Kelompok 4
Mifta
Ulzanah (3101412053)
Rizki
Amaliyah (3101412080)
Riwan
Sutandi (3101412084)
M. Khairul
Amri (3101412099)
Materi 1
Penguasaan Jepang Terhadap Oceania
Oceania adalah bagian luas di
Samudera Pasifik yang terbentuk dari Hawai sampai New Zaeland dan dari Nugini
sampai Pulau Paskah. Oceania terbagi dalam tiga daerah besar kebudayaan yaitu;
Melanisia di barat daya, Micronesia di barat laut dan Polinesia di timur.
Pulau-pulau di daerah ini merupakan sisa-sisa pegunungan Batu Karang dan
bersifat fulkanik. Tumbuhan beraneka ragam dari hutan lebat sampai pohon Plaem
yang jarang. Penduduk Oceania berasal dari Amerika Serikat. Oceania
pertama-tama dikenal oleh bangsa Eropa melalui Magellan (1519), namun
perjanjian meluas oleh James Cook dalam abad ke 18. Oceania akhirnya sebagian
besar menjadi milik koloni Inggris, Perancis, Amerika Serikat dan Jepang.
Jepang memiliki Aliansi Naval dengan Inggris. Ketika Perang Dunia I berkecamuk
di Eropa, Jepang memasuki Perang di sisi Sekutu. Inggris pada awalnya terkejut
dengan keinginan Jepang untuk memasuki Perang. Pejabat Jepang melihat beberapa
keuntungan yang bisa diperoleh dari Perang, khususnya kesempatan merebut koloni
Jerman. Ini berguna bagi Inggris karena memungkinkan Angkatan Laut Kerajaan
untuk mempertahankan hanya satu skuadron kecil di Pasifik menghadapi Jerman.
Pasukan Jepang, Inggris, dan Dominion merebut pos-pos Jerman. Perang Dunia I
settlment ditugaskan koloni utara ke Jepang dan koloni selatan ke Australia.
Orang Jepang yang kemudian memiliki Marianas Utara (Rota, Saipan dan Tinian).
Para Americans terus mengontrol Guam ke selatan. Pulau-pulau tidak akan
diperkaya. Orang Jepang mulai militaize pulau-pulau mereka, Amerika Serikat
tidak. Jepang Administration dari Marianas Utara Orang Jepang melihat Marianas
Utara berguna baik secara militer serta assett ekonomi. Marianas berguna dalam
bidang dalam bidang penerbangan dan pangkalan laut untuk membangun perisai di sekitar
Jepang. Secara ekonomi orang Jepang sangat tertarik pada tebu. Mereka
melanjutkan dalam membersihkan kebun pohon kelapa ditanam oleh Chomoros sebagai
hutan tropis juga asand. Ini termasuk banyak batu latte kuno penting bagi
Chamoros. Sejumlah besar warga sipil Jepang dibawa untuk mengembangkan
perekonomian. Hal ini terbukti sukses ekonomi. Operasi tebu Marianas yang
memproduksi 60 persen dari pendapatan orang Jepang dihasilkan di Mikronesia.
Orang Jepang juga mengubah Marianas Utara demografis. Ketika Jepang diperoleh
pulau-pulau, ada sekitar 4.000 Chamorros. Populasi Jepang ketika Perang dimulai
adalah 45.000, pekerja kebanyakan imigran. Marianas sehingga menjadi pulau
dasarnya Jepang. Orang Jepang diciptakan kembali pulau-pulau amd kehidupan
thgus ada menjadi mirip dengan yang di Jepang sendiri. Sekolah dibuka untuk
anak-anak Jepang.
Pertempuran Laut Karang atau Pertempuran Laut
Koral 4 Mei-8 Mei 1942 adalah pertempuran laut besar di medan Perang Pasifik
antara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang melawan angkatan laut dan angkatan udara
Sekutu dari Amerika Serikat dan Australia. Pertempuran ini merupakan
pertempuran laut pertama antara dua armada yang melibatkan kapal induk, dan
dicatat sebagai pertempuran laut pertama dalam sejarah yang melibatkan kapal-kapal
perang kedua belah pihak yang tidak saling menembak secara langsung dari kapal
ke kapal. Dalam usaha memperkuat posisi defensif wilayah Kekaisaran Jepang di
Pasifik Selatan, Kekaisaran Jepang memutuskan untuk menginvasi dan menduduki
Port Moresby di Nugini dan Tulagi di tenggara Kepulauan Solomon. Rencana
operasi ini disebut Operasi MO yang melibatkan beberapa unit utama dari Armada
Gabungan Jepang, termasuk pesawat-pesawat dari dua kapal induk dan sebuah kapal
induk ringan sebagai perlindungan udara armada invasi. Sebagai panglima
tertinggi Jepang adalah Shigeyoshi Inoue. Amerika Serikat mengendus rencana
Jepang lewat intersepsi radio dan mengerahkan dua gugus tugas kapal induk
Angkatan Laut Amerika Serikat dan kekuatan gabungan kapal-kapal penjelajah Angkatan
Laut Diraja Australia dan Amerika Serikat.
