About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Friday, 9 January 2015

Artikel sejarah orde baru

Nama : Riwan Sutandi (3101412084)
Sejarah politik
Artikel
Fenomena: Masa Orde Baru
Konsep: 
A.    Penyederhanaan sistem politik dari multipartai menjadi 3 partai utama.
B.     Tokoh-tokoh sosialis ditekan dan menaikkan para teknokrat.
C.    Segala keputusan strategis menjadi wewenang pemerintah pusat. Pemerintahan dijalankan secara terpusat dan bukan diberikan kepada daerah secara otonom.

Orde baru adalah sebutan bagi masa pemerintahn presiden soeharto di indonesia.orde baru menggantikan orde lama yang merujuk kepada era pemerintahan soekarno. Orde baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998 dalam jangka waktu tersebut perkembangan ekonomi indonesia berkembang pesat walaupun pada saat itu terjadi persamaan praktek korupsi yang merajalela dinegara ini. Sebagai masa yang menandai sebuah masa baru setelah pemberontakan PKI tahun 1965. Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya. Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya.
Orde baru lahir sebagai upaya untuk :
1.      Mengoreksi total penyimpangan yang dilakukan pada masa orde lama.
2.      Penataan kembali seluruh aspek kehidupan rakyat,bangsa,dan negara indonesia.
3.      Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
4.      Menyusun kembali kekuatan bangsa untuk menumbuhkan stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan bangsa.

Latar belakang lahirnya orde baru antara lain :
a.       Terjadinya peristiwa gerakan 30 september 1965.
b.      Keadaan politik dan keamanan negara menjadi kacau karena peristiwa gerakan 30 september 1965 dan ditambahnya dengan adanya konflik di angkatan darat yang sudah berlangsung lama.
c.       Keadaan perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai 600% sedangkan upaya pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan kenaikan harga barang bakar menyebabkan timbulnya keresahan masyarakat.
d.      Reaksi keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh PKI.rakyat melakukan demokrasi menuntut agar PKI beserta organisasi masanya dibubarkan serta tokoh-tokohnya di adili.
e.       Kesatuan aksi (KAMI,KAPI,KPPI,KASI dsb) yang ada dimasyarkat akan bergabung membentuk kesatuan aksiberupa “Front Pancasila” yang selnjutnya lebih dikenal dengan “angkata 66” untuk menghancurkan tokoh yang terlibat dalam gerakan 30 september 1965.
f.       Kesatuan aksi “front pancasila” pada 10 januari 1966 didepan gedung DPR-GR mengjukan tuntutan yang dikenal dengan TRITURA (tri tuntutan rakyat) yang berisi :
1.                   Pembubaran PKI beserta orgamisasi masanya.
2.                   Pemebrsihan kabinet dwikora.
3.                   Penuruna harga-harga barang.

g.      Upaya reshuffle kabinet dwikora pada 21februari 1966 dan pembentuk kabinet seratus menteri tidak juga memuaskan rakyat sebab rakyat menganggap kabinet tersebut duduk tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa gerakan 30 september 1965.
h.      Wibawa dan kekuasaan presiden soekarno semakin menurun setelah upaya mengadili tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan 30 september 1965 tidak berhasil dilakukan meskipun telah dibentuk mahkamah militer luar biasa (mahmilub).
i.        Sidang paripurna kabinet dalam rangka mencari solusi dari masalah yang sedang bergejolak tak juga berhasil.maka presiden mengeluarkan surat pemerintah 11 maret 1966 (supersemar) yang ditunjukan bagi letjen soeharto guna mengambil langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaan keadaan negara yang semakin kacau dan sulit dikendalikan.
            Presiden soeharto memulai orde baru dalam dunia politik indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh soekarno sampai akhir jabatannya. Orde baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijaksanaannya melalui struktur administratifnya yang didominasi militer,DPR, dan MPR tidak berfungsi efektif. Anggotanya juga seringkali dipilih dari kalangan militer khususnya mereka yang dekat dengan cendana.dan hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat kurang di dengar pusat.
