
KABINET WILOPO dan ALI
SASTROAMIDJOJO I
Disusun Guna
Memenuhi Nilai Tugas Mata Kuliah Sejarah Kontemporer
Dosen Pengampu: Bp. Insan Fahmi Siregar
Oleh :
Miftah Ulzanah 3101412053
Yanrika
Rossiana 3101412065
Syaiful Yuhdi 3101412074
Muadibussibyan 3101412094
Muhammad Khoirul
Amri 3101412099
Jurusan Sejarah
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang
2014
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah, makalah
ini dapat terselesaikan dengan baik,tepat pada waktunya. Adapun tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah sejarah kontemporer,
dengan judul “Kabinet Wilopo dan Kabinet Ali Sastroamidjojo I”. Dengan membuat
tugas ini kami diharapkan mampu untuk lebih mengenal kaitan tentang bagaimana
sejarah kabinet Wilopo dan Ali Sastroamidjojo I pada masa demokrasi parlementer
di Indonesia. Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan,
terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun,
berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik. Kami
sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan
makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami mengharapkan
adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang
lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini, dapat
memberi kesadaran tersendiri bagi generasi muda.
Terimah Kasih.
Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sistem
parlementer adalah sebuah sistem pemerintahan di mana parlemen memiliki peranan
penting dalam pemerintahan. Dalam hal ini parlemen memiliki wewenang dalam
mengangkat perdana menteri dan parlemen pun dapat menjatuhkan pemerintahan,
yaitu dengan cara mengeluarkan semacam mosi tidak percaya. Berbeda dengan
sistem presidensiil, di mana sistem parlemen dapat memiliki seorang presiden
dan seorang perdana menteri, yang berwenang terhadap jalannya pemerintahan.
Dalam presidensiil, presiden berwenang terhadap jalannya pemerintahan, namun
dalam sistem parlementer presiden hanya menjadi simbol kepala negara saja.
Sistem parlementer dibedakan oleh cabang eksekutif
pemerintah tergantung dari dukungan secara langsung atau tidak langsung cabang
legislatif, atau parlemen, sering dikemukakan melalui sebuah veto keyakinan.
oleh karena itu, tidak ada pemisahan kekuasaan yang jelas antara cabang
eksekutif dan cabang legislatif, menuju kritikan dari beberapa yang merasa
kurangnya pemeriksaan dan keseimbangan yang ditemukan dalam sebuah republik
kepresidenan.
Sistem
parlemen dipuji, dibanding dengan sistem presidensiil, karena
kefleksibilitasannya dan tanggapannya kepada publik. kekurangannya adalah dia
sering mengarah ke pemerintahan yang kurang stabil, seperti dalam republik
weimar jerman dan republik keempat perancis. sistem parlemen biasanya memiliki
pembedaan yang jelas antara kepala pemerintahan dan kepala negara, dengan
kepala pemerintahan adalah perdana menteri, dan kepala negara ditunjuk sebagai
dengan kekuasaan sedikit atau seremonial. namun beberapa sistem parlemen juga
memiliki seorang presiden terpilih dengan banyak kuasa sebagai kepala negara,
memberikan keseimbangan dalam sistem ini.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di
atas maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah, diantaranya adalah:
- Apa latar belakang terbentuknya kabinet wilopo?
- Apa saja program kerja kabinet wilopo?
- Kendala apa saja yang dihadapi oleh kabinet wilopo?
- Bagaimana proses kemunduran kabinet wilopo?
- Apa latar belakang terbentuknya kabinet Ali 1?
- Apa saja program kerja kabinet Ali 1?
- Kendala apa saja yang dihadapi oleh kabinet Ali 1?
- Bagaimana proses kemunduran kabinet Ali?
C. Tujuan
- Mengetahui latar belakang terbentuknya Kabinet Wilopo?
- Mengetahui
apa saj program kerja Kabinet Wilopo?
- Mengetahui kendala apa saja yang dihadapi oleh kabinet Wilopo?
- Mengetahui bagaimana proses kemunduran Kabinet Wilopo?
- Mengetahui latar belakang terbentuknya kabinet Ali I
- Mengetahui
apa saja program kerja kabinet Ali I
- Mengetahui kendala apa saja yang dihadapi oleh kabinet Ali I
- Mengetahui bagaimana proses kemunduran kabinet Ali
I
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Latar Belakang Terbentuknya Kabinet Wilopo
Pada tanggal 1 Maret 1952 Presiden
Soekarno menunjuk Sidik Djojosukarto (PNI) dan Prawoto Mangkusasmito (Masyumi)
menjadi formatur untuk membentuk. sebuah kabinet yang kuat dan mendapat
dukungan cukup dari parlemen. Usaha kedua formatur tersebut untuk membentuk
kabinet yang kuat menemui kagagalan, sebab tidak memperoleh persesuaian
pendapat. Menurut Sidik, usaha-usaha membentuk kabinet terhalang oleh usul
Prawoto yang menunjuk calon menteri dari Masjumi hanya dari kelompok Natsir.
