About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Monday, 21 December 2015

STRATEGI INFILTRASI PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI) TERHADAP ORGANIASASI LAIN

STRATEGI INFILTRASI PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI) TERHADAP ORGANIASASI LAIN

Munculnya Partai Nasional Indonesia (PKI) sebagai partai nomer empat hasil pemilu 1955 tidak didasari hanya kebetulan semata. Sejak awal berdirinya Partai Nasional Indonesia (PKI) di tahun 1924. PKI melaksanakan stratregi politik yang unik dan jarang dilakukan oleh partai politik lainnya, yaitu strategi infiltrasi. Diawali dengan ISDV awalnya mencoba bersekutu dengan Insulinde tetapi tujuannya tidak tercapai dan kerjasama berakhir. ISDV mulai melihat potensi yang dimiliki oleh Sarekat Islam (SI) yang memiliki ratusan ribu pendukung. “Kemudian, ISDV menyusup (infiltrasi) ke Sarekat Islam dan berkat dukungan komunisme internasional (Komintern), gerakan komunis ini menjadi Partai Komunis Indonesia.”[1]
Strategi itu membuat Partai Komunis Indonesia (PKI) terlihat “besar”, mereka seakan “nabok nyilih tangan” mereka besar hanya menggunakan propaganda-propaganda para pemimimpinnya mendoktrin masa dari organisasi Sarekat Islam. Pemberontakan 1926 membuat PKI semakin gencar menggunakan strategi infiltrasi dalam pergerakannya, karena tekanan dan larangan pemerintah pada waktu itu. Muncul PKI 35 dibawah pimpinan Muso. Musso yang lama tak kembali ke Indonesia, tahun 1935 mulai menginjakkan kakinya ke Surabaya.
Kemudian ia membentuk gerakan bawah tanah komunis yang berorientasi ke Stalin. Organisasi ini sering disebut sebagai “PKI Tidak Resmi”. Centraal Comite (CC) terdiri dari Musso, Pamudji, Azis, Sukajat, dan Djoko Soedjono. Kalau kita flash back tokoh PKI 35 ini nantinya yang berperan besar dalam peristiwa Madiun. Kelompok PKI 35 mempunyai orientasi yang berbeda mereka tidak mengedepankan revolusi tetapi bersedia bekerja sama sekalipun dengan kelompok borjuis yang notabenenya adalah musuh mereka. Strategi yang mereka jalankan adalah infiltrasi ke dalam organisasi-organisasi pemuda, buruh serta petani.[2]
Bahkan infiltrasi Partai Komunis Indonesia tidak hanya pada organisasi masyarakat, tetapi angkatan bersenjata pun berhasil disusupi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Suatu gebrakan telah terjadi FDR pada bulan September membubarkan diri dan bergabung ke dalam PKI. Dalam politbiro itu terdapat Aidit. PKI terus menggalakkan demonstrasi, pemogokan dan mendorong pengambilan tanah dari tuan tanah. Chaos terjadi antara Masyumi (santri) dengan anggota masyarakat yang dimobilisasi oleh kaum komunis. Sementara itu pernyataan-pernyataan Musso membuat simpati Amerika untuk Indonesia dipertanyakan. Belum lagi Tan Malaka (Troskyis) memang berseberangan dengan Musso (Stalinis). 
Gesekan akhirnya terjadi September 1948 terjadi antara kekuatan bersenjata yang pro-PKI dan pro-Republik di Surakarta. Pada tanggal 17 September PKI terdesak oleh Divisi Siliwangi, dan PKI mengambil posisi di Madiun. Inilah peristiwa yang terkenal dengan Madiun 1948. PKI setelah peristiwa Madiun sudah dihancurkan oleh pemerintah Republik namun tidak dilarang. Kondisi ini berbeda dengan peristiwa 1927, di mana PKI dilarang oleh pemerintah Kolonial Belanda melalui gubernur Jendral van Limburg Stirum. “Akhirnya, Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dihancurkan tetapi tidak dilarang pada tahun 1948, hampir siap untuk melakukan pemunculan kembali yang paling menakjubkan dari sejarahnya yang berganti-ganti.”
Kembali dengan strategi infiltrasinya Partai Komunis Indonesia “bangkit” kembali bersama D.N. Aidit melalui SOBSI (Sentral Serikat Buruh Seluruh Indonesia). Aidit memilih strategi defensif sebab penyesuaian perlu dilakukan. Ia juga membawa pembaharuan yang sangat drastis. Aidit tidak mempertahankan komunisme sebagai ideologi politik tetapi masa depan kepartaian. Semua itu dapat diketahui dari orientasi politik Aidit. Walaupun begitu PKI terus dapat bertahan selama 15 tahun. PKI dalam pemilu tahun 1955 mampu menempati posisi 4 besar di bawah PNI, Mayumi, dan NU. PKI mulai mendapat angin setelah demokrasi terpimpin mulai diterapkan dan PKI terus mendukung Soekarno. Strategi PKI mulai berubah dari defensif menjadi ofensif untuk mendapat kekuasaan. Dengan adanya pemberontakan daerah, kondisi politik menjadi tidak stabil, perang dingin (cold war), ditambah lagi inflasi naik menjadi 134% tahun 1964. Belum lagi rivalitas antara PKI dan Tentara semakin kuat dan memanas.
Situasi semakin memanas, tanggal 30 September 1965 malam Letnan Kolonel Untung yang mendengar akan ada kudeta oleh Dewan Jendral mencoba mendahuluinya dengan membuat kelompok dengan nama Gerakan 30 September. Terjadilah penculikan terhadap Panglima Angkatan Darat Letjen. A. Yani, Brigjen Panjaitan, Mayjen S. Parman, Brigjen Sutoyo, Mayjen Suprapto dan Lettu Tendean serta Nasution tetapi ia dapat meloloskan diri.[3] 1 Oktober 1965 Soeharto mengambil alih komando atas angkatan bersenjata. Kemudian Untung mengumumkan melalui radio bahwa Gerakan 30 Setember adalah kelompok militer yang bertindak untuk melindungi presiden Soekarno. Kemudian berdasarkan hipotesis Yoga Sugomo, Soeharto mengumumkan PKI sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Senjata Soeharto adalah Super Semar. Ia mengeluarkan Kepres untuk membubarkan dan menghabisi PKI beserta simpatisannya.
Dari ketiga peristiwa tersebut dapat diketahui bahwa PKI adalah organisasi yang sukses menjalankan strategi infiltrasi dimana setiap kali dihancurkan dapat bangkit kembali dengan “bantuan” organisasi lain yang sudah berdiri terlebih dahulu. Bahakan tidak hanya organisasi masyarakat yang terkena “PKI efek” tapi angkatan bersenjatapun dapat disusupi dengan berbagai cara. Sayangnya PKI adalah organisasi yang  poorly organized, tidak seperti apa yang didengung-dengungkan dan membuat rakyat serta pejabat ketakutan. Terbukti pada saat terjadi pemberontakan pimpinannya selalu tidak ada di tempat, bukan melarikan diri tetapi koordinasinya memang lemah. Jadi dalam pemberontakan 1927, Madiun Affair 1948 PKI memang menjadi sponsor tetapi saat Madiun Affair hanya PKI Madiun dan Pati saja yang mendukung, yang lain tidak. Sedangkan dalam penculikan dan pembunuhan para jendral tahun 1965, berdasarkan penelitian yang ada dalangnya tidak tunggal melainkan lebih dari satu.



















ARAH PANDANG PIMPINAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA PKI

Arah pandang pimpinan PKI (Semaun)
Semaun merupakan anak didik dari Sneevliet, beliau merupakan salah satu kader dari Komunisme juga berperan dalam menumbuhkan gerakan Komunisme di Indonesia.Semaun adalah tokoh ynag berperan dalam Sarekat Islam haluan Komunis, kiprahnya tidak hanya sebatas tokoh Sarekat Islam berhaluan Komunis tapi juga sebagai aktivis buruh yang giat menggerakan massa untuk melakukana pemogokan yang menyorong perekonomian Hindia Belanda pada saat itu.
Semaun lahir di Curahmalang, kecamatan Sumobito, termasuk dalam kawedanan Mojoagung, kabupaten Jombang, Jawa Timur sekitar tahun 1899. Ia merupakan anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api di Surabaya yang secara ekonomi menempatkannya pada golongan masyarakat kurang mampu dan tereksploitasi. Karena mereka hanya dijadikan tenaga kerja murah. Dalam stratifikasi masyarakat di Hindia Belanda khususnya Jawa Timur, keluarga Semaun masuk dalam kalangan Islam abangan yang dalam pergaulan sehari-hari termarginalisasi secara sosial.
Pada usia ke 14 tahun Semaun mulai memasuki dunia organisasi yaitu Sarekat Islam yang berada di Surbaya,usia yang tergolong masih sangat muda namun pikirannya sudah terbuka. setahun kemudia ia bertemu dengan  Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), itu merupakan organisasi sosial demokrat Hindia Belandaafdeeling yang berada di Surabaya yang didirikan Sneevliet. Tidak hanya itu Ia juga bergabung di organisasi Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), serikat buruh kereta api dan trem afdeeling Surabaya. tahun 1916 Semaun pindah ke Semarang, karena disana dia diangkat sebagai pengurus VSTP yang digaji. Di Semarang, ia kemudian menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang.
Bersama-sama rekannya yaitu Alimin dan Darsono, Semaun mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Indonesia.  Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaun menjabat sebagai ketua. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, namun karena adanyaperbedaan pandangan yang terjadi diantara anggota SI membuat organisasi ini pecah menjadi 2 yaitu Sarekat Islam Putih yang berada di Yogyakarta, Sarekat Islam Merah yang bermarkas si Semarang. SI merah ini yang kemudian bercabang menjadi PKI. Visi dari PKI ini adalah tidak membiarkan adanya perbedaan-perbedaan nasib dalam hal pangkat dan bangsa serta menentang segala bentuk kelas-kelas ataupun strata sosial  manusia. PKI begitu giat dalam mengkampanyekan semboyan “sama rasa sama rata.
Kesadaran nasional tertanam dalam diri Semaun seiring dengan realitas yang ada di Indonesia, di mana rakyat kecil selalu menjadi korban kaum penguasa dalam hal ini pemerintah dan kaum kapitalis yang berkuasa. Sebagai wujud dari kepedulian Semaun ini, maka Semaun menulis artikel-artikel yang berisi ajakan kepada tokoh pergerakan dan rakyat untuk sama-sama memperjuangkan hak-hak rakyat kecil dan juga kaum buruh serta mengkritik berbagai kebijakan pemerintah kolonial yang berkaitan dengan masalah perkebunan. Semaun juga aktif mengkoordinir berbagai aksi pemogokan terutama di daerah Semarang dan sekitarnya.
Semaun adalah sosok yang giat dalam berkarya, karyanya mencakup tentang hal hal sosial. Kebanyakan karyanya ditulis di dalam surat kabar beraliran kiri. Dalam menulis karyanya Pemikiran Semaun dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni oleh Sneevliet (Seorang tokuoh komunis dari Belanda) dan agama Islam, walau sempat dalam karyanya ia memprotes pemikiran pribumi yang terlalu percaya akan kegaiban yang akan mengatur dan menyelamatkan mereka. Di antara karya-karya Semaun adalah Penuntun Kaum Buruh yang dibuat untuk para anggota Partai Komunis Indonesia, Hikayat Kadiroen yang menceritakan seorang priyayi Marxis yang sangat peduli kepada rakyatnya dan ikut bergerak untuk memperjuangkan hak–hak rakyat kecil. Semaun juga menulis sebuah karangan yang khusus ditujukan untuk pergerakan buruh. Judulnya Penoentoen Kaoem Boeroeh, diterbitkan dan dicetak oleh Drukkerij VSTP. buku ini menjadi semacam “Kitab Suci” bagi kaum buruh untuk mendirikan organisasi dan mengurus keuangan sendiri.[4]
Pada tahun 1923, VSTP merencanakan suatu aksi yaitu  demonstrasi besar-besaran, saat aksi itu berlangsung dihentikan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan setelah itu Semaun diasingkan ke Belanda. Semaun ditangkap dan diberangkatkan ke Belanda pada tanggal 18 Agustus 1923. Setelah masa pengasingan Semaun kembali lagi ke Indonesia, hubungannya dengan PKI telah terputus.

