MATERI
POKOK PEMBELAJARAN SEJARAH
INDONESIA
BARU II
A. kondisi
berbagai kerajaan di Nusantara akibat penetrasi VOC (1701 – 1800)
PENYEBAB:
·
Penetrasi terhadap berbagai kerajaan di nusantara
dilakukan karena yang menguasai perdagangan dan pelabuhan dagang adalah pihak
kerajaan.
·
Ingin memonopoli perdagangan di wilayah nusantara.
Kondisi berbagai kerajaan di nusantara akibat penetrasi VOC adalah daerah
kekuasaan semakin sempit. Hal ini terjadi karena adanya perjanjian yang terjadi
antara VOC dengan berbagai kerajaan di nusantara. Sebagai contoh adalah
Kerajaan Banten yang harus melepaskan haknya atas Cirebon dan penguasa Banten
yang sesungguhnya adalah VOC. Daerah kekuasaan Kerajaan Gowa juga hanya Gowa,
wilayah Bone dikembalikan pada Aru Palaka. Diserahkannya daerah Kerawang,
Priangan, Semarang dan sekitarnya kepada VOC juga membuat wilayah Mataram
semakin menyempit.
Selain itu kerajaan juga mengalami kerugian karena mereka
harus mengganti biaya perang seperti yang dialami oleh Kerajan Mataram sebagai konsekuensi
dari perjanjian yang ditanda tangani oleh Amangkurat II. Kerajaan Gowa juga
bernasib sama. Kerajaan tersebut harus mengganti kerugian perang sebesar
250.000 ringgit seperti yang tertuang dalam Perjanjian Bongaya yang terpaksa
harus ditanda tangani oleh Suiltan Hasanudin. Selain karena harus mengganti
kerugian perang, kerajaan juga mengalami kerugian karena pendapatan mereka juga
menurun sebagai akibat dimonopolinya perdagangan oleh pihak VOC.
B.
Perkembangan Politik VOC di Nusantara & Perpecahan Mataram
Dalam perkembangannya politik VOC di
nusantara yaitu dengan adanya hal istimewa yang diberikan pemerintah Belanda
terhadap VOC yaitu hak oktroi, dengan adanya hak tersebut VOC dapat mengatur
dengan baik kongsi dagang di daerah kekuasaannya termasuk Mataram, Perpecahan
Mataram juga di dalangi VOC dengan cara mengadu domba diantara penguasa
mataram, dan puncaknya yaitu perebutan tahta raja di mataram, dengan adanaya
perpecahan tersebut maka mataram dapat dikuasai oleh VOC dan dibagi menjadi dua
wilayah yaitu kesultanan Surakarta dan Yogyakarta.
C. Terbentuknya pemerintahan
Hindia Belanda tahun 1800 – 1830
Pada
intinya terbentuknya pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1800-1830 hal ini
disebabkan oleh gagalnya atau bangkrutnya VOC yang disebabkan oleh beberapa
faktor. Dengan adanya hal tersebut maka pemerintah Hindia Belanda memutuskan
untuk mengambil alih kekuasaan dan memimpin langsung roda pemerintahan di
Nusantara.
D. Berbagai bentuk perlawanan di
Nusantara
Sikap
Belanda yang sewenang-wenang dan memonopoli perdagangan di setiap daerah hal
ini menimbulkan bentuk perlawanan di berbagai nusantara seperti Perang padri yang semula hanya perseteruan antara
kaum adat dan kaum paderi malah kemudian melebar menjadi perlawanan kaum padri
melawan belanda yang akhirnya mebuat imam bonjol gugur di medan perang, lalu
perang diponegoro yang dipimpin langsung oleh pangeran diponegoro pun tak mampu
menahan gempuran belanda sehingga pangeran diponegoro pun ikut gugur. Begitu
pula pattimura dan juga sisingamangaraja yang juga gugur di medan perang.
Walaupun mereka gugur di medan perang tetapi semangat mereka pantang menyerah
dan berpesan agar dapat melanjutkan perjuangan mereka, walaupun
mereka gugur dalam peperangan tetapi merekalah pahlawan kita, menurut saya
kekalahan dari semua perlawanan di berbagai daerah di Indonesia itu disebabkan
oleh belum adanya persatuan di antara daerah-daerah lainnya, mereka hanya
melindungi daerhnya sendiri sendiri.
E. Politik Tanam Paksa dan pelaksanaannya di Indonesia
Latar
belakang tanam paksa dikarenakan negara Belanda mengalami kebangkrutan dan
banyak hutang oleh karena itu pemerintah Belanda mengerahkan tenaga rakyat
jajahan untuk melakukan penanaman tanaman yang hasil-hasilnya dapat laku di
pasaran dunia secara paksa. Dalam pelaksanaannya tanam paksa sangat
merugikan rakyat Indonesia sendiri. Melihat aturannya
tanam paksa tidak terlalu memberatkan, namun pelaksanaannya sangat menekan dan
memberatkan rakyat.Adanya cultuur procent menyangkut upah yang diberikan kepada
penguasa pribumi berdasarkan besar kecilnya setoran, ternyata sangat
memberatkan rakyat. Akhir tanam paksa diakibatkan karena ada reaksi protes dari berbagai
golongan.Akibat adanya reaksi tersebut, pemerintah Belanda secara
berangsur-angsur menghapuskan sistem tanam paksa. Nila, teh, kayu manis
dihapuskan pada tahun 1865, tembakau tahun 1866, kemudian menyusul tebu tahun
1884. Tanaman terakhir yang dihapus adalah kopi pada tahun 1917 karena paling
banyak memberikan keuntungan
F. Politik Pintu Terbuka
(Open Door Politic ) dan pelaksanaan
Politik Kolonial Liberal Tahun 1870
Pelaksanaan politik kolonial liberal
di Indonesia tidak terlepas dari perubahan politik Belanda. Pada tahun 1850,
golongan liberal di negeri Belanda mulai memperoleh kemenangan dalam
pemerintahan. Kemenangan itu diperoleh secara mutlak pada tahun 1870, sehingga
tanam paksa dapat dihapuskan.
