About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Saturday, 2 May 2015

Biografi Gus Dur:The Autorized Biography of Abdurrahman Wahid

Identitas Mahasiswa
Nama
: LUTFI WICAKSONO
NIM
: 3101412069
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B

A.      Identitas Buku.
Judul        :  Biografi Gus Dur:The Autorized Biography of Abdurrahman Wahid
Penulis      : greg Barton
Penerbit    : LkiS Group.
Tebal        : xxviii + 516 halaman: 15,5 x 23 cm
ISBN        : 979-3381-25-6

B.       Sinopsis Buku.

Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Adakhil yang berarti sang penakluk. Karena kata “Adakhil” tidak cukup dikenal, maka diganti dengan nama “Wahid” yang kemudian lebih dikenal dengan Gus Dur. Gus adalah panggilan kehormatan khas Pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti “abang atau mas”.
Gus Dur adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ia lahir dari keluarga yang cukup terhormat. Kakek dari ayahnya, K.H. Hasyim Asyari, merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sementara itu kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayahnya K.H. Wahid Hasyim merupakan sosok yang terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949, sedangkan ibunya Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denayar Jombang. Gus Dur pernah menyatakan secara terbuka bahwa ia adalah keturunan TiongHoa dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan a Lok, yang merupakan saudara kandung dari Raden Patah (Tan Eng Hwa) yang merupakan pendiri kesultanan Demak. Tan a Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Puteri Campa yang merupakan Puteri Tiongkok yaitu selir Raden Brawijaya V. Berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis Louis Charles Damais, Tan Kim Han diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al Shini yang makamnya ditemukan di Trowulan.
Pada tahun 1944 Abdurrahman Wahid pindah dari kota asalnya Jombang menuju Jakarta, karena pada saat itu ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia yang biasa disingkat “Masyumi”. Masyumi adalah sebuah organisasi dukungan dari tentara Jepang yang pada saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang mempertahankan kedaulatan Indonesia melawan Belanda. Ia kembali ke Jakarta pada akhir perang tahun 1949 karena ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama.
Gus Dur menempuh ilmu di Jakarta dengan masuk ke SD Kris sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Pada tahun 1952 ayahnya sudah tidak menjadi Menteri Agama tetapi beliau tetap tinggal di Jakarta. Pada tahun 1953 di bulan April ayah Gus Dur meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Pada tahun 1954 pendidikannya berlanjut dengan masuk ke sekolah menengah pertama, yang pada saat itu ia tidak naik kelas. Lalu ibunya mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan.
Setelah lulus dari SMP pada tahun 1957, Gus Dur memulai pendidikan muslim di sebuah Pesantren yang bernama Pesantren Tegalrejo di Kota Magelang. Pada tahun 1959 ia pindah ke Pesantren Tambakberas di Kota Jombang. Sementara melanjutkan pendidikanya, ia juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai seorang guru yang nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.  Bahkan ia juga bekerja sebagai jurnalis Majalah Horizon serta Majalah Budaya Jaya.Pada tahun 1963, ia menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk melanjutkan pendidikan di  Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November tahun 1963. Universitas memberitahu Gus Dur untuk mengambil kelas remedial sebelum belajar bahasa Arab dan belajar islam. Meskipun mahir berbahasa Arab, ia tidak mampu memberikan bukti bahwa sesungguhnya ia mahir berbahasa Arab. Ia pun terpaksa harus mengambil kelas remedial.
Pada tahun 1964 Gus Dur sangat menikmati kehidupannya di Mesir.  Ia menikmati hidup dengan menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menikmati menonton sepakbola. Gus Dur juga terlibat dengan Asosiasi  Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah dari asosiasi tersebut. Akhirnya ia berhasil lulus dari kelas remedialnya pada akhir tahun. Pada tahun 1965 ia memulai belajar ilmu Islam dan juga bahasa Arab. Namun Gus Dur kecewa dan menolak metode belajar dari universitas karena ia telah mempelajari ilmu yang diberikan.
Di Mesir, Gus Dur bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Namun pada saat ia bekerja peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S) terjadi. Upaya pemberantasan komunis dilakukan di Jakarta dan yang menangani saat itu adalah Mayor Jendral Suharto. Sebagai bagian dari upaya tersebut.  Gus Dur diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Ia menerima perintah yang ditugaskan menulis laporan.
