalau situasinya sudah baik, mandat ini kembali pada saya” ( hal 55).
Dari kesaksian para saksi sejarah yang dicantumkan dalam buku ini membuat kita berpikir seobjektif mungkin dan memilah mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga dapat menilai bahwa banyak pihak yang ingin membengkokkan sejarah terlihat dari oknum - oknum yang bersaksi dan meyakinkan orang lain bahwa kesaksiannya lah yang paling benar. Ini yang menyebabkan kontroversi dikalangan para saksi sejarah, bukan hanya keabsahannya saja, tetapi juga prosesi penandatangan, pengetikan, oknum yang terlibat, sampai pada isinya. Kesangsian terhadap Supersemar juga dirasakan oleh Hanafi, duta besar RI di Kuba pada saat itu segera menemui presiden secara langsung untuk memastikan kebenaran penandatanganan Supersemar.  Menganai keberadaan teks asli Supersemar ada yang mengatakan bahwa teks tersebut masih dipegang oleh Soharto, ada juga yang mengatakan teks tersebut ada di salah satu Jenderal yang diutus untuk menemui Soekarno, bahkan ada yang mengatakan teks tersebut ada di keponakan Soeharto. Sementara naskah Supersemar yang ada di Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI) menyimpan tiga versi yang berbeda. Tapi sayangnya sampai Sang Pemeran Utama meninggal dunia, keberadaan Supersemar pun masih tidak diketahui. Mungkin ini alasan mengapa buku ini berjudul Misteri Supersemar.
Buku ini tidak semata – mata menuduh Soeharto sebagai satu – satunya dalang dari peristiwa Supersemar, tetapi diduga ada pihak asing yang berperan didalamnya. Sebab, Presiden Indonesia kala itu menyebutkan peran CIA, Nekolim, dan pemerintah Amerika Serikat dalam demo besar – besaran yang dilakukan oleh mahasiswa pada tahun 1966. Seperti yang kita ketahui bahwa Soekarno merupakan sosok nasionalis yang selalu menolak intervensi asing yang dianggap sebagai agen kapitalis. Hal ini pula yang diduga memicu kebencian asing, terutama AS terhadap paham politik Soekarno yang berujung pada keinginan untuk menggulingkan Soekarno dari tahtanya. Sebab, Indonesia merupakan negara kaya dengan sumber daya alam yang melimpah dan sikap Soekarno menghalangi keinginan asing untuk menguasai itu semua. Oleh karena itu, banyak bantuan yang diberikan oleh pihak AS kepada Soeharto yang pro kapitalis untuk menggulingkan pemerintahan Orde Lama. Kerja sama Soeharto dan AS dicantumkan dalam buku Foreign Relation of the United State bahwa CIA memesan 5.000 kepala orang – orang PKI dan ternyata jumlah orang yang dibantai lebih dari apa yang dipesan oleh CIA. Dengan melemahnya posisi Soekarno, AS jadi merasa sangat diuntungkan. Buku ini pun mencantumkan isi telegram dari Kedutaan Besar Amerika di Jakarta kepada Departemen Luar Negeri di Washington. Kemudian dicantumkan juga isi Memorandum dari Deputi Asisten Khusus Bidang Kemanan Nasional untuk Presiden Lyndon B. Johnson. Hal – hal tersebut dapat dijadikan sebagai bukti dan penguatan argumentasi bahwa AS memiliki peran penting terhadap situasi politik Indonesia saat itu.
Dalam kondisi politik, sosial,  dan ekonomi Indonesia yang kacau, AS terlihat mengambil kesempatan dengan memberikan bantuan seperti beras untuk Indonesia. Namun sayangnya,  bantuan tersebut bukan semata – semata gerakan nurani AS untuk membantu rakyat yang kelaparan, melainkan digunakan sebagai cara untuk membuat negara ini bergantung pada AS dan AS dapat mendikte pemerintahan Indonesia. Oleh karena itu, berakhirnya pemerintahan Nasakom yang dibawa oleh Soekarno merupakan hal yang melegakan bagi negara – negara kapitalis. Selain pendirian Soekarno yang mandiri dalam ekonomi, posisi PKI saat itu di Indonesia pun cukup kuat. Jika PKI mampu menguasai Indonesia maka asing tidak dapat mengeruk keuntungan dari kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Bisa dibilang, strategi yang dilakukan asing terhadap Indonesia merupakan bentuk pertarungan ideologi.
Ditandatanganinya Supersemar merupakan penanda beralihnya pemerintahan Orde Lama ke  Orde Baru. Namun  yang harus disadari, dampak Supersemar lebih dari sekedar peralihan kekuasaan, karena dampaknya terjadi pada perubahan ekonomi, politik, dan selama 32 tahun kebebasan rakyat dikekang, siapapun yang membangkang akan dibuang. Sejarah berjalan sesuai kemauan rezim. Dalam buku – buku pelajaran terdapat banyak pembelokan sejarah. Semua berisi pencitraan dan penghormatan terhadap rezim Orde Baru yang mengklaim dirinya sebagai penyelamat bangsa dari bahaya komunis yang dianggap dapat mengancam masa depan bangsa Indonesia. Penandatangan Supersemar dalam buku sejarah digambarkan berjalan baik – baik saja, tanpa ada penodongan pistol, pemalsuan, dan tanpa ketegangan apapun. Setelah itu media pemberitaan digunakan untuk memberitakan sisi positif Orde Baru. Pers sepenuhnya berada ditangan pemerintah. Tidak ada yang boleh mengkritik pemerintahan saat itu, termasuk pers – pers kampus  yang juga dianggap berbahaya bagi posisi Soeharto.  Oleh sebab itu, sejarah – sejarah yang telah dibelokkan termasuk Supersemar hanya menjadi pertanyaan dibenak masyarakat dan tidak ada yang berani mengangkatnya ke ranah publik selama 32 tahun. Selama 32 tahun pula kekuasaan sepenuhnya ada ditangan Sang Pemimpin rezim. Jalannya roda pemerintahan kerap tidak sesuai dengan Pancasila, seperti  diberlakukannya Surat Keputusan Beragama sebagai bentuk kontrol terhadap eksistensi agama. Akibatnya yang terjadi adalah terjadinya klaim – klaim terhadap kebenaran dan terjadinya perpindahan agama secara politis (hal 134).

