About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Tuesday, 1 July 2014

Sejarah Ideologi dan Filsafat Sejarah (Perkembangan dan pertumbuhan pemikiran filsafat sejarah dari zaman klasik hingga modern) FILSAFAT ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Islam adalah agama dari allah yang berfungsi untuk menyempurnakan agama sebelu-sebelumnya. Agama islam tidak untuk kaum tapi untuk seluruh umat manusia. Islam adalah sebuah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, Islam meyakini agama-agama terdahulu, bahkan keberadaan agama Kristen dan agama Yahudi dibahas dalam kitab suci agama Islam, Islam menolak penuhanan apapun selain daripada Allah. Bahkan Muhammad saw sekalipun menolak penuhanan atas dirinya, sebagai agama terakhir di muka bumi maka Nabi Muhammad saw dianggap sebagai Nabi yang terakhir pula. Itulah sebabnya apabila ada orang yang mengaku menjadi nabi dan rasul setelah Nabi Muhammad saw maka akan segera dikafirkan. Beranjak dari hal itulah maka islam mempunyai pemikiran sendiri mengenai ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-qur’an sebagai kitab agama islam. Maka dengan hal itu islam mempunyai filsafat Islam yaitu cinta akan pengetahuan tentang islam. Dan hal inilah yang melatarbelakangi saya dalam pembuatan makalah yang bertema tentang perkembangan filsafat dari klasik hingga modern saya mengambil judul filsafat islam, hal ini karena saya sangat mencintai tentang ilmu pengetahuan yang ada di dalam agama islam.
B.     Rumusan Masalah
·         Apa pengertian filsafat islam?
·         Apa hubungan filsafat islam dengan filsafat lainnya?
·         Aliran- aliran filsafat islam?
·         Mengenal tokoh–tokoh filsafat islam dan pemikirannya ?
·         Fungsi filsafat islam
C.    Tujuan pembahasan
·         Mengetahui pengertian filsafat islam
·         Mengetahui hubungan filsafat islam dengan filsafat lainnya
·         Mengetahui aliran-aliran filsafat islam
·         Dapat mengenal tokoh-toko filsafat islam dan pemikirannya
·         Mengetahui fungsi filsafat islam


BAB II
PEMBAHASAN

            Menurut bahasa filsafat adalah Kata-kata yang diucapkan ‘falsafah’ dalam bahasa Arab, dan berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti cinta kepada pengetahuan, dan terdiri dari dua kata, yaitu Philos yang berarti cinta (loving) dan Sophia yang berarti pengetahuan (wisdom, hikmah). Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “Philosophos” atau “Failasuf” dalam ucapan Arab. Dalam buku Filsafat Umum karangan Dr. Ahmad Tafsir, dikatakan bahwa Philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari atas Philo dan Sopiha ; Philo berarti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; Sophia artinya bijaksana yang artinya pandai, pengertian yang dalam. Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak. Dengan demikian pengertian filsafat menurut bahasa ialah cinta pengetahuan atau kebijaksanaan.
Sedangkan menurut istilah filsafat di kemukakan oleh beberapa ahli seperti: Plato (427–347 Sebelum masehi), filsuf Yunani yang termashur murid Socrates, menyatakan bahwa Filsafat itu tidaklah lain daripada pengetahuan tentang segala yang ada.
Al Farabi ( wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina berkata: “Filsafat itu ialah ilmu pengetahuan tentang alam yangmaujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya”.
Thomas Hobbes (1588 – 1679 M), seorang filosof Inggris mengemukakan: “Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan perhubungan hasil dan sebab atau sebab dari hasilnya, dan oleh karena itu senantiasa adalah suatu perubahan”.
            Masih banyak lagi pendapat beberapa tokoh, tetapi saya hanya mengambil beberapa contoh, Dari definisi di atas dapat dilihat adanya perbedaan dalam mendefinisikan filsafat antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Perbedaan definisi ini menurut saya disebabkan oleh berbedaan konotasi filsafat pada tokoh-tokoh itu karena perbedaan keyakinan hidup yang dianut mereka. Perbedaan itu juga dapat muncul karena perkembangan filsafat itu sendiri yang menyebabkan beberapa pengetahuan khusus memisahkan diri dari filsafat. Di sini dapat diambil kesimpulan bahwa perbedaan definisi filsafat antara satu tokoh dengan tokoh lainnya disebabkan oleh perbedaan konotasi filsafat pada mereka masing-masing.