Sistem politik pintu terbuka memberikan dampak positip dan
negatip bagi kedua belah pihak Di pihak belanda Memberikan keuntungan yang
sangat besar kepada kaum swasta Belanda dan pemerintah kolonial Belanda
Hasil-hasil produksi perkebunan dan pertambangan
mengalir ke negeri Belanda
Negeri Belanda menjadi pusat perdagangan hasil dari
tanah jajahan.
Di pihak Indonesia:
Ø Sistem tanam
paksa di Indonesia dihapuskan.
Ø Modal swasta
asing mulai masuk dan ditanam di Indonesia.
Ø Menurunnya
konsumsi bahan makanan, terutama beras, sementara
Ø pertumbuhan
penduduk Jawa meningkat cukup pesat.
Ø Menurunnya
usaha kerajinan rakyat karena kalah bersaing dengan banyaknya barang-barang
impor dari Eropa.
G.
Politik Snouck Hurgronye dlm Perlawanan
rakyat Aceh terhadap kolonial Belanda
Kegagalan
belanda dalam menaklukkan Aceh melalui peperangan membuat belanda menyusun
strategi baru untuk menaklukkan Aceh .Belanda akhirnya
menempuh cara lain yaitu dengan jalan mengetahui rahasia kekuatan Aceh
terurtama yang menyangkut kehidupan sosial budayanya. Dr snouck Hurgronjae yang
paham tentang agama Islam dan pernah mempunyai pengalaman bergaul dengan
orang-orang Aceh yang naik haji di Mekkah, oleh Pemerintah Hindia Belanda
dipandang sebagai seorang yang tepat untuk diberi tugas memecahkan
kesulitan-kesulitan yang menyangkut masalah penaklukan Aceh.
karenaBelanda tak mungkin bisa mengalahkan Aceh jika dengan kekuatan senjata
saja Christian Snouck Hurgronje merupakan tokoh peletak dasar
kebijakan “Islam Politiek” yang merupakan garis kebijakan “Inlandsh Politiek”
yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda terhadap pribumi Hindia Belanda.
Konsep strategi kebijakan yang diciptakan Snouck Hurgronje terasa lebih lunak
dibanding dengan konsep strategi kebijakan para orientalis lainnya, namun
dampaknya terhadap umat Islam terus berkepanjangan bahkan berkelanjutan. Dr
snouck Hurgronjae yang paham tentang agama Islam dan pernah mempunyai
pengalaman bergaul dengan orang-orang Aceh yang naik haji di Mekkah, oleh
Pemerintah Hindia Belanda dipandang sebagai seorang yang tepat untuk diberi
tugas memecahkan kesulitan-kesulitan yang menyangkut masalah penaklukan Aceh.
Dari tahun 1891 sampai denagn 1906 dia menjadi penasihat utama dari pemerintah
Kolonial Belanda dalam masalah Islam dan masalah penduduk asli Indonesia.Dengan
nama samaran Abdul Gafar ia bertempat tinggal ditegah-tengah rakyat Aceh di
Peukan Aceh. Dari hasil penelitian Snouck Hurgronje dapat diketahui bahwa
Sultan Aceh tidak dapat berbuat apa-apa apabila tidak mendapat persetujuan dari
kepala-kepala bawahannya. Dari itulah maka pemimpin aceh bisa ditaklukkan oleh belanda tetapi
perlawanan rakyat terus hidup dan tak pernah padam.
H. Politik Etis dan pelaksanaannya 1901.
Politik etis sebagai politik
balas budi atau hutang kehormatan yang di buat oleh pemerintah kolonial Belanda
ternyata menimbulkan suatu kemajuan dan abad pencerahan bagi Bangsa Indonesia
yang mendapat pendidikan, selain itu pula sebagai suatu politik boomerang bagi
Bangsa Belanda karena telah menelurkan para golongan terpejar yang kemudian
menjadi suatu bola salju yang menghantam pemerintahan Belanda. Hal itu bisa
kita lihat dalam dinamika dan perkembangan sekolah yang semakin tahun semakin
banyak bidang dan kuantitas jumlahnya bagi penduduk pribumi.

SEJARAH
INDONESIA BARU II
MATERI POKOK PEMBELAJARAN SEJARAH
INDONESIA BARU II
NAMA : Riwan Sutandi
NIM : 3101412084
Pengampu : Bapak Jayusman
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
DAFTAR
PUSTAKA
Notosusanto, Nugroho.Dkk.1983. Sejarah Nasional Indonesia III.Jakarta:
Balai Pustaka
https://www.facebook.com/groups/148618378617105/?fref=ts (Diakses 1
Januari 2014)

No comments:
Post a Comment