BAB II
PEMBAHASAN
1.
KABINET
NATSIR (6 September 1950 - 21 Maret 1951)
a.
Awal
Pembentukan Kabinet Natsir
Kabinet
Natsir memerintah antara tangga l6 September 1950 - 21 Maret 1951. Setelah
bentuk negara RIS dibubarkan, kabinet pertama yang membentuk NKRI adalah
kabinet Natsir yang merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh Masyumi dan PNI
sebagai partai kedua terbesar menjadi oposisi. PNI menolak ikut serta dalam
komite karena merasa tidak diberi kedudukan yang tepat sesuai dengan kekuatannya.
Tokoh-tokoh terkenal yang mendukung kabinet ini adalah Sri Sultan HB IX, Mr.Assaat,
Mr.Mohamad Roem,Ir.Djoeanda Kartawidjaja dan Dr.Soemitro Djojohadikoesoemo. Kabinet
ini juga disebut dengan nama zaken cabinet, karena didalam cabinet ini terdapat
tokoh-tokoh terkenal yang sudah disebutkan diatas tadi.[1]
b.
Susunan
Kabinet Natsir:
|
NO
|
JABATAN
|
NAMA MENTERI
|
PARTAI POLITIK
|
|
1
|
Perdana Menteri
|
Natsir
|
Masyumi
|
|
Wakil Perdana Menteri
|
Hamengku Buwono IX
|
Non partai
|
|
|
2
|
Menteri Dalam Negeri
|
Assaat
|
Non partai
|
|
3
|
Menteri Luar Negeri
|
Mohammad Roem
|
Masyumi
|
|
4
|
Menteri Keamanan Rakyat
|
Abdul Halim1
|
Non partai
|
|
5
|
Menteri Kehakiman
|
Wongsonegoro
|
PIR
|
|
6
|
Menteri Penerangan
|
M. A. Pellaupessy
|
Fraksi demokratik
|
|
7
|
Menteri Keuangan
|
Syafruddin Prawiranegara
|
Masyumi
|
|
8
|
Menteri Perindustrian dan Perdagangan
|
Sumitro Joyohadikusumo
|
Partai sosialis Indonesia
|
|
9
|
Menteri Pertanian
|
Tandiono Manu
|
Partai sosialis Indonesia
|
|
10
|
Menteri Pekerjaan Umum dan REkonstruksi
|
Herman Johannes
|
PIR
|
|
11
|
Menteri Sosial
|
F. S. Haryadi
|
Partai Katolik
|
|
12
|
Menteri Perhubungan
|
Djuanda Kartawidjaja
|
Non partai
|
|
13
|
Menteri Kesehatan
|
Johannes Leimena
|
Partai Kristen Indonesia
|
|
14
|
Menteri Agama
|
Wahid Hasyim
|
Masyumi
|
|
15
|
Menteri Tenaga Kerja
|
Panji Suroso
|
Parindra
|
|
16
|
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
|
Bahder Djohan
|
Non partai
|
|
17
|
Menteri Negara
|
Harsono Cokroaminoto2
|
PSII
|
c.
Program
Kerja Kabinet Natsir Meliputi:
1. Menggiatkan
usaha mencapai keamanan dan ketentraman
2. Mencapai
konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan.
3. Menyempurnakan
organisasi angkatan perang dan pemulihan bekas anggota-anggota tentara dan
gerilya dalam masyarakat.
4. Memperjuangkan
penyelesaian soal Irian Barat secepatnya.
5. Mengembangkan
dan memperluas kekuatan ekonomi rakyat sebagai dasar bagi melaksanakan ekonomi
nasional yang sehat.
6. mempersiapkan
dan menyelenggarakan pemilihan umum untuk Konstituante.
7. Pelaksanaan
program industrialisasi (Rencana Sumitro)
selain
soal keamanan, sebenarnya yang menjadi prioritas utama dari kabinet ini yaitu
soal memperjuangkan Irian ke tangan Indonesia. Belanda tidak bermaksud untuk
mengembalikan Irian ke Indonesia. Perundingan soal Irian antara Indonesia
dengan Belanda dimulai pada tanggal 4 Desember 1950 semasa cabinet Natsir.
