About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Saturday, 2 May 2015

Apakah Soekarno Terlibat Peristiwa G 30 S

Identitas Mahasiswa
Nama
: YOKO SUPRIYANTO
NIM
: 3101412070
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B

A.      Identitas Buku.
Judul                                : Apakah Soekarno Terlibat Peristiwa G 30 S
Penulis                              : Kerstin Beise
Pengantar                         : Asvi Warman Adam
Penerbit                            : Ombak
Tahun Terbit                     : 2004
Jumlah Halaman               : xxxi halaman dan 496 halaman: 14.5* 21.5

B.       Sinopsis Buku.

APAKAH SOEKARNO TERLIBAT PERISTIWA G 30 S
Jika pertanyaannya adalah apakah soekarano tidak terliabt peristiwa G30S 1965? Maka kemungkinan jawaban ilmiahnya, tidak mudah untuk mengatakan seokarno tidak terlibat, karena data yang tersedia tidak cukup meyakinkan untuk dipahami bahwa soekarno tidak dibalik semua peristiwa itu. Peristiwa G30S/1965 mungkin hanya secercah riak dilautan sejarah dunia dari masa ke masa. Tetapi bagi bangsa indonesia, peristiwa itu menjadi watershed, pembatasan antara rezim lama dan rezim baru.  Pengantar ini tidak memberikan penilaian tentang kedua masa itu, misalnya apakah masa orde baru lebih buruk atau lebih baik dari masa orde lama.
Peristiwa G30S/1965 mungkin hanya secercah riak di lautan sejarah
dunia dari masa ke masa. Tetapi bagi bangsa Indonesia, peristiwa ini  menjadi watershed, pembatas antara rezim lama dengan rezim baru.  Menandai perubahan besar dan drastis dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Yang perlu dicatat pula bahwa perubahan itu terjadi sekaligus. Dari waktu ke waktu dalam perjalanan sejarah  bangsa ini memang telah berlangsung perubahan, namun setelah  Indonesia merdeka, revolusi total secara serempak itu hanya terjadi pada tahun 1965. Dengan seketika, pada bidang politik luar negeri, Indonesia yang menjadi ujung tombak gerakan non-blok berubah jadi anak manis blok Barat. Ekonomi berdikari berubah jadi ekonomi pasar dan mengandalkan modal asing serta pinjaman luar negeri. Masyarakat yang dulu terbagi dalam kubu-kubu ideologis tiba-tiba menjadi anti politik dan berebut mencicipi kue pembangunan. Kedudukan militer  dalam kancah politik nasional disahkan dan dilanggengkan. Sastra dan  seni yang bersifat heroik dan merakyat berganti dengan budaya pop yang cengeng.
     Soekarno dijatuhkan dan diganti oleh soeharto. Tapi peralihan kekuasaan ini penuh intrik dan berlumuran darah. Setengan juta orang menjadi korban menjelang pergantian tahun 1965/1966. TAP MPRS no XXXIII/1967 menyebutksan bahwa “ ada prtunjuk- petunjuk, yang presiden soekarno telah melakukan kebijakan yang secara tidak langsung menguntungkan G30S/PKI”. Menjelang periungatan 100 tahun kelahiran soekarno tahun 2001 telah muncul tuntutan agar nama baik bung karno direhabilitas seperti dilakukan oleh partono karnen.
     Menurut Kerstin terdapat beberapa teori tentang dalang G30S yaitu 1)
PKI, 2) Perwira Progresif, 3) AD dan Soeharto, 4) CIA, 5) Chaos atau  dalangnya tidak tunggal, dan 6) Soekarno. Tidak jelas mengapa  penggolongannya seperti ini. Kenapa AD digabungkan dengan Soeharto ?  Kalau BK menjadi kategori tersendiri kenapa Soeharto tidak
diperlakukan sama. Bahkan belakangan ini "kudeta merangkak" Soeharto
semakin sering disebut. Di samping itu, bagian dari AD seperti Kodam  Diponegoro sebetulnya bisa juga dianggap sebagai kategori sendiri.  Demikian pula unsur luar negeri, bukan hanya CIA tetapi dinas rahasia Inggris pun disebut-sebut ambil andil dalam penghancuran komunis.
