![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: ARDIAN RAMADHANY
|
|
|
NIM
|
: 3101412075
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A.
Identitas Buku.
Judul Buku :
Hari-Hari Terakhir Sukarno
Penulis :
Peter Kasenda
Penerbit : Komunitas Bambu
Kota Terbit :
Jakarta
Tahun Terbit :
2013
Tebal Halaman : xiv + 274
Ukuran :
14 x 21 cm
B.
Sinopsis Buku.
Pada tahun 1959 Presiden Soekarno membubarkan Parlemen hasil pemilu dan
memusatkan kekuasaannya di lembaga kepresidenan. Sejak tahun 1959-1960
sistem pemerintahan di Indoneisa yaitu sistem pemerintahan
Demokrasi Terpimpin. Sistem ini diterapkan Presiden
Sukarno setelah membubarkan Parlemen dan mengambil mandataris MPRS dan
menyatakan dirinya sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Indonesia pada tataran ini
oleh Sukarno ingin dibawa pada masa dunia utopis yang didambakan Sukarno.
Kebijakan dan garis besar haluan negara ditentukan oleh pidato Presiden dengan
berbagai slogan seperti NASAKOM, (Nasional
Agama Komunis). Presiden
Sukarno berperan ibarat sebagai pengganjal bagi dua kekuatan yaitu PKI dan Angkatan
Darat. Banyak perwira militer dan politisi antikomunis mendukung tindakannya
memperoleh kekuasaan diktatorial dengan harapan Sukarno akan menjadi perintang
bagi PKI. Sukarno pribadi bukanlah seseorang pengagum besar PKI, ia mendukung
penindasan PKI di Madiun. Kaum antikomunis puas terhadap presidensil yang kuat
dibawah Demokrasi Terpimpin, karena sistem ini tidak didasarkan pada pemilu.
Ketika itu kebanyakan percaya bahwa PKI akan tampil sebagai suara terbanyak
seandainya pemilu diadakan lagi. Namun pada pembahasan
kali ini, kita akan berbicara kondisi perpolitikan dalam negeri. Yang pada
akhirnya berpengaruh pada tindakan-tindakan Sukarno selama Demokrasi Terpimpin.
Karena suatu kekuasaan menurut Prof. Miriam Budiarjo adalah kemampuan seseorang
atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah lakunya seseorang atau
kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan
keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu. (Miriam Budiarjo,
1988: 35). Sama halnya dengan Sukarno yang belum dapat dipastikan apakah ia
seorang Nasionalis? Agamis? Maupun Komunis?
Kekuatan politik pada pembabakan
Demokrasi Terpimpin, berporos pada trisula kekuatan politik nasional. Dalam high level politics Indonesia kala tahun 1957 sudah menunjukan
aktifitas politik dari dua kubu yang saling berlawanan, yakni PKI dan Angkatan
Darat. Poros kiri dan kanan di tahun
Demokrasi Terpimpin mendapatkan tempat tertinggi dalam persaingan kekuasaan
negara dengan harapan berkuasa setelah Presiden mangkat. Pada awal 1960-an
masyarakat sipil non-komunis masih teramat ketakutan dan benci akan ancaman
radikal yang diperlihatkan PKI terhadap kepentingan mereka di bidang sosial,
ekonomi, dan politik. Mereka berharap kepada Angkatan Darat untuk perlindungan
sepenuhnya. Sudah menjadi pengetahuna bahwa komando tertinggi Angkatan Darat
tidak akan pernah membiarkan PKI merebut kekuasaan negara, baik melalui kotak
suara maupun peluru. Dua lembaga itu pada 1965 mati langkah: PKI menguasai
politik sipil, sedangkan Angkatan Darat mengendalikan lebih dari 300.000
prajurit bersenjata.(Peter Kasenda, 2013: 25)
Ini kaitannya dengan terlalu
dekatnya Sukarno dengan partai berlambang palu-arit itu sendiri. Di tahun
perpolitikan setelah bubarnya parlemen, PKI merangsek masuk ke dalam politik
setelah dilegalkan kembali oleh M.Jusuf. Puncaknya adalah dengan perayaan HUT
PKI ke-45 di Gelora Bung Karno pada tanggal 23 Mei 1965. Kekuatan PKI berada di
titik puncaknya. PKI menjadi kuat karena mobilisasi masa yang banyak. Di antara
dua kekuatan yang saling berhadapan ini berdirilah Sukarno. Sejak Sukarno
membubarkan parlemen hasil pemilu 1959 dan memusatkan kekuasaan di lembaga
kepresidenan, ia berperan ibarat sebuah pengganjal bagi dua kekuatan itu.
