![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: REZA RAFLI FADILAH
|
|
|
NIM
|
: 3101412068
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku.
Judul Buku : G 30 S; Antara Fakta dan Rekayasa
Pengarang : Center for Information Analysis
Penerbit : Media Pressindo
Tempat Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 1999
Jumlah Halaman : x + 142 hlm
Pengarang : Center for Information Analysis
Penerbit : Media Pressindo
Tempat Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 1999
Jumlah Halaman : x + 142 hlm
B.
Sinopsis Buku.
BAB 1
Bunuh Diri Politik
Kontroversi
di Balik G 30 S
1 Oktober 1965, Susana yang
begitu mencekam. Dimana masyarakat mendapatkan informasi yang membingungkan
dari siaran RRI (Radio Republik Indonesia), mengenai apa yang terjadi pada
tanggal 30 september malam menjelang 1 oktober 1965 yang saat itu
dikuasai oleh Letkol untung dkk. Sebuah gerakan yang di tujukan untuk “
menyelamatkan Presiden / Panglima Tertinggi Soekarno, dari rencana
kup Dewan Jendral”. Kebingungan yang dialami masyarakat awampun juga
dirasakan oleh kalangan militer. Para pemimpin militer saling kontak untuk
mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Setelah beberapa tahun peristiwa yang
membingungkan itu berlalu, semuanya menjadi jelas. “ bahwa peristiwa pagi buta
itu, di desain sebagai kup (kudeta) yang gagal. Sebuah bunuh diri politik.
Versi pemerintahan Orde Baru
menyebut gerakan itu sebagai G 30 S/PKI. Yang di dalangi olehPartai
Komunis Indonesia. Dan merupakan kup d’etat terhadap kepemimpinan
pemerintahan yang sah. sebagaimana yang banyak di pahami umum. operasional G 30
S/PKI di pimpin oleh LetkolUntung Murtopo bin Syamsuri, Danyon
(Komandan Batalyon) I Resimen Cakrabirawa, pasukan kehormatan pengawal
presiden. Dimana pelaksana lapangannya adalah : Letnan Satu inf. Dul Arif,
Sersan Mayor Bungkus, Mayor inf. Soekirno, Pembantu Letnan Satu Soekidjan,
Pembantu Letnan Dua Djahurub, Sersan Mayor Surono, Sersan Mayor Satar, Sersan
Dua Soekarjo, Mayor inf. Bambang Soepeno, Kapten inf. Suradi, Mayor Udara
Soejono dan Mayor Udara Gatot Soekresno. Tokoh lain yang jelas
keterlibatannya dalam gerakan ini antara lain : Brigradir Jendral
Soepardjo (Pangkopur II, bawahan Mayor Jendral Soeharto), Kolonel Latif
(Komandan Brigif I Kodam Jaya), dan Syam Kamaruzaman(ketua biro PKI, Konon
Pernah dekat dengan Soeharto).
Banyak
pihak menilai apa yang di lakukan PKI adalah kesalahan besar bagi PKI sendiri.
karena Para elit PKI berharap mereka dapat memenangkan pemilu yang direncanakan
pada tahun 1970. Apa yang terjadi pada tanggal 30 September dan 1 oktober 1965
adalah tindakan yang menempatkan PKI dan juga para simpatisannya, pada
sebuah killing field (ladang pembantaian). Salah satu argumen yang
menyatakan mengapa PKI melakukan gerakan tersebut. diantaranya, karena
kesehatan Presiden waktu itu menurun. Dan banyak pertanyaan siapa pengganti
Soekarno setelah beliau wafat. Saat itu hanya ada 2 kandidat yakni Letjen
A. Yani dan Jenderal A.H. Nasution, yang anti komunis. Hal ini
sungguh tidak di inginkan PKI karena berbagai pengalaman konfrontasi tajam
antara AD (Angkatan Darat) dan PKI.
