
PEMBERONTAKAN
DI/TII DI BERBAGAI DAERAH DI INDONESIA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah
Kontemporer
Dosen Pengampu : Insane Fahmi Siregar,
S.Ag., M.Hum
Kelompok
:
Tri
Maheni ( 3101412061)
Abdurahman
khubaib (3101412066)
Sulton
Muzaki (3101412056)
Dita
Desiana ( 3101412060)
Lutfi
arif w (3101412069)
Yoko
Supriyanto ( 3101412070)
PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Gagasan negara islam tumbuh dalam diri
kartosuwiryo pada akhir 1920an saat ia bergabung dengan syariat islam, partai
politik islam di indonesia yang bercita- cita menegakkan syariat islam di
indonesia. Paham wahhabi masuk ke indonesia belasan tahun setelah wafatnya
syaikh muhammad bin abdul wahhab, tokoh pendiri gerakan wahhabi. Berawal dari
ibadah haji, pada 1803 tiga jamaah haji dari minangkabau pulang membawa
oleh-oleh ajaran salafy. Mereka membentuk kelompok kaum padri dan menyebarkan
ajaran ini di tanah minang. Kaum padri melarang masyarakatnya untuk melakukan
minuman keras, sambung ayam dll1.
Gerakan NII ini yang bertujuan untuk
menjadikan republik indonesia menjadi sebuah negara yang mnerapkan dasar agama
islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinnya tertulis bahwa “ hukum yang
berlaku di negara indonesia adalaukum islam” atau lebih jelasnya lagi, didalam
undang-undang tertulis bahwa “ negara berdasarkan islam “ dan “ hukum tertinggi
adalah al qur ‘an dan hadist”. Proklamasi negara islam indonesia (NII )
menyatakan dengan tegas bahwa kewajiban negara untuk membuat undang-undang
berdasarkan syari’at islam.
Pemberontakan
DI/TII di Jawa Barat berawal dengan ditandatanganinya Persetujuan Renville pada
17 Januari 1948 .Sekar Marijan Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (DI) bersama
pasukannya yang terdiri atas Hizbullah dan Sabillah. Ia menolak untuk membawa
pasukannya ke Jawa Tengah dan tidak mengakui lagi keberadaan RI. Sementara itu,
pada september 1965 terjadi huru hara politik di indonesia sejumlah tentara
berhaluan kiri menculik dan membunuh enam jendral serta seorang letnan. Dalam
hitungan hari pasukan angkatan darat yang dipimpin mayjen soeharto berhasil
melumpuhkan pasukan ini. PKI dituding berada dibalik aksi pembunuhan ini. Kaum
pelajar, mahasiswa serta umat islam yang dibantu pasukan angkatan darat untuk
membubarkan partai komunis indonesia dan menyuruh presiden soekarno untuk
mundur dari jabatan sebagai presiden RI2.
Memasuki era 1950 an, pemberontakan
DI/TII yang berpusat di jawa barat mendapat sambutan diberbagai daerah. Pada 20
januari 1952 kahar muzakar dari sulawesi selatan bersama pasukannya bergabung
dengan DI/TII. Sulawesi selatan pun diklaim sebagai bagian dari DI/TII. Setahun
kemudian, pada 20 september 1953 aceh diklaim sebagai bagian NII karena teungku
daud beureueh beserta pengikutya juga bergabung DI/TII di jawa.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa itu
pemberontakan DI/TII?
2.
Dimana saja
Pemberontakan DI/TII dilakukan?
3.