Sidik lebih suka bila semua kelompok dalam Masjumi diwakili. Tetapi Prawoto
berpendapat bahwa kegagalan itu disebabkan oleh perbedaan pendapat antara ia
dan Sidik mengenai interpretasi apa yang dimaksud dengan “kabinet yang kuat”.
Pada tanggal 18 November kedua formatur itu mengembalikan mandatnya dan
Presiden Soekarno tanggal 19 November menunjuk Mr. Wilopo (PNI) sebagai
formatur baru.[1]
Akhirnya
setelah berusaha selama 2 minggu, pada tanggal 30 Maret Mr. Wilopo mengajukan
susunan kabinetnya yang terdiri atas : PNI, dan Masyumi masing-masing jatah 4
orang, PSI 2 orang, PKRI (Partai Katholik Republik Indonesia), Parkindo (Partai
Kristen Indonesia), Parindra (Partai Indonesia Raya), Partai Buruh, dan PSII
masing–masing 1 orang dan golongan tak berpartai 3 orang. Kabinet ini resmi dibentuk
berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 85 Tahun 1952 tanggal 1 April 1952.
Dalam
melaksanakan pemerintahannya, setidaknya ada enam program kabinet Wilopo, yaitu :
1. Organisasi
Negara
a. Melaksanakan
pemilu untuk konstituante dan dewan dewan daerah,
b. Menyelesaikan
penyelenggaraan dan mengisi otonomi daerah,
c. Menyederhanakan
organisasi pemerintah pusat.
2. Kemakmuran
a. Memajukan
tingkat penghidupan rakyat dengan mempertinggi produksi nasional, terutama
bahan makanan rakyat,
b. Melanjutkan
usaha perubahan agraria.
c. Usaha
memperbaiki bidang pendidikan.
3. Keamanan
a. Menjalankan
segala sesuatu untuk mengatasi masalah keamanan dengan kebijaksanaan sebagai
Negara hukum dan menyempurnakan organisasi alat-alat kekuasaan Negara serta,
b. Memperkembangkan
tenaga masyarakat untuk menjamin keamanan dan ketentraman.
4. Perburuhan
Memperlengkapi
perundang-undangan perburuhan untuk meninggikan derajat kaum buruh guna
menjamin proses nasional.
5. Pendidikan
dan Pengajaran
Mempercepat
usaha-usaha perbaikan untukpembaharuan pendidikan dan pengajaran.
6. Luar
Negeri
a. Mengisi
politik luar negeri yang bebas dengan aktivitas yang sesuai dengan kewajiban
kita dalam kekeluargaan bangsa-bangsa dan dengan kepentingan nasional menuju
perdamian dunia,
b. Menyelesaikan
penyelenggaraan perhubungan Indonesia-Nederland atas dasar Unie-Statuut menjadi
hubungan berdasarkan perjanjian internasional biasa yang menghilangkan
hasil-hasil KMB yang merugikan rakyat dan Negara,
c. Meneruskan
perjuangan memasukkan Irian Barat dalam wilayah kekuasaan Indonesia secepatnya.
B. Kendala atau Masalah yang dihadapi :
1.
Adanya kondisi krisis
ekonomi yang disebabkan jatuhnya harga barang-barang eksport Indonesia,
sementara kebutuhan impor terus meningkat. Hal ini menyebabkan penerimaan
negara menjadi menurun. Dengan keadaan ekonomi yang semakin sulit dan upaya
pembentukan militer yang memenuhi standar profesional, maka anggota militer
yang tidak memnuhi syarat (berpendidikan rendah) perlu dikembalikan kepada
masyarakat. Hal ini tentu menimbulkan protes dikalangan militer. Kalangan yang
terdesak dipimpin oleh Kolonel Bambang Sugeng menghadap presiden dan mengajukan
petisi penggantian KSAD Kolonel A.H. Nasution. Hal ini menimbulkan kericuhan
dikalangan militer dan menjurus kearah kericuhan.
2.
Terjadi defisit kas
negara karena penerimaan negara yang berkurang banyak, terlebih setelah terjadi
penurunan hasil panen sehingga membutuhkan biaya besar untuk mengimport beras.
3.
Munculnya gerakan separatisme
dan sikap provinsialisme yang mengancam keutuhan bangsa. Semua itu disebabkan
karena rasa ketidakpuasan akibat alokasi dana dari pusat ke daerah yang tidak
seimbang.
4.
Munculnya sentimen
kedaerahan akibat ketidakpuasan terhadap pemerintahan.
5.