A.    Pengertian Filsafat Islam
      Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis. Sedangkan menurut Ahmad Fuad al-Ahwani filsafat Islam ialah pembahasan tentang alam dan manusia yang disanari ajaran Islam.
Adapun pengertian filsafat islam dari segi istilah para ahli, adalah:
·         Ibrahim madzkur memberikan batasan filsafat islam itu adalah : Pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat
·         Ahmad fuad al-ahwani yaitu : Filsafat Islam adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran Islam.
·         Drs. Sidi Gazalba memberikan gambaran sebagai berikut : bahwa tuhan memberikan akal kepada manusia itu menurunkan (wahyu/sunnah) untuk dia. Dengan akal ia membentuk pengetahuan. Apabila pengetahuan manusia itu digerakkan oleh akal, menjadilah ia filsafat islam. Wahyu & sunnah (terutama mengenai yang ghaib) yang tidak mungkin dibuktikan kebenarannya denga riset, filsafat islamiah yang memberikan keterangan, ulasan & tafsiran sehingga kebenarannya terbuktikan dengan pemikiran budi yang bersistem, radikal & umum.
Jadi hakekat filsafat Islam ialah aqal dan al-Quran. Filsafat Islam tidak mungkin tanpa aqal dan al-Quran. Aqal yang memungkinkan aktivitas itu menjadi aktivitas kefilsafatan dan al-Quran juga menjadi ciri keislamannya. Tidak dapat ditinggalkannya al-Quran dalam filsafat Islam adalah lebih bersifat spiritual, sehingga al-Quran tidak membatasi aqal bekerja, aqal tetap bekerja dengan otonomi penuh.
      Dari pengertian filsafat dan Islam sebagaimana diuraikan diatas, kita dapat berkata bahwa filsafat Islam, adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya Filsafat Islam itu dalah Filsafat yang berorientasi pada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.atau Filsafat Islam adalah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.

B.     Hubungan filsafat islam dengan filsafat lainnya
A.    Hubungan Filsafat Islam Dengan Filsafat Yunani
      Kedatangan para filosuf Islam yang terpengaruh oleh para filosuf Yunani sangat berguna bagi kita yang hidup di abad 20 ini. Akan tetapi berguru tidak berarti mengekor ataupun mengutip. Filsafat Islam telah mampu menampung dan mempertemukan berbagai aliran pikiran. Seseorang dapat mengemukakan persoalan yang pernah dikemukakan oleh orang lain sambil mengemukakan teorinya sendiri, misalnya Ibnu Sina, meskipun menjadi murid setia Aristoteles, ia mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. dengan adanya usaha dari kaum muslimin yang menterjemahkan buku-buku filsafat Yunani. Maka mereka telah mendapatkan ilmu baru yang memiliki corak sendiri. Perbedaan pendapat dari berbagai pihak muncul akibat pemikira- pemikiran filsafat. Ada yang menerima dan menolak.
      Pada masa Al- Mansur dan Al-Makmun merupaka awal penterjemahan. Umat muslim pada umumnya menerima. Dengan alasan, bahwa filsafat yang diterjemahkan berkisar pada ketuhanan, etika dan ilmu jiwa yang ada hubunganya dengan agama. Masa Al-Asy’ari intelektual melekukan perlawanan. Karena kebenara filsafat Yunani bersifat spekulatif yang mengutamakan teori dan mengabaikan kenyataan. sedangkan Qur’an sebagai landasan filosof Islam, mengungkapkannya secara konkrit.
      Para filosof Islam menerima Filsafat Yunani dangan memadukan kedua filsafat tersebut. Cara yang ditempuh: mengulas pemikiran-pemikiran filsafata Yunani, melenyakan keganjalanya, memepertemeukan filsafat yang kontroversi dan memadukan antara filsafat dan agama .
Untuk memadukan antar agama dengan filsafat yaitu: menjelaskan prinsip agama dengan pemikiran yang terurai dan melelui jalan penakwilan. Cara ini merupakan upaya mengadakan perpaduan sinkritisme (percampuran dua agama), tetapi coraknya berbeda.
      Pada akhirnya, tidaklah dapat dipungkiri bahwa dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri. Filsafat Yunani sebagi motifator filosuf Islam dalam berfikir kosmos (alam) dari zat pencipta (Allah) yang dijadikan bahan filosuf Islam.

B.     Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-Ilmu Islam
      Keunggulan khusus bagi filsafat Islam dalam masalah pembagian cabang-cabangnya adalah mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, musik ataupun falak yang semuanya menjadi filasafat islam. Dengan demikian filsafat Islam secara khusus memisahkan diri sebagai ilmu mandiri. Berikut ini beberapa hubungan filsafat Islam dengan Ilmu Tasawuf, Ilmu Fiqh, dan Ilmu pengetahuan.

1.      Filsafat Islam dengan Ilmu Kalam
      Dalam perkembang ilmu-ilmu keislaman, antara filsafat Islam dam Ilmu Kalam dapat dibedakan. Filsafat Islam mengandalkan akal dalam mengkaji obyeknya, yaitu Allah, alam, dan manusia tanpa terikat dengan pendapat yang ada. Nash-nash agama hanya sebagai bukti pembenaran atas hasil temuan akal. Sebaliknya, Ilmu Kalam mengambil dalil akidah yang mutlak kebenarannya, untuk mengkaji obyeknya, yaitu Allah dan sifat-sifatnya, serta hubungan Allah dengan alam, dan manusia menjadikan filasafat sebagai alat untuk membenarkan nash agama.
      Oleh karena keduanya menggunakan argumentasi akal, maka pengaruh filsafat Yunani sangat menonnjol terutama dalam filsafat Islam. Walaupun obyek dan metode ilmu ini berbeda, tapi saling melengkapi dalam memahami Islam dan pembentukan akidah muslim.