Pada 3 Mei dan 4 Mei, Jepang berhasil
menginvasi dan menduduki Tulagi, walaupun beberapa kapal perang tenggelam atau
rusak akibat serangan mendadak dari pesawat-pesawat yang berbasis di kapal
induk Yorktown. Setelah mengetahui keberadaan kapal-kapal induk Amerika
Serikat, armada kapal induk Jepang memasuki Laut Koral (Laut Karang) dengan
tujuan menemukan dan menghancurkan semua kekuatan laut Sekutu. Mulai 7 Juni,
kapal induk dari kedua belah pihak saling melancarkan serangan udara selama dua
hari berturut-turut. Pada hari pertama, Amerika Serikat menenggelamkan kapal
induk ringan Jepang Shōhō. Sebaliknya serangan Jepang menenggelamkan kapal
perusak Amerika Serikat dan mengakibatkan sebuah tanker rusak berat hingga
harus ditenggelamkan. Pada hari berikutnya, kapal induk Jepang Shōkaku rusak
parah, sementara kapal induk Amerika Amerika Serikat Lexington harus
ditenggelamkan setelah rusak berat, dan Yorktown mengalami kerusakan. Armada
kedua belah pihak mengundurkan diri dari kawasan pertempuran setelah kedua
belah pihak mengalami kerugian besar. Pesawat-pesawat hancur dan kapal induk
tenggelam atau rusak. Setelah kehilangan perlindungan udara dari kapal induk,
Inoue menarik mundur armada invasi Port Moresby dengan maksud mencoba kembali
di lain hari.
Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan
taktis pihak Jepang dalam hal jumlah kapal-kapal musuh yang berhasil
ditenggelamkan. Namun sebaliknya, pertempuran ini berarti kemenangan strategis
bagi pihak Sekutu berdasarkan beberapa alasan. Ekspansi wilayah Jepang yang
sebelumnya tidak tertahankan, untuk pertama kalinya berhasil ditahan dalam
Pertempuran Laut Koral. Jepang juga mengalami kerugian besar. Kapal induk
Shōkaku rusak berat sementara Zuikaku kehabisan pesawat sehingga tidak dapat
turut serta dalam Pertempuran Midway yang berlangsung bulan berikutnya. Hal
tersebut mengakibatkan kekuatan udara Amerika Serikat dan Jepang menjadi
berimbang hingga pertempuran laut di Midway berakhir dengan kemenangan Amerika
Serikat. Empat kapal induk Jepang tenggelam di Midway sehingga usaha Jepang
untuk kembali menginvasi Port Moresby dari laut terhenti. Dua bulan kemudian,
Sekutu memanfaatkan kelemahan strategis Jepang di Pasifik Selatan untuk
melancarkan Kampanye Militer Guadalkanal. Bersama dengan dilakukannya Kampanye
Militer Nugini, Amerika Serikat akhirnya membobol pertahanan Jepang di Pasifik
Selatan, dan akhirnya menjadi salah satu faktor penyebab kekalahan Jepang dalam
Perang Dunia II.
Ekspansi Kekaisaran Jepang
Pada 7 Desember 1941, kapal-kapal induk Jepang
menyerang Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii. Serangan
tersebut menghancurkan atau melumpuhkan sebagian besar kapal-kapal tempur
Armada Pasifik Amerika Serikat, sekaligus mengawali perang terbuka antara kedua
negara. Dalam perang ini, pemimpin-pemimpin perang Jepang berusaha melenyapkan
ancaman dari armada Amerika, merampas wilayah-wilayah jajahan Sekutu yang kaya
sumber alam, dan menguasai pangkalan militer strategis untuk mempertahankan
wilayah kekuasaan Jepang yang semakin besar. Pada saat yang hampir bersamaan
dengan Pengeboman Pearl Harbor, Jepang menyerang Malaya hingga menyebabkan
Kerajaan Bersatu, Australia, dan Selandia Baru bergabung dengan Amerika Serikat
sebagai Sekutu dalam perang melawan Jepang. Sesuai dengan "Perintah
Rahasia Nomor Satu" tertanggal 1 November 1941 yang dikeluarkan Armada
Gabungan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, tujuan awal Jepang dalam perang
adalah "(melumpuhkan) kekuatan Inggris dan Amerika dari Hindia Belanda dan
Filipina, (serta) menetapkan kebijakan kemerdekaan ekonomi dan swasembada
secara otonom.