Namun ada sesuatu yang janggal dari
Gerakan 30 September ini. Di mana Gerakan ini direncanakan dan dilaksanakan
secara “ceroboh”. Diantara buktinya sebagai berikut : Tentang eksekusi para
Jenderal,. Alangkah lebih baiknya jika para pimpinan AD dihadapkan pada
Presiden Soekarno?. Sesuai dengan pengakuan Kolonel Latif bahwa tidak ada
perintah untuk membunuh para Jenderal, mereka hanya dihadapkan pada Presiden
Soekarno. Berarti ada factor X yang menyebabkan gerombolan tersebut mengambil
keputusan membunuh para Jenderal. Mengapa nama Presiden Soekarno tidak
dimasukkan dalam Dewan Revolusi yang di umumkan Letkol Untung di RRI, Bila
memang gerakan tersebut “sungguh – sungguh untuk menyelamatkan presiden
soekarno dari Dewan Jendral”. Sebaliknya jika memang gerakan itu dimaksudkan
kudeta. Seharusnya pihak gerombolan tidak perlu meminta dukungan presiden
soekarno. Seperti yang dilakukan Brigjen Soepardjo. Yang pada pagi
hari itu ke istana untuk memberitahu Presiden mengenai gerakan tersebut.
Titik
Kontroversi
Siapa dalang dari G 30 S sampai
sekarang belum terjawab. Ada yang berpendapat Nekolim,CIA (Central Intelegence
of Agency), ada yang berpendapat Soekarno terlibat, dan Mayjen Soeharto pun
terlibat. Dan ada yan berpendapat tidak ada dalang dari peristiwa tersebut.
Semua pihak melakukan improvisasi atas perkembangan penting yang setiap detik
terjadi.
Tindakan Mayjen Soeharto menghalangi Mayjen
Pranoto Reksosamodro menghadap
Presiden Soekarno untuk di daulat menjadi Men/Pangad –
jabatan yang kosong sepeninggal Letjen Yani, dan tindakannya setelah RRI
berhasil direbut oleh RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) dari
tangan untung dan kawan – kawan, dan ia lalu mengambil alih pimpinan AD tanpa
Persetujuan Soekarno merupakan titik kontroversi.
Penggalian mayat para Jenderal yang
dilaksanakan pada tanggal 4 oktober 1965 di bawah publikasi media masa juga
nerupakan kontroversi. Karena lokasi sudah diketahui pada tanggal 3 oktober
1965. Hal ini dianggap di sengaja untuk memancing emosi kaum “reaksioner”.
Titik kontroversi lain adalah
dugaan adanya konspirasi antara Letkol untung, Kolonel Latif, Syam
Kamaruzaman dan Mayjen Soeharto?.yang kesemua pelaku dalam gerakan tersebut
adalah orang – orang yang dekat dengan Soeharto. Dan Brigjen Soepardjo yang
saat itu secara struktural pun berada di bawah garis komando Mayjen Soeharto.
Dan pertanyaan mengenai mengapa D.N. Aidit dibunuh orang – orang
Soeharto tanpa sempat diadili. Padahal Aidit sangat di butuhkan untuk
menyingkap tabir G 30 S/PKI.
BAB II
Kisah dan kesaksian
Para pelaku gerakan
Siapakah Letkol Untung?
Letkol Untung bin
Syamsuri salah satu tokoh kunci gerakan 30 september. Merupakan salah satu
lulusan terbaik Akademi Militer. Untung menunjukkan keberanian yang luar biasa
pada perebutan irian barat ke pangkuan ibu pertiwi. Dalam operasi tersebut,
untung menjadi anak buah soeharto. Sebelum ke Resimen Cakrabirawa. Untung
sempat bertugas di batalyon 454/Banteng Raiders sebagai Danyon. Dimana Batalyon
ini terlibat dalam G 30 S. ia sempat menghilang setelah G 30 S terjadi. Dan ia
ditangkap oleh anggota Armed (Artileri Medan) TNI – AD di Brebes Jawa tengah.
tapi keterangan ini berbeda dengan versi Soeharto. Menurut Soeharto untung di
tangkap oleh rakyat, bukan anggota ARMED. Hubungan Untung dan Soeharto memang
sangat erat sejak Soeharto menjadi Komandan Untung di Kodam Diponegoro. Dan
indikasi kedekatan lainnya adalah pada saat resepsi pernikahan untung. Soeharto
menyempatkan diri bersama istrinya untuk menghadiri resepsi tersebut.
kedatangan Komandan menghadiri resepsi bawahan itu memang biasa, tetapi
sepertinya memang ada hal khusus yang mendorong Soeharto datang. Di tinjau dari
jarak Jakarta – Kebumen yang jauh. Dan prasarana transportasi yang terbatas
waktu itu.
