BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama dari allah yang
berfungsi untuk menyempurnakan agama sebelu-sebelumnya. Agama islam tidak untuk
kaum tapi untuk seluruh umat manusia. Islam adalah sebuah agama yang dibawa
oleh Nabi Muhammad saw, Islam meyakini agama-agama terdahulu, bahkan keberadaan
agama Kristen dan agama Yahudi dibahas dalam kitab suci agama Islam, Islam
menolak penuhanan apapun selain daripada Allah. Bahkan Muhammad saw sekalipun
menolak penuhanan atas dirinya, sebagai agama terakhir di muka bumi maka Nabi
Muhammad saw dianggap sebagai Nabi yang terakhir pula. Itulah sebabnya apabila
ada orang yang mengaku menjadi nabi dan rasul setelah Nabi Muhammad saw maka
akan segera dikafirkan. Beranjak dari hal itulah maka islam mempunyai pemikiran
sendiri mengenai ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-qur’an sebagai kitab
agama islam. Maka dengan hal itu islam mempunyai filsafat Islam yaitu cinta
akan pengetahuan tentang islam. Dan hal inilah yang melatarbelakangi saya dalam
pembuatan makalah yang bertema tentang perkembangan filsafat dari klasik hingga
modern saya mengambil judul filsafat islam, hal ini karena saya sangat
mencintai tentang ilmu pengetahuan yang ada di dalam agama islam.
B. Rumusan Masalah
·
Apa pengertian filsafat islam?
·
Apa hubungan filsafat islam dengan
filsafat lainnya?
·
Aliran- aliran filsafat islam?
·
Mengenal tokoh–tokoh filsafat islam dan
pemikirannya ?
·
Fungsi filsafat islam
C. Tujuan pembahasan
·
Mengetahui pengertian filsafat islam
·
Mengetahui hubungan filsafat islam
dengan filsafat lainnya
·
Mengetahui aliran-aliran filsafat islam
·
Dapat mengenal tokoh-toko filsafat islam
dan pemikirannya
·
Mengetahui fungsi filsafat islam
BAB
II
PEMBAHASAN
Menurut bahasa filsafat adalah
Kata-kata yang diucapkan ‘falsafah’ dalam bahasa Arab, dan berasal dari bahasa
Yunani Philosophia yang berarti cinta kepada pengetahuan, dan terdiri dari dua
kata, yaitu Philos yang berarti cinta (loving) dan Sophia yang berarti
pengetahuan (wisdom, hikmah). Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut
“Philosophos” atau “Failasuf” dalam ucapan Arab. Dalam buku Filsafat Umum
karangan Dr. Ahmad Tafsir, dikatakan bahwa Philosophia merupakan kata majemuk
yang terdiri dari atas Philo dan Sopiha ; Philo berarti cinta dalam arti yang
luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu;
Sophia artinya bijaksana yang artinya pandai, pengertian yang dalam.
Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat
ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang
mendalam untuk menjadi bijak. Dengan
demikian pengertian filsafat menurut bahasa ialah cinta pengetahuan atau
kebijaksanaan.
Sedangkan
menurut istilah filsafat di kemukakan oleh beberapa ahli seperti: Plato
(427–347 Sebelum masehi), filsuf Yunani yang termashur murid Socrates,
menyatakan bahwa Filsafat itu tidaklah lain daripada pengetahuan tentang segala
yang ada.
Al
Farabi ( wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn
Sina berkata: “Filsafat itu ialah ilmu pengetahuan tentang alam yangmaujud dan
bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya”.
Thomas
Hobbes (1588 – 1679 M), seorang filosof Inggris
mengemukakan: “Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan perhubungan
hasil dan sebab atau sebab dari hasilnya, dan oleh karena itu senantiasa adalah
suatu perubahan”.
Masih banyak lagi pendapat beberapa
tokoh, tetapi saya hanya mengambil beberapa contoh, Dari definisi di atas dapat
dilihat adanya perbedaan dalam mendefinisikan filsafat antara tokoh yang satu
dengan tokoh yang lain. Perbedaan definisi ini menurut saya disebabkan oleh
berbedaan konotasi filsafat pada tokoh-tokoh itu karena perbedaan keyakinan
hidup yang dianut mereka. Perbedaan itu juga dapat muncul karena perkembangan
filsafat itu sendiri yang menyebabkan beberapa pengetahuan khusus memisahkan
diri dari filsafat. Di sini dapat diambil kesimpulan bahwa perbedaan definisi
filsafat antara satu tokoh dengan tokoh lainnya disebabkan oleh perbedaan
konotasi filsafat pada mereka masing-masing.
A.
Pengertian
Filsafat Islam
Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ajaran
ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu
aturan pemikiran yang logis dan sistematis. Sedangkan menurut Ahmad Fuad
al-Ahwani filsafat Islam ialah pembahasan tentang alam dan manusia yang
disanari ajaran Islam.
Adapun pengertian
filsafat islam dari segi istilah para ahli, adalah:
·
Ibrahim madzkur memberikan batasan
filsafat islam itu adalah : Pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk
menjawab tantangan zaman yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal,
agama dan filsafat
·
Ahmad fuad al-ahwani yaitu : Filsafat
Islam adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran Islam.