Terjadi Peristiwa 17
Oktober 1952. Adanya konflik ditubuh angkatan darat yang diawali dari upaya
pemerintah untuk menempatkan TNI sebagai alat sipil. Hal ini memunculkan sikap
tidak senang dikalangan partai politik sebab dipandang akan membahayakan
kedudukannya. Peristiwa ini diperkuat dengan munculnya masalah intern dalam TNI
sendiri yang berhubungan dengan kebijakan KSAD A.H Nasution yang ditentang oleh
Kolonel Bambang Sugeng. Kolonel Bambang Sugeng ia mengirim petisi mengenai
penggantian KSAD kepada menteri pertahanan yang dikirim ke seksi pertahanan
parlemen sehingga menimbulkan perdebatan dalam parlemen. Konflik semakin diperparah
dengan adanya surat yang menjelekkan kebijakan Kolonel Gatot Subroto dalam
memulihkan keamanan di Sulawesi Selatan. Keadaan ini menyebabkan muncul
demonstrasi di berbagai daerah menuntut dibubarkannya parlemen. Peristiwa 17
Oktober 1952 adalah peristiwa demonstrasi rakyat terhadap presiden yang
menuntuk untuk pembubaran parlemen serta meminta presiden memimpin langsung
pemerintahan samapai diselenggarakannya pemilu. Sementara itu TNI-AD yang
dipimpin Nasution juga menghadap presiden dan menyarankan agar parlemen
dibubarkan. Tetapi saran tersebut ditolak dengan alasan bahwa presiden tidak
mau menjadi dikatator, tetapi khawatir juga apabila tuntutan tentara dipenuhi
presiden akan ditunggangi mereka.
6.
Dalam perkembangan
selanjutnya muncul golongan yang anti peristiwa 17 Oktober 1952 dari Angkatan
Darat sendiri. Menteri Pertahanan, Sekertaris Jendral Ali Budihardjo dan
sejumlah perwira yang merasa bertanggung jawab atas peristiwa 17 Oktober 1952
diantaranya KSAP T.B. Simatupang dan KSAD A.H. Nasution mengundurkan diri dari
jabatanya. Kedudukan Nasution kemudian digantikan oleh Bambang Sugeng. Walaupun
peristiwa 17 Oktober 1952 tidak menyebabkan jatuhnya kabinet Wilopo, tetapi
peristiwa ini mengakibatkan menurunnya kepercayaan masyarakat terahadap
pemerintah.
7.
Munculnya Peristiwa
Tanjung Morawa mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli).
Perkebunan tersebut adalah perkebunan milik orang asing, yaitu perkebunan
kelapa sawit, teh, dan tembakau. Sesuai dengan perjanjian KMB pemerintah
mengizinkan pengusaha asing untuk kembali ke Indonesia dan mengembalikan lahan
perkebunan mereka kembali serta memiliki tanah-tanah perkebunan.
8.
Pemerintah menyetujui
tuntutan dari pengusaha asing ini dengan alasan akan menghasilkan devisa dan
akan menarik modal asing lainnya masuk ke Indonesia. Tanah perkebunan di Deli
yang telah ditinggalkan pemiliknya selama masa Jepang telah digarap oleh para
petani di Sumatera Utara dan dianggap miliknya. Sehingga pada tanggal 16 Maret
1953 muncullah aksi kekerasan untuk mengusir para petani liar Indonesia yang
dianggap telah mengerjakan tanah tanpa izin tersebut. Para petani tidak mau
pergi sebab telah dihasut oleh PKI. Para
petanipun melakukan protes kepada polisi dan disambut oleh tembakan polisi
sehingga jatuh korban dikalangan rakyat.
C. Berakhirnya
Kekuasaan Kabinet
Pemerintah pada saat itu dihadapkan pada keadaan ekonomi
yang kritis, terutama karena jatuhnya harga barang-barang ekspor Indonesia
seperti : karet, timah dan kopra, sedang kecenderungan impor terus meningkat. Penerimaan
negara mengalami penurunan dalam jumlah yang besar dan karena banyaknya
komitmen-komitmen lama yang harus dipenuhi, maka defisit tidak dapat
dihindarkan, sekalipun diadakan penghematan-penghematan yang drastis. Rencana
kenaikan gaji pokok pegawai negeri sipil sebesar 20 % tetap dilaksanakan,
tetapi pembagian jatah beras pegawai terpaksa dihentikan, dan hadiah lebaran
tidak pula dapat diberikan. Kesulitan yang lain yang dihadapi ialah masalah
panen yang menurun, sehingga perlu disediakan jumlah devisa yang lebih besar
untuk mengimpor beras.
Dalam usaha meningkatkan ekspor yang perlu untuk
memperbaiki situasi neraca pembayaran, pemerintah mengambil langkah menurunkan
pajak ekspor dan
menghapus sistem sertifikat. Sertifikat ini diadakan untuk meningkatkan penerimaan negara dengan
mengorbankan barang-barang yang pada waktu itu kuat pasarannya. Di
lain pihak dilakukan pembatasan impor dengan jalan menaikkan pajak terhadap
barang-barang non-essensial dan mewajibkan para importer membayar uang muka
sebesar 40 %.
Wilopo
dengan kabinetnya berusaha untuk meleksanakan program itu dengan
sebaik-baiknya. Tetapi kesukaran-kesukaran yang dihadapi tidaklah sedikit.
Diantara kesukaran-kesukaran yang harus diselesaikan ialah timbulnya provinsialisme
dan bahkan separatisme. Di beberapa tempat di Sumatra dan Sulawesi timbul rasa
tidak puas terhadap pusat. Alasan yang pertama adalah kekecewaan karena tidak
seimbangya alokasi keuangan yang diberikan oleh pusat ke daerah. Daerah merasa
bahwa sumbangan yang mereka berikan kepada pusat hasil ekspor lebih besar dari
pada yang dikembalikan ke daerah. Mereka juga menuntut diperluasanya hak
otonomi daerah.
