![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: NUR HIKMAH
|
|
|
NIM
|
: 3101412072
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku.
Judul : PARTAI, KEKUASAAN DAN
MILITERISME
Penulis
:
Bambang Cipto
Penerbit
:Pustaka
Pelajar (Anggota IKAPI)
Tebal
: xiv, 177 halaman,
index; 21cm
Bahasa : Indonesia
Tahun
terbit : 2000
B.
Sinopsis Buku.
Rasionalitas Dan
Irrasionalitas Sistem Multipartai
Berakhirnya era Orde Baru ditandai,
antara lain, dengan munculnya semangat membangun sistem multipartai, sebagai
pengganti dari sistem partai Orde Baru yang bersifat semu dan ornamental.
Sistem partai yang dikembangkan Orde Baru menempatkan setiap partai yang
dikembangkan Orde Baru menempatkan setiap partai politik dibawah bayang-bayang
kekuasaan Soeharto. Ketika Soeharto lengser dan sistem multipartai dicanangkan
pemerintah Habibie, muncullah segudang harapan bahwa iklim politik yang baru
saja dibangn kembali akan membantu menemukan jati diri partai politik.
Sebagian masyarakat menyambut
gembira dan penuh antusias dan dengan cepat menjadikan kemunculan partai-partai
tersebut sebagai kesempatan untuk menyalurkan kembali naluri politik yang
selama ini bagai tersumbat oleh sistem politik Orde Baru yang sangat regresif.
Sebagian masyarakat lain justru khawatir bahwa kemunculan partai-partai baru
yang jumlahnya lebih dari angka seratus hanya dalam beberapa bulan semenjak
bulan Mei 1998, akhirnya bukannya memperlancar proses reformasi, tapi justru
sebaliknya, mengganggu kelancaran reformasi.
Oleh
karena itu, pemerintah Habibie cenderung membiarkan tumbuhnya partai-partai
baru yang menurut pemikiran akal sehat sesungguhnya sudah melampaui kemampuan
sistem partai pada umumnya. Dampak positif dari pertumbuhan partai yang
sedemikian luar biasa akan memeberikan suasana keterbukaan yang
sungguh-sungguh, dalam arti bahwa masyarakat benar-benar menikmati iklim
keterbukaan ini dan memanfaatkannya lewat pembentukan partai-partai politik.
Menurut Thimothy J. Power, pertumbuhan
dann perkembangan sistem multipartai akan melalui dua tahapan utama. Tahapan
pertama adalah tahap permulaan yang rentang waktunya tidak menentu antara lima
hingga sepuluh tahun. Pada tahap ini banyaknya partai baru yang tumbuh
seringkali tidak rasional karena kegamangan simultan yang menghinggapi
masyarakat politik. Sedangkan tahapan kedua melibatkan pelembagaan partai kuat
(strong party institutionalization)
yang berlangsung setelah tahap pertama berakhir.
Problem
Irrasionalitas
Gejala pertama berkaitan dengan
munculnya dua gejala yang sangat menonjol. Gejala pertama berkaitan dengan
munculnya paradoks atau irasionalitas sistem multipartai yang masih berusia
muda. Sekalipun Indonesia pernah menikmati pengalaman mengembangkan sistem
multipartai, penundaan sistem tersebut selama 32 tahun oleh rezim Orde Baru
membuat sistem multipartai dewasa ini bagaikan pengalaman politik yang
benar-benar baru dan cukup terasa asing bagi sebagian besar pelaku politik,
baik yang sedang berkuasa maupun oposisi.
Irasionalitas partai-partai baru
ini juga terlihat cukup jelas pada proses pembentukan partai-partai baru di
Indonesia. Cukup banyak di antara elit partai-partai baru pada umumnya kurang
memiliki pengalaman politik konkret. Persoalan ini akan semakin kentara pada saat
partai-partai baru mumulai proses rekrutmen calon anggota legislatif. Rekrutmen
yang tidak sempurna pada akhirnya akan menghasilkan sebuah parlemen yang
terfragmentasi.
