Perkembangan
Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia
A.
Kerajaan Kutai
Kerajaan tertua bercorak Hindu di Indonesia adalah kerajaan Kutai. Kerajaan
ini terletak di Kalimantan, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diambil
dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut.
Tujuh buah yupa merupakan sumber utama bagi para ahli untuk menginterpretasikan
sejarah Kerajaan Kutai. Dari salah satu yupa tersebut, diketahui bahwa raja
yang memerintah Kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman.
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kudungga, Nama Mulawarman dan
Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sansekerta. Putra Kudungga,
Aswawarman, kemungkinan adalah raja pertama kerajaan Kutai yang bercorak Hindu.
Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar
Wangsakerta, yang artinya pembentuk Keluarga.
Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa, diketahui bahwa pada masa
pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah
kekuasaannya meliputi hamper seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.
B.
Kerajaan Tarumanegara
Sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara diperoleh dari prasasti-prasasti yang
berhasil ditemukan. Namun, tulisan pada beberapa prasati, seperti pada Prasati
Muara Cianten dan Prasasti Pasir Awi sampai saat ini belum dapat diartikan.
Banyak informasi berhasil diperoleh dari tulisan pada kelima prasasti lainnya,
terutama Prasasti Tugu yang merupakan prasasti terpanjang, Tujuh prasasti dari
kerajaan Tarumanegara adalah: Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti
Jambu, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Tugu, Prasasti Pasir Awi, dan Prasasti
Munjul.
Sumber sejarah penting lain yang dapat menjadi bukti keberadaan kerajaan
Tarumanegara adalah catatan sejarah pengelana Cina. Catatan sejarah pengelana
Cina yang menyebutkan keberadaan Kerajaan Tarumanegara adalah catatan
perjalanan pendeta Cina Fa-Hsein, pada tahun414 dan catatan kerajaan Dinasti
Sui dan Dinasti Tang. Dari salah satu prasasti, yakniPrasati Ciaruteun yang
ditemukan di Desa Ciampea, Bogor, diketahui bahwa Purnawarman dikenal sebagai
raja yang gagah berani. Data sejarah yang lebih jelas, terdapat pada Prasasti
Tugu. Pada prasasti yang panjang ini, dikatakan bahwa pada tahun
pemerintahannya yang ke-22, Purnawarman telah menggali Sungai Gomati. Dari
prasati tersebut, dapat disimpulkan bahwa Purnawarman memerintah dalam waktu
yang cukup lama.
C.
Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya yang muncul pada abad ke-6, pada mulanya berpusat di
sekitar Sungai Batanghari, pantai timur Sumatra. Pada perkembangannya, wilayah
kerajaan Sriwijaya meluas hingga meliputi wilayah Kerajaan Melayu, Semenanjung
Malaya, dan Sunda (kini wilayah Jawa Barat). Catatan mengenai
kerajaan-kerajaan di Sumatra didapat dari seorang pendeta Buddha bernama
I-Tsing yang pernah tinggal di Sriwijaya antara tahun 685-689 M. Pada tahun
692, ketika I-Tsing, bias disimpilkan bahwa Sriwijaya telah menaklukan dan
menguasai kerajaan-kerajaan disekitarnya.
Dari Prasasti Kedukan Bukit (683), dapat diketahui bahwa Raja Dapunta Hyang
berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukan daerah
Minangatamwan, Jambi. Daerah Jambi sebelumnya adalah wilayah kerajaan Melayu.
Daerah itu merupakan wilayah taklukan pertama Kerajaan Sriwijaya. Dengan
dikuasainya wilayah Jambi, Kerajaan Sriwijaya memulai peranannya sebagai
kerajaan maritim dan perdagangan yang kuat dan berpengaruh di Selat Malaka.
Ekspansi wilayah Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 menuju ke arah selatan dan
meliputi daerah perdagangan Jawa di Selat Sunda.