            Jenderal Soeharto sebagai pemimpin utama orde baru yang menjabat ketua presidium kabinet ampera, pada tanggal 19 april 1969 telah memberikan uraian mengenai hakekat orde baru yaitu sebagai berikut “orde baru adalah tatanan seluruh perkehidupan rakyat, bangsa dan negara republik indonesia yang diletakkan kepada kemurnian pelaksaan pancasila dan undang-undang dasar 1945.
Dilihat dari proses lahirnya cita-cita mewujudkan orde baru itu merupakan suatu reaksi dan koreksi prinsipiil terhadap praktek-praktek penyelewengan yang telah terjadi pada pada waktu-waktu yang lampau yang disebut dengan orde lama. Orde baru  hadir dengan semangat “koreksi total” atas penyimpangan yang dilakukan oleh soekarno pada masa orde lama. Jadi oleh karena itu pengertian orde baru yang terpenting ialah suatu orde yang mempunyai sikap dan tekat mental dan iktikad baik yang mendalam untuk mengabdi kepada rakyat,mengabdi kepada kepentingan nasional yang dilandasi oleh falsafah pancasila dan yang menjunjung tinggi azas dan sendi undang-undang dasar 1945. Untuk membangun pemerintahan yang sedemikian solid, Soeharto mengambil langkah-langkah atau Perubahan strategis – yang dapat dipakai untuk menggambarkan gaya kepemimpinannya langkah-langkah tersebut yaitu sebagai berikut:
  1. Penyederhanaan sistem politik dari multipartai menjadi 3 partai utama.
Perubahan mendasar dalam sistem perpolitikan di Indonesia terjadi dimasa reformasi. Salah satu agenda reinstitusionalisasi politik tersebut telah menempatkan partai politik sebagai salah satu instrumen terpenting dalam demokratisasi. Namun demikian, dinamika kehidupan partai politik tidak berkembang diruang fakum. Partai politik memiliki sejarah yang panjang sejak pemerintahan Republik melalui Maklumat X/ 1945 membuka ruang gerak kehidupan multi partai, pembatasan kehidupan kepartaian di masa Demokrasi terpimpin hingga pengerdilan ruang gerak partai di masa Orde baru.[1]
Menurut Harold Crouch, tentara Indonesia tidak pernah membatasi dirinya hanya sebagai kekuatan militer. Pada masa revolusi 1945-1949, tentara terlibat di dalam perjuangan kemerdekaan di mana tindakan politik (diplomasi) dan militer merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pengumuman keadaan darurat perang tahun 1957, di samping membuka peluang tentara masuk dalam pemerintahan juga meningkatkan peran militer dalam bidang ekonomi. Namun peristiwa 1965 merupakan tonggak sejarah paling penting, karena saat itu militer berhasil menghancurkan Partai Komunis Indonesia, Musuh Besarnya.[2]
Kemudian dilakukan konsolidasi di kalangan tentara: pengikut dan simpatisan Sukarno serta perwira yang mempunyai potensi penentang Soeharto disingkirkan. Setelah terwujud Dominasi angkatan darat dalam politik, mereka dengan leluasa merambah ke dunia bisnis.[3]
Pemerintah Orde baru di bawah Presiden Soeharto, bertekad mengentaskan kemiskinan dan krisis ekonomi. Menghidupkan wawasan politik yang tidak lagi mempertentangkan ideologi, hanya berideologi tunggal pancasila. Menyederhanakan jumlah partai politik. Meredam perkembangan rasa kecurigaan terhadap pemerintah, dengan memehamkan masyarakat terhadap program pembangunan, rencana pembangunan lima tahun-repelita yang ditentukan oleh MPR dengan garis besar haluan negara yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.[4]
Pada awal masa orde baru dalam rangka menghadapi parahnya kondisi ekonomi yang diwariskan sebelumnya dan situasi politik yang tidak menentu, orde baru mengambil tindakan-tindakan yang prakmatis dalam rangka penyelamatan ekonomi nasional dan politik nasional, yaitu diantaranya dalam penyelamatan politik nasional pemerintah orde baru melakukan penyederhanaan sistem politik dari multipartai menjadi 3 partai utama.[5]
Pemerintah orde baru melakukan penyederhanaan partai politik melalui fusi pada 1973, dari 10 menjadi 3 partai politik. Partai Persatuan pembangunan (PPP) merupakan hasil fusi dari 4 partai  islam, yakni NU, Parmusi, PSII, dan Perti. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) merupakan hasil fusi dari PNI, Parkindo, Partai Katholik, Murba, dan IPKI, sedangkan Golkar tetap sebagai organisasi politik yang didukung pemerintah.[6]
Pada tahun 1973 setelah dilaksanakan pemilihan umum yang pertama pada masa Orde Baru pemerintahan pemerintah melakukan penyederhaan dan penggabungan (fusi) partai- partai politik menjadi tiga kekuatan social politik. Penggabungan partai-partai politik tersebut tidak didasarkan pada kesamaan ideology, tetapi lebih atas persamaan program.
