![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: YOKO SUPRIYANTO
|
|
|
NIM
|
: 3101412070
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku.
Judul :
Apakah
Soekarno Terlibat Peristiwa G 30 S
Penulis : Kerstin Beise
Pengantar :
Asvi Warman Adam
Penerbit :
Ombak
Tahun
Terbit :
2004
Jumlah
Halaman :
xxxi halaman dan 496 halaman: 14.5* 21.5
B.
Sinopsis Buku.
APAKAH SOEKARNO
TERLIBAT PERISTIWA G 30 S
Jika
pertanyaannya adalah apakah soekarano tidak terliabt peristiwa G30S 1965? Maka
kemungkinan jawaban ilmiahnya, tidak mudah untuk mengatakan seokarno tidak
terlibat, karena data yang tersedia tidak cukup meyakinkan untuk dipahami bahwa
soekarno tidak dibalik semua peristiwa itu. Peristiwa G30S/1965 mungkin hanya
secercah riak dilautan sejarah dunia dari masa ke masa. Tetapi bagi bangsa
indonesia, peristiwa itu menjadi watershed, pembatasan antara rezim lama dan
rezim baru. Pengantar ini tidak
memberikan penilaian tentang kedua masa itu, misalnya apakah masa orde baru
lebih buruk atau lebih baik dari masa orde lama.
Peristiwa
G30S/1965 mungkin hanya secercah riak di lautan sejarah
dunia dari masa ke masa. Tetapi bagi bangsa Indonesia, peristiwa ini menjadi watershed, pembatas antara rezim lama dengan rezim baru. Menandai perubahan besar dan drastis dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Yang perlu dicatat pula bahwa perubahan itu terjadi sekaligus. Dari waktu ke waktu dalam perjalanan sejarah bangsa ini memang telah berlangsung perubahan, namun setelah Indonesia merdeka, revolusi total secara serempak itu hanya terjadi pada tahun 1965. Dengan seketika, pada bidang politik luar negeri, Indonesia yang menjadi ujung tombak gerakan non-blok berubah jadi anak manis blok Barat. Ekonomi berdikari berubah jadi ekonomi pasar dan mengandalkan modal asing serta pinjaman luar negeri. Masyarakat yang dulu terbagi dalam kubu-kubu ideologis tiba-tiba menjadi anti politik dan berebut mencicipi kue pembangunan. Kedudukan militer dalam kancah politik nasional disahkan dan dilanggengkan. Sastra dan seni yang bersifat heroik dan merakyat berganti dengan budaya pop yang cengeng.
dunia dari masa ke masa. Tetapi bagi bangsa Indonesia, peristiwa ini menjadi watershed, pembatas antara rezim lama dengan rezim baru. Menandai perubahan besar dan drastis dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Yang perlu dicatat pula bahwa perubahan itu terjadi sekaligus. Dari waktu ke waktu dalam perjalanan sejarah bangsa ini memang telah berlangsung perubahan, namun setelah Indonesia merdeka, revolusi total secara serempak itu hanya terjadi pada tahun 1965. Dengan seketika, pada bidang politik luar negeri, Indonesia yang menjadi ujung tombak gerakan non-blok berubah jadi anak manis blok Barat. Ekonomi berdikari berubah jadi ekonomi pasar dan mengandalkan modal asing serta pinjaman luar negeri. Masyarakat yang dulu terbagi dalam kubu-kubu ideologis tiba-tiba menjadi anti politik dan berebut mencicipi kue pembangunan. Kedudukan militer dalam kancah politik nasional disahkan dan dilanggengkan. Sastra dan seni yang bersifat heroik dan merakyat berganti dengan budaya pop yang cengeng.
Soekarno dijatuhkan dan diganti oleh
soeharto. Tapi peralihan kekuasaan ini penuh intrik dan berlumuran darah.
Setengan juta orang menjadi korban menjelang pergantian tahun 1965/1966. TAP
MPRS no XXXIII/1967 menyebutksan bahwa “ ada prtunjuk- petunjuk, yang presiden
soekarno telah melakukan kebijakan yang secara tidak langsung menguntungkan
G30S/PKI”. Menjelang periungatan 100 tahun kelahiran soekarno tahun 2001 telah
muncul tuntutan agar nama baik bung karno direhabilitas seperti dilakukan oleh
partono karnen.