Kerajaan Sriwijaya mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Raja
Balaputradewa. Pada masa itu, kegiatan perdagangan luar negeri ditunjang juga
dengan penaklukan wilayah-wilayah sekitar. Sepanjang abad ke-8, wilayah
Kerajaan Sriwijaya meluas kea rah utara dengan menguasai Semenanjung Malaya dan
daerah perdagangan di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Sejarah tentang Raja
Balaputradewa dimuat dalam dua prasasti, yaitu Prasasti Nalanda dan Prasasti
Ligor.
Raja kerajaan Sriwijaya
yang terakhir adalah Sri Sanggrama Wijayatunggawarman. Pada masa pemerintahan
Sri Sanggrama Wijayatunggawarman, hubungan Kerajaan Sriwijaya dan kerajaan
Chola dari India yang semula sangat erat mulai renggang. Hal itu disebabkan
oleh seranggan yang dilancarkan Kerajaan Chola di bawah pimpinan
Rajendracoladewa atas wilayah Sriwijaya di semenanjung Malaya.
Serangan-serangan tersebut menyebabkan kemunduran kerajaan Sriwijaya.
D.
Kerajaan Mataram Kuno
Di wilayah Jawa Tengah, pada sekitar abad ke-8, perkembangan sebuah
Kerajaan Mataram Kuno. Pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno disebut Bhumi
Mataram yang terletak di pedalaman Jawa Tengah. Daerah tersebut memiliki banyak
pegunungan dan sungai seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, dan Bengawan
Solo. Pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno juga sempat berpindah ke Jawa Timur. Perpindahan Kerajaan
Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur disebabkan oleh dua hal.
1. Selama abad ke-7
sampai ke-9, terjadi serangan-serangan dari Sriwijawa ke Kerajaan Mataram Kuno.
Besarnya pengaruh Kerajaan Sriwijaya itu menyebabkan Kerajaan Mataram Kuno
semakin terdesak ke wilayah timur.
2. Terjadinya Letusan Gunung Merapi yang dianggap
sebagai tanda pralaya atau kehancuran dunia. Kemudian, letak kerajaan di Jawa
Tengah dianggap tidak layak lagi untuk ditempati.
Dinasti Sanjaya
Prasasti Canggal yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir memberikan
gambaran yang cukup jelas tentang kehidupan politik Kerajaan Mataram Kuno.
Prasasti ini bertuliskan tahun654 Saka atau 732, ditulis dengan huruf Palawa
yang menggunakan bahasa Sansekerta. Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh Raja
Sanna. Raja Sanna kemudian digantikan oleh keponakannya Sanjaya. Masa
pemerintahan Sanna dan Sanjaya dapat kita ketahui dari deskripsi kitab Carita
Parahyangan. Dalam prasasti lain, yaitu Prasasti Balitung, Raja Sanjaya
dianggap sebagai pendiri Dinasti Sanjaya, penguasa Mataram Kuno.
Sanjaya dinobatkan
sebagai raja pada tahun 717 dengan gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
Kedududkan Sanjaya sangat kuat dan berhasil menyejahterakan rakyat Kerajaan
Mataram Kuno. Sanjaya menyebarkan pengaruh Hindu di pulau Jawa. Hal ini
ditempuh dengan cara mengundang pendeta-pendeta Hindu untuk mengajar di Kerajaan
Mataram Kuno. Raja Sanjaya juga mulai pembangunan kuil-kuil pemujaan berbentuk
candi. Stelah Raja Sanjaya meninggal, Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh
putranya yang bernama Rakai Panangkaran.
Raja Rakai Panangkaran banyak mendirikan candi, seperti Candi Sewu, Candi
Plaosan dan Candi Kalasan. Dari bukti-bukti tersebut, diketahui bahwa Raja
Rakai Panangkaran beragama Buddha. Raja Mataram Kuno setelah Rakai Panangkaran
berturut-turut adalah Rakai Warak dan Rakai Garung. Raja Mataram Kuno selanjutnya
adalah Rakai Pikatan. Persaingan dengan Dinasti Syilendra yang waktu itu
diperintahkan oleh Raja Samaratungga dianggap menghalangi cita-citanya untuk
menjadi Penguasa tunggal di Pulau Jawa.