Penyederhanaan partai-partai politik ini dilakukan pemerintah Orde Baru dalam upaya menciptakan stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengalaman sejarah pada masa pemerintahan sebelumnya telah memberikan pelajaran, bahwa perpecahan yang terjadi dimasa Orde Lama, karena adanya perbedaan ideologi politik dan ketidakseragaman persepsiserta pemahaman Pancasila sebagai sumber hukum tertinggi di Indonesia.
Selama masa Orde Baru pemerintah berhasil melaksanakan enam kali pemilihan umum, yaitu tahun 1971, 1977, 1985, 1987, 1992, dan 1997. Dalam setiap Pemilu yang diselenggarakan selama masa pemerintahan Orde Baru, Golkar selalu memperoleh mayoritas suara dan memenangkan Pemilu.[ Pada Pemilu 1997 yang merupakan pemilu terakhir masa pemerintahan Orde Baru, Golkar memperoleh 74,51 % dengan perolehan 325 kursi di DPR, dan PPP memperoleh 5,43 %dengan peroleh 27 kursi. Dan PDI mengalami kemorosotan perolehan suara hanya mendapat11 kursi. Hal disebabkan adanya konflik intern di tubuh partai berkepala banteng tersebut, dan PDI pecah menjadi PDI Suryadi dan PDI Megawati Soekarno Putri yang sekarang menjadi PDIP .Penyelenggaraan Pemilu yang teratur selama masa pemerintahan Orde Baru telah menimbulkan kesan bahwa demokrasi di Indonesia telah berjalan dengan baik. Apalagi Pemilu berlangsung dengan asas LUBER (langsung, umum, bebas, dan rahasia). Namun dalamkenyataannya Pemilu diarahkan untuk kemenangan salah satu kontrestan Pemilu yaituGolkar.Kemenangan Golkar yang selalu mencolok sejak Pemilu 1971 sampai dengan Pemilu 1997 menguntungkan pemerintah di mana perimbangan suara di MPR dan DPR didominasi oleh Golkar. Keadaan ini telah memungkinkan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia selama enam periode, karena pada masa Orde Baru presiden dipilih oleh anggota MPR. Selain itu setiap pertanggungjawaban, rancangan Undang-undang, dan usulan lainnya dari pemerintah selalu mendapat persetujuan MPR dan DPR tanpa catatan.[7]

