![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: ILONA MARVELIANI IKA PUTRI
|
|
|
NIM
|
: 3101412067
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas
Buku.
Judul
buku :
Misteri Supersemar, Dimanakah Supersemar
Berada?
Nama
penulis :
A. Yusrianto Elga
Penerbit :
Palapa
Cetakan :
Pertama, 2013
Tebal
buku :
150 halaman
Harga :
Rp 28.000,00
ISBN :
978 – 602 – 255 – 045 – 7
UKURAN :
200 X 140 mm
B. Sinopsis
Buku.
Tonggak Orde Baru dimulai ketika
Surat Perintah Sebelas Maret
(Supersemar) ditandatangani oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor. Supersemar
berisi perintah yang menginstruksikan
Soeharto selaku Pangkopkamtib “mengambil
segala tindakan yang dianggap perlu”, karena memang situasi keamanan
bertambah kacau saat itu. Dalam perjalananya, “ Surat sakti” tersebut dijadikan
legitimasi oleh Soeharto, sehingga memicu kontroversi tentang batas-batas
kewenangannya. Seperti, Soeharto tidak melapor kepada presiden terkait
situasi-situasi yang terjadi, membubarkan PKI, serta menangkap sejumlah
menteri. Apakah tindakan tersebut “melanggar” Supersemar? Benarkah Supersemar itu hanya “Surat
instruksi biasa”, bukan surat peenyerahan kekuasaan” oleh Soekarno kepada
Soeharto? Benarkah denga Supersemar tersebut, Soeharto telah melakukan “kudeta
merangkak” untuk merebut kekuasaan dari tangan Soekarno?
Sejak rezim Orde Baru tumbang tahun
1998, kontroversi Supersemar terus membludak. Dan yang paing menyita perhatian
adalah soal keberadaan Supersemar itu sendiri. Supersemar yang asli, konon,
masih tersimpan rapi. Dimanakah itu? Mengapa disembunyikan? Dan untuk
kepentingan politis apa hal itu dilakukan? Buku ini berusaha menguak” wajah
misterius” Supersemar, dengan meruntut catatan-catatan kelam sejarahnya.
Pertanyaan dasarnya adalah “Apakah Supersemar telah disalahgunakan dan di manakah
ia berada kini?
Dimanakah supersemar yang asli
berada? Benarkah Presiden Soekarno pada kala itu benar – benar menyerahkan
kekuasaan kepada Mayor Jendral Soeharto? Benarkah supersemar dijadikan alat
oleh Soeharto untuk memperoleh kedudukan tertinggi di negara ini? Dan Siapa
sajakah aktor yang berperan dalam menggulingkan Orde Lama? Pertanyaan –
pertanyaan tersebut masih belum bisa dijawab sampai sekarang karena
keberadaan dan keabsahan supersemar masih menjadi misteri. Surat Perintah
Sebelas Maret atau populer dengan sebutan Supersemar masih menjadi kontroversi.
Saat Indonesia mulai memasuki era revormasi dan kebebasan berpendapat tidak
lagi dikekang, maka sejarah yang selama 32 tahun seolah dibengkokkan oleh rezim
Orde Baru dapat dikaji ulang dan diluruskan kembali.
ISI BUKU
Kehadiran buku bergenre sejarah -
politik ini seakan menyegarkan kembali ingatan kita akan peristiwa naiknya
Soeharto sebagai presiden yang kemudian memimpin Indonesia dalam jangka waktu
yang cukup lama. Dalam buku ini, digambarkan banyak pihak yang menilai bahwa
Supersemar lebih mirip dengan instruksi atau mandat Presiden dengan
tujuan untuk mengamankan keadaan negara yang saat itu kacau, bukan surat
penyerahan kekuasaan. Oleh sebab itu, setelah selesai melaksakan tugas tersebut
seharusnya Soeharto mengembalikan wewenang kepada Presiden semula. Prosesi
menjabatnya Soeharto sebagai presiden dinilai janggal, dimulai dari citra
kepahlawanan Soeharto memimpin militer dalam meredam upaya kudeta pada 1
Oktober 1965 sampai pada penyerahan Supersemar yang digunakan sebagai
legitimasi oleh Soeharto untuk menumpas PKI dan memasuki babak kepemimpinan
otoriter. Kecurigaan Soekarno akan siasat Soeharto ini sudah bermula pada
kejadian Gestapu yang membuat Jendral Ahmad Yani, kepercayaan Soekarno menjadi
korban. Aneh jika Soeharto tidak mengetahui insiden pada 30 September tersebut,
karena kejadian G30S/PKI tidak mungkin dapat dipecahkan dalam waktu semalam,
sehingga upaya kudeta pada tanggal 1 Oktober bisa diketahui dan diredam oleh
Soeharto. Pemahaman Soekarno akan peristiwa yang tengah terjadi dimana
posisinya semakin tertekan dituliskan dalam sebuah surat untuk istrinya (hal
23).