Pada abad ke-9 terjadi penggabungan kedua dinasti tersebut melalui
pernikahan politik antara Rakai Pikatan dari keluarga Sanjaya dengan
Pramodawardhani (Putri Raja Samaratungga), dari keluarga Syailendra. Namun,
perkawinan antara Rakai Pikatan dengan Pramodawardhani tidak berjalan lancer.
Setelah Samaratungga wafat, Kekuasaan beralih kepada Balaputradewa yang
merupakan adik tiri dari Pramodawardhani. Menurut beberapa Prasasti, seperti
Prasasti Ratu Boko (856), menunjukkan telah terjadinya perang saudara antara
Rakai Pikatan dengan Balaputradewa.
Balaputradewa mengalami kekalahan dan melarikan diri ke
Swarnadwipa(Sumatra). Ia kemudian berkuasa sebagai raja, mengantikan kakeknya
di kerajaan Sriwijaya. Hal ini dapat dapat diketahu dari Prasasti Nalanda
(India), yang menyatakan bahwa Raja Deewapaladewa dari Bengala menghadiahkan
sebidang tanah kepada Raja Balaputradewa dari Swarnadwipa untuk membagun sebuah
biara.
Setelah Balaputradewa dikalahkan, wilayah Kerajaan Mataram Kuno menjadi
semakin luas kearah selatan (sekarang yogyakarta). Daerah ini dahulunya adalah
wilayah Dinasti Syailendra. Rakai Pikatan mengusahakan agar rakyat dinasti
Sanjaya dan Syailndra dapat hidup rukun. Pada masa ini, dibangun kuil pemujaan
berbentuk candi, Seperti Candi Prambanan. Menurut Prasasti Siwagraha, Rakai
Pikatan dan raja-raja Mataram Kuno berikutnya masih tetap menganut agama Hindu
Siwa.
Berdasarkan Prasasti Balitung, setelah Rakai Pikatan wafat, kerajaan
Mataram Kuno diperintah oleh Rakai Kayuwangi dibantu oleh sebuah dewan
penasehat yang juga jd pelaksana pemerintahan. Dewan yang terdiri atas lima
patih yang dipimpin oleh seorang mahapatih ini sangat penting perananya. Raja
Mataram selanjutnya adalah Rakai Watuhumalang. Raja Mataram Kuno yang diketahui
kemudian adalah Dyah Balitung yang bergelar Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah
Balitung Dharmodaya Maha Dambhu adalah Raja Mataram Kuno yang sngat terkenal.
Raja Balitung berhasil menyatukan kembali Kerajaan Mataram Kuno dari ancaman
perpecahan.
Dimasa pemerintahannya, Raja Balitung menyempurnakan struktur pemerintahan
dengan menambah susunan hierarki. Bawahan Raja Mataram terdiri atas tiga
pejabat penting, yaitu Rakryan I Hino sebagai tangan kanan raja yang didampingi
oleh dua pejabat lainnya. Rakryan I Halu,dan Rakryan I Sirikan Struktur tiga
pejabat itu menjadi warisan yang terus digunakan oleh kerajaan-kerajaan Hindu
berikutnya, seperti Kerajaan Singasari dan Majapahit.
Selain struktur pemerintahan baru, Raja Balitung juga menulis Prasasti
Balitung. Prasasti yang juga dikenal sebagai Prasasti Mantyasih ini adalah
prasasti pertama di Kerajaan Mataram Kuno yang memuat silsilah pemerintahan
Dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno. Setelah Raja Balitung wafat pada
tahun 910, Kerajaan Mataram Kuno masih mengalami pemerintahan tiga raja sebelum
akhirnya pusat kerajaan pindah ke Jawa Timur. Sri Maharaja Daksa, yang pada
masa pemerintahan Raja Balitung menjabat Rakryan i Hino, tidak lama memerintah
Kerajaan Mataram Kuno. Penggantinya, Sri Maharaja Tulodhong juga mengalami
nasib serupa.