Bagaimana
berakhirnya DI/TII?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pemberontakan
DI/TII
Sekarmadji maridjan kartosoewirjo demikian nama
lengkapnya. Ia dilahirkan pada tanggal 7 januari 1907 di cepu, sebuah kota
kecil antara blora dan bojonegoro yang menjadi daerah perbatasan antara jawa
timur dan jawa tengah. Berbeda dengan tokoh agama yang lainnya ia tak mempunyai
latar belakang agama. Pendidikan formalnya memang dihabiskan dalam sistem
pendidikan belanda. Kartosuwiryo beruntung pekerjaan orang tuannya yang sebagai
pegawai candu, membuat ia disekolahkan di pendidikan belanda. Interaksi dengan
sang paman yang bernama marko kartodikromo, menumbuhkan kesadaran politik
kartosuwiryo. Pada tahun 1925 kartosuwiryo ikut organisasi pemuda islam JIB
(jong islamienten bond) di jawa. diorganisasi inilah ia mulai berkenalan dengan
tokoh-tokoh islam seperti agus salim dan oemar said tjokroaminoto menawari
kartosuwiryo menjadi sekertaris pribadinnya.
Saat kartosuwiryo aktif di PSI ia mulai aktif
mempelajari bahasa islam, namun karena belum fasih terhadap bahasa islam ia
mulai belajar buku-buku islam yang berbahasa belanda. Selain itu juga pada
tahun 1930 ia sempat menimba ilmu agama kepada beberapa ulama di garut yang
juga para aktivis PSI, yaitu kyai ardiwisastera, yang kelak menjadimertuannya.
Kesemua gurunya adalah ulama tradisional, bukan ulama modernis, atau penganut
ajaran salafy3.
Interaksi dengan tjokroaminoto, keterlibatannya dengan
PSI,dan pelajaran agama dari guru-gurunya di garut inilah yang membangun
pemahaman keislaman kartosuwiryo. Ia terinspirasi gagasan negara islam yang
diperjuangkan oleh PSI dan berusaha memperjuangkannya4. PSI memang
sebuah partai yang “menuntut akan berlakunnya syari’at islam, di dalam arti
kata yang seluas-luas dan sesempurna-sesempurnanya, menurut contoh dan teladan
yang nyata di dalah sunnah rasulullah. PSI sendiri tak sekedar berniat
mendirikan negara islam indonesia , tapi juga menganut paham pan-islamisme .
pan-islamisme adalah gagasan untuk menyatukan seluruh umat diseluru dunia dalam
satu kekhalifahan. Awalnya PSI cukup serius dalam memperjuangkan ide ini, namun
setelah kejatuhan khalifah turki Usmani pada 1924, PSI ikut membentuk
komite khalifah, semacam komite untuk
memperjuangkan kembali khalifah, dan tokoh PSI wondoamiseno sebagai ketuannya.
Belakangan bersama dengan meningkatnya pemahaman agama kartosuwiryo tentang
pentingnya umat islam mendirikan sebuah negara islam dimana masyarakat dapat
melaksanakan syari’at islam, baik syari’at islam yang bersifat pribadi maupun
sosial. Ia juga yakin negara islam yang ia sebut darul islam bisa menaikkan
harkat dan martabat bangsa.
3
Deliar noer,
gerakan modern islam di indonesia 1900-1924, LP3ES jakarta.
4
Holk dengel, op cit. Hlm. 153S.M kartosuwiryo, “sikap
hijrah PSII 2, majlis takhim partai syarikat islam indonesia, 1963” yang dilampirkan
dalam buku Al chaidar, pemikiran politik
proklamator negara islam indonesia S.M kartosuwiryo, darul falah,
jakarta,1999, hlm 424.
Dalam sejarah indonesia modern, bisa dikatakan
kartosuwiryo lah yang pertama kali menggunakan istilah dan menyamakan dengan
negara islam. Menurut mohammad natsir pada tahun 1930an belum dikenal istilah
tersebut. Negara islam selalu disebut dengan istilah negara berdasarkan islam.
