MAKALAH
SEMINAR
BALE
KERTAGOSA DI PURI KLUNGKUNG: SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
Makalah
Seminar KKL I
Pendidikan
Sejarah angkatan 2012
JURUSAN
SEJARAH
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI SOSIAL
2012
TAMAN
KERTAGOSA DI PURI KLUNGKUNG: SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Sejarah merupakan cabang ilmu yang mengkaji secara
sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan dinamika kehidupan masyarakat
dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi dimasa lampau,Sejarah dibuktikan
dengan adanya peninggalan – peninggalan.Peninggalan sejarah sangat penting bagi
kehidupan bermasyarakat,selain meninggalkan memorial bersejarah,peninggalan
sejarah juga digunakan sebagai media pembelajaran.
Pembelajaran merupakan suatu proses
perubahan tingkah laku baik aspek kognitif,afektifmaupun psikomotorik.Proses
pembelajaran dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern.Peninggalan sejarah
sebagai faktor ekstern memegang peranan penting.Di Indonesia,sejarah telah
menjadi salah satu mata pelajarah wajib dalamkurikulum Sekolah Dasar
(SD),Sekolah Menengah Pertama (SMP),dan Sekolah Menengah Atas (SMA).Pada
kenyataannya,pengajaran sejarah dibanyak sekolah tak lebih dari transfer ilmu
guru kepada murid melalui komunikasi suatu arah.Murid hanya menjadi obyek pasif
yang hanya memiliki kewajiban untuk menghafal catatan – catatan yang telah
diberikan guru agar bisa menjawab soal – soal yang nantinya akan diujiakan.
Metode pembelajaran seperti tersebut
diatas menjadikan pembelajaran sejarah menjadi membosankan dan
monoton.Peninggalan – peninggalan sejarah dapat digunakan sebagai salah satu
metode alternatif dalam modifikasi pembelajaran sejarah.Bagaimana juga dengan
memanfaatkan peninggalan sejarah sebagai media visula yang bisa menghadirkan
suatu rekaman sejarah,yang kemudian meemberikan sentuhan emosional karena
terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Penggunaan peninggalan sejarah
adalah salah satu peningkatan upaya pembelajaran sejarah.Dengan menggunakan
pembelajaran sejarah yang ada di daerah setempat dapat mempertinggi kualitas
proses belajar yang ada di daerah setempat dapat mempertinggi kualitas proses
belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil kualitas pada
siswa.Pembelajaran dengan menggunakan peninggalan sejarah yang ada di daerah
kabupaten Klungkung ( kurang lebih 40 km ke arah timur dari Denpasar,Bali)
misalnya kebenaran adanya kerajaan Klungkung di Bali,bisa dibuktikan dengan
adanya peninggalan yang sangat beragam,salah satu diantaranya yakini balai
Kertagosa dan Balai Kambang.
Peninggalan sejarah merupakan
cerminan eksistensi masyarakat dalam perjalanan sejarahnya.melalui pemahaman
sejarah,akan diketahui gambaran kekuatan,kelemahan,keberhasilan dan kegagalan
individu.ecara teori dan filosofis pemahaman secara baik akan hal – hal
tersebut,akan menjadi motivasi dalam perbaikan pengajaran sejarah pada
kurikulum pembelajaran.
Dalam makalah ini diuraikan tentang
bagaimanakah sejarah Kerajaan Klungkung dan makna Bale Kertagosa bagi Kerajaan
Klungkung, dan bagaimana cara
memanfaatkan situs peninggalan sejarah
Bale Kertagosa dalam pembelajaran Sejarah.
B.
SEJARAH
KERAJAAN KLUNGKUNG DAN MAKNA TAMAN KERTAGOSA
Kerajaan Klungkung
berdiri bersamaan dengan dibangunnya Kraton Smarapura pada 1686, dan diakhiri
dengan Puputan Klungkung pada 1908. Klungkung mengalami perkembangan dan
pergantian kepemimpinan setelah pembagian kekuasaan. Masa perkembangan Kerajaan
Klungkung terbagi menjadi tiga periode. Periode tersebut adalah
1)
Periode Samprangan (1350-1383) yaitu
ketika pemerintahan berpusat di Srampangan.