Eksepsi kolonel
latif
Menurut Kolonel Latif,
Soeharto pada saat itu memainkan peranan bermuka dua :
Pertama secara gigih Soeharto
membela Soekarno dan mencap gerombolan Untung sebagai kontra revolusi. Lalu
dengan segala macam cara ia mulai memihak pada Dewan Jenderal. Dengan cara
mengutuk sana mengutuk sini terutama yang jelas G 30 S dan orang – orang
pemerintahan Soekarno. Dan dengan jalan ini ia mencari dasar hukum, dan
berhasillah ia mendapatkan apa yang disebut SUPERSEMAR (Surat Perintah
Sebelas Maret). Setelah dapat mengadakan konsolidasi dengan berbagai pihak,
lalu ia menghantam presiden Soekarno. Hanya dengan dalih Presiden tidak bisa
mempertanggung jawabkan G 30 S yang menurut Soeharto gerakan tersebut harus di
pertanggung jawabkan karena gerakan tersebut adalah gerakan yang bertujuan
melindungi Presiden, padahal masih ada pendapat lain yang menyatakan bahwa
gerakan tersebut di rancang untuk melakukan kudeta terhadap Presiden. tapi ia
menggulingkan soekarno dan menahannya sampai wafat di tahanan.
Setelah berhasil, ia baru melakukan
pembersihan terhadap kalangan ORBA maupun ORLA. Salah satu contoh Jenderal
Nasution yang harusnya mendapatkan penghargaan sebaik – baiknya, malah di geser
tidak mempunyai jabatan sama sekali.
Apologi Serma
Bungkus
Waktu itu ia diperintah untuk menangkap Jenderal M.T Haryono. Ia menegaskan
pada sesi wawancara dengan seorang reporter “ PERINTAH TENTARA ITUKAN
TEGAS, HIDUP ATAU MATI!. DAN APA YANG DIKATAKAN MENCULIK ITU SALAH, DIDALAM
TENTARA GAK ADA ISTILAH MENCULIK. KALO GAK TANGKAP YA BANTAI “. Ia
mendapatkan perintah untuk membawa hidup atau mati para Jenderal berdasarkan
perintah Lettu Dul Arif. Padahal menurut Latif. Pada saat briefing, para
Jenderal hanya akan di hadapkan dengan Presiden. Ini menjadi pertanyaan.
Mengapa Dul Arif menyinpang dari hasil briefing?. Kemudian,
Menurutnya dalam G 30 S ada 2 kubu yang berkonflik. Yaitu DEWAN JENDERAL
yang di duga ingin melakukan kup terhadap presiden. Dan DEWAN REVOLUSI yang
diduga pihak yang melindungi soekarno. yang selanjutnya dituduh sebagai
pemberontak.
Syam kamaruzaman
yang misterius
Ia adalah biro khusus PKI. Biro
khusus adalah : aparat khusus partai yang menangani pekerjaan – pekerjaan
khusus yaitu, pekerjaan yang tidak dapat dilakukan melalui biro terbuka yang
lain, terutama di bidang militer dan bidang lainnya yang harus dikerjakan
melalui gerakan bawah tanah. Peran syam sangat penting. Dimana dialah yang
mengkoordinir sebagian klik AD untuk melakukan G 30 S. dalam sidangnya ia
mengatakan. Operasi rahasia biro khusus berjalan lancar. Syam mengadakan kontak
tetap dengan kira – kira 250 perwira di Jateng, 200 di Jatim, 80 – 100 di
Jabar, 40 – 50 di Jakarta, 30 – 40 di Sumut, 30 di Sumbar, dan 30 di Bali.