·
Drs. Sidi Gazalba memberikan gambaran
sebagai berikut : bahwa tuhan memberikan akal kepada manusia itu menurunkan
(wahyu/sunnah) untuk dia. Dengan akal ia membentuk pengetahuan. Apabila
pengetahuan manusia itu digerakkan oleh akal, menjadilah ia filsafat islam.
Wahyu & sunnah (terutama mengenai yang ghaib) yang tidak mungkin dibuktikan
kebenarannya denga riset, filsafat islamiah yang memberikan keterangan, ulasan
& tafsiran sehingga kebenarannya terbuktikan dengan pemikiran budi yang
bersistem, radikal & umum.
Jadi
hakekat filsafat Islam ialah aqal dan al-Quran. Filsafat Islam tidak mungkin
tanpa aqal dan al-Quran. Aqal yang memungkinkan aktivitas itu menjadi aktivitas
kefilsafatan dan al-Quran juga menjadi ciri keislamannya. Tidak dapat
ditinggalkannya al-Quran dalam filsafat Islam adalah lebih bersifat spiritual,
sehingga al-Quran tidak membatasi aqal bekerja, aqal tetap bekerja dengan
otonomi penuh.
Dari pengertian filsafat dan Islam sebagaimana diuraikan
diatas, kita dapat berkata bahwa filsafat Islam, adalah berfikir secara
sistematis, radikal dan universal tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan
ajaran Islam. Singkatnya Filsafat Islam itu dalah Filsafat yang berorientasi
pada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan
wahyu Allah.atau Filsafat Islam adalah pembahasan meliputi berbagai soal alam
semesta dan bermacam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang
turun bersama lahirnya agama Islam.
B.
Hubungan
filsafat islam dengan filsafat lainnya
A. Hubungan
Filsafat Islam Dengan Filsafat Yunani
Kedatangan para filosuf Islam yang terpengaruh oleh para
filosuf Yunani sangat berguna bagi kita yang hidup di abad 20 ini. Akan tetapi
berguru tidak berarti mengekor ataupun mengutip. Filsafat Islam telah mampu
menampung dan mempertemukan berbagai aliran pikiran. Seseorang dapat
mengemukakan persoalan yang pernah dikemukakan oleh orang lain sambil
mengemukakan teorinya sendiri, misalnya Ibnu Sina, meskipun menjadi murid setia
Aristoteles, ia mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. dengan adanya usaha dari
kaum muslimin yang menterjemahkan buku-buku filsafat Yunani. Maka mereka telah
mendapatkan ilmu baru yang memiliki corak sendiri. Perbedaan pendapat dari
berbagai pihak muncul akibat pemikira- pemikiran filsafat. Ada yang menerima
dan menolak.
Pada masa Al- Mansur dan Al-Makmun merupaka awal penterjemahan.
Umat muslim pada umumnya menerima. Dengan alasan, bahwa filsafat yang
diterjemahkan berkisar pada ketuhanan, etika dan ilmu jiwa yang ada hubunganya
dengan agama. Masa Al-Asy’ari intelektual melekukan perlawanan. Karena kebenara
filsafat Yunani bersifat spekulatif yang mengutamakan teori dan mengabaikan
kenyataan. sedangkan Qur’an sebagai landasan filosof Islam, mengungkapkannya
secara konkrit.
Para filosof Islam menerima Filsafat Yunani dangan memadukan
kedua filsafat tersebut. Cara yang ditempuh: mengulas pemikiran-pemikiran
filsafata Yunani, melenyakan keganjalanya, memepertemeukan filsafat yang
kontroversi dan memadukan antara filsafat dan agama .
Untuk memadukan antar
agama dengan filsafat yaitu: menjelaskan prinsip agama dengan pemikiran yang
terurai dan melelui jalan penakwilan. Cara ini merupakan upaya mengadakan
perpaduan sinkritisme (percampuran dua agama), tetapi coraknya berbeda.
Pada akhirnya, tidaklah dapat dipungkiri bahwa dunia Islam
berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan
keadaan masyarakat Islam itu sendiri. Filsafat Yunani sebagi motifator filosuf
Islam dalam berfikir kosmos (alam) dari zat pencipta (Allah) yang dijadikan
bahan filosuf Islam.
B.
Hubungan
Filsafat Islam dengan Ilmu-Ilmu Islam
Keunggulan khusus bagi filsafat Islam dalam masalah pembagian
cabang-cabangnya adalah mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, musik ataupun
falak yang semuanya menjadi filasafat islam. Dengan demikian filsafat Islam
secara khusus memisahkan diri sebagai ilmu mandiri. Berikut ini beberapa
hubungan filsafat Islam dengan Ilmu Tasawuf, Ilmu Fiqh, dan Ilmu pengetahuan.
1. Filsafat
Islam dengan Ilmu Kalam
Dalam perkembang ilmu-ilmu keislaman, antara filsafat Islam dam
Ilmu Kalam dapat dibedakan. Filsafat Islam mengandalkan akal dalam mengkaji
obyeknya, yaitu Allah, alam, dan manusia tanpa terikat dengan pendapat yang
ada. Nash-nash agama hanya sebagai bukti pembenaran atas hasil temuan akal.
Sebaliknya, Ilmu Kalam mengambil dalil akidah yang mutlak kebenarannya, untuk
mengkaji obyeknya, yaitu Allah dan sifat-sifatnya, serta hubungan Allah dengan
alam, dan manusia menjadikan filasafat sebagai alat untuk membenarkan nash
agama.
