
KABINET BURHANUDDIN HARAHAP DAN
KABINET ALI SASTROAMIDJOJO II
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah
Kontemporer
Dosen Pengampu : Bapak Insan Fahmi Siregar
Kelompok 3 :
1.
Ahmad Albar 3101412058
2.
Prita Wulandari 3101412059
3.
Nur Hikmah 3101412072
4.
N. Marisqa
Aprliani 3101412100
5.
Heri Muladi 3101412147
PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU
SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Era 1950-1959
adalah era di mana presiden Soekarno memerintah menggunakan konstitusi
Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950. Periode ini berlangsung
mulai dari 17 Agustus 1950 sampai 6 Juli 1959.Sebelum
Republik Indonesia Serikat dinyatakan bubar, pada saat itu terjadi demo
besar-besaran menuntut pembuatan suatu Negara Kesatuan. Maka melalui perjanjian
antara tiga negara bagian, Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur,
dan Negara Sumatera Timur dihasilkan perjanjian pembentukan Negara Kesatuan
pada tanggal 17 Agustus 1950[1].
Sejak 17 Agustus
1950, Negara Indonesia diperintah dengan menggunakan Undang-Undang Dasar
Sementara Republik Indonesia 1950 yang menganut sistem kabinet parlementer.Konstituante diserahi tugas membuat undang-undang dasar
yang baru sesuai amanat UUDS 1950. Namun sampai tahun 1959 badan ini belum juga
bisa membuat konstitusi baru. Maka Presiden Soekarno menyampaikan konsepsi
tentang Demokrasi Terpimpin pada DPR hasil pemilu yang berisi ide untuk kembali
pada UUD 1945.Akhirnya, Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959, yang
membubarkan Konstituante. Isi dekrit tersebut ialah :
1)
Pembentukan MPRS
dan DPAS
2)
Kembali berlakunya
UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950
3) Pembubaran Konstituante
Masa Demokrasi liberal banyak partai politik yang ikut
berkiprah dalan pemerintahan di Indonesia. Akan tetapi partai-partai terkuat
saling mengambil alih kekuasaan yang mengakibatkan seringnya terjadinya
pergantian kabinet. Pada masa demokrasi liberal ini terjadi tujuh kali
pergantian kabinet, yaitu :
1)
1950-1951 -
Kabinet Natsir
2)
1951-1952 -
Kabinet Sukiman-Suwirjo
3)
1952-1953 -
Kabinet Wilopo
4)
1953-1955 -
Kabinet Ali Sastroamidjojo I
5)
1955-1956 -
Kabinet Burhanuddin Harahap
6)
1956-1957 -
Kabinet Ali Sastroamidjojo II
7)
1957-1959 -
Kabinet Djuanda[2]
Dalam makalah
ini kami akan membahas lebih lanjut tentang Proses awal
terbentuknya kabinet, program-program dan realisasi program kabinet serta
runtuhnya “ Kabinet Burhanuddin Harahap” dan “Kabinet Ali Sastroamidjojo
II”.
2.
RUMUSAN MASALAH
A.
KABINET
BURHANUDDIN HARAHAP
1)
Bagaimana Latar
Belakang Terbentuknya Kabinet Burhanuddin Harahap?
2)
Apa Saja Program
Kabinet Burhanuddin Harahap?
3)
Bagaimana
realisasi program Kabinet Burhanuddin Harahap?
4)
Apa Penyebab
Runtuhnya Kabinet Burhanuddin Harahap?
B.
KABINET ALI
SASTROAMIDJOJO II
1)
Bagaimana Latar
Belakang Terbentuknya Kabinet Ali Sastroamidjojo II?
2)
Apa Saja ProgramKabinet
Ali Sastroamidjojo II?
3)
Bagaimana
realisasi program Kabinet Ali Sastroamidjojo II?
4)
Apa Penyebab
RuntuhnyaKabinet Ali Sastroamidjojo II?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KABINET BURHANUDDIN HARAHAP (12 Agustus 1955 –
3 Maret 1956)
Setelah
jatuhnya Kabinet Ali, sebagai gantinya Wakil Presiden Dr. Muh. Hatta menunjuk
Mr. Burhanuddin Harahap (Masyumi) sebagai formatir kabinet. Kejadian ini baru
pertama kali di Indonesia, formatir kabinet ditunjuk oleh Wakil Presiden
sebagai akibat dari kepergian Soekarno naik Haji ke Mekkah. Kabinet ini
terbentuk pada tanggal 11 Agustus 1955, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor
141 Tahun 1955 tertanggal 11 Agustus 1955 dan mulai bekerja setelah dilantik
tanggal 12 Agustus 1955 dengan dipimpin oleh Burhanuddin Harahap.
