Latar Belakang Sistem Tanam Paksa
Pelaksanaan
Sistem tanam paksa (culturstelsel) sebenarnya merupakan usaha
Pemerintah Hindia Belanda dalam memperbaiki keuangan
di Hindia Belanda. Usaha tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak masa
pemerintahan Van der Capellen (1819-1825). Usaha-usaha Belanda tersebut semakin
mendapat hambatan karena persaingan dagang dengan pihak Inggris. Apalagi
setelah berdirinya Singapura pada tahun 1819, menyebabkan peranan Batavia dalam
perdagangan semakin kecil di kawasan Asia Tenggara. Untuk kawasan Indonesia
sendiri diperparah dengan jatuhnya harga kopi dalam perdagangan Eropa. Karena
kopi merupakan produk ekspor andalan pendapatan utama bagi Belanda. Secara umum latar
belakang tanam paksa dapat dibagi menjadi 4 fakor yaitu :
1.
Pembubaran VOC
Pada pergantian
abad ke -18 secara resmi pemerintahan atas Nusantara pindah dari tangan VOC ke
pemerintahan Negeri Belanda. Setelah pada tahun 1795 hak oktroi-nya ditiadakan,
pada tahun 1798 VOC dibubarkan dengan saldo kerugian sebesar 134,7 juta gulden.
Kemunduran dan
kebangkrutan VOC yang telah berjalan sejak awal abad ke- 18 disebabkan oleh
berbagai faktor diantaranya :
1.
Pembukuan
dan laporan keuangan yang curang.
2.
Banyak
pegawai VOC yang tidak cakap dan melakukan korupsi.
3.
Hutang
besar
4.
Kemerosotan
moril penduduk akibat paksaan untuk menyerahkan hasil-hasil tanaman penduduk.
5.
Perang
Belanda dan Inggris untuk merebutkan hegemoni perdagangan di Eropa.
2. Kegagalan
Sistem Pajak Tanah
Sistem pajak tanah selama tiga puluh tahun banyak
mengalami hambatan dikarenakan sistem liberal ternyata tidak sesuai dengan
struktur sosial yang sangat feodal di Jawa, dengan segala ikatan – ikatan
tradisionalnya. Pemerintahan kolonial tidak mampu menembusnya dan langsung
berhubungan dengan cara perseorangan dan bebas. Meskipun sistem perdagangan
belum dapat berjalan secara bebas sepenuhnya, sudah tampak keramaian
perdagangan hasil untuk ekspor, namun selama itu dikuasai Inggris yang lebih
kuat modalnya.
Pelaksanaan
sistem sewa tanah yang dilaksanakanan oleh Gubernur Jenderal Stamford Raffles,
menemui beberapa kegagalan. Dalam melaksanakan sistem sewa tanah tersebut,
Jenderal Stamford Raffles menemui banyak hambatan-hambatan yang berakibat
gagalnya system sewa tanah. Hamatan-hambatan yang dihadapinya antara lain:
a. Keuangan
negara dan pegawai-pegawai yang jumlahnya terbatas.
b. Masyarakat
Indonesia berbeda dengan masyarakat India yang sudah mengenal perdagangan
ekspor. Masyarakat jawa pada abad IX masih bertani untuk memenuhi kebutuhan
sendiri dan belum banyak mengenal perdagangan.
c. Sistem
ekonomi desa pada waktu itu belum memungkinkan diterapkannya ekonomi uang
d. Adanya
pejabat yang bertindak sewenang-wenang.
e. Pajak
terlalu tinggi sehingga banyak tanah yang tidak digarap.
3.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa
(1825-1830)
Sebab lain yang melatar belakangi diterapkannya sistem tanam paksa
yaitu akibat dari terjadinya perang Jawa atau yang disebut dengan perang
Diponegoro.
Perang
Jawa ataupun dikenal dengan perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825
sampai 1830 timbul karena berbagai macam sebab. Ketidakpuasan telah naik sampai
puncaknya di negara-negara pribumi dan khususnya di Yogyakarta
dimana penghentian kontrak penyewaan tanah konsekuensinya yaitu memukul seluruh
lapisan rakyat. Kericuhan lain yang kuat adalah tentang naiknya biaya tol
diperbatasan antara daerah pribumi dan teritorial pemerintah dan juga tindakan
keras orang-orang Cina kepada mereka yang bekerja padanya. Keresahan umum
dipimpin oleh seorang pemimpin keraton Jogjakarta yaitu Diponegoro yang
mempunyai alasan pribadi membenci Belanda.
Sedangkan secara umum sebab-sebab terjadinya
perang Diponegoro adalah sebagai berikut:
a. Adat
kebiasaan keraton tidak dihiraukan oleh para pembesar Belanda yang duduk
sejajar dengan Sultan.
b. Masuknya
pengaruh budaya barat meresahkan para ulama serta golongan bangsawan, seperti
misalnya pesta dansa sampai larut malam dan juga minum-minuman keras.
c. Para
bangsawan merasa dirugikan karena pada tahun 1823 Belanda menghentikan sistem
sewa tanah para bangsawan oleh pengusaha swasta, yang dimana hal ini berakibat
bahwa para bangsawan harus mengembalikan uang sewa yang telah diterimanya.
d. Banyaknya
macam pajak yang membebani rakyat misalnya pajak tanah, pajak rumah dan juga
pajak ternak.
Perang tersebut merupakan perlawanan pribumi
terhadap pemerintah Belanda yang dimana pasukan penjajah Belanda di pimpinan
oleh Jenderal De Kock melawan penduduk pribumi yang dipimpin Pangeran
Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini telah berjatuhan
korban yang tidak sedikit. Baik korban harta maupun jiwa. Dokumen-dokumen
Belanda yang dikutip para ahli sejarah, disebutkan bahwa sekitar 200.000 jiwa
rakyat yang terenggut. Sementara itu di pihak serdadu Belanda, korban tewas
berjumlah 8.000
Akibat
dari perang tersebut Belanda menderita kekosongan khas keuangannya guna untuk
membiayai perang tersebut.
4.
Perang Kemerdekaan Belgia
Selain sebab-sebab yang telah dijabarkan diatas, faktor
yang melatar belakangi terjadinya sistem tanam paksa
yaitu uni Belanda-Belgia yang dibentuk oleh kongres Wina pada tahun 1815 runtuh
dalam revolusi Belgia pada tahun 1830. Usaha Belanda untuk menaklukkan kembali
Belgia pada tahun 1831-1832 menemui kegagalan hingga akhirnya Belanda mengakui
kemerdekaan Belgia pada tahun 1839. Dengan pemisahan Belgia
tersebut, Belanda menderita kerugian yang sangat besar karena Belanda
kehilangan sebagian wilayah negaranya yang dimana daerah tersebut merupakan
daerah industri yang cukup besar.

No comments:
Post a Comment