Problem
Eksekutif Transisional
Persoalan menonjol kedua problem of governability. Dalam setiap
proses peralihan dari sistem otoriter ke sistem terbuka (demokratis),
pemerintah baru dan transisional selalu tidak mampu memerintah dengan sempurna.
Sudah menjadi hukum transisi politik yang dimulai dari economic decline, kerusuhan yang meluas dalam jangka lama, serta
serangkaian tuntutan untuk mengadili bekas tokoh-tokoh politik yang terlibat
KKN. Rangkaian persoalan ini dengan sendirinya membuat pemerintahan transisi
seakan-akan tidak memiliki legitimasi. Kenyataan didepan mata ini dengan mudah
dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok hard-linersuntuk
menuduh ketidakbecusan pemerintah transisional.
Menuju Sistem
Partai Rasional
Mengarahkan reformasi politik
menuju pembangunan sistem multipartai yang rasional dalam artian sistem partai
yang “kuat” dan “berwibawa” merupakan salah satu jalan keluar yang cukup wajar.
Pertama, titik-titik lemah yang cukup
transparan pada permulaan sistem multipartai harus mendapat fokus perhatian
para aktifis partai. Kedua,
peningkatan kualitas pribadi sebagaimana disebutkan di atas berkaitan dengan
caleg sebagai wakil rakyat yang tidak sekedar mewakili partai sebagai induk
organisasi caleg yang bersangkutan. Ketiga,
dari sudut kelembagaan partai politik dituntun untuk memahami makna pemerintah
koalisi sebagai persyaratn mutlak dan tak dapat ditawar-tawarkan dari sistem
multipartai. Keempat, sistem
multipartai menuntut konsistensi antara sistem partai dan sistem pemilihan yang
akan menghasilkan sistem tersebut. Kelima,
syarat terakhir yang harus dipenuhi bagi perubahan ke arah sistem multipartai
yang mapan dan rasional adalah adanya kesadaran perlunya partai-partai politik
yang kuat.
Teori,
Implementasi, dan Prediksi Koalisi Kabinet Hasil Pemilu 1999
Pengalaman masa demokrasi liberal
merupakan petunjuk jelas bahwa membangun sistem multipartai bukanlah persoalan
sepele. Sistem banyak partai yang dibangun secara sembarangan tanpa memahami
hukum-hukum dasar yang merupakan pondasi sistem multipartai hanya menghasilkan
kekecewaan mendalam bagi semua pihak. Era demokrasi liberal di Indonesia sangat
melelahkan semua partai dan menumbuhkan kecurigaan semakin mendalam dikalangan
non-partai terutama dipihak tentara bahwa politisi sipil memang tidak memiliki
kemampuan untuk memrintah. Peristiwa 17 Oktober 1952 menyiratkan betapa dalam
kekecewaan dikalangan tentara terhadap gaya amatir yang diperlihatkan kalangan
partai politik. Akan tetapi sesungguhnya persoalan yang lebih mendasar tidak
terletak pada kesanggupan kalanganan sipil membangun budaya politik sipil,
namun pada ketidakpahaman mereka terhadap pondasi-pondasi ilmiah yang
diperlukan untuk membangun kabinet koalisi.
Teori
koalisi
Teori koalisi partai telah cukup
lama berkembang di negara-negara Eropa khususnya dan di negara-negara dengan
sistem parlementer pada umunya. Penelitian tentang koalisi partai pun sudah
cukup maju. Dalam arti bahwa penelitian dalam skala global tentang berbagai
kelebihan dan kekurangan teori-teori koalisi yang diterapkan oleh banyak negara
sudah dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam mengembangkan budaya koalisi.
Makna terdalam dari koalisi adalah
tuntutan mutlak untuk mengembangkan eksekutif yang kuat (strong, powerful), mandiri (autonomous),
dan tahan lama (durable). Seorang
teoritis, koalisi partai hanya akan berjalan jika dibangun di atas landasan
pemikiran yang realistis dan layak.