Kabinet
Burhanuddin Harahap adalah merupakan kabinet koalisi yang terdiri atas beberapa
partai, bahkan hamper merupakan Kabinet Nasional, sebab jumlah partai yang
tergabung dalam koalisi kabinet ini berjumlah 13 partai. Tetapi karena masih
ada beberapa partai yang sebagai oposisi tidak duduk dalam kabinet seperti PNI
dan beberapa partai lainnya, maka kabinet ini termasuk kabinet koalisi.[3]
1.
Proses
Awal Terbentuknya Kabinet Burhanudin
Kabinet Ali Sastroamidjojo I jatuh
akibat dari pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo yang diangkat sebagai KSAD
menggantikan Jenderal Bambang Sugeng dengan pangkat Jenderal Mayor, yang
diboikot Kolonel Zulkifli Lubis wakil KSAD yang merasa lebih berhak menduduki KSAD
tersebut dari Bambang Utoyo yang juga invalid. Kejadian ini tanggal 27 Juni
1955 yang berakibat pelantikan Bambang utoyo gagal, Kolonel Zulkifli Lubis
diskorsing sementara, tetapi akhirnya dicabut kembali.
Walaupun Kabinet Ali dapat dikatakan
merupakan Kabinet yang paling lama bertahan, akhirnya pada tanggal 24 Juli
1955Ali Sastroamidjoyo mengembalikan mandatnya. Sebab yang utama adalah
persoalan dalam TNI-AD sebagai lanjutan dari peristiwa 17 Oktober dan persoalan
dalam TNI-AD menolak pimpinan baru yang di angkat oleh menteri pertahanan tanpa
menghiraukan norma-norma yang berlaku didalam lingkungan TNI-AD. Disamping itu
juga karena keadaan ekonomi yang semakin buruk dan korupsi yang mengakibatkan
kepercayaan rakyat merosot[4].
Kejadian membuat wibawa pemerintah
dalam hal ini Kabinet Ali jatuh terutama terhadap Angkatan Bersenjata khususnya
Angkatan Darat. Akhirnya kabinet ini menyerahkan mandatnya kembali kepada
presiden pada tanggal 24 Juli 1955. Sebagai gantinya Wakil Presiden Dr. Muh.
Hatta menunjuk Mr. Burhanuddin Harahap sebagai formatir kabinet. Kejadian ini
baru pertama kali di Indonesia, formatir kabinet ditunjuk oleh Wakil Presiden
sebagai akibat dari kepergian Soekarno naik Haji ke Mekkah.
Hatta kemudian menunjuk Mr. Burhanudin Harahap (Masyumi) untuk
membentuk kabinet. Burhanudin Harahap mendekati PNI dan menawarkan kedudukan
Wakil Perdana Menteri Menteri Luar Negeri dan Menteri Pekerjaan Umum. PNI
menerima tawaran ini, tetapi menuntut hak untuk menunjuk orang yang akan duduk
didalamnya. Sedang formatur menghendaki agar orang-orangnya dipilih oleh
formatur sendiri. Jalan buntu tak dapat dihindakan. Akhirnya Burhanuddin
Harahap berhasil membentuk kabinet baru tanpa PNI. Kabinet ini terdiri dari 23
Menteri dan didominasi oleh Masyumi.[5]
(Djoened,1984 :221)
2.
Program
Kabinet Burhanuddin Harahap
a)
Mengembalikan
kewibawaan (Gezag) moril pemerintah ,kepercayaan Angkatan Darat dan
Masyarakat kepada Pemerintah.
b)
Melaksanakan Pemilihan Umum menurut
rencana yang sudah diitetapkan dan menyegerakan terbentuknya parlemen baru.
c)
Menyelesaikan perundang-undangan
desentralisasi sedapat-dapatnya dalam tahun 1955 ini juga.
d)
Menghilangkan faktor-faktor yang
menimbulkan inflasi.
e)
Memberantas korupsi.
f)
Meneruskan perjuangan mengembalikan
Irian Barat ke dalam Wilayah Republik Indonesia.
g)
Memperkembangkan politik kerja sama
Afrika – Asia berdasarkan politik bebas dan aktif menuju perdamaian.[6]
3.