Banyak perwira militer dan politikus antikomunis mendukung tindakannya
memperoleh kekuasaan diktatorial dengan harapan Sukarno akan menjadi perintang
bagi PKI; ia mendukung penindasan terhadap PKI dalam peristiwa Madiun. Kaum
antikomunis puas terhadap sistem presidensil yang kuat di bawah Demokrasi
Terpimpin. (Peter Kasenda, 2013: 25).
Di bawah Demokrasi
Terpimpin dari 1959 sampai 1965 adalah bahwa Sukarno berperan sebagai perisai
bagi mereka yang antikomunis dan sekaligus bagi mereka yang komunis PKI bisa
berkembang selama periode ini berkat perlindungan Sukarno. Ketika angkatan
Darat membekukan cabang cabang PKI di beberapa daerah pada 1960 dan
menggelisahkanpimpinan PKI di Jakarta, Sukarno turuntangan. Para perwira
Angkatan Darat yang bertanggungjawab atas tindakan itu, misalnya kolonel Sukendro
dihuku. Presiden membutuhkan PKI sebagai basis melawan apa yang dinamakannya old established forced dan nekolim.
Kebijakan luar negeri Presiden dan PKI sejalan. Sukarno juga membutuhkan PKI
sebagai kekuatan tawar dalam urusannya dengan Angkatan Darat. PKI merupakan
jaminan baginya bahwa Angkatan Darat tidak akan bisa dengan gampang
mendongkelnya.
Pada saat berlangsungnya rapat rapat umum
“semut merah”di Jakarta, imbangan kekuatan segitiga mulai pecah berantakan.
Ketika PKI semakin menjadi besar , Sukarno semakin condong ke kiri ketimbang ke
kanan. Upaya kaum antikomunis untuk merebut hari Sukarno dengan membentuk
“Badan Pendukung Sukarnoisme” (BPS) bulan Desember 1964 gagal. Sementara
itu PKI mulai tidak sabar terhadap batasan-batasan yang dikenakan oleh
konfigurasi segitiga itu. PKI menjadi terkurung. Sampai 1965 ia sudah tumbuh
menjadi partai politik yang paling besar, tapi tidak bisa memperoleh kekuasaan
melalui kotak suara karena tidak ada pemilu untuk bersaing. Kendati PKI bekerja
keras untuk kampanye kebijakan-kebijakan Sukarno, terutama konfrontasi dengan
Malaysia pada 1963, pimpinan PKI kesulitan memperoleh posisi dengan wewenang
konkret di dalam kabinet. (John Rossa, 2008: 294-300).
