About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Tuesday, 1 July 2014

Klungkung Kertagosa


MAKALAH SEMINAR
BALE KERTAGOSA DI PURI KLUNGKUNG: SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PEMANFAATANNYA  SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN




Makalah Seminar KKL I
Pendidikan Sejarah angkatan 2012




JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SOSIAL
2012








TAMAN KERTAGOSA DI PURI KLUNGKUNG: SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PEMANFAATANNYA  SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

A.                LATAR BELAKANG MASALAH
Sejarah merupakan cabang ilmu yang mengkaji secara sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi dimasa lampau,Sejarah dibuktikan dengan adanya peninggalan – peninggalan.Peninggalan sejarah sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat,selain meninggalkan memorial bersejarah,peninggalan sejarah juga digunakan sebagai media pembelajaran.
            Pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku baik aspek kognitif,afektifmaupun psikomotorik.Proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern.Peninggalan sejarah sebagai faktor ekstern memegang peranan penting.Di Indonesia,sejarah telah menjadi salah satu mata pelajarah wajib dalamkurikulum Sekolah Dasar (SD),Sekolah Menengah Pertama (SMP),dan Sekolah Menengah Atas (SMA).Pada kenyataannya,pengajaran sejarah dibanyak sekolah tak lebih dari transfer ilmu guru kepada murid melalui komunikasi suatu arah.Murid hanya menjadi obyek pasif yang hanya memiliki kewajiban untuk menghafal catatan – catatan yang telah diberikan guru agar bisa menjawab soal – soal yang nantinya akan diujiakan.
            Metode pembelajaran seperti tersebut diatas menjadikan pembelajaran sejarah menjadi membosankan dan monoton.Peninggalan – peninggalan sejarah dapat digunakan sebagai salah satu metode alternatif dalam modifikasi pembelajaran sejarah.Bagaimana juga dengan memanfaatkan peninggalan sejarah sebagai media visula yang bisa menghadirkan suatu rekaman sejarah,yang kemudian meemberikan sentuhan emosional karena terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
            Penggunaan peninggalan sejarah adalah salah satu peningkatan upaya pembelajaran sejarah.Dengan menggunakan pembelajaran sejarah yang ada di daerah setempat dapat mempertinggi kualitas proses belajar yang ada di daerah setempat dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil kualitas pada siswa.Pembelajaran dengan menggunakan peninggalan sejarah yang ada di daerah kabupaten Klungkung ( kurang lebih 40 km ke arah timur dari Denpasar,Bali) misalnya kebenaran adanya kerajaan Klungkung di Bali,bisa dibuktikan dengan adanya peninggalan yang sangat beragam,salah satu diantaranya yakini balai Kertagosa dan Balai Kambang.
            Peninggalan sejarah merupakan cerminan eksistensi masyarakat dalam perjalanan sejarahnya.melalui pemahaman sejarah,akan diketahui gambaran kekuatan,kelemahan,keberhasilan dan kegagalan individu.ecara teori dan filosofis pemahaman secara baik akan hal – hal tersebut,akan menjadi motivasi dalam perbaikan pengajaran sejarah pada kurikulum pembelajaran.
            Dalam makalah ini diuraikan tentang bagaimanakah sejarah Kerajaan Klungkung dan makna Bale Kertagosa bagi Kerajaan Klungkung, dan  bagaimana cara memanfaatkan  situs peninggalan sejarah Bale Kertagosa dalam pembelajaran Sejarah.