Implementasi
Menurut teori Minimal Winning Coalition,terdapat beberapa kemungkinan koalisi
yang diprediksi, yakni ABC,BCD,CDE,AC dan CD. Prinsip dasar dari koalisi ini
adalah memaksimalisasi kakuasaan atau sebanyak mungkin memperoleh kursi di
kabinet dan mengabaikan partai yang tidak perlu. Sementara itu, berdasarkan
teori Minimum Size Coalition, partai
dengan perolehan suara terbanyak akan mencari partai yang lebih kecil untuk
sekedar mencapai suara mayoritas.menurut teori bergaining proposition atau koalisi dengan jumlah partai paling
sedikit maka koalisi dengan jumlah partai terkecil adalah AC (PDI perjuangan
dan Golkar) dan CD (Golkar dan PAN). Menurut teori Minimal Range Coalitions, kabinet koalisi yang bakall terbentuk dengan
perolehan kursi sebagaimana dihipotesakan di atas adalah PDI Perjuangan
PKB-Golkar, PKB-Golkar-PAN. Teori terakhir, Minimal
Connected Winning Coalitions, adalah teori yang paling banyak diterapkan
dalam dunia nyata.
Prediksi Kabinet
Koalisi
Berdasarkan argumenn ynag diajukan
dimuka, maka kelima inilah yang memiliki peluang untuk diterapkan di Indonesia,
sudah tentu dengan catatan khusus. Koalisi partai tengah dan partai
religius-inklusif tampak lebih memiliki peluang besar. Koalisi tengah kanan
(kuning-hijau)bisa dikatakan terbaru mengingat koalisi antara center party (Golkar) dan right party
(PAN dan PBB) adalah koalisi antara sisa Orde Baru dan Partai masa depan – yang
direpresentasikan oleh PAN. Pada koalisi ini terdapat dimensi menarik, yakni
sebuah ikhtiar untuk mempetahankan kontinuitas Orde Baru dalam era Orde
reformasi Pemangunan. Dalam konteks perbandingan politik, upaya ini penting dan
strategis mengingat kekuatan konservatif seeringkali diperlukan untuk memlihara
dukungan dari kelompok pebisnis besar sebagaimana telah terjadi di Jepang.
Tranformasi
Konsep Partai di Indonesia: Dari Partai Massa ke Partai Media
Sejak teknologi radio dan kemudian
telvisi ditemukan secara bertahap model kampanye di Amerika juga ikut mengalami
perubahan. jika semula kampanye lebih banyak mengandalkan pertemuan
ditemp-tempat terbuka, munculnya teknologi baru dan khususnya metode penelitian
dan konsep pemasaran mengubah sama sekali kampanye yang hanya mengandalkan
massa menuju kampanye media. Konsep Massa pun secara bertahap mulai
ditinggalkan karena kalah bersaing dengan konsep pertai yang mengutamakan
pemanfaatan media massa.
Kegagalan Partai
Massa
Proses perubahan menuju kesadaran
tentang pentingnya konsep partai media berjalan lambat. Antara 1957 atau sejak
kekalahan pertama hingga 1966 SPO masih tetap mempraktikan kampanye jalanan
yang meriah penuh hura-hura. Para menteri dan pejabat partai berpidato dengan
mngundang ribuan massa untuk meyakinkan para calon pemilih bahwa SPO adalah
partai yang dapat di unggulkan. Pada tahapan akhir menjelang perubahan menuju
partai media para pejabat puncak SPO masih turun langsung menangani persoalan-persoalan
teknis seolah-olah tanpa campur tangan mereka kampanye gagal. Mereka tidak cukup berani untuk
mendelegasikan wewenang kepada orang atau kelompok lain demi kepentingan
penciptaan citra partai di depan publik. Kesulitan membangun hubungan kepercayaan
dengan kelompok lain inilah yang selama ini menjadi batu halangan bagi
pembangunan konsep partai media di dalam tubuh SPO.