Oleh karena keduanya menggunakan argumentasi akal, maka
pengaruh filsafat Yunani sangat menonnjol terutama dalam filsafat Islam.
Walaupun obyek dan metode ilmu ini berbeda, tapi saling melengkapi dalam
memahami Islam dan pembentukan akidah muslim.
2. Filsafat
dan Tasawuf
Antara filsafat dan tasawuf mempunyai perbedaan yang sangat
besar. Yaitu dalam hal pembahasan, metode dan obyeknya. Apabila berbicara
filsafat berarti dalam memandang harus menggunakan akal, dan menggunakan metode
argumentasi dan logika. Kalau tasawuf dengan jalan mujahadah serta musyahadah.
Filsafat mempunyai obyek bahasan tentang alam dengan segala
isinya, manusia dan perilakunya, sikap serta mengenal eksistensi Allah SWT. Dan
tasawuf sebagai obyeknya adalah pengenalan dengan Allah SWT, lewat ibadah
syariat, ilham, dan intuisi.
Lebih cenderung lagi bahwa filsafat dalam memecahkan masalah
menggunakan pemikiran akal, tetapi tasawuf mencoba dengan wakilan batin,
perasaan, dan kesederhanaan berpola pikir dan memeandang dengan cara agama.
Sehingga dimana masalah ke-Tuhanan sulit dijabarkan melalui metode pemikiran
yang didukung oleh realitas yang nampak/logika.
C. Filsafat
dan Ushul Fiqh
Dipandang dari sudut terminologi antara ushul fiqh berbeda
dengan fisafat. walaupun perkembangan berikutnya, ushul fiqh juga terpengaruh
oleh logika Aristoteles. Hal ini dapat dilihat dalam melakukan istimbath hukum
dengan cara qiyas dan silogisme, sebagai salah satu ciri metode berfilsafat.
Secara global dapat diketahui sekarang, bahwa antara tasawuf, ilmu kalam, ushul
fiqh dapat diidentikan dengan filsafat oleh sebagian orang. Walaupun juga tidak
dapat disangkal lagi bahwa filsafat dengan ketiganya jelas berbeda dalam
masalah obyek pembahasannya.
Dari ketiga contoh ilmu keislaman yang diutarakan hubungannya
dengan Filsafat Islam, tergambar adanya pertautan dan saling mengisi, antara
filsafat Islam, disatu pihak dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Hal itu
terbukti dalam sejarah, para filsuf memadukan unsur-unsur fisafat, ilmu, dan
agama menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.
C.
Aliran-aliran yang ada di filsafat islam
Didalam
filsafat islam terdapat empat aliran-aliran didalamnya, yaitu sebagai berikut:
o
Aliran Syi’ah
Aliran Syi’ah
berpendapat bahwa Sayidina Ali merupakan manusia yang utama sehingga ia berhak
menjadi kholifah. Dan yang berhak menggantikan Nabi Muhammad adalah keluarganya
(ahlu bait) Yaitu Ali bin Abi Tholib dan keturunanya.. Aliran ini muncul akibat
permusuhan yang dilakukan Bani Umayyah dan Kaum Khowarij.
o
Aliran Khawarij
Khawarij adalah
golongan yang keluar dari kelompok pengikut Ali bin Abi Tholib. Menurut aliran
Khowarij seseorang yang melakukan dosa besar dan tidak segera bertaubat maka
dapat mengakibatkan kufur. Imam diangkat atas dasar pemilihan. Siapa saja yang
muslim, adil, berilmu, dan zuhud dapat dipilih menjadi imam.
o
Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah
adalah para pengikut Wasil Bin Atho’ yang memisahkan diri dari gurunya yaitu
Hasan Basri. Menurut aliran Mu’tazilah seseorang yang melakukan dosa besar
adalah fasik yakni orang itu tidak mukmin dan tidak kafir.
o
Aliran Al-Asy’ari
Yaitu suatu aliran yang
muncul sebagai reaksi terhadap paham teologi islam yang telah mendahuluinya.
D.
Tokoh-tokoh
dan pemikirannya
a. Al-Kindi
Nama lengkapnya Abu Yusuf, Ya’kub bin Ishak Al-Sabbah bin
Imran bin Al-Asha’ath bin Kays Al-Kindi. Beliau biasa disebut Ya’kub, lahir
pada tahun 185 H (801 M) di Kufah. Keturunan dari suku Kays, dengan gelar Abu
Yusuf (bapak dari anak yang bernama
Yusuf) nama orang tuanya Ishaq Ashshabbah, dan ayahnya menjabat gubernur di
Kufah, pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid dari Bani Abbas.
Nama Al-Kindi adalah
merupakan nama yang diambil dari nama sebuah suku, yaitu : Banu Kindah. Banu
Kindah adalah suku keturunan Kindah, yang berlokasi di daerah selatan Jazirah
Arab dan mereka ini mempunyai kebudayaan yang tinggi. sebagai orang yang
dilahirkan di kalangan para intelektual, maka pendiidkan yang pertama-tama
diterima adalah membaca Al-Qur’an, menulis, dan berhitung. Disamping itu ia
banyak mempelajari tentang sastra dan agama, juga menerjemahkan beberapa buku
Yunani di dalam bahasa Syiria kuno, dan bahasa Arab.