B.                 SEJARAH KERAJAAN KLUNGKUNG DAN MAKNA TAMAN KERTAGOSA
Kerajaan Klungkung berdiri bersamaan dengan dibangunnya Kraton Smarapura pada 1686, dan diakhiri dengan Puputan Klungkung pada 1908. Klungkung mengalami perkembangan dan pergantian kepemimpinan setelah pembagian kekuasaan. Masa perkembangan Kerajaan Klungkung terbagi menjadi tiga periode. Periode tersebut adalah
1)             Periode Samprangan (1350-1383) yaitu ketika pemerintahan berpusat di Srampangan.
2)             Periode Gelgel (1383-1704) diakhiri dengan tumbangnya patih pemberontak yang memerintah.
3)             Periode Klungkung (1704-1908)
Periode Klungkung dimulai dari direbutnya kembali kekuasaan atas Gusti Agung Maruti, penguasa Gelgel terakhir. Ida I Dewa Agung Jambe dengan dibantu I Gusti Ngurah Sidemen Cerawis yang secara diam-diam bersekutu dengan para pemimpin yang berkuasa di daerah Buleleng, Badung dan Taman Bali untuk secara bersama-sama menggempur Gelgel yang dikuasai Kryan Agung Maruti. Dalam peperangan tersebut tentara Gelgel dapat dikalahkan, kota Gelgel porak-poranda, sementara rakyat Kryan Agung Maruti melariakn diri ke daerah Jimbaran (Munandar,2005:152-153). Kemenangan Ida I Dewa Agung Jambe itu memulihkan kembali status dan karisma dinasti Kresna Kepakisan sebagai penguasa Bali an Lombok. Kemudian atas prakasa dari Gusti Sidemen, pusat pemerintahan dipindahkan  ke desa Klungkung. Nama kraton yang baru ini adalah Smarajaya. Alasan pemindahan pusat kekuasaan ke daerah Klungkung antara lain latar belakang argaris, yaitu memiliki areal persawahan yang lebih luas daripada sebelumnya, letaknya yang strategis (Sidemen dkk., 2001:36-37). Raja Klungkung oleh para penguasa daerah bali lainnya dianggap memiliki kedudukan tertinggi diantara mereka. Pernyataan ini dibenarkan oleh laporan R. Friederich seperti dikutip Munandar (2005) yang berkunjung ke Bali pada paruh ke dua XIX, dengan menyatakan bahwa tedapat beberapa kerajaan  yang merdeka dan berdaulat.
 Klungkung memiliki berbagai peninggalan yang menggambarkan keagungan dan kejayaan di masa lamapu sebagai wilayah yang memiliki pengaruh besar di kawasan Bali dan Lombok. Berbagi peninggalan masa kejayaan Klungkung ini seolah menjadi bukti dan saksi sejarah bahwa Kerajaan Klungkung mengalami kejayaan. Diantara banyak peninggalan Kerajaan Klungkung yang paling menarik adalah Taman Kertagosa yang meninggalkan banyak nilai-nilai budaya luhur yang terkandung di dalamnya.
Kertagosa adalah kompleks bangunan kuno yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Klungkung pertama, Ida I Dewa Agung Jambe (abad 17). Dia membuat istana (puri) Klungkung yang diberi nama Semara Pura yang mempunyai makna “ tempat cinta kasih dan keindahan”. Dalam sejarah Bali abad XVIII-XIX M, menurut Gde Agung dalam Munandar (2005:41-48) kedudukan puri Klungkung sangat penting. Hal ini dikarenakan Puri Klungkung menjadi tempat persemayaman Dewa Agung Klungkung yang secara tradisi dimuliakan sebagai “penguasa yang dihormati di Bali dan Lombok” (Sidemen:2001). Puri Klungkung sebagai benda cagar budaya di dalamnya terdapat kandungan-kandungan pesan dan makna dari bnagunan. Ada beberapa makna puri secara khusus. Makna tersebut antara lain:
1)                  Puri sebagai bangunan suci
2)                                Puri sebagai tempat persemayaman raja dan raja sebagai penjelmaan dewa
3)                                Puri sebagai pusar kerajaan (Munandar,2005:169-200)
 Di puri inilah terdapat Taman Kertagosa yang terdiri dari dua bangunan pokok, yaitu Bale Kertagosa dan Bale Kambang atau Taman Gili.
