Melihat Realita
Pembelajaran Sejarah di MA Al-Asror
Oleh
: Riwan Sutandi (31014120 ), Budiono
(3101412098)
Mahasiswa
Pendidikan Sejarah angkatan 2012
Abstrak
Selain sebagai pemenuhan tugas
Psikologi Pendidikan tetapi juga sebagai
usaha kami meningkatkan pemahaman kami tentang pembelajaran sejarah, dan
melihat realita yang sesungguhnya berkaitan dengan masalah pendidikan Khususnya
pendidikian Sejarah di MA Al Asror sebagai sampel. Dalam teknik pengumpulan
data ini dengan metode wawancara mendalam dan personal dengan guru Mapel (mata
pelajaran) dan siswa yang dipilih dengan randown
sampling. Setiap sekolah dalam pembelajaran sejarah pasti terdapat masalah
yang harus di hadapi. Masalah ini merupakan sebagai tantangan tersendiri bagi sekolah dan pendidik mata
pelajaran sejarah. Sebagai seorang pendidik harus berusaha mencari solusi.
Dengan mengunakan analisis Teori Psikologi sebagai dasar menguak Realita
pembelajaran sejarah di MA Al Asror patemon. Kami berusaha mencari alternatif
solusi untuk dapat digunakan dalam permasalahan pembelajaran Sejarah di MA Al
Asror.
Kata Kunci :
Realita, Pembelajaran, Sejarah
A.
Pendahuluan
Berbagai maasalah yang dihadapi
sekolah dalam pembelajaran sejarah yang kami peroleh dari pengamatan Observasi
kami di MA AL Asror, patemon. Selain sebagai
pemenuhan tugas Psikologi Pendidikan tetapi juga sebagai usaha kami meningkatkan kepahaman
kami tentang pembelajaran sejarah, dan melihat realita yang sesungguhnya
berkaitan dengan masalah pendidikan Khususnya pendidikian Sejarah di MA Al
Asror sebagai sampel. Dalam teknik pengumpulan data ini dengan metode wawancara
mendalam dan personal dengan guru Mapel (mata pelajaran) dan siswa yang dipilih
dengan randown sampling. Alasan
pemilihan lokasi pengamatan Observasi MA Al Asror patemon, berdasarakan kemudahan keterjangkauan lokasi
Observasi, hal ini dikarenakan ketersedian waktu yang kami (peneliti) miliki terbatas, karena
harus mengikuti rutinitas kuliah. Meskipun demikian dengan kerjasama dari
berbagai peihak dari Jurusan sejarah FIS UNNES yang telah dibuatakan suarat
observasi, dan pihak MA Al Asror yang telah
terbuka menerima, dan memberikan kebebasan kami melakauakan pengamatan
Observasi, kami ucapkan trimaksih. Semoga loporan observasi ini bermanfaat bagi
kami secara Khusus dan kepada semua pihak.
Pembelajaran sejarah sebagai
sub-sistem dari sistem kegiatan pendidikan, merupakan sarana yang efektif untuk
meningkatkan integritas dan kepribadian bangsa melalui proses belajar mengajar.
Keberhasilan ini akan ditopang oleh berbagai komponen, termasuk kemampuan dalam
menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Sistem kegiatan
pendidikan dan pembelajaran adalah sistem kemasyarakatan yang kompleks,
diletakkan sebagai suatu usaha bersama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan
dalam rangka untuk membangun dan mengembangkan diri (Bela H. Banathy, 1992 :
175).
Pembelajaran sejarah sebagai
pelaksanaan pendidikan sejarah memiliki
arti setrategis dalam pencapai tujuan
pendidikan nasional. Sayangnya pembelajaran sejarah belum dapat memainkan
peranya secara optimal (Swito Eko. 2012). Pembelajaran belum dilaksanakan
berdasarkan konsep-konsep pendidikan sejarah yang tepat. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal yaitu faktor dari dalam diri siswa dalam menerima materi pelajaran
sejarah, hal ini berkaitan dengan motivasi siswa terhadap pelajaran sejarah.
Faktor eksternal yang mempengaruhinya adalah faktor lingkungan, lingkungan dimana
siswa menerima pelajaran sejarah berkaitan dengan pendidik, dan sarana
prasarana sekolah. Peran seorang pendidik dalam pembelajaran sejarah
sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan pembelajaran sejarah sebagai strategi dalam
mencapai tujuan pendidikan nasional. Namun dalam relita lapangan masih banyak
ditemukan berbagai masalah yang berkaitan pembelajaran sejarah entah itu guru Mapel
(mata pelajaran) yang tidak sesuai dengan bidang studinya, maupun jumlah guru Mapel
(mata pelajaran) yang terbatas. Di MA Al Asror patemon, hal seperti ini juga
masih ditemukan seorang pendidik mata pelajaran sejarah yang bukan bidang
studinya yaitu bidang studi Bahasa Jawa mengampu mata pelajaran sejarah. Selain itu jumlah pendidik atau
guru mata pelajaran sejarah hanya ada 2
(dua) pendidik guru sejarah, yang salah satu guru itu mendapat tugas
tambahan menjadi Kepala Sekolah.
Peran pendidik dalam pembelajaran
sejarah sangat dibutuhkan untuk menciptakan perencanaan pembelajaran sejarah
yang efektif dan efisien, dengan
mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Meskipun dalam pemebelajaran sejarah tidak ada metode ideal yang paling
sempurna dan konsisten, seorang pendidik
harus siap dan mampu menyiapkan metode pembelajaran sewaktu-waktu ketika dibutuhkan.