Keterlibatan kartosuwiryo dalam PSI juga membangun watak anti kompromi pada
dirinya. Saat karto suwiryo bergabung dengan syarikat islam, PSI sedang
bersemangat menerapkan politik nonkooperasi terhadap pemerintah kolonial
belanda. Nonkooperasi artinya tidak bekerjasama dengan pemerintah kolonial
dalam hal pemerintahan, maupun semacam dewan rakyat seperti volksraad yang
dibentuk pemerintah belanda termasuk menolak bantuan dari pemerintah belanda.
Penerapan politik nonkooperasi menjadi salah satu pecahnya hubungan antara
muhammadiyah dengan PSI, hal ini disebabkan karena Muhammadiyah menerima
bantuan pemerintah kolonial belanda5.
Selepas dikeluarkan dari PSI pada 1939, kartosuwiryo
pindah ke malangbong garut.bersama kyai jusuf taujiri dam kamran, ia mendirikan
komite pertahanan kebenaran PSII. Komite ini menggunakan anggaran dasar dan
peraturan PSII dan menggangap dirinya sebagai sarekat islam yang sebenarnya.Pada
tahun 1940, ia membentuk lembaga pengkaderan yangdisebut institut suffah. Kelak,
sebagian alumnki institut suffah ini menjadi pengikut setia kartosuwiryo saat
mendirikan gerakan darul islam. Pengkaderan di institut suffah berhenti karena
dibubarkan oleh jepang yang pada saat itu sedang datang ke indonesia pada 1942.
Pendudukan jepang di indonesia selain membuat kesengsaraan juga membuka peluang
bagi kartosuwiryo untuk melanjutkan apa yang sudah dikerjakan di institut
suffah. Namun kali ini berbeda bukan pembentukan kader-kader partai tapi
kader-kader militer. Pada 1945 ia segera mengaktifkan kembali lembaga suffah
untuk mengembleng para pemuda yang bergabung dengan hizbullah, para pemuda di
persenjatai dan digembleng militer.
Secara resmi DI/TII sudah berdiri sejak mei 1948,
namun baru di proklamasikan oleh kartosuwiryo pada 7 agustus 1949 di cisampak,
kecamatan cilugagar, kabupaten tasikmalaya. Bunyi proklamasinya, “ kami umat
islam indonesia menyatakan berdiri negara islam indonesia. Maka hukum yang
berkuasa atas negara islam indonesia adalah hukum islam.” Dalam penjelasan teks
proklamasi yang terdiri dari 10 butir itu disebutkan antara lain, negara islam
indonesia merupakan negara islam dimasa perang atau darul islam fi waqtil harb.
Sementara hukum yang berlaku adalah hukum islam6. Hukum islam yang
diterapkan oleh DI/TII bisa dilihat dalam kitab undang-undang hukum pidana
negara islam indonesia (UUHPNII). Untuk melaksanakan UUHPNII ini, darul islam
telah membagi wilayah indonesia menjadi tiga wilayah yaitu: daerah I (D.I),
daerah II (D II) dan daerah III (D III). Namun pembagian darul islam dan darul
harb ini menjadi masalah ketika diterapkan diwilayah di Indonesia. Pasalnya
mayoritas penduduk di indonesia dalah muslim. Sementara itu, darul harb sendiri
merujuk kepada wilayah yang ditempati orang-orang kafir harby ( yang boleh diperangi.
4.
lihat tulisan S.M
kartosuwiryo, “ memboeta toeli” yang dilampirkan dalam buku Al Chaidar,
pemikiran politik proklamator negara islam indonesia S.M kartosuwiryo, hlm
234-237.
5.
Irfan s awwas, jejak jihad S.M Kartosuwiryo, uswah, yogyakarta,
2007, hal 123-125
B.