Al-Kindi mengarang buku-buku yang menganut keterangan
Ibnu Al-Nadim buku yang ditulisnya berjumlah 241 dalam bidang filsafat, logika,
arithmatika, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik,
matematika dan sebagainya. Dari karangan-karangannya, dapat kita ketahui bahwa
Al-Kindi termasuk penganut aliran Eklektisisme; dalam metafisika dan kosmologi
mengambil pendapat Aristoteles, dalam psikologi mengambil pendapat Plato, dalam
hal etika mengambil pendapat Socrates dan Plato.
Mengenai filsafat dan agama, Al-Kindi berusaha
mempertemukan amtara kedua hal ini; Filsafat dan agama. Al-Kindi berpendapat
bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan
paling tinggi martabatnya. Dan agama juga merupakan ilmu mengenai kebenaran,
akan tetapi keduanya memiliki perbedaan.
Mengenai hakikat Tuhan, Al-Kindi menegaskan bahwa Tuhan
adalah wujud yang hak (benar), yang bukan asalnya tidak ada menjadi ada, ia
selalu mustahil tidak ada, ia selalu ada dan akan selalu ada. Jadi Tuhan adalah
wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain, tidak berakhir
wujudNya dan tidak wujud kecuali denganNya.
Unsur-unsur filsafat yang kita dapati pada pemikiran
Al-Kindi ialah:
a. Aliran
Pythagoras tentang matematika sebagai jalan ke arah filsafat.
b. Pikiran-pikiran
Aristoteles dalam soal-soal fisika dan metafisika, meskipun Al-Kindi
tidaksependapat dengan Aristoteles tentang qadimnya alam.
c. Pikiran-pikiran
Plato dalam soal kejiwaan.
d. Pikiran-pikiran
Plato dan Aristoteles bersama-sama dalam soal etika.
e. Wahyu
dan iman (ajaran-ajaran agama) dalam soal-soal yang berhubungan dengan Tuhan
dan sifat-sifatNya.
f. Aliran
Mu’tazilah dalam memuja kekuatan akal manusia dan dalam menakwilkan ayat-ayat
Qur’an.
Haruslah diakui bahwa Al-Kindi tidak mempunyai sistem
filsafat yang lengkap. Jasanya ialah karena dia adalah orang yang pertama-tama
membuka pintu filsafat bagi dunia Arab dan diberinya corak Arab keislaman.
Pendiri filsafat Islam yang sebenarnya ialah Al-Farabi.
b. AL-Farabi
Ia adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Sebutan
Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, dimana ia dilahirkan pada tahun 257 H
(870 M). Ayahnya adalah seorang Iran dan kawin dengan seorang wanita Turkestan.
Kemudian ia menjadi perwira tentara Turkestan. Karena itu, Al-Farabi dikatakan
berasal dari keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari
keturunan Iran.
Sejak kecilnya,
Al-Farabi suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam lapangan
bahasa. Bahasa-bahasa yang dikuasainya antara lain bahasa Iran, Turkistan, dan
Kurdistan. Nampaknya ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Siriani, yaitu
bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu.
Setelah besar, Al-Farabi meninggalkan negerinya untuk menuju
kota Baghdad, pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan pada masanya, untuk
belajar antara lain pada Abu Bisyr bin Mattius. Selama berada di Baghdad, ia
memusatkan perhatiannya kepada ilmu logika.
Al-Farabi luas pengetahuannya, mendalami ilmu-ilmu yang ada
pada masanya dan mengarang buku-buku dalam ilmu tersebut. Buku-bukunya, baik
yang sampai kepada kita maupun yang tidak, menunjukkan bahwa ia mendalami
ilmu-ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik, ilmu alam,
ketuhanan, fiqih, dan mantik.
Sebagian besar
karangan-karangan Al-Farabi terdiri dari ulasan dan penjelasan terhadap
filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenius, dalam bidang-bidang logika, fisika,
etika, dan metafisika. Meskipun banyak tokoh filsafat yang diulas pikirannya,
namun ia lebih terkenal sebagai pengulas Aristoteles.
Di antara karangan-karangannya ialah:
a. Aghradlu ma Ba’da at-Thabi’ah.
b. Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hakimain
(Mempertemukan Pendapat Kedua Filosof;
maksudnya Plato dan Aristoteles).
c. Tahsil as-Sa’adah (Mencari Kebahagiaan).
d. ‘Uyun al-Masail (Pokok-Pokok persoalan).
e. Ara-u Ahl-il Madinah al-Fadhilah
(Pikiran-Pikiran Penduduk Kota Utama
Negeri Utama).
f. Ih-sha’u al-Ulum (Statistik Ilmu).
Menurut Dr. Ibrahim Madkour, filsafat Al-Farabi adalah filsafat
yang bercorak spiritual-idealis, sebab menurut Al-Farabi, dimana-mana ada roh.
Tuhannya adalah Roh dari segala Roh. Akal yang dikonsepsikannya yaitu ‘Uqul
Mufariqah (akal yang terlepas dari benda) merupakan makhluk rohani murni,
sedang kepala negeri- utamanya, menguasai badannya. Roh itu pula yang
menggerakkan benda-benda langit dan mengatur alam di bawah bulan.