Adanya
Paguyupan Daya Sunda, Gerakan Pemuda Federal Republik Indonesia membahayakan
bagi kehidupan negara kesatuan dan merupakan langkah mundur dari Sumpah Pemuda
1928. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1952 timbul soal dalam angkatan darat
yang terkenal dengan nama peristiwa 17 Oktober. Peristiwa ini dimulai dengan
perdebatan sengit di DPR selama berbulan–bulan mengenai masalah pro dan kontra
kebijaksanaan Menteri pertahanan dan pimpinan angkatan darat.[2]
Aksi dari para kaum politisi itu akhirnya menimbulkan reaksi yang keras dari
pihak angkatan darat. Aksi ini diikuti dengan penangkapan enam orang anggota
parlemen dan pemberangsungan surat kabar dan demonstrasi-demonstrasi parlemen.
Hal ini mengakibatkan kabinet menjadi goyah.
Kabinet
yang sudah goyah semakin goyah karena soal tanah di Sumatera Timur yang
terkenal dengan nama peristiwa Tanjung Morawa. Peristiwa ini terjadi akibat pengusiran
dengan kekerasaan oleh aparat kepolisian terhadap penduduk yang manggarap tanah
perkebunan yang sudah lama ditinggalkan. Penduduk menolak untuk pergi karena
sudah terkena hasutan kader – kader komunis sehingga terjadilah bentrokan
senjata dan memakan korban. Peristiwa ini mendapat sorotan tajam dan emosional
dari masyarakat. Selain itu juga menimbulka mosi tidak percaya dari Sidik
kertapati, Sarekat Tani Indonesia ( sakti). Akhirnya Kabinet Wilopo bubar
pada tanggal 3 Juni 1953. Wilopo berkata
tentang ini bahwa ia menyerahkan mandatnya kembali kepada presiden karena
cabinet tidak bisa berharap untuk memperoleh dukungan yang cukup dari
partai-partai yang membentuknya(Deliar Noer, 2000:242).
D.
Latar Belakang Terbentuknya Kabinet Ali
Sastroamidjojo I
Tanggal 3 Juni 1953 Kabinet Wilopo
demisioner sehingga perlu dibentuk kabinet baru. Tanggal 15 Juni 1953 Mr.
Muhammad Rum dan Sarmidi Mangunsarkoro menjadi formatur dengan tugas membentuk
suatu “kabinet nasional dengan dukungan cukup dari partai-partai”. Pembentukan
oleh kedua orang ini ternyata mengalami beberapa kendala sehingga belum
terdapat kesepakatan sehingga pada tanggal 22 juni 1953 mereka mengembalikan
mandatnya kepada Soekarno. menunjukan Mukarto bekas Menlu Kabinet Wilopo
sebagai pembentuk kabinet. Akan tetapi usaha ini belum membuahkan hasil sebab
tanggal 6 juli 1953 Mukarto mengembalikan mandatnya kepada presiden.
Presidenpun segera menunjuk Mr Burhanudin (bukan Burhanudin Harahab) sebagai
formatur kabinet pada tanggal 8 juli 1953. Usaha ini ternyata belum juga
berhasil sehingga pada tanggal 18 Juli mandatnya dikembalikan pada presiden. Melihat
situasi ini presiden kemudian menunjuk Mr. Wongsonegoro dari PIR sebagi
formatur kabinet pada tanggal 20 juli 1953. Usaha pembentukan kabinet baru
berhasil pada tanggal 30 Juli 1953 yang kemudian dikuatkan dengan keputusan
Presiden No. 132 Tahun 1953 tertanggal 30 juli 1953.
Mr. Wongsonegoro sebagai formatur
kabinet ternyata setelah melalui pemikiran panjang tidak menempatkan diri pada
kedudukan perdana menteri, melainkan sebagai Wakil Perdana Menteri. Kabinet ini
mulai bergerak pada tanggal 1 Agustus 1953 setelah upacara serah terima dari
kabinet Wilopo.[3]
E. Program
Kerja
Dalam menjalankan roda pemerintahan,
Kabinet Ali memiliki program kerja sebagai berikut :
1. Menjaga Keamanan.
Menjaga keamanan merupakan bagian dari
program kerja Kabinet Ali I karena kabinet sebelumnya runtuh. Tanggungjawab
kabinet ini yang kemudian akan dilaporkan terhadap DPR tentunya akan memuat
suatu solusi untuk meredam ketidakstabilan negara saat itu. Pada masa kabinet
sebelumnya telah terjadi berbagai goncangan keamanan. Misalnya saja perpecahan
yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, perselisihan yang terjadi
dikalangan militer, Bahkan pembunuhan yang dilakukan kepolisian terhadap lima
petani di dekat Medan. Saat itu Kabinet Ali mengerahkan pasukan untuk meredam
pemberontakan dari kota-kota yang penting. Adapun keadaan ini membuat
stabilitas yang dijalankan pemerintahan terganggu. Selain itu juga terdapat
berbagai pemberontakan di daerah-daerah, sehingga pada Kabinet Ali 1 ini,
pemerintah berupaya untuk menjaga keamanan dan memulihkan.