Menuju Partai
Media
Konsep partai media pada prinsipnya
melibatkan kerja sama antara petani politik, konsultan kampanye (biro iklan),
dan media massa. Konsep ini meninggalkan konsep lama, partai massa, yang hanya
mengutamakan sisi output (penampilan
partai didepan umum). Dengan konsep
partai media, sisi input
(masukan) beruoa persepsi dan harapan pemilih terhadap partai digali da
dijaring untuk memperbaiki sisi output.
Dengan demikian, penampilan partai menjadi lebih tajam dan berakar para sisi
terdalam dari hati dan pemikiran pemilih. Penampilan menjadi maksimal karena
faktor media dan konsultan kampanye sangat menguasai aspek komunikasi massa.
Partai-Partai
Politik Islam: Dari Ekslusif Ke Inklusif
Strategi
inklusif: Desakralisasi Primordialisme
Pada tahapan ini umat Islam seakan-akan
menghadapi dilema moral yang cukup komprehensif. Persoalannya adalah bahwa
sebuah partai berdasarkan agama Islam tentunya di maksudkan sebagai wadah untuk
menampung dan menyalurkan aspirasi umat Islam. Kekhawatiran lain, yang
menghantui umat adalah bahwa, jika pintu dibuka bagi non-muslim untuk
berpartisipasi dalam partai Islam, dikhawatirkan suatu saat partai tersebut
akan dikuasai oleh non-muslim dan ini
bertentangan dengan hati nurani umat. Membiasakan diri dengan sikap kritis
terhadap setiap pengambilan lngkah yang menentukan, seperti pembentukan partai
politik, akan mengurangi kadar kekecawaan yang mungkin muncul di masa depan. Di
samping itu, umat Islam juga harus menyadari sepenuhnya bahwa sekalipun gerakan
reformasi akan nmembuka peluang bagi munculnya kembali partai-partai Islam
namun mengingat konstelasi politik yang hingga kini belum sepenuhnya mengalami
perubahan struktural.
Berikut adalah partai-partai politik Islam di
Indonesia:
1.
Partai Amanat Nasional
(PAN)
2.
Partai Kebnagkitan
Nasional (PKB)
3.
Partai Persatuan
Pembangunan (PPP)
Ketikak
partai-partai Islam baru bermunculan banyak pendukung PPP yang menyeberang ke
partai-partai seperti PKB, PAN, PBB, PK, PUI dan lain-lain.
4.
Partai Bulan Bintang
(PBB)
5.
Partai Keadilan (PK)
Strategi Partai
Islam Menghadapi Pemilu 1999
1.
Peningkatan Partisipasi
UmatI Islam
2.
Koalisi Partai-Partai
Islam
3.
Menjaga Legitimasi
Habibie
4.
Strategi Menghadapi
Sistem Distrik
Golkar Dan
Berakhirnya Era Mayoritas Tunggal
Gerakan reformasi bulan Mei 1998
merntuhkan segenap impian para petinggi Golkar yang sedemikian yakin bahwa
Golkar akan memperpanjang dominasinya dalam percaturan politik di Indonesia
hingga lebih dari setengah abad sebagaimana PRI (Partindo Revolusioner Institusional)di Meksiko.
Runtuhnya Sebuah
Arogansi
Selama Orde Baru di bawah Soeharto,
Golkar tidak pernah tumbuh sepenuhnya dan mengakar sedalam-dalamnya ke dalam
masyarakat politik sebagaimana seharusnya sebuah partai politik. Dibawah
pimpinan Soeharto, Golkar gagal membenamkan dirinya kedalam tubuh masyarakat
Indonesia yag setiap saat bersedia memberikan kepercayaan kepada partai politik
apapun. Kegagalan ini terjadi dikarenakan sentralisasi kekuasaan pada diri
Soeharto menolak setiap bentuk pelembagaan organisasi sosial maupun politik
yang bertentangan dengan misi ABRI dan Soeharto, yakni mempertahankan ABRI
sebagai satu-satunya kekuatan sosial politik terbesar, terkuat dan tak
terkalahkan.
