![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: LUTFI WICAKSONO
|
|
|
NIM
|
: 3101412069
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku.
Judul : Biografi Gus Dur:The Autorized Biography of
Abdurrahman Wahid
Penulis : greg Barton
Penerbit : LkiS Group.
Tebal :
xxviii + 516 halaman: 15,5 x 23 cm
ISBN :
979-3381-25-6
B.
Sinopsis Buku.
Kyai Haji
Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa
Timur pada tanggal 7 September 1940. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Adakhil
yang berarti sang penakluk. Karena kata “Adakhil” tidak cukup dikenal, maka
diganti dengan nama “Wahid” yang kemudian lebih dikenal dengan Gus Dur. Gus
adalah panggilan kehormatan khas Pesantren kepada seorang anak kiai yang
berarti “abang atau mas”.
Gus Dur adalah
anak pertama dari enam bersaudara. Ia lahir dari keluarga yang cukup terhormat.
Kakek dari ayahnya, K.H. Hasyim Asyari, merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Sementara itu kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar
pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayahnya K.H. Wahid
Hasyim merupakan sosok yang terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi
Menteri Agama tahun 1949, sedangkan ibunya Ny. Hj. Sholehah adalah putri
pendiri Pondok Pesantren Denayar Jombang. Gus Dur pernah menyatakan secara
terbuka bahwa ia adalah keturunan TiongHoa dari Tan Kim Han yang menikah dengan
Tan a Lok, yang merupakan saudara kandung dari Raden Patah (Tan Eng Hwa) yang
merupakan pendiri kesultanan Demak. Tan a Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan
anak dari Puteri Campa yang merupakan Puteri Tiongkok yaitu selir Raden
Brawijaya V. Berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis Louis Charles
Damais, Tan Kim Han diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al Shini yang
makamnya ditemukan di Trowulan.
Pada tahun 1944
Abdurrahman Wahid pindah dari kota asalnya Jombang menuju Jakarta, karena pada
saat itu ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin
Indonesia yang biasa disingkat “Masyumi”. Masyumi adalah sebuah organisasi
dukungan dari tentara Jepang yang pada saat itu menduduki Indonesia. Setelah
deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali
ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang mempertahankan kedaulatan
Indonesia melawan Belanda. Ia kembali ke Jakarta pada akhir perang tahun 1949
karena ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama.
Gus Dur menempuh ilmu
di Jakarta dengan masuk ke SD Kris sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Pada
tahun 1952 ayahnya sudah tidak menjadi Menteri Agama tetapi beliau tetap
tinggal di Jakarta. Pada tahun 1953 di bulan April ayah Gus Dur meninggal dunia
akibat kecelakaan mobil. Pada tahun 1954 pendidikannya berlanjut dengan masuk
ke sekolah menengah pertama, yang pada saat itu ia tidak naik kelas. Lalu
ibunya mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan.
Setelah lulus
dari SMP pada tahun 1957, Gus Dur memulai pendidikan muslim di sebuah Pesantren
yang bernama Pesantren Tegalrejo di Kota Magelang. Pada tahun 1959 ia pindah ke
Pesantren Tambakberas di Kota Jombang. Sementara melanjutkan pendidikanya, ia
juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai seorang guru yang nantinya sebagai
kepala sekolah madrasah. Bahkan ia juga
bekerja sebagai jurnalis Majalah Horizon serta Majalah Budaya Jaya.Pada tahun
1963, ia menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk melanjutkan pendidikan
di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.
Ia pergi ke Mesir pada November tahun 1963. Universitas memberitahu Gus Dur
untuk mengambil kelas remedial sebelum belajar bahasa Arab dan belajar islam.
Meskipun mahir berbahasa Arab, ia tidak mampu memberikan bukti bahwa
sesungguhnya ia mahir berbahasa Arab. Ia pun terpaksa harus mengambil kelas
remedial.
Pada tahun 1964
Gus Dur sangat menikmati kehidupannya di Mesir.