Banyak pihak di Indonesia pada
pertengahan 1965 percaya bahwa Angkatan Darat akhirnya akan melancarkan kup dan
dengan kekerasan akan menghentikan daya upaya PKI untuk berkuasa. Kabar angin
terus beredar, terutama Subandrio pada akhir Mei menurunkan siaran sebuah
telegram rahasia yang dikirim Duta Besar Inggris kepada kementerian Luar
Negerinya di London. Telegram ini menyebut tentang “kawan-kawan militer
setempat kita” yang sedang menggarap suatu “usaha” tersembunyi yang tidak
disebutkan namanya. Namun demikian dokumen ini otentik karena ia membenarkan
kecurigaan di kalangan Sukarnois bahwa Amerika Serikat dan Inggris sedang
merancang kup bersama pimpinan Angkatan Darat. (John Rossa, 2008: 294-300)
Cerita tentang adanya Dewan
Jenderal yang merancang untuk menggulingkan Sukarno telah diinjeksikan ke dalam
pasar kabar angin Jakarta sekitar Maret atau April 1965. Cerita itu bisa diterima di tengah tengah meningkatnya
ketegangan dalam rangka “offensif revolusioner” yang sedang dilancarkan PKI,
adanya ancaman dari golongan Islam untuk melancarkan “jihad” terhadap komunis
dan tuduhan serta insinuasi terselimut dari pohak istana, seperti upaya upaya
Soebandrio untuk menghubung hubungkan BPS dan Partai Murba dengan CIA.
Mengingat tidak ada bukti tentang
akan adanya suatu kudeta dari pihak Dewan Jenderal seperti dikatakan Sukarno,
Subandrio, dan Aidit, maka masuk akal kiranya untuk mengandaikan Untung dan
pembantunya tentu telah diberi banyak bukti, dan telah terhasut sebelum mereka
melancarkan gerakan mereka yang berbahaya. Nantinya Angkatan Darat akan menuduh
PKI sebagai biang keladi yang menghasut kudeta Untung. (Ulf Sundhaussen, 1983:
350-355).
Walaupun Yani
menyangkalnya di hadapan Sukarno, sudah tentu dalam Dewan Jenderal itu juga
dibicarakan situasi politik Indonesia selain promosi para perwira tinggi. Pada
1965 tidak terbayang ada pertemuan para jenderal. Yang tidak di ungkapkan Yani
pada 26 Mei adalah bahwa ia telah menghimpun sekelompok kecil ornag-orang
kepercayaan di antara para jenderal sebagai dewan penasihat. Bersama dengan
mereka sejak Januari 1965 ia mengikuti dengan teliti semua perkembangan politik
yang ada, khususnya pengaruh PKI atas Presiden yang kian membesar. yang duduk
dalam sidang ini selain Yani adalah para Jenderal antara lain Suprapto,
Harjono, Parman, Pandjaitan, Sutojo, dan Sukendro. Sedangkan Nasution kadang
kadang datang bertamu kalau mereka sedang rapat. Aidit mengetahui tentang
adanya dewan penasihat ini. Inilah kiranya yang ia maksud ketika memperingatkan
Sukarno bahwa dewan Jenderal yang sedang mempersiapkan sebuah kup (Lambert
J.Giebels, 2001:64-66).
Kesehatan Presiden
yang sejak lama menjadi suatu perhitungan politik terus menjadi pokok spekulasi
yang mencemaskan. Ia menolak anjuran para dokter di Wina dan lebih memilih cara
penyembuhan lewat tusuk jarum oleh para dokter Cina. Namun pada 5 Agustus 1965
presiden jatuh rebah, setelah menghadiri suatu upacara umum. Dalam suasana
demikian itu, tidaklah mengherankan apabila persoalan politik di masa pasca
Sukarno menjadi suatu topik yang panas. Setiap golongan politik berusaha
memperbaiki posisinya.
Dalam suasana
demikian itu, D.N. Aidit yang tengah berada di luar negeri dipanggil kembali
oleh Sekertaris Negara atas perintah Presiden. Ia diberitahu tentang keadaan
Sukarno yang sedang gawat dan ditugaskan membawa tim dokter dari Republik
Rakyat Cina ke Indonesia, yang dulu pernah mengobati presiden. Presiden
akhirnya sembuh kembali, akan tetapi para dokter Cina menyampaikan kepada
Aidit, bahwa kesehatan Sukarno masih rapuh. Apabila mengalami serangan lagi,
Sukarno mungkin akan lumpuh atau mati. Bahkan, mengingat cara dan gaya hidupnya
selama ini, sukar diharapkan penyembuhan yang sempurna (Nugroho Notosusanto dan
Ismail Saleh, 1989: 4-5).