DI/TII di Berbagai
Daerah
1. Pemberontakan
DI/TII di Jawa Barat
Pada tanggal 7 Agustus 1949 Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo secara resmi menyatakan bahwa organisasi Negara Islam Indonesia
(NII) berdiri berlandaskan kanun azasi, dan pada tanggal 25 Januari 1949,
ketika pasukan Siliwangi sedang melaksanakan hijrah dari Jawa Barat ke Jawa
Tengah, saat itulah terjadi kontak senjata yang pertama kali antara pasukan TNI
dengan pasukan DI/TII. Memasuki1950an pemberontakan DI/TII yang berpusat di
jawa barat mendapat sambutan dibeberapa daerah. Semisal kasus di daerah
sulawesi yang disebabkan bukan karena masalah agama tetapi karena masalah
kesenjangan sosial yang dilakukkan oleh pemerintah karena hanya dilakukan di
pusat saja7.
2. Pemberontakan
DI/TII di Jawa Tengah
Selain di Jawa Barat, pasukan DI/TII ini juga muncul
di Jawa Tengah semenjak adanya Majelis Islam yang di pimpin oleh seseorang
bernama Amir Fatah. Amir Fatah adalah seorang komandan Laskar Hizbullah yang
berdiri pada tahun 1946, menggabungkan diri dengan pasukan TNI Battalion 52,
dan bertempat tinggal di Berebes, Tegal. Amir ini mempunyai pengikut yang
jumlahnya cukup banyak, dan cara Amir mendapatkan para pasukan tersebut, yaitu.
Dengan cara menggabungkan para laskar untuk masuk ke dalam anggota TNI. Setelah
Amir Fatah mendapatkan pengikut yang banyak, maka pada tangal 23 Agustus 1949
ia memproklamasikan bahwa organisasi Darul Islam (DI) berdiri di desa
pesangrahan, Tegal. Dan setelah proklamasi tersebut di laksanakan, Amir Fatah
pun menyatakan bahwa gerakan DI yang di pimpinnya bergabung dengan organisasi
DI/TII Jawa Barat yang di pimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.
Di Kebumen juga terdapat sebuah organisasi
bernama Angkatan Umat Islam (AUI) yang di dirikan oleh seorang kyai bernama
Mohammad Mahfud Abdurrahman. Organisasi tersebut juga bermaksud untuk membentuk
Negara Islam Indonesia (NII) dan bersekutu dengan Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo. Sebenarnya, gerakan ini sudah di desak oleh pasukan TNI. Akan
tetapi, pada tahun 1952, organisasi ini bangkit kembali dan menjadi lebih kuat
setelah terjadinya pemberontakan Battalion 423 dan 426 di Magelang dan Kudus.
Upaya untuk menumpas pemberontakan tersebut, pemerintah membentuk sebuah
pasukan baru yang di beri nama Banteng Raiders dengan organisasinya yang di
sebut Gerakan Banteng Negara (GBN). Pada tahun 1954 di lakukan sebuah operasi
yang di sebut Operasi Guntur untuk menghancurkan kelompok DI/TII tersebut8.
6.
S.M kartosuwiryo, “sikap hijrah
PSII 2, majlis takhim partai syarikat islam indonesia, 1963” yang dilampirkan
dalam buku Al chaidar, pemikiran politik
proklamator negara islam indonesia S.M kartosuwiryo, darul falah,
jakarta,1999
7.
M.C ricklefs, sejarah indonesia modern 1200-2004,
serambi, jakarta, 2008
3. Pemberontakan
DI/TII di Kalimantan Selatan
Pada bulan Oktober 1950 terjadi sebuah pemberontakan
Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT) yang di pimpin oleh seorang mantan letnan
dua TNI bernama Ibnu Hajar. Dia bersama kelompok KRyT menyatakan bahwa dirinya
adalah bagian dari organisasi DI/TII yang berada di Jawa Barat. Sasaran utama
yang di serang oleh kelompok ini adalah pos-pos TNI yang berada di wilayah
tersebut. Setelah pemerintah memberi kesempatan untuk menghentikan
pemberontakan secara baik-baik, akhirnya seorang mantan letnan Ibnu Hajar
menyerahkan diri. Akan tetapi, penyerahan dirinya tersebut hanyalah sebuah
topeng untuk merampas peralatan TNI, dan setelah peralatan tersebut di rampas
olehnya, maka Ibnu Hajar pun melarikan diri dan kembali bersekutu dengan
kelompok DI/TII. Setelah itu, akhirnya pemerintahan RI mengadakan Gerakan
Operasi Militer (GOM) yang di kirim ke Kalimantan selatan untuk menumpas
pemberontakan yang terjadi di Kalimantan Selatan tersebut, dan pada tahun 1959,
Ibnu Hajar berhasil di ringkus dan di jatuhi hukuman mati pada tanggal 22 Maret
1965.