Buku ini memaparkan pemikiran yang propokatif dan
dapat diterima nalar. Analisis masalah dilakukan berdasarkan fakta dan
kesaksian yang berbeda dan tidak terpaku hanya pada satu sumber. Seperti
kesaksian Wilardjito (1998), pengawal Soekarno yang mengatakan bahwa awalnya
Soekarno didatangi oleh empat Jenderal di Istana Bogor bukan hanya tiga
Jenderal, seperti apa yang dikatakan dalam sejarah selama ini. Bahkan M. Jusuf
serta Panggabean mencabut pistol agar Soekarno mau menandatangi diktum militer
tersebut, bukan diktum kepresidenan. Inilah yang menjadi perdebatan, apakah
Surat Perintah tersebut murni atas inisiatif Soekarno sendiri tanpa tekanan
seperti yang digambarkan oleh sejarah Orde Baru, atau surat tersebut memang
sudah disusun terlebih dahulu oleh kubu Soeharto lalu memaksa Soekarno untuk
menandatanganinya? Setelah penandatangan Supersemar itu Wilardjito pun
ditangkap oleh satu pleton pasukan tentara dan dipenjara di Jakarta. Hal inilah
yang menambah keganjilan prosesi penandatanganan Surat Perintah tersebut.
Pertanyaannya, apakah Supersemar yang dijadikan legitimasi selama ini oleh
Soeharto merupakan Surat Perintah yang asli?
Pada Sidang Kabinet 11Maret terjadi demo besar -
besaran. Massa mendesak untuk masuk ke halaman istana. Hal inilah yang membuat
berbagai pihak berpikir bahwa Soeharto adalah tokoh di balik layar yang
berhasil menyatukan kekuatan mahasiswa dan pasukan tentara untuk melakukan
demontrasi, sebab pada saat itu Soeharto tidak menghadiri sidang dengan alasan
sakit, padahal menurut kesaksian Dr. Soebandrio, intelijennya melihat Soeharto
memimpin rapat di Makostrad pada sore hari. Dalam buku Misteri Supersemar ini,
hal tersebut dianalisis oleh para sejarahwan sebagai salah satu trik Soeharto
untuk semakin menekan posisi Presiden Soekarno saat itu, ditambah dengan isu
komunisme dan pembrontakan – pembrontakan yang tengah terjadi.
Setelah penandatangan Supersemar, langkah awal yang
diambil oleh Soeharto adalah pembubaran PKI, partai yang sangat dia benci.
Sejak awal Soeharto sering mengungkapkan ide dan pemikirannya mengenai
pembubaran PKI, namun Soekarno tidak setuju, seperti yang kita ketahui bahwa
Soekarno terkenal dengan ideologi NASAKOM – nya. Terbukti dengan
diutusnya Leimana untuk menemui Soeharto dan meminta penjelasan mengenai
keputusannya terhadap pembubaran PKI. Namun, seolah – olah setelah
penandatanganan Supersemar itu, Soeharto menganggap kekuasaan ada ditangannya
sepenuhnya, bahkan ia mengatakan kepada Leimana bahwa sekarang dialah
(Soeharto) yang berkuasa (hal 96).
Dalam Buku ini, kita bisa menemukian
naskah Supersemar yang sejak lama menjadi kontroversi (hal 31 -32) yang
berisi demikian:
Kepada :
Letnan Djenderal Soeharto, Menteri Panglima Angkatan Darat
Untuk : Atas
nama Presiden/ Panglima Teringgi/ Pemimpin Besar Revolusi:
1.
Mengambil segala tindakan
jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan, serta kestabilan
djalannja pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan
pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/ Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar
Revolusi/ Mendataris M.P.R.S demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik
Indonesia, dan melaksanaan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi.
2.
Mengadakan kordinasi
pelaksanaan perintah dengan Panglima – Panglima angkatan – angkatan lain
denngan sebaik – baiknja.
3.
Supaja melaporkan segala
sesuatu jang bersangkut – paut dalam tugas dan tanggung – djawabnja seperti
tersebut di atas.
4.
Selesai.