Realisasi Program Kabinet yang
berhasil dengan baik adalah
a) Penyelenggaraan pemilu pertama yang
demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota DPR) dan 15 Desember 1955
(memilih konstituante). Terdapat 70 partai politik yang mendaftar tetapi hanya
27 partai yang lolos seleksi. Hasil seleksi ini menghasilkan empatpartai
politik besar yang memperoleh suara terbanyak, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.
b) Perjuangan diplomasi menyelesaikan
masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni Indonesia-Belanda.
c) Pemberantasan korupsi dengan
menangkap para pejabat tinggi yang dilakukan oleh polisi militer.
d) Terbinya hubungan antara Angkatan
Darat dengan Kabinet Burhanuddin.
e) Menyelesaikan masalah perwira 27
Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel A.H. Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan
Darat pada tanggal 28 Oktober 1955.
Program tersebut diatas cukup praktis
dan tidak terlalu banyak. Diantaranya program kabinet ini ada yang dapat
dilaksanakan, tapi juga ada yang belum dapat terlaksana. Memang kita menyadari
sekali bahwa kabinet ini tidak berumur panjang, hanya sekitar 6,5 bulan saja.
Program yang belum terlaksana adalah Pengembalian Irian Barat ke dalam Wilayah
Negara Indonesia. Usaha ini baru berhasil pada masa pemerintahan Kabinet
Kerja III yaitu pada tanggal 1 Mei 1963.[7]
4.
Runtuhnya
Kabinet Burhanuddin Harahap
Kabinet Burhanuddin Harahap
memerintah hanya selama 5 – 6 bulan saja, tetapi banyak mendapatkan
keberhasilan dan kesuksesan sebagaimana kami tuturkan di atas. Sebenarnya
kabinet ini di dalam menjalankan pemerintahan kompak dan utuh, tidak ada
pertentangan dan keretakan dalam tubuh kabinet. Begitu juga tidak ada
pertentangan antar partai yang ikut dalam koalisi kabinet ini, tidak seperti
kabinet-kabinet sebelumnya. Sebaliknya kelompok oposisi seperti PNI dan sebagainya tidak terlalu berusaha
menjatuhkan kabinet. Sebenarnya kabinet ini masih berjalan baik. Hanya saja
Presiden kurang merestui kabinet ini, karena yang menunjuk Burhanuddin Harahap
sebagai formatir kabinet adalah drs. Muh. Hatta.
Setelah hasil pemungutan suara
diumumkan dan pembagian kursi di DPR diumumkan, maka tanggal 2 Maret 1956 pukul
10.00 siang Kabinet Burhanuddin Harahap mengundurkan diri, menyerahkan
mandatnya kepada Presiden, untuk dibentuk kabinet baru berdasarkan hasil
pemilihan umum. Sebenarnya kabinet ini seandainya terus bekerja tidak apa-apa
selagi tidak ada mosi tidak percaya dari parlemen. Tetapi secara Ethika politik
demokrasi parlementer, kabinet ini dengan sukarela menyerahkan mandatnya,
setelah berhasil melaksanakan Pemilu baik untuk anggota DPR maupun
konstituante.
Jadi kabinet ini jatuh tidak
dikarenakan keretakan di dalam tubuh kabinet, juga bukan karena dijatuhkan oleh
kelompok oposisi yang mencetuskan mosi tidak percaya dari parlemen, tetapi
merasa tugasnya sudah selesai. Kabinet terus bekerja sebagai Kabinet
Domissioner selama 20 hari yaitu sampai terbentuknya kabinet baru yakni Kabinet
Ali – Rum – Idham yang dilantik tanggal 24 Maret 1956 dan serah terima dengan
Kabinet Burhanuddin Harahap tanggal 26 Maret 1956. Setelah itu Eks Perdana
Menteri ataupun Menteri lagi sampai kini dalam kabinet mana pun juga dan dimana
pun juga.[8]
B.
KABINET ALI SASTROAMIJOYO II (20 Maret 1956 – 4
Maret 1957)
Ali
Sastroamidjoyo diserahi mandat untuk membentuk kabinet baru pada tanggal 20
Maret 1956. Kabinet yang terbentuk merupakan hasil koalisi 3 partai yaitu PNI,
Masyumi, dan NU dengan dipimpin oleh Ali Sastroamidjoyo.
1.
Awal terbentuknya Kebinet Ali II
Presiden Soekarno pada tanggal 8
Maret 1956 menunjuk Ali Sastroamidjojo untukk membentuk kabinet baru. Kabinet
ini merupakan kabinet koalisi di mana ke-3 partai besar yaitu PNI, Masyumi, dan
NU memegang peranan di samping beberapa partai.[9]
Kabinet baru itu secara resmi di
umumkan pada tanggal 20 Maret 1956. PSI dan PKI melakukan oposisi karena kedua
partai itu tidak dilibatkan dalam kabinet. Program ini disebut inii disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun memuat
program-program jangka panjang.