Akhirnya ia mengalami kegagalan di Mesir. Hal ini terjadi karena Gus Dur tidak setuju akan metode pendidikan di universitas dan pekerjaannya setelah G 30 S sangat mengganggu dirinya. Pada tahun 1966 ia harus mengulang pendidikannya. Namun pendidikan pasca sarjana Gus Dur diselamatkan oleh beasiswa di Universitas Baghdad. Akhirnya ia pindah menuju Irak dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun pada awalnya ia lalai, namun ia dengan cepat belajar. Gus Dur juga meneruskan keterlibatannya dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan sebagai penulis majalah Asosiasi tersebut. Pada tahun 1970 ia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad. Setelah itu, Gus Dur ke Belanda untuk meneruskan pendidikan. Ia ingin belajar di Universitas Leiden, namun ia kecewa karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut. Akhirnya ia pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1971.
Di Jakarta, Gus Dur berharap akan kembali ke luar negeri untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Ia pun bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Organisasi ini terdiri dari kaum intelektual  muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah yang bernama Prima dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Beliau berkeliling pesantren di seluruh Jawa.
Pada saat itu pesantren berusaha keras untuk mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan mengadopsi kurikulum pemerintah. Karena nilai-nilai pesantren semakin luntur akibat perubahan ini, Gus Dur pun prihatin dengan kondisi tersebut. Ia juga prihatin akan kemiskinan yang melanda pesantren yang ia lihat. Melihat kondisi tersebut Gus Dur membatalkan belajar ke luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren. Meskipun kariernya bisa meraih kesuksesan namun ia masih merasa sulit hidup karena hanya memiliki satu sumber pencaharian. Ia pun bekerja kembali dengan profesi berbeda untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual  kacang dan mengantarkan es. Pada tahun 1974 ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng hingga tahun 1980. Pada tahun 1980 ia menjabat sebagai seorang Katib Awwal PBNU hingga pada tahun 1984. Pada tahun 1984 ia naik pangkat sebagai Ketua Dewan Tanfidz PBNU. Tahun 1987 Gus Dur menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 1989 kariernya pun meningkat dengan menjadi seorang anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI. Dan hingga akhirnya pada tahun 1999 sampai 2001 ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Sebagai seorang Presiden RI, Gus Dur memiliki pendekatan-pendekatan yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan bangsa. Ia melakukan pendekatan yang lebih simpatik kepada kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengayomi etnis Tionghoa , meminta maaf kepada keluarga PKI yang mati dan disiksa, dan lain-lain. Selain itu, Gus Dur juga dikenal sering melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial, yang salah satunya adalah mengatakan bahwa anggota MPR RI seperti anak TK. Dan pada akhirnya beliau bersitegang dengan Soeharto serta mengenai IMF.
Pada 9 Desember 1997, Soeharto mendadak membatalkan rencanaya hadir dalam ASEAN di Kuala Lumpur Malaysia dan pasar benar-benar panic. Kemudian pada 6 januari 1998, Soeharto mengungkapkan rancangan anggaran baru yang di anggap sangat realistic. Investor yang panic mulai menjual rupiah dalam waktu lima hari rupiah kehilangan separo nilanya. Kepanikan melanda Indonesia dan ratusan orang Jakarta berebut belanja di pasar-pasar swalayan untuk membeli beras, minyak goring dan makanan kaleng. Mereka meninmbun makanan. Menjelang 15 Januari 1998, IMF dating dengan paket kedua. Akan tetapi hal ini segera di rusak oleh Soeharto dan keluarganya. Akhirnya, dalam suatu tampak tolol, Soeharto mengumumkan bahwa Habibie akan menjadi wapres berikutnya dan akan diambil sumpahnya dalam bulan Maret. Banyak perwira ABRI tidak suka Habibie tetapi ia mendapat dukungan dari Feisal tanjung dan Prabowo, dua jendral hijau yang secara terbuka mendukungnya. Pada 22 januari 1998 rupiah benar-benar jatuh ketika satu dolar AS setara dengan Rp.17.000.