Djakarta, 11 Maret 1966
PRESIDEN/PANGLIMA BESAR ROVOLUSI/
MENDATARIS M.P.R.S
SOEKARNO
Dengan surat kontroversial tersebut
Soeharto melakukan tindakan – tindakan di luar kewenangannya tanpa melaporkan
kepada Soekarno, seperti pembubaran PKI, penangkapan sejumlah menteri, dan
tidak mematuhi Surat Perintah 13 Maret yang berisi koreksi terhadap tindakan –
tindakan yang diambil Soeharto dengan mengatasnamakan Supersemar. Buku
ini secara gamblang memaparkan kegeniusan Soeharto dalam menyusun skenario
untuk merebut tahta tertinggi yang dapat dilihat dari klaim – klaim yang
dilakukannya melalui pidato. Seperti pidato pada 5 Mei 1966 yang mana beliau
mengatakan bahwa angkatan bersenjata adalah pembela dan pelindung Indonesia.
Selain itu, melalui pidatonya ia juga menunjukkan rasa hormatnya kepada
Soekarno dan rasa percaya Soekarno kepadanya. Oleh sebab itu, Soeharto berhasil
menarik simpati rakyat Indonesia dan kemudian pencitraan heroiknya telah membuat
Soeharto menjadi The Living
Legend.
Dalam buku ini terdapat strategi –
strategi yang digunakan Soeharto untuk memperoleh kekuasaan antara lain,
memanfaatkan kebencian rakyat terhadap PKI, mempermaikan perwira dalam
artian yang tidak memihak Soeharto dianggap sebagai musuh, melancarkan
provokasi, dan menyingkirkan pesaingnya seperti Jendral A.H. Nasution yang kala
itu merupakan kandidat pengganti Soekarno. Soeharto juga pandai membaca
situasi, seperti ketidakhadirannya dalam Sidang Kabinet Maret 1966 untuk
menghindari demo dan yang mencurigakan adalah posisinya yang saat itu sebagai
Pangkostrad luput dari daftar sasaran G30S/PKI. Selain itu,
Soeharto juga mampu mengalihkan perhatian rakyat atas substansi Supersemar
terhadap isu – isu lain.
Buku ini, simple dan tidak membutuhkan
waktu banyak untuk memahami tiap kalimatnya. Saat membaca buku ini kita seolah
sedang menyaksikan kejadian saat itu ditambah dengan kronologi dan percakapan
yang juga dicantumkan sebagai data. Seperti kata – kata presiden Soekarno saat
menandatangani Supersemar, “Ya sudah kalau memang saya harus menyerahkan kepada
Harto. Tapi, kalau situasinya sudah baik, mandat ini kembali pada saya” ( hal
55).
Dari kesaksian para saksi sejarah yang
dicantumkan dalam buku ini membuat kita berpikir seobjektif mungkin dan memilah
mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga dapat menilai bahwa banyak pihak
yang ingin membengkokkan sejarah terlihat dari oknum - oknum yang bersaksi dan
meyakinkan orang lain bahwa kesaksiannya lah yang paling benar. Ini yang
menyebabkan kontroversi dikalangan para saksi sejarah, bukan hanya keabsahannya
saja, tetapi juga prosesi penandatangan, pengetikan, oknum yang terlibat,
sampai pada isinya. Kesangsian terhadap Supersemar juga dirasakan oleh Hanafi,
duta besar RI di Kuba pada saat itu segera menemui presiden secara langsung
untuk memastikan kebenaran penandatanganan Supersemar. Menganai
keberadaan teks asli Supersemar ada yang mengatakan bahwa teks tersebut masih
dipegang oleh Soharto, ada juga yang mengatakan teks tersebut ada di salah satu
Jenderal yang diutus untuk menemui Soekarno, bahkan ada yang mengatakan teks
tersebut ada di keponakan Soeharto. Sementara naskah Supersemar yang ada di
Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI) menyimpan tiga versi yang berbeda. Tapi
sayangnya sampai Sang Pemeran Utama meninggal dunia, keberadaan Supersemar pun
masih tidak diketahui. Mungkin ini alasan mengapa buku ini berjudul Misteri
Supersemar.
