About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Sunday, 3 May 2015

Madiun 1948 : PKI Bergerak ;

Identitas Mahasiswa
Nama
: ARDITYA RAHMAN
NIM
: 3101412071
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B



A.    Identitas Buku

Judul                     : Madiun 1948 : PKI Bergerak ;
Penulis                  : Harry A.Poeze ;
Penerbit                : Yayasan Pustaka Obor Indonesia , jln.plaju No.10, Jakarta10230;
Pembantu penerbitan       : SNS REAAL fonds ;
Tahun terbit                      : 2011;
Tebal                                : 455 halaman.

B.     Sinopsis Buku

Buku ini adalah sebuah buku yang menguraikan tentang peristiwa madiun 1948, di mana pada saat itu pergerakan dan eksistensi PKI terjadi besar-besaran. Dalam penulisan bku ini penulis banyak menggungakan berbagai sumber terpercaya, dalam pembahasannya penulis membahas dari awal bagaimana pergerakan PKI dan eksistensinya terjadi sehingga terjadi pemberontakan. dan semua orang yang bermain di balik pergerakan PKI 1948.

Jalan ke Konfrontasi
Pada bagian pertama ini mempunyai banyak sub bagian pemabahasan dari mulai bagaimana awal PKI di Indonesia sehingga bagaimana PKI menjadi eksis menjadi tenar di Indonesia pada bagian subbagian pertama berisi tentang Sejarah PKI yang Bergelora di mulai setelah akhir perang Dunia II hubungan antara Unisoviet dan PKI menjadi ruwet, sulit, dan dan selam beberapa saat tidak ada. Ketika pertama berdirinya di asia pada bulan Desember 1920 menjadi partai ilegal dan bergabung dengan komunis internasional, dan dalam kongres Komintren pertama ada tahin dua puluhan di wakili tokoh-tokoh utamanya seperti samaoen, Darsono, dan Tan Malaka. Dan pada pergerakan-pregerakan selanjutnya kelompok ini banyak mempunyai perkembangan, dan di balik itu tidak lepas dari banyaknya kesulitan yang di hadapi baik dari dalam tubuh kelompok itu sendrii maupun dari luar. Seperti contohnya adanya penentangan kebijakan untuk menentang kebijakan pemerintah kolonial oleh Alimin yang tidak setuju dengan kebijakan yang di buat oleh Tan Malaka karena Aimin kebijakan dan rencana yang dibuat tidak akan berhasil. Setelah itu instruksi-instruksi tertulis Tan Malaka unutk menunda rencana-rencana tersebut di bwa kembali oleh Alimin tanpa di ketahui oleh teman-temannya, sehingga berjalan sesuai rencana.

Dan pada sub bagian selanjutnya berisi tentang bagaiman sejarah pergolakan PKI yang terjadi di Indonesia sehingaa terjadinya pergerakan di Madiun pada tahun 1948 dan pada bab ke II Madiun dalam pandangan politik dan sejarah, 1948-2010. Dalam sub bagiannya berisi tentang banyak pendapat dan penulisan-penulisan kembali tentang sejarah PKI.

     Contohnya pada sub bab yang berjudul Histotiograi lain di Indonesia, pada sub bab ini menjelaskan tentang penulisan sejarah tentang pergerakan PKI di Indonesia pada misalnya pada tahun 1969 Soe Hok Gie, untuk skripsi dokrotalnya jurusan sejaraah di Universitas Indonesia, menulis tentang ‘Madiun’ dan pendahuluannya yang panjang. Sebuah tulisan yng sangat matang, yang selain menggunakan sumber literatur yang ada, sejumlah wawancara di dan pers di jogja, juga sumber dari FDR. Dalam penulisannya tidak memilih pihak. Penjelasan ‘madiun; sebgai provokasi, sebagai fait accompail, sebagai bagian strategi komunia, baginya semua itu tidak memuaskan. Sebab musababnya masih lebih jauh mendasar, dan disimpulkannya terletak pada tekanan masyarakat di sebuah negara yang ada di dalam revolusi: harapan-harapan yang belum terwujud dan tekanan ekonomi yang menimbulkan tumbuhnya radikalisasi. Dengan demikian konflik tidak terindahkan. Hanya studi tentang semua aspek sosial, ekonomi, kebudayaan, dan politik akan bisa memberikan penjelasan  (Soe Hok Gie 1969, 1997. Baru tahun 1997 skripsi ini tercetak, sebelumnya tidak ada penerbit yang berani menerbitkannya. Skripsi ini sendiri beradar dalam banyak versi terketik/difotocopy, dan memang pantas menjadi terkenal)

