![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: ARDITYA RAHMAN
|
|
|
NIM
|
: 3101412071
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku
Judul : Madiun 1948 : PKI Bergerak ;
Penulis :
Harry A.Poeze ;
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
, jln.plaju No.10, Jakarta10230;
Pembantu penerbitan :
SNS REAAL fonds ;
Tahun terbit :
2011;
Tebal :
455 halaman.
B.
Sinopsis Buku
Buku ini adalah
sebuah buku yang menguraikan tentang peristiwa madiun 1948, di mana pada saat
itu pergerakan dan eksistensi PKI terjadi besar-besaran. Dalam penulisan bku
ini penulis banyak menggungakan berbagai sumber terpercaya, dalam pembahasannya
penulis membahas dari awal bagaimana pergerakan PKI dan eksistensinya terjadi
sehingga terjadi pemberontakan. dan semua orang yang bermain di balik
pergerakan PKI 1948.
Jalan
ke Konfrontasi
Pada bagian pertama
ini mempunyai banyak sub bagian pemabahasan dari mulai bagaimana awal PKI di
Indonesia sehingga bagaimana PKI menjadi eksis menjadi tenar di Indonesia pada
bagian subbagian pertama berisi tentang Sejarah PKI yang Bergelora di mulai setelah
akhir perang Dunia II hubungan antara Unisoviet dan PKI menjadi ruwet, sulit,
dan dan selam beberapa saat tidak ada. Ketika pertama berdirinya di asia pada
bulan Desember 1920 menjadi partai ilegal dan bergabung dengan komunis
internasional, dan dalam kongres Komintren pertama ada tahin dua puluhan di
wakili tokoh-tokoh utamanya seperti samaoen, Darsono, dan Tan Malaka. Dan pada
pergerakan-pregerakan selanjutnya kelompok ini banyak mempunyai perkembangan,
dan di balik itu tidak lepas dari banyaknya kesulitan yang di hadapi baik dari
dalam tubuh kelompok itu sendrii maupun dari luar. Seperti contohnya adanya
penentangan kebijakan untuk menentang kebijakan pemerintah kolonial oleh Alimin
yang tidak setuju dengan kebijakan yang di buat oleh Tan Malaka karena Aimin
kebijakan dan rencana yang dibuat tidak akan berhasil. Setelah itu
instruksi-instruksi tertulis Tan Malaka unutk menunda rencana-rencana tersebut
di bwa kembali oleh Alimin tanpa di ketahui oleh teman-temannya, sehingga
berjalan sesuai rencana.
Dan pada sub bagian
selanjutnya berisi tentang bagaiman sejarah pergolakan PKI yang terjadi di
Indonesia sehingaa terjadinya pergerakan di Madiun pada tahun 1948 dan pada bab
ke II Madiun dalam pandangan politik dan sejarah, 1948-2010. Dalam sub
bagiannya berisi tentang banyak pendapat dan penulisan-penulisan kembali
tentang sejarah PKI.
Contohnya pada
sub bab yang berjudul Histotiograi lain di Indonesia, pada sub bab ini
menjelaskan tentang penulisan sejarah tentang pergerakan PKI di Indonesia pada
misalnya pada tahun 1969 Soe Hok Gie, untuk skripsi dokrotalnya jurusan
sejaraah di Universitas Indonesia, menulis tentang ‘Madiun’ dan pendahuluannya
yang panjang. Sebuah tulisan yng sangat matang, yang selain menggunakan sumber
literatur yang ada, sejumlah wawancara di dan pers di jogja, juga sumber dari
FDR. Dalam penulisannya tidak memilih pihak. Penjelasan ‘madiun; sebgai
provokasi, sebagai fait accompail, sebagai bagian strategi komunia, baginya
semua itu tidak memuaskan. Sebab musababnya masih lebih jauh mendasar, dan
disimpulkannya terletak pada tekanan masyarakat di sebuah negara yang ada di
dalam revolusi: harapan-harapan yang belum terwujud dan tekanan ekonomi yang
menimbulkan tumbuhnya radikalisasi. Dengan demikian konflik tidak terindahkan.
Hanya studi tentang semua aspek sosial, ekonomi, kebudayaan, dan politik akan
bisa memberikan penjelasan (Soe Hok Gie
1969, 1997. Baru tahun 1997 skripsi ini tercetak, sebelumnya tidak ada penerbit
yang berani menerbitkannya. Skripsi ini sendiri beradar dalam banyak versi
terketik/difotocopy, dan memang pantas menjadi terkenal)
Dan dalam tulisan
majalah ‘Prisma’ Onghokham pada bulan Agustus 1978 dalam sebuah artikel tentang
‘Madiun’ yang berusaha mencari sebab-sebabpokok, ia menyebutkan tentang
revolusi dari bawah kepada ‘lokalisme’ dan pelaksanaan kedaulatan rakyat pada
tingkatan itu. Bagian penting dalam hal ini ialah lahirnya kekuatan bersenjata.