Buku ini tidak semata – mata menuduh
Soeharto sebagai satu – satunya dalang dari peristiwa Supersemar, tetapi diduga
ada pihak asing yang berperan didalamnya. Sebab, Presiden Indonesia kala itu
menyebutkan peran CIA, Nekolim, dan pemerintah Amerika Serikat dalam demo besar
– besaran yang dilakukan oleh mahasiswa pada tahun 1966. Seperti yang kita
ketahui bahwa Soekarno merupakan sosok nasionalis yang selalu menolak
intervensi asing yang dianggap sebagai agen kapitalis. Hal ini pula yang diduga
memicu kebencian asing, terutama AS terhadap paham politik Soekarno yang
berujung pada keinginan untuk menggulingkan Soekarno dari tahtanya. Sebab,
Indonesia merupakan negara kaya dengan sumber daya alam yang melimpah dan sikap
Soekarno menghalangi keinginan asing untuk menguasai itu semua. Oleh karena
itu, banyak bantuan yang diberikan oleh pihak AS kepada Soeharto yang pro
kapitalis untuk menggulingkan pemerintahan Orde Lama. Kerja sama Soeharto dan
AS dicantumkan dalam buku Foreign
Relation of the United State bahwa CIA memesan 5.000 kepala orang – orang PKI dan ternyata
jumlah orang yang dibantai lebih dari apa yang dipesan oleh CIA. Dengan melemahnya posisi
Soekarno, AS jadi merasa sangat diuntungkan. Buku ini pun mencantumkan isi
telegram dari Kedutaan Besar Amerika di Jakarta kepada Departemen Luar Negeri
di Washington. Kemudian dicantumkan juga isi Memorandum dari Deputi Asisten
Khusus Bidang Kemanan Nasional untuk Presiden Lyndon B. Johnson. Hal – hal
tersebut dapat dijadikan sebagai bukti dan penguatan argumentasi bahwa AS
memiliki peran penting terhadap situasi politik Indonesia saat itu.
Dalam kondisi politik, sosial, dan
ekonomi Indonesia yang kacau, AS terlihat mengambil kesempatan dengan
memberikan bantuan seperti beras untuk Indonesia. Namun sayangnya,
bantuan tersebut bukan semata – semata gerakan nurani AS untuk membantu rakyat
yang kelaparan, melainkan digunakan sebagai cara untuk membuat negara ini
bergantung pada AS dan AS dapat mendikte pemerintahan Indonesia. Oleh karena
itu, berakhirnya pemerintahan Nasakom yang dibawa oleh Soekarno merupakan hal
yang melegakan bagi negara – negara kapitalis. Selain pendirian Soekarno yang
mandiri dalam ekonomi, posisi PKI saat itu di Indonesia pun cukup kuat. Jika
PKI mampu menguasai Indonesia maka asing tidak dapat mengeruk keuntungan dari
kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Bisa dibilang, strategi yang
dilakukan asing terhadap Indonesia merupakan bentuk pertarungan ideologi.
Ditandatanganinya Supersemar merupakan
penanda beralihnya pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru. Namun yang
harus disadari, dampak Supersemar lebih dari sekedar peralihan kekuasaan,
karena dampaknya terjadi pada perubahan ekonomi, politik, dan selama 32 tahun
kebebasan rakyat dikekang, siapapun yang membangkang akan dibuang. Sejarah
berjalan sesuai kemauan rezim. Dalam buku – buku pelajaran terdapat banyak pembelokan
sejarah. Semua berisi pencitraan dan penghormatan terhadap rezim Orde Baru yang
mengklaim dirinya sebagai penyelamat bangsa dari bahaya komunis yang dianggap
dapat mengancam masa depan bangsa Indonesia. Penandatangan Supersemar dalam
buku sejarah digambarkan berjalan baik – baik saja, tanpa ada penodongan
pistol, pemalsuan, dan tanpa ketegangan apapun. Setelah itu media pemberitaan
digunakan untuk memberitakan sisi positif Orde Baru. Pers sepenuhnya berada
ditangan pemerintah. Tidak ada yang boleh mengkritik pemerintahan saat itu,
termasuk pers – pers kampus yang juga dianggap berbahaya bagi posisi
Soeharto. Oleh sebab itu, sejarah – sejarah yang telah dibelokkan
termasuk Supersemar hanya menjadi pertanyaan dibenak masyarakat dan tidak ada
yang berani mengangkatnya ke ranah publik selama 32 tahun. Selama 32 tahun pula
kekuasaan sepenuhnya ada ditangan Sang Pemimpin rezim. Jalannya roda
pemerintahan kerap tidak sesuai dengan Pancasila, seperti diberlakukannya
Surat Keputusan Beragama sebagai bentuk kontrol terhadap eksistensi agama.
Akibatnya yang terjadi adalah terjadinya klaim – klaim terhadap kebenaran dan
terjadinya perpindahan agama secara politis (hal 134).