Gerak maju invasi Jepang di Asia Tenggara dan
Pasifik Barat Daya mulai Desember 1941 hingga April 1942. Dalam usaha mencapai
tujuan akhir perang, dalam beberapa bulan pertama tahun 1942, tentara Jepang
menyerang dan berhasil mengambil alih Filipina, Thailand, Singapura, Hindia
Belanda, Kepulauan Wake, Britania Baru, serta Kepulauan Gilbert dan Guam. Dalam
proses pengambilalihan wilayah-wilayah tersebut, Jepang mengakibatkan kerugian
besar bagi kekuatan darat, laut dan udara pihak Sekutu. Negara-negara taklukan
Jepang menurut rencana akan dipakai sebagai pertahanan garis luar bagi
Kekaisaran Jepang, sekaligus melancarkan taktik perang menghabiskan tenaga
lawan dalam usahanya mengalahkan atau menghabisi serangan balasan Sekutu. Tidak
lama setelah perang berlangsung, Staf Umum Angkatan Laut mengeluarkan
rekomendasi untuk menginvasi Australia sebagai tindakan pencegahan agar
Australia tidak dipakai sebagai pangkalan militer yang mengancam pertahanan
garis luar Jepang di Pasifik Selatan. Namun rekomendasi ini ditolak Angkatan
Darat Kekaisaran Jepang yang mengemukakan alasan bahwa Jepang tidak memiliki
kapasitas kapal dan kekuatan militer yang cukup. Pada saat yang bersamaan, komandan
Armada IV Angkatan Laut Jepang Laksamana Madya Shigeyoshi Inoue mengusulkan
pendudukan Tulagi yang berada di tenggara Kepulauan Solomon dan Port Moresby di
Papua Nugini. Usulannya membuat bagian utara Australia berada dalam jangkauan
pesawat-pesawat terbang Jepang yang berpangkalan di darat. Sebagai pimpinan
Armada IV yang juga disebut Armada Laut Selatan, Inoue membawahi unit-unit
angkatan laut di kawasan Pasifik Selatan. Ia percaya bahwa pendudukan dan
penguasaan lokasi-lokasi tersebut akan menjamin keamanan dan pertahanan bagi
pangkalan utama Jepang di Rabaul, Britania Baru. Staf Umum Angkatan Laut dan
Angkatan Darat Kekaisaran Jepang menerima proposal Inoue dan merencanakan
operasi-operasi lanjutan. Dalam operasi lanjutan, lokasi-lokasi yang diusulkan
Inoue akan dijadikan pangkalan militer pendukung dalam usaha berikutnya merebut
Kaledonia Baru, Fiji, dan Samoa yang bila berhasil akan memutuskan jalur
komunikasi dan perbekalan antara Australia dan Amerika Serikat.
Pada April 1942, angkatan laut dan angkatan
darat menyusun rencana yang diberi nama Operasi MO. Menurut rencana ini, Port
Moresby akan diserang dari laut dan harus dapat diamankan sebelum 10 Mei 1942.
Rencana yang sama juga mencantumkan pengambilalihan Tulagi pada 2-3 Mei 1942.