Banyak analis, saat itu dan selanjutnya, mempersalahkan IMF atas memburuknya keadaan krisis keuangan Indonesia yang tiba-tiba. IMF mungkin bertanggung jawab sebagian – memang IMF mengakui bahwa ia telah salah kakulasi dalam tanggapan awalnya terhadap krisis ini- tetapi cukup alas an untuk mengatakan bahwa kesalahan ini dating  dari keluarga presiden sendiri. Kini, ketika kita melihat kembali krisis itu, walaupun dating tiba – tiba, sebenarnya telah lama “dipersiapkan”. Sejak cabinet 1993, pengaruh para teknorat yang telah berbuat banyak untuk menciptakan “keajaiban Indonesia” telah surut pengaruhnya. Anak-anak Soeharto, dan bahkan cucunya, menjadi makin rakus harta.
Begitu IMF bias memulai paket penyelamatan, inisiatif reformasi IMF bias ditentang di setiap tingkat. Mula-mula oleh Soeharto dan kemudian anak-anaknya. Bila mereka tidak dapat menolak secara terang-terangan, mereka akan merusakan rencana itu. Soeharto memang tidak bias melihat perlunya mengadakan perubahan. Di waktu lampau ia selalu dpat mengatasi lawan-lawannya walaupun dalam suatu krisis. Kali ini benar-benar keliru.
Pada tahap ini , Amien Rais berbicara makin keeras menentang Soeharto dan menuntutnya agar turun dari kursi kepresidenan. Ia meminta Gus Dur dan Megawati untuk bergabung dalam suatu garis depan melawan Soeharto, tetapi Gus Dur tetap menolak sambil mengatakan bahwa sumber-sumber ABRI telah di berikan peringatan kepadanya dan bahwa konfrotasi berdarah pasti akan terjadi seandainya mereka secara terbuka melawan Soeharo. Secara pribadi Gus Dur mengatakan bahwa ia percaya Prabowo dan preman-premanya bersama dengan kaum islamis radikal “ dapat melakukan apa saja”, untuk tujuan mereka.
     Larut malam pada 14 Mei 1998, sebuah organisasi baru yang menamakan diri Majelis Amanat Rakyat menyerukan agar Soeharto lengser. Majelis ini di kepalai oleh Amien Rais dan sejumlah intelektual lain yang biasanya berbicara lantang. Tidak ada yang mengejutkan kecuali adanya nama Begawan ekonomi yang begitu popular, yakni Sumitro Djojohadi Kusumo dalam daftar anggota majelis. Sumitro adanya adalah ayah Prabowo. Tampaknya, rencana Prabowo mengalami kesulitan besar.bukan saja karena ia telah kehilangan sahabat kentalnya, Syafrie, melainkan ayahnya sendiri kini juga ikut menyeruhkan agar Soeharto lengser.
Kekerasan yang terjadi pada tanggal 13 dan 14 Mei tampaknya telah memperkuat oposisi terhadap Soeharto dan memperkeras tuntutan agar Soeharto lengser. Jika kekerasan itu sebagian merupakan kerja Prabowo dan sejawatnya- barangkali dirancang untuk memperkuat posisi dirinya di mata Soeharto terhadap saingan utamanya, Wiranto ,dan untuk membuktikan perlunya suatu reaksi militer-maka petualangan militer Prabowo menjadi kontraproduktif. Sebaliknya, dari memperkuat posisi Soeharto, ia telah memberi mertuanya pukulan kematian.
Pagi-pagi pada tanggal 15 Mei, Prabowo, dengan diiringi oleh sejumlahan kecil konvoi kendaraan militer, menandatangi Gus Dur di rumahnya. Ia tiba kira-kira pukul dua pagi dan langsung diajak masuk ke kamar tidur Gus Dur. Prabowo berlutut di kaki ranjanga dan mulai mengurut-urut kaki Gus Dur. Ia memang di kenal mahir memijit. Gus Dur sendiri juga mendapatkan pengobatan lewat pijitan setelah stroke-nya tempo hari. Akan tetapi, ketika Gus Dur bangun dan mendapati Prabowo dan pengawal pribadinya berada di ujung ranjang, boleh dibilang hal ini mengjutkan. Memang, setelah terjadinya kekerasan tanggal 13 dan 14 Mei, orang tak daoat disalahkan bila merasa takut bercampur terkejut jika didatangi oleh Prabowo pada jam sepagi itu.