2)
Periode Gelgel (1383-1704) diakhiri
dengan tumbangnya patih pemberontak yang memerintah.
3)
Periode Klungkung (1704-1908)
Periode Klungkung
dimulai dari direbutnya kembali kekuasaan atas Gusti Agung Maruti, penguasa
Gelgel terakhir. Ida I Dewa Agung Jambe dengan dibantu I Gusti Ngurah Sidemen
Cerawis yang secara diam-diam bersekutu dengan para pemimpin yang berkuasa di
daerah Buleleng, Badung dan Taman Bali untuk secara bersama-sama menggempur
Gelgel yang dikuasai Kryan Agung Maruti. Dalam peperangan tersebut tentara
Gelgel dapat dikalahkan, kota Gelgel porak-poranda, sementara rakyat Kryan
Agung Maruti melariakn diri ke daerah Jimbaran (Munandar,2005:152-153).
Kemenangan Ida I Dewa Agung Jambe itu memulihkan kembali status dan karisma
dinasti Kresna Kepakisan sebagai penguasa Bali an Lombok. Kemudian atas prakasa
dari Gusti Sidemen, pusat pemerintahan dipindahkan ke desa Klungkung. Nama kraton yang baru ini
adalah Smarajaya. Alasan pemindahan pusat kekuasaan ke daerah Klungkung antara
lain latar belakang argaris, yaitu memiliki areal persawahan yang lebih luas
daripada sebelumnya, letaknya yang strategis (Sidemen dkk., 2001:36-37). Raja
Klungkung oleh para penguasa daerah bali lainnya dianggap memiliki kedudukan
tertinggi diantara mereka. Pernyataan ini dibenarkan oleh laporan R. Friederich
seperti dikutip Munandar (2005) yang berkunjung ke Bali pada paruh ke dua XIX,
dengan menyatakan bahwa tedapat beberapa kerajaan yang merdeka dan berdaulat.
Klungkung memiliki berbagai peninggalan yang
menggambarkan keagungan dan kejayaan di masa lamapu sebagai wilayah yang
memiliki pengaruh besar di kawasan Bali dan Lombok. Berbagi peninggalan masa
kejayaan Klungkung ini seolah menjadi bukti dan saksi sejarah bahwa Kerajaan
Klungkung mengalami kejayaan. Diantara banyak peninggalan Kerajaan Klungkung
yang paling menarik adalah Taman Kertagosa yang meninggalkan banyak nilai-nilai
budaya luhur yang terkandung di dalamnya.
Kertagosa adalah
kompleks bangunan kuno yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Klungkung
pertama, Ida I Dewa Agung Jambe (abad 17). Dia membuat istana (puri) Klungkung
yang diberi nama Semara Pura yang mempunyai makna “ tempat cinta kasih dan
keindahan”. Dalam sejarah Bali abad XVIII-XIX M, menurut Gde Agung dalam
Munandar (2005:41-48) kedudukan puri Klungkung sangat penting. Hal ini
dikarenakan Puri Klungkung menjadi tempat persemayaman Dewa Agung Klungkung
yang secara tradisi dimuliakan sebagai “penguasa yang dihormati di Bali dan
Lombok” (Sidemen:2001). Puri Klungkung sebagai benda cagar budaya di dalamnya
terdapat kandungan-kandungan pesan dan makna dari bnagunan. Ada beberapa makna
puri secara khusus. Makna tersebut antara lain:
1)
Puri sebagai bangunan suci
2)
Puri sebagai tempat persemayaman raja
dan raja sebagai penjelmaan dewa
3)
Puri sebagai pusar kerajaan
(Munandar,2005:169-200)
Di puri inilah terdapat Taman Kertagosa yang
terdiri dari dua bangunan pokok, yaitu Bale Kertagosa dan Bale Kambang atau
Taman Gili.
Bale Kertagosa merupakan bangunan di sebelah
timur laut (kaja kangin) dilingkungan kompleks Puri Klungkung. Model Bangunan
Bale Kertagosa berbentuk bangunan terbuka atau tanpa dinding. Atap bangunan
berbentuk limas sgi empat dan terbuat dari iijuk. Bangunan ini tersusun atas
dua tingkat dan ditopang oleh 20 tiang kayau yang berukir gaya Bali.