 Bale Kertagosa merupakan bangunan di sebelah timur laut (kaja kangin) dilingkungan kompleks Puri Klungkung. Model Bangunan Bale Kertagosa berbentuk bangunan terbuka atau tanpa dinding. Atap bangunan berbentuk limas sgi empat dan terbuat dari iijuk. Bangunan ini tersusun atas dua tingkat dan ditopang oleh 20 tiang kayau yang berukir gaya Bali. Ukiran-ukiran yang tedapat pada tiang kayu bangunan Bale Kertagosa ini dilapisi cat berwarna keemasan yang menambah keindahan dari ukiran yang terdapat pada tiang bangunan. Tingkat pertama merupakan suatu tingkat yang berfungsi sebagai tempat untuk berjalan. Tingkat kedua merupakan tempat yang difungsikan untuk pengadilan. Pada tingkat ini terdapat enam buah kursi dan sebuah meja persegi yang berhiaskan ukiran perada.
 Adapun fungsi Bale Kertagosa secara khusus diantaranya sebagai tempat pertemuan bagi raja-raja yang ada di Bali. Pertemuan yang dimaksud adalah berkumpulnya raja-raja di Bali dalam kaitanya dengan laporan tentang segala sesuatu ynag berkaitan dengan pemerintahan raja-raja terhadap masing-masing wilayahnya, yang sreing dikatakan Kertagosa sebagai tempat sidang para raja di Bali. Hal ini dibenarkan oleh pernyataan Munandar yang didukung oleh laporan R. Friederich yang mengatakan bahwa raja-raja Klungkung oleh para penguasa daerah Bali lainnya dianggap memiliki kedudukan tertinggi diantara mereka. Bale Kertagosa ternyata juga pernah difungsikan sebagai balai sidang pengadian selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkanya pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun 1929.
Satu hal yang menarik dari Bale Kertagosa adalah adanya lukisan yang terdapat di langit-langit bangunan Bale Kertagosa. Lukisan-lukisan yang ada di langit-langit merupakan lukisan Bali tradisional dengan gaya kemasan. Lukisan di Bale Kertagosa terbagi menjadi sembilan tingkatan (petak) dan memiliki cerita berbeda (Warsika, 1986:5).
1)             Petak pertama adalah cerita Tantri Kandaka, yakni kisah tentang tipu muslihat dalam kehidupan masyarakat.
2)             Petak kedua dan ketiga bercerita tentang Atma Presangsa, yakni tentang penderitaan roh di neraka yang ditemukan oleh Bima dalam perjalanan mencari roh  ayah dan ibunya. Cerita ini merupakan cerita paling populer dan menjadi ciri khas dari bale tersebut (Warsika, 1986:11). Ini dikenal juga dengan Karmapala (hukm karma).
3)             Petak keempat menggambarkan tentang sang garuda mencari Amerta , yang diambil dari Adiparwa.
4)             Petak kelima tentang Palelindon (gempa), yaitu ciri dan arti atau makna terjadinya gempa bumi secara mitologis.
5)             Petak keenam dan ketujuh tentang cerita Bima bertemu dengan para Dewa dari khayangan.
6)             Petak kedelapan tentang surga bagi roh roh. Di deretan terakhir ditempati oleh gambaran tentang kehidupan Nirwana.
Ditinjau dari segi isi, meliputi tema, makna dan lambang, lukisan-lukisan kamasan di puri klungkung secara umum bertema tentang ajaran-ajaran Hindu, serta beberapa kisah dalam lontar/rontal, kitab, serat, kakawin, dan kepercayaan-kepercayaan masyarakat bali. Dari cerita yang digambarkan, lukisan kamasan memiliki makna sebagai salah satu sumber pengetahuan atau pendidikan dan sebagai pedoman hidup. Sedangkan fungsinya adalah untuk mengenang jasa-jasa para leluhur, memahami ajaran-ajaran keagamaan, hiasan upacara serta sebagai media pelestarian kebudayaan di Bali. Melihat tema yang diangkat dalam lukisa Kamasan hal ini menunjukan bahwa unsur agama, dalam hal ini adalah agama Hindu menjadi satu faktor ekstraestetis yang sangat sentral dalam lukisan kamasan. Lukisan-lukisan di atap Bale Kertagosa mudah dilihat bagi siapapun yang berada di dalamnya. Bentuk atap (langit-langit) dengan posisi kemiringan sekitar 40-45 derajat di bagian dalam, dan sekitar 15-20 derajat dibagian luar akan dengan mudah dipandang bagi siapapunyang berada di dalamnya.