Kabinet yang baru ini mendapat
kepercayaan yang penuh dari Presiden Soekarno, yang kentara dari pidatonya di
muka parlemen pada tanggal 26 Maret 1956 yang menyebut kabinet ini sebagai
titik-tolak daripada periode planning dan ivestment. Namun dalam hal ini,
kabinet Ali II harus menghadapi kesulitan antara lain yang terpenting adalah
berkobarnya semangat anti-Cina di masyarakat. Pembatalan KMB oleh Presiden
Soekarno pada tanggal 3 Mei 1956 mengakibatkan banyak pengusaha Belanda yang
menjual perusahaannya kepada pengusaha Cina. Sedangkan perusahaan-perusahaan
pribumi belum mampu mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda tersebut[10].
2. Program-program
Kabinet Ali II
Program
kabinet ini disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka
panjang, sebagai berikut[11]
:
a) Perjuangan pengembalian Irian Barat
b) Pembentukan daerah-daerah otonomi dan
mempercepat terbentuknya anggota-anggota DPRD.
c) Mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan
pegawai.
d) Menyehatkan perimbangan keuangan negara.
e) Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial menjadi
ekonomi nasional berdasarkan kepentingan rakyat.
Selain itu program
pokoknya adalah :
a) Pembatalan KMB,
b) Pemulihan keamanan dan ketertiban, pembangunan
lima tahun, menjalankan politik luar negeri bebas aktif,
c) Melaksanakan keputusan KAA.
3.
Realisasi Program Kabinet Ali II
Mendapat
dukungan penuh dari presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode
planning and investment, hasilnya adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB pada
tanggal 3 Mei 1956. Kendala atau Masalah yang dihadapi :
a) Berkobarnya semangat anti Cina di masyarakat.
b) Muncul pergolakan/kekacauan di daerah yang
semakin menguat dan mengarah pada gerakan sparatisme dengan pembentukan dewan
militer seperti Dewan Banteng di Sumatera Tengah, Dewan Gajah di Sumatera
Utara, Dewan Garuda di Sumatra Selatan, Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan
Selatan, dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara.
c) Memuncaknya krisis di berbagai daerah karena
pemerintah pusat dianggap mengabaikan pembangunan di daerahnya.
d) Pembatalan KMB oleh presiden menimbulkan
masalah baru khususnya mengenai nasib modal pengusaha Belanda di Indonesia.
Banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya pada orang Cina karena
memang merekalah yang kuat ekonominya. Muncullah peraturan yang dapat
melindungi pengusaha nasional.
e) Timbulnya perpecahan antara Masyumi dan PNI.
Masyumi menghendaki agar Ali Sastroamijoyo menyerahkan mandatnya sesuai
tuntutan daerah, sedangkan PNI berpendapat bahwa mengembalikan mandat berarti
meninggalkan asas demokrasi dan parlementer.[12]
4.
Runtuhya Kabinet Ali II
Banyaknya kendala-kendala dalam
tubuh Kabinet Ali Sastroamijoyo II dan adanya pertentangan antara PNI dan
Mayumi yang membuat Masyumi menarik para menteri-mentrinya untuk keluar dari
Kabinet, membuat Ali Sastroamijoyo menjadi lemah kedudukannya. Ditambah dengan
banyaknya kedaaan yang sangat kacau dalam negara, membuat Ali Sastroamijoyo
menyerahkan mandatnya kepada presiden.
Karena situasi negara yang kacau
akibat terjadinya gerakan separatisme, konflik dalam konstituante, maka
presiden menyatakan negara dalam keadaan bahaya (14 Maret 1957). Untuk
mengatasi keadaan ini Presiden mengumumkan berlakunya undang-undang SOB (negara
dalam keadaan bahaya) dan angkatan perang mendapat wewenang khusus untuk
mengamankan negara di seluruh Indonesia. Pertentangan politik makin meluas,
sehinggapembentukan kabinet baru semakin bertambah sulit. Sementara itu
partai-partai masih tetap menempuh cara tawar-menawar kedudukan dalam bentuk
kabinet baru.