Dibawah pimpinan Sri Maharaja Rakai Wawa. Kerajaan Mataram Kuno dilanda
kekacauan dari dalam, yang membuat kacau ibu kota. Sementara itu, kekuatan
ekonomi dan politik Kerajaan Sriwijaya makin mendesak kedudukan Mataram di
Jawa. Pada masa itu, wilayah kerajaan mataram kuno juga dilanda oleh bencana
letusan Gunung Merapi yang sangat membahayakan ibu kota kerajaan. Seluruh
masalah ini tidak dapat diselesaikan oleh Rakai Wawa. Ia wafat secara mendadak.
Kedudukannya kemudian digantikan oleh Mpu Sindok yang waktu itu menjadi Rakryan
i Hino.
Dinasti Syailendra
Dinasti Syailendra berkuasa didaerah Begelan dan Yogyakarta pada
pertengahan abad ke-8. Beberapa sumber sejarah tentang Dinasti Syailendra yang
berhasil ditemukan, antara lain prasasti Kalasan, Kelurak, Ratu Boko, dan
Nalanda. Prasasti Kalasan (778), menyebutkan nama Rakai Panangkaran yang
diperintahkan oleh Raja Wisnu, penguasa Dinasti Syailendra, untuk mendirikan
sebuah bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah vihara bagi para pendeta. Rakai
Panangkaran kemudian memberikan Desa Kalasan kepada Sanggha Buddha. Prasasti
Ratu Boko (856), menyebutkan Raja Balaputradewa kalah dalam perang saudara
melawan kakaknya, yaitu Pramodhawardani. Kemudian, ia melarikan diri ke
Kerajaan Sriwijaya. Prasasti Nalanda (860), menyebutkan asal usul Raja
Balaputradewa. Disebutkan bahwa Raja Balaputradewa adalah putra dari Raja
Samaratungga dan cucu dari Raja Indra.
Pada abad ke-8, Dinasti Sanjaya yang memerintah KerajaanMataram Kuno mulai
terdesak oleh dinasti Syailendra. Hal itu kita ketahui dari prasasti Kalasan
yang menyebutkan bahwa Rakai Panangkaran dari keluarga Sanjaya diperintah oleh
Raja Wisnu untuk mendirikan Candi Kalasan, sebuah candi Buddha. Dinasti
Syailendra muncul dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno tidak lebih dari satu
abad. Pengaruh Dinasti Syailendra terhadap kerajaan Sriwijaya juga semakin kuat
karena Raja Indra menjalankan strategi perkawinan politik. Raja Indra
mengawinkan putranya yang bernama Samaratungga dengan salah seorang putri Raja
Sriwijaya.
Pengganti Raja Indra adalah Raja Samaratungga. Pada masa kekuasaannya,
dibangun Candi Borobudur. Namun, sebelum Candi tersebut selesai dibangun, Raja
Samaratungga meninggal dunia, dalam sebuah perang saudara. Balaputradewa
kemudian melarikan diri ke Kerajaan Sriwijaya dan menjadi raja disana.
E.
Kerajaan Kediri
Raja Sri Jayawarsha merupakan raja pertama Kerajaan Kediri. Raja yang
bergelar Sri Jayawarsha Digjaya Shastra Prabhu ini mengaku dirinya sebagai
titisan Dewa Wisnu seperti Airlangga. Raja kerajaan kediri selanjutnya adalah
Bameswara. Bameswara bergelar Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Kameshwara
Sakalabhuwanatushtikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayatunggadewa.
Dalam kitab Kakawin Smaradahana, karangan Mpu Dharmaja, diceritakan bahwa Raja
Bameswara adalah keturunan pendiri Dinasti Isyana yang menikah dengan Chandra Kirana,
putrid Jayabhaya.
Jayabhaya bergelar Sri
Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudanawataranindita Suhrtsingha Parkrama
Digjayotunggadewa Jayabhayalanchana. Pada masa pemerintahan Jayabhaya, terjadi
perang saudara ini diabadikan dalam bentuk Kakawin Bharatayuddha yang ditulis
oleh Mpu Sedah dan Mpu Punuluh. Jayabhaya berhasil memenangkan perang saudara
tersebut sehingga wilayah Kediri berhasil disatukan lagi dengan wilayah
Jenggala. Peristiwa kemenangan ini diabadikan dalam Prasasti Ngantang.
