About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Friday, 9 January 2015

Inventaris Buku Sejarah Politik

Sejarah Politik
(Resensi Buku)

Nama   : Riwan Sutandi
Nim     : 3101412084
Rombel: 5B
Dosen Pengampu : Bapak Hamdan

Buku sejarah politik
Judul               : NU (Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru)
Penulis             : Dr. Martin Van Brunissen
Penerjemah      : Farid Wajidi
Penerbit           : LkiS YOGYAKARTA Gambiran UH V/48A Yogyakarta 55161. Telp (0274) 382868
Cetakan pertama November 1994
Cetakan kedua Januari 1997
Cetakan Ketiga November 1999
Kolasi  viii,311 hlm. : 21 cm.
Klasifikasi       2x6.612 598
ISBHN            : 979-8966-03-1



Prof. Dr. Martin van Bruinessen dalam bukunya NU, menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama’ (NU) adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di negeri ini. Dalam kajian hukum Islam, ia tunduk pada madzhab Syafi’i, akidah pada al-Asy’ari dan tasawuf pada al-Maturidy. NU sebagai satu dari sekian ormas keagamaan tampak eksis berdiri paling depan dalam organisasi yang moderat. Dalam sejarahnya, NU telah berhasil mempertontonkan suatu ‘adegan peristiwa’ sejalan dengan revolusi kemerdekaan. Tatkala itu, NU berhasil berkecimpung dan menunjukkan aksi-aksi yang rupawan. Sehingga, ia pun dikenang menjadi ormas pertama yang menerima dasar negara (Pancasila) sebagai basis ideologi negara tanpa disertai embel-embel apapun. Hingga kini, NU dan para kader-kadernya tersebar luas di seluruh pelosok Nusantara, bahkan di seluruh dunia. Ia mempunyai basis kuat di pedesaan. Ia mempunyai ribuan pondok pesantren yang terus mencetak kader-kader militan. Pondok Pesantren dijadikan ajang menimba ilmu; baik ilmu keagamaan, ilmu kemasyarakatan, maupun ilmu bertawadhu’ kepada seseorang. Bagi sebagian pihak, pondok pesantren adalah representasi.
            NU bukan hanya dimaknai sekedar sebagai organisasi. Namun, ia menjadi ruh bagi sebuah kultur (baca-tradisi) dalam relung kehidupan masyarakat Indonesia yang umumnya bermazhab Syafi’i.NU berpedoman pada tradisi toleran (tasamuh), keseimbangan(tawazun) dan   berlaku adil (tawasuth). NU pun terus memupuk seseorang menjadi pribadi yang bermartabat, pribadi yang moderat.  Sayangnya, teori itu tidak diimplementasikan dalam lapangan. Jamak dari kader-kader NU yang mulai menanggalkan identitasnya. Umumnya, ketika disinggungkan dengan politik praktis, kader mengalami pergeseran transformasi yang luar biasa. Santri yang semula ta’dhim pada kiai, mulai berani berontak. 
            Untuk menjaga tradisi agar tetap utuh, diperlukan suatu kajian yang komprehensif dengan mengkaji kembali doktrin-doktrin yang dipegang NU yakni Aswaja. Sebab, kajian itu memiliki akar historis yang cukup panjang dan merupakan langkah terobosan yang strategis. Selama ini, masyarakat cenderung salah kaprah ketika memandang doktrin Aswaja. Bagi Abu Rokhmad yang sependapat Said Aqil Siradj menuturkan bahwa ketika mereka memahami Aswaja, selanjutnya mereka mengidentikkan Aswaja dengan ‘Islam’. Kedua, sebagian lain melihat Aswaja hanya sebagai madzhab. Ketiga, ada tiga pula yang mengartikan Aswaja sebagai karakteristik komunitas kaum Muslimin yang mengamalkan aktivitas seperti tahlilan, manaqiban, selametan, berjanjian, qunutan dan amalan sejenisnya. Keempat, bahkan ada juga yang memakai termAswaja sebagai langkah purifikasi ajaran Islam.
Kelemahan :
1.      Kelemahan dari buku ini terdapat pada bentu fisiknya, yaitu cover dari buku ini kurang menarik karena hanya berupa tulisan tanpa ada gambar yang menjelaskan isi buku.
2.      Buku lama sehingga kertasnya mulai buram dan susah untuk dibaca.
Kelebihan :
Kelebihan dari buku ini yaitu buku ini sangat bagus dalam menceritakan sejarah NU, mulai dari kelahiran NU sampai berakhirnya orde baru. Bagi mahasiswa yang ingin mencari refrensi tentang sejarah NU buku ini sangat dianjurkan. Buku ini juga membahas persub tema dengan rinci dengan dibagi beberapa konsep atau judul besar yang lebih terperinci.














