![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
Nama
|
: SYAIFUL YUHDI
|
|
NIM
|
: 3101412074
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku.
Judul
Buku : Membongkar Manipulasi Sejarah: Kotroversi Pelaku dan Peristiwa
Penulis :
Asvi Warman Adam
Penerbit : Kompas
Tahun Terbit : 2009
Ukuran :
14 cm x 21 cm; xii +258 hlm.
B.
Sinopsis Buku.
Ketika orde baru berakhir, gugatan
terhadap sejarah bermunculan. Sejarah pun menjadi polemik karena fakta dan
interpretasi selama ini dinilai tidak tepat, tidak lengkap dan tidak jelas.
Manipulasi sejarah dilakukan secara sistematis dan meluas demi kepentingan
politik dan kekuasaan.
Buku ini berisi kumpulan artikel
yang ditulis Asvi Warman Adam yang berkaitan dengan manipulasi dan rekayasa
sejarah Indonesia. Tidak hanya itu, buku ini juga berisi kisah tokoh-tokoh
pergerakan.. Didalamnya terbagi menjadi empat bagian yaitu:
Pada bagian pertama, terdapat
kisah-kisah tokoh yang menuai kontroversi. Seperti Major John Lie seorang tokoh
etnis Tionghoa yang terbukti berjuang dan berjasa dalam membela kemerdekaan RI.
Namanya sudah diajukan sebagai pahlawan nasional, tetapi sampai saat ini ia
belum juga diangkat menjadi pahlawan nasional.
”Mayor John Lie Tjeng Tjoan lahir
di Menado 19 Maret 1911 dari Ayah bernama Lie Kae Tae dan Ibu bernama Maryam
Oei Tjeng Nie (keduanya penganut Buddha). Semasa muda John Lie bekerja sebagai
seorang mualim di sebuah perusahaan kapal Belanda, yang pada waktu itu disebut
KPM (sekarang PELNI).Walau bekerja di perusahaan Belanda, John Lie tidak pernah
berkeinginan untuk menjadi tentara Belanda.Begitu mendengar adanya revolusi
kemerdekaan Indonesia, dia pun memutuskan untuk bergabung dengan Angkatan Laut
Indonesia.
Semula John Lie ditugaskan di
Cilacap dengan pangkat kapten. Selama beberapa bulan ia berhasil menjalankan
tugasnya dengan baik, membersihkan ranjau-ranjau yang ditanam oleh Jepang. Atas
jasanya, pangkatnya pun dinaikkan menjadi Mayor.Ia lalu ditugaskan untuk
mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia, untuk
diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih
tipis.
Mayor John Lie pun berjuang
menembus blokade Belanda di perairan Indonesia, menuju perairan Selat Malaka
dan Thailand, membawa hasil bumi Indonesia dari Sumatra untuk ditukarkan dengan
uang dan senjata. Uang dan senjata itu lalu dia serahkan pada gerilyawan
Tentara Nasional Indonesia. Aksi heroik ini dia lakukan paling tidak lima belas
kali, bolak-balik Indonesia ke sekitar perairan Malaka.
Perjuangan John Lie dan para
awaknya tidaklah ringan, karena selain menghindari pasukan patroli Belanda,
mereka juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran
kapal yang mereka gunakan.Dengan kapal kecil bernama The Outlaw, John Lie dan
kawan-kawannya mempertaruhkan nyawa di tengah laut.
John Lie pernah tertangkap oleh
perwira Inggris saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit. Di pengadilan
Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga pernah
mengalami peristiwa menegangkan saat membawa pulang senjata semi-otomatis dari
Johor ke Sumatera. Ia dihadang oleh pesawat terbang patroli Belanda, namun ia
dapat lolos dari insiden ini dengan selamat.”
Bagian kedua, berisi tentang
kejadian-kejadian masa lalu yang masih belum jelas. Seperti gerakan 30
september yang selama ini ditulis menyatu dengan PKI, padahal ada versi lain tentang
keterlibatan militer, Soekarno, Soeharto atau pihak asing (CIA dan lain-lain).