Arah pandang pimpinan PKI (D.N Aidit)
Setelah peristiwa PKI di Madiun, PKI ini diidentikan dengan D.N Aidit, soerang tokoh yang telah menghidupkan benang merah PKI pada tahun 1950. Pasca peristiwa PKI Madiun Aidit menjadi tokoh dalam PKI dengan jabatannya sebagai sekertaris jendral. Sejak Januari 1951 Aidit menjadi pimpinan partai, dalam kepimpinan Aidit yang membawa PKI pada posisi keempat dalam pemilu 1955 dengan 6,1 juta pemilih.
D.N Aidit lahir pada tanggal 30 Juli 1923 di Belitung. Nama kecilnya adalah achmad Aidit namun setelah dewasa mengubah namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit.Aidit mengawali karier politiknya dengan bergabung dengan Persatuan Timur Pemuda, perkumpulan yang dimotori oleh Gerindo yang dipimpin Amir Syarifudin. Setelah itu ia memutuskan untuk bekerja menjadi pegawai majalah, disitulah ia bertemu dengan Susanti yang akhirnya menjadi istrinya.
Di akhir tahun 1950 RI ditakuti oleh negara–negara barat karena paham Komunisme tumbuh besar di Indonesia. PKI telah bangkit kembali setelah peristiwa Madiun yang membuatnya surut. PKI menjelma menjadi kekuatan politik , semua itu tidak dilepaskan dari peranna D.N Aidit sebagai tokoh antagonis dalam sejarah Indonesia. kepemimpinan Sidit menjadikan PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga setelah RCC dan Uni Soviet.
Cara Aidit dalam membangun PKI cukup militan, Ia membangun jaringan–jaringan partai hingga ke massa bawah. Aidit membentuk berbagai organisasi–organisasi sayap yang beraffiliasi kepada PKI, dan menempatkan kader–kadernya dalam berbagai organisasi profesi bahkan ditubuh militer. Ia juga menggerakan kader PKI untuk menyusup ke dalam partai–partai lain yang ada. Dengan ciri khasnya Flamboyan dan gaya kepemimpinannya yang kharismatik ini membuat PKI mendapat simpati dari masyarakat Indonesia.
Gerakan politik Aidit dan Lobi–Lobi yang dilakukan PKI berhasil membujuk Soekarno agar menempatkan kader PKI dijajaran pemerintahan. Kampanye Nasakom yang dipaparkan rezim Soekarno merupakan bukti keberhasilan Aidit dalam membujuk soekarno. Kampanye Nasakom tersebut memberi pengakuan bahwa Nasional, Komunis, dan agama berada dalam posisi yang sama. Kampanye Nasakom ini juga membuka jalan bagi Aidit untuk menempatkan PKI dalam Pemerintahan.[5]
Saat kepemimpinan Aidit dalam PKI, kader kadernya aktif dalam memprovokasikan masssa serta lawan politiknya dengan berbagai gagasan yang terkadang menimbulkan kontroversi. Aidit pernah melontarkan sebuah gagasan, bahwa pancasila sudah kurang efektif dalam melihat kondisi Indonesia ke depan. Aidit mengusulkan pembentukan angkatan ke lima. Strategi yang dilakukan yaitu dengan mempersenjatai buruh dan petani dengan bantuan persenjataan dari RRC. Kampanye memberikan senjata kepada buruh dan tani tentu saja merupakan tantangan bagi lawan politik PKI yang paling kuat, yaitu angkatan darat. Jadi tidak mengherankan jika AD menolak ususlan tersebut.
Pada tahun 1965 meletuslah gerakan 30 September, yang menculik lalu membunuh jendral Jendral AD. Korban korban itu diantaranya adalah : A.H Nasution, A.Yani, S.Parman, Suprapto, MT.Haryono, Sutojo S, D.I Pandjaitan. Setelah terjadinya peristiwa ini situasi politik Indonesia menjadi kacau. Oarang orang saling tuduh menuduh. Ad menuduh PKI sebagai dalang dibalik peristiwa tersebut sementara Aidit menyebutkan bahwa tragedi itu adalah murni konflik internal yang ada dalam AD. pihak AD yang mengerahkan media masa sehingga bisa mempublikasikan kepada publik bahwa gerakan itu adalah didalangi oleh Aidit.

Arah pandang pimpinan PKI (Muso)
Muso dikenal sebagai otak dibalik Peristiwa Madiun pada tahun 1948. Ada juga yang menyebut Muso sebagai tokoh yang berperan dalam pemberontakan PKI terhadap pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1926. Masa muda Muso cukup aktif terutama dibidang organisasi, tak hanya satu organisasi yang ia ikuti tapi banyak diantaranya: Sarekat Islam, Partai Komunis Indonesia, Sarekat Rakyat, ISDV dan organisasi-organisasi perburuhan pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Lewat gerakannya yang dikenal radikal terhadap imperial dan kolonial, gerakannya pun sampai ke Rusia yakni di Komunisme Internasional (komintern) sebagai induk organisasi komunis dunia. Ia pun dekat dengan Stalin, pemimpin gerakan komunis yang juga penguasa Rusia.
Muso dengan nama lengkapnya Muso Manowar. Musso lahir dengan nama Munawar Musso pada 12 Agustus 1897 di Desa Jagung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.[6] Ayahnya Mas Martoredjo[7] pegawai kantoran pada Bank di Kecamatan Wates, tak jauh dari rumah. Sedang ibunya bekerja dirumah mengelola kebun Kelapa dan kebun Mangga. Sumber lain[8] menulis bahwa bapaknya bernama Datar yang bekerja setiap hari, sehari penuh di sawah. Ibunya bernama Khasanah yang kesehariannya membatik yang kemudian hasilnya ditukar dengan bahan-bahan keperluan sehari-hari.
Pemikiran Muso dipengaruhi oleh Stalin yang merupakan anggota dari Internasional Komunis di Moskwa. Dirumah Tjokroaminoto inilah ia bertemu dengan Sneevliet, seorang Marxian dari Belanda yang kerap berdiskusi dengan Tjokroaminoto dan para muridnya yang indekos disana. Sneevliet juga yang mengkader Musso, Alimin, Haji Misbach, Darsono, Semaoen dan Mas Marco Kartodikromo dan mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) organisasi ini berhaluan Marxisme. Sneevliet juga memasukkan gagasan sosialis dalam tubuh Sarekat Islam hingga pada akhirnya Tjokro memecah Sarekat Islam menjadi 2 kubu yaitu Sarekat Islam Merah dan Putih sebagai disiplin partai, juga karena adanya dualisme keanggotaan antara Sarekat Islam dan ISDV yang kemudian menjadi PKI.
Sneevliet jeli melihat Sarekat Islam sebagai organisasi rakyat yang memiliki basis massa besar, itu sebabnya Sneevliet masuk dan menanamkan pengaruhnya dengan membangun blok merah di tubuh Sarekat Islam, apalagi Sneevliet adalah orang yang berani menyuarakan gagasan “Hindia Belanda Merdeka” gagasan yang revolusioner untuk masa itu ketika Belanda kuat menancapkan imperialisme.[9]
Muso memiliki harapan besar terhadap perubahan Indonesia melalui jalan Revolusi. Sejak tahun 1920an Muso aktif dalam gerakan Komunisme, bahkan ketika terjadinya pemberontakan pada tahun 1926. Keaktifan Muso tidak hanya di dalam negeri saja tapi ia juga ikut serta dalam gerakan di luarnegeri tepatnya di Moskow, ia mejadi komite eksekutif komunis internasional. Setelah kepulangannya dari Moskow, Muso memiliki konsep baru melalui pemikirannya setelah ia dapatkan inspirasi di Moskow.
Konsep penawaran dan koreksi kritis terhadp pemerintahan waktu itu, konsepsi paradigmatiknya yang kemudian dikenal dengan “Djalan Baroe oentoek Repoeblik Indonesia” cukup laris lewat sosialisasinya diberbagai daerah. Jalan baru kemudian distensil untuk diperbanyak oleh CC PKI sebagai pedoman kaum kiri yang mayoritas menggantungkan gerakan populis kepada kaum buruh dan tani. Setelah itu ia kembali lagi ke Moskow untuk menghindari endusan intelejen kolonial Belanda, saat Indonesia merdeka pun Musso masih diluar negeri.
Pada bulan Agustus 1948 Musso kembali ke Indonesia dengan bekal doktrin garis keras yang dibenci Amerika karena bersifat non-kooperatif. Musso menerapkan gagasannya dalam PKI yaitu “Jalan Baru”. Jalan Baru yang akhirnya cukup diterima PKI akhirnya diimplementasikan dengan meleburnya unsur-unsur kiri menjadi PKI. Musso pun menjadi pimpinan PKI. Dari gagasan yang diusung Musso itulah yang membuat PKI giat dalam mengkritik kebijakan  pemerintah yang bersifat kapitalis.
            Sementara itu diluar kisruh politik terjadi juga olemik ketentaraan, Pesindo dan laskar-laskar kiri yang tidak puas atas kebijakan Hatta seakan mendapat peringatan lewat penculikan dan pembunuhan terhadap anggotanya.Sementara itu Muso masih keliling pulau Jawa dalam rangka rapat-rapat akbar demi mensosialisikan gagasannya yakini Jalan Baru. Untuk memastikan keadaan di Madiun, Jenderal Soedirman mengirim Letnan Kolonel Soeharto ke Madiun, ia pun disambut Soemarsono selaku pimpinan Pesindo. Soeharto melihat keadaan Madiun yang aman terkendali, namun Soemarsono tidak yakin bahwa Soeharto menyampaikan pesan ke Soedirman bahwa Madiun aman, sehingga Pasukan pemerintah yang mengira Madiun dalam keadaan darurat dan datang pasukan menyerang Pesindo. Ketidakjelasan surat yang seharusnya disampaikan Soeharto kepada Jendral Soedirman itu pun menambah spekulasi bahwa Madiun tidak aman, ditambah lagi pidato Soemarsono yang diakhiri dengan kata “dari Madiun kita mulai kemenangan”.
Soemarsono berdalih bahwa itu adalah pidato pembelaan terhadap penculikan yang dilakukan oleh pasukan tak dikenal sebagai provokasi[10] Pidato Soekarno yang dinilai provokatif adalah bahwa para pengacau menyulitkan jalannya pemerintahan, Musso mendirikan negara Soviet Madiun.[11] Soekarno menilai Musso dan PKI melakukan tindakan radikal dan anarkhis, padahal menurut Soemarsono mereka hanya membela diri dengan melucuti tentara yang menculik dan menembak tentara dan laskar afiliasi darianggota PKI. Kata “basmi” memang menuai kontroversi, setidaknya pasca peristiwa Madiun terjadi pembunuhan bagi kader, simpatisan ataupun mereka yang dianggap PKI secara besar-besaran. Soekarno mengambil kesimpulan bahwa PKI melakukan pemberontakan dengan melucuti senjata tentara pemerintah, selanjutnya ada pembentukan negara Soviet Madiun.
Musso yang merasa dianggap sebagai pengacau, ia tidak tinggal diam. Dia merasa tersudutkan setelah mengetahui diserang secara terbuka oleh temannya sendiri. Melalui corong Radio Gelora Pemuda, Musso membalas pidato Soekarno, Musso menyatakan bahwa Soekarno-Hatta hendak menjual Indonesia kepada imperialis Amerika.
Musso berusaha menyerang Soekarno. Ia pun mengungkapkan realita yang terjadi yang menurutnya hasil kerjasama Hata dan Tan Malaka. Pembebasan Tan Malaka setelah ia dipenjara akibat dituduh turut andil dalam peristiwa penculikan Perdana Menteri Sjahrir yang terjadi di Solo, 27 Juni dan peristiwa kudeta 3 Juli 1946 adalah upaya adu domba, PKI mencium itu setelah tahu bahwa hubungan PKI dan Murba yang condong ke Tan Malaka tidak baik. Mereka berkomitmen bahwa Tan dibebaskan dengan syarat agar menyerang PKI. Tapi kemudian setelah PKI hancur dan Tan Malaka dan kelompoknya pun hilang, diduga dibunuh oleh tentara pemerintah.
