Menurut Kerstin terdapat beberapa teori
tentang dalang G30S yaitu 1)
PKI, 2) Perwira Progresif, 3) AD dan Soeharto, 4) CIA, 5) Chaos atau dalangnya tidak tunggal, dan 6) Soekarno. Tidak jelas mengapa penggolongannya seperti ini. Kenapa AD digabungkan dengan Soeharto ? Kalau BK menjadi kategori tersendiri kenapa Soeharto tidak
diperlakukan sama. Bahkan belakangan ini "kudeta merangkak" Soeharto
semakin sering disebut. Di samping itu, bagian dari AD seperti Kodam Diponegoro sebetulnya bisa juga dianggap sebagai kategori sendiri. Demikian pula unsur luar negeri, bukan hanya CIA tetapi dinas rahasia Inggris pun disebut-sebut ambil andil dalam penghancuran komunis.
PKI, 2) Perwira Progresif, 3) AD dan Soeharto, 4) CIA, 5) Chaos atau dalangnya tidak tunggal, dan 6) Soekarno. Tidak jelas mengapa penggolongannya seperti ini. Kenapa AD digabungkan dengan Soeharto ? Kalau BK menjadi kategori tersendiri kenapa Soeharto tidak
diperlakukan sama. Bahkan belakangan ini "kudeta merangkak" Soeharto
semakin sering disebut. Di samping itu, bagian dari AD seperti Kodam Diponegoro sebetulnya bisa juga dianggap sebagai kategori sendiri. Demikian pula unsur luar negeri, bukan hanya CIA tetapi dinas rahasia Inggris pun disebut-sebut ambil andil dalam penghancuran komunis.
Peristiwa 65 tak ubahnya segumpalan benang
kusut yang salah satu simpilnya dicoba diuraikan oleh kerstin dengan serius.
Menurut kerstin terdapat beberapa teori tentang dalang G30S yaitu 1) PKI, 2)
perwira progresif, 3) AD dan Soeharto, 4) CIA, 5) chaos atau dalangnya tidak
tunggal, 6) soekarno. Namun kerstin masih memiliki kecurigaan dengan kehadiran
dan sikap soekarno selama di halim. Pada mamal hari tanggal 30 septembar 1965
bung karno tidak tahu secara persis tindakanyang di ambil prajurit cakra birawa
terhadap beberapa jendral. Tetapi peran soekarno yang sangat aktif menggalang
solidaritas dan kekuatan antar negara berkembang/ non blok serta kecamannya
yang sangat keras terhadap amerika serikat perlu dikemukakan dalam berbagai
latar belakang.
Terlepas dari berbagai hal yang masih
diperdebatkan diatas, buku kerstin patut dihargai. Ia dengan tekun menganalisis
segal;a jenis aspek yang terkait dengan tekun menganalisis peristiwa
sebelumnya, pada dan sebelum peristiwa G30 S. Sebagai sebuah skripsi mutunya
melebihi tesis dan bahkan bisa disetarakan dengan desertasi doktoral ilmu
humaniora indonesia. Laporan yang
ditulis oleh sebuah tim resmi mengenai peristiwa 1965 mungkin saja tidak
sebagus karya kerstin beise. Pembaca indonesia sangat beruntung dengan kehadiran
buku seorang jerman yang meneliti dan menulis karya akademis di sebuah
universitas di tanah air. Kita mengharapkan munculnya lebih banyak lagi buku
atau tulisan mengenai tahun1965. Tentang suatu masa yang digelapakan oleh rezim
orde baru.
Peristiwa Gerakan 30 September
(G-30-S) 1965 dan epilognya berupa pembunuhan massal terhadap lebih setengah
juta orang Indonesia yang dianggap sebagai simpatisan partai komunis merupakan
satu di antara peristiwa kontroversial yang terus menerus menjadi sorotan para
ilmuwan sosial dan politik dari berbagai negara. Pusat perdebatan berkisar pada
setidaknya tiga persoalan penting : (1) Sifat dan tujuan gerakan yang kacau dan
penuh pertentangan, apakan gerakan itu merupakan pemberontakan dalam institusi
militer ataukah sebuah perebutan kekuasaan terhadap pemerintah (kudeta). (2)
Siapa penggerak utama gerakan dan apa peran Presiden Sukarno dalam kejadian
tersebut, karena isu keterlibatan tersebut bagaimanapun telah dijadikan salah
satu alasan jatuhnya Sukarno dari kekuasaan. (3) Terjadinya pembantaian
besar-besaran pasca G-30-S yang menyertai pembersihan terhadap kaum komunis
oleh militer dan kelompok-kelompok anti-komunis lain.