  1. Tokoh-tokoh sosialis ditekan dan menaikkan para teknokrat.
Menjelang berakhirnya tahun 1965 operasi militer penumpasan terhadap pemberontakan G 30 S/PKI dapat dikatakan sudah berakhir. Akan tetapi, penyelesaian politik terhadap peristiwa tersebut belum terlihat adanya tanda-tanda akan dilaksanakan oleh presiden soekarno sesuai dengan janjinya. Begitupun dengan tokoh-tokoh sosialis yang ada di indonesia. Tokoh- tokoh sosialis banyak yang dibunuh dan banyak juga yang diasingkan di pulau lain.[8]
            Dalam bulan-bulan setelah peristiwa ini, semua anggota dan pendukung PKI, atau mereka yang dianggap sebagai anggota dan simpatisan PKI, semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Pembunuhan-pembunuhan ini terjadi di Jawa Tengah (bulan Oktober), Jawa Timur (bulan November) dan Bali (bulan Desember). Berapa jumlah orang yang dibantai tidak diketahui dengan persis - perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juga orang. Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu. Dihasut dan dibantu oleh tentara, kelompok-kelompok pemuda dari organisasi-organisasi muslim sayap-kanan seperti barisan Ansor NU dan Tameng Marhaenis PNI melakukan pembunuhan-pembunuhan massal, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada laporan-laporan bahwa Sungai Brantas di dekat Surabaya menjadi penuh mayat-mayat sampai di tempat-tempat tertentu sungai itu "terbendung mayat". Pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan ratusan ribu lainnya dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali. Sewaktu regu-regu militer yang didukung dana CIA menangkapi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji terhadap mereka, majalah "Time" memberitakan: "Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembap membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius. "Di pulau Bali, yang sebelum itu dianggap sebagai kubu PKI, paling sedikit 35.000 orang menjadi korban di permulaan 1966. Di sana para Tamin, pasukan komando elite Partai Nasional Indonesia, adalah pelaku pembunuhan-pembunuhan ini. Koresponden khusus dari Frankfurter Allgemeine Zeitung bercerita tentang mayat-mayat di pinggir jalan atau dibuang ke dalam galian-galian dan tentang desa-desa yang separuh dibakar di mana para petani tidak berani meninggalkan kerangka-kerangka rumah mereka yang sudah hangus. Di daerah-daerah lain, para terdakwa dipaksa untuk membunuh teman-teman mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka. Di kota-kota besar pemburuan-pemburuan rasialis "anti-Tionghoa" terjadi. Pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang mengadakan aksi mogok sebagai protes atas kejadian-kejadian kontra-revolusioner ini dipecat. Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi. Diperkirakan sekitar 110,000 orang masih dipenjarakan sebagai tahanan politik pada akhir 1969. Eksekusi-eksekusi masih dilakukan sampai sekarang, termasuk belasan orang sejak tahun 1980-an. Empat tapol, Johannes Surono Hadiwiyino, Safar Suryanto, Simon Petrus Sulaeman dan Nobertus Rohayan, dihukum mati hampir 25 tahun sejak kudeta itu.[9]
Dalam rangka menjamin keamanan, ketenangan, serta stabilitas pemerintahan, Soeharto sebagai pengemban Supersemar telah mengeluarkan kebijakan:
1.      Membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966 yang diperkuat dengan Ketetapan MPRS No IX/MPRS/1966
2.      Menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia
3.      Pada tanggal 8 Maret 1966 mengamankan 15 orang menteri yang dianggap terlibat Gerakan 30 September 1965.
Realitas kekuasaan rezim soeharto bukanlah semata-mata jabatan formal yang kemudian mengendalikan jalannya negara, sambil membunuh semua pertanyaan dan perlawanan. Tatapi kekuasaan dalam bentuk penjara-penjara yang menunjukkan betapa soeharto mampu menguasai siapa saja yang dianggap sebagai musuh, tidak peduli sekecil apapun arti mereka dalam pertarungan politik. Menyelamatkan sarung dan sikat gigi milik para tapol, adalah pertarungan hidup mati, sebuah perjuangan untuk tetap hidup tanpa tahu kapan kebebasan akan dicapai.[10]
Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru.
Provokasi Amerika Serikat (Howard Jones, 1964) agar Angkatan darat menghancurkan PKI terbukti ampuh. Sjam Kamaruzaman, penghubung antara biro khusus PKI dengan perwira, terpancing untuk menangkap anggota dewan dan menghadapkannya kepada presiden soekarno. Aksi komplotan tersebut sangat ceroboh, sukarno pun ikut jatuh. Tragisnya bukan hanya soekarno yang menjadi korban akan tetapi 500.000 jiwa korban dalam pembantaian masal. Peristiwa 30 september 1965 juga menenggelamkan begitu banyak orang kedalam penderitaan, 10.000 orqng di buang kepulau Buru tanpa peradilan antara tahun 1969-1979. Mahasiswa yang belajar ke luar negeri pun juga di stigma sebagai penghianat bangsa.[11]

  1. Segala keputusan strategis menjadi wewenang pemerintah pusat. Pemerintahan dijalankan secara terpusat dan bukan diberikan kepada daerah secara otonom.