MOBILISASI MASSA OLEH PKI

Pengikut komunisme di  Indonesia pada masa awal kemerdekaan terdiri atas: Kelompok partai ilegal yang didirikan oleh  Musso di Surabaya pada tahun 1935, kelompok Joyoboyo yang dipimpin Mr. Mohammad  Joesoeph dan Mr. Suprapto yang mengikuti garis Stalin, kelompok Amir Sjarifuddin, Njono, Oei Gee Hwat dan Widarta, kelompok  Nederland terdiri atas anggota  PKI bekas pengurus Perhimpunan Indonesia (PI), mereka adalah AbdulMadjid Djojodiningrat, Setiadjid, Maruto  Darusman dan  Suripno, serta kelompok  Digul yang dipimpin oleh Sardjono, AchmadSumadi, Harjono.
Di antara kelompok-kelompok ini pertama kali tampil ke panggung politik adalah kelompok Amir Sjarifuddin. Mr. Amir Sjarifuddin setelah keluar dari penjara Malang bulan September 1945, langsung pergi ke Jakarta, karena ia telah diangkat sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet pertama RI (19 Agustus-14 November 1945). Kelompoknya segera melakukan konsolidasi serta membagi tugas dalam pelbagai bidang. Bidang politik ditangani oleh Mr. Amir  Sjarifuddin karena ia kurang tertarik pada bidang sosial dan ekonomi, bidang kepemudaan oleh Wikana, bidang ketentaraan dan pertahanan oleh  Atmadji dan Djokosuyono.
Setelah proklamasi kemerdekaan, organisasi-organisasi pemuda tumbuh laksana jamur di musim hujan. Pada tahun 1945, telah terbentuk lebih kurang 30 organisasi pemuda. Organisasi pemuda ini biasa disebut dengan nama badan-badan perjuangan atau laskar. Di Jakarta lahir beberapa badan perjuangan yang kemudian bersatu dalam Komite van Aksi yang dipimpin oleh Sukarni, Chaerul Saleh, dan Maruto  Nitimihardjo. Organisasi-organisasi pemuda yang bernaung dalam Komite van Aksi antara lain Angkatan Pemuda  Indonesia (API), Barisan Rakyat (BARA). Mr. Amir  Sjarifuddin juga muncul dalam kubu organisasi pemuda. Ia berhasil mengkonsolidasikan sisa-sisa grupnya yang barada di  Surabaya membentuk organisasi Angkatan Muda Indonesia (AMI) pada tanggal 20 September 1945, yang dipimpin oleh Roeslan  Abdulgani. Organisasi ini sama sekali bukan organisasi yang berhaluan komunis. AMI berhasil menyelenggarakan rapat raksasa di Stadion Tambaksari, Surabaya pada tanggal 21 September 1945. Dalam suasana awal revolusi itu kader-kader komunis dalam  AMI mulai bergerak. Pada tanggal 6 November 1945 di Yogyakarta berlangsung pertemuan antar organisasi pemuda. Pertemuan itu memutuskan waktu dan tempat kongres yaitu tanggal 10-11 November 1945 di Yogyakarta. Kongres Pemuda dihadiri oleh 332 utusan dari 30 organisasi pemuda seluruh  Indonesia. Pimpinan Kongres adalah Chaerul Saleh. Menteri Penerangan Mr. Amir  Sjarifuddin mempergunakan kesempatan ini untuk mempengaruhi pemuda. Dalam sambutannya pada pembukaan kongres, ia menyatakan sebagai berikut: “Hai pemuda, jika kamu memegang bedil di tangan kananmu haruslah kamu memegang palu di tangan kirimu, dan jika kamu memegang pedang di tangan kananmu, peganglah arit di tangan kirimu”.
Selama Kongres Pemuda, organisasi-organisasi dari kelompok sosialis dan komunis berhadapan dengan organisasi-organisasi pemuda dan kelompok Tan  Malaka. Masing-masing kelompok berusaha merebut kepemimpinan pemuda, dengan menggeser atau menyingkirkan orang-orang yang dianggap tidak revolusioner dan tidak tahu revolusi.2 Kelompok sosialis-komunis membentuk suatu wadah tunggal. Dengan menggunakan kekuatan organisasi Pemuda Republik  Indonesia yang telah dipersiapkan oleh Amir Sjarifuddin, mereka melakukan gerakan anschluss (pencaplokan) terhadap beberapa organisasi pemuda untuk difusikan dalam wadah baru yang  bernama Pemuda Sosialis  Indonesia (Pesindo).
Strategi pki terhadap kaum petani pada masa kepemimpinan Aidit mulai dirumuskan dalam kongres nasional ke-V tahun 1954. Program agraria PKI tersebut didasarkan pada tulisan Aidit dimajalah Bintang Merah pada bulan Juli 1953 yang berjudul “Hari Depan Gerakan Buruh Tani Indonesia”. dalam tulisan itu, Aidit dengan tegas mengkritik progam “Nasionalisasi Tanah”[12] yang menurutnya tidak sesuai dengan Revolusi Indonesia dan memisahkan kader dengan masa kaum tani serta membuat kecurigaan dikalangan Tani.
Dengan pernyataan Aidit tersebut, kita dapat melihat Bahwa PKI menyadari kekuatan politik yang mereka miliki belum terlalu kuat untuk mendorong sebuah kebijakan yang mereka harapkan sehingga, yang mereka angkatlah hanya sebuah semboyan dan semangat perjuangan partai untuk mendapatkan simpati dari kaum tani. Namun aidit menyadari bahwa kesadaran kader partai untuk bekerja dikalangan kaum petani masih belum optimal, hal tersebut didasari oleh masih sedikitnya dari kalangan kaum tani serta belum adanya anggota partaiyang benar-benar mengrti hubungan agraria dengan tuntukan kehidupan peteni.
Oleh karena itu, pada tahun1953, Aidit menyerukan kepada para kader partai untuk melakukan pekerjaan dikalangan kaum tani.[13] Melihat realitas kekuatan politik yang belum signifikan,cara-cara yang dilakukan PKI masih terbatas dengan melakukan propaganda terkait masalah tanah nasib petani.selain itu, PKI juga menggunakan FPT ( Front Persatuan Tani ) yng dibentuk pada 2 juli 1951 sebagai sayap gerakan partai komunis terhadap kaum tani. Hal itu semakin bertambah besar pada akhir 1952 sebelum terjadi fusi antara berbagai organisasi tani kedalam BTI yang sudah dikuasai kaum komunis.
Langkah yang dilakukan PKI dalam mencari dukungan massa adalah dengan mengenali berbagai aspek kehidupan petani dalam hubungannya dengan masalah Agraria. Dalam hal itu, PKI menjalankan salah satu progam utama, yakni dengan mengirimkan kader-kader partai ke depan pedesaan. Mereka mengadakan diskusi, konsolidasi serta meluaskan jaringan organisasi yang berafiliasi kepada PKI sebagai kegiatan pokok partai.
Selain organisasi yang didasarkan kepada fungsi organ-organ PKI, terdapat juga organisasi yang  didasarkan kepada tugas seorag atau kelompok. Petani di gerakkan melalui organisasi pemuda, wanita, buruh (tani), nelayan, dan sebagainya. Organisasi yang terbentuk adalah Barisan Tani Indonesia (BTI), Serikat Tani Indonesia (SAKTI), dan Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (SARBUPRI). Dibentuk pula organisasi untuk pamong desa, yakni Persatuan Pamong Desa Indonesia (PPDI) yang semula merupakan organisasi non-komunis, tetapi sejak 1951 dikuasai PKI. Segala usaha yang dibentuk untuk kepentingan petani di desa ini  telah diorganisir oleh oleh Aidit sejak 1951 yang bertujuan agar PKI bisa memasuki berbagai kegiatan hidup di pedesaan dan menjadikan petani sebagai kader militan untuk menarik dukungan yang luas.

















