Sejarah Politik
(Resensi Buku)
Nama : Riwan Sutandi
Nim : 3101412084
Rombel: 5B
Dosen Pengampu : Bapak
Hamdan
Buku
sejarah politik
Judul :
NU (Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru)
Penulis :
Dr. Martin Van Brunissen
Penerjemah : Farid Wajidi
Penerbit : LkiS YOGYAKARTA Gambiran UH V/48A
Yogyakarta 55161. Telp (0274) 382868
Cetakan pertama
November 1994
Cetakan kedua Januari
1997
Cetakan Ketiga November
1999
Kolasi viii,311 hlm. : 21 cm.
Klasifikasi 2x6.612 598
ISBHN : 979-8966-03-1
Prof.
Dr. Martin van Bruinessen dalam bukunya NU, menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama’
(NU) adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di negeri ini. Dalam kajian
hukum Islam, ia tunduk pada madzhab Syafi’i, akidah pada al-Asy’ari dan tasawuf
pada al-Maturidy. NU sebagai satu
dari sekian ormas keagamaan tampak eksis berdiri paling depan dalam organisasi
yang moderat. Dalam sejarahnya, NU telah berhasil mempertontonkan suatu ‘adegan
peristiwa’ sejalan dengan revolusi kemerdekaan. Tatkala itu, NU berhasil berkecimpung
dan menunjukkan aksi-aksi yang rupawan. Sehingga, ia pun dikenang menjadi ormas
pertama yang menerima dasar negara (Pancasila) sebagai basis ideologi negara
tanpa disertai embel-embel apapun. Hingga
kini, NU dan para kader-kadernya tersebar luas di seluruh pelosok Nusantara,
bahkan di seluruh dunia. Ia mempunyai basis kuat di pedesaan. Ia mempunyai
ribuan pondok pesantren yang terus mencetak kader-kader militan. Pondok
Pesantren dijadikan ajang menimba ilmu; baik ilmu keagamaan, ilmu kemasyarakatan,
maupun ilmu bertawadhu’ kepada seseorang. Bagi sebagian pihak, pondok pesantren
adalah representasi.
NU bukan hanya dimaknai sekedar sebagai organisasi. Namun, ia menjadi ruh bagi sebuah kultur (baca-tradisi) dalam relung kehidupan masyarakat Indonesia yang umumnya bermazhab Syafi’i.NU berpedoman pada tradisi toleran (tasamuh), keseimbangan(tawazun) dan berlaku adil (tawasuth). NU pun terus memupuk seseorang menjadi pribadi yang bermartabat, pribadi yang moderat. Sayangnya, teori itu tidak diimplementasikan dalam lapangan. Jamak dari kader-kader NU yang mulai menanggalkan identitasnya. Umumnya, ketika disinggungkan dengan politik praktis, kader mengalami pergeseran transformasi yang luar biasa. Santri yang semula ta’dhim pada kiai, mulai berani berontak.
Untuk menjaga tradisi agar tetap utuh, diperlukan suatu kajian yang komprehensif dengan mengkaji kembali doktrin-doktrin yang dipegang NU yakni Aswaja. Sebab, kajian itu memiliki akar historis yang cukup panjang dan merupakan langkah terobosan yang strategis. Selama ini, masyarakat cenderung salah kaprah ketika memandang doktrin Aswaja. Bagi Abu Rokhmad yang sependapat Said Aqil Siradj menuturkan bahwa ketika mereka memahami Aswaja, selanjutnya mereka mengidentikkan Aswaja dengan ‘Islam’. Kedua, sebagian lain melihat Aswaja hanya sebagai madzhab. Ketiga, ada tiga pula yang mengartikan Aswaja sebagai karakteristik komunitas kaum Muslimin yang mengamalkan aktivitas seperti tahlilan, manaqiban, selametan, berjanjian, qunutan dan amalan sejenisnya. Keempat, bahkan ada juga yang memakai termAswaja sebagai langkah purifikasi ajaran Islam.
NU bukan hanya dimaknai sekedar sebagai organisasi. Namun, ia menjadi ruh bagi sebuah kultur (baca-tradisi) dalam relung kehidupan masyarakat Indonesia yang umumnya bermazhab Syafi’i.NU berpedoman pada tradisi toleran (tasamuh), keseimbangan(tawazun) dan berlaku adil (tawasuth). NU pun terus memupuk seseorang menjadi pribadi yang bermartabat, pribadi yang moderat. Sayangnya, teori itu tidak diimplementasikan dalam lapangan. Jamak dari kader-kader NU yang mulai menanggalkan identitasnya. Umumnya, ketika disinggungkan dengan politik praktis, kader mengalami pergeseran transformasi yang luar biasa. Santri yang semula ta’dhim pada kiai, mulai berani berontak.
Untuk menjaga tradisi agar tetap utuh, diperlukan suatu kajian yang komprehensif dengan mengkaji kembali doktrin-doktrin yang dipegang NU yakni Aswaja. Sebab, kajian itu memiliki akar historis yang cukup panjang dan merupakan langkah terobosan yang strategis. Selama ini, masyarakat cenderung salah kaprah ketika memandang doktrin Aswaja. Bagi Abu Rokhmad yang sependapat Said Aqil Siradj menuturkan bahwa ketika mereka memahami Aswaja, selanjutnya mereka mengidentikkan Aswaja dengan ‘Islam’. Kedua, sebagian lain melihat Aswaja hanya sebagai madzhab. Ketiga, ada tiga pula yang mengartikan Aswaja sebagai karakteristik komunitas kaum Muslimin yang mengamalkan aktivitas seperti tahlilan, manaqiban, selametan, berjanjian, qunutan dan amalan sejenisnya. Keempat, bahkan ada juga yang memakai termAswaja sebagai langkah purifikasi ajaran Islam.