Meskipun Al-Farabi telah banyak mengambil dari Plato,
Aristoteles dan Plotinus, namun ia tetap memegangi kepribadian, sehingga
pikiran-pikiranya tersebut merupakan filsafat Islam yang berdiri sendiri, yang
bukan filsafat stoa, atau Peripatetik atau Neo Platonisme. Memeng bisa
dikatakan adanya pengaruh aliran-aliran tersebut, namun bahannya yang pokok
adalah dari Islam sendiri.
c. Ibnu
Sina
Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, dimana Khilafah
Abbasiyah mengalami kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula berada di
bawah kekuasaan khilafah tersebut mulai melepaskan diri satu persatu untuk
berdiri sendiri. Kota Baghdad sendiri, sebagai pusat pemerintahan Khilafah
Abbasiyah, dikuasai oleh golongan Bani Buwaih pada tahun 334 H dan kekuasaan
mereka berlangsung terus sampai tahun 447 H.
Di antara daerah-daerah yang berdiri sendiri ialah Daulah
Samani di Bukhara, dan di antara khalifahnya ialah Nuh bin Mansur. Pada
masanya, yaitu di tahun 340 H (980 M), di suatu tempat yang bernama Afsyana,
daerah Bukhara, Ibnu Sina dilahirkan dan dibesarkan. Di Bukhara ia menghafal
Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama serta ilmu astronomi, sedangkan usianya baru
sepuluh tahun.
Kemudian ia mempelajari matematika, fisika, logika dan ilmu
metafisika. Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya,
seorang Masehi.
Belum lagi usianya melebihi enam-belas tahun, kemahirannya
dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan
untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan teori-teori kedokteran, taoi
juga melakukan praktek dan mengobati orang-orang sakit.
Sebenarnya hidup Ibnu Sina tidak pernah mengalami ketenangan,
dan usianya pun tidak panjang. Meskipun banyak kesibukan-kesibukannya dalam
urusan politik, sehingga ia tidak banyak mempunyai kesempatan untuk mengarang,
namun ia telah berhasil meninggalkan berpuluh-puluh karangan.
Karangan-karangan Ibnu Sina yang terkenal ialah:
a. Asy-Syifa. Buku ini adalah buku filsafat yang
terpenting dan terbesar dari Ibnu
Sina, dan trediri dari enpat bagian, yaitu: logika, fisika, matematika, dan metafisika (ketuhanan).
b. An-Najat. Buku ini merupakan keringkasan buku
as-Syifa, dan pernah diterbitkan
bersama-sama dengan buku al-Qanun dalam ilmu kedokteran
pada tahun 1593 M di Roma dan pada tahun 1331 M di Mesir.
c. Al-Isyarat wat-Tanbihat. Buku ini adalah buku
terakhir dan yang paling baik, dan
pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892 M, dan sebagiannya diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis.
d. Al-Hikmat al-Masyriqiyyah. Buku ini banyak
dibicarakan orang, karena tidak
jelasnya maksud judul buku, dan naskah-naskahnya yang masih ada memuat bagian logika.
e. Al-Qanun, atau Canon of Medicine, menurut
penyebutan orang-orang Barat. Buku
ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan pernah menjadi buku standar untuk universitas-universitas
Eropa sampai akhir abad
ketujuhbelas Masehi.
Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap
pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku-buku yang
khusus untuk soal-soal kejiwaan atau pun buku-buku yang berisi campuran
berbagai persoalan filsafat.
Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan,
baik pada dunia piker Arab sejak abad kesepuluh Masehi sampai akhir abad ke-19
Masehi, terutama pada Gundissalinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger
Bacon, dan Dun Scott. Bahkan juga ada pertaliannya dengan pikiran-pikiran
Descartes tentang hakikat jiwa dan wujudnya.
Hidup Ibnu Sina penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang;
penuh pula dengan kesenangan dan kepahitan hidup bersama-sama, dan boleh jadi
keadaan ini telah mengakibatkan ia tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati
lagi. Pada tahun 428 H (1037 M), ia meninggal dunia di Hamadzan, pada usia 58
tahun.
d. Al-Ghazali
Ia adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, bergelar
Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H di Tus, suatu kota kecil di Khurassan (Iran).
Kata-kata al-Ghazali kadang-kadang diucapkan al-Ghazzali (dengan dua z). dengan
menduakalikan z, kata-kata al-Ghazzali diambil dari kata-kata Ghazzal, artinya
tukang pemintal benang, karena pekerjaan ayahnya ialah memintal benang wol,
sedang al-Ghazali dengan satu z, diambil dari kata-kata Ghazalah, nama kampung
kelahiran al-Ghazali. Sebutan terakhir ini yang banyak dipakai.
Al-Ghazali pertama-tama belajar agama di kota Tus, kemudian
meneruskan di Jurjan, dan akhirnya di Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai
yang terakhir ini wafat tahun 478 H/1085 M. kemudian ia berkunjung kepada Nidzam
al-Mulk di kota Mu’askar, dan dari padanya ia mendapat kehormatan dan
penghargaan yang besar, sehingga ia tinggal di kota itu enam tahun
lamanya. Pada tahun 483 H/1090 M, ia diangkat menjadi guru di sekolah Nidzamah
Baghdad, dan pekerjaannya itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di
Baghdad, selain mengajar, juga mengadakan bantahan-bantahan terhadap
pikiran-pikiran golongan Bathiniyah, Isma’iliyyah, golongan filsafat dan
lain-lain. Pengaruh al-Ghazali di kalangan kaum Muslimin besar sekali, sehingga
menurut pandangan orang-orang ahli ketimuran (Orientalis), agama Islam yang
digambarkan oleh kebanyakan kaum Muslimin berpangkal pada konsepsi al-Ghazali.