Seperti yang dilakukan sekolah MA Al
Asror patemon, yang mempunyai program jurusan yaitu program IPA dan program
IPS, siswa IPA dan IPS mempunyai karakter yang berbeda. Program IPA mempunyai
karakter lebih aktif dan suka beajar termasuk mata pelajaran sejarah dengan
keterbatsan waktu, seminggu 1 kali pertemuan tidak menjadi kendala dalam
mencapai target pembelajaran sejarah. Sedangkan karakteristik siswa IPS yang
lebih suka belajar dengan teknik diskusi dan materi visual besic (seperti melihat Film/videos, gambar-gambar),
kebanyakan metode yang digunakan pendidik adalah interaktif di kelas analisi,
diskusi tanya jawab, dan nonton film/video.
Materi mata pelajaran sejarah antara
program IPA dan IPS berbeda, progaram IPA hanya mempelajari sejarah umum, yang tidak
sedetail progaram IPS. Sehingga waktu yang diberikan untuk program IPA hanya 1
kali pertemuan dalam 1 minggu, sedangkan program IPS 3 kali pertemuan dalam 1
minggu. Untuk progaram IPS alokasi waaktu yang di berikan adalah 3 kali dalam
seminggu, hal ini yang membuat peserta didik menjadi bosan, ada kesan
menyepelekan mata pelajaran dan sering tidak memperhatikan pendidik atau guru.
Berbagai maasalah yang dihadapi sekolah
dalam pembelajaran sejarah yang kami peroleh dari pengamatan Observasi kami di
MA Al Asror, patemon merupakan sebagai sempel kecil. Harapan kami pengamatan
observasi ini akan memberikan manfaat bagi kami, sebagai calon pendidik mata
pelajaran sejarah. Menjadikan semanagat kepada kami untuk selalu belajar,
menyiapkan metode belajar yang sesui dengan tantangan kedepanya.
B.
Analisis
Teori
1.
Teori
perkembangan psikososial
Teori
perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam
psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang
dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan
psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah
perasaan sadar yang dikembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson,
perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang
kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa
kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi
positif, ketika itu mampu di arahkan dengan baik. http://desyandri.wordpress.com/2014/01/21/teori-perkembangan-psikososial-erik-erikson/
Bila ini ditarik pada pembelajaran
sejarah di MA Al Asror, lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap
perkembangan peserta didik. Interaksi sosial yang terbentuk di MA Al Asror,
Patemon adalah antara pendidik dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa.
Motivasi siswa terhadap mata pelajaran sejarah antusiasme siswa yang ditunjukan
siswa program IPA yang mempunyai karakter lebih aktif dan suka beajar pelajaran
sejarah dengan keterbatsan waktu, seminggu 1 kali pertemuan tidak menjadi
kendala dalam mencapai target pembelajaran sejarah. Meskipun materi tidak dapat
disampaikan semua oleh pendidik siswa progaram IPA tetap belajar, menurut kami
dikarenakan oleh lingkungan dari peserta didik sudah menanamkan semangat belajar.
Informasi dan pengatuhan yang diterima siswa progaran IPA hasil dari interaksi
sosial dapat memberikan pesan positif. Lingkungan kelas memberikan suasana
belajar. Sedangkan siswa progaram IPS
alokasi waktu yang di berikan adalah 3 kali dalam seminggu, membuat peserta
didik menjadi bosan, ada kesan menyepelekan mata pelajaran sejarah dan sering
tidak memperhatikan pendidik atau guru ketika menyampaikan materi pelajaran.
Masalah yang dihadapi MA Al Asror pada siswa program IPS adalah kurangnya
ditubuhkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran sejarah. Selaian ini juga
lingkungan kelas pada program IPS kurang kondusif. Karena motivasi siswa tadi
kurang tehadap mata pelajaran sejarah, mata pelajaran sejarah di anggap tidak
penting.
2.
Teori
behavioristik
Teori
belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan
Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori
ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap
arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal
sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku
yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin,
2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan
perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah
input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa
saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau
tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses
yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena
tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus
dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa
yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. http://kajianpsikologi.blogspot.com/p/teori-belajar-behavioristik.html
Seorang pendidik harus
berusaha memberikan stimulus kepada peserta didik untuk selalu belajar, dan
berusaha memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Dengan adanya
setimulus dan pengalaman inilah akan memberikan perubahan perilakau dan sikap
pada peserta didik. Pendidik tidak hanya tranfer pengetahuan melaainkan juga
teranfer nilai-nilai. Setimulus dan
respon yang terjadi, hasilnya dapat diketahui perubahan pada perilaku peserta
didik. Pada MA Al Asror teknik diskusi dan materi visual besic (seperti melihat Film/videos, gambar-gambar),
kebanyakan metode yang digunakan pendidik adalah interaktif di kelas analisi,
diskusi tanya jawab, dan nonton film/video, merupakan bentuk bentuk usaha
seorang pendidik dalam menciptakan pengalaman belajar. Pengalam belajar bisa
kita ketahui bagaimna perubahan pada peserta didik ketika peserta didik sering
berdiskusi, berbicara mengemukakan pendapat, menganalisi tentunya akan
membentuk peserta didik yang cakap dan kritis.
C.
Simpulan
Bangsa
yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya, beranjak dari
kalimat tersebut maka pelajaran sejarah tidak dapat di sepelekan.

No comments:
Post a Comment