About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Tuesday, 1 July 2014

Observasi Psikologi Pendidikan di MA Al-Asror

Melihat Realita Pembelajaran Sejarah di MA Al-Asror
Oleh : Riwan Sutandi (31014120  ), Budiono (3101412098)
            Mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2012
Abstrak
            Selain sebagai pemenuhan tugas Psikologi Pendidikan tetapi juga  sebagai usaha kami meningkatkan pemahaman kami tentang pembelajaran sejarah, dan melihat realita yang sesungguhnya berkaitan dengan masalah pendidikan Khususnya pendidikian Sejarah di MA Al Asror sebagai sampel. Dalam teknik pengumpulan data ini dengan metode wawancara mendalam dan personal dengan guru Mapel (mata pelajaran) dan siswa yang dipilih dengan randown sampling. Setiap sekolah dalam pembelajaran sejarah pasti terdapat masalah yang harus di hadapi. Masalah ini merupakan sebagai tantangan  tersendiri bagi sekolah dan pendidik mata pelajaran sejarah. Sebagai seorang pendidik harus berusaha mencari solusi. Dengan mengunakan analisis Teori Psikologi sebagai dasar menguak Realita pembelajaran sejarah di MA Al Asror patemon. Kami berusaha mencari alternatif solusi untuk dapat digunakan dalam permasalahan pembelajaran Sejarah di MA Al Asror.
Kata Kunci : Realita, Pembelajaran, Sejarah

A.    Pendahuluan
            Berbagai maasalah yang dihadapi sekolah dalam pembelajaran sejarah yang kami peroleh dari pengamatan Observasi kami di MA AL Asror, patemon.  Selain sebagai pemenuhan tugas Psikologi Pendidikan tetapi juga  sebagai usaha kami meningkatkan kepahaman kami tentang pembelajaran sejarah, dan melihat realita yang sesungguhnya berkaitan dengan masalah pendidikan Khususnya pendidikian Sejarah di MA Al Asror sebagai sampel. Dalam teknik pengumpulan data ini dengan metode wawancara mendalam dan personal dengan guru Mapel (mata pelajaran) dan siswa yang dipilih dengan randown sampling. Alasan pemilihan lokasi pengamatan Observasi MA Al Asror patemon,  berdasarakan kemudahan keterjangkauan lokasi Observasi, hal ini dikarenakan ketersedian waktu  yang kami (peneliti) miliki terbatas, karena harus mengikuti rutinitas kuliah. Meskipun demikian dengan kerjasama dari berbagai peihak dari Jurusan sejarah FIS UNNES yang telah dibuatakan suarat observasi,  dan pihak MA Al Asror yang telah terbuka menerima, dan memberikan kebebasan kami melakauakan pengamatan Observasi, kami ucapkan trimaksih. Semoga loporan observasi ini bermanfaat bagi kami secara Khusus dan kepada semua pihak.
            Pembelajaran sejarah sebagai sub-sistem dari sistem kegiatan pendidikan, merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan integritas dan kepribadian bangsa melalui proses belajar mengajar. Keberhasilan ini akan ditopang oleh berbagai komponen, termasuk kemampuan dalam menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Sistem kegiatan pendidikan dan pembelajaran adalah sistem kemasyarakatan yang kompleks, diletakkan sebagai suatu usaha bersama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dalam rangka untuk membangun dan mengembangkan diri (Bela H. Banathy, 1992 : 175).
            Pembelajaran sejarah sebagai pelaksanaan pendidikan  sejarah memiliki arti setrategis  dalam pencapai tujuan pendidikan nasional. Sayangnya pembelajaran sejarah belum dapat memainkan peranya secara optimal (Swito Eko. 2012). Pembelajaran belum dilaksanakan berdasarkan konsep-konsep pendidikan sejarah yang tepat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor dari dalam diri siswa dalam menerima materi pelajaran sejarah, hal ini berkaitan dengan motivasi siswa terhadap pelajaran sejarah. Faktor eksternal yang mempengaruhinya adalah faktor lingkungan, lingkungan dimana siswa menerima pelajaran sejarah berkaitan dengan pendidik, dan  sarana  prasarana sekolah. Peran seorang pendidik dalam pembelajaran sejarah sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan pembelajaran sejarah sebagai strategi dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Namun dalam relita lapangan masih banyak ditemukan berbagai masalah yang berkaitan pembelajaran sejarah entah itu guru Mapel (mata pelajaran) yang tidak sesuai dengan bidang studinya, maupun jumlah guru Mapel (mata pelajaran) yang terbatas. Di MA Al Asror patemon, hal seperti ini juga masih ditemukan seorang pendidik mata pelajaran sejarah yang bukan bidang studinya yaitu bidang studi Bahasa Jawa mengampu mata pelajaran   sejarah. Selain itu jumlah pendidik atau guru mata pelajaran sejarah hanya ada 2  (dua) pendidik guru sejarah, yang salah satu guru itu mendapat tugas tambahan menjadi Kepala Sekolah.
            Peran pendidik dalam pembelajaran sejarah sangat dibutuhkan untuk menciptakan perencanaan pembelajaran sejarah yang efektif dan efisien,  dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, dengan kelengkapan  sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Meskipun dalam pemebelajaran sejarah tidak ada metode ideal yang paling sempurna  dan konsisten, seorang pendidik harus siap dan mampu menyiapkan metode pembelajaran sewaktu-waktu ketika dibutuhkan. Seperti yang dilakukan sekolah  MA Al Asror patemon, yang mempunyai program jurusan yaitu program IPA dan program IPS, siswa IPA dan IPS mempunyai karakter yang berbeda. Program IPA mempunyai karakter lebih aktif dan suka beajar termasuk mata pelajaran sejarah dengan keterbatsan waktu, seminggu 1 kali pertemuan tidak menjadi kendala dalam mencapai target pembelajaran sejarah. Sedangkan karakteristik siswa IPS yang lebih suka belajar dengan teknik diskusi dan materi visual besic (seperti melihat Film/videos, gambar-gambar), kebanyakan metode yang digunakan pendidik adalah interaktif di kelas analisi, diskusi tanya jawab, dan nonton film/video.
            Materi mata pelajaran sejarah antara program IPA dan IPS berbeda, progaram IPA hanya mempelajari sejarah umum, yang tidak sedetail progaram IPS. Sehingga waktu yang diberikan untuk program IPA hanya 1 kali pertemuan dalam 1 minggu, sedangkan program IPS 3 kali pertemuan dalam 1 minggu. Untuk progaram IPS alokasi waaktu yang di berikan adalah 3 kali dalam seminggu, hal ini yang membuat peserta didik menjadi bosan, ada kesan menyepelekan mata pelajaran dan sering tidak memperhatikan pendidik atau guru.
            Berbagai maasalah yang dihadapi sekolah dalam pembelajaran sejarah yang kami peroleh dari pengamatan Observasi kami di MA Al Asror, patemon merupakan sebagai sempel kecil. Harapan kami pengamatan observasi ini akan memberikan manfaat bagi kami, sebagai calon pendidik mata pelajaran sejarah. Menjadikan semanagat kepada kami untuk selalu belajar, menyiapkan metode belajar yang sesui dengan tantangan kedepanya.