Prabowo segera menagis dalam keadaan tanpa harapan untuk menyakinkan Gus Dur bahwa ia adalah korban Fitnah dan tidak terlibat memojokan dirinya. “lihatlah apa yang terjadi dengan kota kita ini. Apa gerangan yang sedang terjadi, Gus? Apa yang sedang terjadi pada kita semua?” Gus Dur , yang baru saja bangun dari tidurnya, segera menjawab: “Begitulah kalau orang nggak bias menahan diri.” Ungkapan ini menbingungkan. Orang bias mengacu pada Prabowo sendiri atau juga pada massa di ibu kota. Jelaslah bahwa Prabowo datang di Ciganjur dengan harapan mendapat simpatidari Gus Dur, atau paling tidak berharap bahwa Gus Dur dapat dibuat bermusuhan dengan saingan lamanya, Amie Rais. Akan tetapi ia meninggalkan Ciganjur tanpa mendapat apa yang diinginkan itu.
Pada hari sabtu, tanggal 16 Mei 1998, Nurcholish Madjid mengadakan konfrensi pers. Ia di undang untuk menyampaikan makalah kepada sekretaris cabinet pada hari Senin. Tetapi sebelum itu, ia dan Amien mengadakan pidato TV bersama untuk para mahasiswa agar bias menahan diri. Kemudian pada hari sabtu itu Nurcholish dan Amien bertemu dengan sekertariat cabinet. Mendadak Prabowo dengan wajah sengit menyela masuk. Ia marah mendengar tuntunan agar Soeharto menyerahkan kekayaannya. Lalu ia menyaranka kepada Nurcholish dan Amien agar meminta Habibie menjadi presiden. Nurcholish menjawab bahwa ABRI tidak mendukung pencalonan Habibie. Prabowo menjawab lagi: “jangan Khawatir. Saya akan melindungi Habibie,” dan kemudian ia juga menyarankan agar dirinya, Prabowo, harus menggantikan Wiranto agar ia dapat mempunyai kekuasaan yang lebih besar untuk melindungi Habibie.
     Pada malam harinya, Sabtu itu juga, juru bicara ABRI, Brigjen Mokodongan membacakan pernyataan pers resmi yang menyambut pernyataan yang sebelumnya di buat oleh Nu, yang menyerukan agar Soeharto lengser ke prabon. Prabowo lalu bergegas ke rumah Soeharto dengan membawa pernyataan pers itu. Soeharto, yang jelas merasa sengit, memanggil Wiranto untuk memberikan penjelasan kepadanya. Wiranto pun mencari selamat dan mengatakan bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman.
Soeharto lain daripada yang lain biasanya, mulai panic. Ia memanggil Jenderal Subagyo dan menawarkan kepadanya jabatan Palima Kopkamtib. Jelaslah bahwa Soeharto, bahkan pada saat-saat terakhir, masih berharap bahwa ia mengagalkan sentiment yang menentangnya di kalangan militer dengan memecahbelah ABRI. Subagyo, demikian yang dilaoprkan, dengan hampir menangis, menolak tawaran itu. Satu jam kemudian Wiranto bertemu dengan Soeharto dan kemudian bergegas ke Mabes ABRI untuk mengadakan rapim darurat. Tidak jelas apakah ia telah tahu mengenai tawaran menjadi panglima Kopkamtib itu dari Subagyo sendiri atau dari Soeharto. Pada hari Senin malam, Soeharto meminta agar Nurcholish menemuinya di istana. Nurcholish, sebagai mana bias tanpa tedeng aling-aling, menyatakan posisinya dengan jelas “ yang di pahami oleh rakyat mengenai reformasi adalah anda turun .” Soeharto menjawab: “takmaslaha. Saya telah memberikan pertanda mengenai hai ini di Kairo.” Ia pun berjanji akan turun sesegera mungkin tetapi ia tidak memberikan kepastian waktunya.
Jelashlah bahwa usaha Soeharto untuk memecah belah oposisi muslim gagal. Sebelumnya, Nurcholish telah bertemu dengan Amien di rumah Malik Fadjar untuk membicarakan pertemuan ini. Sebagai hasilnya, kesembilan orang ini membentuk suatu front bersatu. Semua menolak bergabung dengan komite reformasi bentukan Soeharto atau menerima kedudukan di susunan kabinetnya yang baru. Nurcholish sekali lagi memberitahu Soeharto dengan terbuka dan sopan: “anda harus mengakhiri masa kepresidenan Anda dengan anggun dan terhormat, bukan dengan cara Amerika Latin. Janganlah mengulang persitiwa 1965-1966.