Pemerintahan Orde Baru dalam melaksanakan sistem pemerintahanbersifat sentralistis, artinya semua bidang kehidupan berbangsa dan bernegara di atur secara sentral dari pusat pemerintah ( Jakarta ), sehingga peranan pemerintah pusat sangatmenentukan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.Pelaksanaan politik sentralisasi ini sangat terlihat pada bidang ekonomi,sebagian besar kekayaan daerah dibawa ke pusat dan pemerintah daerah tidak dapatberbuat banyak karena dominasi pusat terhadap daerah sangat kuat. Hal tersebutmenimbulkan ketidakpuasan pemerintah dan rakyat di daerah terhadap pemerintah pusat.Krisis moneter dan ekonomi semakin meluas dan menjadi krisismultidimensional. Di tengah situasi yang semakin melemahnya nilai rupiah, aksi massa,aksi buruh, dan aksi mahasiswa terjadi dimana-mana. Mereka menuntut agar pemerintahsegera mengadakan pemulihan ekonomi, sehingga harga-harga sembako turun, tidak lagiada PHK dan lain-lain. Depolitisasi menambah segala aspek kehidupan masyarakat Orde Baru. Dunia kampus, misalnya merupakan wilayah luar politik-formal yang paling merasakan dampaknya. Catatan fakta sejarah masa Orde Barumenunjukkan betapa cara-cara represif atau quasi represif amatlah efektif untuk meredam suara-suara kritis yang datangnya daari kampus. Rezim Orde Baru tampak selalu tidak kekurangan akal dalam meredam setiap gerakan mahasiswa yang berkembang dikampus-kampus sehingga tidak menjadi sebuah gerakan yang massif dan membesar esonansinya. Setiap aksi mahasiswa yang bersemangat mengkritik Orde Baru tampak kekurangan akal,  dalam meredam setiap gerakan mahasiswa yang bersemangat mengkritik Orde Baru, nyaris selalu disusul dengan penangkapan para tokoh-tohok geraknya. Di dunia kampus, ‘mata-mata’ rezim berkeluyuran dimana-mana, mulai dari rector sebagai ‘kepanjangan tangan’ rezim hingga intelijen-intelijen partikelir, yakni mahasiswa yang bertugas untuk melaporkan setiap kegiatan mahasiswa yang dianggap bakal ‘membahayakan negara’.
Mitos-mitos politik diciptakan dan dipelihara. Setiap aktivitas yang dianggap subversive terhadap Negara, kerap dikait-kaitkan dengan tuduhan terlibat G30S/PKI. Hantu PKI dihidupkan lagi dan  terus-terusan, dan ternyata efektif untuk menakut-nakuti masyarakat, sekaligus membuktikan betapa kekuatan Negara tidakboleh disangkal, Negara, dengan demikian dicitrakan sebagai sosok makhluk yang menakutkan, sebagaimana pernah dibayangkanThommas Hobbes sebagai monster yang bernama Leviathan. Cap PKI  merupakan momok yang serius bagi masyarakat, memngingat betapa sengsaranya bila cap tersebut dituduhkan. Di masa Orde Baru mereka yang terlibat atau, setidaknya dianggap terlibat anggota PKI tidak memiliki hak politik secara penuh. Mereka didiskriminasikan hingga ke anak cucu, diantaranya tidak boleh menjadi pegawai negeri atau anggota ABRI.