Pimpinan PKI
menaruh perhatian mendalam terhadap kabar burung tentang kudeta. Bahwa kabar
burung itu datang dari berbagai penjuru agaknya memperkuat kesahihannya, bahkan
andaikata orang hanya mengulang ulang gagasan taksa yang mereka dengar dari
tangan kedua sekalipun. Ketua PKI, D.N Aidit pada pertengahan 1965 mencari
informasi yang lebih tepat dan konkret. Ia memerintahkan Sjam agar Biro Chusus
menyelidiki jaringannya dalam kalangan militer dan badan badan intelejen untuk
mencari tahu tentang kebenaran kabar burung tersebut. Dari informasi yang
terkumpul Sjam menyimpulkan bahwa jenderal jenderal sayap kanan di bawah Yani memang
sedang merancang kup.
Sepanjang September
1965, Aidit, Sjam, dan sekelompok perwira khususnya Untung, Latief dan Soejono
menyusun rencana yang seksama untuk melakukan gerakan mendahului Dewan
Jenderal. Ide dasarnya ialah menggunakan pasukan para perwira perwira untuk
melancarkan serangan telak terhadap jenderal jenderal yang di duga berkomplot
untuk melakukan kup. Ide pokok rencana itu adalah penculikan pada malam hari
terhadap Nasution , Yani, dan lima Jenderal lainnya dari rumah masing masing.
Sisi lain rencana aksi-pembentukan dewan dewan revolusi di seluruh negeri di
bawah pimpinan para perwira progresif- dimaksudkan untuk menajmin keberhasilan
pelaksanaan perubahan apa saja yang dikehendaki gerakan ini. dewan dewan ini
akan menghalangi usaha para perwira sayap kanan untuk kembali dan akan menekan
Sukarno agar membersihkan lebih lanjut pimpinan Angkatan Darat. (Peter Kasenda,
2013)
Setiap dewan
revolusi harus dipimpin seorang perwira muda yang akan menggalang front
persatuan kekuatan patriotik di daerah masing masing. Garis ini sesuai dengan
nasihat Aidit kepada kaum komunis bahwa: kup Kolonel Boumedienne di negeri
Aljazair pada Juni 1965 harus dibuat suatu aksi militer yang diiringi dengan
demontrasi dukungan rakyat yang lebih luas.
Gagasan tentang
dewan revolusi lebih bisa dikaitkan dengan Aidit dan Sjam ketimbang dengan
perwira perwira militer itu. Untung dan para perwira kawan-kawannya menyerahkan
soal-soal politik kepada partai, sementara mereka mencurahkan perhatian pada
tujuan yang sempit, yaitu merencanakan penculikan saja. Aidit dan Sjam
bermaksud menggunakan dewan dewan revolusi untuk mendorong perubahan yang lebih
luas dalam kabinet Sukaro setelah panglima Angkatan Darat disingkirkan. PKI
menginginkan agar kabinet Nasakom diperbaiki. Dengan kata lain PKI menginginkan
lebih banyak kementerian di tangan partai dan lebih banyak menteri antikomunis
disingkirkan.
Cerita berlanjut pada Letkol Untung yang
secara psikologis tidak rela Dewan Jenderal akan melakukan kup. Ada anggapan
bahwa Untung memang berhasil dihasut. Entah siapa yang menghasut. Yang jelas
pada peranan Angkatan Darat dengan bantuan agen asing CIA tersebut telah
berhasil memicu keadaan kup. Angkatan Darat sangat berhati-hati dalam
menjalankan rencan rahasia ini. Dimulai dengan memancing isu akan adanya kup
yang dilakukan Angkatan Darat setelah dibentuknya Dewan Jenderal. Dengan
sengaja atau tanpa sengaja dokumen Gilcrisht dibocorkan kepada Subandrio di
meja kantornya dengan keadaan terbuka. Invisible
hand bermain didalamnya. Ada anggapan ketika dokumen itu memang sengaja
diperlihatkan, dengan tujuan ingin menarik atau memancing PKI keluar untuk bisa
mempengaruhi angkatan bersenjata lain dalam hal ini Untung, dkk. Untuk dalih
melindungi Presiden Sukarno. Aidit pun terjebak, ia diberitahu oleh Sjam yang
memang menjadi penghubung PKI dengan pemerintah. Bahwa AD membentuk Dewan
Jenderal untuk mengkudeta Sukarno dari kuasanya. Inilah yang diharapkan
Angkatan Darat beserta pendukungnya, menjadi vis a vis jika percobaan kudeta ini gagal, Ad akan dimusuhi rakyat.