Tokoh tokoh lokal itu bergabunbg dengan DI/TII umumnya
bukan karena masalah agama. Mereka memberontak kepada RI karena kecewa dengan kebijakan-
kebijakanyang diambil oleh pemerintah jakarta terhadap daerah atau kelompok
mereka. Dan mereka beranggapan bahwa islam bisa menjadi sebuah perekat bagi
pemimpin pemberontakan.
4. Pemberontakan
DI/TII di Aceh
Sesaat setelah Kemerdekaan Republik Indonesia di
proklamasikan, di Aceh (Serambi Mekah) terjadi sebuah konflik antara kelompok
alim ulama yang tergabung dalam sebuah organisasi bernama PUSA (Persatuan Ulama
Seluruh Aceh) yang di pimpin oleh Tengku Daud Beureuh dengan kepala adat
(Uleebalang). Konflik tersebut mengakibatkan perang saudara antara kedua
kelompok tersebut yang berlangsung sejak Desember 1945 sampai Februari 1946.
Untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah RI memberikan status Daerah
Istimewa tingkat provinsi kepada Aceh, dan mengangkat Tengku Daud Beureuh
sebagai pemimpin/gubernur.
Setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik
Indoneisa (NKRI) yang terbentuk pada bulan Agustus 1950. Pemerintahan Republik
Indonesia mengadakan sebuah sistem penyederhanaan administrasi pemerintahaan
yang mengakibatkan beberapa daerah di Indonesia mengalami penurunan status.
Salah satu dari semua daerah yang statusnya turun yaitu Aceh, yang tadinya
menjabat sebagai Daerah Istimewa, setelah operasi penyederhanaan tersebut di
mulai, status Aceh pun berubah menjadi daerah keresidenan yang di kuasai oleh
provinsi Sumatera Utara. Kejadiaan ini sangat mengecewakan seorang Daud
Beureuh, dan akhirnya Daud Beureuh membuat sebuah keputusan yang bulat untuk
bergabung dengan organisasi Negara Islam Indonesia (NII) yang di pimpin oleh
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 20
Spetember 1953. Setelah Daud Beureuh bergabung dengan NII, mereka melakukan
sebuah operasi untuk menguasai kota-kota yang berada di Aceh, selain itu mereka
juga melakukan propaganda untuk memperkeruh citra pemerintahan Republik
Indonesia. Kasuspemberontakan di aceh ini menjadi perekat di antara para
pemimpin yang memberontak10.
8.
Aminullah al mahady, sejarah masuk dan berkembangnnya
islam di indonesia, tanpa tahun dan tanpa penerbit. Dokumen itu merupakan
sejarah internal DI. Disebutkan juga sebelum sulawesi selatan, aceh dan
kalimantan selatan menyambut DI/TII, simpati terhadap DI/TII dari luar jawa
barat pertama kali di jawa tengah.
9.
Soal pemberontakan DI di aceh dan di sulawesi selatan
lihat C. Van Dijk, rebelion under the banner of islam, Den haag. Lihat juga
anhar gonggong, “abdul qahar mudzakar, dari patriot hingga pemberontak”.