Ukiran-ukiran yang tedapat pada tiang kayu bangunan Bale Kertagosa ini dilapisi
cat berwarna keemasan yang menambah keindahan dari ukiran yang terdapat pada
tiang bangunan. Tingkat pertama merupakan suatu tingkat yang berfungsi sebagai
tempat untuk berjalan. Tingkat kedua merupakan tempat yang difungsikan untuk
pengadilan. Pada tingkat ini terdapat enam buah kursi dan sebuah meja persegi
yang berhiaskan ukiran perada.
Adapun fungsi Bale Kertagosa secara khusus
diantaranya sebagai tempat pertemuan bagi raja-raja yang ada di Bali. Pertemuan
yang dimaksud adalah berkumpulnya raja-raja di Bali dalam kaitanya dengan
laporan tentang segala sesuatu ynag berkaitan dengan pemerintahan raja-raja
terhadap masing-masing wilayahnya, yang sreing dikatakan Kertagosa sebagai
tempat sidang para raja di Bali. Hal ini dibenarkan oleh pernyataan Munandar
yang didukung oleh laporan R. Friederich yang mengatakan bahwa raja-raja
Klungkung oleh para penguasa daerah Bali lainnya dianggap memiliki kedudukan
tertinggi diantara mereka. Bale Kertagosa ternyata juga pernah difungsikan
sebagai balai sidang pengadian selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda
di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkanya pejabat pribumi menjadi kepala
daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun
1929.
Satu hal yang menarik
dari Bale Kertagosa adalah adanya lukisan yang terdapat di langit-langit
bangunan Bale Kertagosa. Lukisan-lukisan yang ada di langit-langit merupakan
lukisan Bali tradisional dengan gaya kemasan. Lukisan di Bale Kertagosa terbagi
menjadi sembilan tingkatan (petak) dan memiliki cerita berbeda (Warsika,
1986:5).
1)
Petak pertama adalah cerita Tantri
Kandaka, yakni kisah tentang tipu muslihat dalam kehidupan masyarakat.
2)
Petak kedua dan ketiga bercerita tentang
Atma Presangsa, yakni tentang penderitaan roh di neraka yang ditemukan oleh
Bima dalam perjalanan mencari roh ayah
dan ibunya. Cerita ini merupakan cerita paling populer dan menjadi ciri khas
dari bale tersebut (Warsika, 1986:11). Ini dikenal juga dengan Karmapala (hukm
karma).
3)
Petak keempat menggambarkan tentang sang
garuda mencari Amerta , yang diambil dari Adiparwa.
4)
Petak kelima tentang Palelindon (gempa),
yaitu ciri dan arti atau makna terjadinya gempa bumi secara mitologis.
5)
Petak keenam dan ketujuh tentang cerita
Bima bertemu dengan para Dewa dari khayangan.
6)
Petak kedelapan tentang surga bagi roh
roh. Di deretan terakhir ditempati oleh gambaran tentang kehidupan Nirwana.
Ditinjau
dari segi isi, meliputi tema, makna dan lambang, lukisan-lukisan kamasan di
puri klungkung secara umum bertema tentang ajaran-ajaran Hindu, serta beberapa
kisah dalam lontar/rontal, kitab, serat, kakawin, dan kepercayaan-kepercayaan
masyarakat bali. Dari cerita yang digambarkan, lukisan kamasan memiliki makna
sebagai salah satu sumber pengetahuan atau pendidikan dan sebagai pedoman
hidup. Sedangkan fungsinya adalah untuk mengenang jasa-jasa para leluhur,
memahami ajaran-ajaran keagamaan, hiasan upacara serta sebagai media
pelestarian kebudayaan di Bali. Melihat tema yang diangkat dalam lukisa Kamasan
hal ini menunjukan bahwa unsur agama, dalam hal ini adalah agama Hindu menjadi
satu faktor ekstraestetis yang sangat sentral dalam lukisan kamasan.