2.      Filsafat dan Tasawuf
      Antara filsafat dan tasawuf mempunyai perbedaan yang sangat besar. Yaitu dalam hal pembahasan, metode dan obyeknya. Apabila berbicara filsafat berarti dalam memandang harus menggunakan akal, dan menggunakan metode argumentasi dan logika. Kalau tasawuf dengan jalan mujahadah serta musyahadah.
      Filsafat mempunyai obyek bahasan tentang alam dengan segala isinya, manusia dan perilakunya, sikap serta mengenal eksistensi Allah SWT. Dan tasawuf sebagai obyeknya adalah pengenalan dengan Allah SWT, lewat ibadah syariat, ilham, dan intuisi.
      Lebih cenderung lagi bahwa filsafat dalam memecahkan masalah menggunakan pemikiran akal, tetapi tasawuf mencoba dengan wakilan batin, perasaan, dan kesederhanaan berpola pikir dan memeandang dengan cara agama. Sehingga dimana masalah ke-Tuhanan sulit dijabarkan melalui metode pemikiran yang didukung oleh realitas yang nampak/logika.

C.     Filsafat dan Ushul Fiqh
      Dipandang dari sudut terminologi antara ushul fiqh berbeda dengan fisafat. walaupun perkembangan berikutnya, ushul fiqh juga terpengaruh oleh logika Aristoteles. Hal ini dapat dilihat dalam melakukan istimbath hukum dengan cara qiyas dan silogisme, sebagai salah satu ciri metode berfilsafat. Secara global dapat diketahui sekarang, bahwa antara tasawuf, ilmu kalam, ushul fiqh dapat diidentikan dengan filsafat oleh sebagian orang. Walaupun juga tidak dapat disangkal lagi bahwa filsafat dengan ketiganya jelas berbeda dalam masalah obyek pembahasannya.
      Dari ketiga contoh ilmu keislaman yang diutarakan hubungannya dengan Filsafat Islam, tergambar adanya pertautan dan saling mengisi, antara filsafat Islam, disatu pihak dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Hal itu terbukti dalam sejarah, para filsuf memadukan unsur-unsur fisafat, ilmu, dan agama menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.

C. Aliran-aliran yang ada di filsafat islam
          Didalam filsafat islam terdapat empat aliran-aliran didalamnya, yaitu sebagai berikut:
o   Aliran Syi’ah
Aliran Syi’ah berpendapat bahwa Sayidina Ali merupakan manusia yang utama sehingga ia berhak menjadi kholifah. Dan yang berhak menggantikan Nabi Muhammad adalah keluarganya (ahlu bait) Yaitu Ali bin Abi Tholib dan keturunanya.. Aliran ini muncul akibat permusuhan yang dilakukan Bani Umayyah dan Kaum Khowarij.
o   Aliran Khawarij
Khawarij adalah golongan yang keluar dari kelompok pengikut Ali bin Abi Tholib. Menurut aliran Khowarij seseorang yang melakukan dosa besar dan tidak segera bertaubat maka dapat mengakibatkan kufur. Imam diangkat atas dasar pemilihan. Siapa saja yang muslim, adil, berilmu, dan zuhud dapat dipilih menjadi imam.
o   Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah adalah para pengikut Wasil Bin Atho’ yang memisahkan diri dari gurunya yaitu Hasan Basri. Menurut aliran Mu’tazilah seseorang yang melakukan dosa besar adalah fasik yakni orang itu tidak mukmin dan tidak kafir.
o   Aliran Al-Asy’ari
Yaitu suatu aliran yang muncul sebagai reaksi terhadap paham teologi islam yang telah mendahuluinya.