Nama               : Riwan Sutandi
NIM                : 3101412084
Rombel            : 5B
Judul               :  Rakyat Kecil, Islam dan Politik
Penulis             :  Martin van Bruinessen
Penerbit           :  Gading, Yogyakarta, 2013
Tebal               :  xvii + 482 Halaman

Kemiskinan di wilayah urban telah lama menjadi masalah, sebab dari sinilah persoalan-persoalan yang lebih luas meluber. Kriminalitas, pengangguran, hingga konflik sosial adalah sebagian dari daftar panjang luberan masalah tersebut. Martin van Bruinssen, peneliti asal Belanda, secara cermat mencatat masalah tersebut dalam sebuah penelitian. Penelitian tersebut dilakukan di sebuah kawasan kumuh di kota Bandung pada pertengahan tahun 1980-1990-an. Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa kemiskinan di wilayah  tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor. Faktor tersebut antara lain adalah kedatangan ataupun perpindahan penduduk ke wilayah tersebut.
Perpindahan tersebut diikuti dengan sempitnya lapangan pekerjaan. Alhasil, penduduk terpaksa menjalankan pekerjaan informal seperti membuka warung, berdagang makanan kecil, atau bekerja sebagai buruh rumahan dengan mengupas bawang. Sayangnya usaha semacam itu selalu diikuti oleh penduduk lainnya. Persaingan tidak dapat dihindari. Persaiangan yang tinggi membuat  usaha tersebut tidak dapat bertahan lama. Mereka pun kembali bangkrut dan harus bersusah payah membangun usaha lain. Padahal untuk itu mereka harus menyiapkan modal yang banyak. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa rendahnya kreativitas dan kurangnya kemampuan inovasi membuat kompetisi sulit diatasi dengan baik.  Ada penduduk yang mencoba bertahan, ada juga yang menyerah begitu saja. Mereka yang bertahan harus menjalaninya dengan berat. Namun kemudian Bruinessen mempertanyakan posisi lembaga keagamaan.  Dalam hal ini ia menyandingkan posisi lembaga keagamaan dengan fenomena kemiskinan itu sendiri. Baginya, segala dinamikan lembaga keagamaan yang terjadi di Indonesia belum dapat menyentuh persoalan mendasar masyarakat, yakni kemiskinan.
Hal yang terjadi, banyak lembaga keagamaan yang justru terlalu sibuk dengan urusan kekuasaan dan politik. Buku ini memperlihatkan bagaimana NU (Nahdlatul  Ulama) yang semula merupakan lembaga keagamaan, mengubah dirinya menjadi lembaga politik yang kemudian terbukti banyak memberikan ruang yang menguntungkan bagi anggotanya (Hal. 138). Namun kemudian ada dorongan internal agar NU untuk menarik diri dari kegiatan politik. Dorongan ini dipicu oleh kenyataan bahwa organisasi tersebut semakin kurang memberikan perhatian kepada dakwah dan pembinaan umat. Hasilnya, pada tahun 1983, NU kembali  ke Khittah 1926 (hal. 1943). Hal menarik lain yang disinggung dalam buku oleh Bruinessen adalah dinamika lembaga maupun kelompok-kelompok Islam yang ada dalam masyarakat.  Tampaknya memang tak mudah melepaskan Islam dari hiruk pikuk masalah sosial dan politik. Islam selalu menjadi elemen penting di dalamnya. Pada analisa Bruinessen, itu alasannya mengapa rezim berkuasa selalu melibatkan lembaga-lembaga Isalam untuk berbaga proyek ataupun programnya. Bagi pemerintah Islam bukan sekadar agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia, melainkan juga potensi untuk melakukan sebuah gerakan.


Kelebihan :
Buku Rakyat Kecil, Islam dan Politik tulisan dari Martin van Bruinessen sangat bagus untuk dibaca bagi orang yang mengetahui latar belakang penyebab kemiskinan di daerah urban bandung, buku ini mengaitkan tentang bagaimana lembaga islam yang mulai tidak lagi memperhatikan keadaan sekitar malah lebih mementingkan kepentingan politik dan kekuasaan.

Kekurangan :

Pada dasarnya buku ini tidak memiliki kekurangan, namun menurut saya buku ini lebih mengupas tentang lembaga islam di indonesia yaitu NU bukan rakyat kecil seperti yang ada di dalam judul.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...