Puluhan atau ratusan tulisan berupa buku dan artikel telah ditulis dalam
rangka memecahkan misteri yang masih menyelimuti kejadian tragis tersebut. Akan
tetapi harus diakui bahwa sebagian besar dari tulisan yang ada masih terjebak
dalam prasangka ideologis yang kuat atau hanya mengulangi dan memperkuat tesis
yang sudah pernah dihasilkan penulis atau ilmuwan lain.
Berikut ini adalah sejumlah karya yang saya anggap terbaik dan mendekati
objektivitas dalam melukiskan peristiwa itu, serta memberikan kontribusi
pemahaman baru bagi semua orang yang ingin mengetahui lebih dalam peristiwa
G-30-S tahun 1965. Pengertian mendekati objektif di sini bukan berarti pasti
benar, melainkan bahwa mereka menyajikan data secara seimbang, tidak memulai
kajian dengan kesimpulan di tangan dan berupaya jujur dalam menganalisis
temuan-temuan faktual yang ada.
Dalam peristiwa G30S terdapat banyak unsur
yang masih perlu diteliti dengan mendalam dan obyektif, mulai dari keterlibatan
PKI sampai kepada peran soeharto.sejak tahun 1965 diluar negeri tulisan-
tulisan mengenai peran seokarno dalam peristiwa G30S muncul dalam jumlah besar
misalanya langenberg menemui 232 sumber yang membahas G30S dan pendapat
p[endapat mengenai ikut sertanya peran soekarno jauh berbeda. Bahkan dibawah
peran Orde baru di indonesia peran Soekarno tidak dilukiskan dengan seragam.
Pada tahun 1965 indonesia berada dalam
tahun ke 6 demokrasi terpimpin. Dengan demokrasi terpimpin yang mengembalikan
Undang undang dasar 1945 yang mengembalikan Undang- undang dasar 1945, maka
Soekarno sebagai presiden memperkuat posisinya terhadap parlemen yang pada masa
sebelumnaya terpaksa ia lepaskan. Disamping soekano ada dua kekuatan lain lagi,
yaitu PKI dan angkatan bersenjata republik indonesia khususnya AD. Unsur
sentral dalam sistem politik soekarno adalah menjaga keseimbangan kedua
kekuatan itu, dengan menempatkan dirinya di tengah untuk mengontrol semua
pihak. Pada saat yang sama soekarno semakin mendekati PKI. Gagasan gagasan
politik seperti angkatan ke 5 dan nasakomisasi dalam semua bidang termasuk
militer.
Pada pagi hari tanggal 1 oktober 1965
rumah- rumah tuju jendral tinggi oleh anggota militer, jendral- jendral itu
ditangkap dan dengan truk truk di bawa kelubang buaya yang letaknya dekat
pangkalan Angkatan Udara Republik Indonesia. Setelah kudeta penghancuran PKI
dan penurunan Soekarno dimulai secara bertahap. Orde lama berakhir dan
digantikan Orde Baru. PKI dibubarkan soeharto sehari sesudah Soekarno terpaksa
menandatangani dokumen Supersemar pada tanggal 11 maret 1966. Setelah gagalnya
kudeta, para penguasa baru secara langsung menuduh pki sebagai dalang G30S. PKI
menciptakan isu- isu mengenai adanya sebuah Dewan jendral dan keseriusan
penyakit soekarno untuk mempengaruhi anggota anggota ABRI bahwa sebuah Kudeta
Mendahului harus dilakukan untuk menyelamatkan Soekarno dan revolusi.
Kegagalan PKI desebabkan oleh intervensi
soeharto yang berani menyelamatkan Indonesia dan Pancasila. Kegagalan itu juga
disebbkan soekarno yang tidak memberikan dukungan penu, serta soeharto yang
sebelumnya memberikan dukungan penuh, serta soeharto yang sebelumnya dinilai
netral atau mendukung kelompo untung tetapi ternyata melawannya. Sejak tahun
1967 wertheimmelihat kemungkinan keterlibatan AD, dan adapun penulisan-
penulisan dari luar dan dalam negeri yang sama pendapatnya. Soeharto bertindak
bermuka dua di satu sisi ia bersama kubu yani memprovokasi PKI untuk melakukan
“ kudeta mendahului”, di sisi lain ia mendukung kelompok untung dan tokoh tokoh
PKI untuk mencegah kudeta dewan jendral. Keterlibatan CIA versi ini cukup sulit
untuk dibuktikan karena suatu komplotan yang diadakan oleh sebuah dinas
rahasia. Namun, terdapat sejumlah petunjuk dalam bentuk telegram, surat,
wawancara dan perjanjian kerjasama, misalnya penggulingan pemerintahan
sosialis.