C.                PEMANFAATAN TAMAN KERTAGOSA  DALAM PEMBELAJARAN
Belajar pada dasarnya merupakan proses suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku baik berupa pengetahuan,ketrampilan maupun sikap pada diri siswa akibat dari latihan,penyesuaian maupun pengalaman.Proses perubahan tingkah laku siswa di sekolah,mahasiswa di kampus,bahkan peserta pelatihan dan workshop sekalipun nampak dalam beberapa kegiatan,seperti membaca,merangkum, bertanya dan berlatih, mengerjakan tugas – tugas dan aktifitas lainnya. Dimana palaksanaanya belajar tersebut tidak  sebatas oleh ruang dan waktu. Sebab belajar juga dapat di laksanakan di luar sekolah pada waktu yang ditetapkan secara formal.
Sumber belajar sebagai suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran memiliki fungsi sebagai berikut :
a.              meningkatkan produktifitas pembelajaran.hal ini dapat dilakukan dengan jalan :
-                  Mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik.
-                  mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi,sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan semangat belajar.
b.             Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual sehingga akan lebih meningkatkan kemampuan individual siswa ini dilakukan dengan cara :
-                 Mengurangi control guru dan tradisional sehingga siswa dapat dengan aktif belajar secara mandiri
-                 Memberikan kesempatan begi siswa untuk berkembang sesuaidengan kemampuannya
c.              Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara perancang program pembelajaran yang lebih sistematis,dan pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
d.             Lebih memantabkan pembelajaran karena pembelajaran akan menjadi konkret.
e.              Memungkinkan belajar secara seketika,hal ini dapat dilakukan dengan cara :
-                 Mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkret.
-                 Memberikanpengetahuan yang sifatnya langsung.
f.              Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis yang menyulitkan.
Dalam kegiatan pembelajaran,terasa membosankan dan monoton apabila hanya dilakukan di dalam kelas saja.Oleh kerena itu guru dituntut tidak hanya mendayagunakan sumber belajar yang ada di sekolah,tetapi juga mempelajari berbagai sumber yang ada di lingkungan sekitar.
Masalah yang sering ditemui pada siswa sekolah yaitu kurangnya antusiasme dan pemahaman siswa pada pelajaran sejarah,Sehingga guru harus memiliki inisiatif melakukan pembelajaran di luar sekolah dengan memanfaatkan Bale Kertagosa di kabupaten Klungkung ,Bali sebagai media belajar sejarah.Pemanfaatan situs sejarah Bale Kertagosa merupakan cara baru dalam pembelajaran sejarah yang dilakukan di luar sekolah.Dengan memanfaatkan situs sejarah Bale Kertagosa yang berada di Klungkung,Bali maka guru dapat mengajarkan arti dari pembelajaran sejarah yang lebih nyata,karena menggunakan cerita sejarah yang terkandung di dalam Bale Kertagosa tersebut.Selain itu pembelajaran disana lebih akan bermakna,sebab siswa lebih akan dapat menangkap secara konkrit,memahami dan mengamati sumber secara langsung.Siswa juga lebih mampu menyerap materi yang disajikan guru dengan baik.Oleh karena itu guru perlu menerapkan pembelajaran sejarah dengan metode observasi lapangan. Ada dua tujuan yang bisa dicapai dengan menerapkan metode ini :
a. Edukatif,dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah maka siswa bisa lebih mendalami materi yang sedang dipelajari, bahkan bisa mendapat informasi yang lebih daripada hanya membaca buku atau mendengarkan informasi dari guru.
b. Rekreatif,selain mendapat pengetahuan, siswa juga bisa berekreasi melepaskan diri dari kepenatan bahkan bisa lebih mengakrabkan diantara siswa.