TINDAKAN DARI PEMERINTAHAN YANG BERKUASA

Pengertian Komunis di Indonesia pada masa pemerintahan Kolonial Belanda yaitu ditekankan pada menentang pemerintahan Belanda dengan yang ikut andil dalam perang Sabil. Dalam mendapatkan dukungan dari rakyat tokoh PKI yaitu Musso dan Alimin melakukan strategi dengan menghilangkan kata Komunisme , mereka lebih mengedepankan dengan kata persamaan Perjuangan antara PKI dan Islam. Hal ini yang membuat para ulama Basnten tidak menentang kedatangan PKI. Dengan meningkatnya aktivitas PKI di Banten bulan Juli–September 1926 pemerintah Hindia Belanda melakukan Penangkapan terhadap beberapa pemimpin PKI di Banten. Hal ini yang menyebabkan Pki berada di bawah tangan ulama dan Jawara.
Golongan inilah yang kemudian melancarkan aksi pemberontakan pada bulan November 1926. Target utama dari pemberontakan ini adalah kaum priyayi yang dianggap mereka yang mencemari kota Banten. Dalam pemberontakan ini PKI menyerbu pelabuhan pada tengah malam , setelah kejadian ini pemerintah Kolonial Belanda melakukan penangkapan diberbagai tempat di Banten. sampai dengan bulan Desember 1926 pemerintahan kolonial Belanda masih melakukan pencarian terhadap antek antek dalam pemberontakan. Para pemberontak yang telah ditemukan dan ditangkap kemudian diasingkan, dipenjara, atau dihukum mati. 4 orang dihukum mati, 9 orang divonis hukuman seumur hidup dan 99 orang diasingkan ke Boven Ghazali, termasuk para ulama Banten, seperti Tu Bagus K.H achmad Chatib,Tubagus Hadi, Puradi Sastra (kakak dari Sukaesih), Alirachman, dan Tubagus Hilman.[14]
            Tidak hanya di Jawa PKI melakukan aksi pemberontakannya. Di Sumatera pun ada gerakan dari PKI . Paham Komunisme di daerah Sumatera yang dimotori oleh Haji Datuk Batuah yang diperkirakan tahun 1923. Haji Datuk Batuah mengajarkan paham komunisnya melalui kaum pelajar pelajar dan guru guru muda Sumatera Thawalib Padang panjang, ada tahun 1920-an, Haji Datuk Batuah ditugasi oleh Haji Rasul untuk meninjau keadaan sekolah Thawalib di Aceh. Namun, siapa sangka, di perjalanan inilah Ia bertemu dengan Natar Zainuddin, seorang propagandis serikat buruh kereta api (VSTP).[15]
Datuk Batuah dan Natar Zainuddin langsung berkawan akrab. Pada tahun 1923, keduanya berangkat ke Jawa. Entah sengaja atau tidak, keberangkatan mereka bertepatan dengan Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI)/Sarekat Rakyat (SR) di Bandung, Jawa Barat.Datuk Batuah dan Natar Zainuddin jadi peserta di kongres itu. Saat itu, seorang Haji dari Surakarta, yaitu Haji Misbach. Namun, begitu Misbach masuk ke inti pidatonya, Datuk Batuah langsung terperangah. Menurut Misbach, ada kesesuaian antara ajaran Al-Quran dan Komunisme. Antara lain, Al-Quran mengajarkan bahwa setiap muslim harus mengakui hak azasi manusia. Tetapi hal itu juga menjadi prinsip dalam program komunis.[16]
Selain itu, kata Misbach, Tuhan memerintahkan untuk melawan segala bentuk penghisapan dan penindasan. Hal itu juga menjadi jiwanya kaum komunis. Lebih penting lagi, komunisme tidak mentolerir diskriminasi pangkat dan ras. Ajaran Karl Marx ini juga mengutuk klas-klas di dalam masyarakat. Slogannya: Sama rasa, Sama rata! “Siapa yang tidak bisa menerima prinsip-prinsip komunisme berarti dia belum benar-benar muslim,” kata Misbach di akhir pidatonya.
Pidato Misbach sangat membekas dalam pikiran Datuk Batuah. Begitu pulang ke Sumatera Barat, ia segera menyebarkan pandangan “Islam Komunis” ala Misbach itu kepada murid-muridnya di Perguruan Thawalib dan melalui koran “Pemandangan Islam”.
Sementara Natar Zainuddin, yang kembali ke Sumatera Barat pada Mei 1923, segera menyebarkan gagasannya melalui koran “Djago-Djago”. Dua koran ini pula yang menjadi terompet perjuangan menentang kolonialisme di Sumatera Barat. Pada tanggal 20 November 1923, berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Batuah (Ketua), Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara), Natar Zainuddin (anggota), dan Dt. Machudum Sati (anggota).[17]
Sejak itu, Datuk Batuah menjelma menjadi “propagandis komunis”. Rakyat banyak menyebutnya “ilmu kuminih”. Banyak pedagang terseret dalam propaganda “Islam Komunis”. Maklum, Islam mengharamkan praktek “Riba” dan melarang umatnya menumpuk harta. Ini selaras dengan propaganda Marxisme menentang kapitalisme. Haji Datuk Batuah menikah dengan Saadiah. Hasil perkawinannya dikaruniahi tiga anak. Salah seorang anaknya diberinama: Lenin. Lalu, Datuk Batuah menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Zainab. Ia dikaruniai seorang putri bernama Kartini.
Sebagai seorang komunis, Haji Datuk Batuah tetap taat pada agamanya. Audrey Kahim mengutip pernyataan Buya Hamka tentang Haji Datuk Batuah: “Rupanya dia menjadi pengikut setia komunisme hanya untuk hal-hal yang menyangkut (ajaran) ekonomi, tidak dalam hal-hal materialisme historisnya. Jadi, dia komunis tulen yang masih memeluk agama Islam. Konon kabarnya, orang-orang komunis yang anti-agama harus hormat kepadanya. Sebab dia tidak keberatan bersikap keras terhadap orang-orang yang mencela agamanya.”Propaganda “Islam Komunis” sangat membumi. Rakyat pun berbondong-bondong menjadi anggoat PKI. PKI Padang Panjang punya pusat propaganda bernama: International Debating Club (IDC). Namun, rupanya, Belanda sangat khawatir dengan hal itu. Maklum, PKI adalah organisasi paling radikal dan paling keras menentang kolonialisme Belanda.
Akhirnya, baru 2 bulan beraktivitas di Padang Panjang, Belanda menggeledah IDC. Itu terjadi tanggal  11 November 1923. Saat itu, aktivis IDC sedang melipat-lipat koran Djago-Djago! Tiba-tiba datang Polisi bersenjata lengkap menggeledah tempat itu.Natar Zainuddin dan Datuk Batuah ditangkap. Sehari kemudian, para aktivis PKI Padang Panjang dan anggota Redaksi Djago-Djago juga mulai ditangkapi oleh Belanda. Sebulan kemudian, Djamaluddin Tamin juga ditangkap.
Datuk Batuah dan Natar Zaimuddin dibuang ke Timor (NTT). Natar Zainuddin dibuang ke Kafannanoe (Kefamenanu), sedangkan Datuk Batuah dibuang ke Kalabai (Kalabahi, Alor). Namun, meski di pembuangan, Datuk Batuah tetap aktif berjuang.Bersama dengan  Christian Pandie, aktivis Timor, mendirikan organisasi bernama Partai Serikat Timor. Tak lama kemudian, partai ini berganti nama menjadi Partai Serikat Rakyat. Azasnya tetap: Komunisme! Sayang, ketika meletus pemberontakan PKI tahun 1926, aktivis Partai Sarekat Rakyat turut ditumpas Belanda. Pada tahun 1927, Datuk Batuah dan Natar Zainuddin dipindahkan ke Boven Digul, Papua. Tidak banyak dokumentasi terkait kehidupan Datuk Batuah dan Natar selama di Digul. Begitu Jepang merengsek masuk Indonesia, Datuk Batuah dipindahkan New South Wales, Australia.
Konon kabarnya, Datuk Batuah dan istrinya, Saadiah, sempat kembali ke Indonesia dan tinggal di Solo, Jawa Tengah. Dalam buku Soe Hok Gie, Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan, disebutkan bahwa Datuk Batuah masuk daftar anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia mewakili Solo bersama DN Aidit dan Alimin.Tahun 1948, Ia kembali ke kampung halamannya: Koto Laweh, Padang Panjang. Di sana ia tetap berpropaganda komunisme. Datuk Batuah meninggal dunia tahun 1949.[18]
Memperkuat propaganda di kalangan buruh-buruh tani yang bekerja di perkebunan-perkebunan. Tetapi gelagat akan terjadinya pemberontakan di Sumatera Barat, terlebih dulu tercium Pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda segera bertindak melakukan penangkapan-penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin PKI Sumatera Barat. Berturut-turut Said Ali, Idrus, Sarun, Yusup Gelar Radjo Kacik, Datuk Bagindo Ratu dan Haji Baharuddin pada akhir tahun 1926, kemudian ditangkap  dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan hendak memberontak.
Baru-baru ini {1994} muncul perdebatan yang memanas mengenai keterlibatan Soekarno dalam perdebatan kudeta yang dikenal sebagai G3OS. Keterlibatan ini semestinya tidak dikaburkandengan kecurigan atau praduga mengenai keterlibatan Soekarno dalam percobaan kudeta tersebut. Praduga yang muncul diperkuat dengan kebijaksanaanya pro PKI setelah kudeta ini terjadi. Hal ini bisa juga ditafsirkan bahwa Soekarno mendukung gerakan itu.
Pemimpin Kudeta Letkol Untung, Komandan pengawal istana, mengambil alih kekuasaan presiden dan pemimpin besar Revolusi, gelar Soekarno pada waktu itu. Kudeta itu menyatakan bahwa cabinet dibubarkan dan dibentuklah Dewan revolusi. Kudeta itu bagaimanapun, diperlukan untuk menyelamatkan revolusi dan pemimpin besar Revolusi dari dewan Jendral yang merencanakan sebuah revolusi tandingan.Meskipun G3OS adalah kudeta untuk menjatuhkan pemerintahan Soekarno dengan tindakannya mengambil alih kekuasaan, kecurigaan publik langsung mengarah pada Soekarnokarena selama berbulan-bulan terdapat ketegangan dan konflik antara istana dan pemimpin AD.[19]
Hingga kini tidak ada bukti bahwa Soekarno mengatahui atau terlibat dalam G3OS. Hal ini benar-benar tak terpikirkan bahwa seorang presiden akan mengadakan kudeta terhadapdirinya sendiri, sebagaimana yang di maksud atas keterllibatannya dalam G3OS. Tindakan Soekarno untuk melindungi komandotertinggi AU dan pemimpin PKI dari tuduhan terlibat G3OS dijadikan bukti keterlibatan Soekarno dalam gerakan tersebut. Dan tentusaja mereka, kalau tidak terlibat, paling tidak mengetahui atau mendukung kudeta itu. Sejak 1962 Soekarno memiliki gagasan perjuangan bangsa Indonesia, yang terdiri dari tiga kekuatan politik saat itu: Nasionalis, Agama dan Komunis, dalam rangka melawan Kolonialisme.[20]




