Dan baru-baru ini juga muncul versi terbaru yang melihat peristiwa dari 30
september 1965 sampai 11 maret 1966 merupakan suatu kesatuan yang disebut
kudeta merangkak.
“Soeharto menggunakan cara kudeta
merangkak,alias pengambilan kekuasaan secara perlahan-lahan dari Presiden
Soekarno.Dibuku tersebut disebutin tahap-tahap Soeharto merebut kursi
presidennya Soekarno menurut Dr.Subandrio:
Berikut tahap-tahapnya:
TAHAP I:Pada tanggal 1 Oktober 1965
Terjadinya aksi penculikan dan
pembunuhan beberapa jendral TNI AD oleh kelompok G 30 S yang dipimpinLetkol
Untung.Saat itu pula Letkol Untung mengumumkan dibentuknya Dewan Revolusi dan
kabinet Dwikora.Demisioner lewat RRI.Padahal hanya Presiden saja yang berwenang
mendemisionerkan kabinetnya.
TAHAP II: Pada tanggal 12 Maret 1966
Letjen Soeharto sebagai pengemban SUPERSEMAR(Surat
Perintah Sebelas Maret)membubarkan PKI.Padahal hanya Presiden atau parpol yang
berwenang membubarkan partai politik.
TAHAP III:Pada tanggal 18 Maret 1966
Letjen Soeharto memerintahkan
penangkapan 16 MENTERI KABINET DWIKORA,yang merupakan kelanjutan aksi
mendemisionerkan kabinet.
TAHAP VI:Pada tanggal 7 Maret 1967
Yaitu pencabutan kekuasaan Presiden
RI.Mandataris MPRS,Pangti ABRI,PBR,DR Ir Sukarno oleh MPRS dgn TAP MPRS
XXXIII/1967 yang diketuai olehJendral A.H.Nasution.Padahal TAP MPRS XXXIII/1967
itu jelas inkonstitusional karena hanya MPR hasilpemilu yang berwenang
memberhentikan Presiden.”
Bagian ketiga, terdapat berbagai narasi saat
kejadian gerakan 30 september maupun pasca gerakan 30 september, dan
kontroversi tentang penamaanya.
“PKI
merupakan partai Stalinis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan
Uni Sovyet. Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari
pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang
mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang
mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis
dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota
dan pendukung.
Pada bulan Juli 1959 parlemen
dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden - sekali
lagi dengan dukungan penuh dari PKI.Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata
dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno
menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin".PKI menyambut
"Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia
mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan
Komunis yang dinamakan NASAKOM.
Pada era "Demokrasi
Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional
dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal
memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak.Pendapatan ekspor
menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat
dan militer menjadi wabah.
PKI telah menguasai banyak dari
organisasi massa yang dibentuk Soekarno untuk memperkuat dukungan untuk rezim
Demokrasi Terpimpin dan, dengan persetujuan dari Soekarno, memulai kampanye
untuk membentuk "Angkatan Kelima" dengan mempersenjatai pendukungnya.
Para petinggi militer menentang hal ini.
Dari tahun 1963, kepemimpinan PKI
makin lama makin berusaha menghindari bentrokan-bentrokan antara aktivis
massanya dan polisi dan militer.Pemimpin-pemimpin PKI mementingkan
"kepentingan bersama" polisi dan "rakyat".Pemimpin PKI DN
Aidit mengilhami slogan "Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi". Di
bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari
"sikap-sikap sektarian" kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua
pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat "massa tentara" subyek
karya-karya mereka.
Di akhir 1964 dan permulaan 1965
ratusan ribu petani bergerak merampas tanah dari para tuan tanah besar.
Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan para pemilik
tanah.Untuk mencegah berkembangnya konfrontasi revolusioner itu, PKI mengimbau
semua pendukungnya untuk mencegah pertentangan menggunakan kekerasan terhadap
para pemilik tanah dan untuk meningkatkan kerjasama dengan unsur-unsur lain,
termasuk angkatan bersenjata.