D.    Tokoh-tokoh dan pemikirannya
a.       Al-Kindi
            Nama lengkapnya Abu Yusuf, Ya’kub bin Ishak Al-Sabbah bin Imran bin Al-Asha’ath bin Kays Al-Kindi. Beliau biasa disebut Ya’kub, lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kufah. Keturunan dari suku Kays, dengan gelar Abu Yusuf  (bapak dari anak yang bernama Yusuf) nama orang tuanya Ishaq Ashshabbah, dan ayahnya menjabat gubernur di Kufah, pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid dari Bani Abbas.
Nama Al-Kindi adalah merupakan nama yang diambil dari nama sebuah suku, yaitu : Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah, yang berlokasi di daerah selatan Jazirah Arab dan mereka ini mempunyai kebudayaan yang tinggi. sebagai orang yang dilahirkan di kalangan para intelektual, maka pendiidkan yang pertama-tama diterima adalah membaca Al-Qur’an, menulis, dan berhitung. Disamping itu ia banyak mempelajari tentang sastra dan agama, juga menerjemahkan beberapa buku Yunani di dalam bahasa Syiria kuno, dan bahasa Arab.
            Al-Kindi mengarang buku-buku yang menganut keterangan Ibnu Al-Nadim buku yang ditulisnya berjumlah 241 dalam bidang filsafat, logika, arithmatika, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik, matematika dan sebagainya. Dari karangan-karangannya, dapat kita ketahui bahwa Al-Kindi termasuk penganut aliran Eklektisisme; dalam metafisika dan kosmologi mengambil pendapat Aristoteles, dalam psikologi mengambil pendapat Plato, dalam hal etika mengambil pendapat Socrates dan Plato.
            Mengenai filsafat dan agama, Al-Kindi berusaha mempertemukan amtara kedua hal ini; Filsafat dan agama. Al-Kindi berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan paling tinggi martabatnya. Dan agama juga merupakan ilmu mengenai kebenaran, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan.
            Mengenai hakikat Tuhan, Al-Kindi menegaskan bahwa Tuhan adalah wujud yang hak (benar), yang bukan asalnya tidak ada menjadi ada, ia selalu mustahil tidak ada, ia selalu ada dan akan selalu ada. Jadi Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain, tidak berakhir wujudNya dan tidak wujud kecuali denganNya.
            Unsur-unsur filsafat yang kita dapati pada pemikiran Al-Kindi ialah:
a.       Aliran Pythagoras tentang matematika sebagai jalan ke arah filsafat.
b.      Pikiran-pikiran Aristoteles dalam soal-soal fisika dan metafisika, meskipun Al-Kindi tidaksependapat dengan Aristoteles tentang qadimnya alam.
c.       Pikiran-pikiran Plato dalam soal kejiwaan.
d.      Pikiran-pikiran Plato dan Aristoteles bersama-sama dalam soal etika.
e.       Wahyu dan iman (ajaran-ajaran agama) dalam soal-soal yang berhubungan dengan Tuhan dan sifat-sifatNya.
f.       Aliran Mu’tazilah dalam memuja kekuatan akal manusia dan dalam menakwilkan ayat-ayat Qur’an.

            Haruslah diakui bahwa Al-Kindi tidak mempunyai sistem filsafat yang lengkap. Jasanya ialah karena dia adalah orang yang pertama-tama membuka pintu filsafat bagi dunia Arab dan diberinya corak Arab keislaman. Pendiri filsafat Islam yang sebenarnya ialah Al-Farabi.

b.      AL-Farabi
      Ia adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, dimana ia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Ayahnya adalah seorang Iran dan kawin dengan seorang wanita Turkestan. Kemudian ia menjadi perwira tentara Turkestan. Karena itu, Al-Farabi dikatakan berasal dari keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran.
Sejak kecilnya, Al-Farabi suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam lapangan bahasa. Bahasa-bahasa yang dikuasainya antara lain bahasa Iran, Turkistan, dan Kurdistan. Nampaknya ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Siriani, yaitu bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu.
      Setelah besar, Al-Farabi meninggalkan negerinya untuk menuju kota Baghdad, pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan pada masanya, untuk belajar antara lain pada Abu Bisyr bin Mattius. Selama berada di Baghdad, ia memusatkan perhatiannya kepada ilmu logika.

      Al-Farabi luas pengetahuannya, mendalami ilmu-ilmu yang ada pada masanya dan mengarang buku-buku dalam ilmu tersebut. Buku-bukunya, baik yang sampai kepada kita maupun yang tidak, menunjukkan bahwa ia mendalami ilmu-ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik, ilmu alam, ketuhanan, fiqih, dan mantik.
Sebagian besar karangan-karangan Al-Farabi terdiri dari ulasan dan penjelasan terhadap filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenius, dalam bidang-bidang logika, fisika, etika, dan metafisika. Meskipun banyak tokoh filsafat yang diulas pikirannya, namun ia lebih terkenal sebagai pengulas Aristoteles.
      Di antara karangan-karangannya ialah:
a.   Aghradlu ma Ba’da at-Thabi’ah.
b.   Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hakimain (Mempertemukan Pendapat Kedua       Filosof; maksudnya Plato dan Aristoteles).
c.   Tahsil as-Sa’adah (Mencari Kebahagiaan).
d.   ‘Uyun al-Masail (Pokok-Pokok  persoalan).
e.   Ara-u Ahl-il Madinah al-Fadhilah (Pikiran-Pikiran Penduduk Kota Utama Negeri Utama).
f.    Ih-sha’u al-Ulum (Statistik Ilmu).
      Menurut Dr. Ibrahim Madkour, filsafat Al-Farabi adalah filsafat yang bercorak spiritual-idealis, sebab menurut Al-Farabi, dimana-mana ada roh. Tuhannya adalah Roh dari segala Roh. Akal yang dikonsepsikannya yaitu ‘Uqul Mufariqah (akal yang terlepas dari benda) merupakan makhluk rohani murni, sedang kepala negeri- utamanya, menguasai badannya. Roh itu pula yang menggerakkan benda-benda langit dan mengatur alam di bawah bulan.
      Meskipun Al-Farabi telah banyak mengambil dari Plato, Aristoteles dan Plotinus, namun ia tetap memegangi kepribadian, sehingga pikiran-pikiranya tersebut merupakan filsafat Islam yang berdiri sendiri, yang bukan filsafat stoa, atau Peripatetik atau Neo Platonisme. Memeng bisa dikatakan adanya pengaruh aliran-aliran tersebut, namun bahannya yang pokok adalah dari Islam sendiri.