Angkatan Laut akan menjadikan Tulagi sebagai pangkalan bagi pesawat amfibi yang
akan menyerang teritori dan tentara Sekutu di Pasifik Selatan. Setelah Operasi
MO selesai disusun, angkatan laut menyusun rencana lain untuk Operasi RY yang
bertujuan merebut Nauru dan Kepulauan Banaba yang kaya dengan fosfat pada 15
Mei 1942. Operasi RY akan dilancarkan memakai kapal-kapal yang berpangkalan di
lokasi yang telah direbut dalam operasi MO. Operasi militer berikutnya yang
disebut Operasi FS bertujuan merebut Fiji, Samoa, dan Kaledonia Baru, dan akan
disusun setelah operasi MO dan RY selesai. Pada Maret 1942 pesawat-pesawat
Sekutu yang berpangkalan di kapal induk dan di darat menyerang kapal-kapal
perang Jepang yang melakukan invasi ke kawasan Lae-Salamaua dan mengakibatkan
kerugian bagi Jepang. Oleh karena itu, Inoue meminta Armada Gabungan untuk
mengirimkan kapal induk sebagai perlindungan dari udara bagi kekuatan militer
Jepang dalam Operasi MO. Inoue terutama menyatakan kecemasannya terhadap
pesawat pengebom Sekutu yang berpangkalan di Townsville dan Cooktown,
Australia. Kedua pangkalam militer Sekutu tersebut berada di luar jangkauan
pesawat pengebom Jepang yang berpangkalan di Rabaul dan Lae.
Komandan Armada Gabungan Jepang, Laksamana
Isoroku Yamamoto secara bersamaan menyusun operasi militer untuk bulan Juni
1942 yang dimaksudkan agar kapal-kapal induk Amerika Serikat yang belum hancur
di Pearl Harbor masuk perangkap dan bertemu dengan armadanya dalam pertempuran
menentukan di Samudra Pasifik dekat Atol Midway. Sebagai dukungannya terhadap
Operasi MO, Yamamoto mengerahkan beberapa kapal perang besar, termasuk dua
kapal induk, satu kapal induk ringan, sebuah divisi kapal penjelajah, dan dua
divisi kapal penjelajah, serta menunjuk Inoue sebagai komandan armada.
Materi
2
Selama
Perang Dunia I, Jepang memperoleh control atas Jerman di mikronesia. Dan
setelah Perang, Liga Bangsa-bangsa membagi kepemilikan Jerman pada Jepang,
Australia dan New Zealand. Perang Dunia II Jepang kembali menjadikan Pasifik
sebagai lahan pertempuran dan terlihat
untuk memperluas kekaisarannya. Hal ini membuat beberapa Negara besar membangun pangkalan militer di
kawasan Pasifik Barat Daya karena diyakini
jika Jepang menguasai daerah ini maka kemungkinan besar dia akan
menguasai dunia. Setelah perang, kawasan Pasifik Barat Daya dijadikan sebagai
tempat yang bagus untuk lahan percobaan nuklir. Hal inilah yang membuat banyak
Negara-negara besar membangun
pusat-pusat laboratorium baik yang Nampak maupun yang tersembunyi.
Melihat dari sejarah yang terjadi di Pasifik Barat Daya maka kita dapat
menyimpulkan bahwa adanya kesinambungan
antara apa yang terjadi pada masa lalu dengan yang terjadi sekarang. Salah satu
keterkaitan yang paling jelas adalah bagaimana Negara-Negara besar mempunyai
Negara-Negara satelit di kawasan Pasifik Barat Daya ini karena proses aneksasi
dan kolonialisasi yang mereka lakukan. Banyak Negara-Negara yang
mengadopsi bentuk-bentuk system
berdasarkan Negara yang mengkoloni mereka. Bahkan sampai sekarang mereka terus
bergantung dan dieksploitasi oleh Negara-negara besar tersebut. Hanya beberapa
saja yang memakai sistemnya sendiri seperti Tokelau.
• Selama
1941-1945 Jepang berhasil menduduki beberapa kawasan di Oceania
• Jepang berhasil menduduki Nauru, Kiribati, beberapa
bagian PNG, dan masuk ke beberapa wilayah Australia
• Pasca PD II kawasan menjadi perwalian PBB dan
diserahkan ke beberapa wilayah
Australia mendapat PNG, Inggris memperoleh Fiji, Tonga, Tuvalu,
Kiribati, Solomon, dan Vanuatu (bersama Perancis)
Sebagian
besar sisa kepulauan Caroline ke Jerman pada 1899. Kontrol dilewatkan ke Jepang
pada tahun 1914 dan selama perang dunia 2 kepulauan diambil oleh Amerika
Serikat pada tahun 1944 dengan mahal pertempuran Peleliu antara 15 September
dan 25 November ketika lebih dari 2000
orang Amerika dan 10000 oang tewas. Pupau-pulau lulus secara resmi ke Amerika
Serikat di bawah naungan PBB pada tahun 1947 sebagai bagian dari wilayah
perwalian kepulauan Pasifik.

No comments:
Post a Comment