Setelah di tahan dan di jatuhi hukuman mati. Keberadaannya misterius. Banyak
tahanan RUTAN Militer Budi Mulia, Jakarta mengatakan. Syam tidak di eksekusi
mati. Tapi di bebaskan dan berganti identitas. Atau malah pergi keluar negeri.
Hal ini tidak lepas dari jasanya terhadap pemerintahan ORBA dan Jenderal
Soeharto. indikasi kedekatan syam dan Soeharto diterangkan oleh Kolonel Latif.
Bahwa ia pernah sama – sama di tahan di LP Cipinang. Di mana syam bercerita.
Bahwa ia mengetahui posisi dimana saja Latif saat bergerilya pada serangan umum
1 Maret. Ketika di Tanya oleh Latif, dimana posisi syam sebenarnya?, sehingga
tahu secara detail posisi Latif?. Syam menjawab ia ikut Soeharto tanpa Latif
ketahui.
Eks Brigjen
Soepardjo
Waktu itu ia adalah wakil panglima
kolaga. Yang dimana soeharto adalah panglima kolaga itu sendiri. Dan menurut
kabar soeharto pernah berkunjung ke Kalimantan dimana kedudukan sopardjo
berada. Dan pada peristiwa G 30 S soepardjo secara khusus dari Kalimantan
datang ke Jakarta untuk bergabung dengan G 30 S/PKI. Tapi di duga Soepardjo di
jerumuskan oleh seseorang dalam gerakan ini. Karena ia termasuk orang yang
loyal terhadap Presiden. Dan tidak mungkin ikut G 30 S yang mendemisionerkan
kabinet dan tidak mencantumkan Soekarno dalam 45 nama Dewan Revolusi. Kelak
orang – orang yang ada dalam Dewan Revolusi yang di umumkan oleh untung di RRI
ini menjadi buruan Soeharto. dan banyak yang tidak tahu menahu diantara 45 nama
ini apa sebab mereka di masukkan dalam Dewan Revolusi yang di umumkan oleh
Letkol Untung. dimana mereka tidak tahu sama sekali tentang Dewan Revolusi.
BAB III
Mereka yang ikut kena
getahnya
Banyak tokoh yang diduga terlibat G
30 S di ragukan kebenarannya. Seperti Laksamana Madya Udara Omar
dhani dan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).omar dhani di duga
terlibat karena ia bersikap kooperatif dengan golongan kiri. Terbukti ketika ia
meminjamkan sebagian kompleks halim yakni lubang buaya untuk latihan militer
pemuda rakyat dan ormas lainnya. Dimana latihan militer tersebut dimaksudkan
oleh biro khusus PKI untuk melatih rakyat sebagai bagian dari
gerakan GANYANG MALAYSIA. Omar dhani sebagai pimpinan AURI salah satu institusi
pembela bangsa ini tentu berpendapat latihan tersebut merupakan hal positif
bagi NKRI. Tapi akibat kemurahan hatinya memijamkan sebagian kompleks halim
untuk latihan tersebut, ia malah di tuduh pro PKI dan terlibat G 30 S.
Adalagi Laksamana Muda Udara
Sri Mulyono Herlambang. Pada saat itu ia berada di sumatera untuk mempersiapkan
DWI KORA. Setelah mendengar kabar ia langsung pergi ke Jakarta. Ia diduga
terlibat G 30 S dengan alasan yang tidak jelas. Yang jelas saat itu AURI sudah
di cap negatif oleh khalayak ramai. Pada saat itu nama sri mulyono ada dalam
daftar orang yang di cari KOSTRAD (Komando Strategi Cadangan Angkatan Darat).
Pada saat SUPERSEMAR keluar, di mana saat itu sedang terjadi pembersihan baik
di kalangan militer maupun birokrasi. Sesuai dengan indikasi soeharto, bahwa
setiap orang yang memiliki kaitan dengan golongan kiri, baik secara langsung
atau tidak. Akan di seret ke penjara. Dan tokoh – tokoh nasionalis yang loyal
terhadap soekarno pun di tangkap. Termasuk sri mulyono.