2. Menciptakan Kemakmuran &
Kesejahteraan Rakyat.
Adanya Perang Korea antara Februari
1952- Maret 1952 memberikan dampak malasnya perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan
ekspor karet nasional Indonesia menjadi turun 71%. Adanya upaya untuk
memperbaiki neraca perdagangan pada kabinet sebelum Kabinet Ali tidak berhasil.
Apalagi solusi ekonomi yang dilakukan pemerintahan sebelumnya justru berdampak
memperkeruh ketidakstabilan politik dan keamanan. Pada tahun 1952-1953 terjadi
inflasi di Indonesia, sehingga nilai tukar rupiah turun menjadi 44,7 % dari
nilai resmi menjadi 24,6 %. Pada masa Kabinet ini persediaan uang meningkat
75%, Hal ini akhirnya menyebabkan eksportir diluar Pulau Jawa yang terdiri atas
orang-orang Masyumi terkena imbas dan mengalami dampak buruk pada kegiatan
ekonominya (kerugian). Dari adanya situasi ini menyebabkan penyelundupan
semakin meningkat (tidak hanya orang miskin yang terlibat penyelundupan, tapi
juga tentara-tentara). Keadaan ini semakin menambah kemiskinan bangsa
Indonesia. Rakyat saat itu hidup dalam kelaparan dan jauh dari kesejahteraan.
Maka dari itu pada masa Kabinet Ali program kerjanya juga berupaya untuk
menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. Wujud dari upaya tersebut adalah menekankan
nasionalisasi terhadap perekonomian dan memberi dorongan kepada pengusaha
pribumi.
3. Menyelenggarakan Pemilu.
Dengan memasuki babak demokrasi
liberal, maka sistem Pemerintahan Indonesia menjalani sistem yang sebelumnya
diterapkan oleh Belanda. Dimana imperialisme kemudian mengenalkan Indonesia
pada struktur atau susunan pemerintahan yang masuk ke dalam jenis parlementer.
Sebagai kabinet yang memimpin pemerintahan, maka Kabinet Ali menyanggupi inti
dari pemerintahan Indonesia yang bersifat parlementer tersebut. Dalam hal ini,
Kabinet Ali mengupayakan penyelenggaraan Pemilu. Pada tanggal 31 Mei 1954
Kabinet Ali membentuk Panitia Pemilu Pusat yang diketuai oleh Hadikusumo (PNI).
Selanjutnya Pada 16 April 1955 Hadikusumo mengumumkan bahwa pemilu akan
diadakan pada tanggal 29 September 1955. Hal ini lah kemudian membuat berbagai
kampanye yang diadakan menjadi meningkat. Adapun kampanye diadakan sampai
pelosok desa. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 526).
Adapun pemilu merupakan program kerja yang utama dalam kabinet ini.
4. Pembebasan
Irian Barat secepatnya.
Kemerdekaan Indonesia menuntut
kabinet ini untuk tidak menyetujui adanya RIS. Hal ini karena pemerintahan yang
ada saat itu ingin berdaulat dalam menjalankan kehidupan bernegara. Maka dari
itu, pada Agustus 1954 Kabinet Ali memuat usul mengenai penghapusan Uni
Belanda-Indonesia (sesuatu yang kecil) dan beberapa penyesuaian atas hasil KMB
, namun hal ini tidak mencapai kemajuan. Adanya masalah pembebasan Irian yang
tidak memuat hasil membuat Kabinet Ali saat itu mengajukan masalah ini ke PBB,
dan dalam bulan yang sama pengaduan tersebut tidak diterima.
5. Melaksanaan politik bebas-aktif
Adanya bipolarisasi dan politik
konstelasi dunia membuat Indonesia tidak ingin terlibat didalamnya. Apalagi
Indonesia sendiri merupakan negara yang baru merdeka, bahkan dalam menata
negaranya, Indonesia masih belum tentu arah. Adanya ancaman kedatangan Belanda
maupun Jepang bisa kapan saja menghampiri Indonesia. Maka dari itu pada masa
Kabinet Ali ini menetapkan Indonesia untuk menjalankan Politik Bebas-Aktif.
Adapun bebas disini terwujud dengan sifat tidak memihak Indonesia terhadap
pertikaian dunia. Misalnya pada ketegangan antara Amerika dan RRC saat itu.
Sedangkan aktif disini ditujukan pada perjuangan untuk membebaskan Irian dari
Belanda. Indonesia ingin berperan aktif dalam menyuarakan anspirasinya pada
dunia. Hal ini yang kemudian akan diwujudkan dengan pelaksanaan KAA 1955 yang
mengikutsertakan Indonesia dalam menggalang perdamaian Asia-Afro. Program ini
sangat didukung Soekarno.