Tidak di atur oleh pemerintahan pusat, akan tetapi lahir dari bawah dengan
bentuknya yang beraneka ragam. Kontrol dari pusat terhadap berfungsinya sukar
di terapkan . juga di tingkan lokal – kota- dan desa. Analisis Onghokham
menarik dan segar, dan dalam suasana yang mencekam, tapi melebih-lebihkan
revolusi sosila setempat, termasuk di Madiun, di mana dumbangan ‘nasional’-nya
pun lebih besar di bandingkan dengan di tuliskannya.
Pada tanggal 10
Agustus 1948 Moeso kembali ke Indonesia. Sejak tahun1926, sesudah pemberontakan
komunis ia menghilang ke moskow dan mengabdikan dirinya pada komintern –
komunis Internasional. Pada tahun 1936 sebagai agen rahasia Stalin, dengan
sangat rahasia ia tinggal selama enam bulan di Surabaya untuk membangun kembali
Partai komunis Indonesia (PKI). Kemudian ia bermukim di Uni Soviet dengan
aktivitas utamanya sebagai penasihat untuk Indonesia. Sesudah kemenganan sekutu
dalam perang Dunia II dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, PKI memperoleh
posisi yang kuat di dalam republik, tapi tetap mempertahankan eksistensinya
yang setengah ilegal. Anggota-anggotanya menyebar masuk ke dalam berbagai macam
partai. Amir Sjarifoedin – anggota rahasia PKI – pernah menjadi perdana
menteri. Tapi pada januari 1948 ia mengundurkan diri. Kabinet di bawah pimpinan
wakil presiden Hatta tampil tanpa mengikutsertakan komunis.
Sementara itu,
Soviet mengubah haluan politiknya menjadi beroposisi keras terhadap barat.
Moeso mendapat restu dari Moskow untuk melakukan reorganisasi terhadap PKI.
Maka segera itu sesudah kedatangannya di Indonesia ia memaparkan sebuah halauan
baru yang di sebut ‘Djalan Baru’. Ini merupakan perubahan radikal dari sikap
PKI, yaitu konfrontasi terhadap pemerintahan borjuis Soekarno – Hatta. Bahasa
Moeso yang menghasut mendapat dukungan semua anggota PKI dan mengakibatkan
ketegangan semaik memuncak, serta terpecah- bekahnya pendapat politk di kalangan
tentara. Di Solo erjadi pemebrontakan sengit antara golongan militer dan
politil. Kekalahan kaum kiri di sana menimbulkan reaksi di Madiun. Sehingga
terjadi perebutan kekuasaan oleh kaum komunis pada tanggal 18 september.
Soekarno dan Hatta tampil menghadapi Moeso dan Madiun di rebut kembali sepuluh
harikemudian. Di butuhkan waktu beberapa minggu untuk mematahkan seluruh
perlawanan PKI. Bagi pemerintah peristiwa ini bagaikan lolos dari lubang jarum.
Berdasarkan banyak
bahan yang tidak di kenal, penuli dengan amat teliti menyusun kembali segala
apa yang telah terjadi di seputar Madiun. Ia telah berhasil mengurai banyak
teka-teki yang melatarbelakangi kejadian tersebut. Juga memberi jawaban, apakah
persoalan Madiun harus di sebut sebaggai persitiwa lokal saja, ataukah suatu
perebutan kekuasaan oleh kaum komunis. Sampaii sekarang masalah ini merupaka
tema perdebatan seru, sebagamana juga tampak dalam tinjauan historiografis yang
tercantum dalam buku ini.
Penulis sangat
keritis saat meneliti dan menulis buku ini. Buku ini bukan sekedar biografi,
akan tetapi juga merupakan salah satu revolusi Indonesia, sebagaimana yang
terjadi pada tingkat pusat.
Pantas-kah
sebutan “PERISTIWA MADIUN” ?
Senin, 19 Desember 2001, di
“Sanggar Pengetahuan” IRE Yogyakarta, Harry A. Poeze memaparkan hasil
penelitiannya seputar “Madiun 1948”. Hasil penelielahtian
penulis berdasarkan bahan-bahan yang selama ini belum
digunakan tersebut diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta
menjadi sebuah yang
buku berjudul “Madiun 1948, PKI Bergerak”. Tentang
naskah
yang ada dalam buku ini adalah “hasil sampingan” dari
penelitian penulis
tentang Tan Malaka. Sehingga buku setebal 432 halaman terjemahan Hersri
Setiawan ini sejatinya adalah nukilan dari naskah lengkap hasil penelitian
Poeze yang berjudul “Verguisd en vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de
Indonesische Revolutie, 1945-1948”, halaman 1079-1391. (Hasil pemaparan Harry Apoeze tentang penelitian madiun
1948, Senin, 19 Desember 2001)
Berdasarkan hasil penelitiannya, penulis berkesimpulan bahwa
tidaklah benar bila kemelut politik di Madiun pada tahun 1948 tersebut
dinamakan “Peristiwa
Madiun” (Madiun
Affair). Istilah “Peristiwa
Madiun” ini digunakan oleh Aidit dalam pleidoi (D.N. Aidit Menggugat peristiwa madiun)
di muka Pengadilan Negeri Jakarta pada 24 Februari 1955.