Pengganti Jayabhaya yaitu Sarweswara dari Aryyeswara, tidak banyak diketahui.
Raja berikutnya adalah Gandra. Pada masa pemerintahannya, Gandra menyempurnakan
struktur pemerintahan yang diwariskan Kerajaan Medang Kamulan.
Para pejabat diberi gelar tertentu dengan nama-nama hewan, seperti Gajah
atau Kebo. Penggunaan nama-nama tersebut menjadi tanda pengenal kepangkatan
tertentu di Kerajaan Kediri. Setelah Gandra, pemerintahan Kerajaan Kediri
dipimpin oleh Raja Kameshwara. Pemerintahan Kameshwara ditandai dengan pesatnya
hasil karya sastra Jawa. Pada masa pemerintahannya, cerita-cerita panji atau
kepehlawanan banyak dihasilkan seperti juga bentu cerita kakawin.
Raja kerajaan Kediri berikutnya adalah Kertajaya atau Srengga. Pada masa
pemerintahannya, Kediri mulai mengalami masalah dan ketidakstabilan. Hal ini
karena Kertajaya berusaha membatasi dan mengurangi hak istimewa para kaum
Brahmana saat itu, di daerah Tumapel (sekarang Malang) muncul kekuatan baru di
bawah pimpinan Ken Arok. Perlahan-lahan, terjadi arus pelarian para Brahmana
dari wilayah Kediri menuju Tumampel. Kertajaya menyikapi arus pelarian ini
dengan mengerahkan tentara Kerajaan Kediri untuk menyerbu Tumapel.
Perang antara pasukan
Kertajaya dan Ken Arok terjadi di Ganter (1222). Pasukan Ken Arok berhasil
menghancurkan kekuasaan pasukan Kertajaya dan dengan sendirinya mengakhiri
kekuasaan Kerajaan Kediri.
F.
Kerajaan Singasari
Sumber sejarah tentang Kerajaan Singasari di Jawa Timur adalah kitab-kitab
kuno, seperti Pararaton (Kitab Raja-Raja) dan Negarakertagama. Kedua kitab itu
berisis sejarah raja-raja. Kerajaan Singasari dan majapahit yang saling
berhubungan erat. Ketika Ken Arok berkuasa di Tumapel, di Kerajaan Kediri
berlangsung perselisihan antara Raja Kertajaya dengan para Brahmana. Para
Brahmana tersebut melarikan diri ke Tumapel. Namun, dalam pertempuran di
Ganter, ia mengalami kekalahan dan meninggal. Kemudian, Ken Arok menyatukan
Kerajaan Kediri dan Tumapel, serta mendirikan Kerajaan Singasari. Ia bergelar
Sri Rangga Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindrawangsa di Jawa Timur.
Dari istri yang pertamanya yang bernama Ken Umang, Ken Arok mempunyai empat
orang anak, yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudhatu, Panji Wregola, dan Dewi Rambi.
Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok mempunyai empat orang anak, yaitu
Mahisa Wong ateleng, Panji Sabrang, Agni Bhaya, dan Dewi Rimbu. Ken Arok juga
memiliki seorang anak tiri, yaitu Anusapati yang merupakan anak Tunggal Tunggul
ametung dan Ken Dedes. Tunggul Ametung adalah Bupati Tumapel yang dibunuh Ken
Arok.
Pada tahun1227, masa pemerintahan Ken Arok berakhir ketika ia dibunuh oleh
anak tirinya Anusapati, sebagai balas dendam terhadap kematian Ayahnya.
Diceritakan bahwa Ken Arok dibunuh dengan menggunakan keris Mpu Gandring yang
di pakai untuk membunuh Tunggul Ametung. Kemudian Ken Arok dimakamkan di
Kagenengan (sebelah selatan Singasari). Setelah Ken Arok wafat, Anusapati yang
bergelar Amusanatha, naik tahta sebagai raja kedua Kerajaan Singasari.