6. Menyelesaikan Pertikaian politik
Telah diketahui bahwa keadaan politik
di Indonesia sangat tidak stabil pada masa itu. Perpecahan terjadi dikalangan
elite politik. Tahta, jabatan, dan kekuasaan membuat Indonesia semakin terpuruk
dalam kehidupan bernegara. Salah satu perpecahan yang ada terlihat dengan keluarnya
NU dari Masyumi. Hal ini dikarenakan adanya kesenjangan dalam perebutan jabatan
Menteri Agama. Selain itu ketidakharmonisan juga terlihat dalam hubungan PNI
dan PSI. adanya aksi tuding menuding semakin gencar diarahkan satu sama lain. Tidak
hanya pada dunia politik, tetapi juga dikalangan militer dan sebagainya terjadi
kesenjangan yang tidak layak. Selain itu juga pada bulan Januari Hamengkubuwana
IX mengundurkan diri dari Jabatan Menteri Pertahanan. Hal ini adalah wujud dari
adanya pertikaian politik. Pada masa Kabinet Ali, masalah demikian merupakan
bagian dari kegiatan kerja kabinet.
F. Masalah Yang Dihadapi
Dalam menjalankan pemerintahannya,
Kabinet Ali menghadapi beberapa masalah seperti :
1. Pada waktu itu keamanan dibeberapa daerah tidak
stabil
a) DI/TII Kartosuwirjo di Jawa Barat
Di Jawa Barat kegiatan Darul Islam
semakin memuncak, bahkan aktivitas yang dilakukan meningkat. Selain itu Darul
Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang berasal dari Jawa Barat dan
kemudian menyebar ke daerah lain. Adapun pemimpinnya adalah Kartosuwirjo.
b) Daud Beureuh di Aceh
Kaum muslim di Aceh mulai merasakan
politik Jakarta hidup dalam keadaan tidak beriman, dan tidak cakap. Pada tahun
1949 Aceh menjadi Propinsi Republik yang otonom. Selanjutnya pada tahun 1950
Aceh digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. Daud Beureuh sebagai orang
kuat Aceh dan benteng Republik Revolusi menolak untuk menerima pekerjaan di
Jakarta dan lebih memilih untuk bermukim di Aceh. Pada Mei 1953, terdapat bukti
bahwa ia menjalin hubungan dengan Kartosuwirjo dari Darul Islam. Daud merasa
keberadaan Kabinet Ali bermaksud menangkapi orang-orang Aceh yang terkemuka. Sampai
tahun 1959 Daud mundur keatas bukit. Kemudian pada tanggal 19 September 1953
Daud dan PUSA terangan-terangan melakukan pemberontakan terhadap Jakarta. Ini
mendapat dukungan orang-orang Aceh yang menjadi pegawai dan tentara. Saat itu
Daud menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Darul Islam bukan Pemerintah
Pancasila. Pada Kabinet Ali, gerakan ini dianggap sebagai hambatan yang berpengaruh
terhadap ketidakstabilan negara. Apalagi Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintahan
Kabinet Ali dan menjadi penguras utama dana.
c) DI/TII Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan
Pada Januari 1952 Kahar Muzakar
menyatakan Sulawesi Selatan merupakan wilayah dari kepemimpinan Kartosuwirjo.
Namun pada akhirnya Kahar Muzakar ini berhasil ditembak oleh Tentara dari
Divisi Siliwangi.
d) DI/TII di Jawa Tengah
Pemberontakan ini dipimpin oleh Amir
Fatah dan Mahfud Abdur Rahman. Pada tahun 1954 pemberontakan ini berhasil
ditundukan oleh TNI.
e) Persoalan dalam negeri dan luar negeri misalnya persiapan
pemilihan umum yang saat itu direncanakan pada pertengahan Mei 1955 mengalami
kegagalan.
f) Konflik dengan TNI-AD dalam persoalan pengangkatan
seorang kepala staf .
Ketegangan yang terjadi dilingkungan
TNI-AD sejak peristiwa 17 Oktober 1952 (Pada waktu itu Nasution mendapat skors
atau dinonaktifkan selama tiga tahun) kemudian berlanjut. Adapun peristiwa
disebabkan Kepala Staf TNI-AD Bambang Sugeng mengajukan permohonan. Dalam hal
ini keinginan tersebut disetujui oleh kabinet. Tindak lanjut dari hal tersebut
ialah pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo oleh Mentri Pertahanan. Menurut
Panglima TNI-AD hal tersebut sangat tidak menghormati norma-norma yang ada di
dalam lingkungan TNI-AD. Kabinet yang ada saat itu dipersalahkan, bahkan dalam
Upacara Pelantikan dan serah terima, Panglima Tinggi TNI-AD tidak ada yang
hadir.