Madiun Affair
Madiun
Affair, pemberontakan para komunis
melawan pemerintah Soekarno-Hatta
dari Indonesia Komunis, dan juga
ingin menguasai Republik Indonesia dengan dasar Parta,
yang berasal dari Madiun, sebuah kota di Jawa Timur, pada bulan September 1948. Partai Komunis Indonesia (PKI) telah dinyatakan ilegal oleh pemberontakan berikut Belanda
pada 1926-27, secara resmi
telah dibangun
kembali pada 21 Oktober 1945, ketika Indonesia
merdeka diproklamasikan setelah
Perang Dunia II. Akan tetapi Kaum komunis
melanjutkan kegiatan politik, dan beberapa pemimpin mereka memegang posisi tinggi di pemerintahan republik yang baru. Pada bulan Januari 1948 pemerintah sayap kiri digantikan oleh
satu dipimpin oleh Mohammad
Hatta. Pemerintah Hatta berencana demobilisasi
unit-unit gerilya di bawah kendali komunis.
Kaum komunis
menentang program tersebut, mereka menyebar dan membentuk sebuah PKI front
nasional komunis dan menyarankan unit bersenjata angkatan darat untuk menantang demobilisasi
tersebut. PKI juga
mengkritik konsesi pemerintah
republik ini kepada
Belanda dalam Perjanjian Renville
(17 Januari 1948).
Sementara
para pemimpin komunis berada di pihak
propaganda, seorang komandan komunis lokal di Madiun mengambil
inisiatif pada tanggal 18 September
1948, dan merebut
kekuasaan di Madiun. Para pemimpin komunis, terkejut,
terjebak oleh propaganda mereka sendiri dan tidak memiliki pilihan
tetapi untuk mendukung pemberontakan.
Pemerintah Hatta-Soekarno
mengambil tindakan yang sangat tegas.
Pemberontakan ditumpas dalam waktu tiga bulan, dan sebagian besar pemimpin PKI dibunuh atau dipenjara.
D.N. Aidit Menggugat
Peristiwa Madiun.
Dengan pidato Kawan
D.N. Aidit ini masyarakat dapat mengetahui dengan lebih djelas lagi hakekat
Peristiwa Madiun, suatu provokasi reaksi jyang dilancarkan oleh Hatta dan arti
pemberontakan kontra-revolusioner gerombolan Siinbolon dan Ahmad Husein jang
satu tahun kemudian mencapai puncaknya dengan diproklamasikanya
"Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" di Padang oleh gembong2
Masyumi-PSI seperti Syafruddin Prawiranegara dan Sumitro Djojohadikusumo.
Menurut penulis,
seandainya istilah “pemberontakan” disepakati pada masa kepemimpinan Soekarno,
maka PKI yang dipimpin oleh Aidit tidak akan mungkin dapat “hidup”, karena PKI
Aidit mewarisi beban sejarah sebagai partai yang pernah melawan pemerintahan
yang sah.
Istilah pemberontakan mulai
disematkan pada peristiwa tersebut di era Orde Baru. Kendati kemudian
penggunaan istilah pemberontakan ini juga menuai kontroversi, karena beberapa
pihak menilai tuduhan bahwa PKI sebagai dalang peristiwa ini sebetulnya adalah
rekayasa pemerintah Orde Baru yang anti-komunisme.
Penulis
tak menggunakan istilah “Pemberontakan PKI” untuk judul buku terjemahannya ini.
Namun nampak jelas bahwa penulis
melalui judul “Madiun 1948, PKI Bergerak” ingin meninggalkan penggunaan istilah
“Peristiwa”. Berdasarkan judul itu pula, penulis
menyatakan bahwa pihak yang menjadi penggerak kejadian tersebut adalah Partai
Komunis Indonesia (PKI).
Kelebihan buku :
Buku ini sangat
berguna bagi sejarahwan, pelajar, maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui
sejarah revolusi Indonesia masa lalu. Dalam buku ini meneliti sangat dalam
tentang pergerakan PKI di Madiun pada tahun 1948.