Al-Ghazali adalah seorang ahli pikir Islam yang dalam ilmunya,
dan mempunyai nafas panjang dalam karangan-karangannya. Puluhan buku telah
ditulisnya yang meliputi berbagai lapangan ilmu, antara lain Teologi Islam
(Ilmu Kalam), Hukum Islam (Fiqih), Tasawuf, Tafsir, Akhlak dan adab kesopanan,
kemudian autobiografi. Sebagian besar dari buku-buku tersebutdiatas dalam
bahasa Arab dan yang lain ditulisnya dalam bahasa Persia.
Karyanya yang terbesar yaitu Ihya ‘Ulumuddin yang artinya
“Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama”, dan dikarangnya selama beberapa tahun dalam
keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerussalem, Hijjaz dan Tus, dan yang
berisi tentang paduan yang indah antara fiqih, tasawuf dan filsafat, bukan saja
terkenal di kalangan kaum Muslimin, tetapi juga di kalangan dunia Barat dan
luar Islam. bukunya yang lain yaitu al-Munqidz min ad-Dlalal (Penyelamat dari
Kesesatan), berisi sejarah perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan
sikapnya yang terakhir terhadap beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai
Tuhan. Diantara penulis-penulis modern
banyak yang mengikuti jejak al-Ghazali dalam menuliskan autobiografi.
Pikiran-pikiran al-Ghazali telah mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan
penuh kegoncangan batin, sehingga sukar diketahui kesatuan dan kejelasan corak
pemikirannya, seperti yang terlihat dari sikapnya terhadap filosof-filosof dan terhadap
aliran-aliran akidah pada masanya.
Namun demikian,
al-Ghazali telah mencapai hakikat agama yang belum pernah diketemukan oleh
orang-orang yang sebelumnya dan mengembalikan kepada agama nulai-nilai
yang telah hilang tidak menentu. Jalan yang terdekat kepada Tuhan ialah jalan hati dan dengan
demikian ia telah membuka pintu Islam seluas-luasnya untuk tasawuf. pengaruh
al-Ghazali besar sekali di kalangan kaum Muslimin sendiri sampai sekarang
ini, sebagaimana juga di kalangan tokoh-tokoh pikir abad pertengahan bahkan
juga sampai pada tokoh-tokoh pikir abad modern.
e. Ibnu
Bajah
Ia adalah Abu Bakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan
sebutan Ibnus-Shaigh atau Ibnu Bajah. Orang-orang Eropa pada abad-abad
pertengahan menamai Ibnu Bajah dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut
nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Gaberol, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd, masing-masing
dengan nama Avicenna, Avicebron, Abubacer, dan Averroes.
Ibnu Bajah dilahirkan di Saragosta pada abad ke-11 Masehi.
Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui, demikian pula masa kecil dan
masa mudanya. Sejauh yang dapat dicatat oleh sejarah ialah bahwa ia hidup di
Serville, Granada, dan Fas; menulis beberapa risalah tentang logika di kota
Serville pada tahun 1118 M, dan meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M ketika
usianya belim lagi tua. Menurut satu
riwayat, ia meninggal dunia karena diracuni oleh seorang dokter yang iri
terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya.
Buku-buku yang ditinggalkannya ialah:
a. Beberapa risalah dalam ilmu logika, dan
sampai sekarang masih tersimpan di
perpustakaan Escurial (Spanyol).
b. Risalah tentang jiwa.
c. Risalah al-Ittisal, mengenai pertemuan
manusia dan akal-faal.
d. Risalah al-Wada’, berisi uraian tentang
penggerak-pertama bagi manusia dan
tujuan yang sebenarnya bagi wujud manusia dan alam.
e. Beberapa risalah tentang ilmu falak dan
ketabiban.
f. Risalah Tadbir al-Mutawahhid.
g. Beberapa ulasan terhadap buku-bukufilsafat,antara
lain dari Aristoteles,
al-Farabi, Porphyrus, dan sebagainya.
Menurut Carra de Vaux, di perpustakaan Berlin ada 24 risalah
manuskrip karangan Ibnu Bajah. Diantara karangan-karangannya itu yang paling
penting ialah risalah Tadbir al-Mutawahhid yang membicarakan usaha-usaha orang
yang menjauhi segala macam keburukan masyarakat, yang disebutnya Mutawahhid,
yang berarti “penyendiri”. Isi risalah tersebut cukup jelas, sehingga
memungkinkan kita dapat mempunyai gambaran tentang usaha si penyendiri tersebut
untuk dapat bertemu dengan akal-faal dan menjadi salah satu unsur pokok bagi
negeri idam-idamannya.