Selain dari masalah diatas, hambatan
pada kabinet ini juga meliputi masalah ekonomi. Pada program kerjanya Kabinet Ali
menekankan nasionalisasi terhadap perekonomian dan memberi dorongan kepada
pengusaha pribumi. Namun pada kenyataannya tidak demikian, karena banyak
perusahaan-perusahaan baru yang berkedok palsu bagi persetujuan antara
pendukung pemerintah dan orang-orang Cina/Perusahaan Ali Baba. Maka dari itu
Kabinet ini dikenal juga dengan Kabinet Ali Baba. Ali Baba artinya seorang
pengusaha pribumi yang mewakili pengusaha Cina yang memiliki perusahaan. Dalam
praktiknya duta besar Cina akan menekan orang-orang Cina untuk bekerja sama
dengan pribumi, tapi keadaannya tidak demikian. Sedangkan pada saat itu
Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi, pergolakan ditanah air yang menguras
dana semakin membuat kemiskinan bertambah. Apalagi pada 1955 PSI melakukan
pemogokan dan untuknya diredam oleh SOBSI.
G. Hasil yang Dicapai
Kabinet Ali Sastroamidjojo ini tidak
mampu mencapai semua program kerjanya. Walaupun digolongkan sebagai kabinet
yang bertahan lama, tapi tidak semua hasil diperoleh secara maksimal. Akan
tetapi, kabinet ini telah berhasil memberi sumbangan bagi Indonesia dan benua
Asia-Afrika. Adanya peristiwa diplomasi pada 18 April-24 April 1955 itu
disaksikan oleh Gedung Merdeka, Bandung. Saat itu Indonesia dengan tujuan
mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika. Merangkul saudara
Asia-Afrika untuk melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat,
Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya. Pada April-Mei 1954 terdapat
pertemuan antara Perdana Menteri India, Pakistan, Sri Lanka, Birma, dan
Indonesia (diselenggarakan di Colombo). Sebenarnya situasi politik yang tidak
stabil di Indonesia dialihkan Ali pada suatu peristiwa yang bisa dikatakan
mampu mengangkat nama Indonesia. Disana Ali mengusulkan KAA, hal ini didukung
Negara lain. Adapun KAA telah menunjukan kemenangan bagi pemerintahan Ali,
ketika itu terdapat 29 negara yang hadir (Negara-negara besar Afrika, Asia
hanya kedua Korea, Israel, Afrika Selatan, dan Mongolia luar yang tidak
diundang).
Adapun
Pemimpin Asia yang hadir, yaitu :
1.
Zhou Enlai (Cou En-Lai)
2.
Nehru
3.
Sihanouk
4.
Pham Va Dong
5.
Unu
6.
Mohammad Ali
7.
Nasser
8.
Sukarno
Adanya KAA membuat hubungan antara Amerika
dan RRC menjadi. Sementara itu, RRC meluapkan permusuhan dengan Negara-negara
Asia yang nonkomunis, netral. Pada tahun 1953 Republik Indonesia mengirim 2
duta besarnya ke Cina. Dimana pada Desember Ali menandatangani persetujuan
perdagangan antara Cina dan Indonesia yang pertama. Pada tahun 1955 terdapat
persetujuan ganda yang mengharuskan orang-orang Cina Indonesia untuk memilih
kewarganegaran Cina atau Indonesia. (hal ini dianggap orang-orang Cina
menyulitkan karena sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan). Ali Sastroamidjojo
sangat puas karena dipandang sebagai pemimpin Asia-Afrika. Pelaksanaan
konferensi ini merupakan wujud perjuangan RI untuk mempromosikan hak Indonesia
dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat. Adapun hasil dari konferensi
ini mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Jaya. Dari sini kemungkinan bagi
Indonesia untu memainkan peranan penting dunia. Hal ini dijadikan oleh Soekarno
sebagai tanggung jawabnya pribadi. Ketika itu Ali mengatakan dan meluluskan
Dasasila atau Sepuluh Prinsip Bandung sebagai upaya untuk mengubah dominasi dua
negara adikuasa terhadap hubungan internasional pasca Perang Dunia II.
H. Kemuduran Kabinet Ali
Sama dengan kabinet sebelumnya, kabinet
ini pun akhirnya mengundurkan diri. Adapun alasannya karena banyak sekali
masalah yang tidak bisa diatasi, misalnya pergolakan yang terjadi di daerah
(DI/TII), tingkat korupsi yang memuncak membuat perekonomian menurun dan
kepercayaan masyarakat merosot.[4]
Masalah Irian yang tidak selesai, Pemilu yang tidak terlaksana, bahkan skandal
korupsi ini sendiri ada di tubuh PNI. NU tidak puas dengan kerja kabinet
(personel, ekonomi, keamanan,) dan didalamnya terdapat konflik antara NU dan
PNI. Sehingga pada tanggal 20 Juli NU mengutus menteri-menterinya untuk mundur
dari pemerintah. Hal ini diikuti oleh partai lain. Adanya kelemahan Kabinet Ali
mendorong Masyumi untuk mengajukan mosi pada bulan Desember mengenai kemunduran
(ketidak percayaan kepada kebijakan pemerintah). Sebagai imbalan atas
perlindungan PNI, PKI meredam kecaman-kecaman terhadap korupsi dan masalah
ekonomi. Oleh karena dukungan dari DPR tidak mencukupi, empat hari kemudian
akhirnya Ali mengundurkan diri. Kabinet ini mengembalikan mandatnya pada
tanggal 24 Juli 1955.