Tetapi perundingan ini mengalami jalan buntu. Karena masing-masing pihak tidak
beranjak dari pendirian. Hal ini menimbulkan mosi tidak percaya dari parlemen
terhadap cabinet.[3]
d.
Keberhasilan
Yang Pernah Dicapai Kabinet Natsir :
1. Di
bidang ekonomi, ada Sumitro Plan yang mengubah ekonomi kolonial ke ekonomi
nasional
2. Indonesia
masuk PBB
3. Berlangsung
perundingan antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah
Irian Barat.
e.
Kendala/
Masalah Yang Dihadapi:
1. Pada
penerapan Sumitro Plan, pengusaha nasional diberi bantuan kredit, tetapi
bentuan itu diselewengkan penggunaannya sehingga tidak mencapai sasaran.
2. Upaya
memperjuangkan masalah Irian Barat dengan Belanda mengalami jalan buntu
(kegagalan).
3. Timbul
masalah keamanan dalam negeri yaitu terjadi pemberontakan hampir di seluruh wilayah
Indonesia, seperti Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis, Gerakan APRA, Gerakan
RMS.
4. Seringnya
mengeluarkan Undang Undang Darurat yang mendapat kritikan dari partai oposisi.[4]
f.
Jatuhnya
Kabinet Natsir
Penyebab
kabinet mengalami jatuh bangun pada masa demokrasi liberal adalah akibat
kebijkaan-kebijakan yang dalam pandangan parlemen tidak menguntungkan Indonesia
ataupun dianggap tidak mampu meredam pemberontakan-pemberontakan di daerah.
Sementara keberlangsungan pemerintah sangat ditentukan oleh dukungan di
parlemen.
Berikut
adalah Penyebab jatuhnya Kabinet
Natsir yang dikarenakan kegagalan
Kabinet ini dalam menyelesaikan masalah Irian Barat dan adanya mosi tidak
percaya dari PNI menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan
DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu
menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Kabinet Natsir
harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden pada tanggal 21 Maret 1951.[5]
2.
KABINET
SOEKIMAN (27 April 1951 – 23 Februari 1952)
a.
Awal
pembentukan cabinet soekiman
Setelah
Kabinet Natsir mengembalikan mandatnya pada presiden, presiden menunjuk Sartono
(Ketua PNI) menjadi formatur. Hampir satu bulan beliau berusaha membentuk
kabinet koalisi antara PNI dan Masyumi. Namun usahanya itu mengalami kegagalan,
sehingga ia mengembalikan mandatnya kepada presiden setelah bertugas selama 28
hari (28 Maret-18 April 1951).
Presiden
Soekarno kemudian menunjukan Sidik Djojosukatro ( PNI ) dan Soekiman Wijosandjojo
( Masyumi ) sebagai formatur dan berhasil membentuk kabinet koalisi dari
Masyumi dan PNI. Kabinet ini terkenal dengan nama Kabinet Soekiman ( Masyumi )-
Soewirjo ( PNI ) yang dipimpin oleh Soekiman.[6]
b.
Susunan
Kabinet Soekiman
|
1
|
Perdana
Menteri
|
Sukiman
Wirjosandjojo
|
|
Wakil
Perdana Menteri
|
Suwirjo
|
|
|
2
|
Menteri
Luar Negeri
|
Achmad
Subardjo
|
|
3
|
Menteri
Dalam Negeri
|
Iskak
Tjokroadisurjo
|
|
4
|
Menteri
Pertahanan
|
Sewaka
|
|
5
|
Menteri
Kehakiman
|
Mohammad
Yamin
|
|
6
|
Menteri
Penerangan
|
Arnold
Mononutu
|
|
7
|
Menteri
Keuangan
|
Jusuf
Wibisono
|
|
8
|
Menteri
Pertanian
|
Suwarto
|
|
9
|
Menteri
Perindustrian dan Perdagangan
|
Sujono
Hadinoto
|
|
10
|
Menteri
Perhubungan
|
Djuanda
Kartawidjaja
|
|
11
|
Menteri
Pekerjaan Umum dan Tenaga
|
Ukar
Bratakusumah
|
|
12
|
Menteri
Perburuhan
|
Iskandar
Tedjasukmana
|
|
13
|
Menteri
Sosial
|
Sjamsuddin
|
|
14
|
Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan
|
Wongsonegoro
|
|
15
|
Menteri
Agama
|
Wahid
Hasjim
|
|
16
|
Menteri
Kesehatan
|
J.