Lukisan-lukisan di atap Bale Kertagosa mudah dilihat bagi siapapun yang berada
di dalamnya. Bentuk atap (langit-langit) dengan posisi kemiringan sekitar 40-45
derajat di bagian dalam, dan sekitar 15-20 derajat dibagian luar akan dengan
mudah dipandang bagi siapapunyang berada di dalamnya.
C.
PEMANFAATAN
TAMAN KERTAGOSA DALAM PEMBELAJARAN
Belajar pada
dasarnya merupakan proses suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah
laku baik berupa pengetahuan,ketrampilan maupun sikap pada diri siswa akibat
dari latihan,penyesuaian maupun pengalaman.Proses perubahan tingkah laku siswa
di sekolah,mahasiswa di kampus,bahkan peserta pelatihan dan workshop sekalipun
nampak dalam beberapa kegiatan,seperti membaca,merangkum, bertanya dan
berlatih, mengerjakan tugas – tugas dan aktifitas lainnya. Dimana palaksanaanya
belajar tersebut tidak sebatas oleh
ruang dan waktu. Sebab belajar juga dapat di laksanakan di luar sekolah pada
waktu yang ditetapkan secara formal.
Sumber belajar
sebagai suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran memiliki fungsi
sebagai berikut :
a.
meningkatkan produktifitas
pembelajaran.hal ini dapat dilakukan dengan jalan :
-
Mempercepat
laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik.
-
mengurangi
beban guru dalam menyajikan informasi,sehingga dapat lebih banyak membina dan
mengembangkan semangat belajar.
b.
Memberikan kemungkinan pembelajaran yang
sifatnya lebih individual sehingga akan lebih meningkatkan kemampuan individual
siswa ini dilakukan dengan cara :
-
Mengurangi control guru dan tradisional
sehingga siswa dapat dengan aktif belajar secara mandiri
-
Memberikan kesempatan begi siswa untuk
berkembang sesuaidengan kemampuannya
c.
Memberikan dasar yang lebih ilmiah
terhadap pembelajaran dengan cara perancang program pembelajaran yang lebih
sistematis,dan pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
d.
Lebih memantabkan pembelajaran karena
pembelajaran akan menjadi konkret.
e.
Memungkinkan belajar secara seketika,hal
ini dapat dilakukan dengan cara :
-
Mengurangi kesenjangan antara
pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya
konkret.
-
Memberikanpengetahuan yang sifatnya
langsung.
f.
Memungkinkan penyajian pembelajaran yang
lebih luas dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis yang
menyulitkan.
Dalam
kegiatan pembelajaran,terasa membosankan dan monoton apabila hanya dilakukan di
dalam kelas saja.Oleh kerena itu guru dituntut tidak hanya mendayagunakan
sumber belajar yang ada di sekolah,tetapi juga mempelajari berbagai sumber yang
ada di lingkungan sekitar.
Masalah yang sering ditemui pada siswa sekolah yaitu
kurangnya antusiasme dan pemahaman siswa pada pelajaran sejarah,Sehingga guru
harus memiliki inisiatif melakukan pembelajaran di luar sekolah dengan
memanfaatkan Bale Kertagosa di kabupaten Klungkung ,Bali sebagai media belajar
sejarah.Pemanfaatan situs sejarah Bale Kertagosa merupakan cara baru dalam
pembelajaran sejarah yang dilakukan di luar sekolah.Dengan memanfaatkan situs
sejarah Bale Kertagosa yang berada di Klungkung,Bali maka guru dapat
mengajarkan arti dari pembelajaran sejarah yang lebih nyata,karena menggunakan
cerita sejarah yang terkandung di dalam Bale Kertagosa tersebut.Selain itu
pembelajaran disana lebih akan bermakna,sebab siswa lebih akan dapat menangkap
secara konkrit,memahami dan mengamati sumber secara langsung.Siswa juga lebih
mampu menyerap materi yang disajikan guru dengan baik.Oleh karena itu guru
perlu menerapkan pembelajaran sejarah dengan metode observasi lapangan.