Teori ini mengatakan bahwa Setelah gagalnya kudeta, para penguasa baru
secara langsung menuduh PKI sebagi dalang G30S, tuduhan ini dijadikan versi
resmi masa orde baru. Versi ini didukung oleh sebagian besar, namun tidak semua
penulis Indonesia (khususnya selama Orba: misalnya Notosusanto 1968 dan
Sulastomo 1989), serta sejumlah penulis barat (khususnya yang dekat pemerintah
AS). Teori menjelaskan bahwa motif dari pelaku untuk membuat peristiwa
yang menggemparkan dunia ini adalah Pengambilalihan kekuasaan untuk
mendirikan sebuah negara komunis. PKI “dituduh” akan mendirikan Negara
tandingan atau membuat Negara ini menjadi suatu Negara yang beraliran komunis.
Indikasi yang
memberikan kecendrungan atau memberikan kayakinan terhadap pencetus teori ini
adalah bahwa antara lain adalah hasil-hasil sidang pengadilan kelompok untung
dan anggota-anggota PKI yang diadakan pada tahun-tahun sesudah kudeta (misalnya
pengakuan/kesaksian Sjam, Njono, Sudisman, Peris Pardede, Dani, Supardjo).
Petunjuk lainadalh posisi PKI sebelum kudeta yang semakin kuat dan “tradisi”
PKI dalam melakukan pemberontakan-pemberontakan, kehadiran aidit di Halim dan
keterlibatan pemuda Rakyat dalam kegiatan di Kota, serta edisi Koran PKI harian
rakyat pada tanggal 2 oktober 1965 yang mendukung kudeta.
Peristiwa 1 oktober 1965 yang berdalih menyelamatkan Soekarno sebenarnya
ditujukan kepada perwira-perwira utama yang berada dalam “faksi tengah”. Dengan
demikian menurut “Cornell Paper”, akan melapangkan jalan bagi perebutan
kekuasaan oleh kekuatan sayap kanan AD (Asvi Warman Adam. 2001: 123). Sedangkan
W.F Wertheim dalam buku Whose Plot? New Light on The 1965 Event (1979) disamping
mendukung versi di atas juga menambahkan bahwa Syam Kamaruzaman yang dalam buku
putih sekneg disebut sebagai Kepala Biro Khusus Central PKI adalah “agen
rangkap” yang bekerja untuk Aidit dan AD (Asvi Warman adam. 2007: 123)
Petunjuk-petunjuk
untuk versi ini adalah pelaku AD (mungkin termasuk Suharto) adalah bahwa kudeta
dapat ditumpas dengan amat gampang dan tanpa adanya perlawanan yang berarti.
Komplotan Ad ini terbukti misalnya dalam ‘Jonas File’, dengan isu-isu dewan
jenderal yang diciptakan oleh AD, dan dengan Sjam yang bekerja untuk Pimpinan
AD (kubu Yani), mungkin bersama dinas rahasia barat, memprovokasi PKI untuk
melakukan suatu ‘kudeta mendahului’: isu-isu palsu tentang dewan jenderal
disebarkan, dan Sjam sebagai agen AD mengatur perencanaan kudeta PKI ini dengan
keinginan AD. Kudeta PKI ini dengan mudah dapat ditumpas dan Negara
‘diselamkatkan’ oleh AD (Kerstin, 2004)
Apabila
disimpulakan dari berbagai petunjuk dari teori yang dikatan dari berbagai
sumber baghwa para jenderal yang konon merencanakan dan atau memprovokasi
kudeta dibunuh dalam pelaksanaanya. Pimpinan AD tidak mengambil tindakan
pengamanan guna menyiapkan diri untuk gerakan yang akan terjadi.
Menurut teori
ini Suharto memiliki motif untuk menghancurkan PKI, menjatuhkan Sukarno, dan menyingkirkan
kubu-kubu lain dalam AD. Selain itu Suharto juga berkeinginan menjadi pahlawan
dan presiden.Indikasi keterlibatan Suharto adalah bahwa ia tidak termasuk dalam
daftar para jenderal yang dibunuh. Akan tetapi, hal ini hal ini juga beralasan
bahwa ia tidak dianggap dekaden, anti-PKI dan penting. Bahkan, para pendudkung
versi Suharto ia berpura-pura mendukung kelompok Untung (Asvi Wraman Adam.