Ia menikmati hidup dengan menonton film Eropa dan Amerika, dan juga
menikmati menonton sepakbola. Gus Dur juga terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis
majalah dari asosiasi tersebut. Akhirnya ia berhasil lulus dari kelas
remedialnya pada akhir tahun. Pada tahun 1965 ia memulai belajar ilmu Islam dan
juga bahasa Arab. Namun Gus Dur kecewa dan menolak metode belajar dari
universitas karena ia telah mempelajari ilmu yang diberikan.
Di Mesir, Gus
Dur bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Namun pada saat ia bekerja peristiwa
Gerakan 30 September (G 30 S) terjadi. Upaya pemberantasan komunis dilakukan di
Jakarta dan yang menangani saat itu adalah Mayor Jendral Suharto. Sebagai
bagian dari upaya tersebut. Gus Dur
diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan
memberikan laporan kedudukan politik mereka. Ia menerima perintah yang
ditugaskan menulis laporan.
Akhirnya ia
mengalami kegagalan di Mesir. Hal ini terjadi karena Gus Dur tidak setuju akan
metode pendidikan di universitas dan pekerjaannya setelah G 30 S sangat
mengganggu dirinya. Pada tahun 1966 ia harus mengulang pendidikannya. Namun
pendidikan pasca sarjana Gus Dur diselamatkan oleh beasiswa di Universitas
Baghdad. Akhirnya ia pindah menuju Irak dan menikmati lingkungan barunya.
Meskipun pada awalnya ia lalai, namun ia dengan cepat belajar. Gus Dur juga
meneruskan keterlibatannya dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan sebagai
penulis majalah Asosiasi tersebut. Pada tahun 1970 ia menyelesaikan
pendidikannya di Universitas Baghdad. Setelah itu, Gus Dur ke Belanda untuk
meneruskan pendidikan. Ia ingin belajar di Universitas Leiden, namun ia kecewa
karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas
tersebut. Akhirnya ia pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali lagi ke
Indonesia pada tahun 1971.
Di Jakarta, Gus
Dur berharap akan kembali ke luar negeri untuk belajar di Universitas McGill di
Kanada. Ia pun bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan
Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Organisasi ini terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES
mendirikan majalah yang bernama Prima dan Gus Dur menjadi salah satu
kontributor utama majalah tersebut. Beliau berkeliling pesantren di seluruh
Jawa.
Pada saat itu
pesantren berusaha keras untuk mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan
mengadopsi kurikulum pemerintah. Karena nilai-nilai pesantren semakin luntur
akibat perubahan ini, Gus Dur pun prihatin dengan kondisi tersebut. Ia juga
prihatin akan kemiskinan yang melanda pesantren yang ia lihat. Melihat kondisi
tersebut Gus Dur membatalkan belajar ke luar negeri dan lebih memilih
mengembangkan pesantren. Meskipun kariernya bisa meraih kesuksesan namun ia
masih merasa sulit hidup karena hanya memiliki satu sumber pencaharian. Ia pun
bekerja kembali dengan profesi berbeda untuk mendapatkan pendapatan tambahan
dengan menjual kacang dan mengantarkan
es. Pada tahun 1974 ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng
hingga tahun 1980. Pada tahun 1980 ia menjabat sebagai seorang Katib Awwal PBNU
hingga pada tahun 1984. Pada tahun 1984 ia naik pangkat sebagai Ketua Dewan
Tanfidz PBNU. Tahun 1987 Gus Dur menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama
Indonesia. Pada tahun 1989 kariernya pun meningkat dengan menjadi seorang
anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI. Dan hingga akhirnya pada tahun 1999
sampai 2001 ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Sebagai seorang
Presiden RI, Gus Dur memiliki pendekatan-pendekatan yang berbeda dalam
menyikapi suatu permasalahan bangsa. Ia melakukan pendekatan yang lebih
simpatik kepada kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengayomi etnis Tionghoa ,
meminta maaf kepada keluarga PKI yang mati dan disiksa, dan lain-lain. Selain
itu, Gus Dur juga dikenal sering melontarkan pernyataan-pernyataan
kontroversial, yang salah satunya adalah mengatakan bahwa anggota MPR RI
seperti anak TK. Dan pada akhirnya beliau bersitegang dengan Soeharto serta
mengenai IMF.