5. Pemberontakan
DI/TII di Sulawesi Selatan
Selain pemberontakan DI/TII di Aceh, Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pemberontakan DI/TII ini juga terjadi di
Sulawesi Selatan yang di pimpin oleh Kahar Muzakar, organisasi yang sudah di
dirikan sejak tahun 1951 tersebut baru bisa di runtuhkan oleh pemerintah pada
Tahun 1965. Untuk menumpas organisasi tersebut di butuhkan banyak biaya,
tenaga, dan waktu karena kondisi medan yang sangat sulit. Meski demikian, para
pemberontak DI/TII sangat menguasai area tersebut. Selain itu, para pemberontak
memanfaatkan rasa kesukuan yang berkembang di kalangan masyarakat untuk melawan
pemerintah dalam menumpas organisasi DI/TII tersebut. Setelah pemerintahan
Republik Indonesia mengadakan operasi penumpasan DI/TII bersama anggota Tentara
Republik Indonesia. Barulah seorang Kahar Muzakar tertangkap dan di tembak oleh
pasukan TNI pada tanggal 3 Februari 1965.
Pada akhirnya TNI mampu menghalau seluruh
pemberontakan yang terjadi pada saat itu. Karena seperti yang kita ketahui
Indonesia terbentuk dari berbagai suku dengan beragam kebudayaannya dan UUD 45
yang melindungi beberapa kepercayaan sehingga tidak mungkin untuk menjadikan
salah satu hukum agama di jadikan hukum negara. Hal ini disebabkan oleh kahar
muzakar yang membangkang karena pasukannya yang tergabung dalam Kesatuan
Gerilyawan Sulawesi selatan (KGSS) tidak
mendapatkan tempat di APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia yang baru
dibentuk11.
C. Berakhirnya pemberontakan DI/TII
1) Pennyelesaiaan Pemberontakan DI/TII
di jawa Barat
Pada awalnya pemerintah RI berupaya menyelesaikan
pemberontakan melalui jalan damai yaitu mengutus Moh. Natsri untuk mengajak
Kartosuwiryo kembali kepangkuan ibu pertiwi, akan tetapi misi damai berujung
kegagalan. Pada 4 juni 1962, perjalanan rombongan Kartosuwiryo telah samapi
disebuah lembah antara gunung sangkar dan gunung geber, disekitar bandung
selatan. Pasukan DI/TII berteduh di tenda darurat karena kondisi sedang hujan.
Tak disangka terdengar suara bunyi tembakan dari bawah bukit. Pasukan yang
berkekuatan tiga peleton itu telah mengepung rombonga kartosuwiryo.
Kartosuwiryo dalam keadaan payah an berbaring dilantai gubuk itu dan mengenakan
jaket militer dan sebuah saeung. Meskipun saat ia ditangkap dia berusia 55
tahun, tapi dia kelihatan seperti seorang lelaki tua yang lebih dari umurnya12.
Oleh karena itu operasi militer ditempuh oleh pemerintah. Operasi
Bharatayudha dengan taktik Pagar Betis berhasil menangkap Kartosuwiryo di
Gunung Geber, Majalaya Jawa Barat. Kartosuwiryo akhirnya dihukum mati pada
tanggal 16 Agustus 1962.
10. Soal
pemberontakan DI di aceh dan di sulawesi selatan lihat C. Van Dijk, rebelion
under the banner of islam, Den haag. Lihat juga anhar gonggong, “abdul qahar
mudzakar, dari patriot hingga pemberontak”.
11.
Anhar gonggong, abdul qahhar mudzakar, dari patriot hingga
pemberontak, hlm 393.
2) Pennyelesaiaan Pemberontakan DI/TII
di jawa tengah
Semula ia bersikap setia pada RI,
namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan
sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan
ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi
pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya
menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah
Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh "orang-orang Kiri", dan
mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh "orang-orang
Kiri" tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir
Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan
yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di
bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo. Hingga
kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim
Indonesia.