Hantu lainnya adalah stempel ekstrem kanan. Sesuatu yang berlabel, bernada dan berirama agama (islam) dicitrakan sedemikian rupa sebagai ancaman bagi eksistensi bangsa dan Negara. Berbagai operasi intelijen dilakukan dengan lulus (dan kasar) dan sistematis untuk memojokkan umat islam. Hal ini secra psikologis politis amat memukul rasa percaya diri umat islam Indonesia, sehingga ummat islam sebagian besar cenderung untuk bersembunyi dikolong-kolong kursi kekuasaan yang otoriter itu, dan sebagian yang mereaksinya dengan cara yang agak kasar dan ini justru jebakan yang dikehendaki oleh kekuasaan saat itu. Penjara-penjara Orde Baru adalah saksi yang paling jujur tentang bagaimana orang-orang islam didzalimi setegas-tegasnya oleh kekuasaan yang menindas kita.
Piramida Politik Orde Baru Dan Negara Otoriter Birokratik
Mengandalkan tiga kekuatan politik demi mensukseskan tujuannya, yakni masing-masing:
A.    ABRI
B.     Teknokrasi, dan
C.     Golongan Rakyat (GOLKAR).
ABRI merupakan institusi penyangga Orde Baru, sekaligus ‘mesin’ yang efektif untuk merobos basis-basis ‘kekuasaan sipil’. Doktrin dwifungsi ABRI-ABRI memiliki funsi sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan (hankanm) dan politik merupakan dar normative, yang dijadikan pembenaran bagi ABRI untuk berkiprah di wilayah sipil. Keterlibatan  ABRI di wilayah-wilayah sipil ini, mengakibatkan profesionalismenya di bidang bidang hankam dipertanyakan kelak. Kehadiran kaum teknokrat semasa Orde Baru, merupakan fenomena yang menarik  untuk dikaji, mengingat perannya yang juga dominan dalam menata infra struktur pembangunan nasional di Indonesia. Inilah yang menjadi cirri Orde Baru, peran militer yang dominan, sebagai penjamin stabilitas politik, dan teknokratyang terampil dalam menata ekonomi nasional, yang belakangan luluh lantak itu.[12]
            Politik Orde Baru nyaris identik dengan politik Golkar, namun bukan Golkar yang menentukan sesuatunya, melainkan Dewan pembinanya, yakni Presiden Soeharto. Tak heran, OPP yang selalu menang mutlak di era Orde Baru ini, lebih tepat disebut the ruler’s party (partainya penguasa). Eksistensi politik Golkar tak bisa lepas dari control rezim Orde Baru, dalam hal ini peran Dewan Pembina amat menonjol  itu. Kelahiran Golkar tak lepas dari rekayasa rezim Orde Baru, dalam rangka menandingi kekuatan adeologi komunis saat itu dibawah kendali PKI. Embrio awal Golkar, memang tak lepas dari scenario Ankatan Darat dan ormas-ormas pendukung Orde Baru, yang kemudian terhimpun dalam Sekretariat Bersama (SEKBER) Golkar.  Tahun 1971, Golkar memenangkan pemilu pertama kali Orde Baru lewat, apa yang kemudian dikenal sebagai “buldoser politik” menggilas partai-partai lain dengan muda karena Golkar memang didukung tentara.
             ABRI, democrat (birokrasi) dan Golkar, hanyalah simpul-simpul power Orde Baru, yang posisinya dikendalikan secara signifikan oleh sang pengendali utama kekuasaan presiden Soeharto. Sebab, dialah yang secara structural merupakan panglima tertinggi ABRI, seorang presiden yang membawahi cabinet tenokrasi dan Dewan Pembinaan Golkar. Budaya politik Orde Baru dalam beberapa kajian, tak lepas dari budaya politik Jawa yang dikembangkan secara tak bertanggung jawab oleh kekuasaan Soeharto.
Studi William Liddle, setidaknya memperkuat uraian diatas. Di dalam sebuah tulisannya berjudul Soeharto’s Indonesia: Personal  Rule and Political Institutions, Liddle menyebutkan fenomena pergeseran personal rule menjadi institusionalisasi politik dengan sebutan new order pyramid, yang dicirikan oleh
a.       Dominasinya kekuasaan kepresidenan
b.      Kekuatan militer yang aktif secara politik
c.       Proses pembuatan keputusan yang berpusat dalam birokrasi, dan pola hubungan masyarakat Negara tang menggabungkan kooptasi dan response dengan represi.