Leimena
|
|
17
|
Menteri
Negara
|
A.
Pellaupessy (urusan umum)
|
|
Pandji
Suroso (urusan pegawai)
|
||
|
Gondokusomo
(urusan agraria)
|
c.
Program
kerja dari Kabinet Soekiman adalah:
1. Menjalankan
tindakan-tindakan yang tegas sebagai Negara Hukum Menjamin Keamanan dan
Ketentraman. Menyempurnakan organisasi alat-alat kekuasaan Negara
2. Membuat
dan melaksanakan rencana kemakmuran kemakmuran nasional dalam jangka pendek
untuk mempertinggi kehidupan ekonomi rakyat dan memperbaharui hukum agraria
agar sesuai dengan kepentingan petani.
3. Mempercepat
usaha penempatan bekas Pejuang dalam lapangan pembangunan
4. Menyelesaikan
persiapan pemilihan Umum untuk membentuk Konsistuante dan menyelenggarakan
Pemilihan Umum itu dalam waktu yang singkat. Mempercepat terlaksananya otonomi
daerah
5. Menyiapakan
undang-undang tentang :
a)
Pengakuan serikat buruh
b)
Perjanjian kerjasama
c)
Penetapan upah minimum
d)
Penyelesaian
pertikaian perburuhan
6. Menjalankan
politik luar negeri secara bebas aktif dan yang menuju perdamaian.
Menyelengarakan hubungan Indonesia-Belanda atas dasar Unie-Statut menjadi
hubungan berdasarkan perjanjian internasional biasa, mempercepat peninjauan
kembali lain-lain persetujuan hasil KMB dan meniadakan perjanjian-perjanjian
yang nyata merugikan rakyat dan Negara.
7. Memasukan
Irian Barat ke dalam Wilayah Republik Indonesia secepat-cepatnya.[7]
d.
Hasil
Kinerja Kabinet Soekiman
Hasil atau prestasi yang
berhasil dicapai oleh Kabinet Soekiman yaitu tidak terlalu berarti sebab
programnya melanjutkan program Natsir hanya saja terjadi perubahan skala
prioritas dalam pelaksanaan programnya, seperti awalnya program menggiatkan
usaha keamanan dan ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin
keamanan dan ketentraman.
e.
Kendala/
Masalah Yang Dihadapi Oleh Kabinet Soekiman
1. Adanya
Pertukaran Nota Keuangan antara Mentri Luar Negeri Indonesia Soebardjo dengan
Duta Besar Amerika Serikat Merle Cochran. Mengenai pemberian bantuan ekonomi
dan militer dari pemerintah Amerika kepada Indonesia berdasarkan ikatan Mutual
Security Act (MSA). Dimana dalam MSA terdapat pembatasan kebebasan politik luar
negeri RI karena RI diwajibkan memperhatiakan kepentingan Amerika. Tindakan
Sukiman tersebut dipandang telah melanggar politik luar negara Indonesia yang
bebas aktif karena lebih condong ke blok barat bahkan dinilai telah memasukkan
Indonesia ke dalam blok barat.
2. Adanya
krisis moral yang ditandai dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap
lembaga pemerintahan dan kegemaran akan barang-barang mewah.
3. Masalah
Irian barat belum juga teratasi.
4. Hubungan
Sukiman dengan militer kurang baik tampak dengan kurang tegasnya tindakan pemerintah
menghadapi pemberontakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan.
5. Berakhirnya
kekuasaan kabinet disebabkan oleh pertentangan dari Masyumi dan PNI atas
tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet tersebut. DPR
akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus mengembalikan mandatnya
kepada presiden.[8]
f.