c.       Ibnu Sina
      Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, dimana Khilafah Abbasiyah mengalami kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khilafah tersebut mulai melepaskan diri satu persatu untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad sendiri, sebagai pusat pemerintahan Khilafah Abbasiyah, dikuasai oleh golongan Bani Buwaih pada tahun 334 H dan kekuasaan mereka berlangsung terus sampai tahun 447 H.
      Di antara daerah-daerah yang berdiri sendiri ialah Daulah Samani di Bukhara, dan di antara khalifahnya ialah Nuh bin Mansur. Pada masanya, yaitu di tahun 340 H (980 M), di suatu tempat yang bernama Afsyana, daerah Bukhara, Ibnu Sina dilahirkan dan dibesarkan. Di Bukhara ia menghafal Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama serta ilmu astronomi, sedangkan usianya baru sepuluh tahun.
      Kemudian ia mempelajari matematika, fisika, logika dan ilmu metafisika. Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi.
      Belum lagi usianya melebihi enam-belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan teori-teori kedokteran, taoi juga melakukan praktek dan mengobati orang-orang sakit.
      Sebenarnya hidup Ibnu Sina tidak pernah mengalami ketenangan, dan usianya pun tidak panjang. Meskipun banyak kesibukan-kesibukannya dalam urusan politik, sehingga ia tidak banyak mempunyai kesempatan untuk mengarang, namun ia telah berhasil meninggalkan berpuluh-puluh karangan.
      Karangan-karangan Ibnu Sina yang terkenal ialah:
a.   Asy-Syifa. Buku ini adalah buku filsafat yang terpenting dan terbesar         dari Ibnu Sina, dan trediri dari enpat bagian, yaitu: logika, fisika,      matematika, dan metafisika (ketuhanan).
b.   An-Najat. Buku ini merupakan keringkasan buku as-Syifa, dan pernah        diterbitkan bersama-sama dengan buku al-Qanun dalam ilmu            kedokteran pada tahun 1593 M di Roma dan pada tahun 1331 M di            Mesir.
c.   Al-Isyarat wat-Tanbihat. Buku ini adalah buku terakhir dan yang    paling baik, dan pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892 M, dan    sebagiannya diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis.
d.   Al-Hikmat al-Masyriqiyyah. Buku ini banyak dibicarakan orang,     karena tidak jelasnya maksud judul buku, dan naskah-naskahnya yang             masih ada memuat bagian logika.
e.   Al-Qanun, atau Canon of Medicine, menurut penyebutan orang-orang        Barat. Buku ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan            pernah menjadi buku standar untuk universitas-universitas Eropa        sampai akhir abad ketujuhbelas Masehi.
      Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku-buku yang khusus untuk soal-soal kejiwaan atau pun buku-buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.
      Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia piker Arab sejak abad kesepuluh Masehi sampai akhir abad ke-19 Masehi, terutama pada Gundissalinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon, dan Dun Scott. Bahkan juga ada pertaliannya dengan pikiran-pikiran Descartes tentang hakikat jiwa dan wujudnya.
      Hidup Ibnu Sina penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang; penuh pula dengan kesenangan dan kepahitan hidup bersama-sama, dan boleh jadi keadaan ini telah mengakibatkan ia tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati lagi. Pada tahun 428 H (1037 M), ia meninggal dunia di Hamadzan, pada usia 58 tahun.