Indikator bahwa Bale Kertagosa berpotensi untuk menjadi salah satu media pembelajaran sejarah.Hal ini karena kegiatan observasi yang dilakukan oleh mahasiswa dapat memunculkan suatu gagasan atau ide baru sebab pada kegiatan ini bisa dirangsang untuk menggunakan kemampuan dalam berpikir kritis.Sehingga ada beberapa manfaat terkait pemanfaatan museum sebagai sumber pembelajaran.
1.             kemampuan mengenal persamaan dan perbedaan pada objek yang diamati.Kemampuan ini misalnya apabila siswa dibawa ke Bale Kertagosa maka ia akan memberi perbedaan – perbedaan dan persamaan – persamaan antara dua hal melalui penelitian yang dilakukannya.

2.             Kemampuan mengidentifikasi dan mengelompokan objek yang diamati pada kelompok seharusnya.Misalnya ketika dibawa ke Bale Kertagosa maka siswa akan ditunjukan benda – benda yang dikelompok – kelompokan dalam suatu ruangan tertentu.
3.             Kemampuan menyampaikan deskripsi secara lisan dan tulisan berkenan ini dengan objek yang diamati.Siswa yang mampu menyampaikan gambarana apa yang dia lihat dan diamati sehingga siswa tidak hanya mendapat informasi dari buku akan tetapi juga dapat membuktikan kebenarannya melalui benda – benda yang diamati.
4.             Kemampuan untuk mempraktikan apa yang terjadi berkenan dengan objek yang di amati.Siswa yang akan memprediksi apa yang terjadi pada suatu objek yang diamati misalnya ketika masyarakat Klungkung mempercayai  lukisan-lukisan di langit-langit Kerta Gosa menawarkan pelajaran rohani yang berharga. Jika seseorang melihat hal ini secara rinci, pada setiap bagian langit-langit menceritakan cerita yang berbeda, terdapat satu bagian yang bercerita tentang karma dan reinkarnasi, dan bagian lain menggambarkan setiap fase kehidupan manusia dari lahir sampai mati.
5.             Kemampuan membuat kesimpulan dari informasi yang diperoleh di bale Kertagosa dalam sebuah laporan layaknya seorang peneliti yang harus mengumumkan hasil penelitiannya pada masyarakat luas.

Dengan mengunjungi situs sejarah di Bale Kertagosa sebagai pembelajaran sejarah ini,bisa menjadikan para siswa muncul jiwa nasionalismenya,rasa kebanggaan terhadap ragam nilai budaya dan sejarah yang dimiliki bangsanya,dan memiliki tekad untuk mempertahankannya.
Mereka akan memahami betapa berharganya situs situs sejarah bagi suatu bangsa,karena ini akan memunculkan ingatan kenangan masa lalu,ketika para pejuang yang begitu gigihnya dalam mempertahankan situs sejarah ini akan dikuasai oleh para penjajah.Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus hendaknya meneruskan perjuangannya dalam menjaga dan mempertahankan Bale Kertagosa sebagai situs warisan sejarah bangsa.
Setiap metode pembelajaran yang diterapkan,didalamnya memilki kelebihan dan kelemahan.Penerapan metode observasi dalam pembelajaran sejarah memang baik,karena itu siswa dapat langsung melihat obyek kajian dan lebih bisa memahami tentang informasi mengenai situs sejarah Bale Kertagosa.Namun dalam melakukan metode ini terdapat berbagai hambatan – hambatannya,diantaranya : memerlukan biaya yang banyak untuk melakukan observasi di Bale Kertagosa,jarak yang jauh,waktu yang panjang,dan terkadang sulit mengordinasinya.Namun masih ada jalan lain untuk para guru dalam mengenalkan Bale Kertagosa sebagai situs sejarah,yaitu dengan cara guru menghadirkan rekaman baik video atau gambar yang berhubungan dengan Bale Kertagosa di bawa ke dalam kelas.Dengan begitu maka siswa dapat mengetahui objek Bale Kertagosa,walaupun tidak secara langsung.