Pada permulaan 1965, para buruh
mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak milik AS.Kepemimpinan PKI
menjawab ini dengan memasuki pemerintahan dengan resmi. Pada waktu yang sama,
jendral-jendral militer tingkat tinggi juga menjadi anggota kabinet.
Menteri-menteri PKI tidak hanya
duduk di sebelah para petinggi militer di dalam kabinet Sukarno ini, tetapi
mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan bersenjata
adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis "rakyat".
Aidit memberikan ceramah kepada
siswa-siswa sekolah angkatan bersenjata di mana ia berbicara tentang
"perasaan kebersamaan dan persatuan yang bertambah kuat setiap hari antara
tentara Republik Indonesia dan unsur-unsur masyarakat Indonesia, termasuk para
komunis".
Rejim Sukarno mengambil langkah
terhadap para pekerja dengan melarang aksi-aksi mogok di industri.Kepemimpinan
PKI tidak berkeberatan karena industri menurut mereka adalah milik pemerintahan
NASAKOM.
Tidak lama PKI mengetahui dengan
jelas persiapan-persiapan untuk pembentukan rejim militer, menyatakan keperluan
untuk pendirian "angkatan kelima" di dalam angkatan bersenjata, yang
terdiri dari pekerja dan petani yang bersenjata. Bukannya memperjuangkan
mobilisasi massa yang berdiri sendiri untuk melawan ancaman militer yang sedang
berkembang itu, kepemimpinan PKI malah berusaha untuk membatasi pergerakan
massa yang makin mendalam ini dalam batas-batas hukum kapitalis negara. Mereka,
depan jendral-jendral militer, berusaha menenangkan bahwa usul PKI akan
memperkuat negara. Aidit menyatakan dalam laporan ke Komite Sentral PKI bahwa
"NASAKOMisasi" angkatan bersenjata dapat dicapai dan mereka akan
bekerjasama untuk menciptakan "angkatan kelima". Kepemimpinan PKI
tetap berusaha menekan aspirasi revolusioner kaum buruh di Indonesia.Di bulan
Mei 1965, Politbiro PKI masih mendorong ilusi bahwa aparatus militer dan negara
sedang diubah untuk memecilkan aspek anti-rakyat dalam alat-alat negara.
Pada 30 September 1965, enam
jendral senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang
disalahkan kepada para pengawal istana (Cakrabirawa) yang loyal kepada PKI dan
pada saat itu dipimpin oleh Letkol. Untung.Panglima Komando Strategi Angkatan
Darat saat itu, Mayjen Soeharto kemudian mengadakan penumpasan terhadap gerakan
tersebut.”
“KRONOLOGIS PENUMPASAN PKI
1. Tanggal
1 Oktober 1965
Operasi penumpasan G 30 S/PKI
dimulai sejak tanggal 1 Oktober 1965 sore hari. Gedung RRI pusat dan Kantor
Pusat Telekomunikasi dapat direbut kembali tanpa pertumpahan darah oleh satuan
RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, pasukan Para Kujang/328
Siliwangi, dan dibantu pasukan kavaleri. Setelah diketahui bahwa basis G 30
S/PKI berada di sekitar Halim Perdana Kusuma, sasaran diarahkan ke sana.
2. Tanggal
2 Oktober 1965
Pada tanggal 2 Oktober, Halim
Perdana Kusuma diserang oleh satuan RPKAD di bawah komando Kolonel Sarwo Edhi
Wibowo atas perintah Mayjen Soeharto.Pada pikul 12.00 siang, seluruh tempat itu
telah berhasil dikuasai oleh TNI – AD.