BAGAIMANA PKI BERTAHAN DAN BERKEMBANG

Salah satu sejarah yang akan selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia adalah Sejarah Komunisme di Indonesia. Josephus Franciscus Marie Sneevlit, seorang Propagandhis ahli asal Belanda mendirikan suatu kelompok yang terdiri 60 orang sosial demokrat bernama Indische Sosial-Democratische Vereneging (ISDV) pada 9 Mei 1914 di Surabaya.[21] ISDV merupakan organisasi yang menjadi cikal bakal perkembangan Komunis di Indonesia. Pada bulan Mei 1920, organisasi ini berganti nama menjadi Perserikatan komunis di Hindia dan pada 1924 namanya berganti lagi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).[22]
Sebagai organisasi yang berhaluan kiri, banyak tindakan dari ISDV hingga PKI yang menentang kebijakan pemerintah Hindia-Belanda seperti kekacauan-kekacauan pedesaan di Surakarta yang dipimpin oleh Haji Misbach tahun 1919, pemogokan sarekat buruh pegadaian yang dipimpin Abdul Muis tahun 1922, pemberontakan tahun 1925 dan pemberontakan di Batavia, Banten serta Priangan pada 1926.[23] Setelah pemberontakan yang terjadi di Jawa mampu ditumpas oleh pemerintah Hindia-Belanda saat itu, meletus pemberontakan di Sumatera pada 1 Januari 1927, meski pertempuran disini lebih sulit namun pemberontakan mampu dipadamkan 4 Januari1927.[24]
Perkembangan  PKI yang begitu mencengangkan pada 1920-an disebabkan karena pada kenyataannya partai itu tidak menolak tradisi islam indonesia. Meski demikian, partai ini sangat perlahan dalam perkembangannya di wilayah yang terkenal basis Islam ortodoksnya dan sekaligus sebagai wilayah yang sering melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Pada bulan maret 1925, seorang pensiunan Residen Belanda menulis “Rakyat Banten sangat religius dan konservatif, sehingga komunisme tidak akan pernah mendapatkan lahannya untuk dapat berkembang di sini”. Alasan tadi tidak sulit untuk diterka mengapa bisa demikian. Perkembangan sosial ekonomi Jawa selama abad ke 19 nyaris tidak menyentuh Banten, sehingga menjadikan wilayah ini terisolasi dan tidak menerima hal-hal yang berbau luar. Seiring dengan kuatnya ciri khas dan tradisi daerahnya, keadaan tadi menyebabkan sulit sekali untuk berkembangnya gerakan sosial politik baru.[25]
Dapat diamati bahwa di mana negara bangsa tidak mampu mengontrol atau mengintegrasikan daerah-daerah periperal, maka munculah ruang-ruang kosong bagi politik kaum menengah atau pedagang perantara yang dapat menjembatani jurang komunikasi yang menganga dan acapkali justru dapat mengeksploitasu pemerintah dengan mengambil posisinya di hadapan kaum tani. Kaum elite agama bersama dengan jawara mengambil kesempatan tersebut dalam beberapa hal. Pada dasarnya keberadaan mereka bukanlah sebagai perlawanan terhadap segala perkembangan yang terjadi.seperti munculnya gerakan-gerakan politik sekuler semacam partai komunis.
Proses pengembangan pada perubahan sosial menjadi proses yang penting, kaum petani di wilayah banten misalnya, mulai menyebar ke luar batas-batas pedesaan sebagai pekerja, yaitu di Batavia dan Sumatra. Meski demikian proses perkembangan itu tetap saja tidak seimbang. Sebagai misal, kita mengetahui bahwa antara pemimpin gerakan komunis Banten yang diasingkan ke Boven dan digul pasca tahun 1927 kebanyakan dari kalangan petani yang sama sekali tidak pernah keluar dari desa mereka. Pada pemberontakan 1926 di Banten, sebuah kelompok sosial-politik yang pada pemeberontakan banten pertama yaitu tahun 1888 mereka tidak ikut serta, itu justru sebaliknya mereka ikut serta dalam pemberontakan banten tahun 1928, pelaku sosial-politik yang terdiri dari kaum pekerja atau semi intelektual seperti pegawai, guru sekolah desa, penjahit, tukang cetak dan profesi pertukangan lainnya. Mereka rata-rata mempunyai pengalaman hidup diluar Banten.umumnya golongan ini memperoleh pendidikan formal di Batavia dan dari merekalah transmisi yang signifikan antara PKI, sebagai gerakan politik nasional dan para ulama atau jawara Banten Terjalin[26] jika evolusi sosial dan politik di Banten tidak melulu dipandang sebagai “Tradisi Kecil” yang berhadapan dengan “Tradisi Besar”, maka hal yang patut dicatat bahwa elemen-elemen masyarakat tidak merespon kekuatan-kekuatan baru itu ternyata membuat mereka terisolasi dan secara gradual mengalami peruntuhan prestise dari posisi awal mereka.
Pertemuan Tradisi kecil dan Tradisi Besar terjadi dalam dua tataran, pertama dalam gerakan politik baru semacam SI dan PKI yang sedang mencari dukungan masyarakat lokal. Kedua derajat efektifitas aparat negara yang mulai mendapat resistensi keras dari masyarakat lokal. Di saat yang sama kaum tani menjadi lebih terbuka terhadap lingkungan baru yang sekaligus membingungkan itu, yang mana mereka harus menghadapi gelombang individualisasi pasar kapitalis. Mereka juga berhadapan dengan konsolidasi birokrasi negara kolonial yang terkesan lambat. Perubahan tadi yang begitu nyata membuat PKI berkembang dan gerakan ini nyaris menyamai kuasa pemerintah kolonial.
Semua pemberontakan yang dilakukan PKI mampu digagalkan oleh pemerintah Hindia-Belanda hingga akhirnya mereka lenyap dari peredaran politik Indonesia masa itu. Sekitar 13.000 orang ditangkap, beberapa orang ditembak. Sekitar 4500 orang dijebloskan ke dalam penjara dan 1.308 orang dikirim ke kamp penjara yang terkenal mengerikan di Boven Digul, Papua, yang khusus dibangun pada 1927 untuk mengurung mereka.[27]
Setelah 20 tahun lebih menghilang, pada tanggal 18 September 1948 di Madiun oleh tokoh-tokoh PKI diproklamasikan berdirinya Republik Sovyet Indonesia maka pecahlah pemberontakan PKI di Madiun.[28] Suara Merdeka pada tanggal 2 Oktober 1948 yang dikutip Kartodirdjo dkk. Menyebutkan: Dengan pecahnya pemberontakan PKI di Madiun, pemerintah segera mengambil tindakan–tindakan untuk menumpasnya. Dengan gerakan operasi Militer 1 yang dilancarkan oleh Angkatan Perang, maka pada tanggal 30 September 1948 jam 16.15 kota Madiun berhasil direbut kembali.[29]
Keberhasilan menggagalkan pemberontakan PKI yang dilakukan oleh pemerintah bukan berarti menghentikan eksistensi dari partai yang berhaluan komunis tersebut. Pemimpin-pemimpin PKI yang tidak tertangkap sebelum 19 Desember 1948 tetap bebas, bahkan sesudah KMB mereka bebas membangun kembali partainya.[30] Pimpinan baru PKI melaksanakan strategi perjuangan baru yaitu Front Persatuan Nasional, dengan konsekuensi PKI harus menerima kerjasama dengan partai-partai lain salah satunya PNI yang dulunya anti PKI. Selain strategi Front Persatuan Nasional, PKI juga membentuk organisasi massa yang secara resmi belum bercorak komunis namun secara resmi sudah berada di bawah kendali PKI, seperti Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Pemuda Rakyat (PR), dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).[31]
Perkembangan PKI begitu pesat, semua itu dapat dilihat dari hasil pemilu tahun 1955. PKI mampu meraup 6.176.914 suara dan mendapat 39 kursi dari 257 kursi di DPR.[32] Hasil perolehan suara PKI ini sangat mengejutkan karena setelah 20 tahun menghilang partai ini mampu berdiri sejajar dengan partai-partai besar seperti PNI, Masyumi, dan NU hanya dalam kurun waktu 7 tahun. Hasil pemilu 1955 menunjukan banyaknya dukungan rakyat terhadap PKI sehingga Sukarno sendiri kini lebih senang dengan PKI daripada PNI.[33]
Kedekatan Sukarno dengan PKI mempengaruhi kebijakan dalam memimpin Indonesia. Salah satu buktinya adalah muncul doktrin Nasakom (Nasionalisme, Sosial, dan Komunisme). Doktrin tersebut meyakinkan bahwa Sukarno mulai berpindah aliran ke Komunis sehingga banyak yang mulai menjauh dan menentangnya. Angkatan Darat merupakan penentang kedekatan Sukarno dengan PKI yang paling menonjol. Puncaknya terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap 5 perwira Angkatan Darat yang anti Komunis di daerah Lubang Buaya. Peristiwa tersebut dikenal G 30S/PKI. Sehingga mulai muncul kebencian terhadap PKI dan itu awal keruntuhan partai komunis tersebut.
Akhirnya pada 22 Februari 1967 MPRS mengeluarkan TAP XXXIII/MPRS/1967 yang intinya adalah mencabut kekuasaan Sukarno, pelarangan Sukarno mengikuti pemilu berikutnya, dan menetapkan Suharto menjadi Presiden. Disusul dengan di keluarkannya TAP XLI/MPRS/68 yang salah satu isinya, “mengembalikan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan mengikis habis sisa-sisa G 30S/PKI, menindas setiap penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD ‘45”.[34] hal itu menandakan berakhirnya kiprah PKI di Indonesia.











OPERASI MILITER TERHADAP PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI)