d.      Al-Ghazali
      Ia adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, bergelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H di Tus, suatu kota kecil di Khurassan (Iran). Kata-kata al-Ghazali kadang-kadang diucapkan al-Ghazzali (dengan dua z). dengan menduakalikan z, kata-kata al-Ghazzali diambil dari kata-kata Ghazzal, artinya tukang pemintal benang, karena pekerjaan ayahnya ialah memintal benang wol, sedang al-Ghazali dengan satu z, diambil dari kata-kata Ghazalah, nama kampung kelahiran al-Ghazali. Sebutan terakhir ini yang banyak dipakai.
      Al-Ghazali pertama-tama belajar agama di kota Tus, kemudian meneruskan di Jurjan, dan akhirnya di Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini wafat tahun 478 H/1085 M. kemudian ia berkunjung kepada Nidzam al-Mulk di kota Mu’askar, dan dari padanya ia mendapat kehormatan dan penghargaan yang besar, sehingga ia tinggal di kota itu  enam tahun lamanya. Pada tahun 483 H/1090 M, ia diangkat menjadi guru di sekolah Nidzamah Baghdad, dan pekerjaannya itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Baghdad, selain  mengajar, juga mengadakan bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan Bathiniyah, Isma’iliyyah, golongan filsafat dan lain-lain. Pengaruh al-Ghazali di kalangan kaum Muslimin besar sekali, sehingga menurut pandangan orang-orang ahli ketimuran (Orientalis), agama Islam yang digambarkan oleh kebanyakan kaum Muslimin berpangkal pada konsepsi al-Ghazali.
      Al-Ghazali adalah seorang ahli pikir Islam yang dalam ilmunya, dan mempunyai nafas panjang dalam karangan-karangannya. Puluhan buku telah ditulisnya yang meliputi berbagai lapangan ilmu, antara lain Teologi Islam (Ilmu Kalam), Hukum Islam (Fiqih), Tasawuf, Tafsir, Akhlak dan adab kesopanan, kemudian autobiografi. Sebagian besar dari buku-buku tersebutdiatas dalam bahasa Arab dan yang lain ditulisnya dalam bahasa Persia.
      Karyanya yang terbesar yaitu Ihya ‘Ulumuddin yang artinya “Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama”, dan dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerussalem, Hijjaz dan Tus, dan yang berisi tentang paduan yang indah antara fiqih, tasawuf dan filsafat, bukan saja terkenal di kalangan kaum Muslimin, tetapi juga di kalangan dunia Barat dan luar Islam. bukunya yang lain yaitu al-Munqidz min ad-Dlalal (Penyelamat dari Kesesatan), berisi sejarah perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya yang terakhir terhadap beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan.   Diantara penulis-penulis modern banyak yang mengikuti jejak al-Ghazali dalam menuliskan autobiografi. Pikiran-pikiran al-Ghazali telah mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan penuh kegoncangan batin, sehingga sukar diketahui kesatuan dan kejelasan corak pemikirannya, seperti yang terlihat dari sikapnya terhadap filosof-filosof dan terhadap aliran-aliran akidah pada masanya.
Namun demikian, al-Ghazali telah mencapai hakikat agama yang belum pernah diketemukan oleh orang-orang  yang sebelumnya dan mengembalikan kepada agama nulai-nilai yang telah hilang tidak menentu. Jalan yang terdekat kepada           Tuhan ialah jalan hati dan dengan demikian ia telah membuka pintu Islam seluas-luasnya untuk tasawuf. pengaruh al-Ghazali besar sekali di kalangan kaum  Muslimin sendiri sampai sekarang ini, sebagaimana juga di kalangan tokoh-tokoh pikir abad pertengahan bahkan juga sampai pada tokoh-tokoh pikir abad modern.


e.       Ibnu Bajah
      Ia adalah Abu Bakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan sebutan Ibnus-Shaigh atau Ibnu Bajah. Orang-orang Eropa pada abad-abad pertengahan menamai Ibnu Bajah dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Gaberol, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd, masing-masing dengan nama Avicenna, Avicebron, Abubacer, dan Averroes.
      Ibnu Bajah dilahirkan di Saragosta pada abad ke-11 Masehi. Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui, demikian pula masa kecil dan masa mudanya. Sejauh yang dapat dicatat oleh sejarah ialah bahwa ia hidup di Serville, Granada, dan Fas; menulis beberapa risalah tentang logika di kota Serville pada tahun 1118 M, dan meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M ketika usianya belim lagi  tua. Menurut satu riwayat, ia meninggal dunia karena diracuni oleh seorang dokter yang iri terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya.
      Buku-buku yang ditinggalkannya ialah:
a.   Beberapa risalah dalam ilmu logika, dan sampai sekarang masih       tersimpan di perpustakaan Escurial (Spanyol).
b.   Risalah tentang jiwa.
c.   Risalah al-Ittisal, mengenai pertemuan manusia dan akal-faal.
d.   Risalah al-Wada’, berisi uraian tentang penggerak-pertama bagi       manusia dan tujuan yang sebenarnya bagi wujud manusia dan alam.
e.   Beberapa risalah tentang ilmu falak dan ketabiban.
f.    Risalah Tadbir al-Mutawahhid.
g.   Beberapa ulasan terhadap buku-bukufilsafat,antara lain dari             Aristoteles, al-Farabi, Porphyrus, dan sebagainya.