Pemberontkaan DI/TII Jawa Tengah
ditumpas dengan Operasi Gerakan Banteng Negara (GBN) dipimpin oleh Letkol
Sarbini (digantikan oleh Letkol M. Bachrun dan kemudian Ahmad Yani). GBN
membentuk tentara khusus yang diberi nama Banteng Raiders. Sedangkan guna
menumpas pemberontkan Batalyon 426 pemerintah membentuk Operasi Merdeka Timur
yang dipimpin Letkol Soeharto. Pada awal tahun 1952 pemberontakan DI/TII di
Jawa Tengah berhasil dipadamkan.
3) Pennyelesaiaan Pemberontakan DI/TII
di Kalimantan Selatan
Ibnu Hajar adalah mantan anggota TNI yang memberontak
dengan membentuk KRYT. Kemudian Ibnu Hajar menyatakan bergabung dengan NII
pimpinan Kartosuwiryo.Penyelesaian pemberontakan Ibnu Hajar dilakukan dengan
jalan damai dan operasi militer. Pada tahun 1963, pasukan Ibnu Hajar dapat
ditumpas dan Ibnu hajar dijatuhi hukuman mati13.
4) Pennyelesaiaan Pemberontakan DI/TII
di Aceh
Dalam pertemuan dibahas pentingnya memperluas
kerjasama gerakan terutama dengan bekas DI sulawesi yang berganti namamenjadi
Republik Persatuan Islam (RPI), serta bekas DI/TII Aceh. Aceng kurnia punya
menantu orang DI sulawei. Selain itu juga ia mengenal gaos taufik, orang DI
yang tinggal di medan yang merupakan orang kepercayaan tengku daud beureueh.
Akhirnya disepakati bahwa aceng kurnia sendiri bertugas untuk bertemudaud
beureueh14.Pada tanggal 20 September 1953, Daud Beureuh mengeluarkan
pernyataan bahwa Aceh termasuk bagian dari DI/TII Kartosuwiryo.Operasi militer
dilakukan untuk menumpas pemberontakan DI/TII Aceh akan tetapi mengalami
kegagalan. Atas prakarsa Kolonel M. Yasin, diadakan Musyawarah Kerukunan Rakyat
Aceh yang berlangsung pada tanggal 17-21 Desember 1962. Akhir pemberontakan
DI/TII Aceh diselesaikan dengan cara damai.
12. Anhar
gonggong, abdul qahhar mudzakar, dari patriot hingga pemberontak, hlm 394.
13. Laksus
pangkopkamtib daerah jawa barat, “berkas acara pemerikaan dodo muhammad darda”,
bandung, 18 april 1977
5) Pennyelesaiaan Pemberontakan DI/TII
di Sulawesi Selatan
Pada tanggal 30 April 1950 Kahar
Muzakar mengirim surat kepada pemerintah agar tentara KGSS dapat bergabung
dengan APRIS. Pemerintah pusat menyalurkan tentara KGSS kedalam Korps Cadangan
Nasional. Pada tanggal 17 Agustus 1951, Kahar Muzakar beserta anak buahnya
melarikan diri ke hutan dan menyatakan bergabung dengan DI/TII Kartosuwiryo.Untuk
mengatasi pemberontakan Kahar Muzakar, pemerintah melancarkan operasi militer
dengan mengirimkan pasukan dari Devisi Siliwangi. Pemberontakan Kahar Muzakar
cukup sulit untuk ditumpas, mengingat pasukan Kahar Muzakar sangat mengenal
medan pertempuran. Akhirnya pada bulan februari 1965 Kahar Muzakar tewas dalam
sebuah pertempuran. Pembrontakan benar-benar dapat ditumpas pada Juli 1965.