B.     Analisis Teori
1.      Teori perkembangan psikososial
                        Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang dikembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, ketika itu mampu di arahkan dengan baik. http://desyandri.wordpress.com/2014/01/21/teori-perkembangan-psikososial-erik-erikson/   Bila ini ditarik pada pembelajaran sejarah di MA Al Asror, lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik. Interaksi sosial yang terbentuk di MA Al Asror, Patemon adalah antara pendidik dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa. Motivasi siswa terhadap mata pelajaran sejarah antusiasme siswa yang ditunjukan siswa program IPA yang mempunyai karakter lebih aktif dan suka beajar pelajaran sejarah dengan keterbatsan waktu, seminggu 1 kali pertemuan tidak menjadi kendala dalam mencapai target pembelajaran sejarah. Meskipun materi tidak dapat disampaikan semua oleh pendidik siswa progaram IPA tetap belajar, menurut kami dikarenakan oleh lingkungan dari peserta didik sudah menanamkan semangat belajar. Informasi dan pengatuhan yang diterima siswa progaran IPA hasil dari interaksi sosial dapat memberikan pesan positif. Lingkungan kelas memberikan suasana belajar.  Sedangkan siswa progaram IPS alokasi waktu yang di berikan adalah 3 kali dalam seminggu, membuat peserta didik menjadi bosan, ada kesan menyepelekan mata pelajaran sejarah dan sering tidak memperhatikan pendidik atau guru ketika menyampaikan materi pelajaran. Masalah yang dihadapi MA Al Asror pada siswa program IPS adalah kurangnya ditubuhkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran sejarah. Selaian ini juga lingkungan kelas pada program IPS kurang kondusif. Karena motivasi siswa tadi kurang tehadap mata pelajaran sejarah, mata pelajaran sejarah di anggap tidak penting.

2.      Teori behavioristik
                        Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
                        Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. http://kajianpsikologi.blogspot.com/p/teori-belajar-behavioristik.html
                        Seorang pendidik harus berusaha memberikan stimulus kepada peserta didik untuk selalu belajar, dan berusaha memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Dengan adanya setimulus dan pengalaman inilah akan memberikan perubahan perilakau dan sikap pada peserta didik. Pendidik tidak hanya tranfer pengetahuan melaainkan juga teranfer nilai-nilai.  Setimulus dan respon yang terjadi, hasilnya dapat diketahui perubahan pada perilaku peserta didik. Pada MA Al Asror teknik diskusi dan materi visual besic (seperti melihat Film/videos, gambar-gambar), kebanyakan metode yang digunakan pendidik adalah interaktif di kelas analisi, diskusi tanya jawab, dan nonton film/video, merupakan bentuk bentuk usaha seorang pendidik dalam menciptakan pengalaman belajar. Pengalam belajar bisa kita ketahui bagaimna perubahan pada peserta didik ketika peserta didik sering berdiskusi, berbicara mengemukakan pendapat, menganalisi tentunya akan membentuk peserta didik yang cakap dan kritis.

C.    Simpulan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya, beranjak dari kalimat tersebut maka pelajaran sejarah tidak dapat di sepelekan.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...