1. PENUMPASAN G3OS/PKI
Operasi penumpasan G3OS/PKI yang dilancarkan pada tanggal 1 Oktober 1965 diusahakan sedapat mungkin tidak menimbulkan bentrokan senjata. Langkah yang pertama kali dilakukan adalah menetralisasi pasukan yang berada di sekitar Medan Merdeka yang dimanfaatkan oleh pelaku Gerakan 30 September. Pasukan tersebut berasal dari anggota pasukan Batalyon 503/Brawijaya dan anggota pasukan Batalyon 545/Diponegoro. Anggota pasukan Batalyon 503/Brawijaya berhasil disadarkan dari keterlibatan Gerakan 30 September tersebut dan kemudian mereka ditarik ke Markas Kostrad di Medan Merdeka Timur. Sedangkan anggota pasukan Batalyon 545 / Diponegoro berhasil ditarik mundur sekitar pukul 17.00 WIB oleh pihak Gerakan 30 September ke Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma.
Operasi militer tentang penumpasan Gerakan 30 September mulai dilakukan sore hari, tanggal 1 Oktober 1965 pukul 19.15 WIB. Sementara itu, pasukan RPKAD berhasil menduduki kembali gedung RRI Pusat, gedung telekomunikasi dan mengamankan seluruh wilayah Medan Merdeka tanpa terjadi bentrokan bersenjata atau pertumpahan darah. Juga pasukan Batalyon 238 Kujang/Siliwangi berhasil menguasai Lapangan Banteng dan mengamankan Markas Kodam V/Jaya dan sekitarnya. Batalyon I Kavaleri berhasil mengamankan BNI Unit I dan percetakan uang negara di daerah Kebayoran. Dengan demikian, dalam waktu yang sangat singkat, yaitu pada tanggal 1 Oktober 1965 itu juga kota Jakarta telah berhasil dikuasai kembali oleh ABRI dan kekuatan G3OS/PKI yang memberontak telah berhasil dilumpuhkan.
Untuk menentramkan kegelisahan masyarakat dan menyadarkan pasukan yang terlibat dalam G3OS/PKI, maka dilakukanlah berbagai bentuk upaya. Di antaranya melalui siaran RRI pada pukul 20.00 WIB, Mayor Jenderal Soeharto selaku pimpinan sementara Angkatan Darat mengumumkan adanya usaha perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya “Gerakan 30 September 1965” serta penculikan terhadap enam perwira tinggi Angkatan Darat Sementara itu Presiden dan Menko Hankam/KASAB dalam keadaan aman dan sehat.
Dinyatakan pula bahwa di antara Angkatan Darat Angkatan Laut dan Kepolisian telah terjadi saling pengertian untuk bekerja sama menumpas G3OS/PKI. Mayjen Soeharto juga menganjurkan kepada rakvat Indonesia agar tetap tenang dan waspada. Setelah berhasil diketahui bahwa basis utama dari G3OS/PKI berada di sekitar lapangan udara Halim Perdana Kusuma. maka Iangkah berikutnya adalah berupaya membebaskan pangkalan tersebut dan tangan G3OS/PKI. Presiden Soekarno dihimbau untuk meninggalkan daerah Halim Perdana Kusuma. Hal ini dimaksudkan. untuk menjaga keselamatannya apabila terjadi bentrokan fisik antara pasukan TNI dengan pasukan pendukung G3OS/PKI yang bersembunyi di sekitar pangkalan udara Halim Perdana Kusuma.
Kemudian Presiden Soekarno meninggalkan halim Perdana Kusuma menuju Istana Bogor. Sedangan pasukan RPKAD yang dibantu oleh pasukan Batalyon 238 Kujang/Siliwangi dan Batalyon 1 Kavaleri diperintahkan bergerak menuju sasaran. Juga didatangkan bantuan kekuatan pasukan sebanyak tiga kompi tempur Kavaleri pengintai yang langsung dipimpin oleh Komandan Kesejahteraan Kavaleri (Dansenkav) Kolonel Subiantoro. Mereka tiba di Cijantung dan langsung diikutsertakan dalam gerakan untuk menutup jalan simpang tiga Cililitan, Kramat Jati dan simpang tiga Lanuma Halim Lubang Buaya tanpa menemui kesulitan. Pada pukul 06.10 WIB tanggal 2 Oktober 1965 daerah pangkalan udara Halim Perdana Kusuma sudah berhasil dikuasai, walaupun sempat mendapat perlawanan kecil dan timbul kontak senjata. Kontak senjata juga terjadi pada saat dilakukan gerakan pembersihan yang dilanjutkan hingga ke kampung-kampung di sekitar wilayah lubang Buaya. Karena di daerah-daerah itu sebelumnya disinyalir dijadikan sebagai tempat latihan kemiliteran Pemuda Rakyat dan Gerwani. 
Dalam gerakan pembersihan ke kampung-kampung di sekitar Lubang Buava, Ajun Brigadir Polisi (Abriptu/Kopral Satu) Sukitman yang sempat ditawan oleh regu penculik Brigjen Dl Pandjaitan berhasil meloloskan diri. Kemudian pada tanggal 3 Oktober 1965 berhasil menemukan jenazah para perwira tinggi Angkatan Darat yang dikuburkan dalam sumur tua. Pengangkatan jenazah baru berhasil dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 1965 oleh anggota RPKAD dan KKOAL (marinir). Seluruh jenazah dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (sekarang RSPAD Gatot Subroto) untuk dibersihkan dan kemudian disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat.
Keesokan harinya bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1965, jenazah para perwira tinggi Angkatan Darat itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi, serta diberi kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi, anumerta. Ketika berada di Halim Perdana Kusuma pada tanggal 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno mengeluarkan perintah yang ditujukan kepada seluruh jajaran Angkatan Bersenjata. Presiden Soekarno meminta untuk mempertinggi kesiapsiagaan dan untuk tetap di pos masing-masing serta hanya bergerak jika ada perintah.
Seluruh rakyat agar tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan serta memelihara persatuan dan kesatuan nasional. Selain itu, diumumkan bahwa pimpinan Angkatan Darat untuk sementara waktu dipegang oleh Presiden/Panglima Tertinggi ABRI dan untuk melaksanakan tugas sehari-hari dalam Angkatan Darat ditunjuk untuk sementara Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro, Asisten II Men/Pangad. Perintah itu tidak segera diketahui oleh anggota ABRI yang berada di luar Halim. Oleh karena itu, pada hari yang sama, sesuai dengan tata cara yang berlaku, Mayor Jenderal Soeharto menyatakan untuk sementara memegang pimpinan Angkatan Darat.
2. PEMULIHAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN  
Untuk menyelesaikan masalah pemulihan keamanan dan ketertiban, pada tanggal 2 Oktober 1965 Presiden Soekarno memanggil semua panglima dan seluruh angkatan ke Istana Bogor. Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa pimpinan Angkatan Darat Iangsung berada di tangan presiden. Untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dalam Angkatan Darat ditetapkan dan ditunjuk Mayor Jenderal Pranoto, dan Mayor Jenderal Soeharto diberi tugas untuk pemulihan keamanan dan ketertiban yang terkait dengan G3OS/PKI.
Keputusan itu diumumkan melalui RRI Pusat pukul 01.30, pada tanggal 3 Oktober 1965. Hal ini merupakan awal eksistensi Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Berdasarkan perintah tersebut, siang harinya Mayor Jenderal Soeharto melalui RRI mengumumkan pengangkatan dirinya selaku pelaksana pemulihan keamanan dan ketertiban yang akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kebijakan Presiden Soekarno mengenai penyelesaian G3OS/PKI dinyatakan dalam sidang paripurna Kabmet Dwikora tanggal 6 Oktober 1965 di Istana Bogor sebagai berikut: “Presiden/Panglima Tertinggi ABRJ/Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno menandaskan bahwa ia mengutuk pembunuhan buas yang dilakukan oleh petualang kontrarevolusi yang menamakan dirinya dengan Gerakan 30 September 1965. Presiden juga tidak membenarkan pembentukan apa yang dinamakan Dewan Revolusi. Hanya saja bisa mendemisionerkan kabinet, bukan orang lain.”
Dalam rangka penyelesaian masalah G3OS / PKI digariskan beberapa kebijakan, di antaranya aspek politik diselesaikan oleh presiden, aspek militer administratif diserahkan kepada Mayor Jenderal Pranoto, serta penyelesaian aspek militer teknis, masalah keamanan dan ketertiban diserahkan kepada Mayor Jenderal Soeharto. Setelah keluar pernyataan presiden yang mengutuk G3OS/PKI dan diduga PKI yang mendalangi atau berada di belakang gerakan tersebut, maka kemarahan dan kebencian rakyat terhadap PKI semakin meningkat. Antara lain dengan dibakamya gedung Kantor Pusat PKI di Jalan Kramat Raya. Rumah tokoh-tokoh PKI dan kantornya menjadi sasaran kemarahan rakyat. Aksi corat-coret menuntut pimpinan PKI diadili dan demostrasi menuntut pembubaran PKI dipelopori oleh mahasiswa, pelajar dan organisasi massa (ormas) yang setia kepada Pancasila.
Sementara itu, gerakan operasi pembersihan terhadap sisa-sisa G3OS/PKI terus ditingkatkan. Koloriel A. Latief, komandan yang telah dipecat dan Brigade Infantri/Kodam Jaya ditangkap tanggal 11 Oktober 1965 di Tegal dalam perjalanan melarikan diri ke Jawa Tengah. Walaupun peranan PKI makin kuat terungkap sebagai dalang peristiwa G3OS/PKI, dan demonstrasi yang menuntut pembubaran PKI semakin memuncak, namun Presiden Soekarno belum bertindak Presiden Soekarno belum mengambil keputusan dan belum juga bertindak mengambil langkah-langkah ke arah penyelesaian politik dan masalah G3OS/PKI itu, sebagaimana yang telah dijanjikannva.
D.N. Aidit dalam pelariannya pada tanggal 6 Oktober 1965 dan Blitar mengirim surat kepada presiden. D.N. Aidit mengusulkan supaya melarang adanva pernyataan-pemyataan yang sifatnya mengutuk G3OS/PKI, serta melarang adanya saling menuduh atau saling menyalahkan. Dengan demikian diharapkan amarah rakyat kepada PKI semakin mereda. Pernyataan ternyata tidak membuat surut rakyat Indonesia untuk menuntut pembubaran PKI beserta organisasi massanya. Komando Daerah Militer (Kodam juga turut membekukan PKI beserta organisasi massanya (ormasnya).
3. PENUMPASAN G3OS/PKI DI JAWA TENGAH DAN YOGYAKARTA
Ketika meletus G3OS/PKI, daerah yang paling gawat keadaannya adalah di Jakarta dan Jawa Tengah. Di kedua daerah itu pihak G3OS/PKI mempergunakan kekuatan senjata, sedangkan di daerah lainnya secara umum kaum G3OS/PKI itu tidak beraksi menggunakan kekuatan bersenjata. Kodam VII / Diponegoro memiliki tiga Brigade, yaitu Brigade 4, 5, 6. Sebagai hasil penggarapan Biro Khusus PKI , anggota Brigade 4 dipergunakan oleh kaum G3OS/PKI sedangkan anggota Brigade 5 hanya sedikit yang berhasil dipengaruhi. Hanya anggota Brigade 6 yang tidak terpengaruh oleh mereka. Batalyon yang aktif dipergunakan oleh kaum G3OS/PKI adalah Batalyon K dan M yang berkedudukan di Solo. Batalyon L dan C berkedudukan di Yogyakarta, serta Batalyon D berkedudukan di Salatiga. 
Setelah G3OS/PKI bergerak di Jakarta, pada tanggal 1 Oktober 1965 gerakan itu juga memulai aksinya di daerah Jawa Tengah. Munculnya G305/PKI di Jawa Tengah diawali dengan siaran RRI Semarang. Melalui RRI Semarang itu, Asisten Kodam Vil/Diponegoro, Kolonel Suhirman mengumumkan dukungannya terhadap G305/PKI pada daerah Tingkat I Jawa Tengah. Mereka berhasil menguasai Markas Kodam Vil/Diponegoro dan kemudian dijadikan markas serta meluaskan gerakannya ke seluruh Korem dan Brigade di lingkungan Kodam VII/Diponegoro.
Di samping itu, G3OS/PKI mendatangkan pasukan pelindung, di antaranya dan Solo, Batalyon K di bawah pimpinan Mayor Kadri dan dua kompi Batalyon D dari Salatiga pimpinan Mayor Supardi. Pasukan ini ditempatkan di tempat-tempat strategis terutama di Makodam, RRI dan telekomunikasi. Selanjutnya, Kolonel Sahirman mengumumkan bahwa Letnan Kolonel Sastrodibroto mengambil alih pimpinan Kodam Vil/Diponegoro dan di beberapa tempat pendukungnya mengambil alih pimpman setempat, di antaranya:
a. Markas Komando Resort Militer (Makorem) 071/Purwokerto dipimpin oleh Kepala Staf Letnan Kolonel Soemito.
b. Makorem 072/Yogvakarta dipunpm oleh Kepala Seksi 5 Mayor Mulyono.
c. Markas Brigade Infantri 6 dipimpin oleh Komandan Kompi Markas, Kapten Mintarso.
Dewan Revolusi Yogvakarta mengumumkan melalui RRI pada tanggal 1 Oktober 1965 bahwa yang menjadi Ketua G3OS/PKI di Yogyakarta adalah Mayor Mulyono. Dengan mempergunakan kekuatan Batalyon L, mereka menguasai Makorem 072 dan menculik Kepala Staf Korem 072 Letnan Kolonel Sugiyono. Selanjutnya mereka mengeluarkan perintah kepada segenap Komando Distrik Muter (Kodim) supaya mendukung G3OS/PKI. Mereka juga membagi-bagikan senjata kepada anggota Legiun Veteran setempat. Pada tanggal 2 Oktober 1965, terjadi demonstrasi anggota PKI dan organisasi massanya di depan Makorem 072 untuk menyatakan dukungannya kepada Gerakan 30 September 1965. Pada hari itu juga Komandan Korem 072 Kolonel Katamso diculik dan rumahnya dan dibawa ke kompleks Batalyon L di desa Kentungan, sebelah utara kota Yogyakarta. Selanjutnya Kolonel Katamso bersama Letnan Kolonel Sugijono dibunuh oleh anggota G3OS/PKI. Dengan kekuatan Batalyon M, G3OS/PKI juga melakukan gerakannya di Solo. Gerakan itu diawali dengan penculikan. Mereka menculik Komandan Brigade 6 Kolonel Azahari, Kepala Staf Brigade 6 Letnan Kolonel Parwoto, Kepala Staf Kodim 735 Mayor Soeparman, Komandan Polisi Militer Detasemen Surakarta Kapten Prawoto dan Komandan Batalyon M, Mayor Darso. Selain melakukan penculikan, mereka juga melakukan pendudukan terhadap kantor RRI, telekomunikasi dan bank-bank negara. Pada tanggal 2 Oktober 1965, Wali Kota Solo, Oetomo Ramelan, melalui RRI mengumumkan dukungannya kepada G3OS/PKI. 
Daerah Surakarta diliputi suasana pemberontakan. Rakyat yang bukan anggota PKI atau organisasi satelitnya merasa ketakutan dan khawatir. Sementara itu, polisi belum bertindak mereka hanya mengamati kegiatan yang dilakukan PKI dan organisasi massanya. Hal ini disebabkan polisi hanya memiliki kekuatan satu kompi Brimob dan satu kompi Perintis. Demikian juga  tentara pelajar yang bergabung dalam organisasi GPTP (Gerakan Pelaksana Tjita-jita Prokiamasi) sebanyak 50 orang serta organisasi massa golongan nasionalis dan agama. Mereka masih pasif dalam menghadapi kekuatan massa G3OS/PKI yang mendapat perlindungan dan oknum-oknuni Brigade 6.
Oleh karena itu, Pangdam VII/Diponegoro, Brigadir Jenderal Surjosumpeno, setelah mendengar pengumuman letnan Kolonel Untung melalui radio, segera memanggil perwira stafnya dan Sad Tunggal Jawa Tengah untuk mengadakan taklimat (briefing). Pangdam memerintahkan kepada para pejabat supaya tetap tenang dan berusaha untuk menenangkan rakyat, karena situasi yang sebenarnya belum diketahui. Ia berangkat ke Salatiga untuk mengadakan taklimaf yang sama dan direncanakan akan terus ke Magelang. Asisten 2, Letnan Kolonel Soeprapto diperintahkan untuk mengadakan taklimat (briefing) di Solo. Namun ketika Pangdam VII/Diponegoro tidak berada di Semarang, Kolonel Sahirman mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi dan Kolonel Usman mengambil alih pimpinan Kodam VII/Diponegoro.