Namun keberhasilan yang mereka dapatkan. Disatu sisi, dalam rencana ini harus
ada pengorbanan dalam diri Angkatan Darat sendiri karena menjadi sasaran target
operasi penumpasan kudeta oleh Dewan Jenderal. (Peter Kasenda, 2013)
Akhirnya, Untung beserta pasukan
baret merah merencanakan aksi penumpasan pemberontakan Dewan Jenderal. Pada
malam 30 September 1965, satu pleton pasukan bersenjata sudah bersiaga dengan
mobil baja. Di tempat lain daerah lubang buaya sudah dipersiapkan sebagai markas
operasi. Tujuan dari operasi tersebut adalah mengeksekusi para perwira Angkatan
Darat yang dikira Dewan Jenderal. Malam itu segala urusan dapat dikatakan
lancer target operasi ke beberapa perwira, seperti Yani, Suprapto, Panjaitan,
yang beruntung adalah Nasution yang berhasil meloloskan diri.
Pada keesokan harinya, setelah
operasi berdarah tersebut kabar pembunuhan para perwira jenderal sudah cepat
tersebar. Presiden Sukarno marah besar terhadap Subandrio kala itu. Untung,
melakukan pemberitaan lewat kantor RRI, lewat pidatonya yang menyatakan bahwa
para perwira Angkatan Darat akan melakukan kudeta dan menggulingkan Presiden
Sukarno, maka ia sebagai kolonel baret merah mengaku bahwa sudah dipadamkan
oleh pasukannya. (Peter Kasenda, 2013).
Kejadian malam 30 September dan
eksekusi pada 1 Oktober dini hari telah secara langsung mensukseskan rencan
dalih pembunuhan masal yang kedepan akan dilakukan pihak militer dalam
penumpasan komunis di Indonesia. Pasca pembunuhan Dewan Jenderal ini, sesuai
rencan akan dimanfaatkan langsung oleh Angkatan Darat selaku wewenang keamanan
dan pertahanan negara. Yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan propaganda
politik dan media. Dengan dikuasainya berbagai radio dan kantor berita surat
kabar pada pagi 1 Oktober 1965 oleh Angkatan Darat, menandakan kesiapan
propaganda tersebut. Sasarannya jelas, setelah Aidit terperangkap dalam
jebakan, maka yang dituduh dalam dalang pembunuhan Jenderal yang dilakukan oleh
Untung dan pasukannya tidak lain karena perintah PKI. Propaganda disebarluaskan secara langsung.
Hingga dua hari menjalang tepatnya tanggal 3 Oktober 1965, dilakukan
pengangkatan jenazah Jenderal dari sumur Lubang Buaya. Dihadiri oleh Suharto
waktu itu sebagai Pangkopkamtib. Sejak saat itu seluruh cabang PKi dan kanto CCPKI
di Jakarta sepi lengan tanpa aktifitas. Aidit, Nyoto dan para pemimpin lain
tidak terlihat, diperkirakan ada pad tempat persembunyian di komplek Lanud
Halim Perdanakusuma. (Peter Kasenda, 2013)
Gerakan 30 September, menurut
Onghokham, bisa ditafsirkan pengambilan kekuasaan Pemimpin Besar Revolusi
Sukarno oleh Letkol Untung, yang memimpin kudeta. Kudeta itu diperlukan untuk
menyelamatkan revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi dari Dewan Jenderal yang
merencanakan sebuah revolusi tandingan. Pada saat yang sama, Gerakan 30
Spetember menangkap dan membunuh enam jenderal TNI AD. (Onghokham, 2010:
178-179).