Anusapati memerintah sampai tahun 1248. Tohjaya yang mengetahui bahwa ayahnya
dibunuh oleh Anusapati, merencanakan pembalasan dendam. Tohjaya membunuh
Anusapati juga dengan mengunakan keris Mpu Gandring.
Setelah Wafat, jenazahanusapati diperabukan di Candi Kidal. Tohjaya
kemudian mengantikan Anusapati menjadi Raja di Kerajaan singasari pada tahun
1248. Ia tidak lama memerintah karena terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh
orang-orang Sinelir dan Rajasa yang digerakkan oleh Ranggawuni, anak Anusapati.
Ranggawuni dibantu oleh Mahisa Cempaka, anak Mahisa Wong Ateleng, saudara tiri
Anusapati dari ibu yang sama.
Pemberontakan
Ranggawuni berhasil menyerbu masuk ke istana dan melukai Tohjaya dengan tombak.
Tohjaya berhasil dilarikan oleh para pengawalnya ke luar Istana, tetapi
akhirnya meninggal di Katalang Lumbang. Dengan wafatnya Tohjoyo. Tahta kerajaan
Singasari kembali kosong.
Setelah tohjaya wafat, Ranggawuni naik tahta pada tahun 1248 M dengan gelar
Sri Jaya Wishnuwardhana. Mahisa Cempaka yang telah membantunya merebut tahta,
memperoleh anugrah kedudukan sebagai Ratu Angabhaya, pejabat terpenting kedua
di Kerajaan Singgasari dengan gelar Narasinghamurti. Pada tahun 1254.
Wishnuwardhana menobatkan anaknya yang bernama Kertanegara sebagai Yuwaraja
atau Kumararaja (Raja Muda). Kertanegara mendampingi ayahnya memerintah sampai tahun
1268. Ketika Wishnuwardhana meninggal di Mandaragiri, ia dimuliakan di dua
tempat yang berbeda. Di Candi Jago (Jajaghu) sebagai Buddha Amoghapasha dan di
Candi Weleri sebagai Siwa.
Setelah ayahnya wafat, Kertanegara sebagai raja muda langsung dinobatkan
sebagai Raja Singasari. Dalam menjalankan pemerintahan, Kertanegara dibantu
oleh tiga orang pejabat bawahan, yaitu Rakryan i Hino, Rakryan i Sirikan dan
Rakryan i Halu. Dibawah ketiga Mahamantri, masih terdapat pula tiga orang
pejabat bawahan, yaitu Rakryan Apatih, Rakryan Demung, dan Rakryan Kanuruhan.
Untuk mengatur soal keagamaan, diangkat pejabat yang disebut Dharmadhyaksa ri
Kasogatan.
Raja Kertanegara adalah raja yang terkenal dan terbesar dari kerajaan
Singasari. Ia mempunyai semangat Ekspansionis. Kertanegara bercita-cita
memperluas Kerajaan Singasari hingga keluar Pulau Jawa yang disebut dengan
istilah Cakrawala Mandala. Pada tahun 1275, ia mengirim pasukan ke Sumatra
untuk menguasai Kerajaan Melayu yang disebut sebagai ekspedisi Pamalayu. Dalam
ekspedisi tersebut, Kerajaan Melayu berhasil di taklukan tahun1260. Peristiwa
ini diabadikan pada alas patung Amoghapasha di Padangroco (Sungai Langsat) yang
berangka tahun 1286.
Raja Melayu saat itu, Tribhuwana atau Raja Mulawarmandewa, beserta rayatnya
menyambut hadiah itu dengan suka cita. Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan
Melayu secara resmi berada dibawah kekuasaan Raja Kertanegara. Kertanegara juga
membawa putrid Melayu kembali ke Singasari untuk dinikahkan dengan salah
seorang bangsawan Singasari. Tujuh pengiriman arca dan penaklukan Kejaan Melayu
adalah untuk menghadang rencana perluasan kekuasaan Kaisar Kubilai Khan dari
Cina.
Diceritakan bahwa sudah beberapa kali utusan dari Cina dating ke Kerajaan
Melayu menurut pengakuan untuk tunduk kepada Cina. Raja Kertanegara menolak
mengirim upeti atau utusan sebagai pernyataan tunduk kepada Cina. Raja
Kertanegara menolak mengirim upeti atau utusan sebagai pernyataan tunduk.