     Peristiwa 65 tak ubahnya segumpalan benang kusut yang salah satu simpilnya dicoba diuraikan oleh kerstin dengan serius. Menurut kerstin terdapat beberapa teori tentang dalang G30S yaitu 1) PKI, 2) perwira progresif, 3) AD dan Soeharto, 4) CIA, 5) chaos atau dalangnya tidak tunggal, 6) soekarno. Namun kerstin masih memiliki kecurigaan dengan kehadiran dan sikap soekarno selama di halim. Pada mamal hari tanggal 30 septembar 1965 bung karno tidak tahu secara persis tindakanyang di ambil prajurit cakra birawa terhadap beberapa jendral. Tetapi peran soekarno yang sangat aktif menggalang solidaritas dan kekuatan antar negara berkembang/ non blok serta kecamannya yang sangat keras terhadap amerika serikat perlu dikemukakan dalam berbagai latar belakang.
     Terlepas dari berbagai hal yang masih diperdebatkan diatas, buku kerstin patut dihargai. Ia dengan tekun menganalisis segal;a jenis aspek yang terkait dengan tekun menganalisis peristiwa sebelumnya, pada dan sebelum peristiwa G30 S. Sebagai sebuah skripsi mutunya melebihi tesis dan bahkan bisa disetarakan dengan desertasi doktoral ilmu humaniora indonesia.  Laporan yang ditulis oleh sebuah tim resmi mengenai peristiwa 1965 mungkin saja tidak sebagus karya kerstin beise. Pembaca indonesia sangat beruntung dengan kehadiran buku seorang jerman yang meneliti dan menulis karya akademis di sebuah universitas di tanah air. Kita mengharapkan munculnya lebih banyak lagi buku atau tulisan mengenai tahun1965. Tentang suatu masa yang digelapakan oleh rezim orde baru.
     Peristiwa Gerakan 30 September (G-30-S) 1965 dan epilognya berupa pembunuhan massal terhadap lebih setengah juta orang Indonesia yang dianggap sebagai simpatisan partai komunis merupakan satu di antara peristiwa kontroversial yang terus menerus menjadi sorotan para ilmuwan sosial dan politik dari berbagai negara. Pusat perdebatan berkisar pada setidaknya tiga persoalan penting : (1) Sifat dan tujuan gerakan yang kacau dan penuh pertentangan, apakan gerakan itu merupakan pemberontakan dalam institusi militer ataukah sebuah perebutan kekuasaan terhadap pemerintah (kudeta). (2) Siapa penggerak utama gerakan dan apa peran Presiden Sukarno dalam kejadian tersebut, karena isu keterlibatan tersebut bagaimanapun telah dijadikan salah satu alasan jatuhnya Sukarno dari kekuasaan. (3) Terjadinya pembantaian besar-besaran pasca G-30-S yang menyertai pembersihan terhadap kaum komunis oleh militer dan kelompok-kelompok anti-komunis lain.
Puluhan atau ratusan tulisan berupa buku dan artikel telah ditulis dalam rangka memecahkan misteri yang masih menyelimuti kejadian tragis tersebut. Akan tetapi harus diakui bahwa sebagian besar dari tulisan yang ada masih terjebak dalam prasangka ideologis yang kuat atau hanya mengulangi dan memperkuat tesis yang sudah pernah dihasilkan penulis atau ilmuwan lain.
Berikut ini adalah sejumlah karya yang saya anggap terbaik dan mendekati objektivitas dalam melukiskan peristiwa itu, serta memberikan kontribusi pemahaman baru bagi semua orang yang ingin mengetahui lebih dalam peristiwa G-30-S tahun 1965. Pengertian mendekati objektif di sini bukan berarti pasti benar, melainkan bahwa mereka menyajikan data secara seimbang, tidak memulai kajian dengan kesimpulan di tangan dan berupaya jujur dalam menganalisis temuan-temuan faktual yang ada.