2007: 123)
Petunjuk-petunjuk
lain adalah bahwa Suharto-lah yang paling diuntungkan oleh adanya kudeta, gedung
kostrad tidak diduduki, walaupun letaknya di lapangan Merdeka, batalyon 454 dan
530 yang menjadi pasukan inti dalam pelaksanaan kudeta dipanggil ke jkarta oleh
Suharto, dan ia pada musim panas 1965 mengunjungi semua divisi yang terlibat
dalam kudeta, perwira-perwira kelompok untung semuanya akrab dengan Suharto.
Pada malam sebelum kudeta, Latief mengunjungi Suharto di rumah sakit (dimana
anaknya Hutomo Mandala Putra diobati). Menurut Latief, ia melaporkan rencana
kudeta dan ia bakal didukung oleh Suharto. Namun setelahnya Suharto menjelaskan
kunjungan ini dalam tiga versi yang berbeda, penjelasan Suharto pada malam
kudetapun diragukan.
Adanya baik
bukti maupun argumen yang berlawanan dan bertentangan dalam setiap versi ysng
menyalahkan salah satu unsur tunggal. Disamping itu, situasi politik saat itu
sangat rumit. Keterlibatan Soekarno
didasarkan pada sejumlah Ada fakta-fakta yang sudah tidak dipersoalkan lagi
seperti penculikan jenderal dan
kehadiran Presiden Soekarno di Halim pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965.
Fakta-fakta yang diperiksa lebih mendalam
oleh Kerstin menyangkut masa sebelum, pada hari dan setelah kudeta. Mengenai periode sebelum kudeta diuraikan
tentang 1) hubungan Soekarno dengan PKI,
2) hubungan Soekarno dengan AD, 3) Isu-isu yang
beredar (dokumen Gilchrist, Dewan Jenderal dan kesehatan BK, 4) Kegiatan Soekarno menjelang kudeta. Menyangkut kejadian selama kudeta, dibahas 1)
Kegiatan Soekarno sebelum tiba di Halim, 2) Kronologi kejadian di Halim 1 Oktober 1965, 3) Laporan Soepardjo dan reaksi Soekarno, 4)
Soekarno di mata kelompok Untung, 5) Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan di
Halim, 6) Pengangkatan Pranoto, 7)
Keberangkatan dari Halim.
Seperti yang
diuraikan diatas, maka peran soekarno dalam G30S dapat dilihat dari berbagai
sisi: baik motivasi maupun petunjuk petunjuk dan tingkat keterlibatannyabisa
dinilai dengan jauh berbeda. Dari karangan karangan mengenai peristiwa G30S
yang sangat banyak ini perlu banyak dipilih beberapa tulisan saja yang dapat
diteliti.
Soekarno menciptakan
sebuah keseimbangan mengenai antar AD dan PKI, dengan menempatkan dirinya
ditengah guna mengontrol kedua belah pihak ini. PKI yang tidak sabar lagi
menuntut ralisasi gagasan Angkatan ke 5 dan Nasakom dengantujuan memperluas
kekuasannya. PKI melibatkan dirinya dalam Kudeta, karena beranggapan bahwa
dengan ini dapat mengikuti kebijaksanaan
soekarno. Awalnaya soekarnolah yang menguasi PKI, tetapi pada taun 1965 situasi
tersebut sudah berubah. Ide dari mempersenjatai buruh pun dicetuskan oleh DN
Aidit. PKI bekerjasama dengan soekarno untuk melemahkan musuh bersama. Maksud
soekarno untuk gagasan Nasakomadalah kerjasama antara alira aliran, bukan
kekuasaan salah satu aliran. Dengan nasakom secara intitusional, yang secara
berangsur angsur didukung oleh soekarno, berarti PKI yang diuntungkan. Ide
angkatan ke 5 oleh Aidit dengan alasan melindungi bangsa Indonesia. PKI dengan
persetujauan Soekarno mempropagandakan anglkatan ke 5 guna menyelamatkan
revolusi Indonesia. Disamping jalan parlementer, PKI juga menerapkan jalan
Revolusioner untuk membangun komunisme. Soekarno mengiginkan persatuan nasakom
dan sebuah kabinet gotong royong termasuk PKI, tetapi AD mencegahnya guna
menyingkirkan PKI.