D.   PENUTUP
1.             Simpulan
Balai kertagosa adalah sebuah balai pengadilan yang dapat dijadikan sebuah media pembelajaran sejarah, hal ini karena balai kertagosa sendiri menyimpan banyak sekali sumber-sumber sejarah yang amat sangat nyata bagi pembelajaran sejarah yang kemudian mampu digunakan untuk mendukung pembelajaran sejarah.misalnya mengenai lukisan yang ada dilangit-langit balai kertagosa yang mampu memberikan informasi yang gamblang kepada para pengunjung mengenai gambaran kerajaan bali pada jaman dahulu.
Upaya yang dapat dilakukan oleh siswa atau mahasiswa melalui kegiatan dan kunjungan ke Bali Kertagosa, diantaranya:
a.              Kunjungan ke Balai Kertagosa ini penting dilakukan untuk menambah pengetahuan mahasiswa mengenai pariwisata dan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitarnya yang tentunya saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
b.             Agar benar- benar memahami seluk beluk Balai Kertagosa sebelum diadakan kunjungan sebaiknya dilakukan pembekalan terlebih dahulu agar mengerti gambaran umum balai kertagosa itu sendiri.
c.              Selain brosur, pamflet dan katalog mengenai gambaran umum Balai Kertagosa haruslah ada agar dapat membimbing mahasiswa dan sebagai bahan rujukan untuk pembelajarannya kelak.

2.             Saran
Kertagosa sebagai bahan atau media pembelajaran hendaknya memberikan informasi yang lengkap dan terperinci. Agar tujuan tersebut dapat tercapai diperlukan upaya yang dilakukan pihak balai kertagosa untuk menjadikannya layak dijadikan sebagai acuan untuk pembelajaran, sebagai berikut:
a.              Dengan mengacu pada perkembangan teknologi informasi maka setidaknya pihak pengelola menyediakan panel informasi untuk menunjang keingintahuan siswa atau mahasiswa mangenai objek kajian selain di dapat dari narasumber. Panel tersebut disajikan dengan menarik dengan keterangan semenarik mungkin.
b.             Mengenai brosur, pamflet dan katalog disajikan sesuai dengan usia dan kebutuhannya sehingga pemanfaatannya tepat guna.
c.              Perlu adanya permainan yang ditujukan agar kajian serasa tidak monoton hanya dari narasumber saja serta harus lebih variatif sehingga lebih menarik untuk dipelajari.
Diperlukan adanya koordianasi yang baik dari semua pihak untuk mengkondisikan objek kajian agar tidak melenceng jauh dari yang direncanakan. Sehingga pemanfaatan dari obejak kajian sejarah tersebut diatas juga bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin, agar mampu memanfaatkan sumber-sumber sejarah yang di sajikan oleh balai kertagosa sendiri. Dan bagi balai kertagosa mampu memberikan informasi yang diperlukan untuk menunjang jalannya pembelajaran.





















DAFTAR PUSTAKA
Agus Aris Munandar. 2005. Istana Dewa Pulau Dewata; Makna Puri Bali abad ke 14-19. Jakarta: Komunitas Bambu.
Sidemen, Ida Bagus dkk. 2001. Sejarah Klungkung; Dari Smarapura sampai Puputan. Klungkung: Pemerintah Kabupaten Klungkung.
Warsika, I Gst. Made. 1986. Kertha Gosa Selayang Pandang. Klungkung: Pemerintah Daerah Tingkat II Klungkung.


Website :
http://lib.unnes.ac.id/15292/ (diunduh 30 mei 2013 )















No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...