Dalam menaggapi permintaan agar ia mengundurkan diri, soeharto menjawab bahwa bila ia melakukan hal itu berarti Habibie akan naik menjadi presiden, dan “yang menjadi masalah apakah ia mampu.” Kemudian Soeharto mengulangi kepada media Kekhawatiranannya bahwa habibie belum mampu menduduki jabatan Presiden. Soeharto meminta kesembilan pemimpin muslim itu untuk paling tidak memberikan sedikit dukungan kepada dirinya. Ketika mereka semua menolak untuk duduk di komite refrormasi atau kabinetnya, soeharto meminta agar mereka berdiri di belakangnya sewaktu ia membacakan usulan agenda reformasi kepada seluruh bangsa lewat siaran langsung TV. Karena mereka tahu bahwa kalau permintaan ini dituruti maka hal itu akan berarti bahwa mereka mendukung soeharto, maka mereka menolak.
Amien Rais bersikap kritis terhadap kinerja Gus Dur dalam pertemuan itu. Gus dur membiarkan Nurcholish yang lebih banyak berbicara dan ketika dibicarakan masalah soeharto lengser malah ia bergurau mengenai apakah mereka benar-benar menyerukan agar soeharto turun. Menurut Amien, sikap Gus Dur saat itu jelas menunjukan sifat-sifat seorang penjilat. Akan tetapi Gus dur sendiri membela diri dengan menggunakan dalih budaya untuk menjelaskan sikapnya itu. Oleh karena pisau sudah ditusukan kesisi Soeharto maka tak perlu lagi pisau itu di putar agar pekerjaan selesai. Dalam keadaan seperti itu, demikian penjelasan Gus Dur, orang harus menunjukan sikap sopan yang anggun. Namun Gus Dur masih mempunyai hal lain di benaknya. Ia masih khawatir Soeharto akan menyalahi janjinya untuk turun dan mungkin saja memutuskan untuk “terus tempur” sehingga suatu konfrotasi berdarah menjadi hal yang mungkin saja terjadi.
Amien berekasi dengan mengancam untuk menghadirkan satu juta orang di jalan-jalan raya keesokan harinya. Hanya, pada saat-saat terakhir ia membatalkan rencana itu dan itu pin setelah ia menerima pesan pribadi dari Jendral Kivlan Zein, seorang teman dekat Prabowo, yang memperingatkannya bahwa akan benar-benar ada konfrontasi berdarah seandainya ia terus melaju dengan rencananya berdemonstrasi dengan satu juta orang. Bahkan para banker yang paling konservatif dan setia kepada Soeharto pun dapat menagkap sinyal keadaan presiden dan dengan nekat mencari kesempatan untuk bertukar kapal. Suatu perkembangan yang dramatic terjadi ketika Ginanjar Kartasamita, salah satu teknikrat Soeharto yang setia dan menko ekonominya yang terpercaya, membawa 13 anggota kabinet dan mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mengundurkan diri dari kabinet Soeharto. Malam itu, Soeharto bertemu Habibie dan keduanya terlibat dalam percakapan.
Setelah berhenti menjabat sebagai presiden, Gus Dur tidak berhenti untuk melanjutkan karier dan perjuangannya. Pada tahun 2002 ia menjabat sebagai penasihat Solidaritas Korban Pelanggaran HAM. Dan pada tahun 2003, Gus Dur menjabat sebagai Penasihat pada Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional.Tahun 2004, Gus Dur kembali berupaya untuk menjadi Presiden RI. Namun keinginan ini kandas karena ia tidak lolos pemeriksaan kesehatan oleh Komisi Pemilihan Umum. Pada Agustus 2005 Gus Dur menjadi salah satu pimpinan koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Tri Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada 1 Februari, DPR bertemu untuk mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Di Jakarta, oposisi Gus Dur turun menuduhnya mendorong protes tersebut. Gus Dur membantah dan pergi untuk berbicara dengan demonstran di Pasuruan. Pada bulan Maret, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Pada 30 April, DPR mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang Istimewa MPR pada 1 Agustus. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001. Namun dekret tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri. Setelah itu Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan stroke. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya.  Beliau meninggal dunia pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis(cuci darah) rutin. Menurut Salahuddin Wahid adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...