Meskipun buku ini terbilang tipis,
karena hanya memiliki 150 halaman, tetapi buku ini dipenuhi data dan
fakta yang disusun mengalir sehingga menarik untuk terus dibaca. Seperti
di halaman 70 yang mencamtumkan wawancara DeTAK bulan februari 1999
terhadap Ebram yang ditangkap dan dipenjara selama 12 tahun oleh rezim Orde
Baru. A. Yusrianto Elga, penulis buku ini tampaknya memiliki kemampuan untuk
menarik emosi pembaca dengan kalimat – kalimat yang propokatif. Namun
sayangnya, penulis buku ini kurang melakukan eksplorasi dalam mengembangkan
pemikiran – pemikiran baru yang orisinil, padahal penulis tampaknya memiliki
kemampuan dalam hal tersebut.
Memang telah banyak buku – buku yang
membahas kontroversi seputar Supersemar setelah runtuhnya rezim Soeharto. Orang
– orang mulai berani mengutarakan analisis dan pemikirannya yang selama ini
dikekang oleh otoritarianisme. Namun ironis, sampai saat ini pertanyaan seputar
Supersemar itu masih juga belum bisa terjawab. Entah kesaksian siapa yang benar
dan salah, bahkan hingga Soeharto tiada pun kebenaran masih belum bisa
diungkap. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa Supersemar hanyalah masa lalu
yang sudah tidak bisa diubah. Tetapi, kita perlu mengetahui sejarah yang
sesungguhnya, sebab Supersemar merupakan bagian dari puzzle sejarah yang
tidak akan pernah lengkap tanpa ditemukannya kebenaran. Prosesi
penandatanganan Supersemar hingga berkuasanya rezim Orde Baru menjadi bagian
penting dari pembelajaran dimasa depan, kalau – kalau kejadian seperti ini
terulang lagi. Oleh sebab itu, buku yang mengkaji misteri Supersemar ini
menjadi penting untuk dibaca.
KELEBIHAN
Buku ini, simple dan tidak membutuhkan
waktu banyak untuk memahami tiap kalimatnya. Saat membaca buku ini kita seolah
sedang menyaksikan kejadian saat itu ditambah dengan kronologi dan percakapan
yang juga dicantumkan sebagai data. Seperti kata – kata presiden Soekarno saat
menandatangani Supersemar, “Ya sudah kalau memang saya harus menyerahkan kepada
Harto. Tapi, kalau situasinya sudah baik, mandat ini kembali pada saya” ( hal
55).
Meskipun buku ini membahas masalah yang
berat, namun pilihan kata dan penyampaian informasi yang lugas dan to the point membuat buku ini
menarik untuk dibaca. Seperti masalah mengenai sejarah yang disetting sesuai
dengan keinginan Orde Baru. Oleh karena itu, sekarang sudah saatnya kita
secara kritis menilai suatu peristiwa sejarah, salah satunya adalah Supersemar
yang telah berhasil menggulingkan Soekarno sebagai Pimpinan Besar Revolusi
sejarah kemerdekaan Indonesia. Secara garis besar buku ini membahas isu anti
Sukarnois, kronologi penandatangan Supersemar serta keberadaannya yang menjadi
kontroversi bagi para saksi sejarah. Kemudian seperti yang telah disinggung
sebelumnya, kegeniusan Soeharto untuk memperoleh tampuk kekuasaan dan
peranan Amerika dalam menjatuhkan Orde Lama melalui CIA juga dijelaskan dalam buku
ini. Meskipun dikatakan oleh penulis bahwa ia tidak mengklaim buku ini
sebagai satu – satunya informasi yang dapat diandalkan, tetapi buku ini
sangat cocok untuk mendorong kita berfikir lebih analistis dan cukup untuk
memuaskan rasa penasaran terhadap misteri seputar Supersemar
KEKURANGAN
Meskipun buku ini terbilang tipis, karena hanya
memiliki 150 halaman, tetapi buku ini dipenuhi data dan fakta yang
disusun mengalir sehingga menarik untuk terus dibaca. Seperti di halaman
70 yang mencamtumkan wawancara DeTAK bulan februari 1999 terhadap Ebram yang
ditangkap dan dipenjara selama 12 tahun oleh rezim Orde Baru. A. Yusrianto
Elga, penulis buku ini tampaknya memiliki kemampuan untuk menarik emosi pembaca
dengan kalimat – kalimat yang propokatif. Namun sayangnya, penulis buku ini
kurang melakukan eksplorasi dalam mengembangkan pemikiran – pemikiran baru yang
orisinil, padahal penulis tampaknya memiliki kemampuan dalam hal
tersebut.


No comments:
Post a Comment