Menjegal Gajah
Limbung
Para petinggi secara tak terduga
menunjukkan kepada publik bahwa mereka tidak
memiliki cukup ilmu guna mempertahankan keutuhan organisasi. Mereka
gagal melakukan persiapan matang jika suatu saat ditinggalkan tokoh panutan
paling senior. Perpecahan dalam tubuh Golkar mungkin benar-benar sesuatu yang
sangat tidak diharapkan oleh Golkar yang kini masih memerintah. Memburuknya
perekonomian akibat krisis yang tak kunjung henti membuat kasus perpecahan
tersebut benar-benar membuat Golkar bagai tak memiliki tenaga untuk berbuat
kecuali menunggu perubahan yang mungkin akan memberikan keuntungan kembali.
Refleksi Sistem
Multipartai Tahun 50-an
Koalisi Tanpa
Teori
Tanpa mendasar diri pada teori
koalisi partai-partai politik hanya membangun kabinet selama beberapa bulan.
Kapasitas kabinet koalisi ini sudah tentu merugikan pemerintah bersangkutan dan
menurunkan pamor politisi sipil.
Ketidaksabaran
Militer
Militer termasuk ke dalam kelompok
yang tidak sabar terhadap eksperimen irasional yang dilancarkan kalangan
politisi sipil. Sekalipun militer sendiri pada saat yang bersamaan bisa jadi
juga tidak menyadari persoalan fundamental –teoritis dari kelemahan kalangan sipil
namun mereka diyakinkan oleh kenyataan-kenyataan konkret bahwa politisi sipil
memang tidak mampu membentuk pemerintah yang dapat berthaan cukup lama. Bahkan
mereka semakin tidak sabar menyaksikan politisi di DPR yang menginginkan agar
peran militer diperkecil sebagai syarat meningkatkan profesionalisme tentara.
Itulah sebabnya pecah peristiwa “setengah” kudeta pada bulan Oktober 1952
setelah beberapa kabinet hancur dalam waktu sangat singkat.
Membangun Budaya
Multipartai, Menangkal Intervensi Militer
Membangun Budaya multipartai
merupakn tugas paling penting bagi bangsa ini selama dua hingga tiga dekade
kedepan. Terlalu mudah untuk bermimpi bahwa dalam waktu satu periode kabinet
sistem multipartai akan terbentuk secara sempurna. Bahkan dengan masih bertahannya
militer sebagai intitusi dalam sistem politik mimpi tersebut semakin sulit
direalisasi. Yang harus dilakukan untuk menciptakan sebuah sistem multipartai
yang matang dan bertahan lama ditengah polarisasi partai dan militer yang
setiap saat melakukan intervensi untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaannya
dalam sistem politik lewat dwi-fungsi.
Pertama, partai-partai politik
perlu memfokuskan perhatian selain pada pemilu mendatang juga pada bagaimana
membangun partai politi yang terlembaga dengan kokoh di tengah masyarakat yang
terus bertambah kritis. Kedua, partai politik dituntut untuk mampu memiliki dan
menciptakan kader-kader yang berkemampuan tinggi. Ketiga, kemampuan partai
membangun koalisi harus bercermin pada kegagalan model-model koalisi pada era
demokrasi liberal yang tidak berladaskan sama sekali pada teori-teori koalisi
yang paling konkret. Keempat, kemampuan bekerjasama dengan media massa secara
konsisten dan sistematis adalah bekal utama untuk membangun sistem multipartai
yang handal dan bebas dari kemungkinan
campur tangan militer. Kelima, isu-isu pembangunan ekonomi dan kemakmuran serta
pemerataan merupakan bagian dari upaya membangun sistem kepartaian yang kuat
dan kokoh.