3. Tanggal
3 Oktober 1965
Pada hari Minggu tanggal 3 Oktober
1965, pasukan RPKAD yang dipimpin oleh Mayor C.I Santoso berhasil menguasai
daerah Lubang Buaya.Setelah usaha pencarian perwira TNI – AD dipergiat dan atas
petunjuk Kopral Satu Polisi Sukirman yang menjadi tawanan G 30 S/PKI, tetapi
berhasil melarikan diri didapat keterangan bahwa para perwira TNI – AD tersebut
dibawah ke Lubang Buaya. Karena daerah terebut diselidiki secara intensif,
akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1965 titemukan tempat para perwira yang diculik
dan dibunuh tersebut.. Mayat para perwira itu dimasukkan ke dalam sebuah sumur
yang bergaris tengah ¾ meter dengan kedalaman kira – kira 12 meter, yang
kemudian dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.
4. Tanggal
4 Oktober 1965
Pada tanggal 4 Oktober, penggalian Sumur Lubang Buaya dilanjutkan
kembali (karena ditunda pada tanggal 13 Oktober pukul 17.00 WIB hingga keesokan
hari) yang diteruskan oleh pasukan Para Amfibi KKO – AL dengan disaksikan
pimpinan sementara TNI – AD Mayjen Soeharto. Jenazah para perwira setelah dapat
diangkat dari sumur tua tersebut terlihat adanya kerusakan fisik yang
sedemikian rupa.Hal inilah yang menjadi saksi bisu bagi bangsa Indonesia betapa
kejamnya siksaan yang mereka alami sebelum wafat.
5. Tanggal
5 Oktober 1965
Pada tanggal 5 Oktober, jenazah para perwira TNI –
AD tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang sebelumnya
disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat.
6. Pada
tanggal 6 Oktober
Dengan surat keputusan pemerintah
yang diambil dalam Sidang Kabinet Dwikora, para perwira TNI – AD tersebut
ditetapakan sebagai Pahlawan Revolusi.
Gerakan 30 September atau yang
sering disingkat G 30 S PKI adalah sebuah kejadian yang terjadi pada tanggal 30
September 1965 di mana enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa
orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha pemberontakan yang disebut sebagai
usaha kudeta yang dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.”
Bagian keempat, membahas tentang
pendidikan sejarah di Indonesia yang belum up to date seiring dengan
perkembangan fakta-fakta yang baru diketahui, karena pada masa orde baru yang
bersuara hanya para penguasa, dan baru sekarang ini para korban mulai
bersuaara.
“Awal dari orde baru pun bergulir
di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto, nama orde baru diciptakan demi
membedakan dengan pemerintahan orde lama di bawah Presiden Soekarno. Perbedaan
nama rezim itu bukan saja secara harfiah, maupun perbedaan sang pemimpin orde.
Tapi juga berimplikasi kepada pergeseran secara fundamental misi dari
pemerintah serta metode yang tepat untuk mencapai misi tersebut. Radius Prawiro
yang mantan Deputi menteri untuk urusan Bank Sentral merangkap Gubernur Bank
Indonesia(1966-1973), dalam bukunya Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi
menyatakan bahwa, misi orde baru dapat disarikan sebagai pembangunan ekonomi.
Orde Baru
memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh
kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun
dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat.
Dalam pencapaian misi tersebut,
disiplin ilmu ekonomi - termasuk alat analisis ekonomi makro dan mikro -
menjadi ujung tombak, padahal di zaman orde lama ekonomi dianaktirikan, tanpa
kebijakan ekonomi yang jitu dan terencana, mustahil ekonomi Indonesia bisa
sehat kembali.Faktor politik, budaya dan sosial juga berperan penting dalam
membangun budaya ekonomi baru itu.”