Dan dalam tulisan majalah ‘Prisma’ Onghokham pada bulan Agustus 1978 dalam sebuah artikel tentang ‘Madiun’ yang berusaha mencari sebab-sebabpokok, ia menyebutkan tentang revolusi dari bawah kepada ‘lokalisme’ dan pelaksanaan kedaulatan rakyat pada tingkatan itu. Bagian penting dalam hal ini ialah lahirnya kekuatan bersenjata. Tidak di atur oleh pemerintahan pusat, akan tetapi lahir dari bawah dengan bentuknya yang beraneka ragam. Kontrol dari pusat terhadap berfungsinya sukar di terapkan . juga di tingkan lokal – kota- dan desa. Analisis Onghokham menarik dan segar, dan dalam suasana yang mencekam, tapi melebih-lebihkan revolusi sosila setempat, termasuk di Madiun, di mana dumbangan ‘nasional’-nya pun lebih besar di bandingkan dengan di tuliskannya.

Pada tanggal 10 Agustus 1948 Moeso kembali ke Indonesia. Sejak tahun1926, sesudah pemberontakan komunis ia menghilang ke moskow dan mengabdikan dirinya pada komintern – komunis Internasional. Pada tahun 1936 sebagai agen rahasia Stalin, dengan sangat rahasia ia tinggal selama enam bulan di Surabaya untuk membangun kembali Partai komunis Indonesia (PKI). Kemudian ia bermukim di Uni Soviet dengan aktivitas utamanya sebagai penasihat untuk Indonesia. Sesudah kemenganan sekutu dalam perang Dunia II dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, PKI memperoleh posisi yang kuat di dalam republik, tapi tetap mempertahankan eksistensinya yang setengah ilegal. Anggota-anggotanya menyebar masuk ke dalam berbagai macam partai. Amir Sjarifoedin – anggota rahasia PKI – pernah menjadi perdana menteri. Tapi pada januari 1948 ia mengundurkan diri. Kabinet di bawah pimpinan wakil presiden Hatta tampil tanpa mengikutsertakan komunis.

Sementara itu, Soviet mengubah haluan politiknya menjadi beroposisi keras terhadap barat. Moeso mendapat restu dari Moskow untuk melakukan reorganisasi terhadap PKI. Maka segera itu sesudah kedatangannya di Indonesia ia memaparkan sebuah halauan baru yang di sebut ‘Djalan Baru’. Ini merupakan perubahan radikal dari sikap PKI, yaitu konfrontasi terhadap pemerintahan borjuis Soekarno – Hatta. Bahasa Moeso yang menghasut mendapat dukungan semua anggota PKI dan mengakibatkan ketegangan semaik memuncak, serta terpecah- bekahnya pendapat politk di kalangan tentara. Di Solo erjadi pemebrontakan sengit antara golongan militer dan politil. Kekalahan kaum kiri di sana menimbulkan reaksi di Madiun. Sehingga terjadi perebutan kekuasaan oleh kaum komunis pada tanggal 18 september. Soekarno dan Hatta tampil menghadapi Moeso dan Madiun di rebut kembali sepuluh harikemudian. Di butuhkan waktu beberapa minggu untuk mematahkan seluruh perlawanan PKI. Bagi pemerintah peristiwa ini bagaikan lolos dari lubang jarum.

Berdasarkan banyak bahan yang tidak di kenal, penuli dengan amat teliti menyusun kembali segala apa yang telah terjadi di seputar Madiun. Ia telah berhasil mengurai banyak teka-teki yang melatarbelakangi kejadian tersebut. Juga memberi jawaban, apakah persoalan Madiun harus di sebut sebaggai persitiwa lokal saja, ataukah suatu perebutan kekuasaan oleh kaum komunis. Sampaii sekarang masalah ini merupaka tema perdebatan seru, sebagamana juga tampak dalam tinjauan historiografis yang tercantum dalam buku ini.

Penulis sangat keritis saat meneliti dan menulis buku ini. Buku ini bukan sekedar biografi, akan tetapi juga merupakan salah satu revolusi Indonesia, sebagaimana yang terjadi pada tingkat pusat.

Pantas-kah sebutan “PERISTIWA MADIUN” ?
Senin, 19 Desember 2001, di “Sanggar Pengetahuan” IRE Yogyakarta, Harry A. Poeze memaparkan hasil penelitiannya seputar “Madiun 1948”. Hasil penelielahtian penulis  berdasarkan bahan-bahan yang selama ini belum digunakan tersebut diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta menjadi sebuah yang buku berjudul “Madiun 1948, PKI Bergerak”. Tentang naskah yang ada dalam buku ini adalah “hasil sampingan” dari penelitian penulis tentang Tan Malaka. Sehingga buku setebal 432 halaman terjemahan Hersri Setiawan ini sejatinya adalah nukilan dari naskah lengkap hasil penelitian Poeze yang berjudul “Verguisd en vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1948”, halaman 1079-1391. (Hasil pemaparan Harry Apoeze tentang penelitian madiun 1948, Senin, 19 Desember 2001)

Berdasarkan hasil penelitiannya, penulis berkesimpulan bahwa tidaklah benar bila kemelut politik di Madiun pada tahun 1948 tersebut dinamakan “Peristiwa Madiun” (Madiun Affair). Istilah “Peristiwa Madiun” ini digunakan oleh Aidit dalam pleidoi (D.N. Aidit Menggugat peristiwa madiun) di muka Pengadilan Negeri Jakarta pada 24 Februari 1955.