Pada 9 Desember
1997, Soeharto mendadak membatalkan rencanaya hadir dalam ASEAN di Kuala Lumpur
Malaysia dan pasar benar-benar panic. Kemudian pada 6 januari 1998, Soeharto
mengungkapkan rancangan anggaran baru yang di anggap sangat realistic. Investor
yang panic mulai menjual rupiah dalam waktu lima hari rupiah kehilangan separo
nilanya. Kepanikan melanda Indonesia dan ratusan orang Jakarta berebut belanja
di pasar-pasar swalayan untuk membeli beras, minyak goring dan makanan kaleng.
Mereka meninmbun makanan. Menjelang 15 Januari 1998, IMF dating dengan paket
kedua. Akan tetapi hal ini segera di rusak oleh Soeharto dan keluarganya. Akhirnya,
dalam suatu tampak tolol, Soeharto mengumumkan bahwa Habibie akan menjadi
wapres berikutnya dan akan diambil sumpahnya dalam bulan Maret. Banyak perwira
ABRI tidak suka Habibie tetapi ia mendapat dukungan dari Feisal tanjung dan
Prabowo, dua jendral hijau yang secara terbuka mendukungnya. Pada 22 januari
1998 rupiah benar-benar jatuh ketika satu dolar AS setara dengan Rp.17.000.
Banyak analis,
saat itu dan selanjutnya, mempersalahkan IMF atas memburuknya keadaan krisis
keuangan Indonesia yang tiba-tiba. IMF mungkin bertanggung jawab sebagian –
memang IMF mengakui bahwa ia telah salah kakulasi dalam tanggapan awalnya
terhadap krisis ini- tetapi cukup alas an untuk mengatakan bahwa kesalahan ini
dating dari keluarga presiden sendiri.
Kini, ketika kita melihat kembali krisis itu, walaupun dating tiba – tiba,
sebenarnya telah lama “dipersiapkan”. Sejak cabinet 1993, pengaruh para
teknorat yang telah berbuat banyak untuk menciptakan “keajaiban Indonesia”
telah surut pengaruhnya. Anak-anak Soeharto, dan bahkan cucunya, menjadi makin
rakus harta.
Begitu IMF bias
memulai paket penyelamatan, inisiatif reformasi IMF bias ditentang di setiap
tingkat. Mula-mula oleh Soeharto dan kemudian anak-anaknya. Bila mereka tidak
dapat menolak secara terang-terangan, mereka akan merusakan rencana itu.
Soeharto memang tidak bias melihat perlunya mengadakan perubahan. Di waktu
lampau ia selalu dpat mengatasi lawan-lawannya walaupun dalam suatu krisis.
Kali ini benar-benar keliru.
Pada tahap ini , Amien
Rais berbicara makin keeras menentang Soeharto dan menuntutnya agar turun dari
kursi kepresidenan. Ia meminta Gus Dur dan Megawati untuk bergabung dalam suatu
garis depan melawan Soeharto, tetapi Gus Dur tetap menolak sambil mengatakan
bahwa sumber-sumber ABRI telah di berikan peringatan kepadanya dan bahwa
konfrotasi berdarah pasti akan terjadi seandainya mereka secara terbuka melawan
Soeharo. Secara pribadi Gus Dur mengatakan bahwa ia percaya Prabowo dan
preman-premanya bersama dengan kaum islamis radikal “ dapat melakukan apa saja”,
untuk tujuan mereka.