Ibnu Bajah telah memberi corak baru terhadap filsafat Islam di
negeri Islam barat dalam teori ma’rifat (epistemology, pengetahuan), yang
berbeda sama sekali dengan corak yang telah diberikan oleh al-Ghazali di dunia
timur Islam, setelah ia dapat menguasai dunia pikir sepeninggal filosof-filosof
Islam.
f. Ibnu
Thufail
Ia adalah Abubakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail,
dilahirkan di Wadi Asy dekat Granada, pada tahun 506 H/1110 M. kegiatan
ilmiahnya meliputi kedokteran, kesusasteraan, matematika dan filsafat. Ia
menjadi dokter di kota tersbut dan berulangkali menjadi penulis penguasa
negerinya. Setelah terkenal, ia menjadi dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf
al-Mansur, khalifah kedua daru daulah Muwahhidin. Dari al-Mansur ia memperoleh
kedudukan yang tinggi dan dapat mengumpulkan orang-orang pada masanya di istana
Khalifah itu, di antaranya ialah Ibnu Rusyd yang diundang untuk mengulas
buku-buku karangan Aristoteles.
Buku-buku biografi
menyebutkan beberapa karangan dari Ibnu Thufail yang menyangkut beberapa
lapangan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan
sebagainya, disamping risalah-risalah (surat-surat) kiriman kepada Ibnu Rusyd.
Akan tetapi karangan-karangan tersebut tidak sampai kepada kita, kecuali satu
saja, yaitu risalah Hay bin Yaqadhan, yang merupakan intisari pikiran-pikiran
filsafat Ibnu Thufail, dan yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Suatu manuskrip di perpustakaan Escurrial yang berjudul Asrar al-Hikmat
ai-Masyriqiyyah (Rahasia-rahasia Filsafat Timur) tidak lain adalah bagian dari
risalah Hay bin Yaqadhan.
Ibnu Thufail tergolong filosof dalam masa Skolastik Islam.
Pemikiran kefilsafatannya cukup luas, termasuk metafisika. Dalam pencapaian
Ma’rifatullah, Ibnu Thufail menempatkan sejajar antar akal dan syari’at.
Pemikiran tersebut sebenarnya merupakan upaya yang tidak pada tempatnya, sebab
syari’at sumbernya adalah wahyu (yakni : dari Tuhan), sedangkan akal merupakan
aktifitas manusiawi. Akal manusia sebenarnya hanyalah dampak mencari alasan
rasional.
g. Ibnu
Rusyd
Nama lengkapnya Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, lahir di
Cordova pada tahun 520 H. Ia berasal dari kalangan keluarga besar yang terkenal
dengan keutamaan dan mempunyai kedudukan tinggi di Andalusia (Spanyol). Ayahnya
adalah seorang hakim, dan kakeknya yang terkenal dengan sebutan “Ibnu Rusyd
kakek” (al-Jadd) adalah kepala hakim di Cordova.
Ibnu Rusyd adalah
seorang ulama besar dan pengulas yang dalam terhadap filsafat Aristoteles.
Kegemarannya terhadap ilmu sukar dicari bandingannya, karena menurut riwayat,
sejak kecil sampai tuanya ia tidak pernah terputus membaca dan menelaah kitab,
kecuali pada malam ayahnya meninggal dan dalam perkawinan dirinya.
Karangannya meliputi berbagai ilmu, seperti: fiqih, ushul,
bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak, dan filsafat. Tidak kurang dari
sepuluh ribu lembar yang telah ditulisnya. Buku-bukunya adakalanya merupakan
karangan sendiri, atau ulasan, atau ringkasan. Karena sangat tinggi
penghargaannya terhadap Aristoteles, maka tidak mengherankan kalau ia
memberikan perhatiannya yang besar untuk mengulaskan dan meringkaskan filsafat
Aristoteles. Buku-buku lain yang telah diulasnya ialah buku-buku karangan
Plato, Iskandar Aphrodisias, Plotinus, Galinus, al-Farabi, Ibnu Sina,
al-Ghazali, dan Ibnu Bajah.
Buku-bukunya yang lebih penting dan yang sampai kepada kita ada
empat, yaitu:
a. Bidayatul
Mujtahid, ilmu fiqih. Buku ini bernilai tinggi, karena berisi perbandingan
mazhabi (aliran-aliran) dalam fiqih dengan menyebutkan alasannya masing-masing.
b. Faslul-Maqal
fi ma baina al-Hikmati was-Syari’at min al-Ittisal (ilmu kalam). Buku ini
dimaksudkan untuk menunjukkan adanya persesuaian antara filsafat dan syari’at,
dan sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1895 M oleh
Muler, orientalis asal Jerman.
c. Manahijul
Adillah fi Aqaidi Ahl al-Millah (ilmu kalam). Buku ini menguraikan tentang
pendirian aliran-aliran ilmu kalam dan kelemahan-kelemahannya, dan sudah
pernah diterjemahkan ke dalam bahasa
Jerman, juga oleh Muler, pada tahun 1895 M.
d. Tahafut
at-Tahafut, suatu buku yang terkenal dalam lapangan filsafat dan ilmu kalam,
dan dimasukkan untuk membela filsafat dari serangan al-Ghazali dalam bukunya
Tahafut al-Falasifah. Buku Tahafut at-Tahafut berkali-kali diterjemahkan ke
dalam bahasa Jerman, dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris oleh van den
Berg yang terbit pada tahun 1952 M.