Tak seorang pun
penulis menggambarkan soekarno sebagai komunis, walaupun ia dekat dengan dan
memihak PKI. Sebagaian besar penulis berpendapatan bahwa soekarno tidask ingin
memberikan kekuasan kepada PKI. Para penulis dari kelompok I dan II/luar cukup
yakin bahwa soekarno memikirkan tindakan keras terhadap AD. Semua penulis bersepakat
bahwa terjadi konflik antara soekarno dan AD. Akan tetapi, pada umumnyaAD tidak
mempunyai kemampuan untuk menjatuhkan soekarno walaupunn soekarno berlawanan
sevcara politik. Apakah memang benar ada sebuah isu dewan jendral yang
mendiskusikan dan rencana kudeta? Apakah soekarno dipengaruhi isu dewan jendral
itu dan mempercayai atas keberadaannya. Akan tetapi terdapat banyak penulis
yang tidak memberikan keterangan mengenai hal ini. Sumber yang disebutkan
adalah sudisman dan soebandrio dalam pengadilan.
Menjelang
kudeta, Sukarno semakin memihak kepada PKI dan dalam politiknya semakin
bertentangan dengan oposisi, terutama AD. Terdapat sejumlah kegiatan Suakrno
yang bisa dicurigai sebagai perencanaan kudeta dengan tujuan mengakhiri
oposisi. Kebanyakan kegitan yang demikian dikutip oleh Dake (1973) berdasarkan
keterangna ajudan Sukarno, Wijanarko di depan pengadilan.
Keberadaan
Sukarno di Halim yang digunakan sebagi markas kelompok Untungselam kudeta
berjalan dan sikapnya selama di Halim dianggap sebagi petunjuk atas
keterlibatnya. Sukarno memerintahkan orang-orang yang dipercayainya untuk
menyiapkan dan melaksanakan penculikan para jenderal. Dake (1973) dan Soerojo
(1988) berpendapat bahwa pembunuhan para jenderal juga dilakukan berdasarkan
perintah Sukarno. Pada hari berikutnya, ia sendiri ke Halim untuk mengendalikan
situasi.direncanakan mengumumkan melalui RRI bahwa sebuah dewan Jenderal yang
merencanakan kudeta terhadap pemerintahan tlah dinetralisasi, dan bahwa
presiden aman dan bertugas seperti biasa. Keberatan: Petunjuk-petunjuk
atas kegiatan Sukarno yang mencurigakan dianggap tidak dapat dipercayai.
Tafsiran dan perilaku Sukarno, terutamanya yang dikemukakan oleh Dake dianggap
subyektif. Motivasi Sukarno untuk melakukan kudetapun diangggap tidak ada.
Ada fakta-fakta
yang sudah tidak dipersoalkan lagi seperti penculikan jenderal dan kehadiran Presiden Soekarno di
Halim pada pagi hari tanggal 1 Oktober
1965. Fakta-fakta yang diperiksa lebih mendalam
oleh Kerstin menyangkut masa sebelum, pada hari dan setelah kudeta. Mengenai periode sebelum kudeta diuraikan
tentang 1) hubungan Soekarno dengan PKI, 2) hubungan Soekarno dengan AD,
3) Isu-isu yang beredar (dokumen
Gilchrist, Dewan Jenderal dan kesehatan BK, 4)
Kegiatan Soekarno menjelang kudeta.
Menyangkut kejadian selama kudeta, dibahas 1) Kegiatan Soekarno sebelum tiba di Halim, 2) Kronologi kejadian di Halim 1 Oktober 1965, 3) Laporan Soepardjo dan reaksi Soekarno, 4) Soekarno di mata kelompok Untung, 5) Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan di Halim, 6) Pengangkatan Pranoto, 7) Keberangkatan dari Halim.
Menyangkut kejadian selama kudeta, dibahas 1) Kegiatan Soekarno sebelum tiba di Halim, 2) Kronologi kejadian di Halim 1 Oktober 1965, 3) Laporan Soepardjo dan reaksi Soekarno, 4) Soekarno di mata kelompok Untung, 5) Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan di Halim, 6) Pengangkatan Pranoto, 7) Keberangkatan dari Halim.
Kemudian uraian
dilanjutkan dengan menganalisis 1) Sikap
Soekarno setelah kudeta, 2) Persepsi orang lain terhadap Soekarno dan 3 Tingkat Keterlibatan Soekarno. Berdasarkan perbandingan 22 sumber mengenai topik-topik di atas, Kerstin mengakui bahwa "gambar mengenai peran Bung Karno menjadi semakin kabur". Bahkan ia mengakui bahwa buku Legge menyimpulkan hal yang paling obyektif yaitu "peran Soekarno tidak jelas". Namun Kerstin masih memiliki sedikit kecurigaan dengan kehadiran dan sikap Soekarno selama di Halim. Oleh sebab itu ia menulis "Keterlibatan BK tidak dapat dibuktikan, tetapi ketidakterlibatan (secara penuh) juga tidak dapat dibayangkan". Lepas dari itu, penulis asal Jerman ini mengakui bahwa tidak satu pun dari 22 penulis buku/makalah/laporan yang ditelitinya yang menganggap Soekarno seorang komunis. Bahkan tidak ada yang menganggap BK sebagai dalang peristiwa itu kecuali Dake dan Hughes.