4. PENUMPASAN G3OS/PKI DI SOLO
Ketika sampai di Salatiga, Brigjen Surjosumpeno menghadapi kenyataan bahwa kota tersebut telah dikuasai oleh G3OS/PKI. Atas saran Letkol Soeprapto (yang tidak jadi berangkat ke Solo, karena sudah ada informasi bahwa kota Solo juga telah dikuasai oleh G3OS / PKI), Brigjen Surjosumpeno berangkat ke Magelang untuk menyusun kekuatan. Pasukan di Garnisun Magelang tidak terpengaruh oleh G3OS/PKI. Oleh karena itu, Panglima Daerah VII/ Diponegoro segera mengadakan taklimat dengan komandan setempat dan memutuskan untuk menggerakkan pasukan dalam upaya menumpas G3OS/PKI itu. Pasukan yang digunakan di antaranya adalah:
a. Batalyon Kavaleri 2 yang berkedudukan di Magelang.
b. Batalyon Artileri Medan 3 yang berkedudukan di Magelang.
c. Batalyon Artileri Medan 9 yang berkedudukan di Magelang.
d. Batalyon 4 yang berkedudukan di Medan
e. Batalyon Zeni Tempur 2/Para yang berkedudukan di Magelang.
f. Sebagian anggota Batalyon 4 yang berkedudukan di Gombong.
g. Sebagian Batalyon 3/Para yang berkedudukan di Semarang.
Gerakan operasi penumpasan dimulai pada tanggal 2 Oktober 1965. Pasukan mulai bergerak pada pukul 05.00 W1B untuk membebaskan kota Semarang dengan kekuatan 2 pleton BTR (Bronero Transportasi), yaitu kendaraan yang mengangkut personel kavaleri pimpinan Letnan Kolonel Jassin Husein dan satu’Batalyon Artileri Medan dengan tugas infantri.Setelah ada siaran RRI Jakarta, bahwa Jakarta telah berhasil dikuasai kembali oleh ABRI, sedangkan pasukan yang digunakan oleh G3OS/PKI mulai tidak kompak. Kota Semarang berhasil dikuasai kembali oleh pasukan ABRI tanpa letupan senjata. Kolonel Sahirman, dkk melarikan diri ke luar kota dikawal oleh dua kompi anggota Batalyon K pimpinan Mayor Kadri. Dua kompi anggota Batalyon K lamnya dan dua kompi anggota Batalyon D dapat disadarkan kembali dan keterlibatannya dengan G3OS/PKI. Pukul 10.00 WIB han itu juga (tanggal 2 Oktober 1965) Pangdam Vil/Diponegoro melalui RRI mengumumkan bahwa Pangdam telah kembali memegang pimpinan Kodam VII / Diponegoro.
Kota demi kota yang pernah dikuasai oleh pihak G30S/PKI itu berhasil direbut kembali, sehingga pada tanggal 5 Oktober 1965 garis Komando Kodam VII/Diponegoro telah dipulihkan kembali. Untuk memantapkan konsolidasi Kodam VII / Diponegoro, pada tanggal 5 Oktober 1965 Pangdam mengadakan taklimat secara simultan dengan komandan-komandan pleto di kota Salatiga, Solo dan Yogyakarta. Dengan demikian, secara fisik militer, pemulihan keamanan dalam jajaran Kodam VII/Diponegoro telah selesai. Namun kemudian timbul gerakan pengacau, sabotase dan pembunuhan yang dilakukan oleh massa PKI terhadap golongan yang menentang G3OS/PKI. Daerah Jawa Tengah merupakan daerah garis PKI yang kuat. Oleh karena itulah, Ketua CC PKI, D.N. Aidit memilih Jawa Tengah sebagai tempat pelariannya.
Untuk mengatasi kekacauan dan menegakkan ketertiban umum, Pangdam VII / Diponegoro berangkat dan Jakarta tanggal 16 Oktober 1965, dan dengan bantuan RPKAD serta pasukan kaveleri mereka tiba di Semarang tanggal 19 Oktober 1965. Daerah Jawa Tengah yang dianggap paling gawat dan merupakan basis G3OS/PKI adalah daerah Surakarta, Klaten, dan Boyolali.
Untuk mengintensifkan gerakan pembersihan terhadap sisa-sisa G3OS/PKI di Jawa Tengah, pada tanggal 1 Oktober 1965 dibentuk Komando Operasi Merapi. Operasi Merapi ini langsung dipimpin oleh Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhi Wibowo. Dalam operasi itu pimpinan G3OS/PKI Jawa Tengah seperti Kolonel Sahirman, Kolonel Maryono dan Kapten Sukarno berhasil ditembak mati. Dengan keberhasilan itu, pada tanggal 30 Desember 1965 pasukan RPKAD ditarik kembali dan Jawa Tengah ke pangkalannya di Jakarta. Kemudian pemulihan keamanan dan ketertiban dilanjutkan dalam rangka peperda pembersihan organisasi politik dan organisasi massa pendukung G305 /PKI.
Pembersihan terhadap G3OS/PKI itu juga dilakukan di daerah Blitar Selatan. Gerakan pembersihan itu diberi nama Operasi Trisula yang dilancarkan mulai tanggal 3 Juli 1968. Operasi itu memakan waktu satu setengah bulan dan berhasil menangkap 850 orang PKI yang mendukung G3OS/PKI. Mereka yang tertangkap itu di antaranya 13 orang tokoh tingkat CC dan 12 orang tokoh tingkat CDB. Operasi penumpasan terhadap pendukung gelap G3OS/PKI dan PKI gelap juga dilakukan di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu di daerah pegunungan Lawu dan Kendeng. Operasi itu berhasil menangkap 200 orang kader PKI. Selain itu terdapat operasi penumpasan di daerah Purwodadi setelah tercium bahwa PKI gelap membangun STPR (Sekolah Tentara Perlawanan Rakyat). Diketahui pula PKI gelap memindahkan kegiatannya di daerah kompleks Merapi Merbabu (MMC). Dalam operasi yang dilancarkan di daerah itu berhasil ditangkap Pono (Supono Mrsudidjojo), orang kedua dalam biro khusus PKI.
Sementara itu, operasi penumpasan G3OS/PKI yang dilakukan di luar Jakarta dan Jawa Tengah cukup dilakukan dengan Gerakan Operasi Territorial. Operasi itu dilakukan dengan menangkapi tokoh-tokoh organisasi politik dan organisasi massa PKI. Pada daerah-daerah itu para pendukung G3OS/PKI belum sempat mengadakan gerakan perebutan kekuasaan, hanya di daerah Jawa Timur dan Bali timbul kekacauan dengan terjadinya penculikan dan pembunuhan. Namun, dalam waktu singkat gerakan itu dapat dilumpuhkan. Secara keseluruhan pemberontakan yang menamakan G3OS/PKI yang ditenggarai didukung oleh PKI telah berhasil ditumpas. Bahkan PKI dinyatakan sebagai partai terlarang oleh pemerintah untuk berdiridi Republik Indonesia.