Selain itu pada awal 1973, terjadi
pertempuran antara dodo muhammad darda dengan utusan republik persatuan islam
(RPI) di jakarta. Pertemuan dilakukan dirumah menatu aceng kurniawan di daerah
kalibaru, tanjung priok. Tokoh RPI itu yang bernama Ali Achmad Tholib yang
akrab disapa Ali A.T bahwa sulawesi masih ada kekuatan bersenjata yang belum
turun gunung. Mereka berada dibawah pimpinan sanusi daris, bekas menteri
pertahanan PRTI. Pasukan ini masih aktif melakukan gerilya di hutan hutandan
gunung-gunung di sulawsi selatan. Dalam pertemuan itu kaso Ganidan sanusi
daris, yang ditugaskan untuk menghubungi orang-orang DI di jawa Barat. Dalam dialog tersebut
disepakati kerjasama antara RPI sulawesi dengan tokoh-tokoh DI jawa barat
dengan prinsip terselengaranya syari’at islam di Indonesia15.
14. Laksus
pangkopkamtib daerah jawa barat, “berkas acara pemerikaan dodo muhammad darda”,
bandung, 18 april 1977
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sejak kemerdekaan
Indonesia diproklamirkan oleh Sukarno dan Muhammad Hatta atas nama bangsa
Indonesia pada 17 Agustus 1945, Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan
baik oleh Portugis, Belanda, Jepang, maupun Inggris yang telah menjajah bangsa
selama ini. Sejak saat itulah kita memiliki negara yang merdeka,
berdaulat adil dan makmur bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah
satu pemberontakan paling besar yang pernah terjadi di tanah air adalah DI/TII
(Daarul Islam/Tentara Islam Indonesia). DI/TII Jawa Barat dipimpin oleh Sekar Marijan
Kartosuwiryo dengan tujuan menentang penjajah Belanda di Indonesia. Akan
tetapi, setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara
Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan tentaranya dinamakan
Tentara Islam Indonesia (TII), DI/TII Jawa Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah
di bagian utara, yang bergerak di daerah Tegal, Brebes dan Pekalongan. Setelah
bergabung dengan Kartosuwiryo, Amir Fatah kemudian diangkat sebagai komandan
pertemburan Jawa Tengah dengan pangkat Mayor Jenderal Tentara Islam Indonesia.
DI/TII Aceh
di dipimpin oleh Tengku Daud Beureueh yang pada tanggal 20 September 1953
memproklamasikan daerah Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia dibawah
pimpinan Kartosuwiryo. DI/TII Sulawesi Selatan di pimpin Kahar Muzakar
tujuannya agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya
disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakar menuntut agar Kesatuan Gerilya
Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade
yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak
karena banyak diantara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer.
Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps
Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima
Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakar beserta para pengikutnya melarikan diri
ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar
Muzakar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan
sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953.
Pada tanggal 1 April 1962,
dilancarkan operasi Bharatayudha untuk menumpas DI/TII Kartosuwiryo. DI/TII
semakin terdesak dan satu-persatu komandannya menyerahkan diri. Penyebab
Tertangkapnya S.M Kartosuwiro yaitu diperolehnya keterangan dari pimpinan TII yang telah
berada dalam tangan TNI dan ini merupakan tipu muslihat TNI, sebab informasi
yang diberikan meliputi rahasia-rahasia pimpinan tertinggi TII dan rahasia
jama’ah Umat Islam Bangsa Indonesia, dihadirkannya masa dalam operasi tersebut
(Pagar Betis).
DAFTAR PUSTAKA
Solahudin. 2011. NII sampai JI. Jakarta: komunitas
bambu.
Anhar gonggong, abdul qahhar mudzakar, dari patriot
hingga pemberontak
Rasyid Soraya.2010.sejarah
islam masa modern. Jakarta: ombak
Susmihara.2011.sejarah
peradaban islam. Jakarta: ombak
http://remajanovia.blogspot.com/2013/05/makalah-sejarah-posisi-indonesia-di.html

No comments:
Post a Comment