Jatuhnya
Kabinet Soekiman
Kejatuhan
Kabinet Soekiman merupakan akibat dari ditandatanganinya persetujuan bantuan
ekonomi dan persenjataan dari Amerika Serikat kepada Indonesia atas dasar
Mutual Security Act ( MSA ). Peretujuan ini menimbulkan tafsiran bahwa
Indonesia telah memasuki Blok Barat, yang berarti bertentangan dengan prinsip
dasar politik luar negri Indonesia yang bebas aktif. Muncul pertentangan dari Masyumi
dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet
tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus
mengembalikan mandatnya kepada presiden.[9]
BAB III
KESIMPULAN
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kabinet Natsir merupakan kabinet pertama
yang dibentuk setelah berakhirnya RIS dan kembali ke NKRI. kabinet Natsir juga
merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh Masyumi dan PNI sebagai partai
kedua terbesar menjadi oposisi. Kabinet tersebut memerintah antara tangga l6
September 1950 - 21 Maret 1951, dengan berbagai program yang dicanangkannya
seperti:
1. Menggiatkan
usaha mencapai keamanan dan ketentraman
2. Mencapai
konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan.
3. Menyempurnakan
organisasi angkatan perang dan pemulihan bekas anggota-anggota tentara dan
gerilya dalam masyarakat.
4. Memperjuangkan
penyelesaian soal Irian Barat secepatnya.
5. Mengembangkan
dan memperluas kekuatan ekonomi rakyat sebagai dasar bagi melaksanakan ekonomi
nasional yang sehat.
6. mempersiapkan
dan menyelenggarakan pemilihan umum untuk Konstituante.
7. Pelaksanaan
program industrialisasi (Rencana Sumitro)
Namun
tidak semua program tersebut dapat terealisasi seperti yang diharapkan, sampai
akhirnya pada tanggal 21 Maret 1951 kabinet tersebut jatuh dengan menyisakan
beberapa program yang belum kelar.
Begitu
pula dengan kabinet Soekiman yang dilantik pada 27 April 1951, kabinet tersebut
bisa dikatakan hanya meneruskan program dari kabinet Natsir, sehingga dalam
programnyapun tidak begitu banyak perbedaan. Kabinet ini jatuh pada 23 Februari
1952 akibat dari ditandatanganinya persetujuan bantuan ekonomi dan persenjataan
dari Amerika Serikat kepada Indonesia atas dasar Mutual Security Act ( MSA),
yang kemudian membuat Masyumi dan PNI menarik dukungannya pada kabinet
tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
A.B.
Lapian dkk. 1996. Terminologi Sejarah
1945-1950 & 1950-1959. Jakarta: cv. Defit Prima Karya.
Marsono.
2005. Sejarah Pemerintahan dalam Negeri.
Jakarta: CV Eka Jaya.
Simanjuntak,
P. N. H. 2003. Kabinet-Kabinet Republik
Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan Sampai Reformasi. Jakarta: Djambatan.
Arifin, Zainal. “Natsir Sebagai Perdana
Menteri” 18 Mei 2011. http://politik.kompasiana.com/2011/05/18/natsir-volume-16-363891.html
Rozy. “Kabinet Natsir”. http://www.scribd.com/doc/114010498/KABINET-NATSIR
Suwandi. “Perkembangan
Politik Masa Demokrasi Liberal di Indonesia (1950-1959)” Kamis, 08 November 2012. http://suwandi-sejarah.blogspot.com/2012/11/perkembangan-politik-masa-demokrasi.html
[1] A.B. Lapian dkk. “Terminologi
Sejarah 1945-1950 & 1950-1959”. (Jakarta: cv. Defit Prima Karya. 1996).
hal 174
[2] Rozy. “Kabinet Natsir”. http://www.scribd.com/doc/114010498/KABINET-NATSIR
[3] A.B. Lapian dkk. 1996., ibid., hal 175
[4] P. N. H. Simanjuntak. “Kabinet-Kabinet Republik
Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan Sampai
Reformasi”. (Jakarta: Djambatan, 2003) hlm. 116–119
[5] Zainal Arifin. “Natsir Sebagai Perdana Menteri” 18 Mei 2011. http://politik.kompasiana.com/2011/05/18/natsir-volume-16-363891.html
[6] Marsono. “Sejarah
Pemerintahan dalam Negeri”. (Jakarta: CV Eka Jaya. 2005). Hal 211
[7] Marsono. 2005. Ibid. hal. 211-212
[8] A.B. Lapian dkk. 1996., ibid., hal 178-179

No comments:
Post a Comment