Larut malam pada 14 Mei 1998, sebuah organisasi baru yang
menamakan diri Majelis Amanat Rakyat menyerukan agar Soeharto lengser. Majelis
ini di kepalai oleh Amien Rais dan sejumlah intelektual lain yang biasanya
berbicara lantang. Tidak ada yang mengejutkan kecuali adanya nama Begawan
ekonomi yang begitu popular, yakni Sumitro Djojohadi Kusumo dalam daftar
anggota majelis. Sumitro adanya adalah ayah Prabowo. Tampaknya, rencana Prabowo
mengalami kesulitan besar.bukan saja karena ia telah kehilangan sahabat
kentalnya, Syafrie, melainkan ayahnya sendiri kini juga ikut menyeruhkan agar
Soeharto lengser.
Kekerasan yang
terjadi pada tanggal 13 dan 14 Mei tampaknya telah memperkuat oposisi terhadap
Soeharto dan memperkeras tuntutan agar Soeharto lengser. Jika kekerasan itu
sebagian merupakan kerja Prabowo dan sejawatnya- barangkali dirancang untuk
memperkuat posisi dirinya di mata Soeharto terhadap saingan utamanya, Wiranto
,dan untuk membuktikan perlunya suatu reaksi militer-maka petualangan militer
Prabowo menjadi kontraproduktif. Sebaliknya, dari memperkuat posisi Soeharto,
ia telah memberi mertuanya pukulan kematian.
Pagi-pagi pada
tanggal 15 Mei, Prabowo, dengan diiringi oleh sejumlahan kecil konvoi kendaraan
militer, menandatangi Gus Dur di rumahnya. Ia tiba kira-kira pukul dua pagi dan
langsung diajak masuk ke kamar tidur Gus Dur. Prabowo berlutut di kaki ranjanga
dan mulai mengurut-urut kaki Gus Dur. Ia memang di kenal mahir memijit. Gus Dur
sendiri juga mendapatkan pengobatan lewat pijitan setelah stroke-nya tempo
hari. Akan tetapi, ketika Gus Dur bangun dan mendapati Prabowo dan pengawal
pribadinya berada di ujung ranjang, boleh dibilang hal ini mengjutkan. Memang,
setelah terjadinya kekerasan tanggal 13 dan 14 Mei, orang tak daoat disalahkan
bila merasa takut bercampur terkejut jika didatangi oleh Prabowo pada jam
sepagi itu.
Prabowo segera
menagis dalam keadaan tanpa harapan untuk menyakinkan Gus Dur bahwa ia adalah
korban Fitnah dan tidak terlibat memojokan dirinya. “lihatlah apa yang terjadi
dengan kota kita ini. Apa gerangan yang sedang terjadi, Gus? Apa yang sedang
terjadi pada kita semua?” Gus Dur , yang baru saja bangun dari tidurnya, segera
menjawab: “Begitulah kalau orang nggak bias menahan diri.” Ungkapan ini
menbingungkan. Orang bias mengacu pada Prabowo sendiri atau juga pada massa di
ibu kota. Jelaslah bahwa Prabowo datang di Ciganjur dengan harapan mendapat
simpatidari Gus Dur, atau paling tidak berharap bahwa Gus Dur dapat dibuat
bermusuhan dengan saingan lamanya, Amie Rais. Akan tetapi ia meninggalkan
Ciganjur tanpa mendapat apa yang diinginkan itu.
Pada hari sabtu,
tanggal 16 Mei 1998, Nurcholish Madjid mengadakan konfrensi pers. Ia di undang
untuk menyampaikan makalah kepada sekretaris cabinet pada hari Senin. Tetapi sebelum
itu, ia dan Amien mengadakan pidato TV bersama untuk para mahasiswa agar bias
menahan diri. Kemudian pada hari sabtu itu Nurcholish dan Amien bertemu dengan
sekertariat cabinet. Mendadak Prabowo dengan wajah sengit menyela masuk. Ia
marah mendengar tuntunan agar Soeharto menyerahkan kekayaannya. Lalu ia
menyaranka kepada Nurcholish dan Amien agar meminta Habibie menjadi presiden.