PELARANGAN PKI (BERKEGIATAN ATAUPUN SEBAGAI PARTAI)

Meletusnya peristiwa Gerakan 30 September membawa perubahan yang begitu besar dalam berbagai sendi kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Kekuatan politik yang sebelumnya mengerucut pada tiga kekuatan besar (Soekarno, TNI, dan PKI), setelah meletusnya peristiwa tersebut ternyata berubah secara drastis. TNI berada di posisi paling strategis dalam kancah politik nasional. Posisi strategis ini dapat terlihat dari tingginya dukungan masyarakat terhadap TNI setelah TNI berhasil menumpas Gerakan 30 September. Hal yang bertolak belakang justru terjadi pada Soekarno dan PKI. Kekuasaan dan kekuatan Soekarno secara perlahan menurun. Kepercayaan rakyat terhadapnya juga perlahan meluntur karena dia dianggap tidak tegas dalam menghadapi kekacauan nasional yang ada. Nasib PKI lebih tragis lagi karena PKI dianggap sebagai dalang peristiwa yang mengakibatkan tewasnya enam jendral.
Pada tanggal 11 Maret 1966 diadakan rapat paripurna Kabinet Dwikora di Istana Merdeka. Situasi di sekitar Istana dianggap tidak aman karena ada pasukan tidak dikenal sedang berkeliaran. Oleh karena itu, Presiden meninggalkan rapat dan menuju Istana Bogor untuk mengamankan diri. Presiden selanjutnya mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang ditujukan kepada Soeharto. Maksud dikeluarkannya surat itu adalah untuk menugaskan Suharto mengamankan situasi, namun kemudian berubah, bahwa surat itu seakan cek kosong yang dapat diisi apa saja termasuk pemindahan kekuasaan dari Sukarno kepada Suharto. Teks asli surat perintah itu sendiri sampai kini belum ditemukan (Adam:2009). Soeharto cenderung berlebihan dalam menanggapi situasi yang ada. Super Semar ini menjadi tonggak lahirnya zaman Orde Baru. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang mendapat keuntungan dari peristiwa berdarah tahun 1965 adalah Soeharto. Soeharto mengggunakan G-30-S sebagai dalih untuk merongrong legitimasi  Soekarno, sambil melambungkan dirinya ke kursi kepresidenan (Roosa:2008). Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya tanggal 20 Februari 1967 Soeharto dukukuhkan menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia.
Sehari setelah menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), Soeharto mengeluarkan surat perintah bernomor 1/3/1966 yang memuat tentang pembubaran serta pelarangan PKI dan organisasi onderbouwnya di Indonesia (Triyana:2002). Surat ini sangat berpengaruh buruk terhadap keberadaan PKI. Namun demikian, surat ini justru menjadi senjata yang sah secara hukum untuk melakukan berbagai hal untuk membubarkan PKI. Berbagai hal dihalalkan untuk membubarkan PKI. Semakin cepat PKI bubar, maka TNI dalam hal ini Soeharto bisa menguasai peta politik nasional. Bagaimana tidak, dengan membubarkan PKI, TNI semakin mendapat dukungan dari rakyat dan semakin mulus melenggang ke puncak panggung politik.
Pembubaran Partai Komunis menjadi tidak manusiawi ketika mereka harus diluluhlantahkan secara anarkis, tragis, dan sporadis. Jenderal Suharto setelah peristiwa G 30 S melakukan pembersihan terhadap seluruh kekuatan PKI. Orang-orang atau kelompok yang terkait dengan organisasi tersebut pun tidak luput dari pembasmian (Roosa:2008). Hal semacam ini telah membuat PKI kehilangan semua yang dimiliki. Secara kekuatan, PKI terus menerus digerogoti yang pada akhirnya partai ini benar-benar kehilangan kekuatan. Partai ini tidak bisa melakukan perlawanan apa-apa. Tokoh-tokoh penting partai dihabisi, dan para simpatisan dibunuh. Bahkan orang-orang atau kelompok yang terkait dengan organisasi tersebut juga dibasmi. John D. Legge dalam Sukarno Biografi Politik menyebutkan bahwa pembantaian dilakukan kadang-kadang oleh tentara, kadang-kadang oleh sipil, orang-orang Islam atau lainnya.
Perlakuan terhadap PKI memang begitu mengenaskan. Selain penculikan dan pembunuhan, orang-orang yang terlibat atau dianggap terlibat dalam organisasi juga mengalami tindakan yang tidak mengenakkan. Pembuangan paksa lebih dari 10.000 orang ke Pulau Buru (1969-1979) (Adam:2009). Orang-orang yang dibuang ini tidak mengetahui alasan mengapa mereka dibuang ke Pulau Buru. Mereka tidak diadili tetapi langsung dihukum dengan pengasingan diri. Jumlah korban pembantaian tahun 1965/1966 menurut Robert Cribb dalam “Pelurusan Sejarah Indonesia” berkisar 78.000 sampai dua juta jiwa. Tindakan semacam ini memang menjadi wajar jika berniat menghabiskan dan membasmi partai. Pembersihan secara total memang menjadi alat yang efektif untuk mematikan kekuatan dari akar.
Secara tidak langsung, kekuatan PKI telah mengalami kehancuran. Tindakan pembunuhan, penculikan, dan pembuangan orang yang terlibat atau dianggap terlibat dalam organisasi PKI telah meruntuhkan kekuatan partai yang sebelumnya mempunyai potensi yang tinggi untuk mendominasi percaturan politik Indonesia. Perlakuan terhadap PKI ternyata belum selesai. Bukan terhadap mereka yang diduga terlibat Gerakan 30 Spetember tetapi anak cucunya juga dikenai ketentuan yang yang melanggar hak asasi, misalnya aturan Litsus dan “bersih lingkungan” dan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 32 1981 yang melarang mereka bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil/MIliter (Adam:2009). Perlakuan semacam ini adalah perlakuan yang sangat kejam. Seorang cucu harus memikul dosa para leluhurnya. Sebuah hal yang sangat tidak adil dan cenderung sangat diskriminatif. Hak-hak mereka direnggut oleh penguasa kerenna dosa warisan dari para leluhurnya. Mereka hanya dapat bekerja pada sektor-sektor non formal.
Kekajaman yang diterima PKI terus berlanjut melalui cuci otak yang dikerjakan selama Orde Baru berkuasa. Melalui pendidikan atau penataran, ditanamkan bahwa PKI adalah  satu-satunya dalang kudeta 1965 yang memakan korban jendral (Adam:2009). Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru tentunya sangat merugikan bagi citra PKI. Orang-orang yang terlibat atau diduga terlibat mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan dari masyarakat lainnya yang telah tercuci otaknya. Mereka dicurigai, dijauhi, dan juga dibenci oleh masyarakat. Pelarangan bagi PKI untuk berkegiatan ataupun sebagai partai pada akhirnya telah menghancurkan, membinasakan, dan juga telah menenggelamkan PKI ke dalam lubang sumur yang diciptakan oleh Kaum Orba.
  






[1] Ensiklopedia Nasional Indonesia. Jilid 12. Jakarta. PT Cipta Adipustaka. 1990.hlm.88
[2] M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta. Gajah Mada University Press. 2005.
[3] Baskara T. Wardaya.Bung KARNO MENGGUGAT! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65 hingga G30S. Yogyakarta. Galang Press. 2006. hlm.145-183.
[4] 100 Tokoh yang mengubah Indonesia (Biografi singkat Seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20).Yogyakarta: Penerbit Narasi.
[5] Nasakom adalah singkatan dari Nasionalis, agama, dan Komunis. Konsep ini diperkenalkan oleh Soekarno, presiden pertama RI. Nasakom hakikatnya menekankan adanya persatuan dari segala macam ideologi nusantara untuk melawan penjajahan, dan sebagai pemersatu bangsa untuk revolusi rakyat dalam upaya memberantas kolonialisme di bumi Indonesia. dengan penyatuan tiga konsep inisoekarno sebenarnya berusaha untuk mengajak segala komponen bangsa tanpa melihat segala perbedaan yang ada. Baik dari perbedaan religius, suku, ras, dan budaya. Lihat uraian menyambut kemerdekaan RI yang ke 66, refleksi Sejarah Bangsa Indonesia dalam empat Periode, yang diadakan oleh golongan Karya dalam id.wipedia.org
[6] Lihat Tim Buku Tempo. Op.Cit. Hal 2. Sutopo, dalam Provokasi Madiun. Op.Cit. Hal 59. Menyebut Musso lahir pada 12 Agustus 1898
[7] Agus Sunyoto (Lesbumi NU) menyebut Musso adalah cucu Kyai KH Kasan Muhyi pendiri Pondok Pesantren Kapurejo, desa Kapu, Pagu, Kediri, Jawa Timur. Putri KH Kasan Muhyi, Nyai Masruroh, adalah istri Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Lebih lengkap lihat ww.nu.or.id atau @wartaNU. Asumsi lain mengatakan bahwa Musso adalah anak Kyai Hasan (bukan Kasan) Muhyi, KH Hasan Muhyi menikah sebanyak tiga kali, istri pertamanya adalah Nyai Juru. Dari pernikahannya yang pertama itu KH Hasan Muhyi diberikan 12 putra. Dan salah satunya adalah Musso. KH Hasan Muhyi, yang asli Mataram mempunyai nama asli yakni Rono Wijoyo. Lihat http://serbasejarah.wordpress.com/2013/02/04/cerita-musso-tokoh-pki-yang-ternyata-anak-kiai-besar/
[8] Sutopo, ibid. hal 59. Sutopo juga menyebutkan bahwa Musso mempunyai 7 kakak beradik. Sedangkan di Tim Buku Tempo, Ibid. Hal 2. Disebutkan Musso hanya dua orang bersaudara bersama Sidik, adiknya.
[9] Ibid, hal 10.
[10] Lihat Soemarsono. Loc.Cit.
[11] Pidato Soekarno di Radio menyikapi apa yang terjadi di Madiun. Pidato pada tanggal 19 September 1948 pukul 20.00. Lihat Soemarsono. Op.Cit. Hal 132-135.
[12] Kongres BTI di Jember tahun 1947 menggunakan semboyan “hak negara atas semua tanah”oleh RTI, program dan semboyan diubah menjadi “nasionalisasi semua tanah”. “hari depan gerakan tani Indonesia” dalam DN. Aidit, pilihan tulisan, Djakarta: jajasan pembaruan, 1959, hlm 158-159
[13] DN. Aidit, “Hari Depan Gerakan Tani Indonesia”
[14] Michael C.Williams.Op.Cit Hal 41-45
[15] Michael C.Williams.Op.Cit Hal 41-45
[16] http://www.berdikarionline.com/tokoh/20130406/kisah-haji-merah-dari-sumatera-barat.html
[17] http://www.berdikarionline.com/tokoh/20130406/kisah-haji-merah-dari-sumatera-barat.html
[18] Abdul Muluk Nasution, Pemberontakan rakyat Silungkang Sumaterabarat 1926-1927, Mutiara, Jakarta, 1976, 1981: 91
[19] Onghokham,Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S 1965,Komunitas Bambu,Jakarta,2009, hal 173
[20] Opcit.hal 175
[21] McVey, Rurt. 2010. Kemunculan Komunisme Indonesia. Depok: Komunitas Bambu., hal. 22.
[22] Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta., hal. 375.
[23] Ibid., hal. 375-385.
[24] Ibid., hal. 385.
[25] Michael C. Williams, 2003, “Arit dan Bulan Sabit Perkembangan Komunis 1926 diBanten” .Yogyakarta.Sarekat Islam.hal.4
[26] Ibid.hal. 8.
[27] Ibid.hal.10
[28] Kartodirdjo. dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia VI. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.hal.58.
[29] Ibid., hal. 59.
[30] Moedjianto. 1989. Indonesia Abad ke-20 2: Dari Perang Kemerdekaan pertama sampai PELITA III. Yogyakarta: Kanisius., hal. 133.
[31] Ibid., hal. 133-134
[32] Riclefs, M.C., Op. Cit., hal. 520.
[33] Ibid., hal., 530.
[34] Moedjianto., Op., Cit., hal. 149.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...