Pada tahun 1289,
utusan Cina bernama Meng K’i dikirim pulang ke Cina sehingga Kaisar Kubilai
Khan marah dan mengirim pasukan untuk menyerang Kerajaan Singasari. Sebagian
besar pasukan Kerajaan Singasari sedang dikirim ke Sumatra untuk menghadapi
serangan pasukan Cina. Sementara itu, Raja Jayakatwang di Kerajaan Kediri yang
menjadi bawahan Kerajaan Singasari melihat kesempatan yang baik untuk merebut
kekuasaan. Pada tahun 1292, Raja Jayakatwang dengan pasukan Kerajaan Kediri
menyerang Ibu kota Kerajaan Singasari.
Menurut cerita, pada
saat serangan musuh dating, Raja Kertanegara beserta para pejabat dan pendeta
sedang melakukan upacara Tantrayana sehingga dapat dengan mudah mereka semua
dibunuh oleh musuh. Kerajaan Singasari akhirnya berhasil direbut oleh
Jayakatwang, Raja Kediri.
G.
kerajaan Majapahit
Kerajaan bercorak Hindu yang terakhir dan terbesar di pulau Jawa adalah
Majapahit. Nama kerajaan ini berasal dari buah maja yang pahit rasanya. Ketika
orang-orang Madura bernama Raden Wijaya membuka hutan di Desa Tarik, mereka
menenukan sebuah pohon maja yang berubah pahit. Padahal rasa buah itu biasanya
manis. Oleh karena itu mereka menamakna permukiman mereka itu sebagai
Majapahit. Daerah ini merupakan daerah yang diberikan Raja Jayakateang dari
Kerajaan Kediri kepada Raden Wijaya. Raja Wijaya adalah menantu Raja
Kertanegara dari kerajaan Singasari. Pada saat Kerajaan Singasari diserbu dan
dikalahkan oleh Jayakatwang, Raden Wijaya berhasil melarikan diri. Ia mencari
perlindungan kepada Bupati Madura yang bernama Arya Wiraraja. Dengan bantuan
orang-orang Madura, ia membangun pemuliman di Desa Tarik yang kemudian diberi
nama Majapahit tersebut.
Pada tahun 1292, armada Cina yang terdiri dari 1.000 buah kapal dengan
20.000 orang prajurit tiba di Tuban, Jawa Timur. Tujuan mereka adalah menghukum
Raja Kertanegara yang menyatakan tidak mau tunduk kepada Kaisar Kubilai Khan
dari Cina. Mereka tidak mengetahui bahwa Raja Kertanegara dari Singasari itu
telah meninggal dikalahkan oleh Raja Jayakatwang dari Kediri.
Melihat peluang ini,
Raden Wijaya mengambil kesempatan untuk merebut kembali Kerajaan Singasari. Ia menggabungkan
diri dengan pasukan cina dan menyerang Raja Jayakatwang di Kediri. Kerajaan
Kediri tidak mampu menghadapi serangan itu. Raja Jayakatwang berhasil
dikalahkan. Kemenangan itu membuat pasukan Cina bergembira dan berpesta pora.
Mereka tidak menyaka kalau kesempatan itu dipakai oleh Raden Wijaya untuk balik
menyerang mereka. Pasukan Raden Wijaya berhasil mengusir armada Cina kembali
ketanah airnya. Sejak saat itu Kerajaan Majapahit dianggap sudah berdiri.
Raden Wijaya naik tahta sebagai Raja Majapahit pada tahun 1293 dengan gelar
Sri Kertarajasa Jayawardhana. Pada tahun 1295., berturut-turut pecah
pembrontakan yang dipimpin oleh Rangga lawe dan disusul oleh Saro serta Nambi.
Pembrontakan-pembrontakan itu bisa
dipadamkan. Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 dan mendapat penghormatan di dua
tempat, yaitu Candi Simping (Sumberjati) dan Candi Artahpura.