Mayjen Pranoto Reksosamodro dan Mayjen
Moersid. Mereka berdua merupakan saingan berat Mayjen Soeharto dalam kursi
pimpinan AD. Mayjen Pranoto waktu itu sudah jelas di tunjuk sebagai pengganti
Men/Pangad Letjen A. Yani yang gugur, tetapi dihalangi Soeharto.. Jabatannya
waktu itu adalah Asisten III Men/Pangad. Dan Mayjen Moersid Sebagai (Asisten II
Operasi MBAD) yang juga sempat di perhitungkan Soekarno untuk menggantikan A.
Yani. Untuk Meyjen Pranoto. Beliau di dakwa karena pada waktu itu ia
mendapatkan surat dari Kolonel latif yang meminta perlindungan padanya.
Sedangkan Mayjen Moersid di dakwa dengan tuduhan disuruh presiden untuk
membunuh sesama Jenderal. Padahal keterangannya tersebut tidak benar, Karena
menurut mualif nasution. Mayjen Moersid waktu itu disuruh merangkak di atas
batu kerikil oleh penyidik. Untuk mengakui bahwa Presiden Soekarno
memerintahkannya membunuh sesama Jendral. Dan hal ini menunjukkan juga, tampak
jelasnya keinginan para penyidik untuk pengakuan bahwa Soekarno ikut dalam
usaha pembasmian DEWAN JENDERAL.
Bab Iv
Hasil Otopsi Jenazah
Korban
Berdasarkan apa yang di beritakan
Media Massa pada waktu itu, yang menyatakan bahwa jenazah para Jenderal sempat
disiksa ada yang di silet dan penisnya dipotong, berdasarkan pengakuan Dr.
Arif Budianto yang tergabung dalam tim forensic yang terdiri dari tim
kedokteran dari RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) dan FKUI, itu tidak
benar. Berdasarkan cerita arif. Saat itu ia dan teman – temannya sudah takut
untuk memeriksa jenazah para korban, karena adanya berita mengenai penis yang
di potong. Tapi apa yang mereka temukan jauh dari apa yang di beritakan.
Jangankan penis yang di potong, bekas irisan saja tidak ada, tukasnya. Dan ada
lagi berita mengenai mata para Jenderal yang di congkel. Mata para Jenderal
memang ada yang copot. Tapi itu karena sudah tiga hari mayat terendam di dalam
sumur, dan bukan karena di congkel. Menurut keterangan arif lagi. Bila
mengatakan jenazah tidak disiksa itu tidak benar. karena mayat itu di tembaki
berkali – kali. Waktu itu berdasarkan keterangan arif. soeharto juga ada di
tempat otopsi. Mengapa ia sebagai PANGKOSTRAD tidak mempublikasikan berita yang
sebenarnya, bahwa jenazah para jenderal tidak ada yang penisnya dipotong dan
matanya di congkel. Apa sengaja untuk memancing amarah masyarakat untuk
meningkatkan amarah dan mendukung soeharto untuk mebersihkan orang PKI dan
orang – orang yang menurutnya bersalah tetapi belum benar kebenarannya.
Bab V
Menyusun Mozaik Dari
Serpihan Yang Berserak
Simpang siurnya akan peristiwa 30
September menjelang 1 Oktober 1965. Atau yang sering disebut G 30 S/PKI, banyak
menimbulkan berbagai macam teori. Ada 6 teori yang berpendapat akan peristiwa
ini. Sebagai berikut :
1. Pelaku
utama G 30 S adalah PKI dan Biro Khusus
Dengan memperalat unsur ABRI, tokoh
– tokoh biro khusus PKI merencanakan putsch ini sejak lama. Hal ini dilakukan
untuk menciptakan masyarakat komunis di Indonesia. Teori ini tentu di dukung
oleh pemerintahan ORBA yang menerbitkan buku putih pengkhianatan G 30 S/PKI.
Yang menerangkan bahwa PKI melakukan kup d’etat.