Ada dua tujuan yang bisa dicapai dengan menerapkan metode ini :
a. Edukatif,dengan mengunjungi
tempat-tempat bersejarah maka siswa bisa lebih mendalami materi yang sedang
dipelajari, bahkan bisa mendapat informasi yang lebih daripada hanya membaca
buku atau mendengarkan informasi dari guru.
b. Rekreatif,selain
mendapat pengetahuan, siswa juga bisa berekreasi melepaskan diri dari kepenatan
bahkan bisa lebih mengakrabkan diantara siswa.
Indikator
bahwa Bale Kertagosa berpotensi untuk menjadi salah satu media pembelajaran
sejarah.Hal ini karena kegiatan observasi yang dilakukan oleh mahasiswa dapat
memunculkan suatu gagasan atau ide baru sebab pada kegiatan ini bisa dirangsang
untuk menggunakan kemampuan dalam berpikir kritis.Sehingga ada beberapa manfaat
terkait pemanfaatan museum sebagai sumber pembelajaran.
1.
kemampuan mengenal persamaan dan
perbedaan pada objek yang diamati.Kemampuan ini misalnya apabila siswa dibawa
ke Bale Kertagosa maka ia akan memberi perbedaan – perbedaan dan persamaan –
persamaan antara dua hal melalui penelitian yang dilakukannya.
2.
Kemampuan mengidentifikasi dan
mengelompokan objek yang diamati pada kelompok seharusnya.Misalnya ketika
dibawa ke Bale Kertagosa maka siswa akan ditunjukan benda – benda yang
dikelompok – kelompokan dalam suatu ruangan tertentu.
3.
Kemampuan menyampaikan deskripsi secara
lisan dan tulisan berkenan ini dengan objek yang diamati.Siswa yang mampu
menyampaikan gambarana apa yang dia lihat dan diamati sehingga siswa tidak
hanya mendapat informasi dari buku akan tetapi juga dapat membuktikan kebenarannya
melalui benda – benda yang diamati.
4.
Kemampuan untuk mempraktikan apa yang
terjadi berkenan dengan objek yang di amati.Siswa yang akan memprediksi apa
yang terjadi pada suatu objek yang diamati misalnya ketika masyarakat Klungkung
mempercayai lukisan-lukisan di
langit-langit Kerta Gosa menawarkan pelajaran rohani yang berharga. Jika
seseorang melihat hal ini secara rinci, pada setiap bagian langit-langit
menceritakan cerita yang berbeda, terdapat satu bagian yang bercerita tentang
karma dan reinkarnasi, dan bagian lain menggambarkan setiap fase kehidupan
manusia dari lahir sampai mati.
5.
Kemampuan membuat kesimpulan dari
informasi yang diperoleh di bale Kertagosa dalam sebuah laporan layaknya
seorang peneliti yang harus mengumumkan hasil penelitiannya pada masyarakat
luas.
Dengan
mengunjungi situs sejarah di Bale Kertagosa sebagai pembelajaran sejarah ini,bisa
menjadikan para siswa muncul jiwa nasionalismenya,rasa kebanggaan terhadap ragam
nilai budaya dan sejarah yang dimiliki bangsanya,dan memiliki tekad
untuk mempertahankannya.
Mereka akan memahami
betapa berharganya situs situs sejarah bagi suatu bangsa,karena ini akan
memunculkan ingatan kenangan masa lalu,ketika para pejuang yang begitu gigihnya
dalam mempertahankan situs sejarah ini akan dikuasai oleh para penjajah.Oleh
karena itu kita sebagai generasi penerus hendaknya meneruskan perjuangannya
dalam menjaga dan mempertahankan Bale Kertagosa sebagai situs warisan sejarah
bangsa.
Setiap
metode pembelajaran yang diterapkan,didalamnya memilki kelebihan dan
kelemahan.Penerapan metode observasi dalam pembelajaran sejarah memang
baik,karena itu siswa dapat langsung melihat obyek kajian dan lebih bisa
memahami tentang informasi mengenai situs sejarah Bale Kertagosa.Namun dalam
melakukan metode ini terdapat berbagai hambatan – hambatannya,diantaranya :
memerlukan biaya yang banyak untuk melakukan observasi di Bale Kertagosa,jarak
yang jauh,waktu yang panjang,dan terkadang sulit mengordinasinya.Namun masih
ada jalan lain untuk para guru dalam mengenalkan Bale Kertagosa sebagai situs
sejarah,yaitu dengan cara guru menghadirkan rekaman baik video atau gambar yang
berhubungan dengan Bale Kertagosa di bawa ke dalam kelas.Dengan begitu maka
siswa dapat mengetahui objek Bale Kertagosa,walaupun tidak secara langsung.