Setelah Raden Wijaya
wafat, putera permaisuri Tribuwaneswari yang bernama Jayanegara menggantikannya
sebagai Raja Majapahit. Pada awal pemerintahannya Jayanegara harus menghadapi
sisa pemberontakan yang meletus dimasa ayahnya masih hidup. Selain pembrontakan
Kuti dan Sumi, Raja Jayanegara diselamatkan oleh pasukan pengawal (Bhayangkari)
yang dipimpin oleh Gajah Mada ia kemudian diungsikan ke Desa Bedager.
Raja Jayanegara wafat
tahun1328 karena dibunuh oleh salah seorang anggota dharmaoutra yang bernama
Tanca. Oleh karena ia tidak mempunyai putra ia kemudian digantikan oleh adik
perempuannya Bhre Kahuripan yang bergelar Tribuanatunggadewi
Jayawishnuwardhani. Suaminya bernama Cakradhara yang berkuasa di Singasari
dengan gelar Kertawerdhana.
Dari kitab Negarakertagama, digambarkan adanya beberapa pemberontakan di
masa pemerintahan Ratu Tribuanatunggadewi. Pembrontakan yang paling berbahaya
adalah pemberontakan di Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Namun pemberontakan
itu pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Setelah itu Gajah Mada
bersumpah di hadapan Raja dan para pembesar kerajaan bahwa ia tidak akan amukti
palapa (memakan buah palapa), sebelum ia dapat menundukan Nusantara.
Pada tahun 1334, lahirlah putra mahkota Kerajaan Majapahit yang diberi nama
Hayam Wuruk. Pada tahun 1350, Ratu Tribuanatunggadewi mengundurkan diri setelah
berkuasa 22 tahun. Ia wafat pada tahun 1372. Pada tahun 1350, Hayam Muruk
dinobatkan sebagai raja Majapahit dan bergelar Sri Rajasanagara. Gajah Mada
diangkat sebagai Patih Hamangkubumi. Dibawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah
Mada, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan Majapahit
menguasai wilayah yang sangat luas. Hampir seluruh wilayah Nusantara tunduk
pada Majapahit.
Gajah Mada meninggal tahun 1364. Meninggalnya Gajah Mada menjadi titik
tolak kemunduran Majapahit. Setelah Gajah Mada tidak ada negarawan yang kuat dan
bijaksana. Keadaan semakin memburuk setelah Hayam Wuruk juga meninggal pada
tahun 1389. Hayam Wuruk tidak memiliki putra mahkota. Tahta kerajaan Majapahit
diberikan pada menantunya yang bernama Wikramawardhana (suami dari putri
mahkota Kusumawardhani). Hayam Wuruk sebenarnya memiliki putra yang bernama
Bhre Wirabhumi. Namun, dia bukan anak dari permaisuri sehingga tidak berhak
mewarisi tahta Kerajaan Majapahit.
Meskipun demikian, Wirabhumi tetap diberi kekuasaan di wilayah kekuasaan di
wilayah Kerajaan sebelah Timur, yaitu Blambangan. Dengan cara tersebut,
kemungkinan perpecahan antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana berhasil
diredam. Masalah kembali timbul ketika tahta Kerajaan Majapahit kembali kosong
setelah Kusumawardhani meninggal dunia pada tahun 1400. Wikramawardhana berniat
untuk menjadi pendeta dan menunjuk putrinya, Suhita, menjadi ratu Kerajaan
Majapahit.
Pada tahun 1401, pecah perang antara keluarga Wikramawardhana dan Wirabhumi
yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Perang Paregreg baru berakhir pada tahun
1406 dengan terbunuhnya Bhre Wirabhumi. Parang saudara ini semakin melemahkan
Kerajaan Majapahit. Satu demi satu daerah kekuasaannya melepaskan diri. Tidak
ada lagi raja yang kuat dan mampu memerintah kerajaan yang demikian luas.
Menurut catatan. Kerajaan Majapahit runtuh sekitar tahun 1500-an yang
didasarkan pada tahun bersimbol Sirna Ilang Kertaning Bhumi.

No comments:
Post a Comment