            Singkatnya, Liddle melihat bahwa bangunan politik Orde Baru sebagai sebuah piramida, dimana pucuk kekuatan tau kekuasaan di dalamnya didominasi presiden, di level bawahnya militer, dan birokrasi. Negara, memiliki kekuasaan yang amat besar terhadap masyarakatnya dalam pola-pola kooptasi dan represi.
            Wacana Negara Otoriter Birokratik (NOB) dan Negara Organis Korporatis (NOK) sebagaiman dikembangkan para pengamat politik, sungguh tepat untuk menggambarkan kinerja system ketatanegaraan Orde Baru. Secara ringkas, teori NOB yang dikembangkan berdasarkan pengalaman Negara-negara di Amerika Latin oleh O’ Donnel memiliki sifat-sifat:
1.      Pemerintah dipegang oleh militer, bukan sebagai diktaktor pribadi melainkan sebagai suatu lembaga yang berkolaborasi dengan teknokrat sipil;
2.      Ia didukung oleh entrepreneur oligolpolistik, yang bersama Negara berkolaborasi dengan masyarakat bisnis internasional;
3.      Pengambilan keputusan yang bersifat birokratik-teknokratik, sebagai lawan pendekatan politik dalam pembuatan kebijaksanaan yang memerlukan proses bargaining yang lama diantaraberbagai kelompok;
4.      Massa dimobilisasikan;
5.      Untuk mengendalikan oposisi, pemerintah melakukan tindakan-tindakan represif.
            Wacana “piramida politik” Liddle dan NOB yang popular dikalangan akademisi politik, cukup layak dalam mengilustrasikan betapa rezim Orde Baru masih jauh dari jangkauan demokrasi yang sesungguhnya.
Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.
Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwi tujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.
Di Indonesia, Pada masa Orde baru sistem kebijakan komunikasi, hanya satu arah dan dikuasai oleh pemerintah. Akibatnya, tidak dapat melawan pemberian negatif tentang indonesia dari news imperialism. Dampaknya, pemerintah orde baru tidak mampu bertahan menghadapi perubahan sikap politik kalangan intelektual dan rakyat yang dibentuk oleh arus berita penjajah news imperialism dari barat.[13]
Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Setiap hari media massa seperti radio dan televisi mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur, dan Irian Jaya. Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan bahwa program transmigrasi sama dengan jawanisasi yang sentimen anti-Jawa di berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa.
Dalam keputusan strategis menjadi hak dan kekuasaan pemerintah pusat dalam menjalankan pemerintahan, hal itu menjadikan konflik, kekerasan dan komisi hak-hak manusia di daerah-daerah yang ada di indonesia. Seperti contohnya peristiwa 15 Januari 1974 (Demonstrasi Mahasiswa di Jakarta, menjelang kedatangan perdana menteri Jepang), Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Talangsari Lampung, Peristiwa Dili 12 November 1991, Komisi Nasional hak-hak Asasi Manusia, Peristiwa 27 Juli 1996 (Konflik Partai Demokrasi Indonesia).[14]

Dari beberapa langkah strategis yang diambil Soeharto diatas, ia berhasil membangun stabilitas politik dan ekonomi di negara ini. Masyarakat Indonesiapun (minus kalangan oposisi) pernah merasakan hidup tenteram sebagai warga negara Indonesia, dan bangsa Indonesia dihargai di mata dunia. Banyak sumbangsih yang diberikan bangsa Indonesia bagi masyarakat dunia, dan juga banyak prestasi yang didapat Indonesia. Dengan gaya kepemimpinan yang cenderung otokratik, kesolidan dan kestabilan negara dapat dibangun. Gaya kepemimpinan yang otoriter ala Soeharto diatas tentu bukanlah hal yang keliru jika kita melihat kembali situasi banga Indonesia yang tidak menentu arahnya pada waktu itu. Dalam situasi yang sedemikian tidak jelas, dibutuhkan pemimpin yang mampu mengawali dan membawa bangsa ini kepada suatu perubahan. Dalam situasi yang demikian, gaya kepemimpinan yang dibutuhkan adalah gaya kepemimpinan yang otokratik. Seorang pemimpin harus tampil dengan berani dan tegas membawa bangsa ini menuju suatu pembaharuan, dan itulah yang dilakukan oleh Soeharto. Gaya kepemimpinan Soeharto yang otoriter memberi sebuah catatan tersendiri dalam sejarah bangsa Indonesia. Hasil yang ditimbulkan oleh gaya kepemimpinan ini pun sangat besar, baik itu positif maupun negatif. Harus diakui ibaratnya mata uang, gaya kepemimpinan Soeharto mempunyai dua sisi, tergantung dari sisi mana kita mau melihatnya.



