Layaknya kabinet lain, maka Ali 1 juga
mengalami hal tersebut yaitu adanya keretakan dalam tubuh Kabinet itu sendiri
ataupun partai koalisi pendukung Kabinet. Keretakan ini antara lain dari kubu
PIR dengan kronologis sebagai berikut:
1.Tanggal 17 oktober 1954 terjadi tuntan oleh Mr
Tajuddin Mur agar Ali 1 mengembalikan mandate pada presiden.
2.Tanggal
22 oktober 1954 PIR pecah menjadi 2 golongan yaitu Mr. hazairin dan Mr.
Wongsonegoro
3.Tanggal
17 November 1954 Mr. Wongsonegoro Mengundurkan diri sehingga terjadi Resuffle
Kabinet.
4. Jatuhnya Kabinet Ali 1
Peristiwa yang melatarbelakangi jatuhnya Kabinet ini
adalah masalah dalam angkatan darat. Masalah ini menyangkut pengangkatan
Bambang Utoyo sebagai KSAD yang baru dimana hal ini ditentang oleh Zulkifli
Lubis. Penentangan ini disebabkan karena Ia menanggap bahwa jabatan itu
harusnya diserahkan pada Ia karena saat itu jabatanya adalah wakil KSAD.
Zulkifli akhirnya memboikot pelantikan bambang Utoyo
pada tanggal 27 Juni 1955 sehingga pelantikan gagal dan hal ini telah
menjatuhkan Kabinet Ali 1. Kabinet Ali 1 demisioner tanggal 24 Juli 1955 dan
masih terus bekerja sampai Kabinet Burhanudin Harahap dilantik 12 Agustus 1955.[5]
Kabinet Ali 1
walaupun belum melaksanakan pemilu akan tetapi sudah mampu selangkah lebih maju
yaitu telah membentuk panitia pemilihan umum pada 28 oktober 1953 yang
beranggotakan:
Ketua : S. Hadikusuma (PNI)
Wakil Ketua : Sutan palindih (PRN)
Suryaningpraja (NU)
Sudibyo (PSII)
Hartono (BTI)
Sudarnadi (PIR)
H. Sufyan Siroj (Perti)
Sumarto (Parkindo)
Asrorudin (Partai Buruh)
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam
setiap pembentukan kabinet pasti mengalami kegagalan. Baik dalam pembentukan
Kabinet Wilopo maupun kabinet Ali Sastroamidjojo. Selain itu, kedua kabinet ini
bubar dengan mosi tidak percaya. Berbagai masalah dihadapi oleh kedua kabinet
ini, diantaranya masalah ekonomi, keamanan, dan politik. Walaupun demikian,
kabinet Ali berhasil menorehkan prestasi, diantaranya adalah menyelenggarakan
KAA dan membentuk panitia pemilihan umum.
BAB
III
PENUTUP
- Simpulan
Dalam setiap pembentukan kabinet
pasti mengalami kegagalan. Baik dalam pembentukan Kabinet Wilopo maupun kabinet
Ali Sastroamidjojo. Selain itu, kedua kabinet ini bubar dengan mosi tidak
percaya. Berbagai masalah dihadapi oleh kedua kabinet ini, diantaranya masalah
ekonomi, keamanan, dan politik. Walaupun demikian, kabinet Ali berhasil
menorehkan prestasi, diantaranya adalah menyelenggarakan KAA dan membentuk
panitia pemilihan umum.
- Saran
Keberhasilan yang dicapai oleh para
pendahulu merupakan suatu teladan ataupun contoh yang harus ditiru. Tidak terkecuali
keberhasilan yang dicapai oleh kabinet-kabinet pada zaman dahulu. Kabinet Ali I
berhasil menyelenggarakan KAA di Bandung yang menelurkan Dasa Sila Bandung.
Dasa Sila Bandung merupakan upaya untuk mengubah dominasi dua negara adikuasa
terhadap hubungan internasional pasca Perang Dunia II. Selain itu, politik
bebas aktif juga dicetuskan pada masa ini. Oleh karena itu, seharusnya pemimpin
maupun pejabat pemangku pemerintahan dapat bersikap berani seperti yang
dilakukan oleh para pendahulu.
DAFTAR
PUSTAKA
Mustopo, Muhammad Habib.2006.Sejarah.
Jakarta: Yudhistira
Noer, Deliar. 2000. Partai Islam di Pentas Nasional cet. II.
Bandung: Mizan
Pusponegoro, Marwati D, dan Nugroho
Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional
Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka
Sanit, Arbi. 1981.
Sistem Politik Indonesia. Jakarta: PT
Raja Grafindo Jaya
Siregar, Insan Fahmi. 2012. Partai
Masyumi Dalam Dinamika Demokrasi Di Indonesia. Semarang: Widya Karya
Wilopo.1978.
Zaman Pemerintahan Partai-Partai Islam
dan Kelemahan-Kelemahannya. Jakarta: Yayasan Idayu
[3][3] Insan Fahmi Siregar.
Partai Masyumi Dalam Dinamika Demokrasi Di Indonesia. Semarang: Widya
Karya,2012, hlm. 51

No comments:
Post a Comment