Nurcholish menjawab bahwa ABRI tidak mendukung pencalonan Habibie. Prabowo
menjawab lagi: “jangan Khawatir. Saya akan melindungi Habibie,” dan kemudian ia
juga menyarankan agar dirinya, Prabowo, harus menggantikan Wiranto agar ia
dapat mempunyai kekuasaan yang lebih besar untuk melindungi Habibie.
Pada malam harinya, Sabtu itu juga, juru bicara ABRI, Brigjen
Mokodongan membacakan pernyataan pers resmi yang menyambut pernyataan yang
sebelumnya di buat oleh Nu, yang menyerukan agar Soeharto lengser ke prabon.
Prabowo lalu bergegas ke rumah Soeharto dengan membawa pernyataan pers itu.
Soeharto, yang jelas merasa sengit, memanggil Wiranto untuk memberikan
penjelasan kepadanya. Wiranto pun mencari selamat dan mengatakan bahwa semuanya
hanyalah kesalahpahaman.
Soeharto lain
daripada yang lain biasanya, mulai panic. Ia memanggil Jenderal Subagyo dan
menawarkan kepadanya jabatan Palima Kopkamtib. Jelaslah bahwa Soeharto, bahkan
pada saat-saat terakhir, masih berharap bahwa ia mengagalkan sentiment yang
menentangnya di kalangan militer dengan memecahbelah ABRI. Subagyo, demikian
yang dilaoprkan, dengan hampir menangis, menolak tawaran itu. Satu jam kemudian
Wiranto bertemu dengan Soeharto dan kemudian bergegas ke Mabes ABRI untuk
mengadakan rapim darurat. Tidak jelas apakah ia telah tahu mengenai tawaran
menjadi panglima Kopkamtib itu dari Subagyo sendiri atau dari Soeharto. Pada
hari Senin malam, Soeharto meminta agar Nurcholish menemuinya di istana.
Nurcholish, sebagai mana bias tanpa tedeng aling-aling, menyatakan posisinya
dengan jelas “ yang di pahami oleh rakyat mengenai reformasi adalah anda turun
.” Soeharto menjawab: “takmaslaha. Saya telah memberikan pertanda mengenai hai
ini di Kairo.” Ia pun berjanji akan turun sesegera mungkin tetapi ia tidak
memberikan kepastian waktunya.
Jelashlah bahwa
usaha Soeharto untuk memecah belah oposisi muslim gagal. Sebelumnya, Nurcholish
telah bertemu dengan Amien di rumah Malik Fadjar untuk membicarakan pertemuan
ini. Sebagai hasilnya, kesembilan orang ini membentuk suatu front bersatu.
Semua menolak bergabung dengan komite reformasi bentukan Soeharto atau menerima
kedudukan di susunan kabinetnya yang baru. Nurcholish sekali lagi memberitahu
Soeharto dengan terbuka dan sopan: “anda harus mengakhiri masa kepresidenan
Anda dengan anggun dan terhormat, bukan dengan cara Amerika Latin. Janganlah
mengulang persitiwa 1965-1966.
Dalam menaggapi
permintaan agar ia mengundurkan diri, soeharto menjawab bahwa bila ia melakukan
hal itu berarti Habibie akan naik menjadi presiden, dan “yang menjadi masalah
apakah ia mampu.” Kemudian Soeharto mengulangi kepada media Kekhawatiranannya
bahwa habibie belum mampu menduduki jabatan Presiden. Soeharto meminta
kesembilan pemimpin muslim itu untuk paling tidak memberikan sedikit dukungan
kepada dirinya. Ketika mereka semua menolak untuk duduk di komite refrormasi
atau kabinetnya, soeharto meminta agar mereka berdiri di belakangnya sewaktu ia
membacakan usulan agenda reformasi kepada seluruh bangsa lewat siaran langsung
TV. Karena mereka tahu bahwa kalau permintaan ini dituruti maka hal itu akan
berarti bahwa mereka mendukung soeharto, maka mereka menolak.