Daftar Pustaka

Adam, Asvi Warman. 2009. Orang-orang di balik tragedi.Jakarta: Galangpress.
Firmanzah,2008. Mengelola Partai Politik. Jakarta: Yayasan Obor.
Notosusanto, Nugroho. Poesponegoro, Marwati Djoened. 2009. “Sejarah Nasional Indonesia VI”. Jakarta: Balai Pustaka.
Urbaningrum, Anas. 1999. Ranjau-Ranjau Potret Konflik Politik Pasca Kejatuhan Soeharto. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Suryanegara, Ahmad mansur. 2010. Api Sejarah 2. Salamadani. Bandung: Pustaka Semesta.
Soepardjan, Adam. 2004. Mendobrak sejarah rezim Soeharto. Yogyakarta: Ombak.
Huda, Nurul. 2010. “Benarkah Soeharto Membunuh Soekarno?”. Yogjakarta: Starbooks.
Mukhamad Shokheh, 2008. Dari Konfrontasi menuju Akomodasi.Semarang:UNNES PRESS.
Suryanegara, Ahmad mansur. 2010. Api Sejarah 2.Bandung: Salamadani Pustaka Semesta.
Adam, Asvi Warman, 2009. Pelurusan Sejarah Indonesia.Yogyakarta: Ombak.

Internet:
https://arikhamid.wordpress.com/2013/09/03/kebijakan-politik-dalam-negeri-orde-baru.









[1] Firmanzah,2008. Mengelola Partai Politik. Yayasan Obor: Jakarta. hal xv
[2] Asvi Warman Adam, 2009. Pelurusan Sejarah Indonesia. Ombak: Yogyakarta. Hal 119.
[3] Asvi Warman Adam, 2009. Pelurusan Sejarah Indonesia. Ombak: Yogyakarta. Hal 119.
[4] Suryanegara, Ahmad mansur. 2010. Api Sejarah 2. Salamadani Pustaka Semesta: Bandung. Hal 482
[5] Mukhamad Shokheh, 2008. Dari Konfrontasi menuju Akomodasi. UNNES PRESS: Semarang. Hal 30
[6] Mukhamad Shokheh, 2008. Dari Konfrontasi menuju Akomodasi. UNNES PRESS: Semarang. Hal 33
[7] https://arikhamid.wordpress.com/2013/09/03/kebijakan-politik-dalam-negeri-orde-baru.
[8] Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI. Balai Pustaka: Jakarta. Hal 543
[9] Huda, Nurul. 2010. “Benarkah Soeharto Membunuh Soekarno?”. Jogjakarta: Starbooks. Hal 119
[10] Soepardjan, Adam. 2004. Mendobrak sejarah rezim Soeharto. Ombak: Yogyakarta. Hal XVII.
[11] Adam, Asvi Warman. 2009. Orang-orang di balik tragedi. Galangpress : Jakarta. (Sampul buku)
[12] Urbaningrum, Anas. 1999. Ranjau-Ranjau Potret Konflik Politik Pasca Kejatuhan Soeharto. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Hal 38.
[13] Suryanegara, Ahmad mansur. 2010. Api Sejarah 2. Salamadani Pustaka Semesta: Bandung. Hal 527.
[14] Notosusanto, Nugroho. Poesponegoro, Marwati Djoened. 2009. “Sejarah Nasional Indonesia VI”. Jakarta: Balai Pustaka. Hal 637-654.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...