Kelemahan
:
1. Kelemahan
dari buku ini terdapat pada bentu fisiknya, yaitu cover dari buku ini kurang
menarik karena hanya berupa tulisan tanpa ada gambar yang menjelaskan isi buku.
2. Buku
lama sehingga kertasnya mulai buram dan susah untuk dibaca.
Kelebihan
:
Kelebihan dari buku ini yaitu buku
ini sangat bagus dalam menceritakan sejarah NU, mulai dari kelahiran NU sampai
berakhirnya orde baru. Bagi mahasiswa yang ingin mencari refrensi tentang
sejarah NU buku ini sangat dianjurkan. Buku ini juga membahas persub tema
dengan rinci dengan dibagi beberapa konsep atau judul besar yang lebih
terperinci.
Nama : Riwan Sutandi
NIM : 3101412084
Rombel : 5B
Judul
: Rakyat Kecil, Islam dan Politik
Penulis
: Martin van Bruinessen
Penerbit
: Gading, Yogyakarta, 2013
Tebal
: xvii + 482 Halaman
Kemiskinan
di wilayah urban telah lama menjadi masalah, sebab dari sinilah
persoalan-persoalan yang lebih luas meluber. Kriminalitas, pengangguran, hingga
konflik sosial adalah sebagian dari daftar panjang luberan masalah tersebut. Martin
van Bruinssen, peneliti asal Belanda, secara cermat mencatat masalah tersebut
dalam sebuah penelitian. Penelitian tersebut dilakukan di sebuah kawasan kumuh
di kota Bandung pada pertengahan tahun 1980-1990-an. Dalam penelitian tersebut
terungkap bahwa kemiskinan di wilayah tersebut disebabkan oleh sejumlah
faktor. Faktor tersebut antara lain adalah kedatangan ataupun perpindahan
penduduk ke wilayah tersebut.
Perpindahan
tersebut diikuti dengan sempitnya lapangan pekerjaan. Alhasil, penduduk
terpaksa menjalankan pekerjaan informal seperti membuka warung, berdagang
makanan kecil, atau bekerja sebagai buruh rumahan dengan mengupas bawang. Sayangnya
usaha semacam itu selalu diikuti oleh penduduk lainnya. Persaingan tidak dapat
dihindari. Persaiangan yang tinggi membuat usaha tersebut tidak dapat
bertahan lama. Mereka pun kembali bangkrut dan harus bersusah payah membangun
usaha lain. Padahal untuk itu mereka harus menyiapkan modal yang banyak. Dari
sini dapat ditarik kesimpulan bahwa rendahnya kreativitas dan kurangnya
kemampuan inovasi membuat kompetisi sulit diatasi dengan baik. Ada penduduk
yang mencoba bertahan, ada juga yang menyerah begitu saja. Mereka yang bertahan
harus menjalaninya dengan berat. Namun kemudian Bruinessen mempertanyakan
posisi lembaga keagamaan. Dalam hal ini ia menyandingkan posisi lembaga
keagamaan dengan fenomena kemiskinan itu sendiri. Baginya, segala dinamikan
lembaga keagamaan yang terjadi di Indonesia belum dapat menyentuh persoalan
mendasar masyarakat, yakni kemiskinan.
Hal
yang terjadi, banyak lembaga keagamaan yang justru terlalu sibuk dengan urusan
kekuasaan dan politik. Buku ini memperlihatkan bagaimana NU (Nahdlatul
Ulama) yang semula merupakan lembaga keagamaan, mengubah dirinya menjadi
lembaga politik yang kemudian terbukti banyak memberikan ruang yang
menguntungkan bagi anggotanya (Hal. 138). Namun kemudian ada dorongan internal
agar NU untuk menarik diri dari kegiatan politik. Dorongan ini dipicu oleh
kenyataan bahwa organisasi tersebut semakin kurang memberikan perhatian kepada
dakwah dan pembinaan umat. Hasilnya, pada tahun 1983, NU kembali ke Khittah
1926 (hal. 1943). Hal menarik lain yang disinggung dalam buku oleh Bruinessen
adalah dinamika lembaga maupun kelompok-kelompok Islam yang ada dalam
masyarakat. Tampaknya memang tak mudah melepaskan Islam dari hiruk pikuk
masalah sosial dan politik. Islam selalu menjadi elemen penting di dalamnya. Pada
analisa Bruinessen, itu alasannya mengapa rezim berkuasa selalu melibatkan
lembaga-lembaga Isalam untuk berbaga proyek ataupun programnya. Bagi pemerintah
Islam bukan sekadar agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia,
melainkan juga potensi untuk melakukan sebuah gerakan.
Kelebihan :
Buku Rakyat Kecil,
Islam dan Politik tulisan dari Martin van Bruinessen sangat bagus untuk dibaca bagi
orang yang mengetahui latar belakang penyebab kemiskinan di daerah urban
bandung, buku ini mengaitkan tentang bagaimana lembaga islam yang mulai tidak
lagi memperhatikan keadaan sekitar malah lebih mementingkan kepentingan politik
dan kekuasaan.
Kekurangan :
Pada dasarnya buku ini
tidak memiliki kekurangan, namun menurut saya buku ini lebih mengupas tentang
lembaga islam di indonesia yaitu NU bukan rakyat kecil seperti yang ada di
dalam judul.

No comments:
Post a Comment