Ibnu Rusyd adalah tokoh
pikir Islam yang paling kuat, paling dalam pandangannya, paling hebat
pembelaannya terhadap akal dan filsafat, sehingga ia benar-benar menjadi
filosof-pikiran dikalangan kaum Muslimin.
Pada garis besar filsafatnya, ia mengikuti Aristoteles dan
berusaha mengeluarkan pikiran-pikirannya yang sebenarnya dari celah-celah
kata-kata Aristoteles dan ulasan-ulasannya. Ia juga berusaha menjelaskan
pikiran tersebut dan melengkapkannya, terutama dalam lapangan ketuhanan, di mana
kemampuannya yang tinggi dalam mengkaji berbagai persoalan dan dalam
mempertemukan antara agama dengan filsafat nampak jelas kepada kita. ketika
hendak meninggal, beliau (Ibnu Rusyd) mengeluarkan kata-katanya yang terkenal:
“Akan mati rohku karena
matinya filosof”.
E.
Fungsi
Filsafat Islam
Filsafat islam telah memerankan sedikitnya tiga fungsi
dalam sejarah pemikiran manusia.ketiga fungsi itu ialah sebagai
pendobrak,pembebas,dan pembimbing.
a. Pendobrak
Berabad-abad lamanya intelektulitas manusia tertawan
dalam penjara tradisi dan kebiasaan.Dalam penjara itu,manusia terlena dalam
alam mistik yang penuh sesak dengan hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat
berbagai mitos dan mitis.Manusia menerima bengitu saja segala hal penuturan
dongeng dan takhayul tanpa mempersoalkan lebih lanjut.Orang beranggapan bahwa
karena segala dongeng dan takhayul itu
merupakan bagian yang hakiki dari warisan tradisi nenek moyang,sedang tradisi
itu anggapan mereka benar dan tak dapat diganggu-gugat. Keadaan tersebut tersebut
berlangsung cukup lama.kehadiran filsafat islam mendobrak pintu-pintu dan
tembok-tembok tradisi yang begitu sacral dan selama itu tidak boleh
diganggu-gugat.kendati pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup
panjang,kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa filsafat islam benar-benar
telah berfungsi selalu pendobrak yang
efektif.
b. Pembebas
Filsafat islam bukan sekedar mendobrak pintu
penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbangai mitos itu,melainkan
juga merenggut manusia keluar dari dalam penjara itu.Filsafat membebaskan
manusia dari ketidaktahuan dan kebodohan.Demikian pula filsafat islam
membebaskan manusia dari belenggu cara berpikir yang mistis.
Sesungguhnya
filsafat islam akan terus berupaya membebaskan manusia dari kekurangan dan kemiskinaan
pengetahuan yang menyebabkan manusia menjadi menjadi picik dan dangkal.Filsafat
islam pun membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak
jernih.Filsafat islam juga membebaskan manusia dari cara berpikir tidak kritis
yang membuat manusia menerima kebenaran-kebenaran semu yang menyesatkan.
c. Pembimbing
Filsafat islam juga sanggup melaksanakan
fungsinya selaku pembimbing.Dengan membimbing manusia bisa berpikir secara
rasional,sistematis, dan logis dari pemikiran yang dangkal dan menyesatkan.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
dan SARAN
Filsafat islam memang tumbuh dan
berkembang untuk pertama kali bukanlah di arab, tapi di Yunani. Filsafat islam
merupakan pemikiran-pemikiran dari orang-orang islam. Dunia
Islam telah berhasil membentuk suatu filsafat yang sesuai dengan
prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam sendiri. Filsafat islam
tumbuh dan berkembang itu dikarenakan adanya orang-orang yang mencintai ajaran
agama islam seperti tokoh-tokoh filsafat yang terkemuka. Dan semoga pemikiran
tokoh-tokoh tersebut dapat menjadi acuan dan pedoman kita dalam ilmu
pengetahuan dalam ajaran islam. Di dalam pembahasan makalah ini saya mohon maaf
apabila masih banyak keterbatasan dan informasi dalam data-datanya masih banyak
kurang tepat, saya pribadi menyadari itu dan mohon maaf kepada pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal.2004.
Filsafat Ilmu.Jakarta:PT Rajagrafindo Persada
F.R
Ankersmit.1987. Refleksi Tentang Sejarah.Jakarta:Gramedia
Juraid,
Abdul Latief.2006. Manusia. Filsafat dan
Sejarah. Jakarta:Bumi Aksara
Oswald,Spengler.
2010. Filsafat Sejarah.
Yogyakarta:Interaksi Publisher
Misri
A. Muchsin.2002. Filsafat Sejarah dalam
Islam.Yogyakarta: Ar-Ruzz Press Khazanah Pustaka Indonesia.
Ma’arif,
Ahmad Syafi’i. 1996. Ibn Khaldun dalam
pandangan penulis Barat dan timur. Jakarta: Gema Insani Press
Internet:
http://a2i3s-c0ol.blogspot.com/2009/01/hubungan-filsafat-islam-dengan-filsafat.html
(Diakses 29 Desember jam 02.34)
http://mustanir.net/index.php/daftar-artikel/3-apa-itu-filsafat-islam
(Diakses 29 Desember 2013 jam 02.05)
http://mustanir.net/index.php/daftar-artikel/3-apa-itu-filsafat-islam
(Diakses 1 januari 2014 jam 19.34)

No comments:
Post a Comment