Amien Rais
bersikap kritis terhadap kinerja Gus Dur dalam pertemuan itu. Gus dur
membiarkan Nurcholish yang lebih banyak berbicara dan ketika dibicarakan
masalah soeharto lengser malah ia bergurau mengenai apakah mereka benar-benar
menyerukan agar soeharto turun. Menurut Amien, sikap Gus Dur saat itu jelas
menunjukan sifat-sifat seorang penjilat. Akan tetapi Gus dur sendiri membela
diri dengan menggunakan dalih budaya untuk menjelaskan sikapnya itu. Oleh
karena pisau sudah ditusukan kesisi Soeharto maka tak perlu lagi pisau itu di
putar agar pekerjaan selesai. Dalam keadaan seperti itu, demikian penjelasan
Gus Dur, orang harus menunjukan sikap sopan yang anggun. Namun Gus Dur masih
mempunyai hal lain di benaknya. Ia masih khawatir Soeharto akan menyalahi
janjinya untuk turun dan mungkin saja memutuskan untuk “terus tempur” sehingga
suatu konfrotasi berdarah menjadi hal yang mungkin saja terjadi.
Amien berekasi
dengan mengancam untuk menghadirkan satu juta orang di jalan-jalan raya
keesokan harinya. Hanya, pada saat-saat terakhir ia membatalkan rencana itu dan
itu pin setelah ia menerima pesan pribadi dari Jendral Kivlan Zein, seorang
teman dekat Prabowo, yang memperingatkannya bahwa akan benar-benar ada
konfrontasi berdarah seandainya ia terus melaju dengan rencananya berdemonstrasi
dengan satu juta orang. Bahkan para banker yang paling konservatif dan setia
kepada Soeharto pun dapat menagkap sinyal keadaan presiden dan dengan nekat
mencari kesempatan untuk bertukar kapal. Suatu perkembangan yang dramatic
terjadi ketika Ginanjar Kartasamita, salah satu teknikrat Soeharto yang setia
dan menko ekonominya yang terpercaya, membawa 13 anggota kabinet dan
mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mengundurkan diri dari kabinet Soeharto.
Malam itu, Soeharto bertemu Habibie dan keduanya terlibat dalam percakapan.
Setelah berhenti
menjabat sebagai presiden, Gus Dur tidak berhenti untuk melanjutkan karier dan
perjuangannya. Pada tahun 2002 ia menjabat sebagai penasihat Solidaritas Korban
Pelanggaran HAM. Dan pada tahun 2003, Gus Dur menjabat sebagai Penasihat pada
Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional.Tahun 2004, Gus Dur kembali berupaya untuk
menjadi Presiden RI. Namun keinginan ini kandas karena ia tidak lolos
pemeriksaan kesehatan oleh Komisi Pemilihan Umum. Pada Agustus 2005 Gus Dur
menjadi salah satu pimpinan koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara
Bangkit Bersatu. Bersama dengan Tri Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan
Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono.
Pada 1 Februari,
DPR bertemu untuk mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Di Jakarta, oposisi Gus
Dur turun menuduhnya mendorong protes tersebut. Gus Dur membantah dan pergi
untuk berbicara dengan demonstran di Pasuruan. Pada bulan Maret, Gus Dur
mencoba membalas oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Pada 30 April,
DPR mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang Istimewa MPR pada 1
Agustus. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya
beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001.
Namun dekret tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara
resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri. Setelah itu Gus Dur menderita banyak
penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita
gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau
ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia
mengalami serangan stroke. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Beliau meninggal dunia pada hari Rabu, 30
Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45
akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama.
Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis(cuci darah) rutin. Menurut
Salahuddin Wahid adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri. Seminggu
sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan
perjalanan di Jawa Timur.


No comments:
Post a Comment