Soekarno setelah kudeta, 2) Persepsi orang lain terhadap Soekarno dan 3 Tingkat Keterlibatan Soekarno. Berdasarkan perbandingan 22 sumber mengenai topik-topik di atas, Kerstin mengakui bahwa "gambar mengenai peran Bung Karno menjadi semakin kabur". Bahkan ia mengakui bahwa buku Legge menyimpulkan hal yang paling obyektif yaitu "peran Soekarno tidak jelas". Namun Kerstin masih memiliki sedikit kecurigaan dengan kehadiran dan sikap Soekarno selama di Halim. Oleh sebab itu ia menulis "Keterlibatan BK tidak dapat dibuktikan, tetapi ketidakterlibatan (secara penuh) juga tidak dapat dibayangkan". Lepas dari itu, penulis asal Jerman ini mengakui bahwa tidak satu pun dari 22 penulis buku/makalah/laporan yang ditelitinya yang menganggap Soekarno seorang komunis. Bahkan tidak ada yang menganggap BK sebagai dalang peristiwa itu kecuali Dake dan Hughes.
Setelah tidak
berhasil secara historis membuat kesimpulan mengenai
keterlibatan BK, Kerstin malah melompat kepada persoalan moralitas. "Tingkah laku BK setelah kudeta tidak membuktikan keterlibatannya atau ketidakterlibatannya dalam kudeta melainkan memperlihatkan sikap penguasa yang tidak bertanggungjawab" . "BK tidak tegas menghindari dan mengakhiri gerakan ini". Meskipun "BK tidak terlibat secara mendalam namun dinilai bersikap oportunis".
keterlibatan BK, Kerstin malah melompat kepada persoalan moralitas. "Tingkah laku BK setelah kudeta tidak membuktikan keterlibatannya atau ketidakterlibatannya dalam kudeta melainkan memperlihatkan sikap penguasa yang tidak bertanggungjawab" . "BK tidak tegas menghindari dan mengakhiri gerakan ini". Meskipun "BK tidak terlibat secara mendalam namun dinilai bersikap oportunis".
Kerstin
mempersoalkan kenapa "BK sehari penuh berada di markas besar
kelompok Untung". Kerstin tampaknya kurang mengerti alasan BK ke
Halim. "Pada saat di Halim BK tidak secara langsung dan dengan tegas memisahkan diri dari sebuah kelompok yang ternyata baru membunuh sejumlah orang. Apapun alasan BK tidak mengutamakan moralitas tinggi melainkan bertindak taktis. Mungkin ia berniat baik, tetapi tujuan baik mana yang membenarkan kerjasama dengan pembunuh ?".
kelompok Untung". Kerstin tampaknya kurang mengerti alasan BK ke
Halim. "Pada saat di Halim BK tidak secara langsung dan dengan tegas memisahkan diri dari sebuah kelompok yang ternyata baru membunuh sejumlah orang. Apapun alasan BK tidak mengutamakan moralitas tinggi melainkan bertindak taktis. Mungkin ia berniat baik, tetapi tujuan baik mana yang membenarkan kerjasama dengan pembunuh ?".
Pada malam hari
tanggal 30 September 1965 Bung Karno tidak tahu
secara persis tindakan yang diambil prajurit Cakrabirawa terhadap
beberapa Jenderal. Ia juga baru tahu tentang "adanya darah di rumah
Yani" setelah mendengar laporan dari Soepardjo pagi hari itu Soekarno
langsung memerintahkan agar gerakan itu dihentikan. Soekarno masih berada di
Halim karena ia harus memutuskan tentang pergantian pimpinan AD yang menjadi
lowong dengan hilangnya para Jenderal itu. Sayang sekali, Kerstin tidak sempat
membaca buku kumpulan pidato Soekarno tahun 1965-1967 yang terbit tahun
2003[11]. Padahal melalui pidato itu dapat diketahui lebih banyak tentang sikap
Soekarno
mengenai peristiwa tersebut serta apa yang terjadi setelahnya.
mengenai peristiwa tersebut serta apa yang terjadi setelahnya.