      Menurut Carra de Vaux, di perpustakaan Berlin ada 24 risalah manuskrip karangan Ibnu Bajah. Diantara karangan-karangannya itu yang paling penting ialah risalah Tadbir al-Mutawahhid yang membicarakan usaha-usaha orang yang menjauhi segala macam keburukan masyarakat, yang disebutnya Mutawahhid, yang berarti “penyendiri”. Isi risalah tersebut cukup jelas, sehingga memungkinkan kita dapat mempunyai gambaran tentang usaha si penyendiri tersebut untuk dapat bertemu dengan akal-faal dan menjadi salah satu unsur pokok bagi negeri idam-idamannya.
      Ibnu Bajah telah memberi corak baru terhadap filsafat Islam di negeri Islam barat dalam teori ma’rifat (epistemology, pengetahuan), yang berbeda sama sekali dengan corak yang telah diberikan oleh al-Ghazali di dunia timur Islam, setelah ia dapat menguasai dunia pikir sepeninggal filosof-filosof Islam.

f.       Ibnu Thufail
      Ia adalah Abubakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail, dilahirkan di Wadi Asy dekat Granada, pada tahun 506 H/1110 M. kegiatan ilmiahnya meliputi kedokteran, kesusasteraan, matematika dan filsafat. Ia menjadi dokter di kota tersbut dan berulangkali menjadi penulis penguasa negerinya. Setelah terkenal, ia menjadi dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf al-Mansur, khalifah kedua daru daulah Muwahhidin. Dari al-Mansur ia memperoleh kedudukan yang tinggi dan dapat mengumpulkan orang-orang pada masanya di istana Khalifah itu, di antaranya ialah Ibnu Rusyd yang diundang untuk mengulas buku-buku karangan Aristoteles.
Buku-buku biografi menyebutkan beberapa karangan dari Ibnu Thufail yang menyangkut beberapa lapangan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan sebagainya, disamping risalah-risalah (surat-surat) kiriman kepada Ibnu Rusyd. Akan tetapi karangan-karangan tersebut tidak sampai kepada kita, kecuali satu saja, yaitu risalah Hay bin Yaqadhan, yang merupakan intisari pikiran-pikiran filsafat Ibnu Thufail, dan yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Suatu manuskrip di perpustakaan Escurrial yang berjudul Asrar al-Hikmat ai-Masyriqiyyah (Rahasia-rahasia Filsafat Timur) tidak lain adalah bagian dari risalah Hay bin Yaqadhan.
      Ibnu Thufail tergolong filosof dalam masa Skolastik Islam. Pemikiran kefilsafatannya cukup luas, termasuk metafisika. Dalam pencapaian Ma’rifatullah, Ibnu Thufail menempatkan sejajar antar akal dan syari’at. Pemikiran tersebut sebenarnya merupakan upaya yang tidak pada tempatnya, sebab syari’at sumbernya adalah wahyu (yakni : dari Tuhan), sedangkan akal merupakan aktifitas manusiawi. Akal manusia sebenarnya hanyalah dampak mencari alasan rasional.

g.      Ibnu Rusyd
      Nama lengkapnya Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, lahir di Cordova pada tahun 520 H. Ia berasal dari kalangan keluarga besar yang terkenal dengan keutamaan dan mempunyai kedudukan tinggi di Andalusia (Spanyol). Ayahnya adalah seorang hakim, dan kakeknya yang terkenal dengan sebutan “Ibnu Rusyd kakek” (al-Jadd) adalah kepala hakim di Cordova.
Ibnu Rusyd adalah seorang ulama besar dan pengulas yang dalam terhadap filsafat Aristoteles. Kegemarannya terhadap ilmu sukar dicari bandingannya, karena menurut riwayat, sejak kecil sampai tuanya ia tidak pernah terputus membaca dan menelaah kitab, kecuali pada malam ayahnya meninggal dan dalam perkawinan dirinya.
      Karangannya meliputi berbagai ilmu, seperti: fiqih, ushul, bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak, dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar yang telah ditulisnya. Buku-bukunya adakalanya merupakan karangan sendiri, atau ulasan, atau ringkasan. Karena sangat tinggi penghargaannya terhadap Aristoteles, maka tidak mengherankan kalau ia memberikan perhatiannya yang besar untuk mengulaskan dan meringkaskan filsafat Aristoteles. Buku-buku lain yang telah diulasnya ialah buku-buku karangan Plato, Iskandar Aphrodisias, Plotinus, Galinus, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ibnu Bajah.

      Buku-bukunya yang lebih penting dan yang sampai kepada kita ada empat, yaitu:
a.       Bidayatul Mujtahid, ilmu fiqih. Buku ini bernilai tinggi, karena berisi perbandingan mazhabi (aliran-aliran) dalam fiqih dengan menyebutkan alasannya masing-masing.
b.      Faslul-Maqal fi ma baina al-Hikmati was-Syari’at min al-Ittisal (ilmu kalam). Buku ini dimaksudkan untuk menunjukkan adanya persesuaian antara filsafat dan syari’at, dan sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1895 M oleh Muler, orientalis asal Jerman.
c.       Manahijul Adillah fi Aqaidi Ahl al-Millah (ilmu kalam). Buku ini menguraikan tentang pendirian aliran-aliran ilmu kalam dan kelemahan-kelemahannya, dan sudah pernah  diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, juga oleh Muler, pada tahun 1895 M.
d.      Tahafut at-Tahafut, suatu buku yang terkenal dalam lapangan filsafat dan ilmu kalam, dan dimasukkan untuk membela filsafat dari serangan al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. Buku Tahafut at-Tahafut berkali-kali diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris oleh van den Berg yang terbit pada tahun 1952 M.