Pada akhirnya Gerakan 30 September
melahirkan suatu gelombang gerakan antikomunis yang dikendalikan TNI AD dalam
menyuarakan hujatan kepada Sukarno dan pembantu-pembantunya. Pemerintah AS
melihat kejadian ini sebagai kesempatan untuk menggulingkan Sukarno. Oleh
karena itu Kedubes AS juga mentransfer uang untuk front sipil ciptaan Angkatan
Darat yang disebut Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP-Gestapu).
Yang pada akhirnya mensahkan tindakan-tindakan represif yang ditujukan terhadap
PKI. (John Rossa, 2008: 276).
Demikian kisah sejarah klasik high level politics Indonesia
kontemporer soal siapa dalang dari Gerakan 30 September 1965. Pada dasarnya
dalam menyikapi peristiwa ini tidaklah sukar untuk mempertanyakan siapa pelaku
utamanya, maka biarlah menjadi khazanah pengetahuan yang dapat dijadikan tolak
ukur perpolitikan masa kini. Sejarah akan lebih baik jika dituliskan dengan
jujur dan apa adanya. Gerakan 30 September menjadi saksi dimana bangsa ini
pernah mengalami masa kegentingan situasi politik dalam negeri.
Komentar :
Dalam bukunya berjudul “Hari-Hari Terakhir Sukarno”, buku ini memuat kisah
tentang catatan panjang Presiden Sukarno pada masa jenderal Suharto berkuasa.
Di bab-bab awal memuat kisah mendetail Gerakan 30 September yang berefek
panjang pada Sukarno. Dengan baik, Peter Kasandra merangkai bermacam data yang
diperolehnya, fakta dan cerita yang membuka pemahaman pembaca mengenai Gerakan
30 September termasuk siapa-siapa saja dan apa-apa saja yang terjadi.
Hari-hari Terakhir Sukarno ibarat sebuah catatan harian panjang yang
menulis secara detail tentang massa masa susah sukarno dipenghujung
kejayaannya. Surat perintah yang ditekennya tanggal 11 Maret 1966 perlahan
tapin pasti dijadikan senjata ampuh oleh Suharto untuk mengangkat posisi
tertinggi republik ini, menggeser menggeser Sukarno yang sebelumnya ditasbihkan
sebagai presiden seumur hidup. Hingga akhirnya Sukarno benar-benar menjadi
pesakitan, tahanan rumah yang makin akrab dengan penyakit.
Ada banyak buku yang bercerita tentang Sukarno, namun buku Hari-hari
Terakhir Sukarno ini fokus pada masa ketika sinar sukarno meredup.
Buku ini membahas poros politik pada tahun 1965, yaitu menempatkan Angkatan
Darat sebagai dalang dari peristiwa G30/S. Buku ini mengulas suatu bagian
sejarah kontemporer Indonesia dengan sumber yang akurat dan koheren mengenai
hari-hari terakhir Soekarno. Buku ini adalah salah satu buku yang dapat
dikatakan kaya akan data, pembaca akan lebih memahami peristiwa yang
diceritakan secara lebih terperinci.
Kelebihan Buku:
·
Buku ini dilengkapi dengan banyak lampiran foto yang menjadikan pembaca
lebih dapat memiliki gambaran mengenai peristiwa yang terjadi.
Kekurangan buku:
·
Kalimat yyang ditulis dalam buku ini terdiri atas banyak klausa yang
menyulitkan pembaca untuk menyimpulkan apa yang disampaikan oleh penulis.
·
Bagian sampul buku yang kurang menarik.


No comments:
Post a Comment