“Dari sisi ideologi, pendidikan
sebenarnya telah cukup mendapat tempat dari pendiri bangsa.Terbukti dengan
dimasukkannya pendidikan sebagai salah satu prioritas utama dalam Pembukaan UUD
1945, yang notabene tak dapat diubah dan dianggap sebagai landasan perjuangan
bangsa yang sakral. Sebelum pemerintahan Presiden Soeharto,sebenarnya masalah
pendidikan nasional telah memperoleh cukup banyak perhatian dari elite politik
yang ada. Jika kita melihat sejarah, proklamator Bung Hatta merupakan salah
satu tokoh yang gencar menyuarakan pentingnya pendidikan nasional bagi kemajuan
bangsa sejak zaman kolonialisme. Sebagai pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI
baru) sejak tahun 1931 (PNI lalu pecah menjadi Partai Sosialis dan Partai
Sosialis Indonesia), konsep pentingnya pendidikan telah diajukan Hatta dalam
Pasal 4 Konstitusi PNI, yaitu untuk mencerdaskan rakyat dalam hal pendidikan
politik, pendidikan ekonomi, dan pendidikan sosial (pidato Bung Hatta dalam
reuni Pendidikan Nasional Indonesia yang diterbitkan di Bogor tahun 1968).
Namun, sejalan dengan pemerintahan
Soeharto yang otoriter, tampaknya isu tentang pendidikan mulai dikesampingkan,
terutama mungkin terkait dengan kekhawatiran akan timbulnya gejolak apabila
pendidikan politik benar-benar dilakukan sepenuhnya. Sejak saat itu kita lebih
melihat pendidikan digunakan sebagai kendaraan politik bagi pemerintahan
soeharto untuk melakukan indoktrinasi.
Kita masih ingat bagaimana,
khususnya dalam sejarah, berbagai macam pelajaran sejarah yang ada secara
tumpang tindih diberikan berkali-kali, dari SD, SMP, dan SMA, bahkan perguruan
tinggi dalam bentuk P4. Masalahnya, isi pelajaran sejarah yang ada tidak lebih
dari justifikasi mengenai G30-S-PKI, Serangan Fajar, atau berbagai pembenaran
konstitusional terhadap kebijakan pemerintah saat itu.
Tidak heran apabila sistem
pendidikan yang adadi Indonesia amat tersentralisasi dengan 80 persen dari
kurikulum yang ada ditentukan oleh pusat (Ibrahim, 1998). Contoh lain, dalam
hal dana instruksi presiden (inpres) Yang lebih memprihatinkan, pendidikan
dinilai hanya dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan melalui
berbagai polarisasi, indoktrinasi, sentralisasi, dan regulasi yang tidak
memihak rakyat. Keluaran pendidikan tidak digembleng untuk mengabdi kepada
rakyat, tetapi telah dipola dan dibentuk untuk mengabdi kepada kepentingan
kekuasaan an-sich.
Dalam konteks demikian, pendidikan
kita setidaknya telah melahirkan manusia-manusia berkarakter oportunis,
hipokrit, hedonis, dan besar kepala, tanpa memiliki kecerdasan emosional dan
spiritual yang memadai.
Makna pendidikan substansial, yaitu
memberikan ruang kesadaran kepada peserta didik untuk mengembangkan jati
dirinya secara “utuh”dan “paripurna” melalui sebuah proses yang dialogis,
interaktif, efektif, menarik, dan menyenangkan, nyaris tak pernah bergaung
dalam dunia pendidikan kita. Dari tahun ketahun, atmosfer pembelajaran di
sekolah tak lebih “memenjarakan” peserta didik untuk bersikap serba patuh, pendiam, miskin
inisiatif dan kreativitas”
Dengan dilengkapi argumen dari
berbagai referensi dan literatur, disajikan tiap-tiap kejadian dengan poin-poin
yang sistematis. Berbagai pendapat sejarawan dalam dan luar negeri dikutip
dalam buku ini, yang mengajak pembaca untuk ikut berpikir dan menganalisis
kebenaran sejarah, dan membuat pembaca semakin penasaran dengan sejarah
terutama sejarah Indonesia yang masih menuai banyak kontroversi.
Dengan berbagai referensi dan
literatur, ada beberapa istilah-istilah yang tidak mudah di pahami oleh
orang-orang awam, tetapi secara keseluruhan buku ini layak di baca kalangan
manapun untuk memperluas pengetahuan. Buku ini juga baik dibaca bagi para
pelajar untuk menambah wawasan tentang sejarah Indonesia karena dalam buku-buku
sejarah sekolah masih berbau orde baru.


No comments:
Post a Comment