Bila informasi
mengenai kejadian kejadian dan tindakan-tindakan soekarno pada tanggal 1
oktober 1965 di halim, yang disampaikan oleh para penulis dibandingkan, kita
dapat memperoleh suatu pola dasar yang kasar saja: soekarno menerima laporan
tentang kudeta, ia memerintahkan agar kekerasan dihentikan, namun ia tidak
mengambil tindakan melawan kelompok untung. Saat tibanya soekarno di halim
disebutkan dengan hampir sama, yaitu antara pukul 9.00 dan 9.30. beberapa
penulisa mengatakan bahwa soekarno awalnya berada koops AURI, lalu pindah ke
rumah komodor susanto. Menurut sebagian besar penulis soekarno tidak ketemu
dengan aidit, sjam, latief, dan anggota- anggota kelompok untung lin di halim,
melainkan dengan soepardjo dan/ atau dani saja
Susunan
kronologis mengenai kegiatan- kegiatan soekarno dan orang di sekitarnya di
halim kurang tepat dan penuh pertentangan. Ternyata tidak ada catatan resmi,
sehingga bahkan saat penggumunan pengumuman di RRI disebutkan dengan berbeda.
Apakah soekarno dipengaruhi kejadian- kejadian tertentu, atau apakah
perkembangan dihalim dipengaruhi soekarno, hal hal itu sangat susah diselidiki
dan dibuktikan, karena fakta- fakta yang tepat mengenai saat kejadian tidak
ada. Sebuah hubungan antara pendapat para penulis dalam hal ini dengan versi
G30S yang mereka wakili masing masing pada umumnya tidak ada. Agaknya
kronologi- kronologi ini pada pokoknya disusun tergantung informasi apa saja
yang didapatkan masing masing penulis ( sayangnya kebanyakan tanpa keterangan
mengenai sumbernya. Soekarno mendapatkan informasi lolosnya nasution hal inihampir
dikatakan oleh kelompok I dan II, tetapi oleh satu wakil kelompok IV saja.
Disamping informasi mengenai tindakan- tindakan dan ungkapan-ungkapan soekarno
atas laporan supardjo terdapat juga sejumlah uraian mengenai sikap soekarno
atas laporan ini. Seandainya soekarno tidak terlibat dalam kudeta, maka mengapa
kelompok untung melapor kepada soekarno. Sifat hubungan kelompok untung dan
soekarno dalam kudeta digambarkan dalam berbagai bentuk.
Secara teoritis
ada beberapa motivasi yang mungkin mendorong soekarno untuk melibatkan diri
dalam kudeta. Setiap kemungkinan mengenai cara keterlibatan soekarno yang
awalanya diuraikan secara teoritis. Mungkin soekarno memang baru mengetahui
mengenai kudeta sesaat sebelumnya atau waktu ia di halim, dan ia berusaha untuk
memanfaatkan situasi sebaik mungkin untuk diri sendiri dan/ atau untuk negara.
Perbandingan perbandingan analisis dan dokumentasi dokumentasi dari 22 penulis
yang dilakukan dalam buku ini, menambah keraguan mengenai peran soekarno dalam
G30S. Keterlibatannya tidak dapat dibuktikan, tetapi keterlibatannhya juga
sudah dibayangkan.
Soekarno pada
masa sekarang dihormati sebagai bapak bangsa dan tokoh berpengaruh dalam
sejarah indonesia. Akan tetapi, perannya dalam sejarah Indonesia, misalnya
Kesempatan pada perayaan ulang tahun Soekarno Ke 100 tidak digunakan oleh
koran-koran untuk membahas peran Soekarno dalam G30S secara mendalam. Namun
bila masyarakat ditanya, maka pada umumnya muncul dugaan bahwa soekarno barang
kali terlibat dalam kudeta yang dilakukan PKI yang jahat itu, karena informasi
pada masa orde baru memang demikian.
Belum ada upaya
untuk menjelaskan dugaan itu dan untuk menyelesaikan teka teki G30S dan peran
soekarno, dan dokumen dokumen masih tertutup dan terkunci. Selama peran
soekarno dalam sejarah indonesia tidak diteliti secara lengkap, selama itu pula
kehormatan yang diberikan kepadannya hanya merupakan propaganda untuk
kepentingan tertentu.hanya jika soekarno diketahui dengan kebijaksanaan yang
baik dan yang buruk, maka ia dapat memberikan contoh yang penting untuk masa
depan, karena kita dapat belajar dari keberhasilan dan kesalahannya.


No comments:
Post a Comment