     Dalam peristiwa G30S terdapat banyak unsur yang masih perlu diteliti dengan mendalam dan obyektif, mulai dari keterlibatan PKI sampai kepada peran soeharto.sejak tahun 1965 diluar negeri tulisan- tulisan mengenai peran seokarno dalam peristiwa G30S muncul dalam jumlah besar misalanya langenberg menemui 232 sumber yang membahas G30S dan pendapat p[endapat mengenai ikut sertanya peran soekarno jauh berbeda. Bahkan dibawah peran Orde baru di indonesia peran Soekarno tidak dilukiskan dengan seragam.
     Pada tahun 1965 indonesia berada dalam tahun ke 6 demokrasi terpimpin. Dengan demokrasi terpimpin yang mengembalikan Undang undang dasar 1945 yang mengembalikan Undang- undang dasar 1945, maka Soekarno sebagai presiden memperkuat posisinya terhadap parlemen yang pada masa sebelumnaya terpaksa ia lepaskan. Disamping soekano ada dua kekuatan lain lagi, yaitu PKI dan angkatan bersenjata republik indonesia khususnya AD. Unsur sentral dalam sistem politik soekarno adalah menjaga keseimbangan kedua kekuatan itu, dengan menempatkan dirinya di tengah untuk mengontrol semua pihak. Pada saat yang sama soekarno semakin mendekati PKI. Gagasan gagasan politik seperti angkatan ke 5 dan nasakomisasi dalam semua bidang termasuk militer.
     Pada pagi hari tanggal 1 oktober 1965 rumah- rumah tuju jendral tinggi oleh anggota militer, jendral- jendral itu ditangkap dan dengan truk truk di bawa kelubang buaya yang letaknya dekat pangkalan Angkatan Udara Republik Indonesia. Setelah kudeta penghancuran PKI dan penurunan Soekarno dimulai secara bertahap. Orde lama berakhir dan digantikan Orde Baru. PKI dibubarkan soeharto sehari sesudah Soekarno terpaksa menandatangani dokumen Supersemar pada tanggal 11 maret 1966. Setelah gagalnya kudeta, para penguasa baru secara langsung menuduh pki sebagai dalang G30S. PKI menciptakan isu- isu mengenai adanya sebuah Dewan jendral dan keseriusan penyakit soekarno untuk mempengaruhi anggota anggota ABRI bahwa sebuah Kudeta Mendahului harus dilakukan untuk menyelamatkan Soekarno dan revolusi.
     Kegagalan PKI desebabkan oleh intervensi soeharto yang berani menyelamatkan Indonesia dan Pancasila. Kegagalan itu juga disebbkan soekarno yang tidak memberikan dukungan penu, serta soeharto yang sebelumnya memberikan dukungan penuh, serta soeharto yang sebelumnya dinilai netral atau mendukung kelompo untung tetapi ternyata melawannya. Sejak tahun 1967 wertheimmelihat kemungkinan keterlibatan AD, dan adapun penulisan- penulisan dari luar dan dalam negeri yang sama pendapatnya. Soeharto bertindak bermuka dua di satu sisi ia bersama kubu yani memprovokasi PKI untuk melakukan “ kudeta mendahului”, di sisi lain ia mendukung kelompok untung dan tokoh tokoh PKI untuk mencegah kudeta dewan jendral. Keterlibatan CIA versi ini cukup sulit untuk dibuktikan karena suatu komplotan yang diadakan oleh sebuah dinas rahasia. Namun, terdapat sejumlah petunjuk dalam bentuk telegram, surat, wawancara dan perjanjian kerjasama, misalnya penggulingan pemerintahan sosialis.