Dan dalam buku
ini juga membahas tuntas tentang pergerkan yang terjadi pada saat itu, dan
membahas tentang Moeso yang menjadi dalang ataupun tokoh utama atas pergerakan
PKI di Indonesia.
Dan buku ini
juga sangat banyak menyediakan resensi dan sumber-sumber atas penelitian
penulis.
Kekurangan buku :
Buku ini masih
mempunyai beberapa kekurangan, seperti :
Kurangnya gambar-gambar atau dokumentasi.
Gaya bahasa yang kurang mudah di pahami.
Kesimpulan :
Kesimpulan saya mengenai buku ini,
bahwa sebutan Peristiwa Madiun salah, ini akan disebut Pemberontakan Madiun.
Karena atas dasar dokumen yang baru, jelas bahwa ada keterlibatan pucuk
pimpinan PKI dalam aksi di Madiun. Dan bahan-bahan baru yang di gunakan ialah
bahan arsip, interview, misalnya beberapa
kali dengan tokoh lokal yang paling penting Soemarsono, dan juga ada dari surat
kabar yang diterbitkan di daerah, dan ada penelitian dalam arsip Belanda dan
dalam arsip Amerika Serikat dan atas dasar semua penulis beri visi yang baru
mengenai Pemberontakan Madiun.
Ini berlainan dengan Ann Swift karena dalam hemat penulis Ann Swift
risetnya tidak lengkap. Misalnya surat kabar bahasa Indonesia dari waktu itu
tidak digunakan, bahan-bahan dari arsip Belanda tidak digunakan, dan juga interview
hampir tidak digunakan. Dan ini atas dasar dokumen yang ada waktu itu, sudah 20
tahun yang lalu, ini buku yang berharga, tapi kalau dilihat dengan teliti.
Dalam buku ini di
himpun lebih banyak data tentang ‘Madiun’ di bandingkan dengan yang ada
sebelumnya. Atas dasar itu imungkinkan pula untuk memberikan pernyataan yang
lebih mendasar tentang latar belakang dan Interpretasi ‘peristiwa’ tersebut.
Ditengah situasi
pertentangan FDR yang semakin kuat dan menghebat terhadap pemerintahan,
peristiwa kedatangan Moeso sebagai katalisator. Sebelum itu FDR masih mencari
jalan melalui parlementer untuk mendapatkan kekuasaan, di mana penekanan di
luar parlementer semakin kuat, seperti pemogokan di Delanggu, tentu akan
memberikan sumbangannya. Pikiran akan aksi militer, termasuk rencana-rencana
sekenario selanjutnya, jelas mulai tumbuh leh karena itu pembentukan
Pemenrintah Front Nasional akan gagal. Maka jelaslah bagi kawan maupun lawan,
bahwasannya Moeso datang, ‘untukmenciptakan ketertiban’. Hal itu pertama-tama
berlaku untuk partainya sendiri. Program barunya. Djalan baru, ditelan oleh pemimpin FDR. Lebih karena wibawa Moeso
sebagai veteran PKI, selain itu ia pun pasti akan dipandang sebagai utusan
Moskow yang Stalinis, yang karena itu kepadanya harus harus di perlihatkan
kesetian tanpa syarat. Dengan kedatangannya maka berakhirlah kehati – hatian,
diplomasi, dan perahasiannya atas rencana-rencana ilegalnya.
Pidato Soekarno memperingatkan
FDR. Komporomi tidak mungkin lagi raktyat harus memilih: Soekarno atau Moeso,
dan Moeso memblasnya setimpal.
Apakah pidato
Soekarno merupakan provokasi untuk memaning pertempuran? Pastilah bukan itu
yang di maksudkan, denga segala jenih pikiran pemerintahan bisa menyimpulkan,
bahwa di Madiun telah didirikan pemerintah Soviet, dan pemerintah yang sedang
berfungsi harus bertempur demi bisa bertahan hiup. Sementara itu kesudahan dari
pertempuran memang belum pasti bagi pemerintahan – tentang loyalitas pasukan, terutama di Jawa Timur, masih ada
ketidakpastian. Namun bagaimanapun, dalam keadaan demikian itu, aksi militer
merupakan opsi terakhir, den memang itulah yang kemudian diagendakan.
Moeso mengarah pada
konfrotasi ini. Adalah kesalahannya karena ia, oleh tindakannya yang tidak
taktis, telah mempercepat waktu di mulainya waktu di mulainya konfrontasi itu.
Seandainya lebih berhati-hati ia bisa menundanya sampai suatu saat, ketika
sudah mempersiapkan diri lebih baik. Dan jogja tidak akan beraksi dengan
‘Soekarno dan Moeso’ seperti pada tanggal 19 September itu. Sekarang dia telah
menjadi orang luar yang seperti gajah mengamukmembongkar elite poplitik jogja,
termasuk banyak pimpinan FDR.


No comments:
Post a Comment