D. PENUTUP
1.
Simpulan
Balai
kertagosa adalah sebuah balai pengadilan yang dapat dijadikan sebuah media
pembelajaran sejarah, hal ini karena balai kertagosa sendiri menyimpan banyak
sekali sumber-sumber sejarah yang amat sangat nyata bagi pembelajaran sejarah
yang kemudian mampu digunakan untuk mendukung pembelajaran sejarah.misalnya
mengenai lukisan yang ada dilangit-langit balai kertagosa yang mampu memberikan
informasi yang gamblang kepada para pengunjung mengenai gambaran kerajaan bali
pada jaman dahulu.
Upaya
yang dapat dilakukan oleh siswa atau mahasiswa melalui kegiatan dan kunjungan
ke Bali Kertagosa, diantaranya:
a.
Kunjungan ke Balai Kertagosa ini penting
dilakukan untuk menambah pengetahuan mahasiswa mengenai pariwisata dan dampak
ekonomi bagi masyarakat sekitarnya yang tentunya saling berhubungan satu dengan
yang lainnya.
b.
Agar benar- benar memahami seluk beluk
Balai Kertagosa sebelum diadakan kunjungan sebaiknya dilakukan pembekalan
terlebih dahulu agar mengerti gambaran umum balai kertagosa itu sendiri.
c.
Selain brosur, pamflet dan katalog
mengenai gambaran umum Balai Kertagosa haruslah ada agar dapat membimbing
mahasiswa dan sebagai bahan rujukan untuk pembelajarannya kelak.
2.
Saran
Kertagosa
sebagai bahan atau media pembelajaran hendaknya memberikan informasi yang
lengkap dan terperinci. Agar tujuan tersebut dapat tercapai diperlukan upaya
yang dilakukan pihak balai kertagosa untuk menjadikannya layak dijadikan
sebagai acuan untuk pembelajaran, sebagai berikut:
a.
Dengan mengacu pada perkembangan
teknologi informasi maka setidaknya pihak pengelola menyediakan panel informasi
untuk menunjang keingintahuan siswa atau mahasiswa mangenai objek kajian selain
di dapat dari narasumber. Panel tersebut disajikan dengan menarik dengan
keterangan semenarik mungkin.
b.
Mengenai brosur, pamflet dan katalog
disajikan sesuai dengan usia dan kebutuhannya sehingga pemanfaatannya tepat
guna.
c.
Perlu adanya permainan yang ditujukan
agar kajian serasa tidak monoton hanya dari narasumber saja serta harus lebih
variatif sehingga lebih menarik untuk dipelajari.
Diperlukan adanya
koordianasi yang baik dari semua pihak untuk mengkondisikan objek kajian agar
tidak melenceng jauh dari yang direncanakan. Sehingga pemanfaatan dari obejak
kajian sejarah tersebut diatas juga bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin, agar
mampu memanfaatkan sumber-sumber sejarah yang di sajikan oleh balai kertagosa
sendiri. Dan bagi balai kertagosa mampu memberikan informasi yang diperlukan
untuk menunjang jalannya pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Aris Munandar.
2005. Istana Dewa Pulau Dewata; Makna
Puri Bali abad ke 14-19. Jakarta: Komunitas Bambu.
Sidemen, Ida Bagus dkk.
2001. Sejarah Klungkung; Dari Smarapura
sampai Puputan. Klungkung: Pemerintah Kabupaten Klungkung.
Warsika, I Gst. Made.
1986. Kertha Gosa Selayang Pandang.
Klungkung: Pemerintah Daerah Tingkat II Klungkung.
Website :
http://lib.unnes.ac.id/15292/ (diunduh 30 mei
2013 )
http://history1978.wordpress.com/2011/05/05/belajar-sejarah-sambil-rekreasi/
(diunduh 07 juni 2013)

No comments:
Post a Comment