Ibnu Rusyd adalah tokoh pikir Islam yang paling kuat, paling dalam pandangannya, paling hebat pembelaannya terhadap akal dan filsafat, sehingga ia benar-benar menjadi filosof-pikiran dikalangan kaum Muslimin.
      Pada garis besar filsafatnya, ia mengikuti Aristoteles dan berusaha mengeluarkan pikiran-pikirannya yang sebenarnya dari celah-celah kata-kata Aristoteles dan ulasan-ulasannya. Ia juga berusaha menjelaskan pikiran tersebut dan melengkapkannya, terutama dalam lapangan ketuhanan, di mana kemampuannya yang tinggi dalam mengkaji berbagai persoalan dan dalam mempertemukan antara agama dengan filsafat nampak jelas kepada kita. ketika hendak meninggal, beliau (Ibnu Rusyd) mengeluarkan kata-katanya yang terkenal:
“Akan mati rohku karena matinya filosof”.

E.     Fungsi Filsafat Islam
            Filsafat islam telah memerankan sedikitnya tiga fungsi dalam sejarah pemikiran manusia.ketiga fungsi itu ialah sebagai pendobrak,pembebas,dan pembimbing.
a.       Pendobrak
   Berabad-abad lamanya intelektulitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan.Dalam penjara itu,manusia terlena dalam alam mistik yang penuh sesak dengan hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mitis.Manusia menerima bengitu saja segala hal penuturan dongeng dan takhayul tanpa mempersoalkan lebih lanjut.Orang beranggapan bahwa karena segala  dongeng dan takhayul itu merupakan bagian yang hakiki dari warisan tradisi nenek moyang,sedang tradisi itu anggapan mereka benar dan tak dapat diganggu-gugat. Keadaan tersebut tersebut berlangsung cukup lama.kehadiran filsafat islam mendobrak pintu-pintu dan tembok-tembok tradisi yang begitu sacral dan selama itu tidak boleh diganggu-gugat.kendati pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang,kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa filsafat islam benar-benar telah berfungsi  selalu pendobrak yang efektif.
b.      Pembebas
   Filsafat islam bukan sekedar mendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbangai mitos itu,melainkan juga merenggut manusia keluar dari dalam penjara itu.Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohan.Demikian pula filsafat islam membebaskan manusia dari belenggu cara berpikir yang mistis.
Sesungguhnya filsafat islam akan terus berupaya membebaskan manusia dari kekurangan dan kemiskinaan pengetahuan yang menyebabkan manusia menjadi menjadi picik dan dangkal.Filsafat islam pun membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak jernih.Filsafat islam juga membebaskan manusia dari cara berpikir tidak kritis yang membuat manusia menerima kebenaran-kebenaran semu yang menyesatkan.

c.       Pembimbing
   Filsafat islam juga sanggup melaksanakan fungsinya selaku pembimbing.Dengan membimbing manusia bisa berpikir secara rasional,sistematis, dan logis dari pemikiran yang dangkal dan menyesatkan.






BAB III
PENUTUP

SIMPULAN dan SARAN



            Filsafat islam memang tumbuh dan berkembang untuk pertama kali bukanlah di arab, tapi di Yunani. Filsafat islam merupakan pemikiran-pemikiran dari orang-orang islam. Dunia Islam telah berhasil membentuk suatu filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam sendiri. Filsafat islam tumbuh dan berkembang itu dikarenakan adanya orang-orang yang mencintai ajaran agama islam seperti tokoh-tokoh filsafat yang terkemuka. Dan semoga pemikiran tokoh-tokoh tersebut dapat menjadi acuan dan pedoman kita dalam ilmu pengetahuan dalam ajaran islam. Di dalam pembahasan makalah ini saya mohon maaf apabila masih banyak keterbatasan dan informasi dalam data-datanya masih banyak kurang tepat, saya pribadi menyadari itu dan mohon maaf kepada pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal.2004. Filsafat Ilmu.Jakarta:PT Rajagrafindo Persada

F.R Ankersmit.1987. Refleksi Tentang Sejarah.Jakarta:Gramedia

Juraid, Abdul Latief.2006. Manusia. Filsafat dan Sejarah. Jakarta:Bumi Aksara

Oswald,Spengler. 2010. Filsafat Sejarah. Yogyakarta:Interaksi Publisher

Misri A. Muchsin.2002. Filsafat Sejarah dalam Islam.Yogyakarta: Ar-Ruzz Press Khazanah Pustaka Indonesia.

Ma’arif, Ahmad Syafi’i. 1996. Ibn Khaldun dalam pandangan penulis Barat dan timur. Jakarta: Gema Insani Press

Internet:

               














No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...