Meskipun buku ini terbilang tipis, karena hanya memiliki 150 halaman, tetapi buku ini dipenuhi  data dan fakta yang disusun mengalir sehingga menarik untuk terus dibaca. Seperti di  halaman 70 yang mencamtumkan wawancara DeTAK bulan februari 1999 terhadap Ebram yang ditangkap dan dipenjara selama 12 tahun oleh rezim Orde Baru. A. Yusrianto Elga, penulis buku ini tampaknya memiliki kemampuan untuk menarik emosi pembaca dengan kalimat – kalimat yang propokatif. Namun sayangnya, penulis buku ini kurang melakukan eksplorasi dalam mengembangkan pemikiran – pemikiran baru yang orisinil, padahal penulis tampaknya memiliki kemampuan dalam hal  tersebut.

Memang telah banyak buku – buku yang membahas kontroversi seputar Supersemar setelah runtuhnya rezim Soeharto. Orang – orang mulai berani mengutarakan analisis dan pemikirannya yang selama ini dikekang oleh otoritarianisme. Namun ironis, sampai saat ini pertanyaan seputar Supersemar itu masih juga belum bisa terjawab. Entah kesaksian siapa yang benar dan salah, bahkan hingga Soeharto tiada pun kebenaran masih belum bisa diungkap. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa Supersemar hanyalah masa lalu yang sudah tidak bisa diubah. Tetapi, kita perlu mengetahui sejarah yang sesungguhnya, sebab Supersemar merupakan bagian dari puzzle sejarah yang  tidak akan pernah lengkap tanpa ditemukannya kebenaran. Prosesi penandatanganan Supersemar hingga berkuasanya rezim Orde Baru menjadi bagian penting dari pembelajaran dimasa depan, kalau – kalau kejadian seperti ini terulang  lagi. Oleh sebab itu, buku yang mengkaji misteri Supersemar ini menjadi penting untuk dibaca.

KELEBIHAN
Buku ini, simple dan tidak membutuhkan waktu banyak untuk memahami tiap kalimatnya. Saat membaca buku ini kita seolah sedang menyaksikan kejadian saat itu ditambah dengan kronologi dan percakapan yang juga dicantumkan sebagai data. Seperti kata – kata presiden Soekarno saat menandatangani Supersemar, “Ya sudah kalau memang saya harus menyerahkan kepada Harto. Tapi, kalau situasinya sudah baik, mandat ini kembali pada saya” ( hal 55).
Meskipun buku ini membahas masalah yang berat, namun pilihan kata dan penyampaian informasi yang lugas dan to the point membuat buku ini menarik untuk dibaca. Seperti masalah mengenai sejarah yang disetting sesuai dengan keinginan  Orde Baru. Oleh karena itu, sekarang sudah saatnya kita secara kritis menilai suatu peristiwa sejarah, salah satunya adalah Supersemar yang telah berhasil menggulingkan Soekarno sebagai Pimpinan Besar Revolusi sejarah kemerdekaan Indonesia. Secara garis besar buku ini membahas isu anti Sukarnois, kronologi penandatangan Supersemar serta keberadaannya yang menjadi kontroversi bagi para saksi sejarah. Kemudian seperti yang telah disinggung sebelumnya,  kegeniusan Soeharto untuk memperoleh tampuk kekuasaan dan peranan Amerika dalam menjatuhkan Orde Lama melalui CIA juga dijelaskan dalam buku ini. Meskipun dikatakan oleh penulis bahwa ia tidak  mengklaim buku ini sebagai satu – satunya informasi yang dapat diandalkan, tetapi  buku ini sangat cocok untuk mendorong kita berfikir lebih analistis dan cukup untuk memuaskan rasa penasaran terhadap misteri seputar Supersemar

KEKURANGAN
Meskipun buku ini terbilang tipis, karena hanya memiliki 150 halaman, tetapi buku ini dipenuhi  data dan fakta yang disusun mengalir sehingga menarik untuk terus dibaca. Seperti di  halaman 70 yang mencamtumkan wawancara DeTAK bulan februari 1999 terhadap Ebram yang ditangkap dan dipenjara selama 12 tahun oleh rezim Orde Baru. A. Yusrianto Elga, penulis buku ini tampaknya memiliki kemampuan untuk menarik emosi pembaca dengan kalimat – kalimat yang propokatif. Namun sayangnya, penulis buku ini kurang melakukan eksplorasi dalam mengembangkan pemikiran – pemikiran baru yang orisinil, padahal penulis tampaknya memiliki kemampuan dalam hal  tersebut.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...