2. G 30 S
merupakan masalah internal AD
yang dirancang oleh sebuah
klik (kelompok terbatas). Persiapan gerakan ini di lakukan secara teliti,
dengan cara menyusupi PKI. Inti dalam teori ini adalah bahwa G 30 S merupakan
kudeta yang dirancang oleh klik AD, di bawah pimpinan Soeharto. teori ini cukup
masuk akal karena banyak pelaku G 30 S merupakan orang terdekat Soeharto. dan
banyaknya kejanggalan dari tindakan yang di ambil oleh Soeharto.
3. G 30 S
Digerakkan oleh CIA (CENTRAL INTELEGENCE OF AGENCY)
Teori ini beranggapan bahwa pelaku
utama G 30 S adalah CIA atau pemerintah AS. Yang bekerja sama dengan klik AD
untuk memprovokasi PKI, dengan tujuan akhir menggulingkan Soekarno. Teori ini
cukup masuk akal sesuai dengan kepentingan AS yang menginginkan jangan sampai
Indonesia menjadi basis komunisme. Karena jika. Indonesia menjadi basis
komunisme di khawatirkan akan terbentuk poros Jakarta-Pyongyang-Beijing yang di
takutkan AS.
4. Bertemunya
kepentingan Inggris dan AS
Teori ini intinya mensinyalir bahwa
G 30 S adalah “pertemuan” antara rencana Inggris dan AS. Inggris
menginginkan agar sikap konfrontatif Soekarno terhadap Malaysia bisa di akhiri
dengan penggulingan kekuasaan. Dan AS menginginkan Indonesia terbebas dari
komunisme.
5. Soekarno
dalang gerakan G 30 S
Teori ini sangat kontroversial
karena mengamsumsikan Soekarno dalang G 30 S. menurut teori ini Soekarno
menginginkan lenyapnya oposisi sebagian perwira tinggi AD terhadap
kepemimpinannya. PKI ikut terseret karena kedekatannya dengan Soekarno. Padahal
Soekarno bukan dekat dengan PKI. Tapi ia menginginkan Indonesia bersatu, yang
pada saat itu ada 3 golongan besar yaitu Nasionalis, Agamis, Komunis. Dan pada
saat itu Soekarno mengusung konsep NASAKOM untuk membuat Indonesia
bersatu dan kuat.
6. Teori Chaos
Menurut teori ini tidak ada
individu tunggal G 30 S. semua hanya melakukan Improvisasi sesuai dengan
perkembangan lapangan.Menyusun Mozaik dari serpihan yang berserak : Analisis
Menurut Teori Kepentingan.
Ada beberapa aktor politik yang
memiliki agenda pada tahun 1965. Pertama PKI. Pertama sebagai partai politik
yang legal waktu itu, kepentingannya jelas, yakni merebut kekuasaan. Upaya
kearah itu sudah dilakukan sejak lama. Pemilu 1955 (di mana PKI menduduki
posisi empat besar). Merupakan feedback pertama bagi PKI pasca madiun affair,
betapa mereka bisa mendapatkan simpati rakyat. Menurut versi AD, yang kemudian
banyak dikukuhkan melalui historiografi pada masa ORBA, yang menyatakan bahwa
PKI berusaha mengkomuniskan Indonesia. Tapi tidak semua anggota PKI terlibat
dalam G 30 S. Minimal, tidak terlibat secara langsung. Faktanya, G 30 S
berkembang out of control. Dimana gerakan tersebut bahkan di luar kendali
pimpinan PKI D.N. Aidit.