Akhirnya atas dasar keadaan draurat
itu, presiden menunjuk dirinya sendiri menjadi pembentuk kabinet. Presiden
membentuk kabinet baru yang disebut Kabinet Karya dan menunjuk Ir. Djuanda
sebagai Perdana Menteri.[13]
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Presiden
Dr. Muh. Hatta menunjuk Mr. Burhanuddin Harahap sebagai formatir kabinet. Kejadian
ini baru pertama kali di Indonesia, formatir kabinet ditunjuk oleh Wakil
Presiden sebagai akibat dari kepergian Soekarno naik Haji ke Mekkah.Diantaranya
program kabinet ini ada yang dapat dilaksanakan, tapi juga ada yang belum dapat
terlaksana. Memang kita menyadari sekali bahwa kabinet ini tidak berumur
panjang, hanya sekitar 6,5 bulan saja. Program yang belum terlaksana adalah
Pengembalian Irian Barat ke dalam Wilayah Negara Indonesia. Usaha ini baru
berhasil pada masa pemerintahan Kabinet Kerja III yaitu pada tanggal 1 Mei
1963.
Setelah
berakhirnya Kabinet Burhanuddin Harap Presiden Soekarno pada tanggal 8 Maret 1956 menunjuk Ali
Sastroamidjojo untukk membentuk kabinet baru. Kabinet ini merupakan kabinet
koalisi di mana ke-3 partai besar yaitu PNI, Masyumi, dan NU memegang peranan
di samping beberapa partai. Hasil dari program kerja Kabinet Ali II adalah mendapat dukungan penuh dari presiden dan
dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and investment, hasilnya
adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB pada tanggal 3 Mei 1956.Banyaknya kendala-kendala dalam
tubuh Kabinet Ali Sastroamijoyo II dan adanya pertentangan antara PNI dan
Mayumi yang membuat Masyumi menarik para menteri-mentrinya untuk keluar dari
Kabinet, membuat Ali Sastroamijoyo menjadi lemah kedudukannya. Ditambah dengan
banyaknya kedaaan yang sangat kacau dalam negara, membuat Ali Sastroamijoyo
menyerahkan mandatnya kepada presiden.
DAFTAR PUSTAKA
Jf.tualaka.2009.Politik Sejarah Pemerintahan dan Ketatanegaraan.
Jogja : Great Publisher.
Amurwani Dwi Lestariningsih.2011.Gerwani
kisah tapol wanita di kamp plantungan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Kurnia,
Anwar dan Moh.Suryana, Sejarah SMP kelas
IX, Yudisthira
Soebagijo Ilham Notodidjojo.1980. Jusuf Wibisono.karang di tengah gelombang. Gunung Agung.
Frans Seda, Daniel Dhakidae, Kees Bertens, Frans M. Parera.Simfoni.1992.Tanpa Henti: Ekonomi Politik Masyarakat Baru
Indonesia.Yayasan Atma Jaya dan Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Marwati Djoened Poeponegoro
dan Nugroho Notosusanto.1984.Sejarah
Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.
Sardriman,
2006.Sejarah 3 SMA kelas XII Program Ilmu
Sosial. Bandung: Quadra.
A.B.
Lapian dkk.1996.TERMINOLOGI SEJARAH
1945-1950 & 1950-1959. Jakarta: CV. Defit Prima Karya Jakarta.
[1] Jf.tualaka, Politik Sejarah
Pemerintahan dan Ketatanegaraan (Jogja : Great Publisher,2009).Hal 55
[2]Dekrit Presiden RI 5
Juli 1959 dan politik hukum Indonesia: perspektif hukum Islam. A. Salman Maggalatung. (Jakarta: Focus Grahamedia , , 2012).hal 195
[3]A.B.
Lapian dkk.Terminologi
Sejarah
1945-1950 & 1950-1959.(Jakarta: CV. Defit Prima Karya Jakarta, 1996)
hal.185
[4]Marwati Djoened Poeponegoro
dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV. (Jakarta: Balai
Pustaka, 1984).hal 219
[6] Sardriman. Sejarah 3 SMA kelas XII
Program Ilmu Sosial.( Bandung: Quadra, 2006).Hal 219
[7]Frans Seda, Daniel Dhakidae, Kees Bertens, Frans M. Parera.Simfoni
tanpa henti: ekonomi politik masyarakat baru Indonesia.( Yayasan Atma Jaya dan
Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1992).hal. 115
[8]Soebagijo Ilham
Notodidjojo. Jusuf Wibisono: karang di tengah gelombang.( Gunung
Agung, 1980).hal. 130
[10] Ibid, hal. 133
[12] Ibid, hal 98-100
[13]Amurwani Dwi
Lestariningsih,
Gerwani kisah tapol wanita di kamp plantungan. (Jakarta: Kompas Media
Nusantara. 2011).Hal. 55

No comments:
Post a Comment