Madiun Affair
Madiun Affair, pemberontakan para komunis melawan pemerintah Soekarno-Hatta dari Indonesia Komunis, dan juga  ingin menguasai Republik Indonesia dengan dasar Parta, yang berasal dari Madiun, sebuah kota di Jawa Timur, pada bulan September 1948. Partai Komunis Indonesia (PKI) telah dinyatakan ilegal oleh pemberontakan berikut Belanda pada 1926-27, secara resmi telah dibangun kembali pada 21 Oktober 1945, ketika Indonesia merdeka diproklamasikan setelah Perang Dunia II. Akan tetapi Kaum komunis melanjutkan kegiatan politik, dan beberapa pemimpin mereka memegang posisi tinggi di pemerintahan republik yang baru. Pada bulan Januari 1948 pemerintah sayap kiri digantikan oleh satu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Pemerintah Hatta berencana demobilisasi unit-unit gerilya di bawah kendali komunis.

Kaum komunis menentang program tersebut, mereka menyebar dan membentuk sebuah  PKI front nasional komunis dan menyarankan unit bersenjata angkatan darat untuk menantang demobilisasi tersebut. PKI juga mengkritik konsesi pemerintah republik ini kepada Belanda dalam Perjanjian Renville (17 Januari 1948).

Sementara para pemimpin komunis berada di pihak propaganda, seorang komandan komunis lokal di Madiun mengambil inisiatif pada tanggal 18 September 1948, dan merebut kekuasaan di Madiun. Para pemimpin komunis, terkejut, terjebak oleh propaganda mereka sendiri dan tidak memiliki pilihan tetapi untuk mendukung pemberontakan. Pemerintah Hatta-Soekarno mengambil tindakan yang sangat tegas. Pemberontakan ditumpas dalam waktu tiga bulan, dan sebagian besar pemimpin PKI dibunuh atau dipenjara.
D.N. Aidit Menggugat Peristiwa Madiun.
Dengan pidato Kawan D.N. Aidit ini masyarakat dapat mengetahui dengan lebih djelas lagi hakekat Peristiwa Madiun, suatu provokasi reaksi jyang dilancarkan oleh Hatta dan arti pemberontakan kontra-revolusioner gerombolan Siinbolon dan Ahmad Husein jang satu tahun kemudian mencapai puncaknya dengan diproklamasikanya "Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" di Padang oleh gembong2 Masyumi-PSI seperti Syafruddin Prawiranegara dan Sumitro Djojohadikusumo.

Menurut penulis, seandainya istilah “pemberontakan” disepakati pada masa kepemimpinan Soekarno, maka PKI yang dipimpin oleh Aidit tidak akan mungkin dapat “hidup”, karena PKI Aidit mewarisi beban sejarah sebagai partai yang pernah melawan pemerintahan yang sah.

Istilah pemberontakan mulai disematkan pada peristiwa tersebut di era Orde Baru. Kendati kemudian penggunaan istilah pemberontakan ini juga menuai kontroversi, karena beberapa pihak menilai tuduhan bahwa PKI sebagai dalang peristiwa ini sebetulnya adalah rekayasa pemerintah Orde Baru yang anti-komunisme.

Penulis tak menggunakan istilah “Pemberontakan PKI” untuk judul buku terjemahannya ini. Namun nampak jelas bahwa penulis melalui judul “Madiun 1948, PKI Bergerak” ingin meninggalkan penggunaan istilah “Peristiwa”. Berdasarkan judul itu pula, penulis menyatakan bahwa pihak yang menjadi penggerak kejadian tersebut adalah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kelebihan buku :
    
Buku ini sangat berguna bagi sejarahwan, pelajar, maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui sejarah revolusi Indonesia masa lalu. Dalam buku ini meneliti sangat dalam tentang pergerakan PKI di Madiun pada tahun 1948.
     Dan dalam buku ini juga membahas tuntas tentang pergerkan yang terjadi pada saat itu, dan membahas tentang Moeso yang menjadi dalang ataupun tokoh utama atas pergerakan PKI di Indonesia.
     Dan buku ini juga sangat banyak menyediakan resensi dan sumber-sumber atas penelitian penulis.