Actor berikutnya menurut teori
kepentingan, adalah Angkatan Darat. Secara resmi AD berkepentingan mengamankan
Negara. Dengan Asumsi bahwa kaum komunis rawan terhadap berbagai gejolak dan
instabilitas politik dan kemanan. Pada dekade 60-an memang AD terpecah menjadi
berbagai macam faksi. Tapi pada dasarnya AD bersikap anti komunis. G 30 S
merupakan tikaman tajam bagi AD, di mana para pimpinan teras AD tewas akibat
gerakan ini yang terang – terangan anti komunis. Pertanyaan bahwa PKI otak dari
G 30 S sedikit banyak dapat diterima. (tercermin dari korban yang jelas
menentang PKI). Pertanyaan problematisnya. Mengapa Mayjen Soeharto tidak
termasuk dalam daftar korban PKI?. Hal ini di duga karena kedekatan secara
personalnya dengan beberapa pimpinan operasional G 30 S. hal yang ironis dari
Soeharto pasca G 30 S, adalah dia menyekap Jenderal – Jenderal yang tidak
menjadi sasaran PKI. Seperti Mayor Jendral Moersid dan Pranoto Reksosamodro
dengan alasan bahwa mereka terlibat. Dan bayangkan jika situasi berhasil
dikuasai oleh pimpinan AD lainnya selain Soeharto. pasti Soeharto akan dituduh dengan
tuduhan yang sama. Di tambah kedekatannya dengan beberapa pimpinan operasional
gerakan.
Akhirnya aktor politik dalam negeri
yang paling menentukan Indonesia pada tahun 1965 adalah kelompok ORDE BARU.
Dukungan Soeharto dan ORBA menguat seiring ambiguitas sikap bung Karno terhadap
PKI yang menjadi sasaran tembak masyarakat. Bagi soeharto ada kepentingan
sendiri setelah menyadari G 30 S merubah konstelasi politik nasional.
Kepentingan itu adalah untuk menunjukkan eksistensinya. Sebelum G 30 S ia adalah
jenderal marjinal (ingat waktu penyelundupan semasa ia menjadi panglima
diponegoro). Dan menurut banyak pengamat ia memiliki “dendam” tersendiri
terhadap A. Yani, panjaitan, dan pranoto.
Momen penting
bagi Soeharto
Sebelum G 30 S Soeharto bukan apa – apa. Dia hanya di beri jabatan sebagai
pimpinan KOSTRAD – kesatuan yang waktu itu belum terlalu bergengsi. Banyak
pengamat memprediksikan karirnya akan terhenti di sana. Karena banyaknya tokoh
AD yang lebih senior dan memiliki kredibilitas tinggi di mata bung Karno.
Jenderal Nasution memang sudah “dikebiri” sejak di beri jabatan Menko Hankam /
KASAB. Jabatan ini hanya bersifat administratif dan selebihnya hanya simbolik
belaka. Nasution tidak memiliki tongkat komando seperti jenderal Yani. Justru jenderal
Yani lah yang di sebut – sebut akan menggantikan Soekarno. Jadi, G 30 S
merupakan blessing in disguised bagi karir Soeharto. dia mendapatkan beberapa
keuntungan sekaligus :
1.
Tersingkirnya pimpinan teras
AD berarti melejitkannya ke posisi puncak. Dengan kata lain Soeharto tidak
memiliki saingan lagi. Walaupun masih ada jenderal Nasution. Tapi tampaknya
Nasution kurang siap memegang jabatan pimpinan angkatan darat karena sudah 3
tahun tidak memegang komando, dan trauma akibat jadi sasaran G 30 S sebelumnya.
Tampillah Soeharto dengan cara yang agak sedikit kasar – yakni menolak kehendak
Soekarno untuk menjadikan Pranoto menjadi pengganti A. Yani sebagai pimpinan
AD. Hal ini sempat menjadi perdebatan. Karena bagaimana mungkin seorang Mayjen
membangkang terhadap Pangti.
2.
Lemahnya kepemimpinan
Soekarno. Kehadiran Soekarno di halim memberikan indikasi Soekarno terlibat G
30 S/PKI. Barangkali demi konsep NASAKOM ia rela tetap membela PKI. Bahwa G 30
S merupakan kesalahan oknum.
3.
Adanya G 30 S juga membuat
posisi orang – orang yang loyal dengan soekarno menjadi lemah, termasuk
Angkatan Udara. Hal ini semakin menguatkan Soeharto untuk mengendalikan
situasi. Dan menyudutkan Soekarno.
4.
Adanya G 30 S ini membuat
Soeharto sebagai public figure yang baru di mata masyarakat.


No comments:
Post a Comment