Polarisasi,
Kompetisi dan Koalisi Partai dalam Pemilu 1999
Polarisasi
Reaksi pertama yang segera muncul
dengan eksperimen awal sistem multipartai ini adalah tumbuhnya kembali
polarisasi partai-partai politik setelah dipaksa berfusi dalam tiga buah partai
semu pada era Orde Baru. Proses penyederhanaan partai selama Orde Baru tidak
berlangsung sempurna karena tujuan utama memang bukan untuk membangun
partai-partai tapi tidak lebih dari upaya untuk menawarkan fungsi-fungsi partai
politik.
Kompetisi
Berbeda dengan era Soeharto, era
multipartai membuka kesempatan seluas-luasnya bagi partai-partai politik untuk
saling berkompetisi jauh sebelum masa kampanye tiba. Era multipartai
benar-benar memanjakan partai-partai politik dengan memberi mereka kesempatan
untuk berkompetisi hampir setiap minggu lewat arak-arakan kendaraan bermotor
disepanjang jalan kota dan desa tempat partai-partai baru menyelenggarakan
deklarasi atau tempat partai-partai lama menyelenggarakan kongres atau muktamar
partai.
Koalisi
Koalisi partai tampaknya akan
menjadi kenyataan politik dalam kabinet haasil pemilu 1999. Kembalinya sebagian
besar pemilih tradisional kedalam induk organisasi masing-masing tampaknya akan
memaksa masing-masing partai untuk menyusun strategi koalisi guna
mengantisipasi akibat-akibat negatif dari persaingan sengit dalam pemilu mendatang.
Munculnya PKB dan PAN, khususnya, telah mendorong kembalinya sebagian bessar
pemilih tradisonal NU dan Muhammadiyah yang selama ini berafilisasi dengan PPP
dan Golkar kembali ke kedua ormas Islam tersebar tersebut.
Dilema Kekuasaan
Negara
Negara-negara baru yang lahir pasca
Perang Dunia II sesungguhnya sudah menunjukkan minat yang sangat kuat untukk
mencoba mengikuti jalur tradisi Barat. Menurut Weber, kekuasaan yang sehat
memang memerlukan legitimasi agar di anggap sah. Penguasa yang memiliki legitimasi
adalah penguasa yang memerintah dengan pengakuan dari rakyat. Negara adalah
pendefinisi kehidupan budaya bangsa sekalipun secara frontal bertolak belakang
dengan realitas kehidupan kultural yang paling halus sekalipun. Negara
beranggapan bahwa campur tangan berlebihan pada segenap aspek kahidupan,
sekalipun tidak totaliteristik sebagaimana Uni Soviet, harus diterima seluruh
rakyat karena dilandasi oleh keinginan kuat dan mulia untuk menciptakan dan menyuguhkan sebuah
masyaarakat yang selaras, serasi dan seimbang.
Untuk mencapai tujuan tersebut
negara melakukan penetrasi dan pengendalan terhadap partai politik , asosiasi
bisnis, organisasi pertainan, maupun organisasi buruh. Kekusaannegara bahkan
merambat hingga ke bangku-bangku sekolah para pelajar lewat berbagai manipulasi
buku pelajaran sejarah yang kini menimbulkan berbagai kontroversi.
Kelebihan dan kekurangan
buku politik militer Indonesia :
a.
Kelebihan buku
-
secara umum tampilan
buku ini sangat menarik, cerita penulis tentang sejarah perpolitikan Indonesia.
-
Buku ini menyertakan
beberapa kutipan tulisan yang masih relevan pada saat buku ini ditulis.
-
Dengan membaca buku
ini, kita diajak menjelajah sejenak pada awal masa kemerdekaan Indonesia ketika
militer melakukan intervensi terhadap perpolitikan Indonesia.
b.
Kekurangan buku
Dalam
buku ini terdapat istilah-istilah asing yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sehingga dapat mengurangi tingkat pemahaman pembaca.


No comments:
Post a Comment