Kekurangan buku :
     Buku ini masih mempunyai beberapa kekurangan, seperti :
Kurangnya gambar-gambar atau dokumentasi.
Gaya bahasa yang kurang mudah di pahami.

Kesimpulan :       
Kesimpulan saya mengenai buku  ini, bahwa sebutan Peristiwa Madiun salah, ini akan disebut Pemberontakan Madiun. Karena atas dasar dokumen yang baru, jelas bahwa ada keterlibatan pucuk pimpinan PKI dalam aksi di Madiun. Dan bahan-bahan baru yang di gunakan ialah bahan arsip, interview, misalnya beberapa kali dengan tokoh lokal yang paling penting Soemarsono, dan juga ada dari surat kabar yang diterbitkan di daerah, dan ada penelitian dalam arsip Belanda dan dalam arsip Amerika Serikat dan atas dasar semua penulis beri visi yang baru mengenai Pemberontakan Madiun.
Ini berlainan dengan Ann Swift karena dalam hemat penulis Ann Swift risetnya tidak lengkap. Misalnya surat kabar bahasa Indonesia dari waktu itu tidak digunakan, bahan-bahan dari arsip Belanda tidak digunakan, dan juga interview hampir tidak digunakan. Dan ini atas dasar dokumen yang ada waktu itu, sudah 20 tahun yang lalu, ini buku yang berharga, tapi kalau dilihat dengan teliti.
Dalam buku ini di himpun lebih banyak data tentang ‘Madiun’ di bandingkan dengan yang ada sebelumnya. Atas dasar itu imungkinkan pula untuk memberikan pernyataan yang lebih mendasar tentang latar belakang dan Interpretasi ‘peristiwa’ tersebut.

Ditengah situasi pertentangan FDR yang semakin kuat dan menghebat terhadap pemerintahan, peristiwa kedatangan Moeso sebagai katalisator. Sebelum itu FDR masih mencari jalan melalui parlementer untuk mendapatkan kekuasaan, di mana penekanan di luar parlementer semakin kuat, seperti pemogokan di Delanggu, tentu akan memberikan sumbangannya. Pikiran akan aksi militer, termasuk rencana-rencana sekenario selanjutnya, jelas mulai tumbuh leh karena itu pembentukan Pemenrintah Front Nasional akan gagal. Maka jelaslah bagi kawan maupun lawan, bahwasannya Moeso datang, ‘untukmenciptakan ketertiban’. Hal itu pertama-tama berlaku untuk partainya sendiri. Program barunya. Djalan baru, ditelan oleh pemimpin FDR. Lebih karena wibawa Moeso sebagai veteran PKI, selain itu ia pun pasti akan dipandang sebagai utusan Moskow yang Stalinis, yang karena itu kepadanya harus harus di perlihatkan kesetian tanpa syarat. Dengan kedatangannya maka berakhirlah kehati – hatian, diplomasi, dan perahasiannya atas rencana-rencana ilegalnya.

Pidato Soekarno memperingatkan FDR. Komporomi tidak mungkin lagi raktyat harus memilih: Soekarno atau Moeso, dan Moeso memblasnya setimpal.

Apakah pidato Soekarno merupakan provokasi untuk memaning pertempuran? Pastilah bukan itu yang di maksudkan, denga segala jenih pikiran pemerintahan bisa menyimpulkan, bahwa di Madiun telah didirikan pemerintah Soviet, dan pemerintah yang sedang berfungsi harus bertempur demi bisa bertahan hiup. Sementara itu kesudahan dari pertempuran memang belum pasti bagi pemerintahan – tentang loyalitas  pasukan, terutama di Jawa Timur, masih ada ketidakpastian. Namun bagaimanapun, dalam keadaan demikian itu, aksi militer merupakan opsi terakhir, den memang itulah yang kemudian diagendakan.

Moeso mengarah pada konfrotasi ini. Adalah kesalahannya karena ia, oleh tindakannya yang tidak taktis, telah mempercepat waktu di mulainya waktu di mulainya konfrontasi itu. Seandainya lebih berhati-hati ia bisa menundanya sampai suatu saat, ketika sudah mempersiapkan diri lebih baik. Dan jogja tidak akan beraksi dengan ‘Soekarno dan Moeso’ seperti pada tanggal 19 September itu. Sekarang dia telah menjadi orang luar yang seperti gajah mengamukmembongkar elite poplitik jogja, termasuk banyak pimpinan FDR.

Bagaimana pun juga haluan dari moskow telah membawa akibat perpecahan dan konfrontasi. Tapi sekiranya di bawah pimpinan Amir, Soeripno dab Alimin aksi itu akan terjadi lebih lambat, kemungkinan berhasil akan menjadi lebih besar ketika: PKI sudah bertambahkuat, kehancuran ekonomi republiklbih parah, dan jalan buntu perundingan dengan Belanda pun semakin rapat tertutup.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...