     Teori ini mengatakan bahwa Setelah gagalnya kudeta, para penguasa baru secara langsung menuduh PKI sebagi dalang G30S, tuduhan ini dijadikan versi resmi masa orde baru. Versi ini didukung oleh sebagian besar, namun tidak semua penulis Indonesia (khususnya selama Orba: misalnya Notosusanto 1968 dan Sulastomo 1989), serta sejumlah penulis barat (khususnya yang dekat pemerintah AS). Teori menjelaskan bahwa motif dari pelaku untuk membuat peristiwa yang menggemparkan dunia ini adalah Pengambilalihan kekuasaan untuk mendirikan sebuah negara komunis. PKI “dituduh” akan mendirikan Negara tandingan atau membuat Negara ini menjadi suatu Negara yang beraliran komunis.
Indikasi yang memberikan kecendrungan atau memberikan kayakinan terhadap pencetus teori ini adalah bahwa antara lain adalah hasil-hasil sidang pengadilan kelompok untung dan anggota-anggota PKI yang diadakan pada tahun-tahun sesudah kudeta (misalnya pengakuan/kesaksian Sjam, Njono, Sudisman, Peris Pardede, Dani, Supardjo). Petunjuk lainadalh posisi PKI sebelum kudeta yang semakin kuat dan “tradisi” PKI dalam melakukan pemberontakan-pemberontakan, kehadiran aidit di Halim dan keterlibatan pemuda Rakyat dalam kegiatan di Kota, serta edisi Koran PKI harian rakyat pada tanggal 2 oktober 1965 yang mendukung kudeta.
     Peristiwa 1 oktober 1965 yang berdalih menyelamatkan Soekarno sebenarnya ditujukan kepada perwira-perwira utama yang berada dalam “faksi tengah”. Dengan demikian menurut “Cornell Paper”, akan melapangkan jalan bagi perebutan kekuasaan oleh kekuatan sayap kanan AD (Asvi Warman Adam. 2001: 123). Sedangkan W.F Wertheim dalam buku Whose Plot? New Light on The 1965 Event (1979) disamping mendukung versi di atas juga menambahkan bahwa Syam Kamaruzaman yang dalam buku putih sekneg disebut sebagai Kepala Biro Khusus Central PKI adalah “agen rangkap” yang bekerja untuk Aidit dan AD (Asvi Warman adam. 2007: 123)
Petunjuk-petunjuk untuk versi ini adalah pelaku AD (mungkin termasuk Suharto) adalah bahwa kudeta dapat ditumpas dengan amat gampang dan tanpa adanya perlawanan yang berarti. Komplotan Ad ini terbukti misalnya dalam ‘Jonas File’, dengan isu-isu dewan jenderal yang diciptakan oleh AD, dan dengan Sjam yang bekerja untuk Pimpinan AD (kubu Yani), mungkin bersama dinas rahasia barat, memprovokasi PKI untuk melakukan suatu ‘kudeta mendahului’: isu-isu palsu tentang dewan jenderal disebarkan, dan Sjam sebagai agen AD mengatur perencanaan kudeta PKI ini dengan keinginan AD. Kudeta PKI ini dengan mudah dapat ditumpas dan Negara ‘diselamkatkan’ oleh AD (Kerstin, 2004)
Apabila disimpulakan dari berbagai petunjuk dari teori yang dikatan dari berbagai sumber baghwa para jenderal yang konon merencanakan dan atau memprovokasi kudeta dibunuh dalam pelaksanaanya. Pimpinan AD tidak mengambil tindakan pengamanan guna menyiapkan diri untuk gerakan yang akan terjadi.
Menurut teori ini Suharto memiliki motif untuk menghancurkan PKI, menjatuhkan Sukarno, dan menyingkirkan kubu-kubu lain dalam AD. Selain itu Suharto juga berkeinginan menjadi pahlawan dan presiden.Indikasi keterlibatan Suharto adalah bahwa ia tidak termasuk dalam daftar para jenderal yang dibunuh. Akan tetapi, hal ini hal ini juga beralasan bahwa ia tidak dianggap dekaden, anti-PKI dan penting. Bahkan, para pendudkung versi Suharto ia berpura-pura mendukung kelompok Untung (Asvi Wraman Adam. 2007: 123)
Petunjuk-petunjuk lain adalah bahwa Suharto-lah yang paling diuntungkan oleh adanya kudeta, gedung kostrad tidak diduduki, walaupun letaknya di lapangan Merdeka, batalyon 454 dan 530 yang menjadi pasukan inti dalam pelaksanaan kudeta dipanggil ke jkarta oleh Suharto, dan ia pada musim panas 1965 mengunjungi semua divisi yang terlibat dalam kudeta, perwira-perwira kelompok untung semuanya akrab dengan Suharto. Pada malam sebelum kudeta, Latief mengunjungi Suharto di rumah sakit (dimana anaknya Hutomo Mandala Putra diobati). Menurut Latief, ia melaporkan rencana kudeta dan ia bakal didukung oleh Suharto. Namun setelahnya Suharto menjelaskan kunjungan ini dalam tiga versi yang berbeda, penjelasan Suharto pada malam kudetapun diragukan.
Adanya baik bukti maupun argumen yang berlawanan dan bertentangan dalam setiap versi ysng menyalahkan salah satu unsur tunggal. Disamping itu, situasi politik saat itu sangat rumit.  Keterlibatan Soekarno didasarkan pada sejumlah Ada fakta-fakta yang sudah tidak dipersoalkan lagi seperti penculikan  jenderal dan kehadiran Presiden Soekarno di Halim pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965. Fakta-fakta yang diperiksa lebih mendalam  oleh Kerstin menyangkut masa sebelum, pada hari dan setelah kudeta.  Mengenai periode sebelum kudeta diuraikan tentang 1) hubungan  Soekarno dengan PKI, 2) hubungan Soekarno dengan AD, 3) Isu-isu yang  beredar (dokumen Gilchrist, Dewan Jenderal dan kesehatan BK, 4)  Kegiatan Soekarno menjelang kudeta.  Menyangkut kejadian selama kudeta, dibahas 1) Kegiatan Soekarno sebelum tiba di Halim, 2) Kronologi kejadian  di Halim 1 Oktober 1965,  3) Laporan Soepardjo dan reaksi Soekarno, 4) Soekarno di mata kelompok Untung, 5) Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan di Halim,  6) Pengangkatan Pranoto, 7) Keberangkatan dari Halim.
Seperti yang diuraikan diatas, maka peran soekarno dalam G30S dapat dilihat dari berbagai sisi: baik motivasi maupun petunjuk petunjuk dan tingkat keterlibatannyabisa dinilai dengan jauh berbeda. Dari karangan karangan mengenai peristiwa G30S yang sangat banyak ini perlu banyak dipilih beberapa tulisan saja yang dapat diteliti.
Soekarno menciptakan sebuah keseimbangan mengenai antar AD dan PKI, dengan menempatkan dirinya ditengah guna mengontrol kedua belah pihak ini. PKI yang tidak sabar lagi menuntut ralisasi gagasan Angkatan ke 5 dan Nasakom dengantujuan memperluas kekuasannya. PKI melibatkan dirinya dalam Kudeta, karena beranggapan bahwa dengan ini dapat mengikuti  kebijaksanaan soekarno. Awalnaya soekarnolah yang menguasi PKI, tetapi pada taun 1965 situasi tersebut sudah berubah. Ide dari mempersenjatai buruh pun dicetuskan oleh DN Aidit. PKI bekerjasama dengan soekarno untuk melemahkan musuh bersama. Maksud soekarno untuk gagasan Nasakomadalah kerjasama antara alira aliran, bukan kekuasaan salah satu aliran. Dengan nasakom secara intitusional, yang secara berangsur angsur didukung oleh soekarno, berarti PKI yang diuntungkan. Ide angkatan ke 5 oleh Aidit dengan alasan melindungi bangsa Indonesia. PKI dengan persetujauan Soekarno mempropagandakan anglkatan ke 5 guna menyelamatkan revolusi Indonesia. Disamping jalan parlementer, PKI juga menerapkan jalan Revolusioner untuk membangun komunisme. Soekarno mengiginkan persatuan nasakom dan sebuah kabinet gotong royong termasuk PKI, tetapi AD mencegahnya guna menyingkirkan PKI.
Tak seorang pun penulis menggambarkan soekarno sebagai komunis, walaupun ia dekat dengan dan memihak PKI. Sebagaian besar penulis berpendapatan bahwa soekarno tidask ingin memberikan kekuasan kepada PKI. Para penulis dari kelompok I dan II/luar cukup yakin bahwa soekarno memikirkan tindakan keras terhadap AD. Semua penulis bersepakat bahwa terjadi konflik antara soekarno dan AD. Akan tetapi, pada umumnyaAD tidak mempunyai kemampuan untuk menjatuhkan soekarno walaupunn soekarno berlawanan sevcara politik. Apakah memang benar ada sebuah isu dewan jendral yang mendiskusikan dan rencana kudeta? Apakah soekarno dipengaruhi isu dewan jendral itu dan mempercayai atas keberadaannya. Akan tetapi terdapat banyak penulis yang tidak memberikan keterangan mengenai hal ini. Sumber yang disebutkan adalah sudisman dan soebandrio dalam pengadilan.
Menjelang kudeta, Sukarno semakin memihak kepada PKI dan dalam politiknya semakin bertentangan dengan oposisi, terutama AD. Terdapat sejumlah kegiatan Suakrno yang bisa dicurigai sebagai perencanaan kudeta dengan tujuan mengakhiri oposisi. Kebanyakan kegitan yang demikian dikutip oleh Dake (1973) berdasarkan keterangna ajudan Sukarno, Wijanarko di depan pengadilan.
Keberadaan Sukarno di Halim yang digunakan sebagi markas kelompok Untungselam kudeta berjalan dan sikapnya selama di Halim dianggap sebagi petunjuk atas keterlibatnya. Sukarno memerintahkan orang-orang yang dipercayainya untuk menyiapkan dan melaksanakan penculikan para jenderal. Dake (1973) dan Soerojo (1988) berpendapat bahwa pembunuhan para jenderal juga dilakukan berdasarkan perintah Sukarno. Pada hari berikutnya, ia sendiri ke Halim untuk mengendalikan situasi.direncanakan mengumumkan melalui RRI bahwa sebuah dewan Jenderal yang merencanakan kudeta terhadap pemerintahan tlah dinetralisasi, dan bahwa presiden aman dan bertugas seperti biasa. Keberatan: Petunjuk-petunjuk atas kegiatan Sukarno yang mencurigakan dianggap tidak dapat dipercayai. Tafsiran dan perilaku Sukarno, terutamanya yang dikemukakan oleh Dake dianggap subyektif. Motivasi Sukarno untuk melakukan kudetapun diangggap tidak ada.

Ada fakta-fakta yang sudah tidak dipersoalkan lagi seperti penculikan  jenderal dan kehadiran Presiden Soekarno di Halim pada pagi hari  tanggal 1 Oktober 1965. Fakta-fakta yang diperiksa lebih mendalam  oleh Kerstin menyangkut masa sebelum, pada hari dan setelah kudeta.  Mengenai periode sebelum kudeta diuraikan tentang 1) hubungan  Soekarno dengan PKI, 2) hubungan Soekarno dengan AD, 3) Isu-isu yang  beredar (dokumen Gilchrist, Dewan Jenderal dan kesehatan BK, 4)  Kegiatan Soekarno menjelang kudeta.
Menyangkut kejadian selama kudeta, dibahas 1) Kegiatan Soekarno  sebelum tiba di Halim, 2) Kronologi kejadian di Halim 1 Oktober 1965,  3) Laporan Soepardjo dan reaksi Soekarno, 4) Soekarno di mata  kelompok Untung, 5) Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan di Halim, 6) Pengangkatan Pranoto, 7) Keberangkatan dari Halim.
Kemudian uraian dilanjutkan dengan menganalisis 1) Sikap
Soekarno setelah kudeta, 2) Persepsi orang lain terhadap Soekarno dan 3 Tingkat Keterlibatan Soekarno. Berdasarkan perbandingan 22 sumber mengenai topik-topik di atas,
 Kerstin mengakui bahwa "gambar mengenai peran Bung Karno menjadi  semakin kabur". Bahkan ia mengakui bahwa buku Legge menyimpulkan hal  yang paling obyektif yaitu "peran Soekarno tidak jelas". Namun Kerstin masih memiliki sedikit kecurigaan dengan kehadiran dan sikap Soekarno selama di Halim. Oleh sebab itu ia  menulis "Keterlibatan BK tidak dapat dibuktikan, tetapi ketidakterlibatan (secara penuh) juga tidak dapat dibayangkan". Lepas  dari itu, penulis asal Jerman ini mengakui bahwa tidak satu pun dari 22 penulis buku/makalah/laporan yang ditelitinya yang menganggap Soekarno seorang komunis. Bahkan tidak ada yang menganggap BK sebagai dalang peristiwa itu kecuali Dake dan Hughes.
Setelah tidak berhasil secara historis membuat kesimpulan mengenai
keterlibatan BK, Kerstin malah melompat kepada persoalan moralitas. "Tingkah laku BK setelah kudeta tidak membuktikan keterlibatannya atau ketidakterlibatannya dalam kudeta melainkan memperlihatkan sikap penguasa yang tidak bertanggungjawab" . "BK
 tidak tegas menghindari dan mengakhiri gerakan ini". Meskipun "BK  tidak terlibat secara mendalam namun dinilai bersikap oportunis".
Kerstin mempersoalkan kenapa "BK sehari penuh berada di markas besar
kelompok Untung". Kerstin tampaknya kurang mengerti alasan BK ke
Halim. "Pada saat di Halim BK tidak secara langsung dan dengan tegas  memisahkan diri dari sebuah kelompok yang ternyata baru membunuh  sejumlah orang. Apapun alasan BK tidak mengutamakan moralitas tinggi melainkan bertindak taktis. Mungkin ia berniat baik, tetapi tujuan baik mana yang membenarkan kerjasama dengan pembunuh ?".
Pada malam hari tanggal 30 September 1965 Bung Karno tidak tahu  secara persis tindakan yang diambil prajurit Cakrabirawa terhadap beberapa Jenderal. Ia juga baru tahu tentang "adanya darah di rumah Yani" setelah mendengar laporan dari Soepardjo pagi hari itu Soekarno langsung memerintahkan agar gerakan itu dihentikan. Soekarno masih berada di Halim karena ia harus memutuskan tentang pergantian pimpinan AD yang menjadi lowong dengan hilangnya para Jenderal itu. Sayang sekali, Kerstin tidak sempat membaca buku kumpulan pidato Soekarno tahun 1965-1967 yang terbit tahun 2003[11]. Padahal melalui pidato itu dapat diketahui lebih banyak tentang sikap Soekarno
mengenai peristiwa tersebut serta apa yang terjadi setelahnya.
Bila informasi mengenai kejadian kejadian dan tindakan-tindakan soekarno pada tanggal 1 oktober 1965 di halim, yang disampaikan oleh para penulis dibandingkan, kita dapat memperoleh suatu pola dasar yang kasar saja: soekarno menerima laporan tentang kudeta, ia memerintahkan agar kekerasan dihentikan, namun ia tidak mengambil tindakan melawan kelompok untung. Saat tibanya soekarno di halim disebutkan dengan hampir sama, yaitu antara pukul 9.00 dan 9.30. beberapa penulisa mengatakan bahwa soekarno awalnya berada koops AURI, lalu pindah ke rumah komodor susanto. Menurut sebagian besar penulis soekarno tidak ketemu dengan aidit, sjam, latief, dan anggota- anggota kelompok untung lin di halim, melainkan dengan soepardjo dan/ atau dani saja
Susunan kronologis mengenai kegiatan- kegiatan soekarno dan orang di sekitarnya di halim kurang tepat dan penuh pertentangan. Ternyata tidak ada catatan resmi, sehingga bahkan saat penggumunan pengumuman di RRI disebutkan dengan berbeda. Apakah soekarno dipengaruhi kejadian- kejadian tertentu, atau apakah perkembangan dihalim dipengaruhi soekarno, hal hal itu sangat susah diselidiki dan dibuktikan, karena fakta- fakta yang tepat mengenai saat kejadian tidak ada. Sebuah hubungan antara pendapat para penulis dalam hal ini dengan versi G30S yang mereka wakili masing masing pada umumnya tidak ada. Agaknya kronologi- kronologi ini pada pokoknya disusun tergantung informasi apa saja yang didapatkan masing masing penulis ( sayangnya kebanyakan tanpa keterangan mengenai sumbernya. Soekarno mendapatkan informasi lolosnya nasution hal inihampir dikatakan oleh kelompok I dan II, tetapi oleh satu wakil kelompok IV saja. Disamping informasi mengenai tindakan- tindakan dan ungkapan-ungkapan soekarno atas laporan supardjo terdapat juga sejumlah uraian mengenai sikap soekarno atas laporan ini. Seandainya soekarno tidak terlibat dalam kudeta, maka mengapa kelompok untung melapor kepada soekarno. Sifat hubungan kelompok untung dan soekarno dalam kudeta digambarkan dalam berbagai bentuk.

Secara teoritis ada beberapa motivasi yang mungkin mendorong soekarno untuk melibatkan diri dalam kudeta. Setiap kemungkinan mengenai cara keterlibatan soekarno yang awalanya diuraikan secara teoritis. Mungkin soekarno memang baru mengetahui mengenai kudeta sesaat sebelumnya atau waktu ia di halim, dan ia berusaha untuk memanfaatkan situasi sebaik mungkin untuk diri sendiri dan/ atau untuk negara. Perbandingan perbandingan analisis dan dokumentasi dokumentasi dari 22 penulis yang dilakukan dalam buku ini, menambah keraguan mengenai peran soekarno dalam G30S. Keterlibatannya tidak dapat dibuktikan, tetapi keterlibatannhya juga sudah dibayangkan.
Soekarno pada masa sekarang dihormati sebagai bapak bangsa dan tokoh berpengaruh dalam sejarah indonesia. Akan tetapi, perannya dalam sejarah Indonesia, misalnya Kesempatan pada perayaan ulang tahun Soekarno Ke 100 tidak digunakan oleh koran-koran untuk membahas peran Soekarno dalam G30S secara mendalam. Namun bila masyarakat ditanya, maka pada umumnya muncul dugaan bahwa soekarno barang kali terlibat dalam kudeta yang dilakukan PKI yang jahat itu, karena informasi pada masa orde baru memang demikian.

Belum ada upaya untuk menjelaskan dugaan itu dan untuk menyelesaikan teka teki G30S dan peran soekarno, dan dokumen dokumen masih tertutup dan terkunci. Selama peran soekarno dalam sejarah indonesia tidak diteliti secara lengkap, selama itu pula kehormatan yang diberikan kepadannya hanya merupakan propaganda untuk kepentingan tertentu.hanya jika soekarno diketahui dengan kebijaksanaan yang baik dan yang buruk, maka ia dapat memberikan contoh yang penting untuk masa depan, karena